That Promise

141008-snsd-jessica-soupc3

Yura Lin presents:

That Promise

Genre:

Angst – Domestic!AU

Length:

Oneshot

Cast:

Jessica Jung – TVXQ Changmin

 

 

That promise we made

To be together forever

No longer exist

(Ikon – Apology)

+

 

Dia bukan seseorang yang biasa beruntung di hal percintaan. Dia sudah merasakan berbagai macam perpisahan. Dari cara paling sederhana sampai cara paling mengenaskan. Tidak, dia belum pernah merasakan orang yang ia cintai meninggal di pangkuannya tapi sudah pernah merasakan bagaimana dia dikhianati oleh sepupunya. Sangat menyakitkan.

Akan tetapi semua keresahan yang disebabkan oleh puluhan perpisahan itu hilang seketika ketika dia resmi menerima tangan Jessica dari tuan Jung dan mengucapkan janji bersama. Senyuman di wajah wanita itu saat mengucapkan janji terlihat begitu indah. Changmin tidak bisa menahan diri untuk tidak meremas tangan kekasihnya dengan senyuman lebar. Semua orang bersorak melihat sepasang pengantin baru itu berpelukan dengan senyuman puas di wajah masing-masing.

Di pesta pada malam hari, semua orang menari mengikuti lagu yang diputar tapi Changmin dan Jessica duduk di kursi mereka sambil mengatur napas setelah dipaksa menari beberapa kali dan dengan berbagai tamu. Akan tetapi senyuman lebar tak pernah pudar.

“Sekarang, aku adalah suamimu,” kata Changmin untuk ketiga kalinya malam itu seakan dia masih belum mencernanya dengan baik.

Jessica tertawa. “Kau masih belum bisa mempercayainya?”

“Bagaimana bisa? Kita belum lama berkenalan dan sekarang status kita sudah menjadi suami-istri.”

Mereka baru berkenalan 9 bulan yang lalu. Yunho, sepupu Jessica dan teman kerja Changmin, yang memperkenalkan keduanya. Mereka tidak jatuh cinta pada pandangan pertama tapi setelah beberapa Yunho membuat mereka pergi berkencan, akhirnya Changmin yakin dia ingin bersama Jessica. Jessica tidak langsung menerimanya. Dia malah seakan menakuti Changmin.

“Jika kau benar-benar ingin memiliki hubungan eksklusif denganku, mengapa kau tidak langsung melamarku saja? Jika kau berani, aku berjanji tidak akan menolak. Jika tidak,” Jessica mengangkat bahunya dengan wajah mengejek. “aku akan mencari pria lain.”

Setelah kegalauan selama seminggu, akhirnya Changmin mengajak kedua orangtuanya datang ke rumah Jessica dan melamarnya. Benar saja, wanita itu langsung menerimanya ketika orangtuanya memberikannya kesempatan untuk memberikan pendapatnya.

“Aku menerimanya.”

Begitu singkat tapi berkesan dalam bagi Changmin. Dengan menghabiskan waktu bersama dalam proses persiapan pernikahan, Changmin pun sadar dia melakukan hal yang benar.

“Aku bersyukur kau benar-benar menerimaku,” gumam Changmin, hampir tenggelam oleh musik di ruangan itu.

“Mengapa?” bingung Jessica, senyuman mulai pudar dengan rasa bingung. “Aku sudah berjanji.”

Senyuman Changmin ikut pudar. “Kau menerimaku karena kau sudah berjanji?”

“Kau kecewa mendengarnya?”

“Tentu saja. Itu terdengar seakan kau menikahiku karena kau mengasihaniku.”

Jessica tersenyum jahil. “Aku berjanji untuk menerima lamaranmu tapi aku tidak berjanji untuk menikahimu. Jika aku tidak mencintaimu, aku akan kabur sehari sebelum pernikahan kita. Ya, aku sejahat itu.”

Changmin tertegun sejenak lalu menghela napas untuk kedua kalinya sambil menggelengkan kepala. Hanya saja, kini bibirnya kembali tak bisa berhenti tersenyum.

“Bagaimana jika kau hanya mencintaiku sampai malam ini?”

Jessica berpikir sejenak. “Aku akan memakai rencana awalku. Aku akan meninggalmu saat aku tak lagi mencintaimu.”

“Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanmu!” tegas Changmin.

“Kalau begitu, pastikan aku akan selalu mencintaimu sehingga kita akan tetap bersama selamanya.”

“Bersama selamanya.” Changmin menyukai bagaimana lidahnya bergerak untuk mengucapkan kalimat itu. “Ya, aku pastikan kita akan bersama selamanya.”

 

+

 

Changmin tertegun melihat isi kotak hadiah dari istrinya di malam ulang tahun pernikahan ke-3. Sepasang anting dengan batu sapphire yang menjadi hadiahnya untuk Jessica bukanlah apa-apa dibandingan dengan benda kotak dengan tanda plus di tengahnya.

“Ini benar-benar milikmu?”

Suara Changmin bahkan tidak sadar suaranya bergetar seperti tangannya. Matanya terfokus pada senyuman di wajah istrinya.

Jessica memutar matanya. “Aku tidak akan mencuri benda itu dari siapa orang. Ew, menjijikan. Jangankan memegangnya, melihatnya saja aku tidak mau jika itu adalah milik orang lain.”

Changmin tertawa mendengar balasan sarkastik istri. Dia memeluk istrinya dan memutarnya sambil berteriak senang. Telinganya seakan tuli walaupun istrinya berteriak meminta untuk diturunkan. Dengan ancaman tidur di luar baru lah Changmin menurunkannya dan mulai memandikan wajahnya dengan ciuman.

 

+

 

 

“Ya ampun, kakakmu tampan sekali! Andaikan aku belum menikah, aku pasti akan mengejarnya,” seru Jessica sambil memperhatikan foto di handphone Taeyeon.

Taeyeon sengaja datang ke rumah mereka sekembalinya dari liburan di kampung halaman dengan membawa hadiah untuk kehamilan Jessica yang sudah menginjak 3 bulan. Pasangan itu bersyukur trimester pertama hampir berakhir dengan morning sickness yang mulai membaik. Changmin senang menyentuh perut istrinya dan merasakan bagian yang mulai membuncit sambil membicarakan banyak hal.

Temannya itu tertawa. “Hei, bagaimana kau bisa mengatakannya tepat di samping suamimu?”

Changmin mengacak rambut Jessica sambil ikut tertawa. “Dia memang selalu melakukan itu agar aku cemburu.”

“Untuk apa aku melakukannya? Kakaknya Taeyeon memang tampan,” gerutu Jessica pelan.

Ibu hamil itu menggeretu dalam hati karena suami tahu rencananya. Dia selalu berusaha membuat suaminya cemburu tapi selalu gagal. Changmin akan mengelus kepalanya, memeluknya atau menciumnya setiap dia memuji pria lain. Dia mempunyai banyak rencana jika suaminya cemburu tapi tak bisa dilakukan karena Changmin tidak bisa dibuat cemburu.

“Kau bisa mendapatkannya jika kau menceraikan Changmin,” kata Taeyeon dengan wajah serius lalu menyengir lebar saat matanya beradu dengan Changmin.

Jessica mengangguk. “Aku akan menceraikannya setelah aku melahirkan nanti. Katakan itu pada kakakmu.”

“Kau tidak bisa melakukannya,” timpal Changmin.

“Mengapa tidak bisa?”

Changmin mencubit pipi Jessica yang mulai berisi karena selama 3 bulan ini, wanita itu melahap hampir semua hal walaupun berakhir dengan memuntahkan sebagian dari makanan itu. Tidak hanya pipi, bagian tubuh lainnya pun memperlihatkan perubahan. Akan tetapi pertambahan volume itu membuat istrinya semakin cantik di matanya. Kecuali pembengkakan di beberapa bagian yang sepertinya tidak lazim tapi dokter hanya berpesan untuk mengurangi konsumsi garam.

“Karena aku sudah membuatmu mencintaiku selamanya sehingga kau tidak akan bisa meninggalkanku, nyonya Shim,” bisik Changmin lalu tersenyum melihat pipi istrinya memerah.

Taeyeon menatap mereka penuh curiga karena dia tidak bisa mendengar apa yang pasangan itu bicarakan di depannya.

 

+

 

Pipi Jessica basah dengan air mata dan membuat Changmin menjadi panik. Masalahnya adalah tidak ada lagi gaun dan high heels yang bisa dipakai olehnya. Gaun yang biasa paling longgar pun resletingnya tak bisa digerakkan. Kakinya pun sakit memakai sepatu-sepatu heels tinggi.

“Kita bisa pergi membeli gaun dengan ukuran lebih besar sekarang?” usul Changmin. “Dan kau bisa memakai flat shoes. Aku selalu cemas jika kau pakai high heels. Bagaimana jika tiba-tiba heelsmu patah dan—“

“Maksudmu, tubuhku besar dan berat sekarang?” kesal Jessica.

Changmin menggeleng cepat melihat amarah di mata istrinya. Dia tidak berani mengatakan apapun.

“Kau sendiri yang bilang aku harus membeli gaun baru karena tubuhku sudah terlalu besar! Aku juga bisa mematahkan sepatu karena berat badanku!”

Itulah yang Changmin pikirkan tapi bukan untuk merendahkan Jessica, apalagi menghancurkan kepercayadiriannya.

“Sica, maksudku—“

“Sekarang kau mau mengelak?!”

Changmin memeluk istrinya dan mengelus punggungnya lembut. Cara ini akan selalu berhasil untuk menenangkan Jessica walaupun awalnya istrinya akan memberontak. Dia menghapus air mata ibu dari calon anaknya itu sambil tersenyum tipis.

“Kita harus mencari gaun yang nyaman kau pakai dan tidak membuat anak kita sesak. Kita juga harus mencari sepatu yang aman kau gunakan. Bagaimana?” Changmin mencoba menjelaskannya dengan kata-kata yang lebih baik kali ini.

“Tapi pestanya—“

“Yunho tidak meminta kita datang dari awal. Dia pasti memakluminya,” sela Changmin, tangannya memijat tengkuk Jessica agar istrinya bisa relax. “Kita harus berangkat sekarang untuk mengejar waktu.”

Jessica akhirnya mengangguk dengan senyuman di wajahnya. Ini lah yang dipelajari Changmin selama ini, kesabaran untuk menghadapi segala tingkah aneh istrinya selama mengandung anak pertama mereka. Memang berat, tapi dia sudah mempunyai banyak cara untuk memperbaiki keadaan.

Mereka berhasil sampai di pesta ulang tahun 2 tahun anak pertama Yunho sekaligus merayakan kehamilan kedua istrinya, Go Ara, dengan gaun khusus ibu hamil dan tanpa sepatu karena Jessica tiba-tiba tidak ingin kakinya memakai apapun.

Sesampainya di rumah, Jessica mengeluhkan telapak kakinya yang kotor.

 

+

 

Changmin duduk lemas di samping kasur tempat Jessica terlentang tak sadarkan diri. Mereka sedang di rumah orangtua Changmin ketika Jessica merasakan sesuatu di perutnya. Setelah proses melahirkan yang cukup menegangkan, dokter menyatakan Jessica koma dan bayinya keracunan air ketuban dan sedang dalam perawatan.

Dari sejak memasuki minggu ke 35, pembengkakan di tubuh Jessica semakin terlihat normal. Bengkak-bengkak itu cukup mengganggu. Belum lagi istriny terus-menerus mengeluh tentang rasa pusing yang menyerangnya. Sempat di kehamilan minggu ke 30, Jessica jatuh pingsan. Dari semua tanda itu, dokter hanya berpesan untuk mengelola konsumsi makanan lebih dan perbanyak istirahat.

Changmin tidak habis pikir, mengapa dokter kandungan yang biasa didatangi oleh Jessica tidak bisa melihat bahwa eklamsia lah yang menyebabkan ini semua? Tanda sebanyak itu tak sanggup membuka mata sang dokter dan Changmin tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya. Dokter itu harus bersyukur karena Jessica terpaksa dibawa ke rumah terdekat dari rumah orangtuanya karena kondisinya yang sudah terlalu parah.

“Hei.”

Changmin menoleh panggilan ibunya. Dia masih tak bisa tersenyum walaupun anaknya berada di tangan ibunya sekarang. Setelah mendengar penjelasan dokter tadi, dia tidak bisa merasakan apapun terhadap anaknya yang sudah meracuni istrinya selama di dalam kandungan.

“Seharusnya dia berada di kamar bayi,” kata Changmin pelan.

Ibunya tersenyum. “Suster memperbolehkanku membawanya bertemu dengan ibunya. Anakmu ini sangat mungil, hanya 2,2 kg tapi perutnya sangat besar. Dia minum susu lebih banyak dari bayi biasanya. Dia benar-benar anakmu,” nyonya Shim mengakhirnya dengan candaan.

Changmin hanya diam. Matanya kembali fokus pada wajah istrinya.

“Kau harus istirahat, Changmin-ah. Biarkan ayahmu yang menjaganya. Kau butuh energi untuk mencari nama untuk anakmu,” nyonya Shim masih berusaha menyisip sedikit candaan untuk membuat anaknya sedikit tenang tapi semua itu tidak berhasil. “Aku serius,” tambahnya tegas.

“Aku ingin berada di sampingnya saat dia sadar,” balas Changmin pelan.

Ibunya mengangguk. Dia meletakkan bayi yang baru berumur 3 jam itu telungkup di dada Jessica. Changmin segera menatap ibunya protes.

“Akan lebih baik jika bayi tidur di dada ibunya,” kata nyonya Shim lalu berbalik badan dan keluar dari ruangan.

Changmin berpikir bayinya benar-benar tidur. Namun bayi itu berusaha mengangkat kepala seakan berharap seseorang akan mengangkatnya. Seakan dia mengerti ayahnya tidak akan melakukan apapun, dia berhenti berusaha mengangkat kepalanya dan meremas pakaian ibunya. Suara rengekan pun terdengar pelan.

Changmin mengerjap melihatnya. Tangan Jessica bergerak dan berusaha meremas udara, kecepatan geraknya menyamai bayi di dadanya. Air mata Changmin mengalir melihatnya. Dia menekan tombol dokter berkali-kali lalu mengangkat bayinya dan memeluknya begitu seorang suster datang. Dia diminta untuk sedikit menjauh ketika dokter datang dan mengecek keadaan istrinya.

“Tangannya bergerak! Tangannya bergerak! Tangannya bergerak!” teriak Changmin.

Dokter kembali mengecek Jessica saat dia tidak menemukan tanda pasiennya akan sadar. “Apa yang terjadi saat tangannya bergerak?” tanya dokter.

Changmin terdiam dan sadar dia menggendong anaknya walaupun dia sudah berjanji untuk tidak menyentuhnya sebelum seseorang memastikan Jessica akan baik-baik saja. Bayi itu meremas pakaiannya kuat-kuat.

“Bayi ini… menangis di dadanya,” jawab Changmin pelan.

“Oh?” Dokter Han mengangguk. “Ikatan ibu dan anak. Cobalah dekatkan anakmu dengan ibunya sesering mungkin. Mungkin akan terjadi peningkatan.”

Semenit kemudian, Changmin kembali ditinggal bertiga dengan istri dan anaknya. Dia bisa mendengar suara panik ibunya menanyai dokter apa yang terjadi. Dia kembali menidurkan anaknya di atas dada Jessica. Kini bayinya tak lagi mencoba mengangkat kepalanya. Dia terlihat tenang dan tak lama, tertidur begitu saja.

 

+

 

Hanya 1,5 jam keheningan berlangsung, bayi tanpa nama itu menangis kencang sambil meremas pakaian ibunya. Seperti sebelumnya, tangan Jessica mulai meremas udara. Changmin membiarkan hal itu terjadi. Bahkan ibu dan ayahnya masuk ke dalam ruang ICU untuk mengambil bayi tetapi Changmin melarangnya. Dia ingin melihat apa yang akan terjadi jika dia membiarkan bayinya menangis.

Sekitar 2 menit kemudian, air mata mengalir dari mata Jessica. Tangan meremas dengan gerakan gelisah. Changmin mendekat dan menggenggam kedua tangan istrinya yang tetap meremas udara. Dia memindahkan kedua tangan Jessica agar kedua tangan itu dapat menyentuh bayi mereka. Tangan Jessica berhenti bergerak seketika bersamaan dengan berhentinya tangisan sang bayi.

Changmin menatap wajah istrinya penuh harap. Terlihat bola matanya bergerak di balik kelopak mata itu sebelum akhirnya terbuka. Changmin terlalu tercengang melihatnya. Istrinya seperti membisikkan sesuatu tapi tak bisa ia dengar. Dengan senyuman lebar yang mengingatkan ia akan malam pernikahan mereka, Jessica kembali menutup matanya dan suara nyaring dari mesin elektrokardiogram pun terdengar.

Kejadian setelah itu, Changmin tidak tahu pasti. Terlalu banyak orang di ruangan itu dan mereka semua bergerak cepat. Ibunya mengambil bayinya dan membawanya keluar ruangan sedangkan ayahnya menariknya menjauh dari Jessica. Tubuhnya mati rasa. Dia tidak bisa mendengar jelas apa yang terjadi. Semua terasa bagaikan mimpi.

Namun ini adalah kenyataan. 15.47 adalah waktu saat Jessica Jung resmi meninggalkannya.

 

+

 

Mengapa kau meninggalkanku?

Apa kau tak lagi mencintaiku?

 

Changmin berdiri di samping kuburan dengan batu nisan bertuliskan nama istrinya. Sudah hampir 3 jam, dia berdiri di sini tanpa melakukan apapun. Dia tidak ingin pulang ke rumahnya dan melihat para pelayat menyantap makanan yang disediakan sambil berbagi cerita yang bukan tentang istrinya. Dia tidak mau kembali ke rumah yang dipenuhi oleh orang-orang asing.

Bahkan sampai sekarang, dia masih merasa bahwa semua ini hanyalah mimpi dan tak seorang pun ingin membangunkannya. Tidak ada satu pun yang terasa nyata saat ini. Dia bahkan masih bisa melihat senyumannya, mendengar suaranya, dan merasakan pelukannya. Tak ada satu pun yang membuatnya percaya istrinya telah meninggalkannya, kecuali bayi itu.

Bayi yang sudah berumur 2 hari itu belum mempunyai nama dan dia tidak berniat untuk memberikan nama sama sekali. Dia tidak mau peduli. Dia tidak akan peduli.

Beberapa berikutnya, Changmin sibuk menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.

 

+

 

“Kau benar-benar sibuk ya?” tanya Krystal pelan.

Changmin mengangguk walaupun dia tahu Krystal tidak akan bisa melihatnya. “Aku mempunyai rapat penting besok dan harus ke Jeju di sore harinya.”

“Tidak bisa mencuri waktu sedikit saja? Dia hanya perlu melihatmu 1 jam.”

Changmin menghela napas. “Tidak bisa.”

“45 menit?”

“Tidak bisa.”

“30 menit?”

“Tidak bisa.”

“Ayolah, 20 menit saja. Ya? Ya? Dia sangat merindukanmu. Dia terus-menerus memeluk boneka yang kau berikan untuk Sica eonni di ulang tahun ke-27 dan bertanya kapan kau akan datang. Ini adalah ulangtahun ketiganya dan, oh my god, you have to see how adorable she is now! Kau tidak pernah melihat ulangtahun pertama dan keduanya jadi kau harus datang di ulangtahun ketiganya. Okay?”

“Krys, kau dengar, ‘kan? Aku tidak bisa,” tegas Changmin sekali lagi.

Krystal tidak mengatakan apapun. Setelah beberapa detik dalam keheningan, Krystal menutup teleponnya.

 

+

 

Changmin terkejut melihat Krystal berada di depan pintu rumahnya dengan balita yang sudah berumur 3 tahun 5 bulan di tangannya. Setelah telepon undangan dari Krystal 5 bulan yang lalu, tak sekalipun Krystal menghubunginya lagi. Dia kira adik istrinya itu tidak akan mengganggunya lagi, tapi kehadirannya pagi ini berkata lain.

“Apa… yang kau lakukan di sini?” tanya Changmin pelan, berusaha menyembunyikan amarahnya agar tidak terlalu ketara di suaranya.

“Nahyun ingin bertemu denganmu,” jawab Krystal lalu tersenyum pada keponakannya. “Nahyun ingin bertemu appa?”

Balita itu tertawa sambil memeluk bonekanya erat. Changmin masih ingat hari ketika ia memberikan boneka itu kepada Jessica tapi ternyata istrinya tidak menyukai boneka sehingga boneka itu disimpan di rumah orangtuanya. Ketika dua bola mata bening itu menatapnya, Changmin seakan tercekat.

“Matanya seperti Sica eonni sekali, ‘kan?” seru Krystal, sangat bangga. “Matanya yang membuat dia terlihat sangat cantik.”

Tidak hanya mata itu adalah mata Jessica, mata itu menatapnya seakan balita itu tahu dia sedang berhadapan dengan ayahnya walaupun ini pertama kalinya mereka bertatap muka sejak dia meninggalkan anaknya yang masih berstatus bayi tanpa nama itu di tangan mertuanya.

Changmin menggeleng cepat. “Apa yang kau lakukan di sini? Aku tidak bisa menerima tamu sekarang. Aku memiliki banyak—“

“Eyy, hari ini adalah hari minggu dan 2 hari yang lalu adalah natal. Apapun pekerjaanmu, jika memang harus dibawa pulang, pasti sudah selesai. Jadi kita harus melakukan pergantian shift sekarang karena aku akan berburu pria tampan dan mapan untuk dinikahkan sebelum ibuku bawel membicarakan masa depanku. Jangan pertanyakan orangtuaku karena mereka sedang bersama para orangtua lainnya, mungkin membicarakan bagaimana jika mereka meninggal nanti. Deal? Deal!”

Krystal mendorong Nahyun ke tangannya, melambaikan tangan ke sang balita lalu berbalik badan untuk meninggalkan rumah tersebut. Ketika Krystal menutup pintu gerbang, Changmin menutup pintu depan dan menurunkan Nahyun di atas karpet ruang tamu, kemudian mengunci diri di kamar.

 

+

 

Changmin berlari keluar kamar saat mendengar suara barang pecah. Vas bunga di buffet samping televisi yang tidak pernah diisi apapun itu kini tak lagi berbentuk. Tak jauh dari pecahan vas itu, Nahyun duduk sambil memperhatikan darah yang mengalir dari kakinya.

“Astaga,” geram Changmin.

Dia mengangkat Nahyun, mengambil kunci mobil dan membawa balita itu ke rumah sakit terdekat. Rumah sakit menerimanya di UGD karena tidak ada dokter yang bekerja selain dokter yang menjaga UGD di hari libur.

Awalnya Nahyun masih tidak menangis. Dia hanya memperhatikan ayahnya selama perjalanan menuju rumah sakit. Namun ketika dokter menidurkan Nahyun di kasur, Nahyun menangis kencang. Suster berusaha menenangkannya selama dokter membersihkan lukanya. Melihat semua usaha suster gagal, Changmin pun mencoba keberuntungannya.

“Nahyun.” Seketika Nahyun menjadi sedikit tenang walaupun air mata tetap mengalir hanya dengan satu panggilan. “Anak pintar,” seru Changmin sambil mengelus kepala anaknya.

Setelah itu pun, balita itu berhenti membuat dokter kesulitan untuk mengobatinya. Matanya terfokus pada ayahnya walaupun Changmin melihat ke sekitar untuk menghindari pandangan mereka bertemu. Nahyun kembali menangis kencang saat Changmin ingin meninggalkannya untuk mengurus administrasi sehingga Changmin harus menggendongnya keluar.

Walaupun Nahyun tidak mengatakan apapun, dia bisa merasakan kesedihan anaknya. Balita itu berusaha melihat ke sekitar seakan mencari sesuatu dan semakin sedih karena dia tidak menemukan apa yang dia cari.

“Ada apa?” tanya Changmin akhirnya.

Nahyun menatap ayahnya dengan mata berair. “Bin.”

“Boneka?”

Nahyun mengangguk, wajahnya semakin terlihat memelas. Changmin pun ingat boneka itu masih bersamanya saat dia membawa Nahyun ke rumah sakit dan tak lagi berada di tangannya saat mereka berada di UGD.

“Kita akan mencarinya nanti.”

“Bin!”

“Kita—“

“Huaaaaaaaa!”

Changmin menjadi kelabakan karena Nahyun kembali menangis kencang. Ketika tangannya menyentuh belakang kepala anaknya, tangisan Nahyun langsung mengecil. Kini balita itu hanya terisak pelan di dadanya sambil meremas pakaiannya. Seketika dia teringat kenangan terakhir sebelum istrinya meninggal. Rasanya dia ingin menangis bersama anaknya sekarang.

 

+

 

Changmin sengaja berhenti di depan toko mainan di perjalanan pulang karena dia tidak tahu dimana boneka itu jatuh. Mata Nahyun berbinar melihat berbagai macam mainan di etalase toko. Changmin kembali menggendongnya karena dokter berpesan agar Nahyun tidak terlalu sering beraktivitas dengan kakinya.

Nahyun mengeluarkan suara aneh, suara yang berbeda-beda setiap mereka melewati mainan yang berbeda seakan dia sudah bisa membayangkan suara apa yang akan dikeluarkan mainan-mainan itu. Changmin tidak membiarkan Nahyun memilih mainannya sendiri. Dia mengambil asal salah satu mainan dan membawanya ke kasir. Akan tetapi sepertinya Nahyun tidak keberatan. Dia tetap memeluk robot tempurnya dengan penuh kasih walaupun matanya berbinar saat melihat boneka kelinci di dalam toko tadi.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Nahyun memainkan robot barunya sambil mengeluarkan suara aneh. Seketika Changmin merasa sedikit menyesal karena tidak membelikannya dua tapi dia segera menghapus perasaan itu.

 

+

 

Changmin tidak mengira dia akan kedatangan 3 tamu hari ini. Sesampainya di depan rumah, dia melihat Taeyeon turun dari taksi dan melambaikan tangan kepadanya. Wanita itu masuk ke dalam mobil tanpa menunggu kata-kata dari Changmin dan menghela napas lega karena suhu hangat di dalam mobil lalu bermain dengan Nahyun. Changmin membukakan gerbang dan memasukkan mobilnya ke dalam garasi lalu kembali keluar untuk menutup gerbang. Dia tahu Taeyeon pasti sudah membawa Nahyun ke dalam rumah.

Begitu dia masuk ke dalam rumah, dia melihat Taeyeon yang sedang membersihkan pecahan vas dan Nahyun bermain di atas sofa. Televisi menyala dan menampilkan kartun.

“Apa yang terjadi?” tanya Taeyeon.

“Tidak tahu.”

Taeyeon mengerutkan keningnya bingung tapi dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

“Mengapa kau di sini?” kini Changmin yang bertanya.

“Untuk bertemu dengan Nahyun. Aku dengar dari Krystal, dia berada di sini. Aku merindukannya. Terakhir bertemu adalah saat… ulang tahun ketiganya jika aku tidak salah dan aku tidak melihatmu di sana.”

Changmin membalasnya dengan gumaman lalu masuk ke dalam kamarnya, kini tak ia kunci tapi tetap ditutup rapat. Dia bisa mendengar suara Taeyeon dan Nahyun bernyanyi lagu pembuka sebuah kartun dari dalam kamarnya.

Sejam kemudian, Taeyeon membuka pintu kamarnya dan meletakkan Nahyun di atas kasur dengan pesan untuk mengawasi Nahyun selama dia menyiapkan makan siang. Lagi-lagi Changmin hanya membalasnya dengan gumaman sambil meneruskan membaca buku.

Tiba-tiba suara aneh dari mulut Nahyun berhenti lalu terasa tekanan di kaki kirinya. Nahyun dalam posisi merangkak dengan kedua tangan di atas kaki kirinya dan matanya menatap buku yang sedang ia baca dengan penuh rasa penasaran. Changmin menghela napas dan menariknya duduk di sampingnya dan memperlihatkan buku yang berisi deretan huruf tanpa satu gambar pun itu tapi Nahyun tetap menatapnya dengan antusias tinggi, mengingatkan Changmin pada kegemaran Jessica dalam membaca berbagai macam buku.

 

+

 

Taeyeon menyesap tehnya lalu menghela napas puas. Di sampingnya Changmin yang dipaksa untuk duduk di ruang tamu untuk menonton berita sore bersama. Di sofa untuk dua orang, Nahyun tidur sambil memeluk robot tempurnya.

“Kau yang membelikan robot jelek itu?” tanya Taeyeon.

Changmin mengangguk.

“Memang ada apa dengan Bin?”

Sepertinya semua orang tahu siapa itu Bin jauh sebelum hari ini selainnya dirinya. Changmin menghela napas. “Jatuh di rumah sakit dan gagal menemukannya.”

“Kau bisa menggantinya dengan boneka lain, ‘kan? Robot jelek itu- heol, sangat menunjukkan betapa kau menyayangi anakmu sendiri,” cibir Taeyeon.

Changmin mendengus. “Dia menyukainya!”

“Dia menyukai semua barang darimu. Dia menyukai pakaian aneh yang kau berikan di ulangtahun pertamanya. Dia menyukai topi koboi yang kau kirimkan di ulangtahun keduanya. Dia menyukainya semuanya selalu kami mengatakan bahwa itu darimu.”

Changmin menggeram pelan. Dia tidak ingin mendengar semua ini lagi.

“Jessica pasti kecewa melihat kalian seperti ini,” desah Taeyeon.

“Dia pasti kecewa sudah melahirkan anak yang, pada akhirnya, malah membunuhnya,” balas Changmin.

Taeyeon menatap Changmin tak percaya. Dia meletakkan cangkir tehnya di atas meja dan menarik napas dalam-dalam untuk menahan diri agar tidak menaikkan volume suaranya saat Nahyun sedang tertidur pulas.

“Itu kah yang kau pikirkan sehingga kau membuang anakmu sendiri?” tanya Taeyeon kesal.

Changmin tidak membalas.

“Ya ampun, kau tahu aku tidak ingin menikah karena aku tidak ingin dikekang oleh suamiku dan Jessica malah mengatakan suamiku tidak mencintaiku jika dia mengekangku jadi aku harus mencari calon suami yang benar-benar mencintaiku dan mengerti jalan pikirku,” ujar Taeyeon, dari tatapannya terlihat jelas dia sedang mengenang momen-momen penting bersama wanita itu dulu.

Changmin mengerang pelan. “Apa hubungannya—“

“Dan aku masih berusaha memberikan alasan-alasan lain mengapa aku tidak seharusnya menikah. Salah satunya adalah mau tak mau, aku akan hamil dan untuk melahirkan, aku akan mempertaruhkan nyawaku sendiri. Kau tahu apa yang dia katanya?”

Changmin menelan air ludahnya.

“Satu-satunya yang ia takutkan setelah menikah denganmu adalah jika suatu hari dia berhenti mencintaimu. Dan jika dia harus mengorbankan nyawanya demi melahirkan anakmu, dia rela. Setidaknya dia telah meninggalkan seseorang yang akan menggantikan tugasnya untuk menemanimu dan mencintaimu.

“Awalnya kupikir, bullshit, mana mungkin seorang anak bisa menggantikannya? Akan tetapi melihat Nahyun, aku percaya. Dia hampir tidak pernah bertemu langsung denganmu selain hari ini tapi dia sangat hapal dengan wajahmu, dengan suaramu dan hanya karenamu, dia tertawa dan tersenyum seharian seperti Jessica dulu. Dia menyayangi apapun yang kami katakan itu adalah hadiah darimu walaupun kenyataannya bukan. Kau bahkan bisa bertanya mengapa dia memeluk robot jelek itu dan dia pasti akan menjawab karena itu adalah pemberian darimu.”

Mata Changmin mulai berair tapi dia segera memalingkan wajahnya sebelum Taeyeon menyadarinya.

 

+

 

Changmin kembali mengunci dirinya di kamar dan menunggu kedatangan Krystal untuk menjemput Nahyun. Taeyeon pun tak memaksanya untuk diam di ruang tamu setelah pembicaraan mereka tentang Jessica. Tiba-tiba Changmin kembali teringat kata-kata terakhir Jessica sampai sekarang tak bisa ia mengerti.

Ketukan di pintu menyadarkannya dari pikiran panjangnya. Taeyeon memberitahukannya bahwa Krystal sudah datang dan dia akan pulang bersama mereka. Walaupun enggan, Changmin tetap keluar dari kamarnya. Dia menghampiri Taeyeon yang sibuk memakai mantel tebalnya.

“Apa kau pintar dalam membaca mulut?” tanya Changmin.

Taeyeon menggaruk kepala. “Sedikit. Ada apa?”

“Kata apa yang kau pikirkan jika kau melihat ini.”

Changmin mencoba mengingatkan kembali bagaimana gerakan bibir Jessica walaupun dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

Taeyeon mengangkat bahunya. “Entahlah. Aku mencintaimu?”

Jika Taeyeon benar, Changmin merasa sangat menyesal karena dia tidak mengatakan apapun di detik-detik terakhirnya.

“Huo, kau siap mencari ibu baru untuk Nahyun?” seru Krystal dari pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu.

Taeyeon memutar matanya. “Jika aku ingin menikah, aku tidak akan memilihnya. Aku tidak ingin anakku berakhir seperti Nahyun.”

“Hei, hei, aku masih di sini,” protes Changmin.

Taeyeon membalasnya dengan memeletkan lidahnya kepada Changmin lalu menghampiri Nahyun yang masih setengah sadar karena baru saja bangun tapi tetap bahagia melihat tante kesayangannya berada di depan matanya. Changmin mengikuti dari belakang.

“Saatnya pulang! Kau merindukan kamarmu, ‘kan?” seru Krystal. Kamar yang dimaksud adalah kamar milik Jessica yang disulap menjadi kamar untuk anak kecil.

Wajah Nahyun seketika menunjukkan rasa kecewa. Dia menatap Changmin penuh harap tapi pria itu tidak mengerti apa yang diharapkan oleh balita berumur 3 tahun itu. Changmin melirik ke arah lain sambil menggaruk tengkuknya selama Krystal memakaikan Nahyun jaket putih bergambar Larva. Nahyun menyandarkan kepalanya di dada Krystal dan menangis sambil meremas mantel cokelat itu.

“Ada apa, Nahyunnie?” tanya Krystal bingung. Taeyeon mengelus punggung Nahyun tapi tidak berefek apapun.

“Nahyun,” panggil Changmin, seketika Nahyun berhenti menangis dan menatap ayahnya. Changmin menggendong balita itu dan memberikan robot tempur. “Jangan menangis. Robot ini akan selalu bersamamu.”

Nahyun mengerjap. “Bot?”

“Yap, Bot dariku.”

Nahyun tertawa senang. Tangan kirinya memeluk robot itu dan tangan kanan menggenggam pakaian Changmin. “Appa, Bot!”

Seketika dunia Changmin seakan berputar mendengar untuk pertama kalinya Nahyun memanggilnya appa. Air matanya mengalir saat kata terakhir Jessica terngiang jelas di telinganya.

“Dia mencintaimu, seperti aku mencintaimu.”

Changmin memeluk Nahyun erat sambil mengecup kepalanya. Balita itu masih mengeluarkan suara girangnya.

“Ya, Nahyun-ah. Bot.”

Pertama kalinya dia menyebut nama anaknya dengan penuh perasaan dan langsung jatuh cinta dengan bagaimana lidahnya mengucapkan nama itu.

 

+

 

“Aku merindukan Nahyun,” gumam nyonya Jung saat melihat iklan popok bayi di televisi.

“Aku juga,” balas Krystal sambil menyandarkan kepalanya di bahu ibunya.

“Bagaimana keadaannya sekarang?”

Wajah krystal seketika menjadi sumbringah karenanya. Dia mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan foto terakhir Nahyun sedang bermain di pantai bersama ayahnya. Foto keduanya tersenyum sangat lebar dengan robot tempur tetap di tangan.

“Changmin oppa membawanya ke Sidney dan bermain di pantai setelah rapatnya selesai,” seru Krystal.

Nyonya Jung menggeleng pelan. “Nahyun belum 4 tahun tapi sudah pergi ke berbagai kota bersamanya. Kasihan, ‘kan?”

“Biarkan saja. Dia pasti sedang berusaha membayar waktu yang terbuang begitu saja. Dia sedang memastikan untuk menaikkan jabatannya sehingga dia tidak perlu keluar kota lagi sebelum ulangtahun Nahyun ke-4 jadi dia bisa selalu bersama dengan anaknya.”

“Salahnya sendiri—“

Krystal mengibaskan tangannya. “Ssshhh, Eomma, dia sudah sadar bagaimana rasanya ketagihan bermain dengan Nahyun.”

Krystal menggelengkan kepalanya pelan. Bahkan dia tidak bisa tersenyum selebar Nahyun di foto itu. Keponakannya itu pasti sangat menikmati waktu berdua bersama ayahnya.

 

+

 

Ff pertama yang aku selesaikan dalam kegelapan. Serius. Aku ngerjain ini pas adikku tidur dan berhubung adikku ga suka tidur pake lampu jadi aku selesain ini dalam kegelapan jadi maaf kalo ada typo. Ini aku ngetiknya pake feeling saja lah dimana huruf yang dibutuhin itu berada :’)

Terinspirasi dari scene Jinhwan di Apology mv. Awalnya mau pake si om ganteng, minwoo shinhwa tapi changmin terus-menerus membisikiku, “Ingatlah LG couple. Ingat~ ingat~ hihihi” oke changmin horor.

14 thoughts on “That Promise

  1. awalnya sicaeon terkesan santai dan changmin adalah suami idaman yang benar” mencintai. sampe engga rela njess ninggalin dia:” nyess banget pas taeyeon ngasih tau changmin kebenarannya. nahyun cinta banget sama appanya:” bahkan robot jelek aja dia mau, asal dari changmin. “dia mencintaimu seperti aku mencintaimu” seketika changmin sadar, namanya juga ikatan ortu anak pasti ada lah:’3 berbahagialah kalian{} epepnya keren thor, next epep KEEP WRITING!❤

  2. ff yg kamu buat dalam kegelapan ngebuat gue terkesan banget chingu🙂 changmin disini bener” cinta bngt sama jessica meskipun sikap jessica kaya gitu tapi paling kasihan sih nahyun anak kecil berumur 3 thn yg ga tau apa” jadi kena dampak keegoisannya changmin gegara meninggalnya jessica, sempet kesel sih tp akhirnya semua happy ending dan changmin tau jessica juga cinta sama dia.. yapp🙂

  3. demi apaaaaaa terharu bacanya unnie:””””””””
    aaaaa kebawa sama alurnya, aku suka cast. ending yang membuat changmin sadar itu keren

  4. Ceritanya ini aku kangen ff buatanmu kak, jadi aku scrolling ff yang dibuat Yura Lin hehehee berhubung aku melewatkan beberapa ff yang cast-nya om-om(?) Jadi aku baca deh.

    Itu feels ngetiknya kakak tersalurkan banget. Nangis baca ff-nya. Awalnya aku lebih berpihak di Changmin sih, tapi penggambaran seberapa besar Nahyun sayang sama Changmin itu… bikin aku berpihak sama dedek unyu Nahyun wkwk. Oiya~ kata-katanya Taeyeon juga wow bangeeett :”) Nice Fanfiction kakaakk ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s