[Freelance] (Yes You) (OneShot)

PicsArt_1413693905394

Judul                     : Yes You

Author                  : puchanli

Rating                   : T

Length                  : One Shot

Genre                   : Romance

Main Cast            : Jessica Jung & Kris Wu

Disclaimer          : Semua nama yang disebutkan di bawah 100% milik Tuhan dan orangtua masing-masing. Namun alur cerita adalah murni dari pemikiran saya, jika ada kesamaan alur/ cerita adalah kebetulan dan tidak disengaja. Dimohon untuk memberi komentar karena tiap masukan dari Anda sekalian sangat berarti buat saya > w<)/

 

Siang hari di tengah musim panas yang terik. Matahari tak ubahnya api raksasa yang memanggang kota di bawahnya. Seorang gadis berambut curly berjalan lunglai menuju halte. Tak ada nuansa semangat dalam auranya. Ia duduk di bangku halte dengan tatapan kosong. Wajahnya tampak lelah, rambutnya acak-acakan, dan kulitnya pucat pasi.

Tiba-tiba ia mulai sesenggukan dan perlahan butir-butir air menetes dari sudut matanya yang indah. Mengalir menyusuri pipinya yang cantik. Jessica Jung, begitu namanya, menangkupkan kedua telapak tangannya untuk menutupi wajahnya. Ia segera bangkit dan berjalan cepat meninggalkan halte. Jauh dari pengetahuannya, sepasang mata tajam mengamatinya dengan cermat, hingga raga Jessica menghilang di tikungan.

Jessica berjalan menuju jembatan di anak sungai Han. Ia menggenggam pegangan jembatan dan menatap kosong pada air yang mengalir. Ia memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. Kemudian, tanpa sadar kakinya perlahan menaiki pegangan jembatan yang pertama sementara tangannya masih menggenggam erat pegangan jembatan teratas. Ia berdiri, di pinggir jembatan dengan matanya yang masih tertutup.

Ia nyaris menjatuhkan dirinya sampai kemudian seseorang menarik keras lengannya hingga ia tersungkur di atas orang tadi. Jessica membuka matanya dengan shock. Ia menatap orang yang menariknya.

Seorang lelaki yang ia kenal, yang merupakan ketua kelas sekaligus ketua tim basket di sekolahnya, dan juga merupakan murid peringkat 1 di kelas, Kris Wu, mencoba untuk bangkit.

“Apa kau sudah gila?!” Kris menyemburnya.

Jessica yang sudah bangkit dan membersihkan debu yang menempel di badannya mengangkat bahunya dengan cuek. “Kau mengikutiku?”

“Aku tidak sengaja melihatmu akan melompat dari jembatan ini,” Kris mengelak. “Apa yang kau baru saja ingin lakukan?”

“Bukan urusanmu, Kris,” Jessica berbalik hendak meninggalkannya. “Pulanglah.”

Kris segera berlari mengikutinya dan menyamai langkahnya. Jessica menatapnya tajam, “Kau mau apa lagi?!”

“Meskipun terdengar aneh, tapi aku akan mengikutimu sampai kau pulang ke rumah,” Kris berkata, “karena aku adalah ketua kelas dan aku bertanggungjawab atas keselamatanmu walaupun saat ini sedang libur musim panas.” Dalam pikirannya muncul sosok Jessica yang aneh, yang memiliki niat tidak baik dalam waktu dekat ini.

“Jangan mencoba peduli padaku,” Jessica mempercepat langkahnya. “Dan tinggalkan aku sendiri!”

Kris tak menghiraukannya, ia tetap menyamai langkah Jessica sampai kemudian Jessica mulai keki dan berhenti. Ditatapnya sang ketua kelas dengan tajam. “Sudahlah, Kris! Berhenti mengikutiku! Atau aku akan melapor pada polisi.”

Kris menaikkan kedua alisnya, mencoba menelusuri apakah gadis di depannya ini sedang serius atau hanya akting belaka. Namun sepertinya ia tidak menemukan kepura-puraan dalam kemerah padaman pada paras cantiknya. Kris mengernyitkan kening, merasa agak aneh dengan semua ini. Bagaimana pun ia mengenal Jessica Jung sebagai seorang gadis yang periang selama di kelas dan bukan yang seperti ini. Rasa penasarannya membuncah sampai kemudian ia terus mengikuti Jessica.

“Kris, sudahlah, pulanglah!” Jessica berteriak putus asa.

“Aku hanya memastikan kau selamat sampai kau pulang.”

“Aku tidak membutuhkanmu, aku bisa pulang dengan selamat,” Jessica kembali berbalik dan hendak meninggalkannya, tapi kemudian kepalanya terasa sangat berat dan penglihatannya perlahan memudar. Seolah ada kunang-kunang yang terus berputar di depannya.

Jessica terjatuh, berlutut. Tangannya memijit pelan keningnya yang terasa pening. Kris segera meraih bahunya dan mengangkatnya. “Aku sudah bilang, bukan?” Ia membawanya ke sebuah bangku di dekat taman. Untungnya ada pohon rindang di sebelah bangku.

Jessica duduk di bangku dengan mukanya yang mulai memerah. Kris segera pergi dan kembali dengan membawa sebotol air minum dingin untuknya.

“Minumlah, cuaca hari ini sangat panas,” Kris mengulurkan tangannya. Jessica menerimanya dan sesegera mungkin meneguknya hingga wajahnya kembali normal.

Keheningan yang mencekam. Tak satu pun dari mereka yang mengatakan sepatah kata pun namun juga tidak ada dari mereka yang bergerak untuk melangkah pergi lebih dulu.

“Semua laki-laki sama saja,” ia bergumam pelan, membuat Kris menoleh ke arahnya. “Pada akhirnya mereka akan melukai hati perempuan.” Air matanya kembali menetes.

“Kau sudah mencoba semuanya?” Mata Kris membesar.

Jessica memandangnya heran, “apa maksudmu?” Suaranya terdengar sangat lemah.

“Kau bilang semua laki-laki sama saja,” Kris mengulang. “Itu berarti kau sudah pernah mencoba semua laki-laki.”

“Bukan seperti itu, babo!” Jessica mendorongnya dengan kesal. Entah mendapat tenaga darimana, ia dapat mendorong Kris meskipun Kris sama sekali tak bergerak. “Apa kau mendapat peringkat pertama karena kebodohanmu?”

Kris mengangkat bahunya, ia menganggap bahwa dirinya memang benar tentang perkataannya tadi. Namun ia juga mendapat kesimpulan baru, bahwa hubungan Jessica dengan pacarnya baru saja kandas. Kris kembali mengingat bahwa pacar Jessica adalah Jaeho, kakak tingkatnya yang merupakan seorang selebriti di sekolah karena perannya sebagai seorang vokalis band sekolah ditambah lagi karena ketampanan yang ia miliki.

Jessica menyandarkan badannya dan menghela nafas. Ia mulai menyalahkan Tiffany dan Yuri, dua teman dekatnya, karena tidak bisa dihubungi sejak tadi. Di saat hari-harinya yang sedang buruk. Matanya menangkap sebuah kedai kopi di ujung jalan sana.

“Kau lihat kedai itu?” ia menunjuknya, Kris mengangguk. “Jaeho dan aku pernah menghabiskan sehari penuh pada musim dingin di kedai itu.” Suaranya kembali terdengar parau. “Kau lihat toko roti di sebelah sana?” Ia berhenti sebentar. “Jaeho dan aku pernah mencoba membuat roti di toko itu. Toko itu milik pamannya.”

Kris hanya mengangguk dan memandangnya, tak mengucapkan sepatah kata pun.

“Taman di belakang kita ini,” Jessica memutar badannya, menangkap pemandangan keramaian taman dengan bunga-bunga yang bermekaran indah. “Baru dua hari yang lalu kami kemari dan menghabiskan sampai matahari tenggelam bersama…”

Kris menaikkan alisnya, menunggu kalimat berikutnya.

“Itu sungguh kenangan yang menyedihkan,” ia menutupi kedua wajahnya lagi, menangis perlahan.

Kris baru menimpali setelah 2 menit kemudian, “kau bisa menghabiskan persediaan air matamu jika kau terus menangis.”

Jessica menatapnya, “lalu apakah ada saran, the genius Wu?” Jessica kembali mendesah. “Tak ada yang bisa dilakukan, aku bahkan tidak bisa melupakannya barang satu menit pun.”

“Itu karena kau seharusnya memang tidak perlu melupakannya,” Kris menyahut. “Kau hanya melakukan hal yang sia-sia jika kau terus melakukannya.”

Jessica menatapnya tajam, “memangnya tahu apa kau soal seperti ini?” Ia menyilangkan tangannya di depan dadanya. “Kau bahkan tidak punya seorang pacar.” Ya, Jessica memang benar, meskipun Kris tampak sempurna, tapi dia memang tidak punya pacar.

Kris tertawa pelan, “memang tidak, tapi aku mengagumi seseorang.”

Jessica mengangkat bahu dengan cuek. Pikirannya kembali terulang mengenai kenangannya bersama Jaeho, ia mulai rapuh dan kembali menangis lagi. Ia hendak bangkit, “sudahlah, aku ingin pulang. Tempat ini hanya akan mengingatkanku akan bayangannya.”

Kris menarik lengannya, “hei, tunggu dulu.”

“Lantas kau ingin apa lagi?” Jessica menyerangnya. “Semuanya sudah selesai dan berakhir saat ini juga. Lebih baik aku segera pulang atau aku harus berlari ke tengah jalan yang sedang ramai.” Matanya menangkap keramaian jalan raya.

“Kau memang bodoh, Jessica,” Kris bergumam pelan.

“Kau yang bodoh, Kris!” Jessica melepas tangannya dengan kasar. “Kalau saja kau tidak menarikku tadi aku pasti sudah mati dengan tenang.”

“Dan apakah masalahmu akan selesai begitu saja?”

“Ya,” Jessica menjawab cepat. “Dan tidak ada lagi yang seperti ini di dunia ini.”

“Dan dengan begitu kau juga akan meninggalkan teman-temanmu?” Kris mengulang dengan suaranya yang berubah menyedihkan. “Kau ingin mati hanya karena kau sedang patah hati dan kau lebih ingin meninggalkan hal-hal yang lebih berharga di dunia ini daripada menyesali dan menangisi pacarmu?”

“Tidak ada lagi yang berharga dan yang aku inginkan di dunia ini kecuali kematianku,” Jessica memotong. Ia mengeluarkan handphone-nya dan menunjukkan foto-foto dalam galerinya. “Aku lebih memilih mati daripada harus hidup dalam kesengsaraan seperti ini.”

“Kalau begitu jangan buat dirimu sengsara,” Kris menyilangkan tangannya. “Dengan cara jangan mencoba untuk mengingatnya lagi.”

“Aku sudah katakan, aku tidak bisa melupakannya.”

“Aku bilang tidak mengingatnya, bukan melupakannya.”

“Itu sama saja,” Jessica memotong ketus.

“Itu berbeda,” Kris juga memotong. Melupakannya akan memaksakan dirimu untuk tidak mengingatnya, yang mana akan membuat kau akan terus mengingatnya karena kau memaksakan dirimu, dan itu berakibat kau akan terus tenggelam dalam penyesalan,” Kris mengubah posisi duduknya. “Sedangkan tidak mengingat akan lebih efektif karena kau akan memiliki aktivitas untuk mengisi waktu luangmu daripada kau terus menyesalinya. Itu lebih efektif untuk move on.”

Jessica terdiam, “lalu apa yang harus kulakukan?” Ia bertanya pada akhirnya, dengan suaranya yang mulai terdengar lebih tenang.

Kris menaikkan alisnya, sempat terkejut dengan reaksi Jessica, kemudian ia merebut handphone Jessica. “Mudah saja, mulailah dari hal yang kecil. Hapus semua foto-foto ini,” Kris menghapus semua foto Jessica dan Jaeho, sementara Jessica tak mencoba untuk merebutnya kembali. “Jangan buang air matamu yang berharga untuk menangisi seseorang yang bahkan tidak berhak melihatmu tersenyum,” Kris mengembalikan handphone-nya dengan tersenyum.

“Tapi dia cukup berharga,” Jessica bergumam pelan.

“Berharga?” Kris mengulang. “Apakah dia cukup berharga untuk menyakiti perasaanmu?” Ia berhenti sebentar. “Dan apakah dia cukup berharga untuk membuatmu mengakhiri hidupmu?”

Jessica menunduk dan menggeleng pelan. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa apa yang telah dikatakan Kris memang benar. Dan sebuah perasaan akan kesadarannya pada kesalahannya tiba-tiba muncul begitu saja. Membuat rasa marahnya perlahan sirna bersamaan dengan matahari yang mulai bersembunyi di balik awan-awan musim panas.

“Menangis dan menyesal, kau boleh melakukannya, tapi cukup satu kali saja,” Kris menggeser duduknya lebih dekat, “setelah itu ambil pelajarannya dan berusaha untuk move on,” ia mengeluarkan sesuatu dari balik celana jeans-nya. Satu pak tisu. “Buat air matamu yang lebih berharga untuk menyirami kebahagianmu di masa depan,” ia mencomot 3 lembar tisu dan mengusap air mata Jessica. Kemudian ia tersenyum, sangat menawan.

Jessica membeku seketika. Membiarkan teman satu kelas yang sama sekali tak ia kenal dengan dekat menghapus kesedihannya, kepiluannya, dan kesendiriannya. Jantungnya berdegup kencang ketika ibu jarinya mengusap lembut pipinya. Dia sama sekali tak tahu kalau Kris yang selama ini dinilainya sebagai lelaki nerd yang tak sengaja menjadi ketua kelas sekaligus ketua tim basket sekolah adalah sosok yang bijaksana.

“Kau ingin pulang? Sepertinya sudah tidak terlalu panas untuk saat ini,” Kris memandang langit yang mulai teduh. “Aku bisa mengantarmu pulang,” ia menawarkan dirinya yang kemudian disambut anggukan Jessica.

Keduanya pun akhirnya melenggang bersama.

“Hei, Kris,” Jessica memecah keheningan ketika keduanya melintasi trotoar di pinggir jalan. Suaranya terdengar lebih semangat dari sebelumnya. Jessica yang periang telah kembali.

“Hmm?” Kris menoleh.

“Kita berteman, bukan?” Jessica memastikan, Kris mengangguk setuju. “Dan kurasa sebagai teman seharusnya kita saling mengenal dengan baik, bukan?” ia kembali memastikan, kali ini Kris mengangguk dengan senyumnya. “Sekarang karena kau sudah tahu sedikit tentang ceritaku, aku ingin tahu sedikit juga tentang ceritamu.”

“Cerita apa?”

“Kau bilang kau mengagumi seorang gadis.”

“Ah,” Kris memekik, ia menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. “Kau ingin aku memberitahumu siapa dia, begitu?” Kris memandangnya, Jessica mengangguk antusias. “Kurasa itu bukan ide yang bagus, aku tahu kau akan menjadikannya hot topic dan menyebarkan gosipnya bersama dua temanmu.”

Jessica memutar bola matanya kesal. Ia benci mengakuinya, tapi apa yang dikatakan Kris memang benar. Jessica dan kedua temannya, Tiffany dan Yuri adalah trio queenbees yang juga penyebar gosip terbesar di sekolah. Semua gosip mulai dari yang terkecil sampai yang terheboh, mereka mengetahuinya. Tapi selama ini belum pernah ada nama Kris Wu dalam daftarnya. “Ayolah, Kris.”

“Tidak,” Kris menggeleng, bersikeras.

“Ah, kau bukan lelaki yang menarik,” Jessica mengerucutkan bibirnya.

Kris tertawa pelan.

“Apa kau pernah berbicara dengan gadis itu?” tanya Jessica tiba-tiba, setelah beberapa detik diam.

“Aku punya nomornya.”

“Kau serius?” Jessica berhenti. “Kalau begitu cepat beritahu dia perasaannya padamu.” Ia kembali tampak antusias seperti sebelumnya.

“Seseorang mengatakan padaku jika kau seorang lelaki dan kau menyatakan perasaanmu pada seorang gadis secarat tidak langsung, kau bukanlah lelaki sejati.”

Jessica mendengus, sungguh lelaki di depannya ini terlalu teoritis dan idealis. “Baiklah, baiklah, the genius Wu, ungkapkan perasaanmu secara langsung.” Wajah Jessica mendadak kembali semangat, sepertinya sebuah ide tak sengaja merasukinya. “Kau bisa mempraktekannya denganku.”

Kris menaikkan alisnya tebal. “Begitu, ya?” Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. “Beri aku waktu tiga menit,” kemudian ia meninggalkannya dan kembali lagi setelah 2 menit dengan membawa sebuket bunga mawar merah dengan satu mawar putih yang tampak tak secantik mawar lainnya.

“Ada apa dengan mawar ini?” tanya Jessica.

“Ah, itu mawar palsu, kau tahu, bunga plastik yang tidak nyata.”

“Kau hendak memberikan seorang gadis mawar imitasi seperti ini?” Jessica mengerutkan kening, antara tak percaya dan kesal. “Jahat sekali kau, Kris, kau tidak berbeda dengan Jaeho.”

“Mawar ini ada maksudnya,” Kris memotong. “Ketika aku akan memberikan bunga ini, aku akan berkata, aku mencintaimu senyata mawar merah ini, dan aku akan berhenti mencintaimu jika mawar putih ini layu.” Kris tersenyum.

Jessica tertegun, betapa dia sangat terkesan dengan semua yang Kris katakan sejak tadi. “Baiklah, itu ide yang menarik.” Ia tersenyum, “nah, sekarang coba kau praktekan aku adalah gadis idamanmu, ketika kau menemuiku di tengah jalan dan kau ingin mengungkapkan perasaanmu.” Jessica berbalik, “mulai!”

“Se-sekarang?” Kris berkedip tak paham. “Baiklah,” ia menggigit bibir bawahnya. Kemudian tangannya meraih bahu Jessica. “Nona Jung.”

Jessica menoleh, “ya?”

“Nona, selama ini aku tidak bisa mengutarakannya secara langsung, tapi kuharap kau tidak terbebani dengan ini,” Kris mengulurkan bunga mawarnya. “Nona, aku mencintaimu senyata mawar merah ini, dan aku akan berhenti mencintaimu jika mawar putih ini layu. Terimalah ini sebagai bukti bahwa cintaku padamu seperti bunga mawar.”

Jessica menerimanya dengan menahan tawanya. “Terima kasih, Kris, kau sungguh pria yang baik.” Setelah itu ia tertawa lepas bahkan sampai terjatuh berlutut. “Kris, kau memang payah dalam berakting,” ia meraih handphone. “Aku harus segera memberitahu yang lain bahwa yang akan menjadi gosip minggu ini adalah ketua kelas Kris Wu!”

“Hei, jangan terlalu berlebihan,” Kris menyahut yang tak dibalas oleh Jessica.

“Ini akan menjadi gosip terbesar selama musim panas!” Jessica berseru. “Kris, setelah liburan ini selesai, aku ingin kau segera menemui gadis ini dan beritahu dia perasaan seperti tadi, tapi jangan terlalu banyak basa-basi, gadis tidak suka pria yang basa-basi.” Jessica mengembalikan bunga mawarnya.

“Kurasa aku baru saja melakukannya,” Kris tidak menerima sebuket bunganya kembali.

“Apa maksudmu?”

“Kau sudah mendengarnya,” Kris tersenyum sangat manis. “Dan kau sudah mengetahuinya, tak perlu aku ulang.”

“Maksudmu ini untukku?” Jessica menggerakkan bunga mawarnya.

Kris mengangguk. “Jessica, aku sudah menyuruhmu untuk tidak membohongi perasaanmu sendiri,” Kris mendekatinya. “Sekarang aku juga tidak ingin membohongi perasaanku sendiri. Bunga itu, ucapan tadi, dan semua perasaan yang aku katakan padamu adalah benar.” Ia tersenyum lagi, Jessica masih belum sepenuhnya paham. “Bahwa selama ini perasaanku padamu seperti bunga mawar itu.”

Jessica menatapnya dengan tatapan tak percaya dan sedikit ada rasa terharu. Ia merasa suhu badannya meningkat dan kini jantungnya berdegup lebih kencang. Kris masih berdiri di depannya, di bawah teriknya matahari musim panas. Ia mulai menyadari, mengapa tidak sejak lama ia mengenalnya lebih jauh? Bahwa faktanya, Kris Wu yang selama ini adalah pria dingin tanpa ekspresi yang ia kenal adalah seorang pria yang sangat romantis, terlalu romantis menurutnya.

“Kau tahu, Kris,” Jessica mulai menyahut. “Terkadang beberapa orang hanya mampir ke hatiku dan menjadi bagian dari masa laluku. Tapi ada juga yang tidak mampir ke hatiku tapi akan menjadi bagian dari hidupku, sampai masa depanku.” Matanya berbinar. “Kukira orang itu baru saja memberiku sebuket bunga mawar.”

Senyum Kris mengembang, “sejak kapan kau menjadi bijak seperti itu juga, Nona Jung?”

“Sejak kau duduk bersamaku di bangku tadi,” Jessica menatapnya dalam-dalam. Keduanya bertukar pandangan dalam diam. “Yaa! Ayo kita pulang, mataharinya kembali muncul!” Jessica berseru, memecah keheningan lagi.

“Okay,” Kris mengangguk dan meraih tangan Jessica.

 

THE END

22 thoughts on “[Freelance] (Yes You) (OneShot)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s