Just Stay Beside Me|| Six

s-y-m-just-stay-beside-me

Author: S.Y.M

Title: Just Stay beside Me

Length: Chaptered

Genre:  Romantic high school

Rating: G

Cast: Jessica Jung || Kim Myungsoo || Na HaeRyeong BESTie

Credit Poster:

by Harururu98 @cafeposter

Note:

Thanks and Sorry karena udah lama dan baru posting🙂

Ma’af untuk typo dan cerita yang membingungkan

Selamat Membaca

*

*

*

Complicated Girl and Lovely Girl is You

Sooyeon beberapa kali menutup wajahnya saat ia bercermin di kaca. Perasaannya tiba-tiba menjadi benar-benar aneh. Lebih aneh dari biasanya, ia berharap bahwa yang ia alami kemarin malam hanya sebuah bayangannya saja. Bukan kenyataan, jika itu kenyataan, ia yakin masih belum sanggup untuk berhadapan langsung dengan Myungsoo.

Ia mengernyit, kini ia sudah mampu membayangkan bagaimana ekspresi Myungsoo saat bertemu dengannya nanti.

Dia adalah manusia kejam , benar-benar kejam karena hanya ada wajah datar yang ia tunjukkan setelah apa yang ia lakukan.

Itu adalah kebiasaannya, dan Sooyeon benar-benar hafal akan hal itu.

Ia melipat kedua tangannya, lalu untuk apa dia merasa malu pada Myungsoo jika nantinya namja itu akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Benar, ia tidak perlu merasa malu dan ia harus segera menetralkan perasaannya yang sungguh seperti cuaca buruk itu.

Ia membenahi poninya, membenahi seragamnya lalu meraih tas dan berlari kecil keluar rumah. Ia harus berangkat ke sekolah cepat.

“ Hoah?” teriak Sooyeon kaget.

Ia mengedipkan matanya berkali-kali lalu menekan dadanya. Ia segera memalingkaan wajahnya ketika mendapati Myungsoo tengah berdiri di depan rumahnya.

“ Wae?” tanya Myungsoo datar, seperti biasa.

Sooyeon menghela nafas kasar, ia melengos lalu dengan cepat berbalik dan menatap Myungsoo tajam. Apa-apaan dia, apa dia lupa dengan apa yang dilakukan padanya tadi malam? Kenapa wajah  seolah tak berdosa itu harus melekat padanya.

“ Any_ a_ aku hanya terkejut, karena tidak biasanya kau berangkat sepagi ini”

“ Any, kau yang terlalu bersemangat, bukankah kau 10 menit lebih awal pagi ini?”

Sooyeon segera melirik jam tangannya, ia mendengus pelan. Kali ini , memang ia yang terlalu pagi. Selanjutnya ia kembali menatap Myungsoo tajam.

“ Kau mengikutiku Husby? Atau kau sengaja menungguku? “

“ Itu hanya pekerjaanmu, dan kebiasaanmu”

Sooyeon mendesis, ia benar-benar sudah menduganya, Myungsoo akan bersikap sebiasa mungkin dan melupakan kejadian kemarin malam.

Sebenarnya saat ini jantungnya sedang tidak normal setiap matanya bertemu pada bibir yang sudah mencium bibirnya kemarin malam. Entah kenapa konsentrasinya menjadi buyar ketika bertemu pandang dengan Myungsoo atau tatap matanya tertuju pada bibir Myungsoo.

“ Oh Tuhan….maafkan aku” ucapnya lirih.

Myungsoo terkekeh, ia tahu apa yang sedang dipikirkan yeoja aneh ini. Saat seperti ini adalah saat yang ia tunggu karena melihat Sooyeon bersikap canggung dan kikuk di depannya sangat jarang terjadi. Sooyeon akan terlihat lucu dan menggemaskan saat berbagai ekspresi kikuk dan bosannya itu ia keluarkan.

“ Kita berangkat!” ajak Myungsoo.

Sooyeon mengangguk pelan, ia membiarkan Myungsoo berjalan lebih dulu, baru dia yang berjalan di belakangnya.

Namun itu tidak berlangsung lama ketika Myungsoo tiba-tiba saja berhenti dan memaksa Sooyeon untuk jalan di depannya.

Hal itu juga berlanjut di dalam bus, Sudah 2 hari ini Myungsoo memilih untuk naik bus bersama Sooyeon. Meskipun itu adalah hal bagus namun Sooyeon benci jika perasaannya menjadi seperti Candy warna-warni dengan berbagai rasa.

Sedangkan Myungsoo memintanya untuk tetap ada di depan, ia sendiri merasa tidak nyaman karena ia tidak terbiasa dengan ini. Ia menjadi canggung, padahal dialah yang selama ini bersikap seenaknya pada Myungsoo.

Myungsoo terus tersenyum, hanya melihat dari belakang pun ia sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresi Sooyeon. Ia sengaja meminta Sooyeon untuk ada di depannya. Ia sendiri merasa pikirannya buyar jika melihat wajah Sooyeon secara langsung. Ia bukan namja yang sengaja melupakan hal yang sudah ia lakukan dan menganggapnya sebagai hal biasa. Mencium Sooyeon malam itu adalah cara kerja syarafnya tanpa ia yakin dan tahu bagaimana hal itu bisa ia lakukan.  Meskipun itu diluar kendalinya namun ia menyadarinya, dan ia menyukai keluar kendalinya itu. Saat ini, ia merasa jantungnya benar-benar berdebar. Bahkan sejak awal ia merasa nyaman setiap di dekat Sooyeon. Apapun itu, sebetapa memalukannya tingkah Sooyeon, seberapa menganggu ulahnya, dan seberapa cerewetnya gadis itu, ia tidak pernah merasa benci ataupun risih. Ia memang menyukai hal itu. Saat harinya terisi oleh hal aneh karena ulah Sooyeon. Entah sejak kapan itu terjadi, namun ia sudah menyadari itu sejak lama.

Ia hanya tidak ingin mengatakannya secara langsung. Dia adalah tipe orang yang akan menjauh karena tidak merasa nyaman. Namun jika ia tetap diam dan bertahan, itu artinya semuanya tidak masalah baginya.

Untuk saat ini, walaupun ia tidak bisa tahu lebih dalam tentang seorang Sooyeon, namun melihat senyum gadis itu yang selalu ceria, adalah hal yang paling menenangkan baginya. Sungguh sangat melelahkan jika sampai Sooyeon tidak ceria seperti biasanya. Ia harus berfikir lebih keras untuk mengembalikan mood gadis itu.

“ Apa kau tidur nyenyak? “ tanya Myungsoo ditengah langkahnya menuju kelas.

Sooyeon menoleh kasar padanya, saat ini hanya ada wajah terkejut yang ia tunjukkan. Cukup lama ia mencoba merespon pertanyaan Myungsoo yang bahkan diluar daftar kamus percakapannya.

“ Ada apa dengamnu Husby? Apa kau salah makan kemarin? Kau terus bersikap aneh” Sooyeon melompat-lompat tangannya berusaha meraih kening Myungsoo. Ia bermaksud memeriksa suhu badan namja itu.

Myungsoo terdiam , ia mendengus kecil.

“ Kau tidak bisa tidur karena semalam_”

“ A_a_any any” Sooyeon menutup mulut Myungsoo dengan tangannya. Ia tidak mau Myungsoo mengatakan kejadian semalam, bahkan ia tidak ingin membahasnya, itu membuatnya ingin tidur lebih panjang lagi.

“ Wae? Aku pikir kau biasa saja, apa itu first_”

“ Hya! Haljimaa”

“ Jadi aku yang pertama?” goda Myungsoo, ia tersenyum evil . Entah kenapa menggoda gadis ini begitu menyenangkan baginya.

“ Woaaa???? Apa kalian k_kisseu?” Suara besar Chanyeol tertahan seketika saat mendapat tatapan tajam dari Sooyeon.

Spontan Chanyeol menutup mulutnya, namun matanya masih membesar melihat kedua teman karibnya itu, Ia dapat melihat senyum evil pada Myungsoo dan wajah kesal  dari Sooyeon.

“ Kau pikir aku bisa melakukannya dengan orang lain, sedangkan selama ini perhatiaanku hanya padamu? Kau selalu menyita waktuku, bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu? Kau pikir aku istri yang suka selingkuh?”  Cibir Sooyeon, dan mendapat persetujuan dari Chanyeol yang ikut mengangguk , mengiyakan kalimat Sooyeon. Sooyeon memang hanya menyukai Myungsoo. Itulah yang ia lihat selama ini.

“ Benarkah? Lalu apa yang kau lakukan dengan guru asing itu?”

Sooyeon terdiam, begitu pula dengan Chanyeol. Ia merasa ini sudah tidak dalam lingkupnya lagi. Ini benar-benar masalah keluarga, dan ia harus segera pergi dari tempat itu. Mereka memang lebih baik berdua. Perlahan Chanyeol melangkah mundur dan menjauhi mereka.

Sedangkah Myungsoo yang lagi-lagi tidak bisa mengontrol rasa ingin tahunya selama ini hanya pasrah dengan kalimat yang sudah ia lontarkan. Ia mengaku bahwa sejak kehadiran Henry ia tidak bisa berpaling lega dari Sooyeon.

“ Dia_dia_ aku tidak bisa mengatakannya” Sooyeon segera berlari kecil meninggalkan Myungsoo,

Dan lagi-lagi ia tidak mendapat jawaban apapun. Saat ia mencoba bertanya langsung pun ia tidak mendapat jawaban dari Sooyeon.

“ Apa aku mulai gila? Hanya karena rasa penasaran ku? “ gumamnya .

.

.

Henry terkekeh , Saat ini ia tahu betul bagaimana perasaan Sooyeon. Ia bisa memahami gadis itu dengan mudah, karena ia mengenal jauh lebih lama gadis itu dibanding Myungsoo. Karena Sooyeon bukanlah sosok yang bisa dengan mudah menunjukkan masalah dan kelemahannya pada orang lain, meskipun itu orang yang disukainya.

Ia memperhatikan Kim Myungsoo dari kejauhan. Sosok yang disebut-sebut sebagai alasan kenapa Sooyeon mau tinggal di Seoul. Sebenarnya ia tahu jika niat baik Sooyeon bukan karena sosok Kim Myungsoo sendiri. Niat baik itu muncul karena rasa sayang Sooyeon pada Oppanya yang sudah meninggal. Kisah Myungsoo mungkin hampir mirip dengan kisah Oppanya. Mungkin itu yang mendasari rasa simpati Sooyeon pada Myungsoo.

Ia tahu gadis kecilnya itu sangat menyesali dengan apa yang menimpa Oppanya. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi pada Myungsoo.

Sayangnya gadis kecilnya itu sudah terlalu jauh. Ia kini tidak hanya mempunyai simpati yang mendalam pada kisah Myungsoo. Namun ia mencintai anak itu. Sooyeon adalah tipe orang yang akan melakukan banyak hal untuk orang yang dicintainya, termasuk Myungsoo. Hanya saja ia merasa seharusnya Sooyeon berhenti . Ia hanya perlu menunggu saat yang dikatakan Sooyeon adalah masa menyerahnya.

Myungsoo menghentikan langkahnya ketika melihat Henry tengah berdiri tak jauh darinya.  Dengan sikap sopan Myungsoo membungkukkan separuh badannya.

“ Kau yang bernama Myungsoo? Kau yang tinggal di sebelah Sooyeon bukan?”

“ Ne” jawab Myungsoo.

“ Ah…dia pasti menyusahkanmu, aku harap kau menjaganya dengan baik “ Henry menepuk pundak Myungsoo lalu melangkah lebih dahulu.

Myungsoo sontak mendongak, matanya mengikuti arah langkah Henry.

“ Wae?”

Henry berhenti, ia menoleh dan melemparkan senyumnya.

“ Karena dia gadis yang berharga bagiku”

Myungsoo terkekeh, apakah pantas seorang guru mengatakan itu? Itu yang ada di pikirannya kali ini.

“ Apa yang anda tahu tentangnya?”

“  Lebih dari yang kau tahu tentangnya, kami memiliki hubungan spesial jauh sebelum dia mengenalmu”

DEG

Saat itu semua serasa terhenti. Bahkan saat Henry melangkah pergi pun Myungsoo tidak memperhatikannya. Myungsoo menunduk dan tersenyum kecil, selanjutnya ia melangkah pergi, berlawanan arah dengan Henry. Ia harus cepat-cepat ke kelasnya sebelum pelajaran dimulai.

.

.

Sooyeon memperhatikan Myungsoo yang terburu-buru meninggalkan kelas setelah bel istirahat berbunyi.  Bukan Sooyeon jika ia tidak mengikuti kemana Myungsoo pergi, namun sialnya langkahnya terhalang dengan kehadiran Henry. Dengan senyum Henry melambai kepada Sooyeon dan memintanya untuk cepat mendekat.

“ Wae?” tanya Sooyeon singkat.

Henry terkekeh, ia mengacak lembut rambut atas Sooyeon lalu merangkulnya dan menuntunya untuk ikut bersamanya.

“ Come on”

“ Jangan bertindak aneh di sekolah Oppa”

“ Wae? Mungkin mereka akan mengira kita adalah sepasang kekasih”

“ Hya, itu tidak baik. Mereka hanya tahu Jung Sooyeon adalah istri Kim Myungsoo”

Henry kembali terkekeh.

“ Apa kau mencintainya? Kau sangat terobsesi padanya”

Sooyeon terdiam, sebenarnya ia hanya bermaksud menjelaskan bahwa dia memang selalu menyebut Myungsoo sebagai suaminya. Sunbae dan Hobaenya pun tahu itu, itu hanya ia gunakan untuk menjaga jarak antara Myungsoo dan gadis-gadis yang mendekatinya hanya karena ia tampan, populer dan kaya.

“ Kau tahu aku sedikit berbakat dalam membuat orang takut, jadi aku menggunakannya agar tidak ada yang berani mendekati Myungsoo. Dia cukup populer dan bisa membuat para gadis tergila-gila padanya”

“ Apa kau juga termasuk diantara mereka?” goda Henry.

Sooyeon mendengus kecil lalu memukul lengan Henry keras.

“ Aku buatkan bekal kesukaanmu, makanlah” Henry memaksa Sooyeon untuk duduk dan ia membukakan kotak makanannya.

“ Woaaah….apa rasanya sama dengan yang di Amerika?”

“ Tentusaja tidak, apa kau idiot? “ Henry mencubit hidung Sooyeon, dan tanpa pikir panjang Sooyeon pun segera melahapnya.

“ Eotte?”

“ Mashitta, tapi tidak seenak masakan Ahn Ahjumma”

.

.

Haeryeong melambai penuh semangat ketika melihat Myungsoo berjalan kearahnya.

“ Anyeong” sapanya.

Myungsoo hanya membalasnya dengan senyum kecil, dia menyipitkan matanya karena terik yang menyengat.

“ Ada apa?”

“ eummm…aku hanya ingin melihatmu, sepertinya kemarin sangat singkat, jadi aku ingin bertemu dengan mu lagi hari ini”

“ Bukankah kau mengundangku nanti  malam, kita akan bertemu malam nanti?”

“ Aha…sebenarnya aku ingin meminta referensi untuk menu makan malam, sepertinya aku hanya memikirkan makanan kesukaanmu, aku lupa jika aku mengundang Sooyeon juga, menurutmu apa yang harus aku sediakan?”

“ Apa kau tahu makanan kesukaanku?” tanya Myungsoo.

“ Hya! Kau menggodaku lagi? Kali ini aku benar-benar tahu, kesukaanmu tidak akan berubah begitu saja bukan?” Haeryeong memukul lengan Myungsoo dan membuatnya meringis kecil, selanjutnya ia tersenyum.

“ Banyak yang berubah, termasuk makanan kesukaanku, heohh…untuk Sooyeon aku rasa jangan sediakan kerang-kerangan untuknya, jangan masak dalam bentuk apapun”

“ Eoh? Bukankah itu makanan kesukaanmu? Itu makanan kesukaanmu sejak kecil”  bantah Haeryeong.

Myungsoo terdiam, ia tersenyum dan matanya menyipit pada Haeryeong.

“ Aku akan memakan makanan yang kau sediakan, meskipun itu bukan makanan kesukaanku, jadi masaklah dengan lezat”

“ Aku akan menyediakan kerang karena itu adalah kesukaanmu, aku akan memasaknya agar lebih menarik”

“ Sudah lama aku tidak pernah memakannya, jadi tidak perlu menyediakan itu untukku. Sooyeon sedikit buta terhadap makanan yang ada di meja makan, meskipun dia sering mencium makanan sebelum memakannya tapi ia tidak bisa membedakan jenis makanan setelah diolah dalam bentuk lain, jadi jangan sediakan”

Myungsoo tersenyum simpul lalu menyentuh puncak kepala Haeryeong sebelum ia pergi .

“ Aku harus segera kembali, sampai jumpa nanti malam” Myungsoo berlari kecil dan tak lupa ia melambaikan  tangannya pada Haeryeong.

Mungkin sedikit aneh ketika mendengar bagaimana Myungsoo menjelaskan tentang Sooyeon pada makanannya, dan Myungsoo yang meminta untuk tidak menyediakan kerang padahal ia tahu sejak kecil Myungsoo menyukainya.

“ Siapa yang perduli, bukankah dia sudah lama tidak memakannya? Aku tidak akan menurutimu, itu akan menjadi kejutan” Haeryeong terkikik , sepertinya ia mempunyai rencana sendiri dengan memberi kejutan kecil pada Myungsoo.

.

.

Chanyeol dan Gongchan mungkin merasa bahwa mereka benar-benar telah diabaikan oleh Sooyeon. Pasalnya walaupun tidak ada Myungsoo , Sooyeon akan tetap bersamanya dan menghabiskan waktu istirahat bersama. Namun kali ini mungkin Sooyeon tidak sadar jika kedua makhluk itu tengah memperhatikannnya di meja lain yang tak jauh darinya.

Sooyeon duduk bersama Henry dan memakan bekal makanan yang diberikan Henry padanya.

Sedangkan Chanyeol dan Gongchan sedang memandang bagaimana Sooyeon berbicara pada Henry dengan secangkir kopi.

Mereka dapat mendengar percakapan mereka namun tidak akan mengerti apa yang mereka bicarakan karena keduanya menggunakan bahasa inggris dalam berbicara.

“ Bukankah ini cukup membosankan?” gerutu Gongchan.

“ Kenapa kau mengikutiku anak kecil? Bahkan kau tidak masuk dalam kelompokku, jika tidak ada Myungsoo setidaknya ada Sooyeon, kenapa kau harus duduk di meja yang sama denganku ?” gerutu Chanyeol yang sebenarnya sedikit tidak terima karena Gongchanlah yang akhirnya menemaninya.

“ Aku disekitar kalian karena noona barbieku”

“ Jangan coba tertarik padanya, dia membahayakan”

“ Hahaha, Arayo”

“ Bukankah sangat sepi ketika  tidak ada celotehan gadis itu? Kenapa dia harus mengabaikannya?” gumam Chanyeol, dia memangku kepalanga pada sebelah tangannya dan tetap memperhatikan keakraban Sooyeon dengan Henry.

“ Begitulah…setidaknya aku tahu bagaimana perasaan kedua makhluk itu” imbuh Gongchan.

Chanyeol melirik Gongchan tajam, dia terlihat berfikir dan mencerna kalimat Gongchan .

“ Jeongmal? Mereka menceritakannya padamu dan tidak denganku?” protes Chanyeol dengan mata besarnya. Dia terlalu berlebihan.
“ itu bukan tipe mereka”

Chanyeol mendengus, benar juga…menceritakan perasaan mereka bukanlah gaya Myungsoo dan Sooyeon, ia telah salah faham.

Myungsoo berlari kecil ketika meliha Chanyeol tengah duduk di dalam kantin bersama Gongchan, ia ingin menyusul temannya itu dan memesan secangkir kopi sebelum masuk ke kelas.

Mata Chanyeol membelalak ketika melihat Myungsoo berjalan kearahnya, ia takut jika Myungsoo melihat apa yang dilakukan Sooyeon dengan Henry. Sebenarnya Sooyeon tengah duduk membelakangi mereka, wajar jika ia tidak sadar dengan keberadaan mereka. Dan mereka pun memilih diam.

“ Myungsoo_ya sebaiknya kita cepat ke kelas” ajak Chanyeol. Justru dia yang merasa khawatir dengan Myungsoo.

Gongchan hanya terkekeh melihatnya. Bagaimana mungkin Chanyeol bisa bertindak seperti ini, dia terlalu berlebihan dalam menanggapi kedua makhluk itu.

“ Shireo” tolak Myungsoo mentah mentah, ia memilih duduk dan menghadap ke arah yang sama dengan mereka.

Dan dari situlah ia bisa melihat punggung Sooyeon yang sedang berhadapan dengan Henry. Gadis itu tengah asyik memakan bekal dan mengobrol banyak hal dengan Henry tanpa tahu bebrapa orang di belakannya .

Myungsoo terkekeh, jadi karena ini Chanyeol memintanya untuk cepat kembali ke kelas?

“ Ahh..bukankah aku memintamu untuk cepat kembali ke kelas?” gerutu Chanyeol namun hanya dibalas senyum kecil dari Gongchan dan kekehan dari Myungsoo.

“ Lagi pula mereka hanya makan bersama” Gongchan memberi pembelaan.

Mata Myungsoo melebar ketika melihat Henry lagi-lagi mengacak lembut puncak kepala Sooyeon, dan Sooyeon yang tersenyum padanya. Sooyeon terlihat gembira bersama namja itu.

nappeun yeoja” Myungsoo terkekeh kecil.

.

.

Sooyeon segera membereskan wadah bekal yand disediakan Henry untuknya, ia sangat senang karena bisa memakan makanan kesukaannya ini, makanan yang membuatnya rindu dengan Amerika.

Ia segera meminta ijin untuk kembali ke kelas setelah bekalnya habis. Bukan Henry namanya jika ia tidak mengusap puncak kepala Sooyeon. Dan Sooyeon pun sangat terbiasa akan hal yang menjadi kebiasaan Henry sejak lama itu.

Sooyeon berbalik dan kali ini ia tengah terbatu ketika melihat segerombolan temannya ada di bangku yang ia belakangi, termasuk juga Kim Myungsoo. Dan mereka tengah memperhatikannya dari tempat duduk itu.

“ Ups_ Aishhhh Oppaaa” gerutunya.

Sedangkan ia segera menoleh pada Henry yang ternyata sudah tidak ada di tempat duduknya, ia memilih untuk lewat pintu samping bukan pintu utama kantin itu.

“ eoh…kalian masih disini?” Sooyeon berlari kecil menghampiri mereka, dengan cepat ia mengganti ekspresi terkejutnya menjadi seceria mungkin dan seolah ia tidak tahu apa-apa tentang apa yang telah mereka lihat.

Myungsoo terkekeh, Sooyeon memang selalu seperti itu.

“ eoh? Aku ingin kopi yang sama denganmu Husby” ucap Sooyeon kegirangan dan ia bersiap untuk berlari ke meja pesanan.

“ Tidak usah, minum saja milikku” cegah Myungsoo.

Chanyeol dan Gongchan merasakan aura merah dari Myungsoo. Sebagai sesama namja mereka dapat merasakan bahwa Myungsoo tengah terbakan api cemburu, dan mereka tidak mau membahas lebih akan hal itu. Karena mereka terlalu hafal sifat Myungsoo.

“ Noona, apa aku perlu menjemputmu nanti malam? Aku rasa Myungsoo tidak akan berangkat bersamamu” tawar Gongcchan.

“ Baiklah…kalian mempunyai rencana dan aku tidak termasuk di dalamnya” gerutu Chanyeol.

“ Hahaha…karena Haeryeong noona tidak mengenalmu Hyung” jawab Gongchan.

Sooyeon terlihat berfikir, ia mengingat bagaimana ia menemani Myungsoo untuk mencari kado disaan ulangtahun Haeryeong dan kali ini ia juga tidak berfikir bahwa Myungsoo mau memberinya tumpangan.

“ emh” Sooyeon mengangguk dan itu artinya Gongchan akan menjemputnya.

Selanjutnya Sooyeon meraih cangkir kopi milik Myungsoo dan membawanya pergi ke kelas, Chanyeol berlari kecil menyusul Sooyeon sedangkan Myungsoo masih terdiam karena Sooyeon malah memilih untuk berangkat bersama Gongchan dan tidak merengek bersamanya seperti biasa. Atau mungkin karena ini acara Haeryeong , gadis itu tidak berani melakukan apapun dan merengek padanya seprti biasa.

Myungsoo mendengus dan Gongchan dapat mendengar helaan nafasnya.

“ Tenang saja, aku tidak akan menjemputkan jika kau tidak mengijinkannya, bukankah kau suaminya? Apa hubungan kalian sedang retak? Kalian akan bercerai? Karena pihak ke-3. Ke-4? “ goda Gongchan, ia menepuk pundak Myungsoo lalu melangkah pergi menuju kelasnya.

Rasanya semua orang benar-benar kompak untuk membuatnya marah hari ini. Ia mengepalkan tangannya lalu menyusul Sooyeon dan Chanyeol ke kelas.

.

.

“ Tidak bisakah kau lebih cepat?”

“ Woaaa???” Sooyeon meloncat dari tempat duduknya, ia melebarkan matanya dan melongo karena ia terkejut.

Suara itu tiba-tiba saja muncul di rumahnya. Bahkan ini bukan lagi bayangannya, yang berdiri di pintu kamarnya adalah Myungsoo.

“ Hya…kau lupa ini rumahku? Kenapa seenaknya masuk ke rumah orang? Kau membuatku terkejut Husby” protes Sooyeon.

“ Jika dibanding denganmu, kau tetap yang paling sering melakukan ini”

Sooyeon terdiam, ia sadar diri kali ini, ia memang sering melakukan hal ini, keluar masuk ke rumah Myungsoo seenaknya, keluar masuk kamar Myungsoo seenaknya dan meminta makanan pada Ahn Ahjumma seenaknya. Bukankah dia tetangga yang beruntung?

“ apa Gongchan ada di luar?” tanya Sooyeon antusias, ia merapikan baju dan rambutnya.

“ Kau berangkat bersamaku, jadi segeralah hubungi Gongchan jika kau membatalkannya”

Sooyeon melongo, ia mengedipkan matanya beberapa kali, namun detik berikutnya ia sadar ia harus melakukan apa, menelepon Gongchan dan memastikan anak itu tidak menjemputnya.

“ Kau sangat aneh Husby” Gerutu Sooyeon.

“ Kkaja!” Myungsoo melangkah keluar . sedangkan Sooyeon tersentak dan iapun segera meraih tasnya, merapikan sedikit rambutnya dan buru-buru menyusul Myungsoo keluar.

.

“ Aishh…kita naik motor? Itu bisa merusak tatanan rambutku Husby….lebih baik Gongchan menjemputku dengan mobil” gerutu Sooyeon, pasalnya ia sengaja menata rambutnya agar terlihat lebih rapih.

“ Diamlah, ini bisa menutupi rambutmu, dasar cerewet” Myungsoo memberinya Helm.

Sooyeon melengos, ia menggerutu pelan pada Myungsoo. Meskipun sikapnya aneh akhir-akhir ini, tapi tetap saja sifat menjengkelkannya tidak bisa hilang begitu saja. Dia benar-benar menjengkelkan.

Sooyeon memakai helm itu dan naik ke boncengan, Myungsoo melirik singkat , memastikan Sooyeon sudah benar-benar naik di boncengan.

“ Kau siap?”

Sooyeon tidak menjawab, namun Myungsoo malah mengegas motornya dan membuat Sooyeon sedikit terpental. Akibatnya ia memegang erat jaket Myungsoo.

“ Hya! Tidak bisakah sifat menyebalkanmu itu kau kurangi sedikit Husby?”

“ Eoh…tidak masalah, kau masih tetap disekitarku walaupun aku menyebalkan bukan?”

Sooyeon terdiam, ia mengernyit lalu melepaskan pegangannya. Ia memukul pelan pundak Myungsoo dan beralih untuk berpegangan di badan motor.

.

.

Sooyeon turun masih dengan wajah yang kesal. Tatanan rambutnya benar-benar rusak karena ulah Myungsoo. Dia menyesal tidak meminta Gongchan yang menjemputnya. Myungsoo terkekeh pelan tanpa diketahui oleh Sooyeon. Ia meraih helm yang dipegang Sooyeon lalu mengacak rambut Sooyeon.

“ Hya! Husby!! Kim Myungsoo!! Kau ingin kita cerai?” ancam Sooyeon , tangannya segera merapikan rambutnya yang dibuat berantakan oleh Myungsoo.

Ia melirik tajam Myungsoo yang kini tengah tertawa. Namun detik berikutnya Sooyeon berhenti menatapnya tajam, ia sadar akan satu hal yang jarang sekali ia lihat.

Apa dia tertawa karenaku?  Itu yang ada di benaknya. Rasa marahnya luntur seketika, ketika melihat Myungsoo tertawa. Hal  yang jarang sekali bisa ia lakukan, membuat Myungsoo tertawa tulus karenanya.

“ Kau tertawa? “ Tanya Sooyeon lirih.

“ Wae?”

“ Ah…Any” Sooyeon segera memalingkan wajahnya, ia tahu saat ini hatinya tengah berbunga-bunga, untuk pertama kalinya ia melihat Myungsoo tertawa karenanya, ah…mungkin bukan pertama kali, hanya saja ia lupa kapan terakhir Myungsoo tertawa seperti itu karena dan kepadanya.

Kau tetap terlihat cantik gumam Myungsoo.

“ Eoh…Anyeong, Sooyeon_ah”

Suara itu menghentikan mereka berdua, Haeryeong sudah menyambut mereka, dan itu artinya mereka harus segera masuk ke dalam rumah.

Gongchan berhamburan mendekati Sooyeon. Ia sangat suka berdekatan dengan noona barbinya itu.

“ Waegeurae?” Gongchan menyentuh rabut sooyeon.

“ Dia pelakunya” Sooyeon mendesis pelan dan menunjuk Myungsoo yang kini tengah bersama Haeryeong.

“ Aku senang kau datang Sooyeon_ah, aku memasak yang special untuk malam ini”

“ Ah…ne….gomawo, aku merasa senang kau mengundangku”

Haeryeong menyiapkan tempat duduk Myungsoo. Malam ini bahkan Sooyeon pun terkagum karena Haeryeong terlihat cantik dengan gaun pink nya.

“ Kau seperti Barbie noona” bisik Gongchan yang seakan tahu bahwa Sooyeon tengah memperhatikan penampilan Haeryeong yang berbeda dengannya.

“ Jangan menghiburku” balas Sooyeon.

“ Eumhh…kau memang selalu seperti Barbie….tenang saja…aku akan selalu menjadi penggemarmu “

Sooyeon mengernyit lalu memukul kepala Gongchan pelan.

“ Jangan macam-macam padaku”

“ Istri Myungsoo sudah tidak berlaku lagi jika kau disini, jadi terserah aku”  goda Gongchan.

Sooyeon terdiam, memang benar yang dikatakan Gongchan. Ia melirik Myungsoo sekilas lalu Haeryeong. Saat itu ia menyesal kenapa hadir diantara mereka mala mini. Dia seperti menyiksa dirinya sendiri.

“ Cha!…sudah siap…mari kita makan”  Haeryeong mengangkat sendoknya.

Ia pun segera berdiri, meraih piring dan menuangkan nasi ke piring itu untuk Myungsoo.

Sooyeon hanya diam memperhatikan mereka, sedangkan Myungsoo memberi Haeryeong senyum simpul dan kembali duduk setelah mendapat piringnya.

Sooyeon beralih ke makanan yang tersedia di meja makan itu setelah mendapati Myungsoo melihat kearahnya, ia tidak ingin terlihat bahwa matanya tengah memerah, Jika sampai Myungsoo melihat mata itu, maka terbacalah apa yang ada di pikirannya saat ini.

Ia memperhatikan makanan itu satu persatu tanpa tahu makanan apa saja yang di sediakan, ia begitu asing dengan makanan-makanan itu. Ia terkagum karena semua yang ada di meja adalah hasil masakan Haeryeong. Ia tahu gadis itu sangat berbakat dalam bereksperimen dengan makanan. Jadi wajar jika saat ini ia tidak bisa memilih makanan apa yang ingin ia makan karena ia tidak kenal dengan makanan-makanan itu.

“ Ah..Sooyeon_ah..kau harus mencoba ini”

Haeryeong menuangkan masakan olahan jamur dan beberapa sayur hijau di dalamnya, dengan kuah yang lumayan menggiurkan.

Sooyeon menerimanya dengan senang hati, untunglah Haeryeong mau memberinya satu makanan yang setidaknya ia langsung memakannya tanpa berfikir lebih dulu.

Ia pun segera melahap makanan itu, ia tersenyum karena jamur itu terasa begitu lembut dan kenyal di mulutnya, ditambah sayuran yang ia sukai, selanjutnya ia mencoba kuah yang menggiurkan itu, kali ini ia sedikit berfikir dengan rasa kuah dari makanan itu, ia seperti hafal dengan rasa ini, ini tidak murni kuah dengan rasa jamur, hanya saja ia tidak bisa mengingat campuran apa yang ada di kuah itu.

“ Eotte?” tanya Haeryeong antusias pada Sooyeon.

“ Mashitta” jawab Sooyeon. Ia melempar senyum manisnya lalu melanjutkan untuk melahapnya. Ia berambisi untuk menghabiskan makanan yang diberikan Haeryeong padanya itu.

“ Kau juga harus mencobanya Myungsoo_ya”

“ Kau terus meminta orang lain memakan masakanmu noona, makanlah..” protes Gongchan yang tengah lahap dengan makanannya.

Haeryeong tersenyum, ia kembali meraih makanan yang menjadi menu specialnya malam ini, sama seperti yang ia berikan pada Sooyeon, ia juga memberikannya pada Myungsoo.

“ Makanlah yang banyak Myungsoo_ya” ucapnya lembut.

Myungsoo tersenyum dan mengangguk kecil.

“ Kau harus makan juga,,, aku akan memakannya “ ucap Myungsoo lembut.

Haeryeong mengangguk , barulah ia mengambil piringnya dan menyiapkan makanannya sendiri.

“ Eoh…aku_ingin ke_kamar mandi, mian.” Sooyeon tiba-tiba saja menghentikan kegiatannya, rasanya ia ingin segera ke kamar mandi, ada yang aneh dalam tubuhnya.

Haeryeong dan semua yang ada di meja makan itu hanya mengangguk. Dan melihat kepergian Sooyeon sekilas, lalu melanjutkan untuk menyantap makan malam mereka.

Myungsoo  akhirnya mencicipi sayur yang diberikan Haeryeong padanya, sayur yang sama dengan Sooyeon. IA juga terlihat berfikir setelah ia memakan sayur itu. Ia tahu rasa dari kuah ini.

“ Apa yang kau campur di kuah jamur ini?”

“ Ahh…eotte? rasanya lezat bukan? Aku memasaknya special untukmu, itu kejutan untukmu”

“ Apa yang kau campurkan? Aku tidak bisa mengenalinya karena dia tidak berbau”

“ hahaha…itu artinya aku berhasil…tapi kau mengenal rasanya bukan?”

“ Kau mencampur kerang-kerangan di makanan ini?”

“ Surpriceee!!!” Ucap Haeryeong antusias.

Myungsoo spontan melihat ke meja Sooyeon, gadis itu sudah hampir menghabiskan sayur ini.

“ Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak memasaknya?” Ucap Myungsoo dengan nada tinggi, ia terlihat marah dan khawatir.

Haeryeong terdiam, begitu pula Gongchan yang menghentikan kegiatannya.

Myungsoo segera meninggalkan meja makan dan keluar ruangan, ia menyusul Sooyeon di kamar mandi.

Gongchan sempat berfikir kenapa Myungsoo menjadi marah karena rasa sayur itu. Ia menatap kakaknya yang terbatu saat itu juga, karena ia tidak pernah melihat Myungsoo seperti itu sebelumnya.

“ Jangan –jangan_” Gongchan pun meninggalkan meja makan dan pergi keluar ruangan, ia mengikuti Myungsoo.

.

.

Sooyeon benar-benar merasakan perutnya bermasalah…rasanya benar-benar sakit dan mual. Bahkan ia sudah memuntahkan apa yang ada di perutnya, ia juga melihat kulitnya memerah, sama seperti saat ia alergi dingin. Ia mendengus karena ia baru sadar dan ingat rasa dari sayur itu, kuah itu ada campuran kerang. Wajar jika ia seperti ini. Kepalanya terasa pusing saat itu, ia tidak pernah seperti ini sebelumnya, terakhir ia alergi terhadap kerang adalah 3 tahun lalu. Setelahnya ia tidak pernah bertemu dengan makanan species itu.

“ Jung Sooyeon” Myungsoo sudah berdiri di belakangnya.

Sooyeon terkejut, ia ingin memprotes karena Myungsoo masuk begitu saja di kamar mandi wanita. Namun tenaganya terasa habis karena rasa mual dan pusingnya. Ditambah tubuhnya yang menjadi panas karena rasa gatal dankulit kemerahan menyerangnya.

“ Husby?_”

“ Sooyeon_ah!”

“ noona?”

Myungsoo menangkap tubuh Sooyeon yang hampir terjatuh. Ia benar-benar terserang alergi. Sooyeon sempat berusaha berdiri karena ia masih sadar. Namun dengan cepat Myungsoo menggendongnya dan meminta Gongchan untuk menyiapkan mobilnya.

Ia harus segera ke rumah sakit.

Haeryeong terdiam ketika melihat kedua namja itu dengan kekhawatiran mereka pada Sooyeon. Ia merasa bahwa saat ini ia terabaikan dan ia tidak ada diantara mereka, tidak ada yang melihatnya , bahkan ketika Myungsoo membawa Sooyeon ke dalam mobil dan Gongchan mengambil alih kemudi.

“ Apa yang mereka lakukan? Apa yang kulakukan? Heuh?” ucapnya lirih.

Bahkan ia merasa hatinya sangat sakit ketika Myungsoo berkata tinggi dan tergopoh untuk melihat Sooyeon, ia benar-benar khawatir dengan keadaan gadis itu.

.

.

Sebuah mobil terparkir dengan kasar di tempat parkir. Tak lama kemudian sang pemilik keluar dan dengan langkah terburu-buru ia masuk ke dalam rumah sakit, ia segera menuju resepsionis dan bertanya di ruangan mana Sooyeon dirawat.

 

Ia memelankan langkahnya ketika melihat sosok Myungsoo yang duduk di depan ruangan itu. Ia menggenggam tangannya kuat lalu segera mendekatinya.

Myungsoo mendongak ketika merasa ada seseorang yang berdiri di depannya.

Segera setelah ia mendongak Henry menarik kerah bajunya dan..

BUK

BUK

Myungsoo terpental, tubuhnya jatuh kembali di kursi.  Chanyeol yang juga baru saja datang segera berlari dan menahan Henry untuk lebih parah memukul Myungsoo.

Henry melepaskan kasar tangan Chanyeol.

“ Apa yang kau lakukan padanya? Kau bahkan sama sekali tidak bisa menjaganya”

Myungsoo terdiam, ia menunduk lalu menyentuh ujung bibirnya yang memar kebiruan setelah tinjuan Henry.

“ Chogio, adakah diantara kalian yang kenal dengan pasien?”

Henry melangkah mengikuti sang suster, namun matanya masih menatap Myungsoo tajam.

Chanyeol yang melihat Myungsoo segera menenangkan sahabatnya itu.

“ Gwenchana?”

Myungsoo mengangguk kecil.

“ Apa yang terjadi? Gongchan menghubungiku untuk ke tempat ini”

Myungsoo meraih pundak Chanyeol dan ia membantunya berdiri. Selanjutnya Chanyeol hanya mendapat jawaban dengan langkah Myungsoo  yang menjauh darinya.

Ia mengerutkan keningnya, ia melirik singkat ruangan itu , sudah ada Henry yang bersama Sooyeon. Setidaknya ia harus memastikan keadaan Myungsoo yang terlihat buruk setelah Henry memukulnya.

Ia ingin mengorek kejelasan dari Myungsoo.

.

.

Sudah cukup lama Chanyeol menemani Myungsoo di kantin rumah sakit, Bahkan Myungsoo sudah menghabiskan 4 cangkir kopi dan ia masih memegang 1 cangkir kopinya.

“ Kau tidak tahu dia alergi kerang-kerangan?”

“ Ara”

“ Lalu? Kau tidak mencegahnya? Kau tahu dia tidak pernah peka terhadap makanan walaupun dia sering mencium baunya”

“ eoh… “

Myungsoo menyandarkan punggungnya di dinding.

“ Haeryeong mengolahnya dan membuatnya tidak berbau, dia memakannya sebelum aku memakannya”

Chanyeol menepuk pundak Myungsoo.

“ Jangan terlalu merasa kau yang bersalah, kau sendiri tidak tahu jika makan itu ada campuran kerang”

Myungsoo diam tidak menanggapi Chanyeol. Ia terlihat berfikir dan begitu khawatir, namun setelah kedatangan Henry ia menjadi ragu untuk masuk ke ruangan itu dan melihat keadaan Sooyeon.

“ Ini pernah terjadi 3 tahun lalu, ia sendiri dan hanya ada aku dan Ahn Ahjumma yang di dekatnya. Gadis itu menahan alerginya setelah ia makan kerang yang dimasak Ahn Ahjumma untukku, tidak ada yang tahu dia alergi dengan beberapa hal , sampai esok hari Ahn Ahjumma melihatnya tidak sadarkan diri di rumahnya. Sejak saat itu, walaupun dia tidak pernah mengatakannya, aku memutuskan untuk tidak makan kerang dan Ahn Ahjumma tidak pernah memasakkannya untukku. Dia sangat menyayangi Sooyeon, dia juga merasa bersalah saat itu karena memaksanya untuk mencicipi resep barunya. Sejak saat itu kami memutuskan untuk hanya memasak makanan yang sehat untuknya”

“ Kau menyesalinya?”

“ neomu…dia tahu aku membenci rumah sakit tapi dia membuatku kembali ke rumah sakit saat dia seperti ini”

“ Kau mencintainya Kim Myungsoo?” kalimat itu keluar begitu saja dari Chanyeol. Dan kali ini ia tidak perduli jika nantinya Myungsoo akan melemparnya.

“ Itu artinya doaku terkabul haha.” Chanyeol melebarkan matanya, ia begitu bersemangat dan akhirnya mendapat tatapan tajam dari Myungsoo.

“ Baiklah…mian”

“ Eoh..sebaiknya kau melihat keadaannya, bersembunyi bukanlah sifat Myungsoo yang kukenal, datanglah sebagai Husbynya…sepertinya dia tidak bisa lama bersakit seperti ini, dia tidak akan bisa meninggalkan kecerewetannya”

Myungsoo terkekeh, ia mengangguk pelan. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaannya setelah kembali menginjakkan kaki di rumah sakit. Rumah sakit yang mengingatkannya pada kedua orang tuanya. Dan 2 kali Sooyeon membuatnya kembali memutar rasa traumanya. Kali ini ia benar-benar tidak ingin Sooyeon mengalami keadaan yang sama dengan eommanya.

Sungguh hatinya benar-benar nyeri melihat Sooyeon kembali tergeletak ke rumah sakit karena masalah sepele yang bernama Alergi i tu.

.

.

Sooyeon tersenyum melihat Myungsoo muncul di depannya, Sebelumnya ia sudah meminta Henry untuk tidak ikut campur dengan Myungsoo. Mengingat banyak pasien yang juga berada di ruangan yang sama dengannya. Ia juga meminta Henry untuk tidak terlalu panik dengan alerginya ini, ini sudah biasa terjadi padanya, hanya saja untuk alerginya pada kerang adalah sesuatu yang special sehingga membuatnya separah ini. Henry memutuskan untuk keluar ruangan dan memberikan Myungsoo kesempatan untuk melihat keadaan yang disebabkannya.

“ wae? Kenapa dengan wajahmu?”

Myungsoo diam tidak menjawab, tidak mungkin ia mengatakan bahwa itu adalah ulah Henry.

“ Kebiasaan burukmu selalu menyebabkan masalah” ucap Myungsoo.

Sooyeon merengut, ia memicingkan matanya tajam pada Myungsoo. Bisakah dia berkata sedikit lembut padanya?

“ Mian…, lagi pula ini tidak separah itu, aku bisa pulang ke rumah besok pagi” ucap Sooyeon .

Myungsoo menatap Sooyeon sendu, Sooyeon selalu bersikap seolah dia baik-baik saja meskipun dalam keadaan sakit. Dan dia tidak bisa berkomentar banyak tentang hal ini.

“ Apa kau akan menginap di sini? Eoh…kau mencoba bersikap romantis padaku Husby?” Sooyeon mengedipkan matanya , bibirnya melengkung dan bermaksud menggoda Myungsoo.

Ia ingin setidaknya mencairkan suasana dan wajah menyebalkan dari Myungsoo. Ia tahu jika memar di ujung bibir Myungsoo adalah ulah Henry. Pria itu tidak mungkin membiarkan keadaannya buruk seperti ini. Wajar jika emosinya meledak saat ia tahu ia terbaring di rumah sakit hanya karena alerginya kambuh. Jika di Amerika, semua orang bisa menjaga makanannya, sudah menjadi rahasia umum jika dia alergi dengan kerang dalam bentuk apapun. Hanya saja di sini bukanlah tempatnya untuk bermanja dan merepotkan orang-orang disekitarnya yang bukan keluarganya.

“ Kau selalu percaya diri, aku akan menunggu sampai 1 jam , Ahn Ahjumma akan curiga jika aku kembali lebih cepat”

Sooyeon mengangguk, selanjutnya ia mengalihkan pandangannya . Ia tersenyum kecil karena yang dimaksud Myungsoo adalah dia akan menemani Sooyeon sampai ia tertidur. Sudah menjadi kebiasaan Myungsoo jika ia tidak mungkin mengatakan niatnya secara langsung.

“ Hentikan pikiran anehmu itu” ucap Myungsoo yang sukses membuat Sooyeon melengos.

Dia selalu bisa membaca pikiran Sooyeon.

“ Kau selalu menyebalkan, lihat saja aku akan meninggalkanmu dan aku akan mengabaikanmu, aku akan tidur dan membiarkanmu” ancam Sooyeon yang sama sekali tidak berpengaruh pada Myungsoo.

Pria itu terkekeh .

“ Sudah kewajibanmu untuk segera istirahat Jung Sooyeon”

Sooyeon terdiam, dia memicingkan matanya dan mendengus pelan. Selanjutnya ia memutuskan untuk memejamkan matanya, ia terpengaruh obat yang baru diberikan perawat padanya. Memang seharusnya ia segera tidur, dan mengabaikan Myungsoo yang menyebalkan itu.

Tidak butuh waktu lama untuk membuat Sooyeon pulas. Kini ia sudah melayang di dunia mimpinya. Myungsoo yang tersadar bahwa Sooyeon dengan cepta tertidur hanya terkekeh. Bahkan saat dia sehat pun ia bisa dengan cepat tertidur di manapun tempatnya.

Tangan Myungsoo perlahan membelai rambut Sooyeon. Ia menyisihkan rambut yang menutupi keningnya dan mengusap keringatnya. Itu artinya obat Sooyeon bekerja dengan baik.Dan tanpa ia sadari, kepalanya perlahan turun dan mendekati wajah Sooyeon.

Chu.

Ia mencium kening Sooyeon lembut lalu melepaskannya setelah 5 detik ia menciumnya.

Ia membenahi selimut Sooyeon lalu melangkah pergi dari ruangan itu. Ia tidak bisa menemani Sooyeon dan tidak ingin membuat Ahn Ahjumma khawatir padanya. Lagi pula ia tidak mungkin menemani Sooyeon selama Henry ada di sampingnya.

Ia cukup tahu keadaan dan menghindari emosi Henry yang memuncak, ia sadar jika ia lalai menjaga Sooyeon.

.

.

Sooyeon membuka matanya perlahan , dan entah kenapa wajah pertama yang ia lihat adalah sosok Na Haeryeong.

“ Anyeong” sapa Haeryeong segera setelah Sooyeon benar-benar mengumpulkan nyawanya.

“ Ah Ne” Sooyeon berusaha mengangkat tubuhnya dan duduk.

“ Tidak perlu memaksakan diri, aku hanya ingin melihat keadaanmu, dan kudengar kau sudah membaik dan bisa pulang pagi ini”

Sooyeon mengangguk.

“ Aku sungguh menyesal karena  aku tidak tahu kau alergi dengan kerang, aku hanya ingin membuat kejutan untuk Myungsoo karena kerang adalah makanan kesukaannya, dia mengatakan sudah lama tidak memakannya, jadi aku membuat menu spesial untuknya, jika aku tahu mungkin aku tidak akan memintamu untuk memakannya”

“ Ah…Gwenchana…tidak ada yang tahu aku alergi kerang, termasuk Myungsoo”

Haeryeong tersenyum kecil. Di otaknya kini ia tengah berfikir, ia memutar kembali dimana Myungsoo memang memintanya untuk tidak menyediakan kerang dalam bentuk apapun, dan saat melihat Sooyeon terbaring, ia menyimpulkan Myungsoo tahu alergi Sooyeon. Namun dengan keterangan yang diberikan Sooyeon saat ini, membuatnya semakin bingung, mungkinkah Sooyeon tidak tahu jika Myungsoo tahu alerginya?
“Benarkah?”

“ Mian…aku mengacaukan makan malammu”

“ tidak apa-apa, aku hanya mengundang kalian sebagai bentuk perayaanku karena akhirnya aku kembali ke Seoul”

DEG

Sooyeon membuka matanya lebar, saat ini ia tidak tahu harus menanggapi apa. Haruskah ia menunjukkan rasa terkejutnya?

Perlahan bibirnya melengkung keatas, ia memaksakan senyumnya dan dengan cepat membuat wajah ceria .

“ Chukkae” ucap Sooyeon.

“ Aku ingin bersama Myungsoo, dan mungkin aku akan mengambil universitas yang sama dengannya, dengan begitu kami bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama”

Sooyeon masih mempertahankan wajahnya untuk tidak lebih shock dan kaget lagi.

Baiklah…ini saatnya kau berakhir Sooyeon.

.

.

Henry menatap keanehan pada wajah Sooyeon, sejak kepergian gadis bernama Haeryeong dari ruangannya ia menjadi sedikit pendiam. Mungkin sekilas dia baik-baik saja, namun jika itu adalah Henry…dia tidak mungkin terlihat baik-baik saja. Ia tahu ada yang ada di pikiran Sooyeon yang saat ini mengganggunya.

“ Baiklah…apa ini pertanda kau akan menyerah tinggal di Seoul? Kau akan kembali setelah ujian kelulusanmu berakhir? Bukankah hanya menghitung bulan?”

Sooyeon segera memincingkan tatapannya pada Henry yang kini tengah menata tempat tidurnya.

“ Sudah menjadi kewajibanmu menjaga pasien sepertiku untuk istirahat dengan baik, bukan membuatnya semakin tertekan”

“ Benarkah? Sepertinya memang hanya aku yang bisa menjagamu dengan baik”

Sooyeon terdiam, mungkin benar apa yang dikatakan Henry. Jika Haeryeong benar-benar kembali itu artinya ia tidak perlu lagi berada di sekitar Myungsoo. Bukankah niat awalnya ia hanya ingin Myungsoo tidak merasa kesepian karena ditinggalkan oleh orang-orang yang ia kasihi. Jika Haeryeong kembali tugasnya mungkin sudah selesai, dan ia setidaknya bisa melakukan hal yang seharusnya ia lakukan pada Oppanya dulu  dengan Myungsoo.

“ Kau mulai berfikir Nona Jung?”

“ Kita lihat nanti Mr Henry, masih ada beberapa bulan untuk memutuskannya”

Henry terkekeh, ia mengacak rambut Sooyeon lalu memintanya beristirahat sebelum ia keluar dari rumahnya. Ia pun harus segera ke sekolah untuk mengisi jam pelajarannya.

Haruskah aku kembali? “

“ kenapa begitu sulit mengatakan ini?”

Dia tidak mencintaiku, aku tahu itu. Dan aku yang bertindak seolah aku tanpa menyerah mengejarnya, aku juga tidak tahu kenapa seperti itu. Aku yang mencintainya, aku yang bertindak seolah aku adalah kekasihnya, aku benar-benar tidak tahu apa yang kuperbuat, setelah kuingat… mungkin aku hanya melakukan seperti apa yang kujanjikan , mungkin hanya itu… selebihnya mungkin aku melakukan kesalahan karena telah berani mencintainya terlalu dalam, mian “

Sooyeon menutup wajahnya dengan tangan. Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa ia benar-benar merasa sakit dalam hatinya. Dan ingin menumpahkan air matanya.

 

TBC

59 thoughts on “Just Stay Beside Me|| Six

  1. Saaakiiiit . Sumpah sakit. Gak kebayang sakitnya jadi Jessica😦 ffmu bagus bgt Thor, bikin para pembaca terhanyut dan ngerasain sakitnya perasaan para castnya😮 Keren gila ffmu ! Keep writing😀 btw, i love your cast, myungsica😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s