[FREELANCE] (Twoshoot) Difficult Feeling 2/2

Difficult Feeling

[TWOSHOOT/2 OF 2]
DIFFICULT FEELING

TITLE:
Difficult Feeling

Author:
_Sicaa.gorJESS

Rating:
T

Genre:
Romance, Sad, Angst, Family

Length:
Twoshoot

Main Cast:
Jessica Jung | Oh Sehun | Luhan

Disclaimer:
Cerita ini 100% original asli dari hasil pemikiran author. Semua pemain di dalamnya adalah milik Tuhan dan kedua orang tua mereka, author hanya meminjam nama. Jika terdapat kesamaan tempat ataupun alur cerita, itu adalah sebuah ketidak sengajaan. Tolong menghargai karya author dengan cara memberi komentar. Don’t be silent reader, don’t bashing.


Author POV
Oh’s Family Apartement
13.45 KST

Sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap tampak baru saja memasuki kediaman keluarga Oh.Mobil dengan merek yang cukup terkenal itu tampaknya adalah mobil milik anak sulung di keluarga itu.Ya, siapa lagi jika bukan Luhan.Namja yang baru saja keluar dari jok kemudi bersama dengan kekasihnya itu.

Tak berselang lama, mereka pun tampak mulai berjalan memasuki rumah yang hanya ada Sehun saat itu, membuat suasana rumah sudah terasa sepi bahkan dari luar sekalipun.

“Duduklah dulu.Aku akan mengganti bajuku sebentar.”Ujar Luhan lembut sembari mengelus pelan puncak kepala Jessica.Gadis itu hanya tersenyum sembari mengangguk pelan membalas ucapan namjachingunya itu.

Jessica lalu memilih duduk di sofa ruang tamu setelah berselang beberapa detik Luhan berlalu.Ia memandang sekitar, memandang seisi rumah itu dengan seksama. Terlihat banyak sekali foto yang terpajang disana. Bahkan piala…

Tunggu! Piala?

Jessica tampak mulai penasaran setelah melihat lemari yang berisikan piala – piala itu.Milik siapa kiranya itu? Setahu Jessica, sejak kecil Luhan tidak pernah dan tidak suka mengikuti perlombaan apapun. Luhan memang sangat pintar pada pelajaran, tapi soal perlombaan, dia benar – benar benci perlombaan.

Jessica berjalan perlahan kearah lemari itu lalu mencoba melihat nama pemilik piala – piala itu.

‘Oh Sehun | The Best Dancer 2010’

‘Oh Se Hun | Best Dancer Boys Categories 2011’

Dan masih banyak piala lainnya lagi.

Jessica terkejut sembari menutup mulutnya yang terbuka cukup lebar dengan telapak tangannya sembari terus menatap piala – piala itu dengan tatapan yang… tidak percaya mungkin.

“Si tukang bolos itu?Anak itu?Kalau dia punya bakat seperti ini kenapa dia jadi suka absen dari sekolahnya?”Gumamnya pada dirinya sendiri.

“Perawat Jung?” Seru seseorang dari balik punggung Jessica.Mendengar panggilan itu, Jessica dengan segera membalik badannya lalu menatap si pemilik suara.

“Sehun-ah…”

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Sehun dengan gaya yang tampak acak – acakan. Pakaian bahkan rambutnya tampak tidak beraturan lagi. Wajahnya bahkan bisa memunculkan pertanyaan, sudah berapa lama ia tidak mencuci muka?

“Aku diajak oleh Luhan kemari.Dia bilang, di rumahnya tidak ada makanan karena eomonim dan aboji pergi ke Busan.Jadi, aku kemari untuk memasakkan kalian sesuatu.”Jelas Jessica sembari tersenyum.

“Ah, geurae…”

“Tapi, apa benar piala – piala ini milikmu?Kenapa kau tidak pernah cerita bahwa kau pandai menari?”Tanya Jessica segera sebelum Sehun berniat bergegas kembali ke kamarnya.

Sehun terpaku sesaat, berfikir jawaban yang tepat untuk gadis cantik dihadapannya.

“Itu… sudah lama.Aku sudah kaku jika di suruh menari lagi.”Ujarnya menjawab dengan tatapan sayu.

Jessica lalu melangkah perlahan kearah Sehun yang masih mematung menyaksikan gadis itu.Jessica menatapnya dengan tatapan lirih.Sulit di gambarkan mungkin.Lalu jari – jari lentiknya yang sejak tadi menganggur, mengusap pelan kepala Sehun dengan sangat lembut.

“Kau tahu, bagaimana hancurnya aku saat tahu kau menjadi orang yang seperti ini?Kau tidak lagi mau ke sekolah, mengurung diri di kamarmu dan bertingkah aneh seharian penuh.Apa kau tahu apa yang kupikirkan saat aku mengetahui semua hal itu?”Tanya Jessica pelan sembari merapikan rambut Sehun yang benar – benar kusut dan tidak beraturan itu.

“Aku berfikir, mungkin semuanya adalah salahku.Sejak aku menolak perasaanmu, kau menjadi hancur.Aku… merasa bersalah.” Ujarnya dengan aktivitas yang sama, merapikan rambut Sehun.

Sehun hanya dapat terdiam.Ia tidak bisa berkutik sedikitpun. Belaian lembut Jessica terlalu menghayutkannya.Membawanya kembali pada perasaan – perasaannya pada gadis itu.Perasaan yang hanya di sebut cinta sesaat untuk remaja seusianya itu.

“Neo… Jika aku yang memintanya, apa kau akan melakukannya?”Tanya Jessica penuh harap sembari menepuk kedua bahu Sehun dengan tegas.

Sehun hanya dapat menatap gadis dihadapannya itu tanpa menjawab sepatah katapun.

“Bangkitlah… Kau menyia – nyiakan masa depanmu hanya karenaku, apa menurutmu itu masuk akal? Jika memang kau tidak ingin sekolah lagi, ya sudah… Tapi kau punya bakat, Sehun-ah… Kau bisa menjadi seseorang yang hebat jika kau mau memanfaatkan kemampuanmu dalam menari. Kau tidak boleh tenggelam dalam belenggumu hanya karena kau tahu kenyataan bahwa aku adalah kekasih hyung-mu…” Jelas Jessica kembali menasihati namja yang terpaut usia 5 tahun lebih muda darinya itu.

Sehun hanya dapat menatap gadis itu sembari memikirkan perkataan Jessica barusan.Kata – kata itu sepenuhnya benar.Ia tidak boleh seperti ini terus. Ia harus mulai membuka mata, melihat dunia yang ia tinggalkan karena perasaannya yang sedang rapuh. Ia… harus kembali. Membuktikan pada gadis dihadapannya itu, ialah Oh Sehun yang sebenarnya.

“Aku percaya padamu, Sehun-ah…” Ujar Jessica lalu melepas tangannya dari bahu kekar Sehun lalu menatap sekeliling sembari tersenyum.

“Sehun-ah, kau sudah keluar dari kamarmu?”Tanya Luhan yang ternyata baru tiba sehabis berganti pakaian.

Sehun dan Jessica segera menatap Luhan yang masih berjalan mendekat kearah keduanya.

“N-ne, hyung…” Jawab Sehun kian kaku tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.

“Syukurlah… Kalau begitu, kajja.Kita ke dapur.Noona-mu ini mau memasak untuk kita.”Jelas Luhan santai pada Sehun yang hanya dibalas anggukan pelan oleh Sehun dan senyuman oleh Jessica.

_**********_

Luhan dan Jessica tampak baru saja memasuki sebuah café yang terletak di ujung jalan rumah sakit- tempat Jessica bekerja.

Luhan dan Jessica tampak mengambil posisi duduk saling berhadapan dan mulai memesan makanan untuk mengganjal perut mereka sembari mengobrol seperti biasanya.

“Bagaimana pekerjaanmu, oppa?”Tanya Jessica membuka percakapan.

“Semuanya baik.Aku juga baru saja mendapatkan promosi dari pemilik perusahaan.”Jawab Luhan santai lalu mulai menyeruput kopi putihnya.

“Wah, kau sangat giat.Baru bekerja satu tahun saja, kau sudah mendapatkan promosi untuk naik jabatan.Bagaimana jika bertahun – tahun kedepannya?”Ujar Jessica yang membuat Luhan segera terkekeh pelan.

“Ah, ne… Geurae.”

“Oh ya, aku hampir lupa memberi tahumu.Ini tentang Sehun.”Sambung Luhan sembari menatap Jessica penuh rasa bahagia.

“Wae?Dia baik – baik saja, ‘kan?”Tanya Jessica mengantisipasi.

Luhan segera menarik kedua sudut bibirnya bersamaan, “Keadaannya membaik.Hari ini, dia sedang mengikuti lomba menari di distrik gangnam.Yah, jika beruntung… mungkin dia bisa ke New York untuk mengikuti babak finalnya.”Jelas Luhan yang langsung di sambut oleh senyum lebar Jessica.

“Syukurlah…” Gumam Jessica sembari terus tersenyum menatap Luhan.

“Kuharap dia melakukan semuanya dengan baik mulai sekarang…” Ujar Luhan sembari menggenggam lembut tangaan Jessica yang terletak di atas meja.

Jessica hanya tersenyum lalu mengangguk pelan.

“Tapi, apa perlu kita mencarikan dia pasangan?”Tanya Luhan santai.

Jessica tersentak kebingungan.Haruskah?Batinnya.

“Kupikir juga begitu.Dia harus termotivasi oleh sesuatu.Setidaknya, untuk membangun rasa percaya dirinya.”Jawab Jessica sedikit ragu.

“Tapi, siapa?”

Jessica terdiam. Mencoba mengingat kembali semua gadis yang ia kenal dalam hidupnya. Siapa?

“Ah! Aku punya kenalan.Dulu, dia adalah pasien di rumah sakit.Usianya juga masih 17 tahun.”

“Nugu?”Tanya Luhan kembali.

“Namanya Seo Joo Hyun. Dia gadis yang baik.” Jelas Jessica.

“Geurae… Tapi, apa menurutmu gadis itu akan menyukai Sehun? Sikapnya, wajah angkuhnya, kejahilannya… Sehun sangat baik dalam hal – hal itu.”

Jessica hanya dapat tertawa pelan mendengar pernyataan Luhan baru saja.

­_**********_

Jessica berjalan kian santai pagi ini.Hanya mengantar beberapa mangkuk makanan untuk pasien lalu memeriksa keadaan beberapa pasien VIP.Ya, bagi perawat seperti Jessica, hal itu terasa sangat santai.Ia sudah terbiasa dengan berbagai kesibukan yang ia miliki, dan hanya sesekali lah ia bisa merasakan waktu – waktu santai seperti saat ini.

Saku celana Jessica tiba – tiba saja terasa bergetar.Tampaknya ada sebuah pesan yang baru saja masuk di ponselnya.Karena penasaran, Jessica yang tampak sedang berkeliling rumah sakit, memilih untuk segera meraih ponselnya itu lalu melihat isi pesan itu.

‘Aku akan kembali ke Korea dengan membawakanmu sesuatu. Aku berjanji….

~OSH~’

Jessica menautkan kedua alisnya kebingungan. Pesan macam apa ini? Lalu siapa yang mengirimnya? OSH? Oh… Sehun?Ya, kurang lebih itulah hal – hal yang kini tengah bersarang di kepala perawat cantik itu.

“Sehun?Dia mulai mengirimiku pesan lagi? Hhhh, anak itu…” Gumamnya pada dirinya sendiri sembari tersenyum.

“Berarti dia sudah berada di New York. Hm, geurae… Aku akan menunggumu, Oh Se Hun.” Ujar Jessica lagi sembari memberikan penekanan pada nama Sehun lalu tersenyum lepas.

_**********_

Sudah dua minggu sejak Sehun pergi ke New York untuk mengikuti babak final dari perlombaan tari yang ia ikuti. Pesan terakhir yang ia kirim pada Jessica pun sudah menjadi salam pertemuannya dengan kota New York yang penuh dengan gemerlap. Tak satu pun dari Jessica maupun Luhan dan kedua orang tua Luhan yang tahu kapan namja jakung itu pulang dari New York. Mereka hanya tahu bahwa dia akan pulang dalam beberapa hari setelah perlombaan. Dan sampai sekarang, kabar bahwa ia memenangkan perlombaan itu atau tidak pun tak kunjung terdengar. Hanya penantian sematalah yang dapat terlihat.

Dan seperti hari – hari biasanya, Jessica kembali ke rutinitasnya berada di rumah sakit. Berjalan mengelilingi koridor rumah sakit sembari mendorong meja baki untuk ia antarkan ke setiap ruangan VIP sebagai makan siang para pasien.

Namun di tengah perjalanannya ke ruangan pasien selanjutnya, matanya tidak sengaja menangkap seseuatu.Tampak seorang namja yang tengah tidak sadarkan diri dan baru saja di turunkan dari mobil ambulance rumah sakit menuju ruang gawat darurat. Wajah namja itu, ia seperti mengenalnya. Tidak begitu jelas memang.Wajah namja itu di penuhi dengan darah yang masih mengalir terus menerus dari bagian kepalanya. Namun ia seperti benar – benar tidak asing dengan wajah itu. Wajahnya benar – benar mirip dengan namjachingunya, Luhan.

Dan karena rasa penasaran yang begitu besar mungkin, atau lebih pas jika di katakan terlalu nekat, Jessica memilih untuk meninggalkan meja bakinya dan berjalan sedikit cepat kearah pasien namja itu.

“Perawat Lee, bisa kita berganti tempat? Kau cukup antarkan makanan ke ruangan VIP.Aku akan ikut membantu di sini.”Ujar Jessica pada perawat di hadapannya.

“Wae?Apa ada masalah dengan pasien VIP?”Tanya si perawat Lee mengantisipasi.

Jessica segera menggeleng, “Aniyo… Semuanya baik – baik saja.Ini k-karena, aku dipanggil oleh dokter Park untuk membantunya di dalam.”Jelas Jessica berbohong.

“Geurae… Masuklah.Sepertinya pasien itu terluka parah.” Ujar sang perawat lalu segera bergegas pergi meninggalkan Jessica yang baru tampak mengambil langkah pertamanya memasuki ruangan itu.

~—~

Jessica mulai melangkah memasuki ruangan gawat darurat.Di lihatnya sekelilingnya.Para dokter dan perawat tampaknya sedang bekerja dengan keras untuk menyelamatkan nyawa namja yang kini tengah terbaring di ranjang pasien itu.

“Hey! Perawat Jung, kenapa kau diam saja!? Cepat, nyalakan defibrillatornya.”Sergap salah seorang dokter pada Jessica yang sejak tadi memang hanya berdiri mematung.

Jessica tersentak, “N-ne…” Jawabnya gugup.

Jessica mulai menekan tombol – tombol pada defibrillator yang berada tepat dihadapannya.Sembari terus berfikir, siapa namja itu?Namja yang berhasil membuat Jessica hampir mati penasaran.

Sang dokter pun dengan segera menempelkan kedua alat sambungan dari defibrillator yang ia pegang lalu menempelkannya ke bagian dada pasien tadi dan mengulanginya beberapa kali.

“Detak jantungnya kembali berpacu normal, dokter.”Ujar salah seorang perawat sembari membersihkan wajah namja itu dari lumuran darah yang masih saja mengalir dari puncak kepalanya.

Sang dokter hanya dapat menghela nafas panjang. Satu lagi nyawa manusia dapat ia selamatkan.

“Tapi dokter… Pendarahannya masih belum berhenti.”Sela perawat lainnya menatap dokter Park yang sudah di penuhi oleh peluh.

“Perban secepatnya.Dan setelah itu pastikan bahwa tidak ada pendarahan di otaknya.”Jawab dokter Park lalu bergegas keluar dari ruang gawat darurat itu.

Melihat hal itu, Jessica tampak segera berjalan mendekat kearah ranjang pasien itu dan menatap wajah namja itu.

 

!!!!!!

 

“Sehun-ah…” Ucap Jessica syok setengah mati.

Dua perawat yang masih berada di dekat Jessica pun ikut kebingungan dengan sikap Jessica yang tiba – tiba seperti itu.

“Gwenchana, perawat Jung?”Tanya salah seorang perawat yang tengah membersihakan wajah namja itu.

Sontak, Jessica jatuh terduduk sembari melepas perasaan sesak di dadanya dengan cara mengeluarkan butiran – butiran kecil nan bening dari kedua kelopak matanya. Saat ini, ia benar – benar sulit untuk bernafas. Kedua perawat itu pun segera beralih untuk membantu Jessica berdiri.

“Gwenchana?”Tanya perawat itu kepada Jessica yang hanya dapat terisak tak berdaya.

“Hiks… S-Sehun-ah… Hiks… Hiks… Sehun…” Isak Jessica tak karuan sembari terus menatap wajah pasien itu. Pasien yang sebelumnya ia kira adalah Luhan itu, ternyata adik kandung namjachingunya, Oh Sehun.

“Duduklah dulu, perawat Jung.Kami akan memperban kepalanya.” Jelas sang perawat lainnya sembari mendudukkan Jessica di sebuah kursi di sebelah ranjang pasien itu.

Jessica hanya dapat terisak sembari sesekali memanggil nama namja dihadapannya itu.

“Kumohon… hiks… lakukan dengan benar.Hiks… jangan biarkan terjadi sesuatu padanya. Hiks…” Ujar Jessica setengah terisak.Mendengar hal itu, kedua perawat yang tengah memperban kepala Sehun itu hanya dapat mengangguk pasti tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari pasien satu itu.

~—~

Hal buruk baru saja terjadi.Sehun yang baru saja kembali ke Korea harus kembali mencium aroma khas rumah sakit yang begitu menyengat. Paska pesawat yang ia tumpangi tadi mendarat, Sehun segera berlari keluar dari Airport dan berniat untuk menemui Jessica dan memberikan gadis itu sebuah piagam tanda kemenangannya di New York. Namun jika takdir sudah berkehendak, apa mau dikata? Sehun tertabrak sebuah mobil truk pengangkut barang ketika ia berlari menyebrang, tepat di jalan raya depan rumah sakit Jessica bekerja. Membuat pendarahan di kepalanya dan mematahkan beberapa tulang – tulang rusuknya.

Dan sampai kini, Jessica masih saja terjaga dalam lamunannya.Saat ini, pikirannya benar – benar kosong.Pemilik sepasang mata yang sudah terlihat sembab itu masih saja menanti sampai namja di hadapannya dapat sadar dan mengatakan sesuatu.Bahkan bukan pertemuan seperti ini yang diharapkan Jessica.Ia hanya ingin melihat namja ini dengan piala yang ia bawa. Bukan dengan keadaan setengah bersimbah darah seperti tadi.Hati Jessica benar – benar kacau saat ini.Ia bahkan lupa untuk menghubungi Luhan karena perasaannya yang masih tak kunjung membaik.

“Perawat Jung…” Lirih.

Suara yang di rindukan Jessica kini terasa menggema di telinga gadis itu.Jessica dengan refleksnya pun menatap si pemilik suara yang tampaknya sudah menyadari keadaannya.

“S-Sehun-ah… Hiks…Gwenchana?” Tanya Jessica sembari berusaha menahan tangisnya.

Sehun hanya dapat menatap gadis itu sayu.Tersenyum tipis, berusaha menutupi rasa sakit yang kian terasa di kepalanya.

“Kau baik – baik saja?”Tanya Sehun lirih.

Jessica hanya dapat menangis.Ia benar – benar tidak sanggup melihat namja itu dengan ekspresi sangat menderita itu.

Jessica kembali terisak.Mulai menangis dengan keras. Meluapkan segala rasa sakit yang kini ia rasakan. Entahlah… Rasanya benar – benar membuat Jessica hampir mati saat itu juga.

“Neo, baboya…” Ujar Jessica lirih..Benar – benar menyakitkan untuk gadis itu.

“Aku kembali, ‘kan?”

“Untuk apa jika kau kembali dengan keadaan seperti ini, eoh?! Hiks…” Bentak Jessica masih dengan suara yang lirih.

Sehun kembali tersenyum tipis.Ia lalu tampak mengambil sesuatu dari saku celananya.

Jessica hanya dapat mengerutkan dahinya sembari terisak.

“Ini…” Sehun tampak memberikan sebuah kertas yang bentuknya sudah tidak jelas lagi di mata gadis itu.

“Ige mwoya…”

“Lihatlah… Maka kau akan tahu.”Ujar Sehun yang terasa menginterupsi Jessica yang tampak mulai meraih kertas itu lalu membukanya perlahan.

 

‘CERTIFICATE OF THE ART ASSOCIATION USA

Appreciated to
OH SE HUN
오세훈
(SOUTH KOREA)

On winning the Talent Show, KOREAN BEST DANCER

NEW YORK, 21 JULY 2015’

Jessica semakin teriris membacanya. Kenapa anak ini selalu bisa membuat Jessica beku terkagum – kagum atas apa yang telah di perbuatnya.

“Simpanlah, seperti kau menyimpan semua kertas nilai ujianku…” Sela Sehun.

Jessica hanya dapat menggingit bibir bawahnya.Mencoba menahan air matanya untuk kembali mengalir.Pundak gadis itu bergetar hebat.Membayangkan betapa kerasnya Sehun berlatih untuk semua ini.Jujur saja, membacanya membuat Jessica merasa lebih baik.Ia senang jika Sehun bisa terus menjadi namja pekerja keras seperti ini.

“Noona… Bisakah aku memanggilmu noona?”Tanya Sehun seadanya sembari menggenggam tangan Jessica.

Jessica hanya dapat tersenyum, “Tentu saja… Aku lebih tua lima tahun darimu. Sudah seharusnya kau memanggilku noona.”Celoteh Jessica sembari menatap Sehun dalam.

“Geurae…” Jawab namja itu.

“Lalu, apa kau… masih, menyayangiku?”Tanya Sehun lagi yang kali ini sontak membuat Jessica sedikit tersentak.

Jessica menatap kedua manik kecoklatan Sehun dengan penuh perasaan. Matanya seperti ingin mengatakan, ‘Jangan ungkit itu lagi… Aku takut kau terluka.’

“Tentu saja… Apapun yang terjadi, aku akan terus menyayangimu.”Jawab Jessica masih dengan air mata yang mengalir deras.

Sehun tampak terkekeh pelan, “Gomawo… Perasaan yang sangat berharga itu.Terima kasih karena telah memberikannya untukku.”Ujarnya sambil terus tersenyum tipis.

Sehun lalu meraih wajah bak malaikat di hadapannya.Mulai menghapus tiap – tiap butir air mata yang masih tampak disana, hingga wajah gadis itu kembali terlihat seperti biasanya.Sehun lalu meraih tangan Jessica dan mengecupnya sebentar lalu menutup matanya.

Sedetik… Dua detik… Tiga detik…

Sehun tak kunjung membuka matanya.Alat elektrokardiogram yang tersambung di tubuh Sehun pun tampak menunjukkan deteksi negatif dengan garis lurus di layar alat itu.

Jessica kembali panik.Ia kembali menjadi kebingungan. Ada apa lagi ini? Pikirnya.

“Ya! Sehun-ah… Jangan bercanda.”Ujarnya sarkastik sembari menggerak – gerakkan lengan Sehun yang sudah tampak terbujur kaku.

Jessica kembali pada situasi yang tidak dapat menahan tangisnya.Air matanya kembali berlinang.Ia makin menggila. Tangisnya semakin terdengar. Suaranya yang parau, terdengar seperti di taburi dengan rasa kehilangan yang tak dapat ia gambarkan.

Sehun…

Kini, namja itu tak menampakkan tanda – tanda akan terbangun lagi. Jessica hanya dapat memeluk namja itu sembari menangis terisak.

“Hiks… Sehun-ah… Ireona! Hiks… Aku menyayangimu. Hiks… Karena itulah, kau harus bangun… Hiks…” Ujar Jessica sembari terus memeluk namja itu.

Namun, apa mau dikata… Nasi sudah menjadi bubur.Tampaknya Sehun baru saja menghembuskan nafas terakhirnya. Meninggalkan segalanya ketika ia mengecup pelan tangan Jessica. Sehun sudah pergi…

_**********_

Jessica POV

Padang rumput hijau terbentang luas di tempat ini.Angin yang berhembus menerpaku seakan membawaku ke masa – masa pahit itu.Masa di mana namja itu kian sering memenuhi kepalaku.Rasanya kini cukup hampa.Setidaknya, delapan tahun yang kulalui selama ini mendatangkan beberapa orang – orang baru.Ya, cukup menghiburku memang.Tapi tetap saja, namja itu… sudah pergi.

“Eomma, kenapa kita ke pemakaman?Eomma bilang, setelah sampai ke Korea, kita akan langsung menemui paman.”Sahut seorang bocah laki – laki yang berada di antara aku dan Luhan.

“Tentu saja, honey..Kita bahkan sudah sampai.Disinilah tempat paman.”Jelasku yang hanya dibalas anggukan dan mulut yang berbentuk O oleh anak kecil tadi.

Luhan segera menatapku.Menatapku yang kini terlihat sangat menyedihkan mungkin.Aku masih tidak bisa melupakannya. Sehun-ah…

Anak kecil tadi lalu berjalan pelan mendekati makam dihadapanku, makam Sehun.Anak itu tampak mengelus rerumputan di bawahnya.Tersenyum lalu mulai bercerita.

Dia, malaikat kecilku bersama Luhan.Dia tampan seperti appanya.Suka bercerita sepertiku.Dan jahil seperti Sehun.Rasanya hanya anak itulah yang bisa menghiburku dengan baik selain Luhan tentunya.

“Gwenchana… Sehun berada di tempat yang terbaik saat ini.” Ujar Luhan lalu memelukku hangat.

Aku mengangguk pelan, rasanya bahkan masih sulit untuk mengatakan ‘Ya, semuanya akan baik – baik saja’.Tapi memang seharusnya seperti itu.

“Aku tahu ini sulit.Tapi kita sudah menangisi Sehun secara terus menerus selama delapan tahun belakangan ini.Tidakkah kau merasa ini sangat menyiksa untuk Sehun?”Tanya Luhan menasihatiku yang masih berada di dalam dekapannya.

“Arasseo…” Jawabku seadanya lalu melepaskan pelukannya.

“Geurae, uljima.Ne?” Bujuk Luhan lagi lalu menepis air mataku yang sudah terlanjur mengalir sejak tadi. Aku kembali dapat tersenyum dibuatnya.Kembali dapat menampakkan wajah berseriku padanya.

“Kajja.”Ajaknya lalu menarik lenganku lembut kearah pahlawan kecil kami yang masih saja sibuk bercerita seorang diri di hadapan makam Sehun.

 

 

~ THE END ~

21 thoughts on “[FREELANCE] (Twoshoot) Difficult Feeling 2/2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s