Coffelovy|Three~Sequel of JSBM

sym-coffelovy

Author : S.Y.M

Title : Coffelovy

Lenght: –

Rating : G

Genre: Romance, Litle Angst

Cast : Jessica Jung || Kim Myungsoo

Other Cast :

_Henry_Park Chanyeol_ Na Gongchan.

New Cast :

Choi Minho

Park Gyuri

Thanks to:

Harururu98@Cafeposter

OST:

Give you the world ~ Kyle Kupecky

One Two

 

“ Everything is…You, Just You are…”

 

*

*

*

 

Bisa dibilang wajah datar Sooyeon yang lebih mirip muram menjadi perhatian khusus Choi Minho. Pria yang sedang menjadi model pakaian di perusahaan tempatnya bekerja itu tak berhenti memperhatikannya setiap ada kesempatan.

Dia melempar senyumnya setelah melihat Sooyeon berjalan kearahnya. Gadis itu memberikan botol minuman untuknya. Segera Minho membungkukkan badannya sejajar dengan tinggi Sooyeon. Ia menghadapkan keningnya pada Sooyeon.

“ Wae?” Tanya Sooyeon tidak mengerti.

“ Kau membawa tissue untukku kan? “

Hfuh…Sooyeon mendengus, ia meniup poninya sampai terangkat keatas. Lalu mengangkat tangan yang sudah menggenggam tissue itu untuk mengelap peluh Minho.

“ Gomawo “ ucap minho kegirangan.

“ Dia bertingkah seperti kekasihku, bahkan manusia datar itu tidak pernah seperti itu “ gerutunya pelan.

Sejenak ia kembali menghela nafas, sejujurnya ia merindukan Myungsoo. Manusia datar dan makhluk aneh itu. Ia melirik tajam Minho yang kembali melakukan bagian pekerjaannya. Dipikirannya sudah berkutat untuk keluar sejenak dari tempat itu dan menghubungi Myungsoo. Bahkan kemarin ia berdoa agar Myungsoo tidak menghubunginya.

Dan perlahan ia melangkah mundur, mencari kesempatan untuk keluar sejenak dari ruangan itu.

1

2

3

4

“ Jung Sooyeon”

SIAL

Sooyeon berhenti, ia menoleh ke sumber suara dan melempar senyumnya.

“ Ye ?”

“ Aku butuh bantuanmu sebentar” Pinta Nyonya Park, yang artinya ia harus mengerjakan apa yang disampaikan Nyonya Park padanya.

Benar benar sial. Niatnya ingin lari gagal.

&             &             &

 

Manajer So menunggu Myungsoo yang sedang berdiri. Hanya terdiam menatap sepasang sepatu. Sebenarnya ia sudah menyukai sepasang sepatu itu. Tentu untuk ia berikan kepada Sooyeon. Namun yang masih bergejolak adalah, bayangannya mengenai ekspresi Sooyeon tentang hadiah yang ia berikan.

“ sss….dia pasti menertawaiku, dan berfikir aku sedang demam” gumamnya

“ Kau bisa membelinya jika kau menyukainya Direktur” Manajer So menyumbang suara.

Myungsoo masih diam, dia menunduk dan menatap sepasang sepatu yang ia pakai.

“ Apa menurutmu dia akan menyukainya?” kali ini Myungsoo terlihat serius.

“ Aku pikir Nona muda itu akan menyukai segala sesuatu yang kau berikan “

“ Itulah , terkadang sangat sulit membedakan apakah ia sedang sedih atau bahagia, membuat orang-orang disekitarnya terhindar dari kesedihan adalah sifatnya”

Manajer So tersenyum. Dia melirik Direktur muda yang masih menatap sepasang sepatu itu.

“ Aku yakin, kau sedang merindukannya”

Kim Myungsoo berdehem kecil. Selanjutnya ia melanjutkan perjalanannya.

“ Kau yakin Direktur?”

“ Mwo?”

“ Meninggalkan sepatu itu?”

“ Dia tidak menghubungiku, untuk apa aku belikan hadiah”

“ Aa…kau masih marah soal itu? , apa gaya pacaran anak muda sekarang seperti itu? Hmmmm aku rasa juga seperti itu “

“ Kami …tidak berpacaran…kami bertunangan”

“ Baiklah…apapun itu…kau yakin tidak ingin menghubunginya lebih dulu?” goda Manajer So.

“ Any”

“ Be…”

“ Apa kau ingin aku pulang saat ini juga?”

“ Ah…Ye. . . mian” Manajer So membungkuk singkat. Aura dingin Myungsoo kembali menyelimuti. Setidaknya ia berhasil menggodanyahari ini. Sungguh hiburan tersendiri baginya jika bisa menggodanya dengan Sooyeon .

.

.

Agenda Kim Myungsoo hari ini adalah bertemu dengan Tuan Park. Setelah pertemuannya di pagi hari dan sarapan bersama, sepertinya Tuan Park masih ingin bertemu lagi dengan Myungsoo. Pria tua itu mulai menyukai karakter Kim Myungsoo. Menurutnya dia anak muda yang berbakat untuk berbisnis. Selain itu ada hal lain yang ingin ditawarkan Tuan Park pada Myungsoo.

Manajer So berdehem kecil setelah menjelaskan alasan Tuan Park mengundangnya lagi untuk bertemu. Direkturnya sepertinya kurang tertarik. Ia tahu jika Myungsoo hanya menjalankan tugasnya saat ini sebagai pengganti ayahnya. Setelah kesepakatan kerjasama ia dapatkan ia tidak tertarik untuk hal lain.

“ Kau tau, akupunya firasat buruk untuk pertemuan kali ini” ucap Myungsoo.

“ Hah..entahlah…kita lihat saja”

“ Aku dengar beliau bersama cucu perempuannya”

“ Baiklah…firasatku mulai terbaca” Myungsoo tersenyum.

Orang yang dibicarakannya sudah datang dan menuju ketempatnya. Dan tepat sekali, Tuan Park bersama seorang perempuan cantik lengkap dengan gaun indahnya yang membuatnya terlihat anggun.

“ Ah…apa kalian sudah lama menunggu? Maaf kan kami, karena kami harus membawa putri cantik satu ini” Tuan Park menyalami Myungsoo, begitu pula sebaliknya.

“ Tidak apa-apa, kami memaklumi” jawab Manajer So.

Dan jangan lihat bagaimana ekspresi Myungsoo saat ini. Dimanapun tempatnya dan kepada siapapun dia memiliki stok yang cukup untuk wajah datar dan dinginnya.

“ Kakek, apa …”

“ Ah…aku lupa, baiklah…perkenalkan dia adalah cucu keluarga Park, dia cucu perempuan satu-satunya , dan cucu kesayanganku, Park Gyuri”

Gadis cantik itu membungkuk singkat, ia memberi senyum manisnya pada Manajer So, jelas saja karena Manajer So yang paling ramah. Selanjutnya dia memberi sapaan halus pada pemuda tampan Kim Myungsoo. Namun hanya senyum tipis yang ia dapat. Tidak masalah selama senyum itu membuatnya tetap terlihat tampan.

“ Anda sangat anggun Nona Muda “ Puji sang manajer.

“ Kim Myungsoo imnida” Myungsoo membukkukkan tubuhnya sedikit, Meski dengan kedinginannya dia tidak lupa untuk bersikap sopan.

Dan feedback lain diberikan oleh Park Gyuri. Gadis itu tersenyum bahagia, seolah ia baru saja bertemu dengan seseorang yang sudah lama ingin ia temui.

“ Park Gyuri imnida..” Gyuri membalasnya.

Myungsoo kembali duduk setelah berkenalan, dia tersenyum simpul pada Tn. Park . Diliriknya singkat Manajer So yang masih memasang senyum andalannya. Firasat buruknya benar, jika ada sang Partner dan seorang putri dalam pertemuan seperti ini. Itu artinya akan ada kesepakatan lain selain kerjasama dalam bisnis. Apalagi jika bukan persatuan keluarga demi bisnis.

“ Mungkin ini terlalu cepat, namun tidak ada salahnya jika aku mengenalkan cucuku kepadamu anak muda”

“ Kakek…”  cegah Gyuri malu-malu.

“ Wae? Bukankah kau sudah mengaguminya sejak lama?”

“ Kakek….tidak perlu mengatakan itu…” Gyuri menunduk malu. Bagaimana mungkin kakeknya mengatakan hal sensitif itu.

“ Ah…ye, saya memahaminya , perasaan anak muda memang sering tidak terkontrol…saya juga pernah merasakannya ..hahaha” timpal Manajer So.

Myungsoo melirik Manajer So jengah, baiklah…dia harus berterima kasih karena Manajer So mampu mencairkan suasana. Jika tidak, suasana dingin dan mati akan menyelimuti pertemuan mereka.

Park Gyuri masih tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Terlihat dari pipinya yang bersemu. Ditambah kakeknya yang terus menggodanye di depan Kim Myungsoo. Sosok pintar yang membuatnya jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama. Mungkin ini adalah kali pertama Myungsoo bertemu dengannya, namun tidak dengan Park Gyuri. Tanpa Myungsoo sadari Park Gyuri sering mengikuti sang kakek hanya untuk melihat Myungsoo dari kejauhan. Selama proses pengajuan dan kesepakatan terbentuk dengan perusahaan kakeknya. Selama itu pula kesempatannya untuk melihat Myungsoo.

.

.

.

Mungkin saat ini diwajah gadis cantik dan anggun itu hanya garis melengkung yang membentuk senyuman. Entahlah, meski hanya berjalan bersama dengan kediaman mereka, ia tetap merasa sangat bahagia. Ia harus berterima kasih pada sang kakek dan Manajer So yang membuatnya bisa jalan-jalan berdua dengan Myungsoo di taman.

Diam-diam dia memperhatikan wajah tampan Myungsoo. Sifatnya sama dengan wajah yang ia tunjukkan. Dia sosok yang dingin atau memang ia masih canggung untuk memulai pembicaraan dengan seseorang yang baru ia kenal.

“ Ehem…jweosonghamnida, apa kakekku menyinggungmu?”  Gyuri memecah keheningan mereka.

Setelah mengumpulkan keberaniannya untuk memulai pembicaraan. Terlihat sekali dari matanya yang melebar dan terlihat berhati-hati.

“ Ah? Any… Wae? Apa dia mengatakan sesuatu padamu Gyuri_ssi?”

Park Gyuri terdiam, selanjutnya dia menunduk. Tanpa sengaja mata mereka bertemu , dan itulah kenapa ia menjadi salah tingkah. Ia tidak menyangka jika Myungsoo berhenti dan menghadap padanya, tepat saat ia juga menghadap padanya.

“ Tidak…hanya saja, kau terus diam dan tidak bicara padaku, atau…apa memang seperti ini dirimu?”

“ Ohh…Mian, aku tidak bermaksud seperti itu “ Myungsoo tersenyum pada Gyuri.

“ A…ah ye, tidak perlu meminta maaf, aku hanya berfikir saja “

“ Tenang saja, aku sangat menghormati Tn Park, seperti kakekku sendiri. Tidak ada yang membuatku tersinggung”

“ Ah..Syukurlah…”

Myungsoo kembali tersenyum. Senyum yang membuat Park Gyuri terpana . Sial sekali dia mengeluarkan senyuman andalannya. Membuat jantung itu berdetak semakin kencang.

“ Kkaja” ajak Myungsoo masih dengan senyumannya.

 

“ jangan terlalu jujur pada Nona Park Gyuri, hindari sifat burukmu itu Direktur, anda harus perlahan-lahan melihat situasi dan meyakinkan Tuan Park. Jangan sampai kesepakatan yang kita buat berantakan”

Itu wejangan dari Manajer So sebelum Myungsoo dan Park Gyuri memutuskan untuk menikmati waktu bersama di taman. Kali ini Myungsoo memang harus menurut. Bahkan kesepakatan ini baru ia dapat kemarin. Perusahaannya tengah membutuhkan dukungan penuh. Tidak mungkin ia bertindak gegabah.

Hah…jung Sooyeon, Bogoshippo…

@            @            @

 

Sooyeon memasang wajah kesalnya. Ia merasa risih dengan tatapan Si kelinci Gongchan. Lebih tepatnya Na Gongchan sedang marah karena Sooyeon mengabaikannya, sejak kedatangan Choi Minho tepatnya.

“ Apa dia lebih penting Noona? Kau sama saja dengan Na Haeryeong”

“ Apa lagi  ini?” keluh Sooyeon.

“ Kau tidak membantuku beberapa hari ini, dan menolak untuk aku jemput”

“ Jangan seperti  anak kecil Na Gonchan”

“ Apa hubungan dia denganmu?” Gongchan tidak menyerah.

Sooyeon memutar mata jengah. Dia menyesap sisa kopinya.

“ Dia teman masa kecilku, dia berasal dari Amerika, sama denganku. Dan aku baru tahu jika dia sedang sakit….Aaaahhh…molla, kenapa semua orang tengah mengadu sakit padaku” Sooyeon mengacak rambutnya. Sepertinya ia frustasi.

“ Jinja?”

“ Aku baru tahu hari ini, Dia teman masa kecilku, dan aku ingin mendukungnya”

“ Hah…hentikan penyakitmu itu Noona, kau juga seperti itu pada Si manusia datar , dan akhirnya kau tidak bisa meninggalkannya”

Sooyeon terdiam. Yang dikatakan Gongchan memang benar. Saat ini kepalanya tengah pusing.

“ Sebenarnya aku ingin menghabiskan waktu berhargaku ini bersamamu, aku ingin mengisi sisa waktuku ini untuk melakukan banyak hal bersamamu Jung Sooyeon”

Bahkan kalimat itu masih terngiang ditelinganya. Tidak seharusnya ia bertemu hari ini. Pernyataan yang sangat tiba-tiba dari Choi Minho. Ditengah kesibukan mereka dalam bekerja, ia bisa mengatakan itu. Dan tentu membuat konsentrasi Sooyeon buyar. Akhirnya ia memutuskan untuk ijin dan pulang dari kantor.

Hah…Kim Myungsoo, kuharap kau cepat kembali. Tolong aku…

@            @            @

 

Kim Myungsoo menatap ponselnya dengan wajah tertekuk, ia menatap kalender di ponselnya. Mengingat sudah berapa lama ia jauh dari Sooyeon. Ia mendengus pelan.

Ia memiliki firasat buruk dibalik pengenalannya dengan cucu Tn Park. Ia tidak berharap bahwa kisahnya mungkin akan sama dengan Na Haeryeong, yaitu perjodohan demi memperkuat hubungan kerjasama antar perusahaan. Ia tahu ia masih sangat minim pengalaman dalam menjalankan perusahaan. Tapi ia sama sekali tidak berfikir untuk mengambil jalan seperti itu untuk memperkuat kerjasamanya.

“ Manajer So, bisakah kau mengatakan bahwa aku sebenarnya sudah mempunyai tunangan pada Tn Park, meskipun kemarin hanya sebuah perkenalan, tapi aku memiliki firasat buruk tentang itu”

“ehem, hemh…aku akan mengatakannya jika Tn Park berencana menjodohkanmu dengan nona Park. Jika beliau mengungkapkan niatannya itu “

“ Hah…aku takut jika dia memiliki perasaan padaku”

“ Hahahaha, sepertinya sudah”

Myungsoo memutar mata jengah.

“ Manajer So, buatkan jadwal penerbanganku besok, aku ingin kembali ke Seoul”

“Ye? “

“ Kau masih ingin berlama-lama meninggalkan perusahaan? “

“ Baiklah…, katakana saja jika kau merindukan tunanganmu itu”

Myungsoo melirik tajam Manajer So.

“ Aku tidak berkata apa-apa” Manajer So, membungkam mulutnya.

 

@            @            @

 

Sooyeon diam tak berkata apa-apa. Setelah kedatangan Choi Minho di Seoul beberapa hari ini membuatnya frustasi, sekarang kakaknya tercinta juga datang untuk mengunjunginya. Lebih tepatnya mungkin dia menjadi mata-mata lagi untuk hubungannya dengan Myungsoo.

“ Wae? Kau tidak suka , Oppa tampanmu ini mengunjungimu?” Henry melempar senyum, ia menyesap kopinya.

“ Hyung, bagaimana keadaan Paman Jung?” Tanya Minho.

Baiklah, benar sekali jika kedua pria ini sedang mengisi waktu istirahat Sooyeon. Dia dipaksa untuk libur kuliah dan kerja part timenya. Dengan alasan menemani Choi Minho sang model perusahaan jalan-jalan, dia dengan mudah mendapat ijin dari Ny. Park.

“Eoh, Beliau baik-baik saja, bahkan setelah putri kesayangannya memutuskan untuk tinggal jauh darinya “

Sooyeon menatap kelain tempat. Henry sedang menggodanya.
“ Lalu , bagaimana dengan acara pernikahanmu Hyung?”

“ Ah…aku belum memikirkannya, mungkin dongsaengku akan segera menyusulku jika aku segera menikah, dan aku sedang tidak berminat memikirkan itu, perusahaan mungkin menjadi prioritasku untuk saat ini “  jawab Henry, lebih tepatnya ia menekankan jika sebelum ia menikah, ia tidak mungkin menikah dengan Myungsoo.

Aku ingin melemparnya ke dasar lautan Ya Tuhan…

Batin Sooyeon.

Choi Minho tersenyum melihat wajah panas Sooyeon. Dia tetap diam mendengar perbincangan mereka, mungkin hatinya sedang panas.

“ Hya….kau tidak ingin memelukku heum?”

“ Any…”

“ Wae? “

“ Baiklah…aku akan memelukmu lalu aku buang ke lautan” Geram Sooyeon.

Henry dan Minho tertawa mendengar kalimat itu. Mungkin perbincangan mereka benar-benar membuat Sooyeon marah.

@            @            @

Sooyeon sedikit lega, kedatangan Henry ke Seoul sedikit membantunya. Ia tidak perlu menemani Minho malam ini. Tanpa perduli rengekan Minho, ia menitipkan teman masa kecilnya itu pada Henry. Meskipun dengan sedikit pengorbanan dengan memeluk Henry sebagai gantinya. Kalian tahu Oppa nya itu memang sedikit aneh.

Ia berjalan gontai menuju rumahnya. Ia kurang istirahat beberapa hari ini , sejak kedatangan Minho. Ditambah rengekan bocah kelinci Na Gongchan. Ia benar-benar kekurangan waktu tidurnya.

Matanya mengintai sekeliling rumahnya. Ia tersenyum pada kelinci-kelincinya di kandang. Setelah memberi makan mereka, ia bertolak menuju rumah Myungsoo. Entah kenapa ia ingin ke rumah itu. Rumah itu masih kosong, bahkan Ahn Ahjumma pun sama sekali tidak merindukannya. Padahal ia sangat merindukan masakan Ahn Ahjumma.

Sooyeon menghirup aroma kamar Myungsoo. Ia melempar tas lalu membanting tubuhnya di tempat tidur. Sangat menyengat aroma Myungsoo yang menempel pada selimutnya. Hah…kapan kekasihnya itu kembali ke Seoul. Bahkan beberapa hari ini pun ia takut untuk menghubunginya.

“ Hemh…apa dia memang sesibuk itu?” …

Dan selanjutnya ia tidak bisa lagi membuka matanya. Mungkin karena gaya grafitasi tempat tidur itu yang terlalu besar.

.

.

Myungsoo bergeming karena ia sampai di Seoul di malam hari. Bahkan rumah Sooyeon pun benar-benar gelap. ia harus berganti pakaian dan besok pagi-pagi membangungkan putri tidur itu.

KLEK..

Ia menghela nafas, pintu kamarnya tidak terkunci. Pasti ada seseorang di dalamnya. Ahn Ahjumma tidak mungkin kembali secepat ini. Ia masih butuh istirahat.

Ia tersenyum, tidak ada yang lain kecuali Jung Sooyeon. Lampu kamarnya pun masih menyala.

Sepertinya gadis itu lupa mematikannya, posisi tidurnya pun tidak pada tempatnya. Ia tidak memakai selimut ataupun bantal. Sepertinya ia datang dan langsung tertidur.

Myungsoo melepas setelah jasnya lalu berganti pakaian. Hanya memakai kaos tipis untuk tidur. Setelah membersihkan diri ia bersiap untuk tidur, niatnya untuk membangunkan Sooyeon mungkin tidak akan berhasil karena jika sudah tidur Sooyeon sangat sulit dibangunkan. Selanjutnya ia membenahi posisi Sooyeon dan memakaikan selimut untuknya. Ia juga butuh istirahat karena perjalanan yang melelahkan hari ini.

.

.

.

Sooyeon merasakan tubuhnya sedikit kaku. Bahkan ia kesulitan untuk bergerak. Dalam mimpinya ia merasa jika ada tali yang mengikatnya erat sehingga ia kesulitan untuk bergerak.

“ Ugh…”

Sooyeon membuka matanya, dalam benaknya ia mungkin barus aja berhasil melepaskan diri dari tali yang melilitnya. Namun kenyataannya tidak.

Bukan tali yang melilitnya. Melainkan sebuah pelukan dari sosok yang ia rindukan.

Beberapa kali ia mencoba menyadarkan diri, mungkin ia sedang bermimpi.

“ Engh…” Myungsoo membuka matanya, dan Sooyeon masih tak bergerak.

Dengan mata yang masih menyipit Myungsoo bergerak dan tepat mendaratkan bibirnya pada bibir mungil Sooyeon.

“ Kau tidak sedang bermimpi, dasar penguntit” Myungsoo tersenyum, sungguh senyum termanis yang ia lihat dipagi hari ini.

Sooyeon masih tak bergerak, ia masih mengumpulkan seluruh nyawanya. Myungsoo tidak mengatakan apa-apa saat ia akan kembali ke Seoul, itulah kenapa ia masih menyangka jika ia sedang bermimpi.

Myungsoo kembali bergerak, kali ini bukan hanya kecupan singkat, tapi lumatan halus pada bibir tipis Sooyeon. Ia meluapkan kerinduannya dengan ciuman halus yang cukup lama itu.

“ Kau masih belum sadar? “

Sooyeon menggeleng, karena pembiasan cahaya melalui jendela kamar Myungsoo, ia semakin merasa masih dalam mimpi.

Myungsoo kembali menciumnya. Dalam waktu yang cukup lama pula.

Perlahan tangan Sooyeon terangkat untuk menyentuh pipi Myungsoo. Menghentikan kegiatannya.

Myungsoo tersenyum tipis “ Kau sudah sadar?”

Sooyeon mengangguk.

“ Aku tidak bisa bergerak “  Sooyeon nyengir.

Namun Myungsoo menolak untuk menyingkir, ia malah kembali mencium bibir tipis itu untuk ke tiga kalinya.

Dia benar-benar merindukan Sooyeon?

Tangan Sooyeon kembali menyentuh pipi  Myungsoo untuk menghentikan kegiatannya.

“ Itu hukuman untuk penguntit”

“ Aku tidak menguntit”

“ Apa yang kau lakukan di kamarku?”

“ Tidur”

Myungsoo menghela nafas. Ia beralih dari posisinya yang mengunci Sooyeon.

Sooyeon tersenyum kecil, akhirnya ia bisa bergerak. Tanpa memperdulikan Myungsoo ia meraih ponselnya yang ada di tas. Memastikan jika memang Myungsoo tidak memberi kabar dengan kepulangannya.

“ Aku akan membersihkan kamarmu, rumahmu, dan menyiapkan kopi untukmu”

Myungsoo terdiam.

Ia hanya melihat Sooyeon berlalu keluar dari kamarnya membawa tas kecilnya. Mungkin ia ganti baju dan kembali ke rumahnya.

.

.

Myungsoo sudah selesai membersihkan diri. Ia berjalan pelan melihat Sooyeon sedang membuatkan kopi untuknya. Ia merasa sikap Sooyeon sangat aneh. Kenapa gadis aneh itu tidak seantusias biasanya.

Dengan tatapan selidik ia masih berdiri di belakang Sooyeon. Ia juga sedang memasak telur gulung. Meski hasilnya masih sedikit gosong.

KLEK.

Myungsoo mematikan kompor.

“ Wae? “ Sooyeon berbalik dan tepat Myungsoo menangkapnya.

Kini Sooyeon berada dalam pelukannya.

Myungsoo perlahan kembali mencium bibirnya. Untuk ke empat kalinya pagi ini Myungsoo menciumnya, dia benar-benar sedang melampiaskan kerinduannya.

“ apa hanya aku yang merasakan rindu sebesar ini?”

Sooyeon mengedipkan matanya bebearpa kali. Ia tersenyum lalu menendang kaki Myungsoo.

“ AAGHT, HYA!!” teriak Myungsoo.

“ Sejak kapan kau menjadi maniak, terus saja menciumku” Sooyeon berbalik, menyalakan kompor lalu melanjutkan kegiatannya.

Membuat Myungsoo terdiam seketika.

Mungkin sikapnya yang berlebihan. Ia baru menyadari sudah berapa kali ia mencium bibir tipis itu. Rencananya untuk mengerjai Sooyeon karena sama sekali tidak menghubunginya gagal total. Melihat wajah malaikat itu tidur nyenyak di sampingnya membuatnya lupa diri.

 

“ Cha…silahkan dimakan…”

Myungsoo mendengus.

“ Kau memberiku makan seperti ini?”

“ Wae?”

“Hah…Molla” kesal Myungsoo.

 

Emosinya benar-benar tidak stabil jika ia berdekatan dengan Sooyeon.

Sooyeon tersenyum kecil. Ia benar-benar bahagia pagi ini. Selanjutnya ia mendengus mengingat ia harus bertemu dengan siapa hari ini.

Bagaimana ia menjelaskannya pada Myungsoo. Jika perhatiannya kini terbagi dengan kehadiran Choi Minho.

 

TBC…

 

eheheheh…nggak mau ngomong banyak ah…mian setelah lama hiatus.

cuma iniyang aku bagikan hari ini….^^ semoga kalian tidak lupa…dan menikmatinya.

Sorry for Typo ya….hampir lupa karena kelamaan nggak buka wp.

25 thoughts on “Coffelovy|Three~Sequel of JSBM

  1. sumpah suka bgt ama ff ini…makin pnsran ama lnjutannya
    keep writing eon smoga pnya byak waktu buat lanjut in ni ff
    fighting

  2. Akhirnya ff kesayangan muncul juga. Ih sosweet bgt!! Aku paling suka deh sama squel yg chingu suguhkan soalnya ff nya cuman ada kocak dan sweet walaupun ada hurt tapi gk sampai nangis kyk yg sebelum nya. Pokok nya makin cinta sama ff nya,cepet update dong chingu soalnya grup ini makin sepiiii bgt.
    Semangat ya buat ff nya

  3. akhirnya di publish jugaaaa…
    paling suka kalau jessica jd bahan rebutan antara myungso dan minho… tapi gak sukanya kalau ada si gyuri onoh…. huh… emang cantika sica atau gyuri sih??

  4. Akhirnyaaaa update jugaa…
    Nungguinnya ampe bertelor😀😁
    Oennie itu henry ngapain balik lagi ke korea?
    Dan minho tau gak sih kalo jessica udah tunangan?
    Dan ada apa dng gongchan? Apa penyakit nya tambah parah? GWS yaa
    Ahhh ada gyuri -,-
    Akhirnya L balik…. sweet bangeettt
    Tapi kalo nanti L ketemu minho gimana?
    Ditunggu oennie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s