[Freelance] Friend Zone (Chapter 2)

friend-zone

 

Tittle                : Friend Zone

Author             : Flower Girl (ahrajung13)

Length             : Chaptered

Rating             : T

Genre              : Friendship, Romance, Sad.

Main cast         :

  • Jessica
  • Jin

Note                :  Waahh makasih buat komentar di chapter sebelumnya. aku seneng banget bacanya. maaf ya gak bisa bales satu per satu :)  buat readers yang pengen tau siapa sebenernya Thunder, bisa baca disini => https://fgirlspazzer.wordpress.com/2015/02/16/deja-vu-prolog/

dan kalian yang mau baca karyaku yang lain, silahkan visit https://fgirlspazzer.wordpress.com

Happy reading :* ^^

Backsound      :

  • Junggigo ft. Minwoo – To Good

 

____________________________________________________________

 

Wajah kebarat-baratan itu nampak kesal pagi ini. Ia yang biasanya datang pada jam-jam mepet kini harus berangkat lebih pagi. Penyebabnya tentu saja sang majikan alias Kim Seok Jin yang sangat menyebalkan itu. Namja itu menyuruhnya datang lebih pagi dengan alasan,

Aku ingin melihat pembantuku datang lebih awal dariku

Konyol bukan?

Dengan mata yang masih nampak mengantuk, Jessica berjalan menyusuri lorong-lorong sekolahnya. Ia lantas membuka lokernya dan mengambil beberapa novel lalu membawanya masuk ke dalam kelas. Di ruangan itu masih sangat sepi, mengingat ini masih pukul 7 pagi sedangkan bel masuk pukul 8.30.

Yeoja itu melempar tasnya ke meja, lalu meletakkan kepalanya dan mulai memejamkan mata. Jika ia tau Jin akan sekejam ini, mungkin ia lebih memilih tidak sportif dan memohon pada Jin untuk melupakan taruhannya. Tapi mau ditaruh mana harga diriku? Aku sendiri yang membuat taruhannya!

Belum genap 5 menit, yeoja itu sudah terlelap dalam ruang kelas yang sepi. Sekitar 30 menit kemudian, datang seseorang masuk ke dalam kelas 2-4. Ia adalah seorang namja dengan tas punggung berwarna biru dongker.

Namja itu menuju bangku di sebelah kanan Jessica. Ia meletakkan tasnya, lalu duduk dan memperhatikan yeoja yang tengah terlelap dalam tidurnya. Namja itu terkikik.

“Dia lucu sekali.” Gumam Jin.  Sekarang ia nampak membuka tas punggungnya dan mengeluarkan sebuah kotak bekal berwarna lime. Di atas kotak makan itu sudah tertempel sticky note. Ia lantas meletakkan kotak bekal itu disamping Jessica.

____________________________________________________________

 

Jessica tersentak ketika mendengar bunyi bel masuk. Ia segera keluar dari alam mimpinya dan dengan mata membulat, memperhatikan suasana kelas yang sudah ramai. Ia melirik arloji perak di tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul 8.30 tepat.

“Aku benar-benar tertidur kah?”  gumamnya.

Manik matanya menangkap sesuatu yang asing di mejanya. Ia melihat sebuah kotak bekal berwarna lime dengan pesan di atasnya. Ia segera menarik sticky note yang tertempel di bekal itu lalu membacanya.

Nikmati sarapanmu, Pembantuku!

Dengan kesal, Jessica menoleh ke samping kanan. Ia mendapati Jin sedang bergurau dengan beberapa teman sekelasnya. Namun sejenak Jin mengalihkan pandangannya, menatap Jessica dan tersenyum penuh arti.

“Cih..”  dengus Jessica muak dengan ekspresi Jin yang menurutnya terlalu poker face.

Pelajaran jam pertama hari itu pun dimulai saat guru mata pelajaran sastra masuk ke kelas. Para murid dengan malas kembali menuju meja masing-masing.

“Ssst..”  panggil Jin pada Jessica.

Yeoja itu hanya melirik sekilas dengan tatapan kesal.

“Kau belum memakan sarapanmu?”  tanya Jin.

Jessica tidak menghiraukan pertanyaan itu, dan memilih fokus pada seongsanim yang kini tengah membacakan sebuah puisi.

Jin merengut namun detik berikutnya ia tersenyum jahil. Sebuah ide melintas di kepalanya.

____________________________________________________________

 

Jam olah raga dimulai. Jessica baru saja keluar dari kamar ganti dan sedang menuju lokernya untuk mengganti sepatu olah raga. Ia mengeluarkan sepatu adidas berwarna putih kesayangannya lantas menuju tempat duduk yang tersedia untuk memakai sepatu. Saat ia tengah menalikan sepatunya, manik hazelnya menatap sepasang kaki berdiri di hadapannya. Ia pun mendongak untuk melihat siapa yang menghampirinya.

“Wae?”  tanya Jessica ketus setelah mengetahui seseorang yang menghampirinya adalah Jin.

“Ck..ck.. kau ketus sekali pada majikanmu..”  dengus Jin kemudian duduk di samping Jessica. Ia menatap yeoja itu dengan tatapan misterius.

Jessica juga balik menatap Jin. Ia menajamkan matanya, melihat gelagat aneh dari namja itu. “Apa yang kau inginkan?”

Jin terkekeh. “Apa aku ketahuan?”

Jessica berdecak kesal. Ia lantas berdiri lalu berjalan meninggalkan Jin. Namun namja itu, tentu saja mengikutinya dan mensejajarkan langkah dengannya.

“Yak, pembantuku. Nanti saat pelajaran etika tolong catatkan materi minggu kemarin ya. Sekalian yang hari ini juga. Aku sedang malas.”

Rentetan kata yang keluar dari mulut Jin membuat Jessica menghentikan langkahnya. Ia menatap Jin sinis,

“Mwo?! Mencatatkan untukmu? Yak, Kim Seok Jin, kau sudah merebut peringkatku tanpa perlu berusaha keras. Jadi jika kau malas, tidak usah mencatat saja. Lagi pula peringkatmu akan tetap di atas dengan tingkah pemalasmu itu!”  Cecar Jessica kesal. Ia hendak kembali berjalan, namun Jin menahannya.

“Ishh.. ini bukan masalah peringkat, babo.”

Jessica menghempaskan tangan Jin dengan kasar. “Apa katamu tadi? Babo? Kau bilang aku bodoh?! Yak, neo jinjja..!”

Jin kembali menahan tangan Jessica yang sekarang ini siap menghantam wajahnya. Ia berusaha menahan tawanya melihat ekspresi kemarahan Jessica yang menurutnya sangat lucu.

“Dengarkan Jessica Jung. Pertama, aku ingin kau mencatatkan materi karena minggu depan Yebin Seongsanim meminta semua buku catatan dan akan men-check apa saja yang kita rangkum dari video pembelajaran membosankan yang selalu ia putar itu. Kedua, aku ingin memberikan pekerjaan untukmu. Kau itu pembantuku, enak saja jika kau tidak ada pekerjaan.”  Jelas Jin lalu melepaskan tangan Jessica.

Yeoja mendelik mendengar perkataan Jin. Ia mendengus lalu menghentakkan kakinya kelas. Pembantu, pembantu, pembantu, ia sangat kesal jika Jin yang mengucapkan kata-kata itu.

“Kau harus melakukannya, my servant!”  tegas Jin dengan senyuman.

“Ne, arraseo, MAJIKANKU!”  desis Jessica kesal seraya menekankan kata ‘majikan’

____________________________________________________________

 

Mata pelajaran etika tidak disukai mayoritas pelajar di sekolah ini. Walaupun pelajaran tersebut sarat akan norma dan tata perilaku yang sopan, namun cara penyampaian materi yang digunakan oleh semua guru pengajar etika sama. Yaitu dengan memutarkan video pembelajaran dan semua murid wajib mendengarkan dan mencatat. Meskipun demikian, Jessica menyukai mata pelajaran ini. Karena pada dasarnya yeoja itu memang tidak membenci mata pelajaran apa pun.

Seperti perintah dari Jin, Jessica menyalin materi minggu kemarin yang sudah ia catat di bukunya ke buku milik Jin. Sesekali ia menggerutu kesal karena dilihatnya Jin malah asyik-asyikan berbisik dengan namja disampingnya ketimbang mencatat atau setidaknya mendengarkan video pembelajaran yang sedang diputar.

“Aishh.. pegal”  gumam Jessica karena tangannya pegal menyalin catatan yang hampir tiga lembar buku bolak-balik. Ia sedikit bingung karena selama ia bersekolah, ia hampir tidak pernah merasa lelah saat mencatat. Namun mengapa hari ini berbeda? Mungkin karena faktor ketidak ikhlasan Jessica menyalinkan catatannya untuk Jin.

Karena lelah, Jessica meletakkan kepalanya di atas meja seraya memijit jari-jari tangan kanannya yang terasa pegal. Tiba-tiba sebuah suara lantang membuat dirinya mengangkat kepala seketika.

“Jessica!”

Semua mata kini tertuju pada Jessica. Yebin seongsanim mempause video pembelajarannya lantas berjalan mendekati Jessica.

“Apa tidak salah? Kau sedang tidur di kelas etika, Jung Jessica?”

Yeoja itu melebarkan kelopak matanya. Ia lantas menggeleng kecil. “Aniyo, Saem. Saya tidak tidur.”  Elaknya karena ia memang tidak tertidur.

Yebin seongsaenim mengangguk pelan. “Bagus. Kalau begitu sekarang maju ke depan dan jelaskan materi yang baru saja diputar dalam video.”

Matilah kau, Jessie!

Keringat dingin mulai bercucuran dari tubuhnya. Ia mengepalkan tangannya, saking takutnya karena ia sama sekali tidak mendengarkan materi hari ini. Dengan tubuh bergetar dan peluh bercucuran, ia berjalan pelan ke depan. Ia menatap seisi kelas yang kini memperhatikannya. Entah mengapa ini adalah pertama kali baginya tidak berani maju ke depan untuk mengulas kembali materi, padahal sebelum-sebelumnya ini sangat mudah baginya.

“Silahkan dimulai.”  Suruh Yebin seongsanim.

Jessica menarik nafas dalam. Ia menggiggit bibirnya, menampakkan dengan jelas bahwa ia sedang tidak tenang dan khawatir. Sekitar hampir 1 menit ia hanya berdiri diam di depan, membuat seisi kelas bertanya-tanya mengapa yeoja itu tiba-tiba seperti itu.

“Jung Jessica? Bisa kau mulai sekarang.”  Perintah Yebin seongsanim lagi seraya mendekati Jessica.

Tiba-tiba yeoja brunette itu membungkuk berkali-kali pada Yebin seongsanim, yang lagi-lagi membuat teman-teman sekelasnya kebingungan.

“Jeongseohabnida, Saem. Saya tidak memperhatikan materi yang baru saja diputarkan. Jeongmal jeongseohabnida.”

Yebin seongsanim nampak marah. Tanpa ba bi bu lagi, ia berkata dengan lantang. “Lari lapangan lima putaran dan kau boleh kembali ke kelas saat pelajaranku telah selesai. Sekarang!”

Kelas menjadi gaduh setelah itu. Beberapa teman ada yang menertawakan, ada juga yang kebingungan, dan ada juga yang menatap khawatir seperti Jin saat ini. Ia kembali meruntuki dirinya bodoh karena menyuruh Jessica mencatat untuknya yang berakhir seperti ini.

“Ne..”  jawab Jessica lemas seraya berjalan gontai keluar dari kelas.

____________________________________________________________

 

Jessica menatap lapangan outdoor dengan ekspresi melas. Demi apapun, ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia medapat hukuman dari guru karena tidak memperhatikan pelajaran. Dalam sejarah hidupnya, tidak pernah ada kata kerja ‘tidak memperhatikan pelajaran’. Ia sungguh seorang yang sangat taat pada sekolah dan belajar.

“Ini semua karena Jin!”  teriak yeoja itu frustasi. Ia pun mulai berjogging menggelilingi lapangan.

Dalam pikirannya masih bergemuruh kekesalan yang membuncah terhadap Jin. Sebenarnya ia sudah menyiapkan berbagai sumpah serapah untuk mengumpati Jin yang menurutnya sangat keterlaluan hari ini. Ia benar-benar bingung, bagaimana bisa ada namja semenyebalkan Jin namun banyak yang menyukainya? Bagi Jessica, yeoja-yeoja yang menyukai Jin benar-benar bodoh karena namja itu hanya memiliki modal tampang. Walau sebenarnya Jessica akui keenceran otak Jin memang terbukti. Tapi ia tak peduli, karena dalam proses pembelajaran, Jin tidak pernah nampak serius. Hanya pada akhirnya saja ia mendapat nilai sempurna.

“Yak! Aku membencimu, Kim Seok Jin!”

____________________________________________________________

 

Pelajaran etika baru saja selesai ketika bel istirahat berbunyi. Beberapa yeoja yang setia menemaninya ke kantin sudah menghampiri mejanya, namun namja itu malah berkilah ingin menanyakan materi pada Yebin seongsanim lantas bergegas mengejar Yebin seongsanim yang kini tengah menuju ruang guru.

Sebenarnya Jin hanya ingin memberitahu Yebin seongsaenim yang sebenarnya tentang Jessica tadi. Ia ingin mengatakan bahwa Jessica tidak pantas dihukum, karena dirinya lah yang menyebabkan Jessica tidak memperhatikan pelajaran.

“Yebin Saem.”  Panggil Jin pada guru itu.

“Oh, Kim Seok Jin. Ada apa?” Yebin seongsaenim menoleh. Jin berdehem kecil. Yebin seongsanim pun menyuruh Jin untuk duduk di bangku yang tersedia di tempatnya.

“Begini, Saem. Saya ingin menjelaskan kesalah pahaman di kelas tadi.”  Ujar Jin canggung.

Yebin seongsanim nampak bingung. “Kesalah pahaman apa?”

Jin menghela nafas sejenak. “Sebenarnya tadi saya menyuruh Jessica untuk mencatat materi minggu kemarin yang belum saya catat. Jadi sebenarnya saya yang salah sehingga membuat Jessica tidak memperhatikan pelajaran.”

Yebin seongsaenim nampak mencerna perkataan Jin. Detik berikutnya, tatapannya menjadi tidak bersahabat lagi. Ia memukul meja kerjanya pelan.

“Baiklah Kim Seok Jin, kau tau tindakanmu itu salah kan? Jadi sekarang kau harus menerima hukuman yang lebih berat dari Jessica.”

Jin menelan ludahnya susah payah. Pada akhirnya ia mengangguk dan mematuhi hukuman yang diberikan oleh Yebin seongsanim.

____________________________________________________________

 

Pagi itu, Jin datang lebih awal ke sekolah. Bukan apa-apa, ia hanya ingin melihat Jessica yang sudah ia perintahkan untuk datang lebih awal ke sekolah selama satu bulan menjadi pembantunya. Namun saat namja itu memasuki ruang kelas, belum ada siapaun disana. Jin menghembuskan nafasnya.

“Tentu saja dia marah padaku.”  Gumamnya.

Jin lantas duduk di bangkunya. Ia pun melamun, memikirkan bagaimana marahnya Jessica padanya. Sudah dari awal Jessica tidak menyukainya dan sekarang ia membuat masalah yang melibatkan yeoja itu. Ia benar-benar menyesal dan merasa bersalah karena terus menjerumuskan Jessica pada situasi yang membuat yeoja itu selalu berakhir marah padanya.

Awalnya niat Jin hanya ingin dekat dengan Jessica, karena merasa Jessica unik dan berbeda dengan siswi-siswi lain di sekolah ini. Namun niatnya yang terlalu nekat itu hanya bisa memancing amarah Jessica saja sekarang.

“Hufft..”  ia kembali membuang nafas.

Kali ini Jin nampak lelah. Ia memijit pelan leher dan kakinya yang terasa pegal. Akibat ulahnya, ia mendapat hukuman dari Yebin seongsanim dan hukuman itu dua kali lipat dari hukuman Jessica yang hanya berlari lima putaran di lapangan.

Tap tap~

Jin menoleh ke arah pintu dan mendapati Jessica tengah berjalan menuju mejanya. Mata namja itu berbinar menatap Jessica.

“Hai, Jess.”  Sapa Jin saat Jessica meletakkan tasnya di meja.

Diam, tidak ada respon dari Jessica. Namja itu sudah memprediksinya. Ia pun bangkit lalu menyodorkan sebuah kotak bekal pada Jessica.

“Ini sarapan untukmu.”

Dengan santai Jessica menyikut kotak bekal pemberian Jin sehingga benda itu terjatuh ke lantai. Tanpa menatap Jin, Jessica melenggang meninggalkan kelas.

Jin menatap kepergian Jessica dengan rasa bersalah. Perkiraannya benar, Jessica marah. Tidak-tidak, sangat marah.

____________________________________________________________

 

Jam istirahat digunakan Jessica untuk membaca buku di taman belakang sekolah. Ia duduk di bangku taman seraya memasang headphone putih ke telinganya. Mata foxynya dengan fokus terus menelusuri baris demi baris kalimat yang tertera pada buku pejaran berjudul “Sejarah Korea Selatan dan Korea Utara”  tersebut. Ia tenggelam dalam dunianya selama beberapa menit, sampai sepasang tangan dengan jail melepas headphonenya.

“Kenapa kau selalu belajar, Jessica?”

Yeoja itu menatap seorang namja dengan senyum manis yang bersinar dengan tatapan datar. Ia tidak menanggapi sama sekali perkataan namja itu, karena suasana hatinya sedang tidak baik.

“Ini untukmu.”  Namja bername tag ‘Byun Baekhyun’  itu menyodorkan minuman isotonik pada Jessica.

“Apa kau mau menyogokku? Mau menyuruhku masuk ke klub olimpiade lagi, eoh?”  tanya Jessica ketus karena ia sudah bisa menebak mengapa Baekhyun menemuinya.

Namja itu terkekeh. “Tentu saja tidak ada topik lain yang membuatku menemuimu.”

Jessica tersenyum tipis lalu meminum minuman yang diberikan Baekhyun. “Jawabanku tidak.”

“Tapi Jin sudah keluar dari klub.”

Seketika Jessica tersedak, saking terkejutnya mendengar penuturan Baekhyun. Matanya melotot menatap Baekhyun, meminta penjelasan.

“Tadi setelah jam ke 3, dia datang ke kelasku dan memberikan surat yang berisi pengunduran diri. Ia juga meminta maaf karena seakan mempermainkan klub. Tapi aku tidak marah padanya, karena dia mengatakan ia tidak ingin membuatmu tidak nyaman satu klub dengannya.”

Jessica terdiam. Dalam hatinya bertanya-tanya, sebenarnya apa yang diinginkan namja itu? Ia selalu bingung dengan sikap Jin yang aneh dan misterius.

“Jadi kau tidak ingin kembali?”  tanya Baekhyun membuyarkan lamunan Jessica.

Yeoja itu hanya membalas dengan anggukan. Baekhyun pun tidak memaksa dan akhirnya ia kembali meninggalkan Jessica sendiri di taman itu.

“Apa yang dia inginkan?”  gumam Jessica bingung.

Peep peep peep~

Jessica mengambil ponsel dari saku blazernya lantas membuka sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Jemarinya sudah siap menghapus pesan itu, tetapi saat isinya nampak sedikit, membuat Jessica penasaran dan akhirnya membaca pesan tersebut.

            From   : 688xxxxxxx

                Aku menunggumu di halte sepulang sekolah. Aku ingin bicara padamu.

 

Yeoja bersurai kecoklatan itu menaikkan sebelah alisnya. Siapa ini? Ia menebak-nebak siapa orang yang mengiriminya pesan. Apa mungkin Baekhyun sunbae? Tapi kenapa ia tidak mengatakan langsung saja? Ia pun hanya menggidikkan bahunya lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam saku.

____________________________________________________________

 

Jessica penasaran dengan siapa yang mengiriminya pesan tadi siang. Ia pun memutuskan untuk datang dan melihat siapa orang itu. Ia berjalan keluar gerbang dan segera menuju ke halte terdekat dari sekolah. Disana ia tidak mendapati siapapun, kecuali..

“Jin?!”  tanya Jessica yang terkesan membentak.

Jin yang sedang duduk di halte tersebut menatap Jessica dengan senyumannya. Ia lantas berdiri dan menarik tangan Jessica dan mendudukkan yeoja itu.

“Mau apa kau?”  tanya Jessica ketus.

Jin terkekeh. “Yak, kau ini masih 1 minggu menjadi pembantuku. Masih ada 3 minggu lagi yang harus kau lalui di dekatku, Jung Jessica.”

Yeoja bermata hazel itu mengabaikan Jin. Ia masih marah pada namja yang seenaknya saja pada dirinya. Memang ia sedang menjad pembantunya, namun haruskah ia dipermainkan separah ini.

“Mianhae, Jessica.”  Ucap Jin dengan nada rendah. Ia memposisikan dirinya di depan Jessica, agar yeoja itu bisa melihatnya.

“Pergilah!”  bentak Jessica seraya mengalihkan pandangannya.

Jin berlutut di depan Jessica. “Apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkanku, Jessica?”

Jessica berdecak kesal. Ia merasa tidak enak melihat Jin berlutut di hadapannya, sehingga ia pun segera berdiri dan hendak pergi.

“Jess..”  Jin menahan tangannya. “Jebal.. aku akan melakukan apapun asal kau mau memaafkanku..”

Jessica melepaskan tangan Jin dengan kesal. Ia menatap namja itu tajam.

“Kau ingin aku maafkan? Baiklah. Pergi ke lapangan basket outdoor dan bermainlah disana sampai tenaga mu habis, lebih bagus lagi jika kau pingsan atau kehujanan disana.”  Setelah mengucapkan itu, Jessica pun berlalu memasuki bus tujuannya.

“Baiklah, akan ku lakukan.”  Gumam Jin.

____________________________________________________________

 

Yeoja dengan tas berwarna tosca dan surai kecoklatan yang terurai itu nampak kebingungan menatap beberapa siswi di kelasnya histeris. Ia yang tidak penasaran membiarkannya begitu saja lantas duduk di bangkunya. Setelah bel tanda masuk berbunyi, murid-murid yang ribut dan histeris tadi segera kembali ke tempat duduk masing-masing.

Hari itu Jessica merasa sedikit aneh. Seperti ada sesuatu yang tertinggal pagi ini, namun ia tidak tau apa itu. Ia pun berusaha fokus pada buku Sejarah yang ia baca, namun ia tetap saja memikirkan itu.

“Kemana Kim Seok Jin?”

Nama yang disebutkan oleh Kwanghee seongsanim membuat Jessica menoleh pada bangku kosong di samping kanannya. Dia pun menemukan jawaban atas sesuatu yang tertinggal, yaitu Jin tidak ada.

“Sakit.”  Jawab sekretaris kelas.

Jessica sedikit terkejut mendengar jawaban itu. Sakit? Apa Jin benar-benar melakukan syarat yang ia berikan agar memaafkan namja itu?

Dengan sengaja Jessica menguping pembicaraan kedua yeoja yang duduk di depannya. Keduanya sedang membicarakan Jin.

“Kasihan Jin. Kemarin dia dihukum oleh Yebin Saem membersihkan lapangan sepak bola outdoor dan indoor. Ia juga disuruh merapikan alat olah raga tim atletik yang selalu berantakan itu.”

“Benar. Aku melihatnya memijit lengan dan kakinya sendiri. Aku juga melihat ada koyok di lehernya saat ia menunduk. Uhh.. kasian sekali namja tampan itu.”

“Sepertinya hukumannya bukan itu saja. Sena bercerita, kemarin ia melihat Jin bermain basket di tengah hujan. Padahal dia sudah sangat lelah. Aigoo..”

Jessica menutup telinganya setelah medengar percakapan itu. Raut wajahnya berubah sangat khawatir. Apa ia terlihat seperti orang jahat sekarang? Yeoja itu memukuli kepalanya sendiri. Kali ini ia marah pada dirinya sendiri karena tidak menyadari bahwa Jin juga ikut dihukum oleh Yebin Seongsaenim. Ia menyesal telah berlaku buruk pada namja itu yang mungkin sekarang sedang demam karena bermain hujan kemarin.

 

Selepas sekolah usai pun, Jessica segera keluar dari lingkungan sekolah dan hendak menuju rumah Jin. Namun saat sampai di depan halte, ia menepuk dahinya pelan.

“Aku kan tidak tau alamatnya.”  Gumam yeoja itu.

Ia pun berpikir sejenak. Sebuah ide pun melintas di otak encernya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menelfon nomor Jin yang pernah mengirimnya pesan. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi tanda telfon tersambung, lalu..

“Yeoboseyo? Jessica?”

Jessica semakin merasa bersalah karena mendengar suara lemah Jin. “Yak! Kim Seok Jin!”

“Eh, wae? Kenapa kau menelfonku?”

“Beritahu aku alamat rumahmu, ppaliwa!”

“Untuk apa? Kau mau-”

“Sudah cepat berikan!!”

 

Setelah mengalami sedikit argument dengan Jin, akhirnya Jessica berhasil mendapatkan alamat rumah Jin. Ia pun segera memasuki bus dengan tujuan pada daerah itu. Memakan waktu 15 menit dengan bus untuk sampai di perumahan tempat tinggal Jin. Sesampainya disana, Jessica pun mencari cirri-ciri rumah yang disebutkan oleh Jin di telfon tadi.

“Blok H nomor 46, cat warna biru laut.”  Jessica terus menggumamkan itu. matanya berbinar saat menemukan alamat yang ia cari. Sebuah besar bergaya klasik minimalis dengan pagar rumah yang rendah dan terbuat dari kayu.

Jessica memencet bel rumah itu beberapa kali. Dan 1 menit kemudian, pagar utama terbuka dan menampakkan sosok Jin dengan wajah pucatnya.

“Kim Seok Jin!”  pekik Jessica melihat Jin yang sangat pucat.

“Eh, Jessica? Jadi benar kau ma-”

“Jangan banyak bicara. Sana masuk, kau tidak boleh kedinginan.”  Jessica memotong ucapan Jin lalu mendorong namja itu masuk ke dalam rumah.

Mereka berdua pun kini berada dalam rumah Jin. Jessica terus mendorong Jin masuk, sampai namja itu sendiri yang menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap Jessica dengan senang.

“Kau sudah memaafkanku?”  tanya Jin gembira.

Jessica merengut lantas mengangguk. “Kau ini sebenarnya bodoh atau pintar? Kau menganggap ucapanku itu serius, eoh? Lalu kenapa kau mengaku pada Yebin Saem dan melakukan hukuman yang berat?”  cecar Jessica kesal pada Jin.

Namja itu pun tersenyum penuh arti. “Aku kan sudah bilang padamu, aku akan melakukan apapun yang kau suruh. Dan masalah Yebin Saem itu, memang sudah seharusnya aku mengaku karena aku yang salah.”  Jelas Jin.

Selepas itu, keadaan menjadi hening. Keduanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Jin yang merasa keadaan sangat canggung pun kembali berkata,

“Kau harus merawat majikanmu yang sakit.”  Ujarnya dengan nada perintah.

Jessica mengerucutkan bibirnya. Ia menatap Jin sinis. “Ne ne ne, arraseo.”

Yeoja itu pun menyuruh Jin untuk tiduran di sofa. Ia beranjak menuju dapur, mengambil baskom dan air dingin untuk mengkompres Jin. Ia juga meminta handuk untuk media kompresnya. Dengan telaten, Jessica meletakkan handuk dingin itu ke dahi Jin.

“Dingin..”  gerutu Jin.

“Tentu saja!”  geram Jessica. Yeoja itu pun kembali merawat pasiennya dengan sabar. Sebenarnya ia melakukan ini atas dasar merasa bersalah pada Jin. Ialah yang membuat Jin menjadi sakit.

“Kau sudah minum obat?”  tanya Jessica yang melihat Jin akan memejamkan matanya.

Namja itu menggeleng. “Aku belum makan jadi tidak bisa minum obat. Eomma tidak memasak hari ini.”

Jessica mengangguk. Ia meletakkan handuknya kembali ke baskom. Yeoja itu lantas beranjak menuju dapur. “Akan ku buatkan bubur.”

Jin tersenyum menatap punggung Jessica yang semakin menjauh menuju dapur. Ia berpikir, mungkin dalam 3 minggu ke depan ia sudah bisa dekat dengan Jessica, buktinya baru satu minggu yeoja itu menjadi pembantunya, ia sudah dirawat dengan baik oleh Jessica. Entah mengapa ia sangat senang jika ia benar-benar bisa dekat atau sangat dekat dengan Jessica.

Sekitar 15 menit berkutat di dapur, Jessica kembali ke ruang keluarga dimana Jin berbaring. Ia mendengus kesal mendapati Jin tertidur lelap di sofa berwarna coklat tersebut. Ia menggoyangkan bahu Jin pelan, berusaha membangunkannya. Sebenarnya ia tidak tega, namun namja itu belum makan dan minum obat.

“Jin-a. Jin! Kim Seok Jin!”

Mata sipit Jin perlahan terbuka. Ia merengut karena tidurnya diganggu oleh Jessica. “Eunghh.. wae? Aku ingin istirahat.”

Jessica memukul lengan Jin pelan. “Yak, kau harus makan dan minum obat dulu. Ini makan!”  serunya seraya menyodorkan semangkuk bubur hangat pada Jin.

Namja itu menatap bubur dan Jessica bergantian. Dengan cengiran ia merengek pada Jessica, “Suapi aku..”

Jessica mendelik mendengar rengekan Jin. Ia menggeleng dengan tatapan horror yang diarahkan pada Jin. “Yak, shireo shireo! Kau punya dua tangan dan itu semua normal. Makan sendiri.”

“Kau kan pembantuku! Kau harus menuruti semua keinginanku!”  balas Jin sengit.

Dengan setengah hati Jessica menyerah. Ia pun mengambil semangkuk bubur itu lalu meniupinya dan menyendokkan untuk Jin. “Buka mulutmu!”

Senyum Jin menggembang. Dengan senang hati ia membuka mulutnya lantas memakan bubur buatan Jessica. Sejenak alisnya berkerut setelah merasakan masakan Jessica.

“W..wae? Tidak enak?”  tanya Jessica bingung.

Jin menggeleng cepat, lalu mengacungkan kedua jempolnya.

“Jeongmal? Akan ku rasakan sendiri.”

“Jangan!”  cegah Jin saat Jessica hendak menyendokkan bubur ke mulutnya. Ia merebut mangkuk yang dipegang Jessica. “Ini enak, aku tidak mau membaginya!”

Jessica mendengus kesal. Ia melipat tangannya di dada dan mengalihkan pandangan dari Jin yang kini tengah meniupi buburnya. Tangan yeoja itu tiba-tiba merebut mangkuk bubur Jin karena melihat Jin yang tidak bisa makan bubur dengan benar.

“Yak!”  protes Jin.

Ia mengabaikannya lalu meniupi bubur sampai asapnya menghilang. Masih dengan wajah kesal, Jessica menyuapi Jin lagi. “Kau ini seperti anak kecil. Makan bubur saja tidak bisa.”

Jin tersenyum senang. Mereka pun larut dalam acara suap-meyuap. Emm.. bukan, tepatnya acara menyuapi Jin. Setelah bubur dalam mangkuk habis, Jessica memberikan segelas air pada Jin untuk minum obat.

“Ahh..”   gumam Jin setelah meminum obatnya. Kini pemandangan di hadapannya adalah Jessica yang sedang membereskan meja dan membawa mangkuk ke dapur. Ia kembali tersenyum karena yeoja itu.

“Jessica.”  Panggil Jin saat Jessica sudah kembali ke ruang keluarga.

“Hmm?”

Jin mendekat pada Jessica lalu mengecup singkat pipi yeoja itu. Ia lantas berbisik ke telinganya. “Gomawo..”

“Y..yaaakk!”  bentak Jessica seraya melotot.

 

 

To Be Continue…

 

Maaf ya kalau hasil chapter 2 tidak seperti yang diharapkan.😀

22 thoughts on “[Freelance] Friend Zone (Chapter 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s