Goodbye [ J+ First Project ]

Insta-image-12

Author : Queenara

Title : Goodbye [ J+ First Project ]

Genre : Angst, Romance

Rating : PG – 17

Lenght : Oneshot

Cast :

Jessica Jung

Kwon Jiyong a.k.a G-Dragon | Kim Jongin a.k.a Kai

oOo

Dentuman musik yang begitu keras kembali memukul gendang telinga Jessica malam ini. Ia kembali lagi di tempat yang sama, di waktu yang sama setiap malam. Tempat dimana ia pertama kali bertemu dengan seorang yang membuatnya begitu menikmati hidupnya. Ia memiliki segala yang ia inginkan saat orang tersebut berada tepat di sampingnya.

“Kumohon, Noona! Berhentilah minum!” teriak seorang pria dengan rambut coklat kehitamannya yang tak lain adalah seorang bartender dari club tersebut.

Jessica mendorong pria itu menjauh dengan kekuatan yang ia miliki setiap kali ia mabuk. Pria itu pun terdorong mundur, ia hanya dapat menatap Jessica dengan pandangan sayunya. Pria itu ingin sekali menghentikan Jessica, tetapi apa daya jika wanita itu malah akan menyakiti dirinya sendiri setiap kali ia mencoba menghentikan Jessica untuk meminum alkoholnya.

“Aku sudah berhari-hari hiks- menghabiskan malamku di sini hiks,” Jessica menarik gelasnya lalu meminum alkoholnya dalam sekali teguk.

“Aku sudah berkali-kali pula hiks- merasakan mabuk hiks- seperti ini,” bartender tadi kembali mencoba mendekat agar ia dapat menghentikan ocehan Jessica yang selalu saja menyayat hatinya tersebut. Akan tetapi Jessica segera menendang kemaluan bartender tersebut dan membuat sang bartender kembali mundur Jessica.

“Kau tahu apa hiks-? Dia pernah berjanji hiks- kepadaku… hiks- jika dia akan selalu ada hiks- di sini setiap kali hiks- aku membutuhkannya!” mata Jessica kembali berkaca-kaca, pikirannya kembali membayangkan sesosok pria yang sangat ia cintai. Jessica meraih cangkir alkoholnya dan meminta seorang bartender mengisinya kembali.

NOONA!” pria tadi berteriak di kegaduhan club dan Jessica hanya meliriknya tajam tanpa menghiraukannya.

Pria itu tahu bahwa Jessica akan mengidap penyakit kanker jika wanita itu terus menerus minum alkohol. Ia harus tahu siapa orang yang Jessica maksud selama ini. Namun, di mana ia dapat menemukan orang tersebut? Di mana ia tahu siapa yang Jessica maksud?

Jessica meminum seteguk alkohol dan kemudian langsung jatuh terkulai lemas. Pada saat bersamaan, seorang bartender lain meneriakan nama pria tersebut, “KIM JONGIN!”

Bartender bernama Kim Jongin itu pun segera mendekati Jessica, “Noona! Noona, bangun, Noona!”

Jongin menepuk pipi Jessica pelan seraya mengguncang tubuh Jessica. Rasanya ia ingin memaki pria yang tak kunjung muncul tersebut. Pria yang telah membuat Jessica terlihat sangat mengenaskan seperti itu. Ya, Kim Jongin ingin sekali menyumpahi pria tersebut agar pria itu celaka.

Tatapannya begitu tajam dibalik kacamata yang ia gunakan. Matanya terkunci kepada seorang wanita yang sedari tadi meminum alkohol di ujung meja. Ia selalu di sini, menanti kedatangan wanita itu. Satu minggu ia berdiam di sini tanpa bereaksi ketika ia tahu bahwa sang wanita yang ia tunggu telah datang. Ia tahu bahwa seharusnya ia segera menemui sang wanita. Akan tetapi, ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya tidak ingin menemui wanita tersebut. Ia terlalu merasa bersalah, tak pantas rasanya ia menemui wanita itu lagi.

Kwon Jiyong, begitu lah namanya.

Malam ini, tepat di hari ulang tahun Jessica dan tentu saja tepat saat ia menyatakan cintanya kepada Jessica, Jiyong berencana menemui Jessica untuk terakhir kalinya. Dari kejauhan, ia mengamati dengan saksama bagaimana keadaan Jessica sejauh ini. Ia tahu saat Jessica menendang sang bartender, saat Jessica memuku atau menampar sang bartender, Jiyong menyaksikan itu semua.

Jiyong tahu bahwa batas alkohol yang dapat diterima oleh tubuh Jessica tidak lah setinggi dirinya. Ia tahu limit Jessica. Namun, malam ini ia merasa bahwa limit alkohol Jessica di luar dugaan. Ia tidak menyangka jika Jessica akan terus minum hingga wanita itu tak sadarkan diri.

Jiyong langsung bangkit dari duduknya dan mendekati tempat dimana Jessica duduk. Tatapannya masih terus tertuju kepada Jessica dan bartender yang sekarang menepuk pelan pipi Jessica. Ada kilatan api di mata Jiyong. Ia tidak suka ketika ada seorang pria menyentuh Jessica tepat di depannya.

“Minggir!” Jiyong mendorong Jongin agar menjauhi Jessica.

Mata Jongin membulat. Ia tidak terima akan perlakuan orang asing ini terhadap dirinya. Jongin segera melayangkan sebuah tonjokan kepada Jiyong. Namun, usahanya untuk menjatuhkan Jiyong berhasil ditahan oleh Jiyong. Jiyong tahu bahwa pria di depannya itu – terlihat – lebih kuat dari dirinya.

Jiyong melepas kacamata yang ia pakai, “Aku Kwon Jiyong. Jika kau pernah mendengar nama itu, pasti Jessica lah orang yang mengatakan namaku.”

“Siapa kau!?” Jongin menarik kembali tangannya dan menatap Jiyong tajam.

Jiyong hanya tersenyum tipis, matanya terlihat begitu meremehkan Jongin, “Aku adalah orang yang ia tunggu selama ini.”

“Pembohong!” teriak Jongin dengan geram. Tangan Jongin mengepal kuat dan matanya menatap Jiyong tajam, setajam pisau yang baru saja diasah.

Jiyong mendengus pelan. Ia segera membuka dompet Jessica dan mencari sebuah benda untuk ia pamerkan kepada Jongin. Jiyong tidak pernah senang dengan keberadaan orang ketiga diantara dirinya dan Jessica. Jiyong segera memperlihatkan sebuah foto kepada Jongin ketika ia menemukannya.

“Kau masih tidak percaya?” sebuah pertanyaan yang terdengar seperti sebuah ejekan di telinga Jongin itu membuat bartender tampan tersebut langsung memukul tangan Jiyong keras. Jiyong memejamkan matanya saat Jongin memukul tangannya.

“Kau… tidak pantas bersanding dengan Jessica noona! Karena kau pria b*j*ng*n!” Jongin meneriaki Jiyong, tetapi Jiyong masih terus memasang wajah datar dan tidak peduli.

“Kau tidak pantas bersama Jessica karena kau hanya lah seorang bartender. Seharusnya kau sadar diri,” Jiyong mengatakannya dengan sangat santai dan tanpa penekanan khusus di setiap kata-kata yang terlontar.

Jiyong segera menggendong Jessica ala bridal style keluar dari club tersebut. Tangan yang tadinya terkena pukulan keras Jongin terasa begitu mati rasa, tetapi ia tak peduli karena ia harus mengantar Jessica pulang. Ia mengemudikan mobilnya dengan tangan kanan – karena Jongin memukul tangan kirinya.

Setelah ia sampai di apartemen miliknya, ia segera turun. Tangan kirinya sekarang benar-benar mati rasa. Sepertinya tulangnya patah atau semacam itu. Pukulan Jongin memang bukan main, pria itu memukul Jiyong tepat pada saraf dan tulang rawan pada tangan Jiyong. Sepertinya pria itu memang menyimpan dendam terdalamnya kepada pria yang telah membuat Jessica menjadi seperti ini.

“Sial. Apa yang pria itu lakukan terhadap tanganku!” kesal Jiyong seraya membuka pintu mobil dengan tangan kanannya.

Ia memutuskan untuk menggendong Jessica di punggung. Beruntung karena apartemen Jiyong berada di lantai tengah, jadi ia tidak begitu lelah menggendong Jessica. Jessica sendiri terasa begitu ringan walaupun wanita itu terus meneru minum malam ini.

Jiyong menidurkan Jessica di atas ranjangnya. Tangan kirinya seakan benar-benar lumpuh, sehingga ia harus melakukan segalanya dengan tangan kanannya. Persetan dengan tangan kirinya yang mati rasa, Jiyong segera mencium bibir Jessica sedikit kasar. Ia menyalurkan rasa kesal terhadap insiden yang baru saja terjadi melalui ciuman tersebut.

Berharap Jessica dapat mendengarnya, ia pun membisikan sesuatu kepada Jessica, “Selamat ulang tahun, Jung Jessica. Bangun lah dan tatap aku, kau bersamaku sekarang.”

Pria tampan itu menjauhkan wajahnya dari telinga Jessica dan menatap Jessica lekat-lekat. Mata Jessica perlahan membuka, jemari Jessica berusaha menggenggam udara. Ia tahu bahwa Jessica masih mengalami hang over karena limit alkohol yang wanita itu paksakan.

“Sudah kubilang, aku akan selalu di sana.”

Samar-samar, Jessica mendengar ucapan Jiyong. Kepala Jessica rasanya seperti benar-benar sekarat saat ini. Ia tidak tahu bahwa pemaksaan terhadap tubuhnya saat meminum alkohol akan berdampak sesakit ini terhadap dirinya. Ia menitikan air mata saat ia benar-benar mendengarkan getaran suara Jiyong di telinganya. Pandangannya kabur walaupun orang di depannya itu begitu dekat. Jiyong yang melihat setitik air mata Jessica jatuh segera mengusapnya.

“Ini aku, orang yang kau tunggu. Maafkan aku,” Jiyong menundukan kepalanya setelah mengatakan hal itu. Rasanya ia benar-benar seperti seorang pecundang sekarang.

Seharusnya ia tidak membiarkan Jessica terluka, sakit hati, menunggu, serta merasakan mabuk berat seperti ini. Mungkin sekarang Jessica sudah bukan mabuk lagi, tetapi ia benar-benar sakit karena kesadarannya yang melayang entah kemana. Kerja saraf Jessica terlihat sangat lemah, hal itu membuat Jiyong merasa semakin bersalah.

“Aku mencintaimu,” Jiyong pun segera mencium Jessica lembut. Bau alkohol yang menyengat dan keluar dari mulut Jessica membuat Jiyong semakin memperdalam ciumannya. Jessica dan alkohol adalah sebuah perpaduan yang tak dapat Jiyong lepas.

Jiyong membelai rambut Jessica dengan tangan kanannya. Tangan kiri Jiyong terkulai lemas, ia begitu terganggu dengan mati rasa di tangan kirinya itu. Rasanya ia benar-benar ingin melepas tangannya daripada harus merasakan aneh di tangan kirinya.

Ciuman Jiyong semakin liar. Ciumannya turun hingga ke leher Jessica. Ia memberikan beberapa kissmark di sana. Jiyong mencium dan mengisap pelan leher Jessica, membuat Jessica mendesah pelan. Jiyong menghabiskan malam itu dengan melakukan sex dengan Jessica – walaupun ia tahu bahwa Jessica tidak sadar saat ini.

oOo

Pagi itu Jessica terbangun dengan sakit kepala yang luar biasa. Ia segera berlari menuju kamar mandi dan duduk di depan closet. Ia memuntahkan semuanya di sana. Tidak hanya sakit kepala yang menyerangnya, tetapi entah mengapa seluruh badan Jessica rasanya juga sama sakitnya. Ia baru sadar jika ia tidak mengenakan apapun saat ini. Jessica segera menarik baju handuk yang ada di atas lemari kamar mandi dan memakainya.

Ia menatap ke arah cermin di depannya, rambutnya begitu berantakan dan lehernya dipenuhi bercak merah seperti yang pernah ia lihat beberapa tahun lalu. Ia keluar dari kamar mandi. Bahkan Jessica tidak menyadari di mana keberadaannya sekarang. Wanita itu masih tidak dapat berpikir dengan baik.

Ketika Jessica sampai di depan ranjang, ia menemukan wajah seorang pria yang selama ini sangat ia tunggu-tunggu kehadirannya. Kwon Jiyong, pria tak tahu diri yang menghilang semenjak isu perjodohannya dengan seorang pengusaha kaya raya.

Jessica segera naik ke atas kasur dan merangkak mendekati Jiyong, “Oppa!”

Suara merdu dan hangat itu berhasil membangunkan Jiyong dari tidurnya. Pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali dan menemukan wajah polos nan cantik milik Jessica sedang menatapnya.

Good morning, my love,” sapa Jiyong dengan suara khas bangun tidur yang sexy miliknya, ia tersenyum manis dengan mata masih setengah terpejam.

Mata Jessica kembali berkaca-kaca, ia rasanya ingin kembali menangis. Kali ini bukan lah sebuah tangisan pilu seperti yang setiap malam ia lakukan di dalam kamarnya, tetapi tangisan haru. Ia mencium bibir Jiyong pelan dan dalam. Lalu melepaskannya dengan berat hari.

“I miss you, Oppa,” Jessica membelai rambut Jiyong dengan kasih sayang. Jessica sangat merindukan Jiyong, sangat, hingga ia tak dapat merasakan sakit yang ada di dalam tubuhnya.

Jiyong bangun dari tidurnya dan bersandar pada bantal yang ada di belakangnya. Jessica memerhatikan gerak-gerik Jiyong dan…

Oppa! Your hand! What happen!?” wanita itu segera memeriksa tangan kiri Jiyong yang terlihat begitu lemas saat Jiyong bergerak.

Jessica menatap mata Jiyong setelah ia memeriksa tangan pria itu, “Apa yang terjadi?”

“Seharusnya malam itu aku segera menemuimu, lalu mengatakan selamat tinggal kepadamu-”

Oppa, aku sedang tidak ingin bercanda!”

Jiyong menggeleng, “Aku serius. Aku harus menjauhimu karena aku tak sanggup lagi,” ucap Jiyong seraya menatap dalam mata Jessica.

Jessica menatap balik mata Jiyong, lalu ia menunduk, “Tulangmu patah, Oppa. Kita harus segera ke dokter untuk men-”

“Jessica!”

Oppa!”

Say your goodbye for me?” Jiyong menatap mata Jessica dengan tatapan memohon.

Jessica menggelengkan kepalanya pelan, ia merasa ada yang berat pada pelupuk matanya, “I won’t. Never.

“Apakah harus aku yang menga-”

Jessica memotong perkataan Jiyong dengan mencium bibir pria itu. Jessica kembali menangis dalam diam saat ia mencium bibir Jiyong. Bagaimana bisa pertemuan mereka yang singkat ini membawa mereka ke sebuah perpisahan?

Jessica menyudahi ciuman mereka, Jiyong kembali menatap sayu ke arah mata Jessica, “Goodbye?

Please don’t,” Jessica menggelengkan kepalanya pelan seraya menatap dengan memohon tepat di manik mata Jiyong.

Please handcuff me?” mohong Jiyong.

Jessica tersenyum tipis, tetapi lama kelamaan senyuman itu menjadi senyuman lebar dan tangis harunya kembali meledak, “I will.”

oO The End Oo

First of all~ haloooo🙂

Aku harap kalian gak kecewa sama pilihan pertamaku ya. Buat yang udah kasih vote dan masukan, aku berterima kasih banyak sama kalian. Dilihat ke depannya gimana… Maaf juga aku sengaja gak balas komentar kalian yang udah pada request hehehe.

Kira-kira siapa idol selanjutnya? :3 Tebak yuk!

oO Thanks for Read this Fanfiction Oo

31 thoughts on “Goodbye [ J+ First Project ]

  1. Kyaa.. Q suka sm karakter kai d sini… Agk sebel sm GD .. Emgny jess eon mau d jodohin am cp cih.. Msih bny mistery deh kykny… Good job eon

  2. Wahhh.. keren thorr.. walau sedang suru serunya baca ada tulisan the end.. ya sudahhlahh.. 😂😂😂 di tunggu ff selanjutnya 😃😃😃😆

  3. Tadi sebelum aku baca ff ini kan ada J+ First Project sampai J+ Third Project. Itu disetiap projectnya ceritanya beda kan kak?
    Ohh..kasian sekali Sica eonni.
    Izin lanjut baca kak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s