Three Days for Years

three-days-for-years

Three Days for Years

© Amy Park

Jessica Jung – Byun Baekhyun

Others: BTS Suga – 2NE1 Park Bom

yoongibom

Romance | Oneshoot | PG-13

Thank you for your amazing poster, redbabyred from Indo Fanfiction Arts ^^

I spent three days to love you,

But years to forget about you.”

***

“Penulis Min, mengapa kau tidak mau mengadaptasi kisah novelmu menjadi sebuah film, padahal sudah banyak produser yang memberikan tawaran?”

“Aku menulis novel untuk dibaca, bukan untuk ditonton. Lagipula, banyak pesan yang ingin aku sampaikan di setiap kata yang aku tulis. Aku tidak yakin jika pesan tersebut akan memiliki arti yang sama jika disampaikan oleh ilustrasi visual, dialog antar tokoh, atau bahkan sebuah monolog di dalam film. Kau boleh menyebutku berlebihan, tapi permainan kata-kata yang aku miliki sangatlah sulit dijadikan film!”

“Ah, baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, mari kita berganti topik. Novelmu sebelumnya kebanyakan memiliki tema sci-fi, action, dan thriller. Namun, kenapa sekarang kau lebih memilih meluncurkan novel bertemakan cinta? Sebuah kisah romance antara anak sekolah?”

“Mmm… karena aku sedang ingin menulis sebuah kisah cinta? Apakah jawabanku sudah cukup jelas?”

“Baiklah. Mengenai cinta, menurut penulis Min, apa itu cinta?”

“Menurut wartawan Jung sendiri, apa itu cinta?”

Jessica yang tengah mencatat pun terpaksa menghentikan kegiatannya. Matanya kini menatap seorang pria yang tengah melemparkan sebuah senyuman manis. Pria itu tampak menunggu jawaban Jessica. Namun, mulut Jessica terasa kelu.

Sebenarnya ini bukan pertama kali bagi Jessica mendapatkan narasumber yang melayangkan pertanyaan balik padanya. Untuk wartawan yang sudah berpengalaman seperti Jessica, bukanlah hal yang sulit menanggapi pertanyaan yang diajukan narasumber. Namun, Jessica sama sekali tidak menyangka akan ada narasumber yang mengajukan pertanyaan mengenai hal yang menjadi kelemahannya. Meski begitu, ia akan tetap menjawab. Ia tidak boleh terlihat bodoh di mata seorang penulis novel best seller tersebut.

“Cinta?”

“Ya!” ujar pria itu cepat, tampak tidak sabar menunggu jawaban Jessica.

Jessica menghela napas terlebih dulu sebelum menjawab, “Bagiku, cinta adalah hal yang rumit dan membingungkan. Kau akan dengan mudah melepaskannya, tapi setelah itu kau juga akan sangat sulit untuk melupakannya. Cinta merupakan sebuah jebakan, di mana kita tidak akan pernah tahu kapan akan terjerumus ke dalamnya. Ketika sudah terperangkap, kau tidak akan pernah bisa lepas, sehingga yang kau rasakan hanya perih, air mata, dan amarah untuk satu kenangan yang tidak pasti keberadaannya.”

“Kau… menyesal, ya?”

Dahi Jessica berkerut, memberikan penjelasan bahwa dirinya tidak paham. “Maksudmu?”

“Dari penuturanmu mengenai cinta, seluruh penyesalanmu tergambar di sana. Kau yang meninggalkan, tapi kau sendiri yang tidak bisa mengakhiri. Aku benar, bukan?”

Jessica tersenyum samar. Ia mengetuk-ngetuk jemari tangan kanannya di atas meja, sebelum akhirnya meraih cangkir dan meneguk coffee latte yang ada di dalamnya. Dari gerakan dan ekspresi Jessica, penulis itu tahu bahwa wanita yang kini duduk di hadapannya tengah panik, dan kini ia sedang berusaha mencari seribu macam alasan untuk mengelak pernyataannya barusan.

“Pendapatmu mengenai cinta tidaklah salah. Hanya saja, kau belum sepenuhnya paham.”

Senyuman Jessica mengembang, “Agar aku paham, bisakah kau menjelaskannya, Penulis Min?”

Pria itu mengangguk, kemudian berucap, “Tidak ada pemahaman yang pasti mengenai cinta, karena setiap orang memiliki penjelasan tersendiri akan hal itu. Cinta akan menjadi hal paling berharga, ketika kau bahagia. Cinta akan menjadi petaka, ketika amarah dan kesedihan membelenggu. Cinta akan abadi, jika kau mempertahankannya, tapi cinta juga akan hilang dengan perlahan ketika kau bisa melepaskan.”

“Penjelasan yang cukup puitis, tidak heran kau menjadi seorang penulis,” senyum Jessica.

Jessica menekan tombol stop pada recorder miliknya. Sambil memasukkan buku catatan, pulpen, dan recorder ke dalam tas, Jessica berkata, “Berbincang denganmu sungguh menyenangkan. Namun sayangnya aku harus segera pergi ke kantor untuk menulis dan menerbitkan beritamu. Akan aku kirim link beritanya pada akun media sosialmu ketika sudah jadi.”

“Jessica-ssi, bolehkah aku berkata satu hal lagi padamu?”

“Boleh, tentu saja,” jawab Jessica.

“Jessica Jung, cinta tidak pernah menjeratmu, tapi kau sendiri yang membiarkan dia melakukannya.”

Senyuman samar kembali tersungging di bibir Jessica. Tidak mau membahas apa yang dikatakan pria itu, Jessica segera pamit. “Senang bertemu denganmu, Min Yoongi-ssi.”

Jessica hendak beranjak dari kursi, tetapi Yoongi kembali menahannya. “Nomor yang kau hubungi kemarin adalah milik editorku. Ini kartu nama pribadiku, mulai sekarang kau bisa menghubungiku langsung.”

Yoongi mengeluarkan kartu nama dan meletakknya di meja. Walaupun masih terlihat raut kebingungan di wajah Jessica, wanita itu tetap mengambil kartu nama pribadi milik Yoongi. “Terima kasih.”

Yoongi pun tersenyum, “Kau bisa langsung menghubungiku, ketika kau sudah berhasil melepaskan diri dari jeratan itu.”

◊◊◊

 Bagi seorang Jessica, cinta memang suatu hal yang belum bisa ia pahami sepenuhnya. Selama dua puluh lima tahun ia hidup, ia hanya sekali merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Cinta masa kecil ketika ia berada di bangku SMP. Sebuah cinta yang bahkan tidak bertahan selama seminggu, tapi kenangannya masih melekat dalam pikiran Jessica selama bertahun-tahun. Atau mungkin masih menjerat Jessica sampai sekarang, membuat wanita itu menutup rapat pintu hatinya.

Tiga hari. Jessica hanya bisa mempertahankan kisah cinta masa kecilnya dalam tiga hari. Pada saat itu, ia benar-benar belum paham mengenai cinta, dan masih bertanya-tanya mengapa seorang laki-laki dan perempuan harus menjalankan sebuah hubungan yang khusus. Dan pada saat itu juga, Jessica benar-benar tidak tahu bahwa kehilangan sangatlah menyakitkan.

Mungkin banyak yang berpikir jika Jessica terlalu berlebihan. Berpikir bahwa kisah cinta masa kecil yang hanya bertahan tiga hari tapi tidak bisa ia lupakan sampai sekarang adalah hal yang sangat konyol. Berpikir jika cinta masa kecil seharusnya mudah dilupakan karena memiliki kenangan yang tidak terlalu penting. Tidak, tidak semudah itu bagi seorang Jessica Jung.

Anggaplah cinta masa kecil Jessica sebagai sebuah kenangan. Kenangan yang selalu datang dan menjerumuskan ia pada satu penyesalan terbesar dalam hidupnya. Sebuah penyesalan yang bahkan tidak Jessica ketahui di mana titik permasalahannya. Suatu hal yang tidak ia mengerti. Menjadikan Jessica berpikir bahwa cinta adalah hal yang rumit dan abstrak, yang tidak dapat ia pahami.

◊◊◊

“Jess? Jessica-ya?!! JESSICA JUNG!!!”

Jessica langsung terlonjak ketika teman satu kantornya yang berpenampilan seperti laki-laki itu berteriak. Ia tidak tahu kapan teman seperjuangannya mulai berdiri di depan meja kerjanya. Salahkan pertanyaan Yoongi mengenai cinta. Pertanyaan penulis novel itu membuat Jessica lebih memikirkan kisah mengenai cinta masa lalunya daripada fokus menulis berita.

“Oh, ada apa, Amber?”

“Ada apa? Oh, ayolah, aku sudah memanggilmu lebih dari seratus kali dan kau malah bertanya ada apa?”

Jessica menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia benar-benar bingung dengan apa yang baru saja Amber katakan. Wanita itu juga tidak tahu alasan mengapa Amber memanggilnya seratus kali.

“Beritamu mengenai penulis Min. Ini sudah pukul dua siang dan belum ada beritamu di halaman web.”

“Sekarang sudah pukul dua?!”

Jessica pun langsung merasa panik. Pertanyaan Yoongi mengenai cinta memang sudah membuatnya gila, bahkan ia sampai lupa dengan tenggat waktu yang diberikan atasannya untuk memuat berita tentang penulis novel sialan itu.

“Cepat publikasikan beritamu atau Redaktur Kim akan marah besar,” saran Amber sambil menepuk bahu Jessica kemudian pergi meninggalkannya.

“Aish.. padahal aku sudah selesai menulis tapi aku lupa mempublikasikan beritanya.”

Jessica pun segera melakukan apa yang Amber perintahkan. Senyuman puas tersungging di bibir merah mudanya ketika berita yang ia buat sudah terpampang jelas di halaman depan situs online tempat ia bekerja. Ia meraih ponselnya, berniat untuk mengirimkan link berita kepada sang narasumber yang bersangkutan. Namun detik berikutnya, ia menggelengkan kepala dan menyimpan kembali ponselnya di atas meja, membatalkan niat untuk menghubungi Yoongi. Bagaimana jika ia kembali menjelaskan panjang lebar mengenai cinta dan segala macam teorinya? pikir Jessica.

“Aku tidak akan pernah menghubunginya lagi. Tidak akan pernah.”

Wanita itu hendak bangkit dari kursi, berniat pergi ke kantin untuk membeli makanan dan mengisi perutnya yang lapar. Namun, lagi-lagi rencananya batal karena sebuah pesan line muncul di layar komputernya. Pesan dari salah satu temannya ketika SMP.

Park Bom:

Hey, Jessica Jung, apa kau akan terus mengabaikan semua pesanku?

This little brat, kau sudah membaca pesanku tapi kenapa kau tidak membalasnya?

JESSICA JUNG!

Aku akan membunuhmu!!!!!

 

Ahjumma ini masih sama seperti dulu,” senyum Jessica seraya menggerakkan jemarinya di keyboard komputer untuk menjawab.

Jessica Jung:

Ada apa? Kau sangat berisik!

 

Park Bom:

Berhenti bertingkah bodoh. Kau sudah tahu bahwa aku menghubungimu untuk berpesta.

Berpesta di acara reuni SMP! Kali ini kau akan datang, bukan?

 

Jessica Jung:

Aku tidak akan pernah datang ke pesta itu, Bom. Aku tidak suka keramaian.

Park Bom:

Pembohong!! Kau tidak akan pernah datang di acara reuni hanya karena seorang Byun Baekhyun, kan?

OH AYOLAH!!!! SAMPAI KAPAN KAU AKAN BERSEMBUNYI??!!

Anggap saja kau datang ke reuni untuk bertemu denganku, bukan dengan pria itu. Hey, kau tidak merindukan aku? T-T

“Apa aku harus hadir dalam acara reuni itu?” tanya Jessica pada dirinya sendiri. Kini ia hanya bisa menatap layar komputernya tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan sahabatnya tersebut.

“Jessica Jung, cinta tidak pernah menjeratmu, tapi kau sendiri yang membiarkan dia melakukannya.”

Jessica segera mengacak rambutnya dengan frustasi. Perkataan Yoongi benar-benar membuatnya gila. Ia belum pernah merasakan bingung, takut, dan panik di saat yang bersamaan seperti sekarang. Tahun-tahun sebelumnya ia bisa dengan mudah mengabaikan undangan Bom untuk hadir di acara reuni SMP, tapi undangan untuk hadir di acara reuni itu sekarang membuatnya terjebak dalam sebuah dilema.

Jessica tidak bisa mengelak bahwa ia ingin bertemu dengan Baekhyun—cinta masa kecilnya, tapi ia juga sadar bahwa ia terlalu pengecut untuk berhadapan langsung dengan pria itu. Pasti akan sangat canggung jika kembali bertemu dengan Baekhyun setelah bertahun-tahun berpisah. Namun, wanita itu juga berpikir bahwa ia harus bertemu dengan Baekhyun jika ia ingin segera menemukan jawaban mengapa sang cinta masa kecilnya itu menjeratnya hingga saat ini. Jessica tidak akan pernah tahu akan isi hati yang sesungguhnya jika ia tidak mencoba untuk bertemu Baekhyun lagi.

Park Bom:

Bacalah pesanku sepuasnya tanpa membalas, Jessica Jung. Anggap pesanku sebagai spam undangan Let’s Get Rich saja kalau begitu:/

Ya, aku mengerti, sampai kapanpun kau tidak akan mau menghadiri acara reuni😦

 

Jessica Jung:

Aku akan datang, Bom. Aku akan datang kali ini.

 

Park Bom:

FINALLLLLLLLLYYYYYYY!!!!!!!!!

Sampai bertemu di acara reuni! Kali ini aku tidak akan mengganggumu!

Selamat bekerja lagi!!!!!! Adssdkajad!!!!!!!!😄

Jessica mengedipkan kedua mata beberapa kali, melihat pesan Bom yang penuh dengan kebahagiaan. Bahkan Jessica sendiri tidak tahu kapan jemarinya mengetik kata setuju untuk hadir di sebuah acara yang paling ia hindari semasa hidupnya.

“Min Yoongi, kau sungguh kurang ajar!”

◊◊◊

Satu hari menjelang acara reuni, Jessica sungguh tidak tahu apakah keputusannya benar atau salah. Dilema sialan itu masih saja menghantui pikiran Jessica. Ah, Jessica bahkan dicap sebagai orang paling bodoh di kantor karena keputusannya untuk mengikuti acara reuni SMP. Dia berkali-kali lupa akan tenggat waktu yang diberikan atasannya, dimarahi habis-habisan oleh editor bahasa karena banyak tata bahasa yang salah, dan berkali-kali telat menemui narasumber sehingga kesempatan ia untuk wawancara hilang begitu saja. Semua karena pikirannya terlalu dipenuhi oleh ‘ketakutan’ akan bertemu dengan Baekhyun di acara reuni.

Jessica menyeruput café latte miliknya sampai habis. Setelah itu, ia melihat sekilas pada jam tangan yang tengah ia pakai. Sudah pukul dua siang dan orang yang sedari tadi ia tunggu belum juga muncul. Ia kembali melihat keadaan ramai bandara dari dalam kafe tapi lagi-lagi ia tidak menemukan sosok yang ia harapkan.

“Boo!!”

“Yashh!!”

“Aku mengagetkanmu, ya?”

“Apa kau tahu berapa lama aku duduk di sini untuk menunggu kedatanganmu?!”

Jessica tidak berhenti melemparkan pandangan sinis pada wanita yang menggunakan mini dress putih dan cardigan hitam di hadapannya. Wanita itu membalas tatapan Jessica dengan senyuman kecil. Ia pun segera duduk di hadapan Jessica.

“Keberangkatanku ditunda, jadi kedatanganku di sini juga telat. Ah, kenapa kau begitu marah? Lagipula kau tidak usah menungguku di lapangan yang panas. Kau tinggal menungguku di sebuah kafe yang nyaman dan kau bisa memesan minuman atau makanan yang kau suka! Mudah, kan?”

Jessica tersenyum sinis, “Apa kau pikir memesan minuman atau makanan di sini itu gratis? Bom-ah, aku bukan wanita bisnis sepertimu yang punya banyak uang untuk membeli ini dan itu sesuka hati. Harga satu café latte di sini sebanding dengan ongkos liputanku, tahu!”

“Santai, Jess. Aku sungguh minta maaf jika membuatmu menunggu. Sudah lama tidak bertemu ternyata kau jadi mudah marah, ya!” ujar Bom sambil terkekeh geli melihat wajah cemberut Jessica.

“Aku tidak mudah marah. Hanya saja akhir-akhir ini aku memiliki banyak pikiran sehingga emosiku mudah muncul,” ungkap Jessica seraya mengeha napas. Wanita itu kembali bertanya, “Bom, kau bilang kita akan langsung bertemu di acara reuni saja besok. Kenapa kau tiba-tiba memintaku untuk menjemputmu sekarang?”

“Kau mau tahu jawabanku? Tentu saja karena aku tidak ingin kau mengubah pikiranmu sehingga tidak jadi datang ke acara reuni besok. Aku harus bertemu denganmu hari ini agar kau akan tetap hadir besok!”

“Mengapa kau menginginkan aku untuk hadir di acara reuni itu?”

Bom menjentikkan jari, “Simpel! Agar kau bisa bertemu dengan Baekhyun!”

“Mengapa juga kau ingin aku bertemu dengan dia, uh? Kau aneh, Bom.”

“Aku tidak aneh. Hanya saja, aku tipe sahabat yang tidak ingin kau menderita selamanya karena kisah cinta masa kecil yang bahkan tidak bertahan selama seminggu. Oh, ayolah, Jess, kau mengerti maksudku.” Ucap Bom sambil mengacak rambutnya frustasi, tidak berhasil menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan seluruh pikirannya pada Jessica.

“Sekarang aku sungguh tidak mengerti apa maksudmu, Bom.”

“Ugh! Kau benar-benar tidak mengerti atau berpura-berpura tidak mengerti, sih?” kesal Bom. Ia pun kembali mengoceh agar sahabatnya itu paham. “Kau sudah dewasa, Jess. Kau tidak bisa selamanya terjebak dalam sebuah kenangan yang bahkan tidak jelas dari mana asalnya. Move on, Jess!! Move on!! Dan cara yang tepat adalah dengan bertemu dengan Baekhyun. Berhentilah bersembunyi dan sampaikanlah perasaanmu pada pria itu!”

Jessica tersenyum kecil karena ceramah yang diberikan Bom, “Aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaanku padanya. “

Bom menghela napas, “Berhenti menyiksa dirimu sendiri dan cobalah bicara pada Baekhyun. Kau tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah sadar jika kau tidak bertemu dan berbicara padanya.”

Perkataan Bom memang benar. Jessica mengakui bahwa ia tidak bisa melupakan Baekhyun. Jessica juga tahu bahwa dirinya kerap kali merindukan pria itu, tapi Jessica sebenarnya tidak yakin akan perasaannya sendiri. Apakah ia masih mencintai Baekhyun? Jika masih, mengapa tidak ada perasaan cemburu sama sekali ketika melihat foto-foto kemesraan Baekhyun dengan kekasih barunya di media sosial?—Jessica memang sering iseng stalking akun media sosial pria itu. Oh, ayolah, tidak bisa melupakan bukan berarti masih mencintai, bukan? Atau sama saja? Ah, Jessica benar-benar tidak mengerti. Perasaannya pada Baekhyun sungguh abstrak. Menyiksa.

“Jangan pajang wajah blank, Jess, itu membuatku khawatir,” ungkap Bom yang berhasil menyadarkan Jessica dari lamunannya. Bom pun melanjutkan perkataan, “Baiklah, aku tidak akan memaksamu bertemu dengan Baekhyun, tapi kau harus tetap hadir di acara reuni itu. Setidaknya kau harus datang demi sahabatmu yang jauh-jauh datang dari Jepang ini, Jess!!”

Melihat raut penuh harap Bom yang di dalamnya juga terselip sedikit ancaman, membuat Jessica terkekeh. “Iya, demi sahabatku, aku akan pergi ke acara reuni itu.”

◊◊◊

“Sekarang kau kerja di mana?”

“Ah, kudengar bisnis fashion-mu sukses, ya, Bom?!”

“Yunho-ya, aku tidak menyangka kau akan menjadi yang paling pertama menikah!”

“Hey, kalian ingat? Dulu Siwon dan Yoona adalah pasangan yang paling populer di sekolah. Apa itu benar?”

“Yuri adalah siswa yang sering mendapatkan bully-an, tapi sekarang dia bisa menjadi seorang top model. Siswa yang paling sering mem-bully Yuri pasti akan sangat menyesal!”

Hanya pembicaraan random yang memenuhi keseluruhan acara reuni. Tidak banyak yang datang, hanya sekitar empat puluh orang, bahkan tidak memenuhi kuota ruangan VIP sebuah restoran seafood yang telah dipesan khusus untuk acara tersebut. Saling bertegur sapa, melepas rindu, membicarakan orang yang tidak datang, atau bahkan saling pamer pekerjaan, suasana seperti itulah yang Jessica lihat sekarang.

Ketika orang-orang sibuk bergosip sambil menikmati hidangan, ia hanya bisa duduk diam sambil sesekali melihat ponsel, lebih tepatnya melihat jam digital yang ada di layar ponsel. Sudah lebih dari dua jam acara reuni ini berlangsung, tetapi ia sama sekali belum melihat kehadiran Baekhyun. Apa dia tidak akan datang? Pikir Jessica.

Jessica akui, ia sedikit kecewa akan kenyataan itu. Sesungguhnya, ia sudah membulatkan tekad datang ke reuni untuk bertemu dengan Baekhyun dan mengungkapkan seluruh isi hatinya sesuai dengan saran Bom. Bahkan Jessica sudah menyusun dan menghapal kalimat-kalimat yang kelak akan ia lontarkan pada pria itu. Kenyataan bahwa Baekhyun tidak hadir di reuni bagaikan sebuah pukulan yang dilayangkan tepat di wajah Jessica.

“Jess, jangan membuatku merasa bersalah dan mari berkumpul dengan yang lain!” tutur Bom yang entah sejak kapan sudah duduk di hadapan Jessica.

Sedari tadi Jessica memang sengaja duduk di meja makan paling kecil—untuk dua orang—yang terletak di ujung ruangan. Wanita itu menghindar dari siapapun dan tidak berniat ikut serta dalam obrolan ‘khas reuni’ yang mungkin bisa saja membuat ia pusing. Ia pun menghindar karena sebetulnya ia tidak suka berada di tengah banyak orang. Jessica kurang suka suasana yang terlalu ‘ramai’. Terlebih, karena di keramaian itu tidak ada sosok yang ingin ditemuinya. Sosok pria sialan yang bernama Baekhyun.

“Jangan diam saja, Jess. Maafkan aku. Aku bersumpah bahwa ada nama Byun Baekhyun di daftar orang yang sudah konfirmasi akan hadir ke acara reuni ini. Aku tidak tahu jika dia memutuskan untuk tidak hadir,” jelas Bom sambil memasang puppy eyes-nya, berharap Jessica tidak marah.

Jessica tersenyum kecil, “Ini bukan salahmu, Bom. Aku tidak apa-apa. Sungguh.”

“Kalau kau tidak apa-apa, maka bergabunglah bersama yang lain. Ayo mengobrol dan bersenang-senang!”

Jessica pun membalas ajakan Bom dengan gelengan, “Kau saja. Aku tidak suka gosip dan keramaian, tahu. Kau saja yang bersenang-senang dan mengobrol. Jangan khawatir, aku menyendiri di sini hanya untuk mencari ketenangan, bukan karena aku marah padamu atau bersedih karena Baekhyun tidak hadir.”

“Kau benar-benar tidak marah padaku, bukan?”

“Tidak, Bom. Bersenang-senanglah!” ucap Jessica sambil mendorong tubuh Bom agar temannya itu beranjak dari kursi dan kembali bergabung dengan ‘keramaian’ yang ada di sana.

“Baiklah, aku akan bersenang-senang, tapi kau jangan menangis, ya!!!”

Jessica tertawa, “Aku bukan anak kecil yang mudah menangis, Bom!”

Jessica tidak akan menangis karena ketidakhadiran Baekhyun, tapi Jessica benar-benar kesal karena hal tersebut. Bagaimana ia tidak kesal? Setelah ia mempersiapkan diri dan melakukan berbagai pertimbangan yang membuat pikirannya kacau, pemeran utama dalam masalah Jessica malah tidak datang dan menjadikan segala upaya Jessica sia-sia. Jika ia tidak memikirkan perkataan Yoongi, pasti ia tidak akan repot datang ke reuni dan memilih menyembunyikan diri dari Baekhyun selamanya.

Ah, Yoongi benar-benar kurang ajar. Dua kali lipat kurang ajar.

◊◊◊

“Setelah ini aku akan langsung pulang, Bom. Bersenang-senanglah saja dengan teman-teman yang lain dan sampaikan maafku pada mereka.”

“Aku sudah menyampaikannya, dan mereka bilang bahwa kau sangat payah!”

Jessica tersenyum sambil menggerakan jemarinya di bagian pinggir cangkir kopi, “Ada tiga narasumber yang harus aku wawancarai besok, aku benar-benar tidak ingin membiarkan diriku mabuk karena bersenang-senang dengan kalian.”

“Ah, baiklah baiklah. Segera pulang ke rumahmu, Jess, tidak baik berada di luar malam-malam seorang diri.”

“Siap, mommy Bom!”

“Selamat beristirahat!!”

Wanita itu segera menyimpan ponsel ke dalam tas ketika sambungan telepon sudah terputus. Ia tersenyum miris melihat keadaan restoran yang sudah sepi karena teman-temannya memutuskan untuk pergi ke tempat karaoke untuk kembali ‘berpesta’. Membayangkan suasana karaoke yang pasti akan dipenuhi dengan minuman beralkohol dan suara nyanyian yang tidak jelas, membuat Jessica tidak ingin bergabung. Ia tidak ingin bangun pagi dalam keadaan hangover, apalagi ketika besok paginya ia ada jadwal wawancara.

Sebenarnya, teman-teman SMP Jessica sudah pergi ke tempat karaoke dua jam yang lalu. Namun, Jessica masih bertahan di restoran dan tidak berniat untuk segera pulang karena suatu hal. Menunggu seseorang yang bahkan tidak patut untuk ia tunggu. Bodoh memang, karena Jessica masih mengharapkan kehadiran Baekhyun.

“Sungguh membuang-buang waktu saja,” gumam Jessica sambil tersenyum getir. Menyalahkan dirinya sendiri.

Dengan berat hati, ia pun bangkit dari duduknya, segera melangkahkan kaki untuk keluar dari restoran. Mungkin sudah seharusnya ia tidak bertemu dengan Baekhyun. Mungkin sudah seharusnya ia tetap terjerat oleh kenangan bodoh di masa kecilnya tersebut.

◊◊◊

Jessica kini mengumpat hebat. Ia terus-menerus menyalahkan perutnya yang sangat fleksibel untuk merasa lapar. Sepulang dari restoran, ia tidak langsung melangkahkan kaki ke rumah, tetapi mampir terlebih dulu ke sebuah mini market untuk membeli satu cup ramyun dan sebotol cola. Salahkan udara dingin Korea Selatan yang membuatnya selalu ingin makan.

“Karena kau, uangku berkurang, tahu! Aku terpaksa jalan kaki ke rumah malam ini!” umpat Jessica seraya meraih sumpit dan mengaduk-aduk ramyun kesukaannya.

Layaknya orang kelaparan, Jessica pun segera menyantap ramyun dengan bersemangat, bahkan sampai mengeluarkan sebuah suara slrup dari kuah ramyun yang ia seruput. Awalnya ia memang mengumpat, tetapi kini senyuman tersungging di bibir Jessica. Wanita itu mengunyah ramyun dengan bahagia sambil menatap orang-orang yang berlalu-lalang di jalan lewat kaca besar dari dalam mini market. Tidak heran jika Seoul disebut kota yang tidak pernah tidur, karena kini Jessica masih melihat suasana yang cukup ramai walau jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.

Di tengah kegiatan makannya, Jessica sempat melihat seorang pria yang berwajah familiar melintas di depannya, membuat ia berhenti mengunyah. Entah karena masih ingin memakan satu cup ramyun lagi tapi ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli atau karena sudah mulai mengantuk, ia bersumpah bahwa apa yang barusan dia lihat merupakan hal yang nyata. Jessica bahkan sempat melakukan kontak mata dengan pria itu, tetapi ia langsung berpaling karena terlalu kaget.

“Tidak, tidak, kau terlalu banyak pikiran, Jess. Itu tidak mungkin!”

Jessica mengerjapkan mata, mencoba melupakan seseorang yang baru saja melintas di depannya. Ia pun hendak menyumpit ramyun tapi tubuhnya langsung mematung ketika ia mendapati seorang pria yang berdiri di hadapannya. Walau mereka dipisahkan oleh sebuah kaca, Jessica bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. Ia bisa melihat jelas senyuman lebar yang ditunjukkan orang itu. Ia bisa melihat jelas bagaimana pria itu melambaikan tangan bersemangat ke arahnya.

“Jessica Jung! Oh, Jessica Jung! Benar, bukan?!!! Aku Benar!!!”

Bahkan, Jessica bisa mendengar sangat jelas suaranya. Suara seorang pria yang bertahun-tahun tidak ia temui. Seorang pria sialan yang selalu ia rindukan kehadirannya.

“Byun Baekhyun?!!”

◊◊◊

Dunia memang tidak adil. Ketika Jessica sudah merasa siap dan matang untuk mengungkapkan segalanya, Baekhyun malah tidak hadir ke acara reuni. Giliran ia sedang asik memakan ramyun tanpa memikirkan apapun, Baekhyun malah hadir di hadapannya. Hadir langsung di hadapan Jessica tanpa ada rasa bersalah yang terpancar di wajahnya.

Jessica menampar pipi kirinya dengan keras, sehingga ia meringis kesakitan dan sadar bahwa dirinya sedang tidak bermimpi. Jantungnya berdetak cepat dan kedua kakinya tidak bisa berhenti bergerak, menandakan ia sedang gugup setengah mati. Ia pun langsung terlonjak kaget ketika seseorang hanya menyentuh bahunya dengan pelan.

“Kenapa kau kaget seperti itu? Apa kau sedang dikejar-kejar hantu, eh?” canda Baekhyun seraya duduk di samping Jessica. Pria itu meneguk cola sebelum menyimpan botolnya di atas meja.

Jessica menatap lurus ke arah kaca besar mini market, berpura-pura menikmati pemandangan jalanan kota Seoul. Padahal, ia sebenarnya sedang menghindari tatapan Baekhyun karena ia tidak mau terlihat gugup di mata pria itu.

“Hey, tingkahmu sungguh aneh, Sica-ya!”

“Mengapa kau tidak hadir di acara reuni?” tanya Jessica, mengalihkan pembicaraan, tapi mata Jessica masih tidak ingin untuk menatap Baekhyun.

“Bukan tidak hadir, tapi terlambat hadir. Aku baru saja selesai mengerjakan paper yang harus aku serahkan ke dosen besok pagi. Barusan aku datang ke restoran untuk menghadiri reuni, tapi ternyata acara sudah selesai.”

“Pasti sangat sulit mengikuti program studi magister, apalagi jurusan hukum sepertimu.”

Baekhyun melirik pada Jessica dengan tatapan tidak mengerti. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Jessica langsung menatap Baekhyun dengan wajah kaget. Ia benar-benar tidak sadar telah mengatakan hal yang seharusnya tidak ia katakan. Tentu saja Jessica tahu kegiatan Baekhyun tersebut karena dia sering membuka dan mebaca postingan di media sosial milik pria itu, tapi Jessica tidak boleh mengakuinya.

“Teman-teman kita di SMP yang memberitahuku. Kau tahu sendiri, Baekhyun, acara reuni bisa menjadi sebuah acara gosip. Karena kau tidak datang, mereka pun memilih untuk bergosip tentangmu,” tutur Jessica sambil tertawa gugup, berhasil menemukan sebuah kebohongan yang masuk akal untuk dijelaskan.

Baekhyun pun langsung terkekeh. “Ah, begitu. Wuah, apa aku sekarang menjadi terkenal sampai-sampai mereka bergosip tentangku?”

“Ya-ya, mungkin saja kau memang terkenal bagi mereka. Hahaha… benar, mungkin saja,” ujar Jessica seraya memalingkan wajah dan menghela napas.

“Malam ini begitu dingin, ya, Sica.”

Jessica hanya mampu mengangguk, menyetujui perkataan Baekhyun. Wanita itu tidak mampu berkata. Keadaan di antara mereka berdua pun menjadi sangat canggung karena Baekhyun tidak berkata apapun lagi setelah itu. Hanya keheningan yang menemani mereka berdua. Jessica sungguh tidak suka keadaan seperti ini. Rasanya ia ingin segera pergi dan lari sejauh mungkin dari Baekhyun. Dirinya bahkan tidak berani berbicara, apalagi jika ia mengungkapkan seluruh perasaannya. Waktu yang tidak tepat, sungguh waktu yang tidak tepat, pikir Jessica.

“Kau… menyesal, ya?”

“Dari penuturanmu mengenai cinta, seluruh penyesalanmu tergambar di sana. Kau yang meninggalkan, tapi kau sendiri yang tidak bisa mengakhiri. Aku benar, bukan?”

“Pendapatmu mengenai cinta tidaklah salah. Hanya saja, kau belum sepenuhnya paham.”

“Cinta tidak pernah menjeratmu, tapi kau sendiri yang membiarkan dia melakukannya.”

Min Yoongi sialan. Min Yoongi sialan. Kata-kata yang pria itu ucapkan kini kembali berputar-putar di kepala Jessica. Membuat Jessica semakin stres dengan situasi yang dihadapinya sekarang. Tidak, Jessica tidak pernah mengelak perkataan Yoongi. Malah, perkataan Yoongi sangatlah benar sehingga membuat dirinya satu langkah mendekati kegilaan.

Jessica tidak bisa terus-menerus hidup dengan bayang-bayang Baekhyun. Ia tidak bisa selamanya memendam perasaan yang sesungguhnya. Perasaan yang membuatnya merasa terjerat dan tersiksa karena sebuah kenangan yang tidak pasti dari kisah masa kecilnya. Ia tidak bisa terus-menerus menjadi seorang pengecut yang akan berakhir menyakiti dirinya sendiri. Wanita itu harus segera mengungkapkan seluruh perasaannya kepada Baekhyun, sebelum ia kehilangan kesempatan, dan sebelum ia menyesal untuk yang kesekian kali.

Jessica pun pada akhirnya menghela napas, lalu membuka mulutnya untuk berbicara, “Bagaimana kabarmu?”

“Sangat baik. Bagaimana denganmu?”

Senyuman di bibir Jessica mengembang, “Aku tidak terlalu mengetahuinya. Baik, mungkin?”

“Bagaimana bisa kau tidak tahu dengan keadaanmu sendiri, huh? Apa mungkin kehidupanmu selama ini abstrak, ya?” canda Baekhyun yang berhasil membuat Jessica terkekeh dan kembali menatapnya.

“Kau masih konyol seperti dulu, ya!”

Baekhyun tersenyum lebar, merasa sedikit bangga. “Aku bukan power ranger, jadi aku tidak akan berubah. Bukan Byun Baekhyun namanya jika tidak memiliki selera humor tinggi.”

“Memangnya aku mengatakan kau memiliki selera humor tinggi?”

“Barusan kau terkekeh karena perkataanku. Bukankah itu tandanya aku memiliki selera humor?”

Jessica mengedikkan bahu. “Kurasa tidak.”

Baekhyun mengerucutkan bibirnya karena kecewa dengan perkataan Jessica. Wanita itu pun tertawa melihat tingkah Baekhyun yang menurutnya lucu. Tawa Jessica tidak bertahan lama, karena kini ia tidak sadar tengah menatap Baekhyun dengan pandangan yang sulit diartikan.

Tidak nyaman ditatap seperti itu, Baekhyun pun kembali membuka pembicaraan. “Kegiatanmu sekarang apa? Maksudku, kau bekerja di mana?”

Jessica mengerjap dan segera menjawab pertanyaan Baekhyun dengan kilat. “Wartawan. Ah, ya, wartawan di sebuah media online.

Baekhyun mengangguk mengerti. “Sudah memiliki teman hidup?”

Jessica mengerutkan dahi karena tidak mengerti. “Teman hidup?”

“Yap, teman hidup. Ah, maksudku seorang pasangan. Eumm… kekasih, mungkin?”

“Bagaimana denganmu? Kau sudah memiliki kekasih?”

Baekhyun tidak langsung menjawab, karena sebenarnya dia sedikit heran dengan pertanyaan balik yang dilayangkan oleh Jessica. Namun, pada akhirnya pria itu pun berkata, “Ya, aku sudah memiliki kekasih. Dan jika tidak ada halangan, empat bulan lagi aku akan menikah dengannya.”

“Wah, selamat untukmu!” ujar Jessica sambil tersenyum kaku. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Tidak, ia tidak cemburu atau bersedih. Hanya saja, perkataan Baekhyun menjadi sebuah beban bagi Jessica. Apakah ia masih harus mengatakan perasaannya atau tidak, melihat keadaan Baekhyun yang sudah memiliki hubungan serius dengan sang kekasih.

“Bagaimana denganmu? Kau sudah memiliki pasangan?” tanya Baekhyun lagi.

“Aku masih sendiri, belum memiliki pasangan.”

“Kenapa? Karena kau tidak bisa melupakan aku?” celetuk Baekhyun, berniat bercanda. Namun sayangnya, pertanyaan itu dianggap serius oleh Jessica.

Melihat Jessica yang bahkan tidak memberikan reaksi apapun, Baekhyun pun sedikit khawatir. Wanita itu kembali menatap lurus ke arah jalanan kota Seoul, menghindari kontak mata dengan Baekhyun. Menjadikan suasana di antara mereka kembali canggung.

“Kau benar, Baekhyun. Aku tidak bisa melupakanmu,” ujar Jessica, kembali menatap Baekhyun dengan sebuah senyuman kecil.

“Kau tidak bisa melupakan aku?” tanya Baekhyun dengan nada tidak percaya sekaligus bingung.

Jessica menghela napas. Dengan segala keberanian, akhirnya ia memutuskan untuk mengungkapkan seluruh perasaannya. Ia tidak ingin menjadi seorang pengecut dan menyesal untuk yang kesekian kali. “Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu. Aku harap kau mau mendengarkannya sampai selesai.”

Kini, giliran Baekhyun yang mengalihkan pandangannya, menghindari kontak mata dengan Jessica. “Aku akan mendengarkannya.”

Jessica pun tersenyum, lalu ia menatap ke arah jalanan kota Seoul yang hanya dibatasi oleh kaca besar mini market, sama seperti yang dilakukan Baekhyun. Wanita itu mengepalkan kedua tangan, menghela napas, dan pada akhirnya berkata. “Baekhyun-ah, selama ini aku selalu bertanya-tanya, mengapa kau bisa tertarik pada perempuan yang tidak memiliki paras menarik sepertiku pada waktu itu?”

Senyuman lembut kembali menghiasi bibir Jessica, ingatannya kini memutar sebuah kenangan yang masih tersimpan. “Sebelum kau pindah sekolah, aku selalu menganggap kau adalah makhluk paling menyebalkan di dunia. Apa kau masih ingat? Setiap hari kau selalu menggangguku—mengambil paksa pulpen yang tengah kugunakan, tidak pernah kapok mengejekku dengan sebutan jelek, bahkan tidak pernah berhenti mengoceh tentang hal tidak penting yang membuat telingaku panas. Dan ketika mendengar kabar kau akan pindah, aku kira hidupku akan lebih baik. Namun kenyataannya tidak demikian.

Setelah satu tahun berlalu, aku tidak menyangka kau akan menghubungiku lagi. Kau sering mengirimku pesan-pesan konyol yang selalu berhasil membuatku tertawa. Saat itu aku berpikir, ‘Ah, ternyata sosok Byun Baekhyun tidak terlalu menyebalkan seperti yang pernah aku bayangkan’. Ketika berpikir seperti itu, aku pun sadar bahwa aku telah merasa nyaman denganmu.”

Kedua tangan Jessica kini memegang erat cup ramyun yang sudah tidak berisi, menandakan bahwa wanita itu semakin gugup. “Sampai akhirnya kau menyatakan perasaanmu yang sesungguhnya, dan aku pun menolaknya untuk yang pertama kali. Lalu kau kembali mengatakannya, dan akhirnya aku menerima perasaanmu. Namun, semua itu terasa aneh dan rasa nyaman itu mulai memudar.

Bagiku yang masih berumur belasan tahun pada saat itu, menjalankan sebuah hubungan cinta adalah hal yang belum aku mengerti, itulah alasan mengapa aku memutuskan hubungan denganmu tepat di hari ketiga ketika kita menjadi pasangan. Sebenarnya, aku takut jika keputusanku itu akan menyakiti perasaanmu, sehingga akhirnya aku memilih untuk tidak berkomunikasi denganmu lagi, memilih untuk membangun sebuah benteng yang menjadi jarak di antara kita. Kita pun tidak pernah saling berbicara, tidak saling mengenal, layaknya orang asing. Setelah itu, aku baru menyadari sebuah penyesalan yang paling besar dalam hidupku. Ketika itu pula, aku baru menyadari jika aku mencintaimu.”

“Kau memang lemot, Sica-ya, kau menyiakan laki-laki langka sepertiku,” tutur Baekhyun, memecah kecanggungan di antara mereka.

Jessica pun terkekeh, menyetujui perkataan Baekhyun. “Ah, kau juga pernah bilang kalau sebenarnya hubungan kita hanya candaan, bukan? Dan karena itu kau memintaku agar aku tidak merasa berat hati telah memutuskanmu.”

“Sebenarnya, Jessica—“

“Baekhyun-ah…” perkataan Baekhyun pun ia potong. Ia tidak ingin Baekhyun menimpali penjelasannya. Ia hanya ingin mengungkapkan perasaannya. “Walaupun memang hubungan itu hanya sebuah lelucon, aku akan tetap berterima kasih padamu.”

Jessica pun menoleh, memberanikan diri untuk melakukan kontak mata dengan Baekhyun. Ia tersenyum dengan tulus sambil berucap, “Semua kejahilan yang kau berikan padaku, seluruh lelucon yang pernah kau lontarkan, dan seluruh perhatian yang kau tujukan padaku, aku sangat bersyukur akan hal itu. Untuk pertama kalinya, kau membuatku merasa dicintai.

Dan juga, aku minta maaf karena telah bertingkah seenaknya tanpa berpikir dan memutuskan pertemanan kita. Maaf atas sikap kekanak-kanankanku. Lagipula, dulu aku memang masih anak-anak, bukan?” Jessica tertawa kaku sambil menahan air matanya. Sungguh, ia tidak ingin menangis di depan Baekhyun.

“Aku berharap kita masih bisa berteman. Selamat atas pernikahanmu, semoga semuanya berjalan dengan lancar. Aku berharap kau bahagia, Byun Baekhyun.”

Sebuah senyuman pun terbentuk di bibir Baekhyun. “Aku harap kau juga bahagia, Jessica Jung.”

◊◊◊

Aku selalu menyangka, selama ini aku terjerat dengan cinta masa laluku. Aku selalu menyangka bahwa rasa cinta itu masih melekat dan aku ingin kembali padanya. Namun setelah aku bertemu dengannya, aku sadar semua itu salah. Bukan sebuah perasaan cinta yang melekat, melainkan sebuah penyesalan dan rasa bersalah yang ingin aku sampaikan tapi aku terlalu takut untuk mengungkapkan.

Perasaan bersalah itu yang membuatku terjerat. Setelah mengungkapkan seluruh isi hatiku padanya, aku merasa lebih baik. Beban yang aku panggul setelah beberapa tahun itu mulai menghilang dengan perlahan.

Mungkin bisa dikatakan, Baekhyun memang membuatku jatuh hati dalam waktu singkat, tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakan. Melupakan semua kesalahan yang sangat sulit untuk aku ungkapkan. Kesalahan yang selalu membuatku merasa gelisah dan terjerat. Dan kini… aku berhasil mengungkapkannya.

“Aku harap kau bahagia, Byun Baekhyun. Terima kasih untuk segalanya.”

◊◊◊

Epilog

From: Penulis Min

Aku sudah membaca beritamu. Kau tahu, wartawan Jung, aku tidak pernah menempati peringkat pertama dalam mesin pencarian hanya karena sebuah berita.

Jessica tersenyum kecil karena pesan yang dikirimkan oleh Yoongi, satu-satunya narasumber yang paling menyebalkan yang pernah ia temui. Setelah beberapa menit hanya terdiam sambil mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja kerjanya, Jessica pun pada akhirnya menggerakan jemarinya yang bebas untuk membalas pesan singkat yang dikirim Yoongi.

To: Penulis Min

Aku telah berhasil melepaskan diri dari jeratan itu, apa kau bisa bertemu denganku?

-THE END-

◊◊◊

Maafkan… maafkan karena baru muncul sekarang, sesungguhnya aku ingin post banyak fanfic selama liburan semester ini tapi writer block menyerang, jadi baru bisa post ff sekarang TT-TT

Kelanjutan Truth About Love pun masih proses, dan aku gak tau kapan itu bakal dipost, aku gak bisa janji karena aku takut gak bisa menepati janji itu lagi😦 but I’ll try my best untuk melanjutkan ff itu, dan sebenarnya ada banyak ff yang mau aku post, tapi semuanya masih setengah jadi TT-TT

Aku mampu menyelesaikan ff oneshot yang agak ‘aneh’ ini juga karena sebenernya kisah ini aku ambil dari kisahku sendiri, jadi lebih gampang buat nulisnya karena pengalaman pribadi hehehehe dan sebenarnya aku udah niat bikin sekuel dari oneshot ini, sekuel tentang hubungan Jessica dan Yoongi, sang wartawan dan narasumber kedepannya mereka bakal kayak gimana kwkwkwkw tapi lagi, aku gak tau kapan akan dipost karena bahkan aku belum mulai menuliskannya, baru niatan doang😄

Terakhir, terima kasih telah membaca dan maaf jika banyak typo😀

38 thoughts on “Three Days for Years

  1. wah q ngrsain bget klau ff ni bkin q ingat sm diri pribadi. q jg trjerat sm prsaan sndiri ttg suatu hubungan,sica hebat bget ya brani ungkapin prsaan sesungguhnya ke baek,wlau pd akhienya dia tdk brsma baek,tp mluahkn prsaan yg lm dipendam bkin kita ngrsa bebas stelahnya…
    ok thor… q gk tau ni bnar apa gk tp lihat note kmu ttg ff truth about love itu ff jaesicaluhan bukan sihc,q rada lupa tp kyaknya judul ni msih tringat bget difkiranku…. ntah knpa q slalu mkir gmn lnjutannya… tryta author pnulisnya y…
    thorrrrrrrrrrrrr please….lnjutin ff mu itu ya,krn ff itu bkin pnsran & story nya ngena bget ke otak & prsaanku…
    gmn marah bnci suka jdi satu
    jdi ditgguin ya thor. keep writing

    • Ngungkapin emang bikin lega, tp keberanian buat ngungkapinnya yang susah (?)
      iya truth about love yg jessjaeluhan, aku lagi proses buat bikin kelanjutannya, tp belum tau kapan publish hehehe maafkan membuat nunggu lama
      btw thanks for read yaaaa😀

  2. hyaa nggak nyangka akhir nya begini..kasian nbgt yoongi oppa d smpahin terus ama sica eonni…aku pkir baek ama jessie eonni bkal blikan ehh ternyata nggak..
    tentang sequel nya aku bkal nunggu ne eonni
    hwaiting

  3. Ff nya bagus thor, kusuka, kirain bakal flashback gaktaunya enggak, gaktaunya mereka bakal balikan tapi gaktaunya enggak, ceritanya gak bisa ditebakkk suka banget thpr. Yg buat aku salah fokus itu pesannya bom ttg get rich ya ampun kekinian bgt itu si Bom wkwkw

  4. Huaaa, seneng deh thor! Ceritanya simpel dan gak banyak konflik rumit, ringan dan enak dibacaaa^^ cuma aku lebih nge-feel kalo bomnya di ganti dara sih wkwk. Iyaa aku penasaran sama sequel suga-sicanya xD pasti seru. Fighting buat ff lainnya🙂

  5. yaampun jessica kasian,pas jessica nyatain perasaanya malah baekhyun mau nikah
    wahh sequel dibikin suga sica??maygaddd 😱😱
    ditunggu ya thor sequelnya,kalo bisa bikin baekhyun punya rasa ama jessica pas jessicanya udah ama suga(?)
    btw keren thor ceritanya

  6. ff ini bner” bikin gue trsinggung,kisahnya hmpir sma dgn kish cintaku wktu smp bedany sica jadian wlopun cma 3 hri sdangkan gue hnya cinta trpndam yaaaaa jdi curcol :v … dan hebatny sica bsa ngungkapin prasaanny sdangkan gue blum bsa ampe skarang jiaaaaaa curcol lgi :v …ff keren d’ tunggu squelny hwiting

  7. ff ini bner” bikin gue trsinggung,kisahnya hmpir sma dgn kish cintaku wktu smp bedany sica jadian wlopun cma 3 hri sdangkan gue hnya cinta trpndam yaaaaa jdi curcol :v … dan hebatny sica bsa ngungkapin prasaanny sdangkan gue blum bsa ampe skarang jiaaaaaa curcol lgi :v …ff keren d’ tunggu sequelny hwiting

  8. Pls ini feelnya kerasa banget;; aku suka sama jalan ceritanyaa
    “Kau bisa langsung menghubungiku, ketika kau sudah berhasil melepaskan diri dari jeratan itu.” ngebayangin Suga bilang gitu yaampun astaga pasti manis(?) banget wkwkwk apadah.
    Ini Jessica keren(?) berani ngomong gitu ke Baekhyun._. tpi dia disini awalnya kaya masih mengharapkan(?) Baekhyun’-‘
    Ditunggu ya sequelnya Jessica-Suga~

    • Apapun yg dikatakan suga kalau dia sambil senyum pasti manis kok…. doi kan gulaa (?)
      semoga cepet dapet ilham yaa buat nulis sequelnyaa :”)
      Thanks for read btwwww🙂

  9. Keren banget ya ampun ^^ Kisahnya keren banget, jalur ceritanya keren banget, endingnya juga keren banget !!
    Fanfiction ini Best banget 👍🏻👍🏻

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s