[Freelance] Lonely Night Chapter 2

Untitled-2 copy

Judul                     : Lonely Night chapter 2

Author                  : Luby Park

Rating                   : PG 13

Length                  : Chapter

Genre                   : Romance, friendship

Main Cast            : Jung Sooyeon, Kim Myungsoo, Oh Sehun

Support Cast        : Sandara Park, Kim Yemi (OC)

Disclaimer             : Ini murni ff buatan saya. Jangan copas. Saya hanya pinjam nama mereka.

 

Untuk judul ff ini gak sengaja sama kyak lagu barunya abang Gary sama Gaeko ya😉 Sorry for typo!

 

Happy reading🙂

 

Sooyeon terlihat sangat kebingungan. Ia mencari kesana kemari tapi tetap tidak bisa menemukan novel yang kemarin dipinjamnya. Ia menyandarkan tubuhnya dibangku taman sekolah sambil memejamkan matanya sejenak. Beberapa saat kemudian ia tersentak.

Ia melihat sekelilingnya. Dan benar saja ia mengingat sesuatu. Ia mengingat jika kemarin ia sempat duduk dibangku ini setelah dari perpustakaan.

Sekarang Sooyeon bangkit dari duduknya dan segera mencari novel itu disekitar bangku taman. Ia mencari sampai kesemak-semak namun tetap tak menemukannya. Ia berjongkok mencoba mencari dibawah bangku dan hasilnya tetap sama. Ia menjatuhkan dirinya ditanah dan menghembuskan nafas berat.

“Sekarang apa lagi yang harus kulakukan?” ucapnya dengan nada lirih

Ia sudah benar-benar kehilangan semangat. Ia menutup wajahnya dengan tangannya. Mencoba untuk menahan dirinya untuk tidak menangis. Dan saat ia membuka matanya ia melihat sepasang sepatu didepannya. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat Myungsoo tengah berdiri  di depannya sambil membawa sebuah buku.

“Bukankah kau mencari ini?” tanya Myungsoo sambil mengulurkan sebuah novel dihadapannya

Sooyeon segera bangkit dan melihat novel itu dengan mata berbinar-binar. Ia segera mengambil novel itu dan mememeriksanya. Dan benar saja novel itu adalah novel yang kemarin dipinjamnya.

“Kemarin kau meninggalkannya disini” sambungnya

Sooyeon hanya diam. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia sangat senang, sungguh sangat senang sampai tak tahu harus berkata apa. Ia bersyukur telah menemukan novel itu. Ia memegang buku itu sangat erat takut jika ia akan menghilangkannya lagi.

“Terima kasih!” ucapnya seraya tersenyum. Senyuman yang tak pernah dilihat oleh Myungsoo.

DEG

Jantung Myungsoo kembali berdetak dengan sangat kencang. Ia segera mengalihkan pandangannya dan mencoba mengatur detak jantungnya yang menurutnya sedikit berlebihan.

“Sa_sama-sama” jawab Myungsoo sambil mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

.

.

.

.

.

Seorang wanita berparas cantik tengah mengemasi semua baju-bajunya kedalam sebuah koper dan menatanya dengan sangat rapi. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat sebuah gaun putih yang indah masih tergantung didalam lemarinya. Ia segera bangkit dari duduknya untuk mengambil gaun itu namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, ponselnya  berdering . Ia mengambilnya dan melihat nama ‘Ny Kim’ terpampang dilayar ponselnya. Sebuah senyuman manis terbentuk dibibirnya. Ia segera menggeser tombol hijau dan menempelkannya ditelinga.

‘Mommy!’ pekiknya keras

‘Ah suaramu sangat kencang sekali’ omel wanita paruh baya yang dipanggil ‘Mommy’ oleh wanita cantik itu

‘Ada apa menelponku Ny Kim?’ tanyanya dengan nada bercanda

‘Yemi_ah, kapan kau akan sampai? Daddy dan Mommy sudah tak sabar ingin bertemu denganmu’ ucap Ny Kim pada wanita cantik itu yang bernama Kim Yemi

‘Aku sedang membereskan semua barang-barangku. Besok aku sampai di Seoul’

‘Kenapa lama sekali? Kita sudah sangat merindukanmu’

‘Aku juga sangat sangat sangat merindukan kalian’ ucap Yemi dengan nada yang imut

‘Jam berapa jadwal penerbanganmu?’

‘Jam 3 pagi’

‘Kalau begitu cepatlah istirahat sudah malam dan jaga kesehatanmu’

‘Siap bos!’

Yemi tersenyum kecil lalu meletakkan ponselnya di atas kasur empuknya. Ia kembali melihat gaun putih tadi. Seketika senyuman manisnya berubah menjadi tatapan sendu.

“Sudah lama sekali. Apa kau masih mempunyai rasa yang sama denganku?”

.

.

.

.

.

Sooyeon terlihat sangat lihai dalam menggunakan pisau. Itu terbukti dari caranya memotong beberapa sayuran untuk membuat kimbab. Ia berencana membuat bekal untuk Myungsoo. Sebenarnya ia merasa ucapan terima kasih saja tak cukup membalas kebaikan Myungsoo yang telah menemukan novelnya maka dari itu ia membuat bekal untuk Myungsoo, meskipun tidak terlalu istimewa dan mahal. Namun ini tulus dari hatinya dan ia berharap Myungsoo mau menerimanya.

Tanpa disangka Ny Jung sedari tadi tengah melihat Sooyeon dari balik dinding dekat tangga. Ia terbangun dari tidurnya karena mendengar bunyi dari arah dapur. Ia terheran melihat putrinya bangun sangat pagi untuk memasak. Ia tak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Perlahan sebuah senyuman mengembang dibibirnya.

“Sooyeon_ah” panggil Ny Jung lembut

“Ibu?” ucap Sooyeon terkejut

Ia menghentikan aktivitasnya sejenak.

“Apa aku terlalu berisik?” tanya Sooyeon sedikit cemas

Ny Jung menggelengkan kepalanya pelan. Ia menghampiri Sooyeon dan mencoba sesuap kimbab buatan anaknya itu.

“Rasanya enak” komentarnya

“Benarkah?”

“Hmm kau cukup pandai membuat kimbab” ucap Ny Jung sambil mengelus kepala Sooyeon lembut.

Sooyeon tersenyum mendengar perkataan Ny Jung. Lalu ia kembali dengan pekerjaannya tadi yang sempat tertunda.

“Tumben kau membuat bekal?” tanya Ny Jung yang membuat Sooyeon kembali berhenti dan menggigit bibir bawahnya. Ia menghembuskan nafas lalu akhirnya mencoba menceritakan semua kejadian tentang novel pinjamannya yang sempat hilang pada Ny Jung.

“Jadi kau membuatkan bekal untuknya sebagai ucapan terima kasih?” tanya Ny Jung yang mendapatkan anggukan kecil dari Sooyeon

“Kalau begitu kau harus membuat bekal yang sangat enak untuknya”

“Baik Boss!” serunya sambil memberikan hormat pada Ny Jung

.

.

.

.

.

Kim Yemi menghembuskan nafas lega. Akhirnya ia sampai ditempat tujuannya, Seoul. Ia melepaskan kacamata hitamnya yang sedari tadi ia pakai. Matanya melihat setiap penjuru bandara mencoba mencari seseorang yang disuruh untuk menjemputnya. Ia tersenyum kecil saat melihat Tuan Hong sedang menunggunya bersama 2 pengawal yang tengah mengangkat papan bertuliskan namanya.

“Nona Kim Yemi?” tanya Tuan Hong

Yemi menganggukkan kepalanya.

“Apa aku tambah cantik sampai kau tak mengenaliku Tuan Hong?” canda Yemi

Tuan Hong tertawa kecil mendengar candaan dari anak Boss-nya itu. Memang benar ia sempat tak mengenalinya karena sudah cukup lama ia tak pernah melihatnya dan ditambah lagi dengan cara make up Yemi yang membuatnya lebih dewasa dan cantik dari sebelumnya namun karena candaan Yemi barusan ia yakin jika wanita didepannya itu adalah Kim Yemi.

“Maafkan aku Nona, mungkin karena saya sudah semakin tua dan Nona yang telah berubah menjadi wanita yang sangat cantik” puji Tuan Hong

“Terima kasih, sekarang dimana mobilnya? Sudah lama aku tidak melihatnya” ucap Yemi semangat

“Maafkan saya Nona, Tuan melarang Nona membawa mobil kesayangan Nona sendirian. Jadi sekarang Nona akan pulang bersama saya” jelas Tuan Hong yang membuat Yemi mengerucutkan bibirnya lucu

Tuan Hong mengisyaratkan 2 pelayan dibelakangnya untuk segera mengambil koper Yemi dan memasukkannya kedalam bagasi.

“Mari Nona!”

Kim Yemi terlihat sangat cemberut namun ia tetap menurut apa yang dikatakan oleh Tuan Hong.

.

.

.

.

.

“Baiklah waktunya istirahat” ucap Park songsaengnim seraya pergi meninggalkan kelas

Sooyeon melihat kembali bekal yang tadi pagi dibuatnya. Ia terlihat sedikit ragu-ragu untuk memberikan bekal itu pada Myungsoo. Ia takut jika Myungsoo tak menyukai bekal buatannya dan akan membuangnya ke tempat sampah.

“Myungsoo!” panggil Gongchan dari ambang pintu

Myungsoo yang merasa namanya dipanggil pun menoleh.

“Ayo ke kantin” ajak Gongchan

Myungsoo mengangguki ajakan Gongchan dan segera bangkit dari duduknya namun saat ia melewati bangku Sooyeon, ia berhenti. Ia berhenti bukan karena kemauannya sendiri tapi karena ia mendengar Sooyeon memanggil namanya, walaupun sangat pelan namun ia masih dapat mendengarnya. Ia menoleh kearah Sooyeon yang baranjak dari duduknya. Mata mereka bertatapan bertatapan cukup lama namun beberapa detik kemudian Sooyeon menundukkan kepalanya.

“Terima kasih untuk kemarin” ucap Sooyeon seraya menyerahkan kotak bekal makanan berwarna biru muda pada Myungsoo.

“Bukankah kau sudah mengatakan itu kemarin? Dan apa ini?” tanya Myungsoo heran

“Aku merasa ucapan terima kasih saja tak cukup untuk membalas kebaikanmu jadi aku membuatkan bekal untukmu”

Myungsoo tersenyum mendengarnya lalu ia mengambil bekal makanan yang diserahkan padanya.

“Terima kasih”

Sooyeon hanya menganggukkan kepalanya pelan.

“Gongchan!” panggil Myungsoo

“Myungsoo ayo cepat. Nanti-“ belum sempat Gongchan melanjutkan perkataannya sudah dipotong oleh Myungsoo

“Aku sudah membawa bekal” serunya seraya memperlihatkan kotak bekal biru muda itu pada Gongchan

“Baiklah kalau begitu. Aku ke kantin bersama yang lain saja”

Myungsoo kembali duduk dibangkunya dan membuka bekalnya. Matanya berbinar saat melihat kimbab bikinan Sooyeon yang terlihat sangat enak. Ia mengambil sumpit lalu menyuapkan sepotong pada mulutnya. Setelah suapan pertama habis ia segera menyuapkan potongan kedua.

“Kau mau makan bersama?” tawar Myungsoo

“Tidak usah. Terima kasih” ucapnya menolak tawaran Myungsoo dengan halus

“Ayolah ini terlalu enak untuk dimakan sendirian” ucap Myungsoo yang terdengar seperti rengekan namun Sooyeon tetap menolaknya dengan gelengan kecil.

“Kalau begitu, bagaimana jika kau menemaniku memakannya?”

Sooyeon sedikit memiringkan kepalanya, dia tampak berpikir. Sebenarnya ia ingin pergi ke perpustakaan tapi mengingat Myungsoo telah membantunya akhirnya ia menganggukkan kepalanya dan membalik bangkunya menghadap Myungsoo lalu duduk dengan manis.

“Oh iya, nanti pulang sekolah kita mengerjakan tugasnya di rumahku” ucap Myungsoo dan Sooyeon hanya menganggukan kepalanya

Myungsoo kembali menyuapkan beberapa kimbab ke dalam mulutnya. Ia tersenyum saat melihat kimbab-nya hanya tinggal satu suapan. Ia mengambilnya dengan tangannya lalu memberikannya pada Sooyeon. Myungsoo mengisyaratkan Sooyeon untuk membuka mulutnya dengan lebar tapi Sooyeon menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya di depan dada.

“Ayolah! Aaaaahhh…….” Sooyeon tetap menggelengkan kepalanya

“Aku akan sangat menghargai bekal yang kau buat jika kau mau memakan kimbab ini” ucap Myungsoo yang sukses membuat Sooyeon membuka mulutnya dan ia segera menyuapkannya. Myungsoo tersenyum lalu tangannya mengusap pelan puncak kepala Sooyeon.

“Pintar” ucap Myungsoo yang membuat Sooyeon bingung

Apa dia pikir aku hewan peliharaan?

.

.

.

.

.

Sooyeon menatap pintu di depannya dengan tatapan kosong. Myungsoo yang telah membuka pintu apartemennya bingung melihat Sooyeon yang hanya diam. Ia menggoyang-goyangkan tangannya didepan wajah Sooyeon yang membuatnya sadar dari lamunannya.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Uh?”

“Ayo masuk”

Myungsoo mempersilahkan Sooyeon untuk masuk kedalam apartemennya lalu kembali menutup pintunya.

“Duduklah, aku akan mengambil minuman untukmu”

Sooyeon tak mendengar perkataan Myungsoo barusan karena ia terlalu sibuk dengan pemandangan sekelilingnya. Ia menatap apartemen Myungsoo dengan kagum. Mewah. Itulah kesan pertamanya pada ruangan yang didominasi dengan warna kesukaannya yaitu biru laut. Serta beberapa pernak-pernik yang membuat ruangan itu terlihat sangat mewah namun tetap nyaman.

“Maaf menunggu lama” ucap Myungsoo yang datang dari arah dapur sambil membawa dua botol minuman berkarbonasi ditangannya lalu meletakkannya dimeja. Ia terkekeh pelan melihat tingkah Sooyeon yang lucu menurutnya.

“Apa kau mau mengerjakan tugas dengan berdiri?” celetuk Myungsoo yang membuat Sooyeon sadar lalu segera duduk disofa dengan manis. Dan Myungsoo duduk tepat disampingnya.

“Minumlah”

Sooyeon hanya menganggukkan kepalanya kemudian mengambil salah satu dari dua botol minuman itu. Ia membukanya lalu meminumnya sedikit dan kembali menaruhnya di meja.

“Apartemenmu sangat nyaman” ucap Sooyeon membuka percakapan

“Terima kasih”

“Apa kau tinggal sendirian?”

“Bisa dibilang begitu”

Myungsoo menatap Sooyeon dengan heran. Ketika disekolah Sooyeon jarang sekali berbicara dengannya namun sekarang ia malah lebih banyak bertanya padanya. Sooyeon menolehkan kepalanya dan melihat jika Myungsoo tengah menatapnya. Mata mereka bertemu untuk kedua kalinya. Namun berbeda dari sebelumnya sekarang Myungsoo-lah yang menghindar. Ia merasa pipinya mulai memanas meskipun Sooyeon tak melihatnya.

“Myungsoo?” panggil Sooyeon

Myungsoo menghembuskan nafas pelan lalu ia menoleh kearah Sooyeon.

“A_ada apa?”

“Ayo kita mengerjakan tugasnya”

Myungsoo menjawabnya dengan gumaman dan segera membuka bukunya. Mereka berdua tampak sangat serius mengerjakan tugas kelompok. Sooyeon tengah membuat bab pendahuluan untuk makalah mereka berdua sedangkan Myungsoo membaca bab yang akan dibahas.

Tiba-tiba ponsel Sooyeon berdering yang membuat Myungsoo menoleh padanya. Ia segera mengangkatnya tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menelponnya.

‘Sooyeon_ah?’

‘Ibu? Ada apa?’

‘Kucingmu hilang. Ibu sudah mencarinya di sekitar rumah tapi tetap tidak ada’

‘Baiklah aku segera pulang’

Sooyeon menaruh ponselnya disakunya dan menatap Myungsoo dengan tatapan bersalah.

“Myungsoo, maaf tapi aku harus pulang. Ada urusan mendadak yang harus ku selesaikan. Tenang saja aku akan mengerjakan bagianku di rumah”

Myungsoo mengangguk mengerti, “Perlu ku antar pulang?”

“Tidak perlu, aku naik bus saja”

“Bukankah kau bilang urusan mendadak? Kalau kau naik bus itu akan memakan waktu yang lama, lebih baik aku mengantarmu pulang” Myungsoo beranjak dari duduknya lalu segera mengambil kunci mobilnya yang terletak di dekat meja.

Myungsoo menatap Sooyeon yang masih diam. Ia tersenyum lalu segera menarik tangan Sooyeon.

“Maaf merepotkanmu”

Myungsoo tersenyum lalu kembali mengacak rambut Sooyeon pelan.

.

.

.

.

.

Yemi turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Sang pelayan yang telah bersiap didepan pintu segera membukanya dan mempersilahkan Yemi untuk masuk. Senyuman yang semula terlukis diwajahnya hilang saat ia hanya melihat beberapa pelayan menyambutnya dan bukan kedua orangtuanya.

“Dimana mereka?” tanya Yemi seraya melihat ke arah Tuan Hong dengan cemberut

“Tuan sedang rapat dengan pemegang saham, sedangkan Nyonya ada pertemuan penting dengan designer dari luar negeri” jelas Tuan Hong

“Bukankah mereka merindukanku? Tapi saat aku pulang malah tak ada seorang pun dirumah” gumam Yemi kesal dengan wajah imutnya

“Tuan Hong, tolong bawakan koper saya ke kamar dan juga bawakan teh hangat untukku”

“Baik Nona”

Yemi segera menaiki tangga menuju kamar yang sudah lama ia rindukan. Ia melihat kamarnya tak jauh berbeda waktu terakhir kali ia tidur di kamarnya. Ia segera menjatuhkan tubuhnya dikasur empuk nan nyaman miliknya.

“Ahhh……aku merindukanmu”

.

.

.

.

.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang” ucap Sooyeon seraya tersenyum

Myungsoo menganggukan kepalanya pelan. “Tak masalah, sana cepat masuk”

“Kau tak mau masuk dulu? Akan ku buatkan teh”

“Kapan-kapan saja”

Sooyeon menganggukan kepalanya mengerti. “Baiklah, hati-hati dijalan!”

Myungsoo segera melajukan mobilnya menjauhi rumah Sooyeon.

“Sooyeon kau sudah pulang?”

Sooyeon menolehkan kepalanya dan melihat Ny Jung tengah berdiri di ambang pintu.

“Apa Jongah belum ketemu?” tanya Sooyeon seraya berjalan mendekati Ny Jung

“Jongah sudah ketemu. Ternyata dia berada diatap kamarmu”

“Syukurlah” Sooyeon menghembuskan nafas lega

“Maaf, tadi ibu membuatmu khawatir”

Sooyeon menggelang pelan. “Tidak, Bu”

“Tadi siapa yang mengantarmu?” tanya Ny Jung penasaran. Pasalnya ia tak pernah melihat putri kesayangannya itu pulang diantarkan oleh seorang laki-laki tampan sebelumnya.

“Dia orang yang aku ceritakan tadi pagi, Bu”

“Oh! Jadi dia yang bernama Myungsoo?” Sooyeon kembali menganggukkan kepalanya

“Dia tampan” ucap Ny Jung seraya memberikan tatapan menggoda pada putrinya itu

“Ibu! Sudahlah aku mau mandi dulu” jawab Sooyeon sedikit kesal dengan tingkah Ny Jung yang membuatnya malu. Ny Jung tertawa melihat reaksi lucu dari Sooyeon lalu segera mengikutinya dari belakang.

.

.

.

.

.

Sooyeon memegang dagunya dengan telunjuk tangannya. Ia tengah berada di supermarket terdekat untuk membeli pelembut pakaian karena disuruh Ny Jung. Ia bergantian melihat 2 pelembut pakaian dengan aroma berbeda yang tertata rapi dirak. Ia tampak bingung memilih pelembut mana yang akan dibelinya.

Yang mana ya? Bunga atau lavender?

Setelah berpikir cukup lama akhirnya ia memilih untuk membeli pelembut dengan aroma bunga, karena ia menyukai bunga lagi pula kemarin ibunya telah menggunakan pelembut dengan aroma lavender. Setelah dirasanya cukup, ia segera pergi ketempat kasir. Ia mengantri dibelakang seorang siswi yang terlihat lebih pendek darinya. Dilihat dari seragam yang dikenakan oleh siswi itu, tampaknya ia juga berasal dari sekolah yang sama dengan Sooyeon.

“Total semuanya, 2800 won” ucap kasir tersebut pada siswi didepan Sooyeon

“Ini uangnya” ucap siswi itu seraya menaruh uangnya diatas meja

Sang kasir segera mengambil dan menghitung uang tersebut.

“Maaf uang anda kurang 500 won” ucap sang kasir

“Benarkah?”

Siswi itu segera mencari kekurangannya didalam dompetnya namun tak ada uang seperserpun. Ia kembali mencari didalam tas.

“Padahal sepertinya tadi aku membawa uang pas. Dimana ya?” gumam siswi itu pelan namun masih dapat didengar Sooyeon

“Ayolah cepat! Kita juga ingin membayar barang belanjaan kita” seru seorang pria pada siswi itu

“Maaf, eumm…. Park Sandara_ssi” panggil Sooyeon seraya melihat tanda pengenal yang dipakai siswi itu.

“Iya?”

“Kau menjatuhkan uangmu” ucap Sooyeon sambil menyerahkan uang 500 won pada siswi itu yang bernama Park Sandara.

“Benarkah? Gomawo” ucap Sandara lalu segera menyerahkan uang itu pada kasir.

“Terima kasih telah berbelanja ditempat kami” ucap sang kasir

Sandara segera pergi dari tempat kasir. Ia takut jika akan dimarahi lagi oleh pelanggan yang lain.

.

.

.

.

.

“Aku pulang!” seru Sandara seraya menaruh sepatunya di rak dekat pintu

“Noona?” panggil adiknya, Park Cheondung

“Tadi pagi kau menjatuhkan uangmu” ucap Cheondung seraya menyerahkan uang 500 won pada kakaknya.

“Aku? Menjatuhkannya?” tanya Sandara tak percaya

“Iya, aku menemukannya di rak sepatu”

Mendengar perkataan adiknya itu Sandara hanya diam. Ia kembali memikirkan kejadian tadi saat di supermarket.

“Lalu uang siapa yang diberikan oleh perempuan itu? Apa itu uangnya?” gumam Sandara

“Ada apa kak?” tanya Cheondung tak mengerti gumaman kakaknya barusan

“Tak ada, ayo masuk”

Sandara segera mendorong bahu Cheondung untuk segera masuk kedalam rumah.

 

 

TBC

 

Maaf buat lama post-nya, tambah gaje, makin pendek, alurnya kecepetan, ngebingungin dll. Untuk komen yang kemaren makasih #bow maaf belum bisa bales😀 Klo tanya chapter selanjutnya mungkin agak lama soalnya q mau UN jadi super sibuk /sok/ Sebenernya aku agak sedih soalnya yg komen cuma dikit jadi sekarang q mau kasih batasan buat komen di chapter ini yaitu min 20 J

Di chapter ini makin tambah cast, trus makin bermunculan moment MyungSica❤ trus maaf buat Sehun, Chanyeol sma Woohyun yg gak keluar di chapter ini T_T

Ada yg bisa nebak siapa Kim Yemi?

11 thoughts on “[Freelance] Lonely Night Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s