[OS] Right Beside You

rhtbsdyou

© luckyspazzer

.

.

Starring On

Jessica Jung and Oh Sehun

Length

Oneshoot [ 3.000± ]

Genre and Rating

Romance, Fluff, Alternate Universe and PG – 13

Disclaimer

Cast belong to God, but the story was purely mine

 ♣ 

L U C K Y S P A Z Z E R : Right Beside You

Jessica meremas tangan Tiffany, melihat keselilingnya. Jantungnya berdegup kencang, melihat pengunjung yang makin lama semakin menyesaki toko sepatu mungil di daerah Gangnam District tersebut. Pintu terayun, seorang wanita muda masuk. Pintu itu baru saja tertutup, tapi terbuka lagi. Itulah apa yang ia lihat seterusnya.

“Ayo, pulang,” desah Jessica, mengeratkan tangannya pada Tiffany.

Tiffany dapat membaca kegelisahan sahabatnya itu. “Kau bersamaku, kau tidak perlu khawatir,” kata Tiffany, menepuk bahu Jessica. “Aku sudah selesai membeli-nya, kau ingin menunggu diluar? Atau kau ingin mengikuti membayar dikasir?”

“Aku …, a .., aku,” Jessica gagap, dia tidak bisa berbicara sama sekali. Tubuhnya menegang.

Tiffany mengerti. “Kau ikut bersamaku. Aku tidak akan lama; aku janji. Antriannya juga tidak terlalu panjang, kok,” hibur Tiffany, mengelus-elus pelan rambut brunette sahabatnya.

“Aku takut.”

Tiffany masih mengandengnya, “Kejadian itu tidak akan terulangi kembali, aku janji. Tetaplah bersamaku—itu akan membuatmu nyaman. Percayalah padaku,” ucap Tiffany.

Jessica mengadah, menatap kedua mata indah Tiffany. Lalu memandang sekitar-nya. Sesak, penuh, sempit, dan ramai. Jessica mengganguk. “Jangan lepaskan pengganganku, kumohon. Hanya kau yang mengerti aku.”

Tiffany meliriknya, tersenyum kecil. “Aku tidak akan. Percaya padaku.”

Tiffany menggiring Jessica ke lorong apartemen. Jessica tersenyum riang, bahagia telah melepas kesesakannya di toko sepatu langganan Tiffany. Jessica segera membuka pintu apartemennya —sebenarnya tidak bisa disebut apartemennya, karena Tiffany juga tinggal bersamanya—, dan memasukkan kata sandi. Pintu itu dengan sendirinya terayun terbuka.

“Aku haus,” kata Jessica, membuka kulkas. Melirik isinya. Nyaris kosong; hanya ada susu dan mi instan didalamnya. Jangan lupa; tiga butir telur, selai cokelat dan stroberi favorit Tiffany dan Jessica. Jessica mengambil susu vanila dan menuangnya ke gelas kaca. Bulu kuduknya merinding.

Kulkas kosong. Itu berarti belanja. Dan Tiffany pasti akan mengajaknya pergi ke Lotte Mart. Jessica tidak percaya; dia harus menerima kenyataan bahwa kulkas itu kosong melompong. Dan ia harus belanja di Lotte Mart yang jelas tidak akan pernah sepi dari pengunjung—sekalipun itu hari Minggu!

“Kulkasnya kosong,” kata Tiffany, sambil membuka kulkas. “Aku harus pergi belanja besok,” lanjutnya. Lalu melirik Jessica yang pucat pasi. “Hanya aku, kau disini. Menonton televisi.”

Jessica tersenyum lega, “Terimakasih.”

“Bukan masalah,” sahut Tiffany. “Bila kau ingin menitip sesuatu, smartphone-ku selalu ada. Menelpon atau mengirim pesan, terserahmu saja,” kata Tiffany, lalu duduk di sofa panjang, menyalakan televisi. “Aku harap kau baik-baik saja disini, atau kau ingin ditemani Taeyeon? Dia dilantai dua.”

Jessica menggeleng, “Aku dirumah dan menonton drama saja. Aku lebih senang begitu. Walaupun aku senang dengan adanya Taeyeon, tapi aku menolak. Maaf.”

Tiffany mengganguk. “Aku tidak bisa membayangkan. Bila aku takut pada keramaian, itu jelas tidak asyik. Takut di sekolah, takut di semua tempat! Aku senang ramai, itu justru membuatku nyaman.”

“Itu menyakitkan,” canda Jessica, tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba gadis itu menguap, lalu melirik ke arah jam dindng. “Pukul setengah sepuluh? Selarutkah seorang Tiffany berbelanja?” kata Jessica. “Aku ingin tidur.”

Tiffany menguap, “Aku juga mengantuk. Aku tidak percaya aku seperti itu, aku pikir aku biasa-biasa saja!” canda Tiffany. Lalu melangkah ke kamarnya, yang berbeda dengan Jessica. Tiba-tiba, wajahnya berubah pucat. “Aku belum menuntaskan tugas Songsaenim Kim!” teriaknya kaget.

Jessica tertawa. “Aku sudah menyelesaikannya. Aku duluan.”

Tiffany mengerang. “Seharusnya aku memilih belajar dahulu daripada belanja!” teriak-nya, memenuhi seisi apartemen.

Agoraphobia.

Apakah itu asing ditelingamu? Agoraphobia, salah satu jenis phobia dari begitu banyaknya phobia. Agoraphobia adalah ketakutan pada keramaian. Jessica adalah salah satu orang yang terkena agoraphobia, dan itu jelaslah membuatnya tidak nyaman. Tidak ada tempat yang selalu sepi, tidak ada. Semisal jalan raya, walaupun jam sudah menunjuk pukul satu, mobil tetap menyesakinya. Atau mall yang tiap toko-nya selalu penuh oleh pembeli.

Sejak umurnya 5 tahun, Jessica mulai terkena agoraphobia. Gampang takut oleh keramaian. Tidak; bukannya tanpa alasan. Jessica ingat, itu adalah hari paling buruk yang pernah ada.

Suatu hari, dia dan orangtuanya —juga Krystal, adiknya tersayang— berjalan-jalan ke Seoul. Saat itu Seoul sedang disesaki banyak orang. Jessica sedang menggandeng orangtuanya, tiba-tiba tangannya entah bagaimana bisa terlepas dan Jessica tidak sadar bahwa orangtuanya sudah jauh darinya, dan orangtuanya pun sudah tidak sadar bahwa Jessica tidak ada disamping mereka. Saat Jessica menyadari orangtua-nya tidak ada, Jessica bingung. Lalu ada seorang pemuda yang menghampirinya, mengatakan bahwa itu teman ayahnya dan tahu ayahnya kemana. Jessica pun mengikutinya, karena percaya bahwa itu memang teman ayahnya.

Tapi pria itu malah menculiknya, membawa Jessica pergi. Ayah Jessica yang entah bagaimana bisa tahu —insting orangtuakah? — menangkap penculik itu. Sejak itulah Jessica takut pada keramaian, agoraphobia. Jessica takut jauh dari orangtuanya, takut tidak pernah melihat orang yang ia sayangi.

Jessica meraih tas sekolahnya. Wajahnya pucat. Ingat; sekolah juga ramai. Tidakkah ini phobia yang merepotkan? Jessica menghela napas. Tiffany melirik tugasnya, berusaha meyakinkan bahwa tugasnya sudah terlalu sempurna. Lalu memasukannya ke dalam map bergambar Snow White agar tidak lecek.

“Aku kadang-kadang mengharapkan home-schooling,” desah Jessica, lalu memakai tas berwarna donker-nya.

“Orangtuamu tidak pernah setuju kau home schooling? Atau mereka memang tidak tahu kalau kau agoraphobia?” tanya Tiffany, sambil menutup resleting tas berwarna hot pink miliknya.

“Yang pertama; orangtuaku tidak setuju. Supaya punya banyak teman, itu sih, katanya,” kata Jessica. Lalu melirik Tiffany, memastikan gadis itu sudah siap untuk berangkat. “Kadang-kadang, aku berharap aku bisa home schooling diam-diam. Tapi pasti orangtuaku akan curiga.”

Tiffany paham. “Aku setuju pada orangtuamu.”

Jessica mengernyit, “Apa? Kau setuju?”

Tiffany mengganguk. “Kalau kau tidak sekolah; kau tak akan bertemu denganku, iya bukan?” kata Tiffany, lalu dia membuka pintu, mempersilakan Jessica keluar lebih dahulu. “Silahkan, princess.”

Jessica tertawa. Bersama Tiffany selalu membuatnya nyaman. Tiffany mengerti dirinya; Tiffany sahabatnya. Sahabat terbaik. Jessica lalu menutup pintu itu, dan memastikan bahwa pintu itu benar-benar terkunci.

“Kau siap?” kata Jessica, lalu menaiki lift, Tiffany menyusulnya masuk. Jessica menekan tombol GF—Ground Floor.

Pintu lift itu terbuka, Jessica melirik lobi. Sepi. Bagus!, pikir Jessica, tersenyum. Lalu gadis itu memandang ke arah halte bus, lalu Jessica mengerang. “Kita harus menunggu, cukup lama.”

“Ini pukul berapa?” tanya Tiffany, melirik jam tangan Jessica.

“Setengah enam. Oh, great. Kita memang harus menunggu pukul enam. Kuharap bus-nya sedang sepi hari ini,” komentar Jessica. Lalu duduk dihalte, berusaha menyapukan pikiran bahwa bus ramai dan penuh sesak.

Jessica mendengarkan Songsaenim Kim—penuh perhatian. Duduk diujung, memang ramai dan membuatnya takut, tapi dia berusaha tetap …, bertingkah bahwa ia merasa nyaman. “Kita akan membuat tugas tentang budaya Korea Selatan. Tidak, tidak perseorangan. Kalian akan mempunyai satu partner,” kata Songsaenim Kim.

Jessica mengerut. Apa? Tugas partner?

Songsaenim Kim dengan riang mengambil daftarnya. “Ini daftar yang sudah kupikirkan matang-matang kemarin,” kata Songsaenim Kim. “Kalian bisa berdiskusi sekarang. Ingat! Tidak mengobrol.”

Jessica mendengarkan baik-baik, walau suara Songsaenim Kim agak kecil dari belakang —dan mungkin itu penyebab kecil sekali murid yang mau duduk disini—, lalu akhirnya Jessica sukses membuat kedua bola matanya membulat, kaget. “Dan yang terakhir, Jessica Jung dan Oh Sehun. Silahkan berdiskusi!”

Kenapa harus Oh Sehun?, pikirnya. Tapi kemudian dia berpikir lagi. Pertanyaan yang membuatnya pusing; siapa Oh Sehun? Dia siapa? Jessica mencari-cari, berusaha menemukan partnernya. Sayang sekali dia tidak mengenal Oh Sehun.

“Jessica Jung?” sebuah suara berat menyapanya. Jessica memutar tubuhnya, memandang pria yang lebih tinggi darinya. Dia duduk disebelah Jessica, dan berhubung pula kursi disebelah gadis itu kosong. “Aku yakin kau sudah mengenalku.”

“Tidak, sayangnya tidak,” kata Jessica menggeleng. “Aku bahkan baru mengenalmu.”

Sehun mengangkat alisnya, “Serius? Kamu enggak berniat untuk bersikap jaim, iya, kan?”

Jessica tertawa geli. “Tidak, serius, tidak.”

“Aku mengerti; kau terlalu sering berjalan bersama Tiffany Hwang. Kau tidak tahu klub sepak bola sekolah ini? Nah, aku salah satu anggotanya!” kata Sehun, lalu tersenyum. “Kau mengenalku, kan?”

“Tidak. Dan kau mengenal Tiffany?” tanya Jessica balik.

“Tiffany? Ya, dia menolongku dulu,” kata Sehun, mengedikkan bahu. “Jadi kita akan membahas apa? Budaya, ingat. Budaya.”

“Makanannya! Kimchi, jeonbokjuk—bubur abalone; makanan khas dari pulau Jeju—, bungeoppang—roti ikan mas—,” kata Jessica, tersenyum lebar. Sehun mengganguk-angguk.

“Kita mungkin bisa menambahkan boyband dan girlband bila itu budaya modern,” cengir Sehun. “Kita akan mengerjakan tugasnya dimana?”

Jessica berpikir. Apartemen mungilnya dan Tiffany? Rumah Sehun; yang tidak ia tahu tinggal dimana? “Aku tidak tahu. Rumahmu?”

“Tidak. Kafe! Bagaimana dengan kafe?” usul Sehun. “Kafe di wilayah Gangnam, aku akan menjemputmu pulang nanti dengan mobilku. Kafe itu bisa direkomendasikan, aku sangat senang disana.”

Itu untuk Sehun. Tapi bagaimana dengan dia? Jessica? Kafe adalah salah satu dari tempat yang tidak pernah sepi. Bagaimana ini? Apakah dia harus menjelaskan bahwa ia keberatan dengan usul Sehun? Tapi tidakkah …, itu akan membuat Sehun berpendapat bahwa ia partner yang pemilih?

“Jessica?” tanya Sehun.

Jessica terdiam.

“Kalau kau keberatan ak—“

“Baiklah, jemput aku,” kata Jessica. “Akan kukabarkan Tiffany.”

Sehun tersenyum, “Bagus!”

“Aku akan ke kafe. Di sekitar wilayah Gangnam District,” kata Jessica, mendekatkan smartphone-nya ke telinga dan mulutnya. Terdengar teriakan tak percaya Tiffany, membuat gadis itu menjauhkan smartphone-nya. Kira-kira 15cm. “Maaf menyela, tapi kau akan merusak telingaku!” sela Jessica.

Hening sejenak. “Maaf, kalau begitu. Tapi memangnya kau bisa mengendalikan dirimu?” tanya Tiffany. Mengendalikan dirinya? “Ingat; Sehun adalah murid populer. Ia bisa saja mengatakan kau mahluk aneh karena takut pada keramaian.

“Dia mungkin pintar, maka dia akan menduga aku agoraphobia.”

Tapi, bila dia tidak sejenius itu?” kata Tiffany, menekan kata ‘sejenius’. “Jess, aku tak yakin. Tolak saja, katakan di apartemen kita. Dia pasti mengatakan ‘Oh, tidak masalah, dimana rumahmu?’.”

Jessica menghela napas. Ia sudah memantapkannya, dia tidak bisa mengubah keputusan begitu saja. “Aku tidak bisa mengubah keputusanku, Tiff. Dia pasti sudah memantapkannya.”

Kau bawa uang?” tanya Tiffany. “Bawa banyak-banyak, makanan kafe mahal.”

Jessica mengganguk—walau ia agak ragu apakah Tiffany melihatnya—. “Tentu saja aku membawanya,” kata Jessica. “Kau pulang cepat atau pulang malam? Kau juga mendapat tugas Songsaenim Kim?” tanya Jessica.

Tidak, jadwal pelajaran Songsaenim Kim besok. Ah, kuharap aku mendapat partner yang baik!” kata Tiffany, riang. “Sudah dulu, ya? O ya, sudah kubilang, aku ingin belanja dulu di Lotte Mart? Sampai jumpa!

Jessica mendengar bunyi bip, bip, yang menandakan bawah Tiffany memang menyelesaikan pembicaraan keduanya. Bertepatan pula, Sehun muncul sambil memainkan teleponnya. “Kau siap?” kata Sehun, melirik gadis itu dan menyiratkan untuk mengikutinya.

Jessica mengganguk, “Tapi memangnya kita tidak dilarang masuk, apa? Kita memakai seragam sekolah!”

Sehun berpikir keras, berusaha mengingat beberapa peraturan disana. Lalu tersenyum lebar. “Tidak masalah. Aku selalu membawa laptop di dalam mobilku, jadi tidak usah berpikir. Akan kuprint besok.”

Sehun melirik kunci mobilnya, lalu menekannya. Bip, bip! Terdengar suara mobil merespon. Sehun lalu menaiki mobilnya, dan akhirnya Jessica menyusul. Gadis itu memilih duduk dibelakang dan memandang ke arah buku sekolahnya. “Kau tidak duduk disampingku?” tanya Sehun.

“Tidak, dan untuk apa aku duduk disampingmu?” tanya Jessica.

Sehun diam. “Kupikir gadis-gadis seperti itu jika melihat pria tampan,” kata pria itu, lalu tersenyum jahil. “Atau kau yang memang berniat untuk jaim?” tebaknya.

Jessica mendengus. “Jangan harap,” kata Jessica. “Aku bahkan baru menyadari bahwa kau tampan, bila kau tidak mengatakan kau tampan, aku tidak akan pernah tahu bahwa kau tampan.”

Hening. Sehun fokus pada perjalanan, dan Jessica fokus pada pikirannya. Kafe, itu apa yang sibuk dipikirkannya. Ia harap kafe sedang sepi, apalagi ini hari kerja. Yang jelas, ia sama sekali tidak berharap pada hari kerjapun kafe sedang penuh sesak oleh pelanggan.

“Kau tidak melihat jalan?” tanya Sehun, memecahkan keheningan yang baru saja berjalan lima belas menit tersebut. “Jalanannya ramai, lho.”

“Tidak,” jawab Jessica kalem.

“Kau memilih melihat buku daripada melihat jalan raya yang penuh sesak oleh para manusia?” kata Sehun—membubuhkan nada heran pada ucapannya.

Bingo! Itu alasan mengapa Jessica sama sekali tidak ingin melihat jalan raya. Penuh sesak, ramai. Bukankah keramaian adalah musuhnya? “Buku lebih baik,” jawab gadis berambut brunette itu, kemudian. Ya, lebih baik daripada pingsan di tempat karena melihat jalan raya!

“Oh, begitu,” kata Sehun, lalu menatap jalan raya sebentar. Lalu kembali fokus pada jalanan. “Aku heran, aku baru saja belajar, lalu untuk refreshing otak aku membaca buku?” kata Sehun, lalu melirik ke belakang, melirik sebentar buku Jessica. “Terlebih itu Matematika!”

Jessica tersenyum geli, “Aku masih tidak mengerti pelajaran tadi.”

“Bila aku membaca di mobil, aku merasa pusing. Aku tidak bisa membayangkan, berusaha membaca buku Matematika di dalam mobil! Itu membuatmu tambah pusing saja, iya kan?” kata Sehun. “Tahu tidak? Aku heran padamu.”

Pria itu mencapnya aneh? Jangan berburuk sangka; ia hanya heran pada Jessica, bukan men-capnya aneh. “Kau bilang aku aneh?”

Sehun tertawa. “Tidak. Heran dan aneh itu berbeda. Maksudku, well hello! Gadis mana yang belum tahu pria ter-tampan se-sekolah?” kata Sehun. Jessica menjulingkan matanya, menanggapi ucapan narsis pria dihadapannya itu. Ralat! Pria yang sedang mengendalikan mobil tersebut.

Jessica mengedikkan bahu. “Aku tidak mengenalmu, aku lebih menyukai di perpustakaan.”

“Perpustakaan itu sepi.”

Dan itulah alasan Jessica menyukainya! Menyukai perpustakaan! Karena perpustakaan sepi, Jessica memilih memakan makannya di depan perpustakaan lalu menaruhnya di kelas dan kembali ke perpustkaan sementara Tiffany kadang-kadang ke kantin atau ikut menemaninya membaca buku.

Hening.

Gangnam District, Jessica memandang jalanannya. Ramai. Jessica segera memalingkan perhatiannya. Gadis itu melirik ke hadapannya, memastikan Sehun tidak melihat gelagatnya. “Apa masih jauh?”

“Tidak. Tidak. Kau lihat kafe itu?” kata Sehun. Jessica hanya mendengarkan, jalannya ramai. Dia menolak melihatnya. “Hei, aku berbicara!” omel Sehun.

Ogah-ogahan sebenarnya, tapi Jessica mengadahkan kepalanya. Memandang ke jalanan. Ramai—seperti dugaannya. Melihatnya saja sudah membuatnya takut setengah mati, apalagi membaur kedalamnya! Jessica tidak bisa membayangkannya; sungguh.

“Lihat kafe yang itu? Yang ramai itu!” kata Sehun. Wajah Jessica pucat, skakmat baginya.

Kafe itu ramai.

“Aku lihat. Aku lihat. Terimakasih untuk menunjukannya padaku,” kata Jessica, dan ia dapat merasakannya.

Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya.

Sehun merasakan tangan Jessica lebih dingin dari sebelumnya saat ia memegang tangan gadis itu, mengantarnya ke kafe langanannya. Korean Cafe, nama itu tertulis rapih dipapan yang dipasang diatas atap kafe. Sehun membuka pintu kafe, lalu berdecak sebal.

“Penuh banget,” kata Sehun. “Begini, kau duduk menjaga tempat untukku, dan aku memesan. Kau ingin memesan apa? Kalau kau ingin memesan sesuatu diluar makanan Korea, kau bisa disini.”

Jessica memandang pria itu, berusaha menetralkan jantungnya, walau usahanya gagal total —karena setiap ia memandang sekelilingnya, dia merasakan jantungnya makin berdegup kencang—. “Teh hijau, itu saja.”

“Kau yakin? Tidak ingin yang lain?” tanya Sehun.

Jessica mengganguk, meyakinkan. Sehun melirik gadis itu, mencari tempat kosong yang sempurna. “Kau cari tempat, dan aku akan memesan sesuatu,” kata Sehun, memerintahkan gadis itu mencari tempat.

Tidak. Tidak. “Aku tidak mau.”

Sehun mengangkat alisnya, heran. “Baiklah, tapi aku rasa kau takut aku bersama gadis lain, iya, bukan?” kata Sehun, tersenyum nakal sambil mengantri di barisan kasir.

Jessica mencubit lengan pria itu, “Bukan begitu!”

“Lalu?”

Jessica hanya menggeleng, dan beruntungnya, pria yang sangat tampan itu tidak berniat menggodanya untuk kedua kalinya. “Hanya teh hijau? Aku ingin mencoba memesan croissant dan milkshake,” kata Sehun. Jessica hanya diam, mendengarkan, berusaha untuk mengacuhkan banyak orang yang berlalu lalang.

Sehun membayar pesanannya dan membayar pesanan Jessica. “Kubayar milikmu,” kata Sehun, berbisik. “Tidak, kau tidak perlu menggantinya,” kata Sehun, melihat gadis disebelahnya yang buru-buru membuka resleting tas berwarna biru donker-nya, lalu Sehun melirik ke salah sebuah tempat. Dan itu kosong!

Sehun berjalan cepat-cepat ke sana, dan melirik Jessica yang sama sekali tidak senang diantara begitu banyaknya orang-orang, dan dengan susah payah berjalan diantara mereka.

“Wow, kau benar-benar tidak suka pada keramaian, ya?” kata Sehun, lalu melirik ke arah meja kasir. “Kuharap mereka bisa menemukan kita diantara begitu banyaknya orang.”

Jessica mengganguk. “Kau bawa laptopmu?”

Sehun menunjukkan laptopnya, dan membukanya. “Jadi untuk tugas …, kita tulis begini,” Sehun membebaskan jarinya menari di keyboard, sementara Jessica memikirkan soal tugas. “Jadi …, untuk halaman pertama ….”

Jeonbokjuk—bubur abalon,” kata Jessica.

Sehun mengernyit. “Kau benar-benar suka, ya?”

“Tidak, itu yang pertama kali terlintas di benakku,” kata Jessica.

Sehun mengganguk, lalu segera menulis Jeonbokjuk, setelah dihalaman sebelumnya menulis; MAKANAN KHAS KOREA SELATAN. “Jadi apa yang kau tahu soal Jeonbokjuk?” tanya Sehun.

Jessica berpikir. “Merupakan makanan khas dari pulau Jeju. Hm …, tunggu. Abalon termasuk makanan istimewa di Korea, karena termasuk makanan berkualitas tinggi,” kata Jessica, menghentikan ucapannya. Berpikir. “Pada zaman dahulu, biasanya abalon dipersembahkan sebagai hadiah untuk raja.”

Sehun mengganguk. “Lalu, apalagi?”

Jjajangmyeon,” kata Jessica.

Sehun mengetik.

Jjajang artinya saus goreng, dan myeon artinya mi. Jjajangmyeon menggunakan mi tebal dari gandum. Sausnya terbuat dari rebusan pasta kacang kedelai hitam yang disebut chunjang yang dibumbui bawang merah cincang, zucchini, daging atau seafood,” kata Jessica. Kali ini tanpa berpikir.

Bungeoppang,” kata Jessica.

Sehun menunggu. “Lalu?”

Jessica mendelik. “Tunggu dulu, aku ingin berpikir! Kau hanya menulis, Hun,” omel Jessica.

Bungeoppang bisa juga disebut roti ikan mas. Bungeoppang adalah jenis kue panggang yang diisi dengan pasta kacang merah dengan cetakan berbentuk ikan,” kata Jessica, lalu dia berpikir.

Sampai akhirnya seorang pelayan mendatangi mereka berdua. “Teh hijau, croissant dan milkshake, silahkan menikmati,” kata pelayan itu, lalu membungkuk. Jessica menatap teh hijau-nya. Lalu meneguknya pelan-pelan. Dia merasa lebih rileks karena teh itu.

Dan, kegiatan berikutnya adalah Jessica yang sibuk mendiktekan budaya Korea selain makanannya, sedangkan Sehun berusaha mengetik dengan cepat.

Jessica melirik jam tangannya. Pukul empat. Berapa lama mereka di kafe itu? Sehun diam, dan Jessica juga diam. “Kau ingin mendiktekan apalagi?” tanya Sehun, sambil memandang gadis itu.

“Aku tidak tahu,” kata Jessica, menggedikkan bahu. “Kita kerjakan lagi besok, kali ini, pastikan kau dan aku membawa buku-buku tentang budaya Korea.”

“Dimana?” tanya Sehun, masih memfokuskan pada layar laptopnya. Jessica meneguk teh hijaunya, memandang jalan raya, mengerang pelan. Jalan itu sama sekali tidak sepi. Bertambah penuh, malah. “Jessica?”

Jessica melirik lawan bicaranya, Sehun sudah menutup laptopnya. “Rumahmu.”

Sehun mengganguk, lalu mengajak gadis itu pergi. “Kau barangkali ingin berjalan-jalan atau belanja? Seperti apa yang biasa para gadis lakukan?” tanya Sehun, melirik pesanannya yang sudah habis.

Jessica merinding, keluar? “Ke rumahku, tolong.”

“Baiklah,” kata Sehun.

Selama perjalanan menuju mobil Sehun —yang diparkirkan agak jauh dari kafe—, Jessica mendekatkan diri terus menerus dengan Sehun, sama sekali tidak ingin pria itu melepaskan tangannya. “Jess, Jess.”

Jessica tidak bergeming, dia masih memegang tangan pria itu. Keringat dingin membasahi dahinya, jantungnya berdegup lebih kencang, bulu kuduknya berdiri, wajahnya pucat. Dia syok.

Sehun memegang tangannya, mempercepatkan langkahnya. Dan akhirnya mobil-nya bisa ditemukan. Sehun memandang gadis disebelahnya ini, lalu menyetir mobil-nya, membawanya pergi. Sesuatu telah memenuhi pikirannya, sesuatu yang tidak asing.

Tapi apa itu?

Tiffany memandang gadis itu cemas. Sehun tidak, pria itu tidak panik. “Dia syok berat,” kata Sehun. “Kuharap dia baik-baik saja.”

Tiffany memegang tangan Sehun, memberi sorotan mata berterimakasih. “Kau tahu apartemenku, darimana?”

“Dia tertidur, dan aku berusaha mengingat alamat apartemenmu,” kata Sehun, lalu mendorong Jessica, gadis itu tampak masih terhuyung dalam berjalan. “Aku akan pergi.”

Tiffany memegang pundaknya, “Aku berterimakasih terlalu banyak. Aku sempat mengkhawatirkannya. Kau tahu dia ….?”

Sehun terdiam. “Aku tak heran dia nyaman denganmu—kau mengerti dirinya, sahabat yang baik. Selamat tinggal.”

Jessica memastikan pesan dari Sehun tidak salah, gadis itu keluar dari bangunan sekolahnya, baru saja berniat pulang tapi smartphone-nya bergetar. Maka ia membuka-nya dan mendapati pesan dari Sehun. Tunggu, bagaimana pria itu mengetahui nomornya?

Aku ada di parkiran mobil. Buka saja pintunya, kita akan mengerjakan tugasnya di rumahku.

Jessica melirik mobil Sehun, dan menemukannya. Tepat di dekat gerbang sekolah, gadis itu mendekatinya, dan membuka pintu mobil. “Bagaimana kau tahu nomor teleponku?”

“Tiffany,” kata Sehun. Lalu menghidupkan mesin. Radio-nya tidak dinyalakan, pria itu menyetir. “Kau takut, wajahmu pucat, jantungmu berdegup lebih kencang saat kau bersamaku kemarin.”

Jessica mendengarkan. “Kau tahu?”

Sehun mengganguk. “Agoraphobia; kau takut pada keramaian. Aku betul, ya, kan?” kata Sehun, menebaknya.

Jessica diam.

“Aku tahu, kau takut saat kukatakan kafe. Apalagi saat kukatakan kafe ramai, dan tidak suka saat kukatakan jalan raya sedang ramai dan itu pemandangan bagus. Kau senang berada di perpustakan; karena tempat itu hening dan sepi,” Sehun diam, fokus pada jalanan. “Sejak kapan?”

Jessica berpikir. “Sejak kapan apanya?”

“Sejak kapan kau agoraphobia?” kata Sehun. “Dan, mengapa kau terkena agoraphobia?” tanya Sehun.

Jessica tidak suka mengingatnya lagi. “Lima, lima tahun,” kata Jessica. “Aku tidak suka mengingatnya terlalu banyak. Tapi karena kau bertanya …, baiklah. Akanku jawab. Aku sedang berjalan-jalan bersama orangtuaku dan adikku di Seoul, sampai akhirnya aku tanpa sengaja melepaskan tangan orangtuaku. Aku diculik oleh seseorang yang mengaku bahwa dia mengenal ayahku.

“Tapi dia menculikku, entah bagaimana ayah tahu. Aku takut, aku takut keramaian sejak itu. Aku takut kehilangan seseorang yang aku sayangi. Tapi tolong, maaf, jangan ge-er, aku tidak menyukaimu. Aku takut, aku takut pergi dari orangtuaku,” kata Jessica.

Sehun mengganguk.

“Kau membutuhkan seseorang, seseorang yang membantumu untuk menemanimu dalam agoraphobia,” kata Sehun. “Maka, aku bersedia menjadi seseorang itu, aku ingin menjadi pendamping hidupmu. Membantumu untuk menghilangkan phobia itu, agoraphobia. Jadi, Jessica Jung, inginkah kau menjadi kekasihku?”

Jessica tertegun. Dia tidak pernah menyukai seorang pria; terlebih menyukai seorang pria narsis layaknya Oh Sehun. Dia bahkan tidak pernah menyukai bahkan mencintai Sehun. Tapi di sisi lain …, sesuatu menolaknya mengatakan tidak. Hati kecilnya.

Hati kecilnya nyaman dengan Sehun. Hati kecilnya menyukai saat Sehun disamping-nya, disisinya.

“Maaf, tapi aku menolak mengatakan tidak. Maka, aku akan menjawab ya,” kata Jessica, memegang tangan Sehun. Tersenyum manis.

Sehun tersenyum, membalas senyuman gadis itu. Bukan senyuman mengejek atau jahil, senyum tulus. Yang berasal dari hatinya. “Kau akan selalu bersama disampingku, tepat disampingku. Saat kau takut, bahagia, sedih. Aku akan selalu disampingmu.”

Sehun menghentikan mobilnya, tepat di depan rumahnya. Lalu membuka pintu bagi gadisnya. “Tepat disampingmu, aku akan selalu berada tepat disampingmu,” kata Sehun, memegang tangan Jessica dan megajaknya ke dalam rumahnya.

Jessica tersenyum, lalu berjalan ke dalam rumah pria itu.

Things that you need to make your life perfect is a perfect match! – Oh Sehun

FIN

note; untuk yang soal jjajangmyeon, jeonbokjuk, dan roti ikan mas, aku dapat pengertiannya dari buku terbitan Dar!Mizan, judulnya; K-Novel: Eoseo Oseyo New Idol!

16 thoughts on “[OS] Right Beside You

  1. Bagus ceritanya…
    Baru dekat sbentar udah jadian aja HunSica ckckck…

    Kasian bgt orang2 yg harus mengidap phobia itu… Walau bgaimnapun menghindari keramaian pasti kita akan tetap ketemu dgn keramaian.

    Ditunggu Ff hunsica yg lainnya yaa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s