[Freelance] Because a Book (Chapter 1)

Title : Because a Book (Sequel of Book)

Author : Diamondstar

Main Cast : Jung Sooyeon | Kim Seokjin | Kim Taehyung

Other Cast: Jeon Jungkook

Genre : School Life | Romance (maybe._.)

Rating : PG

Length : Series

 

Note: ff ini adalah sequel dari ff Book dengan cast Sooyeon-Seokjin. Selamat membaca~

 

———–

 

 

“Kau ini kenapa?” tanya Taehyung saat melihat Sooyeon hanya mengaduk-aduk ramyunnya. Sooyeon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah lesu.

“Kau ingin aku suapi?” Sooyeon menggeleng lagi tanpa menjawab.

“Makanlah, jika kau bangun kesiangan kau pasti belum sarapan, tidak bangun kesianganpun kau tidak sarapan” ucap Taehyung mengetahui kebiasaan Sooyeon, Sooyeon tak memberikan respon apapun.

“Oh ayolah berceritalah padaku, kau ini kenapa?” ucap Taehyung frustasi.

Sooyeon meletakkan sumpitnya lalu memasang wajah memelas membuat Taehyung semakin bingung. “Taehyung, Taehyung, Taehyung, Taehyung waaaa”

Ya! Ya! Kau ini kenapa?” tanya Taehyung menatap Sooyeon bingung.

“Taehyung, tamatlah riwayatku, apa yang harus aku lakukan?” tanya Sooyeon dengan mimik menyedihkan.

Mwo?” tanya Taehyung semakin tidak mengerti dengan ucapan Sooyeon.

Mata Sooyeon sedikit berkaca-kaca, ia melipat kedua tangannya lalu membenamkan wajahnya diatas lipatan kedua tangannya, sehingga saat berkata suaranya sedikit tak jelas. “Tadi pagi aku menabrak Seokjin dan bukuku tertukar dengan buku miliknya”

“Lalu?”

“Aku mengembalikan buku miliknya dan aku memintanya mengembalikan bukuku, ia memang mengembalikannya tapi dengan sebuah syarat”

“Syarat apa?” Taehyung bertanya penasaran, ia tidak tahu menahu kejadiannya karena saat bel berbunyi tadi ia langsung keluar dari kelas.

“Menjadi kekasihnya” Taehyung tersedak tiba-tiba.

Taehyung memekik, ia meletakkan sumpitnya dengan tidak santai hingga menimbulkan suara ‘tak’ “Lalu kau menerimanya?” Sooyeon mengacak rambutnya.

“Apa boleh buat, buku itu berisi tugas esay yang harus segera dikumpulkan”

“Hah aku bisa gila” gumam Sooyeon.

“Tidak apa, tidak usah dianggap serius, mungkin ia hanya bercanda”

Taehyung menepuk-nepuk bahu Sooyeon, berusaha menenangkan Sooyeon yang gelisah, walaupun Taehyung terlihat biasa saja, tapi Sooyeon bisa melihat sedikit kejanggalan di mata Taehyung, setelah itu keheningan melanda , hanya terdengar sayup-sayup suara siswa-siswi lain yang berada dikantin. Mereka diam hingga akhirnya bel sekolah berbunyi menandakan jam pelajaran selanjutnya dimulai memecah keheningan diantara mereka berdua.

.

.

Sooyeon dan Taehyung berjalan berdampingan menuju tempat parkir disekolah mereka, jika biasanya mereka berisik dalam keadaan apapun, kali ini mereka hanya berjalan diselimuti keheningan.

Sebenarnya Sooyeon kebingungan dengan sikap Taehyung hari ini, Ia hanya diam saja sejak istirahat tadi, tetapi perempuan berambut coklat itu tak ambil pusing, ia hanya berpikir bahwa Taehyung sedang dalam mood yang tidak baik hari ini.

Sooyeon berhenti tepat didepan mobil miliknya “Kau kerumahku hari ini? Jungkook bilang ia baru saja membeli video game baru” ia mengeluarkan kunci mobilnya dari saku roknya.

“Kurasa—“

“Ayo pulang denganku” Seseorang melingkarkan lengannya dibahu Sooyeon, Sooyeon tersentak.

“—tidak” Taehyung melanjutkan kalimatnya yang terpotong “Sampai jumpa besok, Sooyeon” Taehyung melambaikan tangannya pelan lalu melempar senyum tipis kearahnya.

“Seokjin-ssi maaf, tapi tolong lepaskan tanganmu” ucap Sooyeon berusaha menyingkirkan tangan Seokjin dari bahunya, bukannya terlepas, Seokjin malah mengeratkan rangkulan di bahu Sooyeon.

“Seokjin-ssi, kau tidak serius dengan perkataanmu tadi kan?” tanya Sooyeon pelan membuat Seokjin tersenyum.

“Aku serius, kau kekasihku dan aku kekasihmu, ayo pulang bersamaku”

“Tapi aku membawa mobil Seokjin-ssi, jika aku pulang bersamamu bagaimana caranya aku bisa sampai disekolah besok jika mobilku kutinggalkan” alasan yang tepat Sooyeon!

“Aku akan menjemputmu besok, kau bisa membawa mobilmu pulang besok” Sooyeon menggerutu dalam hati mendengar ucapan Seokjin barusan.

Seokjin menyeretnya menuju mobil hitamnya. “Masuklah” kata Seokjin setelah membukakan pintu untuk Sooyeon, Sooyeon menghela nafas lalu memilih untuk menuruti kemauan Seokjin.

Diperjalanan Sooyeon hanya diam saja, hanya sesekali menjawab pertanyaan Seokjin. Mobil Seokjin berhenti membuat Sooyeon yang tengah melamun tersadar, sedikit mengerutkan dahinya karena ia telah sampai dirumahnya, seingatnya ia tidak mengatakan dimana ia tinggal.

“Maaf karena langsung mengantarmu pulang, aku sedang terburu-buru, akan kuajak pergi lain kali sebelum mengantarmu pulang”

“Bagaimana bisa kau tahu aku tinggal disini?” Sooyeon bertanya, memandang Seokjin.

Seokjin mengedipkan sebelah matanya. “Memangnya apa yang tidak kuketahui? Aku akan menjemputmu besok” Sooyeon menggerutu dalam hati. “Terimakasih atas tumpangannya” ucapnya sebelum akhirnya keluar dari mobil Seokjin.

.

.

“Noona”

Hening.

“Noonaaa”

Hening lagi.

“Noona!!”

Masih hening

“Noona!”

‘BUK’

“Ya! Jung Jungkook! Apa yang kau lakukan hah? Kenapa melemparku dengan bantal?!” Sooyeon memprotes dengan suara melengking saat sebuah lemparan bantal sofa mendarat mengenai kepalanya, alih-alih memprotes, Sooyeon melemparkan kembali bantal sofa yang mengenai kepalanya tadi kearah adiknya yang tengah duduk disofa yang ada dihadapannya, yang dengan tangkas segera ditangkap oleh laki-laki yang lebih muda 2 tahun darinya itu.

“Aku memanggilmu berulang kali tapi kau sama sekali tidak mengindahkan panggilanku” Jungkook berkata tanpa dosa dibarengi dengan memasang ekspresi innocent di wajahnya.

“Tapi kan kau bisa menepuk bahuku, menyenggol lenganku atau apalah, melempar bantal itu tidak sopan Kook”

“Aku malas berjalan kearahmu, bagaimana jika saat aku berjalan kearahmu tiba-tiba aku tersandung lalu kakiku patah, atau tiba-tiba kakiku kram, atau bisa saja aku terpeleset lalu kepalaku terbentur meja” Jungkook membela diri disertai dengan cengiran khasnya.

Sooyeon memutar matanya malas mendengar alasan adiknya yang terlampau berlebihan. “Tsk, berlebihan sekali, sofa yang kau duduki dengan sofa yang kau duduki tidak sampai berjarak 5 meter”

“Itu bisa saja terjadi Sooyeon, lagipula kau juga sering melempar bantal kearahku, bukan hanya bantal, kau juga pernah melempariku dengan sisir, itu sakit tahu” Jungkook mengingat-ingat kejadian satu bulan yang lalu, dimana sang kakak melemparinya dengan sebuah sisir miliknya.

“Aku lebih tua dan tentang aku melemparimu dengan sisir, itu salahmu karena menyiram album Bangtan milikku dengan jusmu! dan hei panggil aku noona! Aku ini kakakmu! Oh ya omong-omong ada apa memanggilku tadi?”

“Kemana Taehyung hyung? Ia tidak kemari hari ini?” tanya Jungkook tanpa memandang Sooyeon, matanya sibuk menatap layar ponselnya. “Memangnya kenapa? Kau merindukannya?”

“Eyy tentu saja tidak, kenapa ia tidak kemari hari ini? Kau belum bilang padanya ya jika aku membeli video game baru?” Jungkook bertanya lagi. “Aku sudah bilang padanya” balas Sooyeon.

“Kalian bertengkar ya?” Sooyeon menggeleng. “Tidak, kurasa tidak, sepertinya tidak, tidak tahu”

Jungkook mengangkat sebelah alisnya. “Tidak tahu?” Sooyeon mengangguk pelan.

“Hm, ya, aku tak tahu, rasanya seperti kami baik-baik saja, hanya saja setelah aku menceritakan sesuatu padanya saat jam istirahat tadi, kurasa, em, sikapnya sedikiit berubah”

“Memangnya kau bercerita apa padanya?”

Sooyeon menarik nafasnya lalu menceritakan apa yang terjadi hari ini, mulai dari dirinya yang terlambat, menabrak Seokjin teman sekelasnya yang –katanya- patut dijauhi, buku miliknya yang tertukar hingga saat istirahat ia menceritakan apa yang terjadi padanya hari itu kepada Taehyung, juga pada saat di tempat parkir sekolahnya.

Jungkook mengangguk-anggukan kepalanya paham, lalu berujar. “Dasar tidak peka”

“Hah?!”

“Benar kan, kau ini sungguh tak peka” Kening Sooyeon sedikit mengerut.

Jungkook berdiri dari duduknya meninggalkan Sooyeon yang memandang bingung kearahnya. “Peka terhadap apa sih?”

Jungkook menghentikan langkah kakinya lalu berbalik lagi kearah kakak perempuannya itu. “Noona, omong-omong, sepertinya teman –eh um kekasihmu yang bernama Seokjin itu aneh” Sooyeon mengangkat sebelah alisnya.

“Aneh kenapa?”

“Aneh saja, kau biasa saja, tidak ada istimewanya, kenapa dia memintamu jadi kekasihnya ya? Apa untungnya memang”

Sooyeon mendelik membuat Jungkook menyengir. “Aku hanya bercanda Sooyeon” ucapnya, setelah itu ia melesat menuju kamarnya saat ia melihat Sooyeon berdiri dari duduknya dengan sebuah majalah –di tangan kanannya yang terangkat, siap melayangkan majalah itu kearahnya.

“Enyah kau Jung Jungkook!”

.

.

Taehyung baru saja sampai dirumahnya, ia melempar tasnya dan langsung menjatuhkan dirinya diatas ranjangnya tanpa melepas sepatunya ataupun mengganti seragam sekolahnya, ia memejamkan matanya –memikirkan sesuatu.

Ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka. “Taehyung cepat ganti seragammu dan mandi, setelah itu turunlah untuk makan, aku menunggumu dibawah” tanpa membuka matapun ia tahu itu adalah kakaknya –Kim Namjoon. Taehyung hanya membalas ucapan Namjoon dengan gumaman, setelah itu ia mendengar pintu kamarnya kembali tertutup.

Setelah sekitar 10 menit lamanya, mata yang tadinya terpejam kini terbuka. Ia bangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk. Netranya menatap sebuah pigura yang ada dinakasnya –foto yang berisi dirinya dan Sooyeon menggunakan hanbok pada hari Chuseok, mereka bergandengan tangan dan tersenyum kearah kamera.

Taehyung menarik nafas pelan, berusaha menenangkan dirinya. “Tak apa Taehyung, hubungan mereka tak serius, Seokjin memaksanya, kau pasti bisa merebut Sooyeon” ia tersenyum kecil “Sooyeon pasti memilihmu, Taehyung”

.

.

Sekarang baru saja jam setengah tujuh pagi, tetapi Sooyeon sudah rapi dengan seragam sekolahnya, ia harus berangkat pagi hari ini, alasannya adalah untuk menghindari Seokjin tentu saja. Ia merapikan kamarnya sebentar sebelum ia keluar dari kamar miliknya.

Menurut susunan rencana yang ia buat semalam adalah: berangkat menggunakan bus umum untuk mencapai  kesekolahnya. Ia bisa saja menelepon Taehyung untuk meminta sahabatnya itu untuk menjemputnya, tetapi, ia merasa tidak enak untuk meminta tolong untuk menjemputnya sepagi ini.

Sooyeon serasa ingin menghilang sekarang juga, setelah ia keluar dari gerbang rumahnya, ia melihat Seokjin didepan sebuah mobil –mobil yang berbeda dari yang kemarin–. Bukan masalah mobil Seokjin sebenarnya, tapi masalahnya ini baru saja jam setengah tujuh, kenapa Seokjin menjemputnya sepagi ini.

“Apa yang kau lakukan disini?” akhirnya pertanyaan itu meluncur dari bibir Sooyeon setelah ia berpikir lama, sebenarnya ia ingin menanyakan kenapa sepagi ini Seokjin sudah berada di depan gerbang rumahnya, bukannya ‘apa yang ia lakukan disini’ karena tentu saja ia sudah tahu jawabannya –Seokjin sudah mengatakan bahwa ia akan menjemput Sooyeon hari ini.

Seokjin tersenyum miring membuatnya terlihat semakin tampan –Sooyeon mengakuinya walau ia tak ingin–. “Aku sudah bilang kemarin, aku akan menjemputmu hari ini kan?”

“Tapi kenapa sepagi ini? Sekolah baru akan dimulai jam delapan, ini baru jam setengah tujuh”

Seokjin mengedipkan sebelah matanya kearah Sooyeon “Aku mempunyai firasat kau akan kabur dariku, jadi yah, ternyata benar kan? Ini baru jam setengah tujuh, kau ingin berangkat sekarang? Bermaksud menghindariku ya?” Sooyeon tergagap.

Seokjin membuka pintu mobilnya, setelah itu ia menarik lengan Sooyeon, memasukkan Sooyeon kedalam mobilnya. Seokjin menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang, keadaan sangat hening, sesekali Seokjin melirik kearah Sooyeon.

Sooyeon menarik nafas pelan membuat laki-laki disampingnya itu meliriknya. Perempuan bersurai coklat itu menoleh kearah laki-laki yang ada disampingnya lalu memecah keheningan. “Seokjin-ssi aku minta maaf—“

“Untuk?” Seokjin memotong perkataannya.

Sooyeon memainkan jarinya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya–takut jika tiba-tiba Seokjin marah, Seokjin kan mengerikan –katanya. “Aku minta maaf karena telah menabrakmu kemarin, aku benar-benar terburu-buru, sungguh” jeda sebentar “Dan tentang kau memintaku menjadi kekasihmu itu, tidak serius kan?”

“Serius, bukankah kau sudah menyetujuinya? Aku sudah mengembalikan bukumu”

“Seokjin-ssi, maaf tap—“

“Mari mulai dari awal”

Sooyeon mengerjab tak mengerti maksud Seokjin. “Ya?”

Seokjin memberhentikan mobilnya, berhenti disisi jalan. Ia menatap Sooyeon dengan serius. “Mari mulai dengan serius, aku menyukaimu, jadilah kekasihku”

 

 

TBC

13 thoughts on “[Freelance] Because a Book (Chapter 1)

  1. Omg omg omg what wrong with you jess?? Peka dikit kek sama taehyung *high5withkookie*
    Hmm rada kurang sreg sama sifat jin disini, sifatnya maksa gimana gitu sama jessi. Dan jungkook, please sopan dikit sama mbakmu -_- taehyung-aaah bersabar sedikit ya, jessi bakalan jadi milik kamu.
    Karna v dan jin sama sama bias, jadi aku suka suka aja kalo endinya jinsic atau taesic :v
    Btw ff nya keren! Keep writting ya thorrr!! Dilanjuttt

  2. jin beneran suka sama sica yaa, tpi v gmna dong nasib nya? klo sica sampe suka sama jin.
    keren thor,,di tunggu kelanjutannya. hwaiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s