And I Fall – Chapter 1

Yura Lin presents:

And I Fall

Genre:

Drama – Romance – Medieval!AU

Length:

Series

Cast:

Jessica Jung – Kris Wu – WINNER Seunghoon 

Other minor casts

Warning:

Blood everywhere hehe 

 

+

“Love is a smoke made with the fume of sighs.” – William Shakespears

+

Peperangan antara kerajaan Traevan dan Aria selama 15 tahun ini akhirnya diakhiri dengan perjanjian damai dari kedua belah pihak. Kerajaan Deira yang menjadi tempat terjadinya mediasi antara kedua kerajaan yang berkonflik itu mengumumkan berita baik tersebut ke seluruh penjuru dunia diiringi dengan berita pernikahan antara Pangeran Aria dan Putri Traevan sebagai peresmian janji perdamaian.

Itulah alasan tim Alpha dari kerajaan Aria datang untuk menjemput sang putri raja dan membawanya sampai ke kerajaan Aria dengan aman. Tentu saja, pangeran Traevan sekaligus putra mahkota kerajaan tidak setuju sang putri dibawa oleh sekelompok orang yang biasa memimpin perang melawan kerajaannya tapi sang raja tersenyum ketika ia mendengar protesan sang pangeran.

“Kau mengatakan ini karena cemas atau cemburu?”

Pangeran Yongguk bukanlah calon raja sebenarnya. Itu adalah pangeran Yunho, kakak kedua putri kerajaan Traevan, yang gugur di tengah peperangan 8 tahun yang lalu. Gugurnya sang putra mahkota membuat raja dan segenap menteri berunding cara terbaik untuk mencari pengganti pangeran Yunho. Tidak mungkin salah satu dari kedua putri, Sooyeon dan Soojung, ditunjuk untuk memerintah sebuah negara besar yang berperang melawan negara besar lainnya. Terlalu berat bagi seorang wanita untuk mendapatkan tanggung jawab sebesar itu.

Setelah melalui proses panjang, akhirnya terpilihlah seorang anak jenderal perang untuk dididik menjadi calon raja selanjutnya sekaligus berdiri di tempat Yunho selama peperangan terjadi. Selain itu, Bang Yongguk yang telah mengalahkan semua pesaingnya itu juga dijodohkan dengan putri Sooyeon sebagai syarat wajib menjadi raja. Tidak mungkin keluarga kerajaan menerima raja dan ratu yang sepenuhnya berasal dari luar. Sooyeon tidak keberatan. Dia dan Yongguk sudah menerima takdir masa depan mereka bersama. Mereka bahkan sudah terbiasa dengan satu sama lain. Hubungan bisnis seperti ini bukanlah apa-apa untuk negara mereka. Namun jika akhirnya Sooyeon diharuskan menikah dengan pangeran Aria sebagai syarat perdamaian perang, maka perjodohan di antara mereka yang akan dikorbankan dan putri Soojung akan menggantikan kakaknya. Yongguk tidak keberatan sama sekali. Siapapun juga dia tidak akan menolak, demi negaranya.

Yongguk menghela napas panjang. “Bukan itu yang ku maksud, Yang Mulia. Putri Sooyeon memegang posisi penting bagi negara ini. Putri Sooyeon adalah kelemahan kita jika bangsa Aria menyanderanya. Membiarkan putri Sooyeon datang ke negara mereka sama saja membiarkan negara kita jatuh ke tangan musuh!”

“Tenang saja, Yongguk. Aku percaya raja Aria tidak akan melakukan hal yang bisa membatalkan janji perdamaian ini. Lagipula, ku dengar pangeran Aria sangat senang dengan perjodohan ini. Dia menyukai Sooyeon hanya dari fotonya. Tidak ada seorang ayah yang tega menghancurkan kebahagiaan anaknya,” ucap raja Traevan.

“Tapi—“

Raja Traevan meremas kedua bahu Yongguk yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. “Berhenti mengkhawatirkan Putri Sooyeon, Yongguk. Perang sudah berakhir. Kau bisa bersantai sekarang. Kau menghabiskan terlalu banyak waktu di garis depan. Sudah waktunya kau fokus mempersiapkan diri.”

“Mempersiapkan diri untuk menjadi raja? Aku sudah mempersiapkan diriku selama 8 tahun.”

“Mempersiapkan diri untuk menikah. Kau butuh seorang ratu untuk duduk di sampingmu untuk menjadi raja,” balas raja Traevan sambil tertawa. “Setelah pernikahan Sooyeon selesai, kita akan mulai fokus mempersiapkan pernikahanmu dan putri Soojung.”

Yongguk mengerutkan keningnya bingung. “Tapi, Yang Mulia, bukankah masih terlalu cepat untuk kami menikah?”

“Aku ingin semua anakku menikah dan menikmati hidupnya setelah perdamaian resmi dilakukan.”

 

+

 

“Kau akan menikah.”

Soojung mengatakannya dengan nada datar seakan itu adalah fakta yang tak bisa dielak. Baiklah, itu memang hal yang pasti terjadi. Akan tetapi bukan itu yang ia ingin dengar saat ini. Menikahi seseorang yang sebelumnya menjadi musuh bebuyutan, dia tidak pernah menyangka hal ini mungkin terjadi. Kedua kerajaan ini terbiasa membunuh satu sama lain tapi sekarang mereka harus membiasakan diri untuk menjadi teman, menjadi keluarga baru?

Gila, erang Sooyeon dalam hati.

“Kau beruntung kau lebih muda dariku,” gerutu Sooyeon.

Soojung terkekeh. “Aku juga akan menikah. Karena kau harus menikah dengan pangeran Aria, maka aku yang harus menikah dengan Yongguk. Nasib kita sama.”

“Nasib kita tidak sama. Kita sudah mengenal Yongguk dengan baik. Tapi pangeran Aria?”

“Kau sudah mengenal Yongguk,” tekan Soojung. “Aku tidak. Semua orang selalu memaksa kalian bersama setiap kali Yongguk kembali ke istana sedangkan pertemuanku dengannya dapat dihitung jari, itu pula karena pertemuan besar yang memaksa semua orang hadir. Kau benar, nasib kita tidak sama. Aku akan menikah dengan pahlawan negara, sedangkan kau akan menikah dengan musuh. Tapi itu tidak berarti bebanmu jauh lebih berat dariku.”

Keheningan yang menemani mereka selanjutnya cukup menjelaskan bahwa perkataan Soojung memang benar. Mereka duduk di atas kasur Sooyeon, memperhatikan para pelayan sibuk merapikan barang-barang Sooyeon untuk menginap selama beberapa hari di kerajaan Aria agar kedua calon mempelai dapat mengenal satu sama lain. Sooyeon ingin muntah memikirkan hal itu terjadi.

Dia sudah mendengar kedatangan tim Alpha kerajaan Aria. Dia tidak berani melihatnya, melihat kedatangan sekelompok orang yang telah membunuh kakaknya. Rasanya ingin menangis saja saat ayahnya memberitahunya bahwa dia akan dikawal oleh orang-orang itu. Sejak mendengar berita itu, kini mimpi-mimpinya selalu tentang malam saat mayat pangeran Yunho sampai di istana. Benar-benar mimpi buruk.

Kini Sooyeon bahkan tidak berani tidur sendirian. Dia akan datang ke kamar Soojung dan memeluk adiknya erat. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi saat dia sampai di kerajaan Aria. Apakah mereka akan menyambutnya dengan baik? Atau malah menggunakannya sebagai senjata untuk mengalahkan Traevan? Mungkin saja persetujuan akan perdamaian ini hanyalah akal muslihat bangsa Aria.

Besok hidupnya akan berubah. Besok dia akan meninggalkan tanah air dan pergi ke negara asing. Besok dia akan berada di antara kelompok pembunuh kakaknya. Semua itu terjadi besok dan dia akan tidur sambil memeluk adiknya erat.

 

+

Rencana awalnya adalah mereka akan berangkat dengan kapal karena perjalanan lebih cepat melalui laut. Akan tetapi karena cuaca tidak terlalu baik dan sering terjadinya badai, terpaksa mereka harus menempuh jalan darat yang artinya mereka harus melalui 4 negara. Kereta kuda sudah dipersiapkan di depan istana dan para pengawal sudah siap di atas kudanya masing-masing. Tidak hanya Aria, Traevan pun mengirim tentara terbaiknya untuk mengawal sang putri. Terlihat jelas hawa peperangan masih di sekitar mereka tapi mereka berusaha bersikap profesional. Tidak ada celetukan atau tindakan yang memprovokasi di antara mereka.

Ratu Traevan kembali memeluk putrinya seakan 3 pelukan sebelumnya tidak cukup. Soojung melototi kakaknya saat Sooyeon ingin memeluknya karena badannya masih terasa sakit dari pelukan semalam. Yongguk hanya tersenyum dan berjabat tangan dengan wanita yang hampir menjadi istrinya itu. Sementara sang raja mengelus kepala Sooyeon dan menyuruhnya segera pergi.

Butuh 7 jam untuk sampai batas negara Traevan dan Aeolish. Aeolish tidak kalah luas dari Traevan. Butuh 1 hari perjalanan untuk sampai di negara berikutnya. Mereka juga harus berhenti beberapa kali untuk istirahat.

Aeolish memiliki hubungan kerjasama paling erat dengan Traevan walaupun Aeolish tidak ikut campur dalam peperangan antara 2 negara paling berpengaruh itu. Tidak mengejutkan jika beberapa orang kerajaan Aeolish sudah menyiapkan tempat untuk menyambut sang putri dan pengawalnya, membuat Sooyeon tidak enak hati untuk menolak tempat peristirahatan yang sudah disiapkan. Akhirnya dia memutuskan untuk menginap setelah 18 jam perjalanan.

Awalnya semua orang diam sambil memperhatikan sang putri mencoba makanan, membuat Sooyeon menjadi tidak nyaman sehingga dia membuat peraturan agar orang-orang di sekitarnya makan saat dia makan. Para pengawal makan dalam keheningan. Tim Alpha dari Traevan duduk mengitari putrinya, jelas terlihat mereka tidak percaya dengan tim Alpha dari Aria tapi tak ada yang berkomentar. Para utusan kerajaan Aeolish hanya tersenyum melihatnya dan berpamitan karena kehadiran mereka tidak lagi dibutuhkan.

Sooyeon cukup bersyukur dengan keberadaan beberapa orang yang ia kenal di sekitarnya. Terutama Seunghoon yang sudah ia kenal dari kecil. Seunghoon bukanlah anak dari orang yang berkuasa di Traevan. Sooyeon bertemu dengannya saat ia masih dibolehkan bersekolah di sekolah umum tapi ditarik kembali ke dalam kerajaan setelah perang makin memanas. Seunghoon diterima di tim Alpha atas usahanya sendiri selama 8 tahun, sesuatu yang patut dibanggakan karena bisa masuk ke dalam tim khusus dalam waktu singkat. Seunghoon juga dekat dengan Yunho. Kematian sang pangeran telah menekan tombol merah di dalam hatinya dan membuatnya menjadi seorang tentara yang hebat.

Sooyeon mendesis pelan melihat Seunghoon berdiri sigap di samping kasurnya. Dia sudah menyuruh pria itu tidur berkali-kali tapi Seunghoon hanya tertawa kecil dan memaksanya tidur tanpa memedulikan keberadaannya. Sooyeon akhirnya tidur setelah temannya berjanji akan tidur saat tentara lain siap menggantikannya.

Keesokan harinya, para utusan kerajaan sudah kembali untuk menyiapkan sarapan. Sooyeon sudah rapi saat sarapan siap. Kali ini hanya beberapa pengawal yang menemaninya makan. Dia bahkan tidak melihat Seunghoon. Minwoo, sang ketua tim Alpha Traevan, memberitahunya bahwa Seunghoon masih tertidur pulas. Sooyeon tersenyum mendengarnya.

“Kalau begitu, kita berangkat saat matahari sudah tinggi,” kata Sooyeon.

Wajah sang ketua tim Alpha terlihat ragu. 2 negara selanjutnya memang tidak begitu luas karena mereka hanya melewati pinggiran negara jadi paling lama 10 jam untuk melewatinya setelah melewati batas negara Aeolish dan 8 jam melewati negara Deira untuk sampai di Aria. Jika mereka tidak segera berangkat, maka mereka akan sampai di Aria lusa. Akan tetapi Minwoo tidak berani membantah perintah putri rajanya. Dia mengangguk pelan lalu pergi setelah Sooyeon mengizinkannya.

Beberapa pengawal memanfaatkan 3 jam kosong itu dengan berlatih dan memanjakan kuda-kuda mereka. Sooyeon bersandar di pintu, mata tertuju ke para pengawal tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Kemarin dia masih berpikir mungkin semua ini hanyalah mimpi tapi keberadaannya di sini seakan tamparan baginya bahwa semua ini nyata. Dia akan menikah dan menjadi ratu di negara musuh. Tanpa sadar, tangannya memeluk tubuhnya erat seakan ingin melindungi dirinya.

“Kau melamun lagi.”

Sooyeon terkejut mendengarnya. Di belakangnya, Seunghoon dalam seragam kebanggaannya, tersenyum pada sang putri. Tentu saja, hanya pria itu yang berani memulai obrolan di antara mereka. Karena kedekatan mereka, banyak orang berpikir Seunghoon masuk ke dalam tim Alpha atas bantuan sang putri tapi Sooyeon tidak khawatir. Seunghoon berhasil membuktikan kemampuannya di depan ratusan pasang mata ketika dia menebas kepala jenderal perang Aria.

“Aku tidak melamun. Aku memperhatikan orang-orangku,” elak Sooyeon.

Seunghoon tersenyum tipis. “Aku akan menjagamu. Aku rela mati untukmu. Jadi jangan khawatir jika mereka berani menyentuhmu.”

“Aku mempercayakan nyawaku padamu sejak saat kita meninggalkan Traevan.”

Seunghoon sangat puas mendengar jawaban putri Sooyeon. Senyumannya menghilang melihat seseorang dari tim Alpha Aria mendatangi mereka dan membungkuk di depan Sooyeon.

“Maafkan kelancangan kami tapi kami pikir ini adalah waktu yang tepat untuk berangkat,” kata pria itu. Sooyeon melirik nama yang dijahit di seragamnya.

Wu Yifan.

Setelah Seunghoon yakin tim Alpha Traevan juga siap, Sooyeon mengangguk setuju.

 

+

 

Sore hari menuju malam saat mereka masuk ke dalam wilayah Ertonia. Para pegawal perbatasan menyambut mereka dengan ramah. Akan tetapi, sesuatu mengganjal di hati Yifan saat melihat salah satu pengawal terlihat gelisah dan berlari cepat ke dalam gedung kecil tempat pengawal perbatasan itu beristirahat. Dia segera menepisnya dan fokus pada misinya.

Mereka tidak akan lama berasa di dalam Ertonia. Tuan Putri Traevan sudah memberitahu semuanya bahwa mereka hanya akan beristirahat sekali selama 10 menit di Ertonia maupun di Kish, negara selanjutnya. Mereka baru akan beristirahat sekaligus menginap di Deira. Cukup aneh karena sang putri selalu memaksa untuk istirahat setiap 3 jam sekali selama 30 menit. Rasa kasihan pada kuda, katanya. Tidak ada yang bertanya mengapa. Mereka semua mengangguk patuh.

Yifan sendiri tidak protes. Dia juga ingin segera sampai di negara tercinta. Berada di antara orang-orang yang biasanya menjadi musuh bukanlah hal yang menyenangkan. Jika boleh jujur, dia membenci mereka. Bangsa Traevan seakan sesuatu yang membuatnya alergi. Namun dia tidak bisa mengatakannya secara frontal. Aria butuh perdamaian ini. Terlalu banyak yang dikorbankan dalam peperangan dan hanya pernikahan ini yang bisa menghentikannya. Bahkan walaupun dia sudah mengakui kecantikan putri Traevan, dia tetap mengasihani pangeran Aria yang harus mengorbankan diri demi perdamaian antara dua negara besar tercapai.

Hampir 5 jam setelah melewati perbatasan dan hampir sampai di perbatasan Kish, mereka berhenti karena kuda-kuda yang ditunggangi mulai melakukan aksi protes karena kelelahan dan kelaparan. Hari sudah gelap saat itu, menuju tengah malam dan mereka baru saja melewati pedesaan terakhir, mulai memasuki hutan. Para prajurit duduk bersandaran di pohon-pohon sekitar sambil menikmati makanan yang dibeli di desa sebelumnya.

Mata Yifan tertuju pada sang putri yang sedang menyandarkan kepalanya ke bahu seorang prajurit. Yong Seunghoon, nama yang terjahit di seragam bagian dada kiri. Mereka sering terlihat bersama setiap mereka berhenti untuk istirahat. Jelas terlihat ada sesuatu di antara mereka, dia tidak berani mengkhayalkan macam-macam.

Tapi ini berbahaya jika wanita itu benar-benar menjadi istri pangeran kami. Tidak seharusnya seorang putri dan akan segera menjadi ratu Aria, berselingkuh dengan pengawalnya sendiri! Pengawal itu pula yang—

Yifan mengerang kesal dan hampir berteriak kaget di detik selanjutnya karena ketua timnya menyikut rusuknya. Andy Lau tersenyum tipis, matanya melirik bawahannya dan sang putri bergantian seakan dia mengerti apa yang dipikirkan oleh Yifan. Hanya Andy yang tahu bahwa Yifan dididik secara ekslusif oleh sang jenderal perang itu sendiri. Maka tidak aneh karena dia tidak berhenti memperhatikan Seunghoon. Jika tatapan bisa membunuh, Seunghoon sudah terbunuh ribuan kali.

“Kita semua membencinya. Tidak hanya kau yang ingin membunuhnya. Kita semua juga ingin,” bisik ketuanya.

Yifan tidak membalas. Dia hanya mengerang kesal sekali lagi dan mengalihkan perhatiannya. Sudah 3 tahun lamanya setelah kepergian sang jenderal yang selalu menjadi sosok seorang ayah baginya dan rasa benci itu menjadi dendam dan berubah menjadi kekuatan untuk mengalahkan Traevan. Dendam itu takkan hilang walaupun perdamaian resmi dilakukan.

Srek!

Kemarahan berganti menjadi kewaspadaan saat melihat semak-semak yang berjarak 10 meter dari tempatnya duduk itu bergerak tapi sepertinya tidak ada yang menyadarinya.

Kecuali Seunghoon.

Mata mereka bertemu begitu menyadari hanya mereka yang melihatnya. Seunghoon segera bangkit dan menarik sang putri menuju kudanya beristirahat sedangkan Yifan pergi untuk mengecek kecurigaannya. Sooyeon terlihat kebingungan karena temannya tiba-tiba saja menariknya naik ke atas punggung kudanya tapi dia hanya diam sambil mengelus kuda kesayangan Seunghoon itu sementara temannya memperhatikan sekitar, tangan menggenggam erat pedangnya. Beberapa prajurit yang melihat gerak-gerik Yifan dan Seunghoon pun segera bersiap.

“Jika keadaan terlalu parah, kau harus segera kabur dan minta bantuan. Seharusnya perbatasan tidak jauh lagi dan ada banyak prajurit yang bersiaga di sana. Mengerti?” kata Seunghoon, cukup membuat Sooyeon mengerti akan bahaya yang akan mereka hadapi.

Mengetahui keberadaan mereka telah diketahui, sekelompok orang asing berlari menyerbu mereka. Minwoo dan Seunghoon bekerjasama melindungi sang putri dari berbagai arah. Mereka kalah jumlah tapi nama tim Alpha yang mereka genggam bukanlah sembarang nama. Beberapa orang dari kelompok mereka gugur tapi lebih banyak orang yang menyerang mereka yang jatuh menjadi korban. Terlihat kuda-kuda mereka terlihat tidak senang dengan gangguan yang ada dan menendang para penyerang yang berdiri di dekat mereka.

“Berikan aku pedang!” perintah Sooyeon.

Seunghoon meliriknya tajam lalu fokus pada dua orang di depannya. Tidak mungkin dia membiarkan seorang putri mengotori tangannya sendiri. Walaupun jumlah penyerang 3 kali lebih baik, sudah terlihat jelas mereka akan menang. Tidak ada gunanya membiarkan Sooyeon turun tangan. Namun sepertinya sang putri berpikiran lain, dia menatap Seunghoon kesal tapi tidak mengatakan apapun lagi.

Seunghoon dan Minwoo terlalu fokus dengan lawan di depan mereka sehingga tidak sadar seseorang berhasil menarik tangan Sooyeon hingga jatuh dari kuda dan menyanderanya. Minwoo yang pertama kali menyadarinya. Perhatiannya tertuju pada Sooyeon sehingga dia tidak menyadari lawan di belakangnya dan jatuh tertusuk di bagian perut. Seketika tubuh Sooyeon seakan kehilangan tenaga melihat ketua tim Alpha sekaligus seorang pahlawan Traevan mati di depannya. Seunghoon terlambat menyadarinya. Setelah berhasil mengurusi kedua lawannya, dia baru menyadari kematian ketuanya dan putrinya ditawan dengan pedang di leher.

“Kau tahu hukuman apa yang menunggumu karena berani melakukan ini semua, ‘kan?” tanya Seunghoon kesal.

Pria yang menyandera Sooyeon itu tersenyum mengejek. “Hukuman? Lebih tepatnya hadiah. Kami tidak bodoh. Kami tidak akan melakukan ini jika tidak ada keuntungan yang akan kami dapatkan.”

“Hadiah?”

“Ya, hadiah—argh!”

Andy Lau menebaskan pedangnya melukai tangan orang itu yang memegang pedang sehingga pedang itu jatuh ke tanah. Seunghoon segera menarik Sooyeon dan memeluknya agar gadis itu tak melihat bagaimana sadisnya sang ketua tim Alpha itu membunuh orang yang berani menyentuh putri Traevan.

Cukup lama setelahnya keheningan terjadi. Sooyeon memeluk erat temannya sambil menangis sepelan mungkin, berharap tidak ada yang menyadarinya tapi dengan tubuhnya bergetar hebat, semua orang tahu betapa takutnya ia. Pertarungan sudah selesai. Begitu banyak mayat. Beberapa orang masih bernapas tapi dalam keadaan tidak mungkin hidup lebih lama. Yifan, salah satu dari 3 prajurit yang selamat, sudah memastikan para penyerang tidak ada yang bernapas kecuali satu orang yang kabur dengan luka di perutnya sebelum perkelahian berakhir.

“Kita harus bergegas pergi sekarang sebelum orang yang kabur itu membawa bala bantuan,” kata Andy.

Sudah jelas kini Andy lah yang memerintah karena Minwoo tak lagi bernapas. Wajahnya masih basah karena air mata tapi Sooyeon tak lagi menangis. Dia hanya diam sambil mengutuk orang-orang yang memaksanya untuk tetap memakai gaun selama perjalanan menuju Aria karena kini dia kesulitan menjaga agar roknya tidak naik terlalu tinggi sambil memeluk Seunghoon erat di atas kuda yang berlari cepat. Kereta kuda ditinggalkan begitu saja. Mereka harus segera pergi dari tempat itu.

Tidak terlalu lama untuk sampai di perbatasan Kish. Di sana sudah ada beberapa prajurit Ertonia dan Kish berjaga-jaga lengkap dengan persenjataan. Tanpa berpikir dua kali, mereka menghampiri mereka dengan maksud meminta penjagaan setelah kejadian penyerangan tadi. Tak mereka sangka, para prajurit itu malah berbalik menyerang mereka. Beruntung Seunghoon sigap menghindari serangan dan melindungi Sooyeon. Tapi melihat keadaan Seunghoon dan 2 prajurit Aria yang penuh dengan luka setelah penyerang tadi, kecil kemungkinan mereka akan selamat lebih lama.

“Itu perbuatan raja kalian,” gumam Seunghoon pelan setelah dia menyadari keadaan.

Seseorang yang kelihatannya adalah pemimpin mereka itu tertawa pelan sambil membenarkan pemikiran Seunghoon. Tidak sulit untuk mengetahui alasan dibalik semua ini. Kish dan Ertonia tidak menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap janji perdamaian antara Aria dan Traevan tapi besar kemungkinan mereka tidak terima.

Ertonia sangat diuntungkan dengan peperangan di antara 2 negara tersebut karena negaranya kaya akan bahan persenjataan. Tak jarang Aria dan Traevan meminta Ertonia untuk mengirim material. Timah dan mineral lainnya adalah sumber penghasilan utama negaranya. Sementara Kish mempunyai dendam tersembunyi terhadap kedua negara sejak gugurnya pangeran Yunho yang menyebabkan gagalnya perjodohan antara pangeran Traevan dan putri Kish sekaligus gagalnya Kish menjadi salah satu negara besar lainnya.

Raja Traevan sudah memberitahu Sooyeon kecurigaannya terhadap kedua negara ini, membuatnya memaksa para prajuritnya untuk sebisa mungkin melakukan perjalanan 8 jam tanpa istirahat. Tak ia sangka kecurigaan ayahnya terbukti benar.

“Berikan aku pedang!” perintah Sooyeon sekali lagi, berbisik.

“Sooyeon, ini bukan saatnya—“

“Aku bisa menjaga diriku sendiri jika kau memberikanku kesempatan, Seunghoon!” kesal Sooyeon, mata memperhatikan sekitar. Tidak ada yang memulai pertarungan, diam di posisinya masing-masing sambil menggenggam pedangnya erat. Mereka hanya menunggu seseorang memulainya dan pertumpahan darah terjadi kedua kalinya malam itu.

Seunghoon membuka mulutnya untuk memberikan 1001 alasan mengapa dia tidak bisa memberikan putrinya pedang, alasan utama adalah dia tidak memiliki pedang lain yang bisa diberikan kepada Sooyeon, tapi mulut tertutup dengan hentakan keras saat lawan di depannya mulai mengayunkan pedangnya. Dia bisa mengalahkannya dengan mudah. Lawannya masih begitu muda, genggaman pedangnya masih begitu lemah. Sekali gerakan tangan, lawannya jatuh bersimbah darah. Melihat kematian rekannya, para pengawal perbatasan itu mulai menyerang.

Sooyeon mundur beberapa langkah, tangannya menggenggam pisau lipat yang dia ambil dari saku Minwoo sebelum mereka pergi tadi. Dia tidak akan membiarkan dirinya jatuh ke tangan musuh tanpa perlawanan sekali lagi. Dia tidak akan menjadi seorang tuan putri yang lemah. Matanya terbuka lebar, mewaspadai setiap gerakan di sekitarnya. Saat itulah dia sadar sesuatu yang mencurigakan.

Panglima Andy Lau berdiri tidak jauh darinya, memperhatikan pertarungan tidak adil itu dengan senyuman di wajahnya. Tak seorangpun menyerangnya, semua pengawal perbatasan itu sibuk menyerang Seunghoon dan seorang prajurit Aria yang tidak ia kenal. Mungkin menyadari dirinya diperhatikan, Andy menoleh ke arah Sooyeon lalu berjalan perlahan menghampiri sang putri Traevan. Tubuh Sooyeon terasa kaku.

Tanpa ia sadari, kini dia kembali disandera. Kedua tangannya dikunci dengan satu tangan Andy. Dia dipaksa melihat bagaimana kedua prajurit yang tersisa itu kalah dengan kedua tangan dikunci erat oleh para pengawal perbatasan itu. Hanya tertinggal setengah dari jumlah awal dan luka di tubuh para pengawal yang tersisa itu menjadi bukti betapa tangguhnya mereka berdua tapi dengan kalah jumlah dan pertarungan mereka sebelumnya menjadi batasan mereka.

Prajurit Aria, kini Sooyeon ingat namanya adalah Yifan, menatapnya tak percaya. Lebih tepatnya menatap sang ketua yang menyadera Sooyeon. Dia tertawa miris dalam hati. Dia bahkan tidak percaya Yifan tidak tahu ketuanya ikut mengambil andil dalam rencana pemberontakan ini. Dia menoleh dan melihat Seunghoon dalam keadaan mengerikan. Wajah dan tubuhnya penuh dengan luka. Dia terlihat seperti akan pingsan kapanpun. Sepertinya ini saatnya dia berhenti berharap. Mereka kalah. Raja Kish dan Ertonia akan memakainya untuk menggagalkan perdamaian.

“Kau berkhianat,” ucap Yifan, menggeleng tak percaya. “Aku mempercayaimu. Aku menghormatimu. Kau bagaikan pahlawan bagiku. Tapi kau—“

“Aku melakukan ini demi Aria,” kata Andy tenang.

“Aria menginginkanmu membawa putri Traevan datang ke Aria dalam keadaan selamat! Bukan untuk membunuhnya!”

Andy berdecak pelan. “Kau tidak menginginkan pernikahan mereka terjadi, ‘kan? Kau membenci Traevan! Kau ingin membunuh Traevan! Terlebih orang di sampingmu, kau ingin membunuhnya lebih dari orang lain! Dia membunuh orang yang sudah kau anggap sebagai ayahmu sendiri!”

Sooyeon melirik Seunghoon yang sudah setengah sadar. Kenyataan bahwa dia telah membunuh jenderal perang Aria adalah sesuatu yang membanggakan bagi Traevan tapi neraka bagi Aria. Tidak aneh jika ribuan bangsa Aria ingin membunuhnya. Kini dia sudah sepenuhnya menyerah. Jika bukan disini Seunghoon terbunuh, di Aria ada ribuan orang yang akan mencoba keperuntungannya. Membawanya ke negara musuh memang bukan pilihan yang tepat tapi Seunghoon berada di dalam tim khusus dan dia pasti harus pergi bersamanya. Pria itu sudah ditakdirkan untuk mati terbunuh saat mereka meninggalkan Traevan.

“Tapi bukan dengan cara seperti ini!” balas Yifan membentak keras. “Siapa lagi yang bekerjasama denganmu?” Yifan terdiam sejenak lalu mengangguk mengerti. “Pantas beberapa orang dari tim Alpha Aria ikut menyerang prajurit Traevan.”

Sooyeon baru mengetahuinya. Sepanjang pertarungan tadi, dia fokus dengan dua prajurit di sekitarnya. Kenyataan bahwa mereka tetap berhasil mengalahkan semua penyerang selain satu orang yang kabur dengan luka parah dan prajurit Aria yang berkhianat pun cukup membanggakan.

“Jangan marah karena tidak diberitahu, Yifan. Kau pasti akan setuju denganku,” kata Andy dengan senyuman tipis.

Yifan menatap ketuanya kesal. Jelas terlihat dia tidak setuju dengan cara ini tapi Andy terdengar sangat yakin dia akan setuju. Prajurit Kish memukul kepalanya karena dia kembali berusaha melepaskan diri. Tubuh Yifan langsung terjatuh lemas. Tidak pingsan, tapi juga tak bergerak karena tenaganya sudah habis.

“Tidak seharusnya kau melawan, Yifan. Jika kau cukup bekerjasama, aku akan membiarkanmu membunuh prajurit di sampingmu. Kau selalu ingin membunuhnya, bukan? Ini waktu yang tepat!” seru Andy.

Yifan menoleh, memperhatikan Seunghoon dengan tubuh penuh luka. Dalam keadaan ini, tanpa orang-orang di sekitarnya pun dia bisa dengan mudah mengalahkannya. Ini lah yang dia inginkan. Ini adalah kesempatan emas untuk melaksanakan dendamnya. Sedikit tenaga yang tersisa di tubuhnya cukup untuk menebas kepala musuhnya hingga lepas. Itu mudah.

Tapi apa benar ini yang dia inginkan sekarang?

“Kau benar. Hanya ini yang ku inginkan.”

Yifan mengangguk mantap. Dia menatap ketua timnya dan mengangguk sekali lagi, meminta Andy untuk memberikannya kesempatan. Andy tersenyum tipis. Dia menyuruh dua orang yang menahan tangan Yifan untuk melepaskannya dan memberikannya pedang.

“Lihat baik-baik, putri Traevan. Prajurit kesayanganmu akan akan dibunuh oleh seorang murid yang dendam,” bisik Andy di telinga Sooyeon, membuat matanya terpejam erat.

Yang ia dengar selanjutnya adalah teriakan yang bukan berasal dari Seunghoon dan erangan penuh amarah dari Andy. Ketika matanya kembali terbuka, dia melihat satu prajurit Ertonia berbaring di tanah bersimbah darah. Seunghoon jatuh tidak sadarkan diri tapi tidak ada luka baru. Satu prajurit Kish terluka parah. Terakhir, Yifan kembali ditahan oleh prajurit-prajurit yang sebelumnya menahan Seunghoon sambil mengerang kesakitan karena para prajurit itu memukulinya.

“Bukan pilihan bijak, Yifan,” geram Andy. “Seharusnya kau memanfaatkannya dengan baik. Mungkin aku harus membocorkan satu informasi agar kau sepenuhnya bekerjasama karena aku tidak tega untuk membunuhmu.”

Yifan tidak membalas, sibuk mengerang kesakitan walaupun para prajurit itu sudah berhenti memukulinya atas perintah Andy. Di saat yang bersamaan, Sooyeon tidak sengaja melihat bayangan di balik gedung tempat prajurit istirahat. Bibirnya tersenyum tipis. Dia tahu dia harus membuat perhatian terfokus padanya.

“Kau membunuhnya bukan untuk menyelamatkanku tapi karena dia terlalu banyak bicara,” gumam Sooyeon pelan, menarik semua perhatian untuk tertuju padanya.

Andy tertawa pelan. “Siapa? Oh, orang yang menyaderamu itu? Benar. Tak ku sangka kau pintar juga, Tuan Putri. Dia juga terlihat sangat terbawa suasana hingga matanya seperti ingin membunuhmu jadi—“

“Kish dan Ertonia menginginkanku hidup-hidup jadi kau tidak bisa membiarkannya membunuhku.”

Bibir Andy hampir menyentuh telinga Sooyeon saat dia kembali tertawa. “Jenius. Putri Traevan memang pintar. Apalagi yang kau pikirkan tentang semua ini?”

“Tidak seorang pun selain prajurit dan orang-orang kerajaan yang tahu tentang ini. Itu sebabnya kalian menyerang kami di tengah hutan. Jangan sampai berita ini tersebar ke negara lain sebelum kalian berhasil menangkapku.” Sooyeon menggertakkan giginya. “Siapa lagi? Siapa yang bekerja sama denganmu?”

“Karena sudah pasti aku berhasil menangkapmu, aku akan memberitahumu segalanya dan membiarkanmu menangis di dalam penjara kerajaan.” Andy menghela napas panjang. “Aku tidak menyangka kau berhasil membongkar semua rencanaku. Orang-orang yang bekerjasama dalam rencana ini sudah terbunuh di dalam hutan. Jangan berharap dapat bertemu dengan temanmu lagi karena temanmu akan dibunuh setelah kita meninggalkan tempat ini.”

Mata Sooyeon terfokus pada Seunghoon. Tiba-tiba dia mempunyai tenaga untuk menangis. Dia tak yakin jika dia masih sanggup hidup setelah malam ini, setelah tahu sahabatnya dibunuh setelah mati-matian melindunginya. Perang sudah selesai. Tidak seharusnya dia tetap kehilangan orang-orang terdekat.

“Aku lebih mati daripada dimanfaatkan untuk menjatuhkan negaraku sendiri!” desis Sooyeon kesal.

“Maaf, Putri Sooyeon tapi itu tidak mungkin karena—“

Andy tidak sanggup melanjutkan kata-katanya saat dia merasakan rasa sakit luar biasa dari perutnya. Sooyeon telah menusuknya dengan pisau lipat yang ia sembunyikan. Sooyeon segera berlari cukup jauh dari Andy lalu mengarahkan pisaunya ke urat nadi di lehernya sendiri.

“Jangan bergerak atau aku akan membunuh diriku sendiri!” ancam Sooyeon.

Para pengawal perbatasan itu hampir saja membunuh Seunghoon sedangkan 2 orang lainnya ingin mengejar Sooyeon jika sang putri Traevan tidak mengancam untuk membunuh dirinya sendiri. Dia tidak bisa memikirkan cara untuk kabur tapi ini cukup untuk mengulur waktu. Sepertinya tidak ada yang sadar tapi dia melihat sebuah wajah familiar yang bersembunyi di balik pos. Bahkan Andy tak menyadarinya. Panglima itu sibuk meringis, matanya tertuju pada Sooyeon penuh amarah.

“Menyerahlah. Tidak ada jalan untuk kabur!” kesal Andy.

Sooyeon berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat ke arah wajah-wajah familiar itu agar tidak ada yang curiga. Dia melirik pedang di dekat kakinya. Pisau di tangannya langsung jatuh karena tangannya memungut pedang itu. Sedikit lebih berat dari yang biasa ia pakai untuk latihan di dalam istana tapi dia percaya diri. Pedang ia ayunkan ke arah Andy. Senyuman di wajahnya terlihat sangat yakin.

“Oh benar kah?” tanya Sooyeon mengejek, kepalanya sedikit dimiringkan ke kanan.

Di saat yang bersamaan dua orang yang bersembunyi itu menyerang para pengawal perbatasan itu dari belakang. Yongguk dan pengawal pribadinya, Jongup. Dengan serangan dadakan itu, tidak banyak yang bisa musuh lakukan. Tidak sulit untuk memenangkan pertarungan. Andy semakin marah dengan kondisi yang terjadi. Dia mengayunkan pedangnya, kakinya melangkah menghampiri Sooyeon. Dia sudah muak dengan semua yang terjadi malam ini. Dia kembali mengayunkan pedangnya ke arah Sooyeon tapi gadis itu berhasil menghindarinya dengan pedang yang ia genggam tepat waktu.

“Menyerahlah! Aku tidak mempunyai waktu untuk bermain-main denganmu!” bentak Andy.

Sooyeon menggeram kesal. “Keadaan sudah berbalik. Kau kalah!”

“Anak manja ini!”

Terdengar beberapa kali suara pedang beradu di antara Andy dan Sooyeon sampai akhirnya pedang Sooyeon terhempas dari tangan. Yongguk selalu mengomelinya karena genggamannya kurang kuat, terlebih pedang yang ia pakai sekarang lebih berat dari biasanya. Seunghoon tergeletak di tanah tidak sadarkan diri. Yifan tidak terlihat jauh lebih baik. Yongguk dan Jongup masih sibuk mengurusi beberapa pengawal yang masih berusaha. Andy terlihat puas dengan yang terjadi.

“Sudah siap untuk menyerah?” tanya Andy dengan senyum penuh kemenangan.

Sooyeon menatapnya tajam. “Sudah ku bilang, aku lebih baik mati!”

Andy menggeram emosi. “Baiklah! Baiklah! Mati saja kau!”

Ketua tim Alpha Aria itu mengayunkan pedangnya untuk menebas kepala Sooyeon. Sang putri hanya diam memejamkan matanya. Akan tetapi dia tidak merasakan sakit. Dia malah merasakan cipratan darah di wajahnya bersamaan dengan tubuh yang jatuh menimpanya.

“Jongup!”

Teriakan Yongguk membuatnya semakin tidak berani membuka mata tapi Andy di depannya tertawa keras membuka matanya secara paksa. Di pelukannya, tubuh Jongup tak lagi bernyawa dengan kepala hampir lepas dan darah tak berhenti mengalir. Tangannya melempar tubuh Jongup menjauh. Mulutnya berteriak tapi tak ada suara yang keluar. Jongup yang seharusnya menjaga Yongguk malah menyerahkan nyawanya untuk melindungi sang putri.

Andy masih tertawa keras seakan dia menikmati semua ini, tak peduli dengan perutnya yang masih mengalirkan darah. Luka yang disebabkan Sooyeon sebelumnya memang tidak terlalu besar tapi cukup membuatnya kehabisan darah jika tidak ditangani secepatnya. Kini dia menatap Sooyeon mengejek.

“Kau pikir aku sebodoh itu? Membunuhmu? Yang benar saja. Setelah semua pengorbananku, aku tidak mungkin membunuhmu. Aku melakukannya karena aku tahu salah satu dari mereka akan datang untuk menyelamatkanmu. Jenius, ‘kan?” ejek Andy.

Tangan Sooyeon terkepal kencang. Diraihnya pedang Jongup di dekat kakinya. Tanpa kata-kata, dia bangkit dan menusukkan pedang itu perut sisi lainnya, membuat tawa Andy terhenti. Dia menarik pedangnya dan menusukkan di tempat lain. Menusuknya lagi, lagi, dan lagi. Bahkan setelah tubuh Andy ambruk, Sooyeon masih tidak berhenti menusukkan pedangnya.

Mati!

Mati kau, iblis!

Mati!

 

+

JENGJENG~ siapa yang kapan ffku? Aku juga kangen T_T entah kenapa sejak kuliah kok feel buat ngetik ff jadi hilang macem mati rasa. Terus tiba-tiba kepikiran cerita ini sampe gregetan dan akhirnya nyerah. FF ini ga bakal lama kok. Sebagian besar ceritanya udah selesai. Ceritanya juga ga terlalu panjang. Paling cuma 4 chapter doang.

Ssstt, ini rahasia ya tapi sebenernya cast asli bb top = kris dan beast junhyung = seunghoon. Tapi karena keduanya bias jadi pas ngetik ffnya malah jadi fangirling sendiri bukannya fokus :(( terus pas apa gitu, kepikiran buat korea vs china aja deh. kepikiran lagi wah kris kece ya sejak keluar dari sm. udah lama sih mikirnya tapi emang pas nonton jessica di acara apa gitu bareng kris jadi greget lagi sama krissica. ya daripada sama tyler ya ganteng kris lah :(( ganti deh 2 cast karena demi kelancaran buat ff, junhyung juga perlu ditendang keluar dari ff biar ga bikin jiwa fangirl kumat mulu. tetep gagal berhubung seunghoon bias juga

Sekian curhatnya. Silahkan komen bagi yang mau. Yang ga komen ga boleh protes kalo sesuatu terjadi fufu

22 thoughts on “And I Fall – Chapter 1

  1. baru buka wordpress dan langsung buka tag @gyunnirs, terus nemu ff ginian………………………………………………………….. oh my god, bless my soul. paling seneng perang dan banyak adegan bunuh-bunuhan WAHAHA(?)
    ah selalu aja ada hubungan friendzone. dan selalu aja sama biasku. btw bias kita kok sama sih kak, si seunghoon :v
    lanjuuudd~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s