Unbreakable (Chapter 1)

image

Author : JungDhane

Tittle : Unbreakable

Cast : Jeon Jungkook | Jessica Jung | Kim Myungsoo

Other Cast : Taemin | Suga | Minhoo | Jimin

Category : angst, friendship, romance, school life

Rate : R/T

Note : Cast diatas ditulis berdasarkan urutan abjad. Dan seluruh cast bukan milik author melainkan orang tua mereka dan Tuhan.

Poster by : Hyera

Author POV

Jam baru saja menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit, meskipun begitu berbagai kendaraan mulai memadati jalanan kota Seoul pada jam sepagi ini. Membuat macet beberapa jalan akibatnya, dan juga menimbulkan suara-suara bising dengan klakson kendaraan mereka dengan mengalahkan kicauan burung yang bertengger pada dahan pohon di taman kota.

Beruntung bagi seorang gadis yang baru saja turun dari mobil sedan berwarna hitam metalic yang masih mengkilap itu karena ia mampu datang lima belas menit lebih awal di hari pertama nya sekolah. Hampir saja ia terlambat jika supir keluarga nya tidak melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Ia sangat berterima kasih kepada supir keluarganya dan Tuhan karena ia dapat sampai di sekolah dengan selamat, mengingat betapa mengerikannya Kim Ahjussi menembus kepadatan jalan raya hanya untuknya.

Setelah kenaikan kelas beberapa minggu lalu, gadis bername tag Jessica Jung itu selalu nampak uring-uringan dirumah di karenakan sekolah yang harus di liburkan setelah kegiatan semester usai. Mengingat bahwa sekolah adalah satu-satunya akses untuk bertemu dengan Myungsoo, dan kepergian laki-laki itu ke jepang untuk menengok kakek dan neneknya membuatnya semakin stress dan tak sabaran untuk segera pergi ke sekolah.

Sedikit informasi tentang Jessica Jung, ia adalah sulung dari dua bersaudara. Memiliki adik bernama Krystal yang berbeda satu tahun di bawahnya dengan orang tua yang boleh dibilang cukup sukses. Baru saja berada di tahun akhir sekolah beberapa minggu yang lalu. Jatuh cinta kepada seorang laki-laki bernama Kim Myungsoo sejak awal masa orientasi sekolah hingga sekarang meskipun ia selalu ditolak dengan begitu kejam. Beruntungnya, Jessica berada dalam satu kelas yang sama dengan Kim Myungsoo dua tahun berturut-turut. Dan hari ini, ia berharap penuh agar dirinya dapat kembali berada di kelas yang sama dengan laki-laki dingin nan tampan itu.

Langkah kaki kecil Jessica dengan begitu semangat mendekati papan mading sekolahnya yang tengah memuat daftar kelas baru. Menerobos kerumunan manusia-manusia yang juga memiliki tujuan yang sama dengannya.

Tangannya yang lentik itu menelusuri kertas yang tertempel apik disana dengan begitu cermat, meneliti satu-persatu untuk menemukan namanya. Dan tak lama namanya pun tertera dari banyaknya deretan nama di sana.
“Kelas XII-3, nomor absen 18” gumamnya.

Setelah itu, Jessica kembali menyusuri nama-nama teman sekelasnya yang diantaranya terasa asing dari indra pendengarannya. Namun hingga absen terakhir, ia tak menemukan nama Myungsoo di sana.
Gadis itu mengigit bibir bawahnya sembari meneliti lagi nama Myungsoo di kelas barunya.

“Sialan” ujar Jessica saat ia benar-benar tak mendapati nama Myungsoo tertera di daftar absen kelasnya.

Jessica keluar dari kerumunan, mencari keberadaan laki-laki berparas sombong yang tetap terlihat tampan dengan wajah masamnya.

“Kim Myungsoo” panggilnya saat ia berhasil menemukan namja tampan itu dengan anggota team basketnya yang lain berada di lapangan.

Myungsoo hanya menoleh sebentar saat mendapati suara yang memanggilnya, kemudian melanjutkan permainannya saat ia tau si pemilik suara. Itu si stalker sekaligus sesaeng fansnya, Jessica Jung.

Merasa tak di gubris oleh laki-laki pujaannya, Jessica pun meniup poninya dengan kesal. Melangkah penuh energi mendekati sang calon mempelai pria di pernikahan mereka nantinya. “Hya Kim Myungsoo, aku memanggilmu, jangan bertindak seolah kau tidak mendengarku” ucapnya kesal.

Myungsoo tidak menjawab, ia lebih memilih meneruskan permainannya dari pada meladeni gadis gila yang selalu mengejarnya kemana pun itu.

Uh, sebenarnya libur dua minggu itu bagaikan surga untuknya. Jauh-jauh dari gadis bermarga Jung itu adalah hal terindah yang ia dapatkan. Jika boleh, ia lebih memilih berlibur dirumah dari pada sekolah dan kemudian bertemu kembali dengan gadis aneh ini.

“Myungsoo-ya, Jessica mencarimu” Suga berbisik ke arah Myungsoo yang berada di depannya yang tengah mendribble bola.

“Diam, anggap saja dia tak ada” balas Myungsoo cuek.

“Apakah kau gila? Suaranya bagaikan lumba-lumba jika berteriak, sangat menyakitkan telingga. Lebih baik kau temui dia terlebih dahulu, kami akan menghentikkan permainan sementara kau berbicara dengannya” sambung Jimin.

“Tidak perlu, dia tidak penting” tolak Myungsoo lagi.

Myungsoo mengabaikan peringatan teman-temannya akan keberadaan Jessica. Dan memilih untuk melakukan pivot kemudian melamparkan bola oranye itu ke dalam ring.

BLUNG

Dan beruntungnya bola tersebut masuk dengan selamat ke dalam keranjang, membuat point tambahan bagi dirinya.

“Aku akui kau memang hebat untuk urusan basket, tapi kau benar-benar harus menemuinya Kim Myungsoo. Kaulah yang bisa menjinakkan gadis itu” Taemin berseru, mendorong tubuh Myungsoo untuk mendekati Jessica yang berada di pinggir lapangan.

“Tsk” decaknya.

Dengan malas Myungsoo mendekati Jessica yang terlihat tidak baik-baik saja di pinggir lapangan, wajahnya tak berseri-seri seperti biasanya ketika melihat dirinya. ‘Gadis itu tidak akan menyatakan cintanya kepadaku lagi dengan wajah seperti itu kan?’ batinnya.
“Ada apa lagi kali ini?” laki-laki itu bertanya dengan malas.

“Myungsoo-ya, bagaimana ini? Aku sudah mengeceknya beberapa kali tapi hasilnya tetap sama. Ottokhe?” Jessica terlihat risau kali ini.

“Huh?” Myungsoo menaikkan alisnya bingung.

“Kita tidak lagi sekelas Myungcy-ya, ottokaji?”

“Aku tau” jawabnya cuek.

Jessica terdiam sesaat setelah mendengar balasan dari Myungsoo, “Apakah aku harus melapor kepada guru pengurus untuk menukarmu agar masuk ke dalam kelasku atau sebaliknya?”

“Jessica…”

“Haaah… Bisa-bisanya mereka membuat kita jauh. Bagaimana bisa setelah sekian lama bersama, kau dan aku justru di pisahkan dengan cara tidak menyenangkan seperti ini” gadis itu menggerutu kesal.

“Jess-…”

“Bukankah ini tidak adil untuk kita Myungcy-ya? Bagaimana mungkin calon pasutri (pasangan suami istri) yang akan segera menikah ini justru- asdfghjkl..”

Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, mulut Jessica di bekap oleh tangan Myungsoo dengan begitu tega.

“Hya!” pekik gadis itu sembari melepaskan tangan Myungsoo dari bibir tipisnya.

“Jangan mengada-ada, kita tidak akan pernah menikah Jessica” ujar Myungsoo tega. Membuat Jessica bungkam untuk beberapa menit. “Dan lagi ini adalah hal yang baik untuk kita berdua. Semua orang tau bahwa aku terganggu dengan keberadaanmu, jadi mereka memilih jalan yang terbaik bagi kita. Berada di tingkat terakhir adalah tantangan, menuntut kita harus fokus terhadap pelajaran. Dengan berpisahnya kita sekarang, kau juga akan dapat melupakanku secara perlahan-lahan karena kita tidak lagi berada dalam kelas yang sama. Kau dan aku sama-sama akan dapat fokus terhadap pelajaran” sambungnya.

“Ahh… sepertinya ada yang salah dengan telingaku. Aku mendengar hal-hal yang aneh darimu Myungcy-ya. Sebaiknya aku harus memeriksakan telingaku ke dokter sepulang sekolah ini”.

“Dengarkan aku, aku serius dengan ucapanku Jessica Jung”

Jessica terdiam, menatap tajam ke arah Myungsoo sebelum mengatakan kailmatnya. “Tidak telingaku lah yang salah. Jadi aku akan menganggap kau tidak pernah mengatakan hal seperti tadi Myungcy-ya”.

“Jessica, kita tidak akan pernah men-…”

“Aku tidak dengar, aku tidak dengar, aku tidak dengar” ujarnya sembari menekan-nekan telinganya, memotong ucapan Myungsoo seraya pergi dari lapangan dengan berlari kecil.

“Kau apakan Jessica barusan?” suara Minhoo terdengar tepat di belakang telinganya.

“Tidak ada” jawabnya santai.

“Jangan terlalu sering berbuat kejam padanya, kau tau bahwa karma masih berlaku di dunia ini” peringat Minhoo sembari menegak air mineral di dalam kemasan botol miliknya.

Sedangkan Myungsoo memutar kedua bola matanya tak peduli,mengangkat tas ransel berwarna hitam miliknya dan meninggalkan lapangan menuju kelas barunya.

“Anak itu…” gumam Taemin, “jika Jessica meninggalkannya, akan tau rasa dia” rutuknya.

“Jangan seperti itu.. Dia juga teman kita” Suga mengingatkan.

“Meskipun dia teman kita, aku tidak setuju dengan sikapnya yang menolak keberadaan wanita dengan semena-mena” Jimin menggerutu.

“Kau benar.. Aku harap anak itu cepat sadar” ujar Suga. “Karena jika Jessica marah, kita juga yang akan kena imbasnya” lanjutnya.

“Sudahlah, tidak baik membicarakan teman sendiri seperti itu. Lebih baik kita segera masuk kelas, sebentar lagi bel masuk berbunyi” sambung Minhoo, memasang ranselnya pada salah satu sisi bahunya. Meninggalkan lapangan basket diikuti oleh rekan-rekannya yang lain.

.

.

.

Jessica berjalan dengan kaki menghentak menuju kelas barunya, entah kenapa hari yang ia bayangkan justru sangatlah berbeda dengan kenyataan. Membuatnya sangat kesal hingga rasanya ubun-ubunnya pun mendidih. Ucapan Myungsoo membuat moodnya turun secara drastis. Heol, ini adalah hari pertama sekolah setelah liburan semester,dan ini adalah hari pertama mereka bertemu semenjak dua minggu yang lalu. Apakah namja itu tidak bisa berbohong sedikit saja untuk menyenangkannya? Apa ia tidak merindukan Jessica? Hah, padahal gadis itu hampir mati karena merindukan laki-laki dingin itu.

Ia selalu teringat akan quotes yang sering di berikan ayahnya sewaktu ia masih berada di sekolah dasar, ‘berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian’. Yang artinya ia harus semangat untuk memperjuang kan cinta Kim Myungsoo apapun yang terjadi, meskipun termasuk bagaimana laki-laki dingin itu menolaknya. Karena ia yakin pada suatu hari nanti, akan datang hari dimana ia akan berbahagia dengan Myungsoo. Ya, ia yakin akan hal itu.

Setelah mendapati keberadaan kelas barunya, Jessica memasukinya dengan perlahan, menilik satu-persatu teman sekelasnya selama setahun kedepan.

“Jessica-ssi annyeonghaseo..” sapa seorang yeoja manis dengan rambut panjang hitam bername tag Irene. “Aku tidak menyangka akan sekelas denganmu”.

Jessica mengulas sebuah senyum tipis, ia tidak begitu mengenal gadis ini sebenarnya, tapi tak ada salahnya untuk bersikap baik pada kesan pertama mereka kan. “Terima kasih, mohon bantuannya, semoga kita bisa menjadi teman sekelas yang akur setahun kedepan” ujarnya.

“Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membantumu” balas Irene.

Setelah itu, Jessica pamit untuk mencari bangku kosong untuknya duduk. Setelah menemukan satu kursi kosong yang berada di ujung ruangan di dekat jendela, gadis itu tersenyum, melangkah dengan semangat mendekati anak laki-laki yang duduk disana dengan sebuah buku di tangannya.

Well, jangan panggil ia Jessica Jung jika ia tidak berani menghadapi dunia baru. Memang benar kelas maupun penghuninya telah berubah, tapi tak ada salahnya toh untuk berbaur dengan orang baru. Menambah teman itu baik untuk pergaulan, selain menambah pengetahuan, kita juga bisa berbagi kisah kepada mereka.

Sebenarnya Jessica mengetahui siapa namja yang akan menjadi teman sebangku nya itu. Dia adalah Jeon Jungkook. Anak kesayangan baik kepala sekolah maupun seluruh guru pengajar.

Menggelikan rasanya jika ia sendiri tidak mengetahui siapa namja tampan dengan surai hitam yang terlihat fokus dengan bukunya itu. Jungkook adalah salah satu murid kesayangan guru yang selalu dibanggakan dan di puji oleh para pembimbing untuk membandingkan muridnya. Bodoh rasanya jika ia tidak mendengar setiap guru selalu menyantumkan nama laki-laki tersebut di setiap sindiran terhadap kelasnya yang beberapa kali sempat kacau. Lagi pula setiap anak populer di sekolah adalah teman kan.

“Jungkook-ssi, aku duduk disini ya” dengan seenaknya Jessica mendudukkan dirinya pada bangku disamping Jungkook, membuat laki-laki tampan sontak menoleh.
Jessica tersenyum manis kearahnya sebelum mengeluarkan ponsel dari sakunya dan bermain-main dengan benda itu seraya menunggu bel masuk berbunyi.

Jungkook menggenal siapa gadis yang duduk disampingnya itu. Seperti apa yang pernah kukatakan, manusia-manusia populer di sekolah itu meskipun tidak dekat, mereka menggenal satu sama lain meskipun tidak secara personal.

Jungkook tidak terlalu tau banyak tentang gadis bersurai cokat ikal yang menjadi teman sebangkunya ini. Tapi satu-satunya hal menarik dari gadis ini adalah berita dimana ia selalu mengejar-ngejar cinta Kim Myungsoo, kapten basket sekolahnya. Sudah bukan rahasia lagi jika Jessica Jung merupakan salah satu fans fanatik Myungsoo yang paling nekat. Sudah dua tahun gadis itu mengejar Myungsoo meskipun tak mendapatkan jawaban positif akan usahanya.

“Menyedihkan” gumamnya seorang diri saat membayangkan bagaimana perjuangan Jessica semenjak masa orientasi hingga sekarang.

Mendengar akan sesuatu, Jessica pun mengalihkan perhatiannya kepada teman sebangkunya itu. “Apa kau mengatakan sesuatu?”

“Ani” jawab Jungkook singkat.

Jessica menatap Jungkook yang sibuk dengan buku pelajaran di tangannya dari samping. Menilik wajah rupawan itu dengan seksama sebelum menyimpulkan bahwa Jungkook amatlah tampan meskipun hatinya masih berpihak terhadap Myungsoo.

Dari desas-desus yang ia dengar, Jungkook adalah murid pendiam. Dia selalu duduk sendirian dan menolak seseorang yang ingin duduk bersamanya. Bahkan ia tidak mau mengerjakan tugas secara berkelompok dan memilih untuk mengerjakannya secara individu, meskipun itu adalah proposal perjalanan wisata sekalipun.
‘Manusia macam apa sih dia ini?’ batinnya penasaran.

“Ada apa?” tanya Jungkook sembari menoleh, memergoki Jessica yang masih betah menatapnya, membuatnya merasa risih akan tingkah gadis ini.

“A-aku hanya ingin bertanya” Jessica tergagap.

“Mwo?”

“K-kenapa aku boleh duduk bersamamu? Karena dari kabar yang beredar k-kau-…”

“Apa ada yang salah dengan itu?” potong Jungkook.

“A-anieyo” Jessica memejamkan matanya, ‘sialan, kenapa aku menjadi gagap begini sih?!’ rutuknya dalam hati. “Tapi kenapa aku boleh-..”

“Karena tidak ada bangku yang tersisa untukmu. Semuanya telah memiliki teman sebangku masing-masing selain aku. Aku tidak keberatan membagi bangku ini denganmu, tapi jika kau tidak nyaman aku akan meminta bangku tambahan”.

“T-tidak usah, kau tidak perlu sampai melakuan itu” Jessica mengibaskan tangannya. “Aku suka duduk di sini, aku suka duduk di dekat jendela, aku juga suka denganmu” lanjutnya.

Setelah mengatakan hal itu, baik Jessica maupun Jungkook sama-sama melebarkan matanya. Gadis cantik itu sontak menutup mulutnya dengan sebelah tangannya saat menyadari bahwa ada kata yang salah dari perkatannya tadi.

“Aku-….”

“Aku tau” potong Jungkook lagi. “Aku akan menganggap kau tidak pernah mengatakan kalimat terakhir itu kepadaku” ujarnya, membuat Jessica lega mendengarnya.

“Terima kasih” ucap Jessica malu.

“Em”

“Mohon bantuannya selama setahun kedepan, aku harap kita bisa menjadi teman akrab nantinya” pinta Jessica.

“Aku tidak mau” balasnya dingin, mengalihkan pandangannya kedepan dan membaca lagi buku yang sempat ia tinggalkan untuk berbicara dengan Jessica.

‘Sialan kau Jeon Jungkook’ makinya dalam hati.

.

.

.

“Kalian tau tidak? Jeon Jungkook dan Jessica Jung duduk sebangku!” seorang gadis dengan rambut sebahu itu berkata dengan penuh semangat.

“Yang benar? Jangan berbohong Hyeri-ah” tanggap gadis lainnya dengan name tag Seolhyun itu.

“Apa yang dikatakan Hyeri tadi itu kenyataan Seolhyun-ah. Jungkook benar-benar menjadi teman sebangku Jessica Jung. Kami berdua ini merupakan teman sekelasnya, tentu saja apa yang kami katakan adalah kenyataan” bela Yeri.

“Jinjja-yo??” Yeri dan Hyeri mengangguk bersamaan, “daebaaak! Baru kali ini aku mendengar Jeon Jungkook mau membagi bangkunya”.

“Jessica Jung memang hebat” puji Yeri.

“Siapa sih yang tidak mau menjadi teman sebangku Jessica, aku saja mau jika Yeri tidak sebangku denganku”

“Ya”

“Sudahlah, murid populer hanya akan duduk sebangku dengan murid populer saja. Kasta kita berbeda dengan mereka” ujar Seolhyun.

“Hei tapi Jessica tidak seperti itu. Dia cukup ramah, benarkan Hyeri-ah” Hyeri mengangguk mengiyakan. “Tadi saja saat Irene menyapanya, Jessica membalas dengan ramah”

“Benarkah?” Hyeri dan Yeri lagi-lagi mengangguk. “Mungkin yang bermasalah sebenarnya itu adalah Jeon Jungkook” ujar Seolhyun.

“Eoh?”

“Bukankah sebelum ini kelas Jungkook tidak memiliki murid populer selain dirinya? Mungkin dia membagi bangkunya karena sekarang ada Jessica yang sama-sama populernya. Bukankah murid-murid populer di sekolah itu merupakan teman?” jelas Seolhyun.

“Cih dasar sombong” hina Yeri.

“Tapi dia tetap tampan” puji Hyeri.

“Hey ada apa ini?” suara berat seorang laki-laki menyapa dari belakang.

“T-taemin…” gumam ketiganya.

“Kenapa kalian membicarakan Jessica dibelakangnya? Apa yang sesungguhnya kalian bicarakan uh?” Taemin menatap ketiganya tidak suka. Well, setidaknya Jessica merupakan temannya juga kan.

“K-kami tidak membicarakan hal yang buruk tentangnya, sungguh” ujar Hyeri yakin.

“Benarkah?” Taemin bertanya dengan salah satu alis terangkat, ketiganya mengangguk. “Lalu apa yang kalian bicarakan tentang temanku?”

“I-itu.. Mereka hanya membicarakan Jessica yang duduk sebangku dengan Jungkook” balas Seolhyun.

“Mwo? Apa Jessica yang kalian maksud itu Jessica Jung?” ketiganya kembali mengangguk. “Benar Jessica duduk dengan makhluk alien itu?” Taemin bertanya dengan keheranan.

“Bukan alien Taemin-ssi, tapi namanya adalah Jeon Jungkook. Mantan ketua osis yang selalu menjabat sebagai ketua kelas selama dua tahun berturut-turut, sekaligus murid terpandai di sekolah”  Hyeri membetulkan.

Taemin memutar kedua bola matanya, merasa apa yang dikatakan gadis itu sungguh sangat berlebihan. “Aku tau, terima kasih informasinya” ucapnya sebelum melangkah meninggalkan ketiganya.

.

.

.

Jessica duduk dengan tenang disamping Myungsoo sembari meneyedot juss strawberry nya. Kemudian kembali nenyendokkan makan siangnya kedalam bibir tipisnya. Menikmati makan siangnya di kantin setelah sekian lama menahan rasa lapar yang menyiksa lambungnya.

“Makanlah dengan perlahan Jessica, kau bisa tersedak nanti” Suga mengingatkan.

“Uuuu… Kau perhatian sekali Suga-ya” puji Jessica dengan suara lucunya. Gadis itu beralih menatap Myungsoo yang tengah menelan makan siangnya, “Myungcy-ya, harusnya kau mencontoh apa yang dilakukan Suga terhadapku. Kau bisa kalah saing dengannya nanti”.

“Aku tidak mau” balasnya dingin.

Jessica mengerutkan bibirnya lucu, “ah…. Aku tau! Kau pasti kelelahan karena setiap hari harus membuat aura maskulin untukku bukan? Ya, Kau berusaha terlalu keras Myungcy-ya” Myungsoo memutar kedua bola matanya jengah.

“Hey Jessica, apa kau benar-benar duduk bersama alien itu?” Taemin yang baru saja datang entah dari mana berseru secara tiba-tiba. Membuat kelima orang yang sedang asik dengan makan siang mereka beralih menatapnya keheranan.

“Duduklah terlebih dulu Taemin-ah” ujar Jimin sembari menepuk kursi disampingnya.

Taemin menurut, ia duduk disamping Jimin sembari menarik minuman milik Minhoo dan menyesapnya dengan seenaknya.

“Ya!” teriak Minhoo kesal.

Taemin tersenyum polos kearah Minhoo yang dibalas decakan sinis oleh kawannya itu. Tak lama, ia beralih menatap Jessica.

“Ada apa sih?” tanya Jessica risih.

“Kenapa kau memilih untuk menjadi teman sebangku Jeon Jungkook?”

Gadis itu mengangkat sebelah alisnya ketas, “apa ada yang aneh?”

“Tentu saja!” balas Taemin berapi-api.

“Taemin-ah, santai saja” ujar Myungsoo.

Jessica mengerjapkan matanya beberapa kali, “eoh?”

“Heol, apakah kau benar-benar tidak tau Jessica?” tanya Taemin.

“Anieyo. Ada apa sebenarnya?”

Taemin menghela nafasnya berat, “Jessica, lebih baik kau pindah tempat duduk saja. Jangan pernah kau menjadi teman sebangku dari makhluk alien itu. Aku memperingatkanmu”

“Waeee? Sikapnya tidak cukup buruk kepadaku”

“Dengar ya Jessica, saat di tahun pertama sekolah, Jeon Jungkook adalah teman sekelasku, Minhoo dan Jimin. Dia duduk tepat di depan bangkuku dan Minhoo, dan sikapnya itu sangaaaaatlah buruk. Dia bahkan dengan tega mengusir teman sebangkunya hanya karena meminta jawaban di tengah-tengah ulangan. Dia juga sangat individualisme, tak ada satu pun orang yang mau berteman dengannya. Dan lebih baik kau pun juga begitu”.

“Bukankah Jeon Jungkook itu adalah mantan ketua osis kita selama dua tahun berturut-turut?” tanya Suga.

“Benar” jawab Taemin.

“Aku dengar dia sempat memenangkan olimpiade matematika nasional dengan mendapatkan juara satu” ujar Suga lagi.

“Benar lagi” balas Taemin.

“Tapi Taemin-ah, tidakkah kau berpikir bahwa ada alasan Jungkook melakukan hal itu?” ucap Jessica tiba-tiba setelah gadis itu terdiam beberapa menit.

Baik Myungsoo dan semua yang ada di meja itu menatap gadis bersurai coklat dengan mata foxy itu dengan keheranan.

“Jessica kau tidak berpikir untuk-…”

“Hei hei… Aku sudah terbiasa dengan orang macan Jungkook itu. Apa kalian tidak melihat bagaimana Myungsoo bersikap kepadaku? Setidaknya mereka hampir sama, dan aku pasti bisa menghadapinya” Jessica memotong kalimat Minhoo dengan semangat.

“Kami tidak mirip” desis Myungsoo. Namun beberapa detik kemudian, senyum kecil yang terlihat samar terbentuk di wajahnya. Ia akui bahwa Jessica adalah gadis yang pantang menyerah, semakin dilarang, ia akan semakin semangat melakukannya.

Dan satu hal yang diam-diam Myungsoo perhatikan dari gadis di sampingnya ini, Jessica adalah tipikal gadis yang senang sekali ikut campur dalam urusan orang lain. Dia juga sangat suka membantu orang lain, membuat orang lain senang merupakan salah satu tugasnya. Dua tahun bersama dengan Jessica membuatnya cukup nengetahui bagaimana karakter gadis itu.

“Hey, aku bersungguh-sungguh. Aku dan Taemin pernah di tolak saat meminta bantuannya. Dia memiliki sikap yang sangat buruk meskipun ia mengkoordinir kelas dengan sangat baik disaat ia menjadi ketua kelas dulu. Dan lagi Jungkook tidak akan pernah bersuara jika tidak di tanya” jelas Minhoo.

“Oh ayolah, kami hanyalah teman sebangku. Kenapa kalian begitu sangat khawatir terhadapku? Don’t be so dramatic, okay?”.

“Tapi Jessica….”

“Tunggu sebentar” Jimin memotong kalimat Minhoo. “Jeon Jungkook itu bukankah namja yang sering kita bully di taman belakang sekolah?”

“WHAT?!!” pekik Jessica.

“Mwoya?!” Myungsoo tersentak kaget. Tidak menyangka bahwa kawan-kawannya bertindak sejauh itu.

★★★★★★★

Jam pelajaran pada hari kedua baru saja berlangsung, meskipun begitu tak membuat Jessica nampak semangat untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar yang di bimbing oleh Jaehwan Songsaenim. Ia lebih memilih untuk curi-curi pandang terhadap teman sebangku nya yang pintar, Jeon Jungkook.

Gadis cantik itu menggigit bibir bawahnya saat mengingat bagaimana ketiga sahabatnya sempat bercerita bagaimana mereka melakukan pembullyan terhadap laki-laki disampingnya ini. Ia mengutuk Taemin, Minhoo dan juga Jimin yang dengan tega melakukan tindak kekerasan terhadap pria pendiam seperti dirinya.

Jujur saja, ia memikirkan kalimat Myungsoo kemarin, berada pada tingkat akhir sekolah membuatnya harus fokus terhadap pelajaran. Dan dipisahkan dari namja itu mungkin bisa dibilang anugerah. Bukan karena ia tak lagi menyukai laki-laki itu, oh demi dewa lautan, ia bahkan begitu menginginkan laki-laki bermata sipit itu untuk nenjadi mempelai pria di pernikahan mereka nanti. Melainkan karena dengan dijauhkan dari Myungsoo untuk sementara seperti ini akan lebih baik bagi mereka berdua. Jessica yang tidak akan bingung untuk menarik perhatian Myungsoo, dan Myungsoo yang akan dapat berpikir jernih dalam pelajaran.

“Kenapa menatapku seperti itu?” suara dingin itu mengalun dari bibir Jungkook yang kembali memergoki teman sebangkunya tengah mencuri-curi pandang ke arahnya.

“T-tidak… Aku tidak..” tolak Jessica.

Jungkook menghela nafasnya berat, “tolong jangan mengangguku selama jam mata pelajaran sedang berlangsung, karena aku tidak segan untuk melakukan hal buruk terhadapmu jika kau tetap nekat melakukannya” peringatnya.

Jessica menelan salivanya dengan susah payah kemudian memilih untuk mengangguk. Ia lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah papan tulis, menatap tanpa minat guru barunya yang tengah mengoceh di depan kelas.
“Huh padahal aku hanya ingin berteman dengannya” gumam gadis itu.

SRET

Sebuah kertas berisikan beberapa kalimat mendadak tergeser ke tempatnya, ia menatap Jungkook yang merupakan sang pelaku dengan keheranan. Jessica menarik kertas itu dan membaca sekilas tulisan tangan teman sebangkunya yang nampak rapi meskipun ia adalah seorang laki-laki.

-Aku tidak mau berteman denganmu-

Mata Jessica membesar setelah membaca isi dari kertas yang ditulis oleh Jungkook. Entah kenapa ia merasa kesal dengan tulisan itu. Memang apa salahnya sehingga laki-laki itu tidak mau berteman dengannya? Lagi pula dirinya tak memiliki penyakit kulit yang dapat menular. Hey, dan jangan lupa satu hal, Jessica sendiri adalah murid terpopuler di sekolah. Hampir setiap orang ingin berteman dengannya. Jadi apa yang salah dengan berteman dengannya?

Dengan perasaan kesal, gadis itu menulis surat balasan untuk Jungkook dan menggesernya dengan kasar.

-Wae?-

Tak butuh waktu lama, kertas yang digeser oleh Jungkook barusan telah berisi balasan untuknya.

-Aku tidak mau berurusan denganmu-

-Wae?-

-Kau menyebalkan-

“Hya!” Jessica memekik cukup keras ketika melihat balasan Jungkook untuknya. Membuat seluruh penghuni kelas menatap ke arah mereka berdua. Termasuk Jaehwan Songsaenim.

“Ada apa Jessica-ssi?” Jaehwan Songsaenim bertanya dengan nada serius.

“A-aniya songsaenim” gagap Jessica.

“Apa ada sesuatu yang menganggumu?” Jaehwan Songsaenim kembali bertanya sembari melirik Jungkook yang duduk disampingnya.

“Anieyo” jawabnya yakin.

“Baiklah kalau begitu. Bisakah kali ini kau tetap tenang hingga jam pelajaran usai nona Jessica Jung? Atau aku akan mengeluarkanmu jika kau masih membuat keributan”

“Y-ye Songsaenim, Mianhamnimida” ujar Jessica menyesal.
Setelah mengucapkannya, Jessica menatap Jungkook tajam. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum tipis, senyum yang seolah-olah tengah menghinanya. “Jahat sekali” rutuknya.

“Pantas saja Taemin dan yang lainnya memilih untuk membullynya, dia benar-benar menyebalkan dan arogan. Sikapnya tidak jauh berbeda dengan Myungsoo ckck” gumamnya pelan.

SRET

Jungkook kembali menggeser sebuah kertas ke arahnya.

-Itu akibat jika kau berani mendekatiku-

Gadis itu memutar kedua matanya, mengangkat kertas milik teman sebangkunya itu dan merobeknya dengan yakin tanpa ingin membalas kalimat menyebalkan yang tertera disana. Mengundang perhatian Jungkook ketika ia merobeknya dengan begitu kasar.

Laki-laki itu menatap gadis cantik yang kini terlihat lebih fokus darinya menghadap papan tulis putih yang penuh dengan rumus itu dengan pandangan tak biasa. Membuat begitu banyak pertanyaan di pikirannya. “Apa kau marah?” tanya Jungkook polos.

Setelah mengatakan hal tersebut, namja tampan itu membungkam mulutnya kuat kuat, merutuki atas apa yang ia ucapkan barusan. What the hell… Sejak kapan ia jadi memperhatikan orang begini.

“Maaf…” gumam Jessica pelan, membuat Jungkook kembali menoleh ke arahnya.

“Nde?” bingung Jungkook. Apa gadis ini meminta maaf karena telah menganggunya? Jika iya, sangat bagus sekali ternyata gadis ini tau diri juga.

“Aku hanya ingin membalas perlakuan kejam mereka dengan menjadi temanmu, dan meminta maaf atas nama temanku…”

“Mereka?”

“Taemin, Minhoo dan Jimin…” ujar Jessica sembari menunduk dalam, tidak berani menatap lawan bicaranya. hey tentu saja ia tak akan berani, apa kau masih berani menatap lawan bicaramu yang tengah mengeluarkan aura hitam?

Sebut saja ia bodoh karena menuruti kata-kata adiknya yang dengan riang mengeluarkan berbagai macam opini ketika gadis bersurai brunette ini bercerita tentang Jungkook, seorang pemuda yang sempat dibully oleh kawan terdekatnya yang kini justru menjadi teman sebangkunya.

Hell off! Jika ia menjadi Jungkook, ia yakin tak akan ada kata maaf untuk ketiga temannya itu. Apakah kau akan memaafkan dengan gampang seseorang yang menyakitimu secara fisik?

Siang lalu, dengan perasaan tak enak, Jimin menceritakan semua perlakuan mereka terhadap Jungkook. Mulai dari menjadikannya bahan untuk berlatih taekwondo dan membuatnya menjadi lawan yang sebenarnya tak sepadan, menjadi bahan latian dasar tinju, membuatnya menjadi gawang ketika bermain sepak bola dan masih banyak lagi. Membuat Jungkook selalu pulang dalam keadaan babak belur ketika usai bermain dengan mereka. Dan juga membuat si pendiam Jungkook semakin diam dan menjadi seperti sekarang, seseorang yang anti sosial.

Jessica meremas roknya dengan tangannya yang basah. Krystal bilang, ia harus membuatnya mengerti akan indahnya pertemanan, membuat laki-laki itu keluar dari dunia anti sosialnya dan menghadapi dunia. Yang artinya, adik perempuannya itu meminta dirinya untuk menarik Jungkook dari kebiasaannya dan mengubahnya menjadi lebih baik dengan menjadi teman namja bersurai hitam itu. Begitulah apa yang adiknya bicarakan saat ia juga bercerita bagaimana khawatirnya Taemin, Minhoo dan Jimin saat mengetahui dirinya menjadi teman sebangku seseorang yang pernah menjadi korban kejahatan mereka.

Well, Krystal memang lebih muda darinya, meskipun gadis itu sedikit lebih gila dengan semua opini yang ia utarakan, tapi jika kau dapat menangkap dengan baik apa yang gadis itu bicarakan, kau akan tau bahwa makna yang ia ucapkan itu sangat bijak.

“Aku… Benar-benar ingin menjadi temanmu” ujar Jessica lagi setelah merasakan keheningan yang cukup panjang diantara keduanya.

“Aku tidak menginginkan seseorang sepertimu untuk menjadi temanku” jawab Jungkook dingin.

“Aku tau…” gadis itu menghela nafasnya, “aku hanya ingin menjadi seperti Nanny McPhee.. aku tau kau butuh akan kehadiranku meskipun kau tidak menginginkanku-…”.

“Dan kau akan menghilang setelah aku menginginkanmu.. Aku tau cerita itu” potong Jungkook sinis.

“Aku tidak akan melakukannya” jawab Jessica yakin, membuat Jungkook yang akan kembali menyentuh bukunya beralih menatapnya tajam. Gadis itu tersenyum manis sebagai balasannya, sangat manis. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Jeon Jungkook. aku memang menyukai karakter Nanny McPhee, tapi aku tidak terlalu suka dengan endingnya, jadi aku buat pengecualian” lanjutnya.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya laki-laki itu dengan suara beratnya. Bingung akan apa yang diinginkan oleh gadis bermata indah dihadapannya ini.

“Cobalah seminggu berteman denganku sebelum kau memutuskan untuk menyingkirkanku dari kehidupanmu. Dan aku jamin kau tak akan menyesal”

Jungkook mengangkat sebelah alisnya, “apa itu artinya kau akan berputar-putar disekelilingku selama satu minggu?”

“Itu benar!” jawan gadis itu dengan antusias.

“Lalu bagaimana dengan Myungsoo?” namja itu mengeluarkan seringaiannya secara mendadak, ia yakin bahwa dengan begitu gadis di sampingnya ini akan segera membatalkan niatnya begitu ia hanya melihat Jessica mengigit bibir bawahnya, terlihat tak begitu percaya diri atas jawaban yang akan ia keluarkan untuknya.

TBC

Sorry for bad story😦 and sorry again cause there is no poster. Soalnya gatau kenapa mendadak nyelipin poster kok susah😦
Hope you like it🙂

Leave a comment or like for JD, please 🙏

-JungDhane-

92 thoughts on “Unbreakable (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s