Ame wa Agaru [Chapter 1]

PhotoGrid_1437806558834

(Crossover Fic) Ame wa Agaru by: Park Soojin

Casts: Jessica Jung (16) – Kiyoshi Miyaji (18) – Kazunari Takao (16) and some minor casts

Genre: Crossover! AU! School Life, Freindship, Romance

Desclaimer: Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

[A/N]: Halo, semua! Lama tidak berjumpa. Saya gak yakin ada yang nunggu saya atau nggak xD tapi ff ini aku dedikasikan untuk kalian. FF crossover pertamaku, dan gak tanggung-tanggung langsung AnimexHuman. Semoga saja dapet feelnya. Kalo gak tau cast lakinya, liat di poster aja ya, atau browsing sendiri juga bisa😀

Happy reading!

=== Ame wa Agaru ===

Dengan wajah datar, empat lelaki itu memandangi seorang lelaki kurang tinggi yang merangkul seorang perempuan berwajah blasteran yang tersenyum kikuk ke arah mereka. Lelaki kurang tinggi itu mendesah kasar karena tidak satupun dari temannya yang berbicara.

“Ayolah~ masa kalian tidak ingin berkomentar?” Lelaki itu bicara memelas.

Salah satu temannya yang berambut hijau dan berkacamata mengangkat dagu, “Untuk apa kau membawa perempuan ke gedung basket, Takao?” Lelaki kurang tinggi yang dipanggil Takao itu tersenyum bangga, “Karena dia anak baru di kelasku dan kelihatannya dia baik, jadi aku mengajaknya berkeliling sekolah, sekalian kukenalkan dengan kalian.”

Lelaki berbadan sedikit lebih besar daripada yang lain mendesis, “Berhenti bermain-main, Takao. Pulangkan dia dan segera berlatih.”

“Aku tidak bermain-main, Ootsubo-san! Kelihatannya dia sedikit tertarik dengan basket.”

“Apa dia ingin menjadi anggota klub basket?” Tanya seorang teman timnya yang berambut cepak.

“Eeh, bukan begitu sih, Kimura-san. Tapi dia bisa kok kalau menjadi manager kita.. mungkin.”

Teman timnya yang berambut cokelat terang mengangkat sebelah alisnya, “Blasteran Amerika-Korea tapi sekolah di Jepang, untuk apa?”

Takao menyikut pelan lengan gadis di sebelahnya, kode bahwa jawaban pertanyaan tadi dia serahkan pada gadis itu. “Sebenarnya nenekku orang Jepang, dan keluarga kami hanya kebetulan ingin pindah saja.”

Gadis berwajah blasteran itu berambut brunette sepunggung dan badannya terbilang kurus dan pendek. Saat berbicara suaranya halus walaupun tidak terlalu pelan. Jika pertama melihat, mungkin tidak ada yang mengiranya siswi semester II SMA.

Ootsubo melirik gadis itu, “Namamu tadi.. Jeshika Jong?”

Gadis blasteran itu kembali tersenyum kikuk, “Err.. Jessica Jung.”

“Baiklah, Jeshi. Kenapa kau tidak berjalan-jalan dengan teman perempuanmu saja? Takao bisa menyesatkanmu.” Ujar Ootsubo yang disusul rengekan Takao.

“Nani, Ootsubo-san? Aku tidak akan menyesatkannya, kok!” Sangkal Takao.

Jessica tertawa pelan, “Tadi saat masuk kelas, Takao-kun menyambutku dengan ramah. Kemudian dia menawarkan untuk berkeliling sekolah dan mengenalkan pada teman-temannya.” Keempat lelaki itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tidak tahu harus menjawab apa.

“Ehm, kalau kalian tidak keberatan, maukah memperkenalkan diri kalian?” Pinta Jessica ragu.

“Oh, ya. Maaf kami lupa. Namaku Ootsubo Taisuke. Aku kapten tim basket Shuutoku.”

“Namaku Kimura Shinsuke, wakil kapten.” Ujar lelaki berambut cepak.

Si rambut hijau memperbaiki posisi kacamatanya, “Namaku Midorima Shintarou, nanodayo.”

Jessica menanggapi mereka semua dengan senyuman, dan harus menunggu seorang lagi mengenalkan dirinya. Lelaki berambut cokelat muda itu terlihat sedang melamun.

“Psst.. Miyaji-san!” Bisik Takao, walaupun agak keras.

Lelaki yang melamun tadi agak terkejut, “Eh? Aku.. Namaku Miyaji Kiyoshi.”

Sekali lagi, Jessica memamerkan senyumannya, “Senang mengenal kalian semua.”

Selanjutnya, keenam orang itu berbincang santai, kecuali Miyaji yang melamun dan Midorima yang berakting tidak peduli.

“Oi oi, kita berbincang sampai lupa waktu. Sekarang saatnya latihan.” Tegas sang kapten.

“Oh iya. Jessi-chan, mau tunggu dimana?”

“Aku ke taman belakang saja, Takao-kun.”

“Baiklah, hati-hati ya!”

Tidak ada seorangpun di taman belakang SMA Shuutoku, kecuali Jessica. Tentu saja, jarum jam menunjukkan pukul empat sore. Semua siswa yang tidak mengikuti klub apapun sudah pulang. Jessica sendiri hanya ditemani sketchbook dan pensilnya.

Salah satu bangku di taman yang berukir tulisan ‘Kimi wo hanasanai’ menarik perhatiannya. Kelihatannya diukir menggunakan penggaris besi, atau sesuatu yang berujung lancip. Jari jemari gadis blasteran itu bergerak lincah menggores ujung pensil pada salah satu halaman kertas pada sketchbooknya. Objek kali ini sederhana, bangku taman di seberangnya.

Hampir satu jam perhatiannya terfokus pada bangku taman dan sketchbook hingga mengabaikan hal-hal lain. Entah untuk keberapa kalinya, Jessica melihat objek yang sedang dia gambar. Dia sedikit terkejut setelah melihat ada orang yang duduk disitu. Lelaki tinggi berambut cokelat muda, masih mengenakan kaos latihan basket.

“Miyaji-san?”

“Sedang sibuk?” Miyaji mengabaikan sapaan canggung dari Jessica.

“Tidak juga,” Jessica mengusap lehernya, “Hanya sedang menggambar.”

Miyaji melirik sketchbook di pangkuan Jessica dengan tatapan (sedikit) penasaran, kemudian menatap Jessica lagi. “Aku ingin ke rumah sakit, Takao bilang rumahmu di sekitar sana.”

Cara bicara Miyaji yang lumayan dingin membuat Jessica agak ketakutan berbicara dengan senpai satu ini. Positive thinking, mungkin itu karena mereka baru kenal sekitar dua jam yang lalu.

“Iya, rumahku memang di sekitar situ. Omong-omong, Miyaji-san mau menjenguk siapa?”

“Ibuku dirawat disana,” si kakak kelas berdiri, “Mau pulang bersama?”

Jessica membeku sedetik, kemudian segera memasukkan peralatan menggambar yang sedari tadi dia pegeng ke dalam tasnya, “Tentu, Miyaji-san.”

“Kau tinggal dengan siapa?”

Memang benar bahwa Miyaji tidak sedingin yang terlihat di gedung basket maupun taman belakang sekolah tadi. Buktinya kakak kelas bertampang manis itu mulai bertanya ini itu saat mereka berjalan bersama.

“Sebenarnya, di sini aku tinggal sendiri di apartemen. Orang tua dan nenekku tinggal di Iwate.”

“Baru pindah ke Jepang sudah berani beda pulau dengan orang tua?” Heran Miyaji.

“Ehehe, bukan begitu sih. Sebenarnya dari semester pertama SMA, aku sudah di Iwate. Tapi entah kenapa aku tidak nyaman di sana. Jadi aku minta pindah ke Tokyo.”

“Orang tuamu mengizinkan begitu saja?”

“Itu karena aku memaksa,” Jessica meringis, “Miyaji-san, ibumu sakit apa?”

“Hanya sedang drop saja.”

Mereka berdua berhenti di persimpangan. Jessica menghadap Miyaji, menghormati senior. “Lain kali aku akan menjenguk ibunya Miyaji-san. Aku pamit dulu, senpai.” Gadis itu sedikit membungkuk.

Miyaji tersenyum tipis, “Baiklah. Hati-hati di jalan.”

~~~

Hari pertamanya sebagai murid baru berjalan amat lancar. Tidak ada yang meliriknya sinis maupun dihujani tugas menumpuk seperti di bayangannya. Malam ini, Jessica hanya belajar sambil berbalas pesan dengan ibunya.

Jessica pun nyaman tinggal di apartemen ini. Ruangannya luas dan barangnya sedikit, jadi dia tidak perlu repot saat membersihkan apartemennya.

Suara bel dari pintu masuk membuyarkan konsentrasi belajarnya. Jessica langsung berjalan dan membukakan pintu. Seorang lelaki dengan senyum lebar berdiri disana. “Yo, Jessi-chan. Apa aku mengganggu?”

“Takao-kun? T-tidak kok, silakan masuk.” Jessica membukakan pintunya lebih lebar untuk jalan tamunya masuk. Takao tersenyum puas dan segera melangkah masuk.

Aroma makanan menguar. Jessica melirik tangan kanan takao yang membawa tas kertas berlabel salah satu produk ayam goreng. “Untuk apa kau membawa itu, Takao-kun?”

Takao mengangkat tas di tangan kanannya, “Bukan apa-apa, hanya untuk makan malam.” Lelaki itu terkekeh, “Dimana meja makannya, Jessi-chan?”

“Aah, wakarimasu. Ke sini.” Jessica berjalan mendahului untuk menunjukkan letak meja makannya. Takao mengikuti di belakang.

“Kalau di tempat baru, hawk eye-ku pun tidak akan berfungsi.” Canda lelaki itu yang ditanggapi tawa pelan Jessica.

Mereka berdua duduk di kursi berhadapan dengan meja makan. Takao meletakkan tas berisi makanannya di meja makan.

“Aku membawakanmu ini, kupikir kau belum tahu tempat makan ataupun restoran di Tokyo. Sekalian sebagai ucapan selamat datang. Aku tidak tahu sih, Jessi-chan suka ayam atau tidak.”

Jessica menggigit bibir mendengar penjelasan Takao barusan, “Takao-kun.. kau tidak perlu repot-repot seperti ini.” “Bukan masalah kok,”

Takao mengacungkan ibu jari tangan kanannya, “sekalian biar aku bisa melihat sendiri apartemen Jessi-chan.”

“Sou ka?” Jessica mengusap lehernya gugup, “ehe, kukira teman pertama yang akan berkunjung kesini adalah seorang perempuan.”

Takao meringis, “Maaf ya, aku jadi menghancurkan perkiraanmu. Dan, ya Tuhan! Aku baru sadar. Apa tidak masalah jika aku datang jam tujuh malam seperti ini?”

“Sama sekali tidak masalah kok~ oh iya, Takao-kun ingin minum apa? Teh? Kopi?”

“Karena keadaan kerongkonganku sedang tidak baik, jadi air mineral saja.”

Gadis itu mengangguk, kemudian berdiri untuk mengambilkan air mineral. Takao melihat sekeliling. Sedikit sekat di apartemen ini. Barang yang dia lihat pun sedikit, sehingga terkesan luas. Ini pertama kali baginya masuk sendiri ke apartemen teman perempuannya. ‘Hihi… rasanya aneh juga.’

Jessica kembali membawa segelas air mineral dan meletakkannya di meja makan depan Takao. Gadis blasteran itu tersenyum ke temannya, “Silakan diminum, Takao-kun!”

Takao tersenyum lebar, “Arigatou, Jessi-chan!” Lelaki itu meminum seteguk air dari gelas itu.

“Jessi-chan tinggal sendiri ya disini?”

Si blasteran mengangguk, “Iya. Aku ingin mencoba tinggal terpisah dengan orang tua.”

“Begitu ya..” Takao menganggukkan kepala tanda mengerti, “Kalau kau kesepian, hubungi saja aku ya!”

Jessica terkikik geli mendengar perkataan teman barunya yang selalu terdengar riang itu, “Ha’i, tenang saja, Takao-kun.”

Kali ini, Takao membalasnya dengan senyuman simpul sambil menatap Jessica. Bukan tawa lepas atau senyum lebar seperti biasanya. Si perempuan malah salah tingkah.

Jessica seketika menyadari bahwa temannya ini kelewat tampan. Senyuman Takao yang seperti itu, ditambah tatapan dari mata tajamnya yang menatap lurus Jessica, membuatnya menjadi…

Lamunan Jessica buyar ketika Takao meminum air mineralnya. Gadis itu menggeleng pelan tanpa disadari lelaki di hadapannya.

Takao melihat jam tangan di tangan kirinya, “Ah, Jessi-chan, sayang sekali aku tidak bisa berlama-lama disini.” Lelaki itu berdiri diikuti Jessica, “Aku ada janji one-on-one dengan Shin-chan.”

“Wakarimasu, terimakasih banyak ya, Takao-kun.” Kedua orang itu berjalan ke pintu apartemen.

Tepat di depan pintu, Takao berbalik menghadap Jessica. “Oh iya, ayam yang kubawa tadi tolong dihabiskan ya? Itu enak loh.”

Jessica memasang posisi hormat dengan tangan kanannya menyentuh pelipisnya, “Siap, bos! Aku akan memakannya nanti malam, setelah belajar.”

Takao tertawa, “Wah wah.. Jessi-chan ini tidak takut gemuk ya?” Ucapannya membuat mereka berdua tertawa bersamaan. “Omong-omong,” Takao menunjuk Jessica, “Kau terlihat lebih manis dengan penampilan seperti itu.”

Jessica mengerjap, sedikit terkejut dengan perkataan Takao.

“Aku duluan ya~.” Lelaki itu melambaikan tangannya.

Setelah Takao hilang dari pandangannya, Jessica segera menutup pintu dan bersandar di situ. Gadis itu menghela napas dan kemudian terkekeh. Jessica meneliti lagi penampilannya. Rambutnya digulung ke atas, termasuk poninya; kaus lengan pendek bergambar idolanya, TVXQ; dan celana jeans selutut.

“Manis mananya?”

~~~

Sangat banyak orang yang tidak menyukai suasana rumah sakit, terlebih lagi bau obat dimana-mana. Begitu pula Miyaji Kiyoshi. Kalau bisa, dia tidak ingin sekalipun masuk rumah sakit. Oleh karenanya lelaki jangkung itu merawat ibunya dengan baik agar segera keluar dari situ.

Seperti saat ini, jam 7.40 malam. Miyaji baru saja selesai menyuapi ibunya makan malam, dia meletakkan piring di nampan milik rumah sakit. Dengan hati-hati, dia membantu ibunya minum. Setelah beres, lelaki itu merapikan alat makan ibunya dan meletakkan nampan di nakas sebelah tempat tidur.

“Kiyoshi, kau tidak berlatih basket?” Tanya ibunya.

“Aku baru saja ingin berangkat, okka-san.”

Ibunya memperhatikan anak pertamanya itu. Miyaji masih menggunakan T-shirt latihan yang digunakan tadi sore. Nyonya Miyaji tersenyum. “Jangan sampai kelelahan, ya.”

“Ha’i, okka-san.” Miyaji menyelempangkan tasnya yang hanya berisi sebotol air mineral, “Aku berangkat dulu. Aku akan pulang jam sembilan nanti.”

Setelah berpamitan, Miyaji keluar dari kamar ibunya. Melewati lorong-lorong panjang rumah sakit yang terdapat bangsal-bangsal di kanan kirinya. Hingga akhirnya dia sampai di pintu keluar.

Lelaki itu melihat ke kanan dan kiri jalan raya. Sepi seperti biasa. Miyaji berjalan santai menuju sekolahnya. Tinggal di Ibu Kota membuatnya terbiasa berjalan sendirian malam-malam karena kota ini tidak pernah gelap. Para berandalan yang berkeliaran pun tidak dia khawatirkan. Menurutnya, tubuh dan keahlian bela dirinya sudah cukup untuk menjaga diri sendiri.

Beberapa menit kemudian, dia sudah berada tepat di depan gerbang. Miyaji menghampiri penjaga sekolah yang berjaga malam.

“Permisi, aku ingin meminta kunci gedung basket.”

“Tadi sudah ada yang meminta kunci gedung basket, nak.” Ujar si penjaga sekolah.

Miyaji mengangkat sebelah alisnya, penasaran dengan siapa yang datang latihan malam mendahuluinya. Setelah mengucapkan terimakasih kepada penjaga sekolah, lelaki itu berlalu ke gedung basket.

Suara decit gesekan sepatu dengan lantai gedung dan pantulan bola terdengar saat siswa tahun akhir itu memasuki gedung basket. Miyaji mendapati dua orang adik kelasnya sedang bermain one-on-one. Dia mengambil satu bola basket, melemparnya dan tepat mengenai kepala berambut hijau.

Kedua orang yang sedang bertanding itu sontak menoleh ke belakang, “Miyaji-san?”

“Yo.” Sang kakak kelas berjalan mendekati mereka berduaㅡMidorima dan Takao.

“Miyaji-san juga latihan?” Heran Takao.

“Baka. Seharusnya aku yang menanyakannya pada kalian. Aku selalu latihan malam setiap hari.” Miyaji mengambil bola basket yang tadi dia lempar ke kepala Midorima, kemudian men-dribblenya, “Berhubung ada kalian, bagaimana jika kita 1-on-2? Kalian melawanku.”

Takao membulatkan matanya, “S-senpai seyakin itu?”

“Iie, aku akan melawan Takao dan Miyaji-san.” Midorima mendorong kacamatanya dengan jari tengah tangan kirinya, “Aku defense, kalian offense. Jika berhasil memasukkan satu kali, aku traktir makan sepuasnya di kedai depan sekolah, nanodayo.”

Takao tertawa lepas, “Hahahaha, kau berani sekali, Shin-chan! Taruhan tadi juga berlaku kebalikannya ya!”

“Heh.. kau ini sombong juga ternyata,” Miyaji menghentikan dribblenya, “Kami sudah siap mati kekenyangan!” Miyaji mengoper bola pada Takao lewat belakang tubuhnya.

Dengan sigap, si adik kelas rambut hitam menerimanya dan melakukan drive. Midorima sudah dalam posisi defense di bawah ring. Saat sudah di dekat ring, Takao melompat, berniat melakukan dunk dengan kedua tangannya. Karena tubuhnya yang tinggi, tanpa perlu melompat tinggi Midorima berhasil memblock bola sebelum mendekati bibir ring. Alhasil, bola itu jatuh dan memantul.

Tak mau kehilangan kesempatan, Miyaji menangkap bola dan melakukan drive. Midorima segera menghadang senpainya. Miyaji mundur selangkah untuk melakukan shoot. Menyadarinya, Midorima maju selangkah dan melompat sambil mengangkat tangannya.

“Senpai, kau tidak bisa melawan shooter dengan shootmu, nanodayo!” Shoot Miyaji berhasil di block oleh Midorima.

Takao tidak lengah, dia segera mengambil kendali bola dan memasang posisi shoot. Midorima berlari ke depan Takao. Namun, ternyata yang dilakukan Takao adalah fake. Bola di-pass pada Miyaji.

Si kakak kelas segera melakukan drive, dia melompat saat sudah di dekat ring. Midorima berlari dan melompat di depan Miyaji untuk mem-block. Tapi senpai tak kehabisan akal. Lelaki berambut cokelat muda itu melakukan double clutch dan dunk satu tangan hingga lawannya tak sempat mencegahnya. Dua poin untuk duo TakaMiya.

“Oi oi Midori! Sering sering ajak kami tanding ya. Aku jadi tidak perlu keluar uang untuk makan malam.” Ujar Miyaji semangat. Ketiga orang itu duduk rapi mengitari salah satu meja di kedai depan sekolah mereka. Tiga porsi jumbo ayam goreng dan minuman dingin sengaja mereka pesan. Seperti apa yang telah si penantang janjikan, traktir makan sepuasnya.

Midorima memperbaiki posisi kacamatanya, “Aku memang mengalah karena aku bawa uang lebih, nanodayo.”

Takao terbahak, “Hahaha Shin-chan! Kukira kau akan memberikan alasan yang lebih baik.”

“Urusai, Takao! Jangan berpikir apapun tentangku, nodayo!”

“Kouhai diam! Hormati senpai kalian!”

Pesanan mereka tersaji tidak lama kemudian. Dua orang yang menang taruhan makan dengan lahap, sedangkan si rambut hijau sebisa mungkin menjaga sikap makannya dengan tenang.

“Wah, padahal tadi aku membelikan Jessi-chan ayam goreng, sekarang malah aku yang ditraktir ayam goreng. Ini kebetulan yang super ‘kan, Shin-chan?”

Midorima menghela napas, “Ini semua karena Cancer berada di urutan dua terakhir, nanodayo.”

“Berhenti membicarakan bualan zodiak itu! Dan, hey, Takao. Kau memberikan anak baru itu ayam goreng?” Miyaji bicara sambil mengantar ayam goreng masuk mulutnya dengan tangan kanan, “Kau ini cepat sekali ‘ambil start’.”

“Sangat gegabah dan norak, nanodayo.”

“H-hei! Apa yang kalian bicarakan? Itu hanya sambutan kecil kok,” Takao sedikit melirik senpainya, “Lagipula, Miyaji-san yang pertama pulang bersamanya, ‘kan?”

Lelaki berambut cokelat muda itu tersedak, “Lalu apa masalahnya?!” Dia agak membentak kemudian memukul-mukul pelan dadanya, “Sial, ambilkan aku minum!”

Mungkin, ini pertama kalinya bagi Miyaji berlatih malam bersama kedua adik kelasnya yang juga pemain utama timnya. Tidak buruk juga. Dia jadi tidak mengembalikan kunci gedung basket sendirian.

Yah, lumayan seru, hingga dia melupakan sesuatu.

“Astaga, sudah jam sepuluh malam? Ibuku akan memarahiku!”

.

TBC

Cukup sekian untuk chapter 1. Mohon kritik dan sarannya ya, biar bisa bikin ff crossover lagi😀 chapter 2 on going dan akan segera di post kalo nemu wi-fi. Baiklah, sampai jumpa di chapter 2~!

33 thoughts on “Ame wa Agaru [Chapter 1]

  1. Wahhh kerenn crossovernya tapi aku gk terlalu suka shutoku. Coba klo rakuzann wkwkwk.
    klo sempet bikin oneshoot jessica sama akashi dongg thorr(gk tau diri) boleh yaaaa yayayayayaya
    KAn tipe akashi itu wanita yang berkelas nah jessica kan berkelas bolehlah di combaling wkwkwkwk
    Oke lah aku tunggu next chap ini sma requestan kuu gogogo seirin fighting(loh?!)

    • aku suka dua-duanya tapi lebih suka shuutoku :v
      aku juga sempet ada pikiran bikin akashi-jessica, soalnya menurutku mereka cocok/? tapi nunggu dapet ilham dulu😀
      wkwk makasih yaa

  2. Kereen thor, cerita ttg sma jadi seru. Tapi boleh kasih translate an bahasanya nggak thor. Nggak pande bahasa jepang soalnya. Keep writing thor. Jgn lama” please

  3. keren.. walaupun aku ga terlalu ngerti bahasa jepang…

    jangan-jangan ada cinta segitiganya lagi??? soalnya aku suka banget kalau ada cinta segitiga apalagi kalau cast yang d perebutkan itu jessica…. ahhh semoga. hihiii

  4. crossover yg sangat gue tunggu thor.
    gue suka anime dan karakternya, gue juga kpoper.
    dan akhirnya keluar juga ff macam begini~
    ff seperti ini perlu dilestarikan untuk kpoper yg juga suka anime, macam ane

    bicara tentang ceritanya, alur yg cukup sederhana tapi feelnya dapet.
    kalimatnya juga gak berbelit jadi gampang dimengerti.
    juga penggambaran tentang karakternya satu per satu cukup jelas, gak bikin pusing.
    dan gue suka sama karakter Takao yg ceplas-ceplos begitu wkw
    kira-kira ada apa di cerita selanjutnya?
    mangats thor! dilanjutin, gue nunggu banget chap 2 nya :>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s