Red Thread ( Chapter – 2 )

RyeonHi20 Proudly Presents

Red Thread

Starring : Oh Sehun || Jessica Jung

Genre : Angst , Family , Romance , Hurt/Comfort

Rating : AU

Length : Chaptered

Warning : AU, OOC, MISTYPO(S), OC, bashing chara, ga-je, alur maju-mundur bikin pusing , absurd, ide pasaran, POV ganti gak bilang-bilang.

Previous : 1

Cr . Poster : Jungleelovely Art

Segala sesuatu yang terjadi dalam Fanfiksi ini hanyalah Fiktif belaka #ya elah namanya juga ff . Jika ada kesamaan nama tempat , tokoh , dan lainnya , itu semua murni karna ketidak sengajaan dan kecerobohan author semata .

Nb : anggap aja sistem pemerintahan Korea di sini itu bentuknya Kerajaan . Tapi model Kerajaan Modern gitu . Kayak  di Kerajaan Inggris .  Oke ? Sip !

 

 

Dan , inilah Chapter 2

 

 

Langkah ku gontai mencoba menerawang diantara kegelapan yang menyelimuti ruang panjang-sebuah lorong gelap nan pengap juga berbau apek yang saat ini tengah ku telusuri .

Entah berada dimana aku sekarang . Semua terlalu asing bagiku .

Hanya bermodalkan perasaan aku mencoba menggambar situasi . Sepi . Yah , bahkan aku tidak yakin bahwa tempat ini berpenghuni lain selain diriku yang -pastinya- sedang tersesat disini .

Seperti yang ku katakan tadi , Lorong yang ku lewati ini begitu panjang . Seolah tak berujung . Sekian waktu yang ku habiskan dalam kebingungan dan kegamangan , yang ku coba lakukan hanyalah berusaha mengikuti seberkas cahaya yang tetap tak bisa ku gapai walau aku telah berjalan demikian lama-demikian jauhnya di lorong ini . Ah , bahkan aku tak yakin apakah Lorong ini memiliki sebuah ujung . Ibarat penantian , lorong ini menunjukkan betapa menggantung asa pada sebuah harapan akan suatu hal yang tak pasti hanyalah membuatmu menjadi sosok pemimpi yang tak pernah meraba realiti.

 

Tik ..

 

Tetesan air terdengar bergema . Mungkin terdengar sampai ke seluruh penjuru lorong, dari ujung satu ke ujungnya yang lain . Menandakan betapa hampanya tempat ku berdiri sekarang .

Aku menatap ke arah kaki ku sendiri .

Basah ?

Baru ku tersadar Bahwa kaki ku terendam air sampai sebatas lutut . Sejak kapan ?

Rasa dingin dan kebas yang mulai ku rasakan di sekujur tubuh , ku hiraukan seperti tak pernah terjadi apa-apa . Aku mulai kembali berjalan . berjalan dan berjalan .

 

” Hiks … Hiks … ”

Sontak ku lemparkan arah pandang ke segala arah .

Bukan . Bukan aku yang barusan mengeluarkan suara – suara seperti orang menangis itu . Aku tidak seputus asa itu untuk menunjukkan tangis di tengah situasi seperti sekarang. Ini—masih belum cukup untuk membuatku berada di ujung asa .

Hembusan nafas ku terdengar memburu . Dada ku pun terasa sesak . Mungkin karna lorong ini terlalu pengap dan lembab sehingga membuat pasokan Oksigen bagi paru-paru ku yang mulai mengerut kesusahan mengais udara yang kian menipis . Atau mungkin bisa juga di karenakan rasa takut dan frustasi yang mulai membentuk selubung kabut pekat dalam pikiran ku , menghalangi diri ku untuk dapat berpikir jernih dan logis .

Adrenalin berpacu . Berlomba dengan aliran darah yang berdesir bagai di pacu . Kaki ku dengan sendirinya mengambil langkah seribu . 4 persimpangan jalan membuatku terpaksa menghentikan langkah . Aku berada tepat di tengah-tengah persimpangan itu .

” Hiks … Hiks … ”

Isakan itu terdengar semakin jelas .

Menolehkan kepala ku searah tangan kanan ku berada , gema isakan semakin intens .

Tidak salah lagi , dari arah kanan ku lah suara isakan itu bermula . Sepercik harapan dan antuasiasme terbentuk dengan sendirinya dalam dada , membuat kaki ku bergerak tanpa di duga ke arah sana . Berpikir tentang keberadaan orang lain di tengah kesunyian lorong yang membuatku nyaris menangis memohon pertolongan agar di selamatkan ,mendengar isakannya membuatku tak sabar untuk bertanya tentang jalan keluar .

Perjalanan ku terhenti begitu ku dapati sebuah pintu berbahan besi yang berdiri arogan menghadang jalan . Menuruti insting yang berteriak bergolak di kepala , ku dorong sekuat tenaga pintu tersebut .

Dan pemandangan yang tersaji di depanku sungguh membuatku terhenyak dengan mata membola dan mulut menganga .adalah Sebuah ruangan berukuran 10×10 meter yang minim cahaya dengan tingkat kelembaban yang jauh lebih kuat dari pada yang di lorong tadi yang ku temukan .. Jantungku memompa sedemikian kencang menyalurkan aliran darah yang juga berdesir bagai banjir bandang . Di depan sana sebuah pemandangan gelap gulita yang sungguh membuatku bergetar ketakutan dan terpenjara rasa panik yang mengantarku pada ujung dilema apakah aku harus terus melangkah menyusuri ruangan itu atau justru berbalik pergi dan melupakan segalanya ? Aku tak tahu .

Namun dalam kegelapan  tempat ini ada sesuatu yang seolah menarik ku untuk terus melangkah masuk .

Entahlah ….

Seseorang seperti tengah menatapku .

Memperhatikan ku seolah dapat menebak apa yang tersembunyi di balik garmen putih pucat yang ku kenakan .

“ hiks….anak ku .”

Tenggorokan ku mendadak kering . Kini kurasakan perasaan seperti sedang di perhatikan itu semakin kuat bersamaan dengan suara perempuan yang tengah meratap tadi .  Suaranya semakin jelas seperti memang sumbernya berada tepat di hadapan ku . Dan entah kenapa kini suara itu seolah berulang terus di kepalaku .

Aku mencoba melangkah lebih dekat menembus kegelapan . Begitu ku dapati sebuah pembatas berupa Jeruji yang entah di tujukan sebagai apa atau mengurung siapa di dalam sana , tubuhku tak mampu lagi bergerak .

Di balik jeruji itu ku dapati berkas cahaya dari pantulan sinar bulan yang menembus Ventilasi yang di susun sembarang hanya untuk membiarkan secuil udara masuk . Di bawah pantulan cahaya rembulan aku menemukannya . Sumber suara ratap tangis yang masih terus bergaung di telinga ku .

Sesosok wanita berkulit pucat yang wajahnya tertutupi oleh rambut sehitam arangnya yang menjuntai . Tubuhnya nampak begitu kurus tak ubahnya tulang berlapis kulit .

Aku mencoba mendekat , menyentuh batangan besi yang memenjarakan sosok malang yang nampak meringkuk frustasi di atas ranjang lapuk yang tlah di makan Korosi .

” Anak ku .. ” suaranya bak sebilah pisau yang mengiris kalbu . Tanpa sadar airmata ku menetes . Di bawah rembulan ku dapati sepasang bola mata wanita malang itu terlihat membentuk lorong. kosong .

Siapakah dia ?

Ku dengar ia terus meratap seolah cahaya di kehidupannya telah pergi bersama separuh hatinya yang membuat ia terus menyebut-nyebut kalimat “ Anak ku …. ” bak kaset rekaman yang rusak.

Aku bisa merasakan kesakitan dan kepedihan  yang teramat sangat yang tengah di rasakan wanita itu . Bisa ku lihat ia tengah bertarung melawan kesakitan itu, menangis meraung-raung—mengemis seolah meminta separuh hatinya—cahaya kehidupannya-Anak yang terus ia panggil itu kembali agar hatinya pun dapat kembali utuh.

Aku tertegun menghayati kesedihannya . Tak ku hiraukan wajah ku yang tlah basah sembab oleh air mata yang turun sejak pertama ku temukan wanita ini .

Tangan ku terulur mencoba menggapai dirinya  . Namun seberapa keras pun aku berusaha , sepanjang apapun ku ulurkan tangan hingga bahuku terhimpit diantara celah jeruji sel yang mengurung wanita ini , tetap saja ia bagai tak tersentuh .

Bibirku bergetar mengeluarkan erangan keputusasaan   .

Sampai Sebuah cahaya datang secara tiba-tiba menyilaukan mata ..membuat mataku buta sesaat oleh cahaya yang sedemikian dahsyatnya memusnahkan kegelapan yang meraja . Sosok sang wanita hilang bagai tertelan cahaya .

 

*

 

Masih mengerjapkan mata kini ku sadari aku tak lagi berdiri di tempat yang sama .

Ku dapati diriku duduk di sebuah kursi , dengan mata berat . Mengumpulkan segenap kesadaran yang masih mengambang aku mencoba mengingat apa saja yang ku lalui di hari sebelumnya . Meski Tidak banyak yang bisa ku ingat ,  aku  hanya tahu saat ketika diriku dipanggil secara mendadak untuk datang ke Istana hanya untuk merawat Pangeran Sehun yang sedang sakit . Singkat cerita aku pun merawat anak itu sampai kelelahan hingga akhirnya rasa lelah itulah yang membuatku ketiduran di kursi yang berdekatan dengan tempat tidur Sehun . Dan yang tadi itu ….

Ah , tadi itu hanya mimpi ternyata .

Mimpi yang aneh ..

Ku singkirkan segera bayangan mimpi yang terasa ganjil oleh ku itu begitu ku yakin hari tlah menjelang pagi .

Aku mencoba bangun Tetapi tubuhku masih kaku—enggan untuk di gerakkan . Leherku  pegal akibat terlalu lama berada dalam posisi yang kurang nyaman .  masih terasa berat mataku oleh cairan yang normal di keluarkan mata saat tidur yang kini mulai membentuk kerak nan mengeras di sudutnya .

Tetapi, kenapa yang ku dapati hanyalah Oniks ?

Kesadaran ku mungkin baru terkumpul sekitar beberapa persen , membuatku sangat sulit menyadari situasi .

Tetapi , kali ini kenapa di depan mataku hanya nampak wajah bocah Pangeran merepotkan itu yang seperti terus mendekat ke arah wajahku ? Tunggu sebentar , Sehun mendekat ke wajahku ?  Dan kenapa Bibirnya maju ?

 

HIEEEEE !!!!!

 

” KYAAAAAAA !!! ”

 

BUG !

 

 

~●○●○●~

 

 

 

” Aaaakkkk , k—kau, kau memang sengaja melakukannya . ”

Ck , anak ini . Harusnya aku yang mengatakan itu . Dia lah yang sengaja mengagetkan ku saat aku masih tertidur , sehingga tanpa aku sadari tangan ku bergerak dengan sendirinya-Refleks meninju wajah ‘Pangeran’ nya yang berada terlalu dekat di depan muka ku .

Jangan salahkan aku jika aku memukulinya sampai wajah khususnya sudut bibir juga pipi kanannya jadi sedikit bengkak dan membiru seperti ini .

” Kau sendiri yang bilang aku masih sakit , tapi kenapa dengan tak berperi kemanusiannya kau berani memukul ku ? ”

Hei , yang salah itu kau anak bodoh , bukannya aku . Ya ampun , yeoja mana atau manusia macam apa yang tidak merasa kaget saat ia terbangun di pagi hari, yang ia dapati justru wajah orang lain yang berada begitu dekat jaraknya dengan wajah mu-apalagi dalam kasus anak ini , dia mendekatiku sambil memajukan bibirnya-bergerak seolah hendak mencium ku .

What the heck , tidak dapat ku bayangkan seandainya saja ciuman ku akan di rebut oleh sosok pangeran manja yang suka bertindak seenak dan semaunya sendiri ini .

” memangnya apa yang ada dalam pikiran mu saat dengan seenaknya saja kau memukulku tanpa berkata apa – apa tadi ? Kau pikir aku sengaja ingin men—Aaakk ! Apa yang kau lakukan , Hah  ? ”

Menghentikan ucapan tak berguna mu , Pengeran bodoh  .

” Aku hanya mengobatimu . ” jawab ku sambil mengangkat bahu . Sedikit senang saat melihatnya memekik ketika dengan sengaja ku tekan kapas berlumur cairan Alkohol yang ku gunakan untuk mengurangi efek memar di wajahnya dengan kuat .  Lagian , siapa suruh dia terus mengoceh protes akan perbuatan ku padanya ?

Baiklah , aku memang bersalah dan mungkin akan semakin di benci warga satu negara jika mereka tahu bahwa akulah yang berani memukuli pangeran mahkota kebanggaan  mereka ini . Tapi , aku juga berada dalam posisi terdesak . Aku tidak sengaja memukulnya . Itu murni gerakan Refleks . Anggap saja tindakan untuk membela diri .

Dan lagipula , apa-apaan itu ? berani-beraninya dia menuduh bahwa aku telah berpikir kalau dirinya hendak mencium ku  ?

Err—ya sih , itu memang hal yang pertama kali terlintas di kepala ku saat mendapati wajahnya begitu dekat dengan ku . Ku rasa tidak ada yang salah kan dengan pemikiran ku itu ?

”  lihatlah , setelah kau membuat wajah tampan ku jadi buruk rupa begini , kau bahkan tidak meminta maaf ! Kau baru cuti selama 2 minggu tapi kenapa kau jadi kurang ajar begini ? ”

Sangat menyesal aku membuang-buang waktu kemarin malam hanya untuk merawat dia yang sedang demam . Kalau saja aku tahu bahwa setelah demam anak ini menjadi semakin menyebalkan dan kurang ajar begini ,  aku bersumpah akan ku biarkan saja dia menderita dalam demamnya . Matipun tak apa . Aku serius .

Hilanglah sudah rasa Simpati ku padanya yang sempat tumbuh saat aku melihatnya sakit dan terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang . Berpikir bahwa penyebab sakitnya itu adalah akibat dari Kelelahan yang teramat sangat setelah sekian lama hanya terus berkutat menjalankan Aktifitas dan Rutinitas padatnya sebagai Pangeran Mahkota yang sudah mulai sering menjalankan atau menggantikan tugas Raja-Ayahnya di berbagai kesempatan , aku sungguh bersimpati padanya yang sudah harus memikul beban seberat itu di usianya yang masih muda .

Tetapi sifatnya yang menyebalkan benar-benar membuatku kesal . Aku tidak mengerti setiap bersama anak ini , rasanya aku bisa mati karna darah tinggi . Kelakuannya benar-benar menguji kesabaran .

Ingatkan aku untuk mengecek tekanan darah ku setelah ini .

” Hei , kau mendengar ku tidak ? ”

Yah , aku mendengar mu ,  Dengan sangat jelas .

Tetapi aku tidak akan berkata apa-apa . Aku masih terlalu malas untuk meladeninya dalam berdebat . Lagipula belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya , sebuah kenyataan Menyakitkan yang benar-benar menampar harga diri ku sebagai sosok yang lebih Dewasa (jangan sebut aku tua karna aku membencinya , oke ) yang harusnya anak itu hormati , tetapi aku justru selalu kalah dalam beradu Argumen dengannya . Sepintar apapun diriku aku akan tetap kalah .

Oh Crap , bunuh saja aku .

” Hei ! ” tegurnya . Dalam hati aku menyeringai mendapati ekspresi kesalnya yang semakin menjadi-jadi . Aku sadar kekesalannya itu pasti berasal dari tingkahku yang terus mengacuhkannya .

” Hei ! Kau Buta ? Atau kau Tuli , hah ? Ada orang di depan mu yang sedang berbicara dengan mu. AAAKKKK ! ”

Hahaha…. ternyata cukup menyenangkan melihat wajah papan menyebalkan ini berteriak meringis menahan sakit dengan tak elit seperti barusan.

Tapi , kata-kata terakhirnya begitu menyebalkan .

Oh , aku lupa menyebutkan satu hal , Sehun ini sangat berbakat membuat urat kesabaran putus dengan kata-kata pedasnya . Aku sudah terlalu mengenal anak ini sehingga tidak ada celah dan masalah bagiku jika aku mau membalas membe tak atau memarahinya balik . Well, lain halnya jika ada yang melapor tentang kelakuan ku pada Sang Pengeran pada Yang mulia .

” Hentikan Sehun-ah . Aku bisa melihat mu , dan aku tidak tuli . Jadi , jika kau tidak ingin menjadi tersangka atas hilangnya Fungsi pendengaran ku , berhentilah mengoceh yang tidak jelas . ” aku membentaknya . Sesuatu yang tidak pernah terlepas dan hilang dalam Interaksi antara aku dengannya .

Walaupun telah belasan tahun saling mengenal dan bersama-dimana aku lah yang selalu mengikuti Sehun kemanapun , dan mengekori semua aktifitasnya yang padat . Tidak ada satupun hari yang kami lewati tanpa perdebatan dan pertengkaran .

Bahkan dulu ketika kami masih kecil, aku dengannya sering kali terlibat adu jotos . Aku tidak pernah takut dan segan padanya walau status diantara kami berdua amatlah berbeda . Sehun seorang Pangeran calon pengganti raja , sedangkan aku hanyalah rakyat jelata tanpa ada embel-embel Bangsawan sedikitpun di belakang nama ku .

Tingkahnya yang kerap kali amat menguji kesabaran ku itulah yang sering menjadi dasar penyebab pertengkaran kami . Dan biasanya di tengah adu argumen kami , tidak ada sedikitpun gelagat dari kami untuk mengalah . Dan akhirnya , Adu jotos pun menjadi jalan keluar .

” Dasar yeoja Barbar . Kau itu Perempuan atau bukan ? Kalau bukan karna tonjokan mu yang sangat kuat seperti tenaga Kuli , dan berhasil membuat wajah ku bengkak begini , aku tidak akan protes sama sekali . Tapi kau memang Barbar . Aku tidak heran kenapa sampai sekarang kau masih belum punya pacar . Pasti  semua pria menjauhi mu . Aku yakin itu . ”

Tuuh kan , dia benar-benar-amat-sangat-menyebalkan .

Kali ini aku sungguh tak peduli walau aku akan di hukum mati seperti Ayah . Jika dengan membunuh Pangeran sombong ini hidupku akan tenang setelahnya , akan dengan senang ahti ku lakukan .

 

PLAAAK

 

Aku yakin pukulan ku barusan pasti langsung membuatnya pingsan atau minimal merasa pening tak karuan .

” Hei kau Noona-noona jelek , kau pikir kau siapa ? Berani sekali kau memukulku lagi . Ini sudah di kategorikan penganiayaan , kau tahu?”

Aku mengangkat sudut bibirku ” Aku tahu . Dan aku sama sekali tidak peduli walau aku harus di penjara karna menganiaya Pangeran manja dan sok keren seperti mu , Sehun-cadel-bodoh-menyebalkan . ”

” Hoho , berani menantangku ? ”

” hoho , ada yang minta bogem tambahan rupanya . ” aku tak kalah sengit .

Untuk sesaat kami hanya saling beradu tatapan sengit. Jari-jariku sudah gatal sekali ingin kembali menghajarnya , tapi ku urungkan niatku itu begitu mengingat kondisi Pengeran menyebalkan ini masih dalam keadaan pasca demam . Aku—aku tidak mau mengambil Resiko membuat Pangeran makin sakit akibat perbuatan ku .

” Terserah kau saja . ” dan untuk ke sekian kalinya aku kembali mengalah . Sambil menahan kekesalan , ku bereskan peralatan P3K yang ku gunakan untuk mengobati memar di wajah Sehun-hasil karyaku-yang sekarang penampakannya tak lagi sebengkak saat sebelum di obati tadi . Namun bekas membiru di sudut bibirnya masih terlihat jelas . Ya lumayan lah bagi seseorang yang benar-benar buta soal bagaimana merawat dan mengobati luka seperti aku ini .

” Apa-apaan kau ini ? Menyebalkan sekali . Kenapa tiba-tiba saja kau menghentikan perdebatan kita ? Atau apa Kau sudah mengakui kesalahan mu yang telah menganiaya seorang Pangeran , eoh ? ” terdengar suara menyebalkan Sehun lagi yang sepertinya memang -sangat- berbakat dalam mencari masalah .

Aku cuma bisa mendengus kasar seraya menyimpan kembali kotak P3K di bawah lemari Televisi agar mudah di temukan jika di perlukan nantinya .

” Sudahlah Hun . Jangan terlalu menyebalkan . Aku tidak mau membahas itu lagi , oke ? Aku tahu aku lah yang bersalah . Dan aku pun  sudah bertanggung jawab dengan mengobati mu . Jadi ku harap kau jangan terus mengungkit-ungkitnya lagi , ini semua sudah selesai . Dewasalah ! ” sahut ku mengalir bagai Air meski sejatinya aku bahkan mengucapkan itu semua tanpa berpikir .

 

 

~●○●○●~

 

 

Mendengar nada sedikit ‘kasar’ dan jengah  terlontar dari mulut Sang Asisten untuk pertama kalinya setelah sekian lama –mengingat bahwa yeoja yang usianya terpaut 6 tahun lebih tua darinya itu tak pernah lagi membuka mulut secara lancang sejak menjadi Asisten Pribadinya –lantas membuat Sehun membeku, menghentikan gerakan anggun yang semula tengah menggoyang pelan cangkir berisikan Teh jahe hangat . Si Pengeran meletakkan cangkir di tangannya dengan gerakan kaku  di atas meja, lalu melontarkan pandangan keheranan kepada yeoja bersurai cokelat keemasan yang tak mau melakukan kontak mata dengannya .

Sehun berusaha mengontrol diri, ia menahan nafas samar dan menghembuskannya pelan, kemudian tanpa memutus kontak mata dengan sepasang Kelereng kecokelatan milik Jessica-yang sibuk memalingkan wajah-ia pun bangkit dari duduknya, memberikan sebuah pertanyaan yang dengan sukses membangunkan Jessica atas apa yang barusan di katakannya pada pemuda bersurai Blond Silver tersebut .

” Kau kenapa ? ” tanya Sehun tak paham .

Dan Yah , Jessica baru menyadari bahwa ucapannya pada Pangeran barusan benar-benar keterlaluan dan tak pantas . Bukan wewenangnya untuk memperingatkan sang pengeran untuk berhenti bersikap kekanakan , dan lagipun , dirinya ini siapa ? Dia jelas tidak berhak untuk berbicara selancang itu pada Pangeran .

Jessica merespon pertanyaan Sehun hanya dengan sebuah gelengan samar . Membuat sang pangeran kembali di rundung rasa penasaran dan keheranan . Tetapi belum sempat ia mempertanyakannya, Jessica telah lebih dulu mengarahkan tangan ke arahnya-pada dahinya-merasakan dan mendeteksi suhu badan Sehun yang kemarin benar-benar membuatnya khawatir .

” Bagaimana perasaan mu ? ” tanya Jessica setelah menyingkirkan tangannya dari atas Dahi Sehun yang tertutupi sedikit Poninya yag sudah agak memanjang .

” Apanya ? ”

” semalam kau demam . Apa kau tidak merasa Mual , atau tenggorokan mu gatal ? Atau mungkin kau merasa pusing-pusing ? ” tanya Jessica membabi buta . Ia masih mencemaskan kondisi Sehun pasca demam kemarin . Boleh saja saat ini Sehun memang terlihat baik-baik saja tapi siapa yang bisa memprediksi hal-hal tak terduga yang akan terjadi di hari berikutnya ? Dia tidak bisa membiarkan hal buruk sekecil apapun menimpa Sehun , tidak selama dirinya berada di dekat sang pangeran.

Tersenyum kecil begitu menyadari dirinya telah menerima begitu banyak perhatian dari sang Asisten kesayangan , Sehun menjawab ” pusing di kepala ku masih kuat . Dan tenggorokan ku rasanya sedikit tidak nyaman . ” jawabnya sedikit berakting dengan menunjukkan ekspresi mengernyit-menunjukan kesakitannya pada Jessica .

” Tidak nyaman ? Tidak nyaman yang bagaimana ? ” panik Jessica membuat Sehun menyeringai senang dalam hati .

” Eum—ya begitu , tenggorokan ku gatal seperti di tumbuhi duri . Benar-benar tidak nyaman . ”

” Mwo ? Baiklah . Aku akan meminta Dokter istana untuk memeriksa mu . Sebentar .. ” Jessica bergerak menuju meja nakas di samping tempat tidur Sehun dimana Telephone di letakkan . Ia bermaksud menelepon Dokter .

” Tunggu , tunggu , kenapa harus sampai memangggil dokter ? ” tanya Sehun panik . Dia tidak mau di periksa oleh Dokter . Maksudnya , dia tidak mau sembuh jika nyatanya dia di rawat oleh Dokter tua kepercayaan Keluarganya itu . Jauh lebih baik jika dia tetap melarat sakit tapi yang merawatnya Asisten pribadi-kesayangannya-ini . Itu pasti jauh lebih menyenangkan . Setidaknya dia bisa mendapatkan perhatian penuh dari Jessica .

” tentu saja . Kau sedang sakit . ”

” Ta-tapi , aku merasa baik-baik saja , kenapa harus sampai memanggil Dokter segala ? ” Sehun bersikeras .

” Sehun , kau tidak mengerti . Kau , seorang pangeran , dan kau sakit , jika sampai kondisi mu ini sampai tidak di periksakan ke Dokter segera , kau pikir apa yang akan terjadi ? Jika ternyata sakit mu parah dan membutuhkan penanganan khusus akan bagaimana jadinya nanti jika sampai penyakit mu itu sampai terlambat di ketahui ? Dan nanti saat penyakit mu itu sudah semakin parah dan kau sekarat lantas siapa lagi yang akan di salahkan ? Aku . Kau pikir aku mau disalahkan begitu saja ? Asal kau tahu saja , hidupku ini sudah rumit . Jangan menambah daftar masalah dalam hidupku  . Tolonglah … ” jawab Jessica dengan nafas terengah-engah setelah melontarkan kalimat yang demikian panjangnya dalam satu tarikan nafas . Bahkan Sehun pun sampai terperangah karnanya .

Asistennya itu-Jessica- memang terkenal pendiam alias tak begitu banyak bicara . Cenderung bersifat pasif dimana dirinya lebih senang menjadi pendengar daripada yang didengar . Karna dengan begitu , ia bisa dengan lebih mudah memperhatikan sekitar dan mengerti perasaan lawan bicaranya .

Ah , sepertinya karna terlalu lama bergaul dan menghabiskan waktu bersama sang Asisten, Sehun jadi dapat memahami diri Jessica lebih dalam dari siapapun yang pernah kenal dan dekat dengan yeoja itu . Hm .. mungkin mereka bisa memulai babak baru yang lebih ‘intim’ dalam hubungan mereka . Yang lebih dari sekedar hubungan Bos dan Asisten (Pengeran dan Dayang) atau Sahabat seperti yang selama ini Jessica katakan .

Mendengar ungkapan panjang lebar Jessica barusan tentu saja membuat sensasi berupa percikan kebahagiaan yang begitu meluap-luap dalam diri Sehun . Karna ini adalah kali pertamanya sejak 2 minggu terakhir mereka tidak bertemu , baru kali inilah Asisten kesayangannya itu mengomel tanpa peduli status kasta diantara mereka .

Sehun terus mengumbar senyum miring tanpa peduli kerutan di alis Jessica yang sudah memasang wajah bingung sambil memiringkan kepalanya . Ekspresi Jessica di depannya tentu saja membuat rasa ‘suka’ Sehun pada Asisten pribadinya itu semakin menjadi-jadi . Bahkan kini disekitar Sehun telah bermekaran jutaan bunga-bunga Imajiner beraneka warna menggambarkan kekagumannya pada Sang Asisten .

” hun…SEHUN ! ”

” Ne ~ ” Sahut Sehun dengan nada Sing a Song . Sepertinya dia masih berhayal yang ‘iya-iya’ tentang Jessica .

Jessica semakin mengernyit keheranan akan sikap sang Pengeran yang mulai Absurd dan menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan . Sepertinya setelah ini dia memang harus memanggil Dokter untuk memeriksakan anak ini , bukan hanya untuk memeriksa keadaan fisiknya , tapi juga Kejiwaannya .

” Hun , apa-apaan Ekspresi mu itu ? ”

” Hn , memang kenapa dengan ekspresi ku  ~ ”

” Hun , kau membuatku takut . Hentikan . ”

Mengabaikan Protes Jessica , Sehun malah dengan seenaknya meraih tangan Jessica yang semula setia berada di kedua sisi tubuh ramping yeoja itu dan menggenggamnya .  Di elus-elusnya tangan putih bermahkotakan kelima jari jenjang itu sehingga membuat empunya merinding dan gugup . Lalu tanpa di duga Pangeran itu mencium tangan sang Asisten bak tengah memperagakan adegan Romantis antara Pangeran dan Putri dalam cerita dongeng .

” Kau tenang saja , tidak akan ada yang bisa ‘Menyentuhmu’ selama ada aku di dekat mu . Kau adalah ‘Milikku’ . ” Sehun berkata Absolut .

Sementara Sepasang iris cokelat di depannya langsung membulat mendapati perlakuan sang pangeran pada dirinya yang sungguh tak biasa . Ia berusaha menepis tangannya yang terus di kecupi oleh bibir lembab Sehun walau ia tidak  bisa menampik kalau ia sedikit ‘melayang’ di perlakukan seperti itu .

” Hentikan . ” akhirnya setelah berusaha dengan susah payah , Jessica bisa melepaskan tangannya dari kecupan bertubi-tubi Sehun yang seperti Maniak . Ia harus menghentikan semua ini , karna jika tidak , dia tidak yakin bisa mengendalikan keadaan . Diperparah lagi Saat ini jantungnya bagai ditabuh , berdetak dan menghentak keras tak terkendali sehingga mengantarkan Friksi panas pada sekujur tubuh , dan puncaknya , kini kedua pipinya yang kini tlah di warnai semburat merah jambu .

Tindakan Jessica itu langsung mendapat hadiah tatapan super tajam dari Sehun yang tidak suka ‘kesenangannya’ di ganggu . Jessica pun hanya mampu meringis merasakan efek tatapan tajam itu seolah bagaikan ribuan pisau yang menghujam langsung ke arahnya .

Keadaan menjadi canggung setelah itu .

Sehun tetap dengan arah pandangan mata yang terus memaku satu-satunya lawan jenisnya di kamar itu dengan tatapan tajamnya , sementara Sica yang menjadi Objek pandangan cuma bisa terdiam sambil sesekali bergerak salah tingkah .

” Eum—kau mau makan sesuatu ? ” Jessica bertanya canggung mencoba mencairkan suasana .

” Hn ” Sehun merespon Absurd . Membuat urat kekesalan muncul dengan sendirinya di dahi sang lawan bicara .

” jangan mulai jadi Sasuke Uchiha . ‘Hn’ mu itu benar-benar tidak penting , tahu ? Dan ‘Hn’ mu itu juga tidak ada dalam kamus atau tata bahasa manapun . Bicaralah yang jelas . ” omel Jessica . Hei , sepertinya ini awal yang bagus dalam mencairkan kecanggungan diantara mereka .

” Hn , aku tidak lapar . ” Sehun menjawab acuh . Mood-nya benar-benar sedang buruk pasca Jessica memaksa memberhentikan ‘kesenangannya’ dalam mencium tangan Asisten yang sudah 2 minggu tak bertemu dengannya itu . Sehun berjanji kedepannya , jika dia sudah berhasil mencium Asistennya , biar walau saat serangan Nuklir Korea Utara menjadikan negaranya sebagai sasaran pun dia tidak akan melepaskan bibir sewarna Cherry milik sang Asisten pujaan hatinya . Dasar mesum.

” kau pasti bohong . Aku mendapat laporan dari para pelayan kalau belakangan ini kau jadi jarang makan . dan itu semakin di perkuat saat kemarin aku merawat mu , aku juga tidak melihat mu makan apapun . Jadi , jika sudah begitu , mana mungkin kau tidak lapar ? ”

Sehun mendengus ” Terserah kau saja . ” baru setelah itu dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan mulai bermalas-malasan .

Menggeleng maklum dengan kebiasaan si Pangeran , Jessica hendak meraih telepon guna memberitahukan pada para pelayan di Dapur untuk segera membuat makanan untuk Pangeran . Namun belum sempat ia menekan Tombol telephone , dia mendengar Sehun bersuara ” Jika kau berniaat memberi ku makan , maka buatkan aku makanan hasil masakan mu sendiri . aku tidak mau yang lain . ” ucapnya memerintah .

Tubuh Jessica seketika membeku . Kepalanya seperti tersambar petir jutaan Volt . Segera ia menolehkan kepalanya pada asal suara Sehun yang ternyata sudah mengambil posisi tidur favoritnya yakni Tengkurap . Jika sudah begitu , artinya Pangeran itu sama sekali enggan di bantah kemauannya . Benar-benar kekanakan sekali,kan ?

Masalahnya disini , Jessica sama sekali tidak bisa masak . Prestasi terbaiknya saat memasak itu pun saat dia mencoba membuat Nasi goreng yang rasanya keasinan dengan Telurnya yang juga gosong . Pengalamannya benar-benar buruk semua jika sudah di tanya mengenai masak-memasak .

Tapi , melihat keadaan Sehun yang masih sakit begini , mungkin anak itu tak perlu memakan makanan yang berat-berat . Mungkin makanan yang bertekstur lembut yang mudah di cerna , dan tidak membutuhkan campuran bumbu yang terlalu rumit .

Ah , mungkin dia bisa memasak Bubur untuk anak itu . Yah , sepertinya membuat bubur cukup mudah , meskipun dia sama sekali belum pernah mencobanya .

Hoho , Jess… tidak tahu kah kau bahwa memasak bubur bahkan jauh lebih sulit daripada memasak Nasi sekalipun ?

Jessica pun segera bergerak menuju pintu keluar dan kemudian segera meluncur ke Dapur besar dimana puluhan pelayan bekerja menyiapkan hidangan bagi seluruh keluarga kerajaan selama ini . Tapi , lagi-lagi niatnya batal dilaksanakan saat lagi-lagi Sehun menginterupsi jalan pikirannya ” Aku tidak mau kau memasaknya Di dapur besar . Buatkan aku makanan di Dapur sini saja . Aku harus memastikan bahwa kau tidak memasukkan campuran yang macam – macam  ke dalam makanan ku . ” lagi dengan nada memerintah yang sama sekali tidak bisa di bantah .

” Maksudmu apa dengan ‘Campuran yang macam-macam’ , eoh ? ” sembur Sica saat menyadari nada bicara Sehun seperti mencurigainya.

Dalam posisinya yang masih Tengkurap di atas ranjang , Pangeran itu mengangkat bahu ” Yaaa siapa tahu ‘kan kalau kau memasukkan Obat-obatan berbahaya ke dalam makanan ku . Seperti Obat pencahar , mungkin ? ”

” kalau kau tidak percaya dengan masakan ku nanti , kenapa kau tidak minta di masakkan oleh Koki Istana saja yang jelas sudah terpercaya dan Profesional dalam menyiapkan makanan untuk mu selama ini ? Kau tidak perlu takut kalau dia akan mencelakai mu . ”

” justru itu , aku harus memastikan bahwa kau , asisten ku yang lancang minta cuti selama 3 bulan ini apa masih bisa di percaya atau tidak ? Siapa bisa menjamin kalau selama 2 minggu tidak bertemu dengan ku , ada seorang pengkhianat negara , pemberontak , ataupun Teroris yang sengaja menculikmu lantas mencuci Otak mu kemudian menanamkan Doktrin padamu untuk membunuh seluruh anggota kerajaan dan di mulai dari aku yang merupakan Pewaris Tahta ini . ”

Mendengar penuturan Sehun yang sungguh amat keterlaluan ‘Ngaconya’ , Jessica cuma bisa mengatupkan rahatnya rapat  , menggertakkan gigi , juga mengepalkan tangan dalam meredam emosi . ” Grrrr… terserah kau saja . ” ungkapnya dengan kekesalan yang berapi-api dalam kepala .

Dalam hatinya terus merapal umpatan dan makian yang sungguh tidak pantas di dengar anak di bawah umur . Ia mencoba mengabaikan seluruh kekesalannya pada si pangeran dengan fokus pada apa yang akan dilakukannya sekarang ini . Ah , benar . Tadi dia berinisiatif membuat bubur untuk anak itu .

Jessica berjalan menuju Dapur di kamar Sehun yang super mewah dan luas itu dengan langkah pelan . Ia yakin sekarang ini Sehun pasti sudah tertidur kembali . Terbukti dengan tidak ada lagi ocehan memprovokasinya yang mampir di telinga Jessica . Jessica pun mendengus lega . Setidaknya dia bisa ‘Masak’ dengan aman tanpa gangguan dari anak itu .

 

..

 

Sampai di Dapur , Jessica sempat memperhatikan tempat yang mungkin menjadi ruangan yang paling jarang di pijaki Sehun diantara seluruh ruangan di kamarnya ini . Dapur itu terlihat lengang . Tentu saja , di dapur ini tidak ada Pelayan selayaknya di dapur besar Istana  yang besarnya bahkan menyamai dapur-dapur di Restoran atau Hotel berbintang . Tapi memang harus diakui fasilitas serta peralatan masak di dapur yang luasnya terbilang standar ini cukup mewah dan lengkap untuk ukuran dapur di kamar seorang pemuda manja seperti Sehun . Sebelumnya, Jessica  mungkin sudah dibilang ‘puas’ mengunjungi tempat ini . karna dirinya memang hampir setiap hari masuk ke kamar Sehun untuk urusan pekerjaan yang mengharuskannya mengurusi seluruh keperluan anak itu .

Kemarin malam dia juga sudah beberapa kali ke tempat itu untuk mengambil  Es batu atau mengganti air kompresan Sehun .

Dapur di kamar Sehun tersebut berdesain klasik dan bertabur kombinasi antara warna hitam dan putih, yang Elegan dan terkesan cowok sekali .

Langkah kaki Jessica mengarah pada sebuah kulkas dua pintu yang tingginya melampaui tubuhnya. Membuka perlahan, Jessica langsung mendengus  begitu kelerengnya tidak menemukan apa-apa selain botol-botol susu, telur, keju batangan, tomat, minuman kaleng, beberapa macam es krim, Yogurt , air mineral dan minuman energi serta makanan beku. Mau bagaimana lagi , bagaimana pun penghuni kamar ini adalah seorang pemuda . Memangnya apa yang ia harapkan untuk di temukannya dalam kulkas seorang pemuda  ? Cukup beruntung dirinya tak menemukan makanan basi yang berbau ‘sedap’ dari dalam sana .

Namun yang menjadi masalah sekarang , bagaimana dia bisa membuat bubur jika dia tidak bisa menemukan Beras atau gandum disini ?

Dia menutup Kulkas itu dengan keras tanpa sadar -tanpa menyadari bahwa sosok namja yang ia pikir sedang tidur itu kini tengah memperhatikan  gerak-geriknya penuh minat-

Kini ia terdiam di depan kompor yang tidak/belum dinyalakan . Sekarang dia benar-benar bingung . Tetapi kebingungan itu tak berlangsung lama saat matanya tanpa sengaja melihat  deretan pintu-pintu lemari kecil yang berada diatas meja kompor . Tanpa ragu ia langsung membuka pintu pertama paling ujung di kanan. Disana ia menemukan makanan kaleng (lagi) , roti tawar , berbagai persediaan selai untuk olesan diatas roti dengan berbagai pilihan rasa  , serta mi instant baik dalam bungkusan maupun dalam cup. Kemudian dia membuka Pintu kedua-disebelahnya- yang ternyata berisi berbagai macam bumbu-bumbu dapur yang tertata rapi di dalam botol-botol dan toples kecil transparan . Mengetahui isi lemari kedua ini dia jadi Sedikit bersemangat . Membuka pintu yang lainnya Jessica masih tak menemukan gandum , Oat , ataupun beras sebagai bahan dasar membuat bubur . Sampai akhirnya ia beralih pada deretan laci dibawah meja dapur  yang langsung membuatnya tersenyum puas . Disana terdapat Oat, gandum serta beberapa makanan karbohidrat yang jumlahnya cukup banyak sebagai persediaan selama sebulan penuh .

” Baiklah … Mari bekerja anak-anak … ” ucapnya kekanakan pada bahan-bahan dan peralatan masak yang akan ia gunakan .

 

 

….

 

 

Sulit bagi Sehun untuk tidur dan mengabaikan keberadaan Jessica yang begitu di rindukannya selama 2 minggu di kamarnya ini . Bahkan meskipun dia tetap bersikap menyebalkan dengan perintah-perintah seenaknya yang berhasil memancing kemarahan si Asisten , namun Sehun begitu menyukainya . Hah , sebetulnya apapun yang berkaitan dengan Jessica , Sehun pasti akan sangat menyukainya . meskipun mereka sedang berdebat hebat , atau salah satu diantara mereka saling melemparkan ejekan atau makian , Sehun tetap menikmati semua momen kebersamaannya bersama Sahabat baik , Asisten , sekaligus Kekasihnya itu . Walaupun Jessica sendiri tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang Pangeran yang di matanya hanya sebatas sahabat .

Yah , Sehun memang menyukai -ani- mencintai Asistennya itu . Bahkan sudah lama sekali perasaannya itu tumbuh dan berkembang dalam hatinya sehingga ia tidak pernah menaruh perhatian atau ketertarikan lebih pada yeoja lain selain Jessica yang selalu setia bersamanya selama 15 tahun terakhir .

Sehun sendiri pun tidak bisa memastikan kapan tepatnya ia merasakan perasaan indah ini untuk pertama kalinya pada Jessica . Yang jelas , sejak pertama kali mereka bertemu , saat Oniks kelamnya bertatapan langsung dengan Kelereng cokelat Jessica yang tertutupi kabut kesedihan pasca Eksekusi Ayahnya 15 tahun lalu , Sehun telah merasakan bahwa diri mereka memang terikat-terhubung oleh sebuah ikatan .

Kira-kira ,mungkin perasaan (Cinta) ini sudah berusia lebih dari 7 tahun . Yah , karna mungkin sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu , saat Sehun masih duduk di tingkat pertama Sekolah Menengah Pertama , sementara Jessica yang telah menyelesaikan jenjang SMA dan mulai memasuki bangku kuliah , ia melihat gadis pujaannya-Jessica- itu tengah beradegan ciuman dengan seorang pemuda yang kebetulan satu kampus dengannya di atap Kampus yang bangunannya memang berada satu kawasan dengan Sekolah Sehun . Saat itulah ia merasakan perasaan aneh yang pertama kali menyeruak ke dalam dadanya.

Rasa kalah dan kecewa yang bercampur menjadi satu.

Rasa ingin marah dan tangis yang ingin keluar bersamaan.

 

Perasaan yang Sehun simpan untuk Jessica mungkin sudah cukup tua . Cukup kuat dan berkuasa membuatnya berubah menjadi sebuah Cinta buta hingga membuat dirinya terlihat seperti menghalalkan segala cara untuk dapat terus bersama Jessica .

Namun , entah apa mungkin karna gadis yang lebih tua darinya itu terlalu polos , Naif atau bahkan mungkin terlalu bodoh dalam menyadari apalagi sampai membalas perasaan si pangeran pada dirinya , yeoja itu tetap mengganggap dan memperlakukan Sehun ‘Biasa’ , diantara semua perhatian ‘Luar biasa’ yang Selama ini selalu Sehun berikan untuknya .

Meskipun terlihat jelas selama ini Sehun selalu Haus perhatian dari Sica , dengan mengahalalkan segala cara bahkan mengandalkan Trik-trik licik untuk mengklaim si Asisten sebagai miliknya , Jessica seakan menutup mata dari semua itu .

Entahlah , mungkin Sehun memang butuh lebih bersabar untuk dapat menaklukan Jessica . Usia Jessica yang terbilang sudah cukup matang mungkin membuat yeoja itu berpikir untuk mencari seseorang yang juga matang dalam segala hal , mulai dari segi umur , cinta , sampai materi . Mungkin bagi Jessica , masih butuh banyak waktu bagi Sehun untuk memenuhi semua kriteria yang di inginkannya .

Tapi , hal itu sama sekali tidak menjadi masalah bagi Sehun . Dia akan menjalani Proses waktu yang panjang itu agar dapat meyakinkan Jessica . Meyakinkan Jessica bahwa dirinya lah pria yang paling pantas untuk mendampingi yeoja itu . Semua rintangan akan dia lewati asalkan yeoja itu juga terus ada disisinya  . Sehun bersedia menjadikan dirinya sebagia tembok pembatas agar yeoja itu tetap ‘aman’ tanpa ada seorang namja pun yang tertarik apalagi bisa memilikinya .

Haha , lagipula siapa yang berani merebut ‘milik’ sang pangeran mahkota , eoh ?

 

 

 

 

Terlalu lama berkutat dengan pikirannya sendiri membuat Sehun merasakan sakit di kepalanya . Dari tempat tidur ia beranjak kemudian melangkah ke meja makan dan menggeser pelan salah satu kursinya agar tak membuat Jessica yang masih berkutat di dapur terusik .

Sambil memijit pangkal hidungnya, Sehun memejamkan mata sekejap dan kemudian membuka kelopak mata pucatnya hanya untuk memastikan bahwa sosok yang teramat berharga baginya-Jessica masih berada di dapur-menyiapkan makanan untuknya .

diam-diam Sehun terus memperhatikan dan mengamati apa saja yang sedang di lakukan Jessica di dapurnya dari belakang . Senyum tipis terkembang di bibir Sehun .

Dia merasa apa yang tengah dilakukan Jessica saat ini sangat Romantis dan Manis . Apalagi saat Oniks kelamnya tanpa sengaja menemukan semacam simpul terlilit manis di pinggang belakang Jessica yang menandakan sosok itu tengah memakai sebuah Apron pada tubuh indahnya . Mungkin terdengar aneh, tapi Sehun benar-benar berpikir saat ini Jessica terlihat begitu manis . Ah , sudah berapa kali dia mengungkapkan pujian dan kekagumannya pada yeoja itu ?

Tapi sama sekali Sehun tidak akan merasa keberatan walau ia harus mengumbar pujian terus menerus sepanjang hidupnya hanya untuk mengekspresikan kekaguman dan rasa cintanya pada Jessica , karna apapun mengenai Jessica semuanya memang begitu menyilaukan di matanya .

Apalagi disaat sekarang ini , melihat Jessica yang sibuk sendiri di dapurnya dengan mengenakan Apron sementara dirinya sendiri tengah setia duduk menunggu di kursi makan , membuat Imajinasi Sehun berkelana ketika menatap punggung sang pujaan hati yang bergerak-gerak—sibuk sendiri seperti seorang istri yang tengah menyiapkan makanan untuk suaminya.

Lagi-lagi Perasaan nan tak asing ini melanda Sehun ketika tiba-tiba dadanya terasa penuh oleh kehangatan karna melihat pemandangan di depannya .

Sehun sama sekali tak menduga bahwa momen sakitnya ini akan membuatnya mendapatkan kesempatan untuk berduaan dengan Jessica sampai seintim ini . Mulai dari Jessica yang terus merawat , menemani, memperhatikan , juga merawat dirinya , bahkan sampai bersedia memasak-membuatkan makanan untuknya seperti sekarang ini , Sehun berpikir dirinya serasa seperti mendapat Jackpot .

Harus dia akui , jatuh sakit seperti ini memang merupakan bagian dari skenario dirinya hanya untuk membuat Jessica kembali memperhatikannya . Dari awal , dia memang tidak pernah setuju dengan permintaan yeoja itu yang memohon cuti dalam waktu lama hanya untuk menyelesaikan kuliahnya . Oke , dirinya memang tidak berhak untuk mencegah Jessica menyelesaikan kuliah demi mengejar cita-cita yang di idam-idamnkannya selama ini  yakni menjadi seorang Desainer . Tetapi tentu saja Sehun tidak bisa membiarkan begitu saja saat melihat satu-satunya orang yang membuatnya bisa merasakan ‘Kebebasan’ dari keterikatan jadwal-jadwalnya yang padat selama ini tiba-tiba menghilang dan tak lagi menemani segala macam aktifitasnya walau hanya sementara . Jessica adalah warna dalam kehidupannya . Seseorang yang memberinya warna dikala selama ini kehidupannya hanya di liputi kesuraman dan keterikatan dalam aturan istana yang ketat , mengekang dan monoton . Hanya dengan dan di depan Jessica saja Sehun bisa menjadi dirinya sendiri . Menjadi sosok yang benar-benar ‘lepas’ tanpa harus memperhatikan Etika , Norma serta tata krama yang mengekang dirinya , selalu menuntutnya bersikap resmi dan formal yang sangat membosankan dan sama sekali bukan dirinya .

Selama 2 minggu ini Sehun benar-benar ‘disiksa’ dengan ketidakhadiran sosok Jessica dalam kesehariannya .

Dia tidak mengada-ada saat menyatakan bahwa hidupnya benar-benar suram dan membosankan tanpa yeoja itu .

Tentu saja , ketika cahaya kehidupan mu tak lagi berevolusi dalam lintasan orbit kehidupan mu , akan seperti  apa jadinya ?

Ibaratkan sebuah Bumi tanpa Matahari ataupun Bulan yang menyinari siang dan malamnya , bayangkan betapa gelapnya Bumi itu jika tanpa kedua Cahaya-nya ? Akan seperti apa,eoh ?

Dan oleh sebab itulah Sehun memutuskan bahwa kegelapan dalam kehidupannya itu harus segera di akhiri . Tetapi dia tidak memiliki ide lain untuk mendapatkan perhatian Jessica kembali kecuali Ide ‘Jatuh sakit’ ini .

Dan ternyata idenya ini cukup-sangat-berhasil kan , eh ?

Tidak sia-sia dia mengabaikan jadwal makan , memporsir tenaganya dengan terus beraktifitas , bekerja , atau melakukan apapun yang bisa dia lakukan hanya untuk membuat tubuhnya sendiri keletihan . Bahkan yang paling ekstrem , dia tidak pernah Absen untuk menceburkan dirinya ke kolam renang istana, berendam dan berenang disana berjam-jam di tengah malam hanya untuk menguras staminanya , memporsir daya tahan tubuhnya hanya agar dapat membuat tubuhnya terserang Demam seperti ini .

Perjuangan yang cukup melelahkan memang , mengingat usahanya untuk ‘Jatuh sakit’ itu bahkan sampai harus membahayakan dirinya sendiri . tetapi itu semua seakan impas-tidak ada apa-apanya , dengan hasil kerja kerasnya itu , kini ia sudah menuai keberhasilan dengan kembalinya sang cahaya ke dalam kehidupannya . Sehun berjanji tidak akan pernah melepaskan cahaya kehidupannya lagi . Tidak akan pernah .

 

Si pangeran nampak meringis saat Lagi-lagi merasakan sakit di kepalanya pasca melamun dan memikirkan semua usahanya hanya agar dapat ‘Jatuh sakit’ ini .

Oniks-nya yang tak pernah lepas memaku punggung Jessica yang tetap terus berkutat di dapur kamarnya itu dengan sendirinya mengundang sebuah senyum langka dari bibir sang pangeran .

” kau mau tahu sesuatu Jess ? ” ucap Sehun tiba-tiba .

Jessica yang sedang mencicipi bubur buatannya menjawab ” Hm ? ” tanpa membalikkan tubuhnya pada sang pangeran .

” seorang wanita yang memberikan perhatiannya pada pria yang sakit biasanya di masa depan mereka akan berjodoh . ”

” Hah ? ” refleks Sica dengan Iris membulat. Segera saja dia membalikkan badan untuk memastikan pendengarannya tidak salah.

” Apa maksudmu tadi ? ”

Oniks dan cokelat bertemu . Sesaat mereka hanya bisa terdiam saat seluruh Emosi tersalurkan hanya dengan tatapan .

Jessicalah yang terlebih dahulu memutus kontak dan membuang muka , membuat Sehun mendengus kesal walau ekspresinya yang sesungguhnya tersembunyi dengan baik di balik kedataran roman wajahnya .

” Apa maksudmu ? ” ucap Sica mengulang pertanyaannya semula .

” Kurasa kita memang berjodoh . Aku ingin kau selalu berada disisi ku . Memasak hanya untukku seperti sekarang ini , mempersiapkan semua keperluan ku seperti yang kau lakukan selama ini ,  Selamanya . Aku tidak mau kau jauh dariku lagi . Aku ingin memiliki mu selamanya . ”

Mulut Jessica terbuka—sedikit terkejut. Ia mesti Berpikir ribuan kali hanya untuk mencerna maksud kalimat Sehun ini .

Sampai akhirnya ia sampai pada sebuah anggapan bahwa mungkin sang pangeran yang tengah duduk di kursi meja makan dengan dagu disangga tangan kiri itu masih dibawah pengaruh demam sehingga dia bisa berbicara—meracau seperti tadi .

” Kau memang sakit . ” hanya itu kata yang sanggup keluar dari bibir Sica saat dadanya bergemuruh kencang oleh kegugupan karna ucapan Sehun padanya barusan .

Dia segera berbalik-kembali menghadap kompor dengan panci berisi bubur buatannya kembali sambil meraih sendok bergagang panjang. Berkonsentrasi pada bubur, Sica mencoba untuk tidak berpikir yang macam-macam. Dia lebih memilih mengalihkan debaran jantungnya yang berubah tak menentu ini dengan mengaduk-aduk buburnya bermaksud meredam emosi berkecamuk yang kini ia rasakan .

Di tempatnya Sehun mendengus kasar sambil memutar matanya dengan bosan .

Selalu seperti ini . Setiap kali Sehun mencoba terbuka dengan perasaannya pada Jessica , yeoja itu tidak pernah menganggap pengakuannya dengan kalimat-kalimat terbukanya yang sarat akan keposesifan dan hasrat memiliki sang asisten yang begitu tinggi itu dengan serius . Jessica selalu menganggap dirinya sedang meracau atau tengah berusaha menggoda yeoja itu , walau pada kenyataannya  Sehun berani bersumpah bahwa ia sudah  cukup dewasa untuk mendeklarasikan dirinya sebagai Pemilik sah dari sang asisten . Bahkan Sehun tak kan ragu meminta Yang Mulia Raja-Ayahnya untuk segera meresmikan hubungan mereka . Cukup kata ‘Iya’ saja yang keluar dari bibir Jessica sebagai tanda penerimaannya akan Sebongkah rasa cinta yang Sehun persembahkan untuknya , maka Sehun berjanji tak kan menyiakan waktu dan segera membuat semua impiannya untuk dapat hidup bersama Jessica menjadi nyata .

” Yah , karna mu . ” akhirnya Sehun mau menyahut walau dengan nada jengkel karna ketidakpekaan sang pujaan hati .

” Huh ? ”

Untuk kesekian kalinya Sehun hanya memutar kedua bola matanya jengah .

” Lupakan . ” ungkapnya jengkel .

 

Hening  ….

 

” Kenapa lama sekali ? Kau bilang aku harus segera makan , tapi kenapa menyiapkan makanan untuk ku saja harus selama ini ? aku bisa mati kelaparan menunggumu menyelesaikan masakan mu yang entah apa itu disini , tahu ? ” kembali ke sikap aslinya yang menyebalkan , Sehun mencoba memprovokasi Jessica agar mau meladeni-bertengkar dengan dirinya seperti biasa.

” Sebentar … ”  Jessica membalas dengan tenang . Sama sekali tidak terpancing dengan ucapan pedas menyebalkan Sehun barusan . Dia tengah disibukkan dengan masakannya .

Sehun mendengus jengkel (lagi) .

” aku ini sedang sakit . Harusnya kau bisa lebih cepat dalam menyiapkan makanan untuk orang sakit seperti ku bukannya bergerak layaknya siput seperti itu . Aku ini lapar , belum lagi setelah ini aku harus minum obat . Tidak di ragukan lagi , kau benar-benar seorang perawat yang buruk . ” Sehun banyak bicara .

Sedikit terpancing , Jessica membuka dengan kasar salah satu pintu lemari kecil diatas meja kompor dan mengambil sebuah mangkuk serta sendok dari sana lalu meletakkannya dengan tak kalah kasar ke atas meja . Bibirnya mendesis geram .

Lalu dia menyendokkan bubur yang baru saja matang itu dari dalam panci kecil ke dalam mangkuk yang diambilnya tadi . Tak lupa pula ia menambah sedikit suwiran ayam yang sempat dibuatnya saat menunggu buburnya jadi tadi , lalu sebagai sentuhan akhir ia menambahkan sedikit kecap asin sebagai penambah rasa pada bubur buatannya tersebut .

Diamatinya sekali lagi buburnya itu . Tidak bisa di katakan sempurna memang melihat tampilan terutama teksturnya nampak terlalu encer karna ia terlalu banyak menambahkan air saat pembuatannya . Dia cuma bisa mendengus meratapi kegagalan kedua kali dirinya dalam memasak yang sungguh menyedihkan . Dia berpikir membuat bubur itu mudah , tapi ternyata bahkan cara pembuatannya cukup sulit dan rumit .

Hah , entah si pangeran itu mau memakan makanan encer ini atau tidak , Jessica benar-benar sudah pasrah . Toh , masakannya tetap gagal total .

Setelah selesai , segera ia membawakan mangkuk berisi bubur buatannya itu ke hadapan sang pangeran yang tengah membuat instrumen musik dengan memukul-mukulkan dua buah sendok di kedua tangannya ke meja sambil bernyanyi ‘Aku lapar , aku lapar , aku lapar’  dengan nada sumbang .

” Hoho , coba lihat disini , padahal tadi siapa yang bilang dirinya tidak lapar ? ” sindir Sica .

” Kenapa memangnya ? Aku berubah pikiran , masalah ? ” sahut Sehun cuek .

Jessica cuma menggeleng malas Sambil memperhatikan bahasa tubuh Sehun saat melihat makanan hasil buatannya .

” Makanlah … ” ujarnya dengan nada memaksa . Sepenuhnya ia sadar dan tahu diri bahwa buburnya itu mungkin tidak layak di konsumsi,apalagi buat dilidah sang pangeran yang terbiasa menyantap semua makanan hasil  buatan koki Pro yang berpengalaman . Tetapi , mungkin kali ini Ego-nya tidak bisa menerima begitu saja saat makanan yang telah susah payah di buatnya , ditolak begitu saja oleh si pangeran , padahal anak itu sendiri yang memintanya untuk memasak .

Sehun menatap ke arah gumpalan lembek berwarna putih yang masih mengepulkan asap itu dengan kening mengernyit .

” Ini …. apa ? ” tanya Sehun dengan menyendok sedikit bubur itu lantas menumpahkannya kembali ke dalam mangkuk sambil memasang wajah jijik .

Ekspresi Sehun itu jelas membuat Jessica tersinggung .

” Itu bubur . Cepat dimakan , aku sudah susah-susah membuatkannya untuk mu , tahu ? ”

” kau menyebut ‘Muntahan’ ini sebagai bubur?”

” apa maksudmu berkata seperti itu , pangeran manja ? Aku sudah berusaha sebisa ku untuk membuatnya , setidaknya hargailah kerja keras ku . Tega sekali kau menyebutnya ‘Muntahan’ . Padahal ini jelas-jelas satu-satunya makanan yang boleh kau konsumsi untuk sekarang ini , kau sedang sakit , ingat ? ”

” tapi , bagaimana bisa aku memakan ‘benda’ ini jika tampilannya saja sudah membuatku mual ? Euuuwwwh , benar-benar terlihat seperti muntahan hewan . ”

” Hei , jaga bicara mu . Ini bubur sehat , tahu ? Eum—mungkin memang teksturnya terlalu encer dan lembek , tapi lumayan enak ‘kok . ” Jessica menyendokkan sedikit bubur itu ke dalam mulutnya-mencicipi . ” Ya memang sedikit asin , tapi aku sudah berusaha menetralkannya dengan gula . Kau jangan coba-coba menolak memakannya karna kau sendiri yang menyuruhku memasak . Padahal kau tahu dengan pasti aku tidak bisa memasak . Kalaupun masakan ku gagal , ini semua karna mu . Kau tahu sendiri aku tidak pernah bisa memasak , tapi kenapa kau memintaku melakukannya , eoh ? Pokoknya aku tidak mau tahu , makan ini , atau aku langsung pulang dan tidak mau menemui mu lagi . ”

 

” T-tapi aku tidak suka bubur . ”

Benar . Saat dia meminta Jessica memasak tadi , dia membayangkan yeoja itu akan membuatkannya makanan lain selain bubur . Sama sekali tak terbersit di otaknya sedikitpun bahwa yeoja itu justru akan membuatkan makanan yang paling dibencinya—bubur .

” kau pikir dengan kondisi mu yang sekarang ini , kau bisa makan apa , eh ? Hei, dimana-mana orang sakit itu makanannya bubur . Sudah , jangan banyak protes .makan saja apa yang ada . ”

” Bagaimana aku makan jika aku tidak menyukai makanan mirip ‘Muntahan’ kucing seperti ini ? ”

” kau ingin memberiku makanan yang tidak jelas bentuknya ini ? Kau tidak ingat aku ini siapa ? ” Sehun menambahkan .

Jessica tidak membalas. Ditatapnya bubur buatannya dan Sehun bergantian . Anak itu benar. Bagaimana Jessica bisa melupakan fakta siapa sebenarnya Sehun .  Sehun seorang Pangeran di negeri yang begitu luas dan makmur ,  mana mungkin dia akan memakan makanan yang tidak jelas bentuk dan rasanya begini . Apa yang dimakan oleh sang pangeran pasti sesuatu yang berkelas, enak, dan steril—mungkin. Bukan seperti apa yang telah dibuat Sica sekarang, seberapa keraspun ia mencoba membuat sesuatu yang enak, Jessica tetaplah Jessica, seorang gadis biasa yang sangat bermusuhan dengan dapur dan peralatan memasak . dia tidak akan pernah bisa menjadi seorang koki pro yang bisa membuat masakan lezat. Itu tidak bisa dibantah lagi .

” Ya sudah .. ” Jessica mengambil mangkuk itu dari hadapan Sehun berniat membawanya kembali ke dapur.

” Apa yang kau lakukan ? Mau kau bawa kemana makanan itu ?  ”

Jessica berbalik dengan wajah datar . ” Membuangnya . ”

Sehun terhenyak . Bisa dilihatnya wajah tersinggung dan terluka Jessica akibat ucapannya yang keterlaluan .

” Berikan padaku . ”

” Huh ? ”

” Berikan padaku bubur itu . ”

” Kau sendiri yang mengatakan tidak mau memakannya dan kau pun bilang kau tidak suka bubur . Kenapa aku harus memberikannya padamu ? ”

” Aku berubah pikiran . Sudah berikan saja padaku ” ucap Sehun dengan nada memerintah tak mau dibantahnya yang biasa .

Sedikit tercengang , Jessica melangkah kaku dengan membawa mangkuk berisi bubur buatannya itu kembali ke hadapan Sehun .

“Kau yakin ingin memakannya ? Aku sama sekali tidak memaksa kalau kau memang tidak ingin memakannya  . ” tanya Sica memastikan .

” Aku lapar . Kau benar, disini memang tidak ada makanan lain yang bisa ku makan selain ini . Sudah , suapi aku . ”

” A-apa ? ” Jessica terkejut dengan iris cokelatnya yang membulat .

” Ck , kepalaku masih pusing dan tubuhku lemas . Aku tidak bisa makan sendiri . Ayo cepat suapi aku . ”

” Ummh—baiklah . ”

Mendudukkan dirinya dengan kaku di kursi sebelah Sehun , Jessica mencoba tetap bersikap tenang .

Lalu ia meraih sendok dan Memilih bagian pinggir permukaan bubur dengan sendok itu , Jessica meniupnya pelan-pelan ketika asap tipis mengepul dari sesendok bubur putih itu-menandakan masih panas .

Setelah buburnya sudah agak dingin , Jessica segera menyodorkan sesendok bubur itu kepada Sehun .

Sementara Sehun yang menerima sodoran bubur itu tersenyum tipis sebelum membuka mulutnya .

” Aaaaa ”

Detik berikutnya, wajah Jessica langsung merona ketika menyadari sikap Sehun saat ini sangatlah kekanakan. Yah , meskipun anak itu memang lebih sering bersikap kekanakan sih ketimbang bersikap dewasanya . tapi baru kali ini ia melihat Sehun makan disuapi seperti ini . Ia bisa membayangkan akan bagaimana reaksi para penggemar Sehun di luar sana yang jumlahnya seabrek itu jika saja mereka melihat tingkah kekanakan sang idola saat ini yang sungguh sangat jauh dari kharisma serta citra charmingnya selama ini . Mungkin mereka semua  (para penggemar Sehun) itu akan berteriak histeris .

” Asin . ” komentar Sehun yang sekaligus membangunkan Sica dari lamunannya  . Komentar singkat yang seketika membuat dada Sica seakan tertohok ..

” Maaf . Tapi aku sudah berusaha menetralkannya dengan tambahan gula . ” bela Sica atas ketidakbecusannya sendiri dalam memasak .

” Hn , tetap saja rasa asinnya lebih dominan . ”

” Maaf . ”

Sehun menumpukkan sikutnya keatas meja lantas menyangga wajahnya sendiri . Tersenyum penuh maksud namja itu berkata….” Tapi aku senang , setidaknya kau sudah banyak kemajuan . ”

” kemajuan apanya ? Jika kau tidak menyadari apa yang telah terjadi , aku telah gagal lagi Pangeran . Masakan ku gagal . ” Jessica merengut .

Well , sebenarnya bukan itu yang sedang ku bicarakan ..”

” maksudmu ? ”

” Apa kau tidak pernah mendengar Mitos tentang Makanan Asin . ”

” Memangnya apa yang dikatakan Mitos itu ? Aku cuma rakyat biasa , bukan seorang anggota keluarga kerajaan yang sedari kecilnya sudah harus dipaksa mempelajari Sastra atau Strategi pertahanan sebuah negara . ” ungkap Sica memutar mata .

Membuka mulutnya untuk suapan kedua , Sehun mendengus .

” Tidak perlu menjadi anggota keluarga kerajaan juga hanya untuk mempelajari sastra . Dasar kau-nya saja yang di sekolah dulu selalu membolos . ”

Jessica tak membalas . Gerakannya kaku saat memberikan suapan kedua . Pikirannya melayang pada saat masa-masa sekolahnya dulu . Dulu memang ia sering kali membolos . Melewatkan banyak sekali pelajaran sehingga membuat nilai-nilainya jeblok . Bahkan dulu rasanya ia tak mau datang ke sekolah kerajaan itu lagi .

Siapa yang mau datang ke sekolah hanya untuk di pandangi sinis oleh semua orang—tak hanya oleh Mayoritas muridnya tapi juga oleh beberapa guru yang harusnya menjalankan tugas mulia mengajari anak-anak tanpa memandang status , latar belakang , atau masa lalu si anak— di Bully habis-habisan , juga dipermalukan di depan orang banyak .

Mengingat masa sekolahnya yang buruk itu , Jessica tanpa sadar menghela nafasnya dengan berat .

Sehun menoleh pada Sica di sebelahnya . Mencelos tak tahan melihat kelereng kecokelatan itu kini terlihat kosong dan menerawang . Ia tahu persis apa yang saat ini sedang dilamunkan Jessica . Ia pun ikut membayangkan masa-masa itu . Saat dia mati-matian terus berusaha melindungi ‘Malaikat-nya’ ketika hampir semua orang membenci Sica hanya karna gadis itu menyandang marga Ayahnya di belakang namanya .

Sehun tak habis pikir dengan mereka semua . Apa yang salah dengan menjadi seorang anak pengkhianat ? Lagipula , sampai detik ini pun Sehun tidak pernah mempercayai tuduhan Pengkhianat yang di jatuhkan Dewan kehormata kerajaan atas Ayah Jessica .

Apa hubungannya dengan Jessica sehingga gadis itu harus memikul kebencian rakyat satu negara seorang diri ?

Cih , pemikiran dan anggapan yang sungguh menjijikkan dari orang-orang yang juga sama menjijikkannya .

Dimata mereka semua ,  seorang pengkhianat hanya akan mewarisi darah pengkhianat yang sama pada seluruh keturunannya di masa depan . Dalam hal ini , Jessica-lah satu-satunya sasaran pemikiran tak rasional tersebut .

Tetapi gadis itu memang seorang berhati suci dan lembut layaknya Malaikat . Lihatlah , walau hampir semua orang membencinya , gadis itu bahkan tak membalas balik semua kebencian itu . Dia terus tegar dan tersenyum walau Sehun menyadari adanya kegetiran dan rasa sakit yang teramat sangat yang mesti di sembunyikan gadis itu di balik senyum manisnya .

Jika bukan karna Jessica , Sehun bisa saja membuat orang-orang yang berani menyakiti ‘Malaikat-nya’ itu Menderita berkepanjangan . Dia bisa saja membuat mereka semua yang mengaku berharga diri tinggi itu kehilangan harga dirinya . Atau bagi mereka yang mengaku sebagai orang-orang berpengaruh hanya karna harta yang di milikinya itu  jadi miskin melarat sekalian .

Dia berani bersumpah dia bisa melakukan itu hanya untuk melindungi dan memberi pelajaran pada mereka yang berani menyentuh-menyakiti Jessica—‘Malaikat-nya’ .

Sehun mengendalikan pikirannya kembali ke masa sekarang . Di lihatnya Jessica masih melamun . Dia cuma bisa mendengus menyadari kenyataan bahwa ternyata pengaruh masa – masa buruk pada saat mereka masih sekolah itu ternyata masih cukup kuat hingga sanggup membuat kelereng cokelat itu menerawang kosong .

” Mitos itu berkata , siapapun yang masak dan rasa dari masakannya itu Asin , maka dia sudah ingin cepat-cepat menikah . ” ucap Sehun saat Jessica pun akhirnya bisa menguasai pikirannya .

” A-apa ? ” Jessica tergagap-berpikir ada yang salah dengan pendengarannya sehingga ia bisa mendengar kalimat ‘Aneh’ keluar dari mulut Sehun .

Sehun mendengus . ” Tidak ada siaran ulang . ”

Jessica menggembungkan pipinya kesal saat tak mendapat konfirmasi lebih lanjut dari Sehun atas ucapannya tadi . Padahal dia sangat penasaran apa benar yang sempat di dengarnya tadi benar-benar berasal dari bibir Sehun atau cuma halusinasi pikirannya yang sedang melantur ?

 

siapapun yang masak dan rasa dari masakannya itu Asin , maka dia sudah ingin cepat-cepat menikah

 

Tapi dia cukup yakin kalau yang tadi itu pasti cuma salah dengar . Apa hubungannya coba antara masakan asin dengan keinginan cepat menikah ? Lagipun , dia tidak seperti itu , ‘kok . Menikah mungkin berada dalam list paling akhir dari Resolusi hidupnya .

 

 

Suapan demi suapan Jessica berikan pada Sehun yang juga dengan senang hati membuka mulutnya . Waktu berjalan dengan cepat saat keduanya melakukan sisa-sisa adegan suap-suapan itu dalam diam . Sehun yang masih terlalu lemah untuk bicara , sedang Sica terlalu asyik melamunkan banyak hal .

 

TOK , TOK …

 

Suara ketukan dari luar membangunkan keduanya dari keasyikan masing-masing . Jessica meminta persetujuan Sehun terlebih dahulu sebelum membuka pintunya melalui isyarat mata . Sehun menyetujui dengan memberi isyarat anggukan kepala .

 

TOK , TOK …

 

Ketukan kedua di pagi ini membuat Jessica tidak bisa diam di tempat berlama-lama . Jessica menghela nafas sebelum bangkit dari kursi . Sementara Sehun mengikuti pergerakan yeoja itu dengan terus memandanginya .

Sampai di depan pintu , kening Jessica sempat berkerut saat menyadari bahwa ternyata ia lupa mengunci pintu saat masuk kemarin malam . Ia pun cuma bisa merutuki kecerobohannya dan menekan perlahan kenop pintu kamar Sehun yang berlapiskan Emas .

Sesaat pintu itu terbuka , ia tak sempat berkata apa – apa . Mulutnya terbuka dengan kelopak mata melebar . Pintu itu semakin terbuka lebar hanya untuk menampilkan sesosok pria berusia sekitar 45 tahunan , bertubuh tinggi tegap , dengan sorot mata tajam bak Elang hendak menerkam , dengan Iris mata Oniks serupa dengan yang Sehun miliki .

” Yang Mulia …. ” ucapnya Speechless .

Pria yang menjabat sebagai Raja di negara ini tersenyum lembut membalas sikap salah tingkah yang kini di tunjukkan Sica .

” Selamat pagi . Apa aku mengganggu waktu kalian ? ” ucap sang raja sedikit jahil bermaksud menggoda gadis yang telah lama  ia jadikan sebagai Anak asuhnya tersebut.

” A-ayahanda , a-apa yang Ayahanda lakukan disini ? Bukankah a-ayahanda harusnya berada di luar negeri ? ” Sehun tiba-tiba menghambur ke hadapan sang raja dan berucap gugup setelah sebelumnya ia membungkuk memberi hormat pada Ayahnya tersebut .

Sang Raja hanya tersenyum seraya mengangkat bahu . Raja bernama Oh Hyungsik itu langsung menerobos ke dalam kamar Sehun dan mengambil tempat duduk di sebuah sofa berbentuk seperti balon berwarna hitam yang terdapat di depan TV .

Jessica dan Sehun berdiri gugup terpaku di tempat-tepat beberapa meter di belakang sang raja . Mereka bisa melihat sang raja tengah menyamankan diri diatas sofa balon tersebut. Saat sang raja mengamati keadaan di kamar Sehun , mereka berdua pun (Sehun dan Jessica) melakukan hal yang sama .

” Ku dengar kau sakit Pangeran . Saat mendengar keadaan mu itu aku langsung terbang dari Tokyo kemari . Tapi …..kelihatannya kedatangan ku hanya mengganggu kalian , bukankah begitu Pangeran ? ”

” A-apa ? Tidak , sama sekali tidak Yang mulia . Kami-maksudnya aku hanya menjalankan tugas ku saja dalam merawat Pangeran . Kami tidak melakukan apapun . ” sergah Sica yang melahirkan reaksi berbeda diantara dua pria Bangsawan di ruangan itu . Sang raja tersenyum sementara si pangeran memutar mata mendengar penjelasan Jessica yang tak penting menurutnya itu .

” Begitukah ? Bagaimana dengan mu Pangeran ? ” tanya sang raja pada Sehun sambil tersenyum penuh arti .

” Yah , kami memang sedang menghabiskan waktu bersama . ” jawab Sehun cuek .

” Sehun ! ” hardik Sica memperingatkan .

” kenapa ? Memang kenyataannya kita telah menghabiskan waktu bersama , ‘kan ? ”

” T-tapi …. ”

” Hahaha , bagus sekali Pangeran. Bagus sekali . ” puji sang raja entah untuk dan atas tujuan apa .

Sudah bukan rahasia bagi sang Raja kalau Putra Mahkota-nya itu memang tertarik pada Jessica-Asisten pribadinya . Raja yang berpemikiran terbuka itu sama sekali tak masalah dengan hal itu . Lagipula , Dia sudah mengenal Jessica cukup lama . Bahkan jauh sebelum Jenderal Jung-Ayah Jessica di Vonis mati dengan tuduhan sebagai Pengkhianat , dia telah mengenal gadis itu dan menyayanginya . Hidup gadis itu memang berat . Tetapi satu yang paling di senangi raja dari putri sang jenderal adalah , senyum dan ketulusan gadis itu yang seakan menjadi peluntur-penghancur semua kebencian , dan caci maki yang selama ini selalu di terimanya .

Raja sangat menyayangi Jessica sama seperti dia menyayangi Sehun . Dia sudah menganggap gadis itu seperti putrinya sendiri . ketika Jessica kehilangan Ayahnya , secara suka rela Raja mengajukan dirinya sebagai Wali untuk gadis itu . Raja juga yang membiayai seluruh kebutuhan Jessica mulai dari sekolah , bahkan sampai kehidupan kesehariannya . Ia memberikan Fasilitas mewah layaknya seorang Putri bagi gadis itu . Meski tak semuanya fasilitas itu diterima Jessica dengan alasan tak mau merepotkan , sang raja tetap merasa lega karna setidaknya ia bisa melindungi anak dari sahabatnya .

 

Mendengar ucapan bernada pujian yang di berikan Raja pada Pangeran , Jessica spontan memandangi keduanya dengan tatapan Horror . Apa yang sebenarnya sedang di bicarakan kedua orang itu ? Apa cuma dirinya disini orang bodoh yang tidak mengerti apa – apa ?

Raja beranjak dari sofa balon yang di dudukinya dan berjalan mendekati Sehun dan Jessica . Jessica langsung membungkuk dan memundurkan tubuhnya sekitar 3 langkah ke belakang demi memberikan Privasi bagi Ayah dan anak tersebut .

Raja meraih kepala Sehun dengan kedua tangannya . Di rabanya dahi Sehun-merasakan suhu tubuh si pangeran.

” Hangat . Sudah minum obat ? ”

Dengan agak kasar Sehun menepis tangan Ayahnya dari kepala bersurai Silver Blond miliknya . Mendapati sikap Sehun tersebut , Raja menyunggingkan senyum maklum.

” Aku sudah 21 tahun , Ayah. Berhentilah memperlakukan ku seperti anak umur 5 tahun.”

” Well , aku cuma bertanya mengenai kondisimu. ”

” Che ,kau memang pandai . Aku sudah baikan jika Ayahanda mau tahu . Aku benci sakit . ” ujar Sehun bernada kesal .

” Baiklah … itu kurasa karna kau telah menemukan Obat dan perawat terbaik mu ‘kan , eoh ? ” Raja melirik Jessica di belakangnya sekilas . Tersenyum ‘licik’ saat ia mendapati tubuh gadis itu tersentak dan gugup di saat bersamaan .

” Sudahlah… Ayahanda bahkan jauh lebih licik dari ku . ”

” Buah tak jauh dari pohonnya , ‘kan ? ”

Sementara Jessica yang melihat interaksi antara ayah dan anak itu lagi-lagi hanya bisa memasang wajah bodoh tak mengertinya . Terlihat dirinya melongo tolol tak paham akan arah percakapan dua bangsawan ayah anak tersebut .

” Tapi , setahuku kau hanya demam biasa Pangeran . Tapi kenapa wajah mu bengkak seperti habis berkelahi begitu ? ”

” A-AH ! ” Jessica refleks hendak menjelaskan apa yang telah terjadi hingga membuat wajah sang pangeran jadi mirip berandalan kalah berkelahi tersebut .

” Ya ? ” Raja bertanya dengan senyum ‘manis’ yang benar-benar membuat Sica tak nyaman-terpojok serta gugup .

” aku terjatuh dari tempat tidur . ” sahut Sehun tenang dengan tiba-tiba . Membuat Iris kecokelatan Jessica membola sementara senyum ‘manis’ sang raja makin melebar . Jelas sekali  Namja itu bermaksud melindungi Jessica dari kecelakaan yang telah di lakukan gadis itu pada dirinya .

Lain dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi , dalam hati pangeran itu merutuk dirinya sendiri . Ia  tak sempat mencari alasan lain selain alasan bodoh itu untuk menjelaskan kenapa wajahnya jadi bengkak dan membiru begini . Orang bodoh mana pun tak kan percaya dengan alasannya itu . Dia cuma bisa berharap semoga ayahnya tak memperpanjang ini dan membebaskan dirinya serta Jessica dari kegugupan yang sedang mencengkeram dada mereka saat ini .

” Begitukah ? ” Raja mendekati Sehun kembali dan meraih dagu sang pangeran agar beliau bisa mengamati luka di wajah putranya tersebut . ” Hm , lebih terlihat seperti bekas tonjokan . ”

” A-AH ! I—itu— ” Jessica semakin panas dingin . Mebuat sang Raja mengernyit . Dia hanya menyentuh wajah putranya , tapi kenapa justru Jessica yang mendadak ketakutan begitu ?

Sang Raja menghentakkan kakinya bergerak mendekati Jessica .

” saat terjatuh wajahku tanpa sengaja menabrak sisi tempat tidur , makanya jadi bengkak begini . ” Sehun berkata dengan kepala menunduk dan mata terpejam . Dia hendak mengakhiri ini semua tanpa menimbulkan masalah baru khususnya bagi Jessica .

Ia pun tak menyadari saat masing-masing sepasang mata milik dua manusia berlainan jenis dan usia disana sama – sama menatap kearah dirinya dengan heran.

” Kecelakaan yang sangat kebetulan , eh ? ”

” Yeah , siapa yang menduga ? ” Sehun menyahut dengan tetap berwajah datar .

” baiklah . bersihkan dirimu . Ada sesuatu yang ingin Ayah bicarakan dengan mu , jadi bergegaslah . Ayah akan menunggu mu disini . ” Raja berkata mutlak . Sehun tak bisa membantah . Sementara Jessica semakin terpaku di tempat—tak mengerti akan Atmosfer di sekitarnya yang tiba-tiba berubah berat dan serius begini .

” Dan kau—Beristirahatlah , Sooyeon-ah . ”

Hati Jessica seketika tertegun . Bukan sekali dua kali ia mendapati Raja memanggilnya dengan panggilan ‘Sooyeon’—nama atau panggilan sayang mendiang ayahnya pada dirinya dulu saat ia masih kanak-kanak .

Jessica gagal paham darimana Raja bisa tahu panggilan ‘sayang’ itu . Sedikit menguak luka lama saat bersamaan dengan panggilan itu keluar dari bibir sang Raja , ia pun masih bisa merasakan seolah Ayahnya sendirilah yang memanggilnya .

” A—apa ? ” Jessica mencoba berucap diantara rasa sesak yang kembali melingkupi dadanya dan tenggorokannya yang mengering .

” Beristirahatlah . Aku yakin kau pasti kurang istirahat selama merawat anak ini. Lihatlah , ada lingkaran hitam di bawah matamu ”

Jessica mengangguk membenarkan

” Umm—Yeah , mungkin juga karna belakangan aku selalu bermimpi buruk . ”

” mimpi buruk ? ”

Jessica mengangguk (lagi) dengan posisinya yang terus menunduk. ” Mimpi yang aneh . Tapi , s—saya rasa tidak ini tidak penting untuk di bahas . Terutama di depan anda y-yang mulia.”

” Sooyeon-ah …. ” raja kembali memanggil Jessica dengan panggilan sayangnya itu. Pria itu meletakkan kedua tangannya pada bahu sempit Jessica dan kemudian dengan menggunakan dua jarinya , ia mengangkat dagu si gadis agar mau bertatapan dengan dirinya .

” kau sudah ku anggap seperti putri ku sendiri . Bagiku , Apapun yang berkaitan dengan mu adalah hal Penting yang berhak untuk ku ketahui dan ku urus . Kau putri ku , ingat ? ”

Mata Jessica dengan sendirinya mengeluarkan kristal bening yang menggenang menutupi kecerahan kelereng kecokelatan tersebut . Matanya yang berkaca-kaca membuat Raja tak kuasa untuk tak memeluk gadis malang itu demi meringankan sedikit beban masa lalu yang kini menjadi kenangan menyakitkan yang mesti di pikul si gadis seorang diri selama ini.

Setelah detik-detik berlalu hingga merubah satuan waktu menjadi menit-menit yang cukup singkat untuk di habiskan , Jessica melepas dengan hormat pelukan hangat sang raja pada tubuhnya dengan wajah yang kembali cerah .

Dia tidak mau Raja mendapat masalah baru hanya karna berpelukan dengan dirinya yang hanya  seorang Rakyat biasa-anak seorang pengkhianat pula . Ia terpaksa melepas rengkuhan yang sejatinya amat sangat mirip dengan yang selalu dirindukannya dari sosok Ayahnya dulu . Atau mungkin pelukan raja jauh lebih hangat dari pelukan Ayahnya yang bisa ia ingat dari serpihan-serpihan kenangan mereka yang nyaris terhapus waktu itu .

Tidak. Meski ia mendambanya , meski ia amat menikmatinya , ia tidak boleh mengorbankan Raja sebagai bahan keegoisannya sendiri .

Raja tersenyum maklum. ‘Putrinya’ ini memang dari dulu memiliki kepercayaan diri yang rendah , mudah cemas , dan sedikit Paranoid dengan anggapan orang-orang terhadap dirinya .

” Umm—Baiklah , aku permisi kalau begitu , Yang mulia , Pangeran . ” Jessica membungkuk mohon undur diri dari hadapan dua pria tersebut .

Sehun yang dari tadi hanya diam mengamati Interaksi antara Ayahnya dengan Kekasihnya dengan segera langsung menyambar tangan sang kekasih . Bibir tipis si Pangeran membentuk garis tipis ketika ia mendesis tak suka sang kekasih pergi tanpa meminta ijin darinya .

” Jangan pergi kemana-mana . ” desis Sehun mempererat pegangannya pada lengan Sica tak peduli walau gadis itu terus meronta.

Sang Raja menyaksikan Adegan ala Drama di negaranya itu sambil terkekeh geli .

” Kau terlihat seperti seorang Suami yang takut di tinggal Istrinya saja Pangeran. ” goda Raja di tempatnya.

” Y-yang mulia …. ” Jessica menyahut protes dengan dua kelerengnya yang membola .

Sehun tak membalas Ayahnya .

Ia hanya memandangi Jessica intens sambil mengencangkan pegangannya pada lengan garis itu .

” jangan pergi . Nanti kalau aku butuh apa-apa , atau aku minta diambilkan ini-itu ,siapa lagi yang bisa ku suruh – suruh selain dirimu ? ”

” Sialan . Kau pikir aku Babu mu , hah ? Sudahlah .. aku akan tetap berada di istana ini sampai kau benar-benar pulih, oke ? Jadi sekarang lepaskan tangan mu dariku . ”

” Pangeran , Ayahanda mu ini tidak punya banyak waktu lhooo… ”

” Ck , sebentar Ayah . Aku harus menjinakkan kelinci liar ini . ”

” A-apaan itu ? Kelinci liar ? Kau menjuluki ku kelinci liar ? Hah , aku tidak percaya ini . Tega sekali kau menjuluki ku kelinci liar , padahal aku ini adalah satu-satunya orang yang tahan mengurus dirimu yang selalu menyebalkan dan merepotkan ini . Kau memang hmmppfft…. ” tangan Sehun membekap mukut Jessica yang terus mengoceh . nafas Jessica megap-megap dibalik bekapan tangan Sehun yang menyumbat pasokan udara pada mulut dan hidungnya .

Jessica memberontak protes sementara Sehun menggiringnya ke arah pintu.

” Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan Istana ini . ” kata Sehun yang akhirnya  melepaskan bekapan tangannya pada mulut Jessica saat mereka sudah berada di luar .

” Puuaaahh … Hah—Hah , sialan ! Kau mau membuatku mati kehabisan nafas , eoh ? Aku hampir mati tadi . ” Sica dengan nafas satu-satu.

” tapi kau tidak mati , ‘kan ? ”

” kau benar-benar menginginkan ku mati , hah ? Aku—aku benar-benar menyesal telah merawat mu Pangeran mahkota . Kau menyebalkan ! ” maki Sica .

” Hentikan kalian berdua . ” sambil terkekeh geli Raja melerai pertengkaran mereka berdua .

” kalian benar-benar terlihat seperti Pasutri Tua yang Hobi bertengkar . ”

” M-mwo ? ”

” Aku keberatan di sebut Tua . ”

Raja hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat dua anak muda di depannya . Dengan jarinya ia memberi isyarat pada Sehun untuk kembali masuk ke kamarnya . Meski Sehun menolak pada awalnya , namun si pangeran tahu dirinya tidak akan bisa berkutik jika sudah di perintah mutlak oleh ayahnya tesebut. Sambil mendengus keras Sehun akhirnya masuk kembali ke kamarnya dengan memberikan tatapan tajam mengancam pada Jessica jikalau sampai yeoja itu pergi dari Istana.

Selagi meringis di tatapi sedemikian rupa Jessica berkata ” Aku tidak akan kemana-mana . Kau bisa menemukan ku di seluruh Istana yang besar ini . ”

” Awas saja kalau kau sampai berani Ingkar . ”

” Dasar berlebihan . ” cibir Sica mengerucutkan bibirnya Imut .

Sehun mengedikkan bahu acuh sebelum akhirnya benar-benar menghilang di balik pintu kamarnya .

Tinggal lah Raja dan Jessica yang masih berdiri di depan pintu kamar si pangeran .

” Bergabunglah saat makan siang nanti . ”

Mata Sica nampak mengerjap tak percaya . Dia tak salah dengar lagi ‘kan ?  Makan siang bersama keluarga Raja ? Dimana disana ada Ratu Oh Hyo Jin dan kemungkinan juga mungkin anggota keluarga kerajaan lain ?

Seketika tubuhnya seolah panas dingin.

Telapak tangannya mulai basah oleh keringat . Kebiasaan yang sudah lumrah terjadi jika ia sedang gugup ..

Tidak . Dia tidak merasa gugup karna diundang bergabung dalam acara kekeluargaan kerajaan itu untuk pertama kalinya . Tidak . Bahkan dulu ketika dia masih kecil dia sering makan satu meja bersama Raja , Permaisuri dan tentunya juga Sehun si Pangeran.

Dia gugup karna membayangkan bagaimana dan seperti reaksi orang lain nanti . Katakanlah ia terlalu Paranoid tentang anggapan orang lain terhadap dirinya , well , itu memang benar .  tapi—dulu saat terakhir ia makan bersama keluarga kerajaan , kira-kira sekitar setahun yang lalu , dia sempat mendengar banyak sekali gosip miring yang berkeliaraan di seluruh penjuru Istana , bahkan entah bagaimana caranya kabar tentang Anak Pengkhianat seperti dirinya Makan Semeja dengan keluarga kerajaan itu terdengar sampai keluar-ke masyarakat luas yang semakin membesar-besarkan masalah juga memutar balikan fakta yang ada .

Dia tidak mau kalau sampai hal itu terjadi kembali . Bayangkan saja dirimu menjadi Bahan gosip semua orang , dengan pandangan sinis seakan menelanjangi milik mereka semua selama berbulan-bulan , itu akan sangat merepotkan .

Tapi—bisakah ia menolak tawaran atau ajakan langsung dari seorang Raja ? Bisa-bisa ia di hukum cambuk karna tak menuruti perintah Raja . Hah , kenapa hidupnya sulit sekali , sih ?

” Aku tak menerima penolakan Nona Jung . ”

” T-tapi Yang Mulia , sa-saya merasa ti-tidak layak makan semeja dengan anda sekeluarga . Bagaimana pun juga saya adalah orang luar. Saya tidak berhak . ” suara Jessica semakin mengecil di kalimat akhir . Tatapan tajam tak suka dari sang raja lah yang membuatnya seolah kehilangan nyali .

” bagaimana jika ku katakan bahwa ini adalah perintah , atau Undangan Kehormatan dariku ? Apakah kau masih keras kepala menolaknya ? ”

” Uhhh— ” Jessica kehabisan Ide dan kata-kata  untuk menolak .

” Oke , aku anggap yang tadi itu sebagai ‘Iya’ . Jadi , saat jam makan siang nanti , kau harus bergabung atau Aku sendiri yang akan menyeretmu ke Meja makan . ”

Meringis ngeri membayangkan betapa seram dan keras kepalanya sang raja jika sudah menyangkut keputusannya , Jessica hanya dapat mengangguk pasrah .

Raja tersenyum puas . Di elusnya rambut cokelat ‘putrinya’ itu lembut .

” Anak pintar . Anggap saja ajakan ku ini adalah ucapan terima kasih ku karna kau telah mengurusi Pangeran Mahkota dengan sangat baik selama dia sakit . ”

” aku hanya mengurusinya selama semalam . Ini terlalu berlebihan , Yang mulia . ”

” Tidak , jika di kalkulasikan dengan banyaknya yang telah kau lakukan untuk Sehun 15 tahun ini . Aku merasa ajakan makan malam saja tidak akan sepadan dengan Jasa dan pengorbanan mu mengurusi anak itu . ”

Merasa dirinya tidak lagi memiliki hak untuk membantah , Jessica mengangguk sambil menggumam tak jelas .

” sekarang kau beristirahatlah di kamar mu . Nanti setelah Permaisuri tiba , aku akan meminta pelayan untuk membangunkan mu untuk langsung bergabung di meja makan nanti . ”

” Jadi anda tiba dari Jepang tanpa di dampingi Permaisuri , Yang mulia ? ”

” begitulah . Setelah mendampingiku menghadiri Undangan dari Kaisar di Jepang , Permaisuri harus segera terbang menghadiri pertemuan para Permaisuri dari seluruh kerajaan di Dunia di Inggris . Tapi hari ini dia pasti pulang dan akan tiba di Istana sebelum makan siang nanti . Hah , dia memang selalu lebih sibuk dariku . ”

” sepertinya begitu . Eum— Jika tidak ada lagi yang ingin Yang mulia sampaikan saya mohon undur diri , yang mulia . ” Jessica sambil membungkuk hormat ..

” Hmm , silahkan . Beristirahatlah dengan tenang . ”

” Terima kasih .. ”

Membungkuk sekali lagi dan berpamitan , Jessica akhirnya membalik punggungnya dan segera meninggalkan tempat itu . Namun baru saja sampai di belokan yang mengarah ke Koridor utama Istana , tiba – tiba dia mendengar Raja kembali bersuara .

” Tinju mu boleh juga . ”

Spontan Jessica langsung menoleh dengan ekspresi wajah seperti baru melihat setan .

Apa , Apa Raja tahu dirinyalah yang Memukul Sehun ?

Kenapa tiba-tiba matanya jadi panas .

” Hiks , hiks , Ayaaahh….” Jessica mewek . Sementara Raja yang melihat kelakuan lucu ‘putrinya’ itu tergelak menahan tawa .

 

 

To Be Continued …

 

 

Kemarin ada yang nanya tentang Ibunya Jessica kemana dalam ff ini , saya udah janji bakalan jawab di chapter ini , tapi ternyata saya gak nemu space yang tepat buat masukin penjelasan tentang Ibu Jessica . Jadi saya jawabnya disini aja ya . disini di ceritakan Jessica itu gak pernah tahu siapa ibunya . Dia hanya tahu (itu pun dari cerita para pengasuhnya) bahwa ibunya itu ngebuang dia di hari yang sama saat dia lahir di depan Rumah Jenderal Jung—Ayahnya Sica yang di hukum mati itu . Ayah dan Ibu Jessica sendiri tidak pernah terikat dalam Perkawinan sebelumnya , jadi bisa di katakan Jessica disini itu anak H (Haram) .  Sejak tahu tentang hal itu , Jessica udah mutusin gak akan pernah cari tahu tentang Ibunya , karna dia merasa wanita yang udah melahirkannya itu gak pantas buat dia panggil ‘Ibu’ . Lagipula selama ini Jessica mendapat kasih sayang yang berlimpah hanya dari Ayahnya saja walaupun Ayahnya hanya seorang orang tua tunggal dan dia udah merasa lebih dari cukup akan apa yang diberikan Ayahnya .

kalaupun yang dikatakan pengasuhnya itu tidak benar , dia tidak akan berusaha mencari tahu kebenaran tentang ibunya , kecuali memang benang merah takdir lah yang menuntunnya kesana .#makanya judul ni fanfic ‘RED THREAD’ , hehe#Spoiler

So , aku buat penjelasan di atas buat ngejawab pertanyaan para reader di chapter sebelumnya , agar di chapter ini gak muncul lagi pertanyaan yang sama . Disini udah keliatan karakter Sehun dan Raja Oh Hyungsik seperti apa , tinggal menampilkan karakter-karakter lain seperti Permaisuri , dan beberapa Cast lain di chapter-chapter selanjutnya .

Jadi , harap tetap menunggu kelanjutan ff abal-abal ini yaaa…

sebenarnya sih kalo nurutin bayangan di otakku , masih ada 3 scene dengan Narasi super panjang yang sebenarnya ingin ku tampilkan disini , tapi karna udah kepanjangan terpaksa deh aku CUT disini . Jangan protes ini kependekan , yaaa . Sumpah ! Aku aja yang nongkrong setengah jam aja di depan Laptop setiap harinya hanya buat ngerampungin chapter ini , rasanya mata udah pegel banget . #upps , maaf jadi curhat .

Oke , sampai jumpa di chapter-chapter berikutnya ……

55 thoughts on “Red Thread ( Chapter – 2 )

    • Syukurlah klo kmu suka sma ff abal ini . Raja tu udh tahu dari awal klo cuma Sica yg berani ninju Sehun . Gak bisa janji cepet updatenya tp ttp di tggu aja ya , gomawo🙂

  1. bunga bunga cinta bermekaran ciee ciee jessi unni hahaa udh mulai tuh ehemm ehenm sna pangeran sehun .. tp ttp aja y bisa ngless

    sehunn sehun ( geleng geleng kpala ) salut bgt deh rela brrnang biar skit spanyA jessi unni dtang k istana haha

    ciee bubur cintaa biar tk enak tp ttp y sehun mkan asalkan itu dri neng enjess ckckk

    raja sma pangeran sma sma baik gk mndang kasta #eaaa

    d tunggu next chap y thorrr … itu kaya y situasi tntang ibu y seoyoon kahhh ???

    • Mesti di makan dong buburnya ntar klo gak , bisa bonyok muka Sehun di tonjokin Sica lagi .hehe…. stiap pertanyaan psti ada jawabannya kok , tggu prosesnya aja . mkasihhh dtggu aja kelanjutannya🙂

  2. Wah bagus banget… walaupun nunggu lumayan lama tapi udah puas deh bacanya..
    Ff nya udah panjang kok thor.. tapi kalo mau diperpanjang juga gak papa hehehe
    Raja sifatnya lucu juga… persis kaya sehun.. hahaha apa lagi pas scene akhir
    Ditunggu next nya ya thor!! Keep fighting!!! 😃

    • Thanks , maaf ya udh bikin nunggu lama . Duh masih kurang panjang, walaaah , yg lain aja pada complain kepanjangan ceritanya , wkwkwk… oke deh dtggu aja ya kelanjutannya , gomawo …🙂

  3. Sehun dh suka sama sica 7 atau 8 tahun lama. Juga’y, sica gak peka nih harus’y dia bilangg iya. Aph jngn2 sica tau tapi dia taakut kena hukuman kaya ayah’y. Itu raja mengganggu ajh sih, tp ada benar’y sehun berubah karena ada sica.

  4. Good job author..ikut gemes juga sama tingkahnya sehun yang errr mancing emosi,tapi jess unn beruntung banget di takdirkan terhubung sama sehuunn..mau doong 😂
    Itu pas part raja manggil ‘sooyeon-ah’ terus ngomong kalau raja berhak tau apapun karena jess unn di anggap kaya anak sendiri aku beneran nangis 😭kaya refleks ngebayangin beratnya jadi jess unn /readersmelankolis/😁✌ fighting!

  5. Semakin seru karna raja kayaknya gak keberatan sama perasaan sehun ke jessica. Jessica bodoh banget gak peka, biasanya yang gak peka itu cowok ini malah cewek. Oia permaisuri itu mama nya sehun bukan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s