Nightmare [1]

nightmare-luckyspazzer

 

Nightmare

presented by luckyspazzer

.

Jessica, Luhan, Myungsoo, and Krystal

AU!, Romance, and Horor | PG – 13 | Chaptered

Cast isn’t mine, but story was mine


Brak!

Pintu rumah dengan gaya minimalis itu terbanting keras, membuat beberapa tirai jendela terbuka lebar, ingin tahu apa yang terjadi. Rumah itu baru saja dihuni, setelah berbelas-belas—atau puluhan—tahun tak dihuni. Suara dalam rumah itu berisik, tapi teredam oleh badai salju bulan November.

Jessica tampak sedang membersihkan rumah, Krystal dan Myungsoo merapihkan pakaian tiap penghuni, dan Luhan yang sedang membuat makan malam bagi keempat penguni; termasuk dirinya sendiri.

Sontak, Jessica mengadahkan kepalanya, mendengar pintu itu terbanting begitu keras. Jessica menepuk dahinya perlahan, menyadari bahwa ia lupa menutup pintu usai mengambil sarung tangan bahan suedenya yang tertinggal. Jessica mengelap peluhnya, usai merapihkan rumah itu.

Eonnie,” kata Krystal, membuka pintu ruang tamu, menjulurkan kepalanya. “Apa yang terbanting tadi?” sambung Myungsoo, berdiri disamping Krystal.

“Cuma pintu,” sahut Jessica. “Aku lupa menutupnya tadi.”

Baru saja Krystal ingin mengatakan oh dan Myungsoo ingin beristirahat sebentar, teriakan Luhan langsung menggema. “MAKAN MALAM SUDAH SIAP!” teriak pria itu dari dapur, begitu kencang.

“Bagus, aku sudah lapar,” kata Myungsoo, merapihkan kemeja warna hitamnya yang agak berantakan. “Aku harap masakannya tidak gosong.”

Krystal mengamit tangan sang kakak—Jessica—menuju dapur. Didapur, Luhan sudah mengambil sendoknya dengan pandangan berharap pada pintu, menunggu tiga penghuni lain datang.

“Apa yang kau masak?” tanya Myungsoo. “Kutebak, um, telur gosong?”

Luhan menggeleng, “Jjajangmyeon!” serunya, bersemangat.

Krystal menarik sebuah kursi disamping Myungsoo, lalu menatap jjajangmyeon miliknya. “Cukup  menjanjikan,” komentar Krystal. “Aku harap kau bisa membedakan mana gula mana garam.”

“Ini enak,” kata Jessica, setelah menelan jjajangmyeonnya. “Tidak buruk. Krys, apa pendapatmu?”

Krystal memberikan ekspresi masam, “Aku benci mengatakannya,” kata Krystal, membuat Luhan mengangkat alis dengan cemas. “Tapi jjajangmyeon Luhan sudah mengalahkan jjajangmyeonku!”

Jessica dan Myungsoo terbahak, sementara Luhan berdecak sebal. “Setelah ini, apa yang kita lakukan?” tanya Jessica, melemparkan pandangannya pada Luhan. “Kita main hide and seek?”

“Oh! Aku memilih hide and seek, kau, Myung?” tanya Luhan. Myungsoo mengganguk, dan Krystal tampaknya tidak keberatan dengan permainan hide and seek.

Jjajangmyeon Myungsoo paling dulu dihabiskan, disusul Luhan. Well, alasan mengapa Jessica dan Krystal makan dengan lambat adalah dengan berbincang-bincang atau mendiskusikan rumah baru mereka. Berbeda dengan Myungsoo yang lebih senang bungkam atau Luhan yang kadang-kadang menimpali.

Ruang keluarga—atau karena mereka bukanlah keluarga mereka sebuat ruang sahabat—adalah yang paling luas! Cocok untuk kegiatan-kegiatan yang asyik. Keempat sahabat berkumpul diatas karpet warna krem yang terletak ditengah-tengah ruang sahabat.

Berdasarkan undian, Krystal harus jaga dan mencari Jessica, Myungsoo, Luhan, dan bila Krystal gagal—well, dengan paksa dia harus jaga lagi!

“Satu …” Krystal mulai berhitung.

Terdengar suara berpencar disana-sini.

“Dua …” sambung Krystal.

“LUHAN! JANGAN DIKAMARKU!” teriak Jessica, memecah keheningan.

“AH, BAWEL!” tukas Luhan.

Krystal terkikik kecil mendengar pertengkaran kecil itu, “Tiga …” sambungnya, masih ada tujuh detik lagi sampai ketiga sahabatnya harus bisa menemukan tempat bersembunyi yang tepat!

“Myungsoo! Sakit tahu!” terdengar jeritan Luhan.

“Ah! Berisik!” dilanjut oleh omelan singkat Myungsoo.

Krystal tersenyum kecil, “Empat …, kalian sudah menemukan tempat sembunyi?” teriak Krystal, tapi tidak ada sahutan. “Lima, karena sudah, aku percepat ya! Enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh! Siap atau tidak, aku datang!”

Terdengar suara gaduh dibalik lemari pajangan, Krystal pun mulai berjingkat-jingkat ke arah lemari pajangan itu, menebak-nebak siapa yang bersembunyi dibelakangnya. Tapi Krystal bisa merasakan adanya suara gubrak! keras digudang. Krystal beralih dan berjingkat-jingkat ke arah gudang.

BRAK!

Krystal membuka pintu gudang dan … “JAGA!” teriak Krystal, tapi mata gadis surai cokelat gelap itu terbelalak, mendapati gudang itu hanya diisi oleh kardus-kardus dan beberapa benda lama yang disimpan. Barangnya, dan barang pemilik lama rumah itu. “Oi! Kumpul!” teriak Krystal.

Langsung terdengar suara berisik dibelakangnya, Krystal memutar tubuh dan mendapati Jessica, Luhan, Myungsoo berderet tak sabaran. “Eonnie, kau sembunyi dimana?”

“Dikamar mandi,” sahut Jessica.

Mata Krystal beralih pada Luhan. “Dibelakang lemari pajangan!” Lalu pada akhirnya, pada Myungsoo. “Aku di belakang lemari pajangan juga,” jawab Myungsoo, lalu mengangkat alis, “kenapa, sih?”

“Tadi, kalian dengar tidak, suara berisik?” tanya Krystal. “Dari gudang, kan?”

Ketiganya mengganguk. “Aku pikir, kalian berdua sembunyi disana!” Jessica mengangkat alis.

Myungsoo menuding Jessica, “Kupikir, kau yang sembunyi disana!” kata Myungsoo, menautkan alis. “Aku malah berpikir, kau mencari-cari kami digudang!” Luhan menyambung.

“Mungkin, karena kita mengantuk, kita jadi berpikir yang tidak-tidak,” kata Krystal, melongokkan kepalanya sekali lagi kedalam gudang. “Aku pikir, kita harus tidur.”

“Yah, aku juga sudah lelah, Myungsoo menyikut perutku,” kata Luhan.

Myungsoo mencibir, “Aku kan, tidak sengaja.”

Jessica menarik Krystal, “Baiklah! Waktunya tidur!”

Jessica dan Krystal tidur dibawah, didekat teras. Mereka berdua satu kamar, tapi kasur keduanya terpisah. Jessica mendapat kasur sisi kanan dan Krystal sisi kiri, sedangkan itu, kamar Myungsoo dan Luhan berada dilantai atas—satu kamar.

Jam besar diruang tamu berdenting. Jarum pendeknya menunjuk pada angka 10, dan jarum panjangnya menunjuk pada angka 12. Menunjukkan sudah pukul 10 pas, apalagi ketika jam besar itu berdenting sepuluh kali. Jessica merapatkan selimut putihnya ketubuh, melemparkan pandangan pada Krystal yang juga masih terjaga.

“Tidur, Krys,” kata Jessica, meraih guling dan menutup matanya. Krystal berjalan sebentar ke arah saklar dan mematikan lampu, lalu memejamkan matanya. Sementara itu dilantai dua, kamar Myungsoo dan Luhan sudah gelap dan hening akan suara.

Tapi tak lama kemudian, tepatnya 30 menit setelah ‘Kakak Beradik Jung’ terlelap, sebuah suara gaduh terdengar digudang. Dan sontak, lampu kamar lantai satu dan lantai dua menyala.

Sepasang kantung mata tebal menghiasi bagian bawah mata penghuni rumah itu, keempatnya! Membuat keempatnya mirip seperti panda. “Semalam, siapa yang masih ada dibawah?” tanya Krystal.

“Aku sudah terlelap,” kata Myungsoo. “Begitu pula dengan Luhan.”

Jessica menguap, “Semalam benar-benar mengejutkan. Pukul berapa itu? Ah, ya, setengah sebelas.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku melihat ke arah jam dinding dulu sebelum akhirnya masuk kamar,” jelas Jessica dan menyendokkan serealnya masuk. “Semalam, hanya aku dan Myungsoo yang merapihkan benda-benda yang jatuh,” dengus Jessica.

Krystal nyengir lebar, “Maaf, eonnie. Aku sudah mengantuk! Lagipula, aku sudah merapihkan pakaian kemarin!”

“Apa saja yang jatuh kemarin?” tanya Luhan, membawa mangkuk dan gelas kacanya ke wastafel, lalu menyalakan keran dan siap mencuci.

Myungsoo dan Jessica sama-sama memberikan raut berpikir. “Sebuah patung kuda yang dipahat menggunakan kayu, kotak menjahit Krystal, dan sebuah peti kecil,” kata Jessica.

“Kotak menjahitku?” tanya Krystal, tampak panik. “Ada yang tercecer?”

“Tidak. Masih terkunci begitu rapat,” jawab Myungsoo. “Lucu sekali, apa yang menyebabkan ketiga benda itu jatuh?”

Jessica membetulkan bajunya, “Raknya tidak goyang, bahkan masih terpasang kuat,” kata Jessica, mengingat-ingat. “Entahlah, tapi eh, Krystal, awalnya ban sepeda kempis itu letaknya dimana?”

“Bersandar di kardus bertuliskan ‘Ji-Sae’, pemilik lamanya. Kenapa?” tanya Krystal, ya, ia memang memperhatikan gudang itu sebentar sebelum pada akhirnya menutup gudang ketika bermain hide and seek bersama.

“Tidak, tampaknya siapapun—atau apapun—itu menyenggol ban sepeda, karena kini posisinya tidak bersandar, tapi jatuh dilantai,” kata Jessica.

“Mungkin saja karena barang-barang itu!” kata Luhan.

Jessica menggeleng, “Ban sepeda itu sangat jauh dari posisi benda-benda yang jatuh, jadi kemungkinannya bisa dua puluh persen atau bahkan tidak sama sekali.”

Myungsoo berdiri, “Sudah waktunya berangkat. Ayo!”

Jessica melambai pada Tiffany, “See you tommorow!” teriak Jessica. Dan segera dibalas oleh gadis bermata cantik itu; “See ya!

Tiba-tiba, dari arah berlawanan, Krystal menabrak Jessica. Pandangannya tampak cemas. “Eonnie! Eonnie!” teriak Krystal. Jessica memberi isyarat ‘apa-yang-baru-saja-terjadi-?’. “Sepatuku rusak!”

“Apa? Hanya itu?” kata Jessica. “Jadi, kau ingin apa? Banyak sepatu punyaku yang masih bagus, walaupun bekas.”

Krystal memberi isyarat tidak, “Tidak mau! Tidak ada sepatu eonnie yang mempunyai high heels, hanya sepatu flat dan sneakers. Ayolah! Temani aku shopping dulu!” renggek Krystal.

“Luhan dan Myungsoo akan mencari kita,” kata Jessica. “Kau tahu, kan, mereka berdua itu …”

“Ayolah!” rajuk Krystal, dengan tatapan memohon.

Jessica menarik napas panjang, “Jangan lama-lama, ya?”

“Oke!” kata Krystal, menunjukkan ibu jarinya. Tampak bahagia.

Meanwhile, Luhan and Myungso …

Luhan menutup laptopnya, “Kenapa mereka berdua belum juga pulang?”

Myungsoo mengedikan bahu, “Belum. Tapi, ya, kamu tahu perempuan, kan? Apalagi seorang Krystal Jung,” kata Myungsoo, lalu menerawang. “Kalau ingin pergi, pasti dia tidak mau mengabarkan kepergiannya pada orang,” kepala Myungsoo bergeleng.

Well, aku bukan seorang perempuan sebenarnya,” kata Luhan. “Jadi aku tidak tahu apa yang ada dipikiran mereka. Uhm, shopping? Belanja? Kencan? Cowok tampan sepertiku?”

“Satu; kau tampaknya tahu banyak soal perempuan,” kata Myungsoo lalu terkekeh jahil. “Dua; kau tidak tampan. Tapi cantik!”

Luhan merenggut, “Mengapa banyak yang bilang aku tidak tampan? Tapi cantik?” gerutu Luhan. “Kau juga tidak keren! Tapi menyebalkan!”

BRAK!

Pintu rumah itu terbanting lagi, terdengar suara bel. “Mungkin itu mereka!” kata Myungsoo. Luhan dan Myungsoo bersama-sama berjalan ke arah ruang tamu, dan mendapati bahwa ….

Tidak ada keduanya!

“Siapa yang menyalakan bel?” tanya Luhan, bergidik.

“Tetangga yang jahil,” kata Myungsoo, lalu berniat menutup pintu, tapi terdengar suara bel lagi. Myungsoo merasakan bahwa bulu kuduknya berdiri, dan ia memandang Luhan. “Aku bersumpah tidak ada satupun orang diluar!”

Meanwhile, Krystal and Jessica …

Jessica berjalan dengan langkah yang diseret, menunjukkan bahwa ia merasa begitu sebal. “Krys, kapan sebentar lagi acara belanjamu selesai?” tuntut Jessica, melirik tas belanjaan Krystal yang sudah ada tiga. Tapi walaupun niat Krystal hanya membeli satu sepatu feminim, tapi Krystal tergiur oleh obral 50% di mall! Krystal sudah membeli dua jenis pakaian feminim dan satu gaun formal. Dua sepatu feminim dan satu sepatu dengan high heels tinggi!

“Tidak tahu tap—AAA!” teriak Krystal, bukan teriakan yang menandakan bahwa ia takut, tapi teriakan bahagia. Krystal buru-buru memasuki sebuah toko tas. Jessica memandang ke arah etalase toko, mendapati tas-tas yang dipajang berbagai ukuran, motif, model, merk, serta harga. Jessica akhirnya menemukan kertas yang merupakan salah satu alasan mengapa Krystal menjerit; Beli dua tas gratis satu tas cantik!, dipasang pula lima model tas yang bisa dipilih sebagai hadiah. Dan Jessica juga mengakui—tas yang ditawarkan tampaknya begitu bagus!

Jessica merasakan kakinya pegal, lalu memilih mampir untuk ke kafe yang terletak diseberang toko tas. Jessica memesan secangkir kopi, sedangkan matanya asyik menelusuri kafe itu.

Bruk!

Jessica mengeluh, menyadari bahwa tas belanjanya—yang berisi casing handphone dan satu gaun yang manis—terjatuh dari pangkuan. Jessica baru saja ingin menarik dirinya kembali ketika menemukan sebuah koran. Jessica mengangkat alis.

Koran tua itu secara perlahan diraihnya, lalu membaca judul koran itu yang rupanya diterbitkan tahun 1965.

KASUS PEMBUNUHAN

Jessica mengangkat alis, apapun yang dimaksud dengan pembunuhan pasti sesuatu yang menarik! Tapi baru saja ingin membentangkan koran itu untuk membacanya, tapi Krystal sudah buru-buru meneriakinya untuk kembali pulang. Jessica menghela napas, lalu meninggalkan koran itu disamping kursi.

Myungsoo membuka pintu bagi Jessica dan Krystal, dan menyapa keduanya dengan ekspresi syok. “Hei! Kenapa kau pucat begitu?” sapa Krystal, lalu melirik Myungsoo dengan pandangan menyuruh, “bantu aku, Myungie!”

Myungsoo—setengah sebal karena dianggap seorang pelayan, setengah takut—meraih dua tas belanjaan Krystal dan membawanya ke kamar ‘Jung’. Jessica menaruh tas belanjaannya dimeja lalu duduk disofa lavender. “Kenapa kamu kayak habis dihantuin hantu, sih?” tanya Jessica.

“Karna memang ada hantu!” kata Myungsoo. “Tadi, tepatnya saat kalian ada, pintu terketuk dan ada bel, kupikir itu ulah anak bandel, kalian tahu, kan, anak kecil, bandel…” Myungsoo mengantungkan ucapannya.

“Anak kecil bukan hantu,” tukas Krystal.

Myungsoo melanjutkan, “Lalu saat aku berniat menutup pintu, terdengar bunyi bel lagi. Dan aku berani bersumpah! Tidak ada satupun yang menekan bel!” suaranya tampak begitu ketakutan.

“Serius?” Jessica mengangkat alis. “Apa kamu sempat membaca sejarah perumahan ini atau rumah ini sebelum memutuskan membelinya?”

Myungsoo menggeleng, “Lokasinya strategis, jadi aku memutuskan membelinya, lagipula … perumahan ini kan, bagus!” kata Myungsoo melanjutkan.

“Hey! Sudah pulang?” sapa Luhan. “Kalian darimana saja? Tadi, ada kejadian yang lumayan aneh, lho!”

“Setelah menemani Krystal belanja,” kata Jessica. “Dan kami sudah mendengar kejadian lumayan aneh itu dari Myungsoo.”

Luhan meregangkan tubuhnya, tampak pegal. “Kau tahu? Aku sehabis melakukan pencarian dikamarku dan Myungsoo,” kata Luhan. “Dan kau tahu? Aku menemukan sesuatu yang sangat-sangat menarik!”

“Apa?” tanya Krystal bersemangat.

“Ini dia!” Luhan menjulurkan sebuah daftar tua. “Aku menemukannya dibalik vas tua yang ada dikamarku. Aku menyenggol vas itu, dan sebuah gulungan kertas jatuh diatas karpet. Kalian mau tahu apa tulisannya?”

Myungsoo, Jessica, Krystal mengganguk bersemangat.

Tapi aku belum ingin meninggal …

Jessica mengernyit, membaca kalimat singkat itu. Ada sobekan diatasnya, memberi kesan bahwa kertas itu disobek dari suatu buku. “Kamu tahu? Akan lebih gampang menyelidiki asal mana kertas ini diambil kalau kita bisa melakukan kromatografi kertas,” kata Jessica.

Tomato…, sori, apa?” tanya Luhan.

“Kromatografi kertas,” kata Jessica, menjelaskan. “Ilmu Kelas Forensik, well, sebenarnya ini menjurus ke arah penyelidikan dan teman-temannya. Bisa digunakan untuk mengetahui kandungan materi diatas kertas itu, atau mencocokannya dengan sampel lain. Tapi …, aku tidak bisa.”

Myungsoo manggut-manggut, “Kalau begitu, kita bisa pakai cara kita. Walau kayaknya lebih mudah pakai berbagai cara ilmu forensik. Kau tahu darimana?” tanya Myungsoo.

“Membaca,” jelas Jessica.

Krystal duduk, membaca kertas itu dengan arah begitu dekat, membuat hidungnya nyaris menyentuh permukaan kertas. “Aku rasa siapapun yang menulis ini, merasa bahwa ajal semakin mendekatinya. Sehingga ia menulis begitu. Lagipula, mungkin tidak ada yang mau meninggal.”

“Ya, aku setuju,” kata Luhan.

“Tapi, aku tahu salah satu petunjuk mengenai kertas ini. Ini kertas lama!” Jessica meneliti kertas itu. “Sangat-sangat lama. Itu apa yang kupikirkan. Lima tahun yang lalu? Bukan! Ah, lebih dari sepuluh tahun umurnya.”

Jessica memandang kertas itu, lalu menguap, “Aku mengantuk. Bagaimana kalau kita tidur saja?” ajak Jessica. “Aku terlalu capek menemani Krystal belanja!”

“Ya, aku setuju,” kata Krystal. Lalu berdiri. “Good night, boys!

Yeah, have a nice dream!” sambung Jessica.

Somebody POV

Mengapa mereka mendapat kebahagiaan? Apakah dunia memang tidak pernah mengharapkan adanya aku disini?

Tapi, kita lihat! Siapa yang masih bisa tersenyum! Aku akan mewujudkan mimpi burukmu, mimpi paling burukmu! Yang perlu kau-lakukan hanyalah menunggu satu-satu, sampai kau hanyalah seorang diri!

To Be Continued

Sori kalau pendek, ya~ Aku lagi kena writer-block, tapi aku tetap maksain nulis walaupun ide ceritanya enggak wah-wah banget, mungkin ini klise atau biasa, tapi aku harap, kalian senang. Gitu aja. Yah, aku enggak janji kalau part 2 nya bakal bagus dan amazing, buat ada tanda tanya besar dikepala, aku enggak janjiin itu.

Well, aku juga mau bilang, kalau kayaknya part 2 dipost juga pasti lama banget. Soalnya, selain sibuk, aku juga lagi kena stuk ide, kadang-kadang punya mood buat nulis, kadang-kadang malah cuman gak tau mau nulis apa. Serius. Dan aku juga mau minta maaf, selain ini agak mengecewakan, aku juga mau bilang sori kalau ini PENDEK banget. Bahkan cuman dua ribu kata, enggak tiga ribu, bahkan sepuluh ribu. Serius, aku enggak bisa bikin panjang-panjang kayak gitu. Dulu bisa, entahlah, sekarang, kok enggak bisa, ya?

Yah, kalian tunggu aja buat part 2 nya, dan maaf juga kalau ada typo n kawan-kawan, dan somebody pov itu, yang jelas, hantu ya~ Hahaha, dan tebak-tebak aja, siapa yang dijadiin umpan pertama dari si ‘somebody‘ itu.

Goodbye~ See ya! 

14 thoughts on “Nightmare [1]

  1. waw ini keren bangetttt sumpah
    apa gk apa tuh cuma sahabat tapi tinggal satu rumah? keluarga mereka emang kmana?
    masih heran sama adegan jessica nemu koran, korannya masa tiba2 muncul kaya gtu hahaha
    aduhh padahal pengen cepet2 baca next chapter, tapi authornya terkena virus writer block dan banyak tugas -_-
    aku punya dignosa!!! sepertinya korban pertama itu luhan, entah knapa di pikiranku luhan berkesan yang paling lemah hahaha, atauuuuu krystal? myungso? jessi? ahh enah yang pati ff ini harus dilanjut sampai tuntas banget nget nget nget nget
    satu lagi! jessi,krysi,luhan, sama myungso jangan di bunuh ya..cukup diisengin aja hehehe
    oke semangat ya thorr nulis ff nyaaa!! bye~~

  2. itu siapa penghuni lama?iseng?terus somebody pov itu siapa?hantunya kah?atau orang yang memiliki dendam mendalam pada mereka?penasaran lanjutannya dah.romancenya mana thor?😀 next chap KEEP WRITING!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s