180° – Chapter 12

tumblr_n20xx9MP0a1rgwas2o1_500

Yura Lin proudly presents;

180°

Genre:

Angst – Family – Romance

Length:

Series

Cast:

SNSD Jessica | BAP Daehyun

Other cast:

BAP Youngjae | 2NE1 Sandara | f(x) Krystal

Previous:

1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6 – 7 – 89 – 1011

Credit poster:

Aiden Top @ Coup d’etat

A bad cup of coffee is better than no coffee at all.”

Sandara memeluk Jessica erat. Jessica hanya terdiam bingung dengan kelakuan temannya yang tiba-tiba datang sambil menangis. Setelah beberapa detik ia membiarkan wanita yang biasa memberikan ide-ide gila itu memeluknya, Jessica mendorong Sandara agar melepaskan pelukannya.

“Ada apa denganmu?” tanya Jessica.

“Hiks, aku baru diberitahu tentang keguguranmu pagi ini. Jika Junyoung tidak meneleponku maka aku tidak akan tahu sama sekali. Hiks. Mengapa kau tidak memberitahuku?” protes Sandara sambil terisak pelan.

Jessica menghela napas panjang. Tidak sekalipun terpikir olehnya untuk memberitahu Sandara. Dia sibuk mengurusi kesedihannya sendiri. Mungkin karena Daehyun menyadari keadaannya, dia meminta tuan Moon untuk menahannya sehari lebih lama secara diam-diam. Dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Daehyun dengan ayahnya kemarin siang ketika semua orang mengiranya sedang tertidur setelah kejadian Junyoung meneleponnya lewat handphone Daehyun. Padahal jika Daehyun tidak menahannya, dia sudah keluar dari rumah sakit dari kemarin. Dia merindukan kasurnya.

“Maaf, banyak hal yang membuatku sibuk jadi aku lupa untuk meneleponmu,” balas Jessica.

Sandara melototi Jessica seraya menghapus air matanya. “Bagaimana bisa kau bisa melupakanku?!”

Jessica tidak menjawab, hanya meringis pelan.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Sandara.

Jessica menghela napas panjang. “Sejujurnya, aku merasa sangat kehilangan. Aku sedih, marah, dan frustasi. Namun tidak ada yang dapat ku lakukan untuk mengembalikan anakku, ‘kan?”

Jessica akui ucapan Junyoung berhasil membuatnya sadar dan mengakui semua perasaannya yang selama ini selalu ia bantah dan hanya dengan mengakuinya, perasaan terasa lebih ringan. Dia harus membalas jasa Junyoung secepatnya.

Sandara tersenyum kecil mendengarnya dan memutuskan untuk tidak mengomentarinya. “Lalu bagaimana rencanamu selanjutnya? Maksudku, kini kau sudah kehilangan hal yang bisa mengikat Daehyun.”

Selanjutnya?

Jessica menggeleng. Kegugurannya sudah mengubah jalan pikirannya. Dia sudah lelah untuk sakit hati. Dia sudah lelah untuk dikecewakan. Dia sudah lelah untuk dihancurkan.

“Daehyun, ya? Sudah waktunya aku mundur.”

***

Daehyun kembali menghabiskan waktu di rumah Youngjae. Dia tidak beranjak dari depan televisi sejak dia datang. Sekilas, orang-orang akan berpikir dia sedang menonton siaran ulangan drama tapi sebenarnya Daehyun menghabiskan waktu dengan hanya melamun dan tak seorang pun berani mengganggunya walaupun untuk sekedar mengganti channel.

Hanya ini lah yang ia lakukan di rumah sahabatnya jika tidak ada janji temu dengan teman-teman kampusnya. Benar-benar tidak memiliki pekerjaan apapun untuk dilakukan. Liburan semester masih berlanjut, pekerjaannya di tempat pencucian mobil sudah resmi selesai, dan keluarga Yoo memutuskan untuk tidak mengganggu Daehyun untuk saat-saat ini.

Tidak setiap saat dia bertingkah seperti pengangguran tak punya kehidupan sosial ketika berada di rumah Youngjae karena dia akan menelepon ibunya. Dia membiarkan ibunya terus-menerus menggosipkan para tetangganya di kampung. Tentang si pak tua yang selalu memarahi ibunya yang senang memotong jalan melewati kebun, keluarga Heo yang licik memindahkan tanda batas tanah, dan lainnya.

Sempat ibunya bercerita tentang teman kecilnya, Lee Howon, yang belum juga memiliki kekasih sedangkan anaknya sudah menikah dan sedang menunggu buah hati pertama. Daehyun terdiam cukup lama karenanya sehingga ibunya juga diam. Dengan ragu, ibunya bertanya apa yang terjadi. Tanpa dijelaskan, Daehyun mengerti apa yang ditanyakan oleh ibunya dan mulai menjelaskan keguguran yang dialami istrinya setelah ia masuk ke dalam kamarnya. 2 jam selanjutnya, ibunya sibuk menghibur anaknya.

“Daehyun kasihan sekali,” komentar ayahnya Youngjae sambil merapikan dasinya. Beliau sengaja berangkat lebih siang untuk membantu Youngjae menghibur Daehyun tapi tak satu pun caranya berhasil.

Youngjae mendengus. “Itu semua karena dia tidak mau mengakuinya.”

“Mengakui apa?”

Youngjae menoleh untuk menatap wajah ayahnya sejenak lalu menjilat bibirnya. “Masalah anak muda. Orangtua tidak boleh tahu.”

Tuan Yoo menggelengkan kepalanya sambil mengambil tas kerjanya lalu berpamitan dengan semua anggota keluarganya yang masih di rumah, tak terkecuali Daehyun yang sudah ia anggap anaknya sendiri. Daehyun hanya menatapnya sembari mengangguk dan kembali menonton drama yang sedang disiarkan.

Setelah ruang tamu hanya tersisa sepasang sahabat tersebut, Youngjae duduk di samping Daehyun dan baru menyadari drama yang sedang ditonton Daehyun adalah Glee. Dia baru tahu ada stasiun tv yang memutar Glee.

“Aku tidak tahu jika kau menyayanginya,” gumam Youngjae.

“Siapa?”

Youngjae terdiam sejenak karena tidak menyangka Daehyun akan menanggapinya. “Anakmu.”

“Tidak juga. Sejujurnya, aku malah lega karena aku sendiri tidak yakin aku sudah siap untuk menjadi seorang ayah.”

“Benarkah? Lalu mengapa kau seperti ini?”

“…entahlah.”

“Apa karena Sica noona?”

Daehyun sempat membuka mulutnya tapi tidak ada kata yang terucap. Dia kembali diam sambil menonton drama di televisi.

“Apa yang sedang kau pikirkan sekarang?” tanya Youngjae pelan agar Daehyun tidak mendengar nada kesalnya.

Daehyun menarik napas dalam lalu tersenyum kecil. “Drama itu. Itulah yang sedang aku pikirkan sekarang. Pria itu meninggalkan istrinya karena istrinya berbohong tentang kehamilannya. Apa aku harus sepertinya?”

Pria yang dimaksud Daehyun adalah guru yang mengurus klub Glee. Youngjae pun tidak tahu siapa namanya dan bagaimana kehidupannya. Dia memang tidak biasa menonton drama. Akan tetapi dia mengerti masalah yang dimaksud Daehyun.

“Sica noona ternyata benar-benar hamil tapi dia keguguran,” balas Youngjae, mencoba membela Jessica.

“Lalu? Artinya tidak ada memaksaku untuk mempertahankannya, ‘kan?”

Youngjae mendecak kesal. “Apa maksudmu? Kau bersikap menyedihkan seperti ini karena kau ingin menceraikan Sica noona? Begitukah?”

Daehyun berpikir sejenak lalu menghela napas panjang. “Mungkin. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku seperti ini.”

“Katakan kepadaku, apa masalahmu sebenarnya sebelum aku benar-benar marah!”

Daehyun kembali menghela napas panjang. Dia memainkan remote di tangannya dengan ekspresi seperti sedang berpikir lalu dia mengangkat bahunya.

“Ini terasa aneh. Otakku berkata aku harus melakukan rencana awalku sebelum aku tahu tentang kehamilan noona. Hatiku… berbeda. Hatiku tidak menginginkannya. Aku bingung.”

***

Krystal memainkan handphone di tangannya dengan mata memandang deretan gedung dari balkon apartemen kakaknya. Harus ia akui, dia kesal karena hari natalnya tidak lah seindah tahun-tahun kemarin. Natal tahun ini adalah natal terburuk. Tiada suasana hangat di malam bersalju yang biasanya ia rasakan walaupun ibunya sengaja datang dari luar kota begitu mendengar kabar bahwa anak pertamanya mengalami keguguran. Natal terlewati begitu saja dan lusa, tahun pun berganti.

Apa ia menyesali kepulangannya?

Tidak, dia malah bersyukur. Dia bersyukur bisa menyadari drama apa yang dialami kakaknya ketika dia dibiarkan untuk tidak tahu apapun selama di Amerika. Tidak, dia bahkan tidak menyadarinya jauh sejak kakaknya mulai melihat Daehyun dengan cara yang berbeda. Mungkin dia terlalu buta untuk menyadari bahwa kakaknya tidak menyukai sosok Junyoung yang ia puja atau dia terlalu naif dengan berpikir bahwa Daehyun terlalu rendah untuk menjadi tipe ideal kakaknya.

Akan tetapi, cinta tidak mengenal tipe ideal. Dia baru mengertinya sekarang.

Daehyun, pria payah yang ia buang beberapa tahun lalu, sanggup membuat kakaknya yang selalu ia banggakan menjadi patah hati sampai benar-benar hancur. Jika ini terjadi tahun lalu, dia akan menertawakan kakaknya. Namun sekarang, dia merasa takut. Takut jika cinta membuatnya menderita seperti kakaknya.

Hatinya sakit melihat kakaknya yang kehilangan semangat walaupun kini sudah membaik. Semua berkat Junyoung yang tak pernah lupa untuk selalu menelepon Jessica—atas permintaan rahasia dari Daehyun dan Junyoung memastikan bahwa memang hanya mereka berdua yang tahu—dan keberadaan ibunya yang selalu memeluknya ketika kakaknya tidur. Sementara itu, Daehyun masih tak terlihat batang hidungnya.

Melihat semua yang terjadi kepada kakaknya selama hampir seminggu ini, Krystal mempunyai keinginan yang sangat besar untuk menendang Daehyun saat ia berhasil menemukan kakak iparnya suatu hari nanti.

***

Daehyun tidak tersenyum sama sekali saat melihat Krystal di meja yang berada di tengah kafe, tidak seperti biasanya dimana dia akan tersenyum sangat lebar sampai mulutnya kram. Apa mungkin, akhirnya, ia berhasil menghapus rasa cinta yang selama ini dia simpan untuk gadis di depannya? Cukup mustahil bagi orang-orang yang mengenal Daehyun dengan baik.

Jarinya memutari bibir cangkir berisi americano, tatapannya tidak menunjukkan energi yang biasa Krystal lihat di matanya. Kantung matanya terlihat jelas dan Daehyun tidak melakukan apapun untuk menutupinya. Baru kali ini, Krystal menyadari bahwa pria itu bisa membuatnya berempati.

Eonni sudah kembali ke apartemen,” gumam Krystal, mengangkat cappucinonya hanya untuk berhenti sejenak di depan matanya lalu diletakkan kembali di atas meja.

Daehyun membalasnya dengan gumaman. Matanya melihat ke sekitar selain adik iparnya. Handphonenya bergetar tanda pesan masuk. Dia segera membuka ketika Krystal hendak kembali membuka mulutnya. Dia benar-benar berharap pesan itu dapat dijadikan alasannya untuk keluar dari situasi ini. Sayang sekali, pesan itu hanyalah tentang kunci rumah Youngjae yang ditinggal di bawah pot karena semua penghuni memutuskan untuk pergi berlibur selama tahun baru. Daehyun menghela napas pelan.

Eonni sendirian malam ini jika kau tidak pulang karena aku menginap di rumah temanku.” Kata-kata itu lebih terdengar seperti, kau harus pulang atau ku bunuh kau!.

“Sebenarnya, Youngjae dan keluarganya—“

Krystal berdeham dengan pelototan, menghentikan Daehyun untuk mengatakan semua alasan mengapa dia tidak bisa pulang untuk saat ini. Daehyun kembali menghela napas.

“Ya. Ya. Kau menang,” gerutu pria itu.

Krystal tertawa girang. Sebenarnya ibunya masih menginap di apartemen mereka. Dia sengaja berbohong.. Daehyun dan kakaknya harus menyelesaikan masalah mereka dengan ibunya sebagai penengah. Ya, ini lebih baik.

Ketika Krystal memutuskan bahwa udah saatnya mereka pergi, dia tidak lupa menendang Daehyun hingga kakak iparnya jatuh tepat di depan pintu kafe sebelum mereka berpisah. Daehyun tidak sempat protes karena gadis itu sudah berlari jauh.

***

Setelah mempertimbangkan apakah dia harus membawa kembali semua barangnya di rumah Youngjae atau kembali dengan tangan kosong selama hampir setengah jam, akhirnya dia melempar tasnya yang penuh dengan pakaian ke jok belakang mobilnya.

Sesampainya di apartemen, dia terdiam di pintu masuk. Rasa hangat mulai memeluk hatinya. Dia sadar dia merindukan tempat ini walaupun belum setahun ia menempatinya. Seakan banyak kenangan penting terjadi di sini dan membuatnya bernostalgia.

Tepukan di bahu menyadarkannya dari lamunannya. Saat dia berbalik badan, dia terkejut melihat ibu mertuanya tersenyum hangat kepadanya. Krystal tidak memberitahunya tentang kedatangannya ibu mertuanya! Tangan nyonya Jung mengelus punggung Daehyun lalu mengajaknya masuk seakan tidak terjadi apapun. Dengan senyum canggung Daehyun mengikuti dari belakang.

“Apa kau sudah makan siang?” tanya ibu mertua, beliau sibuk menata barang-barang yang baru ia beli dari supermarket di lantai dasar ke dalam kulkas.

Daehyun menelan air liurnya. Ia mencoba menjawab tapi suaranya tidak keluar cukup keras. Keningnya dibanjiri keringat dingin. Dia hanya menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan istrinya, tidak sekaligus ibu mertuanya. Dia kehabisan ide bagaimana cara bertingkah di depan orang yang tidak pernah ia inginkan untuk datang di saat seperti ini. Rasanya ia ingin kabur ke Busan lalu memeluk ibunya.

Seakan ibu mertuanya mengerti, nyonya Jung menyuruhnya istirahat di dalam kamar dan memberitahunya bahwa Jessica sedang pergi dengan temannya yang berwajah sangat ceria, dia yakin itu Sandara. Ibu mertuanya sangat hangat kepadanya, sangat berbeda dengan ketika mereka baru saja menikah dahulu. Dia tidak tahu apakah perlakuan hangat ini karena beliau belum tahu apa yang terjadi dan mulai menerimanya sebagai menantu atau ini semua hanyalah ketenangan sebelum badai datang.

“Oh ya, apa itu baju kotor?” tanya ibu mertuanya.

Daehyun melirik tasnya lalu mengangguk. “Ah… ya. Sebaiknya aku mencucinya sekarang.”

“Tidak. Tidak. Biarkan aku yang mencucinya. Kau istirahat saja.”

“Aku bisa—“

“Kau butuh istirahat sebelum bertemu dengan Jessica nanti.”

Daehyun terhenyak mendengarnya. Benar-benar ketenangan sebelum badai datang ternyata.

***

Sudah 193863478838852 kali Jessica mengeluh selama kencan mereka, pikir Sandara. Kegiatan belanja dari sejak pintu mall dibuka sampai jam 5 sore (dan belum selesai juga) ini lah yang disebut kencan oleh wanita itu. Hanya Sandara dan Jessica, dua wanita yang siap bersama-sama menguasai dunia! Jessica memutar matanya ketika temannya mengatakan itu.

Banyak hal yang sudah mereka lakukan. Seperti mengunjungi toko buku, pakaian, perhiasan sampai supermarket (mereka hanya membeli es krim) yang dilanjut dengan menonton film dua kali, diselingi dengan kunjungan ke restauran tentunya. Walaupun hampir semua tempat sudah mereka kunjungi, Sandara masih ingin melanjutkan kencan mereka.

“Kapan lagi kita bisa kencan berdua saja seperti ini?!” bela Sandara terhadap segala omelan, keluhan, dan protesan Jessica kepadanya.

Setelah kunjungan kedua kalinya ke semua toko di tempat itu, mereka berakhir di food court. Sandara terlihat bangga dengan hasil kencannya hari ini sedangkan Jessica sibuk memijat kakinya sambil meringis sakit karena kakinya mulai terasa kram.

“Ada lain waktu, bukan? Aku baru keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu dan kau sudah membuatku kecapekan!” protes Jessica. “Dokter melarangku untuk melakukan sesuatu yang membuatku lelah tapi lihat apa yang kau lakukan padaku!

Sandara menggerakan jari telunjuknya untuk mengatakan tidak. “Seminggu adalah waktu yang sangat lama untuk beristirahat jadi kau sudah sehat sekarang. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan, Jess. Mungkin malam ini aku dilamar seseorang dan dibawa ke Inggris untuk dinikahkan? Kita harus menikmati masa sekarang karena waktu tidak bisa diputar kembali. Jangan sampai kau menyesal karena tidak menghabiskan waktu cukup banyak dengannya!”

Jessica mengangguk dengan ekspresi mengejek. “Sesukamu saja.”

Sandara tertawa, tangannya mengambil gelas plastik berisi cappuccino milik Jessica dan menyesapnya sedikit. Dia sudah memesan lemonade tapi kebiasaan Jessica memesan cappuccino seakan menyugestinya untuk ikut menyicipi. Mungkin karena minuman itu memakai campuran kopi murahan, berbeda dengan kopi Jessica yang bisa wanita itu bawa ke sekolah, sehingga Sandara tidak mengerti apa yang spesial dengan minuman itu hingga temannya ketagihan.

Jessica tertawa melihat ekspresi masam di wajah temannya. “Ada apa dengan wajahmu?”

“Bingung. Mengapa kau sangat menyukai cappuccino?” Sandara memeletkan lidahnya tanda ia tak setuju dengan rasa kopi itu. “Aku tidak suka rasa susunya.”

“Kau tidak pernah menyukai apapun yang dicampur dengan susu. Kau hanya menyukai susu murni,” gumam Jessica, merebut kembali gelasnya dan meneguk kopi yang sudah didinginkan suhu di gedung itu.

“Akan tetapi, Jess, rasanya tidak enak! Yang kau beli itu, tidak enak!”

A bad cup of coffee is better than no coffee at all. Aku perlu kafein untuk menghilangkan sakit kepalaku saat berhadapan denganmu.”

Sandara mengangkat bahunya acuh. “Tak tertarik mencoba kopi lain?”

“Pernah ku lakukan.”

“Tapi?”

Jessica terkekeh pelan. “Penyuka kopi biasanya cukup loyal dengan rasa kesukaannya. Mereka mencoba rasa lain dan mengerti perbedaan setiap kopi tapi tetap akan kembali ke rasa yang dicintai. Tidak sepertimu yang memilih minuman sesuai mood.”

“Ew, membosankan.” Sandara mendengus. “Ku yakin itu juga berpengaruh di kehidupan cinta mereka juga, ya?”

“Apa maksudmu?”

“Ya, seperti kisahmu yang—“ Sandara terdiam seketika menyadari apa yang ia ucapkan. Dia segera menggeleng cepat. “Tidak. Tidak. Tidak. Bukan apa-apa!”

Jessica hanya tersenyum tipis, meneguk cappuccinonya sampai habis lalu berdiri dengan semua tas belanja di tangannya. Dengan gerakan kepala, ia mengajak temannya untuk pulang. Tiba-tiba dia merasa ingin sendiri di kamarnya. Akan tetapi, Sandara menggeleng sambil memberi isyarat agar Jessica kembali duduk di kursinya.

“Ayolah, aku benar-benar lelah. Tidak bisakah kita pulang sekarang?”

Sandara kembali menggeleng. “Karena aku terlanjur membicarakannya, aku tidak bisa menahannya lagi, Jess. Aku butuh kepastianmu. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

“Sandara Park—“

“Junyoung mengaku kau belum mengatakan apapun kepadanya dan aku yakin kau tidak akan melakukan apapun sebelum membicarakannya dengan Junyoung.”

Jessica memutar matanya. “Junyoung bukan ayahku.”

“Memang bukan tapi aku tidak yakin kau berani melakukan sesuatu tanpa persetujuannya lagi setelah semua masalah ini.”

Jessica menghela napas. Wanita di depannya benar, dia sudah tidak berani melakukan apapun tanpa meminta pendapat Junyoung terlebih dahulu. Pembicaraan mereka terakhir adalah ketika Jessica diperbolehkan pulang, tepat sebelum kedatangan Sandara. Dia begitu yakin untuk menyelesaikan hubungan mereka selama dia menumpahkan semua pikirannya kepada Sandara. Akan tetapi keyakinan itu hilang ketika dia tinggal sendiri di kamarnya setelah ibunya selesai membantunya merapikan baju-baju kembali ke dalam lemari. Itu sebabnya ia belum memberitahu Junyoung apapun. Dia membiarkan sahabatnya fokus dengan pekerjaannya di Australia.

“Katakan padaku, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya Sandara, kali ini lebih tegas dari biasanya.

“Bagaimana menurutmu?”

I don’t know. You tell me.” Suara Sandara terdengar sedikit kesal.

Jessica menggigit bibirnya. “Aku juga tidak tahu! Aku pikir aku sudah yakin untuk menyelesaikan semuanya. Akan tetapi, pernikahanku bukan hanya tentang Daehyun dan aku. Pernikahanku juga berhubungan dengan keluargaku, juga keluarga Daehyun. Oh! Ibunya Daehyun! Bagaimana aku bisa menghadapinya setelah kejadian di rumahnya dulu? Dia tahu aku berbohong tentang kehamilanku, kemudian sekarang aku menceraikan anaknya. Ini benar-benar kacau! Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadanya. Bagaimana menurutmu? Apa yang harus ku katakan? Bagaimana jika dia tidak mau—“

“Jess!” Sandara meremas kedua pundak temannya untuk menenangkannya. “Pikirkan ini baik-baik. Jangan panik.”

Jessica menarik napas dalam-dalam tapi ekspresi panik belum seutuhnya hilang. Setidaknya dia tidak sepanik tadi. Sandara pernah mendengar cerita ketika Jessica mengejar Daehyun ke Busan ketika dia menunggu temannya selama Junyoung pergi untuk berkonsultasi dengan dokter Hwang. Dari cerita itu, dia pikir ibunya Daehyun cukup tenang. Walaupun dia mengetahui anaknya ditipu tapi dia malah membela Jessica seakan menantunya tidak melakukan apapun.

“Hei, sweetheart, aku tidak pernah bertemu langsung dengan mertuamu tapi ku rasa dia akan mengerti. Kau hanya perlu menjelaskannya baik-baik. Dia bahkan tidak memarahimu dan malah menghukum Daehyun ketika kalian bertengkar setelah kebohonganmu terbongkar, ingat? Jadi ku kira dia juga tidak akan marah jika kau menjelaskannya dengan cara yang baik,” ujar Sandara lembut.

Jessica menatap temannya memelas. “Bagaimana?”

Face to face?”

“Maksudmu aku harus ke Busan?”

“Jika itu perlu. Dan jika memang kau benar-benar datang ke sana, jangan lupa sampaikan pertanyaanku.”

Alis Jessica terangkat, bingung sekaligus penasaran. “Pertanyaan?”

Sandara mengangguk mantap. “Ada satu hal yang membuatku penasaran jadi kau harus menanyakannya jika kalian bertemu langsung.”

***

Pantas saja ibunya meneleponnya tadi untuk memberitahunya bahwa ibunya pergi ke tempat temannya. Pantas saja! Dia tidak menyangka suami yang sudah menghilang entah berapa lama, akhirnya pulang dan ibu-adiknya sengaja meninggalkan mereka berdua di apartemen. Dia kira Daehyun tidak akan kembali ke apartemen ini. Cukup mengejutkan melihat suaminya duduk di sofa sambil menonton televisi. Dia bisa melihat dengan jelas tubuh Daehyun sangat tegang karena kedatangannya.

“Ah, kau masih ingat tempat ini?” sindir Jessica sambil meletakkan tas-tas belanja di samping sofa lalu sengaja berjalan di depan televisi menuju dapur untuk mengambil segelas air.

Daehyun tidak memberikan tanggapan tapi matanya terlihat seperti sedang mempersiapkan diri. Mungkin mereka akan menyelesaikan semua dan berbaikan malam ini, atau mungkin mereka akan perang. Apapun yang akan terjadi, dia harus menyiapkan mental juga langkah agar dia tidak melukai sang Sooyeon noona lebih jauh. Namun jika mereka benar-benar akan perang malam ini, sepertinya ia tidak akan bisa mengelak dari kemungkinan untuk menyakiti istrinya lagi.

Setelah meneguk satu gelas penuh air mineral, dia membawa botol dan gelasnya ke meja di depan televisi. Dia akan mencoba melihat apa hasil dari kepergian ibu-adiknya demi pernikahan mereka yang rapuh ini. Dia tidak bisa lari sekarang apalagi jam dinding sudah menunjukkan waktu 22.52 karena Sandara mengajaknya makan malam di restauran kesukaannya lalu melanjutkannya pembicaraan di taman dekat apartemen Jessica. Dia ingin tidur setelah semuanya jelas.

“Mari kita bicarakan rencana selanjutnya,” pinta Jessica yang lebih terdengar seperti bisikan.

Daehyun menjilat bibirnya. “Rencana apa?”

“Rencana…” Jessica menghela napas kasar. “Kau mengerti rencana apa! Perceraian kita? Karena aku keguguran jadi perjanjian kita sudah batal, kita kembali ke rencanamu semula. Menceraikanku. Aku benar?”

Akhirnya mata Daehyun tertuju kepada istrinya. Mata dengan tatapan terkejut, tidak menyangka istrinya mengatakannya. Sekilas Jessica melihat rasa kecewa di mata itu tapi dia mengelak untuk mempercayainya.

Noona, kau yakin ingin membicarakannya semalam ini? Apa kau tidak lelah? Mengantuk?”

Daehyun mencoba mengulur waktu. Dia sudah mencoba menyiapkan diri sejak kepulangannya tadi tapi ketika Jessica menjatuhkan bom, dia sadar dia masih belum siap. Besok, lusa, minggu depan, bulan depan, dia tidak peduli kapan asalkan tidak malam ini.

“Ku rasa ini waktu yang baik. Aku tidak tahu jika kau masih ada di sini saat aku bangun besok atau tidak, jadi mengapa tidak?”

“Ku pikir ini bukan waktu yang tepat.”

“Ku pikir ya, ini waktu yang tepat.”

Daehyun menarik napas dalam. “Noona, aku tidak tahu jadi apa kau tidak bisa memberikanku waktu untuk berpikir? Aku tidak akan kabur.”

“Itu masalahnya! Aku tidak bisa. Menunggu membuatku frustasi, Daehyun-ah!” kesal Jessica. “Jika kau memang tidak tahu, bagaimana jika aku saja yang memutuskannya?” Jessica bangkit dari duduknya, “… aku akan membicarakannya dengan pengacaraku dan memproses perceraian kita secepatnya.”

Daehyun meraih tangan istrinya ketika wanita itu membungkuk untuk mengambil belanjaannya. Jessica hanya dan membiarkan tangannya digenggam, memberikan Daehyun waktu untuk berpikir. Namun setelah beberapa waktu pria itu tidak melakukan apapun, Jessica menarik tangannya lalu pergi ke kamarnya.

Daehyun mengusap wajahnya frustasi. Dia ingin mengatakan sesuatu, hatinya menginginkan sesuatu, tapi dia tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Perasaannya tidak masuk akal. Yang ia inginkan hanya untuk memeluk sang noona tapi tidak mungkin ia melakukan sekarang. Itu hanya akan membuat keduanya semakin bingung. Bisa jadi, bahkan ia akan memberikan harapan yang tak bisa ia pertanggungjawabkan kepada istrinya.

Namun dia tidak bisa menahannya!

Dia mengejar Jessica yang hampir sampai di depan pintunya. Dia menarik tangan istrinya dan, tanpa sadar, dia mendorong tubuh Jessica ke dinding, menjebaknya antara tubuhnya dan dinding apartemen. Keningnya beradu dengan kening Jessica, tangannya berada di pinggang istrinya. Matanya menatap dalam mata Jessica yang tertutup. Dia hampir bisa mendengar beribu doa yang diucapkan wanita itu dalam hati.

Ketika kelopak mata dengan bulu mata lentik itu bergerak ke atas dan memperlihatkan bola mata dengan iris berwarna coklat, Daehyun pun tersadar bibir mereka hampir bersentuhan. Dia segera mengambil langkah mundur, terdiam di posisinya untuk sesaat lalu berlari keluar dari apartemen itu. Sementara Jessica membiarkan tubuhnya jatuh dengan napas berderu cepat.

***

Tangannya menarik koper kecil menuju rumah sederhana di dekat pantai setelah membayar taksi. Jessica tidak bisa tidur semalam dan setelah ia menghabiskan malamnya dengan berpikir, ia sadar ia harus datang menemui ibunya Daehyun secepat mungkin. Tidak hanya dia sudah putus asa dan tak ingin membuat ibunya sendiri cemas, pertanyaan Sandara terus-menerus mengiang di pikirannya.

Setelah dua kali ketukan di daun pintu berwarna coklat muda, akhirnya pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok wanita separuh baya yang sepertinya baru saja pulang dari suatu tempat. Mertuanya menyambutnya teriakan antusias dan memeluknya erat tapi dia tidak mempunyai mood untuk membalas antusiasme mertuanya.

“Akhirnya kau datang juga! Aku benar-benar khawatir setelah mendengar kabar keguguranmu tapi aku tidak bisa pergi ke Seoul. Aku harus mengurus banyak hal di sini karena sebentar lagi tahun baru, hehe. Aku cukup patah hati karena kalian tidak mengunjungiku selama natal,” seru ibu mertuanya. “Oh ya, mana Daehyun? Aku tidak melihatnya.”

Jessica menggigit bibirnya sambil menggeleng. “Aku datang sendiri.”

Nyonya Jung menghela napas. Antusiasnya hilang ketika menyadari kedatangan menantunya bukan untuk kunjungan biasa. Jika diingat-ingat apa saja yang terjadi kepada mereka, sepertinya ia tahu alasan kedatangan Jessica. Dia mempersilahkan istri anaknya itu masuk dan membuatkan minum.

“Apa ini berhubungan dengan keguguranmu?” tanya nyonya Jung.

Jessica menghela napas. “Mungkin saja. Kau tahu sendiri seperti apa hubungan kami. Kemungkinan besar kami akan bercerai karena sudah tidak ada lagi alasan untuk bersatu. Namun ada satu pertanyaan yang tak bisa aku lupakan. Sebenarnya ini adalah pertanyaan dari temanku tapi aku sadar bahwa aku juga penasaran.”

“Apa itu?”

“Mengapa kau tidak marah?”

Nyonya Jung mengerutkan keningnya. “Marah soal apa?”

“Saat kau tahu kehamilanku hanya sebuah kebohongan untuk menipu anakmu, mengapa kau tidak marah?”

Nyonya Jung tersenyum tipis. “Karena aku pikir itu karma? Entahlah.”

“Karma?”

Nyonya Jung menggumam benar seraya menyesap tehnya. “Kau pikir bagaimana bisa ayahnya Daehyun selingkuh denganku hanya beberapa tahun setelah Junyoung lahir?”

Jessica menggeleng pelan. Dia tidak pernah memikirkan ini sebelumnya walaupun Junyoung pernah, saat pertama kali sahabatnya itu tahu tentang Daehyun. Dia tidak pernah ingin tahu mengapa ayah Junyoung begitu tega menduakan istrinya. Akan tetapi, setelah ditanyakan, rasa penasaran mulai tumbuh dengan cepat.

“Kami bersama sebelum ayahnya dijodohkan dengan istrinya sekarang dan kami pun terpaksa berpisah. Aku kembali ke Busan, menjaga ibuku yang sering sakit-sakitan. Beberapa tahun kemudian ibuku meninggal, membuatku cukup terpuruk. Aku mulai menyukai kehidupan malam.

“Kemudian, aku tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi. Dia bersama rekan-rekan kerjanya merayakan keberhasilan proposal penelitian mereka yang diterima oleh pemerintah dan diberikan dana maksimal. Kami berbincang-bincang sebentar ditemani beberapa gelas alkohol. Tidak terlihat berbahaya. Besokannya aku berada di satu tempat tidur dan memutuskan untuk melupakannya seakan tak pernah terjadi.

“Aku tidak menyangka ternyata hal itu berakibat cukup berat. Aku hamil. Sebenarnya itu bukan hal yang rumit, keluargaku lainnya siap untuk membantuku. Ayahku mendukungku untuk mengaborsinya. Namun aku melihatnya sebagai tanda bahwa aku dan ayahnya Daehyun memang berjodoh. Jadi aku datang ke Seoul dengan berniat untuk mengacaukan segalanya. Semuanya berjalan lancar karena aku langsung bertemu dengan ibu Junyoung.

“Aku mengarang segalanya untuk menekankan bahwa aku dan ayahnya Daehyun tidak bisa dipisahkan. Usahaku hampir membuat rumah tangga mereka hancur. Percayalah, aku benar-benar hampir berhasil! Ayah Daehyun adalah dokter muda yang sangat hebat sehingga dia cukup terkenal sehingga banyak orang yang siap melahap setiap berita tentangnya. Ku kira semuanya akan berhasil tapi akhirnya aku sadar aku hanya mempermalukan diriku dan keluargaku karena aku diberi bukti bahwa kesempatanku sudah tidak ada. Ayahnya Daehyun mencintai istrinya walaupun dengan cara yang sedikit aneh. Aku memutuskan untuk mundur setelah itu.”

Jessica tidak bisa menutup mulutnya. Dia tidak pernah menyangka wanita yang selalu berpikiran positif di depannya pernah hampir menghancurkan kehidupan seseorang.

“Tapi aku bersyukur tidak mengaborsi bayiku,” tambah ibunya Daehyun dengan nada becanda. “Semua orang pernah melakukan kesalahan. Semakin dewasa seseorang bukan berarti semakin sedikit kesalahan yang ia lakukan. Mustahil. Pelajari dan nikmati setiap kesalahan itu.”

“Lalu mengapa kau menyebut masalahku sebagai karma?” bingung Jessica.

“Duh,” nyonya Jung terkekeh pelan. “Kini dia dipermainkan oleh gadis cantik seperti ayahnya. Aku tidak tahu harus kasihan atau bersyukur karenanya.”

Jessica cukup tersinggung mendengarnya. Dia menundukkan kepalanya menyesal.

“Hei, hei. Sudah ku bilang, semua orang pernah melakuka kesalahan. Jangan terlalu larut dalam penyesalan. Lagipula karama itu baik. Karma adalah sebuah pengalaman dan pengalaman membuat sebuah kenangan. Keren, ‘kan?”

Nyonya Jung tertawa. Entah mengapa Jessica ikut tertawa walaupun dia pikir dia sedang tidak ingin tertawa. Tawa mereka diganggu oleh suara dering dari handphone milik nyonya Jung. Wanita paruh baya itu segera mengangkatnya dengan wajah berseri-seri, membuat Jessica tersenyum kecil. Nyonya Jung tidak mengatakan apapun, dia hanya menanggapi teleponnya dengan gumaman.

“Ah, lebih baik kau istirahat terlebih dahulu. Aku harus masak banyak karena ternyata aku kedatangan dua tamu hari,” seru nyonya Jung.

Jessica mengangkat alisnya. “Siapa?”

Wajah nyonya Jung berubah menjadi sedikit tidak nyaman. “Uh, Sooyeon-ah, sebelumnya aku minta maaf.”

“Uh?”

“Saat aku membuatkan minum untukmu, aku memberitahu Daehyun tentang kedatanganmu jadi dia segera menyusul. Dia sudah berada di bandara sekarang.”

Matilah aku!

***

HALO HALO AKU KEMBALI!!!!

Hayo siapa aja yang udah nunggu kelanjutan 180? Selamat bagi kalian yang masih setia menunggu kelanjutan ff ini karena chapter selanjutnya adalah ending (/’-‘)/

Maaf kalo ceritanya jadi ngebosenin dan jelek. Aku agak-agak lupa feelnya huhuhu

Dan maaf juga karena lama. Tepat setelah aku posting pengumuman itu, masa aku sakit. Pas aku sembuh, adikku yang sakit jadi aku harus jagain dia. Ditambah mama lagi pergi ke klaten dan kudus. Sedih banget ga ada yang ngurusin rumah jadi terpaksa lah aku ditunjuk jadi pembantu dadakan T__T

Dan, aku ga tau bisa ngepost ff kapan lagi karena aku harus balik ke kosan tiap minggu-senin untuk ngajar anak jalanan sedangkan laptop papa cuma bisa aku pake tiap weekend selama pepo sang laptop tercinta masih koma dan belum siap dioperasi. aku ga rela laptopku disentuh orang apalagi dibongkar ;_;

41 thoughts on “180° – Chapter 12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s