Princess | One

princess_ad-copy

Author: S.Y.M

Title:   Princess

Length: –

Genre: Fantasy

Rating: G

Main Cast:

Jessica Jung

Xi Luhan|Kim Myungsoo|Jung Daehyun|Yook Sungjae

& & &

Keabadian itu indah…

.

.

Gadis itu membuka matanya perlahan, masih terlihat samar-samar dimatanya, dimana ia sekarang? Batinnya. Ia tipe orang yang sangat perasa terhadap  aura lingkungannya, dan ini.. ini bukan tempat yang biasa ia tempati, ini bukan rumahnya, ini bukan kamarnya, dan ini jelas tempat asing.

Ia merasakan aroma lain di kamar ini, aroma khas seorang laki-laki, apa ia sedang berada di kamar seorang laki-laki?
Menyadari itu, ia membuka lebar matanya… sesekali ia berkedip seraya mengelilingi seluk ruangan itu, mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya sebelum akhirnya ia sampai ditempat ini?

Setelah beberapa detik pandangannya menelusuri ruangan itu ia menyerah, ia tidak menemukan tanda-tanda bahwa ia pernah melihat ruangan itu sebelumnya. Ia berharap ia berada di tempat yang aman. Ia menutup matanya dengan telapak tangannya, memberi sedikit penekanan pada mata yang masih mengantuk itu, mata itu membuatnya pusing, di kepalanya seperti ada kawat yang menegang dan mata itu terasa sangat berat.

“Aght!” ia merasakan sakit di pergelangan tangannya.

Diperhatikannya pergelangan tangan itu, terdapat  bekas memar ditangan itu. Sejenak ia berfikir apa yang terjadi pada tangannya itu.

“Ahhh Shit!” Ia memukul selimut yang masih membelitnya itu. Ia mengingat kenapa pergelangan tangannya memar seperti itu. Namun ia masih tidak mengingat kenapa ia sampai ditempat ini.

Ia memaksa untuk mengangkat tubuhnya yang terasa sangat berat itu. Ia ingin bangun dari tempat tidur ini dan melihat keadaan disekitar ruangannya.

Ia membuka selambu krem yang masih menutupi masuknya cahaya ke ruangan itu, namun sial karna sama saja ia tidak bisa melihat cahaya karna jendela itu tertutup dengan rapatnya.

“Hfuhhh!” ia menghela nafas, sampai saat ini ia belum sadar apa yang harus ia lakukan untuk keluar dari ruangan ini, ia masih diam menatap jendela ruangan ini, kenapa ada orang yang tidak suka dengan cahaya sehingga tidak memberikan celah pada jendelanya? Batinnya.

CKLEK

Gadis itu segera menoleh kearah sumber suara, ada seseorang yang membuka pintu kamar itu.

BRAK

Pintu itu kembali tertutup setelah seseorang masuk ke kamar itu.

Gadis itu membuka matanya lebar setelah tahu siapa yang masuk ke kamar itu, ah tidak… dia tidak mengenalnya.Siapa orang ini?

“Kau sudah bangun? “ Tanya nya lembut dengan sunggingan senyum dipipinya.

Laki-laki itu berjalan mendekatinya ia tersenyum melihat selimut yang ada dilantai, ia merapikan selimut itu, tak lupa juga ia merapikan tempat tidur itu. Sedang gadis itu, ia hanya diam melihat seseorang yang didepannya kini. Ia berharap ini hanya mimpi karna ia sama sekali tidak mengenal sosok itu.

“Kau tidur berantakan sekali!” laki-laki itu kembali tersenyum padanya setelah selesai merapikan tempat tidurnya. Melihat gadis itu hanya diam melihatnya laki-laki itu kembali tersenyum, ia ingat satu hal.

“Anyeong Sooyeon_ssi!”  laki-laki itu menyapanya, lengkap dengan namanya, sontak gadis itu mengerutkan keningnya. Apa ini ? dia tahu namaku?

“Kau bisa memanggilku Luhan, Xi Luhan!” Luhan tahu jika Sooyeon, gadis itu akan kebingungan dengan keadaannya sekarang.

“disana ada kamar mandi yang bisa kau gunakan, aku akan menunggumu disini” ucapnya lagi

“Mwo?” Ucap Sooyeon lirih, namun sangat terlihat dengan ekspresi kagetnya.

“5 menit untuk mandi atau hanya sekedar membersihkan diri, kau sangat berantakan!”

“Apa?” Sooyeon benar-benar tak habis pikir dengan keadaannya sekarang. Siapa dia? Apa maunya? Kenapa aku? Apa apaan ini semua? Apa aku diculik? Apa dia yang menculikku? Oh Tuhan cepat bangunkan aku…. Seseorang cepat bangunkan aku!!!

“Bukankah kau sudah bangun Sooyeon_ssi? Cepatlah waktumu hanya 5 menit “ imbuhnya

Dia bisa membaca pikiranku?

“ Waktumu sudah berkurang 5 detik” ucapnya lagi

Sooyeon mendengus, ia terus merutuki dirinya sendiri yang tak juga mengingat kejadian sebelum ia sampai disini.

 

Sooyeon merutuki Luhan, yang benar-benar menunggunya selama 5 menit untuk membersihkan diri. Ya dia benar-benar menghitung setiap detiknya. Ia mengikuti langkah Luhan yang keluar dari ruangan itu, Luhan tidak memberinya kesempatan untuk bertanya. Aura Luhan sudah terasa menyeramkan baginya.

Menyebalkan

Luhan berhenti dari langkahnya, ia berbalik dan menatap Sooyeon tajam. Sontak gadis itu terdiam dengan mata yang tak kalah lebar dibanding Luhan. Di detik berikutnya Luhan tersenyum, entah apa yang terus membuatnya tersenyum saat bersama Sooyeon.

“Aku mendengarnya Sooyeon_ssi!”  lalu Luhan berbalik dan meneruskan langkahnya menuruni anak tangga itu, kini ia hanya pasrah dan mengikuti Luhan.

.

.

.

“Anyeong!” sapa Luhan kepada beberapa orang yang sudah berkumpul di meja makan itu. Sooyeon mengerutkan keningnya, Siapa lagi mereka? Tuhan cukup dengan orang aneh itu , kenapa ada yang lain? Ucapnya dalam hati.

“ Sudah kubilang aku mendengarnya Sooyeon_ssi, kau mengatakan aku orang aneh?” Luhan berbisik pada Sooyeon.

OH,,,, GOD  Sooyeon hanya meliriknya tajam.

“Mereka adalah saudara-saudaraku” Kini Luhan menggeser salah satu kursi di meja makan itu dan mempersilahkan Sooyeon untuk duduk di tempat itu, caranya memperlakukan Sooyeon seperti seorang putri.

“Kalian perkenalkanlah diri kalian sendiri, aku akan mengambil makanan sambutan untuk nya” kata Luhan kepada saudara-saudaranya.

Sooyeon hanya merasa jika saudara-saudaranya mungkin tidak seramah Luhan, bayangkan saja.. sejak ia hadir di ruang makan itu tak satupun dari mereka menoleh dan  memandangnya, mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, membaca Koran, membaca roman, bermain game dan menggunakan headphone sambil ngopi, tidak ada yang memperhatikannya.

Sooyeon memperhatikan orang-orang itu , tetap saja.. selama Luhan pergi entah kemana, mereka tidak ada yang memulai untuk memperkenalkan diri mereka, sedang Sooyeon ? entah apa yang membuatnya tidak bisa mengeluarkan suaranya, tenggorokan itu sepertinya kering.

“Ah… kau sudah disini?” seseorang membuka suaranya. Sooyeon hanya mengerjap ketika seseorang itu baru saja berjalan dari arah lain yang berlawangan dengan tempat duduknya.

Bukan kah dia duduk di kursi sebelahku? Sooyeon menoleh ke arah kiri tempatnya duduk dan tepat seseorang yang duduk ditempat itu perlahan menghilang seperti hologram yang sudah habis waktunya.

“Hai noona?” salah satu juga muncul di belakang orang itu dan dia orang yang duduk tepat didepannya.

“Kalian ini, dia akan semakin bingung!” satu orang lagi  yang berheadphone  muncul di belakang mereka berdua dan sial memang kali ini Sooyeon benar-benar bingung dengan kedatangan ketiga orang tersebut yang semula berada di meja makan bersamanya untuk beberapa waktu. Namun sekarang mereka muncul begitu saja. Diliriknya orang-orang yang duduk di kursi meja makan, damn… mereka menghilang.

“Ma’af itu permainan kami, agar gege tidak marah karna kami turun terlambat.”

Akhirnya salah satu mau sedikit mengurangi kebingungan Sooyeon. Yang masih membuatnya bingung adalah…Bagaimana mereka melakukan itu?

Orang-orang disini aneh.

“Apa kalian sudah memperkenalkan diri?” Luhan datang dengan secangkir kopi ditangannya.

Dan tepat setelah ketiga orang itu duduk ditempat mereka masing-masing, sama seperti yang dilihat Sooyeon sebelumnya.

Sooyeon hanya melirik mereka jengah, mereka membohongi Luhan soal tadi.

Awas saja jika mereka juga seaneh namja itu, akan aku adukan kebiasaan kalian Cibir Sooyeon.

“Ah Geurae… noona namaku Sungjae, aku anggota keluarga paling muda, paling ceria, paling cute dan paling tampan disini!” Dia Sungjae dengan semangat memberikan tangannya pada Sooyeon.

Sooyeon hanya membalas jabatan tangannya singkat, tanpa memperkenalkan namanya, ia yakin orang-orang disekitarnya sudah tahu siapa namanya.

“Waw…sangat dingin!” Sungjae sedikit lama menggenggam tangan Sooyeon, ia tersenyum padanya, senyum yang menurut Sooyeon sedikit menyeramkan.

“Daehyun imnida, abaikan saja apa yang dia katakan, karna pada kenyataannya kami semua disini tampan!” jika Sungjae lebih semangat dan membesar-besarkan perkenalannya berbeda dengan Daehyun, dia lebih sopan dan lebih lembut, mungkin cara bicaranya lebih mirip Luhan.

Kali ini Sooyeon lebih tulus saat tersenyum pada Daehyun, lalu ia mengedarkan pandangannya pada seseorang yang duduk tepat di depannya, ekspresinya berubah dingin, menurutnya orang yang ada didepannya ini tidak menyenangkan, terlihat sekali dengan caranya memandang Sooyeon sejak pertama bertemu tadi.

“Ehem.. kau, sekarang giliranmu!” Luhan mengingatkannya.

Dengan malas dia melepas Headphone yang bertengger ditelingannya menjadi menggantung di lehernya.

“Myungsoo” Dia meraih tangan Sooyeon, lalu segera melepaskannya dan kembali duduk dikursinya.

“Mari kita makan!” Sungjae, anggota paling muda itu dengan semangat memulai untuk sarapan dipagi itu.

“Hyung! Apa kau mau aku ambilkan makananmu?” tawar Sungjae kepada Myungsoo yang terus menatap selidik kepada Sooyeon .

Sooyeon mengedarkan pandangannya pada Luhan yang sedang menyiapkan makanan Sooyeon dipiring.

Apa yang sama dari mereka? Jika ketiga namja ini mempunyai bentuk mata  yang sama, berbeda dengan namja itu, matanya sedikit lebar, dan apa benar ia yang paling tua? Ah … wajahnya seperti bayi, seharusnya yang lebih tua itu namja didepanku ini, dia angkuh sekali.  Ahhh Tuhan, bantu aku mengingat, kenapa aku disini??

Sungjae mengikuti arah mata Myungsoo karna merasa tawarannya tidak didengar oleh Myungsoo.

“Aku tahu dia cantik, apa memandanginya lebih mengenyangkan dari pada makanan ini?” ucap Sungjae.

“Jangan menatapnya seperti musuh Hyung! Kau akan membuatnya tidak nyaman!” sambung Daehyun.

“Cha, selesai.. ini makanlah, makanan kami memang seperti ini saat pagi, jika kau tidak menyukainya kita bisa makan makanan lain nanti, ini kopi special mu. Kau harus meminumnya sebagai pembuka!” Luhan menyiapkan makanannya, seolah-olah dia adalah seorang putri.

“Kalian, cepat habiskan sarapan kalian.!” Tambah Luhan.

“Baik!” seru mereka bertiga, ah tidak kecuali Myungsoo… dia masih menatap selidik ke Sooyeon.

Dia menyimpan hal besar.

Mendapati Sooyeon yang menyadari tatapannya dan terlihat tidak nyaman, ia menghentikan kegiatannya. Dan beralih pada sarapan paginya.

.

.

Sooyeon benar-benar merasa ia sedang diculik oleh orang-orang di rumah ini. Ia menyimpan dendam pada namja bernama Luhan yang terlihat arogan itu. Bagaimana mungkin ia tidak mengingat apapun , kenapa ia bisa berada di tempat ini? Keyakiannya adalah ia tidak mengenal namja itu sebelumnya.

Selanjutnya, Sooyeon membenamkan diri di selimut tebal kamar itu, ia  baru menyadari jika kamar ini adalah kamar Luhan, karna aromanya sama jika berdekatan dengan Luhan. Ia sangat membenci namja itu, ingin sekali membakar kamar ini sebagai pelajaran baginya, tapi niat itu segera ia urungkan, ah…. Dia terkunci di ruangan ini, jika ia membakar ruangan ini sama halnya dengan bunuh diri. Ia tidak menjamin Luhan akan menolongnya nanti.

Ia mempererat gulatan selimut itu ditubuhnya, pipinya menggembung tanda ia sedang kesal.

CKLEK.

Sooyeon membuka matanya, namun ia masih tidak ingin bergerak dari posisinya. Ia tahu jika itu adalah Luhan. Ia menutup matanya, berpura-pura tidur agar namja itu berhenti mengganggunya.

Melihat Sooyeon yang bersembunyi dibalik selimut, Luhan tahu jika ia tidak benar-benar tidur, ia tersenyum lalu berjalan perlahan mendekati Sooyeon. Lama ia berdiri memandangi gadis itu, dapat dirasakan oleh Sooyeon kehadiran Luhan yang tepat berdiri memandanginya, jika ia tidak ingat kalau ia berpura-pura tidur ia sudah mendorong namja itu hingga jatuh.

Luhan mulai beranjak dan membuka korden jendela kamar itu, jendela yang sebelumnya dibuka oleh Sooyeon namun sayang, cahaya matahari yang ia cari tidak ia temukan lewat jendela itu.

Namun kali ini berbeda, sontak cahaya keluar dari jendela itu. Ya jendela itu telah dibuka oleh Luhan, memang harus Luhan yang membuka jendela itu, karna ternyata jendela berlapis itu bisa dibuka dan mempunyai lapisan kaca yang bisa membuat kita melihat pemandangan luar dengan leluasa, bahkan akan terlihat bahwa tidak ada penghalang kaca untuk melihat itu semua.

Sooyeon merasakan ada cahaya yang masuk ke ruangan itu. Ia bisa merasakan hangatnya cahaya itu, dan itu artinya ia bisa merasakan cahaya matahari lagi.

Luhan kembali mendekati Sooyeon, memberikannya cahaya matahari ternyata tidak cukup untuk membuatnya bangun dari tidur pura-puranya. Ia duduk di pinggir tempat tidur itu, perlahan tangannya bergerak untuk merapikan rambut Sooyeon, Luhan merapikan rambutnya agar ia bisa melihat dengan jelas wajah Sooyeon . Sooyeon merasakan sentuhan tangan Luhan, dan itu membuatnya seperti tersengat listrik, ada apa dengan Luhan? Tuhan tolong aku!!! Batinnya.

Luhan tersenyum lalu tangannya beralih ke wajah Sooyeon , ia menekan kening yeoja itu. Sedikit lama ia bertahan di kening Sooyeon, dan setelah beberapa lama ia meletakkan tangannya di kening itu Sooyeon membuka matanya lebar. Mata itu menyiratkan rasa terkejut seakan ia baru saja mendapati suatu kenyataan yang membuatnya seperti itu.

“Kau sudah bangun Sooyeon_ssi?” Tanya Luhan lembut, ia tersenyum kepada Sooyeon. Di rumah ini hanya LUhan lah yang paling murah senyum. Hanya Luhan yang terus memberikan senyuman kepadanya.

Sooyeon  menatapnya heran, namun beberapa detik kemudian tatapan itu tidak bisa diartikan oleh Luhan, terkejut? Shock? Sedih? Marah? Kali ini Luhan tidak bisa membacanya.

“Kau ingin melihat matahari pagi bersamaku? Aku membangunkanmu lebih pagi agar kita bisa melihat matahari bersama sebelum sarapan nanti, !” tambah Luhan.

Sooyeon menatap jendela kamar itu yang terbuka, ia sempat dibuat kagum dengan keindahan keadaan diluar kamar ini. Namun ia teringat dengan apa yang baru saja ia lihat tadi, kejadian saat tangan Luhan menyentuh keningnya, namun sayangnya itu belum cukup untuk membuatnya mengingat sesuatu yang terjadi padanya, lalu? Nomor siapa yang ia hubungi tadi? Kenapa ia bisa mengingat nomor itu? Nomor itu otomatis keluar dari pikirannya , andai saja ia bisa tersambung dengan nomor itu ia pasti akan tahu  apa yang terjadi sebenarnya. Sooyeon beralih menatap Luhan.

“Aku beri waktu …” Luhan berhenti karna tangan Sooyeon terangkat, ia menunjukkan kelima jarinya yang artinya

5 menit untuk membersihkan diri, Aaaght,,,,menyebalkan sekali batin Sooyeon meneruskan kalimat Luhan, ia menggembungkan pipinya tanda bahwa Sooyeon sudah sangat kesal dengan kalimat itu. Mana mungkin seorang yeoja diberi waktu 5 menit untuk bersih diri. Apa dia pikir dia ini angsa?

Luhan terkekeh, ia berdiri dan melihat Sooyeon beranjak dari tempat tidur itu menuju ke kamar mandi.

Dan seperti sebelumnya Luhan menunggu Sooyeon sampai menit ke lima, dan anehnya Sooyeon selalu tepat waktu di menit kelimanya. Entah apa yang ia lakukan untuk bersih diri. Yang jelas dari awal ia sudah takut untuk melawan Luhan. Dari Luhan yang selalu tahu apa yang ada dipikiran Sooyeon saja sudah membuatnya takut dan sebal kepada Luhan, ia tidak mau terlibat banyak masalah dengannya. Ia hanya ingin bersikap baik dan bisa dengan mudah meminta Luhan untuk mengirimnya lagi ke rumahnya.

Sooyeon  melihat Luhan yang sedang  memperhatikan pemandangan diluar jendela itu, perlahan ia juga melangkah mendekati Luhan, ia tidak ingin sama sekali memanggil namanya, ia yakin Luhan menyadari kehadirannya karna ini sudah lebih dari menit kelimanya.

Luhan menoleh kearah Sooyeon yang telah berdiri di belakangnya, sungguh Sooyeon juga ingin melihat pemandangan itu, hanya saja ia tidak mau mendekati Luhan.

Luhan memperhatikan Sooyeon dari atas sampai ke bawah, memang tidak ada perubahan yang mencolok dari Sooyeon meskipun ia sudah berbesih diri, hanya wajah dan rambutnya saja yang basah, mungkin ia hanya mencuci muka dan sikat giginya, tanpa mandi. Itu yang ada dipikiran Luhan.

“Hemh,,, kau tidak ganti pakaianmu?”  Luhan masih memperhatikan pakaian yang dikenakan Sooyeon. Pakaian yang sama seperti kemarin.

Sooyeon mengernyit Aish… KAU TIDAK MEMBERIKU PAKAIAN! Teriak nya namun hanya terdengar dipikirannya.

‘Kau tidak mempunyai pakaian ganti? Seharusnya kau bilang!”

 Bagaimana mungkin aku membuat persiapan saat diculik? Sooyeon memalingkan wajahnya kesal, kenapa Luhan menanyakan hal bodoh seperti itu? Dia mengurungnya dikamar ini dan tidak bisa menghubungi orang-orang yang ia kenal.

”Baiklah! Tidak usah sampai semarah itu, aku hanya ingin bertanya! “ Luhan beranjak, ia mendekati lemari pakaiannya dan memilih satu dari gantungan pakaian di lemarinya.

“Ini ! kau bisa memakainya!” Luhan menyodorkan sebuah kaos grey miliknya.

“Untuk celana,… ma’af kami semua disini laki-laki, pasti tidak akan cocok jika kau pakai!”

Sooyeon meraih kaos itu, ia ragu memakai pakaian Luhan, ia tidak pernah memakai pakaian seorang laki-laki sebelumnya. Sedetik kemudian ia melirik tajam ke Luhan. Ia bermaksud mengusir Luhan dari kamar itu agar ia bisa mengganti pakaiannya.

“aku tidak akan keluar jika tidak bersamamu, gantilah ke kamar mandi!” ujarnya.

Sooyeon mendengus, ia terus merutuki dirinya sendiri yang selalu memaki Luhan dalam hati. Dan itu sungguh percuma karna Luhan selalu bisa membaca pikirannya.

.

.

 

Sooyeon membuka matanya lebar, ia menghirup dalam  udara pagi. Kesejukan ini jarang sekali ia temukan , ia sangat suka ketenangan, dan disini ia mendapatkan aura ketenagan dari pemandangan indah yang diberikan Luhan kepadanya.

Berkali kali Sooyeon mengambil nafas lalu menghembuskannya, di depannya terdapat pepohonan rindang dan tinggi, namun ia tetap bisa menatap langit luas jika ia berbalik kebelakang, di belakangnya ada hamparan rumput dan beberapa tumbuhan kecil disekitarnya , dia bisa melihat langit luas yang begitu biru dipagi hari.

“Kau menyukainya?” Tanya Luhan.

Seketika wajah Sooyeon berubah, ia lupa jika ia bersama Luhan ditempat itu, sejenak keindahan tempat itu membuatnya lupa dengan kekesalannya pada Luhan. Sooyeon menjadi diam dia sudah tidak ingin merutuki Luhan karna pasti Luhan akan tahu isi pikirannya.

“Apa sudah cukup kau merasakan udara tempat ini? Atau kau ingin aku lebih mendekatkanmu dengan cahaya matahari?”

Sooyeon hanya merunduk, ia memajukan bibirnya dan menggembungkan pipinya.

“Baiklah, sepertinya ini sudah cukup, waktu kita tinggal 15 menit sebelum jam sarapan pagi, aku harus memastikan ke-3 anak itu tidak terlambat!”

Sooyeon menoleh kearahnya, dari ekspresinya ia pasti meminta untuk lebih lama lagi karna ia merasa belum puas melihat pemandangan itu.

Luhan menghela nafas, ekspresi Sooyeon yang seperti itu sedikit membuatnya iba dan ingin tertawa, ekspresi yang lucu.

“Ara. Ara! 10 menit lagi!” ucapnya dan disambut dengan senyum riang oleh Sooyeon.

Luhan mengerjap melihat senyum tulus Sooyeon,  baru kali ini ia melihat senyuman tulus Sooyeon, dia tersenyum hanya karna ia mempunyai waktu lebih untuk melihat pemandangan ini. Sooyeon sedikit menjauh dari tempatnya berdiri, ia berlonjak lonjak senang karna cahaya matahari sudah semakin tinggi dan mengenai tubuhnya. Manusia memang sangat membutuhkan cahaya itu. Dan sunggingan senyum pun selalu menghiasi pipi Luhan.

Luhan melihat Sooyeon  dari tempat nya berdiri. Melihat Sooyeon yang tidak menyadarinya ia berinisiatif untuk melakukan sesuatu pada Sooyeon. Luhan kembali mendekat, kali ini ia lebih dekat dibelakang Sooyeon, ia meraih tangan Sooyeon yang tergenggam di depan dagunya. Sontak Sooyeon terkejut karna tangan Luhan tiba-tiba menyentuhnya, ia ingin menoleh namun Luhan menahannya.

“tetap saja menatap lurus kedepan, pejamkan matamu dan rilexkan tubuhmu, jangan terlalu tegang jika ada didekatku, aku tidak akan menyakitimu!”

Sooyeon menelan ludah dan ia hanya bisa menuruti kata-kata Luhan. Luhan terseyum melihat Sooyeon yang sudah tidak berniat untuk memberontak lagi. Lalu ia merentangkan tangan Sooyeon bersama tangannya.

“Hiruplah udara ini, dan rasakan kemurniannya!”

Sooyeon menurut, ia menarik nafas dalam, dan ia dapat merasakan kehangatan dan kenyamanan. Ia masih merasakan tangan Luhan yang menuntun tangan nya, ia juga masih merasakan hangatnya tubuh Luhan yang memang berada di belakangnya. Namun perlahan ia merasakan tangan luhan tak lagi menggenggam jemarinya, tangan Luhan turun menelusuri lengannya lalu pinggangnya, ia melingkarkan tangannya diperut Sooyeon lalu ia juga dapat merasakan dagu Luhan di pundaknya, ia tidak berani untuk memberontak, entah apa yang menahan tubuhnya untuk memberontak pada Luhan, seperti ada aura yang menahannya sehingga Luhan bisa dengan mudah menyentuhnya, ia hanya takut jika Luhan menyakitinya.

“Udara ini memang memberikan kebebasan padamu Sooyeon_ssi! Namun tidak untuk kebebasanmu dari ku!”

.

.

 

“Udara ini memang memberikan kebebasan padamu Sooyeon_ssi! Namun tidak untuk kebebasanmu dari ku!”

Kata kata itu masih terdengar jelas ditelinga Sooyeon, bahkan saat dia duduk bersama ketiga saudara Luhan di meja makan. Mereka sedang menikmati sarapan mereka, seperti hari kemarin mungkin hari ini ia juga akan dikurung di kamar Luhan. Memang setelah memeluk Sooyeon  selama 10 menit ia bisa merasakan hangatnya tubuh Luhan yang memeluknya, namun tidak untuk perasaan takut karna kalimat Luhan itu.

Dalam waktu 5 menit Luhan mampu membawanya sampai di ruang makan ini sudah menunjukkan jika Luhan mempunyai keahlian lain selain membaca pikirannya. Ditambah lagi sentuhan tangan Luhan yang memberinya sedikit gambaran tentang apa yang terjadi padanya sebelum ia sampai di rumah ini. Sooyeon sengaja memperlambat untuk menghabiskan makanannya, ia bisa melihat jika Sungjae sudah beranjak dari kursinya dan berpamitan pada Gegenya  untuk pergi ke sekolah, disusul dengan Daehyun yang sedikit melirik Sooyeon sebelum meninggalkan mejanya, untuk Myungsoo sepertinya dia masih ingin berlama-lama di meja makannya. Sooyeon tidak mengambil pusing hal itu, ia ingin mempunyai kesempatan untuk berfikir lebih banyak tentang gambaran itu.

Sooyeon memainkan sendok nya, masih ada 3 kali suapan dipiringnya, namun ia masih enggan untuk menghabiskannya. Ia dapat merasakan tatapan Myungsoo yang membuatnya ingin meninju mata itu. Ia tidak ingin melihat orang yang ada didepannya ini, dan akhirnya matanya tertuju pada Luhan yang sudah menyelesaikan makanannya dan melanjutkannya dengan meminum kopi dicangkirnya.

“Kau tidak ke sekolah?” Tanya Luhan, dan jelas itu ditujukan pada Myungsoo.

“Aku tidak ada kelas, lagi pula aku harus istirahat dirumah” jelas Myungsoo seraya meminum susunya.

Luhan beralih menatap Sooyeon, wajah serius yang ia berikan pada Myungsoo seketika berubah dengan senyuman untuk Sooyeon.

“Kau ingin sesuatu Sooyeon_ssi?” Tanya Luhan lembut. Jika Sooyeon berani mengumpat ia sudah mengatakan jika wajah itu palsu, Luhan tidak pernah tulus tersenyum pada Sooyeon.

“Bicaralah… kau tidak pernah berbicara selama bersamaku! Jangan membuatku terus membaca pikiranmu, aku sedang tidak dalam mude ku untuk meladeni pikiran pikiranmu!” tambah Luhan.

Jika kata-kata Luhan sudah sedikit kasar bagi Sooyeon , itu artinya Luhan sudah mulai marah pada Sooyeon.

Memang, Sooyeon tidak pernah berbicara selama ia ada di rumah ini, Luhan selalu tahu apa yang ia pikirkan, itulah kenapa Sooyeon malas untuk mengeluarkan suaranya, ia marah karna ia tidak bisa mengingat , dan ia marah karna ia bersama orang-orang asing yang tidak menjelaskan sedikitpun kejadian yang sebenarnya padanya.

“emm…” Sooyeon hampir mengeluarkan suaranya, beberapa hari tidak berbicara memang membuat tenggorokannya begitu kering, ia meraih segelas air putih dan meminumnya untuk memberikan  sedikit pelumas pada tenggorokannya.

Luhan dan Myungsoo masih menunggu dengan apa yang  akan dikatakan Sooyeon . Berulang kali Sooyeon menggerakkan bibirnya, namun tetap saja ia tidak mengatakan apapun.

Aku ingin keluar dari rumah ini, tempat ini asing bagiku! Kalian orang-orang aneh

Akhirnya Sooyeon kembali berkata dengan pikirannya, dan Luhan kembali harus menggunakan kekuatannya untuk membaca pikiran Sooyeon. Sooyeon  tahu jika Luhan pasti membaca pikirannya, ia masih tidak ingin berbicara dengan Luhan atau satu orang pun dirumah ini, mereka semua orang asing baginya apalagi jika ia merasa jika Luhan menculiknya. Itu membuatnya enggan untuk berbicara pada orang yang menculiknya itu.

“Apa dia belum bisa mengingat sesuatu? Kau belum menjelaskan sesuatu padanya?” Myungsoo angkat bicara. Sontak Luhan menatapnya tajam, Seolah Myungsoo baru saja mengatakan hal yang salah pada Sooyeon.

“Dia memang lambat, seharusnya dia bisa dengan cepat memahami jika ia sudah tidak lagi dilingkungannya” tambah Myungsoo dan membuat Luhan semakin menatapnya tajam.

“Gege! Ja_”

“Aaw!”

Myungsoo menghentikan kalimatnya ketika melihat Luhan sudah menarik tangan Sooyeon dan membawanya pergi dari meja makan mereka. Myungsoo hanya bisa diam menatap Gegenya membawa Sooyeon dengan paksa untuk kembali dikurung di kamarnya. Ia tidak ingin bertengkar dengan Luhan hanya karna membela Sooyeon yang tak kunjung mengingat sesuatu.

.

.

 

BRAK

Pintu itu tertutup dengan keras dan Sooyeon terhempas di tempat tidur itu. Sooyeon menatap Luhan takut, selama ini Luhan selalu ramah padanya, meskipun terkadang kata-katanya mengancam tapi Luhan bukanlah orang yang terlihat kasar.

“Kau  tidak menghargai kami disini? Setidaknya bicaralah pada kami! Jika kau ingin teriak, teriak lah! Jika kau ingin memaki, maki lah ! jangan terus kau menggunakan pikiranmu itu! “

Sooyeon  duduk di pinggiran tempat tidur itu dan hanya bisa menunduk. Ia tidak menyangka jika kediamannya membuat Luhan marah, itu salah Luhan, kenapa Luhan selalu tahu isi pikiran Sooyeon, itulah kenapa Sooyeon tidak pernah mau mengeluarkan suaranya.

“Kau pikir mudah membaca pikiranmu? Huh?! Itu menguras tenagaku!” imbuh Luhan.

Kini Luhan mendekati Sooyeon, namun Sooyeon malah menjauh , Sooyeon berdiri ketika Luhan akan duduk disampingnya.

“Kau takut? Aku membuatmu takut sehingga kau menjauh? “ Luhan masih mendekati Sooyeon yang terus melangkah mundur menghindari Luhan.

“Aku perlu tahu apa yang kau inginkan, jadi katakan sesuatu, aku ingin mendengar suaramu Sooyeon_ssi!”

Sooyeon semakin mundur dan kini langkahnya tertahan pada dinding yang ada dibelakangnya, ia ingin berteriak minta tolong, namun nama siapa yang akan ia panggil? Ia ingin berteriak namun tenggorokannya sudah terlanjur kering untuk mengeluarkan suara. Ia juga tidak tahu kenapa ia sampai tidak bisa mengeluarkan suaranya jika ia sedang marah. Sikap Luhan yang membuatnya takut sekaligus marah membuat Sooyeon membenci Luhan dan tidak mau mengeluarkan suaranya. Sooyeon juga bingung akan hal itu.

Sooyeon hanya merapat pada dinding kamar Luhan, dan membuat Luhan dengan mudah meraih tangan Sooyeon dan menghimpit gadis itu.

“Aku akan membuatmu bicara!”

Luhan menekan tangak Sooyeon, mendekatkan wajahnya pada Sooyeon, hampir menciumnya, namun ia tidak benar-benar akan melakukannya.

Sedangkan Sooyeon memejamkan matanya ketakutan, ia menunduk dan berusaha melepaskan tangan Luhan.

“ANDWAE!” Teriak Sooyeon  dan berhasil mendorong Luhan , ya.. kali ini Sooyeon mampu berteriak karna Luhan hampir menciumnya.

“Aku hanya ingin pergi dari tempat ini, aku ingin keluar dari tempat ini, ini asing bagiku! Aku tidak mampu mengingat apapun, kumohon… kembalikan aku ke tempatku! Kumohon ! Jeball!” pinta Sooyeon.

Sooyeon menangis, ia memohon pada Luhan agar tidak berbuat lebih padanya, jika Luhan tidak menjelaskan keadaan yang sebenarnya, lalu untuk apa ia ada dirumah ini? Jika ia diculik kenapa ia tidak meminta tebusan? Jika memang ia mengenal Luhan sebelumnya.. kenapa Luhan tidak menjelaskan sesuatu?

Luhan masih terdiam, ia mendekati Sooyeon yang terus memintanya untuk keluar dari rumah ini. Kali ini Luhan meraih tangan itu dan kembali meletakkan tanganya di kening Sooyeon. Berusaha memberikan beberapa gambaran yang terjadi di pada Sooyeon sebelum ada di rumah ini.

Sooyeon membuka matanya lebar, ia melihatnya, ia mengingatnya. Tapi kenapa?

Setelah melihat Sooyeon mulai melemas dan menitihkan air mata Luhan melepaskan tangannya.

“Aku di culik?” ucap Sooyeon  lirih.

“Ya, dan jika kau berfikir kami yang menculik mu itu salah besar! Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi memang Kamiah yang menyelamatkanmu dari orang-orang itu! Jadi kumohon menurutlah dengan kami, jangan meminta untuk kembali ke tempat asalmu, karna mereka akan menangkapmu lagi, itu berbahaya untuk mu! “

“Tapi.. kenapa? Kenapa mereka ingin menyakitiku? Aku tidak mengenal mereka, aku tidak punya urusan dengan mereka!”

“Aku tidak ingin menjelaskan itu sekarang, tapi perlu kau tahu.. . kau akan aman bersama kami jika kau menurut pada kami, jangan membuatku menggunakan kekuatan ku untuk membaca pikiranmu karna itu sulit untuk ku! “

“ANDWAE!” teriak Sooyeon.

“AKU TIDAK PERCAYA PADAMU XI LUHAN! Kau membohongiku, kau bisa membaca pikiranku, kau bisa memperlihatkanku dengan semua itu? Apa itu masuk akal? Aku hanya seorang Jung Sooyeon aku gadis biasa, jangan mencoba untuk menipuku dengan alasan seperti itu! Kumohon cepat lepaskan aku dan aku tidak akan menuntutmu, aku yakin aku mempunyai keluarga yang akan khawatir tanpa keberadaan ku, apa kau tidak memikirkan itu? Apa yang kau inginkan dari ku HEUH?” Sooyeon berteriak frustasi, ia menenggelamkan wajahnya di balik lengan yang memeluk kedua kakinya.

“Sooyeon_ssi!” Luhan mendekati Sooyeon, ia sangat tahu bagaimana masa lalu Sooyeon, dengan gambaran yang ia tunjukkan itu ternyata belum cukup untuk membuat Sooyeon percaya bagaimana masa lalunya.

“Kumohon lepaskan aku, aku tidak ingin berada disini, aku ingin bersama keluargaku!” isak Sooyeon, ia masih menyembunyikan wajahnya.

“MENJAUHLAH XI LUHAN!” Bentak Sooyeon saat ia merasakan tangan Luhan menyentuh rambutnya.

“KUBILANG MENJAUH, AKU SUDAH MUAK DENGAN SIKAP BAIK MU YANG PALSU ITU! KAU ORANG JAHAT KAN? KAU PASTI ORANG JAHAT! “ Sooyeon semakin berteriak.

Luhan hanya diam, ia tahu jika keadaannya akan seperti ini, Sooyeon akan terus meminta untuk kembali ke tempatnya sebelumnya jika ia tidak juga menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Gambaran saat Sooyeon hampir dibunuh oleh orang-orang suruhan itu belum cukup untuk membuat Sooyeon percaya bahwa Luhan dan saudara-saudaranya lah yang menolongnya. Jika ia menceritakan semuanya, ia yakin Sooyeon akan menolak untuk bersamanya di rumah ini. Sedangkan dia dan ketiga saudaranya membutuhkannya untuk bersama mereka.

BRAK

Seseorang membuka kasar pintu itu, suara teriakan Sooyeon yang sangat keras mengundangnya untuk datang ke kamar ini.

“SOOYEON NOONA!”   Sontak namja itu mendekati Sooyeon. Sedangkan Luhan ia masih terdiam melihat Sooyeon yang memberontak. Ia tidak pernah menghadapi hal ini sebelumnya, apalagi jika seorang Sooyeon yang memberontaknya.

“Biarkan aku yang mengatasinya!” ucap namja itu yang berhasil mendekati Sooyeon tanpa ada perlawanan dari Sooyeon.

“Ka_au juga menj_auh! a_ku tidak me_ngenalmu!” ucapnya  terisak.

“Tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu! Aku akan membantumu untuk mengingat semuanya noona!’ ucap namja itu lembut dan mengarahkan Sooyeon dalam pelukannya.

“Daehyun_ah! Kenapa kau_?” Kalimat Luhan terhenti ketika ia melihat Myungsoo juga sudah berdiri di belakangnya. Ia sadar jika mereka pasti akan mendengar teriakan Sooyeon.

.

.

.

Luhan, Myungsoo dan Daehyun, mereka bertiga terdiam di ruang tengah, tenggelam dengan pikiran mereka masing masing. Di susul dengan kedatangan Sungjae yang juga kabur dari sekolahnya.

“Ada sedikit kekacauan di sini? “ Tanya Sungjae seketika ia tiba dan melihat ketiga hyung nya duduk terdiam di ruangan itu.

“Sepertinya iya, aku tidak akan bertanya lagi!” Sungjae melempar tasnya dan meloncat melewati punggung sofa hingga akhirnya ia mendarat tepat disamping Luhan.

Luhan meliriknya sekilas, jemarinya masih menempel di kening, melihat tatapan garang Gegenya ,Sungjae memutuskan untuk menghindar dan beralih untuk duduk di samping Myungsoo, dibanding Luhan, setidaknya Myungsoo tidak akan perduli dengan kehadirannya di sekitarnya. Itu lebih baik daripada tatapan garang Xi Luhan

Luhan masih terdiam, Ya… hari ini dia sedikit membuat kekacauan, tidak.. bahkan menurutnya Sooyeon lah yang membuat kekacauan. Ia tahu jika Daehyun bisa mendengar teriakan Sooyeon dimana pun ia berada, jadi pantas jika ia bisa datang secepat itu meskipun sebelumnya ia berpamitan untuk ke sekolahnya. Lalu Myungsoo, dia juga tahu jika Myungsoo adalah adik nya yang paling tidak perduli dengan orang lain selain urusannya sendiri, selama ini ia tidak pernah ingin tahu mengenai Sooyeon, namun teriakan Sooyeon berhasil mengundangnya untuk datang ke kamar Luhan.

Tidak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka, setelah Daehyun berhasil menenangkan Sooyeon, mereka memutuskan untuk membiarkan Sooyeon  tertidur di kamar Luhan.

“Tidakkah sebaiknya kita memberikan kamar untuk Sooyeon? “ Myungsoo memulai pembicaraan.

Kau cukup perhatian dengan ini?  Batin Luhan.

“E’emh,.,.. aku rasa juga begitu Ge!” sambung Sungjae, ia tersenyum polos, Luhan sangat tahu kenapa Sungjae menyetujui usulan Myungsoo, ia pasti akan dengan mudah mengajak Sooyeon untuk keluar dari kamarnya jika ia tidak lagi di kamar Luhan.

Sungjae berhenti tersenyum karna tatapan datar Luhan padanya, ia tahu jika Gegenya pasti tahu jalan pikirnya.

Gege berhenti menggunakan kekuatanmu jika tidak bersama Sooyeon noona! Ucap Sungjae dalam hati. Luhan mendengus, ya … sebaiknya ia tidak menggunakan kekuatannya, jika tidak ingin Hakim Istana mendatanginya ke rumah ini.

Luhan menatap Myungsoo dan Daehyun bergantian, jika ia memberikan kamar untuk Sooyeon ia tidak bisa mengawasi Sooyeon dari ruang kerjanya, itu yang ia pikirkan .

“Kau masih takut tidak bisa mengawasinya? Kau terlalu takut Ge!” imbuh Myungsoo

“Hyung! Kita biarkan Sooyeon noona yang memutuskan untuk bisa tinggal disini!”

“Kenapa ia tidak bisa tinggal disini? Kau tahu alasan kenapa kita membawanya kesini ! dia harus tinggal disini, jika tidak mereka akan mudah menemukannya!” jawab Luhan.

“Baiklah, … tapi mungkin lebih baik kau tidak terlalu keras dengannya, dia akan terus memberontak, dan semakin membencimu!” tambah Myungsoo

“Aku rasa dia membenci kita semua!” tambah Sungjae, ia tersenyum lalu diangguki oleh Daehyun

“Benar, dia akan membenci kita semua !”

Myungsoo dan Luhan terdiam, ya…  itu akan terjadi jika Sooyeon tahu bagaimana masa lalu keluarganya dan bagaimana Ibunya meninggal. Bahkan mungkin Sooyeon belum tahu cerita asli keluarganya, selama ini dia tinggal bersama keluarga angkat yang bersikap buruk terhadapnya, itulah yang membuat kondisi psikisnya kacau, ia sangat menginginkan kasih sayang sebuah keluarga, namun ia tidak pernah mendapatkannya, ia terus meminta untuk kembali ke tempatnya karna ia selalu merasa bahwa keluarganya akan menghawatirkannya, itu  adalah  akibat dari semua harapan yang tidak bisa ia wujudkan sebelum ia hilang ingatan.

.

.

Sooyeon merasakan kepalanya begitu berat, mungkin karna ia terlalu lama tidur, ia ingat ia membentak Luhan dan seseorang memeluknya, lalu ia menangis karna ia khawatir dengan orang-orang yang mungkin mengenalnya  atau ia sebut dengan keluarganya, sebelum ia berada bersama namja-namja itu ia yakin mempunyai keluarga yang menyayanginya, ia juga masih mengingat bagaimana aroma anggrek yang ada dikamarnya,ya.. mungkin hanya aroma anggrek itu yang begitu familiar di ingatannya, ia yakin jika ia penyuka anggrek.

CKLEK. . .

Sooyeon kembali membenamkan wajahnya dibalik selimut tebal itu, seseorang masuk ke kamar setiap pagi untuk membangunkannya, lalu ia akan memberikan waktu selama 5 menit untuk membersihkan diri sebelum akhirnya berkumpul di meja makan untuk sarapan, siapa lagi jika bukan Luhan yang memperlakukannya seperti itu.

Suara langkah itu berhenti setelah menutup pintu kamar, untuk beberapa lama ia tidak lagi mendengar langkah yang mendekat, jika dia Luhan, pasti sudah mendekat dan membuka jendela kamar itu untuk memberinya cahaya, menurutnya Luhan adalah tipe orang yang selalu melakukan hal yang sama setiap harinya, jadi itu sudah pasti akan menjadi rutinitasnya seperti 5 menit untuk bersih diri.

Namun kali ini ia tidak merasakan seseorang yang mendekat untuk membangunkannya, hal itu membuatnya semakin takut pada Luhan, mengingat apa yang ia katakana kepadanya kemarin. Ia takut jika Luhan marah besar dan akan melakukan hal-hal aneh lebih dari sekedar ciuman kepadanya.

“Bangunlah noona, aku tahu kau sudah bangun!” ucap namja itu akhirnya.

Suara baru bagi Sooyeon dan jelas itu bukan suara Luhan, Sooyeon membuka matanya barulah ia mendengar derap kaki yang mendekatinya, sebuah tangan memaksa untuk membuka selimut yang menutupi wajahnya.

“sooyeon noona! “

“Kau?!” Sooyeon  membuka matanya lebar, bukankan itu namja yang ia ingin ia tendang matanya karna selalu menatapnya aneh?

“Kau mengharapkan Gege yang membangunkanmu? Berhentilah untuk bersikap seperti princess kali ini karna aku tidak akan memperlakukanmu seperti itu!” jawabnya.

“aku tidak memintanya!” jawab Sooyeon. Lalu ia beranjak dari tempat tidurnya. ia berjalan gontai ke kamar mandi tanpa sepatah kata dari Myungsoo, entahlah Sooyeon sudah terbiasa dengan kata-kata Luhan yang memberinya waktu 5 menit untuk bersih diri dan ke meja makan untuk sarapan besama ketiga adiknya  lalu melihat ketiga namja itu berpamitan untuk ke sekolah, kegiatan sama yang ia lihat selama ia di rumah ini.

Dan lagi-lagi dimenit kelima Sooyeon sudah selesai dengan bersih dirinya, ia masih memakai kaos yang diberikan Luhan kemarin.

“Ini! Pakailah, !” Myungsoo memberikan kaos untuknya, ditambah celana jeans perempuan.

“Darimana kau mendapatkan ini?”

“itu milik ku! “ jawabnya

“euh!” sooyeon mengangguk, Dia mempunyai celana jeans perempuan? Batinnya

“kecuali celana jeans itu, itu milik teman sekolahku!” tambah Myungsoo yang berhasil membuat Sooyeon tercengang, dia bisa membaca pikiran sooyeon? Sama dengan Luhan?

“Jangan berfikir aku bisa membaca pikiran mu seperti Gege, aku hanya pandai dalam memperkirakan bagaimana beberapa pertanyaan yang ada di pikiranmu noona, cepatlah matahari sudah semakin tinggi dan aku benci itu!” ucapnya.

Sooyeon  memutar matanya jengah Semua orang disini menyebalkan batinnya.

.

.

Berulang kali Sooyeon mengerjapkan matanya, ia terkagum dengan keindahan alam yang ia lihat saat ini, bukannya ke meja makan seperti setiap paginya Myungsoo membawanya pada pinggir danau hijau, yang lumayan luas, dan disebrangnya ia bisa lihat rimbunnya pepohonan di tempat itu. Tapi itu memberikan sensasi ketenangan dalam dirinya. Ditambah  matahari yang mulai menyinari air danau itu memberikan sensasi Kristal yang menyeruak menghiasi danau itu.

Sooyeon melirik Myungsoo yang berdiri disampingnya dan tidak berkata apapun, dapat ia lihat jika namja berwajah dingin itu melihat lurus kea rah danau hijau . Mata sipitnya semakin menyipit karna menerawang dan sedikir terkena sinar matahari yang meninggi.

“Kita _ kenapa kita disini? “ Tanya Sooyeon.

“heum? Kau tidak menyukainya ? “ Tanya Myungsoo

“Aniy.. hanya saja aku sedikit terkejut kenapa tiba-tiba!”

“Kami semua tahu jika kau bosan berada di kamar, jadi kami memutuskan untuk memberikanmu sedikit hiburan untuk melihat ini !”

“Ow..!”

“Jadi, apa kau tidak meminta untuk kembali ke tempatmu lagi? Aku rasa kau akan suka berada di tempat kami!” imbuhnya

“Eh?” Sooyeon terdiam.

Ya… jika dipikir , ini sedikit istimewa jika ia hanya sekedar diculik oleh Luhan dan namja-namja itu.Ia dikurung di kamar Luhan, tapi ia juga di perlakukan dengan baik oleh mereka. Itu membuat Sooyeon kembali ragu jika ia memang sedang di culik. Tapi jika bukan Luhan yang menculiknya kenapa ia tidak menuruti permintaannya untuk kembali? Bukankah itu akan menguntungkan mereka? Karna tidak lagi menanggung Sooyeon dalam rumah mereka.

“Aku hanya khawatir jika orang-orang yang mengenalku mencariku!”

“Jika saja kau tahu kau tidak diharapkan di dunia mu, kau masih ingin kembali ke tempat mu itu?” Tanya Myungsoo yang sukses membuat Sooyeon ingin meninju wajahnya.

“Kata-katamu sangat kasar, mana mungkin ada seseorang yang tidak diharapkan? Aku merasa aku punya keluarga!”

“hemh…” Myungsoo tersenyum simpul lau terdiam untuk waktu yang lama. Ia memejamkan mata merasakan udara segar di sekitar danau.

Sooyeon terdiam,  ia berharap jika Luhan, Myungsoo Daehyun dan Sungjae adalah orang yang ia kenal, ia pernah bertemu dengan mereka sebelum ia hilang ingatan.

“Sooyeon Noona!” teriak seseorang , suara yang terdengar ceria  dan itu pasti milik Sungjae,

Sooyeon menoleh dan mendapati Sungjae yang menggerak gerakkan tangannya, menyapa Sooyeon, sayangnya pandangan Sooyeon terjanggal dengan Sungjae yang baru saja melompat dari atas pohon, disusul dengan Daehyun yang tersenyum padanya. Sebenarnya jika keempat namja itu tersenyum mereka terlihat manis dan tampan.

“Kau ingin melihat seluruh hamparan tempat ini noona? Aku bisa menunjukkannya padamu” tawar Sungjae dengan semangat.

Sooyeon tersenyum simpul “ Aku masih belum memikirkannya! “ jawabnya yang sukses membuat gelak tawa dari Daehyun disusul sunggingan senyum dari Myungsoo.

Mereka tertawa karna ajakan Sungjae secara halus ditolak oleh Sooyeon, jika mengingat bagaimana terkenalnya Sungjae dikalangan sekolahnya, Sooyeon benar-benar gadis yang menyia-nyiakan kesempatan karna tidak segera mengiyakan ajakan seorang Sungjae, dan untuk Sungjae ini adalah kali pertama ada seorang gadis yang begitu tidak tertarik dengannya.

“Heumhh!! Susah juga bersama noona dingin sepertinya hyung!” Sungjae menghela nafas.

Daehyun tersenyum lalu pandangannya beralih pada Sooyeon, “Apa tidur mu nyenyak noona?” Tanya nya

Sooyeon mengangguk, sikap Daehyun memang mirip Luhan , sangat lembut kepadanya, bahkan lebih lembut Daehyun, hanya saja ia masih belum bisa mempercayai mereka semua, ia tidak ingin lengah dengan kebaikan mereka padanya.

“Kenapa kalian membawa ku ke tempat ini? Dan dimana Xi Luhan?” Tanya Sooyeon, ini untuk pertama kalinya ia bertanya , dan mencari Luhan disekitarnya.

“Kau menghawatirkan Gege kami? “

“Ah! Aniy.. aku hanya _”

“takut jika Gege marah karna kami membawamu diam-diam?” potong Myungsoo

Sooyeon tidak menjawab, ia juga bingung dengan alasannya menanyakan hal itu.

“tenang, Gege tidak akan marah! Dia sedang sibuk, seharusnya kami membantunya mengurus mu!” sambung Daehyun.

“Baiklah! Bisa kita mulai sekarang?” Sungjae mengalihkan pembicaraan mereka.

Sooyeon menatap ketiga namja itu bergantian, memulai? Memulai apa? Batin Sooyeon.

Sedangkan ketiga namja itu juga saling menatap dan menganggukkan kepala mereka sebagai tanda bahwa mereka juga siap untuk melakukan sesuatu.

Myungsoo meraih tangan Sooyeon, ia menggenggam tangan itu, Sooyeon yang merasa bingung sempat memberontak dan ingin melepaskan genggaman tangan itu namun Daehyun mencegahnya, ia meyakinkan Sooyeon untuk tenang dan percaya pada mereka, sementara Myungsoo memejamkan matanya Daehyun beralih kebelakang Sooyeon dan mendekatkan tubuhnya dari belakang, tangannya perlahan menutup mata Sooyeon , Sooyeon mengikuti gerakan tangan Daehyun dan memejamkan matanya. Setelah beberapa detik Daehyun menutup matanya dapat ia rasakan jika tangan Daehyun mulai merenggang dari matanya, ia membuka mata perlahan dan sungguh didepannya tidak lagi sebuah danau tapi sebuah tempat yang sepertinya ia kenal.

Ia dapat melihat dirinya didalam pandangannya sendiri, dirinya yang terlihat lebih berantakan dibandingkan saat ini. Ya.. ini seperti yang ditunjukkan Luhan sebelumnya, namun kali ini adalah cerita lain dari masa lalunya.

Dapat ia lihat bahwa ia tinggal dalam lingkungan yang jauh dari kemewahan, untuk menuju tempat tinggalnya ia harus melewati pembuangan sampah , menelusuri jalanan sempit yang naik, jalanan yang hanya bisa dilewati untuk pejalan kaki dan sangat menyiksa jika ia menggunakan sepatu highheels, ia juga melihat ia harus berpapasan dengan beberapa pemabuk sebelum ia sampai di tempat tinggalnya. Yang ia pikirkan bahwa ia mempunyai keluarga yang menghawatirkannya ternyata salah besar, ia terlihat sendiri di rumah itu. Rumah yang sangat kecil bahkan hanya sebesar kamar  Luhan. Hanya ada satu lemari pakaian berpintu dua dengan 3  shaf dan gantungan  di dalamnya. Lalu televisi kecil di sampingnya, terdapat juga meja persegi panjang kecil di depan televisi itu, tak jauh dari meja itu terdapat tempat beras dan beberapa perlengkapan makan lainnya. Ia melihat bahwa Sooyeon yang didalam itu adalah seorang yang mandiri dan sendiri. Terlihat sekali wajah kesepian dan kesedihan pada dirinya.

Ia juga melihat bahwa Sooyeon adalah seorang mahasiswa fakultas Humaniora di salah satu universitas negeri dan mempunyai  pekerjaan paruh waktu di sebuah café dan mini bar. Dan itulah yang membuatnya selalu pulang larut malam.

Sooyeon melihat Myungsoo yang masih memejamkan matanya, lalu ia kembali menatap gambaran di depannya,kali ini Sooyeon dapat melihat ada seseorang mirip Luhan yang sedang berbicara dengannya, ia dapat menyimpulkan bahwa ia benar-benar pernah mengenal Luhan sebelumnya. Gambaran itu begitu cepat dan beralih pada sebuah keluarga dengan seorang ibu, seorang ayah dan dua  anak perempuan.

Gadis yang  paling besar, yang ia yakini adalh dirinya di masa kecil dan satu lagi yang ia yakini pasti adalah adiknya. Namun sayangnya di dalam gambaran yang ia lihat, gadis yang ia anggap dirinya itu selalu mendapat perlakuan buruk dari kedua orang tuanya. Gadis itu selalu menangis, banyak sekali yang ia lihat tentng perlakuan buruk kepada gadis itu, hingga akhirnya ia melihat bahwa gadis itu di buang oleh keluarganya. Ia dalam perjalanan bersama ibu, ayah dan adiknya, namun saat ia tertidur didalam truk itu ia melihat jika ia ditinggalkan dalam keadaan tertidur didalam truk sendirian, hingga akhirnya gadis itu terbangun dan ia sadar jika ia sedang berada di tempat asing, ia mencari ibu, ayah dan adiknya namun tidak menemukan mereka, dapat ia lihat bahwa ia tidak membawa barang berharga sama sekali dan barang-barang keluarganya pun tidak ada bersamanya, hanya ada satu tas ransel yang berisi beberapa pakaiannya, saat itu ia menganggap bahwa ia terpisah dengan keluarganya. Selanjutnya ia dapat melihat jika gadis itu berusaha kembali ke rumahnya dengan meminta pada pemilik truk untuk mengantarkannya kembali ke rumahnya, namun sayang pemilik truk itu justru menolak untuk membantunya, ia meninggalkan gadis itu di pinggir jalan dekat pelabuhan.

Sooyeon meneteskan air mata melihat itu semua, gadis itu benar-benar mirip dengannya, mungkinkan itu dirinya? Seperti itukan kehidupannya ?

Ia melihat lagi jika gadis itu tidak pernah menyerah, ia meminta bantuan kepada orang-orang yang ada di pelabuhan itu dan menceritakan keadaannya, dapat dilihatnya jika ada juga yang memberinya arah untuk kembali ke rumahnya. Hingga akhirnya ia melihat saat gadis itu memohon kepada supir truk  pembawa ikan yang akan menuju ke kota tempat nya tinggal. Gadis itu berhasil meyakinkan sopir truk itu dan ia kembali ke kota tempatnya tinggal, ia ingat jika ia tinggal di Seoul, setelah sampai di Seoul ia segera menuju rumahnya , ia yakin jika orang tuanya pasti khawatir karna ia menghilang dalam waktu yang lama, ia tidak perduli bahwa sebelum hilang ia dan keluarganya berencana untuk pergi ke suatu tempat untuk berlibur, ia berharap keluarganya ada di rumah mereka dan mengharapkan nya.

Sooyeon semakin membanjiri pipinya dengan air mata, ia  sulit percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, ia benar-benar melihat ketidak adilan di masa lalunya. Ia masih melihat gambaran itu.

Dilihatnya gadis itu menangis karna menemukan rumah yang ia tempati sudah kosong dan keluarganya tidak ada di rumah itu. Ia tersimpuh menagis dan berteriak sekuat-kuatnya, ia begitu menyayangi keluarganya, namun kenapa ia ditinggalkan oleh keluarganya?

Sooyeon melemas, dan Myungsoo melepaskan genggamannya, Sungjae segera menyangga kedua lengan Sooyeon agar ia tidak terjatuh. Sementara Daehyun , ia menutup mata Sooyeon dengan tangannya, lalu melepaskannya untuk menutup gambaran-gambaran itu.

Ya… Sooyeon shock dengan gambaran-gambaran itu. Saat ini otaknya berputar keras, gambaran-gambaran itu membuat matanya buram dan ia mengingat sedikit-demi sedikit cerita masa lalunya.

Termasuk saat ia  harus menjalani kehidupannya sampai dewasa tanpa keluarganya, ia harus bekerja dan mendapat beasiswa untuk tetap sekolah, tinggal sendiri di tempat sekecil itu dengan belas kasih orang lain, dan saat ia berusaha melupakan kesedihannya dengan terus bekerja, ia mulai bisa mengendalikan kehidupannya meski tidak dengan luka kepada keluarganya yang meninggalkannya.

Ia mengingat saat-saat pertemuannya dengan Luhan yang selalu menjadi pengunjung di café tempatnya bekerja, ia mengingat bahwa Luhan juga seorang mahasiswa di tempatnya kuliah, ia mengingat bahwa banyak temannya yang menyukai Luhan. Dan ia mengingat ketika ia bertemu dengan orang-orang berbaju hitam yang menyekapnya saat ia pulang kerja, ia mengingat bagaimana orang-orang itu memukulnya, menghajarnya dan saat itu ia begitu pasrah dengan keadaannya, ia berfikir ia akan mati saat itu.ia mengingat ada beberapa orang yang membuat kekacauan hingga orang-orang berbaju hitam itu beralih darinya untuk menghadapi orang-orang itu, namun ia tidak ingat betul wajah orang-orang yang sepertinya ingin menolongnya itu. Dan sampai akhirnya ia bangun dan sudah berada di kamar Luhan.

Sooyeon memengangi kepalanya, rasanya begitu sakit, ia terus terusan memukul-mukul kepalanya. Dan itu membuat ketiga namja itu sedikit kebingungan. Mungkin mereka terlalu terburu-buru untuk memperlihatkan semua cerita masa lalu Sooyeon.

“Noona! Gwenchana?” Daehyun menahan tangan Sooyeon yang terus memukul mukul kepalanya.

“Hentikan noona,!”

“aku mengingatnya, aku mengingat semua!” Sooyeon terisak, ia tidak tahu lagi harus mengekspresikan perasaannya setelah melihat itu semua. Setelah mengingat itu semua rasa bencinya kembali menyeruak.

“Hentikan! Kita kembali ke rumah, matahari sudah semakin tinggi!” kata Myungsoo, ia melihat ke atas.. seperti merasakan akan ada orang lain yang datang ketempat itu. Begitu pulan dengan Daehyun dan Sungjae. Mereka merasakan sesuatu.. dan  jika mereka tetap di tempat itu , kemungkinan terbesar adalah keselamatan Sooyeon

“aku serahkan Sooyeon kepadamu “ ucap Daehyun yang disertai anggukan Sungjae.

Daehyun melihat Sooyeon singkat, ia harus membuat Sooyeon tenang hingga Sungjae bisa dengan mudah membawanya pulang. Dan ia terpaksa membuat Sooyeon pingsan. Dengan begitu Sungjae bisa dengan mudah mengangkat Sooyeon di punggungnya dan ia siap untuk meloncati pepohonan itu.

Daehyun dan Myungsoo menghela nafas saat melihat Sungjae dengan cepat membawa Sooyeon bersamanya.

.

“Pangeran, sedang apa kalian di tempat ini?”

Myungsoo dan Daehyun terdiam, mereka tidak menyangka jika ternyata orang-orang itu begitu cepat menemukannya.

Kedua najma itu berbalik bersamaan, jika Myungsoo memberikan ekspresi dinginnya, Daehyun memilih untuk melempar senyumnya pada orang itu.

“Ah! Pengawal hakim istana, selamat pagi!” sapa Daehyun ramah , dan tidak untuk Myungsoo.

Hal itu dapat dimaklumi oleh orang yang di sebut pengawal hakim istana itu karna memang pangeran Myungsoo mereka begitu dingin dan sedikit angkuh.

3 orang pengawal hakim istana itu membungkukkan badan mereka membalas sapaan Daehyun.

“Apa terjadi sesuatu pangeran? Kami merasakan hal aneh baru saja terjadi di tempat ini!” Tanya salah satu dari pengawal itu.

Daehyun tersenyum, ia tahu jika aura kemarahan bercampur kesedihan Sooyeon lah yang membawa mereka ke tempat ini,.

“kami baru saja berdebat tentang suatu hal dan itu membuat kami marah, tapi itu semua sudah  bisa diatasi!” jelas Daehyun.

Ketiga pengawal itu terdiam, perdebatan memang hal yang wajar tapi apa yang membuat mereka sampai marah, terutama Pangeran Daehyun mereka yang terkenal tenang itu, dan Pangeran Myungsoo mereka yang terkenal tidak akan pernah mau perduli dengan segala bentuk pertengkaran.

“Bukan kah itu wajar? Jangan pernah berfikir kami tidak pernah terlibah pertengkaran!” sambung Myungsoo untuk meyakinkan penjelasa Daehyun.

Ketiga pengawal itu menunduk, mereka tidak ingin memancing kemarahan pangeran pangeran itu. Lalu mereka membungkukkan badan meminta ijin untuk pergi dan melanjutkan tugas mereka.

Setelah memastikan ketiga pengawal itu benar-benar keluar dari wilayah mereka, Myungsoo dan Daehyun kembali ke rumah dan bersiap dengan Gege mereka jika melihat keadaan Sooyeon. Mereka hanya berharap setelah ini Sooyeon bisa berhenti meminta kembali ke tempat nya dan menurut kepada mereka, setelah itu mereka berempat bisa menjelaskan hal lain yang menjadi tujuan mereka membawa Sooyeon selain karna menyelamatkan Sooyeon dari orang-orang yang akan membunuhnya itu.

.

.

Sungjae menahan langkahnya untuk mendekati rumahnya, ia melirik seseorang di punggungnya yang masih tidak sadarkan diri, dari pohon yang ia tumpui sekarang, ia dapat melihat sosok gadis yang ia kenal sedang memasuki halaman rumahnya. Ia memastikan jika gadis itu tidak melihat sekelilingnya, jika ia sadar Sungjae berada tidak jauh darinya, matilah Sungjae.

“Aku butuh bantuan Hyung!” ucapnya lirih, dan ia berharap jika Daehyun bisa mendengarnya. Sehingga mereka cepat kembali ke rumah. Ia tidak bisa mengandalkan Luhan yang mungkin tidak bisa menolak kehadiran gadis itu di rumah.

Sungjae menghela nafas ketika Hyorin gadis yang baru saja datang itu tidak memperhatikan sekitarnya, ia harus menyembunyikan Sooyeon secepatnya.

Ia memperhatikan satu persatu jendela rumahnya, ia memperkirakan ruangan mana yang tidak akan di dekati oleh Hyorin, ia tidak mungkin menyembunyikan Sooyeon di kamar Luhan seperti biasanya, Luhan sedang dalam pengawasan saat ini, segala sesuatu yang berhubungan dengan Luhan pasti ia perhatikan, jika kamarnya sendiri…. Ah Hyorin suka masuk se enaknya ke kamarnya, ia tidak pernah menghormatinya sebagai seorang pangeran hanya karena ia lebih muda darinya.

Ia tersenyum ketika menemukan tempat yang lebih aman untuk menyembunyikan Sooyeon dari Hyorin, tatapannya tertuju pada salah satu jendela di rumah itu, jendela ruangan untuk menyembunyikan Sooyeon.

“Sekarang!” ucapnya dan ia menghilang dengan kecepatannya dari pohon itu.

.

.

 “aku butuh bantuan Hyung, ”

Myungsoo dan Daehyun memastikan pengawal Hakim istana untuk keluar dari wilayah mereka. Mereka harus siap dengan Gege mereka setelah melihat keadaan Sooyeon.

“Sepertinya dirumah kedatangan tamu!” ucap Daehyun pada Myungsoo.

Myungsoo menghela nafas, “ Ini menyusahkan!”  ujarnya

“Ayolah Hyung! Ini demi Virise!” Daehyun merangkul pundak Hyungnya. Lalu ia berlari mendahului Myungsoo untuk sampai di rumah mereka.

“SETIDAKNYA GEGE TIDAK AKAN LANGSUNG MEMARAHI KITA!” Teriak Daehyun kemudian.

Myungsoo kembali menghela nafas lalu ikut berlari menyusul Daehyun.

.

.

.

Sungjae sudah menunggu kedua Hyungnya untuk masuk ke dalam rumah bersama-sama.

“Siapa yang datang?”

“Hyorin!”

“Ah! Gadismu itu?” kata Myungsoo

“Ya!! Hyung! Berhenti mengatakan itu! “ protes Daehyun

“Hwoa! Pantas kau tidak pernah tertarik dengan gadis-gadis di sekolah hyung!” tambah Sungjae

“Aishhh!! Kalian ini! Kkaja!”  Daehyun mendahului mereka dan masuk ke rumah, dia tidak pernah suka jika Hyorin dikatakan sebagai gadisnya, Hyorin lah yang selalu mengatakan itu, bukan dia.

Tawa Sungjae meledak melihat tingkah Hyungnya, Myungsoo hanya terkekeh, memang mereka selalu kewalahan dengan tingkah Hyorin.

.

.

.

Luhan terlihat sedikit terkejut ketika Hyorin tiba-tiba datang ke wilayah pengasingan. Jika Hyorin datang mungkinkah Ratu yang mengutusnya? Apa karena ia menggunakan kekuatannya baru-baru ini? Kenapa bukan hakim istana?

Luhan menatap Hyorin yang sedang melihat-lihat ruangan dapurnya. Ia mengotak-atik mesin pembuat kopi di dapur itu.

“Jadi seperti ini kehidupan kalian di rumah pengasingan? Kalian terlalu dekat dengan manusia..” Hyorin mendekati Luhan, ia menatap lekat mata Luhan.

“Kau menggunakan kekuatanmu untuk membaca pikiran orang lain?” tanya Hyorin,

“Hakim istana yang mengatakannya padaku, ia mencurigai aura mu yang menggunakan kekuatanmu!” tambahnya.

Luhan hanya diam, seperti dugaannya… hakim istana pasti mencurigainya.

“Benarkah? Hemhh… kau tahu jika hakim istana tidak bisa mengambil kekuatanku, ia hanya bisa melarangku menggunakan kekuatanku, wajar jika mungkin aku menggunakannya secara tidak sengaja.!”  Luhan  melemparkan senyum sinisnya.

“Hoah… begitukah? “ Hyorin menjauh dari Luhan, ia merentangkan tangan, memejamkan mata, lalu menghirup dalam udara di sekitarnya.

“Tapi aku tetap merasakan hal yang aneh di tempat ini! “ Hyorin melempar smikrnya

“Kau tidak berusaha menyembunyikan sesuatu kan Tuan Muda XI?” Hyorin berubah menatapnya tajam bola mata itu sudah menjadi biru, itulah tanda bahwa Hyorin sedang menggunakan kekuatannya untuk merasakan aura lain di tempat itu.

Luhan hanya tersenyum menanggapi Hyorin, kali ini ia berharap Sooyeon tetap terkunci di kamarnya. Sangat bahaya jika Hyorin menemukan Sooyeon di rumahnya.

“Whoa! Ada tamu ternyata!” Sungjae masuk terlebih dahulu, ia berusaha mencairkan suasana tegang antara Hyorin dan Luhan.

Hyorin menoleh ke sumber suara itu. Dan tepat  saat  Daehyun dan Myungsoo masuk ke rumah mereka.

“Kalian masih berkeliaran di dunia manusia?” tanya Hyorin.

“itulah tugas kami, penyelaras. Sebenarnya tidak ada bedanya dunia Virise dan dunia manusia.!” Sambung Myungsoo

“Kerajaan Virise lebih suci dan tidak  buruk seperti di dunia para manusia!” jawab Hyorin.

“Bagiku disetiap tempat sama saja, hanya kemunafikan yang sekarang sedang berkuasa di Virise!” Luhan juga ambil bagian.

“Bagaimana bisa pangeran yang dihukum di tempat pegasingan berkata seperti itu? Itu karena calon raja mereka tidak pantas sebagai raja mereka. !” Hyorin menatap tajam mata Luhan.

“Sudahlah Hyung! Bukankah kalian selalu berdebat saat berjumpa! Apa kalian tidak lelah?” Daehyun berusaha melerai mereka.

“KAU! “ Hyorin menunjuk Daehyun.

“Kau selalu bijaksana Pangeran!” potong Myungsoo, ia sudah terlalu hafal dengan dialog itu. Dialog yang bahkan hanya di katakan Hyorin pada Daehyun.

Dia adalah putri Virise, anak dari salah satu penasehat agung di Istana. Wajar jika ia menjadi putri kerajaan dan bertugas untuk mengawasi kegiatan atas perintah istana. Termasuk mengadakan kunjungan sesuka hatinya ke wilayah pengasingan.

Hyorin mendelik karena sikap menyebalkan Myungsoo. Pangeran istana yang paling dia  benci adalah Myungsoo dan Luhan. Kedua putra mahkota itu terlalu angkuh dan sulit untuk dikalahkan. Dialah yang paling sering mengajukan protes ketika mendengar berita Luhan dan Myungsoo lah yang akan menjadi rajanya. Ia lebih memilih Daehyun meskipun ia tahu Daehyun tidak akan menjadi raja. Sedangkan Sungjae…. Dia adalah calon panglima besar Virise.

“Aku ingin melihat-lihat. Aku ingin beristirahat dikamar mu!” Hyorin melangkahkan kakinya menaiki anak tangga di rumah itu. Melangkahkan kakinya dengan ringan hampir tidak menapakkan kakinya di lantai.

“Tidakkah kau berhenti menggunakan kekuatanmu? Kau bisa menginjakkan kakimu di lantai Putri Hyorin” teriak Myungsoo yang hanya ditanggapi senyuman tipis Hyorin.

Hyorin pun mulai menapakkan kakinya di lantai rumah itu. Dan melangkahkan kakinya menuju salah satu ruangan kamar dari ke-4 pangeran itu.

Luhan menatap tajam ke-3 saudaranya, mencari penjelasan tentang apa yang terjadi dengan Sooyeon.

“Aku yang akan menjelaskannya” Daehyun lah yang selalu menjadi penengah diantara ke-4 pangeran itu.

Myungsoo menoleh ke lantai atas rumah itu, itu artinya dia yang harus bersama Hyorin, lagi pula Sooyeon ada di kamarnya, itu artinya dia harus menggunakan pelindung di pintu kamarnya.

“Kalian tidak membutuhkan bantuanku?” tawar Sungjae, sungguh malang nasib pangeran terakhir ini.

“Sungjae_ya, kau bisa mengajak bicara Hyorin sesukamu, ceritakan semua pengalamanmu selama di dunia manusia, mungkin saja dia tertarik untuk mengadakan kunjungan di dunia manusia” Myungsoo berjalan menaiki anak tangga.

“Benar juga, dia harus tahu keadaan dunia manusia, dia terlalu angkuh dan selalu mengatakan Virise lebih baik” Sungjae berlari kecil menaiki anak tangga menyusul Myungsoo.

Daehyun meninggalkan Luhan terlebih dulu untuk keluar rumah, mereka lebih aman jika berbicara jauh dari Hyorin, melihat Daehyun berlari kecil keluar, Luhan pun menyusulnya.

.

.

Hyorin meletakkan tangannya selaras dengan dinding yang ia lewati, ia selalu bermain main dengan lukisan lukisan yang terpajang di rumah ini. Myungsoo mengikutinya dari belakang, begitu juga dengan Sungjae, dia berjalan dari ruang perpustakaan kecil milik Luhan, memasuki ruangan Luhan dan  menyentuh segala ornament kuno milik Luhan yang ia dapat dari dunia manusia.

“Kalian mengikutiku karena takut aku mengetahui sesuatu yang kalian sembunyikan?” pertanyaan itu memecah keheningan diantara Myungsoo, Sungjae dan Hyorin.

“Kau selalu mengacau tempat kami, kami hanya ingin memastikan benda yang kau sentuh tidak rusak” Jawab Myunsoo dingin.

“Heh… ini semua dari dunia manusia, tidak ada yang berharga”

“Seharusnya kau mengetahui lebih, bagaimana dunia manusia, kau pasti ingin berkunjung kesana” Sungjae mendekat lebih cepat di depannya sebelum Hyorin menyentuh sebuah guci besar dengan ornament naga yang didapat Luhan dari China.

Hyorin menatap lekat Sungjae yang kini hanya berjarak 30 cm di depannya.

“Kau menghalangiku untuk melihat Guchi itu”

“Kau mau mendengar ceritaku tentang dunia manusia?”

“Tidak”

“Kau akan menyesal jika tidak mendengarnya”

Hyorin menatapnya tajam, “ Begitukan Panglima?”

“Yaa… kau juga tahu bahwa aku adalah Panglima besar Virise, apa kau meragukan pengawasanku tentang suatu hal? Tentu aku mempunyai kemampuan untuk menilai sesuatu yang baik dan buruk” Sungjae membanggakan diri dengan senyuman tengilnya.

SREET

PYAR

Hyorin tersenyum simpul, tangannya baru saja mengeluarkan sinar yang bisa merusak Guchi di belakang Sungjae.

“Kau merusaknya? Aaaahhhh Gege pasti marah” Sungjae menatap pecahan guchi itu miris.

“Berhentilah merusak dan istirahatlah di kamar Gege”  Myungsoo beranjak dari tempat itu, ia sudah malas menghadapi Hyorin yang suka sekali merusak perabotan di rumahnya.

“Kau tidak membiarkanku melihatnya?” pertanyaan itu sontak membuat Myungsoo berhenti melangkahkan kakinya. Entah kenapa pertanyaan itu tertuju padanya, bukan karena Sungjae menutupi Guchi itu, tapi pada sesuatu yang mereka sembunyikan.

‘Kau sudah merusaknya,untuk apa kau melihatnya”

“Kau tahu yang kumaksud bukan guchi itu” Hyorin menatap punggung Myungsoo tajam, matilah kalian.

Sedangkan Sungjae berusaha sebisa mungkin untuk tenang. Saat ini dia harus mengakui bahwa karakter Hyorin yang selalu ingin tahu dan selalu mendapatkan apa yang ia mau benar-benar membuat mereka kerepotan. Ia seharusnya tahu bahwa Hyorin akan mengetahui seseorang yang mereka sembunyikan.

Myungsoo tersenyum simpul lalu berbalik

“Aku tidak mengerti dengan apa yang kau maksud”

“Oh… ayolah, kau melapisi pintu kamarmu dengan kekuatan pelindungmu”

Hyung… kita… gagal

Seperti itulah pesan yang dikirimkan Sungjae pada Daehyun.

.

.

Kini hanya ada Daehyun dan Luhan, jangan lupakan tatapan tajam Luhan yang menuntut penjelasan pada Daehyun.

“Kami berusaha mengingatkan Sooyeon dengan masalalunya”

“Apa yang terjadi padanya?”

“Dia pingsan”

“Apa?” Luhan terlihat terkejut karena Sooyeon pingsan, dia adalah orang selalu khawatir dengan keadaan Sooyeon.

“Itu adalah proses dimana ingatannya akan segera kembali, jadi kumohon tenanglah”

“Aku sudah memperingatkan untuk melakukannya perlahan-lahan”

“Kita tidak bisa melakukan itu, hakim istana sudah curiga dengan daerah pengasingan, dan dengan kekuatan yang sering kita keluarkan. Sooyeon harus tahu siapa dirinya dan semua yang harus ia hadapi”

Luhan menutup sebelah matanya, sebenarnya dialah yang belum siap dengan apa yang akan terjadi dengan Sooyeon setelah ia tahu bahwa Sooyeon harus menjadi seorang pembebas mereka.

Kemungkinan pahit yang harus ia hadapi adalah, Sooyeon harus kehilangan nyawanya. Dan ia tidak mungkin sanggup dengan konsekuensi itu.

Hyung… kita gagal…

Daehyun terperangah, sebuah suara masuk di telinganya.

“ Ge, kita harus kembali”

Luhan menatap Daehyun tajam, itu artinya Sooyeon dalam masalah.

.

.

Saat ini kedua pangeran itu tidak mungkin melarang Hyorin untuk membuka pintu kamar Myungsoo.

Mata Hyorin sudah berubah biru, dan  itu artinya dia sedang menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan pelindung pintu kamar itu.

“ Apa yang kau lakukan?”

Hyorin menghentikan aktivitasnya, cukup lama ia menembus pintu itu, meskipun ia tidak menghancurkan pelindung itu, setidaknya ia tahu apa yang sedang mereka sembunyikan. Namun sampai saat ini, ia tidak bisa mendiskripsikan apa yang ada di dalam kamar itu.

“Aku hanya merasa ada bau manusia  yang menempel di rumah ini, apa kalian menyembunyikan seseorang yang bukan dari kerajaan Virise?”selidik Hyorin.

Luhan tersenyum tipis, seharusnya yang ia rasakan bukan bau manusia, tapi bau seorang Vero, apa tinggal lama di dunia manusia membuat Sooyeon begitu lekat dengan manusia? Sooyeon bukan manusia, dia seorang Vero.

“Tidak ada manusia di tempat ini, kau tahu sendiri resiko seorang manusia yang masuk di daerah pengasingan” jawaban Luhan membuat Hyorin sedikit merendahkan kewaspadaannya. Memang benar, siapa yang bisa menembus daerah pengasingan kecuali orang orang virise, apalagi manusia biasa.

“AAichh,,, tn putri, kau lupa kami juga sering bersenang senang di dunia manusia, coba kau cium bauku…bau manusia bukan?” Sungjae mendekat ke Hyorin dan memaksanya untuk mencium bau bajun yang ia kenakan.

Hyorin menatap pintu itu lekat, “Buktikan jika kalian tidak menyembunyikan apapun, atau hakim istana yang akan turun tangan”

Ke-4 pangeran itu hanya saling pandang sedangkan Hyorin sangat menunggu pengakuan dari ke-4 pangeran itu.

Bagaimana jika Hyorin mengetahui keberadaan Sooyeon, dan ia juga yang akan membunuh Sooyeon.

Nyawa Sooyeon tetap dalam masalah.’

.

.

Hyorin masih memaksa untuk tahu apayang ada di dalam kamar yang dilindungi itu. Mata birunya berubah menjadi lebih lebar dan menatap tajam ke empat pangeran itu.

CEPAT TUNJUKKAN  ATAU  HAKIM ISTANA YANG AKAN TURUN TANGAN”

 

Kali ini Daehyun lah yang berperan penting untuk menenangkan Hyorin . Matanya memanas seketika ketika ia melihat siapa yang ada di kamar Myungsoo, Jung Sooyeon, ya dia Jung Sooyeon yang sedang terbaring di tempat tidur itu. Bukan karena seorang Jung Sooyeon, tapi karena dia adalah seorang putri Vero, satu satunya keturunan Vero sang penghianat Virise.

Myungsoo masih mempertahankan pelindungnya dalam ruangan itu, ia tidak mungkin menghilangkan pelindung itu sementara Hyorin sudah berusaha untuk menerkam Sooyeon. Ya… dia mungkin putri Virise yang dididik untuk membunuh setiap penghianat, termasuk Sooyeon, sang putri Vero.

Jika Hakim istana mengetahui kekuatan besar yang dikeluarkan Hyorin di pengasingan, kemungkinan besar dia akan terundang untuk datang ke rumah mereka. Dan itu tidak mungkin terjadi untuk saat ini, tidak disaat mereka belum bisa membuat Sooyeon aman untuk menginjakkan kakinya di Virise.

“Noona, bisakah kau tenang? “ Daehyun memegangi pundak Hyorin, butuh beberapa detik untuk Hyorin menurut pada Daehyun.

Sedangkan Sungjae yang sedari tadi memegangi lengan Hyorin, sudah mulai melemahkan pegangannya dan melepaskannya.

Luhan segera mendekati Sooyeon setelah Hyorin dibawa keluar dari kamar itu oleh Daehyun.

Ia mendekati Sooyeon yang masih juga belum sadarkan diri.

“Kita harus secepatnya membawanya ke Virise. Disana kita bisa  melindunginya. Kita harus segera keluar dari tempat pengasingan ini, “ Myungsoo duduk samping tempat tidur itu. Sementara Luhan masih menatap Sooyeon miris, membawa Sooyeon masuk ke Virise, sama halnya membuat dia menjadi seorang Vero yang dikenal dengan penghianat oleh rakyat Virise. Dan itu artinya dia dan saudara-saudaranya harus meminum darah murni Sooyeon untuk bisa terbebas dan bisa kembali ke Virise.

“Kita harus meminum darahnya”

“Kau tahu, aku mungkin berfikir kita mirip makhluk rendahan jika kita meminum darahnya” jawab Luhan, ia membelai lembut puncak kepala Sooyeon. Jika boleh jujur, dialah yang paling tidak menghendaki untuk meminum darah Sooyeon. Mencarinya dan mendekatinya di dunia manusia membuatnya menaruh hati pada gadis itu. Ya… sebelum ia membawa Sooyeon ke rumah ini, dia memang sudah lama mengenal Sooyeon dan melindunginya di dunia manusia. Dia menyukainya, bahkan menyayanginya, atau mungkin semakin lama dia menjadi mencintai seorang Jung Sooyeon . Dia tidak mungkin menggunakan seseorang yang ia cintai itu sebagai alat agar dia bisa menjadi raja Virise.

“Kau terlalu pengecut Ge”

.

.

Daehyun menggiring Hyorin ke hutan dekat danau, perbatasan wilayah pengasingan dan Virise.Kini ia sudah bisa menetralkan kekuatannya yang ingin menerkam Sooyeon. Jiwanya buas, itulah Hyorin ketika mengetahui seorang penghianat, apalagi keturunan Vero. Jiwa itu menurun dari sang ibu yang merupakan musuh utama keturunan Vero dari kastil terlarang.

“Kau tahu jika seorang Vero adalah pembebas kami dari hukuman kami, kami membutuhkan dia untuk kembali ke Virise, jadi kumohon biarkan kami mengatasi ini” pinta Daehyun, baru kali ini ia memohon pada Hyorin. Dia berharap Hyorin mampu melihat permohonannya ini dari hati kecilnya, bahwa pangeran pangeran virise ini harus kembali ke Kerajaan mereka dan memimpin Virise.

Hyorin menatap Daehyun lekat, mencari sebuah kebohongan dari matanya, namun sayangnya ia tidak bisa menemukannya, menatap mata Daehyun sama halnya dengan masuk kedalam halusinasinya. Hyorin terdiam, Ya… memang itulah yang mereka cari, mencari pembebas mereka, dan kini mereka menemukannya. Seorang keturunan terakhir Putri Vero. Satu-satunya yang ia sayangkan kenapa ia tidak berfikiran sejauh ini, saat mereka menemukan seorang Vero, itu artinya mereka siap untuk kembali ke Virise.

Kutukan yang diberikan Putri Vero di hari pembantaian itu membuat keturunan sang raja menjadi sosok yang menakutkan pada saat usia mereka beranjak dewasa. Satu persatu dari mereka akan menjadi sosok pembunuh yang buas , jika mereka tetap berada di Virise, Hakim istana takut mereka akan memangsa satu persatu rakyat Virise, mereka di asingkan dan Luhan tidak diperbolehkan menggunakan kekuatan nya  selama berada di pengasingan. Hakim istana selalu mengawasi mereka dan akan mengirim utusan jika ia merasakan aura kekuatan Luhan, kenapa hanya Luhan yang tidak diperbolehkan menggunakan kekuatannya? Karena Luhan adalah putra mahkota dari permainsuri keturunan China yang sangat bersahabat dengan Putri Vero, sang permainsuri yang juga di hukum karena berteman dengan penghianat membuatnya nyaris mendapatkan hukuman yang sama, sayangnya Sang Raja masih berfikir jauh jika harus membiarkan Hakim istana membunuh Putra mahkotanya, sudah cukup ia mendapat kutukan yang sama dengan putra-putranya yang lain, namun ia tidak ingin putranya itu dibunuh, teman sang penghianat adalah Permainsuri, bukan putranya. Banyak hal yang membuat Sang Raja melakukan banyak cara agar Luhan bisa selamat dari hukuman Istana, termasuk mengirimnya ke tempat pengasingan dan membiarkan Hakim istana melarangnya untuk tidak menggunakan kekuatannya. Sedangkan ke-3 putranya juga harus diasingkan karena mendapat kutukan yang sama dengan Luhan, hanya saja mereka diperbolehkan untuk menggunakan kekuatan mereka.

Hanya meminum darah sang Pembebaslah mereka bisa terlepas dari kutukan itu. Itu yang tertuliskan pada nasib mereka sebagai putra mahkota Sang Raja.

“Kembali ke Istana adalah tujuan kami , mengertilah Noona” Daehyun menggenggam erat kepalan tangan Hyorin.

“Cepat lakukan, jangan sampai Hakim Istana mencium keberadaan Vero itu, kau tahu sendiri dia akan membuat kekacauan dan dengan segala cara menghentikan Luhan untuk meminum darah Sang pembebas”

“Dan kau tahu persis jika Hakim Istana membunuh Vero itu, kami juga tidak bisa kembali ke Istana”

“Heoh.. Sang raja memang merencanakan itu semua, tidakkah kau iri karena Sang raja sangan menyayangi Luhan?”

“Dia menyayangi semua Putranya, hanya saja ia tahu sebuah ketidak adilan akan menerjang perjalanan Gege untuk menjadi Raja, Sang Raja hanya mencintai sebuah keadilan dan kearifan kepemimpinan”

“Omong Kosong! Sang Raja sudah mangkat dan sekarang Virise dipimpin oleh Ratu, ibu kalian … kau pasti tahu apa yang akan dilakukan Ratu untuk menyingkirkan keturunan Permainsuri Xi,”

“Sejak kekuatan jahat menguasainya, dia bukan ibu kami, dan kemungkinan besar kami juga masuk dalam daftar orang yang harus ia singkirkan dari Virise” Ucapan terakhir Daehyun mampu membuat Hyorin terdiam.

Ya… apalagi yang terkuak di sini?

Sejak pembantaian kastil terlarang, pembunuhan permainsuri Xi yang tak lain adalah ibunda Luhan, Putra Mahkota diasingkan, Luhan yang terancam terbunuh, dan Sang Raja yang telah Mangkat. Dan sekarang Virise bukan lagi kerajaan kedamaian seperti dulu kala. Kedamaian dibawah pengaruh kekuasan Ratu Virise yang sekarang, bukanlah kedamaian yang di inginkan.

Ia merebut paksa kekuasaan Virise, dan Sang Ratu sangat tergila-gila dengan keabadian, nyatanya dia bukanlah makhluk Virise yang abadi, dia harus menjadi Ratu agar dia abadi dan menguasai seluruh Virise, merauk semua kekayaan dan kemakmuran yang disediakan Virise. Kenapa ia bukan seorang yang abadi? karena dia adalah manusia biasa yang diangkat Sang Raja menjadi permainsurinya, melahirkan Putra Mahkota yang sempurna, ketamakan membuatnya menginginkan lebih dari sekedar kenikmatan yang ia terima selama menjadi Permainsuri, ia tidak ingin seperti manusia lainnya yang bisa tua dan bisa meninggal setelah umur menggerogoti mereka. Ia ingin menjadi Virise seutuhnya yang abadi. Jangan berfikir Sang Raja meninggal dengan wajar, karena Sang Ratu lah yang menyebabkan beliau meninggal. Sama halnya dengan pembebas, meminum darah Sang Raja Virise adalah hal yang membuatnya hidup abadi dan mengambil alih kekuasaan, sementara semua putra Mahkota sedang dalam kutukan dan pengasingan.

“Kau mengetahui semuanya Noona, apa kau juga ingin kami tersingkir dari Virise? Sedangkan Virise adalah milik kami”

“Apalah arti seorang pengabdi kerajaan seperti keluargaku? Bagi kami siapapun pemimpin Virise jika mereka bisa memberikan apa yang kami inginkan, kami tidak mempermasalahkan siapapun itu, meskipun itu adalah Ratu” Hyorin tersenyum sinis.

Tentu saja hal itu membuat Daehyun sedikit geram. Pasalnya, mereka sulit sekali menemukan abdi setia Virise, yang benar benar menjunjung kedamaian dan membela rakyat Virise.

Banyak yang berubah dari Virise, banyak hal kompleks yang harus dijelaskan, selain sebab diasingkannya para pangeran Virise, dibalik itu semua tak lepas dari tidak politik kekuasaan sang Ratu dan beberapa pendukungnya. Keabadian, kekuasaan, kenikmatan, itulah yang mudah sekali membutakan seorang penguasa, membuatnya melakukan banyak cara untuk mendapatkannya, dan mengorbankan banyak hal untuk mempertahankannya.

“Kami tetap akan kembali ke Virise, dan apapun yang akan kau laporkan kepada Hakim Istana, itu semua tidak akan menghalangi kita untuk tetap kembali ke Virise”

Hyorin tersenyum sinis, sudah cukup baginya untuk berdebat dengan Daehyun. Ini adalah pilihannya untuk melaporkan kunjungannya pada Hakim istana atau tetap bungkam dan menanti kedatangan para Pangeran ke Istana Virise.

Hyorin menatap langit perbatasan itu. Sekilas ia melirik Daehyun yang menunggunya untuk pergi dari wilayah pengasingan.

“Sudah cukup kunjunganmu kesini Noona” jelas Daehyun yang itu berarti dia meminta Hyorin untuk cepat pergi.

“Baiklah, kau sangat jahat, kau mengusirku …aku akan mengatakannya pada Hakim Istana”

“Tidak masalah asalkan bukan tentang Vero ku”

“Heh, Vero mu? Vero kalian… sayang sekali Vero itu hanya satu”

HAP.

Hyorin berlari secepat kilat, dalam waktu sekejab ia sudah ada di udara dan semakin menjauh dari wilayah pengasingan.

.

.

Sungjae menatap kedua laki-laki itu bergantian, sudah sangat sering hal ini terjadi diantara Gege dan Hyungnya. Siapa lagi, Luhan dan Myungsoo. Dua orang berbeda ibu itu memang sering membuat perang dingin dan seketika aura di sekitarnya pun menjadi hening menakutkan. Ia melipat kedua tangannya, sungguh membosankan memang melihat perang dingin diantara Myungsoo dan Luhan ini. Tapi ia tidak akan menyuarakan pendapatnya sebelum mereka memulai bicara satu sama lain. Kali ini ia sangat berharap Daehyun cepat menyelesaikan urusannya dengan Hyorin dan kembali ke rumah. Menemaninya melewati waktu membosankan untuk menonton perang dingin kedua Pangeran itu.

“Kau yang harus mengatakannya, aku rasa kau yang bisa melakukannya” Myungsoo angkat bicara.

Ya, mereka masih memperdebatkan Sooyeon. Keberadaan Sooyeon sebagai seorang Vero sudah terbongkar oleh Hyorin, itu artinya mereka harus segera menggunakan Sooyeon sebagai pembebas dan kembali ke Virise. Luhan memang tahu betul keadaan yang sebenarnya, keberadaan sang pembebas bukanlah suatu anugrah bagi mereka, namun juga musibah bagi mereka, jika mereka tidak juga menggunakan pembebas itu, maka Ratu akan melakukan berbagai cara untuk membunuh sang pembebas. Namun jika mereka menggunakan Pembebas, itu juga sama halnya membunuh Sooyeon dan mengambil darahnya. Bukankah sangat konyol jika semua hal yang bersangkutan dengan mereka harus berbau darah. Mereka bukan keturunan pemangsa ataupun vampir yang selalu menggunakan darah sebagai makanan mereka. Mereka adalah makhluk yang lebih istimewa dibandingkan manusia, mereka makhluk mulia di Virise. Kerajaan dibalik dunia manusia, kerajaan yang dibangun dengan segala kedamaian dan kemakmuran didalamnya. Bisa dibilang mereka itu adalah makhluk immortal dengan tingkatan yang hampir sama dengan bangsa Elf atau apapun itu, yang jelas mereka bukanlah pemangsa. Mereka makhluk immortal yang juga bersahabat dengan sihir dan kekuatan khusus.

Namun kali ini, ada beberapa kejadian yang membuat mereka meminum darah untuk mendapatkan tujuan mereka, Keabadian yang diinginkan sang Ratu adalah salah satu kejadian bersejarah dimana makhluk virise meminum darah untuk mendapatkan keabadiannya. Dan saat ini… ke-empat pangeran itu juga harus meminum darah seorang Virise untuk terbebas dari kutukan mereka.

Meminum darah adalah hal rendahan yang pernah dilakukan oleh makhluk Virise, hal itu yang kini sedang dipikirkan oleh Luhan. Bukan hanya itu, itu artinya Sooyeon benar benar akan kehilangan nyawanya.

Luhan memejamkan matanya sejenak. Dilihatnya Myungsoo yang masih menunggu keputusannya.

“Aku tahu, kita memang rival dalam hal Kekuasaan Virise, tapi tetap saja kau adalah yang tertua diantara kami, jadi aku tetap menghormatimu sebagai Gege kami” Myungsoo masih berusaha menggerakkan hati Luhan untuk segera mengambil keputusannya.

“Tidak masalah jika kau memutuskan untuk tetap membiarkan Sooyeon noona tetap hidup dan kami tidak meminum darahnya, bukankah tidak masalah pada kami? Kami masih mempunyai kekuatan kami meskipun kami belum terbebas dari kutukan itu, tapi kau? Kau akan tetap dalam hukuman ini, atau menjadi manusia adalah pilihan terakhirmu”

Luhan menatap Myungsoo. Menjadi manusia? Itu adalah hal yang selama ini ia pikirkan, melupakan bahwa dirinya adalah seorang Virise dan hidup sebagai manusia, dan tidak ada keabadian didalamnya.

Ia bisa meninggal seperti manusia, makan makanan seperti manusia tanpa ada makanan khusus seperti makhluk Virise pada umumnya, bekerja seperti seorang manusia dan mencintai Sooyeon sebagai seorang manusia. Sayangnya Sooyeon kini ada di tempatnya, ia tidak mungkin memikirkan keegoisannya.

“Kita bisa meminum darahnya tanpa membunuhnya” Luhan tersenyum simpul setelah ia menemukan cara untuk mengambil seluruh kekuatan yang dimiliki Sooyeon sebagai Vero dengan mengambil sedikit darahnya, serta memulihkan kembali tenaga Sooyeon setelahnya.

Myungsoo terdiam, ia memutar otaknya. Memahami inti dari keputusan Luhan. Sungjae mendongak mendengar keputusan Luhan mengenai Sooyeon.

Ya.. itu adalah hal yang mereka inginkan, yang bahkan tidak terlintas pada mereka. Mengambil darah Sooyeon untuk mereka ber-empat adalah hal yang bisa menyerap semua kekuatan Vero dalam diri Sooyeon, itu bisa saja membunuhnya.

“Gege, Hyung… kalian tahu apa yang kupikirkan?” Sungjae berdiri, ia tersenyum simpul, rasanya ia baru saja menemukan cara ampuh untuk memanipulasi pembebasan mereka.

“Cara itu sedikit kotor” Daehyun meloncati sofa di depannya dan kini ia sudah duduk di depan Luhan. Myungsoo masih terdiam. Bagaimanapun, mereka juga tidak bisa mengorbankan Sooyeon begitu saja untuk kebebasan mereka. Tapi resiko besar yang akan mereka hadapi adalah mereka harus melewati satu rintangan lagi untuk terbebas.

“Kita harus meminta bantuan seorang penyihir untuk melakukannya?” Myungsoo dapat membaca rencana Luhan.

Luhan mengangguk.

“Hakim istana adalah satu-satunya orang yang dipatuhi oleh penyihir Virise, penyihir itu tidak akan membantu kita”  jelas Daehyun.

“Ohh…. kau benar Hyung… mana bisa kita meminta bantuan pada mereka?”

Luhan menatap Myungsoo, sebuah maksud dalam tatapan itu bisa terbaca oleh Myungsoo.

“Siapa bilang kita akan meminta bantuan, untuk tidak mengorbankan banyak pihak, kita harus bermain sedikit kasar” ucap Myungsoo yang serentak ditanggapi oleh tatapan tajam Sungjae dan Daehyun.

Mereka menatap Luhan dan Myungsoo secara bergantian. Kedua orang itu memang serin berperang dingin, tapi juga memiliki ikatan batin yang kuat sehingga mereka bisa berkomunikasi dengan mudah hanya dengan saling menatap satu sama lain. Mereka tidak akan menyangka bahwa hal itu yang dipikirkan kedua Hyungnya.

“Setidaknya kita tidak membunuh nyawa yang tidak bersalah, apa salahnya sedikit berbuat kasar dan yang terpenting kita bisa kembali ke Virise dan membawa Sooyeon kembali ke Virise, mempertahankan keturunan Vero, dan menyelamatkan Virise dari kekelaman Sang Ratu”

.

.

.

Sooyeon samar-samar mendengar perbincangan ke-4 pangeran itu, tanpa mereka ketahui, Sooyeon telah tersadar dan mendengar semua percakapan mereka. Ia sama sekali tidak memahami apa yang mereka bicarakan. Tentang Virise, Vero? Sang ratu? Namun satu hal yang ia pahami, nyawanya dalam bahaya. Itu yang ia tangkap dari pembicaraan yang ia dengar.

Sooyeon menahan nafas dalam-dalam ketika Luhan menyadari keberadaannya. Luhan melirik singkat ketempat Sooyeon bersembunyi. Ia tersenyum simpul ketika ia tahu Sooyeon sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Dan ia yakin ke-3 saudaranya juga menyadari keberadaannya.

“Memang sudah seharusnya ia mengetahui takdirnya” pungkas Luhan.

Sungjae melangkahkan kakinya dan dalam hitungan detik ia sudah ada di depan Sooyeon. Membuat Sooyeon seketika ingin mengeluarkan jantungnya yang kini sudah tercekat di pangkal tenggorokannya. Ia terkejut bukan main.

“Ikutlah bersama kami noona, jangan bersembunyi seperti ini” Sungjae menuntun Sooyeon untuk bergabung bersama mereka.

.

.

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Apa maksud kalian dengan meminum darahku, penyihir dan Virise? Apa yang akan kalian lakukan padaku?”

“Kami harus meminum darahmu Noona”

TBC…

 

Ahahaha…

ini yang aku bilang ff lama yang mau aku lanjutin lagi. Kalian nggak capek kan bacanya? ada beberapa yang aku ubah sih dari sebelumnya. Ini aku buat satu Chapter…

Aku harap kalian bingung biar aku bisa bikin penjelasannya tentang mereka < hihihihi

 

Dann….

xie xie

31 thoughts on “Princess | One

  1. Kenapa gak dilanjut kak? Ff nya keren banget padahal🙂 suka sama sifat luhan gege,tolong lebih banyak sweet moment nya,makasih kak,keep writing! Fighting!!!

  2. Waahh!! Aku suka jalan ceritanya.. Maaf baru baca hehe, seru huhuhu ga ngebosenin ceritanya bikin penasaran>//< sooyeon kasian banget di dunia manusia.. Pastinya sooyeon ada di dunia manusia biar keturunan vero itu gapunah yaaa.. Tapi aku penasaran tentang vero dan dunia virise, tapi belum dapet jawaban sepenuhnya.. Hehe terus semangat yaaa, aku tunggu kelanjutan ff yang menyenangkan ini;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s