[Ficlet] Sweet Seventeen

ss

Sweet Seventeen
present by Park Soojin

Luhan – Jessica
Family, Life, slight Romance
General

(note di bawah cerita^^) Happy reading!

@@@

Luhan POV

Ulang tahun ke-tujuh belas. Semua remaja yang memasuki usia ini pasti akan memikirkan hal yang nyaris sama: garden party, banyak teman sekolahnya di pesta itu, kekasihnya hadir dan membawakannya hadiah spesial. Apapun yang berkesan meriah.

Tapi, itu tidak kualami. Aku merayakan ulang tahun ke-tujuh belasku dengan cara yang hanya aku yang dapat merasakan keisitmewaannya.

@@@

Sepulang sekolah, aku tidak ada rencana jalan bersama teman seperti biasanya. Aku hanya ingin segera memeluk gulingku dan tidur. Hari ini sangat melelahkan. Persiapan untuk acara tahunan sekolah dan aku menjadi salah satu pengurusnya.

Kubuka pintu, tidak ada tanda-tanda keberadaan orang di dalam rumahku. Aku melirik keluar sekilas. Mobil ibuku masih ada di sana. Itu berarti ibuku keluar rumah tanpa membawa mobilnya, mungkin hanya di sekitar sini.

Disini, aku hanya tinggal berdua dengan ibuku. Ibuku bernama Jessica Jung, seorang blasteran Korea-Amerika. Ayahku sudah meninggal saat aku berada di bangku kelas 3 sekolah dasar. Saat itu merupakan saat-saat sulit bagi kami. Ibuku harus bekerja keras. Aku sempat berpikiran untuk berhenti sekolah dan bekerja saja, namun rencana itu dilarang keras oleh ibuku. Aku masih mengingat kilatan matanya ketika melarangku melakukannya.

Namun inilah kami sekarang—bukan bermaksud sombong. Ibuku adalah pemilik toko rumahan yang menjual kerajinan dan buah tangan yang bernuansa Korea tradisional. Dia mempekerjakan tiga gadis sebagai pengrajin sekaligus penjaga toko. Ibuku juga membuka kursus alat musik gitar dan piano. Sekitar tiga sampai empat kali seminggu, rumahku gaduh dengan suara-suara musik. Beberapa anak yang kursus musik di ibuku juga pernah menjuarai lomba-lomba musik.

Berkat dorongan ibuku pula, aku melanjutkan sekolah. Tidak ada alasan bagiku untuk bermain, hingga hari-hariku hanya kuisi dengan belajar dan kegiatan organisasi. Tetapi jika ibuku sedang sibuk mengurus toko, akulah yang mengajarkan kursus gitar untuk anak-anak itu.

Tak jarang karena kegiatan kami, dalam sehari kami bisa tidak berbicara, bahkan hanya untuk mengucapkan selamat pagi. Aku dan ibuku hanya sering bertemu saat sebelum tidur, dan itu dalam waktu yang sangat sebentar. Bohong jika aku bilang aku tidak merindukannya.

Saat baru saja aku merebahkan badan di kasur, terdengar suara pintu terbuka. Tapi karena terlalu lelah, aku hanya diam dengan mata setengah terpejam. Terdengar suara-suara dari arah dapur. Mungkin itu ibuku.

Aku tertidur beberapa menit kemudian.

@@@

Aku baru bangun jam 7 malam. Setelah beberapa saat duduk sambil berusaha membuka mataku lebar lebar, aku turun dari ranjang dan menuju ke ruang tengah.

Ibuku sedang duduk di sofa sambil menonton TV. Baru kali ini aku melihatnya di rumah lebih awal dari biasanya.

Mungkin karena mendengar langkah kakiku, ibu menoleh. Dia tersenyum, “Anakku sudah bangun, ya?”

Aku hanya meringis. Karena bingung ingin melakukan apa, aku duduk di sebelah ibuku.

Hampir saja aku terlonjak ketika ibu memelukku dari samping. Ini sangat tiba-tiba. Tapi aku tidak berusaha melepaskan diri karena jujur, aku juga ingin dipeluk ibuku.

“Umma, aku belum mandi.”

Ibuku hanya menggumam, “Umma menyesal karena tidak sempat mengucapkannya tadi pagi.”

“Mengucapkan apa, umma?”

Ibu menatapku lurus, dan itu memaksaku balas menatap ke matanya. Banyak orang mengatakan, mata kami berdua memiliki bentuk dan pancaran yang sama, indah dan teduh—kira-kira seperti itu kata mereka.

“Maafkan umma, agiya~ Umma tidak memberikan apapun di ulang tahunmu yang ke-tujuh belas ini,” ibu tersenyum lirih, “Saengil chukka agiya~”.

Aku mengerjap, “Hari ini aku ulang tahun? Berarti ini tanggal 20 April?”

Ibuku mengangguk, “Majayo~”.

“Itu berarti dua hari yang lalu ulang tahun umma! Omona~ aku tidak memberikan hadiah sama sekali untuk umma~!”

“Luhannie, di usia kepala empat, umma sama sekali tidak membutuhkan hadiah. Melihatmu bersemangat sekolah dan berorganisasi, itu merupakan hadiah terbesar bagi umma.”

“Tapi tetap saja seharusnya—.”

“Ssst.. lupakan itu. Itu sudah dua hari yang lalu. Dan hari ini adalah hari ulang tahunmu. Katakan saja apa yang kau inginkan, umma akan berusaha memberikannya.”

Aku berpikir sebentar. Sebenarnya, aku tidak menginginkan apapun, hingga tiba-tiba sebuah ide terlintas di otakku.

“Baiklah.. aku punya keinginan yang sangat mudah, tapi umma harus melakukannya saat ini juga.”

Tangan umma yang sedari tadi melingkari tubuhku, dilepasnya. “Saat ini juga? Apa yang harus umma lakukan?”

“Aku ingin malam ini menceritakan semua hal yang belum pernah kubahas sebelumnya, tanpa diganggu apapun, termasuk handphone dan televisi.” Pintaku tegas.

Ibuku tersenyum mendengarnya, kemudian dia mematikan televisi dan handphonenya, “Baiklah, umma sudah siap mendengarkan cerita Luhan~”

Aku menarik napas panjang, “Cerita diawali dengan kehidupanku di sekolah. Mungkin umma sudah banyak mengetahuinya.”

Ibuku mengangguk antusias.

“Ehm. Aku Xi Luhan. Putra tunggal Jessica Jung. Aku bersekolah di SMU Changin dan berada di kelas IPA-1. Banyak teman sekolahku yang awalnya mengira aku adalah orang yang dingin dan angkuh karena aku sangat hemat tersenyum di awal masuk sekolah, hingga hampir tidak ada yang mau berteman denganku sekitar sebulan.

“Hingga aku diterima di Student Council, aku mulai belajar ramah dari teman seorganisasi dan para sunbae. Aku mulai akrab dengan teman-teman seangkatan. Aku juga dikenal sebagai siswa cerdas di kelas. Tapi predikat itu bukan berarti aku seorang kutu buku yang anti sosial. Aku juga belajar bersosialisasi, karena kami—pengurus Student Council—diajarkan public speaking.

“Setelah kenaikan kelas XI, aku diterima lagi di Student Council. Dan hasil voting di sekolah menetapkan aku sebagai Student Council President dengan perolehan suara 57,89% melawan empat kandidat lainnya.”

Ibuku tersenyum geli, “Anakku benar-benar sempurna.”

Aku kembali melanjutkan ceritaku, “Tapi, ada satu hal yang tidak diketahui orang tentang aku saat ini. Sekarang, aku sering tidak fokus, pikiranku melayang dan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya ketika aku melihat seorang perempuan…”

“Jinjjayo? Beritahu umma, siapa gadis yang berhasil merebut hati anak umma?”

“Gadis itu bernama Shin Yoonjo. Seorang hoobae yang ramah, ceria, dan polos. Aku memang jarang berkomunikasi dengannya. Tapi dia selalu membuatku… ah.. aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, umma.”

Ibuku terkekeh, “Dia pasti gadis yang baik. Anak umma yang baik harus mendapatkan pasangan yang baik pula!” Mata ibu berbinar ketika mengatakannya, seolah ibuku lah yang sedang jatuh cinta dengan ayahku.

“Tapi, apa yang harus kulakukan, umma? Ini pertama kalinya aku merasakan seperti ini. Aku tidak tahu apa yang harus ku perbuat..”

Aku merasa tanganku digenggam oleh ibuku. Wanita yang telah membesarkanku itu menatapku sambil tersenyum penuh arti, “Hadapi, hayati, nikmati. Itu tiga hal yang harus kau lakukan dalam persoalan apapun. Dan untuk urusan ini, jalani saja, rasakan sensasinya, biarkan waktu yang menunjukkan apakah dia adalah gadis yang tepat atau bukan,” ibu mengeratkan genggamannya di tanganku, “Umma yakin, anak umma punya pertimbangan yang matang. Di usia ini, anak umma bisa dikatakan dewasa.”

Aku tidak menjawab apapun melainkan tersenyum lebar. Ibuku mencubit pipiku pelan, “Umma sangat senang karena umma lah yang tahu mengenai cinta pertama anak umma.”

Pipiku terasa panas ketika ibu mengatakan ‘cinta pertama’, “Memang umma lah yang berhak tahu pertama,” aku mendeham, “lalu, umma.. apakah umma tidak mau menceritakan apapun tentang umma dan appa?”

Ibuku tersenyum hingga terlihat tiga garis halus dari sudut matanya, menambah kesan manis pada wajah cantiknya yang mulai menua. Tapi, ada kesan lain pada sorot matanya yang aku tidak dapat menafsirkannya.

“Appamu adalah pria baik dan bertanggung jawab. Kau patut bangga memiliki appa sepertinya..”

Malam itu ibu menceritakan semua kisahnya, hingga detil yang belum kuketahui sebelumnya. Ini suasana yang kurindukan selama bertahun-tahun lamanya, dan terbayar di ulang tahunku ke-tujuh belas. Ulang tahun yang paling berkesan sepanjang hidupku.

@@@
4 April 2015

Sebelas tahun yang lalu, di tanggal yang cantik, anak pertamaku—dan juga sepertinya adalah anak tunggalku—lahir. Setahun sebelumnya, aku mengikat janji sehidup semati dengan wanita idamanku sekaligus cinta pertamaku, Shin Yoonjo. Kurasa ibuku benar, aku bisa memilih manakah wanita yang pantas bagiku.

Hari ini ulang tahun anakku yang ke-11. Anakku perempuan, namanya Xi Hana. Hampir seluruh struktur wajahnya mirip dengan Yoonjo, kecuali matanya dan lesung pipi yang tidak dimiliki oleh ibunya. Matanya sama denganku, juga ibuku. Wajahnya benar-benar cantik dan manis, seperti ibunya.

Sejak usianya memasuki 6 tahun, aku mengajarkannya untuk tidak lagi membuat perayaan peringatan ulang tahun. Cukup dilakukan sekeluarga saja. Aku memberitahunya bahwa lebih baik berbagi dengan orang yang lebih membutuhkan daripada menghamburkannya untuk pesta sehari. Tentu saja hal itu perlu dimengertinya sedini mungkin, menurutku dan istriku.

Pagi ini, kami berencana memperingati ulang tahun Hana di rumah ibuku. Ibuku bilang bahwa dia telah mempersiapkan hidangan spesial untuk kami. Sekitar jam 8 pagi, kami berangakat menuju rumah ibuku—Jessica umma.

.

.

Hadapi, hayati, nikmati. Itu tiga hal yang harus kau lakukan dalam persoalan apapun.

@@@END@@@

Halo, teman-teman. sangat lama tidak berjumpa._.

berhubung udah lama sekali aku menghilang, ada beberapa hal yang harus aku sampaikan. pertama, aku minta maaf karena posting cerita telaaaat banget. terus terang, aku sibuk karena baru saja menyelesaikan dua event dalam dua bulan ini, dan sebentar lagi juga ada event lagi jadi susah banget cari waktu buat nulis ff T_T
dan kenapa aku bukannya ngelanjutin Blood Message tapi malah bikin ficlet ini? jadi, karena ide buntu aku memutuskan untuk menunda ngelanjutin ff itu. jeongmal mianhae~ dan juga, berhubung ini udah deket ulang tahun Jessica dan Luhan, aku kepikiran bikin ff kilat ini’-‘ maaf juga untuk poster gaje itu, aku bikin ngebut pake corel._.

sekian dulu untuk kali ini, aku harap teman-teman bisa memaklumi segala kekurangan dari ff ini maupun dari aku pribadi /bow/

8 thoughts on “[Ficlet] Sweet Seventeen

  1. jessica jadi ibunya luhan? ._. rada gimana gitu, pasti temannya luhan pada kesemsem sama emaknya (?) secara dia cantik banget

    keep writing!‘

  2. uuuuu~ TT^TT aku kira sica jd pacar ny luhan, eh malah jd ibu nya -.- tp ga papalah , dady ny luhan kris aja😄 nice thor, keep writing neee…. happy HunHanSica month! \(^0^)/

  3. Ga nyangka ternyata Jess jadi ibunya Luhan wkwk, kirain Jess bakalan jadi pacar Luhan gituhh
    Ceritanya keren thor, ringan(?) kata” nya juga mudah dipahami🙂
    Ditunggu ff lainnya thor😀

  4. Baca ini aku udah mikirnya anaknya jessi itu cewek loh -_-
    Ternyata itu luhan.. wakakkaaa ceritanya seru nih, jarang nemu cerita yg model gini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s