Destiny (Chapter 8)

Destiny (Chapter 8)

Title:
DESTINY

Author:
_Sicaa.gorJESS

Genre:
Romance, School Life, Friendship, Sad, Family

Rating:
T

Length:
Chaptered

Main Cast:
Jessica Jung | Seo Joo Hyun | Kris Wu | Lu Han

Disclaimer:
Cerita fiksi ini 100% original karya author. Cast dan pemain lainnya hanyalah milik Tuhan dan orangtua mereka, Author hanya sekedar meminjam nama. Dilarang keras untuk menjiplak. Dan setelah membaca, tolong tinggalkan komentar untuk memberikan saran atau kritik kepada Author tentang cerita ini.

Previous Chapter : 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

.

~ DESTINY ~
.
“Entahlah.. Memangnya, kenapa jika orang tua kita saling mengenal?”

.

“Do you forget me, honey? Jung Sooyeon?”

.

“I’m your mom..”

.

“Huufft… Kupikir aku tidak akan pernah merasakan ini. Apa ini takdir? Bertemu dengan seorang namja yang ternyata adalah saudara tiriku. Apa ini yang disebut takdir? Entahlah..”

.

“Seohyun? Apa dia temanmu juga, eonnie?”

.

“Tidak, pabo! Dia bersama namjachingunya!”

.

“Ehmm.. Appa mengerti sekarang. Luhan menyukai yeoja bernama Seohyun itu, bukan?”

.

“Oh, wait.. Aku ingin mengenalkanmu dengan Sehun. Kau mau, ‘kan?”

.

Chapter 8

Author POV

Sebuah bus yang biasa beroperasi di jalan – jalan kota Seoul, kini tampak berhenti di salah satu halte yang dekat dengan SM IA School. Bus itu menurunkan sekitar 4 orang penumpang, dan salah satu diantaranya adalah Jessica. Kini ia telah sampai di halte terdekat dari sekolahnya itu.

Ya, terbiasa menumpangi bus membuatnya tidak ingin merepotkan orang lain untuk mengantarnya atau semacamnya. Padahal, dirumahnya ada 3 buah mobil yang menganggur di garasi dan ada Luhan yang bisa mengantarnya, namun ia tetap menjadi dirinya. Selalu tidak mengharapkan bantuan orang lain.

“Ck, ini sangat memalukan. Orang menatapku kebingungan karena memakai seragam sekolah saat libur. Orang lain pasti akan mengira aku sedang dalam masa hukuman.” Gumam yeoja itu seorang diri tatkala ia sadar bahwa orang di sekelilingnya menatapnya dengan tatapan keheranan. Ya, apa yang dikatakannya memang benar.

Jessica pun tidak ingin tinggal berlama – lama di luar. Ia segera memasuki gedung sekolahnya yang megah itu dan memasuki sebuah ruangan yang sudah menjadi tujuan utamanya kemari.

“Hei!” Sapa Suho saat berhasil menemukan sosok Jessica yang nampak sangat jelas baru saja tiba.

“Ah, ne. Annyeonghaseo, sunbaenim.” Balas Jessica lalu membungkuk 45 derajat dihadapan sunbaenimnya itu.

“Kau tahu tugasmu untuk hari ini?” Tanya Suho sambil terus mengukir senyum angelic khasnya.

“Aniyo, sunbaenim. Aku belum menerima laporan apapun tentang latihan Tekwondo akhir tahun ini.” Jelas Jessica dengan ekspresi yang mulai serius.

“Oh.. Kau bisa lihat di mejamu. Di sana sudah ada daftar kegiatan untuk kau lakukan selama sebulan penuh ini.”

“Ne, sunbaenim. Gamsahabnida..”

“Oh ya.. Aku ke sana sebentar.” Kata Suho dengan nada gugup lalu berlalu cepat.

“Oh, ne.” Jawab yeoja itu seadanya.

Jessica lalu menghela nafas panjang. Ia kini menatap keluar ruangan melalui jendela.

Tiba – tiba matanya berhasil menangkap sosok Kris yang tengah berjalan dengan gaya coolnya yang memang tak di ragukan lagi ketampanannya.

Yeoja itu lalu beranjak dari ruangan itu menuju tempat di mana ia melihat Kris tadi yang juga memakai seragam dan membawa ransel.

“Kris!” Panggil Jessica saat jarak antara ia dan Kris sudah tidak terlalu jauh lagi.
Kris berbalik, “Ne?”

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Jessica langsung pada intinya. Inti masalah yang membuatnya mengejar Kris dari ruang latihannya sampai ke lapangan basket yang jaraknya cukup jauh.

“Kau? Harusnya aku yang bertanya seperti itu.”

“Aku sedang mengambil daftar kegiatanku untuk latihan Taekwondo selama sebulan ini. Lalu kau?”

“Aku hanya ingin mengambil barang – barangku yang tersimpan di loker. Dan setelah ini, aku ingin ke rumahmu.” Balas Kris.

“Jika kau ingin menemui Luhan, seharusnya kau berkata ingin ke rumah Luhan. Jika kau bilang akan ke rumahku, berarti kau ingin bertemu denganku..” Protes Jessica yang merasa ada kata yang tidak benar dari ucapan Kris barusan.

“Aku memang ingin bertemu denganmu.”

Mata Jessica kini membulat sempurna. Lidahnya tiba – tiba menjadi kelu. Bahkan, jantungnya kembali berdegup kencang.

“U- untuk.. apa?” Tanya yeoja itu ragu.

“Aku hanya ingin berkunjung. Apa tidak boleh?”

“Tentu saja boleh. Memangnya siapa yang melarangmu.. Hm, tapi apa kau sudah mau pulang?”

“Ya.” Jawab Kris singkat.

“Bagaimana jika kita pulang bersama? Kau tidak membawa motormu itu, ‘kan?” Ujar Jessica yang sudah siaga sebelum terlanjur lagi ia ikut bersama Kris di parkiran.

“Memangnya kenapa kau begitu takut dengan motor, eoh?”

Jessica menghela nafas kecilnya, “Aku phobia… Waktu kecil, aku dan ayahku pernah mengalami kecelakaan motor. Dan saat itu juga, ayahku meninggal seketika. Itu, terlalu mengerikan untukku..” Jelas Jessica lirih.

Kris segera memegang kedua pundak Jessica dengan lembut, “Mianhae… Aku janji, tidak akan mengungkit hal itu lagi.” Janji Kris yang langsung di balas dengan senyuman tulus dari Jessica.

“Baiklah, lagipula aku naik bus.”

“Baguslah. Tapi, aku harus mengambil daftar jadwalku terlebih dahulu di mejaku. Tak apa, ‘kan?”

“Ne. Ayo, aku akan menemanimu.”

 

Jessica POV

Sampai sekarang aku masih tidak percaya saat tadi Kris berkata memang ingin bertemu denganku. Apa itu artinya…

Ah, lupakan. Yang jelas, saat ini kami sedang mencari Suho sunbaenim untuk berpamitan. Pasalnya, aku takut dia mengecapku sebagai hoobae yang tidak tahu sopan santun.

Nah, sepertinya waktunya sangat tepat. Suho sunbaenim kini sudah ada di depan gerbang sekolah.

“Sicca? Kau sudah ingin pulang?” Tanya Suho sunbaenim yang ternyata juga sudah melihatku bersama Kris.

“Ne, sunbaenim. Kalau begitu, saya pulang dulu. Aku akan kembali besok.”

“Ah, ne. Hati – hati di jalan..” Ucap Suho sunbaenim sambil menatap kami. Ah, sepertinya bukan. Mungkin lebih tepatnya sambil menatap tajam ke arah Kris.

Tatapan seolah – olah sedang berhadapan dengan lawan saat pertandingan. Ada apa?

Menghindari situasi yang lebih tidak nyaman, aku segera menarik lengan Kris lalu segera menuju ke halte bus terdekat.

Kris POV
Sudah hampir satu jam aku dan Jessica duduk di halte bus ini bersama beberapa orang di sekitar kami. Ya, hanya beberapa. Entah karena hari sudah memasuki musim dingin atau apa sehingga membuat bus di halte ini tidak ada yang berhenti. Dan bisa kulihat, Jessica yang sejak tadi sibuk menggosokkan kedua telapak tangannya yang pasti terasa sangat dingin karena ia tidak memakai sarung tangan. Hanya mantel semata yang menjadi penghangat tubuhnya di luar seragam sekolah kami.

“Sepertinya Ice Princess akan membeku kedinginan karena suhu dingin ini.” Ucapku memecah keheningan dinatara kami.

Ia langsung berbalik menatapku dengan tatapan glarenya yang sangat mempesona menurutku.

“Kau bahkan sudah berjanji bahwa tidak akan berkata seperti itu.” Balasnya yang terkesan dingin.

“Hanya bercanda. Lupakan sajalah…”

“Bercandamu tidak lucu, tau.”

“Mian… Oh ya, sepertinya kau dan Seohyun sangat tertutup jika menyangkut tentang percintaan. Kenapa? Apa ada yang membuatmu trauma hingga tampak sangat join dengan pelajaran?” Tanyaku tanpa sadar sepenuhnya. Ah, bodoh. Mungkin setelah ini ia akan menghajarku karena bertanya tentang hal konyol seperti ini.

“Sebenarnya aku sedang menyukai seseorang.”

Tiba – tiba saja, aku merasa tercekat dan sulit untuk bernafas. Bahkan untuk menelan salivaku adalah hal yang sulit kulakukan saat ini.

“Ehm, oh ya?” Jawabku kaku.

“Ya.. Dia selalu membuatku nyaman saat berada di sampingnya. Apa kau pernah merasakan hal ini juga?” Tanya Jessica dengan wajah yang berbinar – berbinar sambil memandang langit.

“Ti- tidak.. juga.” Jawabku gugup karena situasi ini.

“Apa dia memperlakukanmu dengan spesial? Bagaimana rasanya?” Tanyaku yang langsung membuat yeoja ini berbalik ke arahku dengan alis yang naik sebelah seperti benar – benar terkejut.

“Dia? Dia.. membuatku merasa seperti Cinderella. Aku merasa sangat beruntung karena telah mengenalnya.” Jelasnya sambil tersenyum manis padaku. Ah, kuharap senyum itu tulus untukku dan bukan hanya karena dia sedang jatuh cinta.

Tak lama setelahnya, bus yang kami tunggu pun datang dan menepi di seberang jalan ini. Aku menatap yeoja disebelahku ini. Dengan anggun, ia menoleh kepadaku.

“Sepertinya, Cinderella sudah harus pulang. Kajja..” Sahutku yang langsung membuatnya mengukir senyum terbaiknya. Aku tidak tahu apa arti dari senyumannya yang memukau itu. Itu terasa sangat tulus dan sangat menenangkan. Tapi, apapun itu, rasanya semangatku sudah hilang saat tahu dia sudah menyukai namja lain. Karena sejujurnya, baru berselang beberapa hari belakangan ini… aku baru sadar bahwa aku mulai menyukainya.

~*****~

Jessica POV
Aagghhh!!! Rasanya aku akan terkena serangan jantung setelah ini. Bagaimana tidak? Saat dia memanggilku Cinderella, rasanya aku sedang berada di sebuah istana megah bersama sang pangeran tampan.

Apa ini artinya rencanaku berjalan dengan lancar? Ya, saat aku berkata pada Kris bahwa aku telah menyukai seseorang, sebenarnya orang itu adalah dia sendiri! Kris Wu! Apa dia akan tahu tentang perasaanku setelah ini? Dan ia akan merasakan hal yang sama? Oh, tidak!

‘Sepertinya, Cinderella sudah harus pulang. Kajja..’ Kata – katanya tadi masih terus berputar – putar di kepalaku hingga membuatku terus dan terus tersenyum malu. Ah, andai aku punya obat untuk ini…

“Apa kau baik – baik saja, Sicca?” Tanya Seohyun yang saat itu juga menghancurkan hayalan kecilku.

“Hm? Ah, n- ne… Na gwencaha..” Jawabku berusaha terlihat stabil dan dingin seperti biasanya.

“Sejak tadi kau terus tersenyum dan tersenyum seperti orang gila. Apa kau punya masalah? Atau kau sedang bahagia? Katakanlah. Biar aku tahu alasan kau bertingkah aneh seperti ini.” Ujar yeoja ini panjang lebar dengan ekspresi polosnya.

“Biasa saja. Tidak, ada hal yang… perlu kau ketahui.”

“Tidak ada hal yang perlu aku ketahui? Berarti ada hal yang terjadi tapi aku tidak perlu tahu? Begitu maksudmu, eoh? Ehm, kau sudah mulai mempunyai rahasia padaku.” Protesnya yang terus – terusan memojokkanku.

“Tidak. Aku serius. Tidak ada apapun. Baik itu terjadi atau tidak, benar – benar tidak ada.” Jelasku sambil menaikkan jari telunjuk dan tengahku ke arahnya.

“Hm.. Bagaimana jika aku tidak percaya? Apa aku harus menggelitikimu dulu baru kau mau mengakuinya?” Ancamnya yang terkesan sangat kekanak – kanakan bagiku. Ah, mereka sering sekali mengatakan bahwa aku childish, tapi menurutku hal yang dilakukan Seohyun lebih kekanakan daripada yang kulakukan.

“Hei! Hentikan!”
Jari – jari Seohyun langsung menyentuh telapak kakiku yang masih beralaskan kaus kaki. Tangannya menggelitikiku terus sampai keringatku bercucuran karena menahan geli.

“Ah!! Baik! Baik! Aku akan memberitahumu..” Teriakku yang sontak membuatnya segera menjauhkan kedua telapak tangannya dari kakiku.

“Apa? Cepat, beritahu aku!”
Aku berfikir sejenak. Memangnya bagaimana caraku memberitahunya? Langsung berkata bahwa aku menyukai Kris, begitu? Ck, memalukan. I am a girl, right? Tidak seharusnya aku mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu meski bukan pada orang yang kusukai.

“A- aku.. Ehm, bagaimana menjelaskannya, ya? Hm, kurasa aku… mulai menyukai…” Aku menghentikan kata – kataku sejenak. Aku melanjutkannya dengan membisikkannya pada Seohyun.

“Kris..”
Bisa kulihat reaksi terkejut dari yeoja itu sesaat setelah aku membisikkan nama Kris tadi. Matanya kini membulat sempurna dengan mulut yang menganga.

“J- jjinjjayo?! Wah, neomu daebak, Jessica Jung!!” Teriaknya yang sontak membuat tanganku menutup mulutnya.

Aku menempelkan jari telunjukku pada bibirku, “Ssssttt!!!…” Ucapku memberikan isyarat untuk mengecilkan suaranya.

“Hahaha… Mianhae. Oh ya, apa kau berfikiran sama denganku?”

“Tentang apa?”

“Ya, tidakkah kau merasa jika, ini semua sudah diatur dan menjadi takdir kita?” Tanya Seohyun yang membuatku benar – benar bingung saat itu juga.

“Kau bicara apa? Aku tidak yakin dengan takdir..” Balasku santai dan apa adanya.

“Cih, coba pikir. Aku menyukai Luhan yang sebenarnya adalah saudara tirimu. Sedangkan kita bersahabat sejak dulu. Lalu kau menyukai Kris yang notabene adalah sahabat Luhan sejak berada di China. Bagaimana? Ini semua ada sangkutannya, bukan?” Kata Seohyun dengan semangat namun dengan volume yang terjaga.

“Entahlah..”

“Tapi, apa kau benar menyukai Kris?” Tanya yeoja ini mencoba meyakinkanku. Aku mengangguk malu, “Ne..”

“Lalu, bagaimana dengan Suho sunbaenim? Bukankah Suho sunbaenim menyukaimu?”

“Kau tahu dari mana? Kami tidak ada hubungan apa – apa. Dan yang perlu kau catat, dia perhatian padaku hanya karena aku dan Suho sunbaenim sudah saling mengenal sejak awal aku masuk di tim seni bela diri Taekwondo sekolah. Dia pernah bilang bahwa aku adalah hoobae yang paling dekat dengannya. Arasseo?!”

“Ah, ne.. Putuskan pilihanmu sendiri. Aku ingin menemui Luhan dan Kris di lantai bawah.” Ujar Seohyun lalu beranjak dari atas tempat tidurku menuju pintu kamarku ini. Namun, belum sempat yeoja itu menghilang dari balik pintu, aku lebih dulu menahan tangannya dengan perasaan was – was.
Seohyun tampak terkejut dan segera menatapku dengan ekspresi penuh tanda tanya.

“Kau… jangan beritahu hal tadi pada orang lain, ya! Apalagi Kris dan bayi rusa itu! Understand?!”

“Biasanya, setiap kali kau berkata seperti itu, kau akan memberikan ancaman di akhir kalimatmu.. Kemana kalimat ancamanmu itu, uh?”

“Ya, sudah. Kuanggap kau mengerti.” Aku segera melepaskan genggamanku dari tangannya dan bahkan mendorongnya pelan keluar dari pintu kamarku.

Aku menghela nafasku sejenak lalu tersenyum lepas. Yang ada di pikiranku sekarang adalah namja itu. Aku sudah benar – benar lengkap sekarang.

~*****~

Author POV
Hari – hari di musim dingin sudah berlalu hampir 2 minggu. Dan selama itu pula Jessica sering mencurahkan isi hatinya kepada Kris tentang namja itu. Namun, selama itu pula Kris masih mengira bahwa namja yang selalu diceritakan Jessica, sekaligus namja yang di sukai yeoja itu adalah Kim Joonmyeon, atau yang akrab dipanggil Suho itu. Ya, sunbae mereka.

Jessica melakukan hal itu tentu bukan tanpa alasan. Melainkan ia ingin memberitahu Kris tentang keadaan yang ia alami saat ini. Dengan garis bawah, dengan cara yeoja itu sendiri. Jessica tidak ingin menghilangkan kesan dinginnya dengan menyatakan perasaannya pada Kris. Ia ingin Kris tahu dengan sendirinya melalui cara khususnya itu. Tapi rupanya, cara itu telah membuat mental Kris down akhir – akhir ini.

‘Andai ia tahu bahwa aku mulai menyukainya. Andai ia tahu bahwa aku selalu memperhatikannya. Dan andai saja ia tahu.. bahwa, perasaanku hancur setiap kali ia bercerita tentang pangerannya itu. Tapi apakah cukup dengan berandai – andai saja? Lalu bagaimana? Apa aku harus belajar untuk melupakannya? Oh GOD… Aku bingung, benar – benar bingung.’

Kurang lebih itulah kalimat yang terus berulang di kepala Kris saat ini. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tapi, setidaknya ini sudah lebih baik untuknya karena ia sudah memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan berhenti menginap di kediaman keluarga Lu itu. Karena semakin ia dekat dengan Jessica, rasa sakit yang harus ia tanggung pun akan menjadi lebih besar. Ia takut, semakin jarak ia dan Jessica mengecil, semakin pula ia menyukai yeoja itu.

Kris kini masih berbaring di ranjang besarnya yang empuk. Ia melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di sebelahnya. Ia lalu mengambil ponsel itu lalu berniat untuk menonaktifkannnya. Namun, belum sempat ia melakukan hal itu, panggilan dari Jessica sudah lebih dulu masuk di ponselnya.
Ia menghela nafas panjangnya. Berfikir sejenak, akan mengangkat panggilan dari yeoja itu atau tidak.

Akhirnya, keputusan namja itu bulat. Ia pun segera menerima panggilan itu.

“Yeoboseo…” Ujar Kris mengawali percakapan keduanya.

“Kris? Apa aku mengganggumu?”

“Tidak. Katakan saja apa yang ingin kau katakan…” Ucap Kris yang terkesan sangat dingin pada Jessica.

“Caramu berbicara… Apa kau marah padaku?”

“Jika tidak ada yang ingin kau tanyakan, aku akan menutup panggilanmu.”

“Kau pasti marah padaku, kan?! Beritahu aku, apa salahku, eoh?” Tanya Jessica yang juga terkesan berbeda dari sebelumnya.

Kris memutar bola matanya malas, “Tidak ada.” Kata namja itu.

“Apa kau seperti ini karena kau bosan mendengarkan curhatku? Apa benar?! Katakan saja! Aku tidak ingin kau bersikap dingin seperti ini padaku!” Bentak Jessica dari seberang sana.

“Akan kututup.” Sahut Kris yang berusaha menghentikan celotehan Jessica.

“Kris! Kris Wu! Ya! Yifan!!” Bentak Jessica saat Kris sudah menutup panggilannya.

Jessica berusaha untuk menelpon namja itu lagi. Namun, nihil. Panggilannya tidak dapat tersambung karena setelah Kris menutup panggilannya tadi, namja itu langsung menonaktifkan ponselnya agar ia tidak mendengar panggilan dari Jessica lagi. Begitu miris memang. Kris yang biasanya sangat perhatian pada Jessica, kini berubah menjadi seorang Feeling Killer bagi Jessica.

Kris mengacak kasar rambut blondenya. Ia sangat bingung sekarang. Bagaimana dengan perasaannya jika ia terus mendengarkan curhatan Jessica tentang pangeran tampannya itu? Tentu saja akan sangat melukai namja jakung ini.

“Ice, i’m sorry… Kupikir dengan menjauhimu adalah jalan yang terbaik. Tak akan ada luka lagi disini. Untukmu, maupun untukku…” Gumam namja itu dengan suara beratnya.

 

 

 

 

 

To Be Continue . . . ~

8 thoughts on “Destiny (Chapter 8)

  1. Duh, kris salah paham nih . Kan yg disukai sica itu kris, buka suho oppa. Kalo gini kan kasian sama sica, udh capek* ngasih clue buat si kris . Ehhh malah dia yg ngerti* kalo org di maksud sica itu kris .
    Seruuu thor . Next chap nya jangan lama* di publish nya yah hehe ^^

  2. Yahh salah paham deh:/ atau emang ini Kris nya yang kurang peka ya kkk
    tapi ya gak bisa disalahin juga karena Kris kan mikirnya si Jessica juga deket sama Suho.. kasian si Kris dan kasian si Jessica juga lebih kasian lagi si Suho itu.. aaa semoga Suho mendapatkan yeoja lain biar bisa move on dari Jessica😀
    Update soon ya author-nim dan terima kasih juga karena sudah meng update chapter ini ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s