Destiny (Chapter 4)

Destiny (Chapter 4)

Title:
DESTINY

Author:
_Sicaa.gorJESS

Genre:
Romance, School Life, Friendship, Sad, Family

Rating:
T

Length:
Chaptered

Main Cast:
Jessica Jung | Seo Joo Hyun | Kris Wu | Lu Han

Disclaimer:
Cerita fiksi ini 100% original karya author. Cast dan pemain lainnya hanyalah milik Tuhan dan orangtua mereka, Author hanya sekedar meminjam nama. Dilarang keras untuk menjiplak. Dan setelah membaca, tolong tinggalkan komentar untuk memberikan saran atau kritik kepada Author tentang cerita ini.

Author’s Notes:
Typo mungkin mulai bertebaran di chapter 4 ini… Dan alurnya yang membosankan tetap ada. Mian jika mengecewakan.

Previous Chapter: 1 | 2 | 3

 

~ DESTINY ~

.

“Oh, come on! Ini tidak sulit, Yifan!”

.

.

“Ini bukan rencana jahat sahabatmu itu kan?”

.

“What’s wrong?!”

.

“Bagaimana, jika kita pergi berjalan – jalan?”

.

“K- kau.. Menangis? Tapi..”

.

.

“Aku, merasa nyaman didekatmu..”

.

“Untuk apa kau membawaku kerumahmu?”

.

“Annyeonghaseo, ajhumma. Naneun, Jessica Jung imnida.”

.

.

“Sekarang… kita sahabat, kan?”

 

Chapter 4

Auhtor POV

“Ayo, silahkan Jessica. Jangan sungkan. Makanlah yang banyak.” Sahut Mr. Wu yang sudah lebih awal duduk di meja makan.

“Ne, ajhusshi. Aku akan makan banyak.” Jessica mulai meraih alat makan yang tersedia dihadapannya. Dan anggota keluarga Wu yang lain juga sudah mulai menyantap makanan yang ada dipiring mereka masing – masing.

“Apa kau sudah pernah mencoba masakan khas China sebelumnya, Jessica?” Tanya Mrs. Wu yang melihat Jessica yang tampak bingung memilih – milih makanan.

“Ehm.. Belum. Ini pertama kalinya…”

“Kalau begitu, kau harus mencoba semuanya.” Ujar Mrs. Wu lagi.

“Ne”

Tak berselang lama, seorang yeoja kecil yang juga anggota keluarga Wu muncul dari arah lantai dua.

“Shui shi nage nuhai, Yifan gege? Ta shi ni de nu pengyou ma?” Tanya yeoja kecil itu dengan bahasa mandarin yang fasih pada Kris.

“Ini temanku. Bukan yeojachinguku. Kau masih terlalu kecil untuk berkata seperti itu, Yiqiao!” Balas Kris tak mau kalah. Jessica segera menatap Kris dengan arti tatapan ‘Apa yang dia katakan?’ dengan gerak – gerik matanya.

“Jie, ni zheme piaoliang!” Ucap yeoja kecil itu pada Jessica dengan bahasa yang masih asing di telinga Jessica.

Jessica hanya mengangguk kecil sambil tersenyum walaupun ia tidak mengerti sedikitpun apa yang dikatakan yeoja kecil yang notabene adalah adik perempuan Kris.

“Dia bilang, kau cantik.” Bisik Kris untuk membuat Jessica tahu maksud dari ucapan adiknya.
Dan sontak saat itu juga, pipi Jessica langsung memerah. Entah kenapa, meskipun yang mengatakan hal itu adalah Yiqiao – adik Kris, namun ia menganggap pujian itu berasal dari namja disebelahnya itu.

“Yiqiao, temanku tidak mengerti bahasa Mandarin. Biasakanlah memakai bahasa Korea.

“Arasseo, ge.”

Suasana kembali ramai setelah Mrs. Wu dan Lay yang notabene adalah kakak laki – laki Kris bergabung ke meja makan. Semuanya asyik mengobrol dan menanyai Jessica beberapa pertanyaan.

“Apa ini?” Tanya Jessica dengan suara yang sangat kecil sambil menunjuk sepiring besar makanan dihadapannya.

“Ini Ma Yi Shang Su. Ini seperti daging sapi cincang. Kau harus mencobanya.” Jawab Kris santai.

“Kalau ini?” Jessica kembali menunjuk ke arah makanan yang lain.

“Itu Jiaozi. Itu daging ayam yang dibungkus dengan tepung terigu dan sedikit kanji. Makanlah.”

Jessica mulai menyantap satu persatu makanan di piring makannya. Dan sekitar 1 jam kemudian, akhirnya acara makan malam keluarga Wu pun selesai. Jessica segera berpamitan pada keluarga harmonis yang baru saja ia temui itu. Hati yeoja itu bahkan bergetar kuat melihat keluarga yang penuh canda, yang bahkan tidak sempat ia rasakan bersama keluarganya sendiri.

“Ajhusshi, ajhumma, aku pulang dulu. Terima kasih atas makan malamnya yang sangat berkesan.” Jessica tersenyum ramah lalu membungkuk rendah seraya berpamitan.

“Ne. Kapan – kapan, kau harus berkunjung lagi. Dan tampaknya, Yiqiao sangat senang jika punya teman bermain.” Ujar Mrs. Wu.

“Ya, aku akan berkunjung lagi nanti.”

“Yifan, antar Jessica pulang dengan selamat. Jangan sampai orangtuanya khwatir karena ini sudah larut malam.” Pinta Mr. Wu yang juga ikut mengantar Jessica dan Kris sampai didepan gerbang rumah mereka.

‘Orangtua? Andai kalian tahu tentang orangtuaku. Aku ingin memiliki keluarga yang utuh lagi.’ Gumam Jessica dalam hatinya sambil menundukkan kepalanya.

“Ne, appa. Kami berangkat dulu.”

~*****~

Jessica POV

“….Seluruh siswa dari kelas XI diharapkan berkumpul di aula sekolah saat ini juga. Pemberitahuan ujian akhir semester akan diberitahukan di aula sekolah.” Suara yang berasal dari tiap – tiap speaker sekolah itu seperti mulai mengintruksi setiap siswa XI untuk segera bergegas ke aula sekolah. Dan tak terkecuali, aku dan Seohyun yang sebelumnya tengah asyik membaca buku di perpustakaan sekolah.

“Ujian Akhir Semester? Padahal kita masih punya masa aktif belajar selama sebulan! Kenapa sudah ada ujian akhir semester?” Gerutu Seohyun yang memang sejak dulu tidak suka dengan Ujian Akhir Semester. Karena pasalnya, tahun lalu saat diadakan ujian akhir semester, banyak kecurangan yang dilakukan oleh murid – murid yang berasal dari kalangan atas. Banyak yang membayar juri untuk memberikan mereka nilai bagus. Dan disitulah, saat pertama kali aku melihat Seohyun mengeluarkan amarahnya dengan cara memaki – maki juri yang terlibat dalam kecurangan itu. Ya, itu sejarah sekolah setahun yang lalu. Entahlah, bagaimana nasib ujian akhir semester sekolah tahun ini.

“Jangan pikirkan itu. Kajja.”

Langkah kaki kami akhirnya berhenti tepat di aula sekolah.

“Baiklah anak – anak, rapikan barisan kalian dan dengarkan baik – baik apa yang akan saya sampaikan.” Pinta seorang namja paruh baya yang menjabat sebagai kepala sekolah di SM International Art High School.

“Beberapa dari kalian pasti bertanya – tanya, mengapa ujian akhir semester dilakukan secepat ini. Sebenarnya tidak sepenuhnya benar tentang hal itu. Penilaian akan dilakukan tepat waktu, yaitu sebulan kedepan. Tapi, masa persiapan setiap siswa dilaksanakan mulai detik ini juga. Dan tugas untuk ujian akhir semester kali ini adalah membuat dan mengaransemen lagu hasil karya sendiri.”

Dalam sekali mendengarnya, rasanya terdengar sangat mengejutkan. Bagaimana tidak? Sebelumnya aku belum pernah menciptaakan satu lagupun. Apalagi tentang mengaransemennya?

“Untuk ujian akhir semester tahun ini, sekolah bisa menjamin tidak akan ada lagi kecurangan seperti tahun lalu.” Jelas sang kepala sekolah yang membuat suasana tidak lagi hening karena para siswa mulai saling berbisik.

“Dan ingat, setiap kelas diberikan seorang guru pembimbing yang akan memberikan kalian pemahaman tentang ujian akhir semester yang akan datang.”

“Jadi sekarang, kalian bisa bubar.” Ucapnya lagi. Seluruh siswa akhirnya bergegas dari tempat mereka dengan langkah malas.

“Guru pembimbing? Siapa yang akan menjadi guru pembimbing dikelas kita?” Bisik Seohyun yang mengacaukan lamunan kecilku.

“Entahlah. Sebaiknya kita segera kembali ke kelas. Aku mendapatkan firasat baik soal hal ini.”

~*****~

Author POV

Sudah hampir 30 menit murid kelas XI – A menunggu guru pembimbing mereka di kelas. Meski begitu, semuanya tetap sibuk dengan aktivitas mereka masing – masing.

Tak lama, pintu kelas itu akhirnya terbuka dan mulai menampakkan sosok Kim sonsaengnim yang sangat dibenci oleh hampir seluruh siswa di kelas itu, kecuali Jessica dan Seohyun yang bahkan begitu tergila – gila pada pelajaran yang dibawakan guru killer itu.

“Annyeonghaseo. Maaf, saya terlambat.” Seisi kelas tercengang dan tidak habis pikir dengan kenyataan bahwa Kim sonsaengnimlah yang memasuki ruang kelas unggulan itu, XI A.

“Saya guru pembimbing kalian untuk ujian akhir semester nanti. Dan untuk kalian yang tidak suka, silahkan keluar. Saya tidak akan mencatat nama, melaporkan pada kepala sekolah, ataupun mengurangi nilai kalian. Saya hanya membimbing. Jadi sekali lagi, untuk kalian yang tidak menyukai saya, silahkan keluar.” Jelas Kim sonsaengnim dengan santainya.

Mendengar penjelasan tadi, beberapa siswa atau bisa dibilang hampir seluruh siswa disana segera mengemaskan barang mereka dan keluar dari kelas tanpa ragu. Itu jelas tidak patut untuk di contoh.

Dan akhirnya, tersisa Jessica, Seohyun, Kris, Luhan, dan 3 orang lagi. 3 orang itu bernama Kim Taeyeon, Byun Baekhyun, dan Do Kyung Soo.

“Gurae! Ini lebih baik daripada harus mengajar 20 orang siswa sekaligus. Baik, pelajaran dimulai!”

Kim sonsaengnim tampak mulai menuliskan sesuatu di papan tulis.

“Kalian tahu siapa yang akan menjadi juri untuk ujian praktek kali ini?” Tanya Kim sonsaengnim dengan nada tegasnya.
Seisi kelas hanya dapat menggeleng tidak tahu tanpa suara sedikitpun.

“Ketua Kesenian Korea Selatan, Tuan Lee Ki Woo.”

Dapat terlihat dari raut wajah penghuni kelas yang begitu terkejut dengan penyataan Kim sonsaengnim barusan.

“Kalian tahu mengapa Tuan Lee itu sangat terkenal di dunia hiburan Korea?” Seisi kelas kembali menggelengkan kepala mereka pelan.

“Satu yang perlu kalian ketahui. Tuan Lee adalah orang yang bisa mengehatui seberapa tulus sang pencipta lagu menghasilkan karyanya. Itulah yang membuat Tuan Lee dikenal masyarakat luas.”

“Apa itu artinya, Tuan Lee juga dapat merasakan ketulusan kami dalam membuat lagu?” Tanya namja berwajah cute yang dikenal sebagai Byun Baekhyun itu.

“Tentu. Jadi kuncinya, kalian harus tulus dalam membuat lagu untuk ujian kali ini. Kalian bisa menulis lagu itu sesuai apa yang kalian rasakan atau alami. Atau juga, lagu itu bisa kalian tujukan khusus untuk orang yang sangat berarti dalam hidup kalian.”

“Sem, bisa anda berikan satu contoh?” Tanya Kim Taeyeon selaku ketua kelas di kelas itu.

“Ehm, contohnya lagu ciptaan Kwon Yuri dari kelas XII B yang sekarang sudah lulus. Lagunya berjudul Mistake.” Ucap Kim sonsaengnim sambil berusaha mengingat – ingat lirik lagu itu.

“Aku masih ditempat yang sama, masih berputar – putar di sampingmu, aku lelah sehingga hati ini masih disekelilingmu.

Hari demi hari berlalu hingga aku tiba disini.

Ini kesalahanku yang tak bisa membuatmu lebih mencintaiku.
Ini kesalahanku yang membuat diriku lebih mencintaimu.

Ini kesalahanku yang tak bisa membuatmu lebih mencintaiku sebesar perasaanku padamu.
Berapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk menangis?

Kau tahu hatiku yang sakit. Kau tahu semuanya. Tetapi kau tak bisa tersenyum, berpura – pura tidak tahu.” Kim sonsaengnim mulai mengucapkan tiap bait dari lirik lagu yang sampai sekarang masih tersimpan didalam memorinya.

“Itu contoh lirik yang memiliki arti mendalam dari si penulis. Si penulis membuat lagu ini untuk menyampaikan rasa sakitnya yang terpendam karena tidak bisa membuat orang yang dicintainya bisa membalas cintanya yang teramat dalam.” Jelasnya yang terus berusaha membuat murid – muridnya bisa paham betul apa yang menjadi point dalam ujian akhir semester ini.

“Apa kalian sudah mengerti?” Sambung Kim sonsaengnim yang segera mendapat jawaban iya dari murid – muridnya.

~*****~

 

Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap tampak berhenti di parkiran SM International Art High School. Seorang namja tampan mulai tampak dari balik pintu mobil itu. Dengan gaya khasnya, namja itu mulai berjalan ke arah kelasnya XI – A.

Raut wajah gembira yang selalu ia tampakkan setiap paginya, kini berubah menjadi raut wajah yang sulit diartikan ketika ia berhasil mendapati sesuatu yang mengganjal menurutnya. Namja itu lalu bergegas ke arah bangku Jessica.

“Kenapa kau duduk disini, Kris?!” Tanya namja itu dengan sedikit penekanan di setiap katanya ketika ia berhasil mendapati sahabatnya itu tengah terduduk santai dibangku Seohyun. Kris yang sedang mengobrol kecil dengan Jessica langsung menatap namja yang tak lain adalah Luhan itu.

“Memangnya kenapa?”

“Jika kau duduk disana, Seohyun bagaimana?”

“Dia tidak datang.” Sahut Jessica segera.

“T- tapi, kenapa? Apa yang terjadi padanya?” Raut wajah Luhan makin tak karuan. Ia mulai tampak panik mendengar yeoja yang coba ia dekati tidak masuk sekolah.

Jessica tersenyum dalam hati, “Dia sakit.”

“Sakit? Sakit apa? Bagaimana keadaannya? Dan, sejak kapan??”

“Kau.. mau tahu?” Tanya Jessica dengan nada sedikit merayu.

“Tentu saja! Kau jangan mempermainkan aku!”

“Aku, tidak sanggup mengatakannya..” Ucap yeoja itu lalu mengusap keningnya dengan sebelah tangannya. Ya, berakting seakan – akan penyakit Seohyun itu parah.

“Jebal! Katakan padaku, Jessica Jung!”

“Demamnya sangat tinggi. Dia bahkan dia tidak kuat untuk duduk. Dan parahnya, dokter menyuruhnya untuk beristirahat selama 3 minggu. Apa kau sanggup untuk melihat keadaannya?” Jelasnya seraya masih dalam perannya mempermainkan pikiran Luhan.

Luhan kini tampak makin kacau. Mendengar Seohyun sedang sakit, semangat bersekolahnya semakin surut. Matanya kini menatap Jessica dengan tatapan yang mengasihankan sepertinya.

“Kalau begitu, sepulang sekolah kau harus mengantarku ke rumahnya. Aku ingin menjenguknya.” Ucapnya lemah, lalu bergegas ke bangkunya dengan tenaga yang tersisa darinya.

Jessica tersenyum kecil, “Menurutmu, apa Luhan menyukai Seohyun?”
Bisik Jessica pada Kris yang langsung membuat keduanya menahan tawanya masing – masing.

“Ya, kurasa. Dia tidak pernah sepanik itu sebelumnya…”

~*****~

Jessica, Kris dan Luhan kini sudah berada di parkiran sekolah mereka. Luhan dan Kris berniat untuk menjenguk Seohyun yang memang sedang sakit di rumahnya. Sementara Jessica, dia hanya bertugas mengantarkan dua namja ini ke rumah Seohyun karena dia sendiri sudah menjenguk Seohyun lebih awal.

“Jessica!” Seruan yang berasal dari seorang namja yang tidak asing untuk Jessica sontak mengagetkannya dan juga mau tak mau membuat Kris dan Luhan langsung mencari asal suara.

“Hei! Aku mencarimu sejak tadi.” Tegur namja itu lagi sambil menepuk pelan pundak Jessica.

“Suho sunbae? Kapan kau pulang dari Jepang? Kupikir Olimpiade Taekwondo antar negara masih harus berjalan seminggu lagi?”

“Olimpiadenya dipercepat. Dan kau tahu, aku memenangkan juara 2. Kau bisa bayangkan itu?”

“Aku ikut senang. Oh iya, kenalkan ini kedua temanku. Luhan dan Kris. Mereka siswa pertukaran dari China.” Jessica memperkenalkan satu persatu teman barunya pada namja yang akrab dengannya itu.

“Wu Yi Fan imnida.”

“Lu Han imnida.”

“Oh. Hai.. Senang bertemu kalian.”

“Ehm, kami permisi duluan, sunbae. Kami ingin menjenguk Seohyun.”

“Seohyun? Apa yang terjadi padanya?”

“Dia sedang sakit.” Jawab Jessica singkat untuk mempercepat obrolannya dengan sunbae mereka.

“Ya, sudah. Hati – hati.”

Ketiganya segera membungkuk kearah namja bernama lengkap Kim Joon Myeon itu dan pergi bersama menggunakan mobil Luhan yang sedari tadi sudah siap dihadapan mereka.

“Kalian tampak akrab.” Ujar Kris penasaran.

“Kami, memang dekat sejak awal” Jawab Jessica singkat tanpa ada niat untuk melanjutkan.

Kris mengerutkan keningnya, ‘Kenapa? Kenapa aku merasa penasaran dengan namja itu? Apa, namja tadi adalah namjachingu Jessica? Ini membuatku gila!’ Setidaknya, itulah yang sempat menjadi lamunan Kris yang membuat wajahnya tampak kusut.

~*****~

“Ini rumah Seohyun?” Tanya Kris sesampainya mereka tiba di halaman rumah Seohyun.

“Ne. Kajja, kita masuk” Ajak Jessica sesaat setelah ia berhasil membuka pintu rumah Seohyun yang dilengkapi kunci password.

“Kau sering kesini?” Kini, giliran Luhan yang bertanya pada yeoja bermata foxy itu.

“Tentu saja. Mana mungkin aku bisa diberitahu kode kunci rumah ini jika aku bukan orang terpercaya?” Jawabnya lalu menuntun dua namja dibelakangnya menelusuri lebih dalam isi rumah itu.

“Annyeong, ajhumma.” Seru Jessica pada Mrs. Seo yang tampak bergegas ke dapur.

“Sica? Oh, kau datang. Ehm, Joohyun sudah menunggumu kemarin. Kenapa kau tidak datang?” Tanya balik Mrs. Seo.

“Aku sibuk kemarin. Banyak yang harus ku kerjakan.”

“Ya sudah, masuklah ke kamar Joohyun. Jangan lupa, persilahkan dua temanmu itu juga.” Ujar Mrs. Seo yang melihat Luhan dan Kris yang berada di belakang Jessica.

“Ne”

Mereka segera bergegas ke kamar Seohyun yang berada di lantai 2. Jessica membuka pintu kamar bernuansa merah muda itu dan mendapati Seohyun yang sedang mengotak – atik laptopnya dengan gaya duduk santai di atas ranjang.

“Kau bilang dia bahkan tidak mampu untuk duduk. Apa kau mempermainkanku, eoh?” Tanya Luhan sembari menatap yeoja yang tengah berusaha menahan tawanya itu.

“Kalian datang? Kemarilah.” Ajak Seohyun yang baru menyadari bahwa dirinya sedang kedatangan tamu. Ya, tamu yang telah ia harapkan sebelumnya.

 

Seohyun POV

Aku menatap namja yang kini tengah duduk dihadapanku. Aku tidak tahu kenapa jantungku kembali berdetak cepat ketika tahu ia datang untuk menjengukku. Rasanya, tubuhku kini terasa sangat segar kembali.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Luhan padaku.

“Aku hanya kelelahan beberapa hari ini. Aku, sudah merasa lebih baik.”

“Ah, kau membohongiku lagi, Jessica Jung!” Namja itu mengepalkan tangannya keudara menghadap ke wajah Jessica yang sedang beku sejak tadi.

“Jadi kau mau apa?” Tantang yeoja itu lagi pada Luhan yang nampak sudah kehilangan setengah keberaniannya.

“Lupakan saja. Kita tidak mungkin bertengkar di saat seperti ini.”

“Ck, bilang saja jika kau takut!” Ejek Jessica yang memancingku dan Kris untuk tertwa karena sifat kenak – kanakan keduanya.

“Sudahlah, Lu. Namja yang memukul seorang yeoja, berarti banci. Kau gentleman, kan?” Kris menepuk pelan pundak Luhan yang berada disebelahnya.

“Dengarkan temanmu itu. Dia bahkan tahu jika seorang namja yang hanya berani dengan yeoja, berarti tidak sepenuhnya gentleman.”

“Diam kau!”

“Oh iya. Aku ingin membeli makanan ringan. Apa kau mau ikut, Jessica?” Tanya Kris pada Jessica yang berada disebelahku.

“Ah, ne. Aku ikut! Aku ingin membeli ice cream!”Serunya yang sudah kehilangan sisi dirinya yang dingin. Setiap kali mengingat ice cream, Jessica memang akan berubah menjadi lebih dan lebih kekanak – kanakan, bahkan lebih kekanak – kanakan dari bocah kecil berumur 5 tahun.

“Jangan lupa belikan kami juga!” Teriak Luhan pada Jessica dan Kris yang kini sudah menghilang dari balik pintu.

“Mereka itu!” Gerutunya dengan wajah polos dan terlihat sangat cute. Aghh! Aku bisa gila jika harus melihat wajahnya itu..

“Bagaimana dengan lagumu? Apa kau sudah menyelesaikannya?” Tanyaku yang membuatnya segera menatap mataku. Sangat dalam. Dia menatapku tepat di mataku.

“Belum. Aku belum mendapatkan inspirasi. Lalu kau?”

“Aku baru membuat nadanya. Soal liriknya.. aku bingung.” Jawabku singkat.

Aku kembali pada aktivitasku sebelumnya. Ya, aku sedang menuliskan beberapa kata yang mungkin bisa kujadikan lirik untuk karya pertamaku.

Mungkin karena terlalu banyak mengobrol, atau karena yang lainnya, kini aku merasa sangat haus. Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan berjalan ke arah meja yang tak jauh dari tempatku sebelumnya untuk mengambil segelas air. Dan karena kehilangan fokus mungkin, kakiku tersandung tumpukan buku yang berada dilantai kamarku itu. Dan akhirnya, aku kehilangan keseimbanganku.

Namun sepasang tangan rasanya menahanku untuk jatuh. Luhan…

 

To Be Continue . . . ~

9 thoughts on “Destiny (Chapter 4)

  1. Aku kepo sama masalahnya Jessica. I mean ttg keluarganya. Knp dia blg dia kangen keluarga yg utuh lagi .-.

    Next chapter thor! Ceritanya baguss aku sukaa. Btw aku baru comment di chapter ini karena wp ku lupa password jd baru sempet bkin baru hehe mian ‘-‘)v

  2. Kayaknya sica sama luhan udh mulai akur yah . Kris cari alasan nih buat ngajak sica jalan . Hihihi . Makin kesini makin seru thor ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s