[Freelance] Padlock

1435015952551

Tittle: Padlock

Author: Lingga

Cast: Jessica Jung, Kris Wu

Other Cast: Luhan, Sunkyu (Girls’ Generation Sunny)

Genre: Romance, Comfort

Rating: PG-13

Length: Oneshot – 7K>W

Poster: Anin (thanks banget buat posternya, maaf maksa-maksa. luv ya :*)

 

 

Hai… Akhirnya aku kembali setelah ±11 bulan hiatus. Jujur, susah buat ff di saat-saat kritis akan rumor EXO, ya Kris lah, Luhan lah, Tao lah. Hahaha.. Tapi aku bersyukur aku bisa menyelesaikan ff ini, dan ini juga menjadi ff terpanjang yang pernah aku tulis. Aku gak bisa menjamin apakah ceritanya bakal rame atau engga, tapi aku udah berusaha semaksimal yang aku bisa. Semua yang ada disini hasil imajinasi aku, murni pemikiran aku dan di post juga di blog pribadi aku <a href=”http://www.seoyoungfanfic.blogspot.com&#8221; target=”_blank”>disini</a> . Dan kalau mau melayangkan kritik atau saran, langsung aja ya. Aku mohon dukungannya, terima kasih dan selamat membaca ^^

 

 

Gadis itu tengah mengenakan sunblock pada kulitnya. Disinilah ia saat ini, Jessica Jung sedang berada di pantai. Menikmati liburan musim panas di Korea Selatan, pulang kampung dari Amerika untuk menghabiskan musim panas dengan keluarganya yang selalu ia tinggalkan untuk kuliahnya. Dan saat itu juga, kenangan masa lalu bangkit, tiba-tiba memasuki otaknya, berputar layaknya slide-slide video yang pernah ia buat untuk kejutan ulang tahun adiknya tahun lalu. Mengingatkannya akan kenangan dua tahun yang lalu, saat ia baru saja memasuki tahun pertama kuliah.

 

***

 

Gadis itu sibuk mengetikkan sesuatu di handphone-nya, lalu bergegas mendatangi petugas bea-cukai bandara untuk mengambil barang bawaannya yang sedang diperiksa. Koper berwarna kuning pucat dengan motif gingham check berwarna biru menjadi incarannya. Gotcha. Koper itu sudah ada dalam jangkauan matanya saat ini, tinggal ia ambil dan ia bisa segera menemui Krystal, adiknya yang sudah menunggunya di ruang jemput. Sampai sebuah tangan yang cukup besar menahan lengannya.

 

“Permisi, tapi koper itu milikku nona”

 

Gadis bermarga Jung itu sesegera mungkin menoleh, melihat tangan besar milik siapa yang menahannya.

 

“Maaf tuan, tapi aku sangat yakin jika koper ini milikku. Kau bisa mencari koper milik orang lain jika kau mau” Jessica membalas dengan ketus, mengangkat dagunya agar seseorang bertangan besar yang ternyata seorang pemuda bertubuh tinggi ini dapat melihatnya.

 

Sejenak, si pemuda tersebut terdiam. Membungkukkan badannya, memutar koper yang Jessica pegang erat-erat, seperti berusaha memastikan sesuatu, dan Jessica menganggap ini tidak sopan, ia sudah mengerutkan dahinya dan bersiap-siap untuk berteriak.

 

“Bisa kau lihat nona, di koper ini terdapat sebuah bordir ‘Wu’, margaku. Jangan bilang margamu Wu juga?” pria itu melepas kaca mata yang dipakainya. Membuat Jessica terkejut karena pria ini mempunyai sorot mata yang tajam, membuat Jessica sedikit kebingungan hingga terdiam, entah karena mendapati dirinya skak mat atau mungkin karena sorot mata pria ini? Entahlah.

 

“Benarkan nona, koper ini milikku bukan? Jadi tolong singkirkan tanganmu dari koperku”

 

Jessica membisu, dia sadar sepenuhnya sekarang. Dia….. dipermalukan, didepan banyak orang yang ada di bandara sekarang, seakan jadi tontonan menarik yang sayang jika dilewatkan. Dia memejamkan matanya berusaha bersugesti jika ini hanya mimpi.

 

“Dasar pencuri kecil”

 

Jessica membuka matanya, terbelalak dan mendapati jika saat ini pria tinggi dan ’sial’ tersebut telah menjauh dari dirinya. Tetapi tetap saja, mata setiap orang masih tertuju kepadanya. Memalukan.

 

“Dasar kau pria cabul, seenaknya menyentuh tangan seorang gadis” teriak Jessica keras. Tetapi, pria itu tidak menoleh barang sedetikpun membuat pipi gadis ini menjadi semakin semerah tomat.

 

Buru-buru ia mengedarkan matanya, mencari koper miliknya yang sesungguhnya. Gotcha, untuk yang kedua kalinya. Dan, saat menggenggam koper itu, gadis Jung ini berharap tak ada yang menegurnya, menahan tanganya atau berteriak hal-hal aneh kepadanya. Ia ingin cepat-cepat menemui Krystal.

 

***

 

Jessica sudah menghabiskan dua hari di Seoul, tapi ia belum berkunjung ke tempat manapun di Seoul. Dia hanya ingin bermain dengan Krystal, adiknya. Sampai dihari ketiga, saat ia bangun dari tidur panjangnya, dan saat ia menyadari jika matahari sudah ada di atas kepalanya, ia mendapati sebuah note tertempel di dahinya. ‘dari Krystal.’

 

Aku sedang berkencan.

Jangan cari aku karena aku juga ingin menikmati masa SMP ku.

Ayah dan ibu sedang berkunjung ke rumah kerabat.

Aku tak bisa menyiapkan brunch untukmu, jadi kau bisa pergi ke Myeongdong.

Aku pikir, 10 bulan tidak di Seoul tidak akan membuatmu lupa jalan ke Myeongdong

Nikmati harimu.

 

Jessica menghela nafasnya saat itu juga. Sungguh malas rasanya saat ia harus beranjak dari kasurnya lalu pergi melihat cahaya matahari yang menyilaukan matanya. Oh, Jessica sungguh tak menyukai itu, saat ini pun jendela kamarnya tertutup rapat dengan gorden besar, tak ada setitikpun cahaya matahari yang menyelinap masuk kedalam. Yang ia inginkan saat ini hanya bermalas-malasan dikasurnya, memakan snack –jika tidak ada ramyun instan atau apapun itu yang dapat mengenyangkan perutnya, dikasurnya sambil menonton drama kesukaannya.

 

“Aish… perut ini, mengapa kau begitu berisik? Aku sangat malas pergi keluar. Tapi, perutku sakit apa yang harus kulakukan” Jessica mengeluh sambil memegangi perutnya, merasa kesal.

 

“Baiklah, ayo kita bertamasya, hanya hari ini saja. Ke Myeongdong itu sudah cukup kan?” ucapnya terpaksa karena sudah tidak bisa menahan lapar lebih lama lagi.

 

Hanya dengan waktu 15 menit, ia sampai ke Myeongdong. Dia sudah tidak bisa menahan rasa laparnya lebih lama lagi. Dengan menggunakan dress peach selutut, kardigan berwarna senada, dilengkapi dengan tas genggamnya, ia pun bergegas mencari restoran India, entah mengapa ia ingin menikmati kari saat ini juga. Perutnya sudah berbunyi lebih keras.

 

“Sabarlah, dan kau akan mendapatkannya sebentar lagi” ucapnya, seperti sedang menasihati seorang anak.

 

Tapi dia sudah mengelilingi semua wilayah Myeongdong ini dan tak menemukan restoran India yang ia maksud, yang dulu sering ia kunjungi bersama Krystal jika kedua orang tua mereka berpergian tanpa meninggalkan makan malam. Dia yakin dia belum lupa letaknya, dia ingat sesudah pertigaan ini, belok kanan maka ia akan menemukan restoran tersebut. Tapi yang ia dapat hanya kedai takoyaki kecil yang sangat ramai. Baiklah apa boleh buat, perutnya sudah tidak dapat dikompromi lagi, sudah sangat lapar sampai rasanya ia ingin mati saja.

 

Tunggu dulu, ada yang ia lupakan.

 

Tangannya terasa ringan.

 

Ada apa sebelumnya.

 

.

 

.

 

TAS GENGGAMNYA!!!!

 

Ia melupakan tas genggamnya, tunggu kemana perginya tas itu? Mengapa tas tersebut bisa tiba-tiba hilang? Jessica panik bukan kepalang, menoleh ke kanan ke kiri juga berusaha mengingat barangkali ia lupa dan malah meninggalkannya di suatu tempat. Tapi sungguh, ia tidak ingat apapun. Tidak ada yang bisa ia ingat saat ini. Perutnya lapar, kepalanya pusing, tasnya hilang, dan ia sangat yakin sebelumnya ia membawa tas tersebut. Oh sungguh hari ini, ia hanya bisa menoleh ke kanan dan ke kiri, berdiri canggung ditengah padatnya orang-orang yang melintasi jalanan Myeongdong ini. Otaknya tiba-tiba berhenti berjalan, ia tidak tahu harus melakukan apa. Sampai ia merasakan seseorang mencengkram lehernya dengan kuat.

 

“Kau gadis pencuri hah? Untuk apa kau ke sini? Berniat mencari mangsa baru? Mengaku kau atau kau akan aku teriaki pencuri. Tampangmu yang sok cantik ini tidak akan menipuku” ucap seseorang yang Jessica rasa kenal akan suara ini, tapi sungguh otaknya tak bekerja dengan baik. Ia hanya merasa pernah mendengar suara ini, ‘tapi dimana?’

 

“Mengaku kau, kau berusaha mencuri kan?”

 

‘permisi, tapi koper itu milikku nona’

 

“Kenapa diam saja? Jangan-jangan kau benar-benar pencuri ya? Jadi dugaanku tidak salah? Tingkahmu betul-betul mencurigakan sedari tadi. Aku akan berteriak sekarang juga”

 

‘dasar pencuri kecil’

 

“YA.. PEN….”

 

“DASAR CABUL, KAU BERUSAHA MENYENTUHKU HAH?” teriak Jessica tiba-tiba. Teriakan lumba-lumbanya membuat orang-orang memusatkan perhatiannya kepada mereka berdua untuk kedua kalinya.

 

“Maaf, maaf, dia adikku yang sedikit sensitif jika dekat dekat orang lain. Maaf, sungguh aku tidak berniat apa-apa karena ia adikku. Dia memiliki trauma karena mantan kekasihnya. Maaf” Pria tinggi bermarga Wu yang sebelumnya Jessica temui ini sedang sibuk membungkukkan tubuhnya ke setiap sisi, meminta maaf kepada setiap orang yang ada di sekitar mereka.

 

“Tolong jaga adikmu lebih baik lagi” ucap seorang ibu-ibu gemuk yang ada disamping mereka.

 

“Saya akan menjaganya. Terima kasih” pria itu pun bergegas membawa Jessica keluar dari kerumunan orang-orang yang mengelilingi mereka.

 

***

 

Disini ia, bersama seorang laki-laki yang tiba-tiba menariknya keluar dari kerumunan banyak orang di Myeongdong, yang lalu membawanya ke kedai ramen.

 

Ia sadar betul saat ia meneriaki laki-laki yang ada didepannya ini dengan sebutan ‘cabul’. Tapi mengapa ia tidak bergeming saat laki-laki ini mengelak dan mengatakan jika ia adiknya, mengapa ia hanya diam saja, apa matanya mengalihkan gadis Jung ini lagi? Sorot matanya yang tajam itu, yang sampai saat ini masih ia perhatikan.

 

“Gadis bodoh, apa yang kau lakukan tadi?” ucap pria ini ketus, Jessica gelagapan.

 

“K-kau cabul, kurasa itu tepat karena kau memegangku tiba-tiba” Jessica melakukan pembelaan.

 

“Jadi, barang apa yang kau dapat hari ini?”

 

“H-hah?”

 

“Kau mencuri! Itu sebabnya aku memegangmu, ingin menyeretmu ke kantor polisi daerah Myeongdong di ujung jalan tadi. Dan apa yang kau dapatkan hari ini? Kau harus memberikannya kepadaku terlebih dahulu, baru aku akan membawamu ke kantor polisi”

 

Seketika Jessica mengingat sesuatu. Pencurian. Ya, ia sangat yakin jika tas genggamnya dicuri seseorang, seseorang pasti merebut tas itu darinya saat ia sedang mencoba menelpon Krystal untuk meyakinkan posisi restoran India itu. Krystal tak kunjung mengangkat teleponnya, jadi ia berniat meletakan kembali handphone-nya di saku kardigannya, bukan di tas genggamnya. Dan saat itu dua orang laki-laki menyenggolnya hingga handphone-nya hampir terjatuh, tapi ia berhasil menahannya dan meletakkan kembali handphone-nya di saku kardigannya.

 

Segera mungkin ia membuka kancing saku kardigannya, mencoba mencari handphone, dan ternyata masih aman disana. Ia mengeluarkan handphone-nya dengan ekspresi ingin menangis.

 

“Oh jadi handphone ini hasil pekerjaanmu hari ini, huh? Katakan kau mendapatkannya dari siapa?” tegas pria Wu itu tiba-tiba merebut handphone tersebut dari genggaman Jessica.

 

“Ya, tuan ‘cabul’ Wu, kembalikan handphone ku bisa? Kau tau aku korban pencurian sesungguhnya disini. Tasku hilang dan aku hanya bisa berdiri canggung ditengah jalan tadi, berusaha mengingat dan ternyata kau muncul menambah kesengsaraanku hari ini”

 

“Jangan bohong, alasanmu terlalu kekanakan. Mari kita cek handphone ini, siapa tahu ada informasi yang bisa kita dapatkan”

 

“Ya, tuan ‘ca…”

 

“Kris, Kris Wu” ucap pria ini dengan serius karena sedang berusaha memecahkan suatu kode. Jessica hanya terdiam, kepalanya tertunduk, malu karena ia yakin mukanya memerah saat ini.

 

“Aishh. Sialnya handphone ini menggunakan sandi” Kris kesal.

 

“Bodoh, hanya aku yang tau sandi itu karena handphone itu milikku” Jessica merebut handphone itu dari Kris dan mengetikkan sandinya. Berhasil terbuka.

 

“Lihat! Sudah terbukti ini milikku, jadi tolong jangan memanggilku pencuri lagi, karena aku pun punya nama” ucap Jessica kesal sambil menunjukkan handphone-nya ke arah Kris.

 

“Jadi namamu?”

 

“Kau tidak perlu tau. Namaku terlalu berharga untuk diketahui olehmu” ucap Jessica ketus, sifat aslinya telah kembali lagi.

 

Krucukkk…. Krucuuuukkkk…..

 

Perut Jessica berbunyi keras sekali, sampai Kris bisa mendengarnya. Wajah Jessica memerah karena malu.

 

“Jadi?” tanya Kris, entah mengapa wajahnya ikut memerah.

 

“Aku mohon padamu, untuk hari ini saja. Perutku lapar dan aku adalah korban pencurian yang dituduh sebagai pencuri, jadi kau bisa menebus kesalahanmu dengan semangkuk ramen. Untuk kali ini saja”

 

Kris pun memesankan dua mangkuk ramen untuknya dan Jessica. Ia merasa kesal pada gadis itu sebenarnya. Selalu sok, padahal didalamnya ia hanya orang konyol dan kekanak-kanakan.

 

“Jadi namamu?” Kris memulai percakapan.

 

“Jessica Jung” ucap Jessica sambil mengunyah ramennya.

 

‘kau tidak perlu tau. namaku terlalu berharga untuk diketahui olehmu’

 

“Bodoh, jadi apakah namamu seharga semangkuk ramen?” ucap Kris sarkartis membuat Jessica melotot kearahnya, tapi tetap melanjutkan makannya.

 

“Kau tahu? Seharusnya kau membayar untukku, karena kau sudah mempermalukan ku di depan banyak orang tadi” lanjut Kris.

 

“Anggap saja itu impas saat kau meneriakki ku di bandara”

 

“Aku tak pernah meneriaki mu”

 

“Dasar pencuri kecil” ucap Jessica mengejek Kris dengan mengikuti cara pengucapannya yang sedikit kaku.

 

“Aku tidak berteriak saat itu”

 

“Suara mu begitu keras dan jelas, semua orang memperhatikanku sampai taxi yang kunaiki menjauh” ucap Jessica tak mau kalah.

 

Handphone Jessica bergetar, menandakan adanya panggilan masuk, menghentikan perdebatan mereka berdua. Panggilan dari Krystal.

 

“Baiklah Krys, jemput aku secepatnya. Aku betul-betul ingin pulang. Sampai bertemu di stasiun”

 

“Aku akan dijemput oleh adikku nanti. Aku akan bertemu denganmu sekali lagi untuk menggantikan uang ramen mu ini dan kita tidak akan bertemu lagi. Jadi aku meminta nomormu” ucap Jessica meminta handphone Kris. Dan tanpa keraguan apapun Kris menyerahkannya.

 

“Aku akan menghubungimu. Dan kau bisa menentukkan kapan dan dimananya aku tidak akan keberatan. Tapi yang jelas aku akan mengembalikannya padamu. Sampai jumpa” ucap Jessica lalu meninggalkan kedai ramen tersebut.

 

Entah mengapa, saat bayangan gadis berambut panjang dan lurus tersebut menghilang Kris merasa ada sesuatu yang menjauh.

 

***

 

Ini sudah satu minggu sejak saat Jessica pertama kali menginjakkan kaki di Seoul setelah sepuluh bulan. Jessica bosan karena ia hanya terkurung di rumah. Ia sangat berharap bisa bermain bersama Krystal, tapi gadis SMP itu sudah memiliki jadwal kencan dengan kekasihnya selagi kedua orang tua mereka disibukkan dengan pekerjaan.

 

“Ayolah Krys, apa kau berniat membuatku mati kebosanan? Atau kembali ke Amerika lebih cepat dari jadwal?” tanya Jessica yang sedang menonton tv di ruang tengah.

 

“Kau bisa kembali jika kau mau. Oh ayolah, eonnie, aku juga ingin menikmati masa-masa mudaku” jawab Krystal sambil memperhatikan pantulan dirinya di cermin besar di ruang tengah.

 

“Kau masih terlalu muda untuk itu. Hari ini ada teater bagus. Kau masih ingat Sunkyu? Temanku saat SMA itu kini menjadi pemain teater disana. Apa kau tak berniat untuk menonton?”

 

“Apa? Sunkyu eonnie yang sering main kesini dulu? Dia bermain teater? Woahhh… aku betul-betul penasaran”

 

“Nah, jadi bagaimana jika hari ini kita menonton teater?” Jessica masih membujuk adiknya itu.

 

“Baiklah” Krystal tersenyum, Jessica sudah meloncat kegirangan.

 

“Tapi aku akan mengajak Jongin oppa juga” ucap Krystal sambil mencoba menelpon seseorang,  menghubungi Jongin sepertinya.

 

***

 

Jessica bosan. Liburan macam apa ini, dia hanya mengikuti adiknya yang sedang bermesraan dengan kekasihnya dari belakang. Dia seperti kambing congek saja. ‘padahal mereka masih SMP’.

 

“Sica” teriak seseorang.

 

“Sunkyu-ya” balas Jessica, saat mengetahui siapa yang memanggilnya.

 

“Kau benar-benar datang? Aku tak menyangka” ucap Sunkyu yang sudah menggunakan kostumnya mendekati Jessica, membuat beberapa orang menolehkan pandangannya kepada mereka, kepada Sunkyu mungkin tepatnya.

 

“Ya ampun. Sunkyu-ya, kau sangat cantik. Ehm, tentu saja aku datang, aku sudah janji bukan?”

 

“Kau selalu menepati janjimu, aku tau itu. Dan apa kau tau? Aku menunggumu disini sedari tadi, sekitar 20 menit mungkin.Aku sudah tak sabar bertemu denganmu”

 

“Dan aku sudah tidak sabar menyaksikan teater mu. Aku senang kau menjadi pemeran utama, padahal belum setahun kau sekolah teater, aku bangga padamu”

 

“Baiklah selamat bersenang-senang. Aku akan tampil dalam satu jam jadi harus bersiap-siap. Sampai jumpa” ucap Sunkyu lalu berlari ke arah backstage.

 

“Bersenang-senang apanya” ucap Jessica saat mengalihkan kembali pandangannya ke arah adiknya.

 

Eonnie kau beli tiket sendiri ya. Aku ingin berduaan dengan Jongin oppa tanpa diganggu” ucap Krystal membuat Jessica mendenguskan nafasnya.

 

Jessica berpikir, apa ini akibat dari kesepian Krystal saat ditinggal oleh Jessica? Jadi ia melampiaskan kesepiannya kepada kekasihnya tersebut. Ya ampun, bahkan Krystal belum cukup umur.

 

“Baiklah tidak apa-apa. Akan ada Sunkyu nanti. Aku harus menemuinya diakhir nanti” ucap Jessica sambil menggengam tiketnya.

 

“Jung?” suara seseorang memanggilnya, Jessica menoleh.

 

“Ternyata benar kau nona Jung” Jessica terbelalak, tubuhnya tak bisa bergerak.

 

“Tuan cabul, kau mengikutiku ya?” ucap Jessica dengan percaya dirinya.

 

“Jangan sembarangan bicara. Aku kesini untuk menyaksikan pertunjukkan temanku” ucap Kris membelalakkan matanya ke arah Jessica.

 

“Temanmu, hah? Kasian sekali dia yang kau anggap temanmu itu” olok Jessica, dia benar-benar masih kesal kepada pemuda Wu yang menuduhnya sebagai pencuri ini.

 

“Kau selalu terlihat memalukan jika berada di tempat umum. Apa itu memang bakat khususmu?” ucap Kris, membuat Jessica sadar jika kini beberapa orang tengah memperhatikannya karena teriakan lumba-lumbanya.

 

***

 

Diantara 300 kursi yang ada di tempat ini, Jessica bertanya-tanya mengapa harus pemuda bertubuh tinggi ini yang ada di sebelahnya. Apakah tidak bisa Jessica dibiarkan hidup tenang selama di Seoul?

 

Tetapi, Jessica betul-betul terpuaskan dengan penampilan sahabatnya, Sunkyu. Sunkyu yang sekarang benar-benar berbeda dengan Sunkyu yang dulu, sekarang ia tampak dewasa. Dia sudah memulai perjalanan hidupnya, selalu seperti itu. Sunkyu selalu memulai dan mendapatkan segala sesuatu lebih dulu dibanding Jessica, di saat Jessica mulai berjalan, Sunkyu selalu mulai berlari.

 

“Sudah selesai, kau mau berdiam diri sampai kapan?” suara berat menginterupsinya, menyadarkannya.

 

Dan tanpa membalas suara berat itu, Jessica bergegas meninggalkan kursinya, berniat menemui Sunkyu. Ia membawa sesuatu ditangannya, sebuah bingkisan untuk Sunkyu yang ia beli di Amerika sejak tempo hari.  Ia terus berjalan di sepanjang lorong sepi ke arah ruang persiapan sampai ia menyadari sesuatu. Langkah yang tegap serta dalam di belakangnya, ia pun menengok.

 

“Kau? Mau mengikutiku ya? Dasar penguntit. Cepatlah pergi, atau jika kau mau mengambil kembali uang mu, kau bisa tunggu di luar. Aku akan menemuimu” ucap Jessica, berteriak.

 

“Suaramu menggema, jadi bisakah kau tidak berteriak. Dan lagi, aku tidak mengikutimu” ucap Kris lalu melanjutkan langkahnya, mendahului Jessica.

 

“Dasar gila” Jessica menggerutu kesal kepada pria sok keren ini, tetapi terus melanjutkan langkahnya, mengekor di belakang pria ini. Sampai pria ini masuk ke dalam sebuah ruangan. ‘ruang persiapan? dia ingin mengunjungi seseorang kah?’, mau tak mau Jessica pun masuk kedalamnya, untuk melihat Sunkyu.

 

“Jess, kebetulan sekali kau datang tepat waktu” Sunkyu datang memeluknya, Jessica membalas pelukannya.

 

“Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang. Kau ingat teman dekatku dan Luhan di Kanada saat pertukaran pelajar dulu? Dia datang ke sini untuk menemui kami. Aku senang sekali”

 

“Jadi mana orangnya? Oh ya, dan ini aku punya sesuatu untukmu”

 

“Oh terima kasih Jess, akan aku buka di rumah nanti. Dan ayo, dia sedang berbicara dengan Luhan, sekalian kau bertemu dengan Luhan juga”

 

Jessica mengekor Sunkyu, sambil memberikan hormat kepada setiap orang yang ada di sana, para senior yang tadi ikut tampil di panggung teater.

 

“Luhan-ah, Jessica datang. Dan Jess, ini dia Kris Wu, dia bisa bahasa Korea kok, hanya saja sedikit kaku”

 

Jessica termenung. Dia tidak ingin terlihat mengenal Kris Wu, pria sok ini.

 

“Jadi sahabat mu adalah nona Jung?”

 

Oh sial pria ini malah berlagak mengenalnya.

 

“Wah kalian sudah saling mengenal, baguslah” ucap Luhan tiba-tiba merangkul Jessica, rusa ini selalu saja.

 

“Ehm ya, belum lama, baru beberapa hari dan kami punya awal yang buruk jadi aku rasa kami tidak bisa jadi teman” ucap Jessica menatap Kris datar, Kris pun sebaliknya.

 

“Bicara apa kau Jess, Kris pria yang baik, kau belum dekat dengannya sehingga kau belum mengetahuinya” Sunkyu menepuk bahu Kris, membanggakannya.

 

“Sudahlah, bagaimana jika kita melakukan reuni. Ayo kita makan malam bersama, aku akan bayar kalian” ucap Luhan sambil menarik Jessica keluar.

 

***

 

Makan malam kali ini sedikit menyedihkan untuk Jessica, entah mengapa ia merasa canggung karena kedua temannya tersebut malah membicarakan kenangan mereka saat mengikuti pertukaran pelajar dahulu. ‘ini tak ada bedanya dengan saat aku bersama Krystal dan kekasihnya’.

 

“Bagaimana Jess, apakah Amerika menyenangkan?” tanya Sunkyu, membuat Jessica senang akhirnya ia dia dapat menyuarakan dirinya juga.

 

“Oh tentu, setidaknya saat musim dingin datang aku tidak harus memakan kimchi dan meminum ginseng setiap hari” ucap Jessica membuat Sunkyu dan Luhan tertawa keras, sungguh ini yang diharapkan Jessica. Kris pun mengembangkan senyumnya.

 

“Jadi Jess, kau sudah punya kekasih?” Luhan bertanya tiba-tiba, membuat gelak tawa Sunkyu berhenti.

 

“Ehm, tidak. Aku masih menunggu mu Luhan-ah”

 

Tawa Sunkyu kembali menggema. Luhan dan Jessica memang punya hubungan di masa lalu. Mereka cukup lama menjadi sepasang kekasih, tapi harus berakhir saat Jessica memutuskan untuk melanjutkan study-nya di Amerika, ia tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh dengan waktu yang lama. Tapi sungguh Jessica masih menyukai pria bermata rusa ini. Entahlah apakah pria bermata rusa ini masih menyukainya atau tidak, karena ia hanya bermaksud bercanda tadi.

 

“Baiklah aku akan memikirkannya nanti” ucap Luhan sambil tertawa, Jessica bersyukur jika Luhan hanya menganggap ini sebuah candaan. Ia belum siap untuk kembali bersama dengan pria ini.

 

***

 

Jessica pikir, ia akan membenci hari ini sekarang. Bagaimana bisa disaat ia mengajak Luhan dan Sunkyu hangout, kedua orang tersebut malah mengutus Jessica untuk menjadi pemandu wisata seorang Kris Wu. Betul-betul menyedihkan. Sunkyu tak mengizinkannya menolak hal tersebut, terpaksa Jessica menerimanya.

 

“Kau terlambat” ucap suara berat tersebut.

 

“Kau hanya perlu mengikutiku tuan Wu dan diam” dengus Jessica kesal.

 

“Kita akan kemana sekarang?” tanya Kris.

 

“Namsan Tower, kau tau?” tanya Jessica.

 

“Oh ya, kubaca disini, itu bagus” ucap Kris yang ternyata membawa buku panduan wisata di Seoul.

 

“Kita akan naik shuttle bus dari sini. Lalu kita akan turun di tempat pemberhentian cable car dan menuju ke Namsan dengan cable car” ucap Jessica, dan Kris hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia mengerti.

 

“Kau tau? Aku membeli buku panduan ini karena aku tak yakin kau bisa memanduku dengan benar” ucap Kris saat mereka sudah memilih tempat duduk di bus dan hanya di sambut tatapan kesal dari Jessica.

 

Tak sampai setengah jam, mereka sudah tiba di tempat pemberhentian cable car. Mereka berdua pun segera berbaur dengan penumpang lainnya menuju cable car. Kris tampak asik mengambil beberapa gambar dari kota Seoul yang bisa diambil dari atas sini. Sedangkan Jessica, dia hanya terdiam, bernostalgia, tentang masa lalu yang ia rindukan.

 

“Ayo Jess” ucap Kris menyadarkan Jessica dari lamunannya.

 

“Ah ayo. Kita harus menaiki anak tangga menuju Namsan Tower, karena letaknya ada di atas bukit” Ucap Jessica menuntun Kris.

 

“Ini sedikit melelahkan karena musim panas” ucap Kris yang kelelahan setelah mendaki beberapa ratus anak tangga.

 

“Ya, kau bisa sambil melihat pemandangan di bawah sana Kris, itu indah. Dan akan semakin indah jika musim dingin”

 

“Ya, salju akan menumpuk di dahan pohon, tangga-tangga pun kan menjadi licin” ucap Kris membuat Jessica terdiam.

 

“Ya, kau benar” ucap Jessica lalu melanjutkan langkahnya tanpa berkata apapun.

 

Mereka berhasil menaiki anak tangga tersebut dalam waktu 15 menit. Tak ingin menghabiskan waktu, mereka berdua langsung menaiki elevator, menuju lantai teratas. Kris menemukan sesuatu yang unik saat menaiki elevator ini. Dari atap elevator ini ia bisa melihat tayangan video galaksi bimasakti. Saking menariknya, ia sampai mendokumentasikannya. Jessica hanya tersenyum melihatnya.

 

“Kau lihat, itu ada teropong, kau bisa melihat seluk beluk kota Seoul dengan ini” ucap Jessica.

 

“Bagaimana menggunakannya?” tanya Kris.

 

“Kau hanya masukan uang 500 won, maka teropong ini akan bekerja” ucap Jessica yang segera dipraktikan oleh Kris.

 

“Ku baca dari buku ini, di Namsan Tower ada tradisi pemasangan gembok abadi ya?” tanya Kris.

 

“Ya, dan kabarnya jika kau menuliskan sesuatu di gembok tersebut, memasangnya lalu membuang kuncinya, hal tersebut akan benar-benar menjadi abadi”

 

“Bagaimana jika kita mencobanya?” tawar Kris.

 

“Oh baiklah, sebagai tanda pertemanan tak buruk juga” ucap Jessica.

 

“Jadi kau mulai menganggapku teman?”

 

“Sebenarnya belum”

 

“Pembohong”

 

“Jangan banyak bicara. Cepat pilih gembok mana yang kau inginkan?” ucap Jessica saat mereka sudah sampai di stand pembelian gembok.

 

“Ini terlihat bagus bukan?” tanya Kris, memperlihatkan gembok pilihannya.

 

“Apapun itu tuan Wu. Aku ingin segera menyelesaikan ini dan makan siang” ucap Jessica sambil memegang pelan perutnya.

 

“Baiklah ayo kita mulai menulis” Kris memberikan sebuah spidol kepada Jessica.

 

“Jadi apa yang harus aku tulis? Ehm, bagaimana jika ‘Jessica Jung menjadi pembantuku untuk hari ini? Dan kita adalah teman’ apakah akan bagus?” ucap Kris sambil memasang ekspresi berpikir.

 

“Diam kau bodoh. Aku bukan pembantumu mengerti? Cukup tulis ‘Jessica dan Kris adalah teman tetapi Jessica tidak bersungguh-sungguh dengan itu’” ucap Jessica yang tanpa pikir panjang langsung menuliskan kata-kata tersebut dengan spidol yang ada di tangannya.

 

“Oke, aku akan menulis jika ‘Kris hanya terpaksa melakukan sandiwara pertemanan dengan Jessica Jung’” ucap Kris sambil merebut gembok yang baru saja ditulis oleh Jessica. Kris menulis menggunakan bahasa inggris, dibalik gembok yang sudah ditulisi Jessica, dan Kris menjadi tertawaan Jessica karena tulisannya tidaklah mudah untuk di baca.

 

“Aku akan menaruh gembok ini ditempat yang tinggi” ucap Kris.

 

“Baiklah aku menunggu disini”

 

“Ada baiknya kita mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan. Aku membawa kamera di tasku, jadi tolong siapkan itu selagi aku membereskan gembok ini” ucap Kris lalu pergi.

 

Dengan malas Jessica mengambil kamera yang ada di tas punggung Kris. Jessica sedikit senang jika Kris ternyata tidak sedingin dan semenyebalkan yang ia kira. Ia bahkan mau berfoto dengannya. Jessica menghidupkan kamera tersebut.

 

“Aku penasaran apakah ia suka melakukan selca atau tidak. Maaf aku sedikit melanggar privasi mu” ucap Jessica lalu melihat galeri yang ada di kamera tersebut.

 

“Membosankan, apa-apaan ini sudah 30 foto terlewat dan isinya anjing semua . Ini semua anjing miliknya? Jadi dia penyuka anjing ya?” gumam Jessica.

 

“Maaf aku lama Jess” Kris tiba-tiba datang.

 

“Kau lama sekali. Jadi aku melihat galeri kamera mu” ucap Jessica tenang, tetapi malah membuat Kris membelalakkan matanya.

 

“Oh tidak, aku hanya melihat foto anjing-anjing mu. Ternyata kau suka anjing ya?” ucap Jessica canggung. Ia merasa bersalah, karena tampaknya privasi Kris terganggu akan ulahnya.

 

“Anjing? Ehm, ya tak apa. Ayo kita berfoto lalu makan siang”

 

Jessica senang Kris tidak membawa terlalu jauh masalah itu. Mereka pun melakukan beberapa pose lucu. Kris berjanji akan me-print out semua hasilnya untuk diberikan kepada Jessica. Jessica senang sekali. Mereka pun melanjutkan tour mereka dengan makan siang di food both Namsan.

 

Potato Sausage. Bagaimana?” tanya Kris.

 

“Baiklah. Cepat kau pesan, aku sudah lapar” ucap Jessica lalu mengambil meja di pinggir pagar yang pemandangannya langsung menuju ke kota Seoul. ‘ini indah, tapi berbeda’.

 

“Memikirkan sesuatu, Jess?”

 

“Mana?” Jessica menagih potato sausage-nya tanpa menghiraukan perkataan Kris.

 

“Aku sudah memesankannya. Tunggu saja. Dasar rakus”

 

“Biarkan aku yang membayar kali ini. Anggap saja ini untuk menggantikan uang ramenmu”

 

“Baiklah kebetulan aku juga sedang memikirkan pengeluaranku selama disini” ucap Kris yang hanya dibalas senyuman tipis dari Jessica. Gadis itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah kota Seoul.

 

“Kau pernah datang dengan Luhan ya? Kesini?” tanya Kris yang membuat Jessica langsung memusatkan pandangan kepada pria itu kembali, gadis itu membisu.

 

“Sejujurnya aku melihat gembok yang bertuliskan namamu dan Luhan di Namsan tadi” ucap Kris buru-buru memberi klarifikasi.

 

“Haha, ya. Tapi itu sudah lama. Musim dingin dimana salju menumpuk di dahan pohon dan tangga licin, apakah dua atau tiga tahun lalu. Aku tak ingat”

 

“Kau terlihat masih menyukainya”

 

“Ada hal yang tak kau mengerti disini”

 

“Maka buat aku mengerti nona Jung”

 

“Haruskah aku?”

 

“Ya, sekarang kita berteman kan”

 

“Aku tak pernah mengatakan itu”

 

“Tapi aku menganggapnya begitu”

 

“Baiklah, memang iya aku masih menyukainya. Tapi aku tak ingin melanjutkan hubungan itu” ucap Jessica akhirnya menyerah, ia membutuhkan tempat curahan hati sekarang juga.

 

“Kau cukup lama berhubungan dengannya kan?”

 

“Ya, itu sekitar 5 tahun. Sejak kita berada di sekolah menengah pertama sampai akhir sekolah menengah atas tahun lalu”

 

“Apa yang terjadi?”

 

“Aku tak bisa menjalani hubungan jarak jauh”

 

“Tapi saat Luhan mengikuti pertukaran pelajar ke Kanada selama satu bulan 3 tahun yang lalu itu juga hubungan jarak jauh bukan? Kau yakin tak ada alasan lain?” Jessica skak mat atas penyataan Kris.

 

“Dia bodoh. Oh Kris, apa kau yakin ini semua akan baik-baik saja jika aku menceritakannya kepadamu? Aku bahkan tak berani menceritakan hal ini, bahkan pada Sunkyu”

 

“Katakanlah Jess. Aku mencoba mengerti”

 

“Kau tau, ia mulai menyebalkan sejak mengikuti pertukaran pelajar. Ia tidak memberi tahu apapun tentang hal tersebut kepadaku. Tahu-tahu satu hari sebelum keberangkatannya, di akhir upacara, ia bersama Sunkyu, sama sama pamit kepada kami semua. Tidak ada pembicaraan khusus denganku”

 

“Mungkin dia punya alasan” Kris menyela perkataan Jessica.

 

“Aku belum selesai. Iya, memang benar dia punya alasan. Menurutnya aku akan melarangnya habis-habisan jika dia memberi tahu aku di awal. Dasar bodoh, jika begitu kenapa tidak mengajak aku saja sih. Kenapa mengajak Sunkyu. Pacarnya aku atau Sunkyu?” geram Jessica.

 

“Oh ya, si bodoh itu. Ada lagi. Kau percaya tidak? Dia ternyata tidak membuang kunci gembok kami yang ada di Namsan itu. Si bodoh, dia ingin hubungan kita sebagai sepasang kekasih abadi atau tidak sih? Pantas saja sekarang kita putus. Dia menyimpan kunci itu” ucap Jessica terlihat sedih tapi masih menampakkan senyumannya, mencoba kuat.

 

“Hubungan seseorang bukan terlihat dari kunci gembok atau tidak Jess. Tergantung bagaimana seseorang tersebut mempertahankan hubungannya” terang Kris.

 

“Tapi kunci itu sangat berpengaruh bagiku”

 

“Maka sekarang buktikan olehmu jika kunci itu hanyalah bualan belaka”

 

“Tidak bisa”

 

“Kenapa?”

 

“Aku tau dia selingkuh dengan Sunkyu”

 

Hening sesaat. Jessica menitikkan air matanya. Kris membisu, bingung harus merespon apa. Ia seakan ikut merasakan apa yang Jessica rasakan. Hatinya sakit.

 

“Ini pesanan kalian. Selamat menikmati” suara seorang pelayan memecahkan keheningan yang terjadi diantara mereka.

 

“Oh terima kasih” Kris menjawab dengan canggung.

 

“Makanlah dulu Jess” ucap Kris melihat Jessica tak bergeming sedikitpun, padahal tadi gadis itu bilang jika ia sangat lapar.

 

“Terima kasih Kris, sudah mau mendengarkan ceritaku”

 

“Aku baru mengetahuinya saat upacara kelulusan. Aku sudah memendam ini selama satu tahun kebelakang” Jessica menambahkan.

 

“Kau tau? Aku menyukai Sunkyu” ucap Kris tiba-tiba, Jessica terkejut.

 

“Sejak tiga tahun lalu, saat dia mengikuti progam pertukaran pelajaran, dan itu tak pernah berubah” Jessica makin terkejut saat Kris mengatakan hal tersebut.

 

“Kau tau? Sunkyu dan Luhan datang sebagai teman ke sekolah ku di Kanada. Aku tak melihat mereka bermesraan atau apa. Mereka datang selayaknya teman, oh tidak, malah sahabat. Dan sampai sekarang aku melihat mereka seperti itu. Aku tau kau tidak memastikan dan membicarakan hal itu kepada Luhan atau Sunkyu terlebih dahulu tapi langsung memutuskan Luhan begitu saja saat itu juga” ucapan Kris membuat Jessica tak bisa melanjutkan makan siangnya saat ini juga. Entah mengapa gadis ini ingin cepat cepat berada di kamarnya yang hangat. Ia merasa dingin sekarang, padahal ini musim panas. Kris mengetahui keegoisannya.

 

“Pikirkan Jess, bagaimana kau harus menyelesaikan masalah ini. Jangan membuat keputusan yang membuatmu menyesal seperti sekarang” ucap Kris tegas, Jessica tak bergeming.

 

“Ya kau benar. Pertukaran pelajar tersebut dilakukan oleh siswa jurusan Teater, yang bercita-cita menjadi artis Teater untuk memperdalam ilmu mereka di Kanada. Ini cita-cita Luhan, wajar ia ingin mengejarnya, menjadi selangkah lebih dekat dengan cita-citanya. Jadi agar semuanya berjalan dengan baik ia tidak mau memberi tahu aku apapun, agar aku tak melarangnya. Ia sadar aku tidak bisa ikut mendaftar karena aku adalah siswa jurusan Sastra.  Aku menafsirkan hal itu terlalu jauh sehingga menganggap mereka bermain di belakangku saat mereka pergi ke Kanada. Dan aku melihat mereka berpelukan saat upacara kelulusan, hal itu terjadi karena mereka sama-sama mendapatkan beasiswa untuk Sekolah Tinggi Teater. Aku harusnya senang dan tidak egois. Apalagi orang itu Sunkyu, sahabatku, bukan orang lain, harusnya aku juga ikut berbahagia saat itu. Aku seharusnya tidak langsung meminta Luhan menemuiku di akhir acara dan meminta putus darinya. Aku seharusnya tidak lari, aku seharusnya tidak gegabah” setelah sekian lama akhirnya Jessica berbicara.

 

“Aku memang tak yakin Kris. Aku merasa aku melakukan kesalahan, aku egois. Tapi aku ingin berhenti melihat Sunkyu mendapatkan apapun lebih dariku, termasuk tentang Luhan”

 

“Kau hanya cemburu Jess” ucap Kris merasa kesal.

 

“Kini tinggal kau membicarakan hal tersebut dengan Luhan, Jung. Mari kita pulang. Aku sudah membayar ini semua” ucap Kris sambil berdiri dan mengulurkan tangannya untuk Jessica. Jessica menyambutnya dengan senyum berat. Berat mengakui keegoisannya.

 

***

 

Semalaman ini Jessica sulit tidur. Ia memikirkan perkataan Kris, Jessica harus membicarakannya dengan Luhan, termasuk mengakui keegoisannya. Berbicara tentang keegoisan, mengapa Kris bisa tau kalau Jessica hanya bertindak egois dan gegabah tanpa melakukan diskusi dengan Luhan dan Sunkyu? Apa laki-laki itu memang sering dijadikan tempat curhat Luhan atau apa? Ditengah kebingungannya, sebuah notifikasi pesan baru masuk ke handphone-nya.

 

“Eoh? Kris Wu? Mau apa dia?” gumam Jessica.

 

Dari: Kris Wu

Untuk: Jessica Jung

Jung, besok mau antar aku beli buah tangan ke Insadong? Bukuku mengatakan jika itu tempat yang bagus. Bagaimana menurutmu? Jika Insadong bukan rekomendasimu, kau bisa memberikan rekomendasi tempat berbelanja buah tangan yang lain. Tak akan sampai makan malam. Malamnya kau harus berbicara dengan Luhan. Kau harus dengan cepat memastikan itu.

 

“Heol. Dia jadi mengaturku seenaknya” dengus Jessica.

 

Dari: Jessica Jung

Untuk: Kris Wu

Baik. Aku tunggu jam 9 di stasiun. Kita akan bersama dari stasiun. Jika kau memaksaku berbicara dengan Luhan, maka aku juga harus memaksamu untuk berbicara dengan Sunkyu. Sampai jumpa besok.

 

***

 

Jessica bangun pagi-pagi sekali hari ini. Ia telah mempersiapkan segalanya. Penampilannya dan juga kata-kata yang akan ia ucapkan untuk Luhan, tentang bagaimana jika mereka memulai kembali. Jessica benar-benar gugup. Iya sudah menghubungi Luhan tadi malam, dan laki-laki itu menyetujui jika mereka akan bertemu di jam makan malam. Maka Jessica bisa menjadi pemandu wisata untuk Kris di siang hari.

 

“Aku terlambat, maaf” ucap Jessica.

 

“Seharusnya aku memberlakukan denda. Sudahlah, ayo. Kita harus mengejar waktu. Ini lebih 15 menit dari jadwal. Tunjukkan keretanya”

 

Jessica dan Kris pun berangkat ke Insadong menaiki kereta bawah tanah. Setelah 20 menit, mereka sampai. Tak ingin membuang waktu mereka menjelajahi berbagai toko souvenir. Jessica pun membeli beberapa souvenir untuk teman-temannya di Amerika.

 

“Aku tidak bisa mengungkapkan dengan tangan kosong. Jadi apa yang harus aku beli untuk Sunkyu?” tanya Kris saat mereka sudah mendapatkan beberapa barang untuk teman-teman mereka.

 

“Dia sangat menyukai high heels, itu membuatnya tampak lebih tinggi” ucap Jessica.

 

“Baiklah ayo kita cari toko sepatu, setelah itu kita makan siang” ucap Kris.

 

Mereka telah menjelajahi seluruh toko yang ada di Insadong, bahkan berkali-kali kembali ke jalan yang sama seperti yang tadi mereka sudah lewati. Tak terasa langit sudah mulai gelap. Tinggal sebentar lagi menuju waktu janji mereka masing-masing. Luhan dengan Jessica dan Kris dengan Sunkyu. Mereka berpisah di stasiun, menuju lokasi masing-masing.

 

“Semangat Jess”

 

“Kau juga. Sampai jumpa” Jessica membalas, sedikit gugup.

 

Dia sedikit takut berjalan sendiri. Oh tidak, dia bukan takut berjalan sendiri, tapi dia takut bertemu Luhan. Dia takut akan terlihat canggung dan aneh.

 

“Jess, sini” suara sebuah suara menyadarkan lamunannya. Ia sudah sampai pada tempat tujuannya, dan Luhan memanggilnya. Ia memegang kantung belanjaannya erat-erat.

 

“Hai Lu. Sudah lama menunggu”

 

“Ehm, tidak. Baru saja sampai. Kau menjadi pemandu wisata yang baik untuk Kris. Baguslah kalian tidak bertengkar. Sedikit mengejutkanku saat kau bilang tak mungkin bisa berteman baik dengan dia”

 

“Ehm ya, aku salah paham. Dia ternyata tak seburuk yang kukira”

 

“Ya, kau selalu salah paham” ucap Luhan, membuat Jessica diam seribu bahasa. Tapi tak bisa, Jessica harus mengatakannya sekarang.

 

‘ayo Jess, kau pasti bisa’

 

“Lu, karena itu, bantu aku mengatasi kesalah pahaman itu”

 

“Maksudmu?”

 

“Oh ayolah, pasti kau mengerti” ucap Jessica tertahan.

 

“Aku mengakui aku sangat egois, Lu. Aku mengakhiri hubungan kita dengan alasan yang mengecewakanmu. Seharusnya aku tak berkata seperti itu, seharusnya kita bisa saling menguatkan jika dalam jarak jauh, tidak seperti ini. Aku hanya cemburu pada Sunkyu karena ia bisa bersama dengan mu selama 1 bulan penuh di Kanada, karena ia bisa mendapatkan beasiswa yang sama dengan mu, ada bersama dengan mu, lebih menghabiskan waktu lebih banyak bersama dengan mu untuk berlatih. Dan juga aku kesal karena kau tidak membuang kunci gembok itu, aku kesal. Aku kesal dengan semua itu, dan aku sadar, kekesalanku hanya berujung pada keegoisanku dan kenaifanku. Aku tidak mau mendengarkan penjelasan apapun darimu. Bahkan aku tidak meminta kau menjelaskan apapun. Aku marah padamu dengan begitu saja” Jessica menghela nafasnya.

 

“Jadi aku ingin mengulang semuanya denganmu. Dari awal, Lu. Bisakah kita?” Jessica mengakhirinya, dengan senyum pahit yang dipaksakan. Ia senang bisa mengatakannya, tapi ia khawatir.

 

“Jess…”

 

***

 

Gadis itu termenung dibawah rembulan. Entahlah ekspresi apa yang harus ia tunjukkan saat ini.

 

“Hallo Kris”

 

“…………..”

 

“Bisakah kau datang kepadaku?”

 

“…………..”

 

“Di minimarket. Tiba-tiba aku ingin memakan ramyun instan. Jika kau tak sibuk, kau boleh bergabung denganku”

 

“…………..”

 

“Ya, aku tunggu”

 

Gadis itu mendenguskan nafasnya perlahan. Ini sudah jam 11 malam tapi ia tak berminat untuk pulang ke rumahnya. Ada sesuatu yang ingin ia lepaskan saat ini. Ia memilih duduk di kursi luar minimarket meletakkan dua cup ramyun instan di atas mejanya.

 

Gadis ini masih Jessica Jung, masih gadis yang sama, di hari yang sama, dengan pakaian yang sama dan tas belanjaan beserta isinya juga sama. Hanya hatinya saja yang berbeda. Perasaannya, emosinya juga raut wajahnya juga berbeda. Mungkin kalian sudah bisa menebak apa jawaban dari laki-laki bernama Luhan tersebut.

 

“Jess” Kris datang. Ia duduk disebelah Jessica, meletakkan barang belanjaannya.

 

“Bagaimana dengan Sunkyu?” tanya Jessica to the point.

 

“Sesuatu terjadi?” tanya Kris, ia tak menjawab pertanyaan Jessica.

 

Jessica memeluk Kris tanpa izin, menyandarkan wajahnya pada bahu Kris. Meluapkan emosinya. Ia menangis. Kris balas memeluknya.

 

“Sesuatu terjadi, eoh?” tanya Kris sambil menepuk-nepuk halus punggung Jessica. Jessica tak menjawab, masih setia menangis.

 

“Baiklah, maka kita buat pasukan patah hati. Kita cari orang-orang lain yang senasib dengan kita” ucap Kris, berusaha menghibur Jessica.

 

Jessica menghentikan tangisannya, melepaskan pelukannya, menatap Kris heran.

 

“Sunkyu?”

 

“Ia ternyata menyukai Luhan. Si bodoh itu sudah bilang sejak awal, sebelum aku sempat menyatakan perasaanku” Kris tertawa perih.

 

“Apakah Luhan menyukai Sunkyu? Ia bilang ia juga menyukai wanita lain yang selama ini ada untuknya sejak aku pergi darinya” ungkap Jessica.

 

Mereka berdua saling menatap sejenak. Lalu gelak tawa datang dari keduanya. Membodohi diri masing-masing. Ingin menghentikan itu, Jessica memberikan sebuah cup ramyun kepada Kris.

 

“Pasukan patah hati tidak buruk juga” ucap Jessica sambil mengaduk ramyunnya.

 

Mereka tertawa dan saling berbagi rasa sakit malam itu, mencoba saling menguatkan dan menghilangkan rasa sakit itu dengan membaginya bersama.

 

***

 

“Jung, maukah kau menjadi kekasihku” Kris mengucapkan hal tersebut tiba-tiba, membuat wajah Jessica memerah.

 

Jessica bingung harus menjawab apa. Disatu sisi ia mulai nyaman dengan Kris, disisi lain bayang-bayang Luhan masih muncul dipikirannya.

 

“Ehm, Kris, aku harus memikirkan jawaban itu terlebih dahulu” jawaban Jessica membuat Kris mengernyitkan dahinya kesal. Tiba-tiba bayangan Kris berubah seutuhnya menjadi gambaran tubuh Luhan.

 

“Apa yang kau bilang, Jess? Aku sudah menolakmu terlebih dahulu. Jadi tak perlu kau menjawab itu” Luhan wanna be itu tertawa keras-keras dihadapan Jessica.

 

Jessica ketakutan. Sampai ada seseorang yang mendorong tubuhnya, hingga ia terjatuh. Iapun tersadar dari mimpinya.

 

“Sial, sampai terbawa mimpi” batin Jessica.

 

Masih melekat dibenaknya, semalam Luhan baru saja menolaknya. Dan semalam ia Kris-lah yang menghiburnya. Eh, tunggu.. Kris? Berbicara tentang Kris, mengapa ia memimpikan Kris? Mengapa ia sampai membawa Kris yang sedang menyatakan cinta ke dalam mimpinya? Jessica memerah.

 

Jessica meraih handphone-nya yang ada di meja. Ia berharap ada notifikasi dari Kris. Tapi tidak. Jessica ingat, semalam Kris juga ditolak Sunkyu, bahkan sebelum Kris mengungkapkan hal tersebut kepada Sunkyu. Seharusnya semalam, Jessica juga menghibur Kris. Jessica khawatir pada keadaan pria tinggi tersebut. Ingin sekali Jessica menelfon Kris, tapi gengsinya lebih besar dari apapun. Jadi ia memutuskan untuk menunggu Kris menghubunginya.

 

Sepanjang hari Jessica terus menunggu pesan ataupun panggilan dari Kris, berharap pria itu mengajaknya berkeliling Seoul. Tapi hingga siang, sore, bahkan malam dan kembali ke pagi lagi, tidak ada satupun pesan atau panggilan dari Kris.

 

“Kau kemana bodoh?” gumam Jessica. Ia memutuskan untuk menghilangkan rasa gengsinya dan memilih untuk menelfon Kris. Tapi hasilnya nol. Panggilan tidak terjawab, handphone Kris tidak aktif.

 

Berbagai pikiran buruk muncul di benak Jessica. Dan pikiran yang sangat kuat baginya adalah ’Kris bunuh diri karena ditolak Sunkyu’. Sangat berlebihan memang, tapi ribuan pikiran buruk pasti akan muncul di benak kalian jika kalian sedang mengkhawatirkan seseorang. Jessica harus mendatangi hotel tempat Kris menginap, ia harus menanyakan hotel itu pada Luhan, karena pada saat reuni, Luhan yang mengantar Kris pulang ke hotel tempatnya menginap. Jessica mendesah kesal mengingat Luhan, semua ini terjadi karena Luhan dan Sunkyu menolak mereka.

 

“Ayolah Jess, ini untuk terakhir kalinya kau membutuhkan Luhan” gumam Jessica saat mencoba menelfon Luhan.

 

“…………..”

 

“Luhan? Ya, ini Jessica”

 

“…………..”

 

“Aku butuh bantuan mu. Apakah kau tau nama hotel tempat Kris menginap?”

 

“…………..”

 

“Kau tau? Baguslah. Boleh kau mengirim alamat tersebut lewat pesan singkat?”

 

“…………..”

 

“Baik, kutunggu”

 

“…………..”

 

“Apa? Oh tidak, kau salah sangka, aku menelpon bukan untuk memohon kepadamu tenang saja. Haha. Aku mulai membencimu sejak tadi malam. Hahaha” Jessica tersenyum pahit.

 

“…………..”

 

“Wah begitukah? Selamat, akhirnya kalian jadian juga. Sampaikan salamku untuk Sunkyu, ya. Maaf hari ini aku tidak bisa mengunjungi teater kalian, ada sesuatu yang lebih penting yang harus ku urus. Sekali lagi selamat akan hubungan kalian. Ingat ya Lu, kau harus menjaga Sunkyu baik-baik. Awas saja jika kau selingkuh, akan kubunuh kau. Hahaha. Aku tutup ya” Jessica mematikan sambungan telefon.

 

Ia memegang dadanya, berdetak kencang sekali. Ia kecewa, ia tau. Apa Luhan tidak memikirkan perasaannya? Apa Luhan tidak memikirkan bahwa sakit hatinya pun belum sembuh karena ia ditolak kemarin malam. Kenapa dengan beraninya cowok itu malah mengumbar-umbar hubungannya? Balas dendamkah cowok itu? Jessica merasakan pipi-nya hangat dan basah, ia menangis.

 

“Ayo Jess, jangan menangis. Masih ada urusan yang lebih penting dibanding kau harus menangis” ucap Jessica mengambil tas selempangnya, lalu bergegas pergi.

 

“Awas kau Kris, membiarkanku menghadapi Sunkyu dan Luhan sendiri, akan kubunuh kau jika aku menemukanmu” ucap Jessica geram.

 

***

 

Jessica telah sampai di hotel yang Kris tinggali selama beberapa minggu ini. Ia sedikit gugup. Luhan tidak memberikan nomor kamar, jadi terpaksa Jessica harus menghubungi resepsionis terlebih dahulu.

 

“Kamar atas nama Kris Wu, bisa kau tunjukkan aku nomornya?” tanya Jessica canggung.

 

“Tunggu sebentar” ucap resepsionis tersebut dengan senyum.

 

“Maaf tetapi atas nama Kris Wu tidak ada. Dia sudah meninggalkan hotel ini sejak kemarin” Jessica terkejut.

 

“Tidak bisa kau pastikan lagi?” Jessica memaksa, ia tidak mau menyerah.

 

“Maaf nona. Tuan Wu meninggalkan hotel kemarin pukul 8 pagi” resepsionist itu terlihat sedikit kesal.

 

“Apa ia memesan jasa antar-jemput?” Jessica tiba-tiba mengingat sesuatu.

 

“Oh ya, tuan Wu memesan jasa antar-jemput menuju bandara kemarin”

 

Jessica mendesah kecewa. Dia menyerah. Kris kembali ke Kanada. Entahlah apa yang harus ia lakukan saat menhadapi Luhan dan Sunkyu seorang diri.

 

***

 

Dua tahun sudah berlalu. Disinilah ia saat ini, Jessica Jung sedang berada di pantai. Menikmati liburan musim panas di Korea Selatan, pulang kampung dari Amerika untuk menghabiskan musim panas dengan keluarganya yang selalu ia tinggalkan untuk kuliahnya. Tetapi tiba-tiba ia merasakan suara yang sangat ia rindukan, suara yang sejak 2 tahun terakhir ini tak pernah ia dengar.

 

“Jung”

 

Jessica termenung mendengar suara itu, membalikan badannya. Mengarahkan wajahnya kepada sumber suara tersebut. Berusaha mencerna otaknya. Berusaha meyakinkan dirinya, dengan menegur orang itu.

 

“Hei Kris Wu, kemana saja kau”

 

“Mengobati patah hati”

 

“Bodoh, kau menelantarkan satu-satunya anggota pasukan patah hati”

 

“Maafkan aku”

 

“Kau tiba-tiba tidak bisa dihubungi keesokan harinya”

 

“Maafkan aku”

 

“Kau tiba-tiba meninggalkan Korea tanpa mengucapkan kalimat perpisahan kepadaku”

 

“Maafkan aku”

 

“Kau menghilang selama dua tahun”

 

“Maafkan aku”

 

“Dan kau tiba-tiba mengirim e-mail  kepadaku, mengajakku untuk bertemu pada saat liburan musim panas, di Korea. Itu menyakitiku”

 

“Maafkan aku menghilang tiba-tiba. Aku hanya butuh waktu untuk meyakinkan semuanya. Kau bebas bertanya kepadaku, apapun itu, sebanyak apapun itu” Kris mencoba berbicara lebih.

 

“Hanya satu. Apa kau membuang kunci gembok itu? Apa kau membuangnya?”

.

.

.

.

 

“Ku baca dari buku ini, di Namsan Tower ada tradisi pemasangan gembok abadi ya?”

 

“Ya, dan kabarnya jika kau menuliskan sesuatu di gembok tersebut, memasangnya lalu membuang kuncinya, hal tersebut akan benar-benar menjadi abadi. Bagaimana jika kita mencobanya?”

 

“Oh baiklah, sebagai tanda pertemanan tak buruk juga”

 

“Jadi kau mulai menganggapku teman?”

 

“Sebenarnya belum”

 

“Pembohong”

.

.

.

.

 

“Ya”

 

Lama Jessica terdiam, mencerna perkataan Kris.

.

.

.

.

 

“Jadi apa yang harus aku tulis? Ehm, bagaimana jika ‘Jessica Jung menjadi pembantuku untuk hari ini? Dan kita adalah teman’ apakah akan bagus?”

 

“Diam kau bodoh. Aku bukan pembantumu mengerti? Cukup tulis ‘Jessica dan Kris adalah teman tetapi Jessica tidak bersungguh-sungguh dengan itu’”

 

“Oke, aku akan menulis jika ‘Kris hanya terpaksa melakukan sandiwara pertemanan dengan Jessica Jung’”

.

.

.

.

 

“Oh ya. Kita hanya teman. Tidak masalah jika itu menjadi abadi” Jessica membalikkan tubuhnya kesisi lain, berusaha menghindari tatapan Kris.

 

“Sekarang giliran aku bertanya kepadamu. Aku pergi hanya untuk meyakinkan diriku sendiri Jung. Tentang ini, kau harus dengar baik baik. Sedikit panjang, jadi dengarkan dengan baik-baik karena aku hanya akan mengucapkannya sekali”

 

Jessica hanya diam, tidak merespon apapun dengan apa yang Kris ucapkan tadi.

 

“Aku mencintaimu, Jung. Aku hanya membutuhkan waktu untuk sadar jika aku sudah bisa melepaskan Sunkyu untuk Luhan dan kau bisa melepas Luhan untuk Sunkyu. Aku hanya ingin melepaskan bayang-bayang Luhan dan Sunkyu dari diri kita masing-masing. Ini sedikit lama, maaf membuatmu kecewa karena aku pergi tanpa kabar. Jadi bisakah kita memulainya sekarang?”

 

“Dan mari kita lupakan soal kunci gembok atau apapun itu. Karena ini tentang kita berdua, bukan tentang kunci dengan gembok. Mari kita lupakan soal kunci gembok, semua hubungan ini kita yang mengatur dan mengendalikannya, bukan kunci gembok. Bahkan jika kau ingin, kita bisa datang lagi ke Namsan dan menulis untuk gembok yang baru. Ayo kita memulai sesuatu yang baru, dengan gembok yang baru jika kau mau” Kris mengakhiri ucapannya.

 

Lama Jessica tak bergeming dari posisinya, ia hanya melipat tangannya di dada. Berusaha berpikir, atau gengsi? Entahlah.

 

“Jung?”

 

“Aku merindukanmu, aku merasa kehilangan saat kau tidak kunjung muncul dihadapanku. Kau menyakitiku dengan tiba-tiba meninggalkanku, kau memaksaku mengucapkan selamat kepada Sunkyu dan Luhan seorang diri saat mereka menjadi sepasang kekasih. Kau membuatku berharap kau tetap menyimpan kunci gembok tersebut, agar kita tidak abadi menjadi teman. Bukan hanya sekedar teman, maksudku, lebih dari itu” Jessica mencoba menyuarakan dirinya.

 

“Jadi, baiklah Kris, mari kita menulis gembok yang baru besok”

 

Jessica menjawab dengan senyuman yang cerah, senyuman yang telah lama Kris nanti. Senyuman yang ia saja lupa dimana dan kapan terakhir ia lihat.

 

“Jadi apa saja yang kau lakukan selama aku tidak ada?” tanya Kris tiba-tiba, saat mereka tengah duduk di bibir pantai, mendengarkan deburan ombak pantai.

 

“Apa ya? Aku hanya kuliah dan belajar mungkin. Apalagi yang bisa dilakukan anak perantauan”

 

“Bodoh. Sekalipun kau tak memikirkanku?”

 

“Tidak, memikirkanmu membuatku sakit hati. Kau pergi tiba-tiba saja”

 

“Tiba-tiba pergi esok harinya, padahal kau mulai menyadari keberadaanku malam itu” tebak Kris.

 

“Kenapa kau selalu menebak dengan benar sih?”

 

“Aku hanya mengucapkan sesuai sugesti”

 

“Sugestimu buruk” Jessica meninju bahu Kris.

 

“Tapi tebakkan ku benar”

 

“Kau berisik, bisa kah kau tak membuatku kesal”

 

“Ingat ya Jung, gembok itu, sebenarnya, tidak ada artinya. Tergantung bagaimana kita mempertahankan hubungan kita”

 

“Tapi aku tetap ingin memasang gembok besok”

 

“Baiklah kita akan berangkat besok. Asal kau tidak banyak bicara”

 

 

 

 

“Tulislah semua keinginanmu dengan kekasih, sahabat, atau keluargamu pada sebuah gembok, pasang gembok itu di Namsan Tower dan buang kuncinya jika kau ingin hal yang kau tuliskan menjadi abadi”

 

 

 

 

Akhir kata, terima kasih sudah sudi membaca ff ini. Maaf endingnya kurang greget, aku aja bingung sebenarnya. Dan saya sadari ending ff ini berat banget. Saya aja bingung, gimana menggambarkannya supaya gak berat u,u Semua yang ada di ff ini fiktif dan murni dari pemikiran saya. Masalah gembok-gembokan juga fiktif, saya gatau yang sebenarnya gimana wkwkwk… Oh ya, terima kasih buat lagu-lagu yang menemani selama proses pembuatan ff ini, terutama lagu Yoon Mirae yang ada di OST. School 2015, aku lupa judulnya wkwk., tapi bikin aku nangis beneran u.u /lebay. Terima kasih semua. Mohon dukungannya ^^

24 thoughts on “[Freelance] Padlock

  1. ini menyedihkan, kok tega gitu ya sahabat.
    penikungan ini namanya, penikungan!
    seharusnya jessica itu musuhin aja jangan diladenin, malah dikasih selamat, kan kamvret.

    (pasukan patah hati wkwk, boleh saya daftar? :”D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s