Xena (Chapter 1)

Author : Queenara

Title : Xena

Genre : Fantasy, Friendship

Rating : PG – 15

Lenght : Chapter

Cast :

Jessica Jung as Xena | Kim Hanbin

iKON member

oOo

Tidak pernah di dalam hidup Kim Hanbin, ia merasakan hasrat untuk memiliki hewan peliharaan seperti saat ini. Setelah mengadakan pertemuan singkat dengan YG sajangnim, yang juga memutuskan membolehkan dirinya membeli hewan peliharaan serta merawat hewan tersebut di dorm iKON, Hanbin segera meminta manager grupnya untuk mengantarnya ke toko hewan.

Di toko hewan, tempat Hanbin memilih hewan peliharaan barunya, ia menemukan berbagai hewan yang sangat lucu. Ada banyak hewan yang menarik perhatian Hanbin, terutama beberapa anjing dan kucing, baik yang berada di dalam kandang maupun di dalam pagar khusus yang memang didesain untuk hewan-hewan tersebut.

Mata Hanbin tertuju pada salah satu sudut ruangan, di mana terdapat seekor kucing dengan bulu berwarna putih keperakan, entah itu hanya tipuan atau karena efek cahaya. Akan tetapi, tidak ada sama sekali cahaya yang menimpa bulu kucing tersebut. Hanbin mendekati kucing itu, kucing tersebut berada di dalam pagar khusus yang juga berisikan beraneka ragam kucing.

“Kucing apa ini?” tanya Hanbin kepada pemilik toko.

Si pemilik toko mengerutkan keningnya sesaat lalu ber-oh dengan nada dan dengusan pelan, “aku tidak ingat pastinya, tetapi dia datang secara tiba-tiba di malam hari ketika badai salju datang.”

“Benarkah?” Hanbin mendongak menatap pemilik toko dengan pandangan heran, “bagaimana bisa?” gumamnya pelan.

Hanbin mengelus kucing itu dengan sayang, kucing tersebut tidak bergerak sedikit pun. Bulunya benar-benar putih, tidak seputih yang kalian bayangkan, tetapi terkadang akan memunculkan warna keperakan yang membuat kalian terheran. Kucing itu masih tertidur dengan manis ketika Hanbin mencoba menggendongnya.

“Berapa harga kucing ini?” tanya Hanbin kemudian, setelah ia menimbang cukup lama apakah sebaiknya ia membelinya atau memilih anjing sebagai peliharaannya.

“Eh? Oh, sebenarnya aku tidak berniat menjualnya… yah, akan tetapi kau dapat mengambilnya dengan harga 500 ribu won,” pemilik toko itu juga menimbang apakah harga setinggi itu layak ia tawarkan kepada pembelinya yang satu ini.

Hanbin menaruh kembali kucing itu di tempatnya lalu mengecek dompetnya. Ia berjalan ke kasir untuk membayar semuanya dan menanyakan apakah kucing itu memerlukan perawatan khusus. Si pemilik toko terlihat kebingungan menjawabnya, karena pada dasarnya kucing itu datang tanpa diundang. Jadi pemilik toko hanya memberikan Hanbin kandang khusus serta beberapa makanan untuk kucing.

“Terima kasih,” Hanbin membungkuk kepada pemilik toko dan berlalu pergi dengan kucing yang masih tertidur, dan kucing itu berada di dalam kandang barunya sekarang.

Manager Hanbin melirik Hanbin yang telah mengeluarkan kucing itu dari kandangnya di dalam mobil. Ada perasaan antara jengkel atau marah atau mungkin semacam risih dengan sikap aneh Hanbin. Ia ingin menegur Hanbin, tetapi ia tidak sampai hati untuk mengatakannya.

Manager hyung, dia sangat cantik, bukankah begitu?” tanya Hanbin yang kini sibuk mengelus kepala kucing itu.

“Yah, seperti yang kau katakan,” ujar manager grupnya sebisa mungkin terdengar tidak jengkel.

Ketika Hanbin memasuki dorm, beberapa member iKON sedang sibuk dengan gadget mereka di ruang tengah. Hanbin membawa kucing itu ke sofa di dekat Junhoe yang kini mengalihkan perhatiannya kepada apa yang sedang dibawa Hanbin.

“Apa itu, Hyung?” tanya Junhoe penasaran. Tidak biasanya seorang Goo Junhoe merasa penasaran dan memedulikan keadaan di sekitarnya.

Hanbin mengeluarkan kucing yang masih tertidur dari kandangnya dan seketika semua mata memandang ke arah kucing cantik tersebut. Begitu tenang bak boneka yang tidak hidup, mata Yunhyeong menyipit memerhatikan kucing itu. Yunhyeong baru saja keluar dari ruang makan dan terkesima dengan apa yang ada dipangkuan Hanbin.

“Dia berwarna keperakan! Wah! Hebat!” seru Yunhyeong yang lansung berhambur mendekat ke arah Hanbin.

“Apa katamu?” Bobby berjalan keluar dari kamarnya dan mencari sumber keributan yang dibuat oleh Yunhyeong.

Tidak lama kemudian, semua member telah mengerumuni Hanbin dengan berbagai pertanyaan yang bahkan tidak mampu Hanbin jawab satu persatu. Jinhwan kini mengambil giliran untuk memangku si kucing dengan bulu putih keperakan itu dan mengelusnya sayang.

Chanwoo akhirnya menanyakan sesuatu yang membuat Hanbin berpikir sejenak, “akan kau beri nama siapa dia, Hyung?”

“Bagaimana jika Kimberly?” usul Junhoe.

“Kau bercanda? Kimberly terdengar seperti nama anjing,” sahut Jinhwan, ia masih sibuk mengelus kucing itu. Bulu kucing itu tampaknya begitu lembut, selembut sutra dan istimewanya bulu kucing tersebut tidak rontok sama sekali.

“Jangan gunakan nama Inggris, Hyung! Aku tidak mudah mengingat nama yang sulit seperti itu,” ucap Donghyuk seraya meringis menatap Hanbin yang masih sibuk memikirkan nama apa yang pantas untuk hewan peliharaannya.

Bobby menjentikan jemarinya, “beri saja dia nama Jiwon. Kau tahu? Kim Jiwon noona begitu cantik dengan rambut pendeknya,” lalu ia terkekeh main-main kepada semua member yang melayangkan pandangan ‘apa kau bercanda?’ kepada Bobby.

“Dia begitu cantik, beri dia nama yang secantik penampilannya, Hanbin ah!” ucap Jinhwan yang terdengar seperti gumaman.

“Bagaimana jika Xena (dibaca: Sena)?” Hanbin memandang member lain dengan wajah meminta pertimbangan.

Yunhyeong duduk di sebelah Junhoe seraya memandang Hanbin dengan keheranan, “apa arti dari Xena?”

“Sebenarnya aku pernah membaca nama itu di suatu buku. Xena diambil dari bahasa Yunani yang berarti tamu,” jelas Hanbin, ia melirik sekilas kucing yang ada dipangkuan Jinhwan.

“Kenapa kucing secantik ini kau namakan tamu?” ujar Jinhwan kurang setuju yang disertai dengan tawa pelan member lain.

Hanbin mengendikan bahunya pelan, “Xena terdengar cantik sekali pun arti sebenarnya adalah tamu. Bisa saja kita anggap dia tamu di rumah ini. Tidak buruk, ‘kan?”

Junhoe, Yunhyeong, dan Chanwoo mengangguk pelan, paham akan maksud Hanbin. Sedangkan Bobby masih memandangi bulu kucing itu yang entah mengapa berubah keperakan setiap kali ia mengedipkan matanya dan Donghyun setuju sepenuhnya dengan kata-kata Hanbin. Jinhwan tidak memberikan reaksi apapun terhadap Hanbin, ia hanya diam saja.

Hanbin tidak meminta member lain untuk ikut mengurus Xena, tetapi beberapa member menawarkan kesediaannya untuk ikut mengurus Xena atau sekedar memberi makan dan memandikannya jika diperlukan. Junhoe tak henti-hentinya melirik Xena, padahal biasanya ia tidak tertarik sama sekali dengan hewan. Bulu putih keperakan Xena berhasil menarik perhatian semua penghuni dorm iKON.

Malam itu, setelah mereka makan malam, kucing berbulu putih keperakan dengan nama Xena itu akhirnya terbangun dari tidurnya. Matanya begitu bening, irisnya berwarna abu-abu dan begitu bundar, membuatnya terlihat begitu menggemaskan tetapi juga anggun di waktu bersamaan. Hanbin langsung memanggil Xena untuk mendekat setelah ia menyadari bahwa kucingnya telah bangun. Hanbin hampir saja mengira bahwa kucing itu sebenarnya tidak hidup walaupun ia dapat merasakan perut kucingnya naik turun ketika ia memangku Xena.

“Kenapa kau baru bangun semalam ini, hm?” Hanbin menggendong Xena dan membawanya ke kamar tidurnya.

Bobby sedang sibuk mencari sesuatu di dalam lemarinya; sedangkan Junhoe bermalas-malasan di atas tempat tidurnya. Ketika Hanbin datang, Junhoe melirik Xena yang berada digendongan Hanbin daripada sang leader.

“Kenapa kau membawanya masuk, Hyung?” tanya Junhoe, terdengar nada protes dibalik perkataannya.

Hanbin mengabaikan protes Junhoe barusan, “dia akan tidur bersamaku malam ini.”

“Setidaknya, kau memperlakukan kami seperti kau memperlakukan Xena, Hanbin!” Bobby berbalik dan memandang Hanbin sinis.

Hanbin hanya menatap Bobby dengan tatapan yang tak dapat diartikan, “kau sudah mengatakannya saat siaran tv.”

Hanbin memutuskan menaruh Xena, yang masih diam saja sekali pun kucing itu terjaga, di sebelahnya. Ia akhirnya tertidur setelah ia sendiri mematikan lampu kamar.

Kucing itu segera berjalan meninggalkan tempat tidur dan menyelinap keluar. Setelah ia memastikan semua member tertidur, ia segera berjalan ke ruang makan dan duduk di atas kursi makan. Dengan bunyi poop pelan kucing itu berubah menjadi seorang wanita cantik dengan rambut pirang keemasan yang terbungkus di dalam sebuah jubah, yang terlihat seperti baju tidur atau bahkan baju handuk yang mewah, berwarna putih keperakan.

Wanita itu menghela napasnya pelan dan menengok ke belakang, bersikap ekstra hati-hati terhadap sekitarnya. Ia membuka tudung kepalanya dan menyibakan rambut keemasaannya ke belakang. Rambutnya cukup panjang, kira-kira sepunggungnya dan begitu rapi, sedikit bergelombang.

Antara bingung dan tidak tahu harus melakukan apa, pandangan tajamnya menelusur ke dapur di samping ruang makan tersebut. Ia tersenyum masam dan mendekati dapur itu dengan perasaan sedikit jijik, atau semacamnya.

“Seharusnya aku tidak di sini,” gumam wanita itu pelan.

Ia mengetuk meja di depannya pelan dengan jari telunjuknya dan semua barang-barang berterbangan, meluncur pelan tanpa suara ke tempatnya. Beberapa piring dan gelas kotor pun segera tercuci dengan sendirinya dan kembali ke dalam rak. Barang-barang yang terletak tidak pada tempatnya, segera masuk ke dalam laci meja dan sampah yang lupa dibuang segera menenggelamkan diri pada tempat sampah kering yang ada di dapur.

Wanita itu kembali duduk di kursi makan, memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan sambil menunggu matahari terbit keesokan hari. Ia tidak mungkin kembali menjadi kucing malam ini. Ia sudah puas tidur seharian, bahkan ia tidak sadar jika dia sudah diadopsi, atau mungkin dia dapat mengatakan bahwa memang dia diadopsi.

Mengingat bahwa ia mendengar seorang lelaki mengucapkan kata Xena tadi, membuatnya menyadari bahwa ia dinamakan Xena sebagai kucing. Wanita itu kembali mendengus pelan, ia beranjak dari duduknya.

“Jadi, namaku Xena? Setidaknya aku bisa menggunakannya selama aku menjadi kucing dan semua tidak tahu ini aku, kecuali mereka yang benar-benar mengenaliku,” gumam wanita itu, matanya menatap pintu yang membatasi ruang makan dengan ruang tengah.

Sesungguhnya, ia tidak begitu berani untuk menampakan dirinya sekali pun para penghuni tempat tersebut telah terlelap tidur. Menampakan diri di depan manusia bukan lah ide bagus, perlu dihindari. Namun, kembali menjadi kucing sama saja menyiksanya, kecuali memang ia harus kembali menjadi kucing karena kutukannya.

“Menyebalkan,” ia menggeser pintu yang ada di depannya dengan hati-hati dan mencoba memeriksa tempat itu.

“Sepertinya, aku mendapatkan beberapa pekerjaan yang tidak biasanya kulakukan,” wanita itu berjalan ke arah tempat penyimpanan sepatu. Lebih tepatnya, rak sepatu yang berjejer di depan pintu masuk hingga setengah masuk ke dalam ruang tengah. Walaupun di situ telah terpampang empat hingga lima rak sepatu, ia masih menemukan sepatu berserakan di depan pintu masuk.

Tangan wanita itu mengepal kuat dibalik lengan jubah keperakannya dan sepatu yang berserakan di depan pintu segera berjajar di sebelah pasangan lainnya, lalu mereka bergiliran masuk ke dalam rak sepatu yang masih cukup menampung mereka. Sisanya, sepatu itu berjejer rapi di depan rak. Sekarang, pemandangan di pintu masuk itu pun menjadi lebih bersih tanpa sepatu yang berserakan.

Mata tajam wanita itu melirik ke arah ujung ruangan. Ia tahu, pasti perasaan ini membawanya ke sebuah tempat yang sama berantakannya dengan dapur atau pintu masuk. Benar saja, setelah ia masuk ke dalam ruangan tersebut, ia menemukan banyak sekali baju-baju bergantungan bahkan ada kantung plastik hitam besar yang entah apa isinya berjejer tidak beraturan di depan lemari-lemari yang bahkan beberapa pintunya tidak ditutup.

Are they even human?” geram wanita itu, ia benar-benar kesal kali ini.

Seraya menyibakan rambutnya yang panjang keemasan, baju-baju berterbangan ke dalam lemari sang pemilik. Barang yang berada di dalam kantung plastik hitam besar tersebut keluar dan menampakan dirinya, yang ternyata adalah baju kotor para penghuni. Dengan sekali mengerling kepada baju-baju kotor tersebut, mereka sudah kembali bersih dan yang pasti berbau wangi. Segera baju-baju itu kembali terbang ke lemari tempat mereka disimpan.

‘Cukup pintar sekali pun tanpa tongkatmu, Jessica.’

Suara itu mendengung di telinga sang wanita. Ia berusaha tidak mendengarnya, tetapi ia kembali mendengar seseorang menyebut namanya di samping menyebut nama dirinya sebagai hewan.

‘Xena, kedengarannya nama yang bagus. Bukankah begitu, Jessica?’

Suara kedua lebih terdengar manis dan menjilat dibanding suara pertama. Ia tahu siapa pemilik kedua suara itu, walaupun ia tidak dapat melihat dimana mereka berada saat ini. Yang pasti, keduanya akan terus mengganggu wanita itu jika ia membalas suara itu dengan batinnya.

Jessica, begitu lah nama asli dari Xena. Dia adalah salah satu bidadari yang terkena kutukan oleh roh jahat di dunianya. Roh tersebut telah membuatnya terjebak di bumi dan membuatnya menjadi kucing pada siang hari. Tidak, sebenarnya ia dikutuk menjadi kucing setiap harinya, tetapi dengan kekuatannya yang cukup mengesankan, ia dapat mengubah dirinya di malam hari dan kembali menjadi bidadari.

Dengan rambut pirang keemasaan dan jubah putih keperakan, ia tidak dapat dengan leluasa berjalan-jalan di luar tanpa menarik perhatian. Menjadi kucing dengan tertutupi jubahnya yang keperakan saja sudah membuat beberapa orang meliriknya curiga, apalagi jika ia berjalan-jalan dengan penampilan mencolok seperti ini.

Namun, ia harus mencari cara supaya ia dapat kembali ke asalnya atau malah akan selamanya terjebak di bumi dengan ia menjadi kucing di siang hari dan berubah kembali menjadi bidadari di malam hari. Ia tidak pernah menyesal telah melanggar beberapa peraturan di dunianya yang membuat roh jahat membenci tingkahnya dan menjebloskannya ke bumi. Mungkin roh itu merasa bahwa ia tidak jahat lagi setelah melihat tingkah yang ia buat, begitu lah pemikiran singkat Jessica.

Ia merebahkan dirinya di atas sofa. Ia tidak dapat membaca dengan jelas jam dinding yang terletak di atas televisi. Ia menatapnya sambil mengernyit dan bergumam, “aku tahu pasti masih lama hingga subuh datang.”

Jessica memutuskan untuk memeriksa wajah para penghuni. Ia tidak pernah bertemu dengan manusia lain selain pemilik toko, tempat ia tinggal sebelum ini dan ia akan selalu tertidur di siang hari karena ia tidak ingin menarik perhatian banyak orang. Sialnya, seseorang memerhatikannya bahkan saat ia tertidur sekali pun. Yah, tak lain dan tak bukan adalah orang yang membawanya kemari.

Jessica mengumpulkan rambutnya dan menaruhnya ke sisi kanan, lalu ia menutupkan tudung jubahnya ke kepala. Ia berjalan perlahan ke arah kamar tempat ia berada sebelum ia berubah menjadi bidadari. Ia tidak memerlukan cahaya untuk memerhatikan wajah orang yang terlelap di dalam kamar karena ia dapat melihat dalam kegelapan sekali pun.

Terlihat jelas olehnya, seorang pria yang lebih muda darinya tertidur begitu nyenyak dengan memeluk guling. Rambutnya berwarna coklat, hidungnya cukup besar baginya. Jessica yakin, dia adalah orang yang membawanya ke tempat ini. Akan tetapi, ia tidak dapat mengingat siapa nama pria ini. Ia tidak begitu memerhatikan sekitarnya saat ia terbangun karena sebenarnya ia masih mengantuk. Ketika ia mendongak, ia menemukan serentet huruf yang tertempel di kayu penyangga kasur tingkat.

‘Aku merasa seperti orang yang buta huruf di sini’ Jessica membatin dengan sedikit jengkel saat ia tidak berhasil membaca huruf tersebut.

Pandangan Jessica beralih kepada seorang pria yang tidur di ranjang kedua di atas pria dengan hidung besar tadi. Pria itu terlihat lebih tua dari pria pertama, tetapi ia memiliki wajah yang cukup tampan, setidaknya itu lah yang Jessica pikirkan. Pria itu memiliki bibir tebal dan juga sexy dengan alis yang tebal pula. Pandangan Jessica berhasil menelusuri tubuh pria tersebut dan ia menemukan bahwa pria itu cukup tinggi.

‘Jika dia salah satu kaumku, aku yakin banyak yang akan mengangkatnya sebagai Raja’ Jessica segera menengok dan memeriksa pria ketiga yang tidur di single bed.

Pria ini sama sekali tidak tampan, tetapi wajahnya begitu unik. Dia sedikit mendengkur dan Jessica dapat melihat giginya yang lucu, sedikit tidak beraturan. Seperti kelinci, begitu pikirnya. Ia tidak berani memandang pria ketiga lebih lama lagi karena ia sadar bahwa pria itu tidur tanpa busana.

Akhirnya Jessica keluar dari kamar itu. Ia tidak ingin melanjutkan memeriksa wajah penghuni tempat ini sebab wajahnya sudah merona merah saat ini. Jessica berjalan kembali ke dapur. Ia tidak dapat memastikan jam berapa sekarang ketika ia melirik jam dinding di atas televisi sebelum ia masuk ruang makan.

“Kenapa aku merasa bodoh berada di bumi?” tanpa Jessica sadari, ia telah menyihir peralatan dapur untuk bergerak dan memasak dengan sendirinya di atas kompor. Jessica melirik peralatan dapur yang kini sedang sibuk membuat sebuah makanan itu.

Jessica duduk di kursi seraya menangkupkan kedua tangan pada dagunya, menatap sayu ke arah peralatan yang sedang bekerja sambil berbisik, “aku harus segera kembali secepatnya. Bagaimana pun caranya.”

oOo

Keesokan paginya, Hanbin orang yang bangun pertama. Ia bangun dan menuju ke dapur untuk mengambil air minum dan setelah itu berniat untuk mandi. Ia mengambil air minum dari dalam kulkas dan segera meneguk habis air putih tersebut. Hanbin masih begitu mengantuk, sebelum ia menyadari sepenuhnya bahwa dapur terlihat begitu rapi saat ini.

Pupil mata Hanbin melebar sempurna karena ia sungguh terkejut karena ia tidak pernah menemukan dapur serapi ini, kecuali saat mereka pertama kali menempati apartemen. Terdengar teriakan antusias dari seberang kamar.

Hyung! Ada penyeludup yang berbaik hati membereskan rak sepatu bahkan lemari kita sekali pun!” teriak Yunhyeong yang langsung membuat Hanbin berlari menuju lemari pakaian mereka.

Jinhwan juga sudah terbangun dan menatap ke lemari dengan wajah setengah sadar dan melongo, entah ia benar-benar tahu maksud Yunhyeong atau tidak. Akan tetapi, jelas jika Hanbin kini cukup kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi.

“Apa kau pikir ada penyeludup yang mau membereskan dorm kita?” tanya Hanbin sedikit ketus lalu berlalu untuk mandi dan menyegarkan diri. Ia berniat memberi tahu manager setelah selesai mandi atau mungkin pergi ke YG sajangnim untuk melapor.

Jinhwan menguap sebelum berkata, “setidaknya aku lebih nyaman jika barang-barang berada pada tempatnya.”

Xena menelungkup di kursi makan, ia membenamkan wajahnya pada kaki depannya. Kucing putih keperakan itu mendengarkan dengan cermat apa yang para penghuni rumah ini katakan. Seharusnya ia tidak usah berbaik hati membereskan tempat tinggal mereka jika akan menggemparkan seluruh orang yang tinggal di tempat ini, pikir Xena.

Hyung! Kucingmu hilang!?”

oO To be Continue Oo

Halo! Halo! Halo! Apa kabar??? Kangen sama fanfiction buatanku gak? Wkwkwk. Apa kabar kalian? Semoga kalian baik-baik aja dan masih mau baca fanfiction buatanku ya? :3

Disini aku cuma mau bilang, doakan aja fanfiction ini bisa selesai aku ketik ceritanya hehehe. Aku juga turut sedih soal Hanbin yang sakit, gitu kan kabarnya? :(  Ya, pokoknya berharap yang terbaik buat leader iKON deh :’)

Thanks for Read this Fanfiction!

22 thoughts on “Xena (Chapter 1)

  1. Lucu ceritanya suka deh jadi penasaran deh sama chapter selanjutnya
    Jatang jarang loh aku suka baca ff fantasy gini dan ini tipe aku banget. Meskipun menurutku alurnya agak kecepetan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s