Should You Choose Me

Fanfiction by Richzeela

Genre | Rating | Length
Hurt | PG-15 | Oneshot

Cast
Jessica Jung || Lu Han || Min Sohee

Happy reading || Hope you like it

*

*

*

Kutatap iris kecoklatan itu dengan perasaan tak karuan. Marah, sakit, kecewa, dan terluka melihatnya begitu kacau seperti ini. Pasti cintanya. Sudah pasti cintanyalah yang membuat senyuman indah itu sirna dari bibirnya. Aku benar-benar tidak bisa melihatnya seperti ini. Aku tidak sanggup melihat gumpalan air mata itu membasahi wajah tampannya. Demi Tuhan, aku tidak akan melepaskan siapa pun dia yang berani membuatnya terluka.

“Luhan-ah, apa gadis itu? Apa dia yang telah membuatmu seperti ini lagi?”

Aku menanti mulut yang terkatup rapat itu mengeluarkan suaranya. Tapi tidak. Aku tidak mendengar jawaban apa pun darinya. Dia hanya diam sambil sesekali mengeluarkan isakkannya. Aku tidak menyangka, Luhan yang biasa tegar tampak begitu lemah saat ini.

Apa dia begitu berarti untukmu Luhan-ah? Lalu, bagaimana dengan aku?

“Katakan, Luhan. Apa gadis itu yang melukaimu? Kumohon katakan padaku.” Aku bertanya lagi, dan lagi-lagi Luhan hanya diam. Pria ini, benar-benar tidak berniat menjawab pertanyaanku.

Aku mengkhawatirkanmu Luhan-ah.. Tolong, berhentilah menunjukkan raut wajah itu di depanku. Aku tidak sanggup melihatnya..

“Kenapa kau hanya diam? Jawab aku, Xi Luhan! Jawab aku sekarang!” Suaraku meninggi hingga akhirnya sorot mata tajam itu beralih menatapku.

Inilah yang kuinginkan. Katakan semuanya, Xi Luhan. Katakan, apa gadis itu yang telah melukaimu?

“Berhentilah ikut campur, Jessica Jung! Aku begitu muak melihatmu selalu mencampuri urusanku!”

Aku tersentak mendengar ucapannya. Aku menunggunya bicara dan hanya itu yang dapat ia katakan?

“Aku kakakmu, bukan sesuatu yang salah jika aku ikut campur apa pun masalahmu.”

“Hanya sebatas kakak tiri. Kau bukan siapa-siapa selain anak dari istri ayahku yang bahkan sangat ku benci!”

“Xi Luhan!”

“Enyahlah, aku tidak mau melihatmu.”

Aku menghela napas kasar. Sakit karena ucapannya? Mungkin. Tapi hatiku jauh lebih sakit ketika melihatnya sekacau ini.

Aku memang bukan siapa-siapa dalam hidup Luhan. Seperti yang dia katakan, aku hanyalah anak dari ibu tirinya yang bahkan sangat ia benci. Dari awal Luhan memang tidak menyetujui pernikahan ini, dia tidak suka dengan wanita mana pun yang dekat dengan ayahnya, termasuk ibuku.

Begitu pula denganku. Pernikahan ini—aku tidak pernah mengharapkannya. Aku bahagia melihat ibuku bahagia, tapi tidak dengan cara ini. Dan hanya ada satu alasan, Luhan bukanlah seorang adik untukku, melainkan seorang pria yang sangat kucintai.

Jauh sebelum terjadinya pernikahan kedua orang tua kami, aku sudah mengenal Luhan sebagai sahabat dan junior di kampusku. Usia kami terpaut 1 tahun—lebih tua diriku. Namun hal itu tak menyudutkan perasaanku yang begitu mendambakan Luhan, meskipun ia tak menyukaiku, dan bahakan tak pernah tahu akan perasaanku. Ia juga sangat mencintai kekasihnya––Min Sohee—si gadis sempurna yang berhasil mendapatkan hati Luhan.

Namun, gadis itu telah melukai perasaannya, aku tidak akan membiarkannya.

\\

“Min Sohee!”

Perempuan yang dianggap primadona kampus itu menoleh ketika suara parauku memanggil namanya. Aku sengaja repot-repot menunggunya pulang kuliah, hanya untuk menanyakan kenapa dia membuat Luhan terluka lagi.

Senyuman sinis melengkung di bibir tipisnya, seolah meremehkan kehadiranku yang kini mulai berjalan mendekatinya.

“Ada apa memanggilku?” tanyanya datar. Sepertinya perempuan ini sudah memahami situasinya.

“Kau menyakiti Luhan lagi, benar?” Aku langsung ke tujuan awal, menayakan apa motifnya melakukan semua ini.

Tidak ada suara dari sudut bibirnya. Perempuan ini hanya diam, kemudian mendengus tidak jelas.

Tatapanku menajam. “Kenapa? Apa yang telah Luhan perbuat padamu sehingga kau selalu menyakitinya?” tanyaku lagi.

“Siapa kau? Kenapa kau selalu ikut campur, Jessica Jung?”

Aku tersenyum getir mendengar ucaannya. Benar, siapa aku? dibanding dia aku bukanlah siapa-siapa. Tapi meski begitu, aku tidak akan membiarkannya melukai Luhan-ku lagi. Tidak akan pernah.

“Kau lupa siapa aku? Aku adalah kakak Xi Luhan yang sekarang meminta penjelasan darimu, kenapa kau menyakiti adikku?”

Sohee terkekeh pelan, kemudian menatapku sinis. “ Bukankah terlalu berlebihan seorang kakak tiri sepertimu turut campur urusan pribadi adik tirinya? Aku yakin Luhan pasti sangat muak denganmu. Aku saja merasa begitu.”

“Tutup mulutmu, Min Sohee.”

“Kenapa? Kau takut jika aku membongkar rahasiamu? Bahwa sebenarnya kau menganggap Luhan lebih dari sekedar adik tirimu? Kau menyukainya, Jessica. Karena itulah mengapa kau bertingkah menyebalkan saat ini.”

“Hei, Min Sohee!”

“Berhentilah selagi kau bisa. Pergi dan jangan pernah muncul di hadapan Luhan lagi, karena aku tidak suka melihatnya.”

Apa? Gadis ini bicara apa? Huh! dia meyuruhku pergi?

“Kau tidak berhak berkata begitu setelah apa yang kaulakukan, Min Sohee!” gertakku marah. “Dulu sekali kau menduakannya dengan Kim Myungsoo, kemudian kau kembali menyakitinya karena Park Chanyeol. Sekarang apa lagi yang kaulakukan, eoh?! Kau belum puas melihat Luhan terluka?!” Aku menahan napas dalam-dalam, mentolerkan keinginanku untuk membuat wajahnya berubah memar. “Dia mencintaimu, Sohee. Kau tahu Luhan sangat mencintaimu! Tapi kenapa kau tega sekali melakukan ini padanya!”

Aku begitu marah dan kesal pada perempuan ini. Dia berani mengungkit perasaanku disaat hati batunya itu telah memecahkan semangat hidup Luhan. Sungguh, aku tidak tahu apa yang dilihat Luhan dari perempuan tak berhati seperti Sohee. Karena dia cantik? Oh.. Ayolah, masih banyak yang lebih cantik dari perempuan ini. Dan lebih bermoral tentunya.

“Ya, itulah yang harus kau sadari. Luhan sangat mencintaiku meski aku telah menyakitinya. Sedangkan kau? Seberapa niat pun kau membelanya, dia tidak akan melihat padamu, Jessica Jung. Jadi, kau mengerti apa yang kukatakan, bukan? Pergi dari hidup Luhan dan aku akan berhenti menyakitinya.”

“Apa?”

“Kau mau tahu alasanku menyakiti Luhan ‘kan? Itu semua karenamu, Kakak ipar. Aku terganggu melihatmu selalu mengekori pacarku kemana-mana. Aku marah ketika mengetahui ada gadis lain yang juga mencintainya tinggal serumah dengannya. Karena itu menjauhlah sejauh-jauhnya, maka akan kupertimbangkan.”

Astaga! Tawaran gila macam apa yang gadis ini berikan untukku? Secara tidak langsung dia telah mengusirku dari rumahku sendiri?

Kau sudah melewati batasmu, Min Sohee. Aku tidak akan membiarkanmu memiliki Luhan lagi.

“Tidak. Aku tidak akan pergi dari hidup Luhan dan tidak akan membiarkanmu menyakitinya lagi. Sudah cukup aku memberimu kesempatan selama ini, Min Sohee. Aku akan membuat Luhan melupakanmu dengan segala kekuatanku.”

Setelah berkata demikian aku berlalu tanpa peduli bagaimana raut muka perempuan itu saat ini. Aku tidak ingin berada lebih dekat dengannya karena aku tidak ingin menjadi seperti dirinya.

Yah, walaupun yang kukatakan hanyalah omong kosong belaka. Luhan—sampai kapan pun dia tidak akan pernah bisa melupakan Min Sohee. Itulah kenyataan yang sebenarnya.

\\

Malam itu tak jemu aku memandang wajah tampan Luhan yang terbaring lesu di atas ranjanganya. Pria itu tengah tertidur, dan aku tahu mungkin saja mimpi buruk itu tengah hinggap di dalam tidurnya.

Akulah yang membuatmu seperti ini Luhan-ah..

Karena kehadiranku di hidupmu, perempuan itu jadi tak segan menyakitimu.

Tapi aku bisa apa? Aku bahkan tak mampu berada jauh darimu.

Bagaimana aku bisa pergi? Di saat hatiku hanya berlabuh padamu…

Aku sangat mencintaimu, Luhan. Itulah yang harusnya kau tahu. Jika saja kau memilihku saat itu, mungkin sekarang aku berada di sini bukan sebagai kakak tirimu, melainkan sebagai wanita yang menemani tidur indahmu…

Aku memberanikan diri melangkah masuk ke ruangan Luhan. Ruangan yang biasanya hanya kulihat dari bingkai pintu, kini aku telah berani memasukinya.

Tidak sopan memang, mengingat Luhan sangat membenciku setelah pernikahan orang tua kami berlangsung. Dia marah karena aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk menggagalkan pernikahan itu. Tapi mau bagaimana? Aku tak punya daya apa-apa…

Aku memandang sendu Luhan yang tengah tertidur pulas. Mulai dari kelopak matanya, hidungnya, dan sudut bibir itu yang dulu pernah memberikan senyuman terhangatnya padaku. Demi apa pun, aku rela menukar segalanya asal senyuman indah itu kembali kudapatkan.

Aku mendekat ke arah Luhan, menghiraukan detak jantungku yang semakin menggebu paska memasuki kamar bernuansa cokelat ini.

Bolehkah aku melakukanya? Seumur hidupku aku bermimpi untuk bisa menyentuhmu, Luhan-ah…

Memegang erat kedua tanganmu di saat kau terjatuh…

Memelukmu di saat kau terluka…

Dan menghapus jejak air matamu di saat kau lagi-lagi menangis karenanya…

Jika saja aku yang berada di posisi Min Sohee, aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu, Luhan, seperti yang dilakukanya padamu.

Aku hanya akan mencintaimu dan terus mencintaimu.

Entah pikiran apa yang merasukiku—mungkin karena factor cinta yang terlalu mendalam untuk pria ini—sekarang bibirku sudah bersentuhan dengan bibirnya. Berharap waktu akan berhenti sampai di sini walau hanya aku yang merasakannya.

Tanpa terasa air mataku terjatuh membasahi kedua pipiku. Dadaku terasa sesak mengingat bertapa pecundangnya diriku yang mencuri ciuman dari adik tiri sendiri yang bahkan sangat membenciku. Tapi aku mencoba tak peduli, aku hanya ingin merasakan posisi Sohee sekali saja, walau mungkin Luhan tengah bermimpi tentangnya.

Aku beranjak dari posisiku, menjauhkan wajahku untuk kembali menatap Luhan.

Tapi apa yang terjadi? Mata pria itu terbuka lebar memandang datar manik mataku yang terkejut bukan main.

Pria ini.. Apa di tahu apa yang baru saja aku lakukan?

“Apa yang sedang kau lakukan di kamar orang lain?” tanyanya dingin.

Aku tidak tahu harus menjawab apa, selain merutuki kebodohanku di dalam hati.

“Keluar!”

“Apa?”

“Keluar. Jika tidak aku akan bertanya lagi.”

Oh, begitukah? Berarti dapat kusimpulkan jika Luhan mengetahui apa yang telah aku lakukan. Mungkin saja pria ini tak ingin memojokkanku karena telah tertangkap basah meciumnya, karena itu ia menyuruhku keluar. Atau—karena dia benar-benar membenciku.

Tapi tak akan. Aku tidak akan menjadi pengecut lagi di saat Luhan yang mungkin sudah mengetahui perasaanku.

Kau harus mendengarnya kali ini, Luhan-ah…

“Kau tidak bertanya kenapa aku menciummu?” Aku mengumpulan keberanianku untuk bertanya demikian, meski suaraku jelas masih bergetar.

“Keluar!”

“Aku mencintaimu. Itulah kebenarannya, Luhan-ah.”

“Kau tidak dengar aku menyuruhmu keluar?!” bentaknya. Ia bangkit dari posisinya, matanya benar-benar tajam menusukku.

Aku mencoba tak peduli.

“Kau sering bertanya mengapa aku selalu ikut campur urusanmu, bukan? Inilah alasannya. Kau sudah mendapatkan jawaban yang tepat sekarang.”

“Aku bilang keluar!!”’

Aku tersenyum getir mendengar gertakan Luhan. Dia bahkan masih membenciku di saat aku rela menyingkirkan harga diriku dan mengatakan semuanya. Benar-benar Xi Luhan.

“Walaupun kau tidak ingin mendengar pengakuanku, tapi kau tidak dapat memungkiri jika gadis yang sangat kau benci ini justru sangat mencintaimu, Luhan. Kau takkan bisa..”

“Lantas mengapa jika kau mencintaiku? Kau berharap aku akan terharu dan menerima perasaanmu? Jangan bermimpi. Kau bahkan tak sebanding dengan Sohee.”

Aku tertohok. Berani dia membandingkanku dengan gadis tak berhati seperti Sohee?

Yak, Xi Luhan..”

“Keluar dari kamarku jika tidak ingin mendengar aku bicara lebih kasar lagi!”

“Apa yang kau lihat darinya, Luhan? Mengapa hanya dia yang kaupikirkan sementara ada gadis yang lain yang tulus mencintaimu di sini! Kenapa Xi Luhan? Beritahu aku sekarang!!” teriakku penuh emosi. Kuluapkan segala keresahan yang bersarang di hatiku selama ini. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.

Membandingkanku dengan Min Sohee? Cih! Yang benar saja!

“Kau akan lebih gila dari sekarang jika mengetahui jawabannya. Karena itu kuusulkan untuk keluar sebelum aku benar-benar memaksamu!”

Teganya kau Luhan. Tega sekali kau berkata seperti itu pada gadis yang rela melakukan apa saja untukmu…

Apa aku benar-benar tiada artinya di matamu, Luhan-ah?

“Katakan. Sesakit apa pun itu katakan, Luhan! Aku ingin tahu kelebihan apa yag dimiliki perempuan itu sehingga kau begitu tergila-gila padanya!”

“Kelebihan apa? Kaupikir orang sepertimu pantas berbicara begitu? Dia lebih segala-galanya darimu, Jessica Jung! Bahkan kau tak punya secuil kekuranganpun yang dimilikinya. Jadi tutup mulutmu dan jangan coba bertanya kelebihan apa yang dia miliki! Kau tidak akan bisa membayangkannya.”

Sakit. Sangat sakit ketika Luhan berkata seperti itu. Aku memang tidak ada apa-apanya dibandingkan Min Sohee. Dia lebih segala-galanya dariku seperti yang Luhan katakan. Tapi aku punya cinta, aku yakin cintaku jauh lebih besar dari cintanya.

Kau harus ingat itu Xi Luhan. Kau akan menyadarinya setelah nanti aku tak berada di sisimu lagi…..

\\

Pagi itu aku dibangunkan oleh ibuku yang sudah terduduk di tepi ranjang. Ia menatapku dalam dengan pandangan yang tak bisa kujelaskan.

“Kau sudah bangun, sayang?” sapanya. Aku mengangguk.

Eomma mengelus rambutku pelan. “Kau menangis semalaman. Eomma bahkan tak yakin kau tidur dengan tenang setelah suara tangismu tak kedengaran. Ada apa, sayang? Apa kau punya masalah?”

Aku tersenyum pahit mendengar pertanyaan Eomma. Jika saja ia tahu masalah yang sebernarnya, mungkinkah Eomma akan tetap berbicara selembut ini padaku?

Aku menggenggam erat tangannya. “Aku merindukan Appa, karena itulah aku menangis, Eomma,” jawabku dengan suara serak.

Yah, walaupun aku tahu Eomma takkan mempercayainya.

“Kemampuan berbohongmu semakin meningkat, Sica-ya. Tapi apa kau lupa siapa yang sedang kau bohongi sekarang? Aku terlalu mengenal putriku, kau tidak akan bisa membohongiku.”

Benar. Aku takkan pernah bisa berdalih pada Eomma. Hanya Eomma yang mengenalku dengan sebaik-baiknya. Tapi untuk kali ini, aku tidak ingin membagi masalahku pada siapa pun. Aku benar-benar ingin sendiri.

“Aku tidak akan memaksa Eomma menpercayaiku. Tapi sungguh, aku bisa melewatinya Eomma.”

Eomma menghela napas beratnya, lalu menyentuh tengkukku. “Baiklah, jika kau sudah lelah dengan semuanya, katakan pada Eomma. Kita akan selesaikan bersama-sama.”

Uhm. Pasti Eomma..”

Eomma tersenyum, kemudian keluar dari kamarku.

Maafkan aku Eomma. Aku benar-benar minta maaf. Mungkin sampai akhir khayatku masalah ini akan aku selesaikan seorang diri tanpa bantuan siapa pun.

\\

“Kau sudah selesai, Sica-ya?”

Aku mendongak kala sahabat baikku Yoona menghampiri mejaku. Gadis cantik itu tersenyum ramah seraya melirik hasil karyaku yang hampir selesai.

“Wow! Lukisanmu bagus sekali!” pujinya dengan nada sedikit heboh. Aku hanya tersenyum tipis, terlalu malas untuk bicara.

“Tapi apa maksud lukisan ini? Seorang gadis yang terdiam di pohon, kemudian sepasang kekasih yang sedang bergandengan. Hei, ini cerita cinta segi tiga?” tanyanya keheranan.

Cinta segi tiga? Mungkin saja, atau memang itulah kenyataannya. Karena kisah lukisan ini tiba-tiba hinggap di pikiranku setelah mengingat kembali betapa cabiknya kisahku yang hadir diantara Luhan dan Sohee.

“Kenapa kau membuatnya dengan tema ini, Sica-ya?” tanya Yoona. Wajahnya menunjukkan rasa penasaran.

“Karena… “ Aku menatapnya ragu. “ Karena, aku ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan.”

Apa?”  Yoona tampak kebingungan.

Aku tersenyum hambar. “Lupakan saja. Ayo kita keluar, aku sudah lapar,” kataku sambil menarik tangan Yoona.

Saat kami hendak berjalan ke kantin, tak sengaja aku melihat Sohee dan entah siapa laki-laki itu sedang bersuap-suapan di kantin. Aku mendelik tak percaya, dan mencoba bersikap biasa. Tapi yang membutku kembali tercekat dengan ada nya Luhan di meja lain—yang tampak terluka dengan apa yang gadis itu lakukan.

“Sohee sudah dekat dengan Suho lagi sekarang. Padahal baru kemarin dia putus dengan Luhan. Gadis itu benar-benar pintar mencari pasangan,” komentar Yoona yang berada di sampingku.

Aku menghela napas panjang. Ingin rasanya aku ke sana dan menarik Luhan untuk menjauh dari tempat itu, namun kuurungkan. Aku sudah bertekat untuk tidak mencampuri urusan Luhan lagi sampai ia menyadari arti hadirku. Tapi tak sengaja pandanganku bertemu dengan Luhan. Ia menatapku tanpa ekspresi, kemudian berlalu begitu saja. Ekor mataku hanya bisa megikuti langkah kakinya yang kian menjauh. Ingin aku berlari ke sana dan mengatakan pada Luhan untuk jangan terluka, dan berhenti menangisi perempuan itu. Tapi aku tetap diam..

“Sica-ya, kenapa diam saja? Ayo!”

Ahh.. ya.

\\

Seminggu telah berlalu dari kejadian itu. Selama itu pula aku tak bertemu lagi dengan Luhan. Jelas sekali, pria itu pasti menghindariku. Ia bahkan tinggal di rumah temannya hanya untuk menjauh dariku.

Apa kehadiranku benar-benar mengganggumu, Luhan-ah? Seperti yang Sohee katakan.

“Xi Luhan!”

Akhirnya aku menemukan Luhan lagi setelah lama tak melihatnya. Tapi keadaannya benar-benar kacau saat ini. Dengan aksen mabuk ia berjalan luntang-lanting sambil sesekali menubruk orang lain yang sudah mengumpat kesal padanya. Bahkan beberapa luka memenuhi sekujur tubuhnya.

Apa yang terjadi padamu, Luhan?

Apa ini karena dia lagi?

“Luhan-ah… Kau baik-baik saja?” Aku masih bertanya meski sudah tahu Luhan tidak sedang baik-baik saja.

Bau alcohol menyengat penciumanku. Luhan terjatuh di pelukanku. Dan aku dapat melihat luka itu dari bening matanya. Luka seperti yang kurasakan karena mencintainya.

“Bangunlah, kau membuat semua orang marah, Luhan-ah..” desisku dengan suara hampir punah. Air mataku terjatuh, tak sanggup melihat Luhan-ku menjadi seperti ini karena dia.

Tiba-tiba Luhan menggenggam kedua tanganku dan menatapku dengan mata pedihnya. Mata yang aku tahu memancarkan luka yang sangat dalam. Mata yang mati-matian menahan air bening itu.

“Sohee-ah.. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku akan menyuruhnya pergi sejauh mungkin, tapi kembalilah padaku… Kumohon..”

Oh Tuhan.. aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, ketika Luhan sendiri berkata begitu di alam  bawah sadarnya. Dia menyuruhku pergi dan meminta Sohee untuk kembali.

Kata sakit tak akan cukup untuk menggambarkan betapa hancurnya perasaanku saat ini. Terlalu sakit sampai aku tak tahu lagi bagaimana cara menyembuhkannya.

Tapi, aku menyadari saat ini..

Luhan mencintai Sohee… seperti besarnya cintaku padanya..

Luhan membutuhkan Sohee… seperti aku yang tak bisa hidup tanpanya..

Jika itu yang bisa membuatmu bahagia.. aku akan pergi Luhan, tanpa kau minta sekalipun…

\\

Eomma..”

Aku memeluk Eomma dari belakang yang sedang sibuk memasak di dapur. Aku merasakan betapa hangatnya tubuh orang yang paling kucintai di dunia ini, selain Luhan dan almarhum ayahku tentunya.

“Ada apa, sayang? Eomma sedang menyiapkan makanan kesukaanmu.”

Aku tersenyum tipis mendengar ucapan Eomma. Ternyata wanita yang hampir berkepala 3 ini sedang membuatkan Bimbipap kesukaanku.

“Tidak usah repot-repot. Mungkin aku tidak akan pulang malam ini,” jawabku.

Eoh? memangnya kau kan ke mana?” tanya Eomma bingung

Aku tersenyum getir, kemudian mengeratkan pelukanku. “Aku pergi untuk menenangkan diri, Eomma. Terlalu banyak pikiran yang menggangguku beberapa hari ini.”

Eomma berbalik, dan pandangan kami bertemu. “Kau belum mau berbagi masalahmu pada Eomma?”

Aku menggeleng. “Aku sudah punya solusinya, karena itulah aku pergi sebentar untuk mengakhiri semuanya,” jawabku sambil tersenyum sekilas.

“Syukurlah. Eomma tahu kau adalah gadis yang pintar, sayang..” kata Eomma sambil muncubit pipiku pelan.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum tipis dan kembali memeluknya.

Eomma..”

Hmm..”

“Apakah Eomma masih mengenang Appa walaupun Eomma sudah menikah dengan Tuan Xi?”

“Tentu saja, sayang. Appa-mu punya tempat tersendiri di hati Eomma..”

“Benarkah? Kalau begitu, apa Eomma juga akan mengenangku setelah aku tiada?”

Eomma tampak terkejut dengan pertanyaanku, namun kubiarkan begitu saja.

“Kau ini bicara apa? Kau tidak akan ke mana-mana karena Eomma tidak akan mebiarkanmu pergi ke manapun.”

Yah, tentu saja. Aku tak akan ke mana-mana, Eomma. Aku hanya pergi sebentar, kemudian kembali dengan sosok diriku yang baru…

“Aku mencintaimu, Eomma. Sangat mencintaimu.”

\\

“Kenapa kau tak memberikannya sendiri saja, Sica-ya? Bukankah Luhan adikmu?”

“Kau tahu sendiri, Yoong. Luhan tidak begitu dekat lagi denganku setelah orang tua kami menikah. Jadi kumohon, tolong berikan lukisan ini padanya, eoh?”

Yoona tampak berpikir sejenak, namun kemudian mengangguk antusias. “ Baiklah, kurasa bukan tugas yang berat.”

Aku tersenyum senang. “Gomawo, Yoona-ya. Kau memang yang terbaik,” ungkapku tulus sambil memeluk tubuhnya.

Eishh.. Kau membuat telingaku naik, Nona Jung..” gumamnya.

Kemudian kami tertawa bersama—Yang mungkin untuk terakhir kalinya.

Dan disinilah aku sekarang. Di atas jembatan dengan puluhan kenderaan yang berlalu lalang di sekitarku. Aku menatap langit dengan hati bergemuruh memanggil nama itu… nama yang telah bernaung di dalam hatiku selama ini..

Luhan…

Luhan…

Dan Xi Luhan..

Aku mencintai Luhan. Sangat..

Andaikan dia mengerti perasaanku. Andaikan dia bisa memahami cintaku tidak akan pernah membuatnya terluka.

Jika saja kau memilihku Luhan-ah.. mungkin kisah kita tak akan berakhir seperti ini.
_

“Kau yakin akan pergi?” tanya gadis itu—Min Sohee.

Aku menarik napas panjang, pandanganku menelusuri setiap sudut cafe yang kami tempati, dadaku sesak, namun kemudian mengangguk dengan pasti.  “Ya. Dan kau sudah berjanji bukan? Akan berhenti menyakiti Luhan jika aku menghilang dari sisinya?”

“Tentu saja. Karena kau tak berada di sisinya aku dapat berpikir jernih kembali. Tapi, ke mana kau akan pergi? Sejauh mungkin kalau kau bisa. Kuharap Luhan takkan pernah menemukanmu lagi.”

“Tenang saja. Demi Luhan aku akan pergi kemana pun, bahkan ke tempat yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Tapi ingat! Jika sampai kau mengingkari janjimu, aku akan kembali, Min Sohee. Tapi bukan seperti Jessica Jung yang lemah seperti yang kau tahu saat ini.”

“Memangnya seperti apa jika kau kembali?”

“Kau akan takut jika mendengarkannya sekarang. Karena itu berhati-hatilah dengan janjimu. Dan satu lagi, jika Luhan menanyakanku—katakan saja aku sudah menuruti keinginannya.”

“Apa maksudmu? Kau berharap Luhan menanyakanmu?”

Benar. Luhan tidak akan peduli kemana pun aku pergi. Tapi bolehkah aku berharap dia menanyakan tentangku untuk kali ini saja?

“Dan juga katakan padanya, belajarlah menerima kehadiran ibuku. Eomma wanita yang sangat baik, dia tidak akan menyesal mempunyai ibu tiri sebaik Eomma-ku”

“Akan kuusahakan untuk mebujuknya.”

Yah, setidaknya itulah yang dapat gadis ini lakukan supaya aku memiliki alasan untuk sedikit menyukainya.

Aku tahu, mungkin keputusan ini bukanlah hal terbaik yang bisa kuambil. Dan mungkin aku akan menyesalinya suatu hari nanti. Tapi meski begitu, aku tak punya cara lain untuk melihatnya kembali tersenyum. Aku hanya ingin ia kembali menjadi Luhan-ku yang dulu. Luhan yang hangat dan selalu tersenyum padaku. Dan aku berharap, kepergianku dapat menyisakan sedikit namaku di dalam hatinya.

Sedikit saja Luhan-ah.. setidaknya kau tidak akan lupa bahwa ada gadis bernama Jessica Jung yang sangat mencintaimu di dunia ini.

“Nona! Apa yang kaulakukan! Di sana berbahaya!”

“Nona turunlah! Kau bisa terjatuh ke sungai!”

“Nona! Jangan begerak berhenti di sana!”

“Astaga! Seseorang telonglah! Nona itu akan bunuh diri!”

Aku menutup rapat-rapat mata hati dan telingaku. Mencoba menghalau berbagai rasa takut dan teriakan dari mereka yang mungkin mengkhawatirkanku. Kebahagiaan Luhan lebih berharga dari apa pun, termasuk nyawaku sendiri. Mati bukan masalah asalkan senyuman itu dapat kulihat kembali walau dari tempat yang terlampau jauh sekalipun.

“Aku mencintaimu, Luhan-ah.. hanya satu keinginanku.. Berbahagialah.…”

Kini dapat kurasakan dinginnya air sungai Han menusuk kedalam pori-pori kulitku, menyisakan rasa sesak di tenggorokanku. Pertahanan napasku mulai berkurang sedikit-demi sedikit, sampai akhirnya aku menyadari urusan duniaku telah selesai.

Kini, aku dapat pergi dengan tenang, dan mencintaimu dari jauh Xi Luhan.

END

Hai.. hai.. I’m back! Hihi..😄

Oke, saya tau ini ff gaje dan terlalu memaksa kayanya, ga ada moment2 romantisnya. Dan maafin juga kalo alur ceritanya tidak seperti yang kalian harapkan. FF ini sebenarnya terinspirasi dari lagunya ‘Terry—Harusnya kau pilih aku” Pada tahu kan lagunya? Nah, dari dari sanalah ide ff ini berasal..

Meskipun absurd, meskipun gaje, ga dapat feel nya, typo bertebaran, harus tetep RCL ya..😉 /author maksa/  ga ada alasan, pokoknya kalo udah baca, harus tinggalin jejak! okeh? Okeh?😀

Ya udah deh, tengkyu udah mau baca ff abal2 ini ya^^

Pai pai❤

 

38 thoughts on “Should You Choose Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s