Memorable Days With You

bf

by Park Soojin

Xi Luhan – Jung Sooyeon || General || Friendship, Angst

cr. poster: WeHeartIt

@@@

Luhan memperhatikan sekelilingnya dengan pandangan kesal. Ya, dia kesal karena ini pertama kalinya dia masuk rumah sakit untuk opname karena demam berdarah. Tapi dia lebih kesal lagi melihat ekspresi keluarganya yang menurutnya berlebihan mengkhawatirkannya. Dia merasa sudah besar di usia 14 tahun ini, dan dia juga ingin keluarganya menganggapnya sudah besar. Luhan benci dimanja.

“Luhan pastikan kau turuti semua kata dokter. Dan kau tidak perlu khawatir karena eomma akan menjagamu disini. Appa dan kakakmu juga pasti kesini jika tidak sibuk.” Tutur eommanya khawatir.

Laki-laki berambut cokelat itu mendengus, “eomma, tanpa dijaga pun aku akan baik-baik saja. Lagipula tugasku hanya minum obat dan tidur.” Jelas Luhan berbohong. Tidak mungkin dia istirahat seharian karena anak itu dasarnya tidak bisa diam. Dia berkata seperti itu supaya eommanya berhenti mengkhawatirkannya.

“Baiklah. Sekarang kau tidur saja dulu sampai waktu makan malam nanti. Eomma akan menjagamu.”

“Eomma, aku mohon~ aku ini sudah besar, tinggalkan saja aku disini dengan dokter. Aku tidak masalah kok.”

“Tapi, Lu, ini pertama kalinya untukmu diopname..”

“Aku tidak apa-apa, kalau eomma khawatir jenguk saja beberapa hari sekali.”

Setelah perdebatan konyol itu, akhirnya eomma Luhan mengalah. Dia membicarakan beberapa hal dengan dokter ditemani suaminya, kemudian pulang ke rumah.

Dokter itu berjalan mendekati Luhan, kemudian memperbaiki infusnya.

“Bukannya ikut campur urusanmu, Luhan-ssi. Tapi sebaiknya kau bersyukur karena ada keluarga yang mengkhawatirkanmu ketika kau sakit. Beberapa pasien disini bahkan sudah yatim piatu.” Ujar dokter itu tanpa menatap Luhan.

“Aku hanya tidak ingin terlalu dimanja seperti anak perempuan, uisa-nim. Dan soal pasien yang yatim piatu, itu salah mereka. Sudah tau tidak punya orang tua, untuk apa sakit?” jawab Luhan tanpa dipikir. Dokter itu menggelengkan kepalanya.

Ternyata orang dingin itu bukan mitos, batin dokter itu.

 

@@@

 

Kata teman-temannya dulu, makanan rumah sakit itu sama sekali tidak enak, dan kini Luhan merasakannya. Untung saja Luhan bukan anak manja yang akan menggerutu memakan makanan sehambar ini. Dia tau ini untuk kesehatannya, jadi dia segera menghabiskannya. Setelah menghabiskan makanannya, seorang perawat memberikan obat-obatan yang harus dia minum juga menyuntikkan obat.

“Suster, apa pasien boleh keluar?” tanya Luhan.

“Tidak masalah asalkan tidak melepas infusnya.”

Luhan tersenyum. Setidaknya dia tidak akan mati kebosanan karena berdiam tiga pekan di kamar ini.

“Baiklah, setelah selesai suntik aku mau berjalan-jalan keliling rumah sakit.”

“Silakan, Luhan-ssi. Tapi jangan lupa kembali sebelum waktunya tidur.”

“Tentu saja.”

 

@@@

 

Memang agak berlebihan, tetapi Luhan merasa bebas setelah keluar dari kamar VIPnya. Setidaknya dia bisa bertemu pasien lain dan menjadi temannya selama di rumah sakit.

Dia mulai menyusuri lorong. Ternyata hanya ada tiga kamar VIP di lorong ini. Dua ruang lainnya adalah ruangan peralatan dan obat-obatan. Di ujung lorong, ada dua jalan; ke kanan adalah jalan menuju lobby dan beberapa kamar khusus, sedangkan jika berjalan lurus adalah tempatnya bangsal-bangsal.

Luhan memutuskan untuk belok kanan. Sesampainya di lobby, dia dapat melihat beberapa orang di kursi tunggu. Di sebelah tempat tunggu yang diberi sekat berupa kaca adalah ruang khusus. Dia sendiri tidak tau apa yang dimaksud ruang khusus, semua perawat menyebutnya seperti itu. Di depan ruang khusus itu ada semacam tempat bermain sederhana untuk anak-anak.

Beberapa anak kecil yang bermain di situ menarik perhatian Luhan. Akhirnya dia berjalan kesana. Dia akui berjalan sambil membawa infus sangat mengganggu, tapi dia tetap lanjut berjalan ke tempat bermain itu.

Tiba-tiba seorang gadis kecil berlari ke arahnya dan bersembunyi di balik punggungnya. Luhan tidak tau harus melakukan apa, akhirnya dia hanya diam saja untuk menyembunyikan badan si gadis itu.

Seorang suster yang lewat di hadapannya terlihat kebingungan. Suster itu berkeliling di sekitar tempat bermain anak-anak. Dia terlihat sedang mencari seseorang.

“Oppa, sembunyikan aku dari suster itu..” suara gemetar dari seseorang di belakangnya membuatnya tersentak. Luhan menoleh ke belakang dan mendapati bocah yang tadi bersembunyi di balik punggungnya sekarang sedang berusaha menutupi wajahnya dengan baju rumah sakit yang dikenakan Luhan.

Luhan berpindah tempat sedikit menepi sambil menggeret infusnya dan bocah perempuan tadi.

“Kenapa kau sembunyi dari suster?” bisik Luhan kepada gadis itu.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya, “Aku tidak mau minum obat.”

Seperginya suster itu, Luhan membawa si gadis ke kursi dekat tempat bermain. Mereka duduk di situ.

“Kenapa tidak mau minum obat? Kalau minum obat dengan rutin kau akan sembuh.” Ujar Luhan. Walaupun nadanya datar, tetapi kalimatnya mengungkapkan bahwa dia masih punya rasa peduli pada gadis itu.

Gadis itu hanya menggumam tidak jelas, kemudian menggeser posisi duduknya hingga agak serong dan bisa melihat wajah Luhan.

“Oppa sakit apa? Dirawat di bangsal apa? Sudah berapa lama?” tanyanya penasaran.

“Demam berdarah. Ruang VIP. Baru sehari ini.” Jawab Luhan seadanya.

“Ohh. Kau tau oppa? Aku tidak tau aku sakit apa. Tapi aku sudah berbulan-bulan disini. Aku bosan.” Keluh gadis itu, sementara Luhan hanya meliriknya dengan tatapan ‘aku tidak bertanya’.

“Oh iya oppa, sekarang hampir jam sembilan malam.. kembalilah ke ruanganmu, nanti suster memarahimu.” Gadis itu berdiri, dan berpamitan akan ke kamar rawatnya kepada Luhan.

Baru beberapa langkah, dia berhenti berjalan dan berbalik badan menghadap Luhan, “Oh, aku hampir lupa. Namaku Sooyeon.” Ujarnya sambil menyunggingkan senyum lebar, kemudian kembali berjalan ke kamarnya.

“Bocah itu, aku tidak bertanya dia sudah jawab duluan.” Desis Luhan. Dia mendengus, kemudian memutuskan kembali ke ruang rawatnya.

 

@@@
Luhan POV

 

Seharian hanya sendirian sambil bermain game ternyata sangat membosankan. Selain itu, mataku juga terasa panas. Kerjaanku sehari ini hanya makan, minum obat, main game. Aku juga baru sadar sekarang sudah jam delapan malam.

Karena sangat bosan, aku jadi ingin tidur. Tapi aku tidak ngantuk sama sekali. Apa, ya, yang sebaiknya aku lakukan sekarang?

Tiba-tiba terbesit di pikiranku untuk ke kamar khusus; lebih tepatnya tempat bermain di depannya. Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin menemui bocah kemarin.

Akhirnya aku turun dari ranjang, dan menggeret infusku keluar kamar. Aku susuri jalur yang kemarin sudah aku lewati, hingga aku sampai di dekat kamar khusus. Kulihat sekilas, anak-anak yang bermain disana terlihat lebih banyak.

Kualihkan pandanganku ke arah tempat duduk. Ada seseorang yang sedang membaca novel disana, sepertinya itu bocah yang kemarin ngobrol sebentar denganku. Aku pun berjalan ke sana. Dan duduk di sebelahnya. Sepertinya dia agak terkejut dengan kehadiranku, dia langsung menutup novel yang sedang dibacanya.

“Serius sekali, sih.” Sindirku. Dia tidak memberi respon lebih, hanya lanjut membaca.

“Seru, tau.” Sanggahnya singkat.

Bosan, tidak asik sekali jika tidak ada yang mengajak bicara seperti ini. Aku tidak biasa memulai obrolan.

“Namaku Luhan.” Beberapa detik kutunggu, dia masih asik membaca novelnya tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.

Dia bicara pelan, sangat pelan sampai aku tidak bisa mendengarnya. “Uh? Kau bicara apa tadi?”

“Aku sudah tau kok, oppa. Suster sudah memberitahuku.” Ujarnya kemudian dengan suara yang lebih keras.

Karena kesal keberadaanku tidak dihiraukan, aku pun merebut novelnya dan segera mengangkatnya tinggi-tinggi. Dia terlihat kaget bercampur kesal.

“Yah, oppa! Kembalikan!” dia berusaha mengambil novelnya yang ada di tangan kananku.

“Ambil saja sendiri kalau bisa.” Tantangku, aku semakin meninggikan tanganku sambil terus menghindari tangannya.

“Jebal, kembalikan. Itu novel favoritku ~” rengeknya. Aku tertawa mendengar suaranya yang memelas.

“Sudahlah, novel itu bacaan orang-orang tua. Kalau kau membacanya, kau seperti orang tua.” Kataku asal. Aku tidak seratus persen berpikiran seperti itu, sih. Hanya ingin memanas-manasinya saja.

“Biarkan saja. Kembalikaaaan!” tiba-tiba dia mencubit pinggangku dengan kukunya. Perih sekali, aku tidak berbohong..

“Aww! Sakit tau!” aku pun menurunkan tanganku. Tak mau lengah, dia langsung mengambil novelnya dariku.

“Hahaha, oppa nakal sih.” Dia tertawa kemudian. Hey, dia tidak berhenti juga tertawa. Jangan-jangan dia mulai gila.

Lelah menjahilinya, aku duduk di kursi tadi. Sooyeon juga duduk di tempatnya sebeluumnya dan melanjutkan membaca novel.

Aku meliriknya. Apa sih menariknya novel itu, sampai-sampai dia tidak menghiraukan adanya orang tampan di sebelahnya?

“Sooyeon-ah, suka sekali novel ya?” tanyaku penasaran.

Dia menutup novelnya, kemudian menatapku. “Tidak juga sih. Hanya kebetulan saja ceritanya sangat bagus, jadi aku suka novel ini.”

Sooyeon memamerkan cover novel bernuansa ungu itu dihadapanku. “Novel ini judulnya ‘Laskar Pelangi’. Sebenarnya ini cerita dari Indonesia, tapi aku membeli novel yang sudah diterjemahkan ke bahasa Korea. Oh, ini juga sudah difilmkan, loh. Aku sudah menonton filmnya berkali-kali dengan temanku di panti asuhan dulu, dan menangis terharu berkali-kali. Aku suka semua tentang cerita ini. Gaya penulisan novelnya, jalan ceritanya, filmnya, bahkan OST filmnya, semuanya sangat keren buatku!” jelasnya panjang lebar.

Aku hanya melongo karena tidak terlalu paham dengan apa yang dia bicarakan. Tapi ada dari sebagian kalimatnya tadi yang menarik perhatianku.

Dia anak panti asuhan.

 

@@@

 

Pagi yang terasa agak membingungkan buatku. Aku bangun, tapi tidak tau apa yang harus aku lakukan setelahnya. Hanya karena penggalan kalimat Sooyeon yang terus memenuhi otakku.

“Aku sudah menonton filmnya berkali-kali dengan temanku di panti asuhan dulu,..”

Aku menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka. Ternyata Dokter yang siap mengganti infusku dan seorang perawat yang membawakan sarapan untukku. Sepertinya pagiku akan dimulai seperti ini selama sebulan kedepan.

“Selamat pagi, Luhan-ssi. Bagaimana istirahatmu semalam?” tanya dokter itu ramah.

“Entahlah..” Jawabku singkat. Dokter itu hanya tersenyum tipis, dan mulai mengganti infusku.

Mendadak aku ingin menanyakan segala sesuatu tentang Sooyeon kepada dokter itu. Siapa tau dokter ini juga bertugas di kamar khusus.

“Uisa-nim, apakah kau juga bertugas di kamar khusus?”

“Ne, itu benar. Waeyo Luhan-ssi?”

“Umm, apa kau mengenal Sooyeon? Bisakah kau menceritakan sedikit tentangnya?” entah kenapa aku jadi sangat penasaran dengan bocah itu.

Dokter itu melirikku sebentar sambil tersenyum tidak jelas apa maksudnya, “Sooyeon, Jung Sooyeon? Pasien kamar khusus, usia 10 tahun 5 bulan. Dia sudah sekitar 11 bulan disini. Hampir setahun. Dia anak yatim piatu dari salah satu panti asuhan.”

Ternyata benar kalau dia anak panti asuhan. Aku tidak menyangka kalau dia yatim piatu.

“Kalau boleh tau, Sooyeon sakit apa, sampai dirawat selama itu?”

“Kanker paru-paru, sudah masuk stadium akhir.”

Oksigen terasa sulit kuhirup. Bagaimana bisa bocah itu mengalami cobaan seberat ini.

“Bagian terburuknya bukan itu Luhan-ssi,” dokter itu memotong kalimatnya sejenak, “Aku tidak bisa menjaminnya bertahan lebih dari sebulan lagi.”

 

Ÿ
10 days later

 

Aku memutuskan keluar kamar lebih awal dari sebelumnya. Sekitar jam 4 sore, aku keluar menuju taman belakang rumah sakit. Tidak ada siapapun disana. Aku duduk di satu-satunya kursi taman.

Pemandangan disini ternyata semakin menurunkan moodku. Hanya ada bagian belakang gedung sekolah. Padahal harapanku bisa melihan pemandangan yang segar dan asri.

Sialnya aku tidak membawa handphone ataupun mp3playerku. Akhirnya aku hanya bersandar sambil memejamkan mata, dan mendengarkan suara apapun di sekitarku.

“Luhan oppa?”

Suara dari sebelah kiriku mengusik kegiatanku. Aku menjawab tanpa membuka mata, toh aku tau siapa yang memanggilku. “Apa?”

“Sedang apa oppa disini?”

Aku membuka mata, melirik bocah yang sekarang sedang menatapku heran, “Memangnya tidak boleh aku kesini?”

Duh, kenapa kalimat itu yang keluar. Selalu saja saat aku berusaha terlihat cool, malah jadi nyolot.

“Mmm, tidak apa-apa sih. Biasanya hanya aku yang suka kesini.” Ujar Sooyeon, kemudian mengambil posisi duduk di sebelah kiriku.

“Oppa tidak bosan dari tadi hanya diam?” tanyanya. Aku hanya mengangguk menanggapinya.

“Mau mendengarkan lagu?” tawarnya dengan mata berbinar.

“Aku tidak yakin aliran musik kesukaan kita sama.”

Dia terlihat kecewa mendengar jawabanku. Tetapi tidak sampai sedetik mimik wajahnya langsung ceria kembali.

“Aku yakin kau akan menyukainya, oppa. Kau ingat ‘Laskar pelangi yang pernah kuceritakan? Ini adalah OST film Laskar Pelangi favoritku.”

Aku meliriknya lagi. Kenapa, sih, bocah ini suka sekali dengan film itu. Mengerti artinya saja belum tentu.

“Oppa ~, mau kan?”

Baiklah, dia mulai merajuk. Dan aku tidak bisa menolak. Akhirnya dengan berat hati aku mengangguk. Sooyeon langsung tersenyum lebar dan mengeluarkan earphone dari sakunya. Dia memberikan satu sisinya kepadaku, dan langsung kupasang di telinga kiriku.

Sooyeon menyetel lagunya. Awalnya hanya permainan gitar. Oh, aku sangat suka main gitar. Setelahnya, lirik berbahasa Indonesia yang aku tidah tau artinya. Tapi entah kenapa saat mendengarkannya, aku merasa sedikit bergetar.

Lagu pun selesai. Kulirik Sooyeon, dia menitikkan air mata sambil tersenyum.

“Y-yah, kenapa kau menangis?” khawatirku. Apa arti lagu ini sebegitu menyentuhnya?

Sooyeon mengusap air matanya dan tetap tersenyum, “Aniyo. Aku hanya membayangkan jika punya sahabat seperti di lagu ini.”

Tanpa sengaja, aku tersenyum mendengar pernyataan polosnya.

“Oppa, tidak bisakah kita selca berdua?” pintanya.

“Shireo. Aku tidak suka.”

“Jebal, oppa ~”

Ya Tuhan, kenapa bocah ini suka sekali merajuk sih. Tetapi karena teringat sesuatu, lagi-lagi aku mengabulkan permintaannya.

Sooyeon mengeluarkan handphonenya dan men-set kamera depan, menghadapkannya pada kami berdua. Aku memasang senyuman terbaikku, semanis dan setulus mungkin.

“Hana, dul, set!”

Kami melihat hasil fotonya dan tersenyum puas. “Nah kalau begini kau tampan, oppa” ujarnya sambil tertawa renyah.

Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya.

 

@@@

 

“Aku pulang seminggu lebih cepat?”

Tentu saja aku terkejut. Tiba-tiba dokter datang ke kamar rawatku bersama eomma dan menyatakan bahwa aku sudah sembuh total dan diizinkan pulang.

“Kenapa tidak, Luhan-ssi? Kau kan sudah rindu rumah,” celetuk dokter itu.

Sebenarnya aku sih tidak masalah pulang cepat, tapi Sooyeon..

Kalau aku pulang aku tidak bisa bertemu Sooyeon setiap hari.

“Ne, Luhannie. Kau seharusnya bersyukur. Kenapa kau malah terlihat sedih?” tanya eomma. Aku tersenyum canggung.

“Aku tidak sedih, kok.”

Aku memutuskan untuk pulang. Pikirku, mungkin sepulang sekolah aku bisa menjenguk Sooyeon dan bermain dengannya.

 

@@@
3 days later

 

Sore yang cerah. Aku turun dari bis sekolah bersama teman-temanku sambil membawa gitarku.

“Hey, bagaimana kalau kita makan bersama di rumah Jongdae?”

Hampir saja aku terima tawaran itu, sampai aku teringat sesuatu. Sudah 3 hari sejak kembali ke rumah aku belum menjenguk Sooyeon.

“Maaf, aku harus menjenguk temanku di rumah sakit.”

Untung saja teman-temanku memaklumi. Aku segera berlari ke rumah sakit yang kebetulan dekat sekitar sini. Aku langsung menuju meja resepsionis.

“Permisi, suster. Jung Sooyeon masih di kamar khusus, ‘kan?”

“Maaf, tuan. Nona Jung Sooyeon baru saja keluar dari ICU dan sedang dalam keadaan kritis di ruang VIP.”

Deg.

Aku langsung berlari ke kamar VIP dan kubuka pintunya asal. Kulihat bocah yang biasanya selalu ceria itu kini terbaring lemah.

Aku mendekat dan berhenti tepat di sebelahnya. Kugenggam tangannya dan kuusap-usap lembut, berharap itu bisa menguatkannya. Walaupun aku yakin itu tidak mungkin.

“Ngh..” terdengar lenguhan dari bibirnya.

“Sooyeon, k-kau sadar?”

Perlahan dia membuka matanya. Aku tidak bisa menahan senyuman.

“Oppa?” lirihnya.

“Ne, Sooyeon-ah?”

“Mani apha..”

Aku mengusap lembut kepalanya, “tahan ya Sooyeon, tidak ada yang sakit kok..” aku merutuki diri sendiri. Kalimat macam apa itu tadi.

Kulihat bibir Sooyeon bergerak tanpa mengeluarkan suara. Aku mendekatkan telingaku ke bibirnya. Setelah mengerti apa yang dia minta, aku segera menarik kursi dan duduk di sebelahnya sambil memangku gitarku.

Dia memintaku untuk menyanyikan lagu favoritnya. Lagu yang kami berdua dengarkan saat di taman belakang rumah sakit.

Aku mulai memainkan gitarku, dan melantunkan tiap kalimat syair lagu itu.

“Baru saja berakhir, hujan di sore ini
menyisakan keajaiban kilauan indahnya pelangi.
tak pernah terlewatkan dan tetap mengaguminya
kesempatan seperti ini tak akan bisa di beli

Bersamamu kuhabiskan waktu senang bisa mengenal dirimu
rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya..”

Kulihat Sooyeon perlahan memejamkan matanya, sambil menggumam ‘lanjutkan’. Aku tak kuasa lagi menahan tangis, tapi kuusahakan untuk mengabulkan permintaan terakhirnya.

“Melawan keterbatasan, walau sedikit kemungkinan
takkan menyerah untuk hadapi, hingga sedih tak mau datang lagi

Bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu
rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya..

Janganlah berganti, janganlah berganti,
janganlah berganti, tetaplah seperti ini…”

Sooyeon telah sepenuhnya menutup matanya. Aku sudah tidak bisa merasakan keberadaannya lagi.

Selamat jalan, sahabat kecilku..

 

@@@
10 years later
Author POV

 

Macet parah di jalan utama kota Seoul. Hampir semua mobil tidak bisa bergerak. Termasuk mobil milik Luhan.

Sudah macet, hujan deras, perut lapar pula. Lengkap sudah keadaan mengenaskannya sore ini.

Luhan melirik dashboard mobilnya, melihat ke arah fotonya dan seorang perempuan kecil yang memiliki senyum manis. Luhan ikut tersenyum hanya dengan melihat foto itu.

“Sooyeon-ah, hari ini melelahkan ya? Enak sekali kau disana, sudah tidak ada beban.” Ujarnya, kemudian tertawa hambar.

Dia melihat keluar jendela mobil, hujan mulai reda. Di atas terlihat guratan warna-warni menghiasi langit Seoul.

Luhan tersenyum tipis. Semua hal yang kualami selama ini selalu mengingatkanku padamu, Sooyeon-ah. Semoga kau bahagia di sana.

.

.

END

 

haiii. udah lama ya aku gak ngepost. maaff banget karena aku sibuk sama kegiatan sekolah. ini pun bikinnya dadakan-_- hehe aku harap kalian memaklumi. dan kalo udah baca tinggalkan jejak, ok?? adios~ ^-^

23 thoughts on “Memorable Days With You

  1. aku harap ada sequelnya chinguu..
    .bahkan aku juga sempet kepikiran sama kek #dianfadhillah00 klo luhan dewasa ktemu gtu ma orang yg mirip sooyeon & aku pengennya orang itu juga sooyeon tp pake nama jessica.nya..
    ..wuahh itu pasti keren bgt chingu,.hehe..
    .sempet kaget siih sama penyakitnya sooyeon,.apalagi dia yatim piatu..sedih bacanya chingu, tp baguss..

  2. huaaa ceritanya sedih T^T sahabat sejati~~ hikseu ternyata Luhan keingat terus ya sama Jessica. kasian banget jessica sakit parah😦

    ceritanya bagus! keep writing^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s