Star Star Star: Wrong Star

tumblr_inline_n3d2tsn4oC1qb1v5v tumblr_inline_n8aybxwdqh1rejlyd TVXQ-HoMin-tvxq-homin-jung-yunho-shim-changmin-33743472-100-100

Yura Lin presents;

Wrong Star

Genre:

Angst

Length:

Oneshot

Cast:

Jessica Jung – Jung Yunho – Kim Jaejoong

Your hand that is growing far apart
I can’t hold onto it so it hurts
Just until I can survive, just as much as I hated you
When the spring comes to bring you back later on
Then I will bloom on that day

(Park Hyoshin – Wild Flower)

+

Yunho mengenal Sooyeon lebih dulu. Mengetahui segala hal tentangnya. Tak ada yang lebih mengenalnya daripada Yunho. Akan tetapi, mengapa semua ini terjadi? Mungkin memperkenalkannya kepada Jaejoong adalah sebuah kesalahan besar. Namun mereka akan tetap mengenal satu sama lain tanpanya.

Pertemuan konyol di taman kota, cerita Jaejoong kepada orang-orang dan Yunho hanya bisa tersenyum miris.

Sahabatnya itu berusaha mencari bukti tentang perselingkuhan kekasih Changmin agar junior sekaligus teman sekamarnya itu percaya ceritanya. Jaejoong sedang bersembunyi di belakang sebuah pohon besar sambil menentukan fokus kamera untuk mendapatkan gambar yang jernih dan Yunho sedang mengajari Sooyeon cara bermain skateboard. Sooyeon gagal menjaga keseimbangannya setelah salah satu rodanya menabrak batu kecil dan jatuh menimpa Jaejoong.

Mungkin, mengajarkan Sooyeon bermain skateboard adalah kesalahan.

Atau mungkin, takdir mereka yang salah.

Karena walaupun mereka tidak berhubungan darah, Sooyeon tetap menganggapnya sebagai kakak kandung.

+

“Ma,” panggil Sooyeon, nada hampir merengek. “Yunho oppa tidak mau mengantarkanku!”

Yunho memutar matanya, menahan diri untuk tidak mengatakan apapun dan segera menghabiskan sarapannya. 26 menuju 27 tahun tapi Sooyeon masih merengek agar diantar olehnya. Tidak pernah dewasa, Yunho mendesis pelan.

“Kau sudah memiliki SIM dan tidak ada yang menggunakan mobil. Ayahmu masih berada di Ulsan,” balas ibunya.

“Tubuhku ini lemah. Bagaimana jika sesuatu terjadi padaku saat aku menyetir sendiri?” rengek Sooyeon dengan gaya dramatis.

Yunho berpura-pura muntah sehingga Sooyeon menarik beberapa helai rambutnya kesal. Pria itu segera membalasnya dengan mencubit pipinya. Ibu dari dua orang itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan melempar sendal rumah ke arah mereka untuk menghentikan pertengkaran mereka.

Nyonya Jung menghela napas. “Lagipula, tumben sekali pagi-pagi seperti ini sudah siap. Ada janji?”

“Tentu saja.” Sooyeon mengangguk mantap sambil mengelus pipinya yang masih merah karena cubitan Yunho. “Janji yang sangat penting.”

“Kalau begitu, mengapa tidak meminta Jaejoong untuk mengantarkanmu?” seru ibunya sambil kembali mengaduk bumbu untuk kimchi.

Yunho terbatuk pelan mendengarnya. “Jangan. Jangan. Biar aku saja. Jaejoong pasti sedang sibuk dengan proyek barunya.”

Dengan itu pun Sooyeon bersorak girang dan melompat untuk memeluk kakak tirinya sejak ibunya menikahi tuan Jung 17 tahun yang lalu. Yunho menggeram pelan seakan dia tidak senang tapi Sooyeon yang terus-menerus memeluknya dengan pipi kanan melekat di pipi kirinya, senyumannya pun tak bisa lagi ia tahan.

“Kau harus berhenti melakukan itu,” desah nyonya Jung.

Sooyeon mengangkat kepalanya untuk menatap ibunya. “Melakukan apa?”

“Bersikap manja kepada kakakmu.” Ibunya menggeleng pelan. “Kau akan segera menikah dengan Jaejoong. Ingat? Persiapannya sudah 30%.”

Yunho tersenyum pahit untuk sedetik sebelum kembali tertawa.

“Aku tidak boleh melakukan ini lagi?” gerutu Sooyeon.

Yunho tertawa pelan sambil mengelus pipi kiri Sooyeon. “Kau bisa melakukan semua ini kepadaku sampai kau tua. Tenang saja. Kang Hanna hanya iri kepadamu karena suaminya tidak ada di sini untuk memanjakannya.”

Ibu mereka, Kang Hanna, melempar satu potongan lobak dengan kesal tapi Yunho berhasil menghindarinya sehingga potongan lobak yang sudah berlumuran bumbu itu mendarat di wajah Sooyeon.

+

Aroma seduhan kopi tercium tajam dari meja tempatnya menunggu dan menikmati secangkir espresso pahit. Kedai kopi itu cukup ramai di akhir pekan. Banyak pasangan dan sekelompok teman menghabiskan waktu bersantai di sana. Sudah 10 menit dia menunggu tapi orang yang mengajaknya bertemu tak kunjung datang.

Melodi yang dihasilkan dari ketukan jarinya di atas meja menjadi hiburan tersendiri bagi Yunho. Ketukannya terhenti ketika pelayan membawakannya secangkir espresso lainnya bersamaan dengan kedatangan sahabatnya di pintu masuk. Kim Jaejoong, pria itu terlihat tampan hanya dengan kaos oblong hitam dibalut dengan jaket abu-abu dan celana jeans. Pancaran sinar matahari sore memberikan efek tersendiri pada tubuhnya.

“Maaf, jalanan cukup macet sore ini,” Jaejoong menggumam begitu dia duduk di depan Yunho.

“Kau yakin?”

Sahabatnya tertawa. “Baiklah. Klienku menahanku cukup lama. Padahal ini adalah akhir pekan tapi dia tidak mau peduli. Menyebalkan.”

“Akhir pekan selalu menjadi hari kerja bagi EO sepertimu. Bahkan Sooyeon hanya bisa bertemu dengan WO di akhir pekan,” komentar Yunho pelan sambil menyesap kopi keduanya itu.

Jaejoong ingin mengurus pernikahannya sendiri tapi dia tidak punya pengalaman dalam merencanakan pernikahan. Bidangnya adalah pesta bisnis. Lagipula Sooyeon tidak ingin membebani tanggung jawab besar ini pada Jaejoong. Setelah 3 hari tidak mau bertemu, Sooyeon berhasil membuat Jaejoong setuju untuk memakai jasa Wedding Planner ahli.

“Kau benar.” Jaejoong mengangguk pelan. “Anyway, ada yang perlu aku bicarakan denganmu.”

Yunho mengangkat bahunya sambil mengubah posisi duduknya agar lebih santai seakan memberikan izin kepada Jaejoong untuk mengatakan apapun itu. Dia ingin segera pergi dari tempat ini. Sejak Jaejoong datang ke rumahnya dan meminta izin kepada kedua orangtuanya untuk menikahi Sooyeon, dia tidak pernah lagi nyaman berada di dekat Jaejoong. Selalu ada keinginan untuk mencekik sahabatnya dan menanyainya mengapa, dari berjuta wanita di kota ini,

Mengapa harus Sooyeon?

Jaejoong tersenyum lebar sambil menepuk pundaknya cukup keras. “I want you to be my best man.”

“Apa?”

“Untuk pernikahanku. Ku mohon?”

Untuk beberapa detik, Yunho terpaku di tempat. Lidahnya kelu. Matanya menatap Jaejoong tidak percaya.

Mengapa harus aku?

Kau mempunyai banyak teman. Shim Changmin, junior kesayanganmu. Park Yoochun, rekan kerja terbaikmu. Mengapa aku?

“Aku tidak ingin memaksamu tapi pernikahan ini adalah hal terpenting bagiku dan aku ingin kau menjadi bagian dari peristiwa penting ini. Tidak hanya sebagai keluarga dari Sooyeon. Kau ingin memegang peran paling penting karena kau adalah sahabat terbaikku. Apa kau mau?” jelas Jaejoong seakan menjawab pikiran Yunho.

“Aku…” tidak mau! Yang benar saja? Kau bercanda? Setelah kau merebutnya dariku, kau menginginkanku untuk menjadi— “Tentu saja! Pasti! Mengapa kau masih bertanya? Aku akan melakukan segalanya untuk adik dan sahabatku.”

Jaejoong memeluknya erat. “You’re the best!”

Jaejoong mulai membicarakan semua rencana yang ada di otaknya dan Yunho memasang wajah paling serius walaupun otaknya berhenti berpikir.

+

85%. Semuanya hampir selesai.

Yunho menelan air liurnya sambil menatap fotonya dengan Sooyeon di handphone. Seharusnya sejak Sooyeon masuk ke kamarnya dan memberitahunya bagaimana perasaannya terhadap Jaejoong, dia segera mencari wanita lain sehingga pernikahan ini tidak akan menyakitinya.

Tidak, perasaan ini memang tidak seharusnya ada.

Yunho menghela napas panjang sambil memijat keningnya pelan. Migraine terus-menerus menyerang kepalanya, membuatnya semakin kehilangan semangat hidupnya. Semua ini semakin tidak sehat baginya.

“Yunho-ssi, kau baik-baik saja?” tanya Jaekyung, teman sekelas Sooyeon di bangku sekolah.

Yunho kembali menghela napas lalu menggeleng. “Yeah, tentu saja.”

“Tidak terlihat baik bagiku.”

Yunho tersenyum tipis. “Aku akan baik-baik saja.”

Jaekyung menghela napas tidak puas namun perhatiannya teralihkan begitu pegawai butiknya membuka gerai di depan mereka dan memperlihatkan Sooyeon dalam balutan gaun ke-4 yang disarankan oleh Jaekyung. Penampilan Sooyeon sekarang seakan mengambil napas semua orang yang melihatnya. Gaun putih itu terlihat sangat indah, sangat pas seakan gaun itu diciptakan khusus untuk Sooyeon. Senyuman di wajah gadis itu dan pipi merah mudanya semakin membuat orang-orang semakin sulit bernapas.

“Astaga.” Jaekyung mengerjapkan matanya. “Sempurna! Sempurna, Sooyeon-ah! Oh my God, kau benar-benar sudah siap menikah!”

Pipi Sooyeon semakin memerah mendengarnya. Matanya kini tertuju pada kakaknya yang masih tidak berkutik, matanya pun tidak bergerak sedikit pun. Dia tertawa melihat wajah bodoh kakaknya. Tak perlu dikatakan, dia tahu dia berhasil membuat kakaknya takjub. 3 gaun sebelumnya pun membuat Yunho takjub tapi gaun ini membuatnya jauh lebih takjub.

“Kau menyukainya?” tanya Sooyeon ketika Yunho terlihat mulai berhasil mengendalikan tubuhnya kembali.

“Oh, uh.. ya, b-bagus,” jawab Yunho terbata-bata. Dia mulai menyesal karena sudah mau mengganti ibunya untuk menemani Sooyeon mencari gaun pernikahannya.

“Aku mengambil gaun ini!” seru Sooyeon.

“Tentu saja! Aku tidak akan membiarkanmu memakai gaun lain,” balas Jaekyung sambil berlari kecil menghampiri temannya.

Ketika tirai ditutup kembali, tubuh Yunho kehilangan tenaga untuk tetap berdiri. Pikirannya mulai membayangkan bagaimana jika dia berada di posisi Jaejoong dan Sooyeon memakai gaun itu untuk pernikahan mereka. Semuanya pasti sempurna.

Tidak. Berhenti membayangkannya, Yunho!

Yunho menggeleng pelan dan membuang jauh-jauh khayalannya itu. Dia harus segera menghapuskan perasaannya sebelum semuanya semakin berat.

+

Junsu menatap rekan kerjanya penuh rasa kasihan. Dia memang tidak tahu apa masalah Yunho tapi wajah pria itu menunjukkan dengan jelas rasa sakit di hatinya. Terlebih kini, Yunho mengubur dirinya dalam pekerjaan. Dia hampir tidak pernah meninggalkan kursinya dan keluar dari kantor hanya untuk makan siang dengan teman kerja lainnya.

Junsu menoleh ketika manager divisi, Park Jungsoo, mengetuk pintu ruangan yang memang dibiarkan terbuka. Dia mendorong pundak Yunho pelan agar pria itu sadar bahwa Jungsoo memanggilnya. Yunho membungkuk pada Jungsoo dan mengatakan dia akan datang ke ruangannya lalu berterima kasih pada Junsu. Rekannya hanya tersenyum tipis.

Jungsoo menyuruhnya duduk sambil mengambil mug birunya dan meneguk air putih di dalamnya. Yunho jarang datang ke tempat ini selain untuk memberikan laporan dari semua pekerjaan di divisi itu sebagai salah satu tugas seorang manager operasional dan minggu ini bukanlah waktunya memberikan laporan. Namun kebahagiaan di wajah Jungsoo memastikan apapun yang ingin ia ucapkan adalah kabar baik.

“Kau pernah mengunjungi cabang perusahaan kita di San Francisco, bukan? Aku pernah mengirimmu untuk training,” tanya Jungsoo. Kuota kegiatan training itu sangat terbatas dan hanya Yunho dan satu orang dari personalia yang dikirim sekitar setahun yang lalu.

Yunho mengangguk pelan. “Ya.”

“Ketua cabang SF mengirimkan surat pensiun dan para eksekutif sedang mencari orang untuk menggantikannya. Mereka ingin anak bangsa kita sendiri yang menggantikannya. Mereka mencari orang yang mengerti cara menjalankan bisnis dan kalau bisa, seseorang yang mengerti cara kerja cabang SF.”

Yunho terdiam sambil mencerna perkataan atasan. Ketika semuanya jelas di otaknya, dia menatap atasannya tidak percaya. “Apa kau mengusulkan namaku?”

“Kau memenuhi semua persyaratan.” Jungsoo tersenyum. “Bagaimana?”

“Aku tidak tahu. Semua keluargaku di sini dan—“

“Ini adalah kesempatan yang sangat sulit untuk didapatkan. Tidak akan ada kesempatan kedua. Memang belum ada keputusan pasti dari para eksekutif tapi kau memiliki peluang paling besar. Jadi pikirkanlah baik-baik.”

Jika kesempatan ini datang tahun lalu, tidak akan sedikitpun keinginan untuk menerima. Kehidupannya berada di sini. Keluarganya. Teman-temannya. Sooyeon. Akan tetapi, dengan pernikahan yang semakin dekat, keinginan untuk kabur sejauh-jauhnya muncul dengan kobaran api besar di hatinya.

Yunho mengangguk mantap. “Aku akan menerimanya jika namaku benar-benar dipilih, Jungsoo-ssi. Aku menerimanya.”

2 hari kemudian, nama Jung Yunho dan berita kepindahannya terpampang di layar pemberitahuan.

+

3 hari lagi adalah hari pernikahannya. Semua berjalan dengan lancar. Seharusnya tidak ada yang membuatnya khawatir. Namun dia malah merasa panik tanpa alasan. Biasanya kakaknya yang membuatnya tenang. Walaupun mereka selalu bertengkar, pada akhirnya Yunho akan memeluknya dan membuatnya merasa aman, memastikan semuanya baik-baik saja dan tak ada yang perlu dicemaskan. Akan tetapi kenyataannya, dia hampir tidak pernah lagi melihat kakaknya. Sibuk, alasan Yunho.

Sooyeon membuka pintu kamar kakaknya setelah selesai membantu ibunya mencuci piring makan malam mereka. Dia tidak sempat mengatakan apapun dengan Yunho karena pria itu pulang terlambat dan paling pertama meninggalkan meja makan. Sulit sekali untuk bertukar kata dengan Jung Yunho di saat dia sangat membutuhkan kakaknya.

Oppa, kau—“

Sooyeon terdiam melihat koper besar terbuka di atas kasur dan tas besar di sampingnya. Terakhir kali dia melihat koper besar itu adalah saat Yunho mengikuti training di luar negeri dan koper itu pun tidak terisi penuh karena Sooyeon memastikan kekosongan koper itu akan diisi dengan oleh-oleh. Kini koper itu terisi penuh seakan Yunho ingin membawa semua isi lemarinya. Sang empunya kamar pun tidak berada di dalam. Sooyeon masuk dan duduk di kasur sambil melihat baju apa saja di dalamnya.

Suara dehaman berhasil mengalihkan perhatiannya dari koper tersebut ke arah pintu. Terlihat Yunho dengan rambut masih basah setelah mandi hanya memakai celana pendek dan handuk di kepalanya.

“Kau akan mengikuti training di luar negeri lagi?” tanya Sooyeon.

Yunho menurunkan handuknya ke bahu lalu jalan sedikit berlari menghampiri Sooyeon dan menutup koper besarnya. “Semacam itu.”

“Kapan?”

“3 hari lagi aku berangkat.”

Sooyeon terbelalak kaget. “Di hari pernikahanku?!”

Yunho menggigit bibirnya kesal. “Ya.”

“Mengapa mendadak sekali?”

“Tidak juga. Pemberitahuannya keluar dari sebulan yang lalu. Orangtua kita sudah tahu.”

“Bagaimana denganku?” kesal Sooyeon. “Aku tidak tahu. Aku.”

Yunho menghela napas panjang. “Sekarang kau tahu.”

Sooyeon melipat tangannya di dada. “Karena aku bertanya. Kau tidak akan memberitahuku jika aku tidak bertanya?”

Yunho kembali menghela napas. Dia melempar handuk di bahunya ke sembarang tempat dan memindahkan koper dan tasnya ke sudut ruangan untuk menghindari pertanyaan adiknya. Dia takut jika dia menjawabnya, maka Sooyeon akan kembali bertanya, bertanya dan terus bertanya hingga dia kelepasan bicara.

“Seharusnya kau istirahat sekarang, Sooyeon-ah,” kata Yunho sambil memastikan tasnya tidak akan jatuh.

“Kau tidak akan membawa baju sebanyak itu jika hanya untuk training. Semua baju itu untuk tinggal selama sebulan. Bahkan jika kau harus pergi selama sebulan, kau tetap tidak akan membawa baju sebanyak itu karena pasti kau menggunakan jasa laundry,” gumam Sooyeon pelan.

Yunho berbalik badan untuk menatap adiknya. Speechless, yap, kondisinya sekarang. Dia menghampiri Sooyeon dan meremas bahunya. “Sooyeon-ah—“

Sooyeon menatap kakaknya sedih. “Benarkah? Benarkah hanya training?”

“Yang sebenarnya terjadi adalah aku dipindahkan ke cabang San Francisco.”

“Mengapa?”

Suara Sooyeon terdengar seakan dia tahu alasan sesungguhnya tapi menginginkan Yunho untuk mengatakannya.

Yunho mendorong tubuh Sooyeon jatuh ke atas kasur dan menumpukan kedua tangannya di samping kepala adiknya. “Aku ingin lari dari semua ini. Pernikahanmu. Aku tidak ingin melihatnya. Aku tidak ingin melihatmu bersamanya,” jawab Yunho hampir berbisik. “Kau tahu mengapa?”

Gadis itu hanya diam, menatapnya tenang. Yunho tak mengerti maksud dibalik aksi diam itu. Tatapan itu memberikan sensasi asing baginya.

“Aku mencintaimu. Bukan cinta keluarga melainkan antara pria dan wanita. Sedang berusaha untuk membuangnya sejak lama tapi masih belum berhasil. Apa kau tahu?”

Sooyeon kini berusaha menghindari tatapan Yunho. “Jaejoong mengetahuinya. Aku tidak percaya dan mengatakan dia hanya cemburu karena kau bisa melakukan apapun padamu sebagai kakakku tapi akhirnya aku menyadarinya di butik Jaekyung, saat aku memakai gaunku.”

Jaejoong tahu?

Yunho menggeram pelan. Sahabatnya tahu tapi dia tetap melakukan semua ini kepadanya. Dia menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya sendiri lalu menyeringai. “Benarkah aku bisa melakukan apapun padamu?”

“A-aku—“

Wajah Yunho semakin mendekat. “Benarkah?”

Kini Sooyeon pun tak bisa berkata apapun. Jarak di antara mereka hampir membuatnya tak bisa bernapas. Ketika bibir Yunho menyentuhnya, tubuhnya terasa meleleh seketika. Dia hanya diam, pasrah menerima semuanya.

Yunho pikir jika Sooyeon mendorong dan menamparnya akan membuatnya sangat patah hati. Namun kenyataan gadis itu hanya diam seperti ini, Sooyeon berhasil membuat jauh lebih patah hati dari yang dia kira. Dia segera menarik diri, mengambil sepasang pakaian asal dan memakainya sambil berlari keluar kamar, pergi jauh dari rumah itu sesegera mungkin.

+

Tak pernah sekalipun ia melihat kakak tirinya setelah kejadian malam itu. Jika sebelumnya, dia bisa bertemu dengan kakaknya di pagi dan malam hari walaupun hanya sekilas, kini dia sama sekali tidak bisa melihat batang hidungnya. Ibunya hanya berkata Yunho sedang sibuk mengurusi kepindahannya sehingga tidak bisa pulang tapi dia pasti akan datang hari ini demi pernikahan adik tersayangnya.

 

Benar saja, ketika dia membuka matanya setelah sang perias selesai mengerjakan tugasnya, dia melihat pantulan kakaknya di cermin. Yunho terlihat sangat tampan dengan jas hitam dan dasi hitam. Ibunya sibuk merapikan rambut kakaknya. Agar semakin tampan dan membuat semua wanita single jatuh hati, seru ibunya.

“Kau datang,” gumam Sooyeon setelah ibu dipanggil keluar dari ruang rias.

“Aku harus datang untuk Jaejoong,” balas Yunho setengah hati. “Best man.”

“Apapun alasannya, aku bersyukur.” Sooyeon tersenyum tapi lawan bicaranya tak membalas.

Setelah keheningan cukup lama, Yunho menggeram pelan. “Mengapa kau diam saja?”

“Uh?”

“Malam itu.”

Sang perias yang masih merapikan barang-barangnya menatap mereka penuh penasaran, membuat Sooyeon tidak nyaman. Menyadari keberadaannya tidak diinginkan, perias itu segera keluar dari ruangan dan Yunho menutup pintunya.

“Bukankah itu yang kau inginkan?” jawab Sooyeon akhirnya.

Yunho mendesis pelan. “Aku ingin kau mendorongku. Menamparkan. Memintaku untuk pergi sejauh-jauhnya darimu dan jangan pernah mengganggumu lagi.”

“Seharusnya aku melakukan semua itu demi Jaejoong tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku membutuhkanmu.”

“K-kau…” Yunho menghela napas panjang sambil memijat keningnya. “Kau memikirkan itu saat aku menciummu?”

Sooyeon bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri kakaknya dengan langkah hati-hati karena gaun panjangnya. Yunho bisa melihat perasaan menyesal di wajah cantik itu. Gadis itu menggenggam tangannya dan tersenyum tipis.

“Aku membutuhkan kakakku.”

Kalimat itu berhasil membunuhnya.

Ketika Park Minyoung, bridesmaid, mengetuk pintu dan Sooyeon membukakan pintu untuknya, Yunho pergi meninggalkan mereka dengan wajah merah.

+

Jaejoong sudah siap berjalan ke atas altar ketika Yunho kembali. Sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, sahabatnya menariknya pergi ke dalam ruangan kosong. Yunho belum mengatakan apapun tapi dia mengerti apa topik yang akan mereka bicarakan.

“Maaf, aku memintamu melakukan semua ini,” kata Jaejoong pelan.

Yunho tahu maksud Jaejoong bukan lah, maaf aku menyusahkanmu dalam mempersiapkan pernikahan ini, melainkan, maaf aku membuatmu tidak nyaman karena perasaanmu terhadap Sooyeon. “Mengapa harus aku?”

“Hanya dengan cara ini aku akan yakin dia memang memilihku. Menyebalkan, bukan? Kita bersahabat dan dia adalah adikmu, tapi kita berdua memperebutkan Sooyeon walaupun kebanyakan orang tak bisa melihat persaingan kita.”

Yunho menatap Jaejoong bingung. “Apa maksudmu?”

“Aku sengaja membiarkannya memilih salah satu antara kita. Tetap memilihku sebagai calon suaminya atau menyelamatkan kakaknya dari patah hati karena harus menjadi best man di pernikahannya sendiri. Namun kenyataannya aku tidak puas. Aku merasa dia memilihku sebagai jalan aman. Jika dia memilihmu, dia akan kehilanganku. Jika dia memilihku, kau akan tetap bersamanya, mau tak mau.”

Jaejoong menghela napas. “Lagipula hari ini adalah pernikahan kami. Dan kalaupun kau ingin membatalkannya, dia akan tetap memilihku. Jadi sebaiknya kita  harus kembali menjadi sahabat baik tanpa masalah seperti sebelum aku mengenal Sooyeon.”

Yunho menggeleng tak percaya.

30 menit kemudian, Jaejoong dan Sooyeon resmi menjadi suami-istri dan Yunho digantikan oleh Changmin karena pria itu sudah berada di perjalanan menuju bandara dengan sumpah dia takkan kembali ke tanah air sebelum berhasil membuang perasaannya terhadap Sooyeon.

+

Huehehe maafkan aku YunJae, mengkhayalkan kalian berantem itu cukup seksi bagiku *-*

Dan bagi yang baca, tolong jangan bom aku dulu. Ceritanya belum selesai kok. Star Star Star terdiri dari tiga cerita; Wrong Star (cerita ini), Fallen Star dan Brightest Star. Fallen Star diusahain dipost minggu depan setelah aku uas dan Brightest Star dipost awal februari.

NB: i’m deleting some of my fanfics

21 thoughts on “Star Star Star: Wrong Star

  1. kak yura yg cantik, ff game goes wildnya diterusin dong, please, kalo bikin ff jangan setengah2, kasian pembacanya, makasih 😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s