Moonlight | Five

moonlight

Author: S.Y.M

Title : MOONLIGHT

Lenght : Chaptered

Rating : PG16

Genre : Angts, Romantic

Cast : Jessica Jung, Byun Baekhyun

jessicablue_eyes_baekhyun___bacon_by_luxuriousraven-d5l020u

Credit Poster :

Lyri @Art Fantasy ^thankyou^

& & &

 

 

Sooyeon Noona….

.

.

Sudah cukup lama ia menunggu di dalam rumahnya, ah di dalam apartemen Baekhyun yang sedang dalam masa kritis. Setelah bergulat cukup sulit dengan bagian pemasaran akhirnya ia berhasil meminta waktu untuk membereskan perabotnya dan siap mengosongkan apartemen ini.

Ia mengeluarkan baju-bajunya yang cukup sedikit dan juga cukup banyak. Sebagian besar adalah baju barunya yang diberikan oleh Baekhyun.

Ia sudah cukup sering menengok, menoleh bahkan beberapa kali melihat ke pintu luar apartemennya. Berharap Baekhyun muncul dan bisa segera membantunya membereskan barang-barang mereka.

Sooyeon tidak memungkiri bahwa yang ada di dalam dadanya sedang bergemuruh karena rasa khawatir. Sooyeon bukan seseorang yang begitu kejam melupakan kebiasaan Baekhyun ketika sedang dalam garis merahnya. Dia adalah manusia yang bisa mengamuk dengan hebatnya jika sedang marah.

Andai ia bisa menghubunginya. Bahkan Ia tidak menghafal nomor ponselnya. Dan dia juga tidak tahu kemana harus mencari Baekhyun.

Hfuh…  Sooyeon mengacak rambutnya. Ia menghela nafas panjang lalu beralih pada lemari tempat Baekhyun menyimpan barang-barangnya. Ia juga harus membereskan barang-barang Baekhyun. Bagaimanapun dia juga punya hak untuk memaksa, dengan mengepak barang-barang Baekhyun, kenapa Baekhyun harus menolak? Mereka masih bisa tinggal di apartemen miliknya tanpa harus mendatangi eomma Baekhyun dan mencari masalah dengannya. Namun bukan Baekhyun jika dia bersikeras dengan keinginannya sendiri.

Sooyeon membereskan buku-buku mata kuliah Baekhyun di dalam kardus yang sudah ia siapkan. Sesekali ia membuka isi buku tersebut. Mengulang lagi memori saat ia sedang kuliah, ia juga pernah menerima mata kuliah yang sama dengan Baekhyun. Ia tersenyum simpul ketika melihat sebuah album foto yang berwarna abu-abu cerah. Cukup lucu jika seorang Baekhyun yang memilikinya. Ia membukanya perlahan untuk melihat isi dari album foto tersebut, Ia sudah membayangkan wajah imut Baekhyun mungkin yang akan menghiasi album foto tersebut. Dia tahu suaminya itu cukup narsis mengingat ia juga masih remaja.

Sooyeon terdiam ketika melihat isi dari album foto tersebut, ia terbatu dengan apa yang ia lihat. Cukup mengejutkan baginya ketika yang ia lihat adalah foto seorang gadis , hanya seorang gadis yang sama yang bahkan ketika ia membukanya sampai akhir halaman hanya foto gadis itu dengan berbagai kondisi. Gadis yang memenuhi album foto itu adalah dirinya. Ya, semua yang ada di album tebal itu hanya dirinya. Dimulai saat ia masih di bangku kuliah tingkat pertama sampai ia lulus dan bekerja di perusahaannya. Semuanya ada dan ia tidak habis pikir jika Baekhyun menyimpan foto-foto ini. Apa Baekhyun sudah menyukainya sejak lama? Sejak ia masih di tahun pertama kuliahnya? Lalu kapan ia bertemu Baekhyun? Bagaimana bocah itu mengenalnya? Ia hanya mengingat mereka bertemu di Pub dan karena ia yang mabuk terjadilah hal tidak diinginkan seperti ini.

Kening Sooyeon mengkerut ketika menemukan beberapa catatan Baekhyun tentang beberapa resep makanan yang semuanya adalah makanan kesukaannya, ia juga menemukan catatan nama universitasnya yang ditulis berulang kali. Merasa cukup tidak nyaman ketika memikirkan semuanya, ia segera membereskan barang-barang itu ke dalam kardus. Ia tidak tahu pasti jika Baekhyun sebelumnya adalah penguntit, ia tahu berbagai informasi tentangnya, begitu banyak foto yang menjadi koleksinya dan semua hal yang membuatnya mual dan pusing tiba-tiba.

Perlahan dia merangkak , ia berusaha berdiri dan meraih pinggiran  tempat tidurnya. Cukup lelah ketika kandungannya mulai membesar, ia suda mulai merasakannya. Harus berkutat dengan kardus-kardus berisi berat ini membuat kondisinya sebagai ibu hamil sekarang menjadi cepat lelah.

“ Apa dia tidak akan kembali? “ gumamnya lirih.

.

.

Baekhyun membuka matanya perlahan, ia mengerjapkan matanya ketika sadar dilingkungan mana ia berada. Ia segera bangkit dan menyibakkan selimutnya segera. Ia turun dari tempat tidurnya dan segera menuju pintu kamarnya.

“ Tuan Muda” cegah salah satu pengawalnya.

Baekhyun memutar matanya jengah.

“ Katakan pada Eomma, aku bukan lagi anak kecil yang harus dikurung di dalam kamarnya, aku harus bertemu istriku” ucapnya dingin.

“ Jweosonghamnida Tuan Muda, Nyonya meminta kami untuk menahan anda sampai ada perintah lain dari Nyonya “

Baekhyun memanas, wajahnya memerah karena permintaannya ditolak oleh pengawalnya.

“ Eomma!!!!”

BRAK

Baekhyun memukul pintu kamarnya.

“ Eomma!!! Keluarkan aku dari sini!” teriaknya, masih menggertak pintuk kamarnya.

.

Ny Byun merasa risih dengan teriakan Baekhyun, ia merasa cukup kekanakan jika mengurung Baekhyun di dalam kamarnya, itu juga percuma untuk menghentikan anak itu. Meski ia tidak pernah tahu apapun tentangnya setidaknya ia tahu betapa kerasnya watak Baekhyun . Dengan segala keinginannya ia bisa melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya.

“ Buka pintunya” perintahnya pada salah satu penjaga.

Baekhyun mendengar pintu itu terbuka, dengan segera ia mendorong pintu itu dan tepat di depan pintu berdiri eommanya.

“ Sudah cukup lama dan aku rasa eomma tidak perlu melakukan ini padaku, eomma tidak pernah memperdulikanku sejak dulu, kenapa sekarang seperti ini? Apa yang eomma rencanakan?”

“ Addeul, .. eomma hanya ingin kau bahagia dengan wanita pilihan Eomma”

“ Tidak perlu, aku tahu apa yang membuatku bahagia”

“ Apa dia berasal dari keluarga kaya?”

“ Dia lebih baik dari gadis yang berasal dari keluarga kaya pilihan eomma”

“ Kau belum tahu pilihan Eomma”

“ Aku tidak akan meninggalkan istriku, jadi kumohon kembalikan apartemenku. Bahkan kau mengambil satu-satunya kenangan Aboji untukku”

“ Karena kau menolak permintaan eomma, kau tidak layak mendapatkan apapun , termasuk apartemen itu. Kembalilah Addeul…”

“ Shireo!” Baekhyun meninggalkan tempat itu.

Berdebat dengan eommanya tidak akan ada gunanya.

Ny Byun mendengus, ia menahan beberapa penjaganya yang ingin mencegah kepergian Baekhyun.

“ Biarkan dia pergi, kita lihat apa yang akan dilakukannya” ucapnya

Baekhyun menoleh singkat pada eommanya yang masih berdiri di tempat yang sama. Ia membungkuk singkat sebelum kepergiannya dari rumah itu.

Kepalanya benar-benar memanas dengan apa yang dilakukan eommanya. Bahkan ia tidak habis pikir dengan segala tindakan eommanya yang tiba-tiba mengusik kehidupannya.

Bukankah sudah cukup lama eommanya sedikitpun tidak pernah menoleh padanya? Sudah cukup lama ia membiayai hidupnya sendiri, keluar dari rumah besar yang berisi semua kebenciannya. Rumah yang seharusnya memberikan perlindungan dan kehangatan untuknya, namun tidak pernah ia dapatkan .

.

.

CKLEK

Sooyeon menoleh cepat, ia berjalan cepat dan segera bersembunyi dibalik dinding. Mengintip siapa yang membuka pintu. Ia menghela nafas ketika tahu siapa yang masuk ke dalam rumah, sosok yang ia tunggu dan khawatirkan, suaminya.

Baekhyun melihat sosok yang bersembunyi dibalik dinding. Ia menghela nafas kasar melihat tingkah Sooyeon yang seakan takut padanya.

“ Noona” ucapnya lirih.

Sooyeon mengintip kembali, ia melihat wajah lusuh Baekhyun dan melirik singkat kearah jemarinya. Biasanya jemari tak berdosa itulah yang menjadi korban pertama kemarahannya.

“ Gwenchana?” tanyanya lirih, masih berdiri di balik persembunyiannya.

Baekhyun berjalan lemah padanya. Ia menarik tangan kecil itu lalu merengkuhnya kedalam pelukan. Ia menyembunyikan kepalanya diantara tengkuk Sooyeon. Menghirup aroma tubuh istirnya itu.

“ Mian…aku menyulitkanmu “ ucapnya lirih.

Sooyeon terdiam, ia tidak membalas pelukan itu, hanya terdiam saat Baekhyun mempererat pelukannya.

“ Gwenchana, jangan bertindak seolah kita tidak punya tempat lain untuk tinggal, kita bisa tinggal di apartemenku yang kau sia-siakan”

“Kau tidak tahu aku sangat menyayangi apartemen ini, ini lebih dari tempat tinggal” jelasnya.

Sooyeon terdiam, tangannya perlahan terangkat untuk mengusap punggung suaminya. Ia tahu apa yang dimaksud Baekhyun, mungkin apartemen ini mempunyai kenangan baginya.

“ Kita bisa membelinya kembali, kita bisa pikirkan caranya, tapi jangan menyulitkanmu seperti ini”

Baekhyun tersenyum, ia semakin mengeratkan pelukannya. Terasa hangat dan tenang jika seperti ini. Ia benar-benar mencintai Sooyeon , ia tahu betapa baiknya Sooyeon , ia tahu betapa tulusnya Sooyeon meskipun ia belum bisa mendapatkan balasan cinta darinya. Tapi Sooyeon sangat menenangkannya. Bersama Sooyeon itu sudah cukup.

“ Kau benar, aku akan membelinya kembali, meskipun dengan harga setinggi apapun, aku akan mencari uang untuk merebutnya”

“ Jadi, apa kau setuju tinggal di apartemenku? “ Sooyeon kembali memperjelas.

Baekhyun melepaskan pelukannya, ia beralih menatap kearah lain , membuat Sooyeon merengut seketika. Bahkan ketika ia bersikap lembutpun tidak bisa mengalakan betapa keras kepalanya Baekhyun.

“ Kau membereskan barang-barang itu sendiri? “

Pertanyaan itu membuat Sooyeon memandang barang-barang yang ia kemasi , ia tidak ingin mengatakan jika ia juga mengepak barang-barang Baekhyun.

“ Pihak Pemasaran memberi waktu kita sampai besok siang, sepertinya kau memang mengalami hal sulit pada apartemen ini. Dokumen-dokumen asli pun sudah ada di pihak pemasaran, aku heran kenapa kau tidak memilikii dokumen itu “

Baekhyun terdiam, hal terbodohnya adalah ia tidak pernah memikirkan tentang dokumen-dokumen kepemilikan apartemen ini. Ia hanya berfikir ini adalah satu-satunya peninggalan Abojinya untuknya. Wajar jika eommanya bisa melakukan hal seperti ini padanya. Ia tidak bisa apa-apa.

“ Haljima, kau sedang hamil Noona”  Baekhyun menghentikan Sooyeon yang masih saja mengepak barang-barangnya.

“ Kau tidak mau ikut bersamaku, aku juga tidak ingin tinggal di tempat ini lebih lama. Akan lebih memalukan jika aku pergi dengan sebuah pengusiran, jika kau mau…lakukan sendiri tanpa aku. Jika kau menolak tinggal di apartemenku lakukan sendiri tanpa aku. Dan jika kau datang karena tidak punya tempat lain, silahkan…aku yakin gengsimu lebih tinggi dan kau akan sulit melakukan itu, eotte? Putuskan sekarang atau aku berubah pikiran…”

CHU

Sooyeon terdiam ketika bibir itu mendarat di bibirnya, melumatnya singkat dan melemparnya dengan senyum innocentnya yang menyebalkan.

“ Kau berfikir kau bisa membuatku menjauh dengan cara seperti itu? Kau tahu aku tidak bisa berjauhan denganmu” Baekhyun mengambil alih pekerjaan Sooyeon.

Membuat Sooyeon mengernyit saat itu juga.

“ Dasar bocah …” umpatnya pelan dan menjauh.

.

.

Jangan lihat wajah Cho Kyuhyun sekarang, namun Choi Sooyoung sangat tertarik dengan wajah tak bergairah itu. Ia heran kenapa sepupunya masih bisa berdiri dengan wajah sombong tapi tetap tak bergairah itu.

“ Kau sangat sukses menyembunyikan hal ini dariku Cho Kyuhyun, apa kau juga tahu dia sedang hamil sekarang? Bahkan sebentar lagi aku bisa melihat jenis kelamin janinnya, kau yakin kau bukan ayahnya?”

Kyuhyun menatapnya tajam.

“ Jangan berfikir macam-macam, kami tidak melakukan apapun yang membuatnya seperti itu”

“ Aku hanya berfikir seperti di drama yang kulihat, kau pergi, dia hamil dan ada sosok yang berbaik hati menolongnya dengan menjadi ayah dari janin yang ia kandung, kau datang dan semuanya terlambat”

“ Ishhhh”

Sooyoung tertawa, ia bukan seseorang yang tidak tahu apa-apa dengan hubungan keduanya. Hanya saja ia sangat kecewa karena akhir dari hubungan sepupunya ini sedikit tragis. Apa yang ia perjuangkan pada akhirnya sia-sia ketika Sooyeon bukan menjadi Ny Cho, tapi menjadi istri pria lain.

“ Apa kau baik-baik saja? “ pertanyaan itu muncul dengan nada iba dari seorang Choi Sooyoung.

“ Entahlah…aku ingin semua yang kudengar dan kulihat hanya mimpi, tapi aku tahu bagaimana Sooyeon. Dia bukan sosok yang bisa mempermainkan seseorang, meskipun ia marah dan membenciku, ia tidak akan mempermainkanku dengan hal seperti ini, dia memang meninggalkanku karena kesalahanku sendiri”

“ Ya…akhirnya kau sadar jika kau salah, kau terlalu lambat dan seperti inilah takdirmu”

Kyuhyun mendengus, kenapa sepupunya ini tidak memberinya semangat. Setidaknya ia harus membangunkannya dari keadaan yang ingin ia anggap sebagai mimpi ini. Ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Sooyeon. Benar-benar tidak percaya, meskipun Hara sudah menceritakan semuanya.

Dia merasa bersalah dan kasihan pada Sooyeon.

“ Apa kau bisa mengabulkan permintaanku?” Kyuhyun menatap Sooyoung serius, bahkan Sooyoung sendiri ingin tertawa karena tatapan itu.

Ahh tidak, ia tahu saat sepupunya ini sedang berkata serius. Firasatnya mengatakan, hal ini tentang Sooyeon.

&             &             &

Hara berlarian menuju apartemen Sooyeon, setelah mendapat kabar dari Sooyeon ia tidak bisa tenang dan menunggu sampai jam kerjanya habis.

“ Apa kau tidak punya ponsel? Kemana ponselmu? Kenapa menghubungiku dengan telepon umum? Gwenchana? Apa yang perlu aku bantu? Ahh aku lupa membawa makanan, Aku akan kembali dan membawakanmu makanan Eonni” Kalimat itu keluar begitu saja ketika Hara berhasil mencapai pintu apartemen Sooyeon dan membukanya dengan kasar.

Sekarang hanya ada dua manusia yang terbatu menatapnya .

“ Duduklah Go Hara…” Sooyeon beralih dan menuntun Hara untuk duduk.

“ Bagaimana keadaanmu? “

Sooyeon menarik tangan Hara dan memintanya untuk berhenti berteriak, ada Baekhyun di sekitarnya dan ia tidak ingin bocah itu merasa tidak nyaman dengan kehadiran Hara. Dia sengaja meminta Hara datang dan tidak menceritakan segamblang mungkin, ia perlu bantuan untuk menata barang-barangnya dan juga ia takut jika nantinya Baekhyun tiba-tiba marah dan merusak perabot rumahnya, hanya itu saja.

“ Terima kasih sudah datang” ucapan itu sontak membuat Hara terdiam, ini pertama kalinya Baekhyun berbicara padanya.

Bahkan ia bingung memangilnya seperti apa, Baekhyun masih lebih muda darinya, tidak mungkin ia memanggilnya tanpa embel-embel apapun sedangkan ia adalah suami dari wanita yang ia anggap sebagai Eonninya.

Cukup rumit.

“ Kalian harus beristirahat, aku akan memasakkan makanan untuk kalian”

Hara mengangguk, begitu juga dengan Sooyeon. Wajah itu terkadang imut dan saat ini menjadi dingin.

“ Dia perlu seorang Psikiater” desisnya dan Hara mendengarnya.

Merasa ada seseorang yang memandangnya dengan tatapan melas, Sooyeon tersenyum pada Hara. Meyakinkan Hara agar gadis itu berhenti merasa iba pada nasibnya.

“ Apa yang terjadi Eonni?” Tanya Hara begitu pelan, ia takut suaranya akan terdengar oleh Baekhyun, suami aneh Eonninya.

“ Usssd…jangan membahasnya sekarang “ Sooyeon mengintip tempat Baekhyun berdiri ia juga takut jika Baekhyun mendengar percakapan mereka.

Hara mengangguk mengerti, dia juga tahu bagaiman perangai suamii eonninya ini, meskipun ia masih bocah dan berwajah imut, dia cukup menakutkan.

.

.

 

Bisa dibilang ia sedang frustasi, Suho hanya mendengus melihat gadis cantik yang sudah menjadi pelanggan tetap di tempatnya, ia akan meminta Baekhyun lah yang mengantarkan minuman untuknya, dan dia akan datang jika Baekhyun tidak kunjung mengantarkan minumannya. Park Ji Yeon, dia terus menanyakan keberadaan Baekhyun beberapa hari ini, bahkan dia sendiri tidak tahu bagaimana keadaannya.

“ Apa kau tahu dimana tempat tinggalnya?”

Suho meletakkan gelas yang ia lap. Ia menghela nafas kasar lalu mengambil secarik kertas, ia menulis tanpa banyak berkata pada Ji Yeon.

“ Jangan menyesal ketika datang ke apartemennya” hanya itu pesan dari Suho.

Ji Yeon tidak memperdulikan itu, yang terpenting baginya ia tahu alamat rumah Baekhyun. Beberapa hari tidak bertemu dengannya membuatnya sedikit kawatir dan merindukannya. Sungguh ia menyukai bocah itu.

“ Gomawo…” Ji Yeon beralih dan pergi dari Pub, beserta para bodyguard yang mengawalnya.

Membuat Suho sedikit lega karena tidak lagi melihat wajah cantik itu yang terus menanti Baekhyun.

“ Hah….dia seharusnya tahu jika Baekhyun sudah menikah” gumamnya.

.

.

Park Ji Yeon kini berdiri di depan pintu yang sudah bersegel. Ia tahu kenyataan bahwa pemilik apartemen itu bukan lagi seorang Byun Baekhyun, pria yang ia cari. Tapi kemana dia ?

“ Aaaaght” teriaknya frustasi, ia mengacak rambutnya.

“ Cari tahu dimana pria itu, aku ingin bertemu dengannya” perintahnya pada salah satu bodyguardnya.

“ Baik Nona”

Ji Yeon menggeram pelan setelah kepergian bodyguardnya. Ia begitu marah karena tidak bisa menemukan Baekhyun. Kemana ia pergi setelah membuatnya begitu penasaran seperti ini?

Bahkan ponselnya pun tidak bisa dihubungi, ia benar-benar sukses membuat Ji Yeon memanas. Dia bukan tipe gadis yang bisa sabar menunggu sesuatu yang membuatnya penasaran, jika ia menginginkan untuk bertemu Baekhyun, maka ia harus melakukannya.

“ Kemana kau Byun Baekhyun…” ucapnya geram.

Dan ia harus mencarinya.

.

.

Baekhyun tidak membiarkan Sooyeon melakukan pekerjaan rumah sedikitpun. Ia hanya diperbolehkan untuk duduk dan menonton acara di televisi. Hal itu semakin membuat Sooyeon frustasi, Baekhyun  tidak pergi ke kampusnya dan tidak pergi bekerja membuat Bocah itu menunjukkan sisi possessif yang berlebihan.

Bahkan ia perlu bergerak, dan ia tidak diijinkan sama sekali.

“ Baekhyun_ah, aku bisa melakukannya, kau juga harus kuliah”

Baekhyun tidak menjawab, ia masih sibuk menyiapkan makan siang untuk Sooyeon.

“ Baekhyun_ah, apa kau tidak bekerja? Pelangganmu akan mencarimu jika kau tidak bekerja” Sooyeon masih beusaha untuk membuat Baekhyun kembali ke rutiinitasnya.

Namun hasilnya sama, Baekhyun tidak mendengarnya, ia masih sibuk dengan teman barunya di dapur. Membuat Sooyeon begitu miris melihatnya.

“ Kau tidak menjawab sedikitpun” ucapnya geram.

“ Diamlah…perutmu semakin membuncit , kau semakin cerewet” balasnya yang spontan membuat Sooyeon ingin melemparnya dengan sepatu.

“ Aku semakin stress jika kau di rumah Baekhyun_ah” rengeknya.

Baekhyun menggeram pelan, ia meletakkan pisau dan celemeknya. Mencuci tangannya lalu beralih pada Sooyeon, mendekatinya dan menariknya menuju kamar.

“ Kau belum selesai memasak” protes Sooyeon.

“ Aku masih ingin bersamamu Noona, kenapa kau memintaku untuk selalu pergi, apa kau tidak nyaman aku disini?”

Sooyeon mengerjap, ia menyilangkan tangannya tanda tidak setuju.

“ Bukan begitu, kau melarangku ini, melarangku itu, aku juga harus bergerak untuk kesehatan janin ini”

Baekhyun merengut, ia duduk di pinggiran tempat tidur dan membiarkan Sooyeon berdiri menghadapnya, ia menarik pinggang Sooyeon lalu menenggelamkan kepalanya diantara perut buncit Sooyeon, menggantungkan tangannya pada pinggang Sooyeon. Bersikap manja layaknya anak kecil.

“ Aku takut eomma datang dan berbuat sesuatu yang buruk padamu”

Sooyeon menepuk singkat pundaknya, ia seperti sedang dipeluk oleh anak laki-lakinya.

“ Untuk itu lakukan rutinitasmu seperti biasa, kau juga harus berdamai pada eommamu”

“ Tidak  jika ia memintaku untuk meninggalkanmu”

Sooyeon mendengus pelan. Bagaimana cara menjelaskannya pada bocah kecil ini, bersama pun sepertinya sangat tipis. Ia mengunci rapat mulutnya untuk tidak mengatakan hal apapun yang bisa memancing emosi Baekhyun nantinya. Ia tidak mau mengatakan apa yang ada di kepalanya saat ini. Bahkan ia berniat untuk mengajukan perceraian tepat setelah ia melahirkan nanti. Membiarkan bocah ini hidup normal sebagai mahasiswa dan bersenang-senang adalah salah satu harapannya. Namun membuat bocah ini mengerti adalah hal sulit. Ia hanya tidak ingin hidup mereka sama-sama mengalami hal sulit.

“ Saranghaeyo Noona”

Sooyeon tersenyum tipis menbalas kalimat itu.

“ Kau harus kuliah dan bekeja, lakukan rutinitasmu atau jangan bertemu denganku lagi” ancaman itu sukses ia keluarkan. Setelah lama meninmbang kalimat yang baik , namun masih seperti inilah kalimat yang keluar dari mulutnya.

Baekhyun terdiam, benar, ia memang harus bekerja. Ia berniat menggunakan seluruh tabungannya untuk membeli kembali aparetmennya. Lalu ia juga akan kehabisan tabungan untuk anaknya yang lahir kelak. Sebenarnya ini lah yang membuat Baekhyun tidak melakukan aktivitasnya, ia sedang bingung, sangat bingung menghadapi keadaannya.

.

.

Sooyeon mungkin bisa sedikit tenang ketika melihat Baekhyun keluar dari apartemennya bersama tas ransel di pundaknya. Akhirnya ia bisa membujuk bocah itu untuk mau pergi ke kampus dan tidak terlalu khawatir dengan keadaannya. Lagi pula siapa yang perduli jika Eommanya datang dan kembali mengancamnya, ia tidak yakin jika eomma Baekhyun bisa berbuat jahat seperti di drama yang akhir-akhir ini ia lihat. Ini apartemennya dan tidak akan ada lagi kisah keluar dari apartemen karena telah dijual sepihak.

Ia memicingkan matanya pada sekitar setelah menutup pintu rumahnya. Ia ingin berteriak karena begitu merindukan apartemennya ini. Sebenarnya jika mereka Baekhyun bisa mengambil jalan yang lebih mudah, dia tidak harus mempermasalahkan apartemennya yang tiba-tiba dijual oleh eommanya. Jika memang dia belum memiliki hak penuh atas apartemen itu, itu wajar karena dia masih pelajar. Dan beberapa hal yang membuatnya berfikir tentang Baekhyun.

Ia masih penasaran, bagaimana Baekhyun mengenalnya dan mengoleksi fotonya bahkan dari beberapa tahun lalu. Ia benar-benar tidak mengingat ia pernah berkenalan dan menghabiskan waktu dengan Baekhyun di masa-masa akhir SMAnya. Jika ia bertemu dengannya saat hampir lulus SMA , itu artinya Baekhyun masih duduk di bangku sekolah pertama. Dia terkekeh pelan, ia tidak mungkin mengingat bocah yang masih duduk di bangku SMP saat itu. Ia menggelengkan kepalanya, membuyarkan semua bayangannya. Ia mengakui sedikit takut ketika tahu foto-foto yang terkumpul itu, sedikit banyak ia berfikir Baekhyun benar-benar seorang Pshyco yang sudah lama mengincarnya.

“ Aaaahhhh tidak, tidak…jangan berfikir seperti itu Jung Sooyeon”

Selanjutnya ia mengingat apartemen Baekhyun, bocah itu mungkin menyimpan banyak kenangan di dalam apartemen itu. Terlihat sekali dengan sikapnya ketika Eommanya telah menjual apartemen itu. Sedikit banyak ia memahami bagaimana Baekhyun jika ia sudah mencintai sesuatu. Mungkin itu yang sering ia lakukan pada dirinya sendiri, ia tahu kenapa Baekhyun sangat marah dan bisa memecahkan segalanya. Bocah itu sedang terobsesi padanya. Terlebih dia juga mengandung buah perbuatannya. Ia sedikit bingung membedakan antara tanggung jawab dan rasa cinta  yang berlebih pada diri Baekhyun. Hanya itu.

Sooyeon beralih pada kamarnya, ia ingin membereskan kamarnya. Ia juga masih ingin berlama-lama di dalam kamarnya. Sudah cukup lama ia meninggalkan apartemennya dan jika bukan karena Baekhyun melarangnya untuk kembali ke apartemen ini, mungkin dari awal dia memilih untuk tinggal di apartemennya sendiri.

Ia tersenyum ketika melihat beberapa tumpukan kardusnya yang masih terisi, dan kardus itu adalah barang-barang Baekhyun. Mungkin bocah itu masih berharap bisa kembali ke apartemennya dalam waktu dekat ini, itulah sebabnya ia tidak merapikan barang-barannya sendiri. Sooyeon mendengus pelan, dia berinisiatif untuk merapikan barang-barang dan buku pelajaran Baekhyun di tempatnya. Tidak perduli lagi jika nantinya Baekhyun akan protes.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat sebuah kotak yang ada di atas mejanya. Ia yakin itu adalah perbuatan Baekhyun. Bocah itu sangat suka memberi dan tidak pernah lupa ada sedikit surat untuk Sooyeon diatas benda pemberiannya. Sama seperti baju-baju yang diberikan padanya sebelumnya.

“ Pakailah ponsel ini, di dalamnya ada nomorku dan segera telepon aku jika kau sudah menemukan hadiahku ini, Lupakan ponsel lamamu, terlalu banyak nomor aneh di dalamnya”

 

_Saranghae_ Byun Baekhyun.

Sooyeon terkekeh, ia membuka kotak berisi ponsel untuknya, dia segera mengecek isi ponselnya dan hanya ada satu kontak di dalamnya, membuatnya mengernyit tidak terima.

“Nomor aneh katanya?” gerutunya pelan.

Sooyeon menyeringai kecil, ia tidak ingin menghubungi Baekhyun dan membiarkan Baekhyun yang menghubunginya. Setelah itu ia bisa protes kenapa bukan ponselnya saja yang ia kembalikan. Kenapa harus ponsel baru.

.

.

Ji Yeon tersenyum melihat sosok yang ia tunggu beberapa hari ini. Baekhyun kembali muncul setelah berhasil membuatnya sangat penasaran dengan keadaannya akhir-akhir ini.

“ Anyeong!” sapanya.

Membuat Baekhyun menghentikan langkahnya dan beralih pada sumber suara. Ia melempar senyumnya pada gadis itu.

“ Anyeong Noona, kau sudah resmi menjadi mahasiswi di sini?”

Bisa dibilang Jiyeon tengah terserang sengatan listrik ketika melihat senyum Baekhyun hari ini. Bocah itu menunjukkan sisi imutnya.

“ Begitulah… kenapa kau menghilang beberapa hari ini, sampai-sampai aku meminta bodyguardku untuk mencarimu” pertanyaan itu hanya bertujuan untuk mencari jawaban dimana Baekhyun tinggal setelah apartemennya disegel.

“ Ah…aku banyak urusan” elaknya.

Ji Yeon terdiam, ia tersenyum simpul mendengar jawaban Baekhyun.

“ Apa yang terjadi dengan apartemenmu? “

Pertanyaan itu membuat Baekhyun terdiam, ia tersenyum tipis dan tidak menjawabnya. Ia lebih memilih untuk melangkah pergi setelah membungkuk singkat pada Ji Yeon.
“ Wae? Kenapa kau menghindar?”

“ Ini bukan urusanmu Noona, kenapa kau datang ke apartemenku?”

Ji Yeon bisa merasakan aura terganggu dari Baekhyun. Terbukti dengannya yang terus menghindar.

“ Aku hanya penasaran, kenapa kau tiba-tiba menghilang”

“ Mian Noona, kau tidak perlu tahu tentang ini, masuklah ke kelasmu, dan aku juga sudah kembali bekerja , jika kau ingin datang , datanglah sesukamu.Dan juga Jangan sampai aku mengantarmu lagi karena kau mabuk berat. Sampai bertemu nanti”

Dan begitulah cara Baekhyun menghindar, jelas ia menghindari segala pertanyaan yang mengingatkannya dengan keadaan apartemennya. Itu bisa memancing emosinya.

“ Dia menghindar?” gumam Ji Yeon pelan. Bahkan karena hal ini ia semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Baekhyun. Bagaimana sebenarnya kehidupannya dibalik sebagai mahasiswa dan pekerjaannya sebagai bartender.

Ia benar-benar penasaran.

.

.

Baekhyun sama sekali tidak bisa lepas dari ponselnya. Bukankahh ia sudah meninggalkan ponsel untuk Sooyeon? Lalu kenapa sampai saat ini Sooyeon belum meneleponnya? Apa dia belum menemukan ponsel itu di dalam kamar? Bahkan ia mencoba menghubungi ponsel itu pun tidak bisa.

“ Apa yang mengganggumu?”

Baekhyun menoleh cepat, ia meletakkan ponselnya dan menghampiri Suho . Membantunya menyiapkan minuman.

“ Tidak ada” jawabnya

“ Ah…apa gadis itu pergi ke apartemenmu? Mian…aku yang memberitahukan alamatnya”

Baekhyun tesenyum, itulah sebabnya Ji Yeon tahu tentang apartemennya.

“ Ya…tapi dia tidak bertemu denganku, aku tinggal bersama istriku”

Suho terdiam, ia memandang Baekhyun dengan tatapan tidak percaya.

“ Aigoo…kau semakin membuatku iri” godanya.

Baekhyun memicing tak terima, jangan bertanya kenapa ia begitu sensitive jika membahas tentang Sooyeon.

“ Jangan jatuh cinta padanya, dia hanya milikku” balasnya dengan picingan matanya. Membuat Suho tertawa dan menepuk singkat pundaknya.

“ Lalu katakan pada seluruh dunia jika  dia hanya milikmu”

Baekhyun terkekeh, itu terlalu berlebihan. Kalimat itu terlalu berlebihan, dan mungkin akan ia lakukan suatu saat nanti. Ia hanya tidak ingin banyak hal buruk yang terjadi pada Sooyeon nantinya. Ia cukup sadar diri siapa saja musuhnya selama ini. Terutama Eommanya, dan juga orang-orang yang mengenalnya sebagai putra Ny Byun.

Ji Yeon berjalan ke meja Bartender ketika mendapati Baekhyun sudah kembali bekerja. Dia memang tidak berbohong ketika di kampus.

“ Ah..Noona” sapa Baekhyun ramah pada Ji Yeon. Ia mengangguk singkat.

“ Aku ingin minuman yang biasa kau sediakan untukku” Ji Yeon duduk tepat menghadap Baekhyun.

“ Kau akan mabuk hanya dengan meminum 1 gelas”

“ Apa aku tidak pernah mabuk ketika datang ke sini?”

Kalimat terakhir itu membuat Baekhyun melakukan apa yang diminta Ji Yeon. Memang benar, Ji Yeon selalu pulang dalam keadaan mabuk dan tak sadarkan diri. Membuatnya mengingat Sooyeon yang sedikitpun tidak bisa meminum alcohol berkadar tinggi.

“ Apa yang kau lakukan selama ini? Kenapa kau tidak bekerja dan tidak datang ke kampus?”

Baekhyun memulai aksinya pada es batu yang akan ia bentuk untuk menghiasi gelas antiknya. Ia mendengar pertanyaan itu, namun ia enggan menjawabnya. Ia enggan menjawab pertanyaan yang menyangkut pribadinya.

“ Aku hanya ingin beristirahat”

Ji Yeon tersenyum simpul. Ia memperhatikan Baekhyun yang tidak sedikitpun melihatnya. Entah kenapa ia merasa apa yang dikatakan Baekhyun tidak sepenuhnya benar. Ia sudah melihat apartemennya telah disegel dan terjual. Mungkin ia sedang mengalami masalah.

“ Apa kau sedang bermasalah?” Tanya Ji Yeon lembut. Sungguh ia sangat ingin tahu bagaimana Baekhyun.

Baekhyun tersenyum , ia meletakkan es batu yang selesai ia pahat dan ia masukkan ke dalam gelas, selanjutnya ia menuangkan minuman yang diminta Ji Yeon. Ia mengabaikan tatapan Ji Yeon yang menunggu jawabannya.

“ Nikmatilah minumanmu Noona, aku harus melayani pelanggan lain” Baekhyun mengangguk singkat lalu beralih pada meja lain di tempat itu. Membuat Ji Yeon terdiam frustasi. Baekhyun mempunyai wajah ramah namun berhati dingin. Kenapa sesulit ini mendapatkan perhatiannya?

Ji Yeon menghela nafas panjang, ia tidak tahu pasti kisah Baekhyun. Namun ia tahu jika Abojinya menjodohkannya dengan pria ini. Ia sudah menolak dan mencoba untuk mendekatinya secara nyata, namun Baekhyun  tidak pernah menganggapnya sebagai gadis yang mendekatinya. Ia begitu baik hanya sebagai servicenya kepada pelanggan. Ia juga bersikap baik karena tidak ingin membuat orang lain tersinggung.

Namun karena rasa ingin tahunya dan ingin mencoba untuk mendekatinya sendiri, kini Ji Yeon terjebak dengan perasaannya yang semakin tidak bisa ia kendalikan. Mungkinkah ia memang telah jatuh cinta pada Baekhyun? Dengan sikap ramah namun berhati dingin itu?

Mungkin sudah saatnya ia mengatakan pada Abojinya untuk segera melakukan pertemuan antara kedua keluarga dan membicarakan perjodohan ini secara nyata. Ia juga tidak ingin Baekhyun terus bersikap dingin dan mengacuhkannya seperti ini. Ia tidak ingin Baekhyun hanya menganggapnya sebagai pelanggan di tempatnya bekerja. Atau sebagai noona yang mengenalnya. Ia ingin Baekhyun lebih melihatnya setelah kedua keluarga mempertemukan mereka.

.

.

Lagi, dan sepertinya memang Ji Yeon adalah ahlinya membuat Baekhyun kerepotan karena ia selalu mabuk. Ia tidak bisa melepaskan diri dari genggaman Ji Yeon ketika mengantar gadis itu ke mobilnya. Mau tidak mau ia harus mengantarnya sampai rumahnya. Bagaimanapun Ji Yeon adalah seorang perempuan dan ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

Baekhyun melihat kesempatan saat Ji Yeon sudah tertidur di mobilnya. Ia berinisiatif untuk turun meskipun belum sampai di rumah Ji Yeon.

“ Bisakah kita berhenti sebentar? Tolong turunkan aku di tempat itu, aku harus naik bus dari tempat itu” ucapnya pada sang sopir.

“ Tapi tuan, bagaimana jika nona menc_”

“ Katakan padanya aku harus segera kembali karena ada yang menungguku di rumah” Baekhyun melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Ji Yeon yang mungkin akan kedinginan jika terus memakai pakaian terbuka.

“ Baiklah…”

Baekhyun membungkuk singkat pada sang sopir setelah ia turun di tempat tak jauh dari halte tempatnya menunggu bus. Ia begitu lega karena bisa memotong jalan dan tidak perlu memakan waktu lama untuk sampai di rumah. Tidak tahukah jika hatinya dan jantungnya terus  berdetak kencang karena rasa khawatirnya pada Sooyeon? Sedangkan Sooyeon sama sekali tidak menghubunginya meskipun ia sudah meninggalkan ponsel di rumah.

Ia harus segera sampai di rumah.

.

.

Sooyeon terdiam di depan sosok yang duduk di depannya. Ny Byun kembali datang dan lagi-lagi tanpa sepengetahuan Baekhyun. Kali ini ia juga sedikit menyesal tidak segera mengaktifkan ponselnya dan menghubungi Baekhyun segera.

“ Aku tidak berfikir kau adalah gadis yang cukup kaya “ Ny Byun meminum the yang disedikan Sooyeon.

Sooyeon tersenyum simpul tanpa menjawab pertanyaan Ny Byun.

“ Putraku sedikit beruntung karena kau punya tempat tinggal, untuk itu aku inginmengucapkan terima kasih karena tidak menjadi gelandangan di luar atau tinggal di tempat yang tidak layak”

“ Lalu apa yang ingin anda lakukan? Putra anda baik-baik saja”

“ Aku hanya ingin dia kembali ke rumah dan menurutiku sebagai orang tuanya. Sudah cukup baginya terus bermain-main dengan keputusannya sendiri sesuka hati”

Sooyeon tersenyum, ia begitu benci keadaan seperti ini. Kenapa ia juga harus di posisi seperti ini. Setelah beberapa hari yang mereka lewati, setelah hatinya yang sedikit luluh pada keadaan Baekhyun. Lalu kenapa ia harus berhadapan dengan pernikahannya yang tanpa restu seperti ini.

.

Baekhyun berlari setelah mendapati beberapa pengawal eommanya berdiri tak jauh dari gedung apartemen Noona tercintanya. Eommanya pasti sedang bersama istrinya. Dan ia tidak ingin hal buruk terjadi.

“ EOMMA!”

Sooyeon mendongak, dan ia mendapati wajah tak karuan Baekhyun dengan nafas yang tersengal. Ia pasti berlari dari lantai bawah. Jika dalam keadaan terburu-buru, Baekhyun bukan tipe orang yang akan menunggu sampai di lantai selanjutnya bersama lift. Ia akan berlari menggunakan tangga darurat.

“ Ah… Adeul” Ny Byun tersenyum bahagia dengan kedatangan Baekhyun.

Sangat berbeda dengan wajah yang ditampilkan Baekhyun padanya. Ia segera mendekati Sooyeon dan menarik tangan wanita itu ke dalam pelukannya.

“ Apa yang eomma lakukan?”

“ Eomma ingin melihat keadaanmu, apa itu salah?” Balasnya penuh dengan kelembutan. Jika hanya melihatnya kalian tidak akan percaya jika yang ia pikirkan adalah ingin memisahkan kedua pasangan ini.

“ Nan Gwenchana” Sooyeon melepas pelukan Baekhyun. Ia menjauh satu langkah dan memilih kembali duduk di tempatnya.

“ Apa yang eomma rencanakan?”

“ Tentusaja membuatmu kembali ke rumah putraku, kau tahu jika eomma mempunyai pilihan sendiri untukmu”

“ Jangan pernah berfikir aku akan melakukan itu”

“ Geurom…kau akan melakukan itu , jika kau tidak ingin hal buruk terjadi “

Sooyeon terdiam, ia melihat wajah memerah yang siap menerkam pada Baekhyun. Sedangkan wajah yang penuh senyum masih bertahan pada Ny Byun. Kenapa wanita ini begitu tenang dengan kalimat penuh ancaman itu.

“ Akan kupastikan aku tidak akan meninggalkan istriku begitu saja”

“ Baiklah…kita akan melihat nanti, jika kau ingin apa yang kau sayangi kembali, lalu lakukanlah permintaan eomma, eomma harus kembali . Sampai jumpa lagi Adeul” Ny Byun tersenyum sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan yang memanas itu.

Sooyeon hanya terdiam melihat betapa tertekannya Baekhyun, suaminya. Ia begitu kasihan melihat bocah ini seperti ini.

“ Gwenchana?” Dengan nada bergetar ia mencoba mendekati Baekhyun. Meraih pundaknya dan menuntunnya untuk duduk di sampingnya.

“ Mian…Mian Noona, aku menyulitkanmu” ucapnya terisak. Entah kenapa bocah ini menangis.

“ Ja_”

Baekhyun menarik pinggang Sooyeon ke dalam pelukannya, ia menenggelamkan wajahnya diantara pundak Sooyeon. Dapat ia rasakan sesenggukan yang dikeluarkan Baekhyun dalam pelukannya. Kenapa bocah ini menangis, itulah yang dipikirkan Sooyeon.

“ Apa kau menangis karena kau tidak bisa mendapatkan apartemenmu lagi? Kau begitu mencintai apartemen itu, apa terlalu banyak kenangan di sana? Apa kita perlu membelinya ? aku bisa membantumu untuk mendapatkan uang, kau bisa memakai uang tabunganku, atau kita akan cari pinjaman jika uang itu belum cukup, jangan seperti ini Baekhyu_ah…” Sooyeon ingin menhentikan tangisan itu. Namun dari semua kalimat yang ia lontarkan malah membuat Baekhyun begitu mempererat pelukannya.

“ Baekhyun_ah…aku tidak bisa berna_”

Baekhyun melepaskan pelukannya, selanjutnya ia merangkup wajah Sooyeon dalam tangannya. Membuat Sooyeon terbatu dan hanya bisa pasrah dengan tindakan Baekhyun selanjutnya.

Ia bahkan bisa merasakan air mata yang menetes dari pipi Baekhyun ke dalam mulutnya. Baekhyun masih menangis bahkan ketika menciumnya. Dan ia merasakan ciuman dari seorang bocah yang kini bertindak seperti suami, penuh kehangatan dan menyalurkan perasaannya dalam setiap lumatan kecil pada bibirnya. Kenapa ia merasakan perasaan tulus dari Baekhyun, kenapa ia begitu merasakan Baekhyun begitu mencintainya. Kenapa ia merasakan betapa Baekhyun takut kehilangannya? Itulah yang membuat syarafnya mati ketika Baekhyun terus memperlakukannya seperti ini.

Ia tahu jiwa labil bocah yang menjadi suaminya ini, namun kali ini ia begitu merasakan seluruh perasaan yang disalurkan Baekhyun lewat setiap sentuhan bibirnya.
“ Wae?” pertanyaan itu muncul seketika setelah Baekhyun melepaskan tautannya.

Bahkan tangan Sooyeon terangkat untuk mengusap lembut pipi bocah itu.

“ Aku hanya menyesal membawamu dalam keadaan seperti ini Noona, aku tidak ingin berpisah dan jangan pernah memintaku untuk menjauh, aku tidak bisa”

Sooyeon tersenyum, ia membelai rambut Baekhyun dan mengusap puncak kepalanya.

“ Kau takut ?”

“ Eum…begitu takut , sampai aku tidak bisa berfikir apa saja yang bisa dilakukan eomma untuk membuatku berpisah denganmu”

“ Tidak akan terjadi apa-apa padaku dan juga bayi ini, tenanglah”

Baekhyun tersenyum, ia kembali menautkan pelukannya dan bermanja pada Sooyeon. Membuat Sooyeon mendengus kasar ketika Baekhyun melakukannya. Kemana suami yang menciumnya dengan cinta dan penuh kelembutan tadi? Kenapa sekarang ini ia berhadapan dengan bocah yang sedang bermanja pada ibunya?

Entahlah…sampai kapan aku bisa bertahan bersamamu, aku tidak bisa berjanji akan hal ituMian..

 

TBC…

 

Anyeong…

🙂 maaf ya author lama nggak update dan posting kelanjutan ff tapi nggak memuaskan, masih nggak pede dengan hasil Chapter ini. Kurang panjang menurutku tapi juga sudah panjang sih…

Cerita Complicated yang lagi-lagi aku fokuskan pada Baekhyun dan Jessica, sedikit memunculkan Kyuhyun dan juga Ji Yeon yang mulai aktif pada Baekhyun. Terima kasih untuk respon di chapter sebelumnya, aku baca komentar kalian kog, dan aku seneng🙂. Maafkan Ny Byun yang jahat seperti ibunya Go Jun Pyo ya…dia memang sayang sama Baekhyun tapi Baekhyun nggak suka sama sikapnya. Begitulah…dan aku harap kalian masih nemuin sisi Psychonya Baekhyun yang sedikit demi sedikit tertutupi di setiap Chapternya.

Ehem, terjadi sedikit trouble beberapa hari lalu, bahkan lebih dari seminggu lalu karena flash disk tempat aku nyimpen semu FF yang aku buat sempet menghilang, sampai akhirnya aku kembali bikin ulang chapter ini yang sebagian udah aku buat di flash disku yang ilang itu😦 .

Jadi…maaf ya jika mengecewakan, akan aku perbaiki chapter selanjutnya…mohon dukungannya >>>>#kayaknyalongubernuraja.

Xie Xie…

38 thoughts on “Moonlight | Five

  1. Dichapter ini bneran sebel sm eommanya baek sm jiyeon, nyebelin bnget dech. Untung baek cntanya tetep bwt s0oyeon. . .
    Bneran pnsaran sm kyuhyun,apa yg bkal dirncanain kyu ya??#mkir keras
    kngen bnget sm psyc0-nya baek hahaha
    ditunggu next chpternya th0r, udah kep0 bnget sm jalan crta slnjutnya. Auth0r FIGHTING.

  2. Aku tunggu kelanjutaannya chingu. Sumpah ini ff fav aku. Gk sabar nunggu kelanjutaan bekki sama sica. Semangat bikinnya😀

  3. Sebel deh sama jiyeon.. gw doain si jiyeon tau klo si baek udh pnya sooyeon dan akhirnya gak ngejer baek lagi.. chapter ini bagus.. ditunggu chapter selanjutnya

  4. Wah…wah…wah…!!!*Prok…prok…prok*
    Chapter ini bener-bener membuat aku penasaran chingu…ckckckckck^u^
    Sumpah chingu semakin lama FF ini semakin seru dan membuat aku semakin penasaran setiap harinya…hehehe
    Chingu Next Chapt ya…Ditunggu secepatnya!Jangan lama-lama ya Chingu!Keep Writting!!!^o^Anyeong~

  5. Yeayyy…akhirnya up date hehe
    Maap telat komen thor cz habis pulkam & tk ada sinyal #curcol
    Sdikit geregetan(?) sih sma Baekhyun cz gk bisa bilang ke Jiyeon kalo dia udah punya istri,tp Jiyeon udah di jodohin ama Baekhyun-,- terus Jiyeon udah jatuh cnta lagi-,- kyuhyun jg masih ngejar Sooyeon -,,- Eommanya Gu jun pyo juga ngikut-..- huehh bneran ini rumit bgt thor Huwee T.T terus pnasaran kog baekhyun bisa tahu Sooyeon dr dulu ya..huwehh Pusing pala barbie(?) deh..Next chap thor di tunggu..pnasaran tingkat akut(?) nihhh.

  6. unnie aku telat baca OH NOOOO =-O ,hehe😀 !sorry eon,aku baru baca ffnya,soalnya aku sibuk Ulangan sama TO!!oh iya aku salut,unnie bisa lanjutin ini ff,padahal fdnya sempet ilang,daebakk😀 ffnya keren eon,tapi ibu baekhyun nyebelin,jiyeon juga .baekhyun kenapa ga bilang ke jiyeon kalau dia udah nikah,punya istri gemes jadinya!!oke aku pengen baca chapter six nya dulu ya!! fighting eon😀

  7. astaga, sekarang sedang greget gregetnya, banyak maslaah yg datang tapi disinilah hubungan mereka lagi diujia, banyak konflik tapi pembawaannya halus, dapet banget :”

  8. Oh ini feel drama lagi menggerogotiku, thor. Toloongg(?)
    Suka banget lah sama ceritanya, dan bener kan Jiyeon itu yang dijodohkan sama Baekhyun >< Aku menaruh harapan banget sama Jessica, tapi Jessica nyatanya juga labil sama perasaannya. Aku masih tetep mencintai perwatakan Baekhyun❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s