Destiny (Last Chapter)

Destiny (Chapter 9) - Last Chapter

Title:
DESTINY

Author:
_Sicaa.gorJESS

Genre:
Romance, School Life, Friendship, Sad, Family

Rating:
T

Length:
Chaptered

Main Cast:
Jessica Jung | Seo Joo Hyun | Kris Wu | Lu Han

Disclaimer:
Cerita fiksi ini 100% original karya author. Cast dan pemain lainnya hanyalah milik Tuhan dan orangtua mereka, Author hanya sekedar meminjam nama. Dilarang keras untuk menjiplak. Dan setelah membaca, tolong tinggalkan komentar untuk memberikan saran atau kritik kepada Author tentang cerita ini.

Notes : Hufft, akhirnya cerita gaje ini berakhir di chapter 9. Maaf atas alur yang berantakan, typo yang bertebaran dan kata – kata yang sulit di mengerti.

Previous Chapter : 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8

.

.

~ DESTINY ~
.
“Kau? Harusnya aku yang bertanya seperti itu.”
.
“Aku memang ingin bertemu denganmu.”

.

“Ya.. Dia selalu membuatku nyaman saat berada di sampingnya. Apa kau pernah merasakan hal ini juga?”
.
“Tidak ada hal yang perlu aku ketahui? Berarti ada hal yang terjadi tapi aku tidak perlu tahu? Begitu maksudmu, eoh? Ehm, kau sudah mulai mempunyai rahasia padaku.”
.
“A- aku.. Ehm, bagaimana menjelaskannya, ya? Hm, kurasa aku… mulai menyukai…”
.
“Kris! Kris Wu! Ya! Yifan!!”
.

Last Chapter
Author POV

Libur akhir tahun di SM IA School telah berakhir. Tumpukan salju yang turun beberapa minggu lalu tampak sudah mencair, dan di gantikan oleh berbaris – baris bunga yang bermekaran dengan indah. Ya, musim dingin yang hangat kini telah berganti menjadi musim semi yang indah.

Namun, sejatinya musim semi tidak bisa selalu mewakilkan perasaan manusianya. Ya, dan begitulah hal yang kini di rasakan Jessica dan Kris. Mereka seperti terhalang oleh sesuatu yang besar. Tak dapat berkomunikasi bahkan mereka tidak pernah lagi bertemu sejak terakhir kali Jessica menelpon namja itu. Dan hari ini, hari pertama masuk sekolah. Dan dengan harapan penuh, Jessica memulai lagi harinya.

“Hai, Sicca Jung!!” Sapa Seohyun semangat saat Jessica sudah berhasil memasuki ruang kelasnya dengan wajah datar.

“Hai..” Jawab Jessica hampa.
Seohyun menatap sahabatnya itu dengan tatapan bingung.

“Ah, kau kenapa lagi?” Tanya Seohyun pada Jessica yang sudah berada tepat disebelahnya.

“I’m fine..”

“Kau selalu berkata seperti itu meskipun kau tidak benar – benar merasa baik. Aku tidak akan mempercayaimu lagi.” Ujar Seohyun memancing.

“Terserah kau. Apa Kris belum datang sejak tadi?”
Seohyun tersentak kaget, “Belum.. Memangnya, ada apa?”

“Aniyo.”

“Kau tidak berangkat dengan Luhan?” Tanya Seohyun di tengah keheningan mereka.

“Tidak. Memangnya siapa yang mau berangkat dengan namja sepertinya?Memuakkan.” Kata Jessica sambil memutar bola matanya dengan malas.
Berselang beberapa menit setelahnya, Luhan dan Lee sonsaengnim pun masuk hampir bersamaan. Namun, bagaiamana dengan Kris? Namja yang sejak tadi di tunggu oleh Jessica itu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.

“Morning, class..” Sapa Lee sonsaengnim mengawali kelas pagi dengan mata pelajaran English Studynya.

“Morning, sir!” Jawab para murid serentak, kecuali yeoja satu itu, Jessica Jung.

“Okay.. First, open your book.

Semuanya langsung bergegas mengambil buku tulis mereka dari dalam tas, tatkala mendengar perintah dari Lee sonsaengnim barusan.

“Annyeonghaseo, maaf saya terlambat.” Suara berat milik namja bersurai blonde itu memecah keramaian di dalam kelas. Sontak saat itu juga, semua mata menjadikannya pusat perhatian.

“Kris..” Gumam Jessica dengan senyum kecilnya.

“Yifan, kau terlambat 3 menit.” Kata Lee sonsaengnim pada namja jakung itu.

“Sorry, sir. I late to wake up…” Ujar Kris menyesali perbuatannya.

“Okay, i’ll forgive you for this time. But, don’t do it again, okay?”

“Yes, i promise, sir…”

“You can sit now.”

“Thank you, sir.” Kata Kris lalu bergegas ke tempat duduknya yang berada tepat di belakang bangku Jessica dan Seohyun.

Jessica kini tampak lebih tenang dari sebelumnya. Bagaimana tidak? Melihat pangeran tampannya memasuki kelas sudah tentu membuat sebagian beban yang bergantung di pundaknya menghilang. Yeoja blasteran itu sebenarnya tidak berharap banyak pada Kris, yang ia inginkan hanyalah Kris bisa menjadi seperti namja yang ia kenal sebelumnya. Namja cool yang selalu bersikap hangat padanya.

Berselang 2 jam kemudian, terdengar ketukan pintu kelas dari luar dan membuat Lee sonsaengnim yang sedang menjelaskan materi pelajarannya di papan tulis mau tidak mau harus menghentikan kegiatannya untuk melihat orang yang berada di balik pintu itu.

“Yes?” Tanya Lee sonsaengnim pada dua orang siswa yeoja yang sejak tadi mengetuk pintu kelas XI – A itu.

“Mr. Lee, anda di panggil untuk menghadiri rapat pagi ini. Dan kepala sekolah berpesan untuk memulangkan para siswa.” Jelas singkat dari yeoja pertama yang notabene adalah ketua organisasi siswa di SM IA School.

“Oh, of course.. Saya akan segera ke ruang rapat. Thank’s to tell me.”

“Yes, sir.” Jawab kedua yeoja itu bersamaan lalu pergi setelah membungkuk hormat dihadapan Lee sonsaengnim.

Lee sonsaengnim lalu berbalik ke arah siswa – siswanya.

“Seperti yang kalian dengar tadi. Kalian boleh pulang sekarang juga.”

~*****~

Bel sekolah belum kunjung berbunyi, namun para siswa di SM IA School sudah berhamburan keluar sekolah untuk pulang ke rumah masing – masing. Hal ini tentu di manfaatkan Jessica untuk berbicara langsung pada Kris yang akhir – akhir ini sikapnya berubah drastis.

Jessica dengan langkah cepatnya langsung meninggalkan Seohyun yang masih berkemas di kelasnya. Apa alasan untuk semua itu? Ya, tentu saja Kris!

“Kris!” Panggil Jessica pada namja itu.

Kris tak kunjung berbalik ataupun memberikan senyuman hangatnya seperti biasa. Ia tetap berjalan. Bahkan kini jalannya tampak lebih cepat.

“Kris! Ada apa denganmu!” Teriak Jessica yang langsung membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian di sekelilingnya.

Kris berbalik dengan terpaksa ke arah yeoja bermarga Jung itu, “Ada apa?! Kemarilah!” Ucap Kris tegas lalu menarik paksa lengan Jessica dan membawanya ke taman belakang sekolah yang memang kurang ramai di kunjungi para siswa.

“Ada apa?” Tanya Kris dingin.

“Kau bilang ada apa? Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu! Ada apa, eoh? Kenapa sikapmu berubah seperti ini? Kau selalu meninggalkan tanda tanya di benakku! Bisakah kau membuatnya lebih jelas? Jebal, sekali saja..” Jelas Jessica dengan nafas yang tidak beraturan lagi. Jessica tampaknya tengah berusaha menahan tangisnya. Bahkan pundaknya berguncang hebat karena menahan isakannya itu.

“Pulanglah.. Ini bukan salahmu.” Jawab Kris datar tanpa ekspresi sedikitpun.

“Tapi kenapa kau bersikap dingin padaku? Aku bahkan sudah terlanjur nyaman padamu. Katakan alasannya.” Jessica menatap namja di hadapannya dengan mata yang berkaca – kaca. Melihat Jessica seperti ini pasti akan sangat menyakitkan untuk Kris. Karena pasalnya, namja satu ini sudah jatuh cinta pada Jessica. Dan sejatinya, tidak akan ada namja yang tega melihat yeoja yang ia sukai menangis di hadapannya, bukan?

“Kau ingin tahu alasannya? Kau tahu, aku menyukaimu!” Ujar Kris yang lebih terdengar seperti bentakkan.

Jessica menutup matanya pasrah, lalu mencoba mengambil banyak oksigen lewat mulutnya. Hati yeoja itu kini sedang berguncang tak karuan. Ia bahkan sudah tidak dapat lagi menahan air matanya. Ia menangis tanpa suara namun tetap menatap namja di hadapannya.

“Ya, aku menyukaimu! Ini mungkin terdengar aneh. Kau selalu membicarakan pangeranmu padaku sementara aku menyukaimu. Aku tahu kau menyukai Suho sunbaenim, kan?! Aku tahu semuanya. Tapi bisakah, kau mengerti perasaanku?” Kris meluapkan seluruh rasa sakit yang terselubung di dalam hatinya. Tentang Jessica dan perasaannya pada yeoja itu.

“Aku tidak bisa terus bersamamu jika pada akhirnya kau tidak bisa mengerti perasaanku. Mianhae, Ice.. Mungkin ada orang yang bilang cinta tidak harus memiliki. Tapi aku tidak bisa.. Hal ini terlalu menyakitkan untukku.” Sambung Kris sambil memengang kedua pundak Jessica yang bergetar.

“Jangan menangis, dan..” Kata – kata Kris terpotong begitu saja.

“Dan.. apa?” Tanya Jessica dengan suara serak.

“Dan, pulanglah. Kau sudah tahu alasannya, bukan?”

Kris berlalu begitu saja meninggalkan Jessica yang masih berdiri mematung di tempatnya. Motor Kris tampak sudah menghilang menyisakan gumpalan asap knalpotnya yang perlahan – lahan menghilang juga terbawa angin musim semi.

Jessica terduduk lemas di hamparan rumput hijau yang menemaninya. Baginya, ini musim semi yang paling menyedihkan untuknya.

“Apa aku benar – benar terlihat seperti menyukai Suho sunbaenim? Hiks.. hiks… Aku menyukaimu Kris… Kenapa kau tidak bisa mengetahuinya. Hiks… Lihat mataku, maka kau akan menemukan ketulusanku…” Isak Jessica di tengah kesendiriannya.
Tangannya meremas rumput hijau yang mengalasi tempatnya. Rambut coklat gelap yeoja itu melayang bebas ditiup oleh angin musim semi yang damai. Matanya mulai mengeluarkan butiran – butiran air yang ia tahan sejak tadi.

~*****~

Siang sudah berganti malam. Dan sejak tadi, Jessica masih juga berada di gedung sekolahnya untuk menjalankan tugas seorang ketua organisasi Taekwondo SM IA School. Dia harus menyelasaikan data – data anggotanya. Tapi karena kejadian pagi tadi, sampai sekarang fokus pikirannya masih juga tidak bisa lari dari namja itu, Kris Wu..

Jessica mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dengan frustasi, ia mencoba untuk kembali fokus pada tugasnya. Tapi, hasilnya nihil. Ia masih tidak bisa lepas dari masalahnya.

Kali ini ia mengaku bahwa dirinya tidak profesional, maka dari itu ia berniat untuk mencari udara segar di luar. Ia tidak bisa terus – terusan seperti tadi. Ia harus mencari jalan keluarnya.

Jessica pun bergegas keluar dari gedung sekolahnya, menuju taman belakang sekolah. Dengan langkah lunglai, ia menatap setiap sudut taman itu.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya seorang namja dari arah belakangnya yang membuatnya mau tidak mau harus mencari asal suara itu.

“Suho sunbaenim? Ehm, mian. Aku perlu mencari udara segar. Tapi setelah ini, aku berjanji akan mengerjakan tugasku lagi.” Ujar Jessica yang terlihat gugup.

“Tidak. Tidak apa – apa. Kau bisa melanjutkannya besok. Aku hanya pembimbing di organisasi kita. Jadi, kau tidak perlu meminta maaf padaku.” Jawab namja itu dengan lembut.

Kedua insan itu pun segera duduk di bangku yang terletak tidak jauh dari tempat mereka sebelumnya.

“Wajahmu kusut sekali. Apa kau terbebani menjadi ketua organisasi? Atau kau tidak ingin kutemani disini?”

“Ah, tidak, sunbae. Aku hanya mengalami sedikit masalah.”

“Aku bisa menjadi tempatmu berbagi.”
Jessica menoleh ke arah namja di sebelahnya dengan tatapan sedikit terkejut.

“Benarkah?”

Suho mengangguk pasti, “Ne”

“Sebenarnya, masalah ini ada sangkutannya denganmu.”
Suho tersentak kaget.

“Jinjjayo?”

“Ne. Sebenarnya….”

~*****~

“Luhan!! Where are you, dear?” Panggil Mrs. Lu dengan ekspresi paniknya sambil menuruni tangga rumahnya dengan hati – hati.

“Ada apa, eomma? Aku di lantai bawah.” Sahut Luhan yang baru saja mendengar panggilan eommanya.

“Dimana Jessica? Kenapa dia belum pulang? Padahal ini sudah malam. Harusnya dia sudah berada di rumah.” Tanya Mrs. Lu tidak sabar.

“Mungkin dia ke rumah Seohyun, eomma.”

“Eomma sudah menghubungi Seohyun, tapi Seohyun bilang Jessica tidak ada di rumahnya.”

“Mungkin dia di sekolah.”

“Sampai malam begini? Tanpa kabar?” Tanya Mrs. Lu memancing Luhan yang tampak tetap santai di sofa.

“Ah, aku tahu maksud eomma. Eomma ingin aku mencarinya, kan?” Ujar Luhan sambil menatap eommanya yang sudah benar – benar khawatir.

“Ayolah, dear. Coba kau cari di sekolahmu. Eomma tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya.”

“Tapi aku lelah, eomma.” Rengek Luhan layaknya anak balita yang tidak ingin tidur siang.

“Come on. Dia saudaramu, apa kau tidak khawatir padanya, nak?”
Luhan tampak berfikir sejenak. Dalam benaknya sebenarnya terukir sedikit kekhawatiran akan Jessica, tapi.. Ya, bukan rahasia lagi jika Luhan berusaha tidak tampak perduli pada Jessica.

“Ya, baik. Aku pergi!” Ujar Luhan lalu segera mengambil jaketnya dan kunci mobilnya untuk menuju ke sekolah.

‘Tapi, aku pasti akan dilarang masuk jika tidak menggunakan seragam sekolah. Ah, memangnya peraturan macam apa itu?’ Gumam Luhan dalam hati di pertengahan jalan. Namun, seakan tak terusik akan hal itu, Luhan tetap menancapkan gasnya menuju sekolah.

~*****~

Luhan turun dari dalam mobilnya. Kini namja itu sudah berada di parkiran sekolahnya untuk mencari Jessica. Sebelum beranjak lebih jauh, Luhan menyempatkan dirinya untuk mencoba menelpon Jessica. Namun sudah bisa di tebak, ponsel yeoja itu sedang tidak aktif. Jadilah, mau tidak mau, Luhan harus masuk ke dalam gedung sekolahnya untuk dapat menemukan yeoja itu.

Luhan mulai menelusuri ruang kelas, menuju ke ruang latihan Taekwondo, berlanjut ke ruang latihan vocal kelas XI, dan berakhir di taman belakang sekolah. Di sanalah namja satu ini menemukan sosok Jessica. Namun apa yang membuat Luhan tidak menghampiri Jessica dan hanya berdiri mematung di sisi tersembunyi di dekat taman belakang?

Ya, ia melihat Jessica sedang menangis dipelukan seorang namja.

“Bukankah itu Jessica? Tapi, siapa namja itu?” Ucapnya pada dirinya sendiri.
Luhan menengok lebih serius, “Apa itu… Suho sunbaenim?”

Suho tampak mulai melepaskan pelukan hangatnya pada Jessica yang masih terisak sedih. Jessica menepis semua air mata yang masih tergenang di pipinya, membuat wajah yeoja itu tampak bersinar karena adanya pantulan sinar lampu redup di taman belakang.

“Benar! Itu dia! Tapi, kenapa dia menangis? Apa karena ini dia tidak pulang ke rumah?”

Jessica tampak membungkuk ke arah Suho dan berlalu dari tempat itu. Sementara Suho tetap di tempat itu.

Luhan mengerutkan dahinya karena kebingungan.

“Bukankah Kris menyukai Jessica? Tapi kenapa Jessica bersama Suho sunbaenim? Kemana Kris saat Jessica terpuruk seperti ini?” Tanya Luhan pada dirinya sendiri.

Tiba – tiba pundak Luhan terasa di tepuk dari belakang. Luhan berbalik dengan perlahan. Namja itu pun berhasil mendapati Jessica dengan wajah sembabnya.

“Jessica? K- kau… A-ku mencarimu tadi.” Kata Luhan terbata – bata.

“Kenapa kau tahu aku di sini?”

“Tebakan yang beruntung, mungkin?” Jawab Luhan konyol.

“Ya sudah. Antar aku pulang.”

~*****~

Luhan POV

Aku kini benar – benar kebingungan? Sebenarnya apa yang terjadi antara Jessica dan Kris? Apa mereka bertengkar? Sebaiknya aku menghubungi Kris.

Aku segera menekan nomor ponsel Kris di layar ponselku, berharap ia bisa menuntaskan rasa penasaranku ini.

“Ada apa?” Suara Kris mulai terdengar di telingaku.

“Apa aku mengganggumu?”

“Tidak. Ada apa?”

“Aku hanya ingin tahu sesuatu… Apakah kau dan Jessica ada masalah? Bukankah kau menyukai Jessica?”

“Jika itu pertanyaanmu, lupakan saja. Aku lelah.. Aku ingin tidur. Bye…”

Kris langsung menutup panggilan dariku tanpa menjawab pertanyaanku barusan. Jadi benar dugaanku, mereka sedang bertengkar. Tapi apa tega, Kris melihat Jessica menangis seperti tadi? Kurasa Jessica sangat terpukul saat ini. Tapi kenapa ia tidak ke rumah Seohyun saja? Bukankah Jessica dan Seohyun selalu berbagi cerita?

Ah, semuanya membuatku bingung. Apa aku harus ke kamar Jessica untuk menanyakan hal ini? Tapi untuk apa? Jika aku sudah tahu jawabannya, memangnya apa untungnya untukku? Kurasa tidak ada. Biarkan saja, sampai ada orang lain yang peduli pada masalah ini.

~*****~

Author POV

Setelah kejadian semalam yang membuat Luhan hampir tidak bisa tidur, Luhan segera menceritakan hal itu pada Seohyun. Setelah mendengar cerita dari Luhan, Seohyun pun ikut terbawa aura kebingungan.

“Yang aku tahu, Jessica juga menyukai Kris. Dan Jessica juga sering bercerita tentang…” Seohyun memenggal kalimatnya.

“Tentang apa?” Tanya Luhan dengan wajah yang mulai serius.

“Nanti akan kuceritakan. Sebaiknya kita pergi saja dulu kerumah Kris.”

“Ide bagus. Kajja!” Tanpa ba bi bu lagi, Luhan segera menarik lengan Seohyun menuju parkiran sekolah mereka.

~*****~

“Annyeonghaseo, ajhumma.” Sapa Seohyun dan Luhan hampir bersamaan pada Mrs. Wu.

“Oh, Luhan. Dan?” Mrs. Wu menghentikan kata – katanya.

Merasa sedang menjadi inti pembicaraan, Seohyun segera memperkenalkan dirinya pada yeoja paruh baya yang notabene adalah eomma Kris itu.

“Ah, naneun Seo Joo Hyun imnida.”

“Ne, silahkan masuk Luhan dan Joohyun. Anggap rumah sendiri.” Ujar Mrs. Wu mempersilahkan keduanya masuk ke dalam.

“Ajhumma akan buatkan minuman dulu ya?”

“Tidak perlu repot – repot, ajhumma. Kami ke sini hanya ingin bertemu dengan Kris. Apa dia di rumah?” Tanya Luhan yang langsung menghentikan langkah Mrs. Wu yang baru saja akan ke dapur.

“Kris? Ah, ya. Dia ada di kamarnya. Naiklah ke atas. Dan jika bisa, bujuklah dia untuk turun. Akhir – akhir ini dia seperti orang yang kehilangan setengah nyawanya.” Jelas Mrs. Wu dengan raut wajah sedih.

“Ne, ajhumma. Kami akan membujuknya.” Sahut Seohyun.

Mereka pun menuju ke arah kamar Kris yang berada di lantai dua. Setibanya, Luhan langsung mengetuk pintu kamar yang terbuat dari kayu itu dengan tidak sabar. Ya, sungguh tidak terduga sebenarnya. Luhan melakukan hal itu karena marah pada Kris karena merasa telah mencampakkan saudara tirinya yang ia cap sebagai yeoja pengganggu dalam hidupnya.

“Aku akan turun sebentar lagi eomma.” Sahut Kris dari dalam yang mengira bahwa eommanya yang sedang mengetuk pintu kamarnya.

“Ini aku, bodoh. Buka sekarang juga!” Pinta Luhan yang setelahnya membuat Kris benar – benar membuka pintu kamarnya itu.

“Kalian? Ada apa?” Tanya Kris datar.

“Kau bilang ada apa?!” Bentak Luhan sambil menatap Kris tajam.

“Hei! Hei! Stop, Lu!” Tegas Seohyun lalu menahan pundak Luhan yang sudah tampak sangat marah pada namja jakung di hadapannya.

“Biar aku yang menjelaskannya.” Ujar Seohyun yang menengahi dua namja di sebelahnya.

“Kris, apa kau menyukai Jessica?!” Tanya Seohyun yang lebih mirip mengintrogasi.
Kris mendengus pelan namun tak berkutik sedikitpun. Namja itu bahkan mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamarnya.

“Kupikir kau bisa kupercaya! Kau tahu, Jessica juga menyukaimu. Tapi, kau… huufftt.”

Kris tersentak dari diamnya. Mendengar pernyataan Seohyun barusan seakan membuat awan hitam di hatinya lenyap begitu saja.

‘Jessica.. menyukaiku?’ Pikir Kris.

“Suho sunbaenim memang menyukai Jessica, tapi Jessica menyukaimu! Dan soal namja yang selalu ia ceritakan padamu. Itu adalah kau, bodoh! Kau adalah seorang pangeran di matanya. Pangeran yang terlihat cool, namun memperlakukannya layaknya Cinderella, right? Tapi sekarang, dia kehilang sosok pangeran tampannya. Tidak bisakah kau pahami itu, Yifan?” Jelas Seohyun dengan nada tegasnya yang sangat jarang di dengar oleh orang di sekelilingnya. Ya, semua orang waras pasti akan semarah ini saat tahu sahabatnya di buat menangis hanya karena kesalah pahaman seperti ini. Termasuk Seohyun.

Kris masih mencoba diam di posisinya. Meskipun sebenarnya ia sangat merindukan Jessica saat ini, tapi masih banyak hal yang belum ia yakini 100% dalam hal ini.

Luhan mendekat ke arah Kris dengan tatapan sedikit sayu, “Jangan pernah biarkan orang yang kau cintai, menangis di pelukan orang lain. Karena itu sama saja dengan kau merelakannya bersama namja lain. Aku percaya padamu, Kris…” Bisik Luhan pada Kris yang masih diam membeku.

Luhan segera beranjak dari posisinya itu. Ia lalu berjalan kecil ke arah pintu,

“Sebaiknya kami pergi. Kurasa pangeran butuh renungan yang tepat untuk mempertahankan Cinderellanya.” Ujar Luhan lalu keluar dari kamar itu, disusul oleh Seohyun.

~*****~

Jessica POV

Bagaimana seharusnya seorang pangeran memperlakukan Cinderella? Apa sedingin ini? Aku takut, aku tidak dapat lagi melihat namja itu. Aku takut..

Terkadang seharusnya, hal yang di inginkan terjadi, tidak bisa terjadi sesuai dengan apa yang di inginkan. Tapi tidak bisakah, untuk kali ini saja. Tolong, ulurlah waktu. Kembalikan aku ke masa di mana namja itu selalu bersamaku.

Kris? Apa sekarang dia sedang memikirkanku?

Bagaimana dengan perasaanku yang mengalir seiring dengan berjalannya waktu?

Bukankah ini terlalu menyakitkan? Ya, aku kini percaya akan takdir… Tapi saat ini, posisiku bukan saat di mana aku harus memilih mempercayai kenyataan atau takdir.

Tapi posisiku saat ini lebih berat. Aku harus mempercayai kenyataan yang berangsur dari takdirku. Kumohon, hentikan kenyataan ini. Buat aku kembali ke mimpi – mimpi indahku.

Namja itu bahkan masih ada di dalam pikiranku. Tapi kenapa aku tidak bisa menemukannya di sekolah? Apa dia sakit? Padahal, sudah seminggu ini aku terus menunggu kedatangannya di kelas. Tapi hasilnya, nihil. Aku tidak bisa menemukannya.

Aku merobek sehelai kertas dari dalam buku tulisku. Di kertas itu, tanganku mulai menulis hal yang kupikirkan.

‘Kenapa aku serapuh ini? Padahal aku bukan siapa – siapa untuknya. Bukan yeojachingunya ataupun orang yang penting untuknya. Tapi, rasanya aku sangat kehilangan sosok namja itu..

~ Jessica Jung ~ ’

Aku menatap tiap deret kata yang berada di dalam kertas putih itu. Sepertinya tidak ada gunanya aku menulis seperti ini. Aku segera meremas kertas itu hingga tak berbentuk dan langsung melemparkannya ke sembarang arah.

Aku berniat untuk kembali ke kelas sebelum bel selesai istirahat berbunyi, maka dari itu aku mulai mengemasi beberapa tumpuk buku yang ku bawa dari kelas.

“Jadi, kau kehilangan aku?”
Aku tersentak. Suara barusan seakan memberikanku kekuatan penuh seutuhnya. Aku menghentikan kegiatanku dan segera mencari asal suara.

Dan… itu, Kris.

Namja itu tersenyum tulus padaku. Ini bukan mimpi, kan?

“Bagaimana keadaan Ice Princess saat aku tidak masuk sekolah, ya?” Candanya yang entah mengapa membuatku ingin menangis saat itu juga.

Aku menghapus air mata yang sudah terlanjur membanjiri pipiku. Aku menatap sepasang mata dihadapanku. Mata yang selalu memberikan ketenangan untukku itu kini kembali…

“Kau.. hiks… kenapa kau baru datang, eoh? Apa kau masih marah padaku? Hiks..” Tanyaku yang masih berusaha menahan isakan.

“Uljima..”

Tiba – tiba saja, namja ini memelukku dengan erat. Bukan hal lain yang kupikirkan, tapi bagaimana jika seseorang melihat kami? Ini adalah taman belakang yang masih termasuk dalam area sekolah.

Aku melepaskan pelukannya dengan terpaksa dan berat hati. Kini mataku beralih kembali menatap sepasang mata itu.

“Sorry… Bukan maksudku untuk bersikap dingin padamu. Aku hanya berfikir bahwa, akan lebih baik jika aku menjauhimu. Dengan begitu, aku tidak akan terbangun dari kenyataan bahwa kau… menyukai Suho sunbaenim. Tapi aku salah. Aku sudah mengerti semuanya, Ice…” Jelasnya yang membuat senyumku mengembang kembali, meskipun ia masih tetap memanggilku dengan sebutan Ice.

“Ne, aku paham. Jadi, ini semua hanya salah paham, kan?”
Kris mengangguk pasti, “Tentu saja..”

~*****~

Jessica POV

Bagaimana kebahagian muncul setelah datangnya badai? Apa memang semuanya di tentukan oleh takdir? Jadi, bagaimana takdir datang membawa lika – liku dalam kehidupan? Apa takdir di tentukan oleh Tuhan? Ya, sepertinya begitu. Lalu, apa semuanya sudah selesai? Jawabannya ada pada takdirmu. Takdir akan berjalan mengarungi waktu. Masa depan tidak beku, takdir masih menunggu untuk dituliskan.

Sebab, sepanjang kita berjalan, menghindar, berpura – pura tidak tahu atau apapun itu, kita akan tetap bertemu dengan apa yang ditakdirkan untuk bertemu…

 

 

 

“ ~_ . . The End . . _ ~ ”

3 thoughts on “Destiny (Last Chapter)

  1. kris bener” ga peka😄 sampai luhan sama seohyun turun tangan dan kasih tahu sama kris kalo jessica juga suka sama kris.. endingnya bagus dan bikin greget banget chingu yah, keren deh.🙂

  2. So, mereka pacaran kan ? Ahhh akhirnya , setelah perjalanan cinta yg rumit ini membuahkan hasil . Syukaak banget sama krissica akhirnya bener* bersatu .
    Ayo thor buat pairing krissica lg . ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s