[Freelance] (Snow Spirit) (Oneshoot)

snowapirit

Author: YHWA

Title: Snow Spirit

Cast: -Jung Sooyeon

  • Kim Taehyung
  • Kim Taehyun

Support Cast: Bisa ditemukan di dalam ff ini^^

Genre: Fantasy, Romance, Hurt, Sad

Rating: PG-13

Lenght: Oneshoot (mungkin agak lebih panjang ._.)

Note: saya tidak akan memaksa reader untuk berkomentar, namun alangkah baiknya readers memberikan masukan/semangat atau komentar yang berhubungan dengan ff ini.hati-hatidgntypoya^^jikakalianmenemukankata’yeonhan’itucastygakupakaisebelumnya,laluakugantidengansooyeon^^

Happy reading^^

 

 

Taehyung POV,

Aku adalah Snow Spirit atau bisa disebut Roh Salju. Aku membawa semua salju untuk mewarnai dunia ini dengan warna putih. Selalu berjaga di sekitar kuil di kota Seoul. Rambutku yang putih bagaikan salju, serta memakai hanbok bercorak kepingan salju berwarna putih biru. Selalu berkeliling di sekitar kuil, membawakan salju di musim dingin dan hawa dingin memang tugasku.

SPLAT SPLAT

“Oi~ kau disana, Roh Salju? Nenek berkata kau biasanya bekerja disini.”

Seorang anak kecil laki-laki melempari patung-patung di depan kuil dengan bola salju. Wah, dia nekat sekali, sudah ketiga kalinya dia melakukan ini.

“Keluar kau sekarang dengan salju-saljumu itu! Ada apa dengan itu?! Aku benci ini! Aku seharusnya bisa berjalan-jalan dengan anjing baruku sekarang, tapi karena saljumu datang, aku dilarang berjalan-jalan dengan anjingku itu”

Ahh~ ini alasannya ia bolak-balik terus ke kuil ini hanya untuk melampiaskan itu? Mianhae, ini Bulan Desember, jadi aku harus segera mendatangkan saljuku. Maafkan aku~ ><

“Aku akan menantangmu untuk berperang dengan bola salju! Argh!! Menyebalkan!!”

SPLAT SPLAT SPLAT

Lagi-lagi anak itu melempari patung kuil dengan bola saljunya dengan ganas.Aku melihat anak itu dari balik semak-semak hanya terus-terus meminta maaf dalam hatiku. Memang, setiap tahun pasti ada saja kejadian ini. Ingin sekali aku menenangkan anak itu yang semakin menjadi-jadi, tapi itu sangatlah tidak mungkin. Karena aku makhluk yang tidak bisa dilihat oleh manusia. Akhirnya anak itu pergi meninggalkan kuil dengan wajah merah padam. Mereka (manusia-manusia) tidak dapat melihat wujudku. Sangat tidak berguna jika mereka bersedia menerimaku dengan baik, toh aku memang akan datang setiap tahun. Hingga banyak manusia yang berbondong-bondong pergi ke kuil hanya untuk mendoakan salju berhenti. Memangnya kenapa dengan salju? Bukankah salju itu indah? Jika tak ada salju, kuyakini kalian semua bisa mati lemas karena kepanasan! Maunya aku berteriak seperti itu tapi buruknya aku suka sekali bersembunyi. Bersembunyi adalah kebiasaanku.

“Aku merasa ngeri hanya memikirkan salju ini. Tidak siang, tidak malam aku harus menyekop salju salju ini dari depan rumahku”

“Aku mempunyai pertemuan penting perusahaan, tapi karena salju turun lebat, keretanya jadi terhambat”

“Haah~ Apa pertandingan kali ini ditunda karena salju turun lebih awal dari perkiraan? Selalu saja tidak tepat waktu”

Mereka mengeluh, semua manusia itu mengeluh dengan keberadaan salju. Aku, makhluk yang membawa salju ini seperti merasa mengganggu manusia-manusia itu, Aku mungkin bisa dibenci oleh semua orang. Tak ada seorang pun yang pernah bisa melihatku, walaupun sekali saja.

“Ya tuhan, aku tidak bermaksud begitu… aku hanya tidak ingin dibenci saja” gumamku sambil membersihkan salju-salju di patung kuil yang dilempari bola salju tadi. Tak ada seorang pun yang memperhatikanku dan merasakan manfaat dari salju yang kubuat. Dan itu sebabnya aku melewati hari-hariku dengan kesendirian.

“Iya sendiri,” aku mengelap air mataku sebelum benar-benar mengalir. Sial, bisakah seseorang memberi tahuku alasan kenapa aku hidup di dunia ini?

Tap Tap Tap

“Huh? Itu suara jejak kaki seseorang,”

Aku mengedarkan pandanganku, akhirnya mataku menangkap sesosok wanita berambut pirang.

Deg Deg Deg

K-kenapa jantungku begini? Kenapa jantungku berdetak dengan cepat seakan ingin keluar?! Tanpa sadar aku terus memperhatikan gadis itu dari balik semak-semak. Matanya yang besar serta mempunyai bulu mata yang panjang dan lentik serta rona merah di kedua pipinya.

“I—“

Wanita itu Mengadahkan kepalanya keatas sambil memejamkan matanya dan tersenyum kecil. Memperlihatkan rona memerah pipinya dengan semakin jelas.

“IMUT SEKALI~” batinku. Ku pastikan pipiku yang sekarang memerah layaknya kepiting rebus. Jujur, ini pertama kalinya aku melihat wanita seperti itu. Ahh~ mungkin wanita muda ini datang kesini untuk membutuhkanku? Aku tidak tahu kenapa, tapi karena aku berpkir bahwa wanita muda itu membutuhkanku, membuatku merasa sangat senang.

Tiba-tiba saja ia menoleh padaku. Sedetik kemudian ia memasang wajah terkejut. Huh? A-Apa? Apakah aku yang membuatnya terkejut seperti itu? Aku melihat kearah belakangku, lalu sampingku, lalu melihat kearah belakang lagi.  Tapi tidak ada orang lain disini selain aku sendiri.

“Um… Kenapa kau melihat sekeliling?” ucapnya.

Deg!

  • apa? Dia bisa… DIA BISA MELIHATKU?!

“K-kau bicara kepadaku?”

“Eh? Em… iya?”

“KAU BISA MELIHATKU?!”

I.. ini sebuah keajaiban!

“Yah~ karena aku sempat melihatmu di belakang semak-semak tadi”

Taehyung, t-tenangkan dirimu. Sekarang aku bisa saja terlihat sangat mencurigakan. Aku tidak seharusnya melewatkan kesempatan ini pergi begitu saja. Tapi, bagaimana bisa dia berbicara padaku?

“Ah.. A-a” bodoh, kenapa aku mendadak gagap begini?!

Gadis itu semakin menampakan rasa curiganya, “Ya?”

“A-ANNYEONG HASEYO! AKU SNOW SPIRIT. AKULAH MEMBUAT SALJU TURUN. JADI PANGGIL SAJA AKU TAEHYUNG!”

Aku membungkukkan badanku dalam-dalam. Beberapa detik kemudian aku tak mendengar balasannya. Hingga aku melihat gadis itu membatu sambil menatapku. Seolah tak percaya. Yah, antara tak percaya atau takut melihat diriku tiba-tiba muncul dan memperkenalkan diri seperti itu.

“Ah~, m-maaf, maaf jika yang tadi itu terdengar aneh, benar kan? Kebenarannya adalah, ini pertama kalinya aku berbicara dengan manusia”

Uuh, Taehyung, kau benar-benar payah. Aish, tapi tiba-tiba saja jantungku kembali berdetak tak karuan seperti ini. Lagi-lagi aku merasakan bahwa pipiku kini memerah menahan malu.

“Err… ini juga pertama kalinya orang lain bisa melihat wujudku ini”

“J-juga, untuk menemukan seseorang yang benar-benar membutuhkanku, ini semua sangat baru bagiku”

Hidungku langsung memanas, kuyakini air mataku ini sudah ada diujung mataku/?

“Itu sebabnya…”

TesTesTes

Itulah sebabnya, aku senang sekarang. Aku sangat senang sekarang. Air mata ini sampai tidak mau berhenti.

“Ah… jadi, hanya orang yang memerlukan salju saja yang akan bisa melihatmu?” ucapnya dengan tatapan mata yang teduh.

“Be-benar”

Ia tersenyum kecil melihatku lalu berjalan mendekatiku dan duduk di sampingku. Menghadap langsung ke arah hutan yang pepohonannya sudah digerogoti salju. Aku lalu duduk disampingnya.

“Yah,semenjak kau bisa melihatku, mungkin dihari yang lain tugas akan lebih banyak datang padaku. Tapi, apa yang harus kulakukan untukmu?”

“Ehh, walaupun kau meminta yang lain, aku sepertinya tidak yakin bisa mengabulkannya. Selain membawakan salju tentunya”

Aku tertawa renyah, namun sepertinya tidak berpengaruh padanya. Semula tatapannya yang teduh itu hilang. Digantikan dengan tatapan hangat.

“Tidak semuanya…”

“jika kau bisa tinggal di sampingku. Itu adalah harapanku. Itu saja”

Ehh?? Apa ini? Apa maksudnya dia tiba-tiba mengatakan bahwa ia menginginkanku untuk tinggal bersamanya?

Ne?” tanyaku sekali lagi memastikan. Apa kah kupingku benar-benar mendengar kalimat itu.

Bukannya menjawab dia malah tersenyum kecil padaku,

“Aku Sooyeon~! Senang bisa bertemu denganmu,  Taehyung-ssi”

Deg Deg Deg

Ya tuhan, semakin dia tersenyum, semakin aku tidak tahan melihat wajahnya yang lucu itu. Kutepuk dadaku agar detak ini berhenti, tapi sayangnya tidak. Malah semakin kencang. Sooyeon-ssi, melihat wajahmu itu membuatku sangat gugup. Melihat senyummu membuat kedua pipiku memanas! Aishh,

“bertemu dengan Sooyeon…. membuatku seperti orang yang paling bahagia di Dunia Salju”

.

.

.

Aku adalah Roh Salju, bermaksud datang ke dunia ini untuk memberikan warna putih dipermukaan bumi setiap musim dingin tiba. Tapi, di dunia ini hanya ada aku dan kau, ini seperti aku memberikan salju putih semata-mata hanya untukmu.

Semenjak Sooyeon hadir dihidupku, aku merasa seperti dilahirkan lagi. Sooyeon selalu menghiasi duniaku dengan senyum tawanya serta tingkah lakunya yang manis itu. Sooyeon juga semakin sering mengunjungiku ke kuil. Sampai-sampai orang sekitar menganggap Sooyeon ‘kurang waras’ karena ia sering bermain sendiri dan berbicara sendiri.

“Biarkan saja mereka, seolah mereka tidak pernah berbicara sendiri saja. Lagi pula jika ini membuatku bahagia, kenapa tidak?”

Sooyeon-ssi, kau telah menambahkan berbagai warna ke dalam hatiku, tepat saat hatiku ini sudah terlanjur kosong. Apakah aku bisa nantinya terus berada disampingmu?

.

.

.

Author POV

Ring Ring Ring

Bunyi bel sekolah berbunyi selama 3 kali, maka itu bertanda bahwa jam pelajaran usai dan murid-murid dibolehkan untuk pulang. Terlihat gadis itu terburu-buru mengemasi bukunya dan mengenakan syal tebal berwarna merah muda itu. Sedangkan teman-teman sekelasnya yang masih disana terheran dengan sikap Sooyeonbaru-baru ini. Sooyeon yang biasanya beraura ‘kelam’ kini tidak lagi. Bahkan sepanjang hari senyumnya menghiasi bibir plumnya itu. Terutama Daehee,Saera, dan Minjoo yang sering memperhatikan Sooyeon. Mereka adalah teman paling dekat dengan Sooyeon semenjak ia berada di kelas 2 SMA ini. Mereka bertiga terheran-heran dengan sifat Sooyeon yang mendadak cerah itu. Namun mereka hanya ikut senang bila Sooyeon seperti itu.

“Hari ini bersalju lagi. Wah, ramalan cuaca hari ini benar-benar salah. Hm.. Sebaiknya aku memilih bermain dengan Taehyung hari ini” gumam Sooyeon sambil tersenyum hangat.

Sooyeon bersiap-siap melangkahkan kakinya keluar kelas, tapi suara panggilan halus khas Daehee memanggil namanya.

“Sooyeon-ssi,”

Sooyeon terhenti lalu membalikan badannya.

“Y-ye?”

Daehee berdehem kecil,

“Ehm, begini kami berencana pergike karaoke sekarang”

“Jadi kami ingin kau ikut pergi juga,” lanjut Saera. Sedangkan Minjoo mengiyakan ucapan keduanya.

Sooyeon terdiam dan memasang ekspresi menyesal,

“Ah.. Maaf sekali, ada sesuatu yang harus kulakukan”

Terlihat rasa kecewa dari wajah Daehee, Saera dan Minjoo. Sooyeon melihat itu merasa sangat tidak enak hati pada teman-temannya.

“Eh, begini saja, lainkali kita pasti akan berkaraoke bersama. Aku janji! Kalau begitu, aku duluan ya. Annyeong~!”

Daehee dan yang lainnya hanya diam tanpa suara, hanya sekedar membalas salam dari Sooyeon pun tidak. Mereka masih menampakan perasaan kecewa mereka pada sikap Sooyeon yang sangat sibuk itu.

“Kau tau, aku dengar dari beberapa anak kecil tetanggaku, ada seorang gadis yang mirip dengan… Sooyeon! Dia terlihat selalu pergi ke kuil Seoul sendirian tanpa ada alasan ataupun tujuan” ujar Daehee.

“Hah? Kuil Seoul? Bukankah itu tempat di mana Snow Spirit memuja dan menurunkan saljunya?” Minjoo nampak bertanya-tanya.

“Jujur saja, tidak ada jalan lagi untukku mempercayai hal-hal tentang Sooyeon” Saera menimpali.

“Aku tidak mengetahui semua tentangnya dan apa yang ia pikirkan saat ini. Tapi, sekarang dia sangat suka bertakhayul dan lainnya…” ucap Daehee menggantung.

“Tapi kadang aku merasa prihatin padanya, jika kau memikirkan bagaimana perasaan Sooyeon… Hah~” lanjut Daehee diringi helaan nafas.

“Sangat susah ia melewati hari-hari setahun sepeninggalnya…”

“Yah, kau benar Daehee-ya, Minjoo-ya..”

.

.

.

“Eh? Syal ini untukku?”

“Yups”

Taehyung memperhatikan Syal berwarna merah terang itu dengan mata yang berbinar-binar. Terlihat motif-motif yang dirajut halus menggunakan tangan.

“Aku pikir warna merah akan bagus jika Taehyung yang mengenakannya. Karena warna kulitmu itu pucat” ucap Sooyeon.

“Ditambah kapanpun kau memakainya akan merasa hangat, jadi… aku menambahkan perasaanku ke dalam syal ini. Dengan setiap jahitan saat aku merajutnya”

“EH? Jadi kau membuatnya sendiri?”

Sooyeon mengangguk kecil,

“Begitulah. Aku ingin Taehyung memakai syal buatanku ini sepanjang waktu” Sooyeon menyerahkan syalnya pada Taehyung dengan kedua tangannya.

Taehyung memperhatikan sebentar lalu mengambil syal itu dari tangan Sooyeon dengan malu-malu.

“Jadi ini benar-benar untukku, ya?”

Taehyung lalu memakaikan syal itu pada lehernya dengan perasaan riang,

Gomawo, aku akan memakainya sampai aku mati nanti” ucap Taehyung diiringi dengan senyumannya yang khas itu dan memperlihatkan mata bulan sabitnya yang manis itu.

Sooyeon melihat wajah Taehyung yang tersenyum sambil mengenakan syalnya itu terdiam. Matanya langsung melebar seketika. Hidungnya memanas, matanya juga sudah mulai berkaca-kaca. Sooyeon segera memalingkan wajahnya.

“Eh? Bagaimana? Bukankah ini terlihat serasi denganku? Atau… EHH? SOOYEON?! APA ADA YANG SALAH?” Seru Taehyung setelah mendengar isakan kecil dari bibir kecil milik Sooyeon yang menurutnya sangat memilukan hatinya itu.

“APA INI KARENA SYAL INI TIDAK BAGUS SAAT KUGUNAKAN? A-AKU AKAN MELEPASKANNYA, ATAU AKU AKAN MENGUBAH WARNA KULITKU INI AGAR SERASI DENGAN SYAL INI? BAGAI-“

“Bukan, Bukan itu…” Sooyeon akhirnya menghentikan isakannya.

“Ini hanya.. aku hanya merasa sangat senang karena bisa membuatkan syal itu untukkmu. Aku ingin Taehyung memakainya sepanjang waktu” lanjut Sooyeon dengan mata yang masih berair dan kepala menunduk ke bawah.

Kini giliran Taehyung yang terdiam. Dia tidak bisa berdiam diri saja melihat gadis yang ia sayangi menangis dihadapannya. Kedua kupingnya sangat memanas mendengar isakan memilukan dari seorang gadis manis yang baru-baru ini hadir dalam hidupnya. Taehyung lalu mendekati Sooyeon yang masih menunduk.

“Sooyeon… Lihat aku,” panggil Taehyung.

Taehyung lalu meniup udara dingin sekitarnya. Lalu dengan kekuatan dingin yang ia punya, Taehyung dapat meniup udara dingin dan keluarlah sebuah Snowflake, atau bisa disebut kepingan salju.

“Ini adalah rasa terima kasihku atas syal yang kau berikan padaku,” Taehyung mngambil kepingan salju yang berukuran sedang itu lalu memakaikannya di atas rambut pirang milik Sooyeon.

Merasa seperti ada sesuatu yang dingin menyentuh kulit kepalanya, Sooyeon menoleh pada Taehyung lalu memegang benda yang ada diatas kepalanya,

“Bukankah ini.. ini Snowflake?”

“Kau suka?”

Sooyeon mengangguk kecil. Pipinya mulai merona.

“Juga, aku ingin melihat wajahmu yang penuh tawa dan senyuman itu. Karena aku sangat suka senyuman dan tawa milik Sooyeon..” Taehyung kembali tersenyum hangat.

Sooyeon menggigit bibir bawahnya,

“Aku juga suka Taehyung…”

Sooyeon mendekati wajahnya dengan wajah Taehyung. Jujur, Taehyung sempat bingung apa yang akan dilakukan Sooyeon setelah ini. Ia hanya terlalu fokus melihat wajah merona milik Sooyeon kini semakin dekat padanya.

“S-Sooyeon? Tunggu s-seben…”

Brukk

Badan Taehyung terjengkang ke belakang. Ia langsung  menjauhkan sedikit badannya dari Sooyeon. Ia menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Tae…hyung?” Sooyeon melihat tingkah Taehyung dengan rasa bingung.

“A-anu… Kita tidak bisa…”

“Tidak bisa?” Sooyeon makin dibuat bingung oleh Taehyung.

“Yang tadi… kita tidak bisa melakukannya” Taehyung semakin menjaga jarak antara dirinya dan Sooyeon.

“I-ini bukan karena aku tidak ingin menciummu, Sooyeon. Tapi, kebenarannya adalah, kehangatan adalaha kelemahanku. Jika manusia menyentuhku, maka panas dalam tubuh mereka membuatku meleleh…” ucap Taehyung dengan berat.

“Maafkan aku. Jika aku menghilang, maka salju-salju di dunia ini juga akan hilang bersamaku…” lanjutnya.

.

.

.

Taehyung POV

HUWAAAAA… kata-kata terakhir yang tadi siang kuucapkan pada Sooyeon itu semua adalah kebalikan dari kata-kata yang ada dihatiku. Kebenarannya adalah, jika aku akan menghilang, lebih baik aku menciumnya terlebih dahulu. Taehyung bodoh, Taehyung payah! Sekarang aku hanya bisa merutuki kata-kata tadi sore dibalik semak-semak ini sambil meniduri diriku sendiri diatas salju. Sial, aku hanya berharap aku tidak memiliki badan dan wujud seperti ini, maka aku akan… Aish! Pasrah saja kau Taehyung!

“Ah, benar. Tangan, aku dan Sooyeon bisa berpegangan tangan. Dia kan mengenakan sarung tangan, lalu…”

“Aku tidak akan pernah bisa merasakan sosok hangat dan lembutnya genggaman dari seorang Sooyeon” gumamku kecewa.

Wujudku ini kan memang tidak akan pernah bisa disentuh… Aku tidak pernah tau bahwa ini akan sangat begitu menyakitkan rasanya. Dan baru sekarang aku merasakannya. Menyedihkan. Kueratkan syal merah pemberian Sooyeon ini. AHH… aku ingin melihat Sooyeon.

Tap Tap Tap

Huh? Suara jejak kaki orang!

“SOOYEON!” seruku, aku langsung bangkit dan melihat sekeliling.

Huh, tak ada siapa, melainkan hanya sekumpulan pelajar-pelajar yang lewat. Dan aku yakin pasti akan banyak pengunjung hari ini.

“Tapi aku tidak bisa bermain bersama Sooyeon saat ada orang banyak disekitar kami”

“Kita datang melewati jalan yang sangat jauh untuk mencapai tempat ini, tapi Sooyeon tak ada disini”

HUH? SOOYEON? Kedua telingaku menangkap samar-samar segerombolan pelajar itu membicarakan Sooyeon. Apa mungkin mereka adalah teman-teman Sooyeon? Bisa jadi.

“Yah, Legenda mengatakan jika kau bisa bertemu atau melihat Snow Spirit, maka orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali. Tapi kita tidak seharusnya terlalu percaya dengan takhayul jaman kita masih sekolah dasar itu”

“Tapi kau tahu,Aku tidak tahu kenapa dia ingin sekali bertemu dengan Snow Spirit”

“Dan Snow Spirit akan mengabulkan berbagai doa bagi orang-orang yang melihatnya”

“Maksudku, Kekasih Sooyeon terpeleset diatas salju di jalan dan dia langsung ditabrak oleh truk, kan? Jika dihari itu tidak sedang bersalju, mungkin dia tidak akan meninggal dengan tragis seperti itu. Kau bisa mengatakannya bahwa dia dibunuh oleh Snow Spirit, kan?”

DEG

Ke-kekasih Sooyeon…

A-apa benar kekasih Sooyeon meninggal karena… karena diriku?!

.

.

.

Sooyeon POV,

“Mereka memang mempunyai mulut yang besar. Aku tidak ingin Taehyung mengetahuinya..”

Jujur, aku merasa kaget Taehyung menanyakanku tentang kekasihku itu.

“Jadi itu benar, apa yang mereka katakan itu, semua itu benar?” tanya Taehyung.

Aku menghela nafasku pelan,

“Itu benar”

Itu sudah terjadi lama sekali, sekitar setahun yang lalu. Tepat saat hari valentine di bulan Februari. Aku mengajaknya bertemu di tempat favorit kami.

*Flashback*

Aku dan Taehyun adalah sepasang kekasih. Kami sudah menjalani hubungan kami sekitar 2 tahun. Karena Anniversarry kami bertepatan dengan hari Valentine, maka kami memutuskan untuk berjalan-jalan di kota.

Drrtt drrtt

1 Massage Received

From: Taehyun-aaaaah

Sooyeon-ah, Happy Anniversary yang ke 3 ^.^)/ Apakah kau sudah di tempat biasa? Kalau iya, maafkan aku, mungkin aku agak terlambat u,u aku harus menyiapkan beberapa kejutan istimewa untukmu^^ sabar ya Chagi, Saranghae <3<3<3

Aku hanya bisa tersenyum kecil membaca pesan dari Taehyunku yang konyol itu.

To: Taehyun-aaaaah

Ne, Chagi. Nado saranghae❤

Aku memasukan kembali ponselku ke dalam kantong jaketku lalu kembali melihat hadiah-hadiah yang sudah kupersiapkan untuknya. Sebuah syal rajut buatanku dan coklat manis yang berisi marsmallows yang manis juga.

15 menit aku menunggunya, aku masih bisa bersabar. Yah bersabar, dia menyuruhku untuk bersabar.

“Hey lihat! Sepertinya disana ada sebuah kecelakaan di persimpangan di sebelah sana. Seorang laki-laki terpeleset dijalan dan sebuah truk langsung menabraknya!”

Deg

Hatiku mulai gelisah. Sudah lebih dari 20 menit aku menunggunya. Lalu seseorang berseru bahwa ada kecelakaan di persimpangan dekat tempat kami akan bertemu, sekitar 40meter. Nyaris semua orang berhamburan pergi ke persimpangan jalan.

Aku tidak memperdulikan insiden itu dan aku tetap menunggu kehadiran Taehyun di tempat ini. Menunggu kehadiran sosok laki-laki jangkung yang amat aku cintai itu.

Menunggu

Menunggu

Dan masih terus menunggu…

*Flashback off*

Waktu itu aku merasa sangat bodoh. Seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, jadi diwaktu itu aku terus menunggu, menunggu, menunggu, dan menunggu.

Sekarang, Kami berdua tidak akan pernah bisa bertemu lagi.

“Jadi, aku hanya ingin bertemu dengannya lagi” ucapku pelan.

“Jadi itu sebabnya kenapa kau datang kesini? Karena kau percaya pada takhayul itu?” tanyanya.

“Tapi bagiku, itu semacam kekuatan, itu bukanlah sebuah takhayul biasa”

Aku mengeluarkan sebuah foto dari kantung jaket buluku yang kukenakan,

“Ini, coba kau lihat” kuserahkan foto itu pada Taehyung. Taehyung lalu menerimanya.

“Taehyung, kau sudah mengabulkan permintaanku dengan sempurna. Akhirnya Taehyun-ku kembali”

TAEHYUNG POV,

Aku lalu mengambil sebuah foto yang Sooyeon sodorkan padaku. Saat kulihat siapa yang ada difoto itu, nafasku langsung terhenti sejenak.

“Taehyung, kau sudah mengabulkan permintaanku dengan sempurna. Akhirnya Taehyun-ku kembali”

“I-ini…”

“Itu foto Taehyun-ku”

Terkejut? Iya. Heran? Iya. Aku tak bisa berkata-kata saat melihat foto itu. Foto itu berisikan sosok Sooyeon yang berfoto dengan laki-laki yang sangat mirip denganku. Mata, hidung, bibir… semuanya sama! Hanya warna rambut yang membedakan. Jadi ini si Taehyun itu?

“Hey Taehyung,” panggil Sooyeon. Aku menatapnya dengan kaku.

“Maukah kau bersamaku, disampingku mulai sekarang?”

Deg Deg

Kenapa.. aku merasakan hal ini sangat kejam?

Seperti anak kecil, kau selalu mempercayai takhayul yang berada di sekitarmu. Mempercayai bahwa aku dapat menghidupkan kembali kehidupan seseorang yang sudah meninggal. Tapi ini semua adalah salahku. Akulah yang menyebabkan Taehyun meninggal. Aku lah orang yang membunuh Taehyun.

“Ditambah kapanpun kau memakainya akan merasa hangat, jadi… aku menambahkan perasaanku ke dalam syal ini. Dengan setiap jahitan saat aku merajutnya”

“Ini hanya.. aku hanya merasa sangat senang karena bisa membuatkan syal itu untukkmu. Aku ingin Taehyung memakainya sepanjang waktu”

“jika kau bisa tinggal di sampingku. Itu adalah harapanku. Itu saja”

Ucapan manis Sooyeon kembali terngiang di telingaku. Tapi..

“Sooyeon menginginkanku ada selalu disampingnya..” gumamku.

Tapi jika itu membuat Sooyeon bahagia, lalu aku akan melakukannya. Sooyeon adalah orang pertama yang sungguh-sungguh membutuhkanku. Dia juga yang menyelamatkanku dari duniaku yang sepi. Karena hal ini, aku akan melakukan apapun untuknya. Ini untuk kebahagiaanmu, Sooyeon. Aku akan melaukan apapun.

Ini sangat simpel. Aku harap aku tidak pernah mendengar apapun tentang yang tadi itu. Aku harap aku tidak pernah melihat foto orang itu. Aku harap jika aku melakukan hal itu, kami bisa terus begini. Melewatkan kebahagiaan bersama-sama. Sebanyak apapun yang kami suka.

“Sooyeon… hari sudah semakin gelap”

“Aku ingin.. aku ingin bersamamu selamanya, Taehyung”

“Tapi ini sudah mulai malam dan gelap. Ini sangat berbahaya dan…”

“Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Apa karena Taehyung merasa bahwa kita tidak seharusnya bersama lagi?”

“Sooyeon…”

Jujur, disini, tepatnya di jantungku. Rasanya sangat perih dan menyakitkan saat Yeonhan mengatakan hal tersebut. Dan lebih menyakitkan saat melihat wajahnya yang sangat terpukul itu.

“Maka… Kumohon diamlah bersamaku”

“Apa yang kau inginkan adalah Taehyun asli yang berada disisimu” ujarku. Semakin pedih dan menyakitkan rasanya.

“Ah… bukan, itu tidak benar  ! itu…”

“Sooyeon, Ayo hentikan ini saja”

“E-eh?”

“Jika kita melanjutkan untuk bersama, kau hanya akan menganggapku sebagai bayangan Taehyun saja. Dan itu hanya akan sangat menyengsarakan untukmu Sooyeon,”

“I-Itu tidak benar! Kau tidak akan menyengsarakan kehidupanku. Selama Taehyung bersamaku…”

“Tapi itu sangat menyengsarakan untukku. Jika aku berada disisimu… lalu aku akan menjadi seperti apa? Kapanpun aku bersamamu, tak berarti apapun. Ini bukanlah aku yang kau lihat. INI BUKAN AKU  YANG BENAR-BENAR KAU BUTUHKAN”

Maaf…

“Tae…hyung”

“AKU BUKAN TAEHYUN-MU”

Sial. Rasa marah, kecewa, dan sedih sudah bercampur menjadi satu. Benar-benar, pertama kalinya aku melampiaskan rasa kecewaku.

“Aku juga suka Taehyung…”

Kalimat itu… semua senyuman dan tawanya… tidak diperuntukan untukku. Tak ada satupun untukku. Rasa sakit dijantungku ini benar-benar parah, hingga air mata bodoh ini keluar begitu saja dari mataku.

“Itu semua yang bisa kulakukan selama ini”

“Taehyung…?”

“Maka dari itu… kumohon, lupakan semua tentangku”

Sooyeon, Maaf… maafkan aku. Aku tau kau kecewa, marah dan sedih karena ucapanku. Tapi mau bagaimana lagi… daripada kita berdua sama-sama merasakan rasa sakit, lebih baik salah satu dari kita menghilang.

Jika aku benar-benar reinkarnasi dari Taehyun,Aku pasti akan berbahagia sekarang. Seperti seharusnya kita bersama. Jika aku reinkarnasi Taehyun,lalu kenapa aku tidak bisa melakukan apapun? Aku tidak bisa menggenggamnya dengan tubuhku yang seperti ini. Ataupun merasakan hangat dari tangannya.

Aku membencimu Taehyun-ssi, Aku membenci Sooyeon karena dia masih belum bisa sepenuhnya melupakan tentang Taehyun.

“Akulah…”

“…Akulah yang paling buruk”

“Akulah yang jahat, akulah orang yang merampas kehidupan Taehyun dari Sooyeon… perasaan ini..”

Aku adalah makhluk yang seharusnya benar-benar paling dibenci. Aku tak henti-hentinya mengingatkan diriku bahwa diriku tidak bisa melakukan apapun lagi. Dan belum lagi perasaanku untuk Sooyeon semakin kuat. Lalu air mata bodoh ini tak henti-henti mengalir walau otakku memaksa untuk berhenti, tidak dengan hatiku.

Aku seorang yang bodoh.

SOOYEON POV,

“Wow,saljunya semakin deras. Aku yakin ini semacam badai salju. Termasuk hari ini, saljunya turun sangat lebat. Apalagi ini sudah berlangsung selama seminggu lamanya”

Aku tak mau berkomentar apapun tentang musim salju ini. Sedangkan teman-teman di kelasku akhir-akhir ini sering membicarakan badai salju yang melanda beberapa daerah di kota seoul. Aku lalu bangkit dari bangkuku dan berjalan mendekati jendela kelas yang berhadapan langsung dengan luar sekolah. Menampakan salju-salju yang dengan ganasnya turun kepermukaan tanah. Mengenai kaca-kaca kelas yang menimbulkan suara gemeretak yang sangat menyeramkan. Seakan kaca ini tidak kuat ditimpa salju sekeras itu dan serasa ingin hancur.

Aku selalu membenci salju. Tapi…

Semenjak hari itu, saat dimana salju mengambil hidup Taehyun,setiap hari rasanya seperti siksaan. Setiap hari. Hari-hariku dipenuhi dengan kesedihan dan kesepian. Dan juga patah hati terbesar dalam hidupku.

Bertemu dengan Taehyung, aku yakin dia benar-benar diperuntukan untukku. Seperti Tuhan memberikanku sebuah keajaiban. Taehyung itu, terlihat benar-benar mirip seperti Taehyunku. Mulai bisa melewati waktu bersama sekali lagi. Serasa ingatan lama kembali lagi. Aku dipenuhi dengan kebahagiaan tiada tara. Sekali lagi…

Masih, seberapa banyak aku menyakiti Taehyung? Oh, aku tidak berani membayangkannya. Seperti roll film, moment-moment bersamanya berputar kembali dibenakku.

Senyumnya yang manis saat memanggil namaku…

Rona merah dipipinya saat dia merasa malu…

Sikapnya yang baik hati, membuatku luluh…

Dia selalu berada disampingku. Dia menyelamatkan hatiku saat hatiku terasa hancur lebur. Sepertinya, Taehyunglah yang paling baik dimataku daripada yang lainnya termasuk Taehyun.

Ini seperti hal yang simpel. Tapi kenapa aku baru menyadarinya sekarang…

“..maaf”

“Maafkan aku, Taehyung..”

Aku selalu membenci salju. Tapi mulai sekarang, aku tidak mau kehilangan salju ini. Taehyung…

 

TAEHYUNG POV,

Dia belum datang. Bukan mungkin lebih tepatnya dia tidak akan datang lagi. Apakah aku menyakiti hatinya dengan ucapanku sebelumnya? Aku memang egois karena mengucapkan hal tersebut seakan dialah yang bersalah. Sedangkan diriku yang bodoh ini tidak mau mendengarkan pernjelasannya. Satu hal lagi-lagi yang kurasakan.

Menyesal

Sepi rasanya saat Sooyeon tidak bermain denganku belakangan ini. Memang rasa sakitku ini belum hilang juga, sampai-sampai salju yang kuciptakan tak terkendali. Jika aku lengah sedikit saja, mungkin aku bisa membuat badai salju besar.

Srek srek tap tap

Terdengar seperti suara hentakan kaki. Itu..

“SOOYEON?!” kupalingkan hadapanku menuju arah belakangku. Aish, ternyata hanya kucing yang lewat.

Tiba-tiba saja mataku memanas, dan bulir-bulir air mata ini dengan gampang jatuh begitu saja.

“… dia tidak akan pernah datang”

Aku ingin melihatnya… aku ingin melihat Sooyeon-

“Taehyung.”

Ah-ah, itu.. Aku langsung menoleh ke sumber suara itu. suara yang selalu kunantikan. Aku langsung menghapus air mataku. Dan kulihat Sooyeon sudah berdiri 5 meter dari hadapanku.

“Kenapa kau disini…”

Matanya yang sayu itu menatapku teduh,

“Aku datang… untuk melihat Taehyung”

Deg

“Maafkan aku, Taehyung… Sepanjang waktu ini, aku membuatmu merasa buruk’”

“Tapi… aku hanya ingin kau tau, bahwa aku tidak ada maksud menyakitimu. Hanya saja aku masih belum bisa bangkit darinya. Itulah kenapa…”

“Semenjak kita berpisah, kau lah yang selalu aku pikirkan. Dari pagi, siang atau malam. Apapun yang sedang kulakukan. Sooyeon, kau tidak pernah jauh dari pikiranku” ujarku menyela ucapannya.

“Taehyung…”

“Aku merasa, akhirnya aku bisa mengerti apa yang kau rasakan. Karena aku selalu berharap Sooyeon datang dan melihatku”

“Kau kehilangan seseorang yang penting bagimu. Kau sendirian, tapi kau tidak bisa menjangkau dunia luar. Walau begitu, aku masih ingin menghadapimu dengan perasaan ini.”

Sooyeon…

Saranghae…”

“Dengan seluruh raga dan jiwaku, aku mencintaimu. Meskipun hatimu bertempat untuknya, termasuk aku…”

“Taehyung…”

“Maka dari itu kumohon, selalu berada disampingku! Taehyung… kumohon, bawa aku bersamamu dimana ke dunia kau berasal”

Kulihat air mata membanjiri pipinya, ingin sekali kuseka air mata itu…

“Kau sekarang juga penting untukku kalau begitu. Aku tau aku mulai egois. Tapi, pernah aku berpikir untuk mengerti,aku tidak tahu yang lain, aku tidak tau apa yang harus kulakukan…”

“Karena aku tidak bisa menghadapi ini lagi… aku tidak mau kembali sendirian lagi… Aku tidak mau kehilangan orang lain yang penting untukku lagi”

“Kumohon… ini adalah permohonan terakhirku.”

“Ingatanku.. hiks, kumohon hapus seluruh ingatanku. Semuanya”

a-apa? Sooyeon-ah… menghapus, semuanya, seluruhnya… apa yang dia pikirkan?!

 

“Yah, Legenda mengatakan jika kau bisa bertemu atau melihat Snow Spirit, maka orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali.”

Tiba-tiba ucapan para pelajar itu terngiang dikepalaku.

“Mungkin.. itu adalah makna dibalik takhayul itu…”

Aku merasa baru mulai mengerti tentang semuanya. Alasan untuk aku hidup. Alasan kenapa aku dikirim ke dunia ini. Kakiku melangkah mendekati Sooyeon,

“Sooyeon, aku ingin selalu berada disampingmu selamanya”

“la-lalu lakukanlah…”

“Tapi, tempat asalku yang sangat dingin tidak akan cocok untukmu. Aku tidak berpikir dunia tanpa Taehyun membuat Sooyeon bahagia..” potongku.

“Tapi Taehyun sudah-“

“Aku akan membuat benar kembali. Aku sekarang mengerti makna dibalik takhayul itu”

“Eh?”

“Apa kau ingat? Apa yang aku katakan sebelumnya? Jika aku menghilang, semua salju yang aku bawa akan hilang dari permukaan bumi bersamaku. Dan salju yang jatuh dari masa lampau. Termasuk hari dimana salju mengambil nyawa Taehyun”

“Taehyun… k-kau?”

“Kecelakaan itu seharusnya tidak terjadi jika salju tidak turun dihari itu.”

“H-henti-“

“Kecelakaan yang terjadi pada Taehyunmu seharusnya tidak terjadi, ini kare-“

“AKU BILANG HENTIKAN!” serunya sambil menutup kedua telinganya. Lalu dengan matanya yang sayu itu menatapku,

“Mungkinkah… Kau berpikir untuk menghilang, Taehyung?”

Aku tersenyum kecil, mencoba untuk membuatnya mengerti,

“Harapanku adalah membuat Sooyeon hidup bahagia di dunia yang hangat ini. Itu semua…” kujulurkan kedua tanganku untuk merengkuh badannya. Tuhan, beginikah rasanya memeluk orang yang kita sayangi? Memang hangat, apa bisa kuhentikan waktu sekarang juga? Aku ingin merasakan kehangatan Sooyeon seterusnya.

“ti-tidak…” ucapnya lirih.

Aku mencoba bertahan agar air mataku tak kembali jatuh. Hingga aku merasakan panas berlebih yang menjalar ke seluruh tubuhku, mungkin aku akan hilang lebih cepat…

“Sooyeon… Sekarang, aku sangat bahagia…”

“Taehyung, tidak…”

Kurasakan pundakku basah akibat air mata Sooyeon. Mianhae, ini memang sudah menjadi takdirku, Sooyeon.

“Aku tidak bisa melakukan apapun untukmu. Tapi dengan pelukanku ini, setidaknya aku pernah merasakan hangatnya dirimu. Dengan ini, kuharapkan kau bahagia. Tidak ada kesenangan yang lebih baik dari ini bagiku…”

Pssshhh Pssshhh

Akhirnya seluruh tubuhku mulai meleleh,

“Taehyun, Kajima…” lirihnya dengan air mata yang membanjiri pipinya, kulepas pelukanku dan menghapus air matanya.

“Kumohon, berbahagialah Jung Sooyeon…”

.

.

.

SOOYEON POV,

“Sooyeon, apa kau ingin pergi ke suatu tempat pulang sekolah nanti?” tanya Taehyun, kekasihku.

“Yah, begitulah, mungkin? Hehe,” jawabku sekenanya.

“Eh? Ada syal merah,” Taehyun mengambil syal merah yang berada di atas mejaku.

“Sooyeon, pasti kau yang membuatnya kan? Tapi kenapa kau memakaikan untuk dirimu sendiri?”

“Eh?”

“Setidaknya kau harus memberikan ini padaku,” rajuknya seperti anak kecil.

Aku terkekeh kecil, lalu mengambil alih syal merah itu dari tangan Taehyun.

“Maafkan aku, tapi ini bukan untukmu. Karena ini…”

“Gomawo, aku akan memakainya sampai aku mati nanti”

“Karena ini hanya milik Taehyung seorang” gumamku sambil tersenyum kecil.

Taehyung-ah, aku disini sangat bahagia… apa kau juga demikian? Kuharap begitu, aku akan selalu mengingatmu sampai aku mati nanti. Gomawo.

.

.

.

END

Sooyeon, di dalam dunia tanpaku, hanya ingatanmu dan hanya hatimu kau mengingatku. Aku hanya menjadi corak putih salju di kehidupanmu-Taehyung.

 

END

Yepps, ff pertama ini emang agak ngebosenin pan alurnya? ._. semoga suka dgn ff ini^^

11 thoughts on “[Freelance] (Snow Spirit) (Oneshoot)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s