Moonlight |Four

moonlight

Author: S.Y.M

Title : Moonlight

Lenght : Chaptered

Rating : PG16

Genre : Angst, Romantic, marriage life

Credit Poster:

Lyri @Art Fantasy ^thankyou^

Cast : Jessica Jung| Byun Baekhyun

jessicablue_eyes_baekhyun___bacon_by_luxuriousraven-d5l020u

Other Cast:

Cho Kyuhyun | Go Hara | Park Jiyeon

kyuhyunharaji yeon

Note:

Sesuai janji…aku munculin Kyuhyun disini🙂

SELAMAT MEMBACA

dan maaf jika cerita jelek😦

& & &

Baekhyun terburu-buru keluar dari kampusnya. Salahkan pesan yang baru saja ia terima dan membuatnya meninggalkan kelas.

“Yoboseo!” jawabnya pada ponsel yang sedari tadi mengganggunya.

//” Bodoh! Kemana saja kau dari tadi, aku berusaha meneleponmu” // kesal seseorang di seberang sana.

“ Aku ada di kelas, aku sudah membaca pesanmu, gomawo”

Tut tut tut

Baekhyun beralih pada taxi yang sengaja ia hentikan untuk mengantarnya lebih cepat ke apartemen. Jika saja ia bersama mobilnya, mungkin ia bisa saja menerobos apapun di depannya untuk sampai lebih cepat ke apartemen.

.

.

Sooyeon terbatu, Ia hanya terdiam duduk dan menunduk dengan seorang paruh baya di depannya. Dia ibu Baekhyun.

“ Jadi kau yang bernama Jung Sooyeon?”

Sooyeon mengangguk, ia tersenyum tipis menanggapi tatapan tajam dari Ny Byun ini. Ia benar-benar berharap Baekhyun ada di tempat ini dan menjelaskan semuanya. Ia ingat betul bahwa wanita ini tidak hadir di pernikahan mereka. Mungkin nasib Baekhyun sama dengannya, tidak mendapat persetujuan dari orang tuanya.

“ Apa yang kau perbuat pada Baekhyun sehingga dia bisa menikahimu?”

Sooyeon mendongak, seharusnya ia tahu bahwa putranya lah yang melakukan hal buruk padanya. Selanjutnya ia kembali menunduk, jika saja ia tidak melampiaskan masalahnya untuk datang ke Club mungkin ia tidak berakhir seperti ini, itu artinya ia tetap salah.

“ Dia masih remaja dan tidak mungkin baginya untuk berfikiran sejauh ini. Apa kau mengancamnya?”

Sooyeon kembali mendongak, tak sungkan ia melemparkan tatapan tajam tak percaya, kenapa wanita paruh tua ini bisa berfikiran seperti ini?

“ Kau menjebakknya dan mengancamnya, lalu kau bisa memperalatnya. Bukankah seperti itu? Dia suka sekali bergaul dengan wanita-wanita seperti itu, aku sungguh tidak percaya kau bisa melakukannya” Ny Byun menatap sarkartis pada Sooyeon, sungguh wanita itu kini benar-benar merasa direndahkan.

Dia adalah wanita berpendidikan, dia juga tidak pernah kekurangan uang dari segi keluarga, Jangan pikir keluarganya adalah keluarga biasa, hanya saja ia kurang beruntung karena tidak mendapat perhatian keluarganya. Dia benar-benar menjamin semua yang dikatakan Ny Byun adalah tidak benar, bahkan berfikir seperti itu pun tidak.

Ia membuka mulutnya untuk menjawab semua tuduhan tanpa bukti yang dikatakan Ny Byun, hanya saja ia menahannya. Tidak ada gunanya.

Begitulah yang sekarang ada di otaknya. Yang ia harus lakukan adalah meminta Baekhyun untuk menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi diantara mereka pada Ibunya.

“ Aku tidak berfikir kau tidak bisa bicara, kenapa kau tetap diam? “

“ Saya sedang menghormati anda sebagai ibu mertua”

“ Hahahaha, jangan pernah berfikir aku bisa menjadi ibu mertuamu, aku punya pilihan sendiri untuk Anakku, dan bersiapla untuk berpisah dengannya ”

Sooyeon tersenyum tipis, ia berdiri dan membungkukkan separuh badannya pada Ny Byun.

“ Saya akan buatkan minuman untuk anda “ Ucap Sooyeon menahan amarahnya. Jika saja dia bukan ibu Baekhyun mungkin ia bisa melakukan tindakan pengusiran untuk wanita seperti ini.

“ Tidak perlu, aku tidak ingin membuang waktuku terlalu lama disini” Ucapnya dan sukses mendapat senyuman dari Sooyeon.

Benar, lebih baik anda pergi.

Sooyeon membungkukkan setengah badannya meski Ny Byun sama sekali tidak melihatnya. Ia berlalu begitu saja.

Setelah merasakan Ny Byun tidak lagi dekat dengan apartemennya, barulah ia menegakkan tubunya. Ia melemas dan menghela nafas panjang. Selanjutnya ia mengibaskan tangannya meraskan hawa panas yang menyerang tubuhnya karena menahan emosi.

Ia benar-benar menahan emosinya.

“ Kau tidak boleh marah demi bayimu” Sooyeon mengelus perutnya lembut dan meniupnya.

Meniup kearah Perut yang mulai terlihat berisi dan buncit.

.

.

BRAK

Sooyeon tetap pada tempatnya, ia tidak beranjak sama sekali. Ia sudah tidak perduli lagi dengan siapa yang masuk ke dalam apartemen ini. Entah itu Baekhyun atau wanita yang mirip dengannya itu. Ia tidak perduli. Pandangannya masih lurus pada acara televisi di depannya.

 

“ No_noona” ucap Baekhyun tersengal. Ia terdengar mengatur nafasnya lalu memutuskan untuk duduk bersebelahan dengan Sooyeon.

“ Kau membolos?” tanya Sooyeon, bahkan tanpa menoleh.

Baekyun menoleh, seperti tidak terjadi apa—apa pada Noonanya ini. Apa yang dikatakan Kyungsoo adalah bohong? Kenapa Sooyeon terlihat biasa saja jika ia bertemu dengan ibunya. Atau Ny Byun belum sampai di apartemennya?

“ Gwenchana?” tanyanya masih dengan nafas yang tidak beraturan.

“ Diamlah…aku sedang menonton acaraku”

Baekhyun memutar matanya, ia merosot di sofa dan menutup wajahnya dengan tangan. Ia benar-benar ditipu oleh Kyungsoo. Sooyeon terlihat baik-baik saja dan eommanya tidak datang ke apartemennya.

“ Wae? Kau lupa membuatkanku makan siang, itulah kenapa kau kembali secepat ini? “ Sooyeon menoleh, ia melihat wajah berantakan dan khawatir dari Baekhyun. Membuatnya kembali mengalihkan pandangannya.

“ Aah…aku tiba-tiba merindukanmu Noona” jawabnya , mengalihkan kondisi yang ia pikirkan sebenarnya.

Sooyeon tersenyum tipis.

“ Eommamu datang”

Baekhyun sontak menatap Sooyeon. Matanya melebar meskipun tetap terlihat sipit.

“Gwenchana?” tanyanya berubah khawatir.

“Kau pikir aku berhadapan dengan penjahat? Kenapa kau bertanya seperti itu?” Sooyeon kembali beralih pada televisinya.

Membuat Baekhyun frustasi saat itu juga. Tidak mungkin tidak terjadi apa-apa. Apa yang dikatakan Eommanya ketika bertemu Sooyeon saat ia tidak ada.

“ Jadi_”

“ Aku lapar, buatkan aku makan siang “

“ Ayolah Noona….ceritakan apa yang terjadi” rengek Baekhyun dan sukses membuat Sooyeon mengernyit.

“ Bayiku berteriak dan bisa menggerogoti tubuhku jika aku tidak makan segera Byun Baekhyun” ucap Sooyeon geram dengan tingkah manja Baekhyun ketika merengek.

Baekhyun terdiam, dan dia mengalah. Ia mulai beranjak dan berjalan ke Dapur. Ia benar-benar tidak mengerti dengan Sooyeon. Apa yang terjadi antara Ny Byun dan Sooyeon tidak mungkin sesederana ini. Wanita itu pasti mengatakan sesuatu yang menyakiti hati Sooyeon.

Sesekali Baekhyun melirik keberadaan wanita yang ia cintai itu. Wajahnya benar-benar tidak tenang. Ia tidak akan marah pada Kyungsoo karena ternyata memang Eommanya datang ke apartemennya. Namun ia harus tahu apa yang dilakukan Eommanya pada Sooyeon. Karena kemungkinan Sooyeon akan mengadu adalah tipis, ia tidak mungkin mendapatkan informasi itu.

“ Apa kau tidak bekerja malam ini?”

Baekyun terjingkat, memikirkan hal ini membuatnya tidak sadar Sooyeon tengah berdiri di depannya.

“ Ah Any…” Jawab Baekhyun. Ia beralih meletakkan makanan yang ia masak ke piring dan menyediakannya untuk Sooyeon.

Membuat wanita itu tersenyum dan memakannya dengan cepat.

“ Kau ingin kita berjalan-jalan?” tanya Baekhyun.

Sooyeon mengangguk, dan dia tersenyum girang. Membuat Baekhyun begitu lega melihatnya. Senyum yang seperti ini membuatnya berfikir bahwa memang tidak terjadi apapun antara eommanya dan Sooyeon.

.

.

Jika saja ia bisa membeli waktu, ia akan membeli waktu-waktu seperti ini untuk bersama Sooyeon. Mungkin masih terlalu awal, dia terlalu sibuk dengan kegiatan kuliahnya dan bekerja paruh waktu. Ini kehidupan yang ia lakukan bahkan sebelum menikah dengan Sooyeon. Namun setelah mendapatkan Sooyeon berada bersamanya, waktunya menjadi terpangkas karena kegiatannya sendiri.

Baekhyun tersenyum memperhatikan Sooyeon melebarkan tangannya, mendongakkan kepalanya dan menghadap ke langit luas, merasakan heMmbusan angin yang menerpanya. Sungai Han, dimana lagi? Sooyeon memang suka berjalan-jalan di tempat ini, atau memang hanya tempat ini yang ia tahu.

Naluri Baekhyun membawanya untuk mendekati Sooyeon dan melingkarkan tangannya pada tubuh di depannya ini. Sooyeon tersenyum tipis lalu melipat tangannya dan menyentuh lengan Baekhyun yang merengkuhnya.

“ Entah kenapa aku selalu merasa berada di dekatmu aku bisa mendapatkan kehangatan yang luar biasa . Apa ada mesin penghangat di dalam tubuhmu?”

“ Itu karena aku akan menjadi ibu, Bocah”

“ Jangan memanggilku Bocah, aku adalah ayah dari bayi ini” Protes Baekhyun.

“ Apa kau penasaran dengan eommamu?”

Baekhyun mendongak, ia tersenyum kecil lalu beralih menopangkan dagunya pada pundak Sooyeon. Mencium pundak itu singkat lalu kembali menopangkannya.

“ Eoh”

“ Mari berpisah setelah aku melahirkan bayi ini, lupakan tentang pernikahan konyol ini, kau bisa meneruskan kehidupan remajamu dan aku akan memulai kehidupanku yang baru, tidak ada lagi rasa bersalah atau apapun yang berhubungan tentang itu”

Baekhyun mendongak, ia melepaskan rengkuhannya lalu memutar tubuh Sooyeon untuk menghadap padanya.

“ SUDAH KUKATAKAN! JANGAN PERNAH BERFIKIR SEPERTI ITU!! Bukankah aku sudah memperingatkanmu?”

Sooyeon mengedipkan matanya beberapa kali, ia sudah memperkirakan ini sebelumnya, Namun ia juga tidak menyangka reaksi Baekhyun akan seperti ini, mengingat mereka sedang tidak berada di apartemen. Ah…setidaknya Baekhyun tidak menghancurkan benda-benda tak bersalah di apartemen dengan tangan tak bersalah itu.

“ Kau harus memikirkan masa depanmu, ini akan semakin sulit ketika kau mencoba melakukan semuanya, kau harus mengorbankan salah satunya”

“ LALU KAU BERHARAP AKU MENGORBANKA APA?” Teriak Baekhyun.

“ Pernikahan ini, dari awal aku sudah menjelaskan aku hanya ingin bayiku mendapat status setelahnya kau tidak perlu merasa bersalah dengan merawatnya”

“ JUNG SOOYEON! Cukup…cukup …jangan memancingku. Kumohon”

“ Eommamu memikirkanmu, dia memikirkan masa de_”

“ Kau pikir aku PERDULI HEUH? Bahkan kau tidak tahu apa-apa ”

“ Bbaekhyun_ah”

“ Aku tegaskan sekali lagi padamu Noona! Bahkan melangkah, berfikirpun kau tidak boleh. Kau tidak akan meninggalkanku apapun alasannya”

Mata itu memerah, penuh dengan amarahnya. Bahkan ia terlihat berkeringat karena emosinya. Wajah yang berkulit putih itu sangat terlihat merah ketika marah. Yach seperti itulah yang dilihat Sooyeon saat ini. Dengan mata yang masih akan menyambar seperti petir Baekhyun perlahan berbalik. Ia melangkah gontai karena sepertinya ia membuang banyak tenaga karena kemarahannya. Ia berjalan gontai meninggalkan Sooyeon yang berdiri kaku di tempatnya.

Sooyeon tidak ingin mengejarnya, ia tidak ingin lebih memancing emosinya. Sedikit banyak ia tahu bagaimana cara menangani kemarahan Baekhyun. Dengan membiarkannya sendiri, bahkan jika harus memiarkannya pulang ke apartemen sendiri.

.

.

Hara menatap Sooyeon dengan tatapan anehnya. Mata Sooyeon menyiratkan sebuah hal yang tidak ia ketahui, ia sangat tahu bgaimana Sooyeon ketika sedang dalam kekhawatirannya.

“ Wae Eonni?”

“ Any…bisa kau temani aku berbelanja?” Sooyeon melempar senyumnya, ia tahu Hara menaruh kecurigaan padanya.

“ Baiklah…” ucap Hara menyerah, ia tidak mendapatkan apa-apa dari pertanyaannya.

.

Hara memperhatikan perut yang membuncit itu, semakin membuncit mengingat ia tengah memasuki bulan ke 4nya.

“ Apa bayimu sehat?”

“ Begitulah…Baekhyun tidak pernah lelah memaksaku meminum susu ibu hamil, meskipun rasanya sangat tidak enak”

“ hahaa kau harus meminumnya”

“ Lalu memuntahkannya…sungguh rasanya tidak enak”

“ Benarkah? “ Hara menatap Sooyeon, membuat Sooyeon berfikir jika nantinya apa yang ia bicarakan bisa saja membuat Hara juga tidak mau meminum susu ibu hamil.

“ eohh…mungkin karena aku tidak suka”  Sooyeon memperjelas maksudnya.

“ Apa kau benar-benar baik-baik saja?” tanya Hara, sungguh dia memang menangkap sinyal kekhawatiran pada Sooyeon.

“ Nan Gwencana…neomu neomu Gwenchana” Sooyeon tersenyum..

Namun tidak untuk hara, ia malah menatapnya selidik. Membuat Sooyeon merengut dan terpaksa mengiyakan kecurigaan Hara.

“ Baiklah…aku tidak baik-baik saja”

“ Apa ada masalah?”

“ Ibu Baekhyun menemuiku dan mungkin ia mempunyai cara untuk membuat rumah tangga anaknya berpisah”

“  Ya Tuhan…bahkan lebih menyeramkan dari eommamu Eonni”

“ Aku merasa iri karena eommanya memperdulikannya, orang tuaku tidak akan perduli denganku, lebih baik menyelamatkan nama baik keluarga dari pada aku”

“ Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“ Entahlah..aku merasa seperti penjahat setiap mengingat perbedaan kami. Haruskah aku melepaskannya sekarang, atau nanti?”

Hara menatapnya melas, kemudian ia memeluk Sooyeon memberinya kehangatan dukungan sebagai teman.

“ Semoga ada jalan” Hara mempererat pelukannya.

.

.

Sooyeon terbatu, tubuhnya serasa dan bergetar ketika melihat keadaan apartemennya. Lagi, seharusnya ia sudah memprediksinya. Tangan itu bisa saja menghancurkan apartemen ini, seperti itulah keadaan apartemen Baekhyun saat ini.

Kaki itu melangkah kecil untuk memungut barang-barang yang berserakan. Ia tidak lagi mendengar teriakan atau pun suara Baekhyun melempar barang-barangnya. Yang jelas kemarahannya sangat mengerikan.

GRAP

Sooyeon terjingkat, tangan itu dengan cepat meraih tangannya. Matanya melebar karena Baekhyun tiba-tiba muncul dan mencegah tangannya.

“ Letakkan!” ucapnya dingin.

“ Aku bantu membereskan_”

“ Kubilang Letakkan!” ucapnya lagi masih dengan tatapan dan nada dinginnya.

Sooyeon mengangguk, dia melepaskan genggamannya pada barang yang dipungutnya. Barulah Baekhyun juga melepaskan genggamannya pada tangan Sooyeon. Dia menjauh setelah Sooyeon menurutinya.

Sooyeon menelan salivanya dan mendengus, ia melihat tangannya yang baru saja digenggam oleh Baekhyun.

Darah, kenapa tangannya berdarah? Ah…tidak ini bukan tangannya yang berdarah. Ini darah Baekhyun.

Sooyeon segera mencari kotak obat untuk mengambil perban dan kapas, tak lupa ia juga meraih alkohol di kamarnya. Dia mendekati Baekhyun yang berdiri di dekat balkon.

“ Baekhyun_ah…biar kuobati tanganmu” wanita itu sedikit bergetar, namun ia tetap ingin mendekati Baekhyun dengan rasa takutnya.

“ Tidak perlu” jawaban itu begitu dingin baginya

Sooyeon memejamkan matanya singkat, ia hampir meneteskan air matanya. Dengan keberaniannya ia menarik lengan Baekhyun dan memaksanya untuk menurut.

“ Kumohon” ucap Sooyeon lirih.

Baekhyun menurut , Sooyeon menggirinnya ke sofa ruang tengah mereka. Dia hanya terdiam saat Sooyeon membersihkan lukanya dengan kapas, terasa perih karena ia menghancurkan kaca dan menggenggam pecahannya. Mungkin sobekan kulitnya sedikit dalam sehingga terasa sangat perih ketika Sooyeon menyentuhnya. Beberapa kali Sooyeon meringis, ia tersenyum kecil melihat ekspresi Sooyeon. Dia yang kesakitan namun Sooyeon yang terus meringis tidak tega.

Baekhyun melihat perut Sooyeon yang semakin membesar, usia kandungannya sudah hampir masuk bulan ke empat. Wajar jika Sooyeon terlihat lebih gemuk, meskipun ia termasuk cukup kurus untuk ukuran ibu hamil. Dia tidak pernah mengatakan bagaimana keluarganya pada Sooyeon. Setelah eommanya datang ia mulai merasa bahwa kehidupannya akan terusik. Dan Sooyeon juga mulai goyah karena Eommanya, bahkan Sooyeon belum pernah mengatakan ia akan bertahan. Namun apa yang dikatakan Sooyeon membuatnya mulai mencemaskan wanita ini. Dia tidak mungkin bisa melepaskan apa yang terjadi pada Baekhyun, dia tahu bagaimana tipe hati Sooyeon. Dia mungkin tidak pernah menunjukkan rasa cintanya pada Baekhyun, namun ia tahu Sooyeon adalah orang yang tidak akan membiarkan masa depannya berantakan karena ia akan menjadi ayah diusia remajanya. Sooyeon akan berfikir bahwa memang tidak seharusnya Baekhyun berada di posisi ini. Dia akan lebih memilih untuk menjalani kehidupannya sendiri tanpa melibatkan Baekhyun. Semua itulah yang dikhawatirkan Baekhyun. Semua pikiran Sooyeon tentang hal ini.

“ Tidak bisakah kau menghilangkan kebiasaan burukmu?” ucap Sooyeon .

“ Jika kau tidak  memancingku”

Sooyeon menghela nafas.

“ Baiklah…aku rasa kau tidak bisa menghilangkannya, aku pasti akan sering memancing kemarahanmu”

Baekhyun merengut.

“ Wae? “

“ Aku tidak bisa berbohong padamu, dan kau tahu kata-kataku mungkin bisa saja memancing kemarahanmu”

“ Coba saja”

Baekhyun menarik tengkuk Sooyeon lalu mencium bibirnya. Oh…Sooyeon tahu bagaimana Baekhyun ketika menciumnya. Ia tidak akan lolos, bocah kecil ini adalah tipe pemaksa. Apapun itu dia adalah pemaksa.

.

.

Beginilah keadaannya, dengan wajah berantakan ia turun dari tempat tidur, jangan lupakan pakaiannya yang juga berantakan. Ia terbangun karena mencium bau masakan, dan sudah pasti Baekhyun pelakunya. Semua yang terjadi padanya adalah Baekhyun pelakunya.

Sooyeon berjalan ke kamar mandi, dan pasti sudah tersedia air panas untuknya. Itu juga ulah Baekhyun. Bahkan baju yang akan ia kenakan pagi ini pun sudah di sediakan oleh Baekhyun. Ini memang kebiasaan Baekhyun. Ketika ia merusak pakaiannya, ia akan menggantinya dengan yang baru. Entahlah, ia mempunyai stock pakaian wanita cukup banyak sehingga ia tidak kesulitan memberikannya pada Sooyeon.

“ ck…seharusnya dia yang menjadi istri” Sooyeon terkekeh membaca memo kecil yang selalu Baekhyun selipkan pada pakaian barunya.

Perlahan Sooyeon melangkah keluar dari kamar, mendatangi Baekhyun yang sudah seperti chef di dapurnya. Keadaan rumah pun sudah berubah seperti sedia kala, ia seperti bermimpi jika telah terjadi gempa tadi malam. Membuatnya merengut dan memukul kepalanya ringan. Ia tidak bisa memprediksikan bagaimana bisa Baekhyun melakukan semua ini.

Dia yang mengacaukan aparetemennya , dia juga yang membereskannya. Dia sudah menyiapkan hidangan sepagi ini, menyiapkan semua keperluan Sooyeon sepagi ini dan entahlah…

Sooyeon berdiri menatap Baekhyun yang masih sibuk menata makanan di meja. Membuat Baekhyun sadar jika Sooyeon tengah terdiam menatapnya.

“ Apa aku terlihat sangat tampan Noona? Aku terlihat imut? Heumm?”

Sooyeon mengkerut, tatapannya kini berubah menjaddi jengah.

“ Aku tidak tahu jika kau begitu percaya diri seperti ini, terlalu memuji diri sendiri” cibir Sooyeon. Benar, ia tidak bisa berbohong. Itulah yang ada di otaknya tentang Baekhyun.

“ Banyak yang tertarik padaku karena wajahku imut Noona, apa kau tidak berfikir seperti itu juga?”

“ Ne…wajahmu memang imut dan tanpa dosa, membuatku begitu geli dan menjengkelkan” cibir Sooyeon lalu duduk di kursinya.

Baekhyun tertawa dan tangannya meraup wajah Sooyeon dan menciumnya singkat.

“ Tenang saja…aku tetap mencintaimu walaupun wajahmu sudah terlihat tua” ucapnya lembut.

“ Hya! Kau bilang aku tua?” wajah itu memang terlihat berantakan, ah…ini lebih baik dari pada beberapa waktu lalu ketika Baekhyun mengurungnya beberapa hari.

“ Ussdd..jangan marah, jangan ajarkan anak kita menjadi pemarah” Baekhyun membelai lembut perut Sooyeon, dan rasa kesal itu meredam seketika.

Ia tidak tahu ketika tangan itu menyentuh perutnya menjadi begitu hangat seperti ini. Sejak kapan ini terjadi?

“ Aku harus segera ke kampus, jangan lupa habiskan susumu” ucap Baekhyun.

Ia berlari meraih tas ranselnya lalu melambai singkat kearah Sooyeon. Berlari seperti anak kecil yang sudah sangat terlambat. Membuat Sooyeon terkekeh sekaligus miris, ia masih tidak percaya jika pria dengan tas ransel itu adalah suaminya. Ia benar-benar terlihat masih bocah ketika bertingkah seperti itu.

“ Psycho, dasar Psycho” cibirnya pelan, ia bisa menjamin Baekhyun tidak akanmendengarnya. Namun seperti itulah kenyataannya.

Apa yang dikatakan, apa yang ia kerjakan, apa yang ia putuskan dan bagaimana ia akan bertindak, sungguh tidak ada yang menduganya. Ia berubah seperti monster yang mengerikan saat ia marah, lalu akan menjadi seolah tidak terjadi apa-apa keesokan harinya, tanpa Sooyeon tahu kapan itu terjadi. Bersikap manja layaknya bocah seusianya. Dan bersikap diktator seperti seorang suami atau lebih tepatnya ia adalah pemilik yang possessif terhadap apa yang dimilikinya.

.

.

Baekhyun melempar senyumnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan ketika melihat Park Ji Yeon berdiri melambainya. Masih terlalu siang untuk datang ke Pub, ah tidak …bahkan saat ini Ji Yeon berdiri di depan gedung fakultasnya. Dengan dandanan yang tentunya sangat cantik dimata para lelaki .

Bukan hanya para lelaki, mata gadis-gadis di sekitarnya pun ikut memandangnya. Baiklah…ia termasuk cantik dan mungkin bisa membuat gadis-gadis iri dengan penampilannya. Namun mungkin juga bisa membuat mereka patah hati karena gadis cantik itu datang untuk seorang Byun Baekhyun.

Ji Yeon melangkah mendekati Baekhyun yang masih terdiam di tempatnya. Selanjutnya ia sadar jika langkah Ji Yeon suda semakin dekat padanya.
“ Anyeong!” sapanya lembut, dengan senyum dan eyeliner khasnya.

“ Anyeong Noona” balas Baekhyun.

“ Apa yang kau lakukan di sini?”

“ Aku berkuliah disini, “ jawabnya disertai senyum khasnya.

“ Eoh…aku tidak pernah melihatmu sebelumnya” Baekhyun mulai berfikir.

“ Mulai besok, “ jawabnya.

Membuat Baekhyun meringis, ia menggaruk tengkuknya karena merasa dibodohi.

“ hahaha…aku memang ingin bertemu denganmu “

“ Aah…” Baekhyun mengangguk kecil. Sungguh canggung baginya.

“ Aku ingin mentraktirmu sebagai ucapan terima kasih, kau telah mengantarku sampai di apartemen malam itu, dan aku juga ingin mengembalikan jaketmu”

Baekhyun terdiam, ia melihat singkat ke arah jam tangannya.

“ Tenang saja, kau tidak akan terlambat bekerja” imbuh Ji Yeon.

Baekhyun tersenyum, ia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Selanjutnya ia bernafas lega karena Ji Yeon terlihat biasa saja. Ia tidak canggung sama sekali, mungkin ia lupa dengan apa yang ia katakan malam itu. Ia benar-benar dibawah pengaruh alkohol, membuatnya begitu lega.

.

.

Sooyeon tidak bisa berhenti tersenyum ketika ia bisa kembali datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan kandungannya. Ia bahagia karena tidak perlu menunggu Baekhyun untuk mengantarnya. Ia tahu bocah itu tengah sibuk namun ia juga sangat bersyukur karena Hara bisa menemaniinya. Dia memang sahabatnya yang paling baik.
Choi Sooyoung

Nama itu membuat Sooyeon mengingat seseorang yang bermarga hampir sama dengannya. Ia juga sangat familiar dengan nama itu. Selanjutnya ia masuk ke salam ruangan dan memastikan dokter baru yang menangani kehamilannya.

“ Anyeonghaseo Nyonya Byun S_” Dokter Sooyoung menggantung kalimatnya ketika melihat sosok yang tengah berdiri di depannya.

Mata Sooyeon tak kalah lebar melihat sosok yang  bertindak sebagai dokter kandungannya ini.

Mereka saling kenal.

“ Jung Sooyeon?” Dr Choi menegaskan namanya, itu adalah nama yang ia kenal .

“ Choi Sooyoung, urimania “ ucapnya dengan senyum tipis, selanjutnya ia memutuskan untuk duduk di kursi yang telah disediakan.

“ Kau menikah dan tidak mengundangku? Jahat sekali…” rengeknya.

“ Hentikan wajah menjijikkan itu, kau sudah menjadi dokter Sooyoung_ah”

“ Tunggu! Kenapa _” Sooyoung melihat lagi daftar pasiennya, dan mendapati perubahan nama dari Sooyeon.

“ Byun Sooyeon?  Seingatku sepupuku bermarga Cho” ucapnya antusias, masih sama seperti dulu, ia tetap Sooyoung yang ia kenal. Urakan…begitulah…

Sooyeon memutar matanya, ia mendengus pelan . Sungguh ia tidak ingin membahas lebih tentang ini. Bertemu dengan sepupu Cho Kyuhyun berfikir akan membuatnya menuju malapetaka. Otaknya terlintas bayangan Baekhyun ketika marah seperti monster lagi.

“ Kau bisa memeriksaku sekarang” ucap Sooyeon, ia tidak ingin membahas lebih. Benar-benar tidak ingin.

“ Baiklah.. aku akan memeriksamu, tapi begitu banyak yang ingin kutanyakan padamu”
“ Aku harap kau lupa ingin bertanya apa saja padaku”
“ Kau tahu aku tidak semudah itu”

Sooyoung mulai memasang peralatannya dan memerika keadaan Sooyeon  satu persatu, sesuai prosedurnya.

 

“ hemhh…terlihat sehat, masih butuh 3 minggu lagi untuk melihat jenis kelaminnya,semoga ia tampan seperti ayahnya,  firasatku mengatakan bayimu laki-laki” ucap Dr Choi girang ketika melihat hasil USG dari perut Sooyeon.

Sooyeon tersenyum tipis, Sooyoung begitu yakin dengan firasatnya, dia juga berharap wajah itu tampan seperti Baekhyun, tapi tidak dengan sikap menjengkelkannya. Ah…dia menyeramkan… tidak tidak tidak, dia ingin wajah putranya akan mirip dengannya. Sooyeon terkekeh.

“ Baiklah…kau sudah bisa merasakannya? Kau juga sudah melihatnya , kita sudh selesai”

Dr Choi membantu Sooyeon untuk melepas peralatannya. Ia menggiring Sooyeon untuk kembali duduk di kursinya.

“ Kau tidak menikah dengan sepupuku? Kapan kau menikah? Apa sepupuku tahu? Bagaimana keadaannya? Kenapa kau bisa berpisah dengannya? Kenapa kau tidak mengundangku di pernikahanmu? Apa karena kau tidak menikah dengan sepupuku kau melupakan aku? Bagaimana bisa kau _” kalimat itu terhenti ketika Sooyeon mengangkat tangannya.

“ Kau mengintrogasiku? Aku merasa mual “

Dr Choi berdehem, ia membenahi pakaiannya lalu bersandar pada kursinya.

“ Baiklah…apa kau ingin menceritakannya sekarang?” tanyanya masih dengan mata yang antusias.

“ Dari mana aku memulainya?”

“ Dari awal”

Sooyeon mendengus, sifat urakannya memang tidak berubah.

“ Aku ingat ada banyak antrian dibelakangku , jadi kita akan melanjut ini lain hari “

Dr Choi mendengus, ia tersenyum kecil lalu beranjak dari kursinya. Ia beralih untuk memeluk Sooyeon.

“ Sampai bertemu lagi, kau harus menceritakan semuanya padaku, aku akan menjadi doktermu sampai kau melahirkan, Ah..aku juga akan memantau perkembanganmu dan bayimu,  kau tidak bisa menghindariku begitu saja , arachi”

“ Eoh” jawab Sooyeon.

“ Jangan membuat dirimu menjadi stres dengan keadaanmu, itu akan berpengaruh pada kandunganmu, kau juga cukup kurus untuk ukuran ibu hamil , kau harus banyak makan, itu juga demi kebaikan bayimu”

“ Eoh” Sooyeon mengangguk kecil.

.

.

“ Eotte Eonni?” sambutan luar biasa juga ia dapatkan dari Hara.

“ Entahlah..dia sehat, begitu kata dokter”

“ Syukurlah…” Hara membelai lembut perut itu. Membuat Sooyeon merasa geli sendiri.

.

“ Sooyeon_ah?” suara itu memecah kehangatan Sooyeon daN Hara.

Sooyeon menoleh cepat, suara berat itu begitu ia kenal, dan kali ini ia berharap bahwa itu bukan suara seseorang yang ia kenal.

“ Oppa?” ucap Hara lirih.

Sooyeon terbatu, tenggorokannya tercekat sehingga ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata.

Oh tidak…kenapa harus bertemu denggannya..

.

.

Cho Kyuhyun terus memperhatikan Sooyeon. Sedari tadi wanita ini hanya sibuk dengan makanannya tanpa melihat Kyuhyun sedikitpun, Hara hanya mendengus melihat tingkah Sooyeon. Ia tahu Sooyeon masih belum siap bertemu dengan Kyuhyun, ditengah keadaannya yang seperti ini.

“ Pelan-pelan Sooyeon_ah” Kyuhyun menggeser gelas berisi air putih pada Sooyeon.

Membuat Sooyeon mengangguk kecil lalu meminumnya.

“ Apa yang kau lakukan disini ?” tanya Hara, sepertinya hanya dia yang bersikap ramah pada Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum kecil

“ Aku mengunjungi Sooyoung, sepertinya dia akan marah karena aku tidak segera datang “ ucapnya dengan senyum khasnya

Sooyeon mendongak tepat saat senyum itu mengembang, Membuat Sooyeon merasa getir saat itu juga, senyuman itu masih manis. Dan suara berat itu juga masih terdengar indah.

“ Terima kasih makan siangnya, aku rasa Sooyoung mungkin akan marah, jadi kau juga harus cepat menemuinya” Sooyeon membereskan makanannya. Menarik Hara untuk segera meletakkan sendoknya.

“ Kalian naik apa?”

“ Taxi”

“ Aku akan mengantar kalian” Tawaran itu membuat keduanya terdiam.

Sementara wajah Baekhyun terlintas di kepala Sooyeon. Ia harus mencegahnya.

“ Tidak…jangan, kami akan naik taxi saja”

Sooyeon melirik Hara yang terdiam, ia juga mendapat tatapan dari Kyuhyun dan keduanya membuatnya bingung harus menjawab apa.

“ Any…biarkan aku mengantar kalian”

Sooyeon menunduk, ia mengatupkan kedua tangannya dan memohon agar Kyuhyun tidak memaksanya.

“ Baiklah..mungkin lain kali aku bisa mengantar kalian pulang” Kyuhyun tersenyum lembut. Ia membungkukkan separuh badannya lalu meninggalkan kedua wanita itu terdiam di tempatnya.

Sooyeon menghela nafas, Hara meliriknya singkat. Ia dapat melihat wajah sedih pada Sooyeon. Ia sungguh tahu berapa lama ia mencintai Kyuhyun, berapa lama mereka menjalin hubungan, dan bagaimana perasaan Sooyeon pada Kyuhyun. Apa yang mereka lewati berujung  seperti ini. Mereka tidak saling memiliki. Ia akui mungkin kekecewaan Sooyeon begitu besar, namun setidaknya ia tahu apa yang dilakukan Kyuhyun ketika meninggalkannya begitu saja. Hingga ia kembali dengan membawa restu dari orang tuanya. Namun sungguh terlambat karena Sooyeon memutuskan untuk menikah dengan pria lain. Pria yang bahkan tidak akan terpikirkan oleh Kyuhyun jika ia mengetahuinya.

Entahlah…mungkin dia akan menertawakan Sooyeon karena ia menikah dengan bocah yang masih kuliah di tahun pertama. Sungguh berbeda jauh dengannya.

Tapi inilah kenyataannya. Dan ia harus menerimanya.

Yang ia inginkan adalah , ia tidak ingin melihat wajah sedih dari Kyuhyun , atau wajah iba jika nantinya Kyuhyun tahu keadaannya. Itu bisa membuatnya sangat goyah. Benar-benar goyah.

Sementara Baekhyun saat ini memenuhi kepalanya. Bocah itu benar-benar memenuhi kepalanya.

.

.

Ji Yeon sesekali tersenyum , ia begitu penasaran dengan pria ini sehingga ia memutuskan untuk berkuliah di tempat yang sama dengannya.

“ Apa kegiatanmu seperti ini setiap hari? Kau kuliah, lalu malam hari kau bekerja sebagai Bartender”

“ Aku melakukannya sejak SMA”

“Eohh” Jiyeon membulatkan bibirnya membentuk hurus “O”
“ Kau terlihat sangat populer di kampusmu”

Baekhyun tersenyum , matanya menyipit lalu ia melanjutkan menyantap makanannya.

“ Begitulah…apa kau juga termasuk di dalamnya?”

Pertanyaan itu membuat pipi Jiyeon bersemu merah, meskipun Baekhyun terlihat biasa saja dengan kalimat itu, namun entah kenapa Ji Yeon malu mengakuinya. Dia memang penasaran dengan pria imut ini.

“ Kau terlalu percaya diri, sepertinya begitu..” jawab Ji Yeon.

Baekhyun terkekeh, Ia juga memiliki beberapa gadis cantik yang mendekatinya. Dan Ji Yeon termasuk gadis cantik yang terpesona dengan wajah imutnya.

“ tidak semuanya setuju dengan itu , ada yang membenci wajah imut dan tampan ku, dia tidak menyukainya”

“ Benarkah?”

“Eoh…”

Ji Yeon merasakan hatinya sedikit mencelos ketika mendengar Baekhyun menceritakan tentang seseorang yang tidak menyukai wajah imut dan tampannya. Ia menangkap sebuah hal lain dari Baekhyun ketika menceritakan sosok itu.

“ Apa banyak yang seperti itu?”

“ Hanya seorang, entahlah…dia tidak menyukainya, dia malah menyukai wajah marahku”

Dia lebih sering membuatku marah…

Ji Yeon tersenyum kecil, ia ingin bertanya siapa sosok itu.

“ Apa dia teman sekelasmu?”

“ Dia orang yang aku harapkan bisa menyukai wajah imut ku ini” Baekhyun melempar senyumnya.

JiYeon hanya membalasnya dengan senyum tipis. Kalimat itu seolah membuat hatinya terasa mencelos, meskipun tidak begitu jelas, namun ia tahu bagaimana Baekhyun menceritakan sosok itu. Sosok itu adalah sosok spesial bagi Baekhyun.

Ya…dia adalah Sooyeon Noona, dia wanita yang aku cintai.

&             &             &

 

Baekhyun kembali tepat waktu, ia tidak langsung ke Pub dan ia memutuskan untuk kembali ke rumah untuk bertemu Sooyeon sebentar.

Langkahnya terhenti ketika ia melihat Sooyeon hanya berdiri di depan pintu apartemen mereka. Ia berlari kecil untuk mendekati Sooyeon. Ia berpakaian rapi dan membawa tas bersamanya. Apa dia baru saja bertemu Hara?

“ Noona, apa yang kau lakukan disini? Kau keluar rumah? Apa dengan Hara? Kau pergi ke mana? “ pertanyaan itu muncul beruntutan, membuat Sooyeon terpaksa menoleh dan menatapnya jengah.

“ Kenapa banyak sekali orang yang mengintrogasiku hari ini” gerutunya.

“ Siapa yang_”

Tangan Sooyeon terangkat, menghentikan kalimat yang mungkin berisi pertanyaan lagi dari Baekhyun.

“ Apa yang terjadi pada apartemenmu? Apa aku tidak bisa beristirahat di rumahmu lagi mulai saat ini?”

Baekhyun terlihat bingung dengan pertanyaan itu, ia menoleh pada pintu apartemennya dan memang benar, ada yang aneh pada apartemennya.

Ia menggeram, tangannya mengepal sempurna. Sooyeon bisa melihat wajah itu memerah dan ia tahu pasti bahwa Baekhyun akan menghancurkan segalanya.

BRUK

Sooyeon terjingkat, ia memejamkan matanya saat tangan tak bersaalah itu mendarat keras kea rah pintu.

“ SIAL!” Umpatnya.

Baekhyun tahu pelakunya. Siapa yang bisa membuat Apartemennya disita begitu saja karena ada pembeli lain. Siapa lagi jika bukan eommanya.

“ Aaahhh…jangan memukul lagi “ Sooyeon meraih jemari yang mungkin sudah memerah karena benturan kerasnya.

Ia mengelus-elus tangan itu. Berusaha membuat amarah Baekhyun meredam.

“ Kita bisa tinggal di apartemenku, kita bisa meminta pihak pemasaran untuk memberi waktu agar kita bisa pindah ke apartemenku” bujuk Sooyeon.

“ Aku harus bertemu eomma” Baekhyun melepaskan genggaman tangan Sooyeon.

Ia berlari cepat meninggalkan Sooyeon. Membuat wanita itu hanya terbatu melihat kepergiaannya yang penuh amarah.

“ Dia tidak akan mengamuk di depan eommanya kan? Kumohon…jangan biarkan dia menghancurkan barang-barang tak bersalah lagi…” gumamnya.

Ia mendengus pelan, tangannya menyentuh tulisan yang terpasang di pintu apartemennya. Peringatan untuk segera pindah karena apartemen ini sudah terbeli dan akan segera ditempati pemilik barunya. Ia tidak berpikir bahwa Baekhyun hanya menyewanya. Baekhyun memang memiliki apartemen ini sendiri, namun Eommanya lebih canggih darinya untuk bisa mengaturnya menjadi seperti ini.

“ Heohh…apalagi ini?” gumamnya pelan. Ia mengelus perutnya menenangkan pikiran dan hatinya.

Ia tidak mungkin hanya berfikir bahwa mereka masih bisa tinggal di apartemennya. Hal ini mungkin sebagai peringatan awal dari Ny Byun. Ia terlihat tidak senang pada Sooyeon dan mungkin ini memang langkah awalnya untuk membuatnya berpisah dengan Baekhyun.

Andaikan Ny Baekhyun tahu bahwa ia bisa saja meninggalkan Baekhyun dengan senang hati. Namun tidak untuk bocah itu. Ia begitu keras kepala untuk menyetujui permintaanya.

&             &             &

 

“Eoh…addeul” sambutan itu terdengar nyaring ditelinga Baekhyun.

Bocah itu sudah sampai di ruang kerja Eommanya. Ia menatap tajam pada Ny Byun.

“ Kenapa tiba-tiba mengusik kehidupanku? Bukankah sudah lama kau tidak perduli denganku?”

“ Wae??? Kau adalah putraku”

Baekhyun tersenyum sinis. Ia membuang muka dan masih menggenggam tangannya erat.

“ Kembalikan apartemenku”

“ Kau bisa pulang ke rumahku”

“ Tidak, aku ingin hidup bersama istriku”

Ny Byun menatapnya tajam. Ia begitu marah ketika mendengar kalimat itu. Begitu menjijikkan baginya.

“ Jangan harap kau bisa begitu mudah melakukannya. Kau selalu seenaknya namun kali ini akut idak akan membiarkannya, Kau akan bertunangan dengan gadis pilihanku”

“ TIDAK AKAN”

“ Lalu hal buruk lain akan terjadi”

Baekhyun terdiam, ia menatap tajam pada Ny Byun. Begitu pula dengan Ny Byun. Seolah di ruangan itu telah terjadi perang kilat antara keduanya.

“ AKU TIDAK PERDULI!”

BRAK

PYAR

BRAK

BRAK

Baekhyun mengamuk, ya…lagi-lagi ia tidak bisa mengontrol emosinya. Ny Byun hanya diam melihat amukan Baekhyun. Tangannya beralih pada intercom di ruangannya. Ia memanggil security untuk mengamankan Baekhyun.

 

“ Nyonya!” Teriak para penjaga.

“ Hentikan dia!” perintahnya ketika para penjaga datang.

Baekhyun berusaha melawan, namun penjaga itu lebih pintar darinya. Perlahan ia tidak sadarkan diri. Sebuah obat bius sudah merasuk di tubuhnya.

Sooyeon Noona

 

TBC

 

 

Aaaaaaa entah kenapa bisa jadi seperti ini…..:( aku ngerasa nggak puas dengan jadinya chapter ini…:( maaf ya kalau ngebosenin….:(

dan maaf juga karena updatenya lama….:(

maaf kalau jelek dan juga …maaf kalau ceritanya abal-aballl pokonya maaf

terima kasih sudah baca🙂 di chapter-chapter selanjutnya🙂

 

semoga bulan ini aku bisa buat kejutan untuk pembaca-pembaca yang baik hati ini🙂 semoga…kejutan itu bisa terwujut dan tidak mengecewakan hihihihi

 

mian…

gomawooo

58 thoughts on “Moonlight |Four

  1. ADUHH ITUUU EOMMA BAEKHYUNNNN IHHH NGESELINNN APALAGI JIYEON UGHHHH! #SorryGueEmosi
    please thor jangan sampe baek sama jiyeon T.T
    buat Baek sama jess selamanya(?) thor
    Sumpah demi apapapun gue kesel sama jiyeon ny byun
    LANJUT THORRRR!!!!!

  2. Kenapa ibu Baekhyun jadi perhatian sama Baekhyun disaat Baekhyun udah menentukan hidupnya sendiri? Aku tahu Jessica pasti juga mulai sayang dan terbiasa sama sikap Baekhyun :’) Jangan-jangan yang dipilih ibunya Baekhyun itu adalah Jiyeon? /\) mian chingu tadi komentarnya kekirim tapi cuma setengahnya aja ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s