[Freelance] You Change My World (oneshot)

littledevilreq-copy

  • Judul : You Change My World
  • Author : Littledevil
  • Rating : G
  • Length : oneshot
  • Genre : romance
  • Main Cast : Jung Jessica and G-Dragon
  • Support Cast : find out in story
  • Disclaimer : pernah di post di wp pribadi aku elgaalifqiah.wordpress

Littledevil

Present

A fanfiction titled You Change My World

Starring by Jung Sooyeon and Kwon Jiyong

.

.

Enjoy this crazy fiction everybody

.

.

 

“I never thought that we’ll taking this path of life. What should I do? Everything’s so scary in front of my eyes”-Sooyeon

 

Sooyeon POV

Aku menghela napas panjang, mencoba menetralkan emosiku. Pasien yang sedang duduk didepanku saat ini benar-benar membuatku ingin mencincangnya.

“Aku jelaskan sekali lagi Kwon Jiyong-sshi. Kemungkinanmu untuk sembuh masih lumayan besar. Berhentilah bertingkah seakan-akan kau akan baik-baik saja selamanya. Jadi turiti perkataanku. Minum obatmu secara teratur dan jangan lakukan semua hal yang dapat membuat penyakitmu bertambah parah dan lakukan kemoterapi. arasso??” aku mencoba menasehatinya lagi. Entah sudah berapa kali aku melakukan hal ini, aku malas menghitungnya.

“Arayo. Geundae.., aku tidak ingin melakukannya.” Katanya santai. Mwo??

“Lalu apa maumu??” Amarahku sudah benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi.

“Yak, kenapa kau marah padaku?? Semuanya terserah padaku. Aku yang menjalaninya bukan kau. Lagipula kenapa kau harus pusing memikirkanku??” Mwo?? Kenapa aku harus pusing memikirkannya?? Dasar pabo.

“Neon paboyo?? Bukankah kau seorang direktur??”

“Yak, atas dasar apa kau menyebutku pabo??”

“Lalu kenapa kau bertanya kenapa aku harus pusing memikirkanmu??”

“Kau bukan siapa-siapaku, kenapa harus pusing memikirkanku??”

“Aku doktermu pabo.” Kataku sambil memukul kepalanya.

“Yak, seongsaengnim!”

“Mwo??”

“Aish, sudahlah. Kurasa lebih baik kalau aku pergi saja.” Katanya sambil beranjak dari kursi ruang kerjaku.

“Ne. pergilah dan jangan kembali kemari. Carilah dokter lain yang ingin mengurusi pasien gila sepertimu.” Teriakku penuh amarah padanya. Mungkin jika aku tidak ingat bahwa yang kutempati sekarang adalah rumah sakit, aku akan menggunakan pengeras suara dan akan melontarkan kata-kata hinaan yang lebih kasar daripada itu.

Ok, akan kujelaskan siapa dia. Namanya Kwon Jiyong. Seitar dua tahun lalu dia datang padaku. Dia mengatakan dirinya sakit dan memintaku untuk diperiksa. Awalnya aku bingung. Terang saja, dia memintaku memeriksa keadaannya sementara kondisi fisiknya terlihat stabil, dan dari semua pertanyaan yang kuajukan kepadanya tidak menunjukkan bahwa dia sedang sakit. Barulah saat hasil tesnya keluar aku mengerti tentang penyakitnya. Well, dia menderita leukemia kronis, salah satu kanker yang pemburukannya memerlukan waktu yang lama sehingga penderita tidak merasakan gejala apa-apa diawal penyakitnya. Itulah yang dialami Jiyong. Makanya tadi kubilang kemungkinannya untuk bisa sembuh masih tinggi karena kankernya masih dalam tahapan awal. Tapi entah mengapa dia tidak pernah mau melakukan hal-hal yang dapat membuatnya sembuh. Aku sudah memberikannya obat untuk menghambat perkembangan sel kankernya, tapi dia bahkan tidak pernah meminum obat itu walau hanya sekali. Aku juga sudah menyuruhnya untuk melakukan kemoterapi tapi dia hanya berkata “Mwo?? Kemoterapi?? Kau fikir aku tidak tau apa akibat dari kemoterapi?? Rambutku akan rontok semua dan aku akan menjadi botak dan jelek. Huh, tentu saja aku tidak mau. Apa jadinya Kwon Jiyong yang tampan ini berubah menjadi botak. Tidak akan kubiarkan.” See?? Dia bahkan masih bernarsis-narsis ria saat aku berbicara serius padanya. Yang lebih membuatku heran, dia selalu rutin sekali seminggu datang untuk memeriksakan keadaannya. Seumur hidupku, aku baru kali ini mendapatkan pasien yang aneh bin gila sepertinya.

.

Sudah beberapa bulan si gila itu tidak datang menggangguku. Well, aku sedikit lega. Setidaknya aku tidak perlu lagi menghadapi pasien yang juga terkena gangguan jiwa. Yah, walaupun aku sedikit –hanya sedikit, ok- menghawatirkan dia. Kurasa itu karena dia telah lama menjadi pasienku. Mungkin dia sudah punya dokter baru yang juga mengerti tentang kejiwaan orang seperti dia. Entahlah. Aku tidak peduli.

Huh, daripada aku memikirkan namja gila itu lebih baik aku segera bersiap-siap. Aku ada janji dengan taeyeon, leeteuk oppa, donghae oppa dan eunhyuk oppa. Rencananya kami ingin pergi berjalan-jalan, sekedar melepaskan penat setelah araok dua bulan kami bekerja tanpa refreshing.

“Ceklek” kudengar suara dari pintu ruang kerjaku bersamaan dengan munculnya sosok leeteuk oppa dari balik pintu.

“Yak, kenapa kau lama sekali?? Aku, taeyeon, donghae, dan eunhyuk sudah bosan menunggumu.” Gerutunya saat masuk diruanganku. Uh, menyebalkan.

“Ne, mianhae. “ lalu melangkah keluar menuju parkiran rumah sakit.

“Yak, kita ingin pergi jalan-jalan bukan ingin memeriksa pasien.” Kata leeteuk oppa kesal. Ish, kenapa lagi sih dia??

“Arra. Dan ayo cepat turun kebawah. Kau bilang mereka sudah menunggu bukan??”

“Yak, kau ingin pergi dengan setelan seperti itu??” katanya sambil memicingkan mata melihatku. Aku kemudian tunduk melihat ada apa yang salah dengan penampilanku.

“Hehehe mianhae. Aku lupa melepasnya.” Kataku lalu kembali ke meja kerjaku untuk menyimpan stetoskop yang tadi kukalungkan.

“Kajja.”

.

Aku, taeyeon, leeteuk oppa, eunhyuk oppa, dan donghae oppa tengah berada disebuah tempat araoke yang terletak didekat salah satu pusat perbelanjaan terbesar diseoul. Awalnya kami ingin pergi ke festival yang diadakan dialun-alun kota tapi taeyeon menolak dan mengusulkan tempat ini. Karena pada dasarnya kami semua adalah makhluk-makhluk yang doyan menyanyi, akhirnya kami menerima saran taeyeon.

“Oppa, kau tidak ikut minum?? Tumben!” tanyaku pada leeteuk oppa saat berada di tempat karaoke. Saat ini taeyeon, eunhyuk oppa, dan donghae oppa sedang lomba minum. Biasanya leeteuk oppa juga ikut dan selalu menang. Diakan yang paling kuat minum alcohol diantara kami. Tapi kali ini tidak ikut, aku merasa sedikit aneh.

“Sebenarnya aku juga ingin, tapi besok aku ada operasi. Huh, menyebalkan sekali.” Jawab leeteuk oppa. Astaga, tenyata karena hal itu?? Aku langsung tertawa terbahak-bahak.

“Kasian sekali kau oppa. Pasti sekarang kau sedang mati-matian menahan untuk tidak minum, iya kan??” leeteuk oppa hanya menampakkan wajah kesalnya.

“Itu lebih baik oppa. Setidaknya kau bisa membantuku jika nantinya mereka mabuk berat. Jujur saja, aku tidak sanggup mengurusi orang yang mabuk berat.” Kataku. Saat kami menghabiskan waktu seperti ini, pasti selalu ada diantara mereka yang akhirnya mabuk berat dan menyusahkanku.

.

Acara refreshing kali ini menurutku adalah yang paling buruk sedunia. Ditengah acara kami, unninya leeteuk oppa menelfon dan meminta bantuan leeteuk oppa untuk menjemput anaknya. Jadilah aku ditinggal bersama ketiga orang yang sibuk bertanding minum. Sialnya, mereka bertiga minum terlalu banyak. Aku jadi harus mengurus mereka sendirian. Donghae dan eunhyuk oppa sudah kukirim kerumah mereka masing-masing menggunakan taksi. Mereka harus membayar ongkos taksinya dua kali lipat kepadaku besok. Sementara taeyeon, karena apartemennya searah dengan rumahku denganku, maka aku mengantarnya pulang secara pribadi. Dan sepertinya hari ini memang hari paling sialku seumur hidup. Bensin mobilku habis ditengah jalan. Benar-benar sial!

Terpaksa aku harus menunggu taksi yang lewat. Dan sepertinya kesialan belum puas mengerjaiku hari ini. Sudah hampir setengah jam menunggu tapi aku belum juga mendapatkan taksi yang kosong. Aku ingin meminta tolong kepada leeteuk oppa tapi aku tidak enak padanya. Besok ia ada operasi dan ini juga sudah hampir tengah malam. Aku takut kalau-kalau aku mengganggunya. Ditengah kesibukanku memikirkan jalan keluar untuk masalah yang sedang kuhadapi, seseorang mengetuk kaca mobilku.

“Seongsaengnim, kau sedang apa disini? Apa mobilmu mogok?” ternyata Jiyonglah yang tadi mengetuk kaca mobilku.

“Bensinku habis.” Jawabku seadanya.

“Kalo begitu ikutlah denganku. Aku akan mengantarmu pulang. Persoalan mobilmu, aku akan menyuruh anak buahku mengurusnya.” Tawar Jiyong. Aku sedikit menimbang-nimbang. Mungkin jika saat ini aku hanya seorang diri aku akan langsung menerima tawarannya. Tapi aku bersama taeyeon yang sedang mabuk berat.

“Tapi temanku sedang mabuk.” Kataku ragu-ragu.

“Gwenchana. Kita bisa mengantar temanmu terlebih dahulu lalu mengantarmu pulang.” Kata Jiyong santai.

“Apa tidak merepotkanmu?”  kataku masih ragu. Aku sebenarnya ingin menerima tawarannya. Well, aku sudah terlalu capek dan aku butuh istirahat. Ini hanya semacam basa basi, mungkin.

“tidak kok. Lagipula ini sudah terlalu malam untuk mendapatkan taksi. Kau tahu kan, jarang taksi yang lewat dijalanan seperti ini.”

“Ne. Eum gomapseumnida Jiyong-sshi.”

.

Seoul seakan tidak pernah membiarkanku punya waktu istirahat yang tenang. Aku baru saja ingin menikmati waktu liburku dengan bermalas-malasan saat panggilan dari emergency room datang. Aku sedikit menggerutu. Aku tahu emergency room dirumah sakit tempatku bekerja memang sedang kekurangan dokter tapi kenapa harus aku yang dipanggil? Oh tuhan!!

Mau tidak mau, aku harus segera kerumah sakit sekarang juga. Untung saja aku belum jauh dari rumah sakit. Kulajukan mobilku lebih cepat daripada biasanya. Kau tahukan panggilan dari emergency room itu sangat sangat penting. Terlambat sedikit saja nyawa pasien bisa terancam. Saat sampai dirumah sakit, aku segera berlari menuju emergency room. Disana sudah ada dua orang suster yang menungguku.

“Dimana pasiennya?”

“Ada didalam seongsaengnim. Dari data yang kudapat, dia adalah pasienmu. Makanya kami menelponmu.” Saat sampai ditempatnya, ternyata pasien itu adalah Kwon Jiyong. Salah satu suster yang menjemputku tadi bilang bahwa ia mengalami kecelakaan, kepalanya membentur dashbor mobil cukup keras. Sampai sekarang dia masih pingsan. Aku segera memeriksanya, mengecek kondisinya.

“Terjadi pendarahan diotaknya. Siapkan ruang operasi sekarang juga.”

“ne seongsaengnim.”

.

Aku meregangkan otot-ototku yang kaku sehabis operasi. Jiyong, kondisinya sudah stabil meskipun ia belum siuman. Sekarang ia telah dipindahkan keruang rawat. Aku memasuki ruanganku untuk beristirahat sejenak setelah operasi. Sebenarnya aku ingin langsung pulang tapi aku terlalu lelah untuk menyetir. Tiba-tiba aku teringat krystal adikku yang kampusnya tidak jauh dari rumah sakit ini. Ah, kenapa aku tida menelponnya saja!!

“Yeoboseyo krys, eoddiga?” tanyaku to the point setelah ia mengangkat telponnya.

“Aku sedang dihalte bis. Waeyo?” Jawabnya. Oh terima kasih tuhan!!

“Bagus. Datanglah kerumah sakit. Aku ingin memberikan sesuatu untukmu. Palli.” Kataku lalu mematikan telponnya. Setelah itu aku menutup mataku. Tidak tertidur, hanya melepas sedikit lelah. Tidak lama kemudian suara pintu terbuka terdengar ditelingaku. Tidak usah ditanya itu pasti krytal. Hanya dia yang selalu masuk keruanganku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Jadi sesuatu untukku itu hal seperti apa?” tanyanya setelah berada dihadapanku. Astaga kemana sopan santunnya anak ini. Apa dia tidak bisa memberikan salam terlebih dahulu sebelum bertanya.

“Ini.” Kataku sambil melemparkan kunci mobilku kepadanya.

“Antar aku pulang. Sebagai bayarannya, akan kupinjamkan mobilku untuk dua minggu kedepan.” Kataku yang disambut oleh mata berbinar-binar dari krystal.

“Kau serius unni? Huaaa gomawoyo.” Kata krystal sambil memelukku. Dasar anak ini.

“Iya aku serius. Aku mengambil cuti panjang untuk 2 minggu kedepan. Aku ingin berlibur ke jeju, bali, hawai lalu ke california menemui appa. tapi ingat, kau harus mengantarku kebandara dan menjemputku saat aku pulang.” Jangan tanya mengapa aku memilih ketiga tempat itu untuk liburanku karena jawabannya sangatlah sederhana. Aku suka pantai.

“Siap bos. Tidak masalah asalkan ada oleh-oleh. Kudengar pria indonesia tampan-tampan. Bungkuskan satu untukku yah.” Pinta krystal. Aku tidak mengerti isi kepala anak yang satu ini.

“Kau pikir makanan pakai dibungkus begitu. Kajja pulang.”

.

Liburan yang indahku sudah berakhir sejak seminggu yang lalu. Kesibukan dirumah sakit kembali menghampiriku. Sialnya, krystal terlalu betah dengan mobilku sehingga dia belum mengembalikannya. Yah meskipun dia tetap mengantar dan menjemputku kemanapun aku mau, yah tetap saja aku jadi tidak leluasa. Aku sebenarnya ingin mengambil mobilku tapi aku sedikit kasihan dengannya. Jarak kampus dan rumah cukup jauh dan akhir-akhir ini dia sering pulang balik kekampus dan rumah dengan tujuan yang tidak aku tau apa. Jika ia naik bis, akan memakan waktu yang sangat lama. Jadi yasudahlah, lagipula dia juga selalu bersedia mengantar dan menjemputku kemanapun aku ingin pergi.

Tepat pukul 5 sore, aku menunggu krystal didepan rumah sakit. Shiftku sudah selesai dan rencananya aku ingin berbelanja untuk kebutuhanku ditempat tinggal yang baru. Kupikir sudah saatnya untukku hidup mandiri jadi aku berinisiatif untuk membeli apartemen yang berada didekat rumah sakit. Beruntung aku punya teman yang bekerja diperusahaan real estate jadi aku tidak perlu repot-repot lagi mengurusi banyak hal. Hampir setengah jam aku menunggu, akhirnya krystal datang juga.

“kenapa kau lama sekali sih? Kau bilang kau sedang disekitar sini.” Kataku sambil memasang seat beltku.

“maaf, tadi ada kecelakaan dan jalanan ditutup. Terpaksa aku harus putar dulu.” Jelas krystal setelah itu kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Krystal mungkin dengan tugas-tugas dari dosen yang katanya ganas dan aku dengan barang-barang yang nantinya akan kubeli.

Krystal menurunkanku didepan sebuah pusat perbelanjaan paling lengkap di seoul. Dia tidak ikut turun untuk menemaniku berbelanja. Dia bilang tugas kelompoknya belum selesai dan dia harus segera menyelesaikannya. Dia hanya menyuruhku untuk menelponnya saat aku sudah selesai berbelanja. Aku berkeliling mall hampir dua jam, membeli apa-apa saja yang kiranya aku butuhkan dan belum tersedia diapartemenku. Aku sangat asyik berbelanja karena itu memang hobiku sampai tidak terasa perutku sudah sangat lapar. Akupun menuju food churt yang teletak dilantai paling atas mall ini. Kondisi di food churt sangat ramai. Tidak heran karena ini memang jam makan malam. Aku sedikit kebingungan mencari tempat yang kosong sampai kudengar suara dari sudut memanggilku.

“Jung Seonsaengnim.” Aku menoleh menuju sumber suara dan mendapati jiyong melambaikan tangan kearahku. Aku segera menuju ketempatnya dan memberikan salam.

“Ah kwon jiyong-sshi annyeong haseyo.” Kataku sambil sedikit membukuk kepadanya.

“ne seongsaengnim annyeong haseyo. Seongsaengnim ingin makan juga? Kalo begitu ayo bergabung denganku. Lagipula sudah tidak ada tempat yang kosong.” Ajak jiyong.

“ah ne kamsahamnida jiyong-sshi. Daritadi aku memang mencari tempat yang kosong tapi semuanya sudah penuh. Apa anda sendirian?” Ucapku sambil duduk dihadapannya.

“Tadinya aku bersama adikku tapi dia pulang duluan. Dia bilang ada tugas kelompok dan teman-temannya menunggunya.” Jelas jiyong. Aku hanya meng-Oh-kan jawabannya.

“Seongsaengnim ingin pindahan? Belanjaannya banyak sekali.” Tanya jiyong sambil menunjuk belanjaanku yang memang sangat banyak.

“Ah ne. Aku ingin mencoba hidup mandiri. Lagipula jarak rumahku dan rumah sakit cukup jauh jadi aku pindah keapartemen dekat rumah sakit.” Jelasku. Kurasa dia cukup asik jika tidak berurusan dengan penyakitnya.

“Jinja? Aku juga tinggal diapartemen dekat rumah sakit. Apa apartemen “xyz”?” tanya jiyong dengan mata yang berbinar-binar. Aku hanya mengangguk ria.

“lantai berapa?” tanyanya lagi.

“lantai 7. Kau?”

“Aku dilantai 8. Jadi kapan kau akan pindah?”

“Rencananya hari ini. Setelah ini aku akan ke sepermarket untuk membeli persediaan makanan lalu kesana.” Dan percakapan kami terus berlanjut menuju hal-hal yang menurutku tidak penting. Saat makanan datang pun kami masih terus bertukar cerita. Bahkan kami menghabiskan waktu satu setengah jam lebih hanya untuk makan. Setelah makan, aku pamit ingin ke lotte mart berbelanja untuk persediaan makananku tetapi jiyong memaksa untuk menemani. Akhirnya kami berbelanja bersama. Dia juga membeli beberapa makanan untuk isi kulkasnya. Satu hal yang membuat perbedatan kecil diantara kami kala itu adalah isi keranjangnya yang semuanya merupakan makanan siap saji. Aku mengomelinya dan mengatakan dampak negatif dari makanan siap saji tersebut. Kami sedikit berdebat sampai akhirnya dia mengalah dan mengeluarkan sebagian dari makanannya. Sebagai gantinya, aku memasukka beberapa sayur segar, daging, dan ikan pada keranjang belanjaannya.

“Kalau kau tidak tahu cara mengolahnya, bawa saja keapartemenku. Aku akan memasakkannya untukmu.” Kataku. Dia hanya mengangguk-angguk menuruti perkataanku. Aku tahu dia orang yang sibuk. Salah satu teman dokter dirumah sakit pernah bercerita tentang jiyong. Ayahnya adalah pengusaha hebat dan dia satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga. Selesai kuliah, dia langsung mengambil alih seluruh usaha ayahnya. Jadwalnya padat. Dan dengan jadwal sepadat itu, dia seharusnya mengonsumsi makanan yang bergizi, bukan makanan siap saji seperti yang ia ambil tadi.

Setelah dirasa cukup, kami pergi kekasir untuk membayar belanjaan kami. Dan perdebatan baru dimulai kembali. Jiyong memaksa ingin membayarkan belanjaanku. Aku tentu saja menolak. Setelah mentraktirku makan malam, aku mana mungkin akan membiarkan dia membayar semua belanjaanku. Yang benar saja!! Dia tidak mau mengalah sampai aku mengancam tidak akan membeli apapun jika dia tetap memaksa ingin membayarkan belanjaanku. Akhirnya, dia kembali mengalah.

Setelah itu, aku menelpon krystal untuk segera menjemputku. Sialnya nomor krystal tidak aktif. Jiyong menawari tumpangan tapi aku lagi-lagi menolak. Kurasa dia sudah terlalu baik kepadaku hari ini. Mulai dari menawariku tempat duduk untuk makan malam hingga membawakan semua belanjaanku. Aku tidak enak hati padanya. Harusnya ia sudah tenang dikasurnya yang nyaman dan hangat tapi malah masih disini menemaniku. Aku terus mencoba menghubungi krystal tapi hasilnya tetap sama. Nomornya masih tidak aktif. Mall sudah hampir tutup. Aku berencana untuk memanggil taksi karena nomor krystal masih tak kunjung aktif tapi jiyong memaksa untuk mengantarku pulang. Baiklah, kali ini aku yang mengalah.

.

Weekend. Tapi itu tidak berarti libur untukku. Aku masih dirumah sakit. Masih berkutat dengan orang-orang yang membutuhkan pertolongan dengan segera. Emergency room kembali dipenuhi oleh pasien yang harus segera mendapatkan penanganan. Terjadi kebakaran disalah satu cafe dan restoran padat pengunjung. Tenaga medis dan dokter emergency room kewalahan menangani korban yang sangat banyak. Rumah sakit belum menemukan cukup orang untuk dipekerjakan diemergency room. Aku, taeyeon dan beberapa suster dari departemen lain diperintahkan untuk turun membantu disana. Dan disinilah kami berakhir, bersama puluhan pasien luka bakar dan sesak nafas. Pengunjung cafe kebanyakan hanya mendapatkan luka ringan, berbeda dengan staff dan koki yang bekerja didekat sumber kebakaran terjadi. Menurut yang kudengar samar dari cerita beberapa orang, para staff dan koki ini berusaha memadamkan api saat kebakaran terjadi. Sayangnya seorang dari mereka salah mengambil air. Ia mengambil air yang terleta didalam sebuah botol besar dan menyiramkannya kepada sumber api. Sayangnya botol itu berisi bahan bakar dan bukan air. Alhasil kebakaran malah menjadi semakin parah.

Sudah lima belas menit melewati tengah malam. Para pasien yang lukanya telah diobati satu persatu meninggalkan emergency room. Hanya tinggal 10 pasien luka parah yang membutuhkan perawatan lebih intensif yang masih bertahan. Aku merenggangkan otot-ototku. Taeyeon sudah terlelap setengah jam yang lalu karena kelelahan. Dia menginap dirumah sakit malam ini. Sudah terlalu larut untuk pulang katanya.

Aku menyimpan jas putihku didalam lockerku lalu keluar rumah sakit untuk sedikit menghirup udara segar. Rencananya, sebelum kembali keapartemen, aku akan mencari cemilan untuk mengganjal perutku. Tadi pasien benar-benar banyak dan aku terpaksa melewatkan makan malamku. Baru beberapa langkah keluar dari rumah sakit, seseorang memanggilku dari kejauhan.

“Jung seongsaengnim.” Kwon jiyong dengan setelan yang selalu menempel dibadannya turun dari mobilnya lalu menghampiriku.

“oh hai jiyong-sshi. Bagaimana keadaan kepalamu?” tanyaku saat berada disampingku. Lalu kami jalan beriringan menuju mobilnya.

“Dia sudah sembuh dari jauh hari haha. Shiftmu baru selesai?”

“Sudah selesai dari tadi sore. Tapi aku disuruh untuk membantu diemergency room. Kau lihat restoran besar diujung jalan sana yang terbakar? Pengunjungnya banyak sekali dan seleruh staff emergency room kewalahan mengobati mereka. Hei apa kau masih tetap bekerja saat weekend?” Jelas dan tanyaku.

“Oh begitu. Ah anak buahku membuat beberapa kesalahan dan aku baru sempat menyelesaikan masalahnya hari ini. Jadi yah aku tetap kekantor meskipun ini weekend. Apa kau sudah makan malam? Kudengar ada restoran cepat saji yang baru buka didekat sini. Apa kau ingin mencoba?” tawarnya. Makanan cepat saji selalu menjadi andalannya.

“Apa kau lupa? Aku tidak makan makanan cepat saji.”

“Ah iya. Hidupmu kan membosankan bagaimana mungkin mau makan makanan cepat saji.”

“YA!!” teriakku sambil memukul lengannya agak kencang.

“Bagaimana jika kita makan diapartemenku. Waktu itu kau janji akan masakkan makanan untukku. Kau tidak lupa itu kan?”

“Aku tidak pelupa sepertimu tuan kwon. Baiklah.”

.

Sebelum keapartemen jiyong, aku terlebih dahulu singgah diapartemenku untuk mengambil kimchi. Rencananya aku akan memasak nasi goreng kimchi dan japcae untuk makan tengah malam kami hari ini. Sebenarnya ini jam yang sangat tidak tepat untuk makan malam tapi apa boleh buat, aku sangat kelaparan.

Setelah sampai diapartemen jiyong, aku segera masuk kedapur, mencuci tanganku hingga bersih dan mulai memasak. Jiyong hanya memperhatikan pekerjaanku dari counter dapur sambil sesekali bertanya bahan apa yang aku masukkan kedalam masakanku atau mengapa aku harus selalu menghitung seberapa banyak bumbu yang kupakai.

“Apa semua wanita bisa masak sepertimu?” kali ini pertanyaannya berbeda. Aku tidak menanggapinya dan sibuk dengan urusanku sendiri. Lagipula mana bisa aku tahu apakan semua wanita didunia memasak sepertiku atau tidak.

Setelah semua makanan yang kumasak telah matang, aku menyusunnya dimeja makan. Jiyong bertepek tangan kegirangan melihat makanan yang kumasak.

“Apa kau tidak pernah melihat nasi goreng kimchi dan japcae?” tanyaku sambil melepas celemek yang kugunakan memasak.

“Bukan begitu. Ini pertama kalinya aku makanan yang proses memasaknya aku saksikan sendiri.” Aku sedikit tertawa.

“Memangnya kau tidak pernah melihat ibumu memasak?” tanyaku sambil duduk dihadapannya, mengambil piringnya dan memberinya beberapa sendok nasi goreng yang tadi kumasak.

“Mungkin pernah tapi aku lupa. Ibuku meninggal saat  umurku 1 tahun. Aku bahkan tidak punya memori apapun tentang dia.” Jelasnya. Kelihatan sekali kalau dia sangat merindukan ibunya. Aku jadi merasa tidak enak padanya.

“Maaf aku tidak tahu.” ucapku meminta maaf.

“Gwenchana. Kalau begitu, mari makan!!” ucapnya lalu melahap habis semua makanan yang kumasakkan untuknya.

.

Aku, taeyon, tiffany, dan beberapa staff satu departemenku sedang keluar mencari tempat makan yang enak untuk makan siang kami hari ini. Keadaan dirumah sakit cukup stabil saat ini jadi kami bisa sedikit bersantai saat jam makan siang.

“Hey. Apa kalian ingin makan siang?” tiba-tiba, entah dariamana datangnya, jiyong tiba-tiba sudah ada disampingku.

“Kenapa kau bisa ada disini?” Tanyaku heran.

“Kau lupa seongsaengnim? Kantorku didekat sini. Oh iya apa kalian ingin makan siang?” jiyong mengulangi pertanyaannya.

“ne. Wae?” balasku.

“Ah kebetulan sekali. Aku juga ingin makan siang. Oh iya apa kalian sudah pernah makan di kedai seolleongtang disamping kedai ice cream itu? Seolleongtang disana enak sekali loh.” Ucapnya sambil mengacungkan dua jempolnya.

“Tidak pernah kesampaian. Tiap jam makan siang kedai itu selalu ramai. Kami tidak pernah dapat tempat.” Jelas taeyeon sedih. Dia adalah yang paling ingin makan dikedai itu saat kedai itu buka tapi tidak pernah kesampaian hingga sekarang.

“Haha kalau begitu ikutlah denganku. Sepupuku pemilik kedai itu. Dia akan berikan tempat untuk kita seramai apapun kedainya.” Mata taeyeon berbinar-binar mendengar ajakan jiyong.

“Jinja? Kalau begitu kajja kita makan disana saja”

.

Suasana kedai itu memang benar-benar ramai. Beberapa pelayan sampai kewalahan karena banyaknya pelanggan yang datang siang ini. Jika tidak ada jiyong pasti kami sudah cari tempat lain.

“Hyung mana?” tanya jiyong kepada kasir kedai yang sibuk menghitung uang.

“Ada diatas. Kau bawa banyak teman hari ini.”kata kasir itu tanpa menoleh.

“Seperti itu lah. Aku pesan 7 porsi yah. Dibawa keatas seperti biasa.” Kata jiyong lalu mengajak kami menuju lantai 2 kedai itu. Lantai 2  tempat ini terlihat seperti tempat tinggal. Kata jiyong kakak sepupunya tinggal disini. Kami duduk melingkari meja yang memang tersedia ditempat itu. Jiyong duduk disampingku. Ia memperkenalkan kami kepada sepupunya yang bernama seunghyun lalu kami berbincang seperti biasa. Saat makanan datang seunghyun permisi ingin turun kebawah mengecek keadaan kedainya. Dia juga bilang ingin pergi kesuatu tempat jadi tidak bisa makan siang bersama kami. Saat jam makan siang berakhir kami berjalan beriringan pulang menuju rumah sakit. Aku dan jiyong berjalan paling belakang. Ditengah perjalanan ponsel jiyong berbunyi, menandakan ada sms yang masuk. Jiyong membacanya kemudian tersenyum.

“Kenapa?” tanyaku melihat tingkah anehnya.

“Tidak papa. Seunghyun hyung meminta nomor tiffany.” Kata jiyong sambil berbisik ditelingaku agar yang lain tidak mendengarnya. Aku tersenyum sendiri mendengarnya.

“Sepupumu tertarik dengan tiffany?” tanyaku sambil berbisik juga.

“Iya. Dia bilang senyumnya manis haha.” Aku masih tersenyum mendengarnya. Sepertinya keinginan tiffany berkencan dengan pengusaha akan terkabul sebentar lagi.

“Aku akan kirimkan nomornya saat sudah sampai di rumah sakit.” Kataku. Jiyong hanya mengangguk. Dipertigaan jalan kami berpisah. Kantor jiyong berada disebelah kiri sementara rumah sakit tempatku bekerja masih harus berjalan sekitar 10 meter kedepan.

.

Malam ini aku ada janji makan malam dengan jiyong, tiffany, dan seunghyun. Pada awalnya hanya ada tiffany dan seunghyun. Seunghyun mengajak tiffany makan malam, tapi karena tiffany bilang dia masih canggung dengan seunghyun, dia meminta seunghyun untuk mengajakku dan jiyong. Dia bilang sekalian buat double date padahal aku dan jiyong sama sekali tidak ada hubungan apa-apa.

Kami menunggu mereka didepan rumah sakit. Mereka bilang akan datang 30 menit lagi.

“Jess, apa kau tidak gugup?” tanya tiffany. Aku tertawa kecil.

“tentu saja tidak. Kau gugup yah?” tanyaku menggoda tiffany.

“tentu saja. Ini kencan pertamaku dengan dia.” Jawab tiffany. Ah kurasa dia terlalu berlebihan.

“Kau terlalu berlebihan. Memang apa istimewahnya kencan pertama?” tanyaku santai

“Tentu saja istimewah. Karena itu yang pertama. Makanya jangan terus mengurusi pasien-pasienmu. Kau juga harus mengurusi urusan pribadimu. Berapa umurmu sekarang? Apa kau masih ingin menolak semua pria yang menyukaimu? Mau sampai kapan? Apa kau ingin mati sebagai perawan tua? Kau harus mencoba berkencan sekali-kali.” Nasehat tiffany panjang lebar. Dia sudah terlalu sering mengatakan hal itu padaku setiap membahas laki-laki dan kencan.

“Lihat nanti sajalah. Aku masih ingin fokus terhadap karirku.” Kataku cuek.

“Oh iya bagaimana dengan keadaan jiyong. Maksudku bukankah dia dulu pasienmu?” tanya tiffany. Aku terdiam sejenak.

“Aku kurang tahu. Sudah beberapa bulan dia tidak datang kontrol. Aku juga tidak pernah menanyakannya. Mungkin dia sudah pindah dokter. Entahlah.” Jawabku seadanya.

“Kau ini bagaimana sih? Katanya ingin jadi dokter yang baik dan mementingkan pasien. Kenapa malah menelantarkan jiyong?”

“Bukan begitu. Masalahnya ia tidak pernah mau mendengarkan perkataanku. Aku bahkan sudah kehilangan akal bagaimana cara untuk membujuknya  tapi dia tetap tidak mau mengikuti perkataanku.” Jelasku.

“Kau tidak boleh menyerah. Kau harus ekstra sabar menghadapinya.”

“Tiff, kau tahu sudah berapa lama dia jadi pasienku. Aku sudah sangat ekstra ekstra sabar menghadapi keras kepalanya.”

“Iya juga sih. Ah itu mereka datang. Ayo kesana.” Kata tiffany sambil melambaikan tangannya kearah seunghyun dan jiyong. Kami menghampiri mereka berdua yang sudah rapi dengan setelan masing-masing. Kemudian seunghyun membawa kami menuju sebuah restoran disekitar han river.

Sesampainya disana aku dibuat terkagum-kagum oleh pemandangan dari restoran ini. Seunghyun memilih tempat yang sangat baik menurutku. Dari sini kami bisa melihat keindahan sungai han dan lampu-lampu seoul yang sangat indah dimalam hari. Desain restorannyapun sangat bagus. Dan benar-benar cocok untuk kencan. Kurasa seunghyun sangat bersungguh-sungguh dengan tiffany sampa-sampai dia memesan tempat seperti ini untuk kencan mereka. Tiffany sangat beruntung.

.

Setelah malam itu hampir setiap malam aku dan jiyong makan bersama. Dia selalu menunggu sampai shiftku selesai lalu mengajakku makan malam. Saat aku ada shift malampun dia membawakan makanan untukku dan staff rumah sakit lainnya lalu kami makan bersama-sama. Kadang dia juga menyuruhku memasak untuknya. Seperti malam ini, dia bilang dia terlalu sibuk mengerjakan tugas kantornya. Saat ini akhir bulan. Bosnya minta laporan keuangan dan lainnya dari jiyong. Sekertarisnya sedang cuti melahirnkan jadi tidak ada yang membantunya menyusun laporan. Saat aku datang saja, setelannya masih lengkap ditubuhnya. Hanya saja tidak serapi biasanya karena dasinya sudah sedikit longgar.

Aku segera menyelesaikan masakanku. Dia meminta untuk dimasakkan japcae dan ayam goreng jadi aku membuatkan itu untuknya. Setelah japcae dan ayam gorengnya matang, aku meletakkannya dipiring yang berbeda lalu meletakkannya diatas meja makan. Tak lupa aku mengambilkan semangkuk nasi, sendok dan sumpit lalu mengaturnya sejajar diatas meja. Setelah itu aku menghampiri jiyong.

“Makananmu sudah siap tuan kwon. Berhentilah sejenak untuk makan. Kau terlalu workaholic.” Kataku saat berada disampingnya.

“Baiklah bu dokter.” Dia lalu berjalan menuju meja makan. Aku mengikutinya dari belakang dan duduk dikursi yang bersebrangan dengannya. Dia langsung mengambil sumpitnya dan bersiap untuk makan.

“Cuci tanganmu sebelum makan jiyong-sshi.” Kataku mengingatkan.

“Iya.” Dia lalu menuju wastafel di dapur dan mencuci bersih tangannya.

“Lain kali kau harus lebih memperhatikan makananmu. Ini sudah sangat larut untuk makan malam. Kau tidak boleh selalu terlambat makan atau kau akan sakit.” Nasehatku. Sudah sangat sering aku mengingatkan dia untuk menjaga pola makan.

“Iya akan aku usahakan.”

“Kalau begitu aku pulang dulu.” Kataku beranjak dari kursi.

“Tidak bisakah temani aku makan baru pulang. Aku akan mengantarmu pulang sebagai gantinya.” Jiyong menahanku pulang. Aku tertawa kecil mendengar perkataannya.

“Apartemenku hanya satu lantai dari sini. Kau tidak peru mengantarku pulang. Baiklah, tapi aku tidak ingin cuci piringmu setelah kau makan.”

.

Pagi ini aku berencana akan jogging dan sarapan bersama jiyong. Karena mengambil libur weekendku kemarin, pihak rumah sakit memberiku satu hari istirahat. Ah senangnya. Aku sudah siap dengan training dan handuk dipundakku. Aku sedikit melakukan pemanasan sambil menunggu jiyong keluar dari apartemennya. Tidak beberapa lama kemudian, jiyong datang dengan penampilannya yang sangat sporty. Ini pertama kalinya aku melihat jiyong tanpa tuxedo dan pentofelnya dan yah kurasa dia terlihat sedikit lebih bebas dan segar dengan pakaian non-formal. Kami jogging diarena jogging yang merupakan fasilitas apartemen tempat kami tinggal setelah itu memilih sebuah cafe disebrang jalan untuk sarapan. Sejujurnya aku tidak pernah makan disini tapi jiyong bilang makanan disini cukup lezat. Karena aku tidak tahu menu makanannya, aku membiarkan jiyong memilihkan makanan untukku. Setelah menyebutkan pesanannya, pelayan yang melayani kami permisi untuk menyiapkan pesanan.

“Hm seongsaengnim sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan.” Ucap jiyong memulai percakapan.

“Bicara saja.” Tanggapku.

“Tapi seongsaengnim harus berjanji untuk tidak marah atau kaget.” Ucapnya lagi. Aku tertawa kecil. Sebenarnya apa sih yang ingin dia bicarakan?

“Baiklah.”

“Kita kan sudah lama kenal, bagaimana jika kita berhenti menggunakan bahasa formal?” tanyanya. Jadi hanya ini? Yaampun!

“Kau ingin menggunakan banmal? Bukan ide yang buruk. Jadi dengan apa aku harus memanggilmu? Oppa?”

“Hei itu kedengaran sangat baik. Coba ucapkan sekali lagi.” Katanya sambil tertawa.

“Jiyong oppaaaa haha” aku sedikit mengeluarkan aegyoku.

“Kau sangat lucu Sooyeonie.” Ucapnya sambil tertawa. Dia memanggilku Sooyeonie. Terasa aneh sebenarnya tapi itu jauh lebih baik daripada dia terus memanggilku ‘seongsaengnim’.

“Hm sebenarnya ada hal lain yang ingin kubicarakan selain itu.” Ucapnya kembali serius. Atmosfer diantara kamipun kembali berubah.

“Apa?” aku hanya membalas singkat.

“Sooyeonie, bagaimana kalau kita pacaran?”

.

Aku, taeyeon, dan tiffany sedang berada di kantin rumah sakit  untuk sarapan pagi dan tiffany terus saja memandangiku dari tadi.

“Apa ada yang salah denganku?” tanya ku heran.

“Kau tidak merasa ingin mengatakan sesuatu?” tanya tiffany. Aku mengerutkan keningku heran.

“Memangnya Sooyeon kenapa tiff? Dia tidak kelihatan aneh pagi ini.” tanya taeyeon yang juga heran. Aku mengangguk menyetujui perkataannya.

“Jadi kau benar-benar tidak ingin bilang?” tanya tiffany lagi. Aku bahkan tidak mengerti dia sedang membicarakan apa.

“Memangnya ada apa sih tiff?” tanyaku lagi.

“Kau curang Sooyeon. Kenapa tidak bilang kau jiyong menembakmu?” astaga masalah ini ternyata.

“Apa? Jiyong menembakmu jess? Chukkae !! jadi sarapan pagi ini kau yang traktir kan?” kata taeyeon dengan mata yang berbinar-binar akan mendapatkan sarapan gratis. Memangnya aku pernah bilang kalau aku akan traktir mereka? No!

“Kalian ini apa-apaan sih. Masalah begitu saja ingin diperdebatkan. Lagipula siapa jugan yang ingin mentraktir?”

“Pajak jadian Sooyeon. Kau harus mentraktir kami pagi ini.” Taeyeon mengucapkannya seperti dia menagih hutang yang sudah satu tahun tidak dibayar. Suka sekali dia dengan hal-hal gratis.

“Jiyong menembakku tapi kami tidak pacaran.”

“Mwo? Kau menolak? Kenapa?” tanya taeyeon dan tiffany bersamaan. Ah mereka ini.

“Aku mengajukan beberapa syarat, dia bilang akan memikirkannya.” Jelasku singkat.

“Apa syarat-syaratnya?”

 

“Aku punya beberapa syarat.” Kataku setelah lama diam.

“Apa syaratnya?” tanya jiyoung yang dari tadi menungguku bicara.

“Kita tidak boleh terlalu posesif dan memaksakan kehendak satu sama lain dan…..”

“dan?”

“Kau harus mulai pengobatan intensif dan kemoterapi.”

“Apa tidak ada syarat lain?” tanya jiyong ragu.

“Tidak ada. Jika kau tidak bisa juga tidak papa.”

“Akan kupikirkan dulu. Kau bisa menunggu kan?” aku hanya mengangkat kedua bahuku sebagai jawaban atas pertanyaannya.

 

“Kenapa kau tega sekali padanya? Tapi otakmu encer jess.” Tanggap taeyeon mendengar ceritaku.

“Aku hanya ingin dia sembuh.” Jawabku.

“Memang kau tidak mencintainya? Bukankah selama ini kalian dekat?” tanya tiffany. Mencintai jiyong? Entahlah.

.

Ting

Tong

Ting

Tong

Bel apartemenku berbunyi. Ada tamu yang datang. Aku segera keluar dari kamarku dan melihat tamuku lewat interkom yang terpasang diapartemennya. Aku sedikit kaget melihat yang datang adalah jiyong. Sudah beberapa hari ini kami tidak berhubungan. Dia tidak pernah lagi menemuiku atau bahkan mengirimiku pesan semenjak pagi itu. Aku juga tidak pernah mencoba menghubunginya karena aku merasa tidak ada yang perlu kubicarakan dengan dia. Aku membukakan pintu apartemenku untuk jiyong.

“Silahkan masuk.” Ucapku. Dia masuk lalu berjalan menuju sofa yang biasa ia tempati. Aku menutup pintu kemudian mengikutinya dari belakang.

“Ada apa?” tanyaku memulai pembicaraan. Suasana sedikit canggung diantara kami, berbeda dari biasanya.

“Aku sudah memikirkannya. Aku bisa memenuhi semua syaratmu.” Ucapnya to the point. Aku memandangnya sedikit ragu.

“Kau benar-benar yakin? Maksudku kau sudah berkali-kali menolak pengobatan, apa kau benar-benar yakin kali ini? Kau tidak akan ingkar janji kan?”

“Kau bisa putuskan aku jika aku ingkar janji.” Ucapnya yakin.

“Sekarang kita pacaran?”

.

Hari ini jiyong sudah resmi menjalani pengobatan intensif. Aku mempercayakannya pada dokter park. Dokter park sudah sangat senior dan aku sangat menghormatinya. Aku juga yakin dokter park bisa membantu jiyong menyembuhkan penyakitnya. Aku juga telah memasang iklan untuk yang mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk jiyong. Semoga usahaku yang sudah sejauh ini tidak sia-sia.

Aku sedang berada diruanganku. Pasien siang ini sedang banyak-banyaknya. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Telpon dari jiyong.

“Yeoboseyo Sooyeonie kau dimana? Aku sudah sampai dirumah sakit.” tanyanya saat aku baru saja mengangkat panggilannya.

“Mian oppa pasien siang ini sedang banyak-banyaknya, aku tidak bisa menemanimu tapi aku sudah urus semua keperluanmu. Aku akan suruh salah satu suster mengantarmu keruangan dokter park.” Kataku lalu menutup telponnya. Setelah itu aku memanggil salah satu suster rumah sakit untuk mengantarkan jiyong keruangan dokter park.

.

Pasienku baru habis stengah jam yang lalu dan sekarang aku sedang berada ditoko roti dekat rumah sakit untuk membelikan roti kesukaan jiyong. Hari ini hari pertamanya kemoterapi. Aku yakin badannya pasti pegal dan terasa sakit. Aku harus menghiburnya agar dia bisa melupakan rasa sakit itu. Aku membayar belanjaanku setelah mengantri agak panjang dikasir lalu bergegas keruang rawat jiyong. Aku mengetuk pintunya lalu masuk.

“Hai.” Kataku sambil menutup kembali pintu ruang rawat jiyong. Jiyong mencoba bangun dari posisinya yang berbaring menyadari kedatanganku tetapi dia kesulitan dan akhirnya gagal.

“Tidak perlu memaksakan diri. Ini, aku bawakan roti kesukaanmu. Bagaimana hari pertamamu?” tanyaku sambil duduk dikursi samping tempat tidurnya. Dia kelihatan sangan kesakitan. Aku jadi sedikit kasian melihatnya.

“Tidak begitu buruk. Setidaknya rambutku belum rontok.” Katanya sambil bercanda. Aku sedikit tertawa mendengarnya.

“Badanmu masih sakit?” tanyaku lagi.

“Masih. Tapi sudah agak baik dibanding tadi sore.” Jawabnya lagi. Aku yakin dia sedang menyembunyikan rasa sakitnya. Mungkin dia bisa bohong tapi aku selalu mendengar suara ringisan kecil dari bibirnya.

“Jja, kalau begitu aku akan membuatmu lebih baik.” Kataku lalu duduk diatas ranjangnya. Aku lalu mengangkat kepalanya, memindahkan bantal kebawah kakinya dan menaruh kepalanya diatas pahaku. Kemudian aku mengusap-usap kepalanya.

“Bagaimana? Sudah lebih baik?” tanyaku.

“Jauh lebih baik.”

“Jung seonsaengnim.” Panggil jiyong. Aku menoleh kearahnya. Sejak hari itu, dia tidak pernah lagi memanggilku ‘seonsaengnim’.

“Wae?” tanyaku.

“Gomawoyo.” Ucapnya tulus.

“hm?” aku sedikit bingung dengan perkataannya.

“Gomawoyo.” Ulangnya lagi.

“Untuk?”

“Da.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku tidak membalasnya lagi meskipun aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Entahlah, aku hanya ingin diam. Aku ingin menikmati sunyinya malam ini yang entah mengapa terasa sedikit berbeda. Mungkin karena ada jiyong. Entahlah.

.

“Akhir-akhir ini kau aneh Sooyeon.” Ucap tiffany tiba-tiba saat kami sedang makan siang dikantin rumah sakit. Well, ini terlihat seperti makan siang karena nyatanya memang ini sudah sore.

“Aneh kenapa? Aku biasa-biasa saja.” Jawabku sambil mengaduk-aduk mie gorengku. Aku sedang tidak selera makan.

“Apa kau ada masalah? Kau terlihat banyak pikiran akhir-akhir ini.” Selidik tiffany. Aku menghentikan kegiatanku lalu menatap tiffany dalam.

“Sebenarnya ada satu hal yang mengganggu.” Ucapku serius.

“Apa?”

“Sepertinya…, aku mulai menyukai jiyong.” Ucapku ragu sambil menatap tiffany.

“Tidak. Kau bukan mulai menyukainya, kau hanya tidak pernah mengakuinya. Kau sudah dari dulu menyukainya. Aku bisa melihatnya, kau hanya terlalu menyukainya tapi kau tidak mau mengakuinya. Lagipula sekarang kan dia pacarmu, apa yang kau khawatirkan?”

“Justru karena dia pacarku. Dokter park bilang kondisinya makin buruk. Aku takut kehilangan dia tiffany.” Ucapku lirih. Tiffany memang selalu benar. Aku menyukai jiyong dari lama, dari pertama kali dia datang padaku, dari pertama kali dia membuatku bingung, dari pertama kali kami berdebat. Aku menyukainya tapi aku berusaha untuk tida melakukannya karena dia pasienku. Aku takut suatu saat dia akan meninggalkanku.

“Dengar Sooyeon, dokter park memang dokter yang hebat tapi dia bukan tuhan. Kau harus ingat, selalu ada tuhan disetiap jalan yang kita tapaki, selalu ada tuhan dibalik semua hal yang terjadi, kita hanya bisa berusaha tetapi semuanya tuhan yang menentukannya, selalu ada kesempatan, selalu ada keajaiban untuk orang-orang yang percaya. Arasseo?” ucap tiffany panjang lebar. Aku hanya mengangguk lemah. Perlahan aku menundukan kepalaku seiring dengan air mataku yang menetes satu persatu jatuh dari mataku. Tiffany berdiri dan menuju kursiku. Dia memelukku dan mengelus punggungku. Untuk saat seperti ini, aku selalu bersyukur karena tuhan telah mengirimkan sahabat yang selalu bisa kuandalkan saat aku sedang jatuh.

.

Aku sedang mendorong kursi roda jiyong kearah taman rumah sakit. Sore ini dia bilang dia ingin melihat matahari terbenam bersamaku. Aku berhenti disamping sebuah bangku yang kosong. Perlahan kupindahkan jiyong agar ia bisa duduk dikursi taman ini. Setelah itu aku duduk disampingnya. Kutatap wajah pria disampingku yang sedang terpantul gradiasi indah warna matahari yang tenggelam. Dari awal bertemu aku tidak pernah menyangka bahwa mata itu, hidung itu, dan bibir itu akan menjadi milikku saat ini. Bahkan dengan kepalanya yang sudah tidak berambut lagi, pesonanya tidak kunjung hilang untukku. Dia masih tampan, sama seperti dulu.

“Oppa.” Ucapku pelan, memecahkan keheningan diantara kami.

“Sooyeonie-ya, aku mengantuk. Boleh aku tidur sebentar?” ucapnya sambil melihat kearahku. Aku mengangguk menyetujui permintaannya. Dia lalu menyenderkan kepalanya dipundakku.

“Nyanyikan aku sebuah lagu.” Pintanya.

“Tapi suaraku jelek.”

“Ayolah, kau tidak mau mengabulkan permintaanku?”

“Tidak. Permintaanmu selalu saja aneh.’’

“Aku hanya memintamu untuk bernyanyi. Aku janji ini akan menjadi yang terakhir.” Ucapnya sambil menunjukkan jari kelingkingnya dihadapanku. Aku mengaitkannya dengan jari kelingkingku.

“Baiklah.”

Even though it hurts but a little, tears form

My heart screams out

If I pass in front of you, beside you

You were my whole world

I want only you

But I can’t breathe when I’m in front of you

 

As if you weren’t my destiny

As if this was just a fleeting moment

Next to you, who just let me go so easily

I go closer to you step by step

Although I cannot move at all

 

You make me restless, you make me cry

Like a fool, like a child

I want to just laugh it off instead

 

The closer I get to you

Although I get more scared

I guess I cannot stop this love

 

Why is it just my love that is late

Why is it just my love that is hard

Although I’m right in front of you, although I’m right beside you

You were my whole world

I see only you

But when when I’m in front of you, I always look away

 

As if you were my very last

As if it were my very last moment

Next to you, who just let me go so easily

I go closer to you again step by step

Although I cannot move at all

 

You make me restless, you make me cry

Like a fool, like a child

I want to just laugh it off instead

The closer I get to you

Although I get more scared

I guess I cannot stop this love

 

If even from a long distance

I could look upon you

That’s what you call love

 

If perhaps this yearning, this longing

When it sounds, when it touches

Please just act like you didn’t know

Although the closer I get to you, the more scared I get

I guess I cannot stop this love.” Aku menyelesaikan laguku. Kulihat jiyong tengah tertidur pulas disampingku. Aku memeluknya erat dengan air mata yang perlahan turun mengairi kedua pipiku. Tidurnya benar-benar pulas hingga aku tidak bisa merasakan sedikitpun detak jantungnya.

.

We’re not going into a wrong path. You may close your self to everything you hate but you’re doing your best you have, it just doesn’t give any influence to destiny”-Jiyong

.

.

End

.

.

 

6 thoughts on “[Freelance] You Change My World (oneshot)

  1. Huweee aku terharu baca akhirannya😦 , GD nya mati Jess nya sendirian deh hiks…
    Btw jarang bgt baca ff pairing nya GD ama Jess..
    Ff nya kerennn thor, ditunggu karya lainnya ^^

  2. astagaaa aku hampir nangis, andai lebih panjang lagi mungkin aku bakal nangis huhuhu
    oke mungkin ini bukan pair fav aku, tapi entah feelnya beras. biasanya aku gk bakal ngefeel sama ff yang pairnya bukan yang aku suka wkwkwk
    dua jempol deh buat author yang udah bikin aku suka ff ini sampai pair2nya hohoho
    jarang banget ada yang bikin ff jessi-GD, unik banget lahhhh
    okedeh aku tunggu ff ff unik dengan pair unik yang lain heeheheehe, tapi bikin lusica jugaa yaaaaa hehehehehe
    fighting and keep writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s