Just Stay Beside Me|| Five

s-y-m-just-stay-beside-me

Author: S.Y.M

Title: Just Stay beside Me

Length: Chaptered

Genre:  Romantic high school

Rating: G

Cast: Jessica Jung || Kim Myungsoo || Na HaeRyeong BESTie

credit Poster:

By Harururu98 @cafeposter

Note:

Anyeong…hy hy hy..emhhh aku mau bilang mian saja…karena lama posting Chapter kelanjutannya JSBM. Semoga kalian suka dengan ff ini…gomawoo..

Complicated Girl is You…

*

*

Sooyeon terbatu, apa yang ia lihat kali ini adalah hal yang ia harapkan sedang ada dalam mimpinya. Namun setelah ia melihat sepatu yang ia pakai, ia sadar jika ia tidak sedang bermimpi dan ia harus segera berangkat ke sekolah.

Rasanya baru beberapa bulan lalu HaeRyeong kembali ke tempat studynya, tapi kenapa saat ini ia ada di depannya. Ia tengah tersenyum manis dan berdiri di depannya. Apa dia tidur di depan rumahnya semalam? Itu yang terlintas di otaknya.

“ Anyeong Jung Sooyeon” sapanya lembut, wajahnya benar-benar ceria dan cantik pagi ini.

“ Ah..A_Anyeong Na Haeryeong_ah” balas Sooyeon kaku.

“ Lama tidak berjumpa, apa kau terkejut?”

“ Ne” jawab Sooyeon seadanya.

“ Apa Myungsoo sudah berangkat ke sekolah?”

Sooyeon spontan menoleh ke arah rumah Myungsoo, melihat badan montornya yang masih terparkir itu artinya dia masih belum berangkat ke sekolah.

“ Dia tidak mungkin berangkat lebih pagi dariku, aku harus naik bis sedangkan dia naik motor, mungkin jika sampai di sekolah dia yang lebih dulu, kau mau menemuinya?”

Haeryeong mengangguk semangat, Ia melambaikan tangannya dan berlari kecil menuju rumah Myungsoo.

Sooyeon mendengus, ia menghela nafas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan

“ Dia kembali secepat ini? “ gumamnya. Ia mengangkat pundaknya lalu memutuskan untuk segera ke Halte.

.

.

Sooyoen memperlambat langkahnya ketika melihat ada sosok yang asing di tempat itu. Dia berulang kali mengedipkan matanya ketika melihat secara dekat siapa yang kini tengah duduk di depan halte itu.

“ Husby?” gumamnya pelan namun jelas terdengar oleh Myungsoo, terbukti karena Myungsoo menoleh ke sumber suara itu.

Sooyeon berhamburan untuk mendekat dan duduk di sebelahnya.

“ Ahh…aku rasa aku memang belum bangun tidur” ucapnya lirih, ia memukul kepalanya pelan.

Selanjutnya ia melihat busnya sudah datang, ia melihat Myungsoo yang berjalan lebih dulu untuk masuk ke dalam bus itu, Ia segera berlari kecil menyusulnya. Ia takut ia tertinggal busnya.

Ia berhenti ketika Myungsoo berhenti di pintu bus dan meraih tangannya untuk lebih mudah naik ke dalam bus.

Sooyeon sempat membatu dan melongo. Jika ia meraskan bahwa tangannya bersentuhan dengan sosok Myungsoo itu, itu artinya ia sedang tidak bermimpi.
“Heooll…aku pikir aku memang bermimpi” Sooyeon mendengus pelan, ia bergumam dan duduk di barisan paling belakang bersama Myungsoo.

“ Jangan berlebihan, aku memang tidak memakai montor hari ini” itulah penjelasan Myungsoo padanya. Seharusnya ia mengatakan itu sejak dari halte.

Sooyeon mengangguk dan membentuk huruf O pada bibirnya. Ia tersenyum dan mengambil nafas dalam. Detik selanjutnya ia ingat dengan siapa ia bertemu pagi ini.

“ Ah..Husby? Myungsoo_ya, kau tidak tahu _” Sooyeon menggantung kalimatnya ketika bertemu pandang dengan Myungsoo.

Ia duduk tepat di sebelah Myungsoo dan dengan posisi Myungsoo menoleh kearahnya seperti ini membuat jantungnya kembali tidak normal.

“ Wae?” tanya Myungsoo.

Sooyeon yang sempat membatu segera membuyarkan dan mensterilkan keadaannya.

“ Aku bertemu Na Haeryeong pagi ini, aku pikir kau belum berangkat ke sekolah, dia menemuimu di rumah” jelas Sooyeon, ia menunduk dan nada bicara yang tidak seceria biasanya.

“ Oh…”   Dan hanya itulah tanggapan dari Myungsoo.

“ Kau tidak memberitahunya?”

“ Dia mungkin akan mencariku jika ia ingin bertemu denganku”

Sooyeon mengangguk kecil, ia kembali membentuk huruf O pada bibirnya.

“ Apa kalian bertengkar?” tanya Sooyeon, sebenarnya ia selalu khawatir dengan keadaan kedua orang ini. Ia tidak ingin HaeRyeong dan Myungsoo merenggang.

“ Hanya kau yang bisa memusuhiku”

DEG

Sooyeon melebarkan matanya, ia mengernyit dan segera memukul pundak Myungsoo.

“ Hya! Kim Myungsoo” protesnya.

Sooyeon melengos, dari kalimat itu terlihat sekali jika Sooyeon memang sering sekali membuat pertengkaran kecil dengan Myungsoo, walaupun pada akhirnya dialah yang tidak bisa marah pada namja itu. Sedikitpun ia tidak bisa.

Myungsoo terkekeh, ia melirik Sooyeon yang memalingkan wajahnya.

“Dasar gadis aneh”

“ Kau ingin kita bercerai?!” ancam Sooyeon dengan nada yang sedikit tinggi, membuat penumpang lain di sekitarnya memperhatikannya.

Sooyeon yang sadar segera membungkukkan badan dan meminta maaf pada mereka. Selanjutnya ia melirik tajam Myungsoo yang terlihat menahan tawanya.

“ Kau lihat! Bukankah kau memang sering memusuhiku? Kau yang sering mengancamku, Dan kau sering membuat orang lain memperhatikan ulahmu”

Sooyeon terdiam, ia mendengus kesal. Yang dikatakan Myungsoo memang benar. Namun ia berani bersumpah bahwa semua itu mengalir apa adanya dari dirinya sendiri. Bahkan Myungsoo tidak pernah menolak ataupun memarahinya ketika ia mengatakan kalimat-kalimat uniknya itu.

.

.

Sooyeon segera pergi setelah melihat Henry yang berjalan ke arahnya. Terlihat sekali ia menghindari guru itu.

Henry yang tahu hanya terkekeh dan mengikutinya, dengan cepat ia mensejajari langkahnya.

“ Anyeong nona Muda Jung Sooyeon” sapanya.

“ Oppa!” Runtuknya.

“ Wae? Heoh…sebentar lagi ujian akhirmu akan segera dimulai, kau harus bersiap untuk kembali ke Amerika “ ucap Henry tiba-tiba.

Sooyeon spontan menghentikan langkahnya. Pandangannya kini menjadi kosong. Henry yang sadar  pun juga berhenti dan melihat kearah Sooyeon.

“ Wae?”

Sooyeon terdiam, mendengar kalimat kembali ke Amerika membuatnya merasakan hal aneh pada tubuhnya. Sesak yang ia rasakan pada dadanya menjadi meningkat dan tubuhnya menjadi ringan. Ia memang telah memikirkan ini sebelumnya. Lambat laun ia memang harus kembali ke Amerika.  Namun apakah memang tahun ini ia harus kembali ke Amerika? Satu hal yang ada dikepalanya saat ini adalah Kim Myungsoo. Jika ia selesai itu artinya ia akan menyerah sedangkan ia belum mendapatkan hal yang membuat Myungso bahagia, ia belum menemukan bagaimana bisa melepaskan Myungsoo dari rasa menyesalnya yang masih ada sampai saat ini. Atau memang dia juga yang tidak bisa menjauh dari sosok Kim Myungsoo?

“ Kau ingin aku tinggal jauh dari calon istriku jika kau tetap disini?”

Sooyeon melirik tajam kearah Henry.

“ Jangan bahas hal lebih tentang calon istrimu itu, dan jangan bahas hal lebih tentang Appa” larang Sooyeon.

Henry terkekeh, ia mengacak ringan rambut Sooyeon. Seperti itulah kebiasaannya.

“ Oppa!”

“ Wae? Aku bukan orang lain untukmu bukan”

“ Kau adalah guru Violin ku yang paling menyebalkan, dan kau yang selalu mencampuri urusanku”

“Hanya itu? Benar hanya itu?” Goda Henry ia bisa lihat wajah Sooyeon yang berubah merah kali ini. Menggoda Sooyeon sampai wajahnya merah adalah favoritnya.

“ Hya!” Protes Sooyeon, Ia mengangkat sebelah tangannya ketika Henry hendak mengacak rambutnya lagi.

Geraknya terhenti ketika Henry melirik ke arah lain, dan Sooyeon mengikutinya. Disitulah Sooyeon dengan sigap menurunkan tangannya dan berbalik.
Henry membungkukkan badannya setelah mendapat sapaan dari murid lain di tempat itu. Lalu apa yang membuat Sooyeon berbalik?

Karena murid itu adalah Kim Myungsoo. Ia tidak sengaja mengetahui kedekatan dari kedua orang ini. Seorang guru dan murid yang tak lain adalah Jung Sooyeon.

Myungsoo menghela nafas, ia melangkah untuk lebih dekat pada mereka. Sedangkan ia mendapati Sooyeon berbalik dan hendak melangkah pergi ketika mendengar langkah kakinya.

“ Apa yang kau lakukan Jung Sooyeon? Kelasmu berbeda arah”

Sooyeon melebarkan matanya, ia bodoh saat ia gugup. Ia memang salah melangkah. Entah kenapa ia tidak ingin Myungsoo melihat kedekatannya dengan Henry. Itulah sebabnya ia ingin segera pergi dari tempat itu.

Sooyeon berbalik, ia melempar senyumnya pada Myungsoo. Ia tidak punya alasan lagi.

“ Ah, ne Myungsoo_ya, aku salah jalan” jawab Sooyeon seadanya, memang begitulah keadaannya.

“ Jadi kau yang bernama Kim Myungsoo?” Henry andil bagian.

Myungsoo terdiam, ia menatap dingin guru asing di depannya ini. Dari wajahnya bisa ditebak bahwa guru ini sama dengan Sooyeon. Dia bukan asli orang Korea, jika Sooyeon berdarah campuran, maka guru di depannya ini juga begitu.

“ Ne “ Jawab Myungsoo.

“ Ah…kita harus ke kelas, kita sudah terlambat” Sooyeon meraih lengan Myungsoo saat itu juga. ‘Ia menarik Myungsoo untuk segera menjauh dari Henry, sedangkan Henry lagi-lagi dibuat terkekeh olehnya. Sangat terlihat Sooyeon berusaha menutupi dirinya dari Myungsoo.

Myungsoo-pun tersenyum simpul dibalik wajah dinginnya. Ia tahu Sooyeon memang menghindari guru itu. Dia juga menyembunyikan hal lain yang tidak bisa ia katakan pada Myungsoo.

Bahkan ia tidak tahu jika Myungsoo memang sudah ada tak jauh dari mereka selama mereka mengobrol. Myungsoo bisa mendengar samar apa yang mereka bicarakan. Tentang Amerika dan kembalinya Sooyeon ke negaranya itu. Ia tahu jika Henry adalah pria dari tempat yang sama dengan Sooyeon. Pria yang mempunyai hubungan yang lebih dengan Sooyeon sebelumnya.

Ia hanya mengikuti rencana Sooyeon dengan tidak bertanya lebih, tidak mencari tahu lebih dan menunjukkan rasa ketidak tertarikannya. Walaupun sebenarnya kali ini tingkat kekhawatirannya sedang meningkat. Tingkat kekhawatirannya meningkat ketika Sooyeon berdekatan dengan pria ini. Ia tidak ingin mengatakan apapun tentang rasa aneh yang melandanya ini, namun ia memang terganggu. Benar-benar terganggu. Dengan seperti ini ia bisa merasakan seberapa banyak Sooyeon menyembunyikan banyak hal padanya.

Ia penasaran, memang ia penasaran. Jika ia berani mengaku, ia memang selalu penasaran pada Sooyeon bahkan dari pertama ia bertemu gadis itu. Meskipun ia bisa membaca apa saja yang bisa dan biasa ia lakukan, namun masih banyak hal tak terduga yang belum ditunjukkan gadis itu.

“ Kau bersikap aneh”  Ucap Myungsoo lirih.

Park Chanyeol yang berada di sebelahnya spontan meletakkan sendoknya, ia tidak jadi melahap makanan yang sudah siap di sendoknya ketika mendengar kalimat  itu. Selanjutnya ia melihat kearah Sooyeon yang hanya mengaduk-aduk makanannya.

Ini aneh, memang ini aneh. Gumamnya.

“ Woahh….kalian benar-benar_” Chanyeol antusias dan melebarkan matanya, detik berikutnya Sooyeon segera membungkamnya dengan menyuapkan sesendok makanan kedalam mulutnya.

“ Diamlah, habiskan makananmu”

Myungsoo terkekeh, bahkan Sooyeon hanya sadar dengan kalimat yang diucapkan Chanyeol. Ia tidak menjawab pernyataan yang dikeluarkan Myungsoo sebelumnya.

“ Myungsoo bertanya tentang keadaanmu dan kau malah tidak menjawabnya, ini bertambah aneh, kalian membuatku berfikir bahwa kalian sedang ada masalah serius, apa kalian bertengkar? Kalian Sooyeon berencanan menceraikanmu lagi?” celoteh panjang Chanyeol itu berhasil membuatnya bungkam seketika ketika melihat lirikan tajam dari kedua belah pihak.

“ Baiklah…aku akan mengunci rapat mulut ini, jangan menjadi death glare couple itu bisa menyiksaku” Chanyeol merapikan makanannya dan beranjak dari tempat duduknya. Ia memilih untuk lebih dulu pergi dan membiarkan kedua teman anehnya itu.

“ Mereka lebih baik hanya berdua”

Myungsoo masih memperhatikan Sooyeon, ia berdehem kecil namun itu belum cukup membuat Sooyeon mengalihkan perhatiannya.

Ia melihat pergerakan lambat dari tangan Sooyeon yang beralih pada gelas minumannya. Saat itulah Myungsoo menjauhkan gelas minuman Sooyeon sehingga ia tersadar dan melihat Myungsoo yang meraih gelas minumnya.

“ Wae?” tanya Sooyeon, ia melebarkan matanya dan sukses menunjukkan wajah innocentnya.

Myungsoo terdiam, bahkan ia mengagumi gadis ini yang begitu cepat mengubah ekspresi wajahnya. Dengan seperti ini manamungkin ia tahu apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan gadis ini. Kenapa ia harus menunjukkan wajah innocentnya yang cute? Itu membuat Myungsoo menghela nafas berat.

“ Apa kau sakit? Alergimu kambuh lagi? Cuaca hari ini cukup hangat, apa kau punya alergi lain selain angin dan dingin?”

Sooyeon terkekeh, ia menutup mulutnya dan tertawa. Pertanyaan beruntut ini sangat terlihat bahwa Myungsoo sedang khawatir dan memang tengah memperhatikannya.

“ Waegeurae Husby? Kau sedang menghawatirkanku? Apa kau mulai memperhatikanku? Heum heum heum?” Sooyeon mengedipkan matanya berulangkali, pertanyaan itu malah mendapat reaksi lain dari Sooyeon.

Lontaran kalimat penuh percaya diri dan berbagai ekspresi lucu yang diberikannya membuat Myungsoo bungkam. Ia sempat berfikir bahwa Sooyeon memang tidak akan mengatakan apapun padanya selain menggodanya dengan lontaran kalimat anehnya.

“ Umh…seperti biasa kau selalu dingin” Sooyeon mempout bibirnya, ia meraih gelas minumnya yang dipegang oleh Myungsoo dan meminumnya sampai habis dalam sekali teguk.

“ Kau sudah terbiasa dengan ini Jung Sooyeon”

“ Ne,,, aku terbiasa dengan sikap dingin dan tak acuhmu , aku bahkan tidak mengingat betul kapan kau tertawa padaku, tersenyum tulus padaku, tertawa karenaku dan bersikap lembut padaku, itu semua adalah sifatmu dan aku benar-benar terbiasa oleh itu, bahkan aku juga tidak bosan dengan itu” Sooyeon mengambil nafas dalam. Selanjutnya ia mengatupkan bibirnya, ia segera menunduk setelah melihat ekpresi Myungsoo yang seakan terbatu dengan kalimat panjang yang baru saja dilontarkannya. Itu seperti tekanan bagi Sooyeon.

“ Ah…sepertinya kelas akan dimulai, kkaja Husby…kau mau ke kelas bersama denganku?” Sooyeon berdiri, ia mengayunkan tangannya untuk mengajak Myungsoo ke kelas bersama.

Myungsoo mendengus, ia tahu Sooyeon sedang mengalihkan pembicaraan, ia juga berusaha menutupi rasa canggung yang ia ciptakan setelah mengungkapkan kalimat itu.

Ia melihat tangan Sooyeon yang mulai menjauh karena ia melangkah lebih dulu, ia pun segera berdiri dan dengan cepat meraih tangan Sooyeon.

“ Kkaja” ucapnya tepat setelah menarik tangan Sooyeon dan ia menggenggam tangan itu.

Sooyeon sontak melebarkan matanya dan melihat tangan Myungsoo yang menggenggam manis tangannya. Ia merasakan dadanya kembali abnormal. Ia sempat melemaskan tangannya dan ingin agar tangan itu lepas darinya. Namun Myungsoo kali ini benar-benar serius menggenggam tangannya. Ada apa dengannya?  Itulah pertanyaan yang kini menari di kepalanya.

“ Aha Husby…jangan menggenggam tanganku, tanpa itu  mereka juga tahu kalau kau suamiku” Sooyeon sedikit kikuk dengan sikap aneh Myungsoo kali ini, berulang kali ia menundukkan kepalanya. Jika seperti ini ia menjadi sosok lain dengan sifat pemalunya, sangat berbeda dengan sifatnya yang selalu cerewet dan selalu bersikap bahwa Myungsoo benar-benar kekasihnya di depan hobae-hobae dan teman-temannya.

“ Kelas sebentar lagi dimulai, jika kau salah jalan lagi seperti tadi pagi, kau akan terlambat masuk ke kelas”

Sooyeon terdiam, ia menunduk malu, sebenarnya ia tidak salah jalan, hanya saja ia gugup ketika Myungsoo tiba-tiba ada di belakangnya ketika bertemu Henry.

“ Mian..” ucap Sooyeon lirih dan ia berjalan dibelakang Myungsoo dengan tangan yang masih di genggam olehnya.

Myungsoo tersenyum, ia merutuki dirinya yang bersikap tiba-tiba seperti ini. Ia juga tersenyum karena sifat imut Sooyeon yang selalu menurut padanya. Melihat Sooyeon yang mengalah dan selalu menurut padanya itu baginya salah satu hal yang membuat Sooyeon benar-benar Cute. Apa dia bodoh jika selama ini tidak menyadari betapa cutenya Sooyeon dan betapa lugunya gadis aneh itu? Tidak, dia tidak bodoh. Ia tahu semua hal lucu yang murni dari Sooyeon. Hanya saja ia tidak pernah menunjukkan ketertarikannya. Ia sering menunggu ekpresi apakah yang akan diberikan Sooyeon padanya, celetukan kalimat apa yang akan diberikan Sooyeon padanya. Dan bagaimana saat Sooyeon marah padanya. Ia sering menunggu moment itu, baginya itu adalah hiburan baginya.

Sejak kapan ia  menyadari itu? Hanya dia yang tahu jawabannya.

.

.

Sooyeon melirik dan mengernyit tajam ketika melihat Na Gongchan sudah ada di depan kelasnya ketika jam berakhir. Ia melambaikan tangannya dan tersenyum manis pada Sooyeon, membuat gadis itu memberikan tatapan anehnya.

“ Sedang apa di depan kelasku?”

“ Aku menunggumu noona” ucapnya dengan gaya childish.

Sooyeon memicingkan matanya dan menaruh kecurigaan pada Gongchan, jika anak ini bersikap seperti ini biasanya ada sesuatu yang ia sembunyikan, atau sesuatu yang ia rencanakan.

“ Katakan apa yang kau sembunyikan” selidik Sooyeon.

Gongchan terkekeh, sepertinya Sooyeon memang benar-benar hafal dengan gerak-geriknya. Ia mengedarkan pandangannya dan beralih pada Myungsoo yang baru saja keluar dari kelas.

“ Kim Myungsoo” sapanya

“ Ish…dia tidak memanggilnya dengan Hyung?” gerutunya.

Gongchan mengabaikan Sooyeon, ia berjalan mendekati Myungsoo.

“ Sebenarnya yang ingin kutemui adalah Myungsoo bukan kau noona, mian” goda Gongchan dan sukses mendapat hadiah pukulan dari Sooyeon.

Namun selanjutnya Sooyeon sadar siapa Gongchan, ia mungkin mendatangi Myungsoo dan ada hubungannya dengan kedatangan Haeryeong. Ia hampir lupa bahwa gadis itu sudah kembali. Perlahan ia melangkah mundur dan menjauh dari kedua pria itu. Perlahan ia berbalik karena ia tidak ingin mendengar dengan apa perlu Gongchan pada Myungsoo.

“ Noona, apa kau marah? “ teriak Gongchan namun tidak mendapat tanggapan dari Sooyeon, gadis itu terus melangkah pergi.

Gongchan tahu hal yang membuat gadis itu pergi, ia terkekeh lalu kembali menatap Myungsoo. Sooyeon memang benar, ia memang menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan Na Haeryeong kakaknya.

Myungsoo diam menatap kepergian Sooyeon. Ia mendengus pelan.

kau selalu seperti ini Jung Sooyeon” gumamnya.

“aku tidak ingin berkata banyak padamu karena aku harus menyusul noona barbie ku itu. Dia, noonaku kembali dan ingin bertemu padamu, hanya itu, aku tidak perlu mengatakan dimana tempatnya” Gongchan tersenyum simpul, ia telah selesai mengatakan pesan yang disampaikan Haeryeong untuk Myungsoo.

Myungsoo terdiam, ia tidak mengiyakan atau menanggapi informasi yang diberikan Gongchan padanya. Ia melirik singkat hobaenya yang mulai menjauh itu.

“ Pastikan dia sampai di rumahnya sebelum gelap, akhir-akhir ini cuaca mengalami perubahan drastis” ucapnya sebelum Gongchan benar-benar menjauh.

Gongchan terkekeh, seperti biasa, Myungsoo memang tidak pernah ingin terlihat bahwa ia menaruh perhatian pada Sooyeon.

“ Aku akan meminjamkan jaketku padanya” balas Gongchan dan ia berlari kecil, menyusul noona barbienya yang mungkin sudah jauh di depan. Sooyeon memang cepat menghilang.

.

.

Gadis itu tersenyum manis, benar-benar manis. Ia terlihat antusias dan menunggu sampai sosok yang sedang berjalan kearahnya benar-benar ada di depannya.

“  Kau datang, gomawo” ucapnya lembut.

Myungsoo tersenyum pada gadis itu.

“  Kau kembali lebih cepat dari yang kukira”

“ Wae? Kau tidak suka?”

Myungsoo tersenyum. Ia duduk di sebelah Haeryeong dan meletakkan tasnya.

“ Kau tidak akan perduli, kau selalu berbuat semaumu”

Haeryeong terdiam, kalimat itu seperti menusuk hatinya walaupun Myungsoo mengatakannya dengan senyum di wajahnya.

Dia memang melakukan apa yang menjadi keinginannya, termasuk pergi dan kembali ke Seoul. Ia bukan orang  lain yang baru mengenalnya. Ia tau Myungsoo sejak mereka kecil. Ia juga tahu apa yang membuat namja ini sedih dan lebih dingin dari dia yang dulu. Ia pergi tepat disaat namja ini menjadi yatim piatu. Ia bukan seseorang yang tidak mempunyai kekhawatiran bagaimana sikap Myungsoo padanya. Namun melihat Myungsoo yang selalu datang padanya seperti ini membuatnya yakin bahwa namja ini memang masih memiliki perasaan spesial padanya, namja ini masih mencintainya . Entah masih sama seperti 3 tahun lalu ataupun berkurang, tapi melihatnya yang masih datang dan memberinya senyum hangat itu , membuat Haeryeong benar-benar yakin dengan perasaannya.

“ Kau selalu perduli dengaku bukan? Kau tetap datang padaku”

Myungsoo terkekeh, ia tidak menjawab pertanyaan itu. Ia tidak mungkin begitu saja mengabaikan gadis ini dengan tidak datang padanya disaat ia meminta.

“ Aku ingin membuat pesta kecil karena aku suda kembali lagi ke Seoul”

“ Kau selalu melakukan itu, selanjutnya kau akan pergi lagi”

Haeryeong tersenyum, ia menggeser duduknya dan lebih dekat pada Myungsoo. Dengan lembut ia mengatupkan kedua tangannya pada wajah Myungsoo.

“ Kau akan tahu besok, aku ingin mengundangmu makan malam di rumah , bersama Sooyeon juga” Myungsoo hanya diam , membuat Haeryeong bertanya-tanya dengan ekspresi itu, biasanya Myungsoo tidak berfikir panjang dan akan mengangguk sebagai jawaban iya.

“ Ada apa dengan ekspresi ini?” tanya Haeryeong, ia mengerucutkan bibirnya dan menarik pipi Myungsoo agar namja itu tersenyum dan menjawab ajakannya.

“ Kau takut dengan Appa dan Eommaku? Sejak kapan kau jadi_”

“ Mereka tidak ada hubungannya dengan kita yang tidak menjadi kekasih dari dulu, mereka bukan alasan kenapa kita tidak bisa menjadi kekasih bukan? Untuk apa aku takut?”

Haeryeong terdiam, ia terbatu seketika dengan kalimat dingin dan tak terduga itu. Myungsoo tidak pernah mengatakan itu. Dan bagaimana dia bisa berfikir seperti itu?

Haeryeong melebarkan matanya dan masih terdiam, Myungsoo sedang menatapnya dengan tatapan dingin. Apa yang dikatakan Myungsoo memang benar. Meskipun kedua orang tuanya tidak bersikap baik pada Myungsoo namun mereka bukan alasan kenapa sampai saat ini Myungsoo tidak bisa menjadi kekasihnya dan mereka juga bukan alasan kenapa Haryeong memilih untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Jika orang lain mungkin akan berfikir seperti itu. Namun Haeryeong tidak menyangka Myungsoo tahu akan hal ini.

” Myungsoo_ya, ada apa denganmu?”

“ Any_ pulanglah, kau bersama sopir bukan? Ini semakin larut dan cuaca akan berubah dingin. Tidak baik untukmu berada lama di luar rumah” Myungsoo mengacak singkat rambut Haeryeong dan beranjak pergi.

Haeryeong terdiam dan hanya menatap punggung Myungsoo yang semakin menjauh. Entah kenapa ia merasa bahwa tubuhnya sedang tersengat listrik dan lemas. Mendengar pernyataan Myungsoo seperti sebuah tuntutan atas semua yang ia lakukan selama ini.

Bahkan ia tidak pernah mengatakan bahwa mengejar pendidikan di Luar Negeri adalah impiannya, orang tuanya juga tidak pernah mengucapkan secara langsung ketidak setujuannya jika ia menjalin hubungan dengan Myungsoo. Saat itu ia merasa ia masih sangat muda meskipun ia sadar ia memiliki perasaan yang besar pada Myungsoo. Dia lah yang tidak ingin terikat lebih oleh namja yang ia cintai itu. Bertahun-tahun ia tahu bagaimana Myungsoo bisa terlihat setia dan selalu datang padanya. Ia selalu bersikap hangat padanya dan membuatnya benar-benar yakin dengan perasaan namja itu padanya. Ia yakin dialah yang hanya dicintai namja itu dan ia mampu menunggunya.

Namun kali ini ia memiliki ketakutan. Ketakutan itu tiba-tiba datang karena Myungsoo tahu alasannya. Ia mungkin sudah dengan tidak sengaja membuat kebohongan dengan seolah-olah orang tuanya tidak menyukai hubungannya dengan Myungsoo. Dia salah besar karena sudah melakukan itu.

Akankah perasaan itu masih sama? Dan kali ini disaat ia sudah siap dan yakin untuk menjadi kekasih Myungsoo , akankah perasaan namja itu masih sama padanya? Tiba-tiba saja ia ragu untuk itu.

“ Bukan kah dia berjanji untuk menjaga perasaannya? Bukankah dia berjanji untuk selalu disampingku?” gumamnya.  Ia menutup wajahnya dengan tangan mungilnya.

Oh tidak…

*

*

*

Sooyeon terus memicingkan matanya pada Gongchan, ia berulang kali melirik tajam dan mendesis karena hobaenya it uterus berada di sekitarnya.

“ Kka!” ucapnya ketus.

Gongchan tersenyum, ia melihan Sooyeon lalu mencubit pipinya.

“ Hya! Appo        !” Sooyeon memukul lengan Gongchan.

“ Ssss…pukulanmu juga sakit noona” gerutu Gongchan, ia meniup kecil lengan bekas pukulan Sooyeon.

“ Sedang apa kau di sini? Kau menguntitku?”

“ Bukankah itu pekerjaanmu ?”

“ Aku tidak pernah menguntit !” bela Sooyeon dengan nada tinggi.

Gongchan terkekeh, lalu ia menunjuk bus yang berhenti di halte.

Sooyeon hanya melihatnya sekilas tanpa berminat untuk beranjak ataupun naik ke dalam bus itu.

“ Kau sudah melewati 2 busmu, kau tidak ingin pulang noona? Apa karena aku menemanimu di sini? Kau ingin lebih lama denganku? Tenang saja… aku akan mengantarmu sampai rumahmu” Goda Gongchan.

Sooyeon melengos, ia hampir memuntahkan isi perutnya mendengar kalimat penuh kepercayaan diri dari Gongchan.

“ Pulanglah…aku ingin pulang lebih larut agar aku bisa langsung tidur” Sooyeon menunduk, ia memang merasa malas untuk cepat sampai di rumahnya.

“ Neon, Gwenchana?” Gongchan menatapnya dalam.

Sooyeon tersenyum simpul, lalu menoleh kea rah Gongchan dan memicingkan matanya. Selanjutnya ia merasa tatapan itu aneh baginya. Kenapa ia melihat mata yang sendang mengasihaninya? Apa dia terlihat buruk dan kasihan?

“ Wae?”

Gongchan mendengus pelan, Sooyeon selalu memberikan ekspresi wajah innocentnya. Dia sangat menjengkelkan, padalah ia ingin menciptakan suasanya serius kali ini.

“ Berhentilah terlihat bahwa kau baik-baik saja noona, arayooo” ucapnya jengkel.

“ Bbusunsireyo?”

“ Aku tahu kau merasa buruk ketika Haeryeong noona kembali ke Seoul, itulah kenapa aku bertanya apa kau baik-baik saja?”

Sooyeon terkekeh, Ia tahu jika ia sedang diintrogasi oleh Gongchan, hobaenya satu ini memang selalu tertarik dengan kehidupannya dan Myungsoo. Dialah yang selama ini menjembatani antara Haryeong dan Myungsoo. Dan dia sebagai pihak lain yang bisa dibilang pihak ketiga, dia juga selalu tidak luput dari keikutcampurannya.

“ Gwenchana…lagi pula apa yang bisa kulakukan, Suamiku itu bertemu dengan seseorang yang ia kenal lebih dulu dari aku, aku tahu yang sebenarnya” Sooyeon tersenyum dan menepuk pundak Gongchan pelan, ia berusaha agar Gongchan tidak lebih dalam ingin tahu bagaimana keadaannya dan perasaannya saat ini.

“ Kau tidak tahu yang sebenarnya” Gongchan tersenyum lebar, matanya menyipit namun ia hanya mendapat tatapan dingin dari Sooyeon.

“ Kenapa kau tidak pulang lebih dulu saja heuh? Lagi pula kau membawa motor”

“ Hemhh…aku hanya memastikan bahwa kau pulang ke rumahmu dengna selamat, namun kau malah melewatkan 2 busmu, membuatku harus menunggu lebih lama”

Sooyeon terkekeh pelan, ia memicingkan matanya pada Gongchan.

“ Bicaralah… jika kau sedang tidak baik-baik saja…lagi pula kita adalah teman, kau tidak menganggapku teman noona?”

“ Yang ku tahu kau adalah Hobae yang menyebalkan”

“ Baiklah…kalau begitu biarkan aku yang mengantarmu pulang”

“ Aku ingin lebih lama di tempat ini, aku akan menunggu bus selanjutnya, pulanglah!”

Gongchan tersenyum. Sebenarnya walaupun bukan Myungsoo yang memintanya untuk memastikan keadaan Sooyeon dia juga akan menemaninya sampai dia pulang ke rumahnya.

“ Baiklah…sebagai Hobae yang baik, aku juga akan menunggumu dan memastikan kau masuk ke dalam rumahmu dengan selamat”

Sooyeon menoleh dan menatapnya tajam.

“ Kau_ sedang menyembunyikan sesuatu?” selidik Sooyeon, ia sudah menaruh kecurigaan pada Gongchan sejak pulang sekolah tadi. Dan ditambah saat ini Gongchan yang memaksa untuk tetap menemaninya.

“ Ara_ara….dia yang memintaku, dia memintaku untuk memastikanmu pulang dan sampai di rumahmu dengan selamat”

DEG

Sooyeon terdiam, ia menelan salifanya lalu berdehem kecil. Selanjutnya ia juga tidak berkomentar apapun, itu artinya dia setuju jika Gongchan menemaninya sampai ia mendapat bus selanjutnya. Gongchan terkekeh, Myungsoo memang bisa menjadi senjata hebat baginya, mendengar nama Myungsoo dan tahu bahwa dia yang meminta Gongchan untuk menemaninya, seketika membuat Sooyeon berhenti memintanya untuk pergi.

5 menit berlalu dan hanya mereka habiskan dengan saling berdiam diri, butuh waktu 20 menit lagi dan ia bisa mendapat busnya.

Tin tin…

Mata Sooyeon menerawang sebuah mobil yang berhenti di depan halte, begitupun Gongchan.

“ Henry Songsaengnim?” gumam Gongchan.

“ MWO?” mata SOoyeon membulat seketika, dan benar kata Gongchan, pria itu turun dari mobilnya dan sedang berjalan ke arahnya.

“ Dia mengenalmu noona?”

“Come on!” kini Henry sudah meraih tangan Sooyeon dan menariknya, membuat gadis itu seketika berdiri.

“ Wae? Kau_”

“ Kita pulang”

“ tapi_”

Henry menatap tajam Sooyeon lalu ia menunduk dan melihat kea rah Gongchan.

“ Jangan katakana apapun pada suamiku, katakan saja aku sampai di rumah tepat waktu, pulanglah” pinta Sooyeon.

Gongchan tersenyum lalu membungkukkan separuh badannya pada Henry.

“ terima kasih sudah menjaganya” ucap Henry.

Sooyeon tersenyum singkat lalu mengikuti Henry masuk ke dalam mobilnya.

 

“ Heohh…akan ada cinta segitiga, ah..akan ada cinta bersegi tidak beraturan “ gumam Gongchan.

*

*

Myungsoo sudah sampai lebih dulu di rumahnya, namun ia melihat rumah Sooyeon yang masih sepi. Apa mungkin dia belum sampai di rumah?

Ia berdiri cukup lama di depan rumah itu, lalu merogoh ponsel di dalam sakunya. Ia sedikit ragu untuk menghubungi Sooyeon, namun pada akhirnya ia menekan salah satu nomor di ponselnya.

//” yoboseo? Ah kalau kau menanyakan apakah kakakku sudah sampai di rumah, aku tidak bisa menjawabnya, aku sedang ada di jalan”// ucap di seberang sana.

“Any…aku menanyakan yang lain” ucapnya dingin.

//” noona barbie ku?”//

“ eoh”

//“ Dia sudah pulang”//

“ Kau tidak menemaninya sampai_”

//” Dia pulang bersama Henry Songsaengnim, sepertinya dia menyukai noona barbieku, lagi pula Sooyeon sendiri yang memintaku pulang dan dia bersama Herny” // jelas Gongchan.

//” Aku sedang mengendarai, tunggu saja dia”//

Tut…tut…tut…

Myungsoo menunduk, selanjutnya dia melihat kea rah pintu rumah Sooyeon. Entah kenapa ia menjadi khawatir dan ingin menunggu Sooyeon sampai ia melihatnya masuk ke dalam rumahnya. Sooyeon tidak pernah pergi bersama pria lain selain Chanyeol ataupun Gongchan. Dia adalah gadis yang paling tidak bisa di dekati oleh namja lain selain Myungsoo dan kedua pria itu. Kali ini saat ia tahu gadis itu begitu akrab dengan namja lain, membuat ia merasa seperti ada petasan di dalam dadanya.

Sesekali meledak dan terasa perih saat rasa khawatir dan penasarannya meningkat. Saat ia merasa perhatian Sooyeon berkurang padanya. Walaupun Sooyeon bersikap biasa, namun akan tetap terasa saat perhatian itu berkurang.

Ia juga ingin tahu, apalagi yang akan dilakukan Sooyeon ketika tahu Haeryeong kembali ke Seoul. Saat ada Haeryeong sebenarnya yang paling membuatnya khawatir adalah Sooyeon.

Dia ingin tahu apakah ada perasaan sakit atau cemburu pada gadis itu?

Namun selama ini ia tidak pernah mendapatkannya. Sooyeon selalu berhasil menutupi semuanya.

Cukup lama ia berdiri di depan rumah itu, ia memutuskan untuk masuk lebih dulu ke dalam rumah. Mungkin akan lama menunggunya, ia harus membersihkan tubuhnya lalu ikut menyiapkan makan malam dengan Ahn Ahjumma.

.

.

Sooyeon turun dari mobil Henry, segera ia meminta Henry untuk pergi dari halaman rumahnya sebelum Myungsoo melihatnya.

Namun seperti berbicara dengan batu, Henry sangat suka menggodanya. Ia malah turun dari mobil dan menarik Sooyeon sampai tepat di depan pintu rumahnya.

“Henry”

“ kau ini, kadang memanggilku oppa, kadang hanya namaku saja” gerutunya.

“ Mian_mian, kau harus pulang, kau sudah membiarkan Gongchan tahu seperti apa kita, apa itu tidak apa-apa? Dia adalah murid yang kau ajar”

“ It’s Okey…dia sepertinya mengerti, lagi pula jika ia tahu yang sebenarnya tentang kita, bukan masalah bukan?”

Sooyeon melengos, ia benci saat Henry mampu membuatnya terdiam  dan kalah bicara.

“ Gomawo … semoga kau cepat menyelesaikan urusanmu di Seoul dan segera kembali ke Amerika”

“ bersamamu?”

Sooyeon terdiam, ia berdehem kecil lalu membungkukkan badannya.

“ Selama_”

“ Kau belum menjawab, apa kau akan pulang ke Amerika? Kalau begitu aku pasti akan menunggumu, dan kita bisa pulang bersama” Henry menahannya.

“ Oppa, aku akan kembali saat aku benar-benar menyerah, dan sepertinya aku akan menyerah, hanya saja jangan terlalu berharap untuk saat ini”

Henry tersenyum, ia ingin meyakinkan Sooyeon bahwa ia memang harus kembali ke Amerika, namun ia mengerti apa yang dirasakan gadis itu saat ini,  ia mengacak rambut Sooyeon lalu mencium keningnya singkat. Ia melambaikan tangannya lalu segera masuk ke dalam mobil.

“ Cepatlah makan, kau menolak makan apapun saat bersamaku” teriak Henry di dalam mobil.  Ia pun segera melajukan mobilnya dan melesat pergi dari halaman rumahnya.

.

.

Myungsoo memang sengaja menunggu Sooyeon di dalam rumah gadis itu, setelah ia membersihkan diri dan menyiapkan makan malam Sooyeon masih belum juga sampai, itulah sebabnya ia memutuskan untuk membawa makanan dan menunggu di rumah Sooyeon. Ia tidak tahu apakah gadis itu akan memakan makanannya itu, namun ia tahu Sooyeon tidak akan menyia-nyiakan masakan Ahn Ahjumma meskipun perutnya sudah penuh. Ia pasti akan memakannya, itulah kenapa ia yakin untuk membawa sepanci ddeokbokki masakan Ahn Ahjumma ke rumahnya.

Tidak butuh waktu lama sampai ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumah Sooyeon ini. Ia ingin tidak tertarik untuk bangkit dan mendekati pintu rumah gadis ini, namun syarafnya berkata lain. Tanpa ia sadari ia berdiri dan beranjak untuk membukakan pintu untuk Sooyeon.

Namun sialnya tangannya tertahan untuk membukan pintu itu, ia melirik ke jendela berselambu itu. Ia memilih untuk melihat apakah Henry akan segera pergi.

“ Oppa, aku akan kembali saat aku benar-benar menyerah, dan sepertinya aku akan menyerah, hanya saja jangan terlalu berharap untuk saat ini”

Myungsoo menunduk ketika mendengar kalimat itu. Apa yang membuat Sooyeon akan menyerah? Itulah yang ada di otaknya. Selanjutnya ia mengepal tangannya kuat, ia merasakan kepalan tangannya itu sama kuatnya dengan hatinya yang seperti di remas ketika melihat kening Sooyeon di kecup oleh Henry.

Terlepas dari bagaimana hubungan Sooyeon dan Henry yang sebenrnya, namun saat ini Sooyeon berhasil lebih menyiksanya. Ia merasakan dadanya sesak dan nyeri. Apa dia sedang cemburu?

Lalu kenapa ia seperti ini? Kenpa ia seperti ini?

CKLEK

Sooyeon membuka pintu rumahnya yang entah sejak kapan tidak terkunci. Ia tidak terlalu memperdulikan itu, mungkin ia yang lupa mengunci pintu rumahnya saat berangkat sekolah tadi.

Ia melangkah begitu saja tanpa mempehatikan sekitarnya. Ia tidak tahu jika Myungsoo tengah berdiri di dekat jendela dan hanya diam melihat Sooyeon melangkah ke dalam .

Sooyeon mencium bau makanan yang masih hangat, dan benar…ia tersenyum riang melihat makanan itu terdapat di meja ruangannya.

“Apa Ahn Ahjumma yang meletakkannya untukku? Dia tahu aku belum makan apapun…ouhhhh” Sooyeon bertepuk tangan dan segera membukan ddeokbokki kesukaannya.

“ Kau tidak ingin membersihkan tubuhmu lebih dulu? Kau jorok sekali “

Sooyeon membulatkan matanya sempurna, spontan ia menoleh ke sumber suara itu yang pasti ia mengenal suara itu.

“ Husby?!!” teriaknya kaget.

Myungsoo menatapnya datar.

“ Wae?”

Sooyeon mengedipkan matanya berulang kali, ia tengah mencoba untuk kembali melihat apakah sosok di depannya ini hanya fatamorgana karena dia tengah dirundung rasa resah.

“ Kau mengira aku ini tidak nyata?” tanya Myungsoo dan sukses membuat Sooyeon berbalik dan menunduk.

Apa yang ada di otaknya terbaca oleh Myungsoo.

“ Kau yang membawa makanan ini Husby?”

“ eum” Jawab Myungsoo mengangguk .

“ Mandilah, aku akan menunggumu disini, kita makan berrsama” perintah Myungsoo.

Sooyeon mengangguk pelan, selanjutnya ia segera meluncur ke kamarnya dan membersihkan diri seperti yang diperintahkan Myungsoo.

.

.

Entah apa yang ia rasakan kali ini. Melihat Myungsoo yang kini tengah makan malam bersamanya membuat hatinya benar-benar tenang dan ia tidak berhenti tersenyum . Meskipun ia sudah sering makan bersama seperti ini. Namun kali ini Myungsoo lah yang datang dan sengaja menunggunya.

Selanjutnya ia berfikir apa yang sedang terjadi pada namja ini. Kenapa ia bersikap aneh seperti ini, atau memang seperti inilah Myungsoo. Semua tindakannya tidak pernah terfikir oleh Sooyeon.

“ Haeryeong mengundangmu untuk makan malam di rumahnya”

Sooyeon meletkkan sendoknya lalu menatap Myungsoo.

“ Kapan?”

“ Besok”

“ Wae?”

“ Entahlah…kita datang berrsama” ajaknya.

“ Kenapa tiba-tiba?”

“ Diamlah…yang terpenting kau jangan ke mana-mana tanpaku”

Sooyeon terdiam, apa yang dikatakan Myungsoo baru saja? Ia masih mencernanya.

“ Jangan mempunyai janji lain , atau pergi bersama guru itu lagi , kita sudah punya janji” jelas Myungsoo.

Sooyeon mengangguk lalu membentuk huruf O dengan bibirnya.

Myungsoo meletakkan sendoknya , disusul Sooyeon. Mereka sudah kenyang dengan ddeokbokki buatan Ahn Ahjumma itu. Makanan itu adalah favorit mereka jika itu adalah masakan Ahn Ahjumma.

“ Uwa….hhhhh kenyang” Sooyeon berteriak kecil.

“ Bereskan ini untukku, kau harus mengembalikannya ke dapur Ahn Ahjumma sekarang” ucap Myungsoo.

Sooyeon mengernyit. Dia berdecak pinggang.

“ Hya Husby..bisakah kau bersikap menjadi suami yang baik?” Protes Sooyeon.

“ Kau sudah makan kenyang dan itu tugasmu, mengembalikan panci ini” Myungsoo melangkah begitu saja dan meninggalkan Sooyeon.

Sooyeon bersumpah jika penyakit Myungsoo benar-benar suda mendarah daging, baru saja ia bersikap lembut tanpa ia duga, tapi kenapa selanjutnya dia menjadi menyebalkan seperti ini.

“ Bisakah aku kembalikan besok saja? Aku lelah”

“ Shireo! Bukankah kau suka keluar masuk rumahku begitu saja? Jadi kembalikan itu dan bersihkan saat ini juga” balas Myungsoo yang kini sudah berdiri di luar rumah Sooyeon.

Sooyeon mendesis, ia membereskan panci dan cangkir minuman yang juga dibawakan Myungsoo dari rumahnya.

Lain kali ia bersumpah tidak akan mudah percaya dengan sikap lembut Myungsoo meskipun ia sering sekali tertipu.

.

.

Myungsoo terus menyembunyikan senyumnya, ia memperhatikan bagaimana wajah Sooyeon yang tengah cemberut, ia mengerucutkan bibirnya dan entah kenapa malah membuatnya benar-benar lucu dan imut. Kali ini Sooyeon terjebak untuk mencuci semua piring kotor yang ada di dapur Myungsoo.

“ Dia pergi dan memasakkannya untukmu, jadi kau harus berterima kasih padanya” hibur Myungsoo.

“ Kau selalu menyebalkan Husby” gerutunya.

Myungsoo terkekeh, selanjutnya ia mendekati Sooyeon dan berdiri di belakangnya. Memandangi punggung kecil gadis ini yang tengah mencuci piring.

Ia teringat dengan percakapannya bersama Henry sebelumnya. Tentang dia yang berencana kembali ke Amerika saat ia benar-benar menyerah. Entah kenapa itu adalah hal yang paling tidak ia inginkan. Bukankah dia juga pernah melakukan ini? Meminta untuk tetap disisinya.

Namun ia sadar ia juga tidak ingin gadis ini merasa lebih terbebani ketika ia kembali mengatakan hal itu. Ia tidak ingin gadis ini pergi. Itulah yang sedang ia rasakan. Meskipun Sooyeon tidak pernah mengatakn apapun namun ia tidak menampik hatinya sedang risau akan hal itu.

“ Apa kau akan kembali?” tanya Myungsoo.

Sooyeon sontak menghentikan kegiatannya, ia tidak menoleh dan juga tidak menjawabnya ia memilih untuk berpura-pura tidak mendengarkannya dan kembali mencuci piring kotor.

“ Kau sedang menyembunyikan sesuatu Jung Sooyeon?” tanya Myungsoo lagi.

Sooyeon masi berusaha untuk tidak bersuara dan mengabaikannya. Ia memang tidak ingin membahasnya, sedangkan ia juga tidak tahu harus mengalihkan pembicaraan ini.

Myungsoo menghela nafas dalam, ia menatap tajam ke arah Sooyeon. Ia benar-benar benci jika Sooyeon tidak  menjawab apapun dari pertanyaannya.

Selanjutnya ia menarik tangan Sooyeon yang spontan melepaskan piring cuciannya. Myungsoo membuatnya berbalik dan kini ia tengah beradapan dengan Myungsoo dan di sambut dengan tatapan tajamnya.

“ Husby? Apa kau marah?” tanya Sooyeon ketakutan.

Myungsoo menarik lengan Sooyeon sehingga ia kini lebih dekat dan hampir tertabrak tubuh Myungsoo.

Kali ini Myungsoo tidak bisa menghentikan lagi cara kerja syarafnya yang berjalan semaunya. Namun ia sadar apa yang akan ia lakukan.

Perlahan ia mensejajarkan kepalanya dengan Sooyeon, gadis itu yang mungkin sedang ketakutan hanya memejamkan matanya.

CHU

Sooyeon membuka matanya lebar, bagaimana mungkin saat ini bibir Myungsoo tengah menempel di bibirnya? Bahkan ia merasakan nafas kecil dari Myungsoo.

Lengannya kini suda terlepas dari genggaman Myungsoo namun dengan cepat tangan Myungsoo melingkar pada pinggangnya membuatnya harus sedikit menjinjit. Sedangkan pelukan Myungsoo semakin erat dan ciumannya semakin dalam. Sooyeon tidak tahu harus berbuat apa. Ini adalah ciuman pertamanya yang tidak pernah terfikir olehnya bahwa Myungsoo yang melakukannya.

Sooyeon memejamkan matanya, ia kini tengah melayang dan merasa bahwa tubuhnya benar-benar ringan, ia pasra dengan apa yang dilakukan Myungsoo pada bibirnya.

Perlahan ia merasakan bahwa ia sudah bisa bernafas bebas setelah Myungsoo melepaskan ciumannya. Ia membuka matanya perlahan, ia ingin segera pergi dan lari , sebenarnya ia tidak ingin melihat waja Myungsoo saat ini, namun bagaimana mungkin jika Myungsoo belum melepaskan tangannya di pinggangnya.

Ia benar-benar membuka matanya dan melihat dengan jelas wajah Myungsoo di depannya, sangat dekat di depannya. Ia kembali memejamkan matanya setelah merasakan Myungsoo kembali bergerak namun kali ini ia mencium keningnya, sama seperti yang dilakukan Henry sebelumnya.

“ Ini hukuman karena kau hanya diam dan tidak menjawab pertanyaanku” Myungsoo melepaskan pelukannya.

Selanjutnya ia melangkah pergi dan membiarkan Sooyeon terbatu di tempatnya. Myungsoo hanya diam dan masuk ke dalam kamarnya dan Sooyeon pun hanya terbatu di tempatnya.

Ia tidak tahu harus mengatakan apa, harus menanggapi apa dan harus berkomentar apa. Yan ada di kepalanya saat ini hanyalah,,, semoga ia hanya bermimpi dan segera bangun dari tidurnya.

Ia benar-benar bingung dengan sikap Myungsoo padanya. Benar-benar bingung.

Tbc…

63 thoughts on “Just Stay Beside Me|| Five

  1. wahh critanya mnarik..

    myungsoo trlalu srakah kduanya d sukai ksian kan sooyeon yg jdi korban prasaan

    lbih baik sooyeon prgi aja biar myungso sadar tlah menyia”kan org yg bnar” tulus. hhee

    kpan nih chapter 6 nya d post ^_^

  2. Yaampun bener kan yang aku kira, myungsoo dah cinta ma sica. itu buktinya dah berani nyium -nyium sica..ih aku jdi ikut jatuh cinta deh sama myungsoo #plakk
    berhubung udah ada lanjutannya. aku ijin baca lagi ya thor..keke🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s