Let’s Not Fall in Love – First Meet

letsnotfallinlove

Let’s Not Fall in Love

Teaser | First Meet

Written by © Amy Park

Jessica Jung – BTS Jin

Special appearance: BTS Taehyung

Romance – Angst | Series | PG-15

Note: I ONLY publish this story in here and Indo Fanfiction. Jika menemukan kisah ini di situs lain, silakan segera beritahu aku, ya. Happy reading🙂

Thanks for your amazing poster, Arin Yessy @ Indo Fanfiction Arts ^^

^

Sometimes, you gotta be brave and trust someone

Even a stranger, and make your life better.”

^

^

Sejak awal, perempuan itu tidak pernah percaya akan kehadiran orang lain di sampingnya. Manusia diberikan hati yang gampang berubah, berpindah tempat, dan menghilang tanpa meninggalkan sebuah jejak. Ia selalu berdiam di tempatnya, tetapi mereka selalu melangkah—menjauh sampai genggaman tangan mulai terputus dan tidak bisa disambung lagi. Nalarnya sudah terlalu kering, sehingga ia tidak pernah percaya akan kebersamaan.

***

Perempuan bersurai hitam sebahu itu menarik senyuman dari bibir merah mudanya. Bola matanya yang coklat melihat kupu-kupu bewarna biru jenis polyommatus bellargus yang tengah terbang di sebuah kotak kaca berukuran sedang—seperti aquarium, menari-nari dengan bebas mengintari sebuah bunga.

Hatinya terasa sesak, menatap kesendirian yang mengelilingi kupu-kupu tersebut tidaklah mencerminkan dirinya. Binatang kecil itu tampak bahagia, sedangkan dirinya hanya bisa terpuruk dalam sebuah kesedihan yang—rasanya—abadi.

“Sungguh cantik, bukan?”

Jessica—pemilik surai hitam indah—menoleh dan mendapati seorang lelaki muda yang lebih tinggi darinya. Sebuah senyuman membuat paras lelaki itu terlihat manis. Mata tajamnya tidak menghilangkan kesan ramah dalam dirinya. Kini, tatapannya melekat, memandang kupu-kupu biru dengan sorot yang dalam.

“Ya, kupu-kupu itu sungguh cantik… dan bahagia,” jawab Jessica. Ia pun kembali mengarahkan perhatian pada kupu-kupu lalu berucap, “Ia tidak mengerti kesendirian. Selalu mengepakkan sayap dan membuat orang lain kagum, tanpa tahu nyawa yang diberikan Tuhan padanya sangatlah singkat. Dia makhluk yang indah, tetapi sesungguhnya ia hanya serangga bodoh yang tidak mengerti keadaan.”

Lelaki di sampingnya tertawa. “Kau salah. Kupu-kupu bukan serangga bodoh. Hanya saja, ia amat menghargai setiap detik kehidupan yang diberikan khusus untuknya.”

Jessica menoleh hingga mata keduanya bertemu. Sebelah alis miliknya terangkat, menandakan kebingungannya atas ucapan lelaki tersebut, “Menghargai?”

“Ya, menghargai. Menghargai waktu yang ia miliki. Walau terkurung di sebuah kotak kecil seperti ini sendirian, ia tetap terlihat indah—terbang bebas dan menikmati kehidupannya.”

“Menikmati kehidupan yang singkat, lebih tepatnya. Setidaknya ia tidak akan terlalu lama untuk merasa kesepian. Bayangkan jika manusia yang hidup kesepian, mereka tidak akan pernah tahu kapan napasnya berhenti sehingga perasaan itu akan menyiksanya lebih lama. Bagi manusia, waktu bukanlah hal yang pantas dihargai, tetapi lebih pantas untuk disalahkan. “

“Aku tidak setuju dengan pendapatmu,” ujar lelaki itu. “Seharusnya manusia bisa belajar dari kupu-kupu. Serangga itu bahkan bisa menghargai waktu yang singkat, lalu kenapa manusia harus menyalahkan waktu padahal mereka diberikan kehidupan lebih panjang? Dengan waktu yang panjang dan tidak menentu, justru manusia diberi kesempatan untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Manusia yang merasa tersiksa oleh waktu, hanyalah manusia yang tidak mau berusaha keluar dari keterpurukannya. Bukankah manusia diciptakan untuk bertahan dan mencari kebahagiaan?”

Pemilik bibir merah muda itu tersenyum. “Kau benar, tetapi tidak semua manusia memiliki kemampuan untuk bertahan di dunia yang luas ini—apalagi jika ia hanya sendiri dan tidak ada yang menemani. Kau bisa saja gampang berucap. Namun, pada kenyataannya, sangatlah sulit.”

Lelaki itu mengangguk, bukan karena sepenuhnya setuju dengan perkataan Jessica. Hanya saja, jika ia mengelak, perdebatan mereka tidak akan pernah selesai. Maka, lelaki itu lebih memilih untuk mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri, “Namaku Taehyung. Kim Taehyung.”

Jessica hanya menatap Taehyung tanpa berniat menjabat tangannya. “Senang bisa berbincang denganmu.”

Mendengar ucapan itu, Taehyung pun menarik lengannya kembali. “Kau tidak akan memberiku kesempatan untuk berkenalan denganmu, ya?”

Jessica hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan Taehyung. Lalu, tanpa berkata apapun lagi, perempuan itu segera berbalik dan melangkah pergi—meninggalkan Taehyung yang masih berdiam di tengah pameran kupu-kupu tersebut.

“Semoga kita bertemu lagi,” gumam Taehyung.

***

“Sophie, aku datang!”

Suara teriakan Jessica terdengar begitu ia menginjakkan kaki di ruang tamu apartemen. Tidak mendapat respon apapun dari binatang peliharaannya, rasa khawatir Jessica mulai muncul. Biasanya, anjing bewarna coklat muda itu akan langsung berlari menghampiri bahkan saat Jessica membuka pintu.

Perempuan itu melemparkan tas ke sofa secara sembarang. Ia segera melangkah menuju ruang tengah. Dan, di sanalah tubuhnya merasa kaku. Badannya mulai bergetar dan keringat dingin langsung menyapa bagaikan kedipan mata. Air mata pun langsung menetes, saat ia melihat anjing berjenis pomeranian itu tak sadarkan diri di lantai apartemen yang begitu dingin.

“Sophie-ya…”

Jessica pun mendekat, duduk berlutut dan merengkuh anjing kecil itu dalam pelukannya. Tangan Jessica mengelus tubuh anjing itu sehingga bulu-bulunya yang lembut bisa terasa olehnya. Pada saat itu, ia pun sadar bahwa peliharaannya sudah tidak bernyawa, membuatnya semakin terisak. Sophie, anjing pomeranian yang sudah menemaninya selama sepuluh tahun itu telah tiada. Meninggalkannya seorang diri.

***

Terkadang, hidup memang terasa menyakitkan, dan bagi seorang Jessica Jung, kehidupan adalah hal yang paling menghabiskan waktunya. Bahkan sebuah kehidupan sudah menyiksanya sejak kecil—sejak sang ayah menghembuskan napas terakhir, ibu kandung yang meninggalkan untuk hidup bahagia dengan keluarga barunya, sang adik yang menjadi satu-satunya harapan pun pergi entah kemana, dan… peliharaan yang ia anggap setia lebih memilih untuk tidak bernyawa lagi dan meninggalkan dirinya—semua itu sudah cukup membuat Jessica amat membenci hidupnya.

Kaki jenjang itu bergerak satu langkah. Kedua tangannya membuka tirai jendela dengan satu gerakan yang cepat, sehingga cahaya pagi membuat matanya yang sembab menyipit. Pemandangan di luar sana amat berbeda dengan keadaan hatinya. Sungguh cerah, ramah, yang juga disambut oleh nyanyian burung-burung kecil yang beterbangan.

Senyuman miris terpancar dari bibirnya yang pucat. Sudah tiga hari berlalu sejak kematian Sophie, tetapi tidak ada yang berubah. Kesedihan dan kesepian masih menyelimuti perempuan itu. Bahkan semuanya semakin terasa kering, dingin, dan tidak bernyawa. Jessica sudah mati. Secara tidak langsung, perempuan itu sudah mati.

Dan… Jessica benar-benar harus mati.

***

Semilir angin membuat helai demi helai rambut Jessica bergerak, menjadikannya tampak berantakan. Udara yang dingin pun langsung menyeruak masuk pada sekujur tubuh Jessica, melewati dress putih yang dikenakan perempuan itu secara mulus. Pemandangan kota dari atap apartemen yang ia tempati sungguh menakjubkan. Sayangnya, pemandangan pagi yang cerah itu harus segera menjadi saksi kematiannya kelak.

Tembok pembatas itu tingginya tidak lebih dari leher Jessica, tetapi ia tetap mendengus kesal karena hal itu cukup merepotkannya. Dengan susah payah ia mengangkat kaki dan seluruh tubuhnya, sehingga ia bisa berdiri tegak di atas tembok pembatas—menjadikan ia lebih mudah meloncat dan memposisikan diri di atas atap apartemen yang sesungguhnya.

Dinginnya tembok bisa ia rasakan di kedua kakinya yang tidak memakai alas apapun. Kini, kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan tampak amat kecil di matanya. Tanpa terasa, jantungnya berdetak lebih cepat, kepalanya pun berputar—pening akan ketinggian. Ia bergegas untuk terjun bebas dan mengacaukan ketenangan aktivitas kota di bawah sana, tetapi rasa ragu tiba-tiba datang dan mengganggu keyakinannya. Perasaan ragu yang bahkan ia sendiri pun tidak tahu dari mana asalnya.

“Lompat. Lompat saja dan matilah. Percuma, tidak akan ada yang peduli denganmu!”

Suara lelaki itu terdengar begitu jelas di telinga Jessica, membuat kepalanya menoleh dan mendapati seseorang tengah berdiri di bawah tembok pembatas, cukup dekat dengan Jessica sehingga perempuan itu bisa melihat dengan jelas wajahnya.

Ahjuma, kau tinggal di apartemen nomor berapa? Cepat katakan padaku. Jadi, ketika kau sudah mati, biar aku yang mengambil alih tempat tinggalmu.”

Jessica tersenyum kecil. Lelaki itu tidak bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Ia sangat sadar bahwa lelaki tengil itu tengah menghinanya. Menghina Jessica karena berbuat hal yang menurut lelaki itu sangatlah bodoh.

“Kehidupan yang kau lalui sangat sulit, ya? Mengapa kau lebih memilih untuk bunuh diri? Memangnya kau yakin setelah mati kau akan bahagia? Apa kau yakin kehidupan di alam setelah kematian akan lebih baik? Ahjuma, ada salah satu agama yang mengatakan, bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah, malah bisa membuatmu berakhir semakin tersiksa—terbakar tanpa henti di dalam lautan api yang berkobar tinggi,” oceh lelaki itu dengan nada yang menggebu, seolah memberitahu Jessica bahwa niatnya tersebut adalah sesuatu yang sia-sia.

Jessica memejamkan mata, berusaha untuk tidak mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut lelaki itu. Sungguh, lelaki tersebut memiliki bibir yang kecil—tampak mungil, tetapi perkataan yang ia ucapkan tidak jauh berbeda dari seseorang yang bermulut besar.

“Setelah kau mati, memangnya kau yakin keluargamu akan bersedih? Setelah kau mati, memangnya kau yakin dunia akan mengeluarkan empati untukmu?” Lelaki itu tertawa sambil melihat Jessica dengan tatapan yang merendahkan. “Pada kenyataannya, mereka akan menertawakanmu, bukan menangisimu. Dengan bunuh diri, berarti kau sudah menyerah, dan dengan menyerah, itu berarti kau seorang pengecut. Pengecut memang tidak pantas untuk ditangisi, bukan?”

“Jangan menghalangiku. Sebaiknya kau pergi,” ucap Jessica pada akhirnya. Perempuan itu pun menatap sang lelaki dengan tatapan yang cukup tajam, berharap lelaki itu segera pergi ketika melihat kedua matanya yang dipenuhi dengan rasa putus asa.

“Siapa bilang aku menghalangimu? Aku hanya berbicara sebuah teori dan pengandaian. Jika memang bunuh diri adalah jalan kau pilih, silakan segera lakukan. Aku hanya berpesan, setelah melompat, sampaikan salamku pada Tuhan, dan bilang padanya bahwa manusia memiliki akal yang semakin lama semakin sempit.”

Jessica hanya menghela napas, tidak sanggup membalas perkataan lelaki tersebut yang semakin menohok hatinya. Dan… kepalanya kembali berputar, rasa pening itu semakin kuat, membuat kedua matanya berkunang-kunang. Jessica pun tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh, sehingga ia terjauh.

Bukan. Jessica tidak terjatuh ke lantai keras nun dingin yang membuat kepalanya pecah, melainkan ke sebuah pelukan yang justru membuatnya merasa aman juga hangat. Ketika ia mampu membuka mata, ia bisa melihat lelaki itu tersenyum dengan jarak yang amat dekat.

“Lihat. Kau bahkan sangat ketakutan ketika jatuh dari ketinggian yang kurang dari dua meter. Masih mau bunuh diri dan terbakar di neraka?” ucapan lelaki itu terdengar sungguh mengejek dan menjengkelkan. Bertolak belakang dengan raut wajah manis yang dimilikinya.

“Lepaskan aku,” gumam Jessica, bahkan nyaris tidak terdengar.

“Sekarang, yang harus kau lakukan adalah berhenti berpikir seakan tidak ada yang peduli denganmu. Berapa nomor tempat tinggalmu? Biar aku membawamu ke sana.”

***

“Pasta ini sangat enak! Fetuccine memang sangat pas dipasangkan dengan saus bolognese. Ahjuma, aku tidak percaya kau memilih untuk bunuh diri padahal ada makanan seenak ini yang bisa kau makan setiap hari!”

Jessica yang tengah duduk di sofa sambil memeluk lututnya, berhasil menyunggingkan senyuman pada lelaki yang tampak terlihat bahagia menyantap makanannya. Jessica yakin, umur lelaki itu tidak berbeda jauh dengannya, tetapi ia bersumpah jika lelaki itu sangatlah lucu. Apalagi ketika lelaki itu mengunyah makanan, sangat mirip dengan marmut.

“Siapa namamu?” tanya Jessica, yang membuat lelaki itu menghentikan aktivitas makan sejenak untuk menatapnya.

“Namaku? Aku juga tidak tahu.”

Sebelah alis Jessica terangkat. “Lalu aku harus memanggilmu apa?”

Lelaki itu tersenyum dan segera menyuap satu sendok fettucine ke dalam mulutnya. Sambil mengunyah, ia menjawab, “Terserahmu. Kau bisa memberiku nama jika mau.”

“Kim Seokjin. Bagaimana menurutmu?” ungkap Jessica yang secara tidak sadar mulai antusias. Perempuan itu tidak biasanya merasa semangat untuk satu hal. Melihat lelaki itu yang belum merespon karena masih menikmati santapannya, Jessica kembali berucap, “Aku memikirkan Seokjin karena nama itu aku ambil dari nama pelawak menyebalkan di Running Man. Aku pikir, kalian sama-sama menyebalkan. Dan marga Kim aku pilih secara random, karena kedatanganmu juga terbilang random di kehidupanku.”

“Ewh, aku bisa menerima alasanmu tentang marga, tetapi tentang nama pelawak menyebalkan itu, jangan berharap. Aku tidak mau disamakan dengan pelawak. Panggil aku Jin saja, itu lebih baik.”

Jessica tersenyum, “Baiklah. Aku akan memanggilmu Jin.”

Senyuman pun terukir dari bibir Jin. Wajah lelaki itu tampak semakin bersinar karena memiliki nama yang baru. “Karena secara teori aku sudah menyelamatkanmu dari bunuh diri, maka kau harus mengizinkan aku untuk tinggal di sini.”

“Kenapa? Memangnya kau tidak punya tempat tinggal? Bahkan kau tidak tahu dengan namamu sendiri. Atau jangan-jangan kau berpura-pura? Atau mungkin kau seorang buronan yang sengaja datang padaku untuk menyamar dan berlindung?”

Jin tertawa renyah mendengar serentetan pertanyaan yang dilontarkan Jessica. Lelaki itu segera menyimpan piring di atas meja dan fokus melihat Jessica yang duduk di hadapannya. “Pertanyaanmu sungguh tidak masuk akal!”

“Tentu sangat masuk akal jika diberikan kepada lelaki tidak jelas sepertimu!” tukas Jessica, nadanya sedikit lebih serius sehingga membuat Jin terdiam dan mengusap tengkuknya.

“Aku tidak berbohong. Aku memang tidak tahu siapa sebenarnya diriku dan aku sama sekali tidak mengingat apapun. Satu-satunya yang aku ingat adalah, begitu aku terbangun di lantai yang dingin, aku melihatmu—perempuan pendek akal yang mencoba bunuh diri.”

“Bagaimana bisa kau—“

“Sudahlah. Lagipula, kau tinggal di sini sendirian, bukan? Tempat tinggalmu sangat luas, tapi terasa hampa. Biarkan aku tinggal di sini agar aku bisa menemanimu,” potong Jin. Lelaki itu kembali berkata dengan nada semangat, “Kita jadikan ini solusi yang seimbang. Kau bisa menjadikan aku sebagai temanmu agar tidak kesepian lagi, dan aku akan menjadikan apartemenmu sebagai tempat tinggalku agar aku bisa hidup dengan normal. Tidak tahu asal-usul diri sendiri itu cukup menyiksa, tahu.”

Melihat Jin yang mengerucutkan bibir membuat Jessica tersenyum, dan entah mengapa hatinya sangatlah tertarik mengabulkan keinginan lelaki itu. “Tapi di sini hanya memiliki satu kamar tidur. Kau tidur di ruang tamu saja kalau mau.”

Jin menggeleng cepat. “Kita berbagi kamar saja. Tidur di satu kasur yang sama tidak masalah, bukan?”

Dahi Jessica berkerut, tidak mengerti dengan jalan pikiran Jin. “Apa kau tidak waras? Kita baru kenal dan kau adalah laki-laki.”

“Aku tidak akan melakukan hal apapun padamu. Lagipula, aku tidak mau tidur di sofa karena sangat sempit dan tidak nyaman. Jika kau tidak mau berbagi tempat tidur denganku, kau saja yang tidur di sofa kalau begitu.”

Jessica mendengus sebal. “Kau pikir ini rumah siapa, huh? Baiklah… baiklah… kau boleh menempati kamarku, tapi jangan berharap aku mau tidur di sofa!”

Senyuman puas terukir di bibir Jin. “Nah, itu lebih baik. Selain menjadi teman serumah, kita juga menjadi teman sekamar. Aku akan menemanimu selama dua puluh empat jam, sehingga kau tidak merasa kesepian. Ide yang bagus, bukan?”

“Terserahmu…” jawab Jessica sambil tertawa kecil. Jangan bertanya, karena Jessica sendiri tidak mengerti mengapa ia dengan begitu gampang menerima tawaran Jin untuk tidur di kamar yang sama.

Tanpa menghilangkan senyumnya, Jin pun kembali bertanya, “Ngomong-ngomong, siapa namamu?”

Jessica menghela napas. Setelah cukup lama terdiam, akhirnya ia pun menjawab, “Jessica. Jessica Jung.”

Dan… ini adalah kali pertama Jessica memberitahu namanya pada orang asing.

***

Jessica terbangun karena hidungnya mengendus aroma masakan yang berhasil menggugah seleranya. Matanya menyipit ketika sinar mentari menyambut paginya. Ia tersenyum, perempuan itu tahu bahwa Jin yang membuka tirai jendela kamar. Sebelumnya, ia selalu bangun dengan keadaan kamar yang gelap dan sesak. Sekarang, Jessica pada akhirnya sadar jika sinar mentari sangatlah indah di pagi hari, menghangatkan hatinya yang sudah terlalu lama beku.

Dengan satu gerakan cepat, Jessica menyingkap selimut dan berdiri. Perempuan itu pun berlari kecil untuk keluar kamar dan melangkah menuju ruang makan. Kehadiran Jessica pun langsung disambut oleh senyuman Jin. Lelaki itu sudah duduk di meja makan, yang di atasnya sudah tersaji berbagai menu sarapan yang tampak lezat.

“Jess, aku berusaha masak untukmu, loh. Duduklah dan mari kita sarapan!”

“Kau tidak memanggilku ahjuma lagi?” senyum Jessica seraya duduk di hadapan Jin.

“Tidak, karena aku sudah tahu namamu,” jawab Jin seraya memberikan semangkuk nasi pada Jessica.

Jessica menerimanya dengan senang hati. Namun, matanya tercekat ketika mendapati satu mangkuk lain yang berisi sup di depannya. Sup rumput laut. Di Korea Selatan, sup rumput laut biasa dihidangkan ketika ada yang berulang tahun. Jessica pun menatap Jin tidak percaya, “Bagaimana bisa kau tahu hari ini ulang tahunku?

“Oh? Kau ulang tahun? Benarkah? Padahal aku membuat sup rumput laut karena memang aku sedang ingin memakan itu. Woah, bagaimana bisa ini menjadi sebuah kebetulan?” mata Jin melebar karena takjub.

Jessica terkekeh. “Bagaimanapun… terima kasih, Jin. Aku senang kau memasak untukku.”

Happy birthday, Jessica,” tutur Jin. Lelaki itu pun segera mengisyaratkan Jessica untuk memulai makan.

“Ini adalah hari ulang tahunmu. Bagaimana jika kita jalan-jalan, Jess?”

***

Jessica berteriak sambil berlari di tepi pantai, menumpahkan seluruh kepedihan dan keterpurukan yang ada dalam dirinya selama ini. Ia berbalik dan tersenyum mendapati Jin yang tengah melompat-lompat senang. Suasana pantai yang tidak begitu ramai bukan alasan bagi mereka untuk tidak menjadi pusat perhatian. Umur mereka yang sudah tidak termasuk ke dalam kategori remaja membuat orang-orang menatap aneh akan tingkah mereka yang sedikit berlebihan dalam menyampaikan kebahagiaan.

“Sudah lama aku tidak bermain di pantai. Ternyata sangat menyenangkan, ya!”

Jin melemparkan pandangan heran pada Jessica, “Pantai ini tidaklah jauh dari apartemenmu, Jess, tapi kau jarang mengunjunginya? Oh, pantas saja hidupmu suram, jiwamu terlalu beku sehingga tidak tahu betapa menyenangkannya suasana seperti ini!”

“Aku tidak punya teman untuk datang ke sini, tahu!” tukas Jessica sambil mengerucutkan bibir.

Jin menghampiri Jessica dan menepuk kepala perempuan itu dengan lembut, “Mulai sekarang, kau harus sering datang ke sini, ya! Jika kau bersedih dan merasa sendiri, jangan langsung memutuskan untuk bunuh diri, tapi datanglah ke pantai dan lihat betapa luas dan indahnya dunia ini untuk kau syukuri!”

“Kau tahu, Jin, petuahmu itu amat benar sehingga membuatku sebal mendengarnya.”

Senyuman tersungging di bibir Jin. Dia pun berucap, “Bagaimana jika kita duduk sebentar? Berlari dan melompat sudah membuatku lelah.”

Jessica mengangguk, kemudian membiarkan lengannya digenggam oleh lelaki itu dan berjalan menghampiri bangku panjang. Mereka pun lantas duduk di atasnya.

“Boleh aku bertanya sesuatu padamu? Tapi ini tentang hal yang sedikit sensitif.”

Perempuan itu menatap Jin sambil tersenyum, “Tentu saja boleh. Mau bertanya apa?”

“Kenapa kau ingin bunuh diri? Dilihat dari tempat tinggalmu, kau tentu saja bukan orang yang putus asa karena tidak bisa membiayai hidup. Jadi, sebenarnya apa masalahmu?”

Jessica mengalihkan perhatiannya pada pemandangan pantai. Ia menghela napas sebelum menjawab, “Aku pikir… hidup sendirian di dunia ini tidak ada gunanya, Jin. Ayahku meninggal ketika aku berumur dua tahun karena kanker kronis yang dideritanya. Ketika umurku dua belas, ibu memilih untuk meninggalkan aku dan Krystal—adikku—agar bisa hidup bahagia dengan suami barunya.

Ibuku menghidupi aku dan Krystal dengan uang, bukan kasih sayang. Dan Krystal… gadis tengil itu lebih memilih tinggal di Seoul untuk meraih mimpinya menjadi seorang penyanyi. Sudah dua tahun Krystal tidak kembali—tanpa kabar—membiarkan aku hidup sendiri. Aku tidak punya siapa pun di dunia ini, maka aku berpikir bahwa kematian adalah yang terbaik,” jelas Jessica yang segera menunduk. Tidak ingin Jin melihat air matanya yang mulai mengalir.

Bibir kecil milik Jin mengukir sebuah senyuman ketika perempuan itu selesai menjelaskan. Lelaki itu pun membawa Jessica ke dalam pelukan seraya berkata, “Sekarang kau tidak sendiri. Aku akan menemanimu.”

***

Waktu berputar begitu cepat dan hari pun mulai gelap, tetapi hal itu tidak mengakhiri canda tawa yang mengelilingi Jessica dan Jin. Mereka masih terhanyut dalam kesenangan, enggan untuk pulang dan beristirahat. Kini, keduanya menginjakkan kaki di sebuah mini market yang sepi, hanya ada seorang kasir dan dua orang pembeli lain di dalamnya.

Jessica sedang melihat-lihat cemilan yang berjajar rapi ketika Jin berbisik padanya, “Kau mau mencoba permainan seru?”

Perempuan itu menatap Jin heran, “Permainan apa?”

Senyuman tersungging dari bibir Jin. Ia pun segera meraih tengkuk Jessica dengan tangan kanannya dan mempersempit jarak mereka. Jika dilihat dari kejauhan, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang tengah bermesraan. Jessica pun sadar kini kedua pipinya memerah, merasa gugup karena jarak mereka begitu dekat.

“Tetap diam, Jess.”

“Jin!”

Perempuan itu memekik secara tertahan dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara ketika tangan kiri Jin mengambil coklat yang ada di rak mini market dan memindahkannya secara perlahan ke dalam tas kecil milik Jessica.

“Jadi ini permainan yang kau maksud? Tapi uangku masih cukup untuk membeli coklat jika kau mau. Tidak usah mencuri,” bisik Jessica dengan perasaan setengah panik.

“Hanya untuk bersenang-senang, Jess. Tidak apa-apa,” ucap Jin sambil menyeringai lebar dan menutup tas Jessica dengan rapat. Lelaki itu kembali membuka mulut, “Kita pergi sekarang. Jangan pasang muka mencurigakan. Biasa saja, ya.”

Tanpa menunggu jawaban Jessica, Jin pun segera menarik lengan perempuan itu dan membawanya keluar dari mini market dengan langkah santai. Ketika mereka sudah sampai di luar mini market, Jin pun langsung memberi aba-aba agar keduanya berlari cepat, segera meninggalkan wilayah itu sebelum ada orang yang tahu bahwa mereka sudah melakukan kejahatan kecil.

Mereka pun berlari sambil tertawa, tidak percaya akan keberhasilan yang baru saja diraih. Ketika sudah cukup jauh dari wilayah tersebut, langkah mereka pun terhenti. Jessica memukul tubuh Jin pelan dan menatap lelaki itu tidak percaya. “Kau benar-benar gila, Jin!”

Jin mengatur napasnya sejenak sebelum menjawab, “Aku tidak gila, kau saja yang terlalu kolot untuk mencoba permainan seperti itu!”

“Barusan kita mencuri, dan mencuri tidaklah termasuk ke dalam sebuah permainan!”

Lelaki itu mengibaskan tangan sambil tersenyum jahil. “Ah, kita hanya mencuri coklat. Santai, Jess! Jadikan ini pengalaman!”

“Hahahahaha… kau benar-benar gila!”

Pada akhirnya… perempuan yang tidak percaya akan kebersamaan itu kembali tertawa dengan lepas. Jin, lelaki asing itu, mampu membuat dirinya merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

***

Jessica segera menarik lengan Jin dan membawanya menerobos kerumunan orang agar bisa berada di jajaran paling depan untuk menonton pertunjukan Dadaepo Sunset Fountain of Dream. Perempuan itu terkagum dengan pertunjukkan air mancur yang indah. Air mancur itu menari-nari mengikuti irama lagu yang diputar. Warna-warni yang dipancarkan air mancur itu pun sangat cantik, mampu menerangi kegelapan malam kota Busan dan menemani kebahagiaan para pengunjung.

Jin menoleh dan menatap Jessica yang tersenyum bahagia. Wajah Jessica tampak lebih cantik dan ceria, sungguh berbeda ketika pertama kali ia bertemu dengan perempuan itu di atap apartemen—Jessica tampak sangat putus asa dan bersedih. Entah mengapa, melihat senyuman Jessica, hati Jin pun terasa hangat, tetapi setitik kesedihan pun ikut ia rasakan.

“Jessica…”

Tanpa menghilangkan senyumannya, Jessica segera menatap Jin. “Ya?”

“Jangan pernah menghilangkan senyuman itu, bahkan jika suatu saat aku harus pergi.”

^

^

Betapa indahnya sebuah kehidupan, ketika kau menemukan kembali secercah harapan yang pernah hilang.

***

Sengaja aku publish FF ini di sini dan di Indo Fanfiction secara bersamaan sehingga aku bisa sekaligus post FF di dua tempat kerjaku (?) Dan aku pasti menyelesaikan FF ini, walaupun bakal memakan waktu yang lama. Hey, menulis di tengah kesibukan kampus dan tugas-tugas bukanlah hal yang mudah, you know :’)

Jangan lupa komentar serta kritik dan sarannya. Sampai jumpa di part selanjutnya kalau begitu~~ Terima kasih🙂

Sekali lagi, maaf kalau typo~ lagi malas ngedit😄

45 thoughts on “Let’s Not Fall in Love – First Meet

  1. Aku kira yang ketemu jessica pertama itu jin, ternyata my baby honey emphi, kaget aku. Ooh mereka itu ketemunya saat jessica mau bunuh diri. Kok lucu sih jin gak tau siapa namanya terus yg kasih nama jessica. Jin nya nyebelin masa numpang aja gk mau tidur di kursi, minta seranjang lagi hahaha pervert jin. Oke, gomawo nde🙂

  2. curiga nih sama si jin… jangan-jangan dia malaikat lagi.. soalnya kagak tau asal usulnya siiih….

    eh ada taehyung.. sepertinya dia mulai tertarik ama sica yah.. hahahaa

  3. Keleeeeeeen!!!
    Jessica nya kasihan banget sih thor,,, untung gak jadi bunuh diri hehe
    Eh tapi kok disini Jin aneh sih,, sebenernya dia siapa thor? Kok gak jelas asal usulnya,,
    ditunggu ya next nya,, fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s