Pendulum

CKlBjk1UwAABqY0 tumblr_m9eds0eorb1qc5tjso1_500

Yura Lin proudly presents;

Pendulum

Genre:

Angst

Length:

Oneshoot

Cast:

Jessica Jung | 2PM Wooyoung

***

“Hoa!”

Eunbi menoleh kaget mendengar seruan Yuna. “Ada apa? Ada apa?”

“Acara reuni kali ini sepertinya akan menarik,” gumam Yuna dengan senyuman lebar melihat pemberitahuan email khusus untuk acara reuni akbar yang akan diselenggarakan 2 minggu kemudian.

“Huh?”

“Apa kau tahu pasangan fenomenal dari angkatan 39? Antara murid berandal dan murid kesayangan? Keduanya sudah memastikan untuk datang.”

Eunbi mengangkat bahunya. “Mana aku tahu. Itu kan 8 tahun yang lalu. Mereka sudah menikah?”

Yuna menggeleng cepat. “Malah sebaliknya. Mereka berpisah di beberapa bulan sebelum kelulusan. Tidak ada yang tahun kapan dan bagaimana mereka putus.”

“Lalu bagaimana?”

“Murid berandal itu lulus karena rasa kasihandari para guru dan si murid teladan lulus sebagai lulusan terbaik. Akan tetapi, setelah mereka putus, mereka seakan menjauhi satu sama lain.”

“Woah. Sepertinya mereka berakhir dengan cara yang buruk,” Eunbi mendecak.

*

“Badanmu bukan mesin! Badanmu juga butuh istirahat,” omel ibunya.

Gadis itu mengeratkan pegangannya pada pensil. Seakan tidak mendengarkan apa kata ibunya, dia kembali mengerjakan soal di buku tebal tersebut.

“Sica, ku mohon. Istirahatlah. Wajahmu sudah pucat pasi,” mohon ibunya.

Jessica masih mengabaikan permintaan ibunya. Pandangannya mulai buram. Kepalanya sakit. Cairan kental mengalir melewati lubang hidungnya yang baru dia ketahui setelah cairan itu membasahi kertasnya dan meninggalkan noda berwarna merah. Melihat itu, ibunya semakin panik.

“Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan! Aku bersumpah! Tolong, Jessica Jung. Menyiksa dirimu tidak akan menghasil apapun!”

Jessica tersenyum tipis. “Apapun?”

“Ya, apapun.”

“Berjanjilah untuk tidak mengingkari janji kalian. Berjanjilah untuk menepati janji kalian untuk tidak mengaturku lagi setelah aku lulus dengan nilai terbaik. Berjanjilah kalian tidak akan menentangku jika aku ingin kembali kepadanya. Berjanjilah—”

Tubuh Jessica jatuh dari kursi saat kesadarannya hilang.

*

“Aku masih tidak mengerti mengapa mereka bisa menjadi pasangan fenomenal. Maksudku, kisah mereka seperti plot drama klise. Tidak ada sesuatu yang menurutku pantas dikatakan fenomenal,” kata Eunbi.

Yuna mendecak kesal. “Kau benar-benar tidak tahu, ya?”

“Sudah ku bilang, itu 8 tahun yang lalu! Mana aku tahu? Aku bukan sepertimu yang senang bergosip,” bela Eunbi.

Yuju memukul lengan temannya pelan. “Enak saja! Aku diberitahu senior. Senior dan alumni kita selalu berusaha membuat keduanya datang tapi selalu gagal. Kalau bukan si murid telandan, maka si berandalan lah yang datang. Dan jika si berandalan yang datang, biasanya acara menjadi terlalu heboh dan sulit dikendalikan.”

“Bahaya dong!”

“Bahaya kenapa?”

“Bahaya karena dia pasti datang di acara kita!”

“Semua senior yakin bahwa murid teladan itu bisa menjadi pawang si berandalan agar dia tidak merusak acara kita.”

Eunbi tertawa. “Pawang? Memang dia ular?”

“Aku serius. Hanya si murid teladan itu yang bisa membuat si berandal berhenti berulah. Selalu. Setidaknya selama mereka sekolah di sini karena ku yakin mereka tidak pernah bertemu setelah keduanya lulus.”

*

Remaja pria dengan seragam berantakan itu membuat kegaduhan di perpustakaan bersama teman-temannya. Mereka berlarian saling mengejar satu sama lain untuk memperebutkan sesuatu yang dipegang oleh remaja itu. Sering kali mereka menabrak orang-orang dan membuat banyak buku berserakan di lantai. Teriakan tadi penjaga perpustakaan diabaikan begitu saja karena mereka terlalu fokus mencari cara untuk memenangkan permainan mereka.

“Jang Wooyoung!”

Remaja yang dikejar itu seketika berhenti berlari. Kotak di tangannya ia sembunyikan di balik tubuhnya. Dua teman yang mengejarnya berhenti di sampingnya dan mencoba merebut kotak itu tapi Wooyoung segera mengamcamnya dengan gerakan tangan sehingga teman-temannya berhenti merebutnya.

“Hai, Sica.”

Hanya itu yang bisa Wooyoung sampaikan dengan senyuman bodoh saat Jessica sudah berdiri di depannya sambil melipat tangan di dada.

“Lihat ke sekelilingmu,” perintah Jessica kesal.

Wooyoung melirik sekelilingnya lalu mengangkat bahunya santai. “Lalu?”

“Kau harus merapikan semuanya menjadi seperti semula dalam 10 menit atau hukumanmu akan ditambah,” tegas Jessica.

Wooyoung menunjuk dirinya sendiri dengan wajah terkejut. “Aku sendirian?”

Jessica mengangguk. Melihat itu, kedua temannya bersorak bahagia tapi diam sedetik kemudian setelah kepala mereka dipukul oleh Wooyoung.

“Tidak adil! Mana bisa aku sendiri merapikan semuanya dalam 10 menit?”

Jessica menyeringai. “Kau bisa membuat perpustakaan ini menjadi seperti kapal hancur dalam 5 menit. Mengapa tidak bisa merapikannya dalam 10 menit? Lagipula aku mempunyai 2 hukuman berbeda untuk masing-masing temanmu. Ku yakin kau tidak akan iri.”

Wooyoung menghela napas. “Baiklah, wakil ketua OSIS!”

Yoon Doojoon di belakang Jessica menghela napas berat. Walaupun kekacauan berakhir, hatinya sedikit sakit karena Wooyoung lebih mendengarkan perkataan wakilnya daripada dirinya sendiri.

*

Okay, itu menarik. Bagaimana hanya murid teladan yang bisa?” bingung Eunbi.

Yuna mengangkat bahunya. “Mana aku tahu? Seperti yang kau bilang, itu 8 tahun yang lalu. Bagaimana aku bisa tahu?”

“Oh ya, apa mereka satu kelas?”

“Mengapa kau menanyakan itu?”

“Biasanya kisah-kisah seperti itu dimulai dari dalam kelas, ‘kan? Banyak drama-drama dengan plot cinta antara teman sekelas,” jelas Eunbi.

“Mereka tidak sekelas. Mereka tidak pernah sekelas. Mereka juga tidak berada di satu klub. Mereka tidak pernah berada di wadah yang sama.”

Eunbi dan Yuna menoleh ketika seseorang dengan suara berat menjawab pertanyaan Eunbi. Lee Seungcheol, mantan ketua OSIS 2 tahun yang lalu dan penanggungjawab acara reuni akbar sebelumnya. Seungcheol duduk dengan nyaman di kursi yang tak jauh dari mereka seakan dia sudah berada cukup lama di ruangan itu. Kedua gadis itu tidak menyadari kehadiran sang senior yang sudah menjadi alumni itu di ruangan OSIS yang sepi karena anggota lain sibuk mengurusi hal lain.

“Hai, lama tidak bertemu! Ada berita apa sampai kalian membicarakan pasangan itu?” tanya Seungcheol dengan senyuman jahil.

“Sejak kapan—“

“Hoa! Kau mengagetkan kami saja!” protes Yuna. “Sejak kapan kau berada di sini?” lanjutnya dan Eunbi mengangguk setuju karena Yuna menanyakan apa yang ia ingin tanyakan.

“Hei, hei, atur nada bicaramu. Aku ini seniormu,” gerutu Seungcheol.

“Kau tidak lebih dari sepupu yang hobi menghancurkan barang-barangku,” balas Yuna. “Katakan sejak kapan!”

“Sejak kau menceritakan kisahku saat aku memegang acara ini. Aku langsung tahu siapa yang kalian bicarakan. Hanya ada 2 orang yang sangat sulit untuk datang bersamaan. Jang Wooyoung dan Jessica Jung,” jawab Seungcheol. “Mengapa kalian membicarakan mereka?”

Yuna tersenyum bangga. “Aku berhasil membuat keduanya datang di acaraku.”

“Tidak mungkin! Bagaimana bisa?” kaget Seungcheol.

“Aku tidak tahu. Panitiaku tidak melakukan apapun. Mereka menerima undangan begitu saja. Lihat!” Yuna menunjuk layar komputer.

Seungcheol bertepuk tangan melihatnya. “Hebat!”

“Aku masih tidak mengerti mengapa mereka begitu penting,” seru Eunbi.

“Asal kau tahu, keduanya benar-benar bertolak belakang. Wooyoung sunbae selalu memalukan nama baik sekolah sedangkan Jessica sunbae selalu mengharumkan nama baik sekolah. Wooyoung sunbae mengoleksi luka dan lebam sedangkan Jessica sunbae mengoleksi piagam dan penghargaan. Wooyoung sunbae tidak mempunyai asal yang jelas sedangkan Jessica sunbae berasal dari keluarga terpandang. Mereka bagaikan langit dan bumi.

“Saat mereka resmi berpacaran, Wooyoung sunbae mulai membaik. Nilai-nilainya memuaskan dan dia berhenti membuat onar. Akan tetapi Jessica sunbae malah sebaliknya. Nilai-nilainya turun dan dia jarang memenangkan piagam dan penghargaan,” jelas Seungcheol panjang-lebar.

*

“Sudah ku bilang, kau itu sebenarnya pintar!” seru Jessica sambil memperhatikan kertas-kertas ulangan milik Wooyoung. “Ini benar-benar hasil pemikiranmu sendiri, ‘kan?”

“Tentu saja. Sudah ku bilang, aku tidak akan mempermalukanmu jika kau menerimaku,” jawab Wooyoung lalu mengecup kepala kekasihnya.

Mereka berada di apartemen milik Wooyoung untuk menonton film lalu belajar bersama. Jessica duduk di pangkuan pria itu dan bersandar di dadanya.

“Filmnya sudah selesai. Saatnya belajar!” seru Wooyoung.

Jessica merengut. “Aku malas. Lebih baik kita bermain kartu lagi!”

“Tapi kau bilang—“

“Aku bosan belajar. Di sekolah belajar. Di rumah belajar. Apa sekarang aku juga harus belajar?”

Wooyoung menyerah. Dia mengambil kartu yang berada di bawah meja dekat mereka.

*

“Menarik,” gumam Eunbi sambil mengangguk. “Ku akui mereka memang menarik.”

“Sudah ku bilang!” seru Yuna.

“Jika itu benar, mengapa Jessica sunbae menerimanya? Jika tidak pernah sekelas atau bergabung di klub yang sama, bagaimana mereka bisa berkenalan? Mengingat hidup Jessica sunbae seertinya sibuk sekali, seharusnya mereka tidak saling kenal.”

Semua cerita kedua orang di depannya semakin membuat Eunbi bingung.

“Itu dia! Jessica sunbae memang sangat sibuk. Di sekolah, dia sibuk dengan OSIS, klub paduan suara dan tugas-tugasnya. Setelah pulang sekolah, dia mengikuti bimbel sampai malam. Sementara Wooyoung sunbae jarang datang ke sekolah. Mereka hanya bertemu jika Wooyoung sunbae membuat masalah,” kata Yuna.

Seungcheol mengangguk. “Tepat sekali! Kau masih ingat ceritaku, eh?”

Yuna mendengus. “Seingatku, Sojung sunbae lah yang memberitahuku, bukan sepupu tengil sepertimu.”

Seungcheol tertawa karenanya.

“Mungkin itu sebabnya Wooyoung sunbae sering membuat masalah. Untuk mencari perhatian Jessica sunbae,” seru Eunbi dengan senyuman lebar. “Seperti di novel-novel remaja.”

“Wooyoung sunbae selalu membuat masalah, ada atau tidak ada Jessica sunbae,” bantah Seungcheol.

Eunbi merengut. “Lalu bagaimana mereka bisa saling kenal?”

“Tidak ada yang tahu bagaimana. Ini lah alasannya mereka terkenal. Karena kisah awal dan akhir mereka sangat misterius,” jawab Seungcheol, yang diangguki oleh Yuna.

***

Gaun berwarna emas yang menutupi beberapa bagian tubuhnya terlihat sangat indah di bawah terpaan cahaya malam ini. Aula disulap menjadi tempat pesta yang elegan, cocok dengan selera dewasa para alumni. Kini dia datang sendiri. Tunangannya memiliki pertemuan penting di Sabtu malam ini. Tunangannya selalu memiliki pertemuan penting saat dia membutuhkannya di sampingnya.

Dia tahu pria itu datang malam ini. Dia sengaja memastikan kedatangannya setelah mendengar bahwa Wooyoung akan datang. Setelah 8 tahun sejak hari itu, dia tidak pernah bertemu dengan mantan kekasihnya dan kini dia sudah memantapkan hati untuk bertatap muka dengannya. Harus.

Namun sayangnya sudah 1 jam ia habiskan untuk bertukar sapa dengan orang-orang yang ia ingat dan mengingatnya, dia juga tak berhasil menemukan sosok yang ia cari. Selalu seperti ini. Selalu sulit menemukannya setiap kali ia sudah mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk.

Dia mengambil segelas cocktail dan membawanya keluar dari aula saat dia mulai merasa tercekik dengan aura di dalam ruangan itu.

“Itu Jessica sunbae! Yang ku ceritakan dulu!”

Jessica mengabaikan bisikan seorang gadis dengan poni yang menutupi keningnya kepada temannya. Dia berbelok dan menaiki anak tangga. Bunyi derap kakinya terdengar sangat kencang di telinganya tapi tak ia pedulikan. Dia terus menaiki anak tangga sampai anak tangga yang terakhir lalu membuka pintu atap.

Angin malam selalu dingin. Apalagi jika dia berada di ketinggian 20 meter dan tubuhnya hanya dibalut dengan gaun malam sepanjang lutut. Jika dia ingat berapa banyak anak tangga yang ia lalui dari lantai satu, seharusnya kakinya terasa sangat pegal tapi dia tidak merasakan apapun.

“Menyebalkan,” desisnya pelan lalu meneguk minumnya sedikit.

Pluk!

Sebuah jaket mendarat di atas kepalanya. Dari wangi jaket itu, Jessica pun bisa menebak siapa yang melemparkannya dan dimana pelaku itu berada. Jang Wooyoung di atas atap paling atas. Mendengar suara decitan pintu, pasti kakinya dibiarkan turun dan bertumpu di atas pintu. Tanpa banyak bicara, ia meletakkan gelas dan tas kecilnya di tempat yang datar lalu memakai jaketnya.

“Sulit untuk menemukanmu,” gumam Jessica sambil menyibak rambutnya yang terjebak di dalam jaket.

“Benarkah? Aku selalu di sini,” balas Wooyoung.

Jessica menghela napas. “Aku tidak bertemu denganmu di hari kelulusan.”

“Kau tidak menyadari keberadaanku.”

“Aku tidak bertemu denganmu di reuni kelas.”

“Kau tidak melihat baik-baik.”

“Aku tidak bertemu denganmu di reuni 4 tahun yang lalu.”

“Aku datang tapi tidak seorangpun melihatku.”

“Aku serius!” kesal Jessica.

Wooyoung menghela napas seraya turun dari tempatnya. “Aku juga serius. Aku selalu di sini. Seperti yang kau lihat, aku berada di sini. Di hari kelulusan, aku melihatmu menerima penghargaan itu dari sini. Saat reuni kelas, kita sempat bertukar pandangan walaupun kau berada di kelas dan aku berada di sini, sepertinya kau tidak sadar. 4 tahun yang lalu, aku langsung datang ke sini saat acara di mulai.”

“Kau tidak ada di aula.”

Wooyoung mendesah. “Karena kau ada di sana, maka aku ke sini. Jadi jika kau membutuhkanku, kau tidak perlu menahan diri.”

“Kau benar. Kau selalu ada di sini. Aku yang tidak berani datang ke sini,” lirih Jessica.

“Sekarang kau berada di sini.”

“Seharusnya aku tidak datang ke sini.”

“Apapun yang terjadi, kau akan datang ke sini. Kau akan selalu datang kepadaku.”

Jessica memutar matanya. “Tidak.”

Wooyoung tertawa pelan. “Kau ingin lari dariku tapi kau tetap akan berakhir di titik ini. Kau seperti bandul. Sejauh apapun kau pergi dariku, kau akan kembali padaku.”

“Hentikan. Aku sudah bertunangan.”

“Dengan seseorang yang dipilih oleh orangtuamu? Masih pilihan orangtuamu? Mereka tidak pernah berhenti walaupun sebentar lagi kau akan berumur 27 tahun, huh?” cibir Wooyoung.

Jessica menggeleng pelan. “Diam.”

Wooyoung menarik salah satu tangan Jessica lembut lalu menggulung jaket dan melepas ban hitam yang selalu dipakai Jessica. Helaan napas terdengar di mulutnya. Pergelangan tangan itu mempunyai bekas luka sayatan baru dan beberapa bekas luka yang sudah kering. Ada pula garis-garis dari bekas luka tahunan yang lalu.

“Masih?”

Jessica mengangguk pelan.

“Bahkan tunanganmu tidak bisa menghentikanmu?”

Jessica menggeleng. “Hanya kau yang bisa.”

“Aku bisa karena kau memberikanku kesempatan. Sekarang, aku tidak akan bisa. Kau lebih memilih menuruti orangtuamu untuk menjauhiku daripada mengejar kebahagiaanmu sendiri.”

“Aku tidak bisa menolak mereka. Beribu kali mereka berjanji untuk berhenti menuntutku, beribu kali pula mereka mengingkarinya. Apapun yang ku katakan, mereka tidak mau dengar. Akan tetapi, aku tetap tidak bisa menolak.”

Wooyoung mendesah. “Mereka tidak akan berhenti kalau kau terus-menerus menjadi anak penurut seperti ini.”

“Berkali-kali aku ingin pergi dari sana tapi aku tidak berani.”

“Lalu apa yang harus ku lakukan jika kau tidak pernah berani mengikuti setiap saranku?”

Jessica menggeleng pelan. Wooyoung pun kehabisan kata-kata karenanya. Keheningan di antara mereka dipecahkan oleh suara dering telepon milik Jessica. Di layar tertulis dengan jelas nama tunangannya.

Kim Jaejoong.

Jessica menjauhkan dirinya dari Wooyoung sebelum mengangkat teleponnya. Ternyata tunangannya datang dan sedang berada di dalam aula saat ini. Dia beralasan dengan berada di kamar mandi dan meminta tunangannya untuk menunggunya.

“Aku harus kembali,” ucapnya sambil merebut ban tangannya kembali lalu mengambil tasnya.

Wooyoung menarik tangannya sebelum ia berhasil membuka pintu. Pria itu menatapnya beberapa detik sebelum membuka mulutnya, “Aku selalu ada di sini jika kau memerlukan aku.”

Hanya anggukan yang menjadi jawaban.

*

Wooyoung berlari ke arah gadis itu dan merebut cutter dari tangannya. Pisau itu ia lemparkan ke sudut lain yang jauh dari jangkauan mereka berdua. Setelah itu, dia mengeluarkan baju gantinya dan menyobeknya untuk menutupi dan menahan agar darah tidak keluar terlalu cepat. Gadis di depannya masih diam tak berekspresi walaupun Wooyoung menggendongnya dan membawanya turun dari atap menuju klinik sekolah.

“Menyayat pergelangan tanganmu? Apa kau sudah gila?” omel Wooyoung.

Gadis itu hanya diam. Kepalanya disandarkan ke pundak Wooyoung.

“Hei, tetaplah sadar sampai kita berada di klinik! Jangan mati di punggungku! Aku tidak mau digentayangi olehmu!”

Gadis itu tertawa. “Aku tidak akan mati. Aku sering melakukannya dan aku masih hidup sampai sekarang.”

“Kau becanda?!”

“Aku serius.”

“Mengapa kau melakukannya?!”

“Karena aku ingin melakukannya.”

“Kau benar-benar sudah gila. Ingatkan aku untuk membawamu ke rumah sakit jiwa, siapapun namamu.”

“Jessica.”

“Huh?”

“Namaku Jessica Jung.”

Dan sejak itu lah, gadis itu bergantung padanya.

***

Hehe, halo! Ngepost ini cuma karena aku pengen menyapa kalian hehehe. Belum pede ngepost cannonball pula. Jadi semoga ini cukup.

Jadi aku jelasin ya. Jaman sekarang kan banyak orangtua yang suka nuntut dan ngatur hidup anaknya sampe ekstrem banget. Anaknya jadi seakan ga punya kesempatan untuk didengar dan anaknya pun depresi lalu self-abuse. Syukurnya orangtuaku ngatur hidupku dalam hal yang wajar tapi aku sendiri berteman dan jadi pendengar setia anak-anak seperti ini jadi aku tertarik buat mengangkat topik ini menjadi sebuah cerita.

Jessica-Wooyoung ga banyak bicara soal hubungan mereka ke orang lain jadi hubungan mereka terkesan misterius. Karena nilai sica turun sejak dia pacaran sama wooyoung, orangtua sica minta sica jauhin wooyoung. Wooyoung tau sica pasti bakal nurut dan berusaha menghindarinya jadi dia yang menghindar duluan biar sica ga usah pergi dari tempat itu hanya karena ada wooyoung. Wooyoung juga tau jessica cuma berani deketin dia kalo ga ada orang yang liat makanya wooyoung stay di atap sekolah setiap jessica datang kalo-kalo jessica butuh dia.

pssh, 3 cast lainnya yaitu yuna, eunbi, seungcheol adalah member grup rookie tahun ini kalo kalian penasaran siapa .-.

51 thoughts on “Pendulum

  1. Annyeong yura eonni!😀 ,suka banget sama ceritanya,dan setuju banget sama arti ceritanya karna aku sendiri juga ngerasain yg namany harus di tuntut belajar tiap hari tp masih standar, gk ada niat bikin sequel kah?? Hehe
    semangat terus bikin ffnya eonni🙂

    • annyeong ~
      hehe makasih loh udah mau baca dan syukurlah kamu suka
      kalo masih dituntut belajar sih lumayan standar ya. kamu pernah bayangin ga kalo hidup kamu seutuhnya dikontrol orangtuamu seakan kamu itu cuma sebuah boneka dan orangtuamu itu pemain boneka itu? nah kisah ini yang sebenarnya pengen aku tonjolkan tapi ga sukses karena ceritanya terlalu simpel dan pendek untuk menonjolkan pesan sedalam ini
      wah ga ah. nanti utangku makin banyak kalo aku buat sequel buat ini karena aku yakin kalo sequelnya cuma berupa oneshoot lainnya pasti kurang seru
      makasih ‘o’)/

  2. suka bnget ceritany ga bosenin … iya bener emng bngak ortu yg kya gtu mreka lbih sering mnanyakan tntang gimana nilai sekolah dan hal” tntang skolah dri pda khidupan pribadi anak”nya…
    btw critanya cma sampe sini,ap lanjut??? hwaiting author

    • lebih tepatnya sih banyak orangtua yang berusaha membuat anaknya mencapai mimpi orangtuanya bukan mimpi anaknya. makanya itu banyak anak sekarang yang depresi tapi orangtua lebih memilih tutup mata dan menganggap semuanya baik-baik aja. kalopun ada yang salah, itu pasti salah anaknya. mirisnya orangtua jaman sekarang. untung aja orangtuaku ga begini
      iya ini kan cuma oneshoot ^^

  3. ahh ini epep seru banget author aku sukaaa. njess maniak gitu pake nyayat segala takut ah dan semenjak itu mereka deket? ahh dia pinter padahal eh kenapa pas sama wooyoung jadi kek gitu padahal wooyoung udah membaik loh coba aja dia engga kek gitu pasti hubungan mereka direstuin dan dia engga dijodohin. wooyoung selalu stay disitu uhuk sosweetnya ganahannn. mereka saling bergantung satu sama lain yaa. pantesan jadi pasangan fenomenal yang jadi bahan gosip unik sih mereka:3 next chap dtnggu KEEP WRITING!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s