[Freelance] (E) (Oneshot)

Title                 : E

Author             : Violet Park

Rating             : PG-13

Length             : Oneshot

Genre              : Romance

Main Cast        : Jessica Jung, Oh Sehun

Support Cast   : Yoo Ji Yeon (OC), Kim Ha Na (OC), Park Chanyeol

Disclamair       : Just my imagination, They belong to god, family, fans, and agency ^^

Authors Note  : Hai hai long time no see any body miss my story? Kekeke just kidding ^^ . Happy Reading all~😀😉 #Jessie #Sehun #HunSica #Fanfic #Romance #2015

 

= Eyes =

Seorang yeoja terlihat mempercepat langkah kakinya sembari menggumam tidak jelas. Matanya sesekali melirik ke gedung di sebelahnya dengan raut muka asam.

“Jangan bilang jika kami diberikan ruang lantai teratas” gumamnya kesal sambil memejamkan matanya membayangkan mendapatkan ruang kelas di lantai dua.

Iapun segera berbelok ke kiri dan menapaki anak tangga terdekat di sekitarnya.

Satu demi satu anak tangga ia tapaki dengan cukup cepat untuk ukuran yeoja seusianya menimbulkan suara khas sepatu yang cukup menggema di lokasi sekitar yeoja itu berada. Iapun kembali berbelok ke kanan dan melihat sebuah ruang kelas dan meliriknya sekilas.

Kelas XI-2-2

Begitulah apa yang terpampang dalam lempengan besi yang berada di atas pintu kelas yang dibaca dengan cermat dan berkali-kali oleh gadis tersebut.

“Nah” ucapnya kecil sambil memijat dahinya dengan kesal.

Baiklah untuk saat ini ia harus bersabar untuk bolak-balik naik tangga sekedar untuk pergi ke kelasnya selama satu tahun ke depan.

Riuh ricuh manusia yang dinamakan ‘Siswa’ terdengar jelas memenuhi sebuah ruangan yang berisi dua puluh empat orang manusia yang ada di dalamnya. Beberapa pesawat kertas terlihat melintas hilir-mudik di dua bangku pojok belakang kelas sedangkan terdengar bisik-bisik yang sesekali berakhir dengan pekikan keras murid yeoja dengan kegiatan ‘Gosip’ mereka. Mereka ikut menyumbang prosentase terbesar suara-suara yang ada di dalam kelas itu. Alunan suara gitar yang apik kontras dengan suara ribut permainan game tembak-tembakkan yang menggema saling bersebelahan dan hmm masih banyak hal lain lagi yang dapat diceritakan but Oh yeah that’s something we usually do / hear in classroom (especially after the teacher left) right?

Di dua meja terdepan bagian tengah dari kiri, terlihat dua orang anak perempuan dan dua anak perempuan lain di belakang bangku mereka asyik melekatkan pandangan mereka pada sebuah layar laptop salah satu milik keempatnya.

“Ahahahhahahahhaha” tawa keempatnya terkadang terdengar begitu kencang pada bagian-bagian tertentu yang terpampang dalam laptop tersebut. Dan akan berulang kembali untuk saat-saat tertentu *syarat dan ketentuan berlaku hehehe.

Beberapa menit kemudian tontonan tersebutpun usai dan keempatnya kembali ke aktivitas masing-masing sebelumnya, menjadikan ruangan kelas mereka –sedikit- lebih tenang.

Seorang yeoja dengan rambut terurai terlihat asyik membaca sebuah buku bacaan bersampul hijau gelap sambil meminum susu kotak yang ada di genggaman tangan kanannya, yeoja kedua berambut kuncir kuda terlihat sedang mengotak-atik pensil mekaniknya yang sedang bermasalah-terlihat dari kedua alisnya yang bertautan erat dan kedua tangannya yang menekan-nekan bagian pensil yang diduga mengalami kerusakan, yeoja ketiga yang mengenakan cardigan berwarna ungu gelap beserta temannya yang berambut pendek yang dikuncir ekor kuda berjalan keluar kelas setelah sebelumnya meminta izin kepada ketua kelas mereka.

“Uh kuharap ujian besok tidak akan sesulit yang kutakutkan”ucap yeoja berambut ekor kuda ketika melangkahkan kakinya menuju ke toilet yang terletak di lantai dasar sekolah mereka. Ia sekilas merapikan poni rambutnya di depan cermin yang terpasang dengan apik di dinding berwarna putih tersebut.

“Kuharap juga begitu, padahal baru saja kita mempelajari bahan materinya seminggu yang lalu haaaah bagaimana nasibku nanti?” keluh yeoja di sampingnya sembari mencuci kedua tangannya di wastafel di sebelah gadis berkuncir kuda tadi. Bibirnya mengerucut kesal membuatnya terlihat imut walau alis matanya bertaut marah pada wajahnya.

“Yeah, itulah yang kutakutkan. Ah Yeon, jangan kau tinggalkan aku lagi seperti kemarin. Nanti jika seosangnim datang aku akan kena soal-soal yang susah lagi gara-gara terlambat masuk ke kelas” perintah seorang yeoja berkuncir ekor kuda dengan name tag Yoo Ji Yeon.

“Hmm Ne~” ujar gadis yang bernama lengkap Jung Soo Yeon dari luar bilik kamar mandi yang dimasuki oleh Ji Yeon.

Pintu kamar mandipun terbuka beberapa menit kemudian menampakkan wajah cukup kesal Ji Yeon.

“Wae? Sudah waktunya?” Tanya Soo Yeon sambil melirikkan matanya ke sebuah bungkusan putih yang digenggam oleh Ji Yeon.

Ji yeon hanya mengangguk lemas dan membuang bungkusan tersebut ke tempat sampah terdekat lalu mencuci tangannya.

“Perlu obat pereda nyeri itu? Mau mampir ke UKS setelah ini? Kurasa masih ada waktu sepuluh menit hingga Kim seosangnim datang” tawar Soo Yeon sambil membuka pintu ruang kamar mandi di ikuti dengan Ji Yeon yang menutup pintu kamar mandi dan melangkahkan kakinya -mensejajarkan langkahnya dengan langkah gadis di depannya itu.

“Hmm boleh juga siapa tahu aku memerlukannya nanti… Uhm Kajja!” ajak Ji Yeon sembari menggandeng lengan Soo Yeon dan berlari cukup kencang membuat sedikit kegaduhan pada lorong yang mereka lewati.

BRUK

Ji Yeon yang menyeret Soo Yeon dengan cukup kencang menyebabkan yeoja itu-Soo Yeon menabrak seorang namja sehingga buku-buku yang dibawa namja tersebut berjatuhan di lantai.

“Ah mianhae, YAK-JI YEON-YA!!!!” ucap Soo Yeon meminta maaf sambil membantu namja tersebut mengambil buku yang berjatuhan sebelum ia berteriak kesal saat tersadar bahwa tersangka kejadian ini sesungguhnya a.k.a Ji Yeon telah menghilang dari lokasi kejadian perkara?

“Sekali lagi mian ne” ucap Soo Yeon sambil membungkuk kecil tanpa melihat namja yang ia tabrak tadi-pikirannya saat ini penuh dengan kekesalannya pada sahabatnya Yoo Ji Yeon.

Sedetik kemudian iapun melesat dan menuju ke UKS-Lokasi yang kemungkinan besar terdapat sosok Ji Yeon berada kini.

“Haish awas kau Ji Yeon-Ya!” teriaknya kesal.

Tanpa yeoja itu sadari, namja yang ditabraknya tadi memandanginya heran bercampur geli terlihat dari senyum kecil yang tersungging di bibir tipisnya.

“Yo!” ucap sebuah suara dari seorang namja tinggi setinggi tiang yang sedang membawa tas sekolahnya dengan raut muka berseri.

“Wae?” jawab namja yang dituju dengan raut muka datar setelah ia menghentikan kegiatannya mendribble bola basket dan mengamati siapakah gerangan yang mengganggu aktivitasnya bermain basket sejenak itu.

“Ya! Kenapa wajahmu datar begitu? Hari ini cerah dan menyenangkan udaranya segar kau setidaknya harus memasang senyummu” balas namja tadi sambil melepas jas sekolahnya yang bername tag-an Park Chanyeol dan meletakkannya bersamaan dengan tas miliknya disebuah bangku yang terletak tak jauh disebelahnya.

Namja yang dimaksud Park Chanyeol tadi hanya menggelengkan kepalanya pelan dan sedikit menyunggingkan senyumnya. Senyum yang bisa saja memikat setiap hati perempuan yang melihatnya.

Chanyeol yang menyadari hal tersebutpun hanya menyunggingkan senyumnya.

“Kau harusnya sering tersenyum seperti itu Sehun, kau pasti bakal digilai oleh siswi-siwi di sekolah kita ini, tak perduli dia seangkatan, sunbae ataupun hoobae. Pasti mereka semua pasti akan jatuh hati padamu, seperti halnya aku-banyak yang tergila-gila pada ketampananku dan senyum menawanku ini” ucap Chanyeol sambil memperlihatkan senyum lebarnya dan mengacak rambutnya –mencoba terlihat keren, mungkin.

Sehun yang mendengar bualan Chanyeol hanya memandang Chanyeol dengan pandangan aneh sekaligus jijik dengan tingkah over PD namja di sekitarnya itu kini.

Oh tuhan kenapa kau menciptakan makhluk senarsis dia di muka bumi ini?’ pikirnya.

Tak memperdulikan Sehun yang dipenuhi pikiran akibat tindakan Chanyeol, namja itu segera mengambil bola basket yang sedaritadi dipegang Sehun dan melakukan slam dunk pada keranjang basket yang tak berada jauh dari mereka berdua.

Sehun yang tersadar segera menyunggingkan smirknya.

“Kau memulai pertarungan denganku Yeol?” Tanya Sehun yang disambut oleh smirk dari Chanyeol.

Dan dengan demikian, keduanyapun segera memulai pertandingan basket satu lawan satu.

Ji Yeon yang berada di luar kelas sedang asyik mengamati suasana sekitar selagi masih jam kosong karena seosangnim sedang menghadiri suatu urusan yang mendesak-istrinya sedang melahirkan. Oh sungguh Ji Yeon ingin sekali memohon kepada Tuhan bahwa setiap hari akan ada seosangnim yang dirundung kepentingan mendesak sehingga kelasnya mendapat jatah jam kosong yang mencukupi. Sesekali kan tidak apa-apa, begitu piker Ji Yeon.

Di sampingnya Soo Yeon juga ikut menemani, tangan gadis itu sibuk bermain dengan tumbuhan berbunga di sampingnya dengan senyum kecil di bibirnya. Tak terlalu memperdulikan apa yang ada di benak Ji Yeon yang saat ini sedang senyum-senyum seorang diri.

“OMO” pekik Ji Yeon beberapa saat kemudian.

Soo Yeon yang mendengar pekikan Ji Yeon langsung menoleh cepat dengan pandangan mata khawatir.

“Kau ken-”

Ucapan Soo Yeon terpotong karena jari telunjuk Ji Yeon yang langsung mengarah ke bibir Soo Yeon dan beralih ke depan. Ah bukan lebih tepatnya ke bawah.

Mencoba mengerti, Soo Yeon mengikuti arah telunjuk sahabatnya itu. Ah sekarang ia mengerti. Sahabatnya ini memang menyukai permainan basket, pantas saja ia terpekik cukup keras ketika melihat ada seseorang atau banyak orang yang bermain basket di lapangan sekolah mereka.

“Ah~ keren sekali~” puji Ji Yeon.

Soo Yeon yang mendengar ucapan tersebut keluar dari mulut Ji Yeon langsung melihat kembali ke bawah. Dilihatnya dua orang namja sedang asyik bermain basket. Terlihat olehnya bahwa sesekali keduanya berlarian mengejar satu sama lain dan terkadang salah satunya mencoba memasukkan bola basket ke ring basket yang berada di sebelah kanan lapangan.

“Apanya yang keren? Namja itu selalu gagal memasukkan bolanya ke ring!” pekik Soo Yeon sambil menunjuk pada seorang namja yang masih mengenakan jas sekolah mereka.

Ji Yeon yang mendengar hal tersebut menoleh ke Soo Yeon heran.

“Aku kira kau tidak suka permainan basket?” tanyanya dengan mata bulatnya yang menurut sebagian besar teman Soo Yeon imut bukan main.

“Aku memang tidak menyukai permainan itu…” balas Soo Yeon sambil menolehkan pandangannya kembali ke dua namja tadi.

“Apa enaknya berlari-lari dan melompat-lompat berkali-kali seperti itu? Apa tidak lelah? Belum lagi pasti banyak keringat setelah bermain uwh no way!” runtutnya muak sambil meniupkan rambutnya gemas.

“Ta-”

Baru saja Ji Yeon akan berbicara -tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang Soo Yeon dan Ji Yeon.

“Bilang saja kau tidak suka olahraga Soo Yeon-ah, memangnya kau bisa bermain basket?” ucap sebuah suara yang bersumber dari seorang yeoja yang tak lain adalah Kim Ha Na, salah satu teman dekat mereka.

Mendengar ucapan tersebut Soo Yeon langsung diam dan menghembuskan nafasnya kasar. Ia tidak suka jika teman dekatnya ini mengarahkan pembicaraan yang menyangkut ketidakmampuannya dalam hal olahraga-terutama yang menyangkut olahraga berbola oranye itu.

Reaksi diam Soo Yeon membuat Ha Na hanya tersenyum sekilas sambil mendekatkan posisinya saat ini ke dekat tembok di mana Ji Yeon dan Soo Yeon memperhatikan dua namja yang ada di bawah sana.

“Kurasa kau tidak mahir juga kan? Jangan salahkan namja itu jika ia sering gagal dalam menshoot bola ke dalam ring. Itu tidak mudah Soo Yeon. Untuk melakukan shoot yang langsung tepat ke ring basket maksudku” Ha Na meletakkan salah satu tangannya untuk menopang dagunya dan memperhatikan kedua namja yang masih asyik bermain basket di lapangan yang sedang sepi.

Soo Yeon yang mendengar ucapan Ha Na langsung mengatupkan bibirnya dan hanya diam memandangi namja yang dioloknya tadi. Mulutnya kecilnya kembali menghembuskan nafas kesal sehingga menimbulkan suara kecil di antara ketiganya.

Ha Na yang masih sibuk melihat kedua namja tadipun kini kembali berdiri tegak dan melangkahkan kakinya ke kelas, meninggalkan Soo Yeon yang tengah merajuk kepada Ji Yeon betapa mengesalkannya ucapan seorang Kim Ha Na.

Setelah beberapa langkah tiba-tiba yeoja itu-Ha Na menghentikan langkahnya dan memperhatikan pandangan Soo Yeon yang kini sedang menatap ke arah lapangan.

“Soo Yeon-ah!” panggilnya ke Soo Yeon membuat sang empunya nama membalikkan badan dan memandang Ha Na dengan raut muka heran.

“Jangan sering memandangi namja yang kau olok-olok itu, kau akan suka padanya nanti” ucap Ha Na dengan senyumannya yang jarang terlihat oleh orang lain. Setelah mengucapkan hal tersebut ia langsung membuka pintu kelas dan memasukinya, meninggalkan Soo Yeon yang terbengong dengan ucapan Ha Na dan Ji Yeon yang terkikik geli oleh perkataan salah satu sahabatnya itu barusan.

“Kenapa kau seperti itu Ji Yeon? Menertawakan sahabatmu sendiri? Sahabat macam apa kau ini?!?” kesal Soo Yeon sambil memainkan kembali tumbuhan berbunga di dekatnya yang sempat terabaikan olehnya ketika melihat permainan  basket yang dilakukan oleh dua namja di lapangan tadi.

Ji Yeon yang masih terkikik hanya menoleh sebentar ke arah Soo Yeon ketika gadis itu mengucapkan pikirannya. Senyum lebar membentang di bibir gadis itu-Ji Yeon.

“Haha habis kau selalu memandangi namja itu terus sih, kau suka padanya ya?” balas Ji Yeon dengan raut muka menggoda sambil menunjuk namja yang mengenakan jas sekolah di lapangan.

“Huft menyebalkan” runtuk Soo Yeon namun masih dapat didengar oleh Ji Yeon yang kembali terkikik geli oleh ucapan sahabatnya itu.

Semenjak kejadian itu entah mengapa mata Soo Yeon selalu mendapati namja yang diperoloknya beberapa hari yang lalu dengan mudahnya. Entah itu saat ia di kantin, saat berada di parkiran sepeda, saat di perpustakaan, saat dia tak sengaja melihat salah satu eksul sekolahnya, maupun saat ia akan ke toilet.

Seperti saat ini setelah ia memarkirkan sepedanya, ia mendapati sebuah sepeda namja berwarna hitam dengan campuran warna biru dan kuning yang memasuki pelataran sekolah. Ia merasa familiar dengan sepeda itu. Perlahan namun pasti matanya memandang pada sang pemilik sepeda dan ‘Yap’ itu dia namja yang bermain basket saat di lapangan beberapa hari yang lalu.

“Ah kenapa harus menyadari namja itu sih!” runtuk Soo Yeon kesal.

Iapun melesatkan langkah kakinya cepat dan berharap segera sampai di kelasnya. Tempat aman yang tentu seinchipun di dalamnya tak akan ada sosok namja itu.

Tanpa Soo Yeon sadari sepasang mata diam-diam meliriknya dengan pandangan yang lembut dan sebuah senyuman yang jarang di tampakkan oleh sang pemilik mata tersebut dalam kesehariannya.

Yeoja itu ya?’

Ji Yeon-yeoja yang baru saja selesai mendengarkan curahan hati Soo Yeon mengenai namja yang pernah diperolok oleh yeoja tersebut hanya dapat menyunggingkan senyumnya. Matanya melirik sahabatnya itu dengan tatapan menggoda-yang lagi-lagi tak digubris oleh Soo Yeon sama sekali.

“Hah begitulah Ji Yeon-ya aaaaa kenapa mata ini selalu menyadari kehadiran namja itu ketika ada di sekitarku? Saat aku berada di kantin, di tempat parkir sepeda, saat ke toilet, dan lain sebagainya. Salah apa aku Ji Yeon-ya!?!” ucap Soo Yeon dengan raut muka frustasi sembari menyembunyikan wajahnya dalam rangkulan lengannya.

Kedua yeoja itu sedang duduk di depan kelas mereka-dengan Soo Yeon yang menekukkan kedua kakinya di atas bangku yang mereka duduki saat ini.

“Uhm… mau bagimana lagi? Mungkin itu karma kau memperolok namja yang tidak kau kenal?” ucap Ji Yeon tenang tak memperdulikan sahabatnya yang memberikan death glare andalannya dan kemudian menyembunyikan wajahnya kembali dalam rangkulan lengan kurusnya.

“Ah by the way dia hoobae kita lho” imbuh Ji Yeon sambil menjentikkan jari tangannya bangga.

Soo Yeon yang sebelumnya menyembunyikan wajahnya lalu mendongakkan kepalanya kembali mengamati ekspresi Ji Yeon saat mengucapkan ucapan itu beberapa saat yang lalu.

“Kau Jahaaaaaat” balas Soo Yeon sambil memandang Ji Yeon dengan raut sedihnya.

“Aigoo kau tidak marah kan? Aku hanya bercanda… okay?” gurau Ji Yeon sambil merangkulkan lengannya ke tubuh kecil Soo Yeon-mencoba menenangkan kekaucauan yang merupakan hasil perbuatannya, membuat Soo Yeon hanya dapat mengumpat dalam hati akan kelakuan sahabatnya ini.

Baru saja Soo Yeon bangkit berdiri untuk masuk ke dalam kelasnya, sesosok namja yang beberapa hari ini memenuhi mata dan lingkungan di sekitarnya tengah berdiri dengan salah satu namja yang Soo Yeon kenali sebagai teman namja itu saat mereka bermain basket di lapangan. Keduanya sedang berada di kelas yang berselisih dua ruang dengan kelas Soo Yeon.

Entah kenapa saat Soo Yeon mencoba melepaskan pandangan matanya dari namja tersebut-sosok itu ikut menoleh dan memberikan sedikit rasa hormat ke Soo Yeon-terlihat dari pergerakan punggung namja itu yang membungkuk ke arahnya.

Oh tuhan kenapa kedua mata ini selalu melihat namja yang tidak kukenal itu?’ batin Soo Yeon.

= Eyes =

Uhm ottoe? Udah lama sih nggak bikin fanfic y jadinya gini mohon author di maafkan ne TT_TT

Jika ada yang mau kalian utarakan ke author silahkan meninggalkan comment😉 Author akan berusaha terima apapun comment kalian asal ga nge-Bash aja see hehehe😀

Lastly❤ U All Readers and Chingudeul, Hope can meet you again in another story. Paipai ^^

  • With L<3VE : Violet Park

9 thoughts on “[Freelance] (E) (Oneshot)

  1. bagus kok thor, aku aja sampe senyum2 sendiri. tapi nanggung thor, ntar dilanjut yakk😉 sehun kah yang ditabrak sicaeon? tuh sehun nya senyum. sehun sadar sicaeon engga sadar. sehun jadi hoobae/sepantaran sama sicaeon thor? aduh kedua mata sicaeon tau aja orang ganteng:v bukan karma tapi anugrah kalo itu untukku:v seruuuu pokoknya. next chap KEEP WRITING!!

  2. Hahaha kerenn thor,,, ff nya lucu deh apa lagi pas part jessica nya
    Huh agak php nii,,, coz hunsica moment nya kurang sweet tp cukup bikin greget sih,,,,
    Ditunggu ya ff yg lain🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s