[Freelance] (Smile) (Oneshot)

i6pTcFGdFhmUe

Title : Smile

Author : Diamondstar

Main Cast : Jung Sooyeon | Kim Myungsoo

Genre : Life | Friendship

Rating : PG-13

Length : OneShot

 

Sooyeon berhenti mengerjakan tugas yang telah dihadapinya 1 jam ini, tangannya mengacak rambutnya frustasi, tugas yang diberikan Song songsaengnim hari ini sangat banyak, juga ditambah tugas sejarah dari Hwang songsaengnim yang susah baginya, belum lagi ia harus menghafalkan naskah drama yang akan ditampilkan minggu depan di sekolahnya, ia menjadi pemeran utama dalam drama tersebut.

Ia mengerjakan tugasnya kembali dengan tenang, alih-alih mengerjakan tugasnya, ia melirik ponselnya yang bergetar menandakan ada pesan masuk, dari Nayoung, teman sekelasnya sekaligus sahabatnya.

 

From: Nayoungie

‘Kau sudah mengerjakan tugas dari Song songsaengnim? Tugas matematika itu sangat susah 😦 kau harus mengajariku besok Yeoni-ya karena tugas itu harus dikumpulkan besok lusa dan tugas itu terlalu susah untukku:( ‘

 

Sooyeon mengetik balasan pesan setelah membaca deretan kata yang lumayan panjang dari Nayoung. Alih-alih tangannya mengetik pesan, matanya melirik jam yang terletak di sudut kanan paling atas di ponselnya ’18.47

Ia melihat tugas dari Song songsaengnim, bersorak dalam hati karena tugasnya telah selesai, ia menutup tugasnya. Tangan kirinya menyambar mantel yang ada diatas bantal yang berada di atas sofa kamarnya, ia keluar dari kamar apartemennya lalu melangkahkan kakinya menaiki lift menuju atap apartemen tempat ia tinggal di Seoul, ia butuh udara segar untuk menyegarkan otaknya mungkin?

Setelah sampai atap, ia melangkahkan kakinya untuk mencari tempat yang dapat ia duduki, tapi langkah kakinya seketika berhenti dengan diikuti ekspresi terkejut dari wajahnya, ada seseorang laki-laki yang sepertinya akan melompat, belum sempat laki-laki itu melompat, Sooyeon menarik tangannya.

Ya! Apa yang akan kau lakukan? Melompat? Kau ingin bunuh di—“ pertanyaan Sooyeon segera saja berhenti saat melihat wajah laki-laki yang ditariknya tadi “—Myungsoo-ssi?” ucap Sooyeon terkejut.

“Apa yang kau lakukan?”

“Apa?” tanya Sooyeon terkejut mendengar pertanyaan Myungsoo. Keduanya diam beberapa saat.

“Kau mengenalku?” tanya Myungsoo tanpa memandang Sooyeon setelah dirinya duduk dengan diikuti Sooyeon yang juga duduk disebelah kirinya.

“Y-y—ya” ucap Sooyeon agak tergagap, ia agak ragu untuk mengatakannya walau sebenarnya ia mengenal Myungsoo, sebenarnya bukan mengenal, hanya mengetahui saja, tentu saja ia tahu, Myungsoo terkenal di sekolahnya dengan wajahnya yang tampan, sebenarnya bukan itu yang membuatnya dikenal, tapi karena keanehannya –menurut teman-temannya. Myungsoo dikenal pendiam dengan wajah dinginnya dan juga bisa dikatakan jarang tersenyum, mungkin senyumannya dapat dihitung dengan jari, dan Sooyeon rasa, ia belum pernah melihat senyum Myungsoo walaupun mereka sudah 2 tahun berada di satu sekolah dan mereka sama-sama mengikuti ekstrakulikuler jurnalistik.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Myungsoo mengulang pertanyaan yang tadi sudah ia lontarkan kepada Sooyeon.

“Aku, em oh, aku hanya menolongmu agar tak mati sia-sia” ucap Sooyeon kikuk dengan nada yang sangat pelan tapi masih terdengar, Sooyeon merutuki dirinya jawaban macam apa itu! Paboya.

“Hidupku sudah sia-sia, jadi tak masalah jika aku juga mati sia-sia” ucap Myungsoo.

Wae?

“Karena aku tidak bahagia, sedangkan kau bahagia” ucap Myungsoo yang membuat Sooyeon mengerutkan dahinya.

“Mengapa kau dapat menyimpulkan bahwa hidupku bahagia?” Myungsoo memandang langit lalu tersenyum miris.

“Karena kau disegani banyak orang, kau dapat tersenyum bahagia bersama teman-temanmu, tertawa lepas, diantar jemput oleh kakakmu, orang tuamu sibuk tapi tetap datang saat pementasan drama tahun lalu” ucap Myungsoo membuat Sooyeon menatap Myungsoo dengan pandangan tak percaya, ini kata-kata terpanjang yang dikatakan Myungsoo –yang pernah ia ketahui– sebenarnya bukan itu saja, tapi bagaimana Myungsoo tau tentang semua yang ia katakan barusan?

“Bagaimana kau tau? Bagaimana bisa kau tau orang tuaku datang saat pementasan drama tahun lalu? Kau memperhatikanku?” tanya Sooyeon reflek, lalu dengan cepat ia membungkam mulutnya saat melihat Myungsoo menoleh padanya dengan pandangan datar miliknya. Hening lagi beberapa saat.

“Kenapa kau tau?” tanya Sooyeon, pertanyaan yang paling aneh yang pernah ia lontarkan menurutnya.

“Karena aku memperhatikanmu” ucap Myungsoo dingin membuat Sooyeon bergidik mendengarnya.

Wae?”

“Karena aku melihatmu bahagia sedangkan aku tidak, aku memperhatikanmu meski aku iri melihatnya, berbeda dengan takdirmu, takdirku menyedihkan” jawaban yang ambigu dari pria bersurai hitam itu membuat Sooyeon memutar otaknya bingung hendak mengeluarkan kata-kata yang tepat untuk orang disebelahnya ini.

“Kita beranggapan bahwa orang-orang bahagia dan tidak bahagia, sudah ditentukan sejak lahir. Namun sesungguhnya, dua macam manusia ini melakukan dua hal yang berbeda. Orang-orang bahagia membiarkan diri mereka bahagia. Sedangkan orang-orang tidak bahagia, secara sadar atau tidak, terus melakukan hal-hal yang mengesalkan diri mereka” akhirnya Sooyeon mengeluarkan jawaban dengan kata-kata bijak, walaupun sebenarnya kata-kata tersebut ia ambil dari salah satu buku yang pernah ia baca, entah apa judulnya, ia lupa.

“Jadi?” Dalam hati Sooyeon mengutuk jawaban Myungsoo, ia baru saja berkata dengan panjang lebar, dan hanya dijawab dengan 1 kata oleh Myungsoo, rasanya ia ingin menendang Myungsoo saat ini.

“Aku membiarkan diriku bahagia, sedangkan kau melakukan hal-hal yang mengesalkan dirimu sendiri sehingga kau merasa dirimu tidak bahagia, biarkan waktu berlalu dengan sendirinya dan biarkan dirimu bahagia dengan mencari teman atau jangan lakukan apa saja yang membuatmu kesal” ucap Sooyeon, sedang Myungsoo mengangguk-anggukan kepalanya, serasa sedang diberi pencerahan.

“Err Myungsoo-ssi, boleh aku bertanya? kenapa kau ingin bunuh diri?” tanya Sooyeon ragu-ragu.

“Aku kan sudah bilang, aku tidak bahagia, dan juga, kurasa aku tidak berguna berada di dunia ini” ucap Myungsoo lalu membuang nafasnya membuat kepulan menyerupai asap keluar dari mulutnya.

“Mengapa kau merasa tidak berguna? Pikirkanlah orang-orang yang membutuhkan persahabatan, perhatian, bimbingan, dan bantuanmu. Mungkin kau tidak menyadari betapa pentingnya dirimu bagi banyak orang”

“Aku, penting?”

“Ya, tentu saja. Semua orang yang hidup di dunia ini mempunyai peranan penting. Kau tidak berada di dunia ini hanya untuk mengisi suatu tempat atau menjadi pemeran tambahan dalam film yang dibintangi oleh orang lain” ucap Sooyeon lagi-lagi dengan kata-kata bijak membuat Myungsoo terpana beberapa detik dengan ucapan yang baru saja gadis bersurai coklat itu katakan.

“Apa kau yakin dengan yang baru saja kau katakan?” tanya Myungsoo

“pertimbangkan hal ini, tidak akan ada yang sama jika kau tidak ada dan semua tempat yang kau kunjungi dan setiap orang yang kau ajak bicara akan berbeda tanpa adanya dirimu. Kita semua terhubung satu sama lain dan kita semua terpengaruh oleh berbagai keputusan dan keberadaan orang-orang yang ada disekitarmu. Jika tidak ada dirimu, maka semuanya akan berbeda” ucap Sooyeon panjang lebar menyerupai Choi songsaengnim yang sedang menjelaskan materi yang membosankan dan memusingkan dihadapan para siswanya termasuk Sooyeon. Myungsoo merenungi ucapan Sooyeon, timbul sedikit penyesalan karena ia mencoba untuk bunuh diri tadi.

“Aku ingin bertanya lagi” ucap Sooyeon memecahkan keheningan setelah mereka berdiam diri sibuk dengan pikiran masing-masing selama beberapa menit.

Mwo?

“Apa kau memendam perasaanmu sendiri? Kau tau? Memendam perasaan sendiri itu tidak baik, kau bisa ceritakan masalahmu padaku, aku adalah pendengar yang baik” ucap Sooyeon dengan baik hatinya menawarkan diri.

“Kenapa aku harus menceritakan masalahku kepadamu?” tanya Myungsoo membuat Sooyeon mendengus kesal mendengar pertanyaan Myungsoo, ia baru saja menawarkan diri untuk menjadi pendengar yang baik, tetapi kenapa Myungsoo membalasnya dengan pertanyaan seperti itu? Bukankah itu tidak sopan?

“Apa kau benar-benar tidak pernah menceritakan masalahmu kepada orang lain?” tanya Sooyeon yang hanya dibalas gelengan oleh Myungsoo, sedangkan Sooyeon menghela nafasnya.

“Jangan membiasakan diri untuk memendam perasaan, pikiran, dan harapan-harapanmu. Bagikan dan sampaikan hal-hal tersebut pada teman-teman dan keluargamu. Orang-orang yang memendam perasaan akan cenderung merasa terisolasi, lalu percaya bahwa orang lain tidak memahami mereka. Mereka yang mau berbagi rasa akan merasa didukung dan mereasa penuh, meskipun banyak kejadian tidak berjalan seperti harapan mereka” ucap Sooyeon yang membuat Myungsoo tertegun beberapa saat.

“Sooyeon-ssi, kamsahamnida” Ucap Myungsoo tulus.

“Ya” jawab Sooyeon, ia mengambil ponsel yang terletak di saku mantelnya, menghidupkan ponselnya lalu melirik jam yang berada di sudut kanan atas ’19.59

“Myungsoo-ssi, aku harus kembali ke kamarku, selamat malam—“

“—dan tersenyumlah sesekali” ucap Sooyeon

“Untuk apa tersenyum?”

“Senyummu akan membuat orang lain bahagia. Pada gilirannya, senyummu akan membuat dirimu sendiri bahagia” ucap Sooyeon lalu meninggalkan Myungsoo. Myungsoo terdiam lalu menyunggikkan senyumnya sembari memandang punggung Sooyeon yang menjauh. Ia mendapat banyak pelajaran dari Sooyeon hari ini.

 

10 thoughts on “[Freelance] (Smile) (Oneshot)

  1. Waaa…. sequel thorr…. pokok nya sequel yaa, yaa….
    Suka banget ama myungsica, jarang banget yang buat ff myungsica
    Sequel yaa jebal…
    Ditunggu sequel nya😀

  2. sequel thor sequel aaaa>.< ffnya banyak pelajaran buat kehidupan wkwkw gapapa tapi bagus thor pengin endingnya myungsic♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s