Just Stay Beside Me || Eight_End

s-y-m-just-stay-beside-me

Author: S.Y.M

Title: Just Stay beside Me

Length: Chaptered

Genre:  Romantic high school

Rating: G

Cast: Jessica Jung || Kim Myungsoo || Na HaeRyeong BESTie

Credit Poster:

By Harururu98 @cafeposter

Note:

Anyeong…aku tepat jadwal ya….aku ngebuttt…karena habis ini aku libur yeeyyyyy sampai awal tahun🙂

dan ini ending emhhh kalian baca sendiri okey…

aku punya catatan kecil di bawah setelah kalian baca

SELAMAT MEMBACA

*

*

*

~~

“Dia pembohong besar” Myungsoo melempar bola basketnya.

Chanyeol berhenti meneguk  air mineralnya, ia beralih serius pada Myungsoo. Apa yang dimaksud sahabatnya ini? Apa itu Sooyeon?

“ Dia tidak pernah mengatakan siapa dia, dan bagaimana dia. Dia hanya terus memperhatikanku, berusaha keras untuk membuatku merasa bahagia, menyayangiku dan berusaha keras untuk menunjukkan bahwa banyak orang yang menyayangiku, berusaha keras membuatku melepas kesedihan dan kekecewaanku atas kematian kedua orang tuaku. Lalu dia akan menghindar ketika sesuatu tentangnya aku pertanyakan, seperti itulah Jung Sooyeon selama ini”

“ Ini salahku, aku tidak pernah yakin bahwa dia tinggal karena dia memang benar-benar ingin tinggal  di Seoul sebelumnya ia mengatakan ia benci berada lama di Seoul,  sebenarnya  aku tidak sanggup ketika mengetahui kenyataan bahwa dia tinggal karena aku yang memintanya, saat itu … karena kesedihanku aku memintanya untuk tinggal karenya hanya dengannya aku menceritakan keadaanku, aku memang merasa dia perlu untuk tinggal tanpa berfikir dimana dia seharusnya tinggal, aku tidak tahu dia mengalami banyak kesulitan karena dia memutuskan untuk tinggal karena permintaanku, dia menyembunyikannya dariku, dan sedikitpun aku tidak bisa mendapatkan kebenarannya, apa aku benar-benar buruk?”

Chanyeol terdiam, bahkan ini adalah kali pertama ia mendengar Myungsoo mengatakan bagaimana perasaannya. Ia juga tidak tahu bahwa si gadis aneh yang tidak bisa hidup tanpa kecerewetan dan keceriaannya itu telah melakukan hal tak terduga seperti itu, sangat pandai menyimpan apa yang ia alami di depan teman-temannya.

“ Kau tahu ini sejak lama?” tanya Chanyeol.

“  Aku terlalu nyaman untuk bersamanya,  aku membiarkan ini mengalir sesuai rencananya, aku tidak lagi berfikir dan mencari tahu tentangnya,  aku terlalu suka dan membuatnya terus berusaha keras dalam usahanya untuk membuatku tertawa, aku terlalu egois  dan pada akhirnya aku merasa bersalah setelah tahu kenyataan tentangnya”

“ Apa guru asing itu yang mengatakannya?”

“ Dia mengenal nya lebih lama”

“ Sudah kuduga dia yang mengusik ketenanganmu, kau lebih sering terlihat kacau karena Sooyeon terlihat dekat dengannya

Tebakan Chanyeol memang benar, dia tidak biasa melihat Sooyeon berdekatan dengan namja lain selain orang-orang yang dikenalnya, yang ia tahu mendekati seorang Sooyeon adalah hal berbahaya bagi namja-namja lain yang menginginkannya.

Namun kali ini ia juga tengah dipusingkan dengan kedatangan Haeryeong yang menuntutnya harus mengabaikan Sooyeon ditengah perasaannya yang juga kacau karena Sooyeon.

Myungsoo menghela nafas kasar, ia mendongak dan meniup udara depannya.

“  Kau tahu, aku merasa bangga karena mendengar langsung darimu, aku begitu bersemangat untuk mengatakan apa saja keprihatinanku pada mu, sekarang katakana padaku, apa yang kau inginkan ?” Chanyeol meraih pundak Myungsoo dan menatapnya serius, matanya melebar berusaha meyakinkan Myungsoo bahwa dia memang orang yang tepat untuk dimintai pendapat.

Myungsoo menatapnya datar dan ingin tertawa karena sikap Chanyeol yang selalu berlebihan.

“ Kau ingin bersamanya? Kau mencintainya? Katakan padaku”

Myungsoo mengangkat sebelah alisnya “ Kau terlalu bersemangat”

Chanyeol menunduk, ia melepaskan tangannya yang memegang pundak Myungsoo. Ia sadar ia memang terlalu bersemangat, kenapa ia selalu bersemangat untuk hubungan kedua makhluk aneh itu?

“ Baiklah… sebagai sahabatmu dan juga Sooyeon aku memang perlu mengatakan ini, aku memahami kenapa kau seperti ini, sebagai pria mungkin aku juga mempunyai pemikiran yang sama denganmu, hanya saja tidak baik jika kau membiarkan ketidak adilan terjadi pada Sooyeon. Terlepas bagaimana perasaan Sooyeon padamu yang sebenarnya, kau memang perlu mengatakan yang sebenarnya padanya. Katakan seperti apa keinginanmu seperti yang kau katakan padanya dulu, kau harus bertanggung jawab atas apa yang ia putuskan sebelum ini dan setelahnya, sebagai sesame pria kau harus melakukan itu”

Chanyeol mengusap keringatnya, ia berdiri dan memberikan handuknya pada Myungsoo.

“  Aku senang ketika kita bisa menghabiskan waktu bersama dan membuatmu lebih baik dengan bermain battle seperti ini, Sooyeon benar…dia hanya ingin kau tidak mengangkat bebanmu dan kesedihanmu sendiri, kau mempunyai banyak orang yang menyayangimu meskipun tidak bisa menggantikan kedua orang tuamu, putuskan sekarang apa yang harus kau lakukan pada Sooyeon  sebelum kau larut dalam penyesalanmu”  Chanyeol melempar senyum lebarnya lalu melangkah pergi.

Membiarkan Myungsoo untuk berfikir dengan keputusannya.

Myungsoo hanya berfikir, dia akan terlalu egois jika membiarkan Sooyeon tinggal lebih lama.  Mengatakan bahwa ia baik-baik saja memang menjadi alasan tercepat Sooyeon untuk kembali ke Amerika, lalu menunjukkan bahwa tidak ada perubahan padanya juga membuat Sooyeon kembali ke Amerika. Dan saat ini kehadiran Haeryeong juga akan membuat Sooyeon sangat menyerah dan meninggalkannya karena merasa Haeryeong cukup dan mampu membuatnya bahagia dan melupakan kesedihannya.

Lalu apa yang harus ia lakukan jika semuanya bisa membuat Sooyeon kembali ke Amerika, sementara dia juga tidak ingin gadis itu memiliki beban berat karena bertentangan dengan Appanya.

“ Jung Sooyeon, kau benar-benar mengacaukan hidupku, bagaimana mungkin aku bisa memikirkan ini , dan diotakku penuh denganmu” gerutunya .

.

.

Sooyeon mengendap-endap masuk ke rumah Myungsoo. Sebenarnya ia tidak perlu melakukan itu selama Ahn Ahjumma ada di rumah. Dia tidak akan berhasil membuat kejutan karena masuk seenaknya di rumah itu adalah kebiasaannya.

“ Dia masih tidur di kamarnya”bisik Ahn Ahjumma di belakang Sooyeon. Membuat gadis itu melonjak kaget.

Ia sontak menoleh dan menemukan Ahn Ahjumma dengan celemek dan sapu di tangannya.

“ Ah….kau mengagetkanku “ gerutunya pelan.

Ahn Ahjumma melihat tangan yang tengah bersembunyi di balik tubuhnya itu. Dia tersenyum simpul lalu meninggalkan Sooyeon.

“ Letakkan saja di depan pintunya, aku akan mengatakan itu dari penggemarnya jika ia bertanya”

Sooyeon membuka lebar matanya, ia menatap Ahn Ahjumma yang tengah tersenyum padanya.

“ Any any…jangan katakana apapun, jangan katakan aku yang meletakkannya, atau dari penggemarnya, aku bukan penggemarnya Ahn Ahjumma”  protes Sooyeon.

Selanjutnya Sooyeon menaiki tangga menuju kamar Myungsoo. Ia memang sengaja datang lebih pagi, bahkan sangat pagi sebelum Myungsoo bangun tidur agar rencananya berhasil. Ia tidak ingin Myungsoo tahu bahwa ia memberinya kado untuk ulang tahunnya. Karena ini pertama kalinya ia melakukan itu .

Sooyeon meringankan langkahnya dan berhenti tepat di depan pintu kamar Myungsoo. Ia mengambil nafas dalam dan berjongkok untuk meletakkan kadonya di depan pintu.

CKLEK

Sooyeon membuka lebar matanya, selanjutnya ia melihat pintu itu terbuka dan ia terlambat untuk menghindar. Ia bersimpuh tepat saat Myungsoo membuka pintu kamarnya. Ia hanya mengerjapkan  matanya berkali-kali karena ia sekarang tengah malu karena meletakkan kado secara diam-diam.

Myungsoo menyaksikan kejadian itu. Sebenarnya ia ingin tertawa melihat ekspresi aneh yang saat ini ditunjukkan Sooyeon padanya. Namun ia menahannya.

“ Kau selalu menyelinap ke kamarku, ini masih terlalu pagi untuk menggangguku”

Sooyeon mengernyit, lalu segera bangkit dan berdecak pinggang ingin memprotes  statement Myungsoo itu .

“ Any…aku tidak melakukan itu, kau yang selalu percaya diri Husby”

Myungsoo melirik tas yang diletakkan Sooyeon dilantai. Melihat arah tatapan Myungsoo , Sooyeon pun segera mengambil tas itu dan menyembunyikannya di balik punggungnya.

“ Ini bukan untukmu”

“ Aku tidak mengatakan apapun, Ada apa denganmu? Apa itu memang untukku?”

Sooyeon mengatupkan bibirnya, kenapa ia mengatakan itu? Myungsoo bukan orang bodoh yang mudah percaya padanya. Itu membuat Myungsoo yakin jika dia memang menyiapkan kado ulang tahunnya.

Perlahan Myungsoo merebut tas itu. Terlambat bagi Sooyeon untuk menahannya.

“ Seharusnya kau membungkusnya “

Sooyeon merengut, ia lupa untuk membungkusnya. Ayolah..dia juga ragu untuk memberikan kado itu untuknya, sementara ia tahu kado apa yang akan diberikan Haeryeong nantinya. Itulah kenapa ia tidak menyiapkan hal lain untuk kadonya. Ia hanya berfikir benda itu akan sia-sia jika ia tidak memberikannya.

“Mian…” ucap Sooyeon lirih, ia menunduk dan membalik tubuhnya. Perlahan ia melangkah dan meninggalkan Myungsoo yang masih terdiam menatap kepergiannya.

Hanya itu yang ia ucapkan, dan dia belum sempat mengucapkan terima kasih.

Myungsoo menghela nafas dan menunduk. Selanjutnya ia tersenyum melihat isi dari tas itu. Jaket dan topi berwarna hitam.

“ Ada hadiah lain yang aku inginkan Jung Sooyeon”

.

.

Chanyeol berhamburan dari arah lain dan merangkul Sooyeon.

“ Anyeong!!” ucapnya bersemangat.

“ Aku merasa seperti semut ketika di dekatmu Park Chanyeol, kenapa kau tidak mengecilkan ukuran tubuhmu? Kenapa kau semakin tinggi heuh?” protes Sooyeon

Chanyeol menjauhkan tangannya, ia tertawa keras mendengar protesan Sooyeon yang aneh itu.

“ Pertumbuhanmu yang tidak baik Jung sooyeon, Kau yang tidak meninggi , karena kau tidak bisa berenang”

“ Hya! Kau ingin melawanku?” Sooyeon berdecak pinggang  dan menunjukkan tatapan tajamnya pada Chanyeol.

“ OH ayolah…sebentar lagi kita lulus dan hari ini adalah hari baik untuk kita, hari ini ada pengumuman untuk ujian test ke universitas. Kita akan berkumpul sesuai dengan universitas dan jurusan apa yang akan kita ambil nanti , untuk bimbingan, kita akan satu kampus…jadi jangan terlalu sering marah padaku Jung Sooyeon”

Sooyeon terdiam, selanjutnya ia meredakan kemarahannya. Ia tidak menanggapi informasi yang disampaikan Chanyeol padanya. Satu Universitas dengan Myungsoo dan Chanyeol? Itu yang sedang ia pikirkan.

Chanyeol melihat perubahan ekspresi dari Sooyeon, selanjutnya gadis itu melangkah pergi tanpa memperdulikannya.  Gadis itu pergi berbeda arah denan arah ke kelasnya. Membuat Chanyeol berfikir keras karena sikap anehnya itu.

.

.

Sooyeon mencari keberadaan Henry, gadis itu ingin memastikan sesuatu dengannya. Pagi ini pun ia belum bertemu dengan Myungsoo. Itu kesempatan bagus karena Myungsoo tidak melihatnya yang saat ini tengah menemui Henry.

“ Oppa”

Henry menoleh, ia memberikan senyum manisnya pada gadis kecilnya itu.

“ Anyeong Nona Jung” sapanya.

“ Bagaimana testku?”

Henry tersenyum, ia mengacak puncak kepala Sooyeon.

“ Aku pikir kau tidak tertarik dengan hasil testmu saat itu Sooyeon_ah”

“ Aku hanya tidak ingin kau mengumumkannya di depan teman-temanku hari ini, hari ini ada bimbingan untuk ujian masuk universitas, tolong jangan umumkan apapun tentang ujian keLuar Negeri”

“ Wae? Aku tidak bisa melakukannya, yang mengikuti ujian masuk universitas Luar Negeri bukan hanya kau Jung Sooyeon, Aku tidak bisa mengabulkannya hanya karenamu, ini sudah jadwal dari sekolah”

Sooyeon mendengus, ia menunduk . Sebenarnya ia tidak ingin Myungsoo tahu bahwa ia mengambil universitas yang berbeda dengannya. Tidak hanya Myungsoo, mungkin Chanyeol dan teman-temannya akan terkejut dengan keputusannya ini. Sudah bisa ditebak bahwa Sooyeon akan mengikuti kemana Myungsoo akan kuliah, namun kali ini adalah keputusannya yang lain.. Ia mengambil test masuk universitas di Amerika.

Ya, karena ia akan kembali ke Amerika. Meskipun ia masih ragu untuk melakukannya.

“ Kau meragukan keputusanmu?”

Sooyeon mengangguk

“ Bersemangatlah…kau adalah yang terhebat untuk itu. Kau selalu bersemangat, ada apa dengan Sooyeon ku yang lemah ini?”

“ Mollayo OPPA”

Henry tersenyum, ia tahu apa yang membuat gadis kecilnya itu terlihat berat walaupun ia sudah melakukan persyaratan untuk perpindahannya ke Amerika. Ia tahu apa hal terbesar yang membuat keraguannya itu. Mungkin karena Kim Myungsoo.

“ Lalu, bisakah kau tidak menyebutkan namaku di daftar bimbinganmu sebelum pengumuman hasil testku benar-benar keluar?”

Henry terlihat berfikir, sementara Sooyeon mengatupkan kedua tangannya memohon pada Henry.

“Everything for you “ ucapnya lembut, ia tetap mengacak rambut Sooyeon lalu melangkah pergi.

.

.

 

Chanyeol sangat bersemangat ketika namanya dan Myungsoo disebutkan untuk ujian masuk di universitas yang sama, ada hal yang kurang saat nama Sooyeon tidak disebutkan di manapun.

Chanyeol memperhatikan Myungsoo yang bahkan tidak bisa memberikan jawaban atas tatapannya itu. Selanjutnya dia melihat kearah Sooyeon yang terlihat santai walaupun namanya tidak disebutkan sama sekali. Ia mulai berfikir bahwa Sooyeon bersikap sangat aneh hari ini. Dan Myungsoo harusnya lebih tahu.

Sooyeon tersenyum lega karena ia tidak perlu bersama teman-temannya yang lain bertemu Henry sebagai guru pembimbing untuk test ujian masuk ke Luar Negeri. Ia terlalu yakin bahwa test itu bisa ia lalui dengan baik. Hanya saja bukan hasil test yang ia takutkan. Ia hanya belum siap jika saja Myungsoo tahu keputusannya.

Setidaknya ia sudah menatakan bahwa ia akan meninggalkannya, karena sudah ada Haeryeong yang ada untuknya. Meskipun ia tidak yakin Myungsoo menanggapi ucapannya itu. Sejujurnya itu adalah ungkapan yang ada dihatinya. Bukan sebuah lelucon seperti yang ia lakukan biasanya.

Myungsoo melirik singkat Sooyeon sebelum ia keluar ruang kelasnya. Ia ingin menanyakan tentang rencana kuliahnya. Hanya saja saat ini Haeryeong sedang menunggunya , ia harus segera menemuinya sebelum bel masuk berbunyi dan ia tidak sempat menggunakan jam istirahatnya.

Sooyeon tahu apa yang ada dipikiran Myungsoo kali ini. Pria itu mungkin menaruh kecurigaan padanya, bukan hanya dia, bahkan Chanyeol juga seperti itu. Apa seharusnya ia mengatakan niatnya yang sebenarnya .

Selanjutnya ia menyembunyikan wajahnya diantara lengannya. Ia tidak ingin keluar kelas hari ini. Ia ingin memejamkan mata dan tidur selama jam istirahat, lagi pula ia tahu apa yang dilakukan Myungsoo kali ini. Bertemu dengan Haeryeong, karena Haeryeong sudah menunggunya. Ia tahu itu.

.

.

“ Anyeong” sapa Haeryeong.

“ Anyeong”

“ Apa kadoku sampai tepat waktu? Mian…. aku hanya meminta sopirku untuk mengantarkan kado dan kue untukmu, aku ingin tapi aku tidak mendapat ijin”

“Gwenchana…aku menghabiskan kue ulang tahun itu”

“ Gomawo.”

Myungsoo tersenyum , selanjutnya ia mendapat pelukan dari Haeryeong.

“ Appa menyetujui sesuatu yang kuminta, kuharap kau juga senang mendengarnya”

“Mwo?”

“ Sebuah pertunangan”

Myungsoo terdiam, perlahan dia melepaskan tangan yang merengkuhnya. Ia terlihat terkejut dengan hal itu.

“ Kau melakukannya?”

Haeryeong mengangguk dengan semangat.

“  Bukankah itu janjimu? Kita akan selalu bersama”

Myungsoo masih terdiam, ia mengingatnya . Mereka memang pernah melakukan perjanjian saat kecil, perjanjian yang ia lakukan dengan  bahagia sebelum kemalangan menimpanya dan keputusan Haeryeong yang melanjutkan Studynya di Luar Negeri disaat yang sama dengan kemalangan yang ia alami.

“ Wae? Kenapa dengan ekspresi itu? Seharusnya ekspresi bahagia yang aku lihat darimu Kim Myungsoo”

Myungsoo masih terdiam, sebenarnya ia sudah melupakan janji itu, ia tidak pernah memikirkan janji itu bahkan ketika Haeryeong kembali. Ia tidak pernah berfikir bahwa Haeryeong akan melakukannya sejauh ini. Ia kembali dan mengulang memori saat mereka kecil. Apa itu mungkin disaat perhatiannya sudah tersita pada Sooyeon.

“ Ini terlalu cepat, aku harus segera kembali ke kelas, terima kasih untuk kado itu”

Haeryeong terdiam, sementara Myungsoo berlari kecil dan melambaikan tangan padanya. Ia merasakanperubahan besar pada Myungsoo. Ia bahkan tidak menjawab tentang janji masa kecil itu. Apa dia melupakannya? Ia tahu Myungsoo tidak akan mengingkari janjinya. Bahkan saat ia berada jauh , ia tetap datang padanya meskipun ia hanya sebentar berada di Seoul. Pria itu selalu datang padanya saat it ia memintanya. Lalu kenapa ia tidak menjawab apapun setelah apa yang ia inginkan selama ini sudah mendapat ijin dari Appanya. Apa Myungsoo tidak lagi mencintainya?

Perlahan air bening itu menetes di wajahnya. Apa hatinya sudah terisi dengan gadis bernama Sooyeon itu? Gadis itu selalu ada di sekitar Myungsoo. Apa mungkin Myungsoo beralih padanya? Lalu kenapa? Kenapa Myungsoo beralih? Myungsoo bukan tipe orang  yang mudah berubah, ia masih yakin akan hal itu.

.

.

Myungsoo menghela nafas ketika mendapati Sooyeon tengah meringkuk di bangkunya. Lagi-lagi gadis itu menghabiskan waktu istirahatnya dengan tidur di kelas. Dan ia yakin bahkan Chanyeol tidak akan berani mengganggu tidurnya.

Pria itu berdiri tepat di sebelahnya, tangannya bergerak usil untuk memainkan kepala Sooyeon, ia menggerakkan kedua jarinya seperti langkah kaki mengelilingi kepala Sooyeon.

Sooyeon merasakan hal aneh di kepalanya, tanpa mendongak terlebih dulu, tangan kanannya perlahan terangkat dan menangkap benda aneh yang mengganggu kepalanya.  Setelah itu barulah ia mendongak, ia menggenggam erat benda aneh yang ternyata sebuah tangan itu , lalu menatap tajam pemiliknya.

“ Husby?” Sooyeon melepaskan genggamannya.

“ Kau tidur di kelas lagi”

“ Eoh..aku mengantuk, jangan ganggu aku, masih ada 20 menit untukku melanjutkan tidur”  Sooyeon menguap dan kembali meletakkan kepalanya di meja. Namun tidak cukup cepat sehingga Myungsoo menahannya dan mendongakkan kepalanya kembali.

“ Waee???? “ rengek Sooyeon.

“ Kau belum memutuskan dimana kau akan kuliah? “

Sooyeon membuka matanya, ia menatap Myungsoo yang juga menatapnya, tatapan itu menuntut jawaban dari Sooyeon.

Sooyeon menggeleng pelan, dan kembali menguap dan mengedipkan matanya berkali-kali, bermaksud merayu Myungsoo agar membiarkannya  tidur kembali.

“ Apa yang kau rencanakan?” Tanya Myungsoo.

Hal itu membuat Sooyeon mendelik, ia menegakkan tubuhnya dan menatap Myungsoo intens.

“ Kau bersikap aneh Husby, kenapa kau mulai memperhatikanku?  Apa kau memerlukan bantuanku?” Sooyeon memicingkan matanya.

Myungsoo mendengus, ia membalas tatapan itu dengan ekspresi dinginnya.  Selanjutnya ia mengeluarkan sebuah minuman kopi instan dari sakunya dan meletakkannya di meja Sooyeon.

“ Minumlah, jangan tidur di kelas lagi”

Sooyeon terkikik, ia meraup kaleng itu dan meletakkannya di pipi. Ia bersemu merah setelah sadar beberapa tindakan aneh Myungsoo akhir-akhir ini. Memorinya mengulang saat dia juga berani menciumnya meskipun ciuman itu terkesan bukan apa-apa bagi Myungsoo. Selanjutnya ia terdiam, ia menatap punggung Myungsoo sendu. Ia menunduk ketika mengingat apa yang ia putuskan akhir-akhir ini. Sungguh jika mengingat hal itu ia tidak lagi mendapat stimulus keceriaan saat itu juga.

Cukup lama ia dan Myungsoo saling terdiam, Sooyeon yang berusaha menghabiskan minumannya dan Myungsoo yang hanya menatap tulisan berjejer di bukunya.

Lagi-lagi Sooyeon mengalihkan pembicaraan, itu selalu terjadi ketika ia memulai untuk menanyainya. Benar-benar menyebalkan.

Ditambah pernyataan Haeryeong yang saat ini juga mengganggu isi kepala Myungsoo. Ia harus bagaimana ketika Haeryeong sudah mengatakannya pada Appanya. Sementara ia tahu akan kearah mana nantinya hubungan itu. Dia mengingat siapa dirinya dan siapa keluarga Haeryeong. Ia juga tidak bisa mengabaikan Haeryeong begitu saja dengan permintaannya yang ia ungkapkan secara langsung pada Appanya.

Myungsoo melirik Sooyeon saat merasakan pergerakan darinya. Ia beralih dan berdiri disamping Jendela kelasnya. Ia juga memainkan minuman kalengnya dan sesekali meneguknya. Bahkan ia mengumpat kecil ketika isi dari kaleng itu telah habis namun ia terus menuangnya. Myungsoo terkekeh pelan, gadis itu selalu bertingkah lucu dari dirinya sendiri, bahkan tanpa ia sadari.

.

.

Sooyeon berjalan di depan  kedua namja yang tengah memperhatikan langkah kecilnya. Sementara gadis it uterus menunduk dan memainkan kakinya saat melangkah, Myungsoo dan Chanyeol hanya diam memperhatikannya. Mereka sudah dalam pikirannya masing-masing, apa yang sedang dilakukan Sooyeon? Itu yang mereka pikirkan saat ini.

“ Noona!” suara itu segera memecah keheningan mereka bertiga. Ah tidak…kecuali Sooyeon, hanya Myungsoo dan Chanyeol yang menoleh kea rah suara itu.

Gongchan terlihat bingung dengan tatapan kedua namja itu. Sementara gadis yang ia panggil tidak menoleh kearahnya, lalu kenapa kedua namja ini yang menoleh kearahnya.

“ Aku memanggil noona Barbie ku , apa kalian juga ingin aku panggil Hyung Barbie?” Gogchan tertawa, matanya menyipit ,namun itu tidak berlangsung lama setelah ia menangkap radar tajam dari kedua namja itu.

Ia berdehem kecil lalu beralih pada noona barbienya. Ia merengut ketika melihat Sooyeon tidak sedikitpun memperhatikannya.

“ Apa yang terjadi dengan noona barbieku?” gumamnya yang didengar oleh Myungsoo dan Chanyeol, bahkan dia tidak perduli dengan kedua namja itu.

Ia hendak berlari menyusul Sooyeon namun tertahan oleh Chanyeol. Sementara Sooyeon tengah berlari kecil menuju mobil hitam yang terparkir tak jauh darinya. Itu Henry, dan Sooyeon berlari kearahnya.

“ Hoah…. Ada banyak hal aneh yang terjadi di sekitarku, apa ini efek karena aku terlalu pusing dengan ujian kelulusan? “ Chanyeol beranjak dan meninggalkan Myungsoo dan Gongchan.

Myungsoo terdiam  dan pandangannya masih tersita dengan kepergian Sooyeon bersama Henry. Ia benar-benar terganggu oleh itu.

“ Hah… akhirnya yang diinginkan kakakku akan segera terwujud, Kudengar kalian akan melakukan pertunangan? “

Myungsoo masih diam, dia hanya menatap senyum Gongchan yang mengembang.

“ Kisah kalian seperti bonus tersendiri, kau tahu kebiasaan anak sesama pewaris perusahaan  besar sepertimu dan sepertiku? Pertunangan berarti sebuah penggabungan, penggabunganmu …penggabungan kedua perusahaan”

Ia menatap Gongchan dengan sebelah alis yang terangkat. Ia mencerna apa saja yang akan dikatakan olehnya. Ia tahu kata-kata itu akan menjurus kea rah mana. Dia juga sedikit belajar tentang managemen  dan membaca karakter seorang pengusaha.

“  Apa aku juga harus bertunangan dengan noona barbie ku itu? Sayangnya aku tidak tahu apa noona Barbie juga berasal dari keluarga seperti kita atau tidak”

Myungsoo melebarkan matanya, ia menatap namja itu tajam. Namun yang bersangkutan hanya terkekeh menahan tawanya.

“ Ah…sepertinya akan banyak pihak yang kecewa jika kau menyakiti hati noona barbieku “  Gongchan membungkukkan badannya dan beranjak pergi dari hadapan Myungsoo.

Myungsoo terdiam , ia menunduk dan masih berdiri di tempat yang sama. Hatinya memanas ketika melihat Sooyeon terus bersama Henry, dan yang dikatakan Gongchan memang benar. Akan banyak pihak yang kecewa.

.

.

Sooyeon masih mengotak-atik ponselnya. Ia telah selesai mengurusi beberapa dokumennya. Ia teringat satu hal yang belum ia lakukan hari ini. Mengucapkan selamat ulang tahun pada Myungsoo.  Ia berdehem kecil dan menyalakan perekam suara di ponselnya.

“ Saengil chukkae hamnida, Saengil chukkae hamnida.. saengil chukka hamnida Kim Myungsoo” rekamnya.

Sooyeon berdehem kecil dan terkikik  setelah selesai merekam suaranya. Sementara Henry hanya mengeleng pelan melihatnya.

“ Apa perlu seperti itu? Menggelikan”

Sooyeon merengut, Henry benar, ini memang menggelikan. Niatnya untuk mengirim rekaman suaranya itupun ia batalkan. Dengan kesal ia memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.

Henry tertawa keras melihat tingkah menggelikan Sooyeon. Ia memukulpelan kepala gadis itu namun ia tidak mendapat balasan dari Sooyeon. Gadis itu hanya melengos dan memalingkan wajahnya. Sebenarnya ia malu karena sudah melakukan hal itu.

“ Kau benar-benar menyukainya, ini membahayakan” goda Henry.

“ Lalu kau membiarkanku untuk tinggal disini?”

“ Tidak mungkin”

“ Ishhhh menyebalkan”

“ Aku tidak melihat kau akan bernasib baik di tempat ini, cintamu terlihat bertepuk sebelah tangan”

Sooyeon terdiam, selanjutnya ia tidak ingin membahas lebih akan hal itu. Cintanya memang bertepuk sebelah tangan sehingga ia harus menyerah dan kembali ke Amerika sesuai rencana Henry.

.

.

Sooyeon berpapasan Myungsoo , Ia segera menoleh ke arah lain dan memastikan Henry telah menyingkir bersama mobilnya. Ia tersenyum dengan matanya yang menyipit menyambut kedatangan Myungsoo.

Ia tahu namja itu baru saja pulang dari taman setelah ia megunjungi makan kedua orang tuanya. Yang ia tahu itu memang kebiasannya. Ia merasa  bersalahkarena ia tidak bisa menemaninya di taman.

“ Kau sudah pulang Husby?” sapa Sooyeon basa-basi.

Myungsoo mengangguk kecil.

“ Kau ke taman hari ini?”

Myungsoo mengangguk kecil.

Sooyeon merengut, ia melangkah kecil mendekati Myungsoo. Ia mendongak menatap Myungsoo.

“ Mian_ aku tidak menemanimu”

Myungsoo tidak menjawabnya. Ia hanya menunduk dan terdiam.

Sooyeon terenyuh,  ia tahu kesedihannya . Ia selalu merasakan aura kesedihan ini.  Ia mendekat dan berjinjit berusaha meraih kepala Myungsoo. Ia mengusap puncak kepala itu dengan lembut, sama seperti yang ia  lakukan selama ini.

“ Seharusnya kau sudah meninggalkan kesedihanmu di taman itu “ ucap Sooyeon lembut.

Myungsoo merasakan kehangatan setiap Sooyeon melakukannya. Ia adalah gadis yang selalu melakukan hal itu. Mengusap puncak kepala Myungsoo selembut ini disaat ia sedang  diliputi kesedihannya. Ia gadis yang membuatnya nyaman akan hal itu.

Perlahan Myungsoo meraih tubuh Sooyeon dan memeluknya. Sooyeon sedikit terkejut karena tiba-tiba Myungsoo memeluknya. Ia tidak pernah melakukannya, ia hanya akan diam ketika ia mengusap puncak kepalanya.

Myungsoo menyembunyikan wajahnya diantara pundak Sooyeon. Ia benar-benar merasakan kenyamanan dan ia enggan untuk melewatkan hal ini. Tangan Sooyeon perlahan beralih pada punggunya dan mengusapnya pelan. Sooyeon memang mempunyai kehangatan yang membuatnya nyaman. Seperti merasakan pelukan eommanya. Ia pun meneteskan air bening itu dari matanya, mungkin Sooyeon tidak melihatnya, namun Ia bisa merasakan pundaknya terasa basah karena itu. Sooyeon semakin mengusap pundak Myungsoo, dia tahu namja ini tengah merindukan kedua orang tuanya. Lalu ia membiarkan ini berlalu, ia membiarkan Myungsoo dengan ketenangannya dan kesedihannya.

Sooyeon tersenyum kecil, ia harap malam ini ia bisa tidur dengan nyenyak, begitu banyak yang ia sembunyikan dan ia juga semakin dibuat bingung oleh sikap Myungsoo akhir-akhir ini.

“Saengil chukkae hamnida Kim Myungsoo” ucapnya lirih .

.

.

Myungsoo sama sekali belum melihat seorang Jung Sooyeon yang biasanya berkeliaran di depannya, saat ini dia berkeliaran di kepalanya. Ia tertarik untuk melihat apa yang membuat Chanyeol begitu antusias dan menariknya, pria itu menarik Myungsoo untuk mendekati papan pengumuman.

Itu adalah jadwal ujian masuk ke universitas yang akanmereka pilih, sesuai jurusan yang mereka pilih juga. Namun perlahan mata itu melebar, rahangnya mengeras ketika ia membaca pengumuman lain pada papan itu.

Daftar nama siswa yang lulus uji coba pertama untuk masuk ke universitas luar negeri. Dan ada nama Jung Sooyeon di dalamnya. Chanyeol segera melihat ekspresi Myungsoo ketika ia juga melihat daftar nama itu.

Dia menyimpulkan, Myungsoo memang tidak tahu dengan yang dilakukan Sooyeon kali ini.

“ Gwenchana?” Tanya Chanyeol lirih, ia menepuk pundak sahabatnya itu.

Myungsoo tidak menjawabnya, ia hanya menunduk lalu perlahan menyingkir dari tempat itu. Chanyeol membiarkannya, ia memang perlu melakukan tindakan untuk dirinya sendiri dan juga untuk Sooyeon. Kali ini ia mungkin hanya memikirkan kemungkinan yang akan terjadi antara keduanya, ia tidak akan ikut campur. Benar…sementara dia melirik ke atas dan mengatupkan kedua tangannya.

“ Semoga kalian bahagia” hanya itu yang ia ucapkan.

.

.

Myungsoo menelusuri koridor sekolahnya, ia tidak menemukan Sooyeon yang kemungkinan bisa tidur di kelas seperti biasanya, ia juga menelusuri isi kantin dan tidak menemukan tanda makhluk itu mampir ke kantin. Ia memutuskan untuk melewati ruang guru namun setelah ia menanyakan, ia juga tidak ada di tempat itu, Ia berlaih pada perpustakaan dan melewati rak yang sering di datangi gadis itu. Tidak ada jejaknya. Ia mengatus nafasnya dan menunduk, Sooyeon benar-benar membuatnya melakukan hal ini?

Ia melihat dari sela rak dan ia mendapati Henry yang baru saja masuk dan berbicara pada Librarian. Ia menyimpulkan Henry akan tahu jawaban dari yang ia cari.

Myungsoo berjalan lambat sampai akhirnya Henry menoleh dan mendapati tatapan dingin itu sedikit menusuknya.

“ eoh…Anyeong” sapa Henry, pria itu tersenyum dan sepertinya dia lupa dia pernah membuat seni di wajah tampan Myungsoo dengan tinjuannya itu. Senyum itu seakan mereka adalah teman yang akrab.

Myungsoo membungkukkan badannya, ia juga tidak lupa bahwa pria di depannya ini adalah seorang guru.

“ Anda melihat Sooyeon?”

Henry terlihat berfikir, lebih tepatnya ia berakting untuk terlihat berfikir.

“ Aku belum  melihatnya, aku baru selesai dari kelasku”

“ Anda tahu rencananya untuk kuliah di luar negeri?”

Henry tersenyum simpul, ia membenahi kacamatanya. Dan masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

“ Kau lupa dia memang tinggal di Amerika sebelumnya, dia hanya tinggal 3 tahun di Seoul bukan berarti dia akan menjadi warga Negara Korea meskipun dia juga keturunan orang Korea. Kau pasti paham akan hal itu”

Myungsoo terdiam, yang dikatakan Henry memang benar, lebih tepatnya…ia lah yang shock dengan keputusan Sooyeon untuk tidak mengambil universitas ditempat yang sama dengannya.

Henry memahami hal itu. Myungsoo mungkin merasa ini aneh baginya. Sementara dia selalu mendapat perhatian Sooyeon lebih dari kadarnya. Ia yakin pria ini tidak ingin hal itu berakhir. Dia juga pria yang normal. Sementara Henry juga merutuki Sooyeon yang belum mengatakan apapun tentang keputusannya pada Myungsoo. Itu terlihat bahwa gadis itu masih belum siap dan ragu untuk melakukannya.

“ Kau tahu tempatnya saat ia sedang bersedih? Ah…dia tidak pernah bersedih..yang kumaksud kau tahu tempatnya sering mencurahkan isi hatinya pada benda-benda aneh _”

Myungsoo membungkuk sebagai tanda ia permisi untuk meninggalkan tempat itu. Sementara ia belum selesai menjelaskan maksudnya. Dia jelas tahu tempat itu.

Henry tersenyum dan mendengus.

“ Apa aku baru saja membantu pria itu untuk bertemu gadis kecilku? Sepertinya Sooyeon mempengaruhiku untuk berbuat baik” ucapnya terkekeh.

.

.

Sooyeon segera menghindar karena ia melihat siluet Myungsoo mengitari taman itu. Ia bersyukur ia memutuskan untukpergi lebih cepat dari tempatnya biasa duduk. Dan kali ini ia bersembunyi dibalik pohon menghindari Myungsoo.

Ia melirik pria itu yang terlihat ngos-ngosan karena ia barusaja berlari. Ia pasti tidak akan menemukan dia di tempatnya. Di tempat yang sama saat mereka sedang menyendiri.

Ia menggigit bibir bawahnya setelah melihat Myungsoo kembali berlari meninggalkan taman. Ia benar-benar berlaku jahat pada Myungsoo kali ini. Hanya saja ia tahu apa yang membuat Myungsoo mencarinya. Itu hanya tebakannya namun ia sedikit yakin Myungsoo mencarinya untuk menuntuk penjelasan atas pengumuman di papan pengumuman sekolah.

Ia memang sengaja menghindari pertanyaan itu, sementara ia sudah hampir selesai mengurus dokumen kepindahannya.

“ Mian_” ucapnya lirih.

.

.

Sooyeon tidak ada di taman itu, membuat Myungsoo berfikir keras kemana lagi gadis itu bisa bersembunyi. Atau dia memang bersembunyi ?  Dia benar-benar membuat Myungsoo meninggalkan sekolah dan mencarinya sampai di taman ini. Namun hasilya ia tidak menemukannya.

“ Jung Sooyeon…berhenti membuatku seperti ini” geramnya kecil.

Selanjutnya ia memutuskan untuk mencari gadis itu ke rumah setelah memastikan bahwa Sooyeon memang tidak kembali ke Sekolah dari Chanyeol. Mungkin gadis itu sudah sampai di rumahnya.

.

Ahn Ahjumma terkejut karena tuan mudanya sudah sampai di rumah lebih awal.

“ Apa yang terjadi Myungsoo_ya?”

Myungsoo tak menjawab, ia hanya memarkirkan motornya lalu pandangannya tertuju pada rumah kecil milik Sooyeon.

Ahn Ahjumma tahu apa yang akan dilakukan tuan mudanya itu.

“ Ah…aku belum melihatnya seharian kemarin dan juga hari ini dia tidak menyelinap seperti biasanya ke dapur, terakhir kali saat ia datang ke kamarmu…”

“ Apa dia berada di rumahnya?”

“ Aku mengetuk pintunya dan tidak ada jawaban”

Myungsoo kembali terdiam, ia menatap tajam pintu itu dan memutuskan untuk mengambil kunci rumah Sooyeon yang ia pegang. Ia memang mempunyai kunci duplicat rumah itu.

Pria itu membuka perlahan dan mencari kesetiap sudut ruangan. Dia melirik kamar Sooyeon dan membukanya , gadis itu hanya rajin mengunci pintu rumahnya dan tidak untuk pintu kamarnya.

Ia melihat isi dari ruangan itu dan matanya membulat sempurna ketika melihat beberapa kardus yang terisi barang-barangnya.

Bahkan ia sudah menyiapkan ini jauh sebelum ia benar-benar lolos ujian masuk universitasnya?

“Dia begitu bersemangat untuk pergi?” gumamnya kecil.

Ia terdiam, ia juga memijat keningnya tanda bahwa ia benar-benar shock Karen hal ini. Jung Sooyeon benar-benar membuatnya kacau hari ini.

Myungsoo melihat layar ponselnya, dan kali ini ia benar-benar ingin bertemu dengan Sooyeon. Ia harus tahu dimana ia berada. Kenapa ia harus menghilang seperti ini.

“ Yoboseo” ucapnya

//” eoh Husby?” //

Sial …kenapa gadis ini terdengar ceria seperti biasanya, tidak tahukah dia sudah membuat Myungsoo terlihat buruk hari ini?

“ eoddiyeo?” Tanya Myungsoo to the point.

Ia tidak mendapat jawaban dari Sooyeon, ia masihmendengar suara Sooyeon yang bernafas. Dia masih menempelkan ponselnya di telinganya , namun ia tidak menjawab pertanyaannya.

“ Eoddiyeo? Aku akan kesana sekarang”

//“ Andwae…jangan menemuiku “//

“ Wae? Aku ingin bertemu dan katakana dimana kau sekarang”

//” Andwae Husby, Andwae Kim Myungsoo Andwae!!” // ucapnya jelas di sebrang sana, terlihat gadis itu tengah berterikan dengan ponselnya.

“ Sooyeon_ah…Ada apa ini , apa yang kau pikirkan?”

//” Any_aku hanya tidak ingin bertemu denganmu, hanya itu” //

“ Wae? WAE??” teriak Myungsoo.

//” Aku sudah mengatakan padamu , kita bercerai dank au bisa bertunangan dengan Haeryeong…jangan sampai dia tahu istilah konyol ini jika tidak dia akan terluka dan salah paham denganku”// jelas Sooyeon.

Myungsoo bisa mendengar suara serak itu, apa Sooyeon menangis? Ini pertama kalinya ia mendengar suara serak itu. Ia tahu Sooyeon akanmenangis dan itu membuatnya semakin ingin bertemu dengannya.

“ Gwenchana? Eoddiyo?”

//” Shireo”//

“ EODDIYO JUNG SOOYEON?”

Tut…tut…tut…

Myungsoo memukul keras meja di depannya. Sooyeon begitu tidak sopan karena mematikan ponselnya begitu saja. Selanjutnya ia mencoba untuk menghubungi Sooyeonkembali dan ponselnya sudah tidak bisa dihubungi.

Sooyeon sengaja mematikan ponselnya. Dan itu membuat Myungsoo hampir gila karena ini. Kenapa ia begitu kacau saat ia tidak berhasil menemukan Sooyeon? Ia benar-benar telah dibuat kacau hanya karena rencana Sooyeon yang akan kembali ke Amerika.

Ia tahu ini akan terjadi namun ia tidak tahu bahwa efeknya akan sedrastis ini pada dirinya.  Ia ingin terlihat biasa dan bisa melepaskan Sooyeon dengan keputusannya karena memang seharusnya ia kembali. Ia ingin melepas rasa bersalahnya karena meminta Sooyeonuntuk tinggal sementara ia membuat gadis itu menderita. Namun spontanitas dalam dirinya, hatinya dan semua syaraf dalam dirinya bertolak belakang dengan pemikirannya.

Ia menolak…benar-benar menolak hal itu. Ia tidak siap jika saja Sooyeon tiba-tiba pergi. Sooyeon sudah terlalu banyak membuatnya kecanduan akan kehadirannya di hari-harinya.

.

.

Myungsoo tidak masuk sekolah, begitu juga dengan Sooyeon…dan itu adalah hal aneh bagi Chanyeol. Ia memutuskan untuk mengubungi sahabatnya itu namun ponsel itu juga telah mati suri. Selanjutnya ia memutuskan ia harus ke rumah Myungsoo.

Chanyeol menghentikan laju motornya ketika melihat gadis bernama Haeryeong tengah berdiri di depan sekolah. Ia tidak mengenalnya hanya saja ia tahu wajah gadis itu yang bernama Haeryeong.

Sementara ia tahu Gongchan telah pulang lebih dulu darinya, jadi tidak mungkin Haeryeong menunggu seorang Gongchan.

“ Chogio…kau menunggu Myungsoo?”Tanya Chanyeol to the point.

Haeryeong terlihat kaget karena dia pria yang tidak ia kenal. Ia mengangguk kecil.

“ Sebaiknya kau pulang, dia tidak masuk hari ini”

“ Apa yang terjadi”

“ Aku akan menghubungi Gongchan jika ia baik-baiksaja nanti, aku juga ingin memastikannya”

“ Aku ikut denganmu”

“ Ah…Gwenchana…jangan terlalu menghawatirkan dia, aku akan meng_”

Kalimat itu terhenti ketika ia melihat Haeryeong masuk ke dalam mobil dan meminta sopirnya untuk melaju.

Chanyeol mendengus, selanjutnya ia menghidupkan kembalimesin motornya dan mengekor dibelakan mobil itu.

.

.

Myungsoo tergeletak lemah di tempat tidurnya. Itu adalah pemandangan terlangka yang pernah dilihat Chanyeol. Sahabatnya itu tidak pernah seperti ini.

Selanjutnya ia melihat Haeryeong berhamburan mendekatinya. Ia hanya berdiri melihat keadaan Myungsoo yang sedikit menyedihkan itu.

Haeryeong memegang kening Myungsoo dan merasakan demam di tubuhnya.

“ Ahn Ahjumma!!” teriak Haeryeong.

Dan itu membuat wanita paruh baya itu berlari cepat menuju kamar Myungsoo.

Chanyeol hanya menggeleng pelan, bahkan Myungsoo tidak pernah bersuara keras seperti itu pada Ahn Ahjumma. Sangat berbeda denga penampilan lembutnya.

“ Apa yang terjadi padanya, kenapa ia bisa seperti ini?” Tanya Haeryeong khawatir.

“ Dia pulang terlalu larut dan ia demam”

“ Kenapa tidak ke rumah sakit?”

“ Dia menolaknya, Sepertinya dia bertengkar dengan Sooyeon. Dia selalu menyebut namanya, Aigo…seharusnya gadis kecilku itu ada disini…” penjelasan itu sontak membuat keheningan di ruangan itu.

Haeryeong terdiam, matanya kini tengah berkaca-kaca. Apa dia terluka karena Myungsoo menyebut nama Sooyeon disaat dia sedang demam seperti ini?

“ Soo_ye_on_ah”

Dan benar yang dikatakan Ahn Ahjumma, nama itu keluar dari mulut Myungsoo dengan sendirinya. Haeryeong perlahan menjauh dan ia pergi dari kamar itu dengan mata yang berkaca-kaca.

Gadis itu tengah terluka, dan Chanyeol tidak bertanggung jawab akan hal itu. Seharusnyamemang ia mendengarkan kata-katanya tadi.

Selanjutnya Chanyeol tersenyum simpul. Ia tidak menyangka Sooyeon telah menjadi kelemahan terbesar seorang Kim Myungsoo. Ia bahkan tidak pernah berfikir ia bisa seperti ini karena Sooyeon tidak ada di dekatnya. Atau memang mereka benar-benar bermasalah.

“Seharusnya kau mengaku ini sejak lama Kim Myungsoo” ucapnya lirih.

Myungsoo perlahan membuka matanya dan ia melihat sosok yang tinggi berdiri menatapnya.

“ Jangan menatapku seperti itu “ ucap Myungsoo dingin.

“ Ah…baru saja kau merintih dan sekarang wajah menyebalkan itu muncul “

Myungsoo menoleh kea rah lain.

“ Sooyeon meninggalkanmu? “

Pertanyaan itu sukses membuat Myungsoo kembali memejamkan matanya. Ia sadar diri ia sedang kacau karena ketakutannya karena Sooyeon memutuskan untuk kembali.

“ Aku berdo’a semoga kalian bahagia…mungkin ini jalan menuju kebahagiaan itu. Memang seharusnya kau dihukum karena kau menyebalkan”

Kalimat bijak itu membuat Myungsoo melemah.

“ Jangan memojokkanku disaat aku sedang lemah seperti ini”

“ Baiklah… setelah melihat keadaanmu aku jadi tenang…aku akan membiarkanmu istirahat , semoga kau cepat sembuh”

Chanyeol meninggalkan ruangan itu.

Myungsoo mendengus , ia menghela nafas sementara ia masih merasakan demam di tubuhnya. Ia sudah berusaha menghubungi Sooyeon kembali namun ponselnya juga telah mati suri.

Jung Sooyeon…aku membutuhkanmu

.

.

Sooyeon menyalakan ponselnya setelah mati suri beberapa jam. Ia ingin mengecek e-mail masuk untuk nya. Lalu ia akanmematikannya lagi, itu rencanaya.

Namun takdir lain membuatnya menunda untuk mengecek e-mail. Sebuah panggilan masuk dari Park Chanyeol, dan dia juga tidak tega berbuat jahat dengan tidak mengangkat panggilanitu.

//“ Ah…aku beruntung …kau memang baik hati Jung Sooyeon” // ucapnya diseberang sana.

“Wae?”

//“ tentusaja aku merindukanmu…” //

“ Jangan bercanda…”

//” Hahaha Ara-ara…aku tidak akan bertanya dimana dirimu sekarang, hanya saja…Sepertinya suamimu terlihat menyedihkan…ia sakit “

“ Nee? ??? jinjayo?” dan ekspresi itu membuat Henry yang tengah membuatkan makan siang untuknya menghentikan aktivitasnya.

Sooyeon menunduk meminta maaf pada Henry karena membuatnya terkejut.

Chanyeol yang ada di seberang sana menahat tawanya.

//“ Dia tidak sadarkan diri…aku tidak tahu penyebab pastinya…sepertinya ia terkena penyakit yang parah” //

“ Jangan membohongiku, itu terlalu berlebihan”

Chanyeol merengut, niatnya ingin membuat Sooyeon lebih khawatir gagal.

//” lebih baik kau melihatnya sendiri”//

“ Arasseo”

Tut…tut…tut…

Sooyeon menunduk, ia menatap Henry yang saat ini juga tengah menatapnya.

Henry sebenarnya bukan orang jahat yang memaksa Sooyeon untuk kembali dengan cara seperti ini. Setidaknya ia bisa mempersiapkan semuanya dan pergi dengan kenangan yang baik bersama teman-temannya.

“ Pergilah…setidaknya ucapkan salam perpisahan”

Sooyeon tersenyum, ia memeluk Henry singkat lalu berlari ke cil meninggalkan apartemennya.

Ia merasa seperti telah menahan Sooyeon beberapa hari di rumahnya, sedangkan Sooyeon sendiri yang memilih untuk menjauh beberapa hari sebelum ia benar-benar siap mengucapkan salam perpisahan.

Ia juga memang sedang mendapat bimbingan dari Henry untuk jurusan yang akan ia ambil.

Itulah yang sebenarnya terjadi.

.

.

Ahn Ahjumma berhamburan memeluk Sooyeon, seperti ia telah datang dari tempat jauh untuk beberapa waktu yang lama.

“ Aku hanya berkunjung di rumah saudaraku Ahn Ahjumma”

“ Ah baiklah…tuan muda sedang sakit, dan dia tidak ingin diganggu”

Sooyeonmengangguk kecil. Yang dikatakan Chanyeol memang benar, Myungsoo memang sedang sakit. Dan hati kecilnya memang sangat-sangat khawatir pada keadaan manusia dinginitu.

 

Perlahan Sooyeon membuka pintu kamar Myungsoo , ia mengintip Myungsoo yang tengah terbaring lemah di tempat tidurnya.

Terakhir kali melihat Myungsoo seperti ini adalah saat ia baru saja kehilangan eommanya. Hal ini sama seperti saat itu, benar-benar terlihat kacau. Danmenyedihkan.

Sooyeon duduk di pinggiran tempat tidur itu dan meletakkan tangannya di kening Myungsoo. Merasakan betapa suhu tubuhnya sedang tinggi.

“ Mian” ucapnya lirih.

Kali ini suara parau milik Myungsoo yang mengatkannya.  Membuat Sooyeon melepaskan tangannya.

“ Apa yang terjadi? Kenapa minta maaf? Seharusnya aku yang mengatakannya “

“ Kau benar-benar akan pergi?”

Sooyeon terdiam, ia tidak menjawabnya.

“ Jangan menghindar, aku melihat daftar nama itu, kau mengikuti ujian masuk universitas di Amerika”

Sooyeon masih menunduk dan tidak menjawabnya.

“ Mian..aku tidak mengatakan yang sebenarnya  padamu”

“ Itu memang kebiasaanmu”

“ Kau tetap menyebalkan meskipun disaat seperti ini” gerutu Sooyeon.

“ Kau memang selalu menutupi dariku”

“ Kau tahu?”

“ Tentu”

“ Daebak…kau memang benar-benar memasang cctv disekitarku”

Sooyeon mengatupkan bibirnya, ia tidak bisa membuat suasana menjadi lebih haru ataupun sedih jika melihat Myungsoo seperti ini, ia hanya ingin membuat hati Myungsoo terasa lebih baik dengan menunjukkan dia baik-baik saja dengan keadaannya selam a ini, ia tidak ingin pria itu merasa bersalah jika mengetahui semua cerita tentangnya saat memutuskanuntuk tinggal di Seoul.

“ Aku yang tidak baik-baik saja jika kau meninggalkanku”

Kalimat itu membuat waktu itu serasa terhenti. Sooyeonmendongak dan melebarkan matanya menatap Myungsoo yang tengal mengalihkan pandangannya.

“ Wae? Karena akutidak bisa membantumu sebagai istrimu lagi?”

“ Bakka”

“ Hya!! Kubilang aku tahu artinya “  protes Sooyeon.

“ Bisakah aku memintanya sekali lagi padamu?”

Sooyeon menaikkan sebelah alisnya.

“ Haljima!” Sooyeon menghentikannya.

“Aku menyerah_ … hanya itu yang ingin ku katakan, sudah saatnya aku menyerah, mian_”

Myungsoo menarik tubuh Sooyeon. Ia membuat kalimat gadis itu terhenti.

“ Apa yang kau lakukan? Kau menyerah setelah melangkah sejauh ini?”

“ Aku tidak bisa membuatmu merasa lebih baik…aku terlalu berusaha keras dan membuatku menyukaimu sementara kau mencintai Haeryeong dari awal, aku ingin menyerah Kim Myungsoo” kalimat itu keluar begitu saja , ini benar-benar perasaannya.

Myungsoo tersenyum  , tangannya kini beralih untuk membelai pipi Sooyeon yang basah karena air matanya baru saja menetes.

“ Aku bukan tipe orang yang pandai menunjukkan perasaanku, Aku mencintaimu Cukup”

Sooyeon terbatu, apa yang barusaja ia dengar? Apa itu? Sebuah pernyataan cinta ? dari seorang Kim Myungsoo? Lalu apa itu kepadanya?

Pertanyaan itu muncul bergantian di kepalanya. Sementara Myungsoo masih menatapnya dalam dengan tatapan aneh yang selama ini hanya dalam mimpinya.

“ Tunggu sepertinya aku sendang bermimpi”

Myungsoo terdengar mendengus …selanjutnya ia menarik kembali Sooyeon untuk lebih dekat dengannya.

“ Tetaplah disisiku” ucapnya lirih.

“ Tunggu, kau sepertinya harus minum obat,…kau demam dan bicaramu ngelantur”

“ Heoh…ini akan sembuh dengan cara ini”

Myungsoo mendongak. Ia mengangkat separuh tubuhnya dan juga menarik Sooyeon kearahnya.

CHU..

LAGI..

Dan kali ini Myungsoo benar-benar serius membuat Sooyeon melayang karena ciumannya. Ciuman yang dalam dan terkesan menuntut agar dia menjadi miliknya. Ciuman itu berubah menjadi lumatan kecil di bibir mungilnya, membuatnya benar-benar sadar bahwa Myungsoo memang melakukannya.

Ia memejamkan matanya. Merasakan setiap perlakuan Myungsoo pada bibir mungilnya.

Perlahan Myungsoo melepaskan ciuman itu. Ia tersenyum dan mencium singkap puncak kepala Sooyeon. Kenapa ia bisa melakukan ini? Itu karena gadis bernama Sooyeon. Bahkan dia ketakutan ketika mendengar keputusan Sooyeon kembali ke Amerika.

“ Akumemintanya sekali lagi, Tetaplah disisiku Jung Sooyeon”

Sooyeon tersenyum kecil. Sepertinya ini memang bukan mimpi, Myungsoo benar-benar mengatakannya padanya. Apa ia berhasil dengan misinya? Ia mendapatkan perasaan yang sama dari Kim Myungsoo?

Selanjutnya ia memeluk tubuh lemah namja itu dan menangis di dadanya.

Begitu banyak yang ia alami selama ia tinggal di dekan Myungsoo.

Memori itu terulang dan melintas seenaknya di kepalanya. Namun tidak sedikitpun hal itu membuatnya sedih. Ia bahagia meskipun ia harus melakukan tantangan dengan Appanya. Ia bisa membuktikan bahwa ia bisa melakukan hal yang seharusnya ia lakukan pada Jung Yunho dulu.

Ia benar-benar melakukannya.

“ Gomawo” ucap Myungsoo lirih dan ia mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil yang masih terisak itu.

 

Dia gadis terbaik yang pernah aku temui, dari awal  aku memang tidak sadar dengan permintaanku. Namun pada akhirnya aku menyadari jika takdir memang mempertemukan kami dan  dari kalimat konyol yang aku keluarkan saat itu berujung seperti ini.

Aku memang membutuhkannya, aku memang membutuhkan kasih sayangnya. Dan sepertinya efek buruk itu bisa terjadi jika ia berani melangkah jauh dariku.

Saranghaeyo Jung Sooyeon

_KIM MYUNGSOO_

­END…

 

hOLLAA…

Eotte? endingnya?

berasa gantung?????

maapp maapp ternyata ini kurang panjangg…aku pikir bakalan panjang…

sementara ini adalah ending dari Just Stay Beside Me…jadi aku bakalan janji bikin Sequelnya..

semoga aku bisa tepatin itu di awal tahun …emh..minggu kedua mungkin🙂

Dan aku minta maaf karena belum sempat balas komentar kalian sebelumnya….aku makasih bingggo udah mau baca..dan ini sebagai endingnya aku harap kalian suka…dan tidak kecewa🙂..dan maap aku takut kalau ini jadi ending yang jelek😦

Gomawoo

52 thoughts on “Just Stay Beside Me || Eight_End

  1. Keren! Akhirnya perjuangan sooyeon membuahkan hasil dan myungsica/myungyeon (?) Bersatu.
    Penasaran sama haeryeong, gongchan, chanyeol, henry, sama papa sooyeon.
    Sequelnya ditunggu😀
    (Kalo bisa sampe sooyeon dan myungsoo berkeluarga)

  2. Hwaaaa~~ endingnya OMG!!! Romantiiis siih sebenernya,, heehe.. Seneng bgt akhirnya myungsoo bilang suka ke sooyeon,, si henry gimana dong?? Haeryeong?? Haduuuh sequel yakk.. Hehehee

  3. terhura saya author.adegan terakhirnya wow.yeay gajadi pergi.myungsoo akhirnya mengatakan yang sebenarnya.sicaeon pertama kali nangis dan berhasil buat myungsoo sakit.akhirnya mereka terbuka,walaupun myungsoo mengatakan kata2 singkat tapi udah buat bahagia.yeol pasti juga seneng shipper fav.nya bersatu, LSica jjang! sepertinya henry haeryong cintanya bertepuk sebelah tangan. KEEP WRITING thor!!😀

  4. Suka bgt!!! Apalagi endingnya, romantis… maaf baru koment hehehee
    akhirnya soyeon jadi juga ama myungsoo, trus haeryeong gimana? Agak gantung nih…. bikin sequelnya dong

  5. annyeong unnir!:D aku baru masuk dunia perff-an, jadi maaf kalo aku commentnya di chap terakhir doang😅 aaa melting tau ga aku bacanya, serasa aku yg jadi jessica/? akhirnya perjuangan jessica ada hasilnya ya, aku turut berbahagia/? aigoo jessica niat stay di koreanya baik banget^^ myungsoo nya jaim ya, tgl bilang suka ke jessie jadinya kan dia gabalik ke amerika huh-_- mau juga dong jadi sahabatnya chanyeol✌ trs dipanggil nuna barbie sama gongchan. tp sayangnya aku lebih muda huhu:( over-all ffnya keren binggo unn kkk! aku tunggu ya sequelnyaa♡😘

  6. Yeyeye author nge post nya cepet hehehe
    Wah udah end ya thor,,, padahal aku suka loh sama ff nya+cast nya,,,
    Akhirnya Myungsoo sama Jessica bersatu di ending nya🙂
    Janji ya thor dibikin sequelnya soalnya seru banget nih ff,,, aku paling suka sifat nya myungsoo disini😀
    Pokoknya keep writing ya,,, and fighting!!!

  7. yaaaaahhh akhirnya chapternya d post juga kirain g bkalan.hhee
    mian chingu klo mnrut sya endingnya msih gimna yahh.. eumpp msih mnggantung cz d ending jung soeyoon blum mnjawab myungsoo u/ ttap d sisinya atw g n mrka brsatu atw g nya blum jelas

    mian yahh chingu.. mian
    tp klo bisa chapternya d lanjut

  8. hehe akhirnya.. mian ne klo baru komen *peace* jadi sica gak jadi ke amerika? masih bingung sebenarnya henry itu spanya sica di masa lalu.. ijin baca sequelnya ya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s