And I Fall – Chapter 2

Yura Lin presents:

And I Fall

Genre:

Royal!AU

Length:

Series

Cast:

Jessica Jung – Wu Yifan – WINNER Seunghoon

Other minor casts

+

 

Yongguk menghela napas melihat Sooyeon berbaring dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya, diam menatap dinding di sebelah kanannya, lalu matanya tertuju pada dua prajurit berbaring sambil diobati luka-lukanya oleh pemilik rumah di sudut ruangan lain. Kini mereka berada di rumah teman Yongguk di negara Kish. Dia masih di sini hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja lalu kembali ke Traevan untuk melapor keadaan agar kerajaan segera melakukan sesuatu. Sesuatu yang dapat menyelamatkan Sooyeon dan dua prajurit yang tersisa.

Oleh karena itu, waktunya tidak banyak.

Dia harus melewati perbatasan negara sebelum kelompok lainnya datang dan perbatasan ditutup akibat banyaknya mayat bergeletakan di dua titik yang berdekatan. Jika itu terjadi, dia tidak akan bisa melewatinya dalam keadaan hidup-hidup. Setidaknya kudanya bisa melewati dua negara pemberontak ini dalam 4 jam dan bisa meminta tolong pada kerajaan Aeolish.

Tidak dia sangka kecurigaan rajanya menjadi nyata. Sebelum Sooyeon pergi meninggalkan Traevan, dia dan sang putri dipanggil ke ruangan raja. Saat itu lah raja Traevan memberitahu kecurigaannya secara detail. Sooyeon diminta untuk berhati-hati lalu dibolehkan keluar ruangan sebelum Yongguk. Setelah itu, raja memerintahkannya untuk mengikuti mereka dari jauh.

Sejauh ini Traevan sangat berhati-hati dalam menyembunyikan wajah calon raja selanjutnya dan Yongguk selalu memakai pelindung wajah selama di medan perang. Maka tidak sulit bagi Yongguk untuk berpura-pura menjadi rakyat biasa yang memiliki urusan perdagangan di negara orang untuk melewati perbatasan bersama Jongup, pelindung pribadinya. Kini dia harus kembali ke Traevan untuk memberitahu rajanya betapa benarnya ia tanpa keberadaan sang pengawal pribadi di sisinya.

Akan tetapi dia tidak tega meninggalkan Sooyeon sekarang. Jelas terlihat kejadian malam ini berdampak sangat besar pada sang putri. Tidak pernah dihidupnya ia bertarung pedang sungguhan dan berakhir membunuh lawannya. Walaupun ada senyuman di wajahnya, tubuhnya tidak berhenti bergetar. Setelah mereka berhenti sebentar di pinggir sungai untuk membersihkan diri dari darah, Sooyeon terlihat membaik. Tubuhnya tak lagi bergemetar hebat kecuali tangannya. Jika bukan karena keadaan kedua prajurit itu yang sudah terlalu parah, Yongguk pasti akan memaksa Sooyeon untuk duduk di belakangnya. Sayang Yifan ambruk tak lama setelah Yongguk keluar dari persembunyiannya. Tidak mungkin satu kuda membawa 4 orang sekaligus. Terpaksa Sooyeon harus membawa kudanya sendiri, Seunghoon yang masih belum sadarkan diri duduk di belakangnya dengan tangan diikat melingkari pinggang Sooyeon agar tidak jatuh.

Jika bisa, dia akan langsung membawa Sooyeon kembali ke Traevan. Namun dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Sooyeon jika skenario terburuk terjadi di perjalanan. Melanjutkan perjalanan ke negara Deira yang hanya berjarak sekitar 4 jam lagi menggunakan kuda pun bukan pilihan yang bijak pula. Dia tak yakin Deira mau ikut campur dengan masalah seperti ini mengingat Kish dan Ertonia lebih besar dan lebih kuat dari Deira. Mungkin Deira akan meminta tolong pada Aria tapi bagaimana jika Aria adalah dalang di balik semua ini? Dia tidak bisa mempercayai negara manapun dalam keadaan seperti ini.

Pilihan teraman adalah Sooyeon bersembunyi di rumah ini dengan penjagaan dua prajurit yang tersisa. Seunghoon adalah prajurit kebanggaan Traevan, sudah pasti, dan Yongguk pun hanya mendengar pujian-pujian tentang kemampuan Yifan selama peperangan berlangsung. Selama mereka bisa menjaga diri untuk 2-3 hari ke depan, Sooyeon akan sampai di tanah Aria dengan selamat. Setidaknya dari penjelasan orang yang menyadera Sooyeon semalam, Aria tidak ikut campur sama sekali di dalam rencana pemberontakan ini jadi pernikahan akan tetap dilangsungkan setelah masalah ini selesai.

“Pergi sekarang?” tanya Song Jieun, teman masa kecilnya., setelah selesai menutup luka terakhir di kaki Seunghoon.

Gadis itu berasal dari Traevan dan pindah ke Kish setelah menikah dengan pria dari Kish. Terakhir mereka bertemu 5 tahun lalu saat Jieun sudah siap untuk meninggalkan tanah airnya dan Yongguk baru saja kembali dari perang, berlari sekuat tenaga untuk menemuinya dengan luka parah di tangannya. Semua orang tahu mereka mempunyai sejarah yang cukup dalam tapi tidak ada yang berani membicarakannya.

“Ya,” Yongguk menghela napas. “Tolong jaga mereka semua. Jangan sampai ada yang mengenali mereka.”

“Seburuk itu?”

“Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Akan lebih baik jika kau tidak tahu apapun.”

“Jika aku tidak tahu apapun, bagaimana aku bisa menjelaskan alasan tiga temanmu bersembunyi di rumahku kepada suamiku saat dia pulang nanti?” tanya Jieun kesal. Untung saja hanya ada Jieun dan anaknya yang baru berusia 4 tahun di rumah dan sang suami sedang berada di kota lain untuk urusan bisnis selama seminggu jadi semua berjalan lancar.

Yongguk menjilat bibirnya, matanya menatap temannya frustrasi. Ya, Jieun memang berkewarganegaraan Traevan tapi dia sudah tinggal di Kish selama beberapa tahun. Siapa yang bisa menjamin Jieun akan melindungi sang putri dan bukannya mengikuti perintah raja barunya? Jieun bahkan tidak tahu Sooyeon adalah putri kerajaan Traevan karena Sooyeon sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian rakyat biasa yang dibawa oleh Yongguk saat membersihkan dirinya di sungai tadi.

“Aku benar-benar tidak bisa menjelaskannya sekarang tapi berjanjilah untuk melindungi mereka,” tekan Yongguk.

Jieun tersenyum. “Tentu saja.”

 

+

 

Sooyeon kembali mengguyur air dari atas kepalanya. Dia tidak bisa tidur sama sekali. Setelah Yongguk pergi, Sooyeon menghabiskan waktunya memperhatikan kedua prajurit yang tertidur pulas sementara Jieun kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur. Saat pintu kamar terbuka, Sooyeon melihat anak kecil terbangun dan merengek kepada Jieun. Dia tersenyum pahit melihatnya, memikirkan bagaimana perasaan Yongguk melihat kehidupan Jieun sekarang.

Banyak hal yang ia pikirkan sambil menunggu pagi datang. Memikirkan bagaimana hidupnya jika kejadian semalam tidak terjadi dan bagaimana kehidupannya sekarang. Terutama memikirkan bagaimana pedangnya menusuk ketua tim alpha Aria dan tubuhnya kembali bergemetar hebat.

Jenderal Jang Woohyuk, Yunho, Yongguk, Seunghoon dan beberapa prajurit yang mengajarinya bermain pedang tidak pernah memberitahunya bagaimana jika pedang itu asli dan menembus kulit lawan cukup lebar agar darah dengan cepat keluar meninggalkan tubuhnya, membunuhnya. Mereka hanya mengajarkan bagaimana caranya memegang pedang yang benar dan menghindari serangan lawan.

Inikah alasan banyaknya prajurit yang kabur saat akan dikirim ke medan perang?

Inikah alasan banyaknya prajurit yang membutuhkan perawatan mental setelah kembali dari perang?

Sooyeon tidak tahu. Dia tidak bisa mencari jawaban. Pikirannya seakan tidak berfungsi. Tubuhnya seperti mati rasa. Hatinya penuh dengan rasa bersalah karena telah merenggut nyawa seseorang.

Tapi dia pantas dibunuh. Dia sudah membunuh orang-orang di sekitarku. Dia membunuh Jongup. Dia juga akan membunuh Seunghoon dan Yongguk jika aku tidak membunuhnya, Sooyeon mencoba menenangkan dirinya.

Saat Yifan mengerang pelan dan membuka matanya, dia melihat Sooyeon tertidur dengan posisi duduk di samping Seunghoon, kepala menunduk ke depan, tangan memeluk kedua lututnya. Setelah menunggu beberapa saat untuk mengumpulkan tenaganya, dia bangkit dari tidurnya dan mengangkat Sooyeon untuk dipindahkan ke tempat tidurnya.

 

+

 

Tubuh Sooyeon menggemetar hebat melihat sosok di depannya. Andy Lau dengan darah segar mengalir dari perutnya. Dia berusaha berlari secepat mungkin tapi Andy terus mengejarnya.

Bruk!

Tubuh Sooyeon jatuh cukup keras setelah kakinya tersandung akar pohon. Kini ketua tim alpha Aria itu sudah berdiri di depannya dengan seringaian lebar, tangannya menggenggam pedang, siap membunuh Sooyeon kapan saja.

Sooyeon berteriak meminta tolong tapi tidak ada siapapun di sekitarnya. Gelap gulita. Hanya ada dirinya dan Andy. Ketika Sooyeon berteriak sekali lagi, kini suara tidak bisa keluar dari mulutnya, tiba-tiba tubuhnya penuh dari darah. Darah dari tubuh Jongup tanpa kepala.

“AAAAAAAAAA!”

Seunghoon berlari tergesa-gesa menghampiri sang putri yang terbangun dengan tubuh penuh keringat dingin. Digenggam tangan Sooyeon dengan erat, tangan kirinya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Sooyeon. Yifan hanya melihat dari sudut ruangan tanpa kata sedangkan Jieun segera keluar dari rumah untuk menjelaskan kepada para tetangganya tentang teriakan yang berasal dari rumahnya.

“Tidak apa-apa, Sooyeon. Aku di sini. Kita baik-baik,” kata Seunghoon sambil mengelus punggung temannya.

Sooyeon hanya diam. Air matanya tidak berhenti mengalir. Tubuhnya masih bergemetar. Ketika segelas air berada di depan wajahnya, dia langsung mengambilnya dan meneguk airnya sampai habis. Kepalanya mendongak untuk melihat pemilik tangan. Wu Yifan, prajurit Aria, dia sudah hapal dengan nama itu.

“Terima kasih,” gumam Sooyeon pelan.

“Hanya menjalankan tugas, Putri Sooyeon,” balas Yifan, membungkuk rendah dan matanya tertuju pada kakinya.

Yifan tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak terbiasa berhadapan dengan keluarga kerajaan. Selalu ada orang yang akan bertemu dengan para pemimpin negara selain dirinya karena dirinya selalu dicap sebagai anak kecil yang tidak seharusnya ikut campur dalam masalah orang dewasa mengingat dia adalah salah satu prajurit muda walaupun dia memiliki rentetan penghargaan.

Merasakan mata Seunghoon tertuju padanya, Yifan membungkukkan badannya lagi dan kembali ke tempatnya sebelumnya, di meja makan. Jieun sedang menyiapkan obat untuk luka dan kedua prajurit menikmati makanan mereka saat Sooyeon terbangun dari tidurnya sambil berteriak.

 

+

 

Sooyeon memohon agar dia bisa keluar dari rumah walaupun hanya sebentar. Setelah hampir sejam Sooyeon tidak berhenti merengek kepada Seunghoon, akhirnya teman kecilnya itu menyerah. Jieun meminjamkan sepasang pakaiannya untuk Sooyeon dan dua pasang pakaian untuk Seunghoon dan Yifan dan menyuruh mereka untuk membersihkan diri di sungai saat matahari mulai terbenam sehingga tidak ada yang melihat mereka. Setelah itu barulah mereka boleh pergi ke tempat mana pun Sooyeon inginkan.

Yifan yang terlebih dahulu mandi sedangkan Seunghoon mengawasi Sooyeon mandi di sisi sungai yang lain dan bergantian setelah Sooyeon selesai. Tidak mungkin dia meninggalkan Sooyeon dengan orang asing di tempat sepi dan dengan pakaian minim. Seunghoon hanya diam bersandar pada pohon besar. Dia sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Bersembunyi dan selalu waspada dengan sekitar. Kehidupan di medan perang bukanlah kenangan yang baik tapi setidaknya telah mengajarkannya bagaimana cara menjadi prajurit yang baik.

“Hei, Seunghoon.”

Seunghoon hampir loncat dari duduknya saat menyadari Sooyeon sudah selesai dan kini duduk di sampingnya. Ada sedikit rasa marah dan kecewa karena dia kehilangan fokus dan malah melamun di saat seperti ini tapi melihat Sooyeon tidak mempermasalahkan hal ini, dia tidak terlalu memikirkannya.

“Hm?” balas Seunghoon. Dia terlalu nyaman dengan keheningan di sekitar mereka dan membuatnya malas untuk berbicara lebih banyak.

Sooyeon menghela napas panjang. “Kurasa aku merasa jauh lebih hormat padamu setelah kejadian kemarin.”

Seunghoon menoleh bingung tapi Sooyeon tidak mengatakan apapun sama sekali setelah itu, hanya diam sambil memperhatikan luka-luka yang nampak jelas di wajah dan beberapa bagian tubuhnya yang tidak tertutupi pakaian. Tiba-tiba dia teringat Yifan. Bahkan Sooyeon sudah selesai, bagaimana mungkin yifan masih—

“Berapa lama lagi aku harus menunggu?” tanya Yifan yang berdiri beberapa meter di depan mereka.

“Sejak kapan dia di sana?” tanya Seunghoon bingung, berbisik pada Sooyeon.

Gadis itu memutar matanya. “Jauh sebelum aku selesai mandi. Ayolah, aku berharap banyak dari pahlawan negara. Bagaimana kau bisa tidak sadar dengan keberadaan Yifan?”

Seunghoon tertawa pelan seraya bangkit dari duduknya. Dia terdiam sebentar, hanyut dalam pikirannya lagi, lalu mengacak rambut teman dari masa kecilnya itu sebelum bergegas mandi. Dari ujung mata, Yifan kini menghampiri Sooyeon dan duduk di tempatnya tadi.

“Hei,” sapa Sooyeon, tidak berharap banyak untuk dibalas tapi setidaknya dia berusaha agar tidak terlalu kaku dengan Yifan. Bagaimanapun juga Yifan turut andil dalam menyelamatkannya semalam.

Yifan tertegun sejenak. “Oh… ada yang saya bantu, Putri?”

“Kau tahu kau hanya akan membahayakan keberadaan kita jika kau memanggilku seperti itu,” komentar Sooyeon dengan senyum main-main.

Kening Yifan mengerut, dia mengangguk dengan wajah serius. “Tolong maafkan—“

“Sooyeon.”

“Ya?”

“Panggil saja Sooyeon. Selama kita di sini dan belum sampai di Aria, kau harus memanggilku Sooyeon dan memperlakukanku sebagai teman bukan seseorang yang kaukawal. Aku juga akan memanggil namamu. Yifan, ‘kan? Wu Yifan tapi aku akan memanggilmu Yifan karena kita harus menjadi teman.”

“Ah—akan kucoba.”

Sooyeon mengangguk pelan. “Baiklah, panggil namaku.”

“Soo..yeon.”

“Kau harus mengatakannya dengan yakin.”

“Sooyeon.”

Sooyeon hanya tersenyum tipis dan memperhatikan langit yang mulai gelap sedangkan Yifan terdiam di sampingnya. Tiba-tiba pikirannya kembali pada kejadian semalam. Dia memejamkan matanya, mencoba menenangkan diri tapi dia malah disambut dengan gambaran lebih jelas ketika matanya tertuju. Dengan buru-buru dia membuka matanya. Wajah khawatir Yifan yang pertama kali ia lihat.

“Pernah membunuh seseorang?”

Pertanyaan Sooyeon terlontar begitu saja tanpa ia sadari. Bodoh, Sooyeon meruntuki dirinya sendiri setelah menyadarinya. Dengan pangkat Yifan sekarang, tentu ada ribuan orang yang telah menjadi korban pedangnya. Tidak hanya dirinya sendiri yang berpikir itu adalah pertanyaan bodoh tapi Yifan juga berpikir demikian. Sooyeon bisa membacanya dengan jelas dari wajah prajurit Aria itu.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Sooyeon lagi. Dia sudah terlanjur menanyakannya. Akan lebih baik jika dia melanjutnya.

“Perasaan…?”

“Setelah membunuh.”

Yifan cukup terkejut mendengarnya. Sudah lama sekali dia lupa bagaimana rasanya saat pertama kali membunuh seseorang, melihat keputusasaan di wajah lawannya. Cukup lama dia mencoba mengingat kembali bagaimana perasaannya itu. Kini dia ingat betapa mengerikannya perasaan itu. Bagaimana mimpi-mimpinya dipenuhi dengan orang-orang yang telah ia bunuh meminta belas kasihan kepadanya.  Bagaimana dia merasa takut dengan pedangnya sendiri. Setelah dia terus-menerus berada di medan perang, membunuh satu persatu prajurit Traevan, luka demi luka yang ia torehkan dan ia dapatkan, dia mulai mati rasa dan akhirnya tidak peduli dengan para korbannya.

Yifan menelan ludah dengan susah payah. Mulutnya terasa pahit seketika. Lidahnya kelu, tidak tahu harus menjawab apa.

“Apa pernah sekali, setidaknya sekali saja, kau merasa bersalah?” tanya Sooyeon lagi.

Sekali? Lebih tepatnya berbulan-bulan, sergah Yifan dalam hati.

“Atau kau tidak pernah memikirkannya?”

Sooyeon mulai lepas kontrol karena Yifan tak juga menjawab. Segala mimpi buruk yang membuatnya takut untuk tidur mulai membunuhnya perlahan. Aksi diam Yifan tidak membantunya sama sekali, malah membuatnya semakin emosi. Rasanya ia ingin berteriak ke Yifan, Seunghoon, Jieun, ke siapa saja agar setidaknya seseorang dapat membantunya. Namun di saat yang bersamaan dia juga takut untuk meluapkan perasaannya kepada seseorang.

“Apa pertanyaanku sulit untuk dijawab?” tanya Sooyeon, mulai kesal.

“Pertanyaan apa?”

Sooyeon menoleh kaget. Seunghoon berjalan menghampiri mereka dengan pakaian yang ia pakai sebelumnya terlipat rapi di tangan kirinya. Sooyeon segera berdiri, membersihkan tanah dari pakaiannya, dan berjalan terburu-buru kembali ke rumah Jieun. Kebingungan Seunghoon dibiarkan berlalu begitu saja karena Yifan juga tidak terlihat ingin menjelaskan apa yang mereka bicarakan selama ia mandi.

Pada akhirnya, mereka menghabiskan malam di rumah setelah mandi.

 

+

 

Sooyeon tidak bisa tidur sama sekali tapi dia berpura-pura tidur agar Seunghoon tidak khawatir. Walaupun lingkaran hitam di matanya cukup memberitahukan Seunghoon kenyataan yang terjadi tapi pria itu tidak mengatakan apapun.

Di hari kedua, Sooyeon mendapatkan nama dari anak balita tersebut. Aerin. Nama yang bagus, terdengar seperti nama-nama bangsa Kish tapi jelas tertulis seperti nama-nama bayi Traevan. Berusia 4 tahun, jelas Jieun hamil tak lama setelah dia menikah. Anak balita yang manis, banyak tawa yang membuat hati Sooyeon sedikit lebih tenang.

“Aerin membuatku ingin segera mempunyai anak,” gumam Sooyeon dengan Aerin di pangkuannya memainkan kancing pakaiannya. Dia tidak terlalu akrab dengan anak kecil tapi dia berhasil membuat Aerin tertawa, tangan tidak bisa berhenti memeluk anak balita itu.

Seunghoon yang sedang meneguk airnya langsung tersedak. Jieun tertawa sambil menepuk punggung Seunghoon sedangkan Yifan tetap diam menghabiskan sarapannya.

“Semoga kau bisa segera menikah, Sooyeon,” timpal Jieun.

Sooyeon memainkan alis, menggoda Seunghoon. “Ya, aku juga berharap begitu. Semoga Seunghoon yang akan menjadi suamiku.”

Seunghoon berpura-pura muntah. “Kau? Sooyeon? Yang benar saja?”

“Hei, hei. Harusnya kau bersyukur seorang wanita yang cantik jelita sepertiku berharap menikah dengan pria biasa sepertimu!”

“Ya, tentu saja, terima kasih sudah memilihku,” jawab Seunghoon setengah hati, mengambil satu jeruk dari mangkuk buah dan mengupasnya.

“Jika Seunghoon tidak mau, mungkin Yifan bersedia menggantikannya,” sahut Jieun.

Kini Yifan yang dibuat tersedak. Tawa tiga orang dewasa lainnya pun pecah. Mendengar orang-orang di sekitarnya tertawa, Aerin ikut tertawa, membuat Sooyeon tidak tahan untuk tidak memeluk dan menciumnya.

“Kau juga tidak mau menikah denganku, Yifan? Ini adalah penghinaan!” seru Sooyeon dengan nada kesal yang main-main.

“B-bukan begitu, Putri—maksudku, Sooyeon. Aku—“

“Jadi kau mau menikah denganku dan menjadi ayah dari anak-anakku?” sergah Sooyeon cepat. “Aku cantik. Kau lebih tampan dari Seunghoon.” Seunghoon membuat suara protes tapi Sooyeon mengabaikannya. “Wah! Aku yakin anak-anak kita pasti menjadi incaran ribuan orang!”

Yifan terbatuk mendengarnya. Candaan ini tidak berarti apapun tapi mengingat sejarah di antara negara mereka membuat topik ini menjadi sangat aneh dan, jujur saja, menggelikan. Tentu saja, dia tidak bisa menyuarakan pikirannya tanpa menghancurkan suasana nyaman yang tercipta di antara mereka pagi itu.

“Aku hanya becanda. Jangan bersikap seserius itu,” kata Sooyeon, tersenyum tipis, seakan dapat membaca pikirannya.

“Maaf—“

“Baiklah, rencana apa yang kita punya hari ini?” tanya Sooyeon kepada Seunghoon.

Seunghoon mengangkat bahunya. “Aku tidak punya rencana apapun untukmu tapi aku punya rencanaku sendiri.”

Sooyeon mengerucutkan bibirnya. “Rencana apa?”

“Dengan seorang wanita.”

Mulut Sooyeon terbuka lebar mendengarnya. Baru sekitar 27 jam mereka menginjakkan kaki di negara ini dan Seunghoon sudah menemukan incaran baru? Di keadaan yang genting seperti ini? Dia ingin mengomel panjang lebar tapi dengan kesibukan Seunghoon selama perang, tidak adil rasanya dia harus menahannya setelah sekian lama Seunghoon tidak bisa menikmati hari dengan seorang wanita seperti sebagai mana semestinya.

“Bagaimana bisa?”

Sooyeon memutuskan untuk tidak mengomelinya tapi dia harus tetap tahu segalanya! Dari A sampai Z tentang perempuan yang menarik perhatian Seunghoon ini.

“Aku bertemu dengannya kemarin sore.” Seunghoon pergi berkeliling tanpa pamit kemarin sore dan Sooyeon hampir mengomeli Yifan tanpa alasan hanya untuk meluapkan kekesalannya karena ditinggalkan begitu saja. “Kita berkenalan dan berjanji untuk bertemu lagi hari ini.”

“Semudah itu?” kaget Jieun.

Seunghoon menggeleng pelan dengan senyuman malu. “Anugerah memiliki wajah tampan sepertiku—aw!” Seunghoon meringis karena Sooyeon menepuk kepalanya cukup keras dan Aerin tertawa girang melihatnya. “Ayolah, apa kalian tidak pernah mendengar ‘cinta pada pandangan pertama’? Sepertinya itu terjadi padaku,” lanjut Seunghoon, terbatuk pelan sebelum menambahkan, “…dan dia.”

“Tidak bisa dipercaya,” gumam Sooyeon, diiyakan oleh Jieun sedangkan Yifan tetap fokus pada makanannya.

“Mengapa tidak? Cinta tidak bisa ditebak,” gerutu Seunghoon.

Sooyeon mendengus pelan. “Tidak pernah kubayangkan semua ini bisa membuatmu menjadi pujangga cinta.”

Seunghoon hanya tertawa pelan mendengarnya sambi melahap jeruk di tangannya. Tidak aneh jika Sooyeon tidak percaya karena memang itu tidak benar. Dia memang ada rencana bertemu dengan wanita yang ia temui kemarin tapi tentu bukan untuk alasan itu. Untuk sementara, dia terpaksa mempercayai Yifan untuk menjaga Sooyeon selama dia mempersiapkan rencana cadangan jika rencana Yongguk gagal. Kebencian masih terlihat jelas di wajah prajurit Aria itu tapi dia cukup yakin Yifan tidak akan membahayakan Sooyeon.

 

+

 

Sooyeon memandang langit yang dihiasi warna merah dan oranye, tanda matahari akan terbenam sebentar lagi. Waktu untuk mandi di hari kedua. Dia sedikit bersyukur saat itu adalah musim panas jadi dia tidak akan berendam di air dingin. Seunghoon belum juga kembali dan hanya Yifan yang pergi bersamanya ke sungai.

Hampir 6 jam bersama dengan Yifan tanpa orang lain. Seunghoon langsung menghilang setelah selesai membantu Jieun merapikan rumah. Sang empunya rumah bersama anaknya pergi ke balai kota untuk suatu urusan. Alhasil hanya ada Yifan dan Sooyeon di rumah. Yang mereka lakukan hanyalah duduk bersebelahan dalam keheningan. Mereka bertukar kata hanya saat perut Sooyeon berbunyi karena sudah waktunya makan siang tapi Jieun belum juga pulang. Memalukan. Terlebih Jieun memang sudah memberitahu mereka bahwa dia akan pulang malam, makan dan pakaian ganti sudah disiapkan. Tapi Sooyeon terlalu malu untuk membuka tudung makanan. Akhirnya Yifan yang mengambilkannya makanan dan dan membersihkan bekasnya karena Sooyeon tidak tahu bagaimana melakukannya. Selalu ada orang yang melakukannya di istana.

Sooyeon meminta Yifan untuk tetap duduk di pinggir sungai setelah mandi. Dihirupnya udara segar setelah seharian mendekam di dalam rumah. Sooyeon sudah terbiasa terjebak di dalam istana. Bahkan setelah perang selesai, kini dia harus diam di dalam rumah Jieun. Saat-saat dimana dia bisa menikmati udara segar di alam bebas seperti bagaikan mimpi.

“Yifan,” panggilnya, hampir berbisik.

Yifan menoleh tanpa suara.

“Apa kau membenciku setelah aku membunuhnya?”

Yifan tahu siapa yang dimaksud. Andy Lau. Ketua timnya. Sooyeon terlihat seperti seseorang yang baru pertama kalinya membunuh. Terlihat seperti dirinya saat pertama kali berdiri di medan perang. Dia mengangkat bahunya. “Sudah hal biasa bangsa Traevan membunuh orang-orangku.”

Kening Sooyeon mengerut bingung. “Apa maksudmu?”

“Yah, kau tahu,” Yifan menghela napas panjang. “Aku sudah sering melihat bagaimana teman-temanku dibunuh oleh Traevan. Lagipula Andy terbukti berkhianat. Jika bukan kau yang membunuhnya, aku dan pedangku yang akan melakukannya.”

Keadaan kembali hening di antara mereka. Keheningan yang tidak nyaman tepatnya. Yifan bisa merasakan tatapan dari sang putri. Untuk beberapa menit dia berusaha menghiraukannya tapi Sooyeon tak juga menyerah.

“Ada yang ingin kau bicarakan, Putri?” tanya Yifan, berusaha sesopan mungkin.

“Banyak bangsa Traevan yang dibunuh oleh Aria. Mereka adalah seorang teman, ayah, kakak, dan anak yang tidak bersalah tapi terpaksa dikirim karena perang yang penyebabnya tidak jelas. Mengapa hanya menyalahkan Traevan? Kau pikir Aria tidak bersalah sama sekali? Tidak membunuh siapapun sama sekali? Mengapa kau membuatnya seakan prajurit Traevan membabi buta, menyerang semua hal yang bergerak? Itu adalah perang! Semuanya adil dalam perang! Kau tidak bisa berharap perang terjadi dimana semua orang berpelukan bukannya saling membunuh!”

Yifan cukup terkejut mendengar luapan emosi Sooyeon. Dia tidak menyangka sang putri akan mengatakan semua itu. Dan jujur saja, Sooyeon pun tidak. Dia masih ingat sebesar apa rasa bencinya terhadap Aria sebelum dia pergi meninggalkan negaranya. Tapi malam dimana mereka menginap di Aeolish dan Seunghoon berada di kamarnya sepanjang malam menceritakan semua yang ia alami di medan perang, dia pun mengerti. Tidak seorangpun ingin perang dan membunuh satu sama lain. Mereka semua terjebak dalam kondisi dan situasi yang mengharuskan mereka melakukan semua itu. Terlebih setelah dia sendiri menghunuskan pedang ke tubuh Andy, dia semakin mengerti bahwa tidak ada seorangpun yang menyukai bagaimana rasanya membunuh seseorang.

“Aku juga mendengar tentang Jenderal yang dibunuh oleh Seunghoon. Kau adalah muridnya, bukan?” tanya Sooyeon pelan, matanya menatap aliran air. “Seunghoon pun kehilangan guru yang sangat ia sayangi, ayahnya sendiri, di tangan Aria. Aria juga membunuh sahabatnya, Pangeran Yunho, kakakku. Tapi saat aku mengatakan padanya betapa aku membenci Aria, dia tersenyum. Tidak ada dendam di matanya karena dia mengerti.” Sooyeon kembali menoleh ke Yifan. “Kurasa aku tidak bisa mengharapkan hal yang sama darimu. Aku mengerti. Kalian berbeda.”

Yifan tidak membalas. Hanya diam, hanyut dalam pikirannya sendiri.

 

“Seunghoon, aku tidak bisa tidur. Memikirkan hidupku akan jatuh ke tangan musuh dalam beberapa hari ke depan, aku takut. Aku ingin kembali ke Traevan,” gumam Sooyeon lirih.

Seunghoon tersenyum tipis. Dia duduk di samping kepala Sooyeon. Tangannya mengelus kepala sang putri lembut.

“Aku tidak pernah membayangkan hal ini terjadi. Menikah dengan pangeran Aria, aku ingin mati saja. Aku benar-benar membenci mereka!” kesal Sooyeon.

Seunghoon tidak membalas. Dia hanya diam mendengar curahan hati temannya.

“Apa kau bisa membayangkan bagaimana perasaan Yunho saat mengetahui adiknya harus menikah dengan orang yang sudah membunuhnya? Benar-benar tidak adil! Aku tidak ingin menikah dan menjadi ratu dari orang-orang yang sudah membunuh teman dan keluargaku, Seunghoon! Aku tidak mau!”

“Hei, Sooyeon,” gumam Seunghoon pelan. “Apa kau tahu bagaimana rasanya menjalani hidup di medan perang?”

Kini Sooyeon lah yang diam mendengarkan Seunghoon karena dia tidak tahu, dia tidak mempunyai jawabannya.

“Kehidupan di medan perang itu mengerikan. Kau harus membunuh jika tidak ingin dibunuh. Kau harus menang, berenang dalam lautan darah jika tak ingin negaramu kalah dan dijajah. Kau harus bertingkah seperti singa yang berusaha menjaga wilayahmu. Bukan perasaan yang menyenangkan tapi itu lah yang dirasakan oleh semua orang. Oleh Traevan maupun Aria. Membunuh tidaklah mudah, Sooyeon. Terkadang aku berpikir, mana yang lebih sakit? Dibunuh dan hidupmu selesai atau membunuh dan hidupmu berlanjut dengan dibanjiri rasa bersalah? Tidak ada orang normal yang merasa senang setelah membunuh. Itu adalah hal yang harus kita lakukan bukan hal yang kita ingin lakukan. Jangan salahkan orang-orangnya, salahkan sistem.”

Seunghoon adalah tipe orang yang selalu tertawa dan mengatakan hal yang bodoh. Dia bahkan mendapatkan penghargaan sebagai orang terbodoh saat sekolah dulu, Sooyeon tidak akan tahu jika pria itu tidak datang dengan senyum bangga untuk memperlihatkan penghargaan dan mereka menghabiskan waktu hampir sejam untuk tertawa karenanya. Mendengar temannya mengatakan hal yang bijak membuat Sooyeon tersenyum tipis. Seunghoon sudah dewasa dan dia juga harus menjadi dewasa.

Berusaha melupakan kebencian terhadap Aria mungkin bisa menjadi langkah pertama yang bagus.

 

+

 

Hari ketiga.

Sooyeon menghitungnya dalam hati. Jika Yongguk memenuhi janjinya, seharusnya hari ini dia bisa melihat hasilnya. Hari ini seharusnya menjadi hari terakhir dimana dia menghabiskan waktu seharian di dalam rumah dan baru bisa menyelinap keluar saat matahari terbenam.

Siang hari saat matahari hampir tepat berada di atas kepala, Jieun masuk ke dalam rumah dengan sepucuk surat di tangan. Dia memberikannya kepada Sooyeon yang sedang beradu mata dengan Aerin. Aerin bersorak penuh kemenangan melihat Sooyeon mengedipkan mata karena surat di depan wajahnya dan Sooyeon protes tidak terima. Jieun tertawa melihat kelakukan mereka.

“Apa ini siasatmu untuk membantu Aerin menang?” tuding Sooyeon sambil menunjuk Jieun dengan surat di tangannya.

Jieun menggeleng pelan. “Yongguk yang membuatmu kalah. Bukan aku.”

Mendengar nama Yongguk, mata Sooyeon langsung berbinar. Dia segera membuka pita surat dan membuka gulungan itu. Sudah 3 hari dia menghabiskan waktu seperti buronan (memang buronan tapi dia tidak akan mengakuinya) dan dia bersumpah akan kembali ke Traevan detik ini juga untuk mencekik Yongguk jika tetap tidak ada perubahan. Dia tahu hal itu mustahil untuk saat ini tapi dia bisa menghibur dirinya dengan mencekik Yongguk dalam khayalan.

Helaan napas panjang yang ia keluarkan setelah membaca surat itu. Tidak banyak yang bisa pihak kerajaan lakukan. Mereka berusaha mengulur waktu dengan memberitahu kerajaan Kish dan Ertonia bahwa Sooyeon sudah sampai di Aria dengan selamat agar kedua kerajaan itu berhenti mencari keberadaan sang putri untuk sementara waktu. Berita baiknya, Sooyeon sudah bisa berkeliling desa di siang hari. Berita buruknya, Sooyeon tidak tahu berapa lama lagi dia harus tinggal di sini.

“Selamat…?” kata Jieun, melihat Sooyeon kembali menggulung suratnya.

Sooyeon menatap Jieun bingung. “Uh?”

“Aku sudah dengar dari kepala desa. Kish sudah menarik prajurit mereka kembali ke kerajaan. Tidak ada yang tahu mengapa mereka akhir-akhir ini berkeliling di desa tapi sepertinya aku mengerti sekarang.”

“Mengerti apa?”

Jieun tersenyum tipis. “Mereka datang ke sini untuk mencari tuan putri Traevan, putri Sooyeon. Sekarang mereka sudah ditarik kembali berarti kalian sudah aman.”

“Bagaimana kau tahu?!” kaget Sooyeon. Yifan pun berdiri di dekat mereka untuk berjaga-jaga.

“Tenanglah. Duduk di sampingku, Yifan,” kata Jieun tapi Yifan tetap berada di posisinya. Jieun hanya tersenyum melihatnya. “Tidak sulit untuk tahu kau adalah putri Sooyeon. Yifan dan Seunghoon adalah pengawalmu. Aku berasal dari Traevan, ingat? Nama keluarga kerajaan adalah rahasia umum bagi rakyat Traevan. Kita juga pernah sekelas sebelum kerajaan menarikmu dan melarang keluarga kerajaan keluar dari istana. Dan Yongguk, dia terpilih menjadi calon raja. Kini hidupnya hanya tentang kerajaan, terutama putri Sooyeon yang hampir menjadi istrinya. Ditambah ada banyak rumor tentang putri Traevan yang tersesat di negara Kish. Dengan fakta sebanyak ini, tidak mungkin aku tidak tahu.”

Sooyeon hanya mengerjap, berusaha memproses semua perkataan Jieun dalam otaknya.

“Oh ya, kau tidak bisa melakukan pekerjaan dasar seperti mencuci pakaian,” tambah Jieun dengan tatapan main-main.

Sooyeon berani bersumpah dia mendengar tawa Yifan tapi dia bersikap seakan tidak mendengarnya sama sekali. Masih ada sedikit rasa kesal terhadap Yifan karena kejadian kemarin.

“Tapi kau memperlakukanku seperti orang biasa!”

“Karena aku tahu kau ingin aku memperlakukanmu seperti itu.”

Sooyeon kembali mengerjap kaget. Dia tidak pernah menyadarinya tapi kini dia sadar, ya Jieun benar, dia merasa bersyukur diperlakukan seperti orang biasa. Rasanya menyenangkan bisa hidup seperti orang lain tanpa memperdulikan statusnya.

“Apa kata Yongguk?” tanya Jieun setelah beberapa detik kemudian.

Sooyeon mengerucutkan bibirnya. “Aku diminta untuk tetap di sini. Jika sesuatu terjadi, Seunghoon yang akan memutuskan rencana selanjutnya.”

“Bagus!” Jieun bertepuk tangan semangat. “Akan ada festival di tengah desa. Kau bisa berkeliling jika kau mau. Kurasa Yifan tidak akan keberatan menemanimu.”

Sooyeon melirik Yifan sebentar lalu mencibir dalam hati melihat wajah Yifan tidak memberikan banyak reaksi. Tapi daripada tetap berada di rumah dan bermain dengan Aerin, akan lebih baik dia menghabiskan waktu di luar.

Jieun sengaja meminjamkan pakaian terbaiknya untuk Sooyeon dan Yifan. Tak lupa dia memastikan Sooyeon memeluk tangan Yifan sebelum mereka dibolehkan pergi dari rumah. Aerin merengek untuk ikut bersama mereka tapi Jieun memberikannya 1001 alasan mengapa diam di rumah bersama ibunya jauh lebih menyenangkan. Sooyeon hanya mencibir pelan mendengarnya.

Setelah berjalan cukup jauh dari rumah Jieun, Sooyeon melepaskan pelukannya dan memberi jarak di antara mereka sekitar setengah meter. Di saat seperti ini, dia tidak bisa berhenti berpikir dimana Seunghoon sekarang. Selalu saja dengan wanita itu. Bagaimana Yongguk yakin Seunghoon bisa mengatur rencana jika sesuatu terjadi saat yang pria itu lakukan hanyalah mengejar wanita yang baru ia temui 2 hari yang lalu. 2 hari! Dasar pengkhianat, membuat yang lama setelah mendapatkan yang baru. Huh!

“Sooyeon.”

Sooyeon menoleh kaget. Dia tidak menyangka Yifan akan memanggil namanya. 2 hari ini, Yifan selalu berusaha untuk tidak memanggil namanya. Kalaupun dia harus memanggil Sooyeon, dia selalu memanggilnya Putri sebelum dikoreksi menjadi Sooyeon. Gadis itu pun curiga, jangan-jangan Yifan adalah alasan utama Jieun berhasil tahu dia adalah putri Traevan.

“Hei, Sooyeon,” panggil Yifan sekali lagi karena Sooyeon menjawabnya.

Sooyeon menjilat bibirnya, mata kembali tertuju pada jalan di depan. “Uh—ya?”

Yifan tidak langsung menjawab. Mulutnya terbuka hanya untuk ditutup kembali. Setelah Sooyeon menatapnya lagi, pria itu barulah berani membuka mulut walaupun ragu.

“Maaf.”

“Maaf?”

“Ya. Dan… kau benar.”

Sooyeon mengerjap bingung. Sebenarnya dia tahu apa yang dimaksud pria itu tapi dia ingin menggoda Yifan dengan pura-pura tidak tahu. “Sebenarnya apa yang kita bahas?”

“Kemarin. Tentang perang. Segalanya.” Yifan menjilat bibirnya. “Maaf, aku hanya memikirkan diriku sendiri.”

Sooyeon mengangguk pelan. “Hanya itu?”

“Memang ada apa lagi?”

“Kau tahu, 2 hari ini kau menyakiti hatiku dengan perilakumu. Kita seharusnya menjadi teman di saat sulit seperti ini tapi kau selalu memperlakukanku seperti seorang musuh. Baiklah, kita memang musuh sebelumnya tapi sekarang negara kita sudah berbaikan. Aku akan menjadi ratumu. Apa kau memperlakukan ratumu seperti ini?!”

Yifan menggaruk kepala. “Maaf? Aku tidak terbiasa berhadapan dengan keluarga kerajaan tapi aku akan berusaha sesopan mungkin.”

“Aku tidak ingin kau sopan padaku,” sergah Sooyeon.

“Jadi?”

“Teman?”

Kaki Sooyeon berhenti lalu menghadap Yifan. Prajurit Aria itu mengikuti Sooyeon. Melihat tangan sang putri terangkat di depannya, Yifan menjabatnya erat. Bibirnya ikut tersenyum melihat Sooyeon tersenyum lebar.

 

+

 

Pertama kali yang Sooyeon lakukan setelah mereka resmi berteman adalah mencurahkan segala yang ada di pikirannya kepada Yifan. Dia belum mempercayai Yifan seutuhnya. Bagaimana bisa mempercayainya jika mereka baru saja mengubah status dari musuh menjadi teman? Tapi kekesalannya karena ditinggal Seunghoon tak bisa dipendam lagi.

“Kau tahu, aku tidak menyangka Seunghoon meninggalkanku untuk perempuan lain! Aku tahu dia hanya manusia biasa, dia butuh bubuk percintaan di hidupnya. Tapi bukankah statusnya sedang bekerja, mengawalku untuk sampai di Aria dengan selamat? Berani-beraninya perhatiannya teralihkan ke perempuan lain!” gerutu Sooyeon.

Yifan yang tidak tahu harus menjawab apa hanya mengangguk-angguk seperti robot rusak.

“Baiklah, aku cemburu. Dia bisa bertemu dengan sosok pujaannya sedangkan aku di sini sibuk meratapi hidupku. Aku juga mau jatuh cinta sepertinya. Rasanya sudah lama sekali sejak aku pertama kali jatuh cinta. Aku cemburu, Yifan.”

Yifan masih mengangguk karena dia takut akan mengatakan sesuatu yang salah jika dia membuka mulutnya.

“Ngomong-ngomong soal cinta pertama, aku pernah menyukai teman kakakku tapi aku tidak tahu dia berada dimana sekarang. Dia sangat tampan! Aku berharap bisa bertemu dengannya sekali lagi hanya untuk menyegarkan mataku. Bukan berarti kau tidak tampan tapi, yaaaaaah, dia terlalu tampan. Apa kau mengerti?”

Yifan tersenyum kecut. “Ya, aku mengerti.” Lalu menambahkannya dengan sangat pelan, “mungkin.”

Kemudian Sooyeon membicarakan banyak hal lainnya, dari percintaan sampai masalah-masalah kecil yang ia alami di Traevan, sedangkan Yifan sibuk mengangguk, matanya tertuju pada aliran air. Mereka memutuskan untuk pergi ke atas air terjun daripada melihat kesibukan desa dalam mempersiapkan festival.

“Aku terlalu banyak berbicara, ya?” tanya Sooyeon, tersenyum setengah meringis.

Yifan tertawa pelan. “Ya, sangat. Tapi aku menyukainya. Mengingatkanku dengan seseorang.”

“Siapa?” Sooyeon tersenyum jahil. “Pacarmu?”

Yifan terdiam. Dia sedikit tidak nyaman membicarakan hal ini. Apa, lebih tepatnya siapa, yang dia maksud adalah topik yang cukup sensitif. Namun karena Sooyeon menceritakan banyak hal kepadanya hari ini, rasanya tidak adil jika dia tidak memberikannya sebuah cerita juga.

“Aku tidak membenci semua bangsa Traevan, bahkan sebelum perdamaian dilakukan,” gumam Yifan pelan, masih sedikit tidak yakin. “Aku menyayangi seseorang berdarah Traevan.”

Melihat wajah Yifan, Sooyeon pun tahu topik ini cukup sensitif. “Jika aku boleh tahu siapa?”

Yifan menatap Sooyeon sejenak lalu menatap langit biru di atas mereka. Dengan suara cukup lirih, dia menjawab, “Adikku.”

 

+

HELLO DIRIKU KEMBALI. Hadeh lagi banjir tugas nih jadi tiap buka laptop kepikirannya buat ngerjain tugas bukan buat posting ff 😦

Btw harusnya ceritanya tinggal 2 chapter + 1 epilog lagi tapi berhubung ada beberapa yang bilang chapter 1 kepanjangan, jadi chapter ini aku potong biar ga kepanjangan lagi. Jadi mungkin masih ada 3-4 chapter + 1 epilog lagi ~

Dan banyak banget yang nanya kenapa kris ga jadi pangerannya. Well the prince is kinda useless here so its okay if you want kris to be the prince but you wont see him often bcs i dont really need the prince here. Bilang aja kalo tetep pengen kris jadi pangerannya biar peran kris aku ganti jadi orang lain okay :3

Advertisements

8 thoughts on “And I Fall – Chapter 2

  1. Huwaa thor setelah lama ku menunggu akhirnya update-_-
    Itu sebenernya sica suka atau cuma sekedar sahabat doang sih sma seunghoon entah kenapa lebih feel ke seungsica . Itu si seunghoon cepeflt banget ngebet cewe:v baru 2hari:v
    , oiyaa itu kayak nya yang pernah di suka sica waktu dulu kayaknya udah ketebak deh siapa , nah terus tapi yg pernah di suka sama kris itu kok adik nya ?? Ahh entahlah bingung.. penasaran ama selanjutnya
    Next chap jan lama” ya thor^^
    Keep writting thor^^

    • huahahaha salahkan dosen yang menyiksa mahasiswanya dengan segudang tugas
      aku sih lebih ngefeel ke couple seunghoon-aku daripada seungsica atau krissica :3 /plak
      kris ga bilang suka adiknya……..

  2. Finally chapter 2..lega ngga ada adegan berdarah2 kaya chapter 1 😅
    Yifan jarang ngomong ya,bikin penasaran..seunghoon ketemu siapa itu ? Jangankan bercanda mereka nantinya nikah beneran aja aku setujuuu banget 😂 adiknya yifan ? Siapaa ? Cast.nya jangan di ganti jangaann,krissica harga mutlak 😂✌
    (Aku menunggu chapter 3) 😃

    • ffnya lagi keabisan darah. kata pmi sih donasi darahnya bakal sampe pas chapter 3 hehehe
      ya aku mah penyayang reader jadi aku ngikutin mau mereka :3

      • Ahaha tapi chemistry krissica udah aduhai banget..sekalipun kris nya jarang ngomong 😂🔫
        Eumm,author krissica nya gaada manis2nya gitu ? 😂😂
        Kalo boleh saran update chap tiga yang roman2nya berdarah2 lagi pas ultahnya yifan biar kaya kado gitu *readers modus* 😄

  3. Astagaaaa…. udah di update chap2 nyaa xDD
    iyyy… kan mau jd first koment x’D /okey ini gajelas/

    sebenernya pas baca FF ini, bener-bener berharap bnyk adegan Kris-Jess.,, eh tapinya alias realitanya ini FF terlalu ke hoon-sica :((((( /so sad/

    pov Kris nya kurang bnyk 😦 /okey, fx KrisSica shipp/
    bahh iya enak si hoon udh dapet gebetan bae ;v tp sepertinya bukan…. /sotak/

    dann…. aku sangat menunggu adegan Kris-Jess yg romance, kuharap ada di next chap.

    okeyy.. kutunggu kak^^
    Keep Writing^=^

  4. Aww kris.. Hya tingkah ny bikin gregetan banget sihh.. Dan kok bisa adiknya berdarah traevan? Jangan2 dia belasteran traevan aria gtu? 😆 klo tokoh pangeran ny ga penting, jd soo yeon gabakalan jd nikah sma pangeran ny dong? Jd semakin penasaran :3 dtunggu klanjutan nyaaa…

  5. hi!! long time no see~ I’ve been busy with internship and thesis lately so I don’t have time to read ff. And guess what? Hal pertama yang aku lihat setelah hampir setahun ngga buka blog ini adalah cerita dari kamu. It was your name on the latest post hehe. Did you know how happy I am just to read your name again? kekeke

    Back to the story… Aku tau cerita ini tidak akan terlalu fokus pada romance, tapi tetep aja aku penasaran apakah sooyeon will end up with somenone, tapi dia ngga akan benar-benar nikah sama pangeran aria kan? Don’t give me an answer cause I prefer to find out as the story progressing, you know that right? 😉

    Mengenai perang, aku pikir seunghoon cuma kehilangan sahabat, aku ngga nyangka dia kehilangan ayah juga karna dia ngga pernah memperlihatkan kebencian secara terang-terangan gitu. Mungkin di beberapa waktu dia menunjukkan ketidakpercayaan ke yifan tapi itu bukan kebencian seperti yang ditunjukkan yifan ke dia. Aku suka waktu dia khawatir dan memperhatikan sooyeon tapi aku juga suka waktu mereka bercanda. Aku berharap akan ada lebih banyak scene di masa mendatang dimana mereka lebih banyak bercanda (dan aku berharap bisa melihat kebodohan seunghoon meskipun dalam bentuk flashback ketika mereka masih sekolah keke). I’m falling for his twisted charm hehe.

    Aku suka karakter sooyeon yang kamu buat. Meskipun dia buruk dalam house chores tapi dia punya kemampuan berpedang. At least dia bukan putri manja yang ngga bisa apa-apa dan selalu harus dilindungi. Dan aku berharap dia akan menjadi lebih kuat dari sekarang karna dia harus melindungi negaranya. Sooyeon fightiiiinng!! Anw aku masih penasaran sama ‘teman kakak sooyeon’ (karna aku merasa kalau dia tidak akan disinggung lagi keke). Aku rasa itu bukan seunghoon but correct me if I’m wrong.

    Yifan had a sister (wait… it’s a sister, right? kekeke) but she was a Treavanian (?) Hmm mungkin adik tiri? And judging from his reaction when talking about her, I think it’s not a good story. I understand his feeling for losing someone dear to him (his teacher). He must be resenting seughoon a lot for killing his teacher but I’m glad he finally understand that it is unavoidable during war. It’s because seunghoon had no choice but to kill him in order to save his country. I hope they can lean and depend on each other from now on since they share the same pain 😦

    Btw, I can’t help but thinking that jieun and yongguk had a thing for each other back then. Meskipun dalam cerita dibilang ngga ada yang berani membicarakan sejarah mereka, tapi aku ingin menjadi salah seorang yang melanggar kekeke. Aku ngga bisa berhenti berpikir kalo itu semua disebabkan oleh yongguk yang terpilih sebagai penerus raja dan ngga punya pilihan lain sehingga mau ngga mau mereka harus berpisah dan jieun pun memilih menikah dengan orang lain. Karna yongguk pun harus menikah dengan sooyeon jika harus menjadi raja nantinya.

    wow, aku keasyikan nulis sampe ngga sadar udah sepanjang ini. sorry 😦

    one last question. will you continue your other stories? karna aku sudah lama tidak mengunjungi dunia per ff an ini, jadi sepetinya aku sudah ketinggalan banyak info huhu mian 😦

    see u next time~ fara fightiiiiiiiiing!!! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s