Just Stay Beside Me || 7

s-y-m-just-stay-beside-me

Author: S.Y.M

Title: Just Stay beside Me

Length: Chaptered

Genre:  Romantic high school

Rating: G

Cast: Jessica Jung || Kim Myungsoo || Na HaeRyeong BESTie

credit poster:

By Harururu98 @cafeposter

Note:

Anyeong….terima kasih sudah membaca fanfic ini, dan mungkin ini akan menjadi 2 chapter terakhir . Ma’af jika konflik semakin rumit, dan di 2 chapter terakhir ini akan terungkap semua yang menyebabkan hubungan Myungsoo dan Jung Sooyeon menjadi rumit. Disini juga sedikit mengungkap siapa itu Henry lhoh…hihihi

Mian for typo dan cerita yang membosankan…Selamat Membaca🙂

*

*

*

 Complicated Love

*

Sooyeon menatap Myungsoo dari belakang bangkunya, ia menatap punggung itu. Ujian akhir akan dilakukan beberapa bulan lagi dan dia juga harus menyiapkan ujian untuk masuk ke universitas. Sudah dipastikan dia akan masuk ke universitas yang sama dengan Myungsoo, jika itu mungkin dan dia tidak berubah pikiran.

Dia memangku kepalanya dan hanya memainkan bolpoinnya. Selanjutnya ia mengingat kebiasaan baru Myungsoo dimana ia tidak bisa mengikutinya.

Yang dikatakan Haeryeong memang benar, walaupun Myungsoo belum berada dalam satu universitas, mereka sudah sering bertemu. Lalu apa yang salah dengan itu? Sooyeon sudah memprediksikan hal ini. Jika Haeryeong kembali ke Seoul mereka akan sering bertemu, hanya saja kali ini mungkin dialah yang akan terdepak. Haeryeong sudah memutuskan untuk tinggal di Seoul dan tidak kembali seperti yang sebelumnya.

Chanyeol menepuk pundak Sooyeon saat bel jam istirahat berbunyi.

“ Eoh Husby” kaget Sooyeon.

Ia segera menoleh pada pelaku yang membuat  lamunannya buyar, ia mendapat tatapan aneh dari Chanyeol karena ia menyebut Myungsoo. Itu artinya dia sedang memikirkan namja itu.

“ Dia keluar lebih dulu”

Sooyeon mendengus, ia melirik singkat bangku Myungsoo yang sudah kosong.

“ Dia bertemu dengan Haeryeong?”

“ Eoh ayolah…hanya aku yang tidak mengenal siapa itu Haeryeong, jangan terlalu sering menyebutnya”

Sooyeon terkekeh, selanjutnya ia melambaikan tangannya yang artinya adalah mengusir Chanyeol untuk menjauh darinya.

“ Aku ingin tidur di kelas, makan sianglah bersama Hobaemu itu” Sooyeon menunjuk Gongchan yang melempar senyum giginya di pintu kelas mereka.

“ Kau tahu? Entah kenapa dia selalu membuntuti kita”

“ Aku hanya penggemar berat noona Barbie, jangan salah paham” balas Gongchan dari arah pintu.

Chanyeol mendengus, setidaknya dia lebih setia untuk menemaninya makan siang jika kedua temannya ini tidak ingin beristirahat bersama.

“ Baiklah…mungkin dia akan masuk ke dalam list teman menyebalkanku” Chanyeol melangkah dan diikuti oleh Gongchan dibelakangnya, tak lupa ia melambaikan tangannya pada Sooyeon sebelum beranjak dari pintu kelasnya.

“ Dia berbahanya” gumam Sooyeon, selanjutnya dia meletakkan kepalanya di atas meja dan memejamkan matanya perlahan.

Dia merasa tubuhnya sangat lelah walaupun dia tidak bekerja, kegiatannya hanya pergi ke sekolah, entah kenapa ia bisa merasa selelah ini, mungkin karena ia terlalu sering naik bis.

Dan dia benar-benar tertidur .

.

.

Myungsoo benar-benar bingung, kejutan dari Haeryeong membuatnya harus menata lebih perasaannya.

Haeryeong yang memutuskan untuk tinggal di Seoul bahkan sudah ia pikirkan sejak lama, dia pasti kembali dan perasaan gadis itu tidak berubah kepadanya.  Bertemu dengan Haeryeong saat di jam istirahat seperti ini hampir ia lakukan setiap hari.

Ia juga tidak bisa mengabaikannya begitu saja, ia tidak bisa menyakiti hati gadis itu dengan mengabaikannya walaupun saat ini ia ingin mempertahankan Sooyeon.

Bahkan kali ini ia terang-terangan dibuat pusing oleh situasi ini, ia tidak bisa menyakiti Haeryeong dan ia juga tidak bisa membiarkan Sooyeon pergi nantinya.

Myungsoo mengatur nafasnya setelah sampai di depan kantin , namun dari arah pintu ia hanya mendapati Chanyeol yang sedang berguarau dengan Gongchan. Ia terkekeh karena kedua spesies itu akhirnya menjadi cocok satu sama lain. Ia memutuskan untuk mencari keberadaan Sooyeon, sangat aneh ketika Sooyeon tidak bersama siapapun di kantin. Atau jangan-jangan dia bersama guru asing itu.

Ia merengut ketika menemukan Sooyeon tengah tertidur di bangkunya. Sleeping habbitnya tidak bisa ia hilangkan begitu saja. Ia sangat mudah tidur di manapun tempatnya.

Selanjutnya ia mempunyai ide untuk membangunkan si Sleeping beauty itu.

.

Sooyeon membuka matanya lebar saat merasakan dingin di pipinya. Ada sesuatu yang sangat dingin sengaja di letakkan di pipinya. Ia mendongak dan kaleng minuman soda itu terjatuh. Ia terlihat bingung dan mengambil kaleng minuman soda itu lalu meletakkannya di meja. Ia mengedarkan matanya mencari sang pelaku yang berani membangunkan tidurnya, padahal ini masih setengah dari jam istirahat , seharusnya ia bisa tidur lebih lama.

Selanjutnya ia menemukan sosok yang patut ia curigai s ebagai pelakunya. Ia berdiri dan melangkah di bangku depannya, tak lupa ia membawa kaleng minuman itu. Ia juga melakukan hal yang sama. Menempelkan kaleng dingin itu di pipi Myungsoo. Siapa lagi yang mampu melakukannya, lebih tepatnya Myungsoo adalah sosok yang pantas berbuat kejam seperti itu. Membangunkannya yang sedang tidur adalah tindakan kriminal Myungsoo.

“ Kau pelakuknya , iya kan” ucap Sooyeon tajam,  ia masih meletakkan kaleng dingin itu di pipinya.

Myungsoo hanya menatap Sooyeon datar , membuat Sooyeon mengernyit tidak terima, kenapa kaleng dingin ini tidak berpengaruh pada Myungsoo. Kenapa namja ini sangat curang.

Myungsoo perlahan meraih tangan Sooyeon dari kaleng itu, ia mengambil kaleng itu lalu meminumnya.

“ Gomawo” ucapnya lirih, lalu meletakkan sisanya di meja.

“ Wae? Apa bukan kau pelakunya Husby? Lalu siapa lagi yang bisa bertindak kriminal seperti itu? “ Sooyeon mengusap pipi Myungsoo yang basah karena kaleng dingin itu. Jika saja bukan Myungsoo pelakunya , ia pasti sudah melakukan hal yang memalukan.

“Mian..” ucap Sooyeon lirih.

Myungsoo terkekeh, melihat Sooyeon yang seperti ini selalu membuatnya puas. Sementara Sooyeon masih mengambil tisue di tasnya untuk mengelap pipi Myungsoo, ia terhenti karena Myungsoo meraih sebelah tangan Sooyeon dan memberinya dengan kaleng minuman yang tersisa setengah itu.

“ Minumlah sisanya, jangan tidur di kelas lagi” Myungsoo menyentil kening Sooyeon lalu melangkah pergi keluar kelas.

Sooyeon terdiam, tangannya perlahan mengusap keningnya. Ia menggeram kecil dan bersumpah akan membalas Myungsoo karena telah menipunya. Kecurigaannya benar tapi ia malah dibuat mengucap maaf Oleh Myungsoo.

“ Awas kau Kim Myungsoo” geramnya.

.

.

“ Anyeong Nona Jung”  Henry melambai pada Sooyeon dari kejauhan.

Sooyeon hanya melirik singkat pada Myungsoo dan Chanyeol yang kebetulan berjalan searah bersamanya.

Ia mendengus pelan lalu berlari kecil menghampiri Henry di dekat mobilnya.

Myungsoo memang sengaja tidak melihatnya, lagi pula apa alasannya untuk mencegah Sooyeon bersama Henry sedangkan hari ini ia berjanji pada Haeryeong untuk jalan-jalan bersama.

Chanyeol hanya tersenyum simpul lalu menepuk pundak Myungsoo.

“ Aku akan bermain di lapangan biasa, jika kau ingin menyusulku, aku pasti masih ada di tempat itu” ucap Chanyeol lalu berlari menuju motornya.

Akhir-akhir ini Myungsoo memang jarang menghabiskan waktu bersama Chanyeol. Ia tengah sibuk bersama Haeryeong yang baru kembali ke Seoul dan gadis itu masih ingin melepas rindunya dengan berkeliling Seoul dan meminta Myungsoo untuk menemaninya.

Myungsoo tersenyum simpul, ia tidak bisa membatalkan janjinya begitu saja. Kenapa pertemanannya begitu membingungkan akhir- akhir ini?

Ia terhenti, sepertinya dia memang tidak bisa mengabaikan Sooyeon yang saat ini terang-terangan sedang bersama Henry di depannya. Ia begitu jelas melihatnya karena ia tidak kunjung pergi dari tempat itu. Ia masih berfikir, sejauh mana kedekatan Sooyeon dan Henry jauh sebelum Sooyeon mengenalnya. Apa mereka sepasang kekasih? Lalu apakah memang Henry ke Seoul sengaja ingin bersama Sooyeon seperti yang dilakukan Haeryeong padanya. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh seseorang yang  dilanda cinta? Bersama-sama orang yang dicintainya adalah hal terbesar yang ingin dilakukannya.

Atau Henry memang menunggu Sooyeon sampai dia mau kembali ke Amerika. Saat ini itulah ha terakhir yang ia simpulkan.

Ia menunduk dan mendengus kecil ketika Sooyeon masuk ke dalam mobil Henry. Selanjutnya ia beranjak dan menuju motornya. Ada seseorang yang menunggunya, sementara ia tidak bisa berbuat banyak pada Sooyeon.

.

.

Henry memperhatikan Sooyeon selama ia mengendalikan mobilnya. Tatapan gadis kecilnya itu menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu. Apalagi yang ia pikirkan?

“ Wae? Kau menyesal karena aku yang mengantarkanmu pulang? Bukan supir busmu?” goda Henry.

Sooyeon melengos, ia melirik tajam Henry lalu memukul lengannya.

“ Supir bus itu lebih setia mengantarkanku setiap hari, dia pasti kehilangan satu pelanggannya hari ini karena aku bersamamu” balas Sooyeon.

Henry tergelak tawa, ia mengacak lembut rambut Sooyeon.

“Baiklah….aku tau apa yang membuatmu seperti ini, kau sedang cemburu pada pria lain, sedangkan aku yang disampingmu ini kau anggap apa?”

“ Oppa… jangan memulai lagi, atau kau habis di depan Appa”

“ Kau menggunakan Tn Jung sebagai ancaman? Baiklah…nona Jung, kau adalah putri yang membangkang dan masih berani menggunakan Appamu untuk mengancamku?”

Sooyeon terdiam, ia memalingkan wajahnya dan tidak ingin lebih lagi untuk melanjutkan percakapan yang menjurus ini. Dia memang membangkang, itu memang benar dan seperti inilah dia.

“ Apa aku tidak bisa kuliah di Seoul dan mewarisi bisnis Appa di Seoul?”

“ Kau masih berharap sebuah warisan sementara kau tidak ingin pulang ke Amerika? Rumahmu di Amerika, kau lupa itu? “

Sooyeon kembali melengos

“ Baiklah…bisnis di Seoul adalah milik ibu tiri dan tidak mungkin diwariskan padaku”

“ hahaha…lebih tepatnya, Appamu merindukanmu dan ingin kau pulang, itu saja”

“ Dia sering ke Seoul dan tidak mengunjungiku”

“ Kau yang menghindarinya, bukankah kau dalam masa hukuman?”

Sooyeon mendengus,  ia lupa bahwa masa hukuman satu bulan pertamanya dulu memang berhasil ia lewati, hanya saja itu menjadi lebih panjang karena ia memutuskan untuk tinggal lebih lama dan tidak memberi jawaban kapan ia akan kembali ke Amerika. Itu artinya selama 3 tahun ini, dia memang masih dihukum dan hidupnya tidak boleh meminta bantuan apapun pada pegawai atau apapun yang berhubungan dengan perusahaan Appanya.

Setidaknya tinggal bertetangga dengan Myungsoo bisa sedikit membantunya. Ahn Ahjumma dengan suka rela mau memasakkannya , ia memang sering menumpang makan di tempat Myungsoo. Ahn Ahjumma sangat menyayanginya.

“ Apa kau benar-benar mencintainya? Apa itu yang membuatmu begitu berat meninggalkannya?”

“ Sudah kukatakan aku_”

“ Jangan katakan Yunho masih menjadi alasanmu, Simpati konyolmu itu sudah menjadikanmu semakin jauh, jangan terus menyesali kematian Yunho yang kau pikir adalah kelalaianmu, kau tidak bertanggung jawab atas itu Jung Sooyeon!”

“ Kau tidak tahu Oppa, kau tidak merasakannya, ketika dia tahu dia hanya anak angkat dan dia merasa hanya Eomma yang mencintainya, kau tahu betapa terpukulnya dia setelah kematian Eomma? Aku bahkan tidak bisa membuatnya berhenti meratapi kesendiriannya. Dia terus merasa sendiri dan mengabaikanku, dia lupa ada aku yang bisa menyayanginya. Dia hidup dengan rasa sedih dan ketakutannya dan dia meninggalkanku_” Sooyeon menahan kalimatnya, dia mengalihkan pandangannya ketika air matanya sudah sampai di pelupuk matanya.

Ia tidak ingin mengangins dan menunjukkan bahwa ia masih sangat terluka dengan keadaan tragis pada Oppa angkatnya sebelum ia meninggal. Kesendirian dan kesedihan yang mendalam membuatnya lupa dengan orang-orang yang bisa menyayanginya. Keterpurukan dan kekecewaannya membuatnya tidak bisa bangkit dan melepaskan semua yang bisa membawa kebahagiannya. Ia melepas impiannya hanya karena ia gagal dan tidak bisa menunjukkannya pada eomma Sooyeon.

Kisah ini mirip dengan kekecewaan yang diceritakan Myungsoo diawal pertemuan mereka, Perasaannya dan keingingannya untuk menunjukkan bahwa kehilangan orang yang menyayangimu, dan orang yang ingin kau tunjukkan atas keberhasilanmu bukanlah akhir dari kehidupanmu. Kekecewaan , kesedihan dan keterpurukan atas semua itu ingin ia hilangkan dari Myungsoo, meskipun sebenarnya rasa itu muncul karena ia juga kecewa karena tidak bisa melakukan itu pada Yunho.

Ia ingin berada disamping Myungsoo dan melakukan hal yang tidak bisa ia lakukan pada Yunho ketika Myungsoo memintanya untuk tetap tinggal. Sebuah keputusan gila yang ia lakukan dan kembali membuat tantangan bersama Tn Jung.

Dan benar, dia sudah terlalu jauh dan ia memang benar-benar merasa berat meninggalkan Myungsoo.

 

Henry memarkirkan mobilnya segera, ia masih menunggu Sooyeon untuk berhenti berpaling dan kembali menormalkan hatinya. Ia tahu gadis kecilnya itu tidak pernah bisa menahan kesedihannya ketika membahas tentang Jung Yunho ataupun Eommanya. Dia berusahan membahagiakan orang lain sementara ia memiliki kesedihan mendalam dalam hidupnya. Itulah Jung Sooyeon saat ini.

Sooyeon mendongak, ia menahan agar air matanya tidak menetes pada pipinya. Menangis adalah hal yang paling ia benci.

“ Kau tidak ingin menangis?” goda Henry

“ Yakin kau tidak ingin menangis Jung Sooyeon?”

Sooyeon mengambil nafas dalam, lalu membuangnya pelan. Sama sekali ia tidak ingin menangis di hadapan Henry.

Henry terkekeh, ia menarik Sooyeon lalu memeluknya, selanjutnya ia mencium ujung kepala Sooyeon.

“ Dasar gadis aneh”

Sooyeon memukul lengan Henry lalu memintanya untuk menyalakan lagi mesin mobilnya.

“ Jangan bersikap seolah kau Yunho Oppa, kau mencuri semua kebiasaannya yang dilakukan padaku”

“ Itu memang tugasku”

“ Jangan harap aku akan menangis karena mengingat itu semua”

Henry tertawa, ia mengacak rambut Sooyeon. Kebiasaannya memang sangat sulit ia hilangkan. Sejak kematian Yunho, dia adalah orang yang berusaha menggantikan sosok Yunho dihadapan Sooyeon. Meskipun itu sama sekali tidak membuat Sooyeon terenyuh, namun Sooyeon menghargainya. Setidaknya ia masih bisa merasakan kebiasaan yang dilakukan Yunho lewat Henry meskipun sebenarnya dia sangat menyebalkan. Dan bahkan ia  tahu jika Henry ke Seoul memang untuk membuatnya kembali ke Amerika.

.

.

Haeryeong mengapit lengan Myungsoo dengan bahagia ia menelusuri seluruh pemandangan di depannya. Ini adalah tempat yang biasa mereka datangi ketika masih kecil, di tempat yang menjual berbagai macam jajanan yang menggiurkan.

“ Kau ingat kita sering bersembunyi diantara penjual-penjual itu ketika bodyguardmu mencarimu? Saat itu kau masih ingin bermain bersamaku” ucap Haeryeong.

Myungsoo tersenyum, sebenernya ia tidak ingat kenapa ia bisa melakukan hal menggelikan seperti itu dimasa kecilnya. Ia mungkin sudah melupakannya.

“ Kau tidak mengingatnya?” protes Haeryeong.

“ Itu menggelikan, aku sepertinya lupa”

“ Kau bahkan mengatakan kau ingin tinggal bersama ku dan terus bermain bersamaku”

Myungsoo terbatuk pelan, kali ini dia benar-benar geli akan cerita itu. Benarkah ia seperti itu dulu? Apa terlalu lama ia menjadi manusia datar sehingga tidak mengingatnya?

“ Usia berapa aku melakukan hal menggelikan seperti itu?”

“Hya…kau sangat curang, bahkan aku masih mengingatnya”

Myungsoso tersenyum kecil, ia benar-benar lupa pernah melakukan hal seperti itu ketika masih kecil.

Haeryeong melepaskan lengannya, ia terlihat marah karena Myungsoo tidak mengingatnya.

Myungsoo menggaruk pelan tengkuknya. Jika dia Sooyeon , saat ini mungkin ia sudah menahan tawanya, karena kemarahan Sooyeon adalah hal lucu baginya. Namun saat ini di hadapannya adalah Haeryeong, ia hanya bisa bersikap lembut pada Gadis ini.

“ Baiklah…kita makan ddeokbokki di tempat itu, aku ingin ddeokbokki” rayu Myungsoo.

Haeryeong mendengus, ia mendongak dan menatap wajah senyum Myungsoo. Wajah tampan yang mampu menyihirnya untuk menghapus rasa marahnya. Akhirnya ia mengangguk menyetujui Myungsoo.

“ Sejak kapan kau suka makanan ini? Seingatku kau sangat jarang memakannya dan kau tidak menyukainya, bahkan kau tidak pernah menyentuhnya meskipun itu adalah masakan Ahn Ahjumma” pertanyaan Haeryeong ini membuatnya terdiam.

Ia mulai berfikir sejak kapan ia menyukai Ddeokbokki, terutama Ddeokbokki buatan Ahn Ahjumma. Dan ia menemukan pelakunya yang tak lain adala Jung Sooyeon. Sebenarnya gadis itu yang menyebabkan Myungsoo mampu  merasakan makanan-makanan aneh yang tidak pernah ia sukai saat masih kecil.

“ Temanku sangat menyukainya, dan aku rasa tidak ada salahnya juga memakannya, rasanya tidak terlalu buruk”

“ Kau juga tidak memakan kerang karena Sooyeon alergi bukan? “

Myungsoo kembali terdiam, bahkan dia juga menjadi penyuka kopi karena Sooyeon selalu merengek meminta kopi buatan Ahn Ahjumma ketika menyusup ke rumahnya. Dia juga bisa memakan burger “paling enak” versi Sooyeon yang dijual di pinggir jalan dan pada kenyataannya rasa burger itu sangat jauh dari kata enak. Dia juga memakan makanan aneh bernama pancake hangus buatan Sooyeon ketika mengacau di rumahnya.

Myungsoo terkekeh, Sooyeon memang berpengaruh di hidupnya selama ini.

“ Karena dia temanku”

Haeryeong terdiam, jawaban itu sudah cukup dan dia tidak ingin menanyakan lebih. Tiba-tiba saja ia merasa hal aneh yang bernama nyeri di dadanya. Ia cukup merasa cemburu dengan pertanyaannya sendiri tentang Sooyeon. Kenjadian dimana ia melihat sendiri bagaimana Myungsoo membentaknya karena menyediakan kerang di makan malam itu membuatnya menyimpulkan sendiri bagaimana perasaannya pada Sooyeon. Saat itu ia benar-benar merasa cemburu pada Sooyeon.

“ Kau sudah memutuskan di universitas mana kau akan kuliah?”

Myungsoo menggeleng pelan

“ Mungkin , masih ada beberapa nama yang terlintas di kepalaku”

“ Kau masih ingin mengambil sekolah music nantinya?”

“ Sepertinya tidak, aku harus belajar tentang managemen , perusahaan menungguku”

“ Lalu dengan impianmu?”

“ Impianku? … sudah sejak lama aku mengubahnya”

“ Kau bukan tipe orang yang mudah merubah kemauanmu, kau berubah , apa kau benar-benar berubah 3 tahun terakhir ini?”

“ Benarkah? Sepertinya begitu, cara pikir seseorang suatu saat pasti akan berubah”

“ Aku mengenalmu dan_”

“ Kita masih muda dan beranjak dewasa, sangat wajar jika semuanya bisa berubah”

“ Apa perasaanmu juga berubah? Selama ini kau masih menungguku bukan?”

Myungsoo terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Mungkin 3 tahun adalah waktu yang cukup lama, namun ia memang sudah berubah sejauh ini. Perasaannya pada Haeryeong? Perasaannya yang ingin menjadi kekasih Haeryeong, sepertinya itu yang sudah hilang darinya. Entah sejak kapan ia  tidak pernah memikirkan hal itu. Selama ini ia merindukan Haeryeong sebagai sosok yang menemaninya dimasa kecilnya dulu. Teman yang ia sayangi, dan tidak bisa ia abaikan begitu saja.

Namun jika disinggung dengan cinta, hanya dia yang bisa menjawabnya. Untuk siapa perasaan cintanya. Hanya dia yang mengetahuinya. Mungkinkah itu seorang Haeryeong? Atau spesies aneh bernama Sooyeon.

Haeryeong terdiam, tentu saja merasa kaku ketika Myungsoo tidak memberikan jawaban apapun padanya. Apa perasaan namja ini sudah beruah padanya? Sementara ia masih menyimpan perasaan itu padanya? Apa ada sosok lain yang membuatnya berubah ? apa itu seorang Sooyeon?

Bahkan perasaannya benar-benar terganggu karena hal ini, dan dikepalanya selalu terlintas nama Jung Sooyeon yang mengganggu semuanya.

.

.

Sooyeon segera melepas celemek dan meletakkannya asal ketika Ahn Ahjumma memintanya untuk segera melihat Myungsoo. Suara motor Myungsoo sudah terdengar dan Ahn Ahjumam meminta Sooyeon untuk menahan  Myungsoo agar dia tidak langsung tidur, ia harus makan bersama karena Ahn Ahjumma sudah menyiapkan makan malam untuknya.

“ Husby_” Sooyeon segera menutup mulutnya dan bersembunyi dibalik pintu, ia terlalu bersemangat memanggil Myungsoo sehingga ia tidak sadar jika Haeryeong berada di depan rumah Myungsoo. Ia merutuki dirinya yang selalu ceroboh.

Sooyeon memutuskan untuk menunggu sampai Myungsoo masuk ke dalam rumah. Ia menunggu percakapan yang mungkin akan membuatnya terluka. Ia hanya ingin memuaskan rasa ingin tahunya.

Perlahan ia merapat dan tertarik pada jendela yang tertutup kaca dan kain selambu itu. Ia penasaran kenapa mereka begitu lama sehingga Myungsoo tidak juga masuk ke dalam rumah.

Ia melihat percakapan antara keduanya yang berujung pada pelukan hangat seorang Haeryeong pada Myungsoo.

Sooyeon menunduk, kali ini ia merutuki dirinya sendiri yang membiarkan dirinya melihatnya. Ia tidak lagi membuat pembelaan bahwa untuk apa dia takut mempunyai perasaan lebih pada Myungsoo ketika ia merasakan sesak dan sakit ini. Dia memang mencintai namja itu, apapun itu dia memang memiliki perasaan itu. Selanjutnya hal paling menyesakkan yang terlihat olehnya adalah, ketika Haeryeong mencium Myungsoo. Gadis itu mencium bibir yang pernah menciumnya.

Matanya membulat sempurnya, disertai air mata yang memberontak dipelupuk matanya. Ia merasakan darahnya mendesir dan tubuhnya tiba-tiba terasa ringan. Ia memejamkan matanya segera dan mendongak menghindari air mata yang hampir jatuh itu. Ia memukul pelan dadanya dan mengatur nafasnya.

Dadanya terasa sesak dan nyeri. Ia bodoh karena membiarkan dirinya melihat hal itu. dan ia hanya terbatu tanpa melangkah ke tempat lain dari tempatnya berdiri saat ini.

.

.

Myungsoo melebarkan matanya ketika merasakan bibir Haeryeong menyentuh bibirnya. Ia hanya terdiam dan perlahan melangka mundur sehingga Haeryeong melepas ciumannya.

Ia tersenyum simpul, apa yang ada di pikirannya selama ini sedikit demi sedikit terbukti. Perasaan Myungsoo padanya tidak sama seperti dulu, Perasaan Myungsoo padanya tidak sama dengan perasaannya pada namja itu. Meski namja itu selalu datang padanya, tapi perasaannya tidak lagi penuh padanya. Dan ia dapat merasakan hal itu.

“ Kau harus segera pulang, tidak baik_”

“ untuktu berada lama di luar rumah. Selalu itu yang kau ucapkan padaku”

Myungsoo terdiam, ia tengah bingung dengan apa yang melandanya kali ini. Sifat Haeryeong yang menuntut adalah ciri khasnya, dan kali ini Haeryeong pasti menuntut dengan perubahan yang mungkin tengah dirasakan Haeryeong. Gadis itu merasakan perubahan dan hal yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.

“ Pulanglah…jangan buat mereka membenciku karena membuat putri kesayangan mereka pulang larut, mereka juga sudah menunggumu lama” pinta Myungsoo.

Haeryeong menghela nafas, ia mengalah…ia mengalah pada Myungsoo malam ini sementara rasa ingin tahunya belum juga terpuaskan. Apa Myungsoo baru saja menolaknya? Itu adalah yang mengganggu di kepalanya.

Perlahan ia melangkah mundur dan semakin menjauh dari Myungsoo. Malam ini adalah malam terburuk untuknya.

.

Myungsoo baru beranjak ketika mobil Haeryeong benar-benar meninggalkan halaman rumahnya. Dengan langkah gontai ia  masuk ke dalam rumah dan mendapati Sooyeon tengah berdiri di dekat Jendela.

Sooyeon yang menyadari tatapan datar Myungsoo segera mengubah ekspresi awalnya. Ia tersenyum lebar dan melupakan apa yang baru saja ia lihat.

“ Anyeong…Jangan coba untuk kabur dan tidur lebih dulu sebelum kau habiskan makan malam yang dimasak Ahn Ahjumma untukmu” Ucap Sooyeon penuh semangat, semngat yang ia paksakan.

Myungsoo masih menatap dingin gadis itu, gadis yang mampu membuat seribu ekspresi untuk menipu keadaannya yang sebenarnya.

“ Hya! Husby…jangan menatapku seperti itu, kau menyebalkan” protes Sooyeon karena Myungsoo tak mau mengubah tatapan dinginnya itu.

Selanjutnya Myungsoo menghentikan tatapan dinginnya dan melangkah ke meja makan, ia tidak perlu mengganti pakainnya jika memang Ahn Ahjumma sudah menyiapkan makan malam untuknya. Itu artinya dia memang harus memakannya.

Sooyeon mengernyit, ia mengerutu pelan karena Myungsoo hanya menunjukkan ekspersi datarnya lalu pergi begitu saja.

Selanjutnya ia pun menyusul Myungsoo ke meja makan. Ia mengambil nafas dalam, ia harus menghiraukan apapun yang baru saja ia lihat, itu bisa merusak makan malamnya kali ini. Setidaknya Myungsoo tidak akan tahu jika ia melihat apa yang ia lakukan bersama Haeryeong tadi.

Myungsoo tersenyum simpul, bahkan Sooyeon tidak akan sadar jika Myungsoo semakin hafal dengan kebiasaan dan berbagai ekspresi dadakan dari Sooyeon. Ia tahu gadis itu  melihat sesuatu yang mungkin mengacaukan hatinya, hanya saja kenapa ia masih bisa menunjukkan wajah ceria itu di depannya? Kenapa gadis itu tidak bisa menunjukkan wajah sedihnya sedikitpun pada Myungsoo? Setidaknnya Myungsoo ingin melihat bagaimana Sooyeon benar-benar merasakan hal yang ia rasakan ketika gadis itu bersama Henry.

Gadis itu benar-benar pandai menipunya dengan senyum di wajahnya.

.

.

Myungsoo mendrable bola dan melemparnya ke dalam ring. Chanyeol segera merebutnya dan melakukan hal yang sama dengan Myungsoo, sayangnya angka yang dicetak Chanyeol lebih tinggi dari Myungsoo.

Chanyeol tertawa ketika melihat Myungsoo meletakkn tubuhnya dan merasakan hangatnya lapangan basket sore ini.

“Sangat menyenangkan ketika bermain denganmu yang sedang kacau seperti ini, Aku bisa mengalahkanmu dengan mudah” Chanyeol menyusul Myungsoo dan melentangkan tubuhnya. Ia mengatur nafasnya  dan menikmati langit cerah sore ini.

“Hfuh…” Myungsoo membuang nafas.

“ Sekolah terasa sepi hari ini karena tidak ada Sooyeon , aku merindukannya…kau tidak merindukannya?”

Myungsoo masih terdiam, hari ini bahkan ia tidak tahu kenapa gadis itu tidak masuk ke sekolah, sementara malam kemarin dia masih bisa melihat senyumannya yang menipu.

Chanyeol melirik Myungsoo, sahabatnya sedang memikirkan sesuatu dan tebakannya adalah dia sedang berfikir kenapa Sooyeon tidak masuk sekolah tanpa sepengetahuannya. Dia terlihat terkejut ketika sampai jam terakhir Sooyeon tidak juga berada di bangkunya. Itu artinya istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu pada Myungsoo.

“ Hoah….Tuhan…bolekah aku meminta sesuatu padaMu? Aku ingin temanku ini mengakui perasaannya segera”

BLUK

Sebuah handuk mendarat tepat menutupi wajah Chanyeol, Myungsoo lah yang melemparnya, bukan orang lain.

Chanyeol tertawa melihat sahabatnya itu bangkit dan berlari mengambil bola basketnya. Ia melemparnya ke dalam ring namun gagal, selanjutnya ia tidak ingin lagi melemparkan bola itu ke dalam ring.

Chanyeol kembali melempar handuk Myungsoo.

“ Hoah…Kau sudah menentukan di universitas mana kau akan kuliah? “

“ Sama seperti yang kau pilih”

“ Woah…terlihat sekali kau tidak bisa berpisah denganku”

“ Jangan terlalu percaya diri”

“ haaha ayolah…Kita bertiga akan kembali bertemu…Tuhan memang merencanakan itu untuk kita”

Chanyeol berhamburan memeluk Myungsoo, namun Myungsoo menghindarinya, membuatnya terjungkir ke bawah. Myungsoo terkekeh lalu membantunya berdiri, namun bukan Chanyeol jika ia tidak membalas Myungsoo. Ia menarik Myungsoo sehingga namja itu juga ikut terjungkir.

“ itulah..teman, hahaha” tawa Chanyeol lebar.

Myungsoo tersenyum, ia mendongak menatap langit sore lalu memejamkan matanya. Ia juga berharap sama seperti Chanyeol. Meskipun ragu, namun ia tahu kebiasaan Sooyeon adalah mengikutinya, dan ia akan mengambil jurusan dan universitas yang sama untuk terus bersama Myungsoo. Itulah Sooyeon . Semoga seperti itu.

.

.

Sooyeon mendatap tatapan aneh dari kedua species yang akhir akhir ini menjadi akrab. Siapalagi jika bukan Chanyeol dan Gongchan. Kedua namja itu tengah terdiam namun masih dengan tatapan aneh mereka.

“Wae?” tanya Sooyeon gerah.

“ Apa kau sakit noona?” tanya Gongchan.

“ Kau bolos sekolah?” tanya Chanyeol.

Sooyeon mendengus, ia meminum sisa kopi di cangkirnya lalu berdecak pinggang.

“ Seharusnya Husby yang bertanya padaku, bukan kalian…kalian tidak boleh bertanya seperti itu lebih dulu dari Husby” protes Sooyeon. Ia mendongak dan mencari-cari sosok Myungsoo namun ia tidak menemukannya sejak bel istirahat berbunyi.

Bukankah sudah kebiasaannya menghilang lebih dulu di jam istirahat, seharusnya Sooyeon tidak terlalu berharap ia bisa menghabiskan waktu istirahatnya bersama namja itu. Bahkan disaat tahun akhir sekolahnya, ia sangat jarang bertemu Myungsoo.

“ Jangan terlalu berharap dengannya, sepertinya rumah tanggamu memang benar-benar retak noona” goda Gongchan.

Selanjutnya tangan Sooyeon sudah mampu untuk menyentil kening Gongchan dan didukung dengan tawa dari Chanyeol.

“ Jangan coba-coba untuk berkata seperti itu hobae menyebalkan” gerutu Sooyeon.

“ Aigoo…kau seharusnya berkencan denganku noona, aku tidak akan menyakitimu”

Chanyeol melengos, ia terbatuk ketika mendengar apa yang dikatakan Gongchan pada Sooyeon. Yang membuat Chanyeol kaget adalah…apa Gongchan baik-baik saja karena berani mengajak gadis aneh ini berkencan?

“ Eoh…baiklah..kau semakin menunjukkan sisi keanehanmu” gumam Chanyeol.

Sooyeon mengernyit.

“ Hya!…kau pikir aku istri yang suka selingkuh? Aku tidak akan selingkuh denganmu” Sooyeon mengerucutkan bibirnya lalu disambut tawa oleh Gongchan.

“ Ara-ara…hanya saja hubungan kalian terlalu rumit dan lambat “

Sooyeon terdiam, begitu juga dengan Canyeol. Mereka tahu apa yang dimaksud Gongchan, dan itu mendapat persetujuan dari Chanyeol. Kedua makhluk ini memang rumit. Tidak ada yang bisa menebak bagaimana sebenarnya perasaan keduanya. Sedangkan mereka terbiasa dengan sikap protektif Sooyeon karena tidak ingin banyak gadis yang menjadi penggemarnya. Dia seperti seorang idol ketika pertama kali masuk ke SMA, bahkan selalu banyak kado untuknya seperti dalam komik, itu konyol namun kehadiran Sooyeon yang selalu menjadi jahat saat para gadis centil itu mendekati Myungsoo bisa meredamkan huru-hara para penggemar Myungsoo.

Dan dibalik itu semua , mereka tahu mereka bukan sepasang kekasih. Itulah kenyataan yang diabaikan oleh banyak orang, selain Chanyeol dan Gongchan.

Yang membuat mereka merasa geregetan adalah, kedua spesies aneh ini adalah tipe orang yang sangat sulit mengungkapkan perasaan mereka. Namun sebagai sahabat mereka, Chanyeol begitu menungu kapan Myungsoo akan menyerah dan menyatakan perasaannya pada Sooyeon. Begitu  juga Gongchan yang menunggu noona barbienya ini menyerah dan mengatakan bahwa ia tidak baik-baik saja ketika meliat Myungsoo bersama kakaknya, Na Haeryeong.

“Jangan membicarakan orang lain ketika dia tidak ada” Myungsoo bergabung dengan mereka, dan secangkir kopi sudah ada di meja itu.

Sooyeon menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kemudian ia melempar senyum semanis mungkin di depan Myungsoo.

“ eoh…aku harus ke kelas secepat mungkin, anyeong noona “ Gongchan tiba-tiba memutuskan untuk mengakhiri jam istirahatnya lebih dulu dan segera pergi dari kantin.

Sementara Chanyeol tahu apa maksud Gongchan , ia pun melemparkan cengiran khasnya pada kedua sahabatnya ini.

“ Emh…aku harus ke ruang guru untuk meminta bimbingan, sepertinya kalian juga harus menemui guru pembimbing juga” Chanyeol pun ikut pergi dari meja itu.

“ Eohh..Husby…sepertinya Chanyeol benar, aku perlu pembimbing untuk jurusanku nanti” Sooyeon pun merasa alasan Chanyeol cukup masuk akal, dan dia juga beranjak untuk mengikuti Chanyeol.

“ Tunggu, temani aku menghabiskan ini “ Myungsoo menahan tangannya, lalu menariknya untuk tetap duduk.

Sooyeon mendengus pelan, sebenarnya dia berniat untuk pergi karena ia merasakan tidak nyaman pada hatinya, ia masih teringat apa yang terjadi antara Myungsoo dan Haeryeong malam itu.

“ Waeee…..” rengek Sooyeon.

Myungsoo menunjuk pada segerombolan Hobae yang mengantri dari kejauhan, dari pandangan mereka, terlihat bahwa Myungsoo adalah sasaran mereka.

Sooyeon merengut, kenapa kebiasaan lamanya menjadi terulang kembali. Dia sedang tidak ingin meninggalkan kesan buruk di tahun terakhirnya.

Sooyeon mendengus pelan, ia berdiri lalu melambai pada  gerombolan hobae itu untuk mendekat pada mereka.

Myungsoo mendongak dan terlihat bingung dengan apa yang dilakukan Sooyeon. Tidak biasanya  dia malah memangil Hobae itu. Biasanya dia sudah menjadi seorang mirip penyihir jahat dan mengusir mereka.

“Chakkam_”

“ Kalian ingin memberinya hadiah perpisahan? Atau ucapan semangat untuknya sebelum ujian akhir dan masuk universitas? Lakukan sesuka kalian…” perintah Sooyeon .

Myungsoo mendongak dan menatap Sooyeon tajam, sedangkan gadis itu sedang tersenyum bangga dengan apa yang dilakukannya.

“ Aku begitu baik hati hari ini Husby, apa perlu aku meminta mereka untuk membayar makan siang kita?”

Tawaran itu hanya ditanggapi oleh tatapan dingin dari Myungsoo. Sementara kesempatan emas ini tidak dibiarkan begitu saja oleh para Hobae itu. Mereka tentu berhamburan dan memberikan kado mereka pada Myungsoo. Tidak lupa juga mereka meminta foto perpisahan yang walaupun sebenarnya mereka bisa mendapatkannya ketika upacara kelulusan tiba.

Myungsoo tersenyum pada mereka, sedangkan dia sangat merutuki keputusan Sooyeon untuk membiarkan mereka mengerubunginya. Ada apa dengan gadis itu…

.

.

Sooyeon membolak balik kado yang ia bawa, ia tertawa dan membawa separuh dari kado yang diterima Myungsoo.

“ Sebenarnya tidak buruk membiarkan mereka menyukaimu Husby, jika kau tidak suka kadonya aku bisa memilikinya bukan? Aih….kenapa aku baru memikirkannya ketika kita sudah hampir lulus? “ gumam Sooyeon, sedangkan namja yang ia ajak bicara hanya diam.

“ Kau membuatku tidak nyaman dengan kekonyolan mereka”

Sooyeon terkikik, dia menyamai langkah Myungsoo yang sedang membuka lokernya untuk menyimpan kado itu.

“ Lagi pula kau tidak akan memerlukan istri sepertiku lagi ketika sudah ada Haeryeong di sampingmu, Ahhh tidak kusangka aku akan menceraikanmu, benar-benar menceraikanmu”

Myungsoo terdiam, ini menunjukkan bahwa Sooyeon melihat apa yang mereka lalkukan malam itu.

Perlahan Myungsoo menatap gadis yang tengah memberinya senyum manis itu.

“ Kau sudah sering mengatakannya, aku sudah bosan mendengarnya” Myungsoo menutup lokernya lalu melangkah pergi

Sooyeon merengut dengan ekspresi menjengkelkan Myungsoo padanya. Ia berlari kecil untuk menyamai langkah Myungsoo.

“ Aku benar-benar akan melakukannya, kau akan lihat nanti, aku rasa tugasku selesai, bukankah begitu ?”

Myungsoo masih terdiam, dia segera berbelok dan masuk ke dalam kelasnya. Ia pun tidak menjawab lebih dari apa yang dikatakan Sooyeon padanya. Sedangkan Sooyeon pun tidak ambil pusing dengan jawaban Myungsoo. Ia duduk di bangkunya sendiri dan mempersiapkan untuk test yang akan diberikan oleh Songsaengnim.

.

.

Sooyeon menghentikan langkahnya, ia membungkukkan badannya setelah melihat Haeryeong berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Selanjutnya ia menoleh ke segala arah mencari keberadaan Myungsoo. Tidak biasanya Myungsoo membiarkan Haeryeong menunggu lebih lama.

“ Aku tidak sedang menunggu Myungsoo, Jung Sooyeon” Haeryeong melempar senyumnya, lalu menghampiri Sooyeon.

“ Eoh? Kau menjemput Na Gongchan?” tanya Sooyeon.

Haeryeong tersenyum dan menggeleng.

“ Dia tidak suka aku berada di sekitarnya , apalagi menjemputnya”

“ Eoh…” Sooyeon terlihat berfikir.

“ Kau tersesat ?” imbuh Sooyeon dengan wajah innocentnya.

Haeryeong tertawa, ia meraih lengan Sooyeon dan mengajaknya untuk berjalan di sampingnya.

“ Aku ingin kau menemaniku berbelanja hari ini “

Sooyeon terdiam, ia hanya menuruti arah langkah Haeryeong yang menuntunnya. Ia mengangguk pelan sebagai persetujuannya. Sementara Haeryeong masih mengapit lengannya. Dia tidak mungkin menolak permintaan Haeryeong.

.

Sooyeon masih berfikir kenapa Haeryeong mengajaknya untuk berbelanja bersama, sementara ia masih menunggu Haeryeong memilih pakaiannya, ia pun berkeliling melihat berbagai bentuk pakaian yang tergantung itu. Sesekali ia melirik ke arah Haeryeong yang saat ini tengah memilih pakaian untuk pria. Ia sedikit lebih lama melihatnya karena kali ini ia paham untuk siapa Haeryeong berbelanja. Itu untuk Myungsoo. Dia pun teringat bulan dan tanggal ini, Sebentar lagi adalah ulang tahun Myungsoo. Itu artinya dia terjebak oleh kedua makhluk ini di moment yang sama. Myungsoo juga pernah memintanya untuk menemani dan memilihkan kado untuk ulang tahun Haeryeong. Dan kali ini Haeryeog juga memintanya untuk menemaninya membeli hadia ulang tahun Myungsoo. Lalu siapa dia sebenarnya, apa yang mereka pikirkan tentang dia yang selalu diajak untuk menemani membeli hadiah?

“ Sepertinya aku mirip seorang designer ataupun fashionista” gerutu Sooyeon.

Dan benar tebakannya, tak lama setelah itu Haeryeong melambaikan tangan padanya, Sooyeon pun mendekatinya. Haeryeong meminta pendapat untuk satu stel pakaian yang ia pilih.

“ Apa menurutmu Myungsoo akan menyukainya?” tanya Haeryeong.

Sooyeon terlihat berfikir

“ Jangan ragu untuk menjawabnya, jawablah dengan jujur, karena selama ini kau terlihat akrab dengannya” pinta Haeryeong.

Sooyeon berdehem kecil, baiklah…memang dia akrab pada Myungsoo, meskipun ia mencari tahu banyak hal tentang Myungsoo. Namun kenyataannya Myungsoo adalah orang yang menyebalkan dan tidak bisa begitu saja menebak seleranya.

“ Dia lebih suka sesuatu yang simple, ini terlalu rapi untuknya” itulah pendapat Sooyeon pada pakaian yang ditunjukkan Haeryeong.

“ Benarkah? Aku sangat hafal dia suka sesuatu  yang rapi dan resmi seperti ini, sejak kecil dia suka memakai pakaian yang seperti ini”

Sooyeon memiringkan kepalanya. Ia sedikit bergumam bahwa pakaian itu mungkin akan membuat Myungsoo lebih tua, sedangkan menurutnya Myungsoo lebih pantas ketika memakai kaos santai dan rambut poninya.

“ emh…mungkin…aku tidak tahu banyak tentangnya, aku hanya melihat dia memakai pakaian santai saja, jika kau tahu karena kau memang dekat dengannya, kau bisa memberinya dengan ini, dia akan memakainya untukmu” Ucap Sooyeon, ia melempar senyumnya pada Haeryeong dan meyakinkannya .

Haeryeong tersenyum simpul, ia masih meyakini apa yang ia tahu dari Myungsoo sejak kecil, ia yakin Myungsoo bukan orang yang mudah mengubah kebiasaannya.

“ Tentu, aku akan mengambilnya” Haeryeong mengambil satu set pakaian itu.

Sooyeon tersenyum, selanjutnya tatapannya menangkap pada topi hitam dan jaket hitam yang tergantung tak jauh dari tempatnya berdiri.

Ia tersenyum dan mengambil dua benda itu tanpa pikir panjang, dia juga tidak berfikir Myungsoo akan menerimanya atau bahkan mau memakainya. Ia bukan tipe gadis yang suka memberikan kado ulang tahun untuk seseorang. Bahkan selama ia mengenal Myungsoo dan bertetangga dengnnya, ini pertama kalinya ia membeli hadiah berupa pakaian untuknya. Lalu apa yang selama ini ia persiapkan untuk ulang tahun  Myungsoo? Tidak ada, ia tahu Myungsoo bukan orang yang suka merayakan sesuatu yang berhubungan dengannya. Ia tahu kebiasaan Myungsoo yang hanya menghabiskan waktunya di taman sehari setelah ulang tahunnya. Dan ia hanya menemani Ahn Ahjumma untuk memasakkan makanan kesukaannya. Hanya itu saja.

“ Sejauh mana kau mengenal Myungsoo?” tanya Haeryeong

Sooyeon terdiam, yang ia tahu Myungsoo adalah sosok yang menyedihkan, kejam dan menyebalkan. Dia menjadi orang yang tertutup dan tidak banyak bicara, dia juga manusia datar yang jarang menampakkan ekspresi wajahnya selain aura dinginnya. Dia jarang mengeluarkan senyum tulusnya. Dan sampai saat ini dia masih menyesali atas kematian kedua orang tuanya. Tidak banyak yang tahu bahwa ia sudah melupakan kejadian itu. Namun selama 3 tahun ini Myungsoo masih menangis di taman itu walaupun Sooyeon tidak ingin lebih membahas itu. Karena saat mengetahui itu ia merasa ia gagal menjalankan misinya untuk menghilangkan rasa sesalnya.

“ Dia menyebalkan dan dingin, dia jarang tersenyum, dan kurasa dia hanya tersenyum kepadamu” ucap Sooyeon.

Haeryeong kembali tersenyum dan mengangkat satu gantung dress lalu ia letakkan di  tubuhnya.

“ Bagaimana menurutmu dengan pakaian ini?” tanya Haeryeong.

“  Bagus”

“ Cocok untuk acara pertunangan?”

Sooyeon terdiam, dia terbatu ketika mendengar kalimat itu, apa itu artinya dia dan Myungsoo akan resmi menjadi kekasih? Dan bertunangan?

Sooyeon merasa tubuhnya menjadi ringan dan kepalanya menjadi berat kali ini. Ia menunduk lalu mencari ekspresi apa yang pas untuk menanggapinya.

Tangannya meraih satu pakaian yang lain di gantungan itu

“ Kau lebih cantik jika memakai yang seperti ini” dan itulah yang ditunjukkan Sooyeon pada Haeryeong.

Haeryeong tersenyum, ia meletakkan pakaian yang ia pilih lalu meraih pakaian pilihan Sooyeon. Di tahu gadis itu tengah berusaha menutupi keterkejutannya. Ia ingin melihat ekspresi yang lebih dari sekedar senyum manisnya. Ia ingin mencari letak kecemburuan Sooyeon dan sampai mana ia bisa bertahan.

“ Kau memang mempunyai selera yang bagus Sooyeon_ah, aku akan membeli yang ini, sesuai pilihanmu…” Haeryeong benar-benar mengambilnya.

Sooyeon tersenyum simpul. Dan ia ingin segera sampai di rumahnya untuk berdiam diri di dalam kamarnya. Ia ingin tidur dan segera bangun besok paginya. Semoga kali ini ia sedang bermimpi.

“ Kau tahu, aku merasa sangat bahagia ketika aku bisa kembali dan memutuskan untuk tinggal di Seoul, aku selalu berfikir bagaimana aku bahagia, dan aku selalu mendapatkannya. Dan Myungsoo adala salah satunya, dia membuatku selalu merasa bahagia dan ingin bersamanya, Dia membuatku merasa nyaman berada di dekatnya bahkan sejak kami masih kecil. Dia selalu menjagaku…selalu, bahkan tidak pernah terlewat satupun saat aku membutuhkannya dia tidak pernah mengabaikanku…itulah alasanku kenapa aku ingin bersamanya, aku mencintainya dan kuharap dia juga seperti itu”

Kalimat panjang itu membuat Sooyeon tidak lagi berkonsentrasi pada jalanan di depannya. Ia hanya mengeratkan genggamannya pada tas yang ia bawa. Ia hanya memberi senyum pada Haeryeong, tentu ia tidak ingin Haeryeong tahu apa yang menyerang hatinya saat ini.

“ Sepertinya dia juga mencintaimu” Itulah jawaban Sooyeon.

“ Kau yakin? Aku pikir banyak gadis yang kecewa setelah tahu kenyataan itu”

Cukup….

Sooyeon merasa ini semua sudah cukup untuk menyiksanya.

“ Aku harap juga seperti itu” Itu jawaban terakhir yang ingin dibeerikan Sooyeon karena ia ingin segera pergi dari hadapannya saat itu juga.

“ Aku akan naik bus, kau tidak perlu mengantarku …arah rumah kita berlawanan…terima kasih untuk hari ini” ucap Sooyeon.

“ Gomawoo Sooyeon_ah, aku juga senang berbelanja denganmu, aku ingin merayakan ulang tahun Myungsoo di rumahku, apa kau ingin bergabung?”

Sooyeon tersenyum dan tidak menjawab, bagaimana mungkin ia melakukan itu.

“ Aku akan senang jika kau juga datang ke rumahku, Bye…” Haeryeong melambaikan tagannya dan dengan langkah kecil ia masuk ke dalam mobilnya.

Sooyeon mendengus , ia menghela nafas panjang dan mengatur detak jantungnya. Hari ini benar-benar melelahkan baginya.

.

.

Sooyeon terlihat ragu untuk datang ke rumah Myungsoo. Ia menunggu sampai Myungsoo benar-benar keluar dari rumahnya lalu ia bisa menyelinap dan membantu Ahn Ahjumma di dapurnya. Setelahnya ia bisa membawa pulang makanan dan tidak perlu makan malam bersama Myungsoo nantinya.

Ia mengambil nafas dalam lalu dengan langkah kecil mirip pencuri ia masuk perlahan ke dalam rumah Myungsoo. Matanya pun lengkap mengintai sekelilingnya , berwaspada jika nantinya ia bertemu Myungsoo, maka ia harus menyiapkan ekspresi lain dan cerianya. Bertemu Haeryeong siang tadi membuat ekpresinya menjadi kacau, dan dia tidak ingin Myungsoo curiga ataupun bertanya padanya.

Ia tersenyum lebar ketika penyusupannya berhasil, ia berhasil sampai di dapurn Ahn Ahjumma dan dengan cepat ia masuk ke dalam.

“ Anyeong Ahn_” Sooyeon segera berbalik dan keluar ruang dapur. Ia bersembunyi di balik pintu dan merutuki dirinya.

Ia memang berhasil menyusup dari pintu utama menuju dapur tanpa sepengetahuan Myungsoo namun kenapa yang ada di dapur Ahn Ahjumma adalah Myungsoo, orang yang ia hindari hari ini.

Myungsoo meletakkan tangannya diatas kepala Sooyeon dan memutar tubuh gadis itu menggunakan tangannya itu. Ia mendorong Sooyeon untuk masuk ke dapur.

“ Hya! “ Protes Sooyeon setelah merasakan Myungsoo sangat kejam dengan mendorongnya dan memutar kepalanya seenaknya.

“ Kau ingin mencuri makananku?” tanya Myungsoo.

Sooyeon mengernyit, ia tidak berniat seperti itu. Ia ingin membantu Ahn Ahjumma, mendapatkan makan malam dan tidak bertemu dengannya. Hanya itu.

“ Kau terlalu percaya diri, Aku hanya ingin membantu Ahn Ahjumma lalu mendapatkan makan malamku dan tidak ingin bertemu denganmu Husby” dan akhirnya kalimat itu keluar darinya.

Myungsoo menatapnya datar, membuat Sooyeon setengah mati ingin melemparkan piring yang ada di sampingnya ke wajah menyebalkan itu.

“ Ahn Ahjumma harus check up dan dia aku ijinkan cuti hari ini”

“ Hoah…tidak ada makan malam hari ini?” ucap Sooyeon terkejut, ia menahan perutnya. Bahkan ia tidak makan setelah pulang sekolah dan menahannya sampai malam hari.

“ Begitulah…” Myungsoo mengambil secangkir kopinya lalu meninggalkan Sooyeon.

Sooyeon mengernyit, ia ingin menghindari Myungsoo dan tidak merengek padanya sekali ini saja. Namun niatnya selalu gagal. Ia lapar dan tidak mungkin ia keluar sendiri dan mencari makan malam. Sedangkan ia begitu malas untuk memasak sesuatu, lebih tepatnya ia tidak ingin mengacaukan dapur Ahn Ahjumma dan mendapat hukuman dari Myungsoo.

Ia merapat dan duduk di depan Myungsoo dengan memberinya senyum .

Myungsoo tidak meliriknya sedikitpun. Membuat Sooyeon merengut.

“ Aku lapar Husby…kau tidak_”

“Tidak” jawab Myungsoo tanpa menunggu kalimat itu berakhir.

Sooyeon merengut, ia melemas dan menunjukkan wajah melasnya. Hanya saja wajah melas itu tidak akan mampu untuk membuat Myungsoo prihatin padanya. Seperti itulah hasilnya selama ini.

“ Husby….kau buatkan aku makan malam atau aku akan kacaukan dapur itu” ancam Sooyeon, ia melirik tajam pada Myungsoo yang masih asyik dengan kopinya.

“ Aku akan pikirkan, tapi jawab pertanyaanku “

Sooyeon terlihat bingung, namun ia hanya mengangguk. Tidak ada pilihan lain untuknya.

“ Apa yang kau lakukan setelah pulang sekolah tadi?”

Sooyeon berdehem kecil, ia berfikir Haeryeong mungkin menyiapkan kejutan untuknya, tapi apa perlu ia mengatakan yang sebenarnya.

“ Aku berada di perpustakaan”

“ Baiklah..tidak ada makan malam untukmu”

“ Ara..ara…aku bersama Haeryeong, aku pikir dia menunggumu”

Myungsoo tersenyum simpul, sungguh mudah membuat Sooyeon berkata jujur. Jika saja ia selalu bisa membuat gadis itu jujur dan mengatakan seluruh kehidupannya. Namun tidak semuanya Sooyeon bisa mengungkapkannya.

“ Jangan bertanya lebih, aku tidak akan menjawabnya”

Myungsoo terkekeh, ia berdiri dan beranjak ke dapur. Ia mulai menyiapkan makanan untuk Sooyeon.

Bahkan ia juga tidak bertanya lebih tentang apa yang ia lakukan bersama Haeryeong. Ia hanya berhenti dengan pertanyaan itu. Seakan ia tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Sooyeon tersenyum kecil. Sungguh kenapa ia bisa berbuat sejauh ini. Berusaha bahwa ia baik baik saja. Memberikan senyumnya sedangkan ia merasa ia tidak ingin tersenyum untuk saat ini. Itulah dirinya, sedikitpun ia tidak ingin terlarut dengan kesedihannya. Ia beranggapan setelah ia merasa kenyang ia bisa tidur dan melupakan apa yang ia alami dan ia dengar hari ini. Hanya itu.

Myungsoo masih terdiam dengan segala yang ada dipikirannya. Mendengar Sooyeon bersama Haeryeong membuat ia berfikir lebih dengan apa yang telah dikatakan Haeryeong pada Sooyeon. Ia tahu Haeryeong akan mengatakan banyak hal kepada gadis itu. Ia tidak tahu harus seperti apa. Sedangkan saat ini perasaan takut tengah menyerangnya. Ia takut pertemuannya bersama Haeryeong membuat Sooyeon memutuskan hal tak terduga nantinya.

Sooyeon bersorak setelah mendapatkan makanannya diatas meja. Ia dengan semangat melahap makan malam itu. Dan ia tidak perduli dengan Myungsoo yang masih terdiam menatapnya.

Namun detik berikutnya ia sadar jika Myungsoo hanya menatapnya dan tidak ikut makan sepertinya.

Sooyeon meringis “ Jangan berbuat romantis ,kau memasaknya hanya untukku Husby? Jangan katakan kau juga sedang berdiet seperti yang dikatakan Chanyeol”

Myungsoo mendengus, ia menggeleng dan menyentil kening Sooyeon.

“ Makanlah..dan habiskan makananmu”

Sooyeon merengut dan mengusap pelan keningnya

“ Akhir akhir ini kau sering melakukan Kekerasan dalam rumah tangga, kau tahu aku bisa menuntutmu karena hal ini”

“ Kau menuntut orang yang membuatkan makan malam untukmu?”

Sooyeon terdiam, ia segera meneguk air putih setelah mendengarnya.

“ Mian…” ucapnya lirih.

Ia meletakkan piringnya setelah makanan itu habis. Ia begitu bahagia karena akhirnya perutnya terisi.

“ Berikan hadiahmu sebagai bayarannya”

Sooyeon terdiam, ia melebarkan matanya. Bahkan ia tidak mengatakan apapun tentang ia yang membeli hadiah untuk ulang tahunnya. Kenapa ia selalu tahu apa yang ada di pikirannya.

“ Aku tidak membawa hadiah Husby, jangan terlalu percaya diri”

“ Jangan berbohong, kau membeli hadiah untukku”

Sooyeon merengut, ia berfikir bahwa di sekitarnya tengah terpasang cctv sehingga Myungsoo tahu apa yang ia kerjakan.

“ Tidak ada hadiah untukmu. Kau tahu aku tidak pernah memberimu hadiah di ulang tahunmu,  Husby”

“Baiklah..jika itu menurutmu lebih baik..”

Myungsoo berdiri dan mendekati Sooyeon. Selanjutnya ia merai kerah baju Sooyeon dan menariknya. Ia pun menunduk dan mendekatkan wajahnya pada Sooyeon. Sooyeon berusaha menjauh namun Myungsoo semakin menarik kerah bajunya sehingga ia pun tertahan.

Sampai Myungsoo benar-benar menempelkan bibirnya pada bibir Sooyeon. Lagi, dia melakukan hal yang tidak pernah dipikirkan Sooyeon. Sooyeon menunduk dan menjauhkan kepalanya agar ciuman itu lepas namun Myungsoo meraih tengkuk Sooyeon dan mendorongnya. Ia mencium lebih dalam bibir itu tanpa perduli usaha Sooyeon untuk melepaskannya.

Sooyeon memejamkan matanya, ia dibuat bingung dengan keadaan ini. Sementara seperit sebelumnya seakan ciuman ini tidak berarti apa-apa, besok Myungsoo akan lupa dengan apa yang ia lakukan malam ini. Pria jahat ini benar-benar mempermainkannya. Namun yang ia lakukan hanya membiarkannya dan hatinya yang tidak pernah marah pada Myungsoo. Bukan berarti ia pasrah…ia hanya merasakan ini seperti perjalanan akhir sebelum ia benar-benar meninggalkan Myungsoo dan kembali ke Amerika. Ia semakin merasa ia harus kembali ke Amerika. Sebelum ia benar-benar melakukan hal yang lebih lagi karena rasa simpatinya sudah menjadi cinta pada pria bernama Kim Myungsoo ini. Henry benar, ia tengah terlalu jauh dan ia tengah mencintai Kim Myungsoo.

Myungsoo perlahan melepaskan ciumannya. Ia tersenyum dan menunggu Sooyeon membuka matanya.

“ Bereskan dapur dan jangan lupa mengunci pintu rumahku” Myungsoo mengacak ujung kepala Sooyeon.

Sooyeon mendengus, ia menunduk dan memukul kepalanya pada meja makan. Ia menyesal merengek dan meminta makan malam pada Myungsoo.

Ia ingin mengunci pria itu dan membiarkannya kelaparan di dalam kamarnya setelah mendengar langkah kaki yang menjauh itu. Pria bernama Kim Myungsoo benar-benar menguras kesabarannya.

Seperti itulah dirimu, kau membuatku berbuat lebih ketika membiarkan rasa penasaranku melebihi kadarnya. Mian…Jung Sooyeon… apa yang selanjutnya terjadi padamu, padaku dan kita…aku hanya mempu menunggu itu. Semua yang kau pikirkan sudah semakin tidak bisa aku tebak…kau semakin mengacaukan isi kepalaku

 

“ Tuhan..dia membuatku tidak bisa berfikir jernih…haruskah aku menyerah sementara gadis itu sudah kembali dan bisa memahaminya, bahkan membuatnya lebih sering tersenyum dari biasanya. Sepertinya aku memang gagal dan tidak bisa menjadi sosok penghibur yang baik”

 

TBC…

 

hihihihi…maap kepanjangan:)

aku sedikit menepati janji kan…posting lebih cepet…

aku juga mau ngucapin terima kasih untuk kalian yang setia dan sudah membaca fanfic ini…mumpung ini ide masih ngalir dan ini adalah 2 chapter terakhir…jadi aku akan posting ending sebelum akhir tahun ini ..itu rencanaku…semoga berhasil hehehe

 

kalian udah tahukan siapa Henry?? hihihi pengennya nambahin esktra kenapa Myungsoo tidak segera mengungkapkan perasaannya, bukan karena belum sadar, tapi ada hal lain yang sedang ia pikirkan . Nanti aku ungkap di chapter terakhir…#semoga itu jadi chapter terakhir…

maap bikin jengkel untuk chapter ini, karena terlalu panjang atau membosankan atau rumit atau jelek…yang jelas terima kasih banyak…:D

 

34 thoughts on “Just Stay Beside Me || 7

  1. Aaaaaaaa part yang ditunggu tunggu nih><
    Part yg ini nyesek asli, smpe hampir nangis/?
    Lanjutin yaa Thor!
    Waiting for this!!^~^

  2. Wah keren thor,,,
    Haeryeong nyebelin banget!! >.<
    Kenapa MyungSica moment nya menyesakkan,,, makin lama makin kasian aku thor sama Jessica
    Smoga MyungSica happy end deh,, trus Myungsso buruan nyatain perasaannya ke Jessica hehehe
    Fighting ne,, untuk kelanjutan ff nya aku tunggu!!!

  3. Happy ending kan?? Happy ending kan?? Happy ending kan?? Ya ampuuun~~ gemes bgt ama myungsoo,, kenapa ngga bilang aja kalo suka jessica?? Jessica juga jangan ampe balik america deeh.. Semogaa

  4. Anjirr, myungsoo seenak jidatnya nyium sica. Kalo udah berani nyium, kenapa gak berani mengakui perasaan? Oh myungsoo😮 ffnya daebakkk !😀 love this chapter so much😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s