Freelance] The Waterfall (OneShot)

PicsArt_1413456665403

Judul                     : THE WATERFALL

Author                  : puchanli

Length                  : Oneshot

Genre                   : romance, sad??

Rating                   : T

Main cast             : Jessica Jung & Kris Wu

Disclaimer           : Semua nama yang disebutkan di bawah 100% milik Tuhan dan orangtua masing-masing. Namun alur cerita adalah murni dari pemikiran saya, jika ada kesamaan alur/ cerita adalah kebetulan dan tidak disengaja. Dimohon untuk memberi komentar karena tiap masukan dari Anda sekalian sangat berarti buat saya > w<)/

Author’s Note   : Adanya typo dan/atau penulisan kalimat yang sulit dimengerti adalah hal yang perlu dimaklumi hehehe.

[This fanfiction was on my personal blog earlier (http://shnwfn.wordpress.com/2014/10/27/the-waterfall/)%5D

HAPPY READING ^-^)

 

Suara air mengalir yang bertabrakan dengan batu sungai menjadi alunan musik yang menjadi favoritnya. Ditambah lagi dengan aroma khas dedaunan oak yang terus membuatnya teringat akan sebuah kenangan manis yang tak akan pernah ia coba untuk lupakan. Angin membelai lembut kedua belah pipinya yang kencang dan meninggalkan jejak kerinduan tatkala ia mencoba menutup matanya.

Adalah Jessica Jung, yang kini tengah berjalan beriringan bersama seorang lelaki muda yang menggamit tangan kanannya. Keduanya melenggang menyusuri rerumputan yang basah di pinggir sungai. Membiarkan kaki-kaki mereka bersatu dengan alam yang beberapa menit lalu telah terguyur gerimis yang syahdu.

Sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi keduanya untuk mengunjungi tempat di sekitar sungai kecil ini. Meskipun terkadang terdengar pilu, tetapi Jessica tetap bersikeras untuk datang kemari. Walaupun sekedar hanya untuk melepas kerinduan.

Aku kembali, hati Jessica bergetar ketika kini di hadapannya tampaklah berliter-liter air mengalir deras dari atas.

Air terjun. Itulah tujuan utama Jessica setiap kali datang kemari. Sebuah tempat yang selalu menjadi pilihannya ketika hatinya tengah bersedih. Ketika ia terluka, melodi yang ditimbulkan aliran air dari atas menjadi jawaban atas masalahnya.

Jessica melepas genggaman lelaki tadi dan membiarkan dirinya duduk di atas batu besar yang telah ia nobatkan menjadi tempat duduknya setiap kali ia ke air terjun ini. Ia biarkan kedua kakinya tercelup dalam aliran sungai di dekat air terjun, menyebabkan hawa sejuk yang langsung menyerbak menyerangnya. Ia menutup kedua matanya, membiarkan angin meniup rambut curly-nya.

Kala itu…

“Jangan mencoba membuka mata ya, arasseo?” pinta seorang lelaki yang berjalan mendorong Jessica dari belakang. “Kita akan segera sampai.”

Arasseo,” Jessica tetap menutup matanya dan berjalan dengan berhati-hati melalui jalan kecil menuju ke suatu tempat.

“Sica, apa yang akan kau lakukan jika aku tiba-tiba berlari dan meninggalkanmu?” suara berat itu kembali mengajukan pertanyaan.

Jessica tertawa tawar. “Kau tidak akan melakukannya. Aku percaya padamu.”

Terdengar sebuah gumaman dari belakang yang diikuti oleh genggaman kedua tangannya di pundak Jessica. “Nah, sekarang bukalah matamu,” ia berbisik tepat di telinga kanan Jessica, membuatnya merinding dan merasa geli. Namun Jessica tetap menurutinya dan membuka kedua matanya.

Hanya bentuk bibir O sempurna dan kekaguman yang luar biasa yang menjadi reaksi pertama Jessica, ketika dilihatnya, tepat di depan matanya, sebuah pemandangan menakjubkan dari derasnya air terjun. Bukan hanya tingginya air terjun yang menarik perhatiannya, namun beberapa balon yang diikatkan di berbagai batang pohon dan sebuah kain merah muda yang dibentangkan dari pohon satu ke pohon lain dengan sebuah permohonan yang sangat manis: Will you marry me, Jessica Jung?

Jessica membalikkan badannya ke arah pemuda di belakangnya. Bibirnya masih membentuk huruf O yang kemudian diikuti sorotan mata bahagia yang bercampur ketidakpercayaan. “Kris, kau…?”

Adalah Kris Wu, seorang pemuda matang yang telah menjalin kasih bersama gadis muda di depannya, yang sudah menata semuanya untuk sang gadi seorang, mengangguk dengan senyuman manisnya. Ia berjalan mendekat, “tentu saja aku serius.” Ia melengkapi, bahkan sebelum Jessica sempat menyelesaikan kalimatnya. “Jadi…? Bagaimana?” Matanya berkedip beberapa kali, mencoba membuyarkan lamunan Jessica untuk segera membalas permintaan manisnya.

Dengan sekuat tenaga Jessica menahan perasaannya yang tiba-tiba membuncah, namun usahanya untuk membuat butir-butir permata tidak menitik dari pelupuknya pun gagal. Jessica mulai mengharu biru, diraihnya raga Kris dan memeluknya erat. Sedangkan yang dipeluk hanya bisa tersenyum penuh syukur melihat reaksi yang benar-benar telah diharapkan.

Jessica kembali membuka matanya. Di depannya masih air terjun yang sama, namun tanpa permintaan manis dari lelaki dalam bayangnya. Diputarnya kepalanya ke arah selatan, sebuah pohon oak besar berdiri kokoh tak jauh darinya. Memorinya kembali terulang.

Masa itu…

“Kris, menurutmu apa nama yang terdengar bagus?” Jessica mengelus lembut alis tebal Kris yang kini tengah berbaring di pahanya. Di bawah pohon oak yang teduh itulah tempat favorit keduanya untuk menghabiskan waktu menunggu matahari tenggelam.

Kris membuka matanya dan kini tampaklah wajah cantik istrinya yang tengah tersenyum ke arahnya. “Kita belum tahu apakah dia laki-laki atau perempuan,” tangannya bergerak mengelus perut bawah Jessica yang kian hari kian membesar.

“Tapi kita tetap harus mempersiapkan nama untuk mereka,” Jessica tetap bersikeras dengan mengerucutkan bibirnya dengan manja.

Kris tertawa, ia harus akui bahwa wajah manja itulah yang menjadi kelemahannya. Ia bersumpah ia tidak akan pernah bisa menggantikan wajah itu dengan apapun di dunia ini. Baginya wajah itu adalah hidupnya, dunianya, perhiasannya. Dan hanya dia yang beruntung mempunyai wajah itu sebagai pemandangan setiap harinya, wajah istrinya, Jessica Wu.

“Baiklah,” Kris bangkit untuk duduk dan melayangkan pandangannya ke arah air terjun di dekat mereka. “Kalau dia laki-laki akan kita namai Kris Junior dan jika dia perempuan akan kita namai Jessica Junior.”

Yaa! Bukan seperti itu,” Jessica memukul lengan atas Kris.

Jessica tersenyum tatkala ia seolah melihat dirinya dan pemuda itu di bawah naungan pohon oak dari dimensi yang berbeda. Namun senyumnya kemudian meluntur seperti dibawa oleh hujan ketika kemudian matanya tertuju di ujung atas air terjun yang tak henti-hentinya mengguyurkan sekian volume air yang kemudian mengalir sungai di bawahnya ke anak sungai berikutnya.

Waktu itu…

“Aku akan segera pulang,” Kris membenarkan kembali seragam perangnya dengan gagah. “Kau tetap di sini bersama anak kita.” Ia memeluk erat istrinya yang kini tengah hamil tepat 9 bulan.

Jessica tidak membalas, terlalu sedih untuk mengucapkan sepatah kata. “Apapun yang terbaik, semoga kau cepat kembali dan kita akan di sini menanti kelahiran anak kita dan hidup bahagia selamanya.” Air matanya mengalir lembut menyusuri pipinya.

Buru-buru Kris menghapusnya dengan ibu jarinya. Ia tersenyum dengan sorotan mata kasih sayangnya. “Aku akan segera kembali, aku berjanji.” Ia melayangkan sebuah ciuman hangat untuk Jessica, yang kemudian suara tegas langkah sepatu botnya terdengar menjauh bersamaan dengan lambaian dan senyuman manisnya.

Bukan merupakan tugas yang ringan bagi Kris Wu, satu dari ratusan prajurit muda yang terpilih untuk mengikuti perang melawan pemberontak. China dalam keadaan genting, dimana banyak pemberontak yang ingin melakukan gerakan separatisme dengan melepaskan diri dari kekuasaan China. Pemerintah China mulai melakukan reaksi atas aksi-aksi anarkis yang dilakukan oleh para pemberontak. Maka, dengan tegas pemerintah meluncurkan 3 pasukan khususnya untuk membantu menenangkan suasana. Untuk menyelesaikan masalah yang tengah terjadi dan menjadikan China kembali bersatu.

Maka sebagai pemuda China yang terpilih, berangkatlah Kris Wu bersama pasukan yang lain. Bukan hanya karena dirinya adalah ketua tim dan rasa cintanya pada tanah air, namun juga karena ia sangat mencintai istrinya dan berharap bisa memberikan hasil terbaiknya yang ia persembahkan untuk keluarga dan bakal buah hatinya yang masih dalam kandungan.

Di dekat air terjun itulah Kris bertugas, siasat perang dan trik lawan dilaksanakan dengan melakukan penyamaran di hutan tropis di sekitar air terjun. Dengan modal senjata lengkap dan tekad yang kuat, Kris mengangkat shotgun-nya dan mulai memberikan perjanjian untuk damai sebelum terjadi pertumpahan darah di antara keduanya.

Pasukan pemberontak bukanlah anak-anak berusia 8 tahun yang akan langsung menuruti permintaan mereka. Dengan berbekal tekad yang kuat untuk melepaskan diri dari China, mulailah peperangan yang kemudian menjadi peristiwa yang akan dicetak dalam sejarah.

Sebagai seorang ketua tim yang tegas, Kris tidak saja meminta pasukannya untuk tetap tenang, namun juga meminta mereka untuk menuruti perintahnya. Strategi telah ditetapkan namun kedisiplinan tampaknya menjadi masalah yang terjadi. Pasukan mereka tidak lekas datang, ketika tiga bawahan Kris telah tewas di tangan para pemberontak. Tatkala Kris mulai memerintah pasukan yang lain untuk datang, musuh telah muncul berhamburan dengan senjata seadanya yang ada di tangan mereka.

Pertempuran mulai sengit ketika pasukan pembela datang sementara Kris telah terseok dengan kakinya yang tertembak. Meskipun secara persenjataan ia lebih mungkin menang, tapi apa dayanya jika satu banding puluhan orang? Belum sempat tim medis datang, sebuah serangan kembali menyerangnya. Kris terjerembab, menyebabkan wajah tampannya berlumur darah dan badan atletisnya yang semula berbalut seragam lengkap telah robek tak beraturan.

Nyaris ia berhasil meraih senjatanya ketika kemudian sebuah peluru diluncurkan dan melesat tepat mengenai dada kanannya, ia masih sempat bernafas meskipun darah tak henti-hentinya mengucur. Pasukannya segera mencoba melindungi sang ketua, namun dorongan peluru dalam tubuhnya membuatnya tersungkur dan jatuh. Tubuhnya jatuh dari atas, bukan terhempas di atas tanah, namun aliran sungai-lah yang menjadi letak geografis jatuhnya sang ketua tim Kris Wu. Sungai yang menjadi aliran penerus dari air terjun yang secara tidak langsung menjadi bagian dari hidupnya. Pada saat itulah, berakhir sudah riwayat hidup sang pahlawan, Kris Wu.

Dada Jessica terasa nyeri, ketika dilihatnya kembali air yang mengalir deras dari atas. Ia tak akan pernah sanggup membayangkan sosok suaminya yang telah roboh dari atas air terjun sana. Matanya terasa perih, hatinya tersayat pedih, tatkala kembali teringat surat terakhir yang tak sengaja ia temukan dari saku seragam-seragamnya yang tertatap rapi di almari rumah mereka.

Dearest Jessica Wu,

Jika pada saatnya kita harus berpisah, percayalah padaku bahwa kita tidak benar-benar berpisah.

Jika pada saatnya kita harus berhenti mencintai, percayalah padaku bahwa aku tidak akan pernah berani melakukannya.

Jika pada saatnya kita harus menutup mata kita untuk yang terakhir kali, percayalah padaku bahwa cinta kita tetap hidup dalam diri kita masing-masing.

Jika kelak kita memang tidak akan pernah bisa bertemu, berjanjilah padaku jangan buang waktumu untuk menyesalinya, karena aku sangat senang membela negara ini. Berjanjilah padaku untuk tidak membiarkan dirimu tenggelam dalam kesedihan. Berjanjilah padaku untuk tetap bahagia; carilah lelaki lain yang akan membuatmu merasa bahagia, lebih bahagia dari saat bersamaku. Dengan begitu, aku akan sangat senang dan bersyukur, bahwa aku tidak meninggalkan seorang wanita menangis atas kepergianku.

Yours truly,

Kris Wu

Tangis Jessica pecah dalam sunyi, menghanyutkan seperti aliran air sungai. Matanya tak kunjung berhenti mengalirkan tiap tetes bulir dari sudutnya. Sesegera mungkin ia usap pipinya yang basah.

Saat ini…

Sudah genap 5 tahun setelah kepergian sang pahlawan dalam hidupnya, Jessica masih belum bisa menerimanya. Entah mengapa rasanya lebih sulit dari yang ia bayangkan. Meskipun Kris sendiri telah memintanya untuk tidak bersedih dan menyesal. Namun ia benar-benar tidak bisa melakukannya. Bayang-bayang lelaki itu terus menghantuinya, meninggalkan seberkas cahaya kerinduan tatkala ia merasa jenuh. Dan hanya satu orang yang memiliki karisma yang sama dengannya.

Lelaki berkemeja kotak-kotak merah yang tengah bermain dengan air sungai itu membalikkan badannya dan menatap mata Jessica dalam-dalam. Jessica tersenyum kepadanya dan melambaikan tangannya.

Oh Tuhan, anak itu benar-benar sangat mirip dengannya.

Lelaki itu berdiri dan menghambur ke Jessica dan kemudian memeluknya. Matanya yang berbinar menangkap sorotan mata Jessica yang sembab, “Eomma menangis lagi? Jangan menangis, eomma. Aku yakin appa pasti melihat kita bahagia.”

Entah sebuah keajaiban, atau memang itu yang muncul dari pikiran bocah berumur 5 tahun di depannya itu, Jessica tertegun mendengarnya. Sesegera mungkin ia tersenyum dan memeluk anak itu erat-erat. Lelaki yang paling berharga dalam hidupnya, buah cintanya dengan Kris Wu yang lahir dari rahimnya, anak laki-laki yang akan terus menenami hidupnya.

Kris, aku sudah menemukan lelaki yang akan menggantikanmu melalui hari-hariku setelah kepergianmu. Dia lelaki yang kuat, dan benar-benar akan menjadi sekuat dirimu kelak. Usianya masih 5 tahun tapi dia memiliki segalanya yang berasal darimu. Dia belum pernah bertemu denganmu tapi dia mengenalmu lebih baik dari siapapun. Dialah anak kita, Kris, anak pertama dan terakhir kita! Kris Junior-mu ini akan sangat senang jika kita memanggilnya Sehun, Sehun Wu. Ucapkan salammu pada putramu, Kris Wu.

 

-The End-

 

20 thoughts on “Freelance] The Waterfall (OneShot)

  1. Ahhh… Nangis bacanya, Eon. Meninggalnya Kris ngenes banget😥 Kasihan Jessica Eonnie. Membesarkan anak seorang diri. Wuaaa… Kris dan Jessica berakhir gitu aja, Eon? Aaa… Kris jangan meninggal. Ayo hidup laggiii… *plak*

  2. oh tuhan…hiks thor hari kau bkin q nangis skaligus trharu ff mu bner2 feel & mnyentuh bget. ksian y sehun blum prnh ktemu,coba gmn kuatnya jessi saat mlhirkn tnpa khdiran kris & tiba2 mlah mndpat brita kmatian? gk kbyang sm diri sndiri. good job sm ff mu thor.
    ditgu ff mu lainnya…

    • *sodorin tisu yang banyak*
      sehun itu suami aku juga tau ups. sehun sama kris kan bias aku, jadi pengin aja jadiin sehun anaknya kris, habis mereka sekilas rada mirip heuheu
      iya makasih yaa😀

  3. Hiks..hiks…hiks #nangisbarengsica 😭
    duh…kasihan sica eonnie ditinggal sma kris….mana kris meninggal’a tragis banget lg…
    Huwaa…aku gk tau mau ngoment apa lg saking sedih’a
    btw nice ff thor….seperti yg lain aku juga butuh sequel thor 😊

    • *ikutan nangis bareng*
      iya makasih yaa hehe😀
      seperti yang lain juga, kalo ada ide yaa :””D masalahnya aku bingung mau dilanjut gimana, soalnya dari awal emang mau bikin sad ending heuheu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s