Let’s Not Fall in Love – Butterfly

letsnotfallinlove

Let’s Not Fall in Love

Previous:

Teaser | First Meet | Butterfly

Written by © Amy Park

Jessica Jung – BTS Jin

Special appearance: F(X) Krystal – BTS Taehyung – and one more of BTS member🙂

3cbd9fd1d6ee74c000e7bd9d50976be7tumblr_niy3ucCZp11qagqqso2_540

Romance – Angst | Series | PG-15

Note: I ONLY publish this story in here and Indo Fanfiction. Jika menemukan kisah ini di situs lain, silakan segera beritahu aku, ya🙂 Happy reading ^^

Thanks for your amazing poster, Arin Yessy @ Indo Fanfiction Arts ^^

.

Kira-kira, akankah Tuhan tertawa?

Pasalnya, ia secara bercanda sedang membuatku tersesat.”

-Albert Einstein

^

^

Hampir satu bulan senyuman menghiasi paras cantik milik perempuan itu. Rasanya, ia terlahir kembali, bagai seorang bayi yang tidak mengerti betapa kerasnya kehidupan dunia. Namun, satu hal yang tidak ia ketahui… lelaki yang membuatnya bahagia merasakan hal yang sebaliknya.

***

Kedua mata yang menyerupai bulan sabit itu terbuka dengan cepat, lalu kembali menyipit ketika cahaya mentari menyeruak masuk tepat di atasnya. Ia bangkit dari posisi tidur, keningnya berkerut ketika sadar bahwa dirinya sedang berada di tempat asing. Jin, lelaki berpakaian putih polos itu segera berdiri, matanya dengan sibuk memerhatikan padang ilalang yang menari diterpa angin, tempat ia berada kini.

Kakinya mulai bergerak, melangkah dan berpindah tempat. Kemudian, pergerakannya terhenti ketika ia sadar, seberapa jauh ia melangkah, ia tetap sendiri. Jin ingin berteriak, meminta tolong pada siapa pun untuk mengeluarkannya dari seluruh keanehan ini. Namun, mulutnya terkunci. Ia tidak bisa berbicara walaupun ia menginginkannya. Seperti sebuah selang yang membungkam mulutnya, membuat seluruh kata tertahan di sana.

Bibir lelaki itu akhirnya melukis sebuah senyuman ketika kupu-kupu biru pekat terbang mengelilinginya. Tangan kanan Jin terangkat, membiarkan kupu-kupu itu hinggap di telunjuknya. Begitu cantik dan sempurna, menggugah hasratnya untuk menyentuh kupu-kupu tersebut dengan telunjuk tangan kiri. Namun, begitu ia melakukannya, kupu-kupu itu langsung terbang menjauh, memudarkan senyuman Jin yang sempat merekah.

“Kupu-kupu itu adalah kau, Jin.”

Tubuh Jin sontak berbalik, kedua matanya menangkap seorang perempuan cantik bergaun putih yang ia kenal. Jessica? Tanya Jin dalam hatinya.

Jessica memberikan senyuman terbaiknya. “Kau akan terbang, ketika aku menyentuh hatimu lebih jauh.”

Jin tidak berkata apapun. Kakinya bergerak menghampiri Jessica dengan langkah cepat. Ketika ia hendak meraih tangan lembut milik perempuan itu, Jessica menghilang, digantikan oleh semilir angin yang membuat hatinya bergetar sedih.

Dan… Jin hanya bisa berdiri mematung, saat padang ilalang nun indah itu digantikan oleh kobaran api yang siap membakarnya.

***

Jin langsung terduduk dari posisi tidur ketika ia membuka mata. Napasnya tersenggal, ketakutan memenuhi seluruh tubuhnya. Mimpi buruk itu tidak pernah gagal menghantuinya. Mimpi buruk yang datang menghampiri Jin untuk yang kesekian kali. Mimpi aneh yang langsung datang ketika ia dan Jessica mulai terbiasa menghabiskan waktu yang dipenuhi kebahagiaan.

Lelaki itu menoleh ke samping, mendapati Jessica yang masih terlelap dengan damai. Senyuman lega kembali menghiasi wajah Jin, dan ia membiarkan telunjuknya mendarat di kening Jessica. “Biarkan aku yang hinggap dalam hidupmu, Jess. Jangan berharap lebih, karena aku masih ingin bersamamu.”

Lalu dengan hati-hati, Jin mengecup kening Jessica pelan tanpa berniat untuk membangunkan perempuan itu. Setelahnya, ia pun beranjak dari kasur, melangkah mendekati jendela dan membuka tirainya sehingga cahaya matahari masuk. Dia tidak pernah bosan berdiam diri di samping jendela dan menikmati cahaya pagi. Bahkan sepertinya, lelaki itu enggan untuk beranjak, tersenyum bahagia melihat sang mentari, seakan tidak lagi ingin bertemu dengan kegelapan malam.

Lelaki itu menoleh saat suara seorang perempuan terdengar dari luar kamar. Suara itu bukan milik Jessica. Merasa penasaran, Jin pun berjalan keluar kamar dengan perlahan tanpa mengganggu mimpi indah Jessica.

“Sica unnie masih tertidur… dan aku bingung cara membangunkannya… apa? Kau gila? Aku menghilang selama beberapa tahun, aku takut jika tiba-tiba muncul di depannya begitu saja.”

Kepala Jin menyembul di balik tembok yang menjadi pembatas ruang keluarga dengan dapur, mengintip gadis muda bersurai hitam pekat panjang dengan wajah yang identik dengan Jessica. Gadis itu tengah sibuk meletakkan berbagai macam makanan di atas meja makan sambil menelepon seseorang.

“Setiap akhir pekan aku selalu ke sini untuk membuatkan Sica unnie sarapan, kok. Iya… sepertinya dia menghabiskan masakanku, tapi dia tidak pernah menghubungiku… Hah? Tentu saja dia punya nomor ponsel baruku. Tepat di hari ulang tahunnya, aku mengirimkan pesan tetapi dia sama sekali tidak menggubris. Iya… iya… aku tahu dia pasti marah karena aku menghilang bagai hantu. Aish… oppa! Kau tidak usah cerewet. Aku bisa menyelesaikan masalahku dengan Sica unnie. Lagipula, kau belum bertemu dengan Sica unnie secara langsung!”

Jin spontan bersembunyi di balik tembok ketika gadis itu menoleh ke arahnya. Ia tidak mau jika dirinya terlihat. Lelaki itu tetap berada di posisinya, kembali mendengarkan percakapan gadis yang tengah memakai parka coklat dan celana hitam pendek tersebut.

“Tentu saja aku berani! Aku Krystal Jung dan aku adalah perempuan dewasa yang pemberani! Oke… oke… akan aku beritahu Sica unnie sekarang! Kau lihat saja!”

Napas Jin pun tercekat, ketika merasakan kehadiran seorang gadis yang bernama Krystal Jung itu melewatinya. Namun, ia kembali bernapas lega karena Krystal tampak tidak memedulikan kehadirannya. Tatapan gadis itu lurus ke depan sehingga tidak sadar akan keberadaan Jin. Lelaki itu pun segera melangkah pergi ketika Krystal membuka pintu kamar Jessica dan masuk ke dalamnya.

***

“Oh? Sejak kapan dia membuka tirai jendela?” gumam Krystal bingung saat ia sudah menginjakkan kaki di kamar kakak kandungnya.

“Dia? Dia siapa?” suara seorang lelaki di sebrang sana menyadarkan Krystal bahwa ia masih menyangga ponsel dan teleponnya masih tersambung.

“Tentu saja Sica unnie. Memangnya siapa lagi?” jawab Krystal dengan ketus, membuat lelaki itu berdesis sebal.

“Cepat sapa kakakmu dan segeralah meminta maaf! Sesudah itu, jangan lupa katakan bahwa aku ingin bertemu dengannya.”

Krystal memutar kedua bola matanya. “Iya… iya… akan segera aku katakan. Lagipula, kenapa sepertinya kau ingin sekali bertemu dengan Sica unnie, sih?!”

“Tentu saja karena aku calon tunanganmu. Bukankah tidak sopan jika aku tidak memperkenalkan diri pada kakakmu terlebih dulu?”

Krystal menggulum senyumnya. Entah kenapa perkataan yang dilontarkan lelaki itu barusan membuat hatinya sedikit berdesir. “Oke, aku mengerti. Aku segera memberitahunya.”

“Krys? Apa itu kau?”

Krystal terkaget ketika mendapati Jessica sudah bangun dari tidurnya. Gadis itu tersenyum lebar pada Jessica lalu berbisik dalam ponselnya, “Taehyung oppa, aku tutup teleponnya, Sica unnie sudah bangun. Bye!”

“Krystal Jung? Kau sungguh Krystal Jung?”

Krystal memasukkan ponselnya ke dalam saku celana sebelum menoleh dan menatap Jessica. Kakaknya itu sudah dalam posisi duduk di tempat tidur, masih memandang tidak percaya akan kehadiran adiknya yang telah lama menghilang tanpa kabar, sedangkan Krystal hanya melambaikan tangan sambil tersenyum canggung.

“Hai, bagaimana kabarmu, unnie?”

“Bagaimana kabarku?” tanya Jessica dengan dahi berkerut. Raut wajahnya berubah kesal karena kalimat tanya yang dilontarkan adiknya. “Setelah dua tahun kau menghilang tanpa kabar, kau berani bertanya seperti itu padaku?”

Mendengar nada ketus kakaknya, Krystal pun melangkahkan kaki dengan gesit ke arah Jessica. Gadis itu segera memeluk kaki sang kakak, pipi kirinya menempel sempurna di pangkuan Jessica. “Maafkan aku… maafkan aku… aku tidak bermaksud meninggalkan dan menyakiti perasaanmu. Aku hanya ingin sukses dan tidak ingin membuatmu khawatir. Maafkan aku jika kepergianku malah membuatmu sedih.”

“Anak bodoh. Jika kau tidak ingin aku khawatir, kau seharunya menghubungiku.”

“Aku sudah pamit pada unnie lewat pesan singkat bahwa aku ingin menjadi penyanyi dan latihan di Seoul, kok!” ujar Krystal yang masih tidak berani menatap Jessica.

“Namun, setelah itu ponselmu mati dan tidak bisa dihubungi lagi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku tidak tahu caranya menghubungimu,” ungkap Jessica dengan nada penuh dengan kekecewaan.

“Aku takut jika kau akan marah dan tidak setuju dengan keputusanku untuk tinggal di Seoul, lalu pada akhirnya menyuruhku pulang ke Busan.”

“Justru aku sangat marah padamu jika kau tidak mengabariku apa pun, Krystal Jung. Dan sekarang, kau benar-benar membuatku marah.” Ujar Jessica dengan nada yang tidak benar-benar mencerminkan kemarahan seseorang. Sebenarnya, Jessica hanya kesal, karena seberapa menyebalkannya tingkah sang adik, perempuan itu tidak bisa marah dengan jangka waktu yang panjang pada adik kesayangannya tersebut.

Krystal mendongkak dan memberikan wajah puppy eyes terbaiknya agar Jessica mengampuni seluruh kesalahan yang tidak sengaja ia buat. Krystal pada awalnya pergi Seoul hanya untuk berlibur, tetapi di tengah jalan dia mendapatkan tawaran dari sebuah agensi besar untuk menjadi anggota girl group secara instan tanpa audisi, sehingga ia mengubah niatannya untuk menetap di Seoul dan mengikuti latihan intensif menjadi seorang penyanyi.

Jika Krystal berhasil menjadi seorang penyanyi, gadis itu bisa mendapatkan penghasilan sendiri sehingga tidak udah bergantung pada uang sang ibu dan tidak akan merepotkan kakaknya terus-menerus. Ia tidak memberitahu Jessica karena ia memiliki pemikiran bahwa perempuan itu tidak akan mengizinkan, dan sepertinya pemikiran Krystal amat salah.

Juga, sebenarnya Krystal sudah kembali ke Busan sejak dua bulan yang lalu. Gadis itu memutuskan untuk menyerah menjadi seorang penyanyi karena dirinya tidak ingin dikekang oleh kehidupan idola yang sangat membuat fisik sekaligus batinnya lelah. Keputusan menyerahnya pun menguat ketika agensi tidak mengizinkan Krystal berhubungan—apalagi bertunangan—dengan kekasihnya yang bernama Kim Taehyung, psikiater tampan yang berjasa besar dalam menyelamatkan hidupnya di Seoul—lelaki itu menyelamatkan Krystal dari sekelompok preman dan bersedia menyewakan satu rumah kecil untuk ditempati gadis itu selama di Seoul dengan harga yang sangat murah.

Cinta pun tumbuh di antara Krystal dan Taehyung, bahkan tanpa mereka sadari. Ketika Taehyung memutuskan untuk pindah dan bekerja di Busan, Krystal pun tanpa berpikir panjang memilih untuk ikut. Gadis itu pun ingin kembali bersama Jessica dan meminta maaf pada kakaknya tersebut. Krystal juga sudah memiliki impian baru yang membuatnya kembali ke Busan, yakni menjadi istri yang baik untuk seorang Kim Taehyung.

“Sungguh… maafkan aku, unnie! Maafkan aku!” Ungkap Krystal memohon tanpa menghilangkan wajah melemasnya.

Helaan napas Jessica terdengar, membuat jantung Krystal berdetak semakin cepat—menunggu keputusan sang kakak. “Baiklah, tapi ceritakan dulu apa yang kau lakukan selama dua tahun tanpa kabar. Setelah itu, aku akan mengampunimu!”

“Yeayy!! Jessica Jung memang yang terbaik!” Ucap Krystal dengan nada girang seraya tepuk tangan heboh.

Krystal pun segera berdiri lalu kembali duduk di samping Jessica. Dengan semangat, ia mulai bercerita mengenai perjalanannya ke Seoul dan kehidupannya di ibu kota Korea Selatan tersebut. Jessica pun tampak antusias, senyumnya perlahan mengembang dengan seluruh cerita sang adik. Tidak dapat dipungkiri bahwa Jessica pun sebenarnya bahagia dengan kembalinya Krystal. Setidaknya, dengan datangnya Krystal, Jessica masih bisa merasakan kasih sayang dari salah satu anggota keluarganya, dan dia tidak benar-benar tinggal sendiri di dunia ini—masih ada yang peduli dengannya.

“Kau sudah memiliki tunangan? Aish… benar-benar!”

Krystal menyeringai lebar saat kakaknya kembali kesal ketika gadis itu mulai masuk pada cerita cintanya. “Aku bertemu dengannya di Seoul dan dia sangatlah baik! Dia seumuran dengan unnie dan jika sedang mengomel atau berceramah, dia sangat mirip denganmu!”

“Jangan samakan dia denganku.”

“Tapi kalian memang mirip. Mood kalian cepat naik dan juga cepat turun dengan drastis. Ugh, sebenarnya aku selalu pusing jika dekat-dekat dengannya karena mood yang gampang berubah itu.”

“Jadi kau juga selalu pusing jika dekat-dekat denganku sehingga kau memutuskan untuk meninggalkan aku?”

Krystal membulatkan matanya dengan sempurna, “Bukaaan… bukan begitu, unnie. Hal itu hanya berlaku pada lelaki itu. Tidak kepadamu, karena kau adalah kakak terbaikku!!”

Jessica tersenyum kecil, “Berhentilah memuji. Kau sudah aku ampuni!”

Yes! Terima kasih, unnie!” senang Krystal seraya memeluk Jessica dengan erat. Setelah melepaskan pelukan, Krystal kembali berucap, “Oh, iya, calon tunanganku ingin bertemu denganmu. Besok kau tidak ada acara, bukan?”

Jessica mengangguk. “Boleh saja.”

Krystal tersenyum senang. Seakan teringat sesuatu, ia langsung kembali berbicara. “Ada satu hal lagi yang membuatku harus meminta maaf, unnie. Aku tidak bisa tinggal di sini lagi bersamamu. Mmm… maksudku untuk sekarang, karena aku belum memberitahu Taehyung oppa mengenai kepindahanku. Jadi—“

“Taehyung?” heran Jessica, memotong penjelasan Krystal.

Adiknya itu mengangguk. “Tunanganku. Kim Taehyung namanya.”

“Jadi kau tinggal bersama tunanganmu?”

Krystal tertawa canggung seraya mengusap tengkuknya. “Sebenarnya aku sudah kembali ke Busan sejak dua bulan yang lalu, dan selama itu aku tinggal bersama Taehyung. Namun, kau tidak usah khawatir, aku akan segera pindah lagi dan tinggal bersamamu.”

“Tidak usah.” Jawab Jessica yang membuat Krystal sedikit panik. Melihat hal itu, Jessica pun tersenyum, “Tinggal saja dengan calon tunanganmu itu, aku tidak apa-apa.”

“Kau yakin tidak apa-apa?” heran Krystal.

Jessica mengangguk tanpa ragu. “Aku tidak apa-apa. Sungguh.”

“Terima kasih, unnie… terima kasih…” ungkap Krystal senang, karena sesungguhnya dia juga sudah terlanjur nyaman tinggal bersama Taehyung. Bibit-bibit cinta memang sedang bermekaran di antara Krystal dan Taehyung.

“Ah, ya, Krys, ada seseorang yang harus aku perkenalkan padamu juga.”

***

Jin tidak tahu apa yang menyebabkan kakinya melangkah begitu saja menuju atap apartemen, tempat dirinya pertama kali bertemu dengan Jessica. Udara pagi itu begitu dingin dan angin pun berhembus cukup kencang. Anehnya, semua itu tidak membuat Jin kedinginan sama sekali. Lelaki itu kini hanya menatap pemandangan kota, pikirannya terbilang kosong.

Ada satu perasaan aneh yang mengganjal dalam hatinya. Ia ingat betul setiap perkataan yang terlonar dari mulutnya untuk mencegah agar Jessica tidak bunuh diri. Mengenai perkataan bahwa hanya seorang pecundanglah yang menginginkan mati dan tidak mensyukuri hidup dan petuah lainnya, Jin amat mengingat setiap kata itu. Namun, entah mengapa rasanya kini ia ingin sekali melompat dan mati.

Siapakah dirinya?

Dari mana ia berasal?

Mengapa ia harus menolong Jessica?

Kenapa ia harus masuk ke dalam hidup wanita itu?

Bagaimana bisa mimpi buruk itu selalu hadir ketika ia menemukan kebahagiaan dengan Jessica?

Apa yang menyebabkan ia tidak ingin meninggalkan Jessica?

Dan mengapa pula sekarang ia rasanya ingin melompat dan membunuh dirinya sendiri?

Semua pertanyaan itu berlalu-lalang tiada henti di kepala Jin. Menjadikan pikiran lelaki itu tidak mau beristirahat. Membuat kepalanya perih, seakan siap untuk pecah kapan saja. Berbeda dengan isi kepalanya yang menyimpan banyak pikiran, tatapan Jin sekarang benar-benar kosong. Tiada ekspresi yang mencerminkan kegelisahan akan pikirannya. Dia hanya terdiam. Tidak bergerak.

Kepala Jin mulai menoleh, ketika ia merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Lelaki yang menggunakan sweater rajut bewarna hitam, topi beanie dengan warna senada dengan bajunya, juga celana jeans biru gelap, tengah berdiri tepat di sebelah Jin.

“Kenapa manusia ingin membunuh dirinya sendiri? Lari dari kehidupan?” tanya lelaki itu nyaris tidak terdengar, bergelut dengan suara angin yang bertiup.

Jin memalingkan wajahnya dari lelaki itu. Ia tersenyum, lalu menjawab, “Karena depresi akan kehidupan yang semakin lama terus menentangnya. Lebih baik mati daripada terus-menerus disiksa oleh kehidupan yang begitu kejam ini.”

“Cih…” lelaki itu tertawa ketus. “Apa mereka tidak memikirkan perasaan orang yang akan mereka tinggalkan? Pada kenyataannya… orang yang ditinggalkan akan merasakan lebih banyak kesakitan daripada yang meninggalkan. Dasar manusia bodoh.”

Jin hendak menimpali pernyataan tersebut, tetapi lelaki itu sudah lebih dulu berbalik dan berjalan pergi meninggalkannya. Jin hanya bisa memandang punggung lelaki itu dalam diam, terus menatapnya sampai benar-benar menghilang. Entah kenapa, hatinya merasakan sebuah sakit yang amat menyiksa, membuat kedua matanya mengeluarkan air mata tanpa ia sadari.

Jin memegang dadanya dengan satu tangan. Napasnya terasa sesak karena air mata yang ia keluarkan kini bertambah sehingga isak tangisnya terdengar. Kedua kakinya melemah seakan tidak bisa menopang tubuhnya, membuatnya jatuh berlutut di lantai. Hati dan tubuhnya merasakan perih yang luar biasa, tetapi nalarnya benar-benar tidak mengerti hal apa yang membuatnya seperti itu. Apakah Tuhan sudah terlalu senang mempermainkan hidupnya?

***

“Jin Jin!”

Jessica berteriak senang ketika Jin memasuki apartemennya. Lelaki itu hanya tersenyum tipis ketika melihat Jessica yang menyambutnya dengan riang. Perempuan itu segera menghampiri Jin dan menggandeng lengannya. Senyuman cerah yang terus terpancar dari mulut Jessica membuat hati Jin yang perih sedikit membaik.

“Krystal sudah kembali! Adikku, Krystal Jung, dia sudah kembali!”

“Aku senang mendengarnya.” Ungkap Jin singkat, tidak seperti biasanya. Bahkan, lelaki itu pun tidak merasa seperti dirinya sendiri. Ia merasa tingkahnya berubah… seperti orang lain.

Mendengar jawaban singkat Jin, Jessica melepaskan tangannya dari lengan Jin. Perempuan itu tersenyum kaku, “Kau yang membuatkan aku sarapan, kan? Terima kasih, ya. Barusan aku sudah makan duluan karena kau tidak ada. Apa kau mau makan sekarang?”

“Tidak, terima kasih.”

Setelah menjawab seperti itu, Jin pun langsung melangkah pergi. Jawaban singkat dari Jin membuat Jessica sedikit kesal sehingga perempuan itu berucap, “Apa ada masalah denganmu? Atau aku membuat kesalahan padamu? Kenapa sepertinya kau sangat berbeda?”

Langkah Jin terhenti. Ia menghela napas lalu segera berbalik menghadap Jessica. Tak lama, senyuman dari lelaki itu mengembang. “Maafkan aku, Jess. Aku hanya sedang lelah. Bolehkah aku istirahat sebentar?”

Jessica pun menghampiri Jin. Kedua tangannya menangkup wajah kecil Jin dengan sempurna. Perempuan itu membalas senyuman Jin, “Sepertinya kau sedang tidak enak badan, Jin. Istirahatlah… besok kau akan aku ajak untuk berkenalan dengan tunangan adikku.”

Kedua tangan Jin menyentuh tangan Jessica, sebelum akhirnya menyingkirkan tangan Jessica yang lebih kecil itu dari kedua pipinya. Lelaki itu pun berucap, “Terima kasih atas pengertiannya.”

***

“Hyung, kau tidak bisa melakukan hal bodoh seperti itu!”

“Kenapa? Kenapa aku tidak bisa? Mereka bisa melakukannya tapi kenapa aku tidak bisa?!”

Lelaki dengan topi beanie hitam itu meremas rambutnya frustasi. “Karena kau tidak bisa! Pokoknya, kau tidak bisa!!!”

“Tidak… aku akan melakukannya!”

“For the sake of people who loves you, hyung! You need to survive!” teriak lelaki itu, terdengar putus asa.

“Mereka mati karenaku. Kedua orangtuaku mati karena aku! Penyakit D.I.D[1] yang aku derita membunuh mereka. Dan kau tidak pernah memberitahu aku bahwa lelaki sialan itu telah membunuh mereka!!”

Lelaki bertopi beanie itu tersungkur ke lantai. Sebuah tonjokan membuat daerah sekitar bibirnya berdarah. “Maafkan aku, hyung…”

“Sudah aku bilang, seharusnya aku mati! Aku tidak bisa membiarkan lelaki sialan itu mengambil alih kehidupanku!”

“Jangan pernah bergerak sedikit pun atau aku akan menghajarmu!”

“Maaf, tapi dia yang menyuruhku untuk melakukannya. Lelaki paling suci itu yang membuatku harus melakukannya.”

“Jaga ucapanmu, sialan!”

“Aku hanya berbicara tentang kenyataan. Selamat tinggal.”

“Hyuuuuung… Seokjin hyung!!!” napas lelaki bertopi beanie itu langsung tercekat ketika lelaki di hadapannya melompat bebas dari atap gedung apartemen.

***

“Jin, kau tidak apa-apa?”

Jin yang terbangun tiba-tiba dari tidurnya pun langsung memegang kepala dengan tangan kanannya. Rasa pusing langsung menghampiri lelaki itu. Jessica yang memang sedari tadi sedang duduk di atas kasur—tepatnya di sebelah Jin—juga merasa panik. Perempuan itu merangkul Jin dan menyeka seluruh keringat yang membasahi wajah lelaki itu.

“Ternyata hanya mimpi buruk…” ungkap Jin seraya memejamkan mata, mencoba untuk menenangkan diri.

“Tidak usah khawatir, Jin. Mimpi hanya bunga tidur. Kau akan baik-baik saja.”

“Kau benar.”

Jessica tersenyum manis pada Jin. Dia pun mendorong bahu Jin agar lelaki itu berbaring kembali, tetapi Jin menggeleng karena ia tidak ingin kembali tidur. Jessica pun tidak bisa mengelak keinginan Jin dan kembali merapikan beberapa hasil pekerjaannya yang sempat tertunda.

“Kenapa kau belum tidur, Jess?”

Jessica menunjukkan beberapa kertas di tangannya. “Mengedit tulisan. Yah, kau tahu, pekerjaan seorang editor memang mengedit, bukan?”

“Masih lama?”

“Baru saja selesai.” Jawab Jessica seraya menyimpan hasil pekerjaannya di laci meja kecil yang terletak di sebelah tempat tidur.

Jessica baru saja menoleh pada Jin, tetapi napasnya sudah tercekat karena kini jarak wajahnya dengan wajah Jin hanya beberapa sentimeter saja. Jessica pun semakin sulit bernapas ketika tangan kanan Jin meraih tengkuknya kemudian mengecup bibir Jessica dengan perlahan. Ketika perempuan itu mulai menikmati apa yang dilakukan Jin, lelaki itu dengan perlahan melepaskan ciuman mereka.

Jin hanya tersenyum ketika ia sudah melakukan suatu hal yang membuat jantung Jessica berdetak lebih cepat. Lelaki itu mengalihkan pandangannya dari Jessica, membiarkan semua rasa bingung menghiasi perempuan tersebut.

“Jin…” panggil Jessica memecah keheningan, Jin pun kembali menatap Jessica. “Kau tidak akan mengungkapkan perasaanmu?”

Dahi Jin berkerut bingung. “Perasaan seperti apa?”

“Seperti… eumm… kau mencintaiku?” ungkap Jessica ragu.

Tawa Jin pun terdengar. Kini, bagian Jessica yang merasa bingung. Pada akhirnya, Jin menjawab, “Kau lucu, Jessica. Kita tidak akan pernah jatuh cinta!”

Jawaban Jin membuat Jessica kecewa. Perempuan itu menunduk sejenak, kemudian menatap Jin sambil tersenyum kaku. “Jika memang kita—tidak, maksudku kau—tidak akan pernah jatuh cinta padaku, mengapa barusan kau menciumku?”

“Karena aku takut… jika tidak akan ada kesempatan lagi untuk melakukannya.”

“Maksudmu? Hey, Jin, apa kau tidak tahu bahwa arti dari sebuah kecupan itu—“

“Jessica…” Jin memotong perkataan perempuan itu. Tatapan Jin kini tampak serius. “Aku rasa kehadiranku dalam hidupmu merupakan hal yang cukup, tak perlu berharap lebih dariku. Kita tidak boleh saling jatuh cinta, karena kita memang tidak bisa melakukannya. Juga… hanya diam dan tetap berada di sisiku, itu sudah cukup, bukan?”

Tidak! Itu tidak cukup bagiku, Jin! Jawab Jessica dalam hatinya. Tidak ingin membahas lebih jauh, perempuan itu mengalihkan pandangannya dari Jin sebelum berucap, “Sebaiknya kita segera tidur. Besok pagi kita akan bertemu dengan tunangan Krystal. Jangan sampai terlambat.”

Jessica pun segera membaringkan tubuhnya seraya memejamkan mata. Senyuman Jin mengembang melihat hal itu, “Selamat tidur, Jess.”

Ketika satu harapan datang, tanpa disadari kau menginginkan satu hal lagi yang melebihi harapan itu.

***

Jin hanya berjalan mengekor Jessica yang tengah sibuk mencari-cari seseorang di sebuah kafe yang berada tepat di sebelah pantai. Jessica memeriksa ponselnya dengan amat teliti, kemudian matanya tertuju pada seorang lelaki berjaket abu yang tengah duduk di meja makan yang terletak di ujung kanan ruangan.

“Oh, ya ampun. Dunia memang sempit.”

“Kenapa?” heran Jin.

Pertanyaan Jin tidak dijawab. Jessica langsung menarik Jin untuk berjalan menghampiri meja lelaki berjaket abu tersebut. Melihat kehadiran Jessica, lelaki itu berdiri dan tersenyum tidak percaya.

“Kau… perempuan yang aku temui di pameran kupu-kupu. Benar, bukan?”

Jessica terkekeh. “Kau benar.”

“Coba aku tebak lagi. Kau kakaknya Krystal?”

“Benar sekali. Aku Jessica Jung, kakak dari Krystal Jung. Maafkan aku karena tidak memperkenalkan diri pada saat itu. Aku tidak biasa memberitahu namaku pada orang asing, Kim Taehyung.”

Taehyung mengibaskan tangannya. “Sekarang aku bukan orang asing lagi bagimu. Benar, kan, Jessica-ssi?”

“Ya. Tentu saja. Karena aku akan menjadi kakak iparmu.”

“Tepat sekali,” angguk Taehyung bangga.

Jin berdehem, membuat Jessica tersadar bahwa ia telah melupakan keadiran Jin. Jessica pun menatap Taehyung lalu kembali berucap, “Taehyung, kenalkan, ini Jin. Dia adalah… temanku.”

“Maaf? Apa yang kau bilang?” tanya Taehyung, seolah perkataan Jessica sulit dimengerti oleh Taehyung.

Jessica pun menggandeng lengan Jin dan kembali memperkenalkan lelaki itu. “Dia adalah Jin. Dia orang yang menyelamatkan hidupku, juga lelaki yang aku sukai, tetapi dia tidak menyukaiku. Jadi… kau bisa bilang kami hanya berteman.”

Ada nada kecewa dan sedih dalam perkataan Jessica. Mendengar penjelasan tersebut, Jin menatap perempuan itu dengan rasa bersalah. Namun, ia tidak tahu harus mengatakan apa untuk menimpali perkataan perempuan itu.

Di sisi lain, Taehyung mengamati Jessica dengan tatapan yang sulit diartikan. Tidak mau membuat Jessica merasa tidak nyaman, Taehyung pun berkata, “Senang berkenalan denganmu, Jin. Mari kita duduk saja. Aku sudah memesan makanan, jadi kita tinggal menunggu.”

Jessica tersenyum. Ia dan Jin pun segera duduk di hadapan Taehyung. Tidak ada percakapan di antara mereka bertiga. Bahkan ketika makanan sudah datang, keheningan masih tetap menyelimuti mereka. Taehyung dan Jessica sibuk menyantap makanannya, sedangkan Jin hanya memerhatikan karena lelaki itu bilang bahwa dia tidak bernafsu makan.

“Aku rasa dari sejak kemarin kau berbeda, Jin. Biasanya kau sangat lahap makan tapi sekarang kau malah sama sekali tidak tertarik pada makanan. Kau akan sakit jika terus-menerus seperti itu,” ujar Jessica.

Jin tersenyum akan kekhawatiran yang dilemparkan Jessica untukknya. “Aku tidak akan apa-apa, Jess.”

“Tapi aku benar-benar takut jika kau jatuh sakit.”

Melihat percakapan Jessica dengan Jin, Taehyung pun menghentikan kegiatan makannya. Dia menatap Jessica dengan raut yang serius. “Jessica, apa kau benar-benar mencintai Jin?”

Mengikuti jejak Taehyung, Jessica pun menghentikan kegiatan makannya. Jessica tersenyum, “Ya, aku mencintainya, tapi dia tidak mencintaiku.”

“Jess, jangan membahas itu,” ujar Jin yang merasa tidak nyaman.

Helaan napas Taehyung terdengar. Dia menatap Jessica lembut, “Percayalah, Jessica, kau dan Jin tidak bisa saling mencintai. Kalian tidak boleh jatuh cinta satu sama lain.”

Penekanan kata ‘tidak’ yang diucapkan Taehyung membuat Jessica menaikkan sebelah alisnya karena heran, “Kenapa?”

Taehyung kembali menghela napas. “Karena semua itu akan sia-sia.”

***

Taehyung masih terdiam di kafe tersebut walaupun Jessica dan Jin sudah pulang terlebih dulu. Lelaki itu memijit pelipisnya dengan perlahan. Pertemuannya dengan Jessica membuat kepala Taehyung pusing. Ia menatap ponsel yang berada dalam genggaman tangan kanannya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia menghubungi seseorang.

“Oppa! Ada apa meneleponku?” tanya suara di sebrang sana.

“Krystal… kuharap kau bisa menerima apa yang akan aku katakan. Tolong tetap tenang, ya.”

Me-memangnya ada apa?” tanya Krystal dengan nada terbata. Terdengar sedikit panik.

Taehyung menghela napas terlebih dulu sebelum menjawab, “Aku khawatir jika kakakmu mengidap… skizofrenia[2].”

***

^

^

Tuhan selalu menyimpan misteri dalam jalan kehidupan manusia. Sekelumit permasalahan dan bahkan satu hal yang tidak logis pun Ia berikan. Semua itu tidak tanpa tujuan, tetapi agar manusia bisa bertahan dan melewatinya—sebuah tantangan. Namun, mengapa Jin tidak merasakan hal itu? Dia hanya merasakan tubuhnya terombang-ambing, mengikuti alur kehidupan dengan begitu pasrah, layaknya boneka kayu yang dipermainkan dalam sebuah opera. Bahkan Jin, lelaki tampan itu, tidak benar-benar merasa dirinya bernapas.

.

.

Taraaaa~~~ udah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa part ini bisa dimengerti? Huhuhu aku sadar di part ini banyak kekurangan, termasuk di bagian deskripsi. Kalau gak ngerti, silakan tanyakan di kotak komentar. Dan yeaay… next part is the lastttt part! Cerita memusingkan ini akan segera tamat! Oh, iya, udah bisa nebak juga siapa BTS member yang memakai topi beanie itu? Dan aku sengaja membuat Taehyung seumuran sama Jessica dan lebih tua dari Krystal. Biar asik aja gitu😄 dan sorry kalau menemukan typo bertebaran atau scene yang agak agak aneh gimanaaa gitu, soalnya aku lagi malas ngedit. Oke, sampai ketemu di part terakhir~

Oh, iya, komentar dan like dari kalian sangat berarti… terima kasih ^^

[1] DID (Dissiociative Identity Disorder/Gangguan Identitas Disosiatif/gangguan kepribadian majemuk) = Sebuah gangguan jiwa yang diakibatkan dari sebuah trauma yang dialami di masa kecil. Gangguan ini menyebabkan penderita memiliki dua atau lebih kepribadian yang benar-benar berbeda. Kepribadian tersebut dapat memengaruhi tingkah dan perilaku yang tidak dapat diingat kembali jika kepribadian lain sudah mengambil alih tubuh penderita. Berbagai kepribadian akan datang silih berganti karena satu faktor, mengakibatkan ia melakukan hal-hal yang berbanding terbalik dengan identitas aslinya dan berakhir tidak akan mengingat sama sekali apa yang telah ia lakukan ketika ‘kepribadian lain’ mengambil alih tubuhnya saat gangguan tersebut kambuh. Secara singkat, gangguan ini menjadikan satu tubuh manusia dihuni oleh berbagai macam orang yang berbeda. (Dikutip dari berbagai sumber)

[2] Gangguan mental yang menyebabkan seseorang berhaluniasi di luar batas. Berdasarkan Medical News Today, Skizofrenia adalah gangguan otak yang rumit, kronis, dan melumpuhkan. Gejala penyakit ini adalah penderita akan mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada ataupun berkhayal/halusinasi akan sesuatu yang sebenarnya tidak nyata.

45 thoughts on “Let’s Not Fall in Love – Butterfly

  1. ya ampun.. jessica ya kesian amat … makanya sica ama jin ngak bisa bersatu.. omg..:( ditunggu kelanjutannya.. fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s