Sequel of Only One – Chapter 2

imageAuthor : Kim Jemi

Cast :

– Jung SooYeon

– Oh Sehun

– Henry Lau

– Park Chorong

Genre : Romance, Angst, Sad, Friendship

Rating : PG-13

Length : Chaptered

“Rumahmu rapi juga.” SooYeon melirik Henry yang melihat-lihat bingkai foto di dinding ruang tamunya.


“Tentu saja, aku tak sepertimu.” Henry tertawa sebentar dan duduk di sampingnya. Ia menyesap minuman yang disuguhkan SooYeon.

“Kau tak takut tinggal sendiri?”

“Kenapa harus takut? Jika terjadi sesuatu aku bisa memanggil tetangga yang lain atau teman kuliahku.”

“Whoa~ SooYeon yang dulu kukenal rupanya sudah berubah. Padahal dulu untuk keluar rumah dan bermain dengan anak-anak yang lain aku harus menemanimu. Ingat tidak saat kau ditakuti dengan laba-laba mainan? Kau menangis dan berlari memelukku. Ah, manisnya.” Ujar Henry sambil tersenyum jahil mengingat kenangan masa kecil mereka.

“S-sudahlah! Itu hal yang memalukan, kau tahu?” Pipi SooYeon mulai memanas. Ia bangkit dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua.

“Aku mau tidur. Kalau kau ingin pulang, di sana pintu keluarnya.” Ia menunjuk pintu utama dan segera menaiki tangga.

“Ck, kau mengusirku?”

Sehun berjalan menuju dapur dan membuka kulkas. Ia mengambil sebotol air dingin dan meneguknya. Pikirannya yang kusut setelah mengerjakan tugas kuliahnya membuat tenggorokannya kering. Ia menutup kulkas dan menyandarkan tubuhnya.

Jam dinding menunjukkan angka 9. Apa ia sudah makan? Biasanya gadis itu belum makan kecuali jika Sehun mengingatkannya. Gadis itu pasti akan menjawab tak berselera untuk makan dan Sehun harus keluar membelikannya makanan, lalu mengantarkan makanan itu ke rumahnya. Senyuman kecut terukir di bibirnya.

“Aku bahkan tak bisa melupakan hal sekecil itu.” Ia mengacak rambutnya dan berjalan menuju kamarnya. Ponsel di saku celananya bergetar. Satu pesan dari Chanyeol.

“Kau pasti penasaran dengan Milky, kan? Ini nomernya. Hubungi saja jika kau kesepian. Xoxo.”

Ia memaki Chanyeol dalam hati. Oh ayolah, ia sama sekali tak tertarik dengan bartender cantik itu. Ia akui gadis itu memang cantik, tapi hatinya tetap mengatakan untuk menunggu SooYeon. Yah, walaupun ia tak tahu harus menunggu sampai kapan.

Ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Jarinya mengetuk ikon cokelat bergambar kamera di layar ponselnya. Tanpa sengaja ia melihat foto yang di post SooYeon. Gadis itu tersenyum bersama seorang pria di sampingnya. Sehun merasakan tubuhnya membeku. Dengan cepat ia mematikan ponselnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Apa ia mulai melupakanku?” Gumamnya pada dirinya sendiri.

Foto itu seperti palu yang menghantam dadanya dengan sangat keras. Siapa pria itu? Ia sama sekali tak mengenalnya. Sepertinya bukan teman kuliah SooYeon karena ia tak pernah melihat pria itu di kampus.

Sehun melempar ponselnya ke sembarang arah. Penyesalan mulai terbesit di hatinya. Apa keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka adalah keputusan yang tepat? Atau malah sebaliknya?

Argh, cukup sudah.

Ia bangkit dan memasukkan semua foto yang tertata rapi di atas mejanya. Foto seorang gadis dengan berbagai macam pose. Penglihatannya mulai kabur.

Sekarang SooYeon sudah melupakannya. Melupakan serangkaian kenangan mereka berdua. Melupakan semua yang pernah ia berikan hanya untuk gadis itu, gadis yang sangat ia cintai.

Tangan sehun terhenti. Bukankah ini yang ia mau? Saat ia mengatakan kata putus, bukankah ini yang ia inginkan? Menginginkan SooYeon untuk segera memulai hidupnya yang baru. Menginginkan SooYeon untuk melupakannya meski mereka berdua terluka. Berharap saat mereka berpisah SooYeon tidak merasakan sakit yang sama sepertinya.

Pria itu terduduk lemas di lantai. Bingkai foto di tangannya membuat hatinya seperti di hantam ribuan jarum. Ia menutup kedua matanya kesal.

“Kapan ini akan berakhir?”

“Sehun-ah!” Sehun menoleh dan menghampiri teman-temannya. Lingkaran hitam di bawah mata pria itu membuat teman-temannya mengernyit.

“Apa kita mempunyai tugas sebanyak itu hingga kau tidak tidur untuk mengerjakannya?” Kyungsoo mengisyaratkan Sehun untuk duduk di sampingnya. Sehun tersenyum simpul dan menggeleng lemah.

“Ini bukan soal tugas. Aku..hanya mengalami insomnia seperti biasa.” Elaknya dan berbalik.

“Aku harus pergi.” Ia terus berjalan dan tak mempedulikan panggilan teman-temannya.

Satu-satunya tempat yang paling pas adalah perpustakaan. Sunyi dan tenang. Biasanya ia akan menjemput SooYeon ke kelasnya dan mengajaknya untuk belajar bersama di perpustakaan.

Damn. SooYeon lagi. Ia mengacak rambutnya dan sedikit menghentakkan kakinya. Beberapa mahasiswa yang lewat menatapnya dengan pandangan aneh. Ia berharap ingatannya tentang SooYeon tak akan membuatnya menempati salah satu kamar di rumah sakit jiwa.

Bruk.

Ia tak sengaja menyenggol bahu seorang gadis yang berpapasan dengannya dan membuat gadis itu kini terduduk di lantai dengan buku-bukunya yang berserakan. Sontak Sehun bangkit dan membantu gadis itu untuk berdiri.

“Sehun-ssi?” Ia sedikit terkejut saat mendengar gadis itu menggumamkan namanya. Gadis itu menyibakkan rambut hitamnya sehingga membuat wajahnya terlihat jelas.

“Ternyata kau, Chorong-ssi. Maaf sudah menyenggolmu.” Sehun berlutut dan membantu Chorong membereskan buku-bukunya.

“Sepertinya bawaanmu berat, mau kubantu? Kau akan kemana?”

“B-baiklah kalau begitu. Aku akan mengembalikan buku ini ke perpustakaan.” Sehun tersenyum simpul dan mengangkat buku-buku tebal yang dibawa Chorong tadi.

“Aku juga berniat ke sana. Ayo.”

SooYeon mempercepat langkahnya. Ia tak ingin membuat Taeyeon terlalu lama menunggunya di cafetaria.

“Ini semua karena dosen tak berperasaan itu.” umpatnya kesal.

Ia menuruni anak tangga terakhir dan pemandangan di depannya membuatnya terpaku. Sehun yang membawa beberapa buku dengan seorang gadis di sampingnya memasuki perpustakaan. Satu-satunya hal yang membuat hatinya teriris adalah senyuman lembut yang mengembang di bibir Sehun. Senyuman kesukaannya. Senyuman yang selalu ia dambakan sebelum ia tertidur. Senyuman yang selalu membuat dirinya merasa nyaman.

Kali ini ia mengerti. Pria itu sudah melupakannya. Pria itu kini mulai bangkit dan menjalani kehidupannya seperti biasa. Bahkan setiap malam, SooYeon selalu memandangi ID Sehun di kontaknya, berharap pria itu menghubunginya. Menghubunginya untuk sekedar mengutarakan kata-kata cinta ataupun rindu seperti dulu.

SooYeon menghela napas panjang. Ini memang sulit. Sulit untuk melupakan pria yang selama tiga tahun terakhir selalu berada di sisinya. Ia mencoba tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya menuju cafetaria.

“Bukankah gadis itu adalah gadis pemilik anjing tempo hari? Aku baru tahu ia juga kuliah di sini.” gumam SooYeon sambil menghampiri Taeyeon yang melambaikan tangannya.

“Kau lama sekali. Lihat, makananmu hampir dingin.” Celetuk Taeyeon dan mendorong semangkuk bibimbap ke hadapan SooYeon.

SooYeon tersenyum dan menggumamkan permintaan maaf lalu mulai melahap makanannya. Taeyeon terdiam memperhatikan raut wajah SooYeon yang beda dari biasanya.

“Apa yang terjadi saat kau ke sini? Sehun?” Selidiknya. Ia bisa melihat raut terkejut SooYeon. Gadis di hadapannya itu menghentikan suapannya dan sedikit menunduk.

“Kau tahu…sepertinya ia mulai melupakanku.” SooYeon tersenyum getir. Hatinya kembali teriris seperti saat ia melihat Sehun dengan gadis itu.

“Melupakanmu? Secepat itu? Oh, ini tak adil. Sama sekali tak adil. Bagaimana dengan kata cinta yang masih sempat ia utarakan saat kalian berpisah? Apakah itu hanya kebohongan semata agar kau tak terlalu merasakan sakit? Sial.” sembur Taeyeon emosi. Ia mulai menjadi pusat perhatian beberapa mahasiswa yang duduk tak jauh dari meja mereka.

“Su-sudah, Taeng…sudah..” ujar SooYeon sambil menutup mulutnya yang mulai mengeluarkan isakan pelan.

“Maaf, aku hanya terbawa emosi.” Taeyeon mengelus pundak SooYeon yang mulai bergetar.

Henry duduk di balik meja belajarnya. Ia menatap lekat jendela di hadapannya. Beberapa tahun yang lalu biasanya sekarang ia tengah bercengkrama dengan gadis itu melalui jendela kamar masing-masing. Kini jendela kamar gadis itu tertutup rapat. Gorden merah muda dengan motif bunga itu juga tak menunjukkan celah sedikit pun. Entah mengapa ia merindukan saat-saat dimana ia bercanda dan tertawa lepas dengannya.

Ia mengerti, sangat mengerti tentang perasaannya pada gadis itu yang tak pernah berubah. Mungkin perasaan lebih dari sekedar sahabat ini sudah tumbuh sejak ia menolak surat cinta pertama yang gadis itu berikan. Ia juga tak mungkin menerimanya karena saat itu mereka masih sama sama duduk di bangku sekolah dasar.

Senyuman mengembang di bibirnya. Ia menutup buku yang dibacanya tadi dan menutup gorden. Rasa kantuknya kali ini menang. Henry menghempaskan tubuhnya di ranjang dan menarik selimut.

Ting.

Getaran ponselnya membuat matanya terbuka kembali. Ia meringis sambil menekan ikon hijau dengan tulisan LINE di layar ponselnya.

SooYeon sent a sticker.

Senyuman kembali mengembang di bibirnya. Ia mengurungkan niatnya untuk terlelap dan segera membalas pesan SooYeon.

SooYeon : Kau tak berniat menjadi stalker, kan? Sudah sejam lamanya kau memperhatikan jendela kamarku dengan tatapan mesum mu itu.

Sontak Henry tertawa dan bangkit menuju jendela kamarnya. Ia menyibakkan gordennya dan melihat SooYeon yang menatapnya dengan pandangan datar.

Henry : Tatapan mesum? Jadi sekarang kau takut aku akan menyelinap ke kamarmu secara diam-diam?

SooYeon : Tidak, aku sama sekali tak takut. Saat kakimu melangkah memasuki kamarku, punggungmu akan ku sambut dengan tongkat baseballku.

Henry : Ckck, kalau kau dingin begini, mungkin kau akan menjadi jomblo seumur hidup.

Henry menunggu balasan SooYeon. Pesannya sudah di baca gadis itu. Ia melihat SooYeon terdiam sambil melihat ponselnya dengan tatapan menerawang.

Henry : Hey, kau marah? Maaf sepertinya kata-kata ku keterlaluan.

SooYeon : Eh? Tidak, aku tak marah. Aku hanya melamun sebentar.

Henry : Tsk, jangan sering melamun. Melamun itu tak baik, kau tahu? Ini sudah malam. Sikat gigimu dan segera naik ke ranjang. Sana!

SooYeon : Ya ya aku mengerti. Dasar cerewet.

Henry tersenyum melihat SooYeon melambaikan tangannya dan kembali menutup gordennya. Ia bangkit dan menutup gordennya juga. Rasa kantuk mulai menghampirinya kembali.

“Yah, perasaanku menang kali ini.”

Tbc

Aku harap kalian suka sama kelanjutannya^^a Dan sepertinya haters sehun x Chorong sekarang menumpuk xD Yah, aku juga salah satunya sih ._. Terus pantengin ff ini yak. Komen juseyo~

34 thoughts on “Sequel of Only One – Chapter 2

  1. Nyebelin, sudah sehun ama sooyeon ajaaa
    Kaaahh sebel
    Kan salah sangka, sebenernya oada gabisa move on eh dikiran udh move on duh duh
    Gereget bacanyaa
    Coba gak ada henry sama chotong ya :”)
    Lanjut ya kak
    Fighting^^

  2. Sehun dan jessica salah paham nih. Henry sama chorong aja deh kan jadinya hunsica. Henry suka sama jessica dari sd, jessica suka sehun, sehun suka jessica tinggal chorong aja yg blm diketahui perasaannya. Chap selanjutnya dipanjangi ya thor

  3. huuuuaaaa ..
    thor jgn lama” ya ,cepet di lanjut ..
    penasaran bingit ,
    apa sica bakalan suka lg sama henry ???? ,apa sica tetrp cinta sama sehun ???
    apa sehun bakan suka sama chorong ??? atau sehun masih tetep cinta sama sica ???

    ohh authorrrr cepet di lanjut ya ..
    fighting !!!!!🙂

  4. yak! salah paham mereka berdua TT^TT aku malah greget mo cedukin kepala mereka berdua -.-” haaaa.. sehun x chorong.. kenapa harus diaaaa??? o.o aiii,, nysek jd jessica.. tp penasaran sama kelanjutan nyaaa .. keep writing, saeng!

  5. Kan, , malah pada ngira udah move on :-> hya ! Gak mau, aku gak mau sehun sama chorong enjah😦
    ah Hun, Jess balikan dong~
    jadi siapa yg harus disalahin kalo gak balikan:-/ ?
    Ya author nya lah . . .hehe😀 becanda . . . . Ouh masih kurang panjang next chapter. . . Fighting !!!

  6. Aaaaaaaa~ apa iniiiii kenapa pendek bangeeettttt…sama2 salah paham ya itu,aduh -_- henry cinta sama jess unnie ya itu ? sama sehun aja deehh..sama2 ngga bisa move on ini😦 hhe next chapt author~

  7. Tuh kan.. Jadi pada saling salah paham merekanya😦
    Tapi kok saya malah senang ya, pas Sehun cemburu & selalu mengingat tentang Sica🙂
    Aigo.. Ternyata Henry suka ya ama Sicao_O gimana neh? Apa perasaan Sica yg dlu banget itu bakal kembali?
    Chapter selanjutnya bisa lebih dipanjangin lagi gak thor😀 biar lebih puas gitu bacanya, ditunggu ya kelanjutannya^^ hwaiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s