The Princess’ Tale (2nd Shoot)

TPT-6

Author : Queenara

Title : The Princess’ Tale

Genre : Romance, Friendship, Family

Rating : PG – 15+

Lenght : Two Shoot

Cast :

Jessica Jung | Luhan | Kim Jongin | Yoon Bora

Kwon Boa | Wu Yifan | Kwon Yuri

Poster by myself

oOo

Jessica terbangun pada pukul 8 pagi saat tiba-tiba seorang pelayan bernama Soyou masuk dan langsung membungkuk kepada Jessica yang masih setengah sadar.

“Tuan putri, pangeran Wu telah sampai,” ujar Soyou dengan sedikit panik.

Jessica langsung membelalakan matanya. “SEJAK KAPAN ADA AGENDA DIA DATANG KEMARI?” teriak Jessica tiba-tiba.

Ratu masuk ke dalam kamar Jessica diikuti sang raja. Pakaian raja dan ratu telah begitu rapi dan tatapan mata kedua orang tua Jessica tersebut mampu menusuk hati Jessica. Ia tahu bahwa ayah dan ibunya akan begitu marah melihatnya yang bangun pukul 8 seperti ini. Mungkin memang bukan salah Jessica sepenuhnya, karena ia tidak tahu bahwa pangeran Wu akan mengunjungi kerajaan Jung hari ini.

“Ibu tidak terima karena kau begitu malas. Pangeran Wu datang untuk berkunjung dan kau bermalas-malasan seperti ini,” suara dingin ratu mampu membekukan hati Jessica. Jessica menunduk menahan malunya.

“Apakah itu kelakukan putri ayah?” tanya raja dengan nada tegas yang mampu membuat telinga Jessica memerah antara marah dan rasa malu.

“Cepat bersiap, ibu dan ayah akan menunda pertemuan dan terpaksa membiarkan mereka menunggu,” ujar sang ratu sambil berlalu pergi. Raja pun ikut pergi dari kamar Jessica.

Soyou membungkuk sedalam ia bisa kearah Jessica, “Maafkan saya, yang mulia. Saya begitu lalai dalam memberitahukan kepada yang mulia tentang agenda selanjutnya. Saya benar-benar minta maaf,” suaranya begitu parau dan lirih sehingga Jessica hanya mampu melihatnya dengan tatapan dingin tanpa membentaknya.

“Daripada kau terus membungkuk, lebih baik kau siapkan gaunku sekarang. Aku akan mandi. Kau tidak boleh meminta bantuan Hyorin untuk menyiapkan gaunku, itu sebagai hukuman,” Jessica beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi.

Setelah selesai dari kamar mandi, Soyou telah menaruh gaun yang harus Jessica kenakan hari ini di atas tempat tidur besar milik Jessica. Gaun sepaha tanpa lengan berwarna putih dengan rumbai dan pita berwarna biru yang dihiasi beberapa batu permata yang ada di sekitar pinggang gaun. Jessica hanya mengerjap pelan menatap gaun itu. Yah, mungkin selera Soyou memang cukup tinggi untuk dijadikan sebagai asisten Hyorin atau mungkin fashion picker untuk menggantikan Hyorin.

Jessica mengenakan gaun itu dengan bantuan Soyou dan menata rambutnya. Tatanan rambut Jessica kali ini begitu simpel. Ia sama sekali tidak mengombakan rambutnya ataupun menggelungnya, melainkan membiarkan rambutnya tergerai lurus. Sebuah jepit sisir mahkota kecil ia sematkan di atas kepalanya. Sekarang, ia terlihat begitu anggun dengan balutan gaun tersebut.

“Kau terlihat begitu cantik, yang mulia,” puji Soyou dengan mata berbinar.

“Ya, dia memang cantik,” tiba-tiba seseorang dengan suara khasnya masuk dengan tiba-tiba, membuat Jessica menoleh dan mengernyit bingung.

“Kenapa kau bisa masuk ke sini?” tanya Jessica.

“Raja yang menyuruhku,” jawab pria itu yang tak lain adalah Luhan.

Jessica menggeleng pelan, ia memberi isyarat kepada Soyou agar pelayan itu segera pergi dan membiarkan Jessica dan Luhan sendirian. Soyou berlalu pergi dan Jessica pun berjalan menuju balkon di kamarnya.

“Kenapa?” tanya Jessica saat ia sampai di balkon nan aggun miliknya.

Luhan berjalan mengikuti Jessica lalu bersandar di railing balkon dan menatap ke arah Jessica. “Raja tahu kau tidak menyukai para ajudan dan penjaga keamanan di kerajaan, jadi Raja memerintahku untuk mengawalmu,” jelas Luhan.

Jessica terkikik pelan mendengar penjelasan Luhan, “Aneh.”

“Ada apa?” Luhan bingung akan perkataan Jessica.

“Tubuhmu itu bukanlah tubuh seorang ajudan seperti para pengawal kerajaan disini,” Jessica tiba-tiba menutup mulutnya karena terkejut ia mengatakan hal yang mampu membuat orang lain sakit hati.

Luhan sedikit kecewa akan perkataan Jessica, “Aku tidak pernah mengenal seorang putri yang berkata demikian.”

“Maaf,” Jessica menundukan kepalanya seperti yang sering ia lakukan jika ia merasa bersalah. Padahal seorang putri tidak diperbolehkan untuk melakukan hal tersebut.

“Lupakan!” Luhan mengibaskan tangannya seraya membalik badannya menghadap ke hamparan taman kerajaan. “Lagipula, aku sudah cukup lama terlatih mengabaikan perkataan pedasmu itu.”

“Kita baru kenal selama lima tahun!” kesal Jessica saat mendengar perkataan Luhan.

“Lima tahun cukup lama bagiku!” Luhan menatap Jessica dengan pandangan kesalnya.

Jessica membuang wajahnya, ia menatap ke hamparan taman kerajaan. Ia tidak terlalu tahu apakah lima tahun adalah waktu yang cukup lama atau sebentar baginya. Akan tetapi 10 tahun mungkinlah lama bagi Jessica hingga ia mampu melupakan pria semalam yang membuatnya kecewa akan perjodohan ini.

Luhan menengakkan tubuhnya lalu menghadap Jessica, ia siap berbicara, “Raja dan Ratu telah menunggumu, Sica,” ucap Luhan tanpa diselingi embel-embel tuan putri seperti biasanya.

Jessica mengangguk. “Sebenarnya aku tidak menyukai perjodohan ini,” gumam Jessica dengan tatapan kosong lurus ke depan.

Luhan hanya menoleh dan menatap Jessica tanpa berkata apapun. “Sebaiknya kau cepat temui Raja dan Ratu sebelum kau mendapatkan nasihat yang lebih tidak ingin kau dengar daripada nasihat tadi pagi.”

Jessica berjalan menuju kearah Raja dan Ratu duduk, diikuti langkah kaki Luhan di belakangnya. Sebenarnya Luhan hanya sebagai pengawas untuk Jessica, bukan ajudan. Benar juga kata Jessica jika badan Luhan tidak memadahi jika pria itu menjadi ajudan atau pengawalnya. Luhan berhenti berjalan saat ia mengetahui batasnya dan membungkuk kepada Raja dan Ratu; sedangkan Jessica terus berjalan mendekat lalu memberi hormat kepada kedua orang tuanya.

“Apakah kau siap bertemu dengan pangeran Wu, sayang?” tanya Ratu dengan nada yang menyenangkan. Jessica hanya menatap sang ibu dengan mata coklatnya tanpa memberi suatu harapan lebih dari tatapan yang ia berikan.

“Siap, ibu,” jawab Jessica singkat. Ia tidak ingin terlalu membohongi dirinya sendiri jika ia sebenarnya tidak siap untuk menemui pangeran dari kerajaan Wu tersebut.

Luhan hanya memandang Jessica dan Raja serta Ratu dengan pandangan tegas seperti biasanya, tetapi ia tidak tahu mengapa ia ingin sekali menarik Jessica pergi dari sana. Mungkin karena apa yang Jessica katakan tadi, bahwa Jessica tidak ingin perjodohan itu berlangsung atau karena batin Luhan memang begitu kuat atau mungkinkah Luhan menyukai Jessica?

Raja, Ratu dan Jessica berjalan menuju ruangan dimana Raja Wu beserta anaknya – pangeran Wu – menunggu. Luhan hanya terdiam di tempat tersebut karena ia tahu bahwa Jessica akan menghabiskan waktunya bersama pangeran Wu, untuk apa ia menjadi pengawas Jessica?

Jessica melangkah masuk dengan anggun dan ketika ia melihat siapa Raja Wu dan pangeran Wu tersebut, Jessica seketika berhenti berjalan dan diam. Pria dengan tubuh menjulag tinggi dengan rambut pirang dan wajah tampan mengingatkannya akan pria semalam yang menciumnya. Jessica yakin bahwa pria semalam adalah pangeran Wu karena pria itu sempat mengatakan tentang putri kerajaan Jung. Jessica sangat terkejut, tetapi ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan keterkejutannya.

“Selamat datang di kerajaan kami, wahai sahabatku, Wu Xian Liu,” Raja Jung langsung memeluk Raja Wu dengan begitu hangat; sedangkan Ratu Jung hanya menjabat tangan Raja Wu.

“Ah, iya, dia adalah putraku, kenalkan…” Raja Wu mempersilakan putranya untuk membungkuk hormat kepada Raja dan Ratu Jung.

Sang pangeran membungkuk hormat lalu memperkenalkan dirinya, “Saya Wu Yifan, panggil saja saya Kris,” ucap Kris dengan sopan.

“Ah, kau begitu tampan, Kris,” puji Ratu dan Raja bersamaan. “Perkenalkan, ini adalah putriku,” dan Raja Jung pun mempersilakan Jessica untuk memperkenalkan diri.

Dengan begitu anggun, Jessica membungkuk ala putri dan menundukan kepalanya, “Saya Jung Sooyeon, panggil saya Jessica.”

Setelah banyak sekali perbincangan yang menurut Jessica adalah sebuah basa-basi, akhirnya Kris disuruh pergi untuk berjalan-jalan bersama Jessica mengitari taman kerajaan Jung. Jessica hanya tersenyum dan meminta Kris untuk berjalan di sampingnya selama perjalanan menuju ke taman kerajaan.

Sesampainya mereka di taman, Jessica langsung mempercepat jalannya. Kris mengikuti langkah Jessica dan sampailah mereka di sebuah taman dengan bangku kayu di bawah pohon besar nan rindang. Jessica mengajak Kris untuk duduk di sana, ia tidak ingin berjalan lebih jauh lagi karena ia sedang tidak mood.

“Apakah kau lebih suka duduk di taman daripada mengitarinya?” tanya Kris pelan dan bercampur dengan rasa heran.

Jessica menggeleng, “Maafkan aku, aku sedang lelah.”

Kris hampir saja tersentak kaget karena sifat Jessica yang menurutnya begitu dingin. Yah, sebenarnya ia tidak perlu begitu terkejut karena itu adalah cerminan dari sifatnya juga. Kris duduk di sebelah Jessica dan memandangi tanaman yang tumbuh di sekitar tempat itu.

“Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Kau perlu tahu bahwa aku bukanlah putri yang begitu lembut dan halus ataupun gila hormat seperti putri dari kerajaan tetangga. Aku bukan putri yang bisa terus menaati peraturan dan aku termasuk ke dalan putri yang kurang sopan-”

“Kau tak perlu begitu. Aku pun sama sepertimu,” potong Kris cepat.

Jessica langsung menengok dan menatap Kris. Wajah tampan itu berkali-kali mengingatkannya akan kejadian semalam. Jessica begitu terdorong untuk menanyakan hal yang membuatnya penasaran saat ini.

“Apakah…” kata-kata Jessica belum selesai tetapi Kris langsung menoleh ke arah Jessica.

“Maaf atas kejadian semalam. Aku masih sadar dan aku terkejut bahwa aku benar-benar menciummu,” Kris tersenyum, senyumannya bukanlah senyuman menyeringai atau nakal seperti tadi malam, melainkan senyuman menyesal.

Jessica memiringkan kepalanya dengan pandangan menggemaskan yang jarang sekali ia gunakan. “Kau sadar?”

Kris mengalihkan pandangannya kearah lain, menatap pemandangan di sekitarnya tanpa memedulikan pandangan Jessica. “Aku begitu frustasi karena perjodohan. Aku tidak menyukai perjodohan. Malam itu aku pergi diam-diam dari rumah karena aku tahu hari ini adalah hari dimana aku menemui orang yang dijodohkan denganku, yang tak lain adalah kau. Aku pergi ke klub malam dan aku melihat gadis cantik yang mampu memikat perhatianku. Aku belum pernah jatuh cinta, tapi malam itu aku benar-benar terpikat dengan pesonamu. Kau menabrakku dan aku sadar bahwa orang yang menabrakku adalah orang yang berhasil memikatku. Akhirnya aku menciummu dan berharap bahwa kau adalah putri dari kerajaan Jung. Ternyata kau benar-benar putri kerajaan Jung. Tentu saja aku sadar, karena kadar alkohol dalam anggur merahku tidak begitu banyak tetapi cukup memusingkan kepalaku.”

Jessica manggut-manggut mendengarkan penjelasan Kris. Ia tidak tahu harus menjawab dengan apa karena ia tidak begitu bersimpati. Mungkin wajah Kris cukup tampan dibandingkan Jongin tetapi menurut Jessica tetap saja Kris bukanlah tipenya. Ia tidak ingin kerajaan Jung dikuasai oleh putra kerajaan Wu. Apalagi mengingat persaingan antar kerajaan baru-baru ini membuat Jessica tidak dapat memikirkan masa depannya dengan jelas.

“Jadi, apakah kau menyetujui perjodohan ini?” tanya Jessica akhirnya.

Kris mengangkat bahunya seraya mengusap kedua telapak tangannya. Ia terlihat sedikit gugup dengan pertanyaan Jessica barusan. “Aku tidak yakin.”

“Karena?”

“Kau,” jawab Kris yang berhasil membuat Jessica segera menoleh menatap Kris dengan tatapan meminta penjelasan.

“Apa?”

“Kau bukanlah seorang putri, ‘kan? Bahkan kau ke klub malam itu,” ujar Kris. Jessica bersiap menampar Kris tetapi ia tahu bahwa itu tidak akan mengubah segalanya. Maka dari itu Jessica hanya berdiri dan memandang Kris dengan tatapan mematikannya.

“Dengar ya, asal kau tahu, kau juga sama saja sepertiku, mengerti? Jangan memperjelek dirimu sendiri, Wu Yifan!” peringat Jessica dengan nada dinginya kemudian ia berlalu pergi dan sengaja menginjak kaki Kris dengan sangat keras.

“Argh!” teriak Kris saat Jessica menginjak kakinya. “Shhht!” umpat Kris yang masih mampu Jessica dengar.

Jessica pergi menjauhi Kris dan berlari ke arah taman yang lainnya. Jessica tidak ingin melihat wajah Kris lagi dan ia bersumpah akan menolak mentah-mentah untuk menikahi si pangeran Wu itu. Ia melepas sepatunya dan menentengnya sambil berjalan menuju ayunan yang tak jauh dari tempat ia melepas sepatu higheel tadi.

Kebetulan Luhan sedang duduk tak jauh dari sana sambil membaca buku pelajaran. Luhan memang terkenal sangat pintar di sekolahan hingga anak satu sekolah segan akan Luhan. Pria itu menatap Jessica yang dengan wajah cemberut duduk di ayunan. Tidak biasanya Jessica memasang tampang seperti itu jika ia tidak sedang benar-benar terusik.

“Hei,” Luhan bersandar di tiang ayunan saat Jessica baru saja membuka matanya setelah ia memejam agak lama.

Jessica cukup terkejut mengetahui keberadaan Luhan, tetapi ia hanya meneruskan dengan diam dan menenangkan dirinya.

“Kau kenapa sih?” tanya Luhan sambil mengayunkan telapak tangannya di depan wajah Jessica.

“Yak! Berhentilah menggangguku, Luhan!”

“Ishh, kau ini putri tetapi selalu saja bersedih. Bagaimana kerajaanmu besok?” tegur Luhan yang disambut dengan cubitan kecil yang menyakitkan oleh Jessica.

“Aw!!!” Luhan merintih saat merasakan cubitan Jessica mampu melumpuhkannya hingga ke tulang-tulang Luhan.

“Jaga bicaramu atau aku akan mencubitmu untuk yang kedua kalinya. Kau ini menyebalkan!” omel Jessica. Ia menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan dan mulai tersedu.

Luhan yang menatap sikap Jessica yang aneh ini menjadi kebingungan. Tidak biasanya Jessica seperti ini, apalagi menangis di depan Luhan. Memang jarang sekali Jessica menangis di depan Luhan, hampir tidak pernah. Kali ini Luhan merasa prihatin dengan Jessica. Tidak tahu harus berbuat apa, tidak mengerti alasan Jessica menangis, tidak paham akan kehidupan Jessica, semua itu bercampur aduk di benak Luhan dan membuatnya menjadi semakin bingung.

“Hei, kenapa kau menangis?” tanya Luhan pelan. Ia berjongkok di depan Jessica dengan wajah khawatirnya sambil menatap Jessica dengan mata sedikit berkaca-kaca. Ia benar-benar khawatir.

Masih menutup wajahnya, Jessica menggelengkan kepala dibalik telapak tangannya. Ia tahu bahwa ‘pasti’ wajahnya sekarang sudah tidak karuan jeleknya karena matanya yang memerah dan membesar. Tangisnya tidak begitu brutal seperti kebanyakan gadis saat mereka merasakan keputusasaan atau sebuah kekecewaan tetapi yang ada dipikiran Jessica sekarang adalah… ia seorang putri raja.

Tidak sepantasnya Jessica menangis, itu lah apa yang ia pelajari dari Boa saem. Jessica tidak dapat menahan rasa sedihnya hari ini, hanya itu. Ia seperti sedang mengalami mimpi buruk dan sialnya ia tidak dapat terbangun dari mimpi buruknya.

“Berhentilah menangis, Jess! Tolong..” ujar Luhan pelan. Ia memberanikan diri mengusap pergelangan tangan Jessica.

Luhan lebih terlihat seperti penasihat Jessica seperti Julian dalam cerita Barbie Princess and the Pauper. Namun kenyataannya, Luhan adalah seorang pengawal Jessica dan bukan penasihat pribadi Jessica. Satu lagi yang membedakan Luhan dari Julian adalah… bahwa Julian adalah pujaan hati Annelise. Apakah Luhan merupakan pujaan hati Jessica seperti pada cerita barbie tersebut?

Jessica masih saja tersedu hingga akhirnya Luhan memutuskan untuk memberikan sapu tangannya kepada Jessica. Akan tetapi Jessica tetap menutup wajahnya dan membuat Luhan semakin merasa kesal dan khawatir.

“Jess!” bentak Luhan pada akhirnya.

Jessica yang terkejut langsung menundukan kepalanya tanpa membuka telapak tangannya. Ia langsung berlari masuk dan meninggalkan Luhan sendirian di taman tersebut. Ia tahu bahwa semua itu salah, tetapi Jessica hanya ingin membuat dirinya sendiri merasa lebih baik tanpa kehadiran Luhan yang membuatnya lebih bersedih.

oOo

Malam ini Bora menyelinap ke kamar Jessica lagi. Ia mendapat kabar dari Jongin bahwa Jessica kembali ke klub setelah sebelumnya pergi bersamanya. Bora menunggu Jessica yang sedang makan malam di dalam kamar indah putri raja tersebut. Setelah Jessica masuk ke kamar pada pukul 8 malam, Bora langsung menyerbu gadis itu dengan rangkulan di bahu Jessica.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau ke klub lagi kemarin malam?” tanya Bora.

Jessica hanya diam dan berjalan menuju tempat tidurnya dengan wajah yang tidak menyenangkan. Ia terlalu banyak berakting hari ini, berusaha menutupi kesedihannya dan mencoba terus bersikap ramah – sopan – bahagia – di depan kedua orang tuanya. Jessica terlalu tertekan hingga malam ini.

“Aku ingin membatalkan perjodohan,” jawab Jessica. Ia mendengus dan merebahkan dirinya di tempat tidur dengan mata terpejam.

Bora ikut merebahkan dirinya di tempat tidur Jessica. “Mau bercerita?” tawar Bora dengan wajah herannya.

“Sedang tidak dalam kondisi yang baik,” Jessica terus memejamkan matanya, berusaha membuat pikirannya tenang.

Jessica tahu bahwa satu-satunya yang ia percaya untuk menjadi penasihat adalah sahabatnya yang satu ini, Yoon Bora. Akan tetapi, entah mengapa Jessica benar-benar sedang tidak ingin bercerita dengan siapapun tentang masalah ini. Jessica terlalu keberatan jika masalahnya dicampuri oleh orang lain, apalagi masalah ini menyangkut kepribadiannya dan perjodohannya.

“Maaf,” lirih Jessica pelan.

Bora hanya tersenyum, “Tak apa. Aku akan menemanimu di sini walaupun kau tidak ingin mengajakku bercerita seperti biasanya.”

oOo

Hari ini Jessica harus menjalani pelajaran keputriannya bersama dengan Boa. Seperti yang ia tahu bahwa Boa selalu mengajarkan ketegasan dan ketekunan serta keanggunan dan kelembutan di diri Jessica yang menurut Boa sendiri sangat sulit untuk ditanamkan. Jessica bukanlah seorang putri yang mudah untuk diajari apalagi ditanami suatu benih yang menurutnya susah tumbuh di dalam diri Jessica.

“Aku akan mengajarkanmu sikap-sikap makan yang benar,” ujar Boa kepada Jessica.

“Ibu jarang menegurku dengan tata cara makanku,” elak Jessica.

Boa menggeleng karena elakan seorang putri, “Ratu tahu bahwa aku belum mengajarkannya.”

“Menjadi seorang putri terlalu banyak aturan,” ketus Jessica. Sikapnya ini yang paling tidak disukai oleh Boa. Akan tetapi Boa yakin ada yang terjadi kepada Jessica hingga ia mampu berkata ketus seperti ini disaat pelajaran sikap bersamanya.

“Aku harap kau menyingkirkan masalah pribadimu saat pelajaran ini, tuan putri. Itu akan mengganggu konsentrasimu dan sikap keputrianmu,” nasihat Boa.

Jessica mengatupkan kedua mulutnya. Ia mencoba mengatur emosinya dan menenangkan dirinya. Ia mendapatkan cara ampuh tersebut dari Boa. Ia selalu tahu cara menyingkirkan amarah, rasa sedih, rasa kesal, kekecawaan, dan banyak lagi karena Boa. Namun Jessica hanya malas dalam melakukan itu semua. Ia terlalu malas untuk mengambil sedikit waktunya untuk menenangkan pikirannya sendiri.

Pelajaran pun dimulai. Jessica duduk tegak di atas kursi. Boa mengajarkannya cara makan dan minum oleh seorang putri. Tidak boleh ada dentingan. Tidak boleh bersendawa. Tidak boleh mencondongkan tubuh ke depan. Tidak boleh terlalu menunduk. Tidak boleh membuka siku terlalu lebar, dan masih banyak lagi. Hingga tepat pukul 11 siang, Jessica diperbolehkan pergi ke sekolah.

Sebenarnya Jessica tidak ingin pergi ke sekolah karena ia akan terus diperlakukan sebagai seorang putri raja di sekolahannya dan ia membenci itu semua. Ia benci saat Luhan membelanya ataupun saat Luhan berusaha melindunginya. Ia tidak tahu mengapa Luhan begitu khawatir terhadapnya, padahal ia merasa mampu menjaga dirinya sendiri.

“Hei!” teriak Luhan saat Jessica berjalan menuruni tangga kerajaan.

Jessica masuk ke dalam mobil dan duduk bersandar. Ia sedang tidak ingin berbicara dengan Luhan. Lagipula ia tidak tahu harus berbicara apa dengan pria rambut pirang di sebelahnya ini. Luhan langsung mengemudikan mobil menuju ke kerajaan.

“Sungguh tidak adil jika kau mendiamkan aku seperti ini,” ujar Luhan dengan nada yang terdengar sedih.

“Aku tidak mendiamkanmu. Hanya saja aku tidak ingin membuatmu sakit hati dengan perkataanku,” jawab Jessica dingin.

“Sudah kubilang bahwa aku kebal akan semua itu, bukan?”

“Aku tidak percaya kau kebal terhadap perkataan menyakitkanku. Aku tidak memercayai bahwa kau akan terus diam jika aku menghujanimu dengan berbagai perkataan menyakitkan yang terlontar dari mulutku. Aku memang tidak pantas menjadi seorang putri!” kata Jessica frustasi.

“Jess, tenangkan pikiranmu!” Luhan berkata sedikit menekan terhadap Jessica. Suaranya sedikit lantang dan begitu menusuk telinga Jessica.

“Akhir-akhir ini kau kehilangan kendali. Ada apa?” tanya Luhan lembut dan berhasil menenangkan sedikit pikiran Jessica.

“Aku tidak mampu membatalkan perjodohannya,” jawab Jessica pada akhirnya. Ia telah menutupi kenyataan tersebut dari orang lain dan akhirnya kini ia mampu mengatakannya – mengatakannya pada orang yang sama sekali bukan kepercayaannya.

Luhan mendengus, “Kenapa kau bersikeras membatalkan perjodohan itu?”

“Aku tidak mencintai Kris. Bagaimana bisa aku menikah dengannya?” Jessica meremas rok seragamnya. Ia menahan amarahnya demi… Luhan? Ia tahu jika ia marah maka semua kata-kata yang menyakitkan Luhan akan keluar dari mulutnya. Itu lah bahaya seorang Jessica jika benar-benar sedang dilanda emosi yang membuncah kapan pun.

“Kau hanya perlu waktu,” jawab Luhan singkat.

“Luhan!” pekik Jessica. Ia mengharapkan saran dari Luhan, bukan masukan yang mendukungnya agar tetap menikahi Kris.

“Kau tidak tahu persaingan kerajaan saat ini! Aku tidak ingin kerajaan Wu menaklukan kerajaan Jung yang notabenenya adalah kerajaan keluargaku, aku-”

“Jess, tolong..” pinta Luhan dengan nada yang begitu memohon kepada Jessica.

Jessica menunduk. Ia memelankan suaranya, “Ayahku pasti tidak ingin aku menikah dengan Kai. Ayahku tahu bahwa ayah Kai adalah seorang pengusaha kaya raya tetapi bukan anggota dari kerajaan manapun,” jelas Jessica.

“Kai?” Luhan mengernyitkan dahinya tetapi masih terus memandang lurus ke depan.

“Dia teman semasa kecilku,” jawab Jessica masih dengan suara yang pelan.

“Oh,” hanya itu jawaban Luhan.

Saat mereka sampai di sekolah, Jessica langsung berhambur keluar meninggalkan Luhan sendirian. Jessica berlari untuk menemui Kwon Yuri, teman dekatnya di sekolah selain Luhan. Jessica mendapati Yuri duduk di barisan paling belakang kelas. Ia mendekati Yuri dan Yuri hanya menggelengkan kepalanya saat Jessica datang.

“Dimana Luhan?” tanya Yuri penasaran.

“Aku meninggalkannya.”

Yuri memandang Jessica dengan tatapan aneh, “Kau tahu, perhatian Luhan terhadapmu begitu besar. Jangan kau sia-siakan si Luhan itu, Jess.”

Jessica duduk di depan Yuri dengan tangan bersedekap di atas meja, “Aku menyesal mendengarnya.”

Yuri mendengus mendengar perkataan Jessica. Putri raja yang ia kenal ini memang sungguh jauh dari kata “seorang putri”. Mungkin Yuri merasa nyaman dengan Jessica karena Jessica tidak membedakan orang-orang dari sebuah derajat di dalam sekolah ini. Akan tetapi, Yuri hanya heran dengan sikap dari putri kerajaannya di negara ini. Jessica begitu aneh untuk kata “seorang putri”.

Luhan memasuki kelas dan beberapa gadis di kelas menyerbunya dengan banyak pertanyaan tentang pelajaran hari ini. Yuri menaikan alis saat melihat pemandangan itu dan Jessica hanya mendengus pelan. Jessica tidak begitu peduli dengan berapa banyak fans Luhan dibandingkan dengannya ataupun berapa banyak Luhan mendapatkan perhatian di sekolah ini daripada dirinya. Jessica hanya merasa bahwa orang-orang yang terlalu fanatik membuatnya mual.

“Cemburu, huh?” tanya Yuri seraya menyikut Jessica.

“Tch, cemburu apanya?”

Saat jam pulang, Luhan keluar terlebih dulu dan meninggalkan Jessica. Jessica sekali lagi mendengus dan Yuri sadar jika Jessica melakukan hal itu. Ia mencolek pinggang Jessica dengan telunjuknya dan membisikan sesuatu kepada Jessica.

“Akui saja kau menyukai Luhan. Kalian berdua serasi,” bisik Yuri.

Jessica membelalakan matanya. Apa-apaan itu? Jessica tahu bahwa Yuri hanya bermaksud menggodanya tetapi semua itu tidak masuk akal. Ia sebenarnya tidak begitu tahu apa itu cinta dan apa itu rasa suka. Apa yang ia jalani dengan Kai di masa lampau seperti sebuah permaian dan dapat berakhir begitu saja – seperti apa yang telah mereka alami.

“Tidak. Sudah jangan mengharapkan hal itu terjadi,” Jessica mengibaskan rambutnya yang ia gerai; Yuri tersenyum.

Kedua gadis itu berjalan menyusuri lorong sekolahan dan melihat Luhan berdiri berhadapan dengan seorang gadis. Yah, Jessica tahu bahwa gadis itu tak bukan dan tak lain adalah fans Luhan. Dimana pun, kapan pun, jam berapa pun, Luhan selalu saja ditemui oleh para gadis yang menyukainya. Luhan memiliki sisi lembut yang gadis lain sukai, tetapi Jessica tidak begitu menyukainya.

Luhan diam dan mendengarkan cerita gadis itu, tetapi tiba-tiba gadis itu mengecup bibir Luhan dan melambaikan tangannya. Gadis itu seakan begitu akrab dengan Luhan, begitu lah apa yang Jessica lihat. Mata Jessica memerah, entah apa yang sedang ia rasakan.

Luhan memang jarang dekat dengan gadis lain kecuali Jessica. Luhan jarang melakukan skinship bersama siapa pun. Luhan tidak pernah bersikap kasar, itu sudah pasti. Akan tetapi ini lain, karena Luhan sama sekali tidak pernah mencium gadis selama ini, tetapi tadi…

Jessica mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian langsung berlalu. Yuri sebenarnya ingin menanyakan apakah yang baru saja ia lihat adalah nyata, tetapi Jessica pergi meninggalkannya begitu saja membuat Yuri tahu bahwa sebenarnya Jessica mengalami kecemburuan – tanpa Jessica sadari. Yuri segera mengejar Jessica dan di saat bersamaan Luhan mendengar derap kaki Yuri dan menoleh ke arah Yuri.

Jessica berjalan terus dan terus hingga akhirnya sampai di tempat parkir. Ia tidak ingin pergi menuju kearah mobil yang biasa ia naiki berasam Luhan, melainkan menuju kearah mobil Yuri. Yuri ternganga tidak percaya akan tindakan bodoh Jessica. What’s wrong with her?

“Yak! Jess!” Yuri berteriak kencang tetapi Jessica tak mengiraukannya. Jessica menunggu Yuri hingga gadis dengan kulit kecoklatan itu menghampirinya.

“Maaf, hari ini bisakah kau mengantarku ke istana? Aku berjanji hanya hari ini saja,” pinta Jessica dengan memohon. Mata Jessica berbinar dan membuat Yuri menatap tak percaya kepadanya. Akhirnya Yuri memutuskan mengantar Jessica kembali ke istana dan mengabaikan Luhan saat itu juga.

“Terima kasih telah mengantarku, Yuri ah~” Jessica membungkuk kepada Yuri yang juga ikut menundukan kepalanya menghormati Jessica.

“Kau ini putri, tapi kau ini aneh,” ujar Yuri yang disambut dengan senyuman kecil Jessica.

Sesaat, Jessica melupakan apa yang membuatnya menghindari Luhan. Akan tetapi melihat mobil yang Luhan kendarai telah berhenti di belakang mobil Yuri, Jessica langsung berlari masuk. Luhan pun mengejar Jessica dan Yuri hanya menyaksikan adegan tersebut dengan tatapan tak percaya.

“Jess!” panggil Luhan setengah berteriak.

Jessica terus berlari walaupun ia tahu ia bukanlah pelari yang dapat berlari kencang seterusnya. Saat ia terengah, Luhan meraih tangannya. Luhan menggenggam tangan Jessica dan membalikan badan Jessica. Sebelum ia berbicara, Luhan menarik Jessica keluar kearah taman yang mungkin lebih aman untuk berdebat dengan Jessica.

“Dengarkan aku!” tegas Luhan; Jessica membuang pandangannya jauh dari Luhan.

“Apa?” Jessica hanya menjawabnya dengan singkat.

Luhan menghela napasnya pelan, “Jangan seperti ini,” ucap pria itu dengan mata yang penuh permohonan. Jessica tidak menatap Luhan tetapi ia tahu bahwa Luhan sedang mengemis maaf darinya.

Terkadang kedua orang ini begitu aneh. Terlihat sebagai sepasang sahabat tetapi di lain waktu mereka terlihat sebagai sepasang partner kerja, di lain sisi seperti sepasang kekasih, dan lainnya adalah kenyataan yang memang terjadi bahwa Jessica sebagai sang putri dan Luhan sebagai pengawas Jessica. Itu semua tergantung kapan kalian melihat kedua orang tersebut bersama-sama.

“Kumohon, Jess,” rengek Luhan dengan wajah memelasnya tetapi itu sia-sia karena Jessica memang begitu keras kepala dan tak mau menatap kearah Luhan sama sekali.

Jessica mengibaskan tangannya sekali, tetapi genggaman Luhan masih begitu kuat dan tak mau terlepas dari tangan Jessica. Jessica memejamkan matanya, sungguh bahwa yang ia rasakan kali ini adalah kekesalan yang begitu besar terhadap Luhan. Mungkin sebuah kekesalan karena dikhianati. Akan tetapi, dikhianati karena apa?

“Jess.. Kumohon..” Luhan masih terus memohon kepada Jessica.

Jessica kini menatap Luhan. Ia menatap tepat kearah mata Luhan yang sepertinya berkaca-kaca. Ia tidak tahu mengapa Luhan ingin menangis, tetapi itu membuatnya juga ingin menangis. Jessica terus menatap mata Luhan hingga akhirnya mereka berdua saling mengunci tatapan tersebut. Jessica ingin sekali menyudahi tatapannya, hanya saja ia merasa bahwa matanya tidak mau berpaling dan menjauhi mata coklat milik Luhan.

Hingga akhirnya, genggaman tangan di pergelangan tangan Jessica mengendur dan Luhan pun yang pertama memutuskan kontak mata tersebut. Jessica menelan ludahnya seraya memejamkan matanya dan memalingkan wajahnya dari pandangan Luhan. Ia tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya hingga ia dapat menatap Luhan selama itu.

“Maafkan aku, tolong…” lirih Luhan; Jessica menundukan kepalanya tak berani menatap Luhan.

Dalam hitungan detik, Jessica langsung bergegas meninggalkan Luhan tanpa memberikan jawaban pasti kepada Luhan. Luhan pun hanya menatap kepergian Jessica dengan tatapan pasrah. Ya, pasrah akan bagaimana kisah mereka selanjutnya.

Malam itu, Jessica bergegas menuju perpustakaan kerajaan. Ia ingin mencari sesuatu yang mungkin dapat menenangkannya. Buku – seperti apa yang Luhan sukai – mungkin dapat menenangkannya. Jessica harus mencoba cara Luhan menenangkan diri dengan bantuan membaca buku. Jessica ingin seperti Luhan, entah sejak kapan.

“Malam, tuan putri,” sapa si penjaga perpustakaan – Sojin.

“Malam, Sojin,” Jessica tersenyum sopan.

“Mau membaca buku bacaan apa, yang mulia?”

Jessica berpikir sejenak, “Bawakan aku buku dongeng tentang kerajaanku!” kata Jessica kemudian dan Sojin hanya mengangguk lalu pergi berlalu.

Jessica duduk di sofa dekat perapian. Bulan ini masih musim gugur, tetapi hawa sudah mulai dingin. Jessica menatap langit-langit perpustakaan yang dilapisi kayu – kayu terbaik di negaranya. Jessica tahu bahwa ayah dan ibunya adalah orang terkaya di negara ini, tetapi Jessica masih tidak memercayai bahwa ia mampu membeli apapun dengan uang kedua orang tuanya.

“Ini, yang mulia, buku yang Anda inginkan,” Sojin menyodorkan buku yang diinginkan Jessica dengan membungkuk 90 derajat.

“Terima kasih, Sojin,” Jessica tersenyum kembali.

Jessica membuka buku itu dan membacanya halaman demi halaman. Ia tidak begitu menyukai buku yang memiliki satu halaman penuh berisi tulisan seperti pada buku yang sedang ia baca saat ini. Di dalam buku tersebut tertulis bahwa ia adalah putri kerajaan ke 18 yang begitu diandalkan dan ditunggu-tunggu oleh kerajaan. Ia berusaha belajar lebih banyak dari buku itu dan terbukti bahwa ia mengetahui apa yang belum ia ketahui.

“Buku ini tidak mirip dengan buku sejarah. Bukankah ini buku ramalan?” Jessica menatap cover buku tersebut. Ia tahu bahwa buku sejarah itu tidak akan menceritakan kejadian yang akan mendatang tetapi menceritakan kejadian masa lampau.

“Kau mengambil buku yang salah, tuan putri,” suara khas Luhan tiba-tiba mengejutkan Jessica dan membuat Jessica segera menutup buku yang ia baca.

Jessica memelototi Luhan dengan mata foxy-nya dan kemudian mendengus, “Lalu ini buku apa?”

Luhan menatap Jessica sejenak lalu menjawab, “Semacam… riwayat hidupmu, mungkin..”

“YAK! LUHAN!” pekik Jessica tertahan. Ia mengepalkan telapak tangannya dan akan meninju Luhan tetapi ia mengurungkan niat tersebut. “Kau menakutiku.”

Jessica memalingkan wajahnya dari pandangan Luhan dan menggeser buku yang sedang ia baca jauh-jauh dari dirinya sehingga ia tidak dapat menyentuh buku tersebut lagi. Luhan hanya tersenyum dan meraih buku itu lalu ia memeluk buku itu dengan kedua tangannya. Luhan menatap Jessica dalam diam.

“Kau tahu, buku ini membuatku belajar banyak tentangmu.”

Pipi Jessica memanas mendengar penuturan Luhan. Ia merasa malu, entah malu karena itu berarti Luhan mengetahu sifat jeleknya atau karena Luhan tahu apapun tentang dirinya atau malah karena ia merasa senang. Akan tetapi Jessica tetap berusaha biasa saja. Yah, dapat dibilang bahwa pengendalian diri Jessica amat baik dibanding dengan keturunan lainnya.

“Mengapa kau harus belajar banyak tentangku?” tanya Jessica pelan.

Luhan menghela napas panjang. Ia terlihat sedang berpikir tetapi tidak terlalu serius memikirkannya. “Karena… identitasku yang sebenarnya dirahasiakan,” ujar Luhan.

“Apa? Kenapa? Lalu… sebenarnya siapa kau? Atau jangan-jangan…” Jessica membulatkan matanya ketakutan.

Luhan menggelengkan kepalanya cepat seraya memasang tampang yang menyiratkan bahwa ia tidak membahayakan Jessica, “Bukan! Bukan begitu…”

“Lalu apa? Cepat katakan!”

“Tapi… Raja yang merahasiakannya jadi aku hanya…”

“LUHAN!”

Jessica berjalan kesal ke tempat dimana ayahnya biasa membaca buku dan bekutat dengan banyak dokumen negara yang harus diurusnya. Jessica mengetuk pintu pelan dan ketika mendengar suara yang menyuruhnya masuk ia pun bergegas membuka pintu. Jessica melihat ayahnya yang sedang duduk tegak di kursi kerjanya dan membaca buku ringan, bukan dokumen yang menumpuk di satu sisi ruangan.

“Ayah,” panggil Jessica pelan dengan wajah sedikit gugup.

Raja memalingkan wajahnya dari buku dan menatap putrinya yang kini berdiri di depan mejanya. Dari raut wajah Jessica, sang Raja dapat membaca apa yang sedang mengusik pikiran putrinya tersebut. Raja tersenyum bijaksana dan menyuruh anaknya duduk dengan perkataan yang tidak begitu formal.

“Ayah, jadi Luhan itu siapa?” Jessica langsung menanyakan tanpa berbasa-basi. Jessica merasa kesal jika dibohongi seperti ini, apalagi yang menyangkut dengan kehidupannya.

Raja kembali tersenyum, “Kenapa?”

“Ayah! Bukankah ayah yang mengajarkan agar aku tidak boleh berbohong kepada siapapun? Tetapi mengapa ayah membohongiku?”

“Ayah tidak bermaksud membohongimu, sayang,” Raja Jung menaruh kedua tangannya di atas meja dan menatap Jessica serius.

“Lalu mengapa ayah menyembunyikan identitas Luhan? Jadi selama ini dia bukan anak dari pengawal kerajaan?” nada suara Jessica begitu mendesak membuat Raja Jung terus tersenyum geli.

“Kau ingin tahu?”

Jessica menatap mata ayahnya dengan tatapan ‘apakah ayah bercanda?’. Jessica ingin mengajukan begitu banyak protes kepada ayahnya, tetapi ia tahu bahwa itu adalah ketidaksopanan sekalipun di saat seperti ini – dimana tidak ada Raja dan Putri diantara mereka.

“Ya,” jawab Jessica disertai anggukan kecil.

“Dia akan menjadi pendamping hidupmu, Jess,” terang Raja dengan nada serius.

“Apakah ayah akan menjodohkanku lagi!?” pekik Jessica tidak percaya. Ketidaksopanannya muncul tanpa ia kehendaki dan itu adalah salah satu rasa marah Jessica terhadap tuntutan sang ayah.

“Tidak, bukan begitu, Jess.”

“Jadi ayah akan menjodohkanku lagi dan-”

“Jess, dengar! Ayah tahu bahwa kau pasti membaca buku itu. Pada awalnya ayah tidak memercayai buku itu dan semua riwayat hidup putri ke-18 yang lahir, karena itu adalah dirimu. Di dalam buku tersebut tertulis bahwa kau akan menikahi seorang pangeran dari kerajaan Lu dan… ayah tidak memercayainya. Ayah melobi kerajaan Lu agar putranya diperbolehkan mendapat pendidikan di kerajaan Jung dan akhirnya mereka membolehkan anak mereka tinggal disini. Ayah kemudian menyuruhnya menjadi pengawasmu dan menjodohkanmu dengan pangeran dari kerajaan Wu. Pada akhirnya, kau tetap menolak pangeran Wu dan sekarang ayah yakin bahwa kau mencintai Luhan, bukankah begitu?” jelas sang Raja panjang lebar.

Jessica terkejut, telapak tangannya dingin hingga ia tidak dapat merasakan hangatnya perapian yang telah menyala sedari tadi. Wajah Jessica juga menjadi begitu datar. Raja menyenggol tangan Jessica dan Jessica pun akhirnya terbangun dari keterkejutannya.

“Ayah mulai mengarang cerita, ya?” tanya Jessica pelan dengan wajah tidak percayanya.

“Jess, dia seorang pangeran juga. Luhan adalah pangeran, bukan pengawal,” kata Raja meyakinkan Jessica yang kini semakin tidak dapat membedakan antara mimpi dan kenyataan.

“Tapi aku tidak mencintai Luhan, ayah!” elak Jessica dengan nada mantapnya yang selalu membuat ayahnya yakin.

Raja menggelengkan kepalanya, “Jangan berbohong, sayang.”

“Ayah jangan mengada-ada, tolong,” suara Jessica melirih pertanda ia mulai meragu.

Raja hanya tersenyum manis, “Lihatlah betapa kau ragu dengan perkataan ayah,” sang raja mendekati Jessica kemudian mengelus kepala Jessica dengan sayang.

“Lagipula, Luhan juga telah menjagamu selama ini. Kau dapat merasakannya bukan?” kata Raja kemudian berlalu.

Jessica terdiam di tempat dengan wajah tidak percayanya. “Benarkah?”

oO The End Oo

Hai readers.. aku kembali lagi dengan melanjutkan cerita ini. Aku masih ada hutang banyak juga buat The BloodyLuv, tapi semua filenya hilang dan aku harus merancang dari chapter ke-4 lagi T_T

Oh iya, lagi-lagi FF ini gantung. Entah kenapa aku pengen ngegantung FF karena aku gabisa ngegantung orang(?) Hahaha, kidding.  Aku buat FF baru lagi. Tebak deh siapa pemeran prianya wkwk. Ya udah, cukup sekian dari aku :3 Sampai ketemu di FF-ku yang lainnya^^

o Thanks for Read this Fanfiction o

25 thoughts on “The Princess’ Tale (2nd Shoot)

  1. authoooooorrrr lagi lagi kau membuat ff gantung :”v hiks
    sica ama luhan yaoloh berbunga” hatiku
    wks~ keep writing :* cipok author /plak wkwk

    • Hehehee.. ff gantung itu greget :3 biar gemesin kaya authornya *gak! wkwkwk
      Wah, hati-hati kalau hati kamu berbunga-bunga(?) bahayaaa :3
      Wahahahaaa.. duh makasih banyak buat supportnyaa^^ *tebar flyingkiss* wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s