[FREELANCE] (Twoshoot) Difficult Feeling 1/2

Difficult Feeling

[TWOSHOOT/1 OF 2]
DIFFICULT FEELING

TITLE:
Difficult Feeling

Author:
_Sicaa.gorJESS

Rating:
T

Genre:
Romance, Sad, Angst, Family

Length:
Twoshoot

Main Cast:
Jessica Jung | Oh Sehun | Luhan

Disclaimer:
Cerita ini 100% original asli dari hasil pemikiran author. Semua pemain di dalamnya adalah milik Tuhan dan kedua orang tua mereka, author hanya meminjam nama. Jika terdapat kesamaan tempat ataupun alur cerita, itu adalah sebuah ketidak sengajaan. Tolong menghargai karya author dengan cara memberi komentar. Don’t be silent reader, don’t bashing.

 

 

 

Author POV

Seoul Hospital Center
13.55 KST

Siang ini, mungkin bisa dikatakan menjadi salah satu hari yang melelahkan bagi Jessica. Bagaimana tidak? Rumah sakit tempat ia bekerja sebagai seorang perawat menerima banyak pasien pelajar yang pagi tadi menggelar aksi perkelahian massal. Ia dan para dokter juga perawat lainnya menjadi harus bekerja 2 kali lipat dari sebelumnya.

“Perawat Jung! Tolong panggilkan dokter Wu!” Seru salah seorang dokter yang tampak sedang serius memeriksa denyut nadi pasiennya.

Perawat Jung, atau gadis yang bernama lengkap Jessica Jung itu pun segera menyahut lantang lalu bergegas pergi dari ruang gawat darurat menuju sebuah kamar pasien yang tidak terlalu jauh dari posisi awalnya.

“Permisi, dokter…” Sahut si perawat cantik itu dengan perlahan.

“Ne?” Balas dokter Wu yang tampak sedang menulis di catatan kecilnya tanpa menoleh sedikitpun pada Jessica.

“Anda dipanggil oleh dokter Kim di ruang gawat darurat, dokter…” Ujar perawat Jung sembari menatap sang dokter dengan perlahan.

“Baiklah… Tapi tolong jaga pasien ini. Terus pastikan bahwa nafasnya tetap beraturan.” Jawab dokter bermarga Wu itu dengan wajah datarnya sembari beranjak dari kursinya yang berada tepat di sebelah ranjang pasiennya.

Jessica hanya dapat mengangguk pelan, tidak bisa menolak. “Baik, dokter…”

Perlahan, pintu ruangan itu pun tertutup ditandai dengan perginya dokter bertubuh jakung itu. Jessica hanya dapat menghela nafasnya dengan perlahan. Menanti sampai sang dokter kembali ke ruangan itu.

Tak berselang lama, pasien yang tengah berbaring di ruangan itu pun tampak mengerjapkan kedua kelopak matanya. Dan orang pertama yang dapat ia lihat adalah Jessica.

“Gwenchanayo?” Tanya Jessica perlahan pada pemuda berusia sekitar 17 tahun itu.

Namja itu hanya dapat menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari merapatkan kedua alisnya kebingungan.

“Nona, apa kau malaikat? Kapan aku meninggal?” Tanya namja itu dengan wajah kebingungan.

“Maksud anda?”

“Apa aku sudah sampai di surga sekarang? Apa kau bidadari penghuni surga?” Tanya namja itu lagi namun masih dengan ekspresi yang sama.

“Anda berada di rumah sakit sekarang.” Jawab Jessica ramah pada sang pasien yang belum sempat ia lihat data dirinya itu.

“Ah, geurae? Kalau begitu, jadilah kekasihku…” Kata si pasien tadi yang langsung sukses membuat kedua mata foxy milik Jessica terbelalak.

“Ck, apa anda mengigau? Sebaiknya beristirahatlah kembali, saya akan memanggilkan dokter.” Ujar Jessica gugup sembari berniat bergegas pergi dari tempat itu.

“Aniyo! Duduklah disini dan temani aku.” Kata pasien itu lagi dengan posisi yang masih setengah berbaring. Tampaknya, ia pun masih belum terlalu sadar dengan penglihatannya.

Jessica hanya dapat menatap namja berambut coklat tua itu dengan tatapan tak percaya sembari menggeleng – gelengkan kepalanya perlahan.

Tidak heran anak ini terlibat dalam perkelahian massal. Sopan santunnya pun tidak ada, pikir Jessica.

Berselang beberapa detik, Jessica pun akhirnya memilih kembali duduk di kursi dekat ranjang itu. Ia lalu mengambil setumpuk kertas yang berisikan data – data namja di sampingnya ini.

“Nona, siapa nama anda?” Tanya namja itu pada Jessica dengan perasaan antusias seperti tidak merasakan rasa perih sedikit pun akibat wajahnya yang penuh dengan bekas pukulan.

“Maaf, saya sedang bekerja.” Jawab Jessica pasti tanpa menatap namja yang baru saja ia ketahui bernama Oh Se Hun itu.

“Kalau begitu, pinjamkan ponsel anda.” Ujar namja itu semakin lancang.

“Untuk apa, tuan?” Tanya Jessica kesal sembari memberikan penekanan di setiap katanya.

“Aku ingin menelfon ibuku.. Apa itu juga tidak boleh?”

“Kalau soal itu, rumah sakit yang akan menelfon orangtua anda. Jadi, saya beritahu sekali lagi, anda cukup berbaring dan menunggu dokter Wu kembali kesini.” Jelas Jessica panjang lebar.

Namja itu berdecak dengan ekspresi kesalnya, “Ini masalah pribadi. Aku adalah seorang pasien yang membutuhkan pelayanan di sini. Apa kau tidak bisa mengerti itu, eoh?” Bentak namja itu dengan bahasa informalnya.

Jessica hanya dapat menghela nafas panjang. Meskipun saat ini ia sangat kesal, tapi tetap saja, seorang perawat tidak boleh berbicara informal apalagi berucap kasar pada pasien. Dan yah, beginilah jadinya. Perawat cantik itu hanya dapat menghela nafas…

“Ini.” Ujar Jessica sembari menyodorkan ponsel berwarna putih miliknya pada namja bertubuh lumayan tinggi itu.

Dan dengan cepat, namja itu pun segera mengambil ponsel tadi dan mengetikkan beberapa deret angka pada layar ponsel itu.

Namun, bukannya menempelkan ponsel itu di telinganya, namja itu justru segera mengakhiri panggilannya setelah lebih dari beberapa detik.

“Nah, selesai…” Gumamnya kecil, namun masih dapat terdengar di telinga Jessica.

“Selesai? Apa yang selesai? Kau bahkan… ehm, ani… Anda bahkan belum berbicara sepatah katapun di telepon. Apanya yang selesai?” Tanya Jessica keheranan.

“Ini, ambillah. Tunggu telepon dariku, yah?” Ujar namja itu sembari meletakkan ponsel milik Jessica di ranjangnya dan melompat keluar jendela ruangan itu dengan seringaian yang cukup membekukan Jessica saat itu juga.

Jessica membulatkan kedua matanya. “Mwo! Dia menyalin nomorku!”

 

_**********_

Malam hari sudah tiba. Saatnya seluruh anggota keluarga Oh berkumpul di meja makan untuk mengisi perut mereka.

“Sehun-ah.. Berhenti memainkan ponselmu. Makanlah dulu, baru memainkannya lagi.” Tegur Nyonya Oh sembari menuangkan segelas air untuk suaminya.

“Ne, eomma.”

“Tapi apa benar, kau baik – baik saja? Wajahmu sudah setengah membengkak seperti itu, apa masih bisa kau berkata tidak apa – apa?” Kini giliran Tuan Oh yang menyahut.

“Jinjja, appa. Gwenchana…” Balas Sehun berusaha meyakinkan.

“Seharusnya, kau beristirahat saja dulu di rumah sakit, biar aku yang menjemputmu.” Ujar seorang namja yang berada tepat disamping Sehun.

“Aku baik – baik saja, Hyung! Kau tidak percaya? Lihat saja, seperti biasanya, ‘kan? Aku bahkan bertemu dengan seorang bidadari cantik siang tadi.” Ujar Sehun masih terus berusaha meyakinkan keluarganya.

“Hhhh, terserah kau sajalah. Tapi, apa kau tidak bertemu dengan temanku di sana?” Tanya Luhan- kakak Sehun yang berbeda usia 5 tahun dengannya.

“Nugu?”

“Dia seorang perawat di sana.”

“Molla… Nanti akan kucari tahu.” Ujar Sehun datar.

“Oh, ya.. Aku hampir lupa. Mungkin besok aku akan pulang lebih lama.” Kata Sehun menyambung kembali pembicaraannya.

“Wae? Kau mau berkelahi lagi, eoh?” Sela Tuan Oh dengan nada tegas sembari menatap putra bungsunya itu dengan tatapan mengantisipasi.

“Ani, appa. Aku hanya ingin mengunjungi seseorang.”

“Nugu?” Tanya Nyonya Oh dengan segera.

“Seseorang. Dia bukan pecandu narkoba ataupun pemabuk. Jadi eomma, appa dan hyung tenang saja. Aku tidak akan berbuat macam – macam.” Jelasnya sembari menatap ketiga orang di sekelilingnya dengan tatapan yang tidak biasanya.

 

_**********_

Seoul Hospital Center

Suasana rumah sakit hari ini tampak sangat tenang. Tidak seperti kemarin, orang – orang berlalu lalang dengan cepat, para dokter dan perawat tampak dibanjiri oleh peluh akibat terlalu sibuk. Ya, setidaknya waktu – waktu seperti inilah yang di dambakan para dokter dan perawat agar dapat sedikit  lebih bersantai.

“Perawat Jung!” Panggil salah seorang perawat wanita pada Jessica yang tengah mempersiapkan peralatan operasi di ruang ICU.

Mendengar namanya dipanggil, Jessica pun segera menoleh, mencari asal suara.

“Ne, ada apa?” Jawabnya spontan.

“Seseorang mencarimu. Dia di ruang tunggu saat ini.” Ujar perawat tadi seadanya.

Jessica mengerutkan dahinya sejenak. Kembali mengingat – ingat siapa saja yang harus ia temui hari ini. Neneknya yang berasal dari San Fransisco? Teman kecilnya? Namjachingunya? Sepertinya tidak.

“Apa dia memberitahu namanya?” Tanya Jessica lagi.

“Ani… Dia hanya memperlihatkan nomor telfonmu. Dan dia juga tidak tahu siapa namamu.”

“Ah, baiklah. Aku akan segera menemuinya. Gomawo ne?” Ujar Jessica menutup pembicaraan sembari tersenyum, disusul dengan berlalunya si perawat tadi.

Jessica lalu kembali dengan pekerjaannya menata peralatan operasi. Setelah di pikirnya selesai, ia pun segera bergegas ke ruang tunggu pasien di lantai bawah.

Namun, belum sempat ia sampai di tempat tujuan, sebuah tangan terasa menepuk pundaknya dan membuatnya hampir saja terjatuh ke lantai karena terkejut. Tapi bersyukurlah gadis berdarah blasteran itu, karena tangan yang tadi mengejutkannya segera menariknya kembali lalu mendekapnya.

Hangat, bau yang khas, dan damai… Begitulah kiranya isi kepala Jessica saat ini.

Perlahan, dekapan itu mulai merenggang. Kesempatan yang tepat untuk tahu siapa yang baru saja memberikannya pelukan hangat.

“Annyeong!” Ujar namja itu, namja yang berhasil membuat Jessica sempat meleleh akibat dekapan hangat yang ia dapatkan.

Sontak, mata Jessica kembali terbelalak. “Ya! Neo!” Teriaknya dengan suara lumba – lumbanya yang cukup atau bisa dibilang sangat memekakkan telinga.

Jessica segera mendorong namja dihadapannya itu dengan ekspresi kesalnya yang bisa dibilang cukup lucu mungkin.

“Kau namja kemarin, ‘kan?! Kenapa kau kemari, eoh?” Pekik gadis itu sekali lagi.

“Ah, suaramu itu… Benar – benar….” Gumam namja itu sembari menekan – nekan telinganya yang terasa sakit akibat mendengar pekikan yeoja dihadapannya ini.

“Jika kau hanya ingin menjahiliku, sebaiknya pulanglah. Aku ingin menemui seseorang di ruang tunggu.”

“Ya! Aku orang yang mencarimu itu.” Jawab namja bernama Oh Sehun itu dengan wajah datarnya.

Jessica berdecak kecil, “Ck, harusnya aku tahu itu.” Ujarnya lalu menggigit pelan bibir bawahnya.

Gadis itu lalu berbalik arah, berniat untuk kembali ke ruang ICU untuk mengecek kembali kelengkapan alat operasi yang ia siapkan tadi.

“Ya! Kau mau kemana? Hei!” Panggil namja itu sembari menyikut lengan gadis di sebelahnya itu.

“Memangnya ada apa, eoh? Kau masih belum puas setelah mengambil nomor teleponku? Ck, menyebalkan.” Sergap Jessica dengan tatapan glarenya.

“Ani… Aku ha-”

“Dan juga, apa kau tahu berapa usiaku? Seharusnya kau memakai bahasa yang lebih sopan. Kau bahkan seperti berbicara pada budakmu. Ah, sulit di percaya…” Jelas Jessica tegas lalu kembali melangkahkan kakinya dengan perlahan.

“Aku hanya ingin berbicara sebentar. Apa itu juga tidak boleh?”

“Berbicara apa? Katakan saja sekarang. Aku tidak punya banyak waktu.” Ujar gadis itu sinis.

“Memangnya seorang perawat selalu sesibuk ini?” Tanya Sehun sembari menautkan kedua alisnya.

“Hhhh… Menurutmu bagaimana? Bukankah kau seorang pelajar? Apa kau tidak belajar hal – hal seperti ini? Dan juga… Ini masih pukul 08.30. Bukankah seharusnya kau masih di sekolah? Apa gurumu tidak mencarimu?” Tanya Jessica terus menerus, membuat Sehun hanya mampu menghela nafas kasarnya.

“Baiklah, baik… Aku akan pergi. Aku tidak akan datang kecuali ada sesuatu hal yang penting. Tapi lain kali, bisakah kau menyambutku dengan baik? Aku tidak suka mendengar omelan.” Jawab namja tadi dengan entengnya, tidak merasakan ada aura kemarahan yang tertuju padanya.

“Kalau begitu, pergilah.. Dan jangan coba menghubungiku.”

“Lalu apa gunanya aku mengambil nomor telfonmu jika pada akhirnya aku tidak bisa menghubungimu?”

“Kau cari mati, ya?! Pulanglah!” Pinta Jessica dengan intonasi setengah berteriak.

“Tapi, namamu…” Ucap Sehun dengan suara yang cukup kecil.

“Itu tidak penting. Pulanglah…” Ujar Jessica lalu segera bergegas kembali ke ruang ICU, meninggalkan namja berseragam sekolah itu dengan tatapan kesal.

 

_**********_

Jessica berjalan santai di sepanjang koridor rumah sakit, tempat ia bekerja. Hari ini terasa seperti biasa baginya, membawa nampan makanan untuk para pasien, membantu menyiapkan peralatan operasi, mengecek keadaan para pasien dan hal lain sebagainya masih tetap ia lakukan. Dan kini, ia baru saja selesai dari tugasnya mengantarkan makanan. Kini, ia berniat untuk beristirahat sejenak di kantin rumah sakit.

Langkah pelan, namun pasti.. Gadis itu terus berjalan santai.

Namun tiba – tiba.

“Kau datang lagi?” Ucapnya dengan nada frustasi sembari menatap sesosok namja di hadapannya dengan tatapan tak percaya.

Namja itu… Oh Sehun, mulai melangkah kearah yeoja dihadapannya yang mulai menatapnya kesal.

“Kemarin kau berjanji untuk tidak kemari kecuali ada hal penting. Mwo? Kau mau mengelak lagi?” Ujar Jessica sambil menatap namja berusia 5 tahun lebih muda darinya itu dengan tatapan tidak suka.

Namja itu hanya terdiam. Berfikir apa yang harus ia katakan mungkin.

“Aku lelah. Berhenti bermain – main.” Sela gadis itu.

Sehun yang tadinya hanya diam tidak berkutik, segera memperlihatkan tangan kirinya yang bersimbah darah pada Jessica sembari memberikan ekspresi memelas.

Jessica yang menyaksikan hal itu langsung tersentak dan menatap namja dihadapannya keheranan.

“Neo! Tanganmu terluka seperti ini… Apa kau bodoh? Jika darahmu terbuang habis, kau bisa mati lemas nantinya. Kajja, ikut aku.” Ucap Jessica dengan ekspresi panik lalu menarik lengan Sehun dengan cepat.

~—~

Sehun POV

Gadis ini masih saja mengoceh. Entah hanya perasaanku saja atau apa, dia tampaknya cukup peduli denganku. Buktinya, belum sempat aku mengatakan sepatah katapun tentang luka di tanganku ini, dia sudah langsung panik.

“… jika penanganannya terlambat, maka darahmu bisa habis. Masih bagus jika golongan darahmu O atau B positif. Golongan darah itu masih mudah ditemukan. Tapi bagaimana jika golongan darahmu AB? Kita bisa apa? Harusnya kau kemari lebih awal….” Dan bla bla bla…

Dia belum berhenti berbicara sejak tadi. Bahkan saat ia memperban tanganku pun, dia masih saja terus berbicara. Jujur saja, aku paling benci jika orang mengoceh di hadapanku. Tapi rasanya, entah mengapa…. kali ini berbeda.

Aku senang memperhatikannya berbicara, dia lucu… Baru pertama kalinya aku bertemu dengan gadis yang bisa membuatku nyaman seperti dia. Bukankah ini langka? Apa aku menyukainya? Yah, terasa menggelikan memang. Tapi, aku benar – benar merasakannya.

“… nah, sudah selesai. Coba gerakkan lenganmu.” Ujarnya.

Aku hanya dapat mengikuti setiap perkataannya saat ini. Menggerak – gerakkan lenganku secara perlahan. Dan ya, perih memang. Tapi setidaknya, karena luka hasil memanjat pagar sekolah ini, aku tidak diusir lagi oleh yeoja yang masih belum kuketahui namanya ini.

“Ini akan sembuh dalam beberapa minggu. Jadi, untuk sementara, jangan terlalu digerakkan. Arasseo?” Pinta gadis itu sembari menatapku penuh khawatir.

“Ne.. Gomawo.”

Gadis itu hanya membalasku sembari tersenyum tulus. Senyum yang langsung membuat hatiku bergetar kuat.

“Tapi, bagaimana bisa kau terluka seperti ini?”

“Aku bolos sekolah tadi. Tapi, saat aku memanjat pagar sekolahku, tanganku tertancap di ujung pagar yang ujungnya memang runcing. Jadilah, seperti ini…” Jelasku yang langsung sukses membuatku mendapatkan sebuah pukulan di ujung kepalaku.

“Aigoo~ Kau ini…Dua hari yang lalu, kau baru saja terlibat dalam perkelahian antar sekolah, dan sekarang kau juga membolos? Ck ck ck, bagaimana pendapat orangtuamu, eoh? Mungkin mereka akan menyesal telah melahirkanmu.” Ujarnya lagi sembari menatapku dalam.

“Kupikir lebih dari itu.”

“Mwo?”

“Orangtuaku bahkan sudah pernah mengutukku. Mereka bilang, aku dan hyungku bagaikan iblis dan malaikat.”

Gadis itu lalu memutar bola matanya keatas sembari terkekeh pelan, “Memang seharusnya begitu mungkin…” Ujarnya yang hanya dapat kubalas dengan tawa kecil.

 

_**********_

Author POV

Hari demi hari kini mulai dilalui Jessica dengan bersama seseorang yang baru. Bahkan, ia dan namjachingunya pun hanya bertemu seminggu sekali karena rutinitas padat yang dimiliki kekasihnya. Ya, hampir terlewatkan. Jessica memang sudah memiliki namjachingu, namun hal itu belum diketahui Sehun sejak pertama kali mereka bertemu. Sehun hanya terfokus pada perasaannya sendiri. Ia hanya ingin merasa nyaman dalam menjalani kehidupannya sehari – hari. Dan kini, ia bisa mendapatkannya saat bersama Jessica.

Dan jika sebelumnya perjanjian mereka adalah bertemu jika ada hal penting, sekarang mulai berbeda. Sehun bahkan bisa setiap hari menemui gadis itu di rumah sakit tanpa ada alasan khusus. Hanya untuk sekedar mengobrol, atau saling memberi nasihat. Atau lebih tepatnya, mendengarkan nasihat – nasihat Jessica. Seperti sebagaimana kenyataannya, Jessica lebih tua, lebih banyak bicara dan lebih berfikiran dewasa dibandingkan Sehun yang masih menginjak sekolah menengah atas. Dan secara tidak sengaja, setiap hari yang Sehun lewati bersama Jessica membawa perubahan positif untuk Sehun sedikit demi sedikit.

“Bagaimana hasil ujianmu?” Tanya Jessica membuka percakapan diantara ia dan Sehun.

Sehun mengulas sebuah senyum dibibirnya, “Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku berjanji padamu, aku akan belajar dengan tekun dan mendapatkan nilai A. Dan sekarang, aku menepatinya.” Ujar Sehun lalu menyodorkan selembar kertas kecil pada Jessica yang membuat gadis dihadapannya itu segera tersenyum bangga melihat tulisan di kertas kecil itu.

“Kau tahu, Sehun-ah… Ini pertama kalinya aku merasa, kau bisa dipercaya.” Ujarnya lalu menyimpan kertas tadi di saku jaketnya.

“Kau ini… Jadi selama ini kau tidak pernah mempercayaiku, eoh? Lalu untuk apa kau terus – terusan memberikan aku nasihat padahal sebenarnya kau tidak percaya padaku?” Tanya Sehun menuntut sembari menatap kedalam manik mata gadis dihadapannya itu.

“Molla. Aku hanya berkata apa yang seharusnya kukatakan.”

“Aissshh… Kau ini.”

“Hei, berhenti berbicara informal. Ingat, aku ini 5 tahun lebih tua dibandingkan kau.” Kata Jessica dengan nada yang terdengar cute di telinga Sehun.

“Tapi kau tampak lebih muda dibandingkan aku. Bukankah lebih cocok jika kau memanggilku oppa?” Tanya Sehun yang kembali membuat ia harus mendapatkan pukulan kecil di kepalanya.

“Kau, benar – benar…”

Ya, begitulah kini kedekatan keduanya. Seperti telah bertahun – tahun saling mengenal.

_**********_

Oh’s Family Apartement
20.00 KST

“Luhan-ah, kapan kau mau mengenalkan kekasihmu pada eomma, appa, dan Sehun, eoh?” Tanya Nyonya Oh pada putra sulungnya di sela – sela acara makan malam keluarga itu.

Luhan hanya menatap eommanya sembari tersenyum penuh arti.

“Jika eomma benar – benar ingin bertemu dengannya, aku bisa mengajaknya kemari besok lusa. Bagaimana?” Usul Luhan yang di respon bahagia oleh keluarga itu.

“Oh, ya. Sehun-ah, kemarin appa mendapat surat panggilan dari kepala sekolahmu. Awalnya, appa pikir kau berulah lagi. Tapi ternyata, appa dipanggil untuk mengkonfirmasi nilai – nilai ujianmu yang berkembang drastis. Appa sangat senang. Kau tahu, appa… sangat bangga padamu.” Jelas Tuan Oh yang hanya dibalas senyum lebar dari Sehun.

“Aku tidak akan berulah lagi, appa.. Aku janji.” Ujarnya lalu kembali menyantap makanan dihadapannya.

_**********_

2 Days Later
Oh’s Family Apartement
20.30 KST

Suasana rumah di kediaman Oh hari ini terasa sedikit berbeda. Seluruh anggota keluarga di rumah ini tampak sibuk mempersiapkan diri untuk acara makan malam bersama teman spesial yang di janjikan Luhan beberapa hari yang lalu.

Dan setelah berselang beberapa menit, akhirnya tamu spesial yang sejak awal dinanti – nanti itu pun datang memasuki kediaman keluarga Oh.

“Appa, eomma! Aku pulang…” Sahut Luhan sembari menggenggam tangan kekasihnya itu memasuki kediamannya dan melangkah perlahan kearah ruang makan.

“Luhan-ah…” Sahut Nyonya Oh dengan senyum yang mengembang.

“Ini, yeoja yang sering kuceritakan, eomma.” Ujar Luhan memperkenalkan yeojachingunya kepada keluarganya.

Sementara itu, Sehun yang baru saja keluar dari kamarnya pun tampak penasaran dengan sosok istimewa hyungnya. Namja itu pun segera mendekat kearah ruang makan dan betapa terkejutnya ia melihat sosok gadis itu.

Gadis dengan dress berwarna putih selutut dengan rambut yang tergerai panjang itu. Seseorang yang di kenal Sehun. Atau bisa dikatakan, seseorang yang akhir – akhir ini mengisi relung hatinya.

“Perawat Jung?” Sahutnya yang sontak membuat semua yang ada di ruang makan menatap kearah Sehun yang tampak sangat syok saat itu.

“Sehun-ah…” Gumam Jessica dengan ekspresi yang hampir tidak berbeda dengan Sehun.

Luhan yang melihat kejadian ini hanya dapat mengerutkan dahi. Kebingungan? Ya, sudah pasti. Melihat yeojachingunya dan dongsaengnya saling mengenal seperti ini, kata apa lagi yang lebih tepat menggambarkan isi kepala seorang Luhan?

“Kalian saling kenal?” Tanya Luhan lalu menatap Jessica.

“Kau mengenal dongsaengku?” Tanya Luhan penasaran.

Jessica segera memalingkan pandangannya kearah Luhan dan menatapnya dalam – dalam. Ia tidak tahu perasaan apa yang kini menghantuinya, tapi… dia gugup. Dia takut Luhan salah paham akan hal ini.

“N-ne. Sehun, pernah menjadi pasienku saat ia terlibat perkelahian antar pelajar. Dan, kami sempat mengobrol saat itu.” Jelas Jessica singkat seadanya.

Tanpa perasaan curiga apapun, Luhan hanya tersenyum lalu mengangguk pelan kearah yeoja dihadapannya itu.

“Kalau begitu, kajja. Ayo duduk.” Ajak Nyonya Oh ramah sembari menarik Sehun untuk ikut bergabung di acara makan malam keluarga itu.

“Jadi, siapa namamu, dear?” Tanya Nyonya Oh lembut.

Jessica menatap Nyonya Oh sejenak lalu tersenyum manis, “Naneun, Jessica Jung imnida.”

“Wah, nama dan orangnya sama – sama cantik.” Sahut Tuan Oh meramaikan suasana. Jessica pun hanya dapat tersenyum menanggapi komentar sang ‘calon mertua’.

“Kau tahu, eommaku sudah lama menungguku untuk mengenalkanmu pada mereka. Akhirnya, kau bisa kemari juga.” Ucap Luhan pada yeoja cantik di sebelahnya.

Jessica hanya dapat tersenyum kembali, “Jinjja? Sejak dulu, aku juga sangat ingin bertemu dengan eomonim dan aboji. Tapi, aku masih sangat sibuk dengan pekerjaanku.” Jelas Jessica mengisi kekosongan suasana yang masih sedikit canggung itu.

“Oh, ya. Itu dongsaengku. Dia masih duduk di bangku sekolah menengah atas tingkat pertama. Kalian sudah saling mengenal, ‘kan?” Tanya Luhan yang hanya di balas anggukan oleh keduanya.

“Tapi, seberapa jauh kalian saling mengenal?” Tanya Luhan sekali lagi.

Sehun tersentak saat itu juga. Di sini bukan masalah soal seberapa jauh mereka saling mengenal. Tapi, ini tentang perasaannya pada Jessica yang semakin hari semakin bertumbuh. Ia menyukai gadis itu. Tapi kenapa? Kenapa harus gadis itu yang menjadi orang istimewa di hati hyungnya?

“Kami, hanya saling mengenal nama. Dan… selebihnya, kami hanya mengobrol biasa.” Jelas Jessica menutupi kenyataan bahwa ia dan Sehun sangat sering bertemu.

“Kalau begitu, pasti kau terkejut saat tahu, bocah tengik ini adalah dongsaengku.” Terka Luhan sembari tersenyum.

“Aniyo… Dia cukup baik.” Ujar Jessica yang sontak mengejutkan seluruh anggota keluarga Oh itu.

“Baik? Ya, nilai – nilainya memang berkembang pesat akhir – akhir ini, tapi soal sopan santun, Sehun hanya bisa mengatakan ‘Halo’ (secara formal) dengan tulus.” Timpal Tuan Oh sambil terkekeh pelan di susul oleh suara tawa yang lainnya.

_**********_

Seoul Hospital Center

“Kau memintaku kemari, ada apa?” Sahut Jessica dari balik punggung Sehun yang sejak tadi menunggunya.

Sehun hanya dapat menatap gadis itu sendu saat ini. Tidak ada rasa menggelora lagi saat ia bertemu dengan gadis ini, sejak acara makan malam beberapa hari yang lalu itu. Hatinya sangat rapuh saat ini. Ya, sejak ia tahu, bahwa yeoja yang selama ini empat tahun belakangan ini menjalin cinta dengan hyungnya adalah gadis pujaannya.

“Sebenarnya…” Kalimat Sehun terpenggal begitu saja. Meninggalkan sebuah tanda tanya besar di kepala Jessica.

“Ada apa?” Tanya Jessica sekali lagi.

Sehun segera menatap kedalam sepasang manik mata kecoklatan milik Jessica yang terasa sangat sejuk itu. Mulai memberanikan diri untuk mengatakan hal yang sebenarnya ia rasakan saat ini. Namun, untuk menelan salivanya pun terasa sangat sulit saat ini. Bagaimana ia bisa mengatakan segalanya?

“Aku bukannya ingin menghindar darimu, tapi jujur saja… aku benar – benar sibuk saat ini. Jadi kumohon, ringkas semuanya dengan benar.” Ucap Jessica lembut.

“Aku menyukaimu.”

Sepenggal kalimat yang baru saja diucapkan Sehun tadi sontak mengejutkan Jessica.

“N-ne?”

“Aku menyukaimu, Jessica Jung. Perasaan ini, aku yakin sama persis dengan perasaan hyungku terhadapmu.” Ujar Sehun sembari terus menatap mata Jessica.

“Aku sudah yakin dengan perasaanku. Tapi, kau… aku tidak tahu.” Ucap namja itu jujur.

Jessica hanya dapat mematung saat ini. Lidahnya kelu. Ia bingung harus mengatakan apa. Jujur saja, ia sangat mencintai Luhan. Tapi, apakah harus ia jujur seperti itu pada namja dihadapannya tanpa memikirkan perasaan namja itu?

Ini terasa sangat sulit untuknya.

“Sehun-ah… Jujur, aku sangat peduli padamu. Aku selalu mengkhawatirkanmu setiap saat. Aku takut kau terluka. Tapi, bentuk perhatian seperti ini, menurutku… hanyalah sebatas rasa sayang. Jika kau bertanya, apa aku menyayangimu, pasti aku menjawab ‘ya’. Tapi jika kau bertanya apa aku menyukaimu… jawabannya, ‘tidak’… Aku mencintai Luhan.” Jelas Jessica lembut namun sangat menusuk untuk Sehun. Ia merasa dunia benar – benar tidak bersikap adil padanya.

“Mianhae, Sehun-ah…” Sambung Jessica sekali lagi.

Merasakan heningnya suasana saat ini, Sehun segera menepis wajah penuh kekecewaan miliknya. Ia sangat malu saat ini. Rasanya, ia ingin menyembunyikan wajahnya entah dimana. Namun, mau bagaimana lagi? Perasaannya sudah terlanjur terungkapkan terhadap gadis dihadapannya ini.

“Geurae… Seharusnya aku tahu, perasaanku adalah sesuatu hal yang salah. Tidak seharusnya aku berkata seperti ini padamu. Mianhae…” Ujarnya lalu bergegas pergi meninggalkan Jessica yang masih membatu di tempatnya.

Kini, gadis itu hanya dapat melihat sosok punggung yang bersedih itu. Sosok yang baru saja tersayat hatinya, karena gadis itu…

_**********_

Hari menjelang pagi. Sinar matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Jessica yang baru saja tersadar dari tidurnya, mulai menyiapkan diri untuk segera berangkat ke rumah sakit seperti rutinitasnya sehari – hari.

Tak berselang lama setelah menyiapkan sarapan paginya, ponsel putih milik gadis itu tampak berdering. Melihat nama namjachingunya tertera jelas di layar ponsel, Jessica pun segera meraihnya lalu menerima panggilan itu.

“Annyeong, oppa…” Sapa Jessica memulai percakapan.

“Annyeong. Eodiga?”

“Aku? Aku baru akan berangkat ke rumah sakit. Wae?”

“Saat makan siang nanti, aku akan kesana. Kau tidak sibuk, ‘kan?”

“Ne… Aku akan menunggumu.”

“Ehm, geurae… Annyeong.”

“Ne, annyeong.” Ujar Jessica lalu memutuskan panggilan teleponnya.

Ia lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku mantelnya. Namun saat memasukkan ponselnya itu, tangannya merasakan sesuatu di dalam saku mantelnya itu.

Ia meraih benda berbahan kertas itu lalu menatapnya nanar.

“Sehun-ah…”Gumamnya lirih sembari mengingat kembali saat – saat Sehun berjuang keras untuk mendapatkan nilai A pada ujiannya itu.

Ia merasa menyesal telah memberikan namja itu sebuah perhatian yang sedikit berlebihan. Jujur, ia sangat menyayangi Sehun. Namun, perasaan itu bukanlah cinta. Sehun telah salah mengertikan perasaan itu. Dan sekarang, hanya penyesalanlah yang tertinggal di hatinya.

“Hhhh, kuharap kau bisa mengerti, Sehun-ah.” Ujarnya sembari terus menatap kertas nilai milik Sehun yang sudah tampak sedikit tak beraturan itu.

_**********_

Jam makan siang sudah berlalu 10 menit. Jessica dan Luhan yang sejak tadi duduk berhadapan di salah satu café terdekat tampak mengobrol seperti biasanya. Luhan yang masih tampak mengenakan setelan jas kerjanya tampak menyeruput coffee latte miliknya.

“Luhan-ah…” Panggil Jessica pelan dengan suara khasnya.

“Ehm?”

“Apa, Sehun baik – baik saja?” Tanya gadis itu dengan suara yang terdengar lirih.

Mendengar pertanyaan kekasihnya, Luhan tampak segera menghela nafas panjang. Entah ia sedang kehabisan kata atau apa, tapi intinya… Sehun tidak dalam keadaan baik.

“Sehun… dia… sepertinya dia baru saja mengalami masa sulitnya.”

Jessica mendongak menatap Luhan, “Maksudmu?”

“Dia benar – benar kacau akhir – akhir ini. Dia bahkan sudah tidak mau ke sekolah lagi. Dia hanya menghabiskan waktunya di kamarnya. Bahkan, dia tampaknya sangat kesal padaku. Aku tidak tahu ada apa sebenarnya…” Jelas Luhan membalas tatapan nanar Jessica sembari terus merapatkan tangannya pada cangkir hangat dihadapannya.

“Padahal yang kutahu, dia adalah tipe orang yang akan terus berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Terasa sangat mustahil jika melihatnya berputus asa seperti ini.” Sambung Luhan.

“Aku, turut prihatin.” Balas Jessica lalu kembali menundukkan kepalanya.

“Tapi, kenapa kau bertanya seperti itu?”

Jessica tersentak. Ia mulai menggigit bibir bawahnya dengan perasaan gugup.

“Aniyo… Aku hanya ingin tahu.” Ujarnya sembari berusaha terlihat santai.

Luhan hanya mengangguk pelan lalu menatap kekasihnya itu dengan senyum getir.

 

 

To Be Continue…

16 thoughts on “[FREELANCE] (Twoshoot) Difficult Feeling 1/2

  1. Sehun kamvret 😂 nakal banget,untung cuma lebam2..
    bahkan dia nanya dia mati kapan dengan nada sesantai itu?aigoo sehun-ah~
    Tuh kan dia modus pengen minta nomernya jess unn..tapi pas tau jess unn pacarnya Luhan kasihan sama sehun sih,dia yang udah berusaha berubah jadi jauh lebih baik jadi putus asa gitu..hmm,pengen hunsic sih ngga tau kenapa feel nya lebih ke mereka… kkk Luhan?sama aku boleh?😂😂 *lol

  2. huaaaaa…. kasihan sehunnya patah hati… bagaimana yah jika luhan tau kalau adiknya mencintai jessica, apa luhan marah??? aku suka ff ini.. huaaaaa….

  3. ahhh sehunkuhh patah hati hiks hiks mana gamau sekolah kan wajar dia bad boy lah ini gamau keluar kamar? engga makan? cinta sesakit itukah? ngakak waktu dia bilang : “aku & hyungku bagaikan iblis dan malaikat” setidaknya iblis lebih menantang menurutku:’v suka juga pas awal ketemu sehun frontal banget minta nmr pake boong stiap hari ke RS pdhl udah ditolak apalagi pas tangannya ketancep/? berhari hari gatau namanya:3 kalo lusica end kan ga lucu 4thn kan? tapi kalo terus kasian sehun:( KEEP WRITING!!

  4. Waa keren thor
    Aku suka banget,, HunHan sama” suka Jessica ya?? Hayoo Jessica milih siapa? Sehun lagi galau ni
    Ditunggu next nya ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s