Unbreakable (Chapter 2)

image

Author : JungDhane

Tittle : Unbreakable

Cast : Jeon Jungkook | Jessica Jung | Kim Myungsoo

Other Cast : Taemin | Suga | Minhoo | Jimin

Category : angst, friendship, romance, school life

Rate : R/T

Note : Cast diatas ditulis berdasarkan urutan abjad. Dan seluruh cast bukan milik author melainkan orang tua mereka dan Tuhan.

Poster by : Hyera

UNBREAKABLE

Author POV

Jessica Jung. Gadis cantik dengan surai coklat dan senyum lebarnya itu baru saja menuruni mobil sedan berwarna hitam metalic yang masih mengkilat tersebut. Merupakan si anak sulung dari dua bersaudara dari keluarga Jung yang terkenal.
Selain keluarganya, secara personal Jessica dan Krystal pun juga merupakan gadis yang populer disekolah mereka masing-masing. Aha! Benar sekali, baik Jessica maupun Krystal memilih untuk menempuh jalur pendidikan mereka secara terpisah mengingat akan selera pilihan sekolah mereka yang berbeda.

Jika Krystal adalah gadis yang suka berbicara ngelantur dan bertele-tele, berbeda dengan Jessica yang justru begitu nampak semangat dalam bicara namun terkesan begitu berlebihan. Kedua gadis Jung ini memanglah gadis-gadis dengan pembawaan yang ajaib. Mereka berdua bisa dikatakan tidak terlalu normal dari gadis biasanya. IQ mereka benar diatas rata-rata, dan skill mereka baik dalam intra maupun ekstrakulikuler selalu dapat dibangga kan.
Tapi bagaimana pun juga Tuhan itu selalu adil. Dibalik kecantikan fisik dan kepintaran dari pikiran mereka, keduanya justru selalu bertingkah aneh layaknya manusia abnormal yang harusnya disekolahkan di pusat pendidikan anak luar biasa. Mereka terlalu aneh untuk dilihat sebagai manusia normal.

Jessica terlihat tengah berjalan dengan penuh semangat melewati koridor sekolah untuk menuju kelas barunya sembari menenteng dua buah bekal makan siang yang ia siapkan hari ini dalam sebuah tas kecil yang ia selempangkan pada bahunya. Dengan sedikit bantuan dari Ibunya, Jessica menyiapkan tiga bekal makan siang untuk dia bawa hari ini.

Tidak tidak, Jessica bukannya serakah dengan membiarkan dirinya memakan dua bekal makan siang yang berada di tas kecil yang sengaja ia slempangkan itu seorang diri. Dan lagi Eommanya juga telah menyiapkan satu lagi bekal makanan untuk dirinya di dalam tas ransel berwarna merah jambu miliknya itu. Tidak mungkin kan, badan sekecil itu mampu menghabiskan tiga bekal makanan dalam satu kali istirahat?
Jika ia memiliki tubuh sebesar monster berwarna hijau atau yang lebih sering disebut dengan sebutan hulk yang berkali-kali lipat besar dari tubuhnya, itu akan mungkin bagi Jessica, tapi sayang nya itu bukanlah ceritanya.

Um, sebenarnya dua bekal makan yang ia tenteng itu bukanlah untuknya. Huh, tentu saja bukan, dia bukanlah gadis yang serakah akan makanan.
Melainkan untuk dua laki-laki berbeda yang memiliki karakter sejenis yang menurutnya mereka adalah pribadi yang cukup mirip, rasanya mereka bagaikan pinang terbelah dua saja wkwk. Yup, mereka adalah Myungsoo dan Jungkook. Dua manusia yang sangat tidak sama namun justru memiliki karakter yang amat persis. Membuat Jessica berpikir bahwa kemungkinan besar Myungsoo dan Jungkook adalah saudara kandung yang terpisah.

Jessica terkikik geli, pikirannya barusan mengingatkannya akan cerita sinetron yang dulu sempat tayang di televisi yang sering di tonton oleh neneknya. Sinetron yang memiliki alur cerita yang terlalu panjang dan rumit yang berjudul ‘Putri Yang Ditukar’.

Umm.. Setelah mendapat pencerahan dari Krystal semalam tentang betapa pentingnya menjadi seorang teman perempuan bagi seorang laki-laki, Akhirnya Jessica pun menuruti perkataan adiknya untuk membuat sekotak bekal makan siang bagi Jungkook.
Karena adiknya itu bilang bahwa seorang pria mudah tersentuh hatinya hanya karena sebuah bekal makan siang buatan sendiri.
Dan setelah mendengar hal tersebut dari adiknya, Jessica pun membuat bekal lainnya untuk Myungsoo, berharap laki-laki dingin itu juga dapat ikut-ikutan luluh karena bekal makan siang buatannya.

“Aku memang benar-benar pintar” gumamnya seorang diri sembari melangkah secepat mungkin menuju kelas Myungsoo.

Senyumnya semakin melebar ketika ia melihat laki-laki dengan surai kecoklatan itu duduk tenang pada bangkunya yang berada di ujung ruangan dengan sebuah headset yang menyumpal di kedua telinganya, tak lupa ia juga ditemani Suga yang setia berada di sampingnya.

Dengan begitu riang, Jessica memasuki kelas Myungsoo yang nampak begitu tenang di pagi hari. Mendekati meja yang berada pada salah satu sudut ruangan dengan begitu bahagia, tak lupa senyuman lebar yang sedari tadi menemaninya.

“Myungcy!” sapa Jessica dengan suara lucunya. Membuat Myungsoo yang sedang mendengarkan lagu dengan suara pelan dan Suga menoleh bersamaan.

“Eoh?” laki-laki dingin itu mengangkat sebelah alisnya keatas, “kenapa kau kemari sepagi ini? Bukankah kelasmu berada dua kelas dari sini?” heran Myungsoo.

Gadis cantik itu mengangkat tas kecil yang tadi sengaja ia selempangkan ke udara, membuat Myungsoo dan Suga saling menatap, menerka-nerka apa yang ada didalam tas kecil yang terlihat berat itu.

“Apa yang isi dari tas yang kau bawa itu?” tanya Myungsoo penasaran.

Jessica tersenyum kecil sebelum membuka tas tersebut, kemudian mengeluarkan sebuah kotak bekal berwarna biru dari dalamnya, “ah ini adalah bekal makan siang untukmu Myungcy-ya, aku menyiapkannya pagi-pagi sekali hari ini. Aku harap kau suka dengan masakan buatanku, apalagi aku menyiapkannya penuh dengan cinta hanya untukmu. Sebenarnya Eomma sedikit membantuku untuk membuatnya” ujar gadis itu riang.

Myungsoo menatap bekal yang berada di atas meja yang baru saja dikeluarkan oleh Jessica itu dengan pandangan was-was, “kau tidak akan meracuniku kan Jessica?” tanya nya.

“Hya!” Jessica merengut seketika. Mendengar hal itu membuatnya kesal. Apakah Myungsoo tidak percaya kepadanya? Apakah wajah cantiknya ini semeragukan itu untuk membuat sebuah sarapan?
“Kau pikir aku setega itu padamu Myungcy? Sorry dude, but I make this with all of my heart. Kau tidak akan keracunan atau langsung mati setelah mengkonsumsinya, makanan yang aku buat ini sangatlah bersih dan hygienis. Jadi kau harus menghabiskannya untukku” lanjutnya.

“Aku tidak mau” jawab Myungsoo cuek sembari kembali memasang headsetnya yang sempat ia lepaskan dan beralih dari Jessica menghadap Ipodnya.

“Hya! Kim Myungsoo!” hilang kesabaran, Jessica pun akhirnya memekik keras. Membuat Myungsoo dan Suga menutup kedua telinga mereka secara spontan saat merasakan getaran yang mememekan gendang mereka secara tiba-tiba.

“Hey hey, easy Jessica.. Easy” ucap Suga menengahi. “Aku bawa ini em, jadi kembali lah ke kelasmu sebelum bel berbunyi. Akan aku pastikan Myungsoo memakannya dan menghabiskannya sekaligus untukmu”. Suga tersenyum kecil, “Kembalilah, aku tidak mau kau dihukum karna terlambat datang ke dalam kelas Jessica” perintahnya.

“Baiklah” Jessica menurut. Tapi sebelum meninggalkan kelas, gadis itu menoleh kearah Myungsoo, menatap tajam laki-laki tersebut dengan aura sarat akan ancaman yang membuat bulu kuduk siapa saja yang melihatnya berdiri seketika. “Kau harus menghabiskannya atau aku tidak akan segan untuk membawamu ke penghulu hari ini juga jika aku melihat masih ada sisa pada kotak itu” ancam Jessica sembari mengacungkan jari telunjuknya kearah Myungsoo.

Suga mengedipkan matanya beberapa kali setelah mendengar ancaman dari gadis cantik yang baru saja pergi meninggalkan kelasnya, “dia sangat mengerikan” ujarnya.

“Sekarang kau mengerti perasaanku saat melihatnya kan? Dia itu aneh, pemaksa dan juga seenaknya” jawab Myungsoo, “bagaimana mungkin aku tidak tersiksa ketika bersamanya” lanjutnya.

“Ya, jangan seperti itu kepadanya Myungsoo-ya. Ingatlah bahwa dia itu adalah seorang wanita, jangan memperlakukan seorang wanita dengan buruk begitu”

“Cih.. Mana ada macam wanita perkasa seperti dia” cibir Myungsoo

Suga tertawa kecil mendengarnya, “jangan bertindak kejam pada Jessica, siapa tau nanti kau justru membutuhkannya”

Myungsoo melirik Suga tanpa ekspresi kemudian menarik sebelah alisnya keatas, “tidak sudi dan tidak akan pernah”.

“Jangan begitu, ingatlah bahwa di dunia ini karma masih berlaku”

“Dan karmaku adalah menikahinya”

Suga tersenyum lebar, “we’ll see then”

Myungsoo memutar kedua matanya, beralih menatap papan tulis saat Songsaenim sudah berada didepan kelas dan siap memberi materi baru.

.

.

.

.

.

Jessica memasuki kelasnya dengan raut wajah yang kesal, setelah berhadapan dengan laki-laki berwajah dingin ditemani surai kecoklatan yang membuat  gadis ini selalu jatuh cinta setiap kali melihatnya selalu saja berakhir buruk dengan moodnya yang turun dan kacau. Well, Myungsoo bukanlah namja yang gampang didekati apalagi ditaklukan, membuatnya ingin segera menyerah saja saat mengingat betapa kerasnya namja itu untuk menjauh darinya. Bahkan pertama kali Jessica mendekatinya dulu, ia harus melewati begitu banyak macam kejahatan dari Myungsoo hingga akhirnya ia dapat berada di posisinya yang sekarang. Entah mengapa Jessica berpikir bahwa ada kesalahan teknis yang terjadi pada hati Myungsoo hingga ia bisa menjadi seperti manusia es.

Jessica bukanlah seorang gadis yang bodoh, dan sudah kukatakan bukan bahwa IQ nya itu berada di atas rata-rata manusia normal, ia tentu saja menyadari bahwa Myungsoo sangat terganggu akan keberadaannya disekitar namja itu. Namun tetap saja ia bertahan berada di samping laki-laki yang selalu berusaha mengusirnya tersebut.

Cinta, ya, cinta. Satu kata yang terdengar bodoh dan tabu tersebutlah yang membuat Jessica jatuh hingga terlalu dalam seperti ini kepada laki-laki tak berperasaan seperti Kim Myungsoo.

“Selamat pagi Jessica-ssi” sapa Hyeri semangat.

“Selamat pagi” balasnya dengan sebuah senyum tipis.

“Semoga harimu menyenangkan Jessica-ssi, aku akan membantu sebisaku hari ini”

Gadis itu lagi-lagi tersenyum tipis kearah yeoja kurus dengan potongan rambut sebahu itu sebelum menjawabnya, “arrayo, gomawoyo Hyeri-ssi” jawabnya.

Tak lama kemudian ia melangkah menuju mejanya setelah berpamitan dengan gadis bernama Hyeri itu, dimana seorang namja dengan surai hitam sudah terlihat sibuk dengan buku sejarah ditangannya meskipun bel masuk berbunyi masih lima menit lagi.
Gadis cantik itu menggelengkan kepalanya, ‘dasar kutu buku’ batinnya.

“Selamat pagi Jeon Jungkook” sapanya dengan sebuah senyum yang lebar dan menarik bangku untuknya duduk.

Jungkook menoleh saat mendapati suara cempreng yang entah kenapa terasa menyakiti telinganya itu terdengar disekitarnya, oh ternyata itu adalah suara milik Jessica, gadis aneh yang datang dengan senyum lebarnya dan menatapnya dengan pandangan aneh.
Laki-laki bersurai hitam itu mengabaikan sapaan Jessica, memilih kembali membaca buku sejarah miliknya yang lebih menarik dari paras eloknya dan bibir tipisnya yang terlihat menggemaskan untuk dicicipi. ‘Oh shit apa yang sedang ku pikirkan?!’ batin Jungkook.

Merasa tak di gubris oleh Jungkook, Jessica pun memanyunkan bibirnya. Memilih duduk dengan serampangan sembari mendengus kuat. “Harusnya kau membalas sapaanku Kookie-ya”

Jungkook menoleh cepat kearah gadis cantik disamping nya yang sedang menyiapkan buku pelajaran jam pertama di atas meja dengan diiringi oleh suara bel masuk. “Kookie?” tanya nya sembari menatap Jessica serius.

“Eoh?” bingung Jessica.

“Kau memanggilku Kookie?”

Jessica mengangguk polos.

Jungkook menghela nafasnya dengan begitu berat, “Jessica….”

“Wae?”

“Berhentilah. Jangan berlagak sok akrab denganku” ujarnya.

“Waeyo? Bukankah kita ini teman?” tanya Jessica dengan wajah menggemaskannya.

“Siapa yang-….”

“Kau yang bilang kemarin” ucap Jessica memotong pertanyaan Jungkook. “Kau yang menyetujui tawaranku kemarin untuk menerima tantangan dariku. Jangan bilang jika kau melupakan ucapanmu sendiri Kookie-ya”.

Jungkook terdiam begitu saja, well Jessica memang ada benarnya. Jungkook sendiri lah yang menyetujui tawaran Jessica untuk menjadi temannya dalam kurun waktu satu minggu percobaan.
Laki-laki tampan itu terlihat memijat pangkal hidungnya saat menyadari akan tindakannya kemarin, menyesali bibir lancangnya yang dengan asal bicara seperti itu tanpa memikirkan konsekuensinya.
“Jessica aku-…”

“Kookie adalah nickname untukmu dariku” gadis itu lagi-lagi memotong kalimat Jungkook.

“Eh?”

“Aku memberikan nickname bagi orang-orang yang kusukai. Itu adalah panggilan spesial dariku untuk mereka yang juga ku anggap spesial” ujar Jessica semangat, “karna kau juga menerima itu dariku, artinya kau juga spesial untukku, Jeon Jungkook” lanjutnya sembari menatap Jungkook  dengan senyum manisnya.

DEG

Jungkook terdiam. tidak bergerak. Ia speecheless.

Namun beruntung baginya karena ia masih bisa bernafas dan jantungnya masih bekerja dengan benar meskipun terdengar berdetak lebih cepat dari biasanya, meskipun begitu itu artinya tak harus menemui ruang UGD di jam sepagi ini. Dan tidak mungkin kan bahwa alasan ia terkapar di ruang UGD hanya karena ucapan Jessica yang simple namun terdengar manis baginya.

Oh Ho! Jessica adalah satu-satunya manusia yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang spesial bagi orang lain. Well, hidup selama belasan tahun tanpa teman bukanlah hal yang mudah untuk mendapatkan kalimat seperti itu. Dan setelah mendengar kalimat itu, entah mengapa rasanya membuat pipinya memanas, debaran jantungnya bahkan bekerja berkali kali lipat lebih cepat dari biasanya dan itu sangat menyiksanya. Ia tidak suka seperti ini.

Sebenarnya, sebelum kejadian Taemin, Minhoo dan Jimin yang membully nya beberapa tahun kemarin, Jungkook memang tak memiliki teman. Bahkan sejak balita, ia menjauhi teman-temannya dan bersikap sangat keras terhadap mereka yang mencoba mendekatinya dan berteman dengannya. Ia lebih memilih tak memiliki teman dengan alasan pribadi.

“Kookie-ya pipimu memerah” seru Jessica, membuat Jungkook tersadar akan lamunannya.

Laki-laki itu menyentuh pipinya yang panas, ‘oh tidak, pipiku… Ah memalukan sekali kau Jeon Jungkook’ rutuknya dalam hati.

“Apakah kau sakit? Seluruh wajahmu kini bahkan terlihat memerah. Sepertinya kau demam Kookie-ya, mau ku temani kau untuk beristirahat di ruang kesehatan? Aku akan meminta ijin kepada Jaehwan Songsaenim agar kau dapat beristirahat” tawar Jessica dengan panik.

Jungkook menelan salivanya dengan kesusahan saat melihat bagaimana khawatirnya wajah Jessica hanya untuknya. “A-aku baik-baik saja” jawab Jungkook.

“Apa kau yakin? Wajahmu sangat merah, sepertinya kau terkena demam tinggi. Ahh, harusnya kau tidak usah sekolah saja kalau tau begini”

“T-tidak, ini akan segera hilang”

Gosh! Tidak mungkin kan jika Jungkook mengatakan bahwa wajahnya memerah bukan karena demam melainkan ia sedang malu karena ucapan dan perlakuan Jessica saat ini kepadanya.
Hell! Mau taruh dimana harkat dan martabatnya yang terkenal sebagai seorang Icy Prince di sekolah jika ia mengaku bahwa wajahnya memerah hanya karena perhatian Jessica untuknya.

“Jika kau merasa kondisimu semakin memburuk, katakan saja padaku. Aku akan membawamu ke ruang kesehatan”

“Em” gumam Jungkook.

“Ah!” Jessica menjentukkan jarinya keudara tiba- tiba, membuat Jungkook menaruh perhatian penuh terhadapnya. “aku membuatkan bekal makan siang untukmu tadi pagi” ujarnya sembari mengeluarkan sebuah kotak dari tas kecil yang ia bawa tadi dan mengesernya pada Jungkook. “Aku membuat makanan ini sendirian di pagi hari, benar-benar sangat pagi. Yah meskipun sedikit dibantu oleh eomma sih. Nah… Aku harap kau suka” lanjutnya dengan sebuah senyum manis yang mengiringi ucapannya.

Mata Jungkook membulat sempurna, astaga… Kejutan apa lagi ini? Demi dewa lautan! Ini adalah kali pertamanya Jungkook mendapatkan bekal makan siang dari seorang teman, terlebih lagi teman wanita.
Dari artikel yang pernah ia baca dari sebuah situs yang ada di internet, tidak ada aturan untuk memberi bekal makan siang buatan sendiri kepada seorang ‘teman baru’.

Well yeah, bertahun-tahun tak memiliki teman, anehnya Jungkook sangat mengetahui arti dan devinisi dari artinya tali pertemanan itu sendiri. Ah, aku lupa bahwa laki-laki dengan surai hitam ini adalah kutu buku. Jelas saja ia akan dengan gampang menemukannya dari buku-buku, media cetak, atau pun media lainnya yang pernah ia baca.
Namun sayang, meskipun ia paham akan teori dari pertemanan itu sendiri, ia terlalu buta saat di lapangan untuk praktek. Tentu saja apalagi jika bukan karena ia tak mempunyai seorang teman pun.

“K-kau tidak perlu melakukan ini semua Jessica…” ujar Jungkook.

“Bukan sesuatu yang besar, aku melakukannya dengan hati yang senang. Aku tidak keberatan melakukan hal seperti ini untuk temanku” Jessica tersenyum tulus, dan Jungkook pastikan bahwa senyum itu adalah senyum paling menawan yang pernah ia lihat selama hidupnya. Dan senyuman paling indah yang ia lihat belasan tahun terakhir selain senyum Ibunya.

“Terima kasih, Jessica” balas Jungkook sembari mengalihkan wajahnya dari Jessica, menutupi pipinya yang kembali memerah.

§§§§§§§§§§§§§ §§§§§§§§§§§§§ §§§§§§§§§§§§§

“Yo! Eonnie, bagaimana dengan Jungkook hari ini? Apakah kalian ada perkembangan?” suara Krystal menginterupsi Jessica yang baru datang dengan wajah lelahnya. Membuat gadis dengan surai kecoklatan itu menatapnya aneh.

“Hey hey.. Bukankah sikapmu ini sangat tidak sopan huh? Kau bahkan tidak menyambut kedatanganku dan malah menanyakan keadaan Jungkook? Adik macam apa sebenarnya kau ini?” protes Jessica kesal.

“Come on, kau ini sudah kembali ke rumah tanpa cacat sedikit pun. Itu artinya kau baik-baik saja Eonnie-ku sayang. Akan sangat membuang energi jika aku tetap menanyakan nya bukan?”

“Hya! Neo… Jinjja!” pekik gadis bersurai coklat itu keras.

“Ck! Aku heran bagaimana teman-temanmu masih betah berada di sekitarmu” cibirnya, “suaramu itu bagaikan sebuah peluit rusak yang harus segera dihancurkan Eonnie, benar-benar membuat telingaku sakit!” lanjut Krystal.

“Krystal Jung!” teriak Jessica kuat.

“Ada apa ini?” suara lembut seorang wanita paruh baya terdengar dari salah satu sudut ruangan. “Kenapa ada suara teriakan yang mengerikan disini?”

“Eomma…” seru Jessica dan Krystal bersamaan.

“Kenapa saling berteriak satu sama lain eh? Apa ada yang salah?” tanya Ny. Jung heran sembari menilik putrinya satu persatu. “Kalian tidak bertengkar kan?”.

“Anieyo” jawab keduanya kompak.

“Lalu ada apa dengan kalian berdua? Kenapa eomma mendadak merasa suhu di ruang tamu mendadak panas?”

“Itu karena aku sudah siap untuk memasukkan Krystal kedalam kuali besar dengan suhu amat panas untuk menjadikannya sebagai bahan dasar Sup favorite eomma dan appa” jawab Jessica sembari menatap Krystal tajam.

“Uuu… Eonnie menyeramkan sekali, aku jadi takut” Krystal berkata dengan suara ketakutan yang dibuat-buat, mengundang tatapan mata tajam dari Jessica yang sangat ingin membunuhnya.

“Sudah, jangan bermain-main, kalian ini sudah besar, apa tidak malu dengan umur kalian sekarang uh? Dan Krystal, tolong jangan menganggu eonni mu em” ujar Ny. Jung, membuat Jessica menjulurkan lidahnya kearah Krystal yang kini terlihat mendengus berat.

“Tadi aku hanya menanyakan tentang kedaan laki-laki yang ia dekati dan perkembangan dari hubungan mereka eomma, tapi Jessica eonni malah terlihat kesal dan kemudian berteriak. Itu bukan sepenuhnya salahku, Jessica eonnie lah yang berlebihan”.

“Eoh?” bingung Ny. Jung.

“Aku bertanya tentang bagaimana  perkembangan akan Jessica Eonnie yang tengah mendekati seorang namja Eomma, dan disini aku memiliki peran penting, yakni membantunya untuk mendapatkan perhatian sang namja. Dan sebagai seseorang yang membantu kelancaran akan hubungan mereka, tentu saja aku ingin tau bagaimana keadaan keduanya sekarang” jelas Krystal.

“Apakah namja itu Kim Myungsoo?” Krystal menggeleng. “Bukankah selama ini eonnie mu hanya menyukai Kim Myungsoo dua tahun terakhir inj? Jadi siapa laki-laki tidak beruntung itu?” lanjutnya.

“Eomma” Jessica mempoutkan bibirnya saat dengan sengaja Ny. Jung meledeknya.

Krystal dan Ny. Jung terkikik bersamaan, “namanya adalah Jeon Jungkook, dia merupakan salah satu teman sekelas sekaligus teman sebangku Jessica Eonnie sekarang” terang Krystal.

“Eoh, benarkah itu Jessica?”

“Sebenarnya bukan mendekati dalam artian suka eomma, aku hanya….hanya sedikit kasihan kepadanya” ujar Jessica jujur.

“Wae?” Ny. Jung bertanya dengan kening berkerut.

Jessica mengigit bibir bawahnya, “dia… Dia selalu terlihat sendirian eomma, dia seperti dikucilkan, dia sangat dibenci, dia pernah dipermainkan, dia bahkan tidak memiliki seorang teman pun, dia juga anti sosial. Aku tidak pernah melihat seseorang seperti dia sebelumnya, dan itu membuatku semakin penasaran dengannya, dan semakin membuatku ingin dekat dengannya dan kemudian membantunya” terang Jessica. “Aku tidak tega melihat seseorang yang hidup sepertinya. Pasti ia sangatlah kesepian. Aku jadi tidak tega untuk berpura-pura tidak peduli akan keberadaannya dan masalahnya”

Ny. Jung melangkah mendekati anaknya, mengelus puncak kepalanya sebelum berakhir dengan mencium keningnya. “Kau anak yang baik Jessica. Bisakah kau menceritakan bagaimana teman sebangkumu yang baru itu kepada eomma?”

Gadis itu mengadahkan kepalanya menatap mata ibunya yang indah, “Tentu saja!” jawab Jessica dengan senyumnya yang lebar.

“Eonnie…” panggil Krystal.

“Wae?”

“Jangan berusaha terlalu keras untuk mengubahnya dan mendapatkan perhatiannya Eonnie” peringat Krystal dengan senyumnya yang tercetak samar.

“Siapa maksudmu?” bingung Jessica.

Krystal memutar kedua matanya, “Tentu saja si Jeon Jungkook itu, aku sedang tidak membicarakan Kim Myungsoo saat ini”

“Eh… Waeyo?” kening gadis itu mengkerut kuat.

Krystal memainkan rambutnya sembari berjalan kearah Jessica sekaligus menatap kakak perempuannya yang cantik itu dengan pandangan seduktif. “Nanti bisa-bisa kau malah jatuh cinta padanya eonnie” bisiknya.

Jessica mengerjapkan kedua matanya saat Krystal sedikit menjauh dari tubuhnya, “t-tidak mungkin dan tidak akan terjadi hal yang seperti itu” jawabnya

“We’ll see then” ucap Krystal dengan senyum misteriusnya.

§§§§§§§§§§§§§ §§§§§§§§§§§§§ §§§§§§§§§§§§§

Jessica yang baru saja kembali dari acara makan siangnya bersama Myungsoo dan yang lain di kantin sekolah mendadak tersenyum lebar ketika mata indahnya tanpa sengaja mendapati Jungkook berada di bawah salah satu pohon besar terlihat dengan begitu serius membaca buku tebalnya di jam istirahat seperti ini seorang diri.

“Boo!” Seru Jessica mengangetkan Jungkook dengan semangat.

“Ya!” teriak Jungkook kaget sehingga buku tebalnya itu terlempar jauh dari tangannya, “Jessica, kau mengagetkanku!” protesnya kesal.

“Harusnya kau peka akan kehadiran seseorang yang ada didekatmu Kookie-ya, jangan hanya sibuk dengan buku bututmu itu” cibirnya sembari mendudukkan dirinya disamping Jungkook.

Laki-laki tampan itu memutar kedua bola matanya, mendengus dalam sebelum menatap risih kepada Jessica yang terus melihatnya dengan sebuah senyum yang lebar. “Apa maumu sebenarnya?” tanyanya ketus.

Senyum lebar gadis cantik itu mendadak padam dan tergantikan oleh bibirnya yang nampak merengut kecewa, “hey, ini baru hari kedua, tak bisakah kau bersikap lebih baik kepadaku?”

“Aku sudah bilang k-….”

“Aku bisa terima akan sikapmu yang seperti ini kepadaku jika dalam satu minggu masa percobaanku gagal. Tapi ini bahkan belum satu minggu aku berada di sekelilingmu. Apakah tidak bisa kau membiarkanku berada disekelilingmu untuk seminggu saja sebelum kau mengatakan jawabanmu?”

“Jessica aku-…”

“Kumohon” Jessica mengedipkan matanya beberapa kali dengan wajah memelas.

“Fine” jawab Jungkook tak ikhlas.

“Woohhoooo!!” sorak Jessica girang. ‘Membujuk Jungkook ternyata lebih mudah ketimbang membujuk Myungsoo’ batin Jessica senang.

“Hentikan, kau membuat semua orang melihat kemari” ujar Jungkook malu.

Jessica menatap Jungkook dengan mata menyipit saat ia melihat sesuatu yang tidak biasa, “wajahmu memerah lagi Kookie-ya” ujarnya.

“E-eh?”

“Sungguh, wajahmu benar-benar merah. Apakah kau demam lagi uh? Aku akan mengantarmu ke ruang kesehatan kalau begitu, kkaja” ajak Jessica.

“T-tidak usah Jessica”

“Tapi-…”

“Aku baik-baik saja. Aku bahkan bisa memakan dua mangkuk es krim besar dalam waktu sepuluh menit sekarang juga”

Jessica menatap Jungkook dengan pandangan meremehkan, “eyyy tidak mungkin. Hanya aku yang mampu melakukan hal itu”

“Apa maksudmu?”

“Hanya Jessica Jung yang bisa menghabiskan dua mangkum es krim besar dalam sepuluh menit, kau tidak mungkin bisa menandingiku tuan” sombong Jessica.

“Tsk yang benar saja” cemooh Jungkook.

“Ayo kita buktikan kalau begitu”

“Mwo?” bingung Jungkook.

“Temui aku di depan gerbang sepulang sekolah, dan kita akan berduel di kedai es krim yang biasa aku kunjungi”

“Untuk apa aku harus melakukannya? Membuang-buang waktu saja”

Jessica memiringkan sebelah bibirnya kesal, “kalau begitu anggap saja aku mengajakmu kencan” putusnya.

“A-apa?”

“Kita akan berkencan sepulang sekolah i kedai es krim otekimiyaki, dan jangan kabur dariku!” perintah Jessica sembari menunjuk kearah Jungkook,
“A-aku ke kamar mandi dulu, sampai bertemu dikelas” ujar Jessica sebelum berlari meninggalkan Jungkook.

Sepeninggal Jessica yang telah berlari ke kamar mandi, diam-diam Jungkook mengulas sebuah senyum tipis yang samar di wajah tampannya. Hatinya bergetar seiring dengan detak jantungnya yang kian membuncah.
Jujur ia tak tau apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri. Ini baru memasuki hari kedua tantangan yang diberikan oleh Jessica untuknya.
Yah, tantangan untuk merebut hatinya agar ia mau menjadi kawan dari gadis cantik dengan surai kecoklatan itu.

Well, Jungkook bukanlah manusia dingin tak berperasaan seperti yang kalian kalian pikirkan, ia masih memiliki hati yang baik tentu saja. Maka dari itu ia selalu merasakan hal-hal aneh jika gadis itu melakukan sesuatu diluar nalarnya. Membuat wajahnya selalu panas, dan itu amatlah menyebalkan menurutnya. ‘Uh ada apa denganku?’ tanya Jungkook dalam hati.

Laki-laki dengan surai hitam dan hidung mancung itu lagi-lagi tersenyum tanpa ia sadari sembari berjalan menuju kelasnya, namun anehnya kali ini senyumnya semakin melebar saat mengingat betapa gigihnya seorang Jessica Jung menginginkannya untuk menjadi seorang teman. Tidak ada seorang pun yang mirip dan melakukan hal yang sama untuknya, setidaknya itu membuat Jungkook lebih bersemangat untuk datang ke sekolah dari hari-hari sebelumnya.
Hei, ini adalah kali pertama Jeon Jungkook mengalami hal semacam ini. Tidak salah bukan jika namja tampan tersebut bingung harus melakukan apa dan bersikap bagaimana kepada Jessica?

“K-kau bisa tersenyum?” suara kaget itu…

“J-Jessica?” Jungkook tersipu malu saat mengetahui gadis cantik yang baru saja tiba ini tanpa sepengetahuannya dan menatapnya sedari ia berada di kelas.

“W-wajahmu memerah lagi” ujar Jessica sembari menyentuh pipi Jungkook yang mendadak terasa panas.

DEG

Lagi, jantung milik Jungkook lagi-lagi bekerja diluar kedaan normal saat dengan sengaja Jessica menyentuh wajahnya dengan tangan mungilnya yang terasa begitu halus. Membuat Jungkook tak ingin melepaskan tangan Jessica dari wajahnya. Uh kenapa sih yeoja ini harus begitu perhatian kepadanya? Bagaimana bila ia justru malah meninggal karena jantungnya tak lagi berfungsi akibat ulahnya sebelum sempat mengikrarkan diri sebagai sepasang teman. Tapi tidak mungkin kan jika Jungkook meninggal hanya karena bersentuhan dengan Jessica?

“Wajahmu panas Kookie-ya, apa benar kau tidak apa-apa?” suara cempreng milik Jessica membuyarkan pikirannya.

“A-aku baik-baik saja” jawab Jungkook di barengi dengan suara bel tanda jam masuk pelajaran berikutnya setelah istirahat.

“Tolong beritau aku jika keadaanmu semakin memburuk” bisik Jessica saat matanya dengan sengaja menatap Im Songsaenim memasuki kelas.

“B-baik” ujar Jungkook menurut seraya membereskan mejanya yang terlihat sedikit berantakan.

.

.

.

.

.

Laki-laki dengan surai keperakan dan porsi tubuh yang lebih langsing ketimbang laki-laki kebanyakan itu terlihat tengah berlari melewati koridor sekolah dengan tergesa-gesa, sehingga tanpa sengaja ia menabrak beberapa orang yang berjalan berlawanan dengannya dan tanpa sempat meminta maaf.
Beberapa kali ia juga mendengar berbagai macam bentuk protes akan tingkahnya, namun laki-laki itu hanya menganggapnya sebagai angin lalu.

Sebut saja laki-laki bersurai perak itu sebagai Taemin, salah satu anggota inti tim basket sekolah yang memiliki wajah tampan, semangat juang tinggi, sangat populer di kalangan wanita, dan juga salah satu atlet taekwondo yang pernah membawa nama sekolah bersama Minhoo dan Jimin.

Ah dan satu hal lagi yang lupa aku sebutkan, ia juga memiliki sebuah hubungan khusus dengan adik Jessica, Krystal Jung. Entah apa hubungan yang keduanya jalani karena tidak ada kejelasan pasti di antara keduanya hingga saat ini, meskipun begitu itu tak membuat Taemin dengan seenaknya bermain dengan wanita lain di luar pengawasan Krystal. setidaknya selain otaknya yang jahil, ia masih memiliki sifat kesetiaan yang patut diacungi jempol.

Taemin berhenti berlari ketika ia melihat kawan-kawannya yang tengah asik dengan bola oranye bulat itu di dalam lapangan indoor milik sekolah. Tanpa ba-bi-bu lagi, Taemin melangkah mendekat dan berseru keras. Membuat beberapa makhluk Tuhan menatap kearahnya. “Myungsoo-ahh… Hhh… Apakah kau tau kemana Jessica pergi hari ini hh?” tanyanya dengan nafas yang terengah-engah.

Baik Myungsoo, Suga, Minhoo, Jimin dan beberapa anggota tim basket lainnya yang berada disana menatap Taemin dengan pandangan tidak biasa. Beberapa dari mereka saling berbisik ketika melihat laki-laki yang masih sibuk mengatur nafasnya itu.

Myungsoo menaikkan sebelah alisnya begitu melihat Taemin berada di dekatnya, “aneh sekali kau ini, kau berlarian hanya untuk bertanya tentang si gadis manja itu? Ck ck ck…” cibir Myungsoo.

Taemin memutar kedua bola matanya, “aku hanya bertanya apakah kau tau dimana keberadaan Jessica sekarang atau tidak? Dan apakah ia mengatakan sesuatu kepadamu kemana ia akan pergi?”.

Jimin menatap Taemin aneh, tidak biasanya sahabatnya menanyakan keadaan kakak dari gadis yang dekat dengannya seperti ini. Entahlah, tapi pertanyaan Taemin ini mengundang perasaan aneh dan tak biasa dari laki-laki bermarga Park tersebut. “Ya Lee Taemin, ada apa denganmu? Kenapa kau menanyakan keberadaan Jessica seperti itu uh? Tidakkah kau merasa bahwa kau telah membuat kami keheranan dengan sikap super berlebihanmu ini?”

“Jangan terlalu khawatir dengan gadis cerewet itu, dia sudah besar. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Kau tak usah terlalu berlebihan dengan kekhawatiranmu yang tidak berdasar itu” celetuk Myungsoo.

Taemin terdengar mendecak, “aku memiliki alasan untuk khawatir terhadap Jessica, Myungsoo-ah. selain temanku, dia juga merupakan calon kakak iparku. Dan lagi aku punya alasan kuat akan sikapku ini”

“Teman-teman sudahlah, coba kita dengarkan apa yang membuat Taemin begitu khawatir dengan Jessica. Lagi pula dia memiliki alasan untuk melakukan ini bukan, tidak ada salahnya juga untuk mendengarkan alasannya” ujar Suga menengahi. “Taemin-ah, silahkan” lanjutnya.

“Suga-ya jeongmal gomawo” ujar Taemin berterima kasih, dan setelahnya laki-laki itu terlihat menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “Oke, aku tau tadi pertanyaanku begitu berlebihan kepadamu Myungsoo-ya. Aku melakukan itu karena aku tau Jessica pasti akan menghubungimu, dan aku minta maaf karena membuatmu menjadi kurang nyaman atas sikapku barusan”.

Myungsoo terlihat mengangguk beberapa kali, “eoh, permintaan maaf diterima” ucapnya.

“Ya jadi katakan apa alasanmu untuk melakukannya Taemin-ah” seru Minhoo tak sabaran.

“Arraseo arraseo. jadi begini, saat aku akan menuju ke lorong dimana lokerku berada, aku melihat Jessica dan si anak alien itu berjalan bersama keluar dari kelas, bahkan mereka berdampingan dan mengobrol sepanjang jalan menuju gerbang sekolah. Karena hal itu membuatku penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti mereka berdua. Aku tau itu terlihat sedikit aneh melihat si anak alien itu terlihat akrab dengan manusia lain. Tapi ada yang lebih aneh lagi selain itu….” Taemin memotong kalimatnya.

Laki-laki dengan surai keperakan itu terdiam, menatap sahabatnya satu persatu.

“Ya kenapa kau justru berhenti?!” protes Minhoo.

“Baiklah baik maafkan aku.. Tapi sungguh, saat aku melihatnya aku benar-benar terkejut dibuatnya, bahkan jantungku memompa darah dengan begitu cepat sehingga membuatku sedikit panik, debaran dadaku juga bagaikan genderam yang mau perang” ujar Taemin.

“Berlebihan sekali” Myungsoo memutar kedua bola matanya.

“Taemin-ah” peringat Suga.

“Ahh, mian mian. Jadi setelah sampai di depan gerbang, ada sebuah mobil sedan berwarna putih yang berhenti di depan mereka berdua. Tapi anehnya Jessica justru memasuki mobil tersebut bersamaan dengan si alien itu. Padahal aku tau sendiri bahwa mobil yang dikendarai oleh supir dari Jessica adalah mobil sedan berwarna hitam metalic, bukan berwarna putih susu”

“Jadi intinya?” Suga terlihat bingung.

“Ya!” kesal Taemin, “intinya tentu saja Jessica tengah bersama si Jungkook alien itu!” pekiknya sebal.

“Hey hey hey, itu bukanlah sebuah masalah yang besar bukan. Tak perlu bersikap berlebihan kepada gadis manja itu, kau bisa membuatnya besar kepala nanti jika kau terlalu mengkhawatirkannya. Kau bahkan bertingkah seolah kau adalah orang terdekatnya saja, kau bisa membuat Krystal cemburu nantinya” cibir Myungsoo dengan rautnya yang nampak mencemooh sikap Taemin.

“Kau itu tidak perhatian ya Myungsoo” sindir Taemin.

“Eoh?” bingung Myungsoo.

“Bagaimana jika sesuatu hal yang buruk terjadi padanya?”

“Taemin-ah dia sudah besar, berhentilah untuk terlalu mengkhawatirkannya. Kau hanya membuang waktumu dengan sia-sia untuk dia yang tidak terlalu penting” jawab Myungsoo

Mata Taemin membulat kaget, tak menyangka bahwa sahabatnya akan bersikap begitu tega. Dengan sadar ia berjalan mendekat, menarik kerah seragam milik Myungsoo ke atas dengan mata berkilat yang terlihat mengerikan. “BUKANKAH SUDAH KUKATAKAN BAHWA JESSICA SEDANG BERSAMA JUNGKOOK SAAT INI?! ARTINYA DIA DALAM BAHAYA!! TIDAKKAH KAU BERPIKIR JAUH? BAGAIMANA JIKA JUNGKOOK MEMBUAT JESSICA SEBAGAI ALAT BALAS DENDAM UH? DIMANA HATI NURANIMU BANGSAT?!!” Taemin berteriak marah.

“Taemin-ah sudahlah, jangan seperti ini” Minhoo mencoba melerai.

“Aku khawatir terhadap Jessica dengan begitu banyak alasan. Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa akan ada saatnya dimana Jungkook membalas perlakuan tidak menyenangkan yang kita lakukan kepadanya? Apakah kau tidak berpikir bahwa Jessica bisa saja terluka karena berada di sekitarnya?! Apakah kau juga tidak berpikir bahwa bisa saja Jungkook itu membuat Jessica sebagai alat balas dendamnya terhadap apa yang pernah kita perbuat di waktu silam hah?!!”

“Tsk, kau bilang apa barusan? Kita? Ya! Bukan aku yang membuatnya menjadi tawanan dan menghajarnya di taman belakang sekolah, bukan aku yang mengancamnya untuk memberi jawaban di setiap ulangan, bukan aku yang membuatnya bagaikan karung tinju di tengah ring untuk berlatih lomba kejuaraan taekwondo antar daerah, juga bukan aku yang membuatnya memiliki dendam!” jawab Myungsoo tajam. “Hanya kau, Minhoo dan Jimin yang berbuat hal sekeji itu kepada teman sekelasnya. Dan hanya kau, Minhoo dan Jimin yang bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi di kemudian hari. Jangan pernah libatkan aku untuk masalah tidak berdasar seperti ini”

“Apakah kau sama sekali tidak khawatir dengan keadaan Jessica sekarang?” Taemin menatap Myungsoo tajam.

“Tidak” jawab Myungsoo dingin. “Tidak akan pernah, bahkan sampai aku mati sekali pun”.

“Myungsoo-ya” Jimin, Minhoo dan Suga menatapnya kaget.

Taemin tersenyum sinis, “aku berharap ada seorang laki-laki asing datang di hidup Jessica dan mengambil seluruh cinta yang dia berikan untukmu, sehingga suaat saat nanti kau akan menyesali ucapanmu saat ini”.

“…………………….”

TBC

Maaf untuk cerita yang jelek, aku lagi males-malesnya update fanfiction. Jadi butuh waktu lama buat dapetin inspirasi. Aku bahkan berpikir mau hapus blog dan keluar dari dunia perffan, mungkin aku sudah lelah/? Wkwk.

57 thoughts on “Unbreakable (Chapter 2)

  1. Huaahhh ff nya keren parahh thor apalagi jungkook-jessica moment nya><
    Nagih parah thor. Keep writing yeaps
    Fighting!

  2. Taemin heboh banget tapi suka sama dia pas ngomong semoga ada yang merebut Jessica dari Myungsoo biar Myungsoo tau rasa karena sia2in Jessica. Dan Jungkook juga udah mulai suka sama Jessica, semoga Jessica juga jadi suka sama Jungkook dan lupain myungsoo, bikin myungsoo gantian yang ngejer2 cintanya jessica xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s