Just Stay Beside Me|| Special Flashback

Author: S.Y.M

Title: Just Stay beside Me

Length: Chaptered

Genre:  Romantic high school

Rating: G

Cast: Jessica Jung || Kim Myungsoo

KIM KYUNGSOOjessica049k1b

Note:

Anyeong! semoga kalian tidak bosan denganku. Dan juga FF ku. Kali ini aku bawa Special Flasback dari JSBM, yang menceritakan awal pertemuan antara Myungsoo dan Sooyeon.

Semoga kalian suka

Sorry for typo. SELAMAT MEMBACA

JANGAN LUPA BERKOMENTAR🙂

Special Flash back_

 

 

_

Sooyeon berlari kecil menuju taman, dia sedang bersembunyi dari eommanya. Dia sedang bersembunyi dari kakaknya, dan dari keluarganya. Dia tidak ingin lebih lama berada di Seoul, itulah sebabnya ia menghindari pesta di rumahnya. Terlalu bising baginya, ia ingin bermain-bermain dan bermain. Ia sudah lelah dengan kegiatan di keluarganya.

Langkah kecilnya tertahan ketika ia melihat ada sosok lain yang duduk di tempatnya biasa menghabiskan waktu di taman itu.

“Dia menangis?” gumamnya.

Sooyeon mendekat, dia duduk di ujung dari tempat duduk itu, sedangkan ia masih memperhatikan anak laki-laki yang duduk di ujung lainnya. Mungkin tidak benar-benar terlihat jika anak laki-laki itu sedang menangis, namun ia bisa menebak dengan hanya melihat ekspresi wajahnya. Dia juga sering melakukan itu jika ia sedang sedih.

“ Kau_sedang apa kau di sana?” tanyanya.

Sooyeon tersentak, ia melebarkan matanya lalu menunduk, ia bersiap untuk berdiri dan mencari tempat lain untuk berdiam diri dan bersembunyi.

“ Tetaplah di tempatmu, jangan pergi karena aku di sini” ucapnya kemudian, membuat Sooyeon kembali duduk, ia menjadi kikuk dengan suasanya di tempat itu.

“ Emh _ jika kau merasa tidak nyaman, aku bisa pergi ke tempat lain” tawar Sooyeon.

Anak laki-laki itu terdiam, selanjutnya ia memandang lurus di depannya. Sooyeon dapat melihat bekas air mata pada pipinya, namun secepatnya anak laik-laki itu menghapus air itu.

“ Duduklah, aku tahu ini tempatmu… hanya saja hari ini aku datang lebih dahulu. “

“Ah…any any…aku tidak masalah, ini tempat umum… aku hanya datang ke tempat ini jika aku ingin menenangkan diriku saja, lagi pula aku sedang bersembunyi, apa kau baru saja menangis? Apa terjadi sesuatu? Aku bisa membantumu, mungkin aku bisa menghiburmu? “ tawar Sooyeon.

“ Kau juga sering besedih di tempat ini”

Sooyeon terdiam,  ia terheran karena anak laki-laki di depannya ini tahu kenapa ia sering datang ke taman ini. Apa dia tinggal di sekitar tempat ini? Atau dia pernah melihatnya saat bersedih atau pun mengomel sendiri di tempat ini.

“ Ah…emhhh ne, aku memang sering bersembunyi di tempat ini, Aku sering berbagi dengan apa yang ada di tempat ini, tidak masalah jika itu hanya tumbuhan, atau bahkan tempat duduk yang aku tempati, saat kau sedang bersedih dan ingin mengeluarkan segala yang kau rasakan, kau bisa mengeluarkannya, kau tidak perlu memendamnya, jika kau tidak ingin orang lain mendengarnya kau bisa melakukannya sendiri. Aku sering melakukan  itu, karena aku tidak yakin orang lain akan mendengar keluhanku, dan aku rasa aku bisa mengatakannya pada tumbuhan di depanku ini. Yach…meskipun mereka diam, namun mereka tulus mendengarkanku, tidak ada kepura-puraan seperti yang sebagian besar manusia lakukan. “

Sooyeon terdiam, sepertinya ia terlalu banyak bicara pada anak laki-laki yang baru ia temui ini, terbukti sekali jika semua yang ia katakan tidak ada tanggapan sama sekali darinya.

“ eoh…baiklah…aku hanya menawarkan diri untuk menjadi pendengarmu, sebagian dari orang-orang pandai menghibur kesedihan orang lain, namun tidak dengan dirinya sendiri. Mungkin aku bisa melakukan itu untukmu, emhh jika kau tidak ingin menceritakannya aku akan_”

“ Apa kau pernah merasa kehilangan sebelumnya?” anak laki-laki itu membuatnya terdiam, ia tidak melanjutkan kalimatnya.

“ Aku pernah kehilangan kucing kesayanganku, dan aku merasa sedih”

“ Dia pergi, dia…Abojiku pergi untuk selamanya, aku belum sempat bertemu dengannya, aku belum sempat untuk mengatakan semuanya padanya, aku belum sempat membuatnya bangga padaku, aku_”

Sooyeon dapat melihat jika anak laki-laki itu menutup sebelah matanya, ia berusaha menahan air matanya dengan menekan matanya dengan telapak tangannya.

Sooyeon mendekatinya, ia paling tidak bisa melihat orang lain menangis jika ia tidak ingin terlarut dan ikut menangis. Ia mendekat lagi sehingga saat ini ia bisa merangkul pundak anak laki-laki itu. Mereka terlihat seumuran, wajar jika di usia remaja seperti ini pasti akan sulit jika mereka ditinggalkan oleh orang tua mereka.

“ Menangislah…tidak masalah jika seorang anak laki-laki menangis karena Abojinya, kau pasti sangat mencintai Abojimu, seperti itulah…setiap orang harus siap dengan masa kehilangan mereka. Tidak perduli apapun itu, kehilangan tidak akan pernah bisa dihindari”

Sooyeon menepuk pundaknya, lalu mengusap pelan punggung anak laki-laki itu.

“ Sudahlah…aku tidak akan menangis lagi, ini sangat memalukan!” Anak laki-laki itu mendongak, itu salah satu caranya agar air matanya tidak jatuh.

Sooyeon mengangguk, namun dalam hatinya ia mendengus. Seseorang yang sedang ia hadapi kali ini memiliki kadar kedinginan yang tinggi. Dan juga sedikit angkuh.

“ Dan juga, jangan pernah membahas hal ini lagi, aku tidak pernah mengatakan apapun pada orang yang baru ku kenal”

“ Choneun Jung Sooyeon” Sooyeon mengulurkan tangannya, ia tersenyum lebar dan begitu bersemangat memperkenalkan dirinya.

“ Apa kau tidak tahu aku sedang berkabung?”

“ Saat seseorang bersedih, harus ada yang terkuat diantara mereka, harus ada yang bisa menahan air matanya dan tetap tersenyum untuk menyemangati yang lainnya. Saat ini aku sedang mencoba hal itu, aku ingin menyemangatimu Chingu!” Sooyeon tersenyum riang. Ia masih mengulurkan tangannya sampai akhirnya tangan itu diraih olehnya.

“ Kim Myungsoo, itu namaku dan jangan pernah mengatakan hal ini jika kau bertemu denganku lagi”

Sooyeon mengangguk semangat, anak laki-laki itupun mengangguk dan beranjak pergi dari tempat itu.

“ Kurasa kita tidak akan bertemu lagi, bersemangatlah  KIM MYUNGSOO!!” Teriak Sooyeon.

.

.

_ONE YEAR LATER_

Lagi, Sooyeon harus kembali ke Seoul. Ia sudah menolak mati-matian kepada orang tuanya untuk tidak ikut ke Seoul di ulang tahun perusahaan ibu tirinya. Dia tidak perduli, dia lebih suka tinggal di California. Setelah perjanjian yang ia sepakati dengan ayahnya ia pun tidak bisa menolak ataupun kabur untuk menghindari ini.

Ia kembali keluar dari kebisingan pesta di perusahaan ibu tirinya dan pergi ke taman yang biasa ia kunjungi selama di Seoul . Sepertinya hanya tempat ini yang bisa ia datangi di Seoul.

Ia tersenyum ketika melihat tempat duduk favoritnya masih terletak di tempat yang sama seperti satu tahun lalu. Ia membersihkan tempat duduk itu lalu mengibaskan gaunnya dan duduk dengan riangnya.

“ Hai tempat duduk ku, apa kau merindukanku? Ah? Apa tumbuhan itu terus dirawat? Aku rasa dia semakin cantik” Sooyeon menunjuk tumbuhan semak yang berada di depannya.

“ Jika kau tahu dia cantik, kau pasti bahagia karena setiap hari bisa bersamanya. Apa kau bahagia? Aku harap orang lain tidak memindahkanmu dari tempat ini, jika tidak kau tidak akan bisa melihat tumbuhan itu” Sooyeon menepuk-nepuk tempat duduknya.

“ Kau tahu, tahun ini aku terpaksa harus ke tempat ini lagi, dan untuk itu aku mengunjungimu, apa kau ingin mendengarkan ceritaku? “ Sooyeon mendongak, dan menghembuskan nafas panjang.

“ Aaaahh…kau pasti hafal, yang aku ceritakan tidak pernah lepas dari keseharianku, dan kali ini aku bercerita tentang ibu tiriku. Jangan katakan apapun pada mereka jika aku sedang kabur dari pesta membosankan itu. Dan kau tahu hari ini adalah peringatan kematian kakakku, dan beberapa bulan lalu adalah peringatan kematian ibuku. Apa kau pikir aku sendirian? Ahhh ayahku menikah dengan seorang yang saat ini bertindak sebagai ibuku. Apa kau masih ingat cerita-ceritaku yang kuceritakan dulu? Jika kau masih ingat, kau sangat pintar” Sooyeon kembali menepuk kursi itu lebih keras, akibatnya ia sendiri yang kesakitan karena benturannya.

.

.

Seorang anak laki-laki menahan langkahnya ketika melihat orang lain menempati tempat duduknya. Ia memutuskan untuk mendekat dan berniat untuk mengusirnya. Setelah ia melihat sosok itu, ia membatalkan niatnya, seseorang yang menempati tempatnya adalah gadis yang ia temui satu tahun lalu.

Dialah pemilik sebelumnya tempat ini. Ia memutuskan untuk pergi ke tempat lain, namun langkah kakinya berhenti ketika mendengar gadis itu mulai berceloteh. Ia membalik badannya dan memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Ia ingat bahwa gadis itu pernah mengatakan bahwa tidak masalah jika ia menceritakan masalahnya pada benda-benda di sekitarnya meskipun mereka benda mati, namun mereka tulus mendengarkannya.

“Seperti inikah yang biasa ia lakukan?” gumamnya.

Ia mempehatikan mulai dari gadis itu menyapa tempat duduknya sampai menggoda tempat duduknya. Lalu berlanjut dengan cerita bagaimana ia kembali ke tempat itu lagi.

Ia sendiri tidak tahu bahwa tahun lalu adalah hari terakhir gadis itu berada di Seoul dan kali ini adalah hari dimana ia kembali ke Seoul.

Kim Myungsoo, anak laki-laki itu bersandar pada batang pohon dan mendengarkan setiap suara yang dikeluarkan gadis yang ia ingat bernama Jung Sooyeon itu.

Ia mendengarkannya sampai akhirnya ia tidak mendengar lagi suara gadis itu, ia yang penasaran apakah gadis itu sudah pergi dari tempatnya menoleh dengan cepat dan betapa terkejutnya dia ketika gadis itu sudah ada di belakangnya.

“ Kau_?” Sooyeon menunjuk anak laki-laki yang menurutnya sedang mengupingnya.

“ Aku ingin duduk di tempat itu, tapi kau mendahuluinya” jelas Myungsoo, tentu ia tidak ingin Sooyeon berfikiran aneh tentangnya.

“ eoh…duduklah…ini tempat umum” Sooyeon tersenyum lebar dan menarik tangan Myungsoo agar duduk di tempat itu.

“ Kau semakin tinggi, aku hampir tidak mengenalimu” ucap Sooyeon girang. Begitulah sikapnya pada setiap orang yang bahkan baru ia temui, dia sangat ceria.

“ Kau tetap pendek, sama seperti tahun lalu”

Sooyeon merengut, ia ingin melempar sandalnya saat itu pada anak laki-laki di depannya ini, ditambah dengan ekspresi dingin yang membuat kata-kata itu semakin  menjengkelkan.

“ Kau menyebalkan juga” Sooyeon melengos.

“ Kau merasa kesepian?”

“ Any…aku selalu bahagia”

“ Lalu untuk apa kau sendirian di tempat ini?”

“ Kau juga sendirian ke tempat ini, bukankah tahun lalu kau_” Sooyeon mengatupkan bibirnya ketika melihat tatapan tajam dari Myungsoo.

Ia ingat bahwa tahun lalu anak laki-laki itu mengatakan untuk tidak membahasnya lagi ketika mereka kembali bertemu, lalu kenapa ia masih mengingat saat itu? ia pun tidak mengira jika ia akan bertemu dengannya lagi.

“ Mi_mian…” Sooyeon menunduk.begitu pula dengan Myungsoo.

“ Hari ini adalah satu tahun kematiannya, dan aku mampir ke tempat ini untuk beristirahat, ah…tidak…hampir setiap bulan aku mengunjunginya dan aku selalu ke tempat ini” jelas Myungsoo. Suaranya yang merendah membuat suasana saat itu menjadi sendu.

“ Kau sendirian? Apa eommamu tidak bersamamu?”

Myungsoo terdiam, ia menunggu cukup lama untuk mendapat jawaban dari Myungsoo. Namun sepertinya Myungsoo kembali enggan untuk menceritakannya.

“ Baiklah…sepertinya kau ingin menenangkan dirimu, lagi pula aku sudah selesai, aku akan pergi”

“ Tidak perlu, tetaplah di tempatmu, bukankah kau mengatakan kau bisa menjadi pendengar yang baik?”

Sooyeon kembali duduk, ia mengangguk cepat dan menatap Myungsoo serius. Ia kini siap dengan apa saja  yang ingin di ceritakan Myungsoo padanya. Tidak papa baginya, karena mungkin setelah ini mereka juga tidak akan bertemu kembali.

“ Dia melarangku untuk mengunjungi Aboji setiap bulannya, dia pasti marah jika tahu aku mengunjunginya, dan hari ini aku pergi tanpa sepengetahuannya. Ia melarangku keras untuk datang ke kuburan Aboji”

Sooyeon terdiam, ia melebarkan matanya. Bahkan ia juga tidak sering mengunjungi makam ibu dan kakaknya.

“ Dia begitu terluka sehingga tidak ingin lebih bersedih ketika mengingatnya. Dia ingin aku dan dia melupakan semuanya tentangnya. Apa itu adil untukku? “

Sooyeon menggeleng, ia merapatkan duduknya dan kini ia bisa merangkul pundak Myungsoo. Ia berusaha memberi dukungan lewat rangkulannya.

“ Namun aku rasa dia mencari cara yang salah untuk melakukan Aboji, ia semakin tersiksa karena ia terlalu berusaha untuk melupakannya. “

“ Bantulah Eommamu, aku rasa dia memang ingin kau selalu ada di sampingnya, jangan menghianatinya walaupun kau ingin bertemu di makam Abojimu, katakan apa yang sebenarnya. Dia pasti akan menerimanya”

“ Itu terlihat mudah”

“ Kau tidak pernah tahu selama tidak mencobanya”

“ Aku tidak ingin melihatnya untuk sementara waktu, aku ingin menenangkan diri dengan apa yang terjadi pada Eomma dan semuanya”

Sooyeon mengangguk, apa yang bisa ia lakukan, ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk Myungsoo.

“ Aku harus pergi, tempatilah tempat ini sesukamu, putuskan yang terbaik” Sooyeon menepuk singkat pundaknya.

“ Apa kau tinggal lebih lama? “

“ Emhh…mungkin, aku selalu ke tempat ini, karena hanya tempat ini yang kutahu “ Sooyeon tersenyum lebar lalu melambaikan tangannya pada Myungsoo.

Myungsoo hanya terdiam menatap kepergiannya, gadis itu berlarian kecil dan semakin menjauh dari pandangannya.

“ Semoga kita bisa bertemu kembali”

.

.

Sooyeon harus berdebat lagi kali ini, ia sudah berulang kali merengek untuk kembali ke California, namun ia malah mendapat hukuman dari Ayahnya. Ia dipaksa untuk tinggal lebih lama di Seoul, sedangkan ia sudah menjalani beberapa hari di Seoul, ia marah karena itu belum cukup bagi Ayahnya. Ia dipaksa untuk menjalani rangkaian kelas design pada Ibu tirinya.

“ Kenapa Appa selalu keras kepala, bukankah mereka bisa tinggal di Amerika bersama, perusahaan di tempat ini bisa mereka pantau dari sana, jika mereka tidak mau tinggal bersama di Amerika, aku bisa tinggal sendiri di sana, lagi pula di sana aku bisa lebih dekat dengan Eomma dan Oppa, aaaaggghhhttt hari ini menyebalkan” Ia mengumpat berulangkali, tidak perduli di jalan itu banyak orang yang melihatnya, namun perjalanannya menuju taman itu cukup jauh sehingga rasa marahnya tidak bisa ia tahan sampai di taman. Jadilah ia mengomel di sepanjang perjalanan.

Ia berjalan lambat ketika melihat Kim Myungsoo sudah berada di tempat duduk itu. Ia tersenyum dan berlari kecil menuju tempat itu, namun apa yang ia lihat dari dekat adalah wajah sedih yang terpancar dari Myungsoo. Wajah dingin itu terlihat begitu sedih sehingga ia sendiri tidak bisa mengeluarkan sepatah sapaan untuknya.

Ia hanya terdiam di tempat nya berdiri, bahkan Myungsoo tidak menyadari kedatangannya. Selanjutnya ia segera bersembunyi di balik pohon ketika melihat seorang gadis datang mendekatinya. Gadis itu duduk dan memeluk Myungsoo.

“ Apa yang terjadi? Mereka sepertinya bersahabat” gumamnya yang mengintip dari balik pohon.

Sooyeon masih bersembunyi dibalik pohon, sedangkan Myungsoo tidak bergeming sama sekali, gadis itupun masih memeluknya. Gadis itu terlihat menangis. Namun Sooyeon sama sekali tidak mengerti keadaan yang mereka alami.

Tak lama setelah itu ada beberapa orang dewasa dengan jaz hitam mendekati mereka. Mereka memang menjemput Myungsoo dan gadis itu. Sooyeon baru menyadari bahwa Myungsoo memang memakai baju yang sama seperti yang ia temui satu tahun lalu. Untuk saat itu Sooyeon memberanikan diri untuk keluar dari tempat persembunyiaannya. Ia menatap mereka yang meninggalkan tempat duduk itu, sampai akhirnya mereka melewatina begitu saja. Begitu pula dengan Myungsoo, anak laki-laki itu seolah tidak memiliki keinginan untuk hidup dari tatapan matanya.

Myungsoo tahu Sooyeon berdiri cukup lama di tempat itu dan wajah bingungnya jelas terlihat saat ia melewatinya begitu saja seperti tidak saling kenal. Ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa dengan kematian ibunya saat ini. Mendengarnya saja sudah membuatnya ingin memejamkan mata saat itu juga.

Sooyeon hanya mampu terdiam saat Myungsoo melewatinya. Dan saat itu ia tahu kesedihan mendalam telah terjadi pada Myungsoo. Apa mungkin ia berkabung kembali?

.

.

Sooyeon masih memikirkan dengan apa yang ia lihat tadi. Ia memikirkan apakah Kim Myungsoo baik-baik saja, jelas terlihat anak laki-laki itu sedang buruk. Bahkan masih terus terlintas di otaknya. Ia tidak bisa tidur malam ini. Sayangnya ia tidak bisa berbuat lebih selain terdiam, ia juga tidak tahu di mana Myungsoo tinggal dan tidak sempat menanyakannya.

“ Apa dia akan ke taman lagi besok? Atau besoknya lagi?” gumamnya.

Sooyeon memejamkan matanya singkat, ia berharap ia bisa bertemu dengan Myungsoo dan menanyakan apa yang terjadi besok. Atau mungkin besoknya lagi, sebelum ia benar-benar kembali ke California.

.

.

Ini adalah hari ke-4 Sooyeon menunggu Myungsoo di taman itu. Mulai dari jam yang sama seperti saat mereka bertemu, dan mencobanya dengan datang lebih awal dan menunggu lebih lama, sampai akhirnya ia hampir setengah hari menunggu anak laki-laki itu. Sungguh ia tidak pernah merasa begitu perduli dengan orang lain seperti ini.

Sooyeon melihat jam di tangannya, bahkan ia sudah menghabiskan 3 liter air mineral selama ia menunggu. Ia sudah cukup lelah, dan kali ini ia memutuskan untuk mencukupinya saja, ia harus kembali ke apartemennya.

“ Kalian tahu, sebenarnya aku tidak pernah lelah untuk berbicara dengan kalian, tapi aku sudah lelah hari ini, apa kalian mau menungguku besok? Aku akan ke tempat  ini dan menyapa kalian, sisa waktuku adalah 3 hari dari sekarang…bye bye” Sooyeon melambaikan tangannya pada tumbuhan dan tempat duduknya.

Ia berjalan dan mengibas-ibaskan roknya, ia berjalan dengan riang seperti biasa. Namun selanjutnya ia menghentikan langkahnya ketika melihat sosok yang berdiri di depannya. Ia menoleh ke belakang dan melihat kembali tempat duduk yang selalu ia gunakan, lalu kembali pada sosok di depannya. Kemudian ia melemparkan senyum khasnya pada sosok itu. Ia melambaikan tangannya untuk menyapanya dengan riang.

“ Anyeong Kim Myungsoo, urimania?”sapanya dengan gaya centilnya.

Namun sapaan itu sama sekali tidak dibalas oleh Myungsoo, anak laki-laki itu melewati Sooyeon begitu saja, membuat Sooyeon harus berbalik dan mengikutinya.

Mereka kembali duduk di tempat duduk itu, dan sama seperti biasanya, mereka duduk di ujung satu dan lainnya dari tempat duduk itu. Sooyeon terdiam dan tidak berani memulai pembicaraan karena ia takut dengan kediaman Myungsoo.

“ emh… ehem” Sooyeon berdehem kecil.

“ Apa yang terjadi? “ tanya Sooyeon hati-hati.

Myungsoo mendongak lalu menatap datar pada Sooyeon.

“AH..any any..aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu, aku hanya bertanya dan waktu itu aku melihatmu”

“ Jangan bahas itu , kau menyimpan 2 hal yang tidak boleh kau bahas setiap bertemu dengan ku lagi” balas Myungsoo , masih dengan wajah datarnya.

Sooyeon terdiam, ia mengangguk ragu lalu mendongak ke atas, memandang langit yang sebagian tertutup oleh dahan dari pepohonan di tempat itu.

“ Dia pergi, mereka berdua telah pergi” ucap Myungsoo lirih, membuat Sooyeon sontak menatapnya.

Tidak seperti yang ia lihat sebelumnya saat kematian ayahnya, kali ini tatapan yang diberikan Myungsoo tidak pernah hidup. Kematian ibunya membuatnya semakin terpukul, itulah yang ditangkap oleh Sooyeon.

Sudah dapat ia rasakan bagaimana perasaan itu, setidaknya ia pernah merasakannya.

“ Aku_” kalimat  Sooyeon terhenti ketika ia mendengar seorang gadis memanggil nama Myungsoo.

Selanjutnya ia melihat gadis itu datang dari kejauhan dan berlarian ke tempat mereka. Dia gadis yang sama seperti yang ia lihat waktu itu.

Sooyeon menjadi kikuk karena kedatangan gadis itu, ia tidak tahu harus menatap kemana sementara gadis itu saat ini sedang memperhatikannya.

“ Apa kalian saling kenal?” tanya gadis itu.

Sooyeon menoleh, ia menatap Myungsoo yang terlihat enggan menjawab pertanyaan itu dan sepertinya memang ia tidak akan menjawabnya. Akhirnya ia mengangguk.

“ Kami baru beberapa kali tidak sengaja bertemu di tempat ini” jelas Sooyeon.

“ Salam kenal, aku Na Haeryeong, senang bertemu denganmu” sapanya.

Sooyeon tersenyum dan membalasnya “ Jung Sooyeon, kau bisa memanggilku seperti itu”

“ Kkaja Myungsoo_ya” Haeryeong meraih tangan Myungsoo dan meraihnya untuk berdiri.

Myungsoo hanya diam dan menurutinya. Sebelumnya Sooyeon membungkukkan badannya menyambut kepergian mereka.

Dia menghela nafas p anjang dan hanya menatap kepergian mereka. Ia meniup poninya pelan.

“ Dia membuatku kembali bertemu dengan kalian dan meninggalkanku sendiri lagi, apa aku perlu membuat salam perpisahan lagi untuk kalian hari ini?” ucap Sooyeon.

.

.

.

Kali ini Sooyeon kembali datang ke taman itu, entahlah…ia berharap ia bisa bertemu dengan Kim Myungsoo lagi di tempat itu, ia rasa hanya tempat itu yang bisa mempertemukan mereka. Ia benar-benar merasa Myungsoo ingin mengungkapkan banyak hal yang ia rasakan, dan ia ingin mendengarkan apa yang diceritakan Myungsoo nantinya. Ia  sendiri tidak mengerti kenapa ia harus seperduli itu.

Namun apa yang ia bayangkan salah kali ini. Bukan Myungsoo yang ada di tempat itu, melainkan gadis itu, Na Hae Ryeong.

Gadis itu terlihat tersenyum dan menyapa Sooyeon.

“ Anyeong”

“ Anyeong” balas Sooyeon.

“ Aku benar, aku berfikir kau akan ke tempat ini karena tempat ini cukup indah, dan ternyata aku benar, kau ke tempat ini lagi” ucap Hae Ryeong.

“ Kau juga sering ke tempat ini?”

“ Aku memang ingin bertemu denganmu”

“ Denganku?”

“ Ya…aku pikir kau adalah teman Myungsoo yang baru, aku cukup senang … aku harap kau selalu menjaganya, mengingat hari-hari berat yang ia lalui akhir-akhir ini”

“ Ahhh… aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya, lagi pula aku tidak lama di Seoul. Aku hanya ke Seoul bersama keluargaku sewaktu waktu, dan aku tidak tinggal lama”

“ Benarkah? Aku pikir kau bisa menjaganya … aku harus pergi bersama orang tuaku ke Paris, aku harus melanjutkan sekolahku di sana, Dia sangat marah… dia tidak mau keluar dari kamarnya, aku tahu ini salahku, hanya saja..aku tidak bisa menolaknya”

Sooyeon terdiam, ia tidak bisa membalas apapun dari itu. Ia sedikit bingung dengan keadaannya, kenapa di tempat ini ia bertemu dengan orang asing yang menceritakan masalah mereka padanya?

“ Ahhh sayang sekali…apa dia kekasihmu?”

Hae Ryeong tersenyum, ia menggelengkan kepalanya pelan.

“ Sungguh sulit menjalin hubungan dengannya bagiku, tapi aku bahagia bersamanya dan di dekatnya” jawabnya.

Sooyeon kembali mengangguk, apa saat ini ia sedang terlibat di kisah perpisahan sepasang remaja yang saling mencintai?

“ Aku harus pergi, ma’af aku mengatakan ini padamu, aku sangat berharap kau mengawasinya, meskipun kalian barusaja saling kenal, tapi kau harus kembali ke tempatmu, mian_” ucapnya. Ia berdiri dan membungkukkan badannya sebelum akhirnya ia pergi dan kembali hanya Sooyeonlah yang sendiri di tempat itu.

“ Apa ini???? Seharusnya aku membuka jasa untuk menampung curahan hati mereka”  Sooyeon meniup poninya .

Ia memutuskan untuk memejamkan matanya singkat di tempat itu, ia mendongak dan memakai kaca mata hitamnya. Walaupun ia tidak bertemu dengan Myungsoo, ia masih malas untuk pulang ke rumahnya. Pulang ker apartemennya membuatnya begitu lelah karena permintaannya tidak kunjung terkabul. Ia yang tidak nyaman dengan hanya mendongak ke atas, memutuskan untuk berbaring dan meringkuk di tempat duduk itu, menyisakan sedikit tempat dari tempat duduk panjang itu.

Mungkin sudah cukup lama ia memejamkan matanya sampai akhirnya ia tertidur, ia tidak lagi merasakan angin di sore hari. Angin yang ia rasakan adalah angin di malam hari. Ia mencoba meluruskan kakinya namun sesuatu menahannya. Ia sontak terbangun dan terduduk, ia baru saja mengenai seseorang dengan kakinya. Ia melepas kacamata hitamnya dan melihat seseorang yang duduk di ujung  tempat duduk yang ia sisakan tadi.

“ Kim Myungsoo, ah…mian…pakaianmu kotor?” Sooyeon mendekatinya dan membersihkan ulahnya di celana yang dipakai Myungsoo.

Myungsoo hanya diam dan melihat tingkah Sooyeon.

“ Gadis bodoh, kau tidak punya rumah untukmu tidur?”

Sooyeon merengut, lalu ia memukul keras kaki Myungsoo. Bagaimana mungkin anak laki-laki yang baru ia kenal itu menyebutnya Bodoh dengan gampangnya.

“ Kau ini…kenapa jahat sekali” Sooyeon mengerucutkan bibirnya lalu melengos dan menjauh dari Myungsoo.

Mereka salih diam, dan saat itu Sooyeon ingat tentang Hae Ryeong yang mengatakan sesuatu padanya siang tadi. Secepatnya ia kembali menoleh pada Myungsoo. Tidak terlihat wajah kesedihan darinya, namun tatapannya masih saja datar tanpa makna apapun. Sooyeon ingin mengatakan apa yang dikatakan Haeryeog padanya, jika mereka berteman dekat, pastilah Myungsoo merasa sedih saat ini.

“ Emh…”

“ Jangan katakan apapun, jangan bertanya apapun, aku ingin keheningan di tempat ini” Potong Myugsoo dan membuat Sooyeon mengatupkan bibirnya.

Dan benar, keheningan cukup lama terjadi di tempat itu, membuat Sooyeon benar-benar stress dibuatnya, ia bukan tipe gadis yang bisa diam dalam waktu yang cukup lama. Tenggorokannya benar-benar kering saat ini.

“ emhh…apa kau ingin sendiri? Aku akan pergi jika kau tidak mengatakan apapun, aku pikir aku bisa menjadi pendengar yang baik hari ini, tapi sepertinya kau lebih nyaman sendiri, aku akan pergi”

“ Diamlah…dan tetaplah di tempatmu, jangan bergerak”

Sooyeon mendengus, ia menggerutu kecil. Bagaimana mungkin ia tidak boleh bergerak, apa dia pikir dia adalah benda mati?

“ Kau akan kembali ke tempatmu?”

Sooyeon terkejut, bukan karena pertanyaannya namun karena setelah keheningan lama yang ia ciptakan, kali ini ia yang memulai pembicaraan /

“ Ah nee… aku hari ini adalah hari terakhirku , aku akan kembali ke Amerika besok malam”

Myungsoo terdiam, dan untuk waktu yang lama ia tidak lagi melanjutkan percakapan itu. Membuat Sooyeon benar-benar geram .

“ Baiklah…aku akan pergi, dan silahkan menghabiskan waktu dengan kediamanmu Kim Myungsoo….dan jangan khawatir semua yang kau katakan tidak akan terbahas olehku karena mungkin kita tidak akan bertemu lagi, karena aku tidak suka berada lama di Seoul jadi kemungkinan aku tidak akan pernah datang ke Seoul lagi…” ucap Sooyeon sedikit keras karena ia sedikit jengkel oleh Myungsoo.

Myungsoo masih terdiam, ia tidak menanggapi kalimat Sooyeon bahkan ketika Sooyeon berdiri di depannya.

“ Baiklah…hanya itu ucapan perpisahanku, selamat tinggal…hiduplah dengan baik, jangan hanya dengan kesedihanmu” Sooyeon melangkah pergi , namun detik berikutnya tangannya tertahan.

Ya, Myungsoo lah yang menahannya. Membuat gadis itu kembali berbalik dan menatap Myungsoo penuh tanda tanya.

“ Tetaplah disisiku, kau tahu apa yang terjadi padaku, jadi tetaplah disisiku”

Sooyeon membuka matanya lebar, kali ini ia yang tidak bisa mengatakan apapun. Dan dadanya benar-benar tidak karuan saat itu. Ia yang merengek ingin kembali ke Amerika dan tiba-tiba ada seseorang yang baru ia kenal memintanya untuk tetap tinggal. Bukankah ia mampu menolaknya, ia mampu melawan Ayahnya tapi kenapa kali ini ia hanya terdiam?

Perlahan tangan itu terlepas. Sooyeon sedikit bingung dengan Myungsoo yang masih menunduk.

“ Mian…aku tidak bermaksud untuk menahanmu, mungkin aku bisa menggunakan caramu untuk menghibur diriku di tempat ini, terima kasih “ ucapnya lirih.

Dan Sooyeon yakin itu adalah suara kesedihan dan kehilangan dari Myungsoo . Ia tahu jika anak laki-laki ini memang sudah tidak memiliki orang-orang yang ia sayangi. Tapi bukankah dia hanya orang lain. Pikirannya mulai kacau kali ini. Perlahan ia mundur dan menjauh dari Myungsoo . Ia terus berjalan menjauh dari tempat itu. Ia masih bingung dengan apa yang ia dengar. Kalimat kecil itu membuatnya bingung. Dan apa yang ia putuskan…entahlah…

*

*

Sooyeon menatap Tn Jung, dan hanya menatap tanpa tahu arti dari tatapannya. Melihat Tn Jung dan ibu tirinya tengah berdiskusi tentang bisnis mereka. Dalam pikirannya masih terngiang kalimat terakhir yang diucapkan Myungsoo padanya. Anak laki-laki yang baru ia kenal tahun lalu dan bertemu lagi saat ini. Dia berfikir keras. Lalu kenapa ia harus memikirkan hal itu? Apa karena ia tahu apa yang terjadi padanya? Meskipun hanya sepenggal cerita yang ia dengar.

“ Apa dia tidak punya kakak? Adik? Paman? Bibi?” gumamnya.

Tn Jung yang tahu gerak-gerik aneh putrinya itu hanya mendengus dan menatapnya bingung. Tidak biasanya putrinya seperti itu.

“ What’s wrong honey?” Tanya Tn Jung dan membuat Ibu tirinya pun menatapnya.

“ ah…jam berapa pesawat kita Appa?”

“ Besok jam 9 pagi “

“ What?? Bukankah pesawat kita di malam hari?”

“ Ibumu mengubah jadwal keberangkatan kita, bukankah semakin cepat semakin baik buatmu? Ia berfikir karena kau sudah tidak betah berada di Seoul”

Sooyeon mendengus, ini semakin membuatnya frustasi. Sedangkan ia belum juga menemukan jawaban dengan apa yang ia pikirkan.

“ Appa, are you okey , if I stay in here?”

Kedua orang itu memandang bergantian. Ada apa dengan putrinya ini. Sementara dari awal dia terus menolak berada di Seoul dan merengek ingin kembali ke Amerika.

“ What happened?”

“ Kalian bisa kembali ke Amerika lebih dulu. Aku berfikir aku ingin tinggal di sini lebih lama”

“Honey…I and your mom will stay in America for a long time. Don’t you think you can stay here alone?”

“ I will, please…I have to do something here, you can visit me alright?”

“What about your study?”

“ I think, I have to try school in Asian, I wanna wear uniform and goes to School with my friend”

“You Have friend here?”

“ I don’t know..but I think I will” Sooyeon tersenyum .

“ Please, thinking again” pinta Tn Jung.

Sooyeon terdiam, benar. Ia harus berfikir kembali. Hal itu hanya keputusan singkatnya. Dia merasa dia ingin menemani Myungsoo seperti yang ia katakan. Entah itu benar-benar ia harapkan atau tidak.

“ I have to, I have to stay here”

Tn Jung mendengus, ia terlihat kesal pada putrinya.

“ I give you a chance, tinggal lah selama satu bulan di Seoul dengan uang yang aku berikan, jangan pernah meminta bantuan apapun dari Appa, Ibumu atau pegawai Appa. Tinggallah sendiri semaumu, jangan tinggal di apartement, dan carilah tempat tinggal sendiri di Seoul. Appa tidak bisa terus-terusan menuruti permintaan manjamu, dan jika kau berhasil Appa akan turuti kemauanmu, jika kau gagal…kau harus turuti kemauan Appa”

Sooyeon mengambil nafas dalam. Bagaimana ini…kenapa menjadi serumit ini? Ia memukul kepalanya pelan. Sedangkan pikirannya kali ini sudah terikat dengan Kim Myungsoo. Ia benar-benar ingin tinggal di Seoul.

“ Yes, I do”

Tn Jung menghela nafas. Putrinya memang keras kepala, bagaimana lagi jika ia sudah memberikan keputusannya.

“ Baiklah…lakukan sesukamu”

Sooyeon terdiam.

_Oh Tuhan….Sooyeon mengacak rambutnya.

TBC…

 

 

32 thoughts on “Just Stay Beside Me|| Special Flashback

  1. Ternyata seperti itu awal pertemuan Sica eonni sama Myungsoo oppa…

    Demi apa sifat dingin Myungsoo oppa ngeselin tingkat dewa, kalo orang yg didkat dia itu minim kesabaran pasti gak akan betah temanan sma dia…

    Unik juga cara Sica eonni ngehibur dirinya dgn menyendiri terus menceritakan keluh kesahnya sama bangku dan tumbuh2an🙂

    kalo dibaca bagian flashback ini, spertinya Myungsoo oppa emang lebih nyaman saat bersama dgn Sica eonni..

    Pokoknya ditunggu kelanjutannya…🙂

  2. edisi flashback,awal pertemuan dan taman adalah saksi mereka. myungsoo meratapi kegalauannya di taman.jadi myungsoo yang bilang : tetap disini? myungsoo dari dulu emang udah dingin,dia kesepian.sicaeon emang gaada egois2nya, salut aku😀 chap 4 nya dtnggu thor,KEEP WRITING!!

  3. Sumpah deh ini bikin aku GALAU juga…
    Dimana aku tahu Myungsoo Oppa nyukai Haeryong disini jdi ane g ada efek pas Myungsoo Oppa nyuruh Jess eon tetep tinggal -_-
    Rasanya ane malah yg nyesek😦
    Jdi chingu cpt lanjutin nde!!
    Aku menunggu kelajutan FF Just Stay Beside Me
    Soalnya nie FF bikin ane nyesek tpi ane tetep penasaran *pensive* pdhl klo FF yg udh bikin aku nyesek jarang aku baca lanjutannya -_-
    Soalnya gg pernah lht kecerahan di Chapter” awalnya🙂 Hehehehe
    Yah itu lah ane klo udh BM baca FF Genrenya beginian..
    Tpi FF ini bikin aku pingin baca terus low😉
    Okay… Figthing and Keep Writing!!🙂

  4. Ternyata orang tua Myungsoo sdh gak ada😦
    Pantesan sikapnya kyk gitu ._. Kasian ya…
    Sica baik banget deh, salut ama pengorbanan dia untuk Myungsoo selama ini!
    Tapi apa Myungsoo gak punya perasaan barang sedikit pun untuk Sicao_O

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s