Dealova — Chapter [1]

Dealovaposter

Dealova

A Fanfiction By © Listyatya

Main casts : Jessica Jung; Kris Wu; Luhan

Other casts : Yoon Bomi; Kim Miseok (as Jung Minseok); etc.

Genre : Romance, Friendship, Little bit Comedy, & Sad.

Rating : T

Length : chapter.

Disclaimer : FF Ini murni dari pemikiran otak saya. Jangan menjadi plagiat, Be creative.

Note : Hallo semuanya! FF ini mungkin terinspirasi dari novel dealova. Dan FF ini mungkin FF Chapter pertama kali yang aku bikin, jadi harap maklum kalau ga nyambung/? Abaikan juga poster abal karna males pesen di orang._.v

Happy Reading and Don’t be a Silent Reader!

*-*-*-*

Siang hari ini nampak terasa sangat terik.

Bel berbunyi nyaring di Sekolah Menengah Atas Ganseung. Murid – murid di sekolah itu pun nampak sibuk masing – masing. Ada yang menutupi muka nya dengan buku – buku pelajaran, menunggu mobil yang siap menjemput mereka untuk kembali pulang ke rumah, dan lain – lain. 

Terkecuali salah satu murid perempuan ini, ia malah sibuk men -dribble bola basket di tengah – tengah lapangan basket.

Gadis ini tidak memperdulikan cuaca yang sangat panas, peluh pun sudah membasahi badan sang gadis. Namun, nampak nya gadis itu tak peduli dengan cuaca saat ini yang bisa membuat kulit nya cokelat, atau bahkan lebih parah.

“SICA –AH~~~” Teriak seseorang dari arah belakang gadis itu. Orang itu lantas berlari kehadapan gadis yang sedang bermain bola basket itu.

“Yak! Yoon Bomi, apakah kau bisa tidak berteriak?” Gerutu gadis yang tadi dipanggil Sica, atau lebih tepatnya bernama Jessica Jung.

“Hehe, mianhae, habisnya aku lagi senang, sih!” Ucap Bomi sembari Menyengir lebar, memperlihatkan gigi nya yang rapi dan putih.

Jessica berhenti men -dribble bola basketnya, dan langsung ia lemparkan bola tersebut ke ring yang juga tepat 2 meter didepannya.

Gol !
Bola itu masuk dengan sempurna.

“Sica! Kau dengar aku, ‘kan?”

Jessica menanggapi pertanyaan Bomi hanya dengan anggukan.

“Memang nya ada apa, sampai kau teriak – teriak tadi?” Tanya Jessica kemudian.

“Mmm.. Baekhyun!” Jawab Bomi semangat.

“Baekhyun?”

“Iya, dia. Baekhyun senior kita, yang menjabat sebagai ketua dari eskul Sains Club, dan setiap Baekhyun lewat pasti mata tertuju pada nya,” Tutur Bomi.

“Memangnya kau dan Baekhyun ada apa?”

“Baekhyun tadi melirik ke arah ku, dan dia tersenyum kepada ku! Oh My God, Sica.. Aku sangat senang sekali!!! Senyumanya membuatku melting !!” Bomi memegangi kedua bahu Jessica dan mengguncang – guncangkan nya.

Jessica memberhentikan aktivitas Bomi dengan memegangi kedua tangan gadis yang berparas imut itu. “Hey! Calm down, Bomi –ah! Bagaimana kalau Baekhyun bukan tersenyum kepada mu, melainkan orang yang mungkin berada di sampingmu, depanmu, atau belakangmu?”

“Tidak ada siapa – siapa lagi di sekelilingku tadi, Sica. Karena aku bertemu Baekhyun saat aku izin ke toilet itupun jam pelajaran,” Elak Bomi.

“Hm.. baru segitu saja sudah senang sekali, apalagi kalau Baekhyun menyatakan perasaannya padamu?”

“Aku akan terkena serangan jantung mendadak.” Celoteh Bomi. “Oh ya, kau tidak pulang?”

“Ini baru ingin pulang, waeyo?”

“Tidak apa – apa, hanya bertanya.”

“Aku kira kau ingin menawarkan tumpangan gratis.” Jessica meniup poninya.

“Pede sekali, sih?!” Bomi memutarkan kedua bola mata nya.

“Mungkin kau sedang berbaik hati padaku, Bomi –ah, lalu menawarkan tumpangan gratis,”

Jessica mengelap keringat nya menggunakan handuk kecil, setelah mengelap keringatnya, Jessica menaruh handuk kecil itu tepat di leher Bomi, lalu berjalan pergi meninggalkan Bomi. “Aku duluan, Yoon Bomi~” Teriak Jessica.

Bomi tersentak , kemudian “YAK!!! JUNG SOOYEON! APA – APAAN KAU INI?!”

***

Setelah pergi meninggalkan Bomi dan sekolah, Jessica berjalan menuju rumah nya.

Jessica sudah terbiasa berjalan kaki dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. Karena menurut Jessica, itu sama saja menghemat uang dan membuat tubuh tetap sehat.

Gadis berumur 17 tahun ini sudah diajarkan disiplin, mandiri, sejak kecil  karena ia ditinggalkan oleh kedua orang tua nya yang berkerja di California untuk mengurus perusahaan ternama Keluarga Jung. Kedua orang tua Jessica kembali ke Korea selama dua bulan sekali.

Jessica juga mempunyai satu orang kakak laki – laki bernama Jung Minseok. Minseok dan Jessica berbeda tiga tahun, yang berarti Minseok sudah kuliah.

Selama di Korea, Jessica dan Minseok tidak tinggal hanya berdua, mereka ditemani oleh Kim Ahjumma.

Kim ahjumma adalah pembantu di rumah Jessica dan Minseok yang sudah di anggap keluarga oleh keluarga Jung. Karena, Kim ahjumma sudah berkerja hampir dua puluh tahun di rumah Keluarga Jung.

Di sekolah nya, Jessica juga adalah anak yang berprestasi, ia tidak pernah tidak masuk dalam kategori lima besar di kelas nya. Ia juga kapten tim basket yeoja di sekolah nya. Wajar jika ia jago main basket.

Tanpa disadari, kini Jessica sudah sampai didepan rumah milik keluarga Jung yang terbilang sangat luas ini.

Jessica melihat mobil sport berwarna hitam milik kakaknya – Jung Minseok – sudah terparkir di depan rumah, yang berarti sang kakak sudah pulang dari kuliahnya. Jessica juga melihat dua mobil sport berwarna biru danker dan berwarna kuning yang entah siapa pemiliknya.

“Tumben dia sudah pulang,” Gumam Jessica lalu kembali berjalan menuju kedalam rumah nya.

Saat sudah memasuki rumah nya, Jessica melihat Minseok dengaan ketiga orang asing – mungkin teman Minseok – sedang berjalan menuruni tangga dari lantai dua menuju lantai dasar.

“Jessie ~ sudah pulang?” Tanya Minseok.

“Menurutmu?”

“Aku bertanya baik – baik, Jessie.”

“Kau bisa melihat sendiri ‘kan, kakakku tersayang. Aku sudah pulang, Minseok-ge” Balas Jessica malas, lalu berlalu menuju kamar nya.

Minseok berlari ke arah Jessica dan menahan tangan kanan Jessica. “Eitss!! Jessie, tunggu dulu! Aku ingin memperkenalkan teman – temanku terlebih dahulu,” Minseok menggeret Jessica ke arah tiga temannya yang berada tepat di bawah tangga. Jessica memutarkan kedua bola matanya malas.

“Jess, yang ini namanya Lay, atau Yixing. Panggil dia Lay saja,”
Minseok menunjuk salah satu temannya yang memiliki postur badan lumayan tinggi dan bermuka polos.

Annyeong, Jessica.” Sapa Lay formal sambil tersenyum lebar. Jessica membalas nya hanya dengan senyuman manis.

“Yang ini namanya Jongdae,” Minseok menunjuk pria yang berbaju warna hitam.

“Hai, Jessicaaa~” Sapa Jongdae seperti sudah kenal lama –atau yang juga bisa disebut dengan SKSD (Sok kenal sok deket)

Jessica hanya tertawa pelan menanggapi nya.

“Dan yang terakhir, Luhan.” yang awalnya Minseok berada di samping Jessica, ia pun berjalan ke arah laki – laki yang sibuk dengan buku yang sedang di baca nya lalu merangkul laki – laki itu.

Minseok langsung meraih novel yang di baca Luhan dan menyenggol pelan bahu Luhan.

“Oh, Hai.” Hanya Luhan yang menyapa nya dengan nada datar namun memasang senyuman di wajah nya yang tampan tersebut.

“Hai~”

Entah mengapa, diantara ketiga teman Minseok, Jessica merasa ada yang berbeda dari Luhan.
Entah apa itu, Jessica pun bingung sendiri.

Luhan kembali merebut novel miliknya dari genggaman Minseok, lalu kembali membaca novel itu.

“Baiklah, kalian ngobrol saja ya, dulu. Aku akan buatkan minum.” Ujar Minseok.

Jessica, Lay, dan Jongdae mengangguk – angguk. Sedangkan Luhan hanya diam karena mungkin sedang serius membaca novel yang ia pegang.

“Kalian kesini mau latihan nge- band, ya?” Tanya Jessica basa – basi.

ne. bagaimana kau tau?” Tanya balik Jongdae.

“Ah, Minseok pernah memberi tahu ku. Tapi katanya, tidak tau kapan,” Jawab Jessica seadanya. Jongdae hanya membentuk huruf ‘O’ di mulutnya.

Hening sebentar.

“Emm, Lay, Jongdae, dan .. Luhan, aku duluan ya,” Pamit Jessica. Jessica langsung bergegas ke lantai atas, tepatnya menuju kamar nya.

“Ya, bye Jessica~” Jongdae dan Lay melambaikan tangan nya kepada Jessica. Luhan? Ia hanya mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Jessica dan kembali membaca novel miliknya.

Tak lama setelah Jessica ke atas, Minseok kembali membawa lima gelas minuman yang berisikan sirup.

“Kemana Jessica?” Tanya Minseok kepada teman – temannya.

“Dia pergi ke atas,” Jawab Lay. “Mungkin ke kamar nya.” Sambung Jongdae.

“Tidak sopan sekali dia tidak bilang kepadaku, aku juga membuatkan minum untuknya.” Gerutu Minseok.

“Nanti biar aku yang minum.” Kata Luhan tiba – tiba.

“Baiklah.”

“Oh ya, Minseok, sepertinya aku belum pernah melihat Jessica sebelumnya, kemana saja dia selama ini?” Tanya Lay.

“Setiap ada tamu, dia selalu dikamar, tidak pernah keluar. Atau pergi bersama temannya.”

“Pantas saja,” Jawab Jongdae. “ Jessica juga lumayan,” lanjutnya.

“Hey, apa maksudmu?” Lay menaikkan satu alisnya.

“Lumayan , lumayan cantik.” Jongdae menunjukan cengiran khas nya.

“Kita kapan latihan?” Tanya Luhan secara tiba – tiba, lagi.

“Sampai lupa dengan tujuan utama. Sekarang, tentu saja!” Seru Minseok.

***

Keesokan harinya

Jessica nampak kebingungan atas kabar yang beredar di teman – teman sekelas, yang menjelaskan adanya murid baru di sekolahan Ganseung ini.

Jessica lantas langsung mencari keberadaan sahabatnya, Bomi, untuk menanyakan hal tersebut.

Panjang umur, Bomi berlari pelan ke arah Jessica dengan memasang mimik wajah yang membingungkan.

“My Lovely Sica ~” Sapa Bomi hangat.

“sebenarnya apa yang terjadi disekolah ini sih, Bom?” Tanya Jessica to the point

“Itu loh, ada anak baru, kakak kelas, pindahan dari Kanada, namanya Kris Wu.” Jawab Bomi. “Kabarnya sih dia langsung terkenal gitu karena tampan dan tubuh nya yang katanya atletis. Dia juga sama sepertimu, Sica, jago basket.”

Jessica melongo tidak percaya.

“Kau sudah pernah melihat orang nya?” Tanya Jessica penasaran.

Aniyo. Dan menurut info, Kris sunbaenim sekelas dengan Taeyeon, Tiffany, dan Seohyun sunbaenim.”

“Mereka kan –“

“Gank yang berisikan anggota yang Galak, kasar, egois, dan tidak tahu malu.” Sela Bomi di tengah pembicaraan Jessica.

“Aku tidak bilang, lho ya.”

“memang kau tidak bilang, melainkan aku yang bilang.” Ujar Bomi santai. “Sica, aku semakin penasaran dengan Kris.”

“Yasudah, kau langsung ke kelas dia saja,” Jessica memberi saran.

PLETAK

 

“Aw! Kau ini kenapa , sih?!” Jessica mengusap – usap kepala nya yang barusan di jitak oleh Bomi.

“Kau itu bodoh atau gimana, sih. Aku sudah bilang, Di kelas Kris itu juga di huni oleh ketiga nenek lampir, bisa – bisa aku bisa jadi bahan omongan kalau tiba – tiba menemui Kris.”

“Memang nya kenapa kalau ada mereka?” Tanya Jessica masih belum mengerti.

“Mereka pasti bisa mengata – ngatai ku kecentilan karena itu.” Jawab Bomi gemas.

“Oh. Aku tidak mengerti.”

Setelah mendengar jawaban Jessica barusan, Bomi menggeram.

***

Sepulang sekolah, Jessica tidak langsung pulang ke rumah. Dan seperti biasanya, Jessica berlatih basket di lapangan sendirian.

Bomi? Ia tidak bisa menemani Jessica latihan basket karena ada urusan keluarga di Busan.

Jessica men-dribble bola basket nya. Ia berlari dan mencoba memasukkan bola ke dalam ring.

Meleset. Bola belum masuk kedalam ring.

Jessica mencoba lagi. Ia men-dribble bola basketnya lagi. Kemudian, dari jarak yang lumayan jauh, dia berancang – ancang melakukan tembakan three point.

Namun, masih saja bola belum mau masuk kedalam ring. Dan, bola basket tadi menggelinding ke pinggir lapangan.

“MENYEBALKAN !” Teriak Jessica sebal.

Ia menghampiri tas nya yang berada di dekat ring basket. Dan mengambil sapi tangan yang berada di atas tas nya untuk menghapus keringat yang ada di leher dan dahi nya. Jessica terduduk sembari meluruskan kakinya. Jessica pun memejamkan matanya sebentar.

Tiba – tiba, Jessica mendengar suara bola basket yang sedang di dribble.

Jessica terbangun dari duduk nya dan membuka kedua matanya.

Ia menangkap sosok namja yang bertubuh tinggi, bersurai blonde, dan bermuka dingin, namun tampan.

“Kau kapten tim basket yeoja di sekolah ini? Ternyata kemampuanmu dalam bermain basket masih cemen, ya?” Ujar namja itu dengan nada meremehkan.

Jessica nampak panas karena perkataan namja yang berada beberapa meter di depannya.

‘Siapa dia? Berani – berani nya dia mengataiku seperti itu!’ Batin Sica kesal.

“Memang nya itu masalahmu?!” Sinis Jessica.

Namja bersurai blonde itu tetap men -dribble bola basket nya dan pandangan nya tak lepas dari Jessica.

Namja tadi mengalihkan pandangaannya terhadap Jessica dan berancang – ancang untuk memasukkan bola basket dari jarak yang lumayan jauh, lalu melempar bolanya,

GOL ! bola itu masuk kedalam ring.

Jessica menggerutu kesal karena tingkah laku namja itu ‘ sok hebat ’ di mata nya.

Kemudian, Jessica berlari untuk mengambil bola basket yang ada di bawah ring.

“kalau begitu, aku juga bisa!” Ujar Jessica sombong.

Pada saat Jessica berlari menuju samping namja misterius itu ia malah tersandung oleh tali sepatu nya. Jessica pasrah dan hanya memejamkan matanya dan menunggu tubuhnya bersentuhan oleh tanah.

Namun, Jessica merasa aneh. Ia tidak merasakan sakit pada dirinya.

“Mau sampai kapan berada di pelukanku? Kau betah ya?” Tanya namja misterius itu. Jessica terentak, langsung membuka kedua matanya dan bangun dari pelukan namja itu. “Makanya, jangan banyak gaya. Dasar, Ketua tim basket yeoja yang payah,” namja misterius yang menurut Jessica menyebalkan itu langsung pergi dari hadapan nya.

“Ugh! Menyebalkan sekali dia ?! memang nya dia siapa, huh?!” Kesal Sica.

***

Jessica membanting tas nya ke kasur kesayangan nya dan membaringkan tubuhnya di samping tas nya.

Ia sudah pulang, barusan sekali.

Ia mengutuk namja tadi dan masih tidak rela harga diri nya terinjak – injak karena insiden tersandung nya Jessica oleh tali sepatu nya yang tidak sengaja terlepas.

Tok … tok … tok …

 

“Masuk saja! Tidak di kunci!” Teriak Sica. Jessica yang awalnya terbaring, kini terduduk.

Sosok Minseok masuk ke dalam kamar Jessica dengan senyum yang mengembang.

“Ada apa denganmu, oppa ku tersayang? Kau seperti orang tidak waras tersenyum – senyum sendiri.” Celoteh Jessica.

“Enak saja! Aku masih waras.” Minseok menjambak pelan rambut Jessica.

“Aw! Appo!” Ringis Jessica.

“Mmm.. Jess.” Minseok menyingkirkan tas Jessica ke bawah kasur dan terduduk di samping Jessica.

Waeyo?”

EXO, band ku, terpilih dalam acara festival musik tahunan se – kota Seoul minggu depan, tepatnya di dekat sekolah mu,” Minseok menggantungkan kalimat nya. Jessica menatap sang kakak. “Dan, dari acara festival itu, aku bisa mendapatkan uang. Lumayan lah, hasilnya bisa di bagi empat dengan Lay, Jongdae, Luhan dan aku. Dan uang nya untuk tabungan nanti ke –ups ..” Minseok keceplosan.

“Ke?” Tanya Jessica penasaran.

“K –ke Paris, untuk melanjutkan kuliah .”

“Kapan?”

“Dua minggu la –“

“APA ?!?!” Teriak Jessica tidak percaya. Kenapa Minseok tidak pernah member tahu diri nya kalau Minseok ingin melanjutkan kuliah di Paris? “Kenapa kau tidak memberi tau ku sejak sebulan sebelum kau pergi, atau dua bulan?”

Eomma dan appa yang menginginkanku ke sana, Sica –ya. Mendadak, baru sekitar dua hari yang lalu aku di beri tau.”

“Kau jahat.”

Minseok tersenyum dan mengelus pelan rambut sang adik. “tidak lama, kok. Paling tiga tahun, atau bahkan empat tahun. Tergantung.” Ujar Minseok .

“Lama sekali , kenapa tidak lima bulan saja?” Jessica memasang muka melas nya. Minseok menghentikan aktivitas mengelus rambut Jessica.

“Aku pasti akan ke Korea lagi, jika ada liburan semester.”

Promise?” Jessica mengacungkan jari kelingking nya.

“Yeah, promise.” Minseok mengalungkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Jessica. “Baiklah, Jess, aku ke bawah dulu ya.” Minseok melepaskan jari kelingkingnya dan beranjak pergi dari kamar Jessica.

***

@ School

Jessica berjalan dengan santai nya di koridor sekolah. Ia memperhatikan keriuhan se –sekolah saat ini, di depan mading sekolah lebih tepatnya.

Jessica ingin sekali melihat berita apa yang ada pada mading sekolah, namun tidak memungkinkan ia bisa kesana dan melihatnya. Karena keadaan yang lumayan ramai oleh murid – murid sekolah Ganseung.

Ia mengedarkan padangan nya ke segala penjuru lorong sekolah.

Jessica melihat salah satu teman sekelas nya, Yoonjo, yang sedang berdiri tak jauh dari mading sekolah , sendirian. Lantas, Jessica menghampiri Yoonjo .

Annyeong , Yoonjo –ssi, ada apa sebenarnya yang terjadi sekarang?” Tanya Jessica.

“Anak – anak sedang melihat info, tentang Festival Musik Tahunan yang akan diselenggarakan di dekat sekolah kita minggu depan. Dan mungkin karena itu, mereka menjadi heboh sendiri.” Jawab Yoonjo.

Jessica membulatkan mata nya, benar kata Minseok.
“Oke. Terimakasih atas info nya, Yoonjo –ssi, aku duluan, ya! Annyeong!” Pamit Jessica kemudian.

***

“MINSEOK OPPA! WHERE ARE YOU?!” Teriak Jessica sembari membanting tubuhnya ke sofa yang ada di ruang tengah rumah milik Keluarga Jung.

Tidak ada sahutan dari Minseok.

Aneh, kenapa Minseok tidak menyahut teriakkanku? Padahal ada mobil milik nya di depan rumah, batin Jessica.

Jessica mengangkat bahu nya, dan mengambil ponsel yang bermerek iPhone di dalam saku baju nya.

“Jessica,” Panggil seseorang dari arah belakang secara tiba – tiba. Jessica terdiam. Ia berhenti memainkan ponsel nya.

Tidak, ini bukan suara Minseok. Batin Jessica ketakutan.

Jessica menengok ke arah belakang secara perlahan. Lalu, Jessica membelalakan matanya.

“Luhan ?”

*
*
*
*

To Be Continued

37 thoughts on “Dealova — Chapter [1]

  1. what the…???? Ngapa bisa ada Luhan disitu??? Ettt.. Bikin greget dah..
    Minseoknya mana sihh???
    next.. Jgn lama”. Fighting!!

  2. Waaah, ada luhan disitu . Kayak nya sica tertarik deh sama luhan .
    Si kris cool banget yah, walaupun mengejek sica . Tpi tetap aja dia mau nolong sica supaya sica gak jatuh ^^

  3. Ciye… Kayaknya Sica ada something gitu deh ke Luhan^^
    Karakter Luhan bikin greget
    Awal pertemuan yg buruk antara KrisSica -,- Krisnya malah nyebelin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s