Xena (Chapter 2)

kh83z9gn

Author : Queenara

Title : Xena

Genre : Fantasy, Friendship

Rating : PG – 15

Lenght : Chapter

Cast :

Jessica Jung as Xena | Kim Hanbin

iKON member

oOo

Hyung! Kucingmu hilang!?” teriakan memekakan itu berasal dari Donghyuk yang menatap nanar ke arah kandang Xena.

Hanbin berhambur ke ruang tengah. Tidak biasanya mereka menggemparkan hal-hal sepele sepagi ini dan juga seribut ini. Hanbin memandang kandang Xena dan berlari ke kamarnya, tetapi ia tidak menemukan Xena di sana.

“Xena ya,” panggil Hanbin seraya membungkuk mengitari ruang tengah untuk mencari kucingnya. Tidak lama setelahnya, ia mendengar meow lembut dari ruang tengah dan Hanbin menggeser pintunya lebih lebar.

Kucing putih keperakan tersebut berjalan dengan anggun ke arah Hanbin yang langsung disambut dengan hangat oleh Hanbin. Ia menggendong kucingnya dan mengajaknya kembali ke kamar. Sepertinya Hanbin benar-benar menyayangi hewan peliharaannya.

Donghyuk menghela napas lega, “untung saja tidak hilang. Aku heran mengapa sepagi ini sudah ribut saja.”

“Kau juga salah satu yang membuat pagi ini menjadi ribut, ingat itu, Donghyuk,” Yunhyeong berjalan ke kamar mandi dan melewati Donghyuk dengan handuk tersampir di pundaknya.

Hari ini jadwal mereka adalah berlatih untuk comeback selanjutnya dan beberapa koreografi baru. Mereka belum menyelesaikan tour mereka, tetapi mereka harus mengimbangi dengan berlatih yang lain juga. Cukup melelahkan memang, walaupun Hanbin salah satu member yang menerima cukup banyak tekanan, dia tetap akan melapor terlebih dahulu lalu berangkat latihan.

Jinhwan duduk sambil membelai Xena yang juga duduk manis di sampingnya. Kucing itu hanya diam saja, mungkin ia merasa nyaman dibelai selembut itu oleh Jinhwan. Junhoe yang duduk di samping lain si kucing hanya menatapnya terus menerus, membuat Xena beberapa kali mendengus.

“Dia cantik, Hyung,” ujar Junhoe kepada Jinhwan, “aku yakin jika dia manusia, maka dia pasti lah secantik bidadari,” lanjut Junhoe.

Jinhwan terkekeh pelan, “memangnya kau tahu bagaimana wajah bidadari?”

“Tidak, tetapi dengan membayangkannya saja aku sudah bisa melihatnya bahwa mereka pasti lah sangat cantik,” jawab Junhoe pelan, kemudian ia berlalu pergi seraya menyanyikan salah satu lagu mereka keras-keras.

Chanwoo menggantikan Junhoe, ia duduk di sebelah kiri Xena lalu menatap kucing itu. Mata kucing itu bertatapan langsung dengan mata Chanwoo, membuat Chanwoo merasa seperti sesuatu memukulnya secara keras pada bagian perutnya dan merasa bahwa detak jantungnya bekerja dua kali lipat.

Hyung, lama kelamaan aku takut kepadanya,” adu Chanwoo sambil menatap Jinhwan gelagapan.

Jinhwan mengernyit ke arah Chanwoo, “kenapa?”

“Dia begitu cantik. Coba kau lihat baik-baik wajahnya,” Chanwoo menunjuk Xena dengan telunjuknya yang ditanggapi Xena dengan dengusan pelan.

Jinhwan berusaha memandang wajah Xena dengan saksama, tetapi kucing itu membenamkan wajahnya di kaki depannya sekarang dan sepertinya ia akan bersiap tidur. Jinhwan memanggil nama Xena dengan manis, berusaha membujuk agar Xena mau memperlihatkan wajahnya kepada Jinhwan. Akan tetapi usahanya sia-sia karena sepertinya Xena benar-benar tidak ingin Jinhwan melihat wajahnya saat ini.

“Kau harus melihatnya lain kali, Hyung! Kurasa Hanbin hyung benar-benar seorang pemilih yang handal,” ucap Chanwoo sambil bertepuk pelan untuk menghargai pilihan Hanbin akan Xena.

“Yah, lain kali Hanbin harus membeli hewan lain yang tidak secantik ini,” gumam Jinhwan pelan sambil mengelus Xena dengan sayang.

Selama para member iKON berlatih di ruang latihan di gedung YG, Jessica merasa kesepian. Tidak ada orang yang sekedar duduk di sebelahnya atau mungkin mengelus punggungnya lembut. Hanbin telah menyiapkan makanan khusus kucing di tempatnya tetapi Jessica sama sekali tidak menyukai makanan tersebut. Hey, lagipula dia bukan lah kucing asli. Tersedia susu juga yang dibuatkan oleh Jinhwan untuknya.

Karena ia cukup merasa lapar, akhirnya ia mendekati mangkuk kecil dengan isi cairan putih kental yang berada tidak jauh dari sereal khusus kucing di sebelah televisi. Jessica meminum susu itu, rasanya cukup aneh baginya. Ingin sekali ia kembali menjadi bidadari mengingat para penghuni rumah itu sedang tidak ada di sekitarnya. Akan tetapi, percuma saja karena saat ini lah kutukan roh jahat itu berpengaruh amat sangat kuat pada tubuhnya.

‘Cepat kembali, Jess! Kau tahu seberapa rindunya aku kepadamu?’

Suara lembut terngiang di telinga Jessica saat ia melompat naik ke atas sofa untuk kembali tidur. Suara itu milik sahabat dekatnya, tentu saja. Jessica memilih bungkam setiap kali ia menerima sinyal dari mereka yang baik-baik saja berada di dunianya. Setidaknya, ia merasa cukup tenang berada di luar hiruk pikuk dunia bidadari yang membuatnya cukup lelah.

‘Apa kau mendengarku? Mereka berkali-kali mencoba menghubungimu tetapi mereka selalu bilang bahwa tak ada jawaban. Apakah sinyal kami begitu lemah di bumi?’

Jessica mendengus mendengar nada khawatir sahabatnya. Ingin sekali ia menjawab bahwa ia dapat mendengar mereka dan jangan mengganggunya lagi. Namun, itu terdengar begitu kasar dan tidak sopan. Ia memutuskan lebih baik mendengar mereka mengkhawatirkan sinyal daripada mengolok-olok dirinya.

Ia melirik jam dinding dan kembali mendengus, ia lupa bahwa ia tidak tahu cara membaca jam dinding tersebut. Ada dua jarum: panjang dan pendek, serta angka 1 hingga 12 yang mengitari jarum tersebut. Ia seharusnya mengambil pelajaran tentang study manusia atau semacamnya saat ia belum lulus tahun terakhir. Sayangnya, ia tidak tertarik sama sekali waktu itu dan ia tidak pernah berharap berada di bumi sekali pun.

Jessica memejamkan matanya, berharap bahwa ia akan tertidur dan terbangun larut malam ketika penghuni tempat ini telah kembali dan terlelap tidur.

Tepat pukul 1 pagi, para member iKON baru sampai kembali ke dorm mereka. Hanbin adalah yang terakhir masuk. Mereka seperti biasa, hanya menaruh sepatu mereka di depan pintu dengan sembarang karena mereka terlalu lelah dan pergi ke lemari untuk menaruh barang bawaan mereka. Setelahnya, mereka pergi tidur.

Hanbin dan Donghyuk tinggal sebentar untuk menemui Xena; sedangkan Jinhwan masih berada di dalam kamar mandi. Hanbin duduk di sebelah kanan Xena; Donghyuk di sebelah kirinya. Xena terlihat membuka matanya perlahan dan Hanbin tersenyum.

“Halo, apakah kau sudah makan? Sepertinya makananmu belum kau sentuh sama sekali. Kau tidak menyukai makananmu, ya?” Hanbin membelai kepala Xena lembut. Ia sempat memeriksa makanan Xena dan susu yang terletak di samping televisi, hasilnya adalah tidak memuaskannya sama sekali.

“Apa susunya enak? Jinhwan hyung yang membuatkannya untukmu,” Hanbin kembali mengajak Xena berbincang-bincang.

Donghyuk terus menatap Xena, sedikit terpana. Apa yang ia lihat sama persis seperti Junhoe dan Chanwoo ketika mereka menatap kucing putih keperakan tersebut. Wajah kucing itu terlihat begitu cantik sekali pun ia adalah kucing. Sedikit heran, Donghyuk mengalihkan pandangannya kepada Hanbin.

“Kau tidak pernah berpikiran bahwa dia mungkin makhluk lain, Hyung?” tanya Donghyuk pelan, takut-takut seakan kucing itu mampu paham dengan apa yang ia katakan.

“Jangan mengada-ada, Donghyuk! Dia kucing,” Hanbin mencium pucuk kepala Xena dan Xena memejamkan matanya, antara suka dan tidak suka.

“Dia begitu cantik,” kata Donghyuk pelan, hampir seperti sebuah desisan.

Hanbin menatap Donghyuk heran, “dia memang cantik, ‘kan? Bulunya–”

“Bukan bulunya, oke? Tetapi wajahnya. Seakan dia adalah seorang manusia,” Donghyuk memandang Xena yang kini menatapnya dengan tajam. Kucing itu mendelik ke arah Donghyuk dan Donghyuk hanya melempar tatapan horor ke arah kucing tersebut.

Hanbin memerhatikan wajah kucing peliharaannya dengan saksama dan dia tidak terkejut dengan kenyataan bahwa kucingnya benar-benar memiliki wajah yang cantik. Ralat, bahkan dapat dikata bahwa Xena berparas cantik. Paras hanya digunakan untuk manusia, tetapi kucing itu memiliki wajah yang begitu hidup, seakan dia adalah jelmaan.

“Ya, dia cantik,” ucap Hanbin menyetujui pernyataan Donghyuk, “akan tetapi tetap saja dia kucing.”

Donghyuk tidak merasa nyaman dengan percakapannya dengan Hanbin, oleh karenanya ia pamit untuk pergi tidur dan meninggalkan Hanbin sendirian di ruang tengah. Sekalinya Jinhwan lewat setelah ia selesai dari kamar mandi, Jinhwan langsung pergi tidur dan mengabaikan keberadaan Hanbin dan Xena.

Hanbin mengangkat Xena dan memangkunya, “apa kau memang sependiam ini? Aku bahkan hanya mendengar kau mengeong sekali, tadi pagi,” bisik Hanbin seraya menggelitik leher kucing putih keperakan miliknya.

Jessica dengan kesal menjentikan jemarinya dan membuat barang-barang di depannya kembali tertata serapi semula, seperti saat ia membereskannya pada malam pertama ia tinggal di apartemen ini. Ia cukup kesal kepada ketujuh pria yang tinggal di tempat ini karena mereka bersikap sembrono. Jessica lelah merapikan berbagai macam barang, yah, walaupun ini baru hari keduanya.

Pikiran Jessica melayang kembali saat semua orang menatap wajahnya, seperti menyiratkan bahwa mereka menemukan keganjilan pada wajah Xena, dirinya saat menjadi kucing. Jessica menatap dinding di depannya yang lansung memberikannya pantulan wajahnya. Iris matanya masih berwarna abu-abu dan semua tampak sama. Ia tidak menemukan perbedaan yang mencolok pada wajahnya.

“Apakah wajahku separah itu?” gumam Jessica pelan, ia kemudian berjalan menuju dapur hendak memasakan makanan untuk penghuni rumah.

‘Aku mendengarmu berada di rumah manusia saat ini. Maksudku, manusia lain tentu saja. Apakah tempat mereka tinggal lebih nyaman daripada tempat kita tinggal? Kau baik-baik saja, ‘kan? Aku tidak mengerti mengapa mereka mencemaskanmu akhir-akhir ini karena kau tinggal bersama tujuh orang pria. Benarkah begitu? Jawab aku Jessica!’

Jessica hanya diam sambil memfokuskan diri pada peralatan masak yang kini sedang memasakan sop dan omelet untuk sarapan besok. Irene terus saja membuatnya sedikit merasa terbebani dan banyak khawatir. Ia tidak menyukai hal itu. Di samping itu, ia berhutang budi kepada Irene karena Irene lah orang yang selalu memberi kabar kepada Jessica. Irene adalah sahabat yang baik.

‘Jika kau tidak mau menjawabku, aku akan menengokmu entah kapan. Tetapi aku berjanji akan menengokmu! Aku akan menengokmu siang hari!’

“Kumohon jangan siang!” pekik Jessica tertahan dan langsung membuatnya menutup mulut karena ia sadar bahwa suaranya bisa saja membangunkan penghuni tempat ini.

‘Jangan siang hari, Irene. Kau tidak bisa menemuiku siang hari. Kau tahu kutukanku berlaku mengekang ketika siang, bukan?’ batin Jessica mencoba membuat hubungan dengan Irene.

Peralatan dapur sudah berhenti bekerja dan makanan sudah berjajar rapi di atas meja makan. Jessica mengembalikan alat-alat itu dengan ketukan pelan jemarinya pada meja makan, lalu ia duduk. Ia memandang ke arah makanan yang ia buat dengan pandangan sedikit khawatir.

‘Hahaha, tentu saja! Aku hanya ingin tahu apakah benar bahwa kau tidak mendengar kami di sini. Tentu saja aku akan berkunjung pada malam hari. Aku senang kau membalasku, Jessica.’

Jessica rasanya ingin sekali memarahi Irene karena sahabatnya itu telah menggodanya, membuatnya dengan perasaan terpaksa menjawab hubungan yang mereka buat untuk mengetahui keadaan Jessica. Jessica membenci pemaksaan dan juga campur tangan orang lain terhadap kehidupan pribadinya, terutama kutukannya.

‘Kau tidak ingin menjawabku lagi, huh? Kau tahu, aku kesepian di sini. Aku sangat menginginkan kau kembali di sini dan bekerja bersamaku. Atau setidaknya kau menjawab semua perkataanku dan kembali menghubungiku. Apakah kau begitu sibuk di sana hingga kau tidak sempat membalas semua perkataanku selama ini? Aku sungguh amat sangat bosan berada di dunia ini sendiri tanpa dirimu, Jessica.’

Panjang dan lebar Irene mengutarakan perasaannya kepada Jessica. Jujur saja, Jessica merasa bahwa ia ingin sekali membalas perkataan Irene. Akan tetapi, itu akan membuatnya lebih merindukan berada di dunianya daripada di dunia manusia. Padahal, ia diharuskan bertahan sebisa mungkin agar kutukan itu terpatahkan. Atau mungkin ada cara lain untuk mematahkannya.

‘Baiklah jika kau tidak ingin membalasku. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang membuatmu terus menerus bisu dan tidak mau berhubungan dengan kami, mungkin. Tapi tolong lah, Jessica, keselamatanmu adalah hal yang sangat berharga bagiku. Aku tidak ingin kau terluka atau mungkin lebih dari itu. Aku akan menemukan jalan keluar untukmu. Tunggu aku, Jess!’

Jessica menghela napasnya panjang. Irene membuatnya merasa lebih tertekan saat ini. Seandainya Irene tidak mengatakan itu, ia akan merasa lebih baik. Namun, saat ini perasaannya adalah tidak baik sama sekali. Ia ingin sekali menyelinap keluar dari apartemen ini dan menghirup udara segar di luar seperti yang tiap malam ia lakukan saat ia masih berada di toko kucing. Apartemen ini lama kelamaan dapat membunuh keinginan hidup Jessica.

BRAK

Terdengar suara pintu terbuka dari ujung ruangan. Mata Jessica membulat sempurna. Ia tahu bahwa ini belum begitu pagi untuk kembali berubah menjadi kucing. Ia tidak ingin menjadi kucing saat ini! Namun, apa yang bisa ia lakukan saat ini? Bersembunyi di dapur? Bagaimana jika orang itu ingin mengambil minum di dapur atau…

SREK

Pintu ruang makan pun bergeser, seorang lelaki dengan perawakan tinggi memasuki ruang makan. Jessica yang belum memutuskan untuk berubah atau bersembunyi hanya membeku di tempat ia duduk. Lelaki itu berjalan menjauhi meja makan dan menuju dapur. Jessica tahu bahwa lelaki tadi meliriknya sekilas.

“Kenapa kau tidak tidur?” tanya lelaki itu dengan nada mengantuknya yang terdengar sedikit sexy.

Jessica berpikir sejenak, ia membuka mulutnya hendak menjawab, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Oleh karena itu, Jessica segera mengatupkan lagi bibirnya. Lelaki tadi mengambil gelas lalu menuangkan air putih ke dalamnya. Ia meminum air itu dengan sekali tegukan dan kembali menuju kamarnya.

“Kau seharusnya tidur, tidak baik gadis tidur terlalu pagi,” ucap lelaki itu lagi dan segera menutup pintu ruang makan.

Jessica segera belari menuju dapur dan berjongkok di sana. Ia juga telah memakai tudung jubahnya lagi, takut-takut jika lelaki tadi kembali dan dia dapat segera berubah menjadi kucing. Detak jantungnya bekerja dua kali lebih cepat. Baru kali ini ia mengalami perasaan seperti ini. Sungguh aneh merasakan apa yang manusia rasakan, pikir Jessica.

oOo

“Apakah ada penyusup di apartemen kita?” keluhan itu begitu keras hingga membangunkan beberapa member iKON yang masih tertidur.

Hanbin segera bangun dan melihat apa yang sedang dikeluhkan oleh Donghyuk. Hanbin berjalan menuju ruang tengah dan baru saja setengah jalan, kesadarannya sudah penuh dengan hanya menatap rak sepatu mereka. Dua malam berturut-turut hal tersebut terjadi. Antara perasaan was-was dan senang, Hanbin mendekati Donghyuk yang berada di lemari pakaian.

“Kau kah yang merapikan ini, Hyung?” tanya Donghyuk seraya mengambil beberapa pakaiannya.

Hanbin menggeleng pelan, “tidak,” jawabnya singkat dengan nada terkesima.

“Apakah kucingmu yang melakukannya, Hyung?” tanya Donghyuk lagi.

Hanbin langsung menatap Donghyuk dengan tatapan tajam, “mana mungkin kucing dapat membereskan berbagai barang?”

Argh! Aku tidak dapat memasak lagi!” kesal seseorang dari ruang makan.

Beberapa orang berhambur menuju ke ruang makan, termasuk Hanbin. Yunhyeong sedang membuka penutup saji yang ada di atas meja dan mendapati beberapa makanan telah tersedia. Jinhwan yang menatapnya dengan tatapan heran segera mendekat.

“Apakah kau yang memasak semua ini semalam?” tanya Jinhwan, ia masih begitu mengantuk.

Yunhyeong menggeleng lemah, “aku tidak memasak beberapa hari ini, dan sekarang setiap pagi selalu ada makanan di atas meja. Apakah sajangnim mengirimkan pembantu setiap malam ke apartemen kita?”

“Tentu saja tidak!” Hanbin segera mendekati meja makan dan melihat lebih jelas bahwa di sana terdapat sup yang entah kenapa masih mengeluarkan uap, omelet, nasi, ramyun, dan ada beberapa lauk yang bisa dimakan pagi ini.

Hanbin memijat keningnya pelan, siapa tahu setelah dipijat seperti itu ia akan kembali berpikir normal. Namun, sia-sia saja usahanya memijat kening karena Hanbin sendiri masih sedikit pusing karena kejadian dua hari ini.

Kucing berbulu putih keperakan mendekati kaki Hanbin dan kemudian bergelayut manja di kaki sang empunya. Hanbin menunduk dan menatap kucing itu dengan tatapan antara yakin dan tidak yakin, percaya dan tidak percaya. Semenjak kucing itu berada di apartemen ini, seakan semuanya menjadi rapi setiap pagi. Apakah ini mimpi atau hanya kebetulan belaka?

“Apakah kau yang melakukan semua ini, hm?” Hanbin berjongkok dan menggendong kucingnya keluar ruang makan.

Jinhwan yang duduk di atas sofa hanya menatap Hanbin datar, “kau akan melaporkan semua ini pada sajangnim atau tidak?”

Dengan sedikit keraguan, Hanbin menggeleng pelan, “aku akan memastikannya untuk beberapa hari selanjutnya.”

oO To be Continue Oo

Halo readers-deul~~~ Apa kabar kalian semua??? Adakah yang menunggu kelanjutan dari cerita Xena? Hehehe maafkan ya aku baru sempat update lagi dikarenakan kesibukan :”)

Jadi…gimana nih sama Chapter 2??? Kasih komentarnya dong dan juga tinggalkan jejak yaaa ^^

Thanks for Read this Fanfiction

Advertisements

20 thoughts on “Xena (Chapter 2)

  1. Yeyy first comment kkk.. ah selalu ya bersambungnya di waktu yg gantung banget 😣 tapi malah jadi makin gak sabaran nungguin kelanjutannya. Tetap semangat ya authornim.. biar bisa memberikan lanjutan yang gak kalah seru lagi nanti 😉

  2. Itu siapa yg ngeliat jessi . Yg lain kebingungan siapa yg ngerapihin dormnya . Penasaran chapter slnjutny . Next fighting chingu

  3. Ahh suka bgt…ikonXsica itu emang langka sekali nya ada pasti menarik….kkk
    Ff ini bikin penasaran..aku sllu nungguin lanjutannya..berharap bgt bakal cepet updete..fighting ya eon

  4. uwah siapa tu yang malem2 liat Xena alias Jessica ? penasaraannn.. kapan hanbin bisa peka kalo kucingnya itu bidadari ? terus kapan update thor? udah gak sabar nunggu chapter selanjutnya hehe yang semangat ya thor nulisnya, fighting!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s