Unfortunately

po-drmjs po-drmbh

Unfortunately
sequel of Midnight Poetess
by Park Soojin

Jessica Jung—Byun Baekhyun

@@@

 

Masih setengah sadar. Aku agak bingung. Mana sih duniaku yang nyata? Keduanya terasa sungguhan. Oh, ralat. Maksudku, yang satu memang dunia sungguhan, tapi yang kedua ini seperti sungguhan.

Bingung dengan apa yang kubicarakan? Aku juga.

Biar kujelaskan. Beberapa minggu ini, aku bermimpi yang sama. Mimpi yang terasa nyata. Aku merasakan diriku sendiri tengah berada di sebuah jalan yang disana dapat kulihat rumah sederhana yang hampir selalu terlihat sepi setiap aku kesana. Tentu saja sepi. Setiap aku ‘disana’, selalu saat tengah malam. Padahal aku yakin dan sangat menyadari bahwa aku sedang tidur di saat itu.

Disana, aku selalu memakai gaun yang sama, gaun kuning sebawah lutut yang kainnya akan sedikit berkibar jika terkena angin. Padahal aku tidak mempunyai gaun seperti itu. Aku juga selalu membacakan syair yang sama, di setiap barisnya tersirat rasa rindu yang amat sangat. Dan aku tau dari ratusan syair yang ku buat, aku tidak mengenal syair itu. Dari rumah itupun selalu muncul lelaki yang sama—agak tampan dan agak cantik. Lagi-lagi, aku tidak mengenalnya!

Kucoba menetralisir rasa jengkel itu. Aku turun dari ranjangku dan segera menuju kamar mandi. Tidak biasanya aku setangkas ini.

 

@@@

 

“Sic!” teriak orang di belakangku. Aku hafal suaranya. Tentu saja, dia sudah dua tahun bersamaku di ekstrakurikuler jurnalistik.

Aku menoleh ke belakang, “Apa, Sun?”

Sunkyu, temanku, berlari mendekat. Setalahnya menepuk pundakku pelan.

“Kata Joonmyun sunbae, kau yang bertugas sebagai pemimpin wawancara kali ini. Kau dan tim bertugas mewawancarai Byun Baekhyun sunbae.”

Aku mengangkat sebelah alisku. Byun Baekhyun? Aku tidak ingat pernah memiliki senior bernama Baekhyun. Oh, mungkin dia tidak populer. Tapi, untuk apa mewawancarai orang yang tidak populer?

“Uh, okay.. lalu, siapa timku?” tanyaku berusaha mengalihkan pikiran dari Byun Baekham atau siapalah itu.

“Kim Yoojung, dan untuk cadangan juga ada Park Sooyoung.”

“Dua-duanya hoobae ya?”

“Ne. Memangnya kenapa, Sic?”

Aku meniup poniku. “Yaa, kau tau sendiri. Hoobae itu selalu excited jika berurusan dengan Sunbae, apalagi kedengarannya Byun Baekyul itu cukup terkenal. Mereka pasti malah memandangnya sambil berbunga-bunga dan menanyakan hal yang out of topic.”

“Haha, tenang saja Sic. Mereka berdua tidak jauh beda denganmu, tidak terlalu excited. Dan kuingatkan, nama target kita adalah Byun Baekhyun.” Jelas Sunkyu, setelahnya dia pamit kepadaku dan pulang mendahuluiku.

Aku melanjutkan berjalan. Di sebelah jalan menuju gerbang adalah lapangan olahraga. Setiap pulang sekolah, melihat para siswa bermain bola tangan itu merupakan hal yang biasa. Dan jika sedang hujan, biasanya aku berteduh di tribun sebelah barat lapangan sambil menonton permainan bola tangan. Karena disitu rindang, aku tidak akan basah kuyup.

Tes… tes…

Ya Tuhan, baru saja kupikirkan dan sekarang sudah akan hujan. Aku mengurungkan niat untuk ke gerbang dan segera berbelok ke arah lapangan.

Aku duduk di tembok berundak itu. Sebenarnya aku tidak ada ketertarikan sama sekali akan bola tangan, tapi hanya olahraga itu yang dapat kusaksikan sekarang.

Para siswa itu terus bermain tanpa menghiraukan hujan yang semakin deras dan membuat sekujur tubuh mereka basah. Bola tangan lebih asik dari apapun, mungkin itu yang ada di pikiran mereka.

Seorang namja terlihat keluar dari daerah lapangan dan berlari ke arah tribun yang kutempati. Wajahnya.. aku seperti tidak asing. Aku sempat menatapnya, tetapi kembali fokus pada permainan bola tangan yang sempat terhenti sejenak.

Dia meraih tasnya di sampingku. Oh, aku baru baru sadar jika disampingku ada tas. Aku tidak menghiraukannya, tapi tetap saja aku bisa melihatnya lewat ekor mataku. Aku lihat dia membuka botol minumnya, meminum isinya, dan tiba-tiba…

“UHUK! UHUK!”

“Yah!!”

Aku terlonjak dari tempatku. Orang itu tiba-tiba tersedak dan tumpahan minumnya ada yang mengenai lenganku. Huaa~ jorok sekali.

Aku membersihkan lenganku menggunakan sapu tangan yang selalu kubawa kemanapun. Dia meminta maaf beberapa kali sambil membungkukkan badannya juga. Ah.. aku jadi sungkan. Ini bukanlah kasus yang parah hingga dia harus membungkuk.

“Maafkan aku, aku hanya terkejut melihat wajahmu.”

Aku hanya tersenyum canggung, dan melihat wajahnya. He-hei, tunggu sebentar. Aku pernah melihat wajah ini. Aku mengenal wajah ini. Aku jengkel dengan wajah ini. Kenapa orang ini berwajah seperti ini?!

“Yah, kau namja yang selalu keluar ke halaman rumahmu tiap malam itu kan?!”

Dia malah melihatku serius, kemudian terbelalak. Apa dia mengenalku juga?

“Yah, kau yang selalu datang malam malam dan membaca puisi jelek itu kan?!”

Aku tertegun. Dia mengenalku. Apa ini berarti semua yang kualami beberapa lama ini nyata? Jika benar, aku sangatlah tidak beruntung karena bertemu dengannya.

 

©UNFORTUNATELY

 

Disaat aku sedang serius belajar untuk ulangan harian besok, handphoneku berdering. Telfon dari nomor tidak dikenal. Sudah biasa seperti ini, biasanya yang menelfonku itu hoobae sesama anggota jurnalistik, atau panitia majalah tahunan sekolah. Aku segera menerima telfonnya.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, apa ini Jessica Jung sunbaenim?” tanya orang di seberang. Dia perempuan, dan suaranya imut sekali. Tapi aku lebih imut.

“Benar. Ini siapa?”

“Aku Park Sooyoung. Aku yang akan mendampingimu wawancara besok karena Yoojung sedang ada keperluan lain.”

“Okay.. lalu katamu tadi wawancaranya besok?”

“Ne, sunbae. Aku sudah menghubungi Baekhyun sunbae dan katanya dia ada waktu kosong besok sore. Kita akan ke rumahnya.”

Aku meletakkan bolpoin yang sedari tadi kumainkan. Ke rumahanya? Kenapa repot-repot sekali? Biasanya wawancara dilakukan saat jam sekolah, atau paling tidak diluar jam pelajaran tapi di area sekolah.

“Kenapa kau tidak minta wawancara di sekolah saja, Soo?”

“Maaf sunbae, dia yang memaksa. Jadi aku iyakan saja. Lagipula besok itu banyak kelas yang mengadakan ulangan harian, termasuk kelasku, kelas Jessica sunbae, dan Baekhyun sunbae. Aku tidak ingin mengganggu. Besok aku dan Joonmyun sunbae yang akan menjemputmu, dan pulangnya juga akan diantar oleh Joonmyun sunbae.”

Aku mendengus pelan, “Baiklah.. baiklah.. lalu apa prestasi Baekhyun itu? Aku akan membuat daftar pertanyaannya.”

“Cukup banyak. Juara dua Logic Competition, juara pertama Science Application Competition, dan di bidang olahraga dia juga menjuarai turnamen catur se-Seoul. Dan daftar pertanyaan sudah dibuatkan oleh Sunkyu sunbae, sudah diserahkan padaku.”

“Bagus kalau begitu. Besok aku sudah siap jam 4 sore.”

“Arasseo sunbae. Sugo haseyo ~”

Sambungan telfon terputus. Aku segera melanjutkan belajarku karena tidak ingin mendapat nilai memalukan besok.

 

@@@

 

Jam empat sore, mobil Joonmyun oppa sudah terlihat di depan rumahku. Aku segera mengambil tasku yang berisi buku, alat tulis, dan handphone dan berlari ke depan rumah.

“Eomma, aku pergi yaa ~” teriakku. Tenang saja, aku sudah minta izin ke eomma kemarin malam.

Aku membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Joonmyun oppa, sedangkan Sooyoung duduk di belakang. Aku melihatnya sebentar. Wah, dia tinggi sekali. Tapi wajahnya sangat imut. Sedikit tidak cocok untuk badannya yang jangkung.

“Hello Sica~” sapa Joonmyun oppa sok ramah. Padahal orang ini jahat sekali padaku jika di ekskul. Huh.

“Ayo berangkat.” Ujarku tanpa menatapnya. Seperti pintaku, dia segera menginjak gas. Ya, permintaan seorang putri memang harus dilakukan, haha~.

“Oh, ya, Jess. Nanti kau yang menanyakan semua pada Baekhyun. Park Sooyoung notulennya.” Ujar Joonmyun oppa saat tengah menyetir. Aku mengerucutkan bibirku.

“Aish, oppa ya~ aku ingin jadi notulen saja. Aku bahkan sudah menyiapkan buku dan alat tulis~” rajukku. Sepertinya tidak akan mempan.

“Jess, kau itu yang senior. Kau harus tau posisimu, dong. Sooyoung itu baru pertamakalinya wawancara. Biasanya dia diculik oleh tim editor.”

“Tapi—”

“Tidak ada tapi tapian. Aku yang memerintahkanmu.”

Aku menghela napas kasar. Benar kan? Dia selalu jahat kepadaku.

Sekitar setengah jam perjalanan sambil melihat-lihat ke luar jendela mobil. Aku melihat rumah sederhana yang terasa familiar. Seperti aku sering datang ke rumah ini.

Aku menggelengkan kepalaku sambil tertawa kecil. Tidak mungkin ini rumah yang selalu kudatangi di ‘mimpi yang terasa seperti nyata’ itu.

“Sunbae, kita sudah sampai.”

Suara Sooyoung menyadarkanku bahwa mobil Joonmyun oppa sudah berhenti. Entah sejak kapan. Aku menoleh ke Sooyoung, lalu ke Joonmyun oppa, seperti itu bergantian.

Joonmyun oppa mendesah, “Ayolah, Jess. Aku tau kau tidak suka mewawancara, tapi kau harus—”

“Oppa, kau yakin rumah Baekhyun sunbae di sini?” selaku memotong ucapannya.

“Yup. Kenapa?”

Aku menggeleng, “Tidak apa-apa. Yasudah. Aku turun sekarang. Ayo Soo.”

Sooyoung mengangguk, kemudian turun dari mobil bersamaan denganku. Setelah kami berdua benar-benar di depan pagar rumah Baekhyun sunbae, Jonnmyun oppa meninggalkan kami.

Seorang namja keluar dari rumah itu. Aku bernapas lega setelah melihat ternyata yang akan kami wawancarai bukanlah orang yang kutemui di mimpiku belakangan. Dia segera mempersilakan kami masuk dan duduk di ruang tamunya.

“Kalian tidak masalah menunggu sebentar kan? Baekhyun baru selesai mandi, sebentar lagi dia akan kesini.”

Aku mengerjap, “Jadi, bukan Anda yang bernama Baekhyun itu?”

Namja itu tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya, “Bukan. Aku Jinki, kakak sepupunya Baekhyun.”

Aku mengangguk mengerti, kemudian dia masuk ke ruang lain di dalam rumahnya.

Sooyoung menyerahkan lembar berisi pertanyaan untuk bahan wawancara nanti kepadaku. Aku membacanya satu persatu. Ini banyak sekali. Biasanya kami hanya menanyakan sekitar sepuluh pertanyaan, tapi ini lebih dari dua kali lipatnya. Entahlah, mungkin khusus ‘tokoh’ ini akan menghabiskan satu halaman sendiri di majalah tahunan sekolah nanti.

Walau aku tidak melihat, aku bisa merasakan seseorang memasuki ruangan ini, dan aku yakin inilah Baekhyun yang kami tunggu-tunggu. Aku menolehnya sambil memasang senyumku yang terbaik dan terramah. Tapi..

“Astaga! Kau lagi!” pekiknya, hingga membuatku dan Sooyoung terkejut.

“Kau mengikutiku, ya?!” duh, kenapa namja ini berisik sekali, sih?

“Enak saja. Aku kesini untuk wawancara, bukan menguntitmu!” tegasku.

Namja itu belum mau duduk dan masih melihatku dengan ekspresi terkejutnya yang sangat konyol. Aku tau aku cantik, tapi mau sampai kapan dia melihatiku terus?!

“Ehm, sunbae, bisa kita mulai wawancaranya?” tanya Sooyoung ragu-ragu.

Akhirnya, dia bersedia dan mau duduk. Wajahnya terlihat terganggu. Hei, apa dia tidak tau kalau aku juga risih?

Dan wawancara pun di mulai ~

 

@@@

 

Enaknya teman-temanku yang bisa bersenang senang setelah ulangan harian yang mencekam itu, sementara aku harus ke ruangan ekskul Jurnalistik untuk memberikan data hasil wawancara yang kemarin malam ku kerjakan. Aku juga mempertanyakan keputusan pembina yang mengharuskan kami menyelesaikan majalah di pekan-pekan ulangan seperti ini. Dia pembina yang tidak berperikesiswaan.

“Oh iya, aku lupa sesuatu Jess.” Ujar Victoria—temanku yang bertugas di bagian editor.

“Apa?”

“Kita perlu foto Baekhyun sunbae. Bisakah kau ke kelasnya dan memintanya untuk membawa medalinya besok, dan ke ruangan ini untuk di foto?”

“Tidak.. tidak.. kau saja yang kesana, Vic.” Tolakku.

“Please, Jess~ aku harus mengedit sebanyak ini, padahal sudah bagi tugas dengan editor yang lain. Tolonglah.. atau kita akan dimarahi oleh pembina galak itu~.”

Aku mendengus, “Baiklah.”

Aku segera berjalan menuju ruang kelas Baekhyun sunbae. Tidak jauh dari ruang jurnalistik. Aku mengetuk pintu dan semua penghuninya langsung menoleh ke arahku. Hanya ada beberapa orang siswa, mungkin yang lainnya sedang menikmati jam istirahat.

“Apa Baekhyun sunbae ada di kelas?” tanyaku, berusaha sesopan mungkin.

Mereka langsung kompak melihat-lihat ke seluruh kelas, kemudian salah satu menatapku.

“Baekhyun tidak ada. Mungkin sedang ke kantin.” Ujar sunbae dengan tubuh berdaging—jika tidak mau menyebutnya agak gemuk.

“Ah, yasudah kalau begitu. Kamsahamnida sunbaenim.” Aku membungkuk lalu berbalik badan.

Untung saja aku tidak menderita penyakit jantung, karena saat aku berbalik seseorang tepat di hadapanku. Aku melihat wajahnya. Entah kebetulan yang menguntungkan atau malah sial, orang dihadapanku sekarang adalah Baekhyun sunbae.

“Mau apa kau ke kelasku? Kau benar-benar penguntitku ya?”

Sial, orang ini sensitif sekali, sih. Apa mungkin dia sedang menstruasi?

“Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari editor majalah tahunan sekolah. Kami harap besok Anda mau membawa medali-medali Anda dan datang ke ruang jurnalistik saat jam istirahat untuk di foto.” Jawabku dengan intonasi datar.

Dia mengangkat sebelah alisnya. Dia terlihat sedang meneliti ekspresiku, dia tidak percaya dengan apa yang kusampaikan. Huh, persetan.

“Baiklah. Tapi ada syaratnya.”

Aku menatapnya heran. Syarat? Dia yang harusnya berterimakasih karena akan menjadi topik utama majalah tahunan sekolah malah memberi syarat?

Aku tertawa sinis, “Apa-apaan? Yang benar saja.”

“Yasudah, kalau begitu aku tidak—”

“OKE. Apa syaratnya?” kesalku. Dia malah menyeringai penuh kemenangan.

“Aku tidak mau berjalan kesana sendirian. Jadi saat jam istirahat, kau harus menjemputku. Dan setelah aku selesai di foto, kau harus mengantarkanku kembali ke kelas dengan selamat.”

Aku ingin terbahak sambil menangis saat itu juga. Itu syarat terkonyol yang pernah ku dengar.

Tapi, tetap saja pada akhirnya aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Aku tidak menginginkan perdebatan yang lebih panjang di depan kelas orang.

 

@@@
Keeseokan harinya…

 

“Terimakasih Baekhyun sunbae telah membantu kami. Kami pastikan sunbae mendapat jatah halaman terbanyak di majalah kami nanti.” Ujar Victoria setelah selesai mengambil foto Baekhyun sunbae.

Terukir jelas di wajah Baekhyun sunbae, senyuman bangga. Uh, kepalanya jadi semakin besar saja.

Baekhyun sunbae melirikku. Aku paham apa yang dia inginkan. Sesuai perjanjian kemarin, aku harus mengantarkannya kembali ke kelasnya. Kami berdua pun keluar dari ruangan penuh kertas dan buku itu.

“Aku tidak ingin langsung ke kelas. Ayo berjalan-jalan sebentar di halaman belakang sekolah.” Ajaknya. Aku tidak merespon, tapi tetap mengikuti kemanapun langkahnya.

Dia menghentikan langkahnya di dekat kursi taman dan mengambil posisi duduk di kursi itu. Aku ikut duduk di sebelahnya.

“Kau benar-benar yeoja yang tiap malam datang ke rumahku itu?” tanyanya. Aku melirik dia sekilas, lalu menggeleng.

“Itu hanya mimpi, sunbae.”

“Aku benar-benar keluar di malam hari dan melihatmu yang sedang membaca syair, dan kau bilang itu hanya mimpi?”

Aku mengerutkan dahiku, “Aku serius. Aku pasti sudah tidur saat tengah malam. Tidak mungkin aku keluar malam.”

“Jadi kau bukan orang itu?” Baekhyun sunbae terlihat kecewa. Tapi.. kenapa?

“Harusnya kau senang. Itu tidak nyata.” Ujarku santai.

“Padahal jika kau memang si ‘penyair tengah malam’ itu, aku ingin menyampaikan sesuatu.”

Aku menoleh. Bagaimanapun aku juga penasaran, apa yang ingin disampaikannya padaku? Eh, maksudku, ‘penyair tengah malam’ itu.

“Aku ingin bilang dua hal. Pertama, kalau nanti malam dan malam-malam selanjutnya kau datang lagi, tolong bawa syair yang lain. Aku bosan mendengar syair yang sama setiap harinya.”

“Lalu yang kedua?” tanyaku penasaran. Padahal sudah kutegaskan bahwa kejadian beberapa minggu ini hanya mimpi, tapi entah kenapa aku malah begini. Bertanya seolah akulah si ‘penyair tengah malam’ itu.

“Kedua…” Baekhyun sunbae menggaruk kepalanya sambil menyengir. Wajahnya lucu jika begitu.

Apa yang kupikirkan barusan? Wajah menyebalkan seperti itu lucu? Tidak.. tidak..

“Kedua aku hanya mau bilang..” dia menjeda kalimatnya, membuatku penasaran saja. “kau sangat cantik, aku menyukaimu.” Ujarnya kemudian bangkit dan meninggalkanku sendirian di taman ini.

“Yah! Sunbae apa-apaan?!” teriakku, sambil memegangi kedua pipiku yang terasa panas dengan kedua telapak tanganku.

 

©UNFORTUNATELY

 

1 tahun kemudian.

 

Sekarang, aku sudah duduk di bangku kelas XII. Aku juga sudah purna jabatan dari ekstrakurikuler jurnalistik. Dan yang terpenting, sudah tidak ada mimpi aneh yang membawaku ke rumah Baekhyun sunbae.

Sebenarnya, aku sudah tidak memimpikan hal itu lagi sejak insiden aneh yang aku dan Baekhyun sunbae alami di halaman belakan sekolah. Sejak saat itu pula hubungan kami berdua semakin akrab. Dia tidak pernah lagi menyebutku dengan kata ‘penguntit’.

Omong-omong, sepulang sekolah ini dia mengajakku untuk bertemu di cafe dekat sekolah. Sekarang aku sedang menuju kesana, berjalan kaki berhubung jaraknya dekat.

Aku memasuki cafe itu, dan melihat Baekhyun sunbae duduk di sudut yang bersebelahan dengan jendela lebar cafe ini. Dia tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Aku hanya tersenyum, dan berjalan ke arahnya.

“Ada apa mengajakku kesini? Aku bahkan masih mengenakan seragamku, sunbae.” Tanyaku setelah menghempaskan pantatku ke kursi yang bersebrangan meja dengan Baekhyun sunbae.

“Harus berapa kali aku memintamu untuk memanggilku ‘oppa’? Aku sudah bukan sunbae di sekolahmu lagi, Jess.” Ujarnya.

“Harus berapa kali aku bilang kau tidak pantas dipanggil ‘oppa’, sunbae? Aku malah ingin memanggilmu eonni.” Candaku. Tapi aku memang tidak ingin memanggilnya dengan sebutan oppa.

“Terserah lah..” dia mendesah, “Aku hanya ingin mengobrol saja, seperti biasa.”

Aku merengut, “Aku pikir kau berniat mentraktirku, sunbae.”

“Tentu saja! Maksudku, aku akan mentraktirmu dan kau menemaniku ngobrol. Impas.”

Aku hanya ber-‘oh’ ria. Kulihat wajahnya yang terlihat sedikit berisi dari terakhir kali aku bertemu dengannya.

“Sunbae terlihat segar. Sudah dapat pacar ya?” godaku sambil tertawa. Dia balik menatapku.

“Belum. Aku baru berencana ingin menyatakan perasaan padanya.”

“Tidak usah rencana terus. Langsung nyatakan saja. Omong-omong, siapa perempuan yang kau sukai?”

Baekhyun sunbae menyeringai tipis, “rahasia.”

“Apa-apaan? Oh jadi sekarang sudah bisa menyimpan rahasia dariku?”

Pelayan menghampiri meja kami dan meletakkan dua cangkir capucinno. Setelahnya Baekhyun sunbae tidak lagi membahas perempuan itu dan beralih ke topik lain.

 

@@@
Author POV

 

“Sica-ya.. ada temanmu datang. Keluarlah.” Panggil ibunya.

Jessica yang sedang belajar, langsung menutup bukunya. Dia tidak tau siapa yang datang kerumahnya, karena jarang sekali temannya berkunjung kecuali dia yang mengajaknya.

Setelah sampai di ruang tamu, rasa penasarannya pun hilang saat melihat Baekhyun sedang mengobrol dengan ibunya. Jessica duduk di samping ibunya.

“Saya mengizinkan kok.. saya justru senang karena sudah bertahun-tahun Jessica tidak berpacaran. Saya sempat mengira Jessica sudah tidak ada ketertarikan lagi dengan laki-laki.”

Jessica terbelalak mendengarnya. “eomma dan sunbae sedang membicarakan apa sih?”

“Silakan berbicara langsung dengan Jessica, Baekhyun-ssi.” Ibunya mempersilahkan.

Baekhyun menatap Jessica serius, “Jessica.. aku menyukaimu. Ani.. aku mencintaimu. Jangan tanya sejak kapan karena aku juga tidak mengerti. Jadi, maukah kau menjadi kekasihku?”

Hening. Jessica melongo melihat Baekhyun dengan wajah serius itu. Gadis itu tertawa hambar, “sunbae sedang bercanda ya?”

Baekhyun mendecak sebal, “Tuh, eomonim. Jessica sangat tidak peka.”

“Sica-ya, Baekhyun serius. Eomma sudah menyetujuinya. Tinggal padamu. Kau mau atau tidak?”

Jessica melihat kedua wajah itu bergantian. Wajah tidak sabar ibunya, dan wajah berharap Baekhyun. Kalau boleh jujur, Jessica juga menyukai Baekhyun. Tapi dia tidak mengira bahwa akan jadi seperti ini.

“Jess..”

“Ne, sunbae. Aku mau.” Ujar Jessica sambil memamerkan senyum terbaiknya.

 

@@@

 

Setelah pamit pulang pada ibu Jessica, Baekhyun keluar sambil diantar Jessica. Namja itu menghentikan langkahnya dan menghadap Jessica, membuat gadis itu mengerjap kaget.

“Uhm.. terima kasih ya, Jess.”

“Kenapa berterimakasih sunbae?”

“Karena sudah menerimaku.” Setelah mengucapkan itu, pipi sepasang kekasih yang baru resmi itu memerah. Untung saja sekarang sudah malam, sehingga rona pipi mereka tidak terlihat dengan jelas.

“Yasudah, aku pulang dulu ya. Dan jangan lupa untuk belajar memanggilku ‘oppa’. Arachi?”

Jessica terkekeh, “Baiklah sunbae. Eh, maksudku oppa. Hehe..”

“Baiklah..” Baekhyun mendekatkan wajahnya dengan wajah Jessica, dan mengecup bibir gadis itu sekilas. “Jaljayo, chagiya.”

Sampai Baekhyun menaiki motornya dan melaju pergi pun Jessica masih mematung di tempatnya. Tatapannya seperti orang linglung.

Itu tadi first kissku…

.

.

END

Hai semua~ ‘-‘)/

emm kayaknya aku harus banyak-banyak minta maaf untuk semua penghuni blog ini. aku sekarang jarang update karena kesibukan. dan sekalinya ngepost, malah jadi yang ancur kayak gini T_T mohon maaf ya semuanyaa~ aku harap readers sekalian bisa memaklumi kesibukanku yang baru selesai semester pertama di SMA ini. apalagi aku ikut beberapa organisasi. nyentuh laptop jadi jaraaang banget.

okay, silahkan cerca saya dan ff gak jelas ini di kolom comment, dan aku akan sangaaaat senang^^

terimakasih, adios ~

8 thoughts on “Unfortunately

  1. Seru deh ceritanya,,, nge feel banget thor!!
    BaekSica keren deh,,, Keep writing ya thor coz’ akhir” ini jarang banget ada yang nge post ff tentang Sica eonni😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s